• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR"

Copied!
198
0
0

Teks penuh

(1)

DAN KAWASAN DI KAWASAN TRANSMIGRASI MESUJI KABUPATEN TULANG BAWANG

BUDI SUTOMO

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2008

(2)

(KTM) BERBASIS POTENSI AGRIBISNIS MASYARAKAT DAN KAWASAN DI KAWASAN TRANSMIGRASI MESUJI

KABUPATEN TULANG BAWANG

BUDI SUTOMO

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2008

(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Studi Pengembangan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Berbasis Potensi Agribisnis Masyarakat dan Kawasan di Kawasan Transmigrasi Mesuji, Kabupaten Tulang Bawang adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Januari 2008

Budi Sutomo Nrp A 353060404

(4)

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya atas ridho-Nya karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2007 ini adalah Studi Pengembangan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Berbasis Potensi Agribisnis Masyarakat dan Kawasan Di Kawasan Transmigrasi Mesuji Kabupaten Tulang Bawang Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Dr. Ir. Widiatmaka, DAA, Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS dan Dr. Setia Hadi, MS selaku komisi pembimbing.

2. Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr selaku Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah, beserta segenap staf pengajar dan staf manajemen Program Studi Perencanaan Wilayah.

3. Dr. Ir. Atang Sutandi, MSc selaku dosen penguji luar komisi.

4. Abdurrachman Sarbini, SH, MH, MM selaku Bupati Tulang Bawang dan Drs.

Agus Mardihartono, MM selaku Wakil Bupati Tulang Bawang dan Ir.

Fakhruddin SP,MS selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Tulang Bawang yang telah memberikan ijin dan bimbingan serta segala bentuk dukungan yang selalu diberikan.

5. Pimpinan dan staf Pusbindiklatren Bappenas atas kesempatan beasiswa yang diberikan kepada penulis.

6. Sahabat-sahabat PWL kelas khusus angkatan 2006 atas segala dukungan dan kerjasamanya.

7. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaian karya ilmiah ini.

Akhirnya, diucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya atas dukungan, doa dan pengertian dari istri, anak dan orang tua tercinta.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2008

Budi Sutomo

(5)

Transmigrasi Mesuji Kabupaten Tulang Bawang Nama : Budi Sutomo

NIM : A 353060404

Disetujui Komisi pembimbing

Dr. Ir. Widiatmaka, DAA Ketua

Dr. Setia Hadi, M.S.

Anggota Ir. Fredian Tonny, M.S.

Anggota

Diketahui Ketua Program Studi

Ilmu Perencanaan Wilayah

Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr

Dekan Sekolah Pascasarjana IPB

Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS

Tanggal Ujian: 3 Desember 2007 Tanggal Lulus :

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Lampung Tengah pada tanggal 20 Mei 1976 sebagai anak kedua dari pasangan Drs Subolo dan Sumirah. Tahun 1993 penulis lulus dari SMA Negeri Poncowati (Lampung) dan pada tahun yang sama melanjutkan pendidikannya pada Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Lampung Penulis menamatkan pendidikan pada Agustus Tahun 1997

Tahun 1999, penulis diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil dan ditempatkan pada Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Tulang Bawang, pada tahun 2004 penulis di tempatkan sebagai Kepala Seksi Inventarisasi dan Pengelolaan Pertambangan Dinas Pertambangan Kabupaten Tulang Bawang sampai tahun 2006. Pada tahun 2006, penulis memperoleh beasiswa program 13 bulan dari Pusat Pembinaan Pendidikan dan Latihan Perencanaan, Bappenas untuk melanjutkan pendidikan S2 di IPB pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah. Saat ini penulis telah menikah dengan Siti Romelah SP dan dikaruniai seorang jagoan cilik amanah dari Allah SWT bernama Muhammad Yusuf Arkan.

(7)

BUDI SUTOMO. Studi Pengembangan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Berbasis Potensi Agribisnis Masyarakat dan Kawasan di Kawasan Transmigrasi Mesuji, Kabupaten Tulang Bawang. Dibimbing oleh WIDIATMAKA, FREDIAN TONNY dan SETIA HADI.

Pembangunan Transmigrasi pada hakekatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan daerah sebagai upaya untuk mempercepat pembangunan di daerah tertinggal dan pemerataan penduduk. Hal ini tertuang dalam Undang-undang nomor 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dan Peraturan Pemerintah nomor 2 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi, yang menyebutkan bahwa tujuan pembangunan transmigrasi adalah (a) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya, (b) peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, dan (c) memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Sasaran penyelenggaraan transmigrasi adalah untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas masyarakat transmigrasi, membangun kemandirian dan mewujudkan integritas di pemukiman transmigrasi sehingga ekonomi dan sosial budaya mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Untuk mewujudkan tujuan pembangunan transmigrasi, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada tahun 2006 mengembangkan Kota Terpadu Mandiri (KTM) di kawasan-kawasan transmigrasi.

Pengembangan KTM dilaksanakan dengan harapan dapat mengatasi berbagai permasalahan di kawasan transmigrasi, seperti permasalahan produksi, pascapanen, distribusi, dan pemasaran hasil produksi transmigran, sebagai akibat lemahnya dukungan pasar, sarana dan prasarana, fasilitas pelayanan, dan kelembagaan agribisnis. Hal ini berakibat pada kegagalan mewujudkan sistem agribisnis yang baik, sehingga upaya pencapaian tujuan pembangunan transmigrasi tidak dapat terwujud. Oleh karena itu, dukungan sarana dan prasarana pertanian perlu untuk dikembangkan dalam suatu rancang bangun pengembangan yang komprehensif.

Tujuan umum penelitian ini adalah menyusun arahan strategi pengembangan masyarakat melalui pengembangan komoditas unggulan, pusat aktivitas wilayah, dan pengembangan kelembagaan di kawasan pengembangan KTM pada Kawasan Transmigrasi Mesuji berbasis potensi agribisnis masyarakat dan kawasan. Bila dijabarkan lebih lanjut, tujuan khusus penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi potensi pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi, (2) Mengidentifikasi pusat petumbuhan dan aktivitas pelayanan kawasan transmigrasi berdasarkan jumlah dan jenis infrastrukturnya serta aspirasi masyarakat dan kelembagaan yang mendukung, (3) Mengidentifikasi tipologi kelembagaan agribisnis yang berkembang di kawasan transmigrasi

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Jenis data sekunder diperoleh melalui studi pustaka, meliputi jenis dan jumlah fasilitas pelayanan (infrastruktur), jumlah penduduk, komoditas pertanian yang diusahakan, sumberdaya fisik wilayah, peta tanah, peta geologi, peta lereng dan peta administrasi Kabupaten Tulang Bawang. Unit data yang terendah adalah desa. Pengambilan data primer dilakukan dengan pengambilan sampel.

Pengambilan sampel dilakukan dengan metode stratified purposive sampling.

Untuk mencapai tujuan penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis

(8)

Hasil analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa lahan di Kawasan Transmigrasi Mesuji sesuai untuk pengembangan padi sawah, jagung, kelapa sawit dan karet. Lahan yang sesuai untuk pengembangan padi sawah seluas 76.463,86 Ha (98,55%) dan jagung 73.527,55 Ha (94,761%). Lahan tersebut terdapat di sebagian besar Kawasan Transmigrasi Mesuji terutama bagian timur kawasan. Lahan yang sesuai untuk pengembangan kelapa sawit seluas 45.074,83 Ha (58,09%) dan karet seluas 34.388,37 Ha (44,32%) sebagian besar terdapat di bagian barat kawasan. Komoditas padi sawah, jagung, kelapa sawit dan karet merupakan komoditas basis yang mempunyai keunggulan komparatif wilayah.

Basis pengusahaan komoditas padi dan jagung berada di desa-desa di bagian timur kawasan, pengusahaan kelapa sawit dan karet di desa-desa di bagian barat kawasan.

Berdasarkan hasil analisis usaha tani dan marjin pemasaran, komoditas padi, jagung, kelapa sawit dan karet menguntungkan untuk dikembangkan di Kawasan Transmigrasi Mesuji. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya keuntungan yang diperoleh di tingkat petani maupun pedagang. Namun demikian masih terdapat kendala besarnya marjin pengangkutan sebagai akibat buruknya sarana dan prasarana jalan.

Hasil analisis skalogram menunjukkan bahwa desa dengan hierarki I adalah Desa Tanjung Mas Makmur dan Margojadi. Berdasarkan persepsi dan aspirasi masyarakat dan kelembagaan pemegang kebijakan, Desa Tanjung Mas Makmur yang terpilih untuk ditetapkan sebagai Pusat Aktivitas Pelayanan.

Analisis kelembagaan terhadap kelembagaan agribisnis yang ada di Kawasan Transmigrasi Mesuji memberikan hasil bahwa berdasarkan tipologi kelembagaan agribisnis, sebanyak 22,22 persen dikategorikan sebagai kelembagaan yang sustain (berkelanjutan), sebanyak 6,67 persen merupakan kelembagaan yang semi sustain dengan kendala rendahnya keseimbangan pelayanan – peranserta, sebanyak 60 persen merupakan kelambagaan yang tidak sustain serta 11,11 persen dikategorikan ke dalam tipe kelembagaan semi-sustain dengan kendala tata kelola yang buruk.

Dari beberapa hasil analisis tersebut maka disusun arahan strategi pengembangan KTM di Kawasan Transmigraasi Mesuji adalah sebagai berikut : (1) Desa dengan hierarki I yang didukung aspirasi masyarakat dan memiliki potensi wilayah yang sesuai serta kelembagaan yang sustain dapat difungsikan sebagai Pusat Aktivitas Pelayanan, (2) Desa hierarki II yang memiliki potensi untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit dan karet dapat difungsikan sebagai pusat agribisnis dan agroindustri perkebunan kelapa sawit dan karet, (3) Desa hierarki II yang memiliki potensi untuk pengembangan padi dan jagung dapat difungsikan sebagai pusat agribisnis dan agroindustri pertanian pangan , (4) Desa hierarki III dengan potensi kesesuaian lahan sesuai dan basis pengusahaan untuk tanaman padi dan jagung dapat difungsikan sebagai pusat produksi pangan wilayah, (5) Untuk pengembangan kelembagaan agribisnis diperlukan peran pemerintah dalam bentuk pembinaan pelatihan untuk menciptakan kemandirian pengelolaan kelembagaan, sehingga ketergantungan terhadap intervensi pemerintah dapat dikurangi

(9)

© Hak cipta milik IPB, tahun 2008 Hak Cipta dilindungi

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tesis tanpa mencantumkan nama atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanan

Bogor

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin Institut Pertanian Bogor

(10)

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr.Ir.Atang Sutandi, MSc

(11)

BUDI SUTOMO. Study of Independent Integrated City (KTM) Development Base on the Agribusiness Potencies of Society and Area in Mesuji Transmigration Area, Tulang Bawang District. Under direction of WIDIATMAKA, FREDIAN TONNY and SETIA HADI

Transmigration development has been done to increase the capability and productivity of transmigration community, develop self-reliance, and perform the integrity in transmigration settlement, so economically and socio-culturally could arise and grow sustainably. One of the effort to reach that goal is by developing KTM in Transmigration Zone. The objectives of this research are to identify development potency of premier commodities, activity service center, institution characteristics, and finally give the direction of KTM development strategy. Analysis results showed that most parts of transmigration zone are suitable for agricultural commodities. Maize and paddy as food crops commodities are potential to be developed in the Eastern part of Mesuji Transmigration Zone while estate commodities like rubber and oil-palm are potential in the Western part. Activity service center could be developed in Tanjung Mas Makmur village, since it has the highest hierarchy and supported by the more relatively sustain agribusiness institution form.

Key words : Independent Integrated City (KTM), Transmigration Area, Primary Commodity Potency, Activity Center, Institution.

(12)

BUDI SUTOMO. Studi Pengembangan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Di Kawasan Transmigrasi Mesuji Berbasis Potensi Agribisnis Masyarakat dan Kawasan di Kabupaten Tulang Bawang Provinsi Lampung. Dibimbing oleh WIDIATMAKA, FREDIAN TONNY dan SETIA HADI.

Sasaran pembangunan transmigrasi dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas masyarakat transmigrasi, membangun kemandirian dan mewujudkan integritas di pemukiman transmigrasi sehingga ekonomi dan sosial budaya mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Upaya untuk pencapaian sasaran tersebut salah satunya dengan Pengembangan Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Kawasan Transmigrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi pengembangan komoditas ungggulan, identifikasi pusat aktivitas pelayanan, identifikasi tiplogi kelembagaan dan memberikan arahan strategi pengembangan KTM. Hasil analisis menunjukkan sebagian besar kawasan transmigrasi sesuai untuk dikembangkan komoditas pertanian.

Komoditas prtanian tanaman pangan yaitu jagung dan padi sawah potensial untuk dikembangkan di bagian timur kawasan transmigrasii Mesuji. Komoditas Perkebunan potensial untuk dikembangkan di bagian barat kawasan transmigrasi Mesuji. Pusat aktivitas pelayanan dapat dikembangkan di desa Tanjung Mas Makmur, dikarenakan desa tersebut memiliki hirarki tertinggi dan didukung dengan bentuk kelembagaan agribisnis yang relatif lebih sustain dibanding desa- desa lainnya.

Kata Kunci: Kota Terpadu Mandiri, Kawasan Transmigrasi, Potensi Komoditas Unggulan, Pusat Aktivitas, Kelembagaan.

(13)

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR... viii

DAFTAR LAMPIRAN... ix

PENDAHULUAN... 1

Latar Belakang... 1

Perumusan Masalah... 6

Tujuan Penelitian... 8

Ruang Lingkup Penelitian... 8

TINJAUAN PUSTAKA... 9

Pengembangan Kawasan Transmigrasi... 9

Pengembangan Transmigrasi dalam Konsep Pengembangan Wilayah... 12

Penentuan Pusat Pertumbuhan Wilayah... 13

Pengembangan Komoditas Unggulan di Kawasan Transmigrasi... 15

Kelembagaan... 17

METODE PENELITIAN... 19

Kerangka Pemikiran... 19

Lokasi dan Waktu Penelitian... 22

Metode Pengumpulan Data... 22

Metode Analisis... 25

Identifikasi Pengembangan Potensi Komoditas Unggulan... 25

A. Analisis Kesesuaian Lahan... 25

B. Analisis Identifikasi Keunggulan Komparatif Wilayah (Location Quotient Analysis)... 26

C. Analisis Usaha Tani... 27

D. Analisis Efisiensi Margin Pemasaran... 29

Identifikasi Penentuan Pusat Pertumbuhan dan Pusat Aktivitas Pelayanan (Hierarki Wilayah) ... 31

A. Analisis Skalogram... 31

B. Penggalian Persepsi Masyarakat dengan Analisis AHP (Analytical Hierarchy Process) ... 34

Identifikasi Tipologi Kelembagaan... 36

Analisis Tiplologi Kelembagaan... 36

Matriks Tujuan, Kerangka Analisis Penelitian, Data yang dibutuhkan dan Hasil yang diharapkan. ... 38

KAJIAN UMUM WILAYAH... 41

Wilayah Administrasi, Letak Geografis dan Aksebilitas... 41

Kondisi Fisik Wilayah... 45

IDENTIFIKASI POTENSI PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN... 49

Analisis Kesesuaian Lahan... 49

(14)

Perwilayahan Pengembangan Komoditas Unggulan………... 73

Ikhtisar... 75

IDENTIFIKASI PUSAT PERTUMBUHAN DAN AKTIVITAS PELAYANAN... 78

Analisis Hierarki Pusat Pelayanan... 78

Analisis Persepsi Stakeholder ... 85

Ikhtisar... 88

IDENTIFIKASI TIPOLOGI KELEMBAGAAN AGRIBISNIS DI KAWASAN TRANSMIGRASI... 90

Keragaan dan Dinamika Kelembagaan……… 90

Tipologi kelembagaan... 93

Ikhtisar... 102

ARAHAN STRATEGI PENGEMBANGAN KOTA TERPADU MANDIRI (KTM) PADA KAWASAN TRANSMIGRASI MESUJI BERBASIS POTENSI AGRIBISNIS DAN KAWASAN…... 104

Sintesis Analisis Identifikasi Penentuan Pusat Aktivitas, Pengembangan Potensi Komoditas Unggulan dan Tipologi Kelembagaan Terhadap Penyusunan Strategi Pengembangan KTM Mesuji... 105

Arahan Strategi Pengembangan Potensi Komoditas Unggulan... 110

Arahan Strategi Pengembangan Pusat Aktivitas Pelayanan, dan Infrastrukturnya... 114

Arahan Strategi Pengembangan Kelembagaan... 118

SIMPULAN DAN SARAN... 127

Simpulan... 127

Saran... 128

DAFTAR PUSTAKA... 129

(15)

1. Jenis Data yang Dikumpulkan... 23 2. Aspek yang Diteliti, Variabel, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data... 24 3. Ilustrasi Tabel Penyusunan Jumlah Fasilitas dan Penyebaranya di

Dalam Unit-Unit Desa... 32 4. Hasil Analisis Skalogram Berdasarkan Jumlah dan Jenis Sarana dan

Prasarana... 33 5. Tabulasi Silang Tipologi Kelembagaan di Kawasan Transmigrasi

Mesuji... 38 6. Matrik Tujuan, Analisis, Data yang Dibutuhkan dan Hasil yang

Diharapkan………. 39 7. Desa-desa di Lokasi KTM Kabupaten Tulang Bawang... 41 8. Sebaran Lahan Berdasarkan Tingkat Kelerengan di Lokasi KTM

Kawasan Transmigrasi Mesuji... 45 9. Sebaran Lahan Berdasarkan Ketinggian di Lokasi KTM Kawasan

Transmigrasi Mesuji ... 45 10. Formasi Geologi di Lokasi KTM di Kawasan Transmigrasi Mesuji ... 46 11. Curah Hujan Rata-rata dan Iklim Kabupaten Tulang Bawang ... 47 12. Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan Bulanan di Wilayah Mesuji Tahun

1995... 47 13. Klasifikasi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Padi Sawah di Kawasan

Transmigrasi Mesuji ... 51 14. Klasifikasi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Jagung di Kawasan

Transmigrasi Mesuji ... 53 15. Klasifikasi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Kelapa Sawit di

Kawasan Transmigrasi Mesuji ... 55 16. Klasifikasi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Karet di Kawasan

Transmigrasi Mesuji ... 57 17. Keragaan Pengusahaan Tanaman Pangan ... 59 18. Keragaan Pengusahaan Tanaman Perkebunan ... 59 19. Nilai Perhitungan LQ dan LI untuk Komoditas Tanaman Pangan di

Kawasan Transmigrasi Mesuji ... 60 20. Nilai Perhitungan LQ dan LI untuk Komoditas Tanaman Perkebunan di

Kawasan Transmigrasi Mesuji ... 61 21. Hasil Analisis LQ Pengusahaan Tanaman Pangan dan Perkebunan

Terhadap Desa-desa di Kawasan Transmigrasi Mesuji ... 61

(16)

di Kawasan Transmigrasi Mesuji... 66 24. Marjin Pemasaran Padi di Kawasan Transmigrasi Mesuji pada Bulan

Juni 2007 untuk Konsumen Akhir di Kota Bandar Lampung dan Metro Propinsi Lampung ... 68 25. Penyebaran Marjin Pemasaran Karet (Slab) di Kawasan Transmigrasi

Mesuji untuk Pasokan Pabrik di Palembang dan Bandar Lampung Pada Bulan Juni 2007 ... 70 26. Marjin Pemasaran Jagung di Kawasan Transmigrasi Mesuji pada Bulan

Juni 2007 untuk Konsumen Akhir di Kota Bandar Lampung ... 72 27. Penyebaran Marjin Pemasaran Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit

di Kawasan Transmigrasi Mesuji untuk Pasokan di Pabrik CPO PT SIP di Kecamatan Tanjung Raya Pada Bulan Juni 2007 ... 73 28. Hasil Analisis Skalogram Berdasarkan Jumlah dan Jenis Fasilitas

Pelayanan. ... 80 29. Hasil Analisis Skalogram Berdasarkan Indeks Perkembangan Desa

Terstandarisasi ... 81 30. Jumlah dan Persentase Tipologi Kelembagaan Menurut Hierarki

Wilayah di Kawasan Transmigrasi Mesuji ... 96 31. Jumlah dan Persentase Kelembagaan di KTM Kawasan Transmigrasi

Mesuji Menurut Jenis dan Tipologi Kelembagaanya... 97 32. Sintesis Hasil Analisis Aspek-Aspek Pengembangan KTM Mesuji... 106

(17)

1. Bagan Kerangka Pikir Rencana Penelitian... 21 2. Struktur AHP Terhadap Penentuan Pusat Aktivitas Pelayanan KTM... 36 3. Bagan Alir Rencana Kegiatan Penelitian... 40 4. Peta Administrasi Wilayah Penelitian di Wilayah Perencanaan KTM

Kawasan Transmigrasi Mesuji Kabupaten Tulang Bawang Lampung ... 42 5. Peta Kesesuaian Lahan Aktual untuk Pengembangan Tanaman Padi Sawah

di Kawasan Transmigrasi Mesuji... 52 6. Peta Kesesuaian Lahan Aktual untuk Pengembangan Tanaman Jagung di

Kawasan Transmigrasi Mesuji... 54 7. Peta Kesesuaian Lahan Aktual untuk Pengembangan Tanaman Kelapa

Sawit di Kawasan Transmigrasi Mesuji... 56 8. Peta Kesesuaian Lahan Aktual untuk Pengembangan Tanaman karet di

Kawasan Transmigrasi Mesuji... 58 9. Peta Hasil Analisis LQ Pengusahaan Tanaman Padi di Kawasan

Transmigrasi Mesuji ... 62 10. Peta Hasil Analisis LQ Pengusahaan Tanaman Jagung di Kawasan

Transmigrasi Mesuji ... 63 11. Peta Hasil Analisis LQ Pengusahaan Kelapa Sawit di Kawasan

Transmigrasi Mesuji ... 63 12. Peta Hasil Analisis LQ Pengusahaan Tanaman Karet di Kawasan

Transmigrasi Mesuji ... 64 13. Peta Perwilayahan Potensi Pengembangan Komoditas Pertanian di Lokasi

KTM Mesuji... 74 14. Peta Hierarki Wilayah di Kawasan Transmigrasi Mesuji Berdasarkan

Indeks Perkembangan Desa ... 84 15. Peta Hiearki Wilayah di Kawasan Transmigrasi Mesuji Berdasarkan Jumlah

dan Jenis Fasilitas Pelayanan ... 85 16. Pasar di Desa Tanjung Mas Makmur yang Menjadi Tempat Transaksi

Ekonomi Bagi Desa-desa di Sekitar Kawasan Transmigrasi Mesuji ... 85 17. Hasil AHP Terhadap Penentuan Pusat Aktivitas Pelayanan KTM... 86 18. Peta Menunjukkan Kesetrategisan Lokasi Desa Tanjung Mas Makmur... 87 19. Tipologi Kelembagaan Agribisnis Menurut Hierarki Wilayah di Kawasan

Transmigrasi Mesuji 97

21. Tipologi Kelembagaan Agribisnis di Kawasan Transmigrasi Mesuji……… 97 22. Peta Tipologi Kelembagaan Sustain Menurut Hierarki Wilayah di Kawasan

Transmigrasi Mesuji... 98

(18)

Mesuji... 98

24. Peta Tipologi Kelembagaan Semi Sustain dengan Kendala Tata Kelola (Governance) Menurut Hierarki Wilayah di Kawasan Transmigrasi Mesuji... 99

25. Peta Tipologi Kelembagaan Tidak Sustain Menurut Hierarki Wilayah di Kawasan Transmigrasi Mesuji... 99

26. Peta Arahan Pengembangan Pengembangan KTM Mesuji ... 109

27. Kondisi Jalan di kawasan Transmigrasi pada Musim Hujan ... 116

28. Peta Jaringan Transportasi di Kawasan Transmigrasi Mesuji ... 117

29. Model Kelembagaan yang Mendukung Pengembangan Kawasan Tranmigrasi Mesuji ... 121

30. Lahan untuk Pola Tanam Sonor Rawa Kering yang Digunakan oleh Masyarakat untuk Menanam Padi... 125

(19)

Tata Kelola yang baik

Tipe 2 Tipe 1

Hierarki I 13,33 Hierarki I 33,33 Hierarki II 4,17 Hierarki II 12,50 Hierarki III 0,00 Hierarki III 33,33

Total 6,67 Total 22,22

Rendah Tinggi

Keseimbangan Pelayanan Peran Serta Keseimbangan Pelayanan Peran Serta Hierarki I 46,67 Hierarki I 6,67

Hierarki II 70,83 Hierarki II 12,50 Hierarki III 50,00 Hierarki III 16,67

Total 60,00 Total 11,11

Tipe3 Tipe4

Tata Kelola yang buruk

Gambar 22 Tipologi Kelembagaan Agribisnis menurut Hierarki Wilayah di Kawasan Transmigrasi Mesuji

Tabel 30 Jumlah dan Persentase Kelembagaan di KTM Kawasan Transmigrasi Mesuji menurut Jenis dan Tipologi Kelembagaanya

Kelembagaan Tipe 1 Tipe2 Tipe 3 Tipe 4 Total

n % n % n % n % N %

Kelompok Tani 9 25 3 8,33 19 52,78 5 13,89 36 100,00

P3A 0 0 0 0 5 100 0 0 5 100,00

Koperasi 1 25 0 0 3 75 0 0 4 100,00

Total 10 22,22 3 6,67 27 60 5 11,11 45 100,00

Good Governance

Tipe 2 Tipe 1

Kelompok Tani 8,33 Kelompok Tani 25

P3A 0 P3A 0

Koperasi 0 Koperasi 25

Total 6,67 Total 22,22

Rendah Tinggi

Keseimbangan Pelayanan Peran Serta Keseimbangan Pelayanan Peran Serta

Tipe 3 Tipe 4

Kelompok Tani 52,78 Kelompok Tani 13,89

P3A 100 P3A 0

Koperasi 75 Koperasi 0

Total 60 Total 11,11

Bad Governance

Keterangan :

Tipe 1. Merupakan Kelelmbagaan yang Sustain dimana terjadi keseimbangan Peran Serta dan Pelayanan yang tinggi

Tipe 2. Merupakan Kelembagaan Semi Sustain, dengan kendala Rendahnya Keseimbangan Peranserta dan Pelayanan

(20)

Gambar 23 Tipologi Kelembagaan Agribisnis di Kawasan Transmigrasi Mesuji

Gambar 24 Peta Tipologi Kelembagaan Sustain Menurut Hierarki Wilayah di Kawasan Transmigrasi Mesuji

(21)

Serta menurut Hierarki Wilayah di Kawasan Transmigrasi Mesuji

Gambar 26 Peta Tipologi Kelembagaan Semi Sustain dengan Kendala Tata Kelola (Governance) menurut Hierarki Wilayah di Kawasan Transmigrasi Mesuji

(22)

Kawasan Transmigrasi Mesuji

(23)

1. Skalogram Hireraki Desa-desa di Kawasan Transmigrasi Mesuji

Berdasarkan Jenis dan Jumlah Fasilitas Pelayanan ………... 133 2. Skalogram Hireraki Desa-desa di Kawasan Transmigrasi Mesuji

Berdasarkan Indeks Perkembangan Desa ... 139 3. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Pertanian dan Tanaman

Kehutanan... 145 4. Karakteristik Satuan Lahan di Kawasan Transmigrasi Mesuji ………… 146 5. Klasifikasi Kesesuaian lahan di Kawasan Transmigrasi Mesuji ... 152 6. Analisis Komoditas Unggulan Pertanian Tanaman Pangan ... 154 7. Analisis Komoditas Unggulan Pertanian Tanaman Perkebunan... 156 8. Daftar Responden Analisis AHP ... 159 9. Daftar Nama Responden untuk Pengambilan Data Tiplogi Kelembagaan 160

(24)

Latar Belakang

Pembangunan Transmigrasi pada hakekatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan daerah sebagai upaya untuk mempercepat pembangunan, terutama di kawasan yang masih terisolir atau tertinggal. Program ini sekaligus diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para transmigran dan masyarakat sekitarnya. Hal ini tertuang dalam Undang-undang nomor 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dan Peraturan Pemerintah nomor 2 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi, yang menyebutkan bahwa tujuan pembangunan transmigrasi adalah (a) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya, (b) peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, dan (c) memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Sasaran penyelenggaraan transmigrasi adalah untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas masyarakat transmigrasi, membangun kemandirian dan mewujudkan integritas di pemukiman transmigrasi sehingga ekonomi dan sosial budaya mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan

Transmigrasi sebagai salah satu program pembangunan terutama diarahkan kepada pembangunan pertanian, yaitu peningkatan produktivitas pertanian. Peningkatan produktivitas pertanian diharapkan akan dapat mendukung peningkatan pendapatan, kesejahteraan dan pemerataan hasil pembangunan. Menurut Utomo (2005), untuk mewujudkan hal tersebut maka di wilayah-wilayah transmigrasi perlu dikembangkan pusat-pusat agroindustri pedesaan yang dapat menyerap tenaga kerja di pedesaan dan akan memacu pertumbuhan wilayah. Untuk itu perlu dibangun infrastruktur dan akses pasar, sehingga akan terjadi harmonisasi pembangunan wilayah.

Sumardjo (2004) menyatakan bahwa daerah-daerah transmigrasi merupakan wilayah dimana produk transmigran tersedia dan masyarakat di sekitarnya memiliki keunggulan komparatif. Daerah tersebut berpotensi menjadi kawasan agrobase development, yaitu pengembangan sektor pertanian berbasis pertanian dan perdesaan. Oleh karena itu, kawasan transmigrasi potensial menjadi

(25)

wilayah pengembangan kawasan agropolitan, yaitu terintegrasinya kota pertanian dan desa-desa sentra produksi yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha-usaha agribisnis-agroindustri.

Kegiatan ekonomi di kawasan transmigrasi diharapkan terus meningkat sehingga mampu menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan secara mandiri dan terpadu dengan rencana tata ruang wilayah kabupaten (Direktorat Jendral Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi, 2006).

Priyono (2004) menyatakan bahwa pengembangan wilayah transmigrasi merupakan usaha menumbuh kembangkan wilayah yang memiliki potensi sumber daya alam dengan keunggulan komoditas tertentu yang dikelola secara terpadu dengan mengisi kekurangan sumberdaya manusia melalui program transmigrasi.

Salah satu komponen penting yang berkaitan dengan keberhasilan pengembangan kawasan transmigrasi adalah seberapa besar masyarakat ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Seringkali dalam pelaksanaan program, keterlibatan masyarakat kurang diperhatikan karena pihak pemerintah masih merasa yang paling mengetahui apa yang harus dilakukan oleh masyarakat perdesaan. Anwar (2005) menyatakan kebijakan yang sering menseragamkan keadaan wilayah pedesaan akan mengarah kepada kegagalan.

Pengembangan kawasan transmigrasi pada dasarnya harus dilandaskan pada pembangunan kapasitas sumber daya manusia di dalam kawasan tersebut.

Hal ini tidak akan pernah terwujud jika masyarakat hanya dijadikan objek pembangunan. Oleh karena itu konsep pendekatan pembangunan partisipatif menjadi penting untuk diperhatikan dalam pengembangan kawasan transmigrasi.

Selain hal itu perlu diperhatikan juga adanya penguatan sumberdaya manusia dan kelembagaan. Menurut Rustiadi dan Setiahadi (2006), dengan penguatan sumberdaya manusia dan kelembagaan dapat dihindari adanya peluang mengalirnya nilai tambah yang tidak terkendali keluar kawasan. Dengan demikian penguatan kelembagaan lokal dan sistem kemitraan menjadi persyaratan utama yang harus ditempuh dalam pengembangan kawasan agropolitan (dalam hal ini kawasan transmigrasi).

(26)

Sejalan dengan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pengembangan kawasan transmigrasi hendaknya terintegrasi dengan kepentingan pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kota, kepentingan serta aspirasi masyarakat setempat, ketersediaan sumberdaya alam, yang berpengaruh pada kemampuan daerah untuk menerima dan mendukung program pengembangan kawasan.

Tujuan dasar pengembangan wilayah dan penyusunan tata ruang transmigrasi adalah untuk membentuk suatu sistem pemukiman yang secara fungsional merupakan suatu wadah yang dapat meramu berbagai masukan (input) dan teknologi yang tepat sehingga memungkinkan terwujudnya kehidupan transmigrasi yang mandiri. Sistem pemukiman tersebut diharapkan sejak awal mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan selanjutnya mampu berkembang untuk mencapai tingkat kesejahteraan sekurang-kurangnya di atas subsisten. Sesuai konsep tata ruang, pemukiman transmigrasi haruslah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pengembangan wilayah (Muchdie, 1986). Lebih lanjut dikatakan, dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah, upaya untuk mempercepat pengembangan wilayah transmigrasi dapat dilakukan melalui pengembangan pertanian yang diikuti dengan pengembangan industri pengolahan hasil pertanian.

Pengembangan transmigrasi pada masa mendatang perlu memperhatikan dua hal. Pertama, persoalan proses mencapai kemandirian, dan kedua mengutamakan pemberdayaan masyarakat yang bermula dalam satuan komunitas.

Dalam pengembangan kawasan transmigrasi yang bersandar pada kemandirian, prosesnya tidak hanya didasarkan pada perundangan dan pendekatan administrasi birokrasi dalam satuan kerja satu atau lebih departemen terpusat, tetapi perlu dilakukan melalui pembaharuan tata kelola pengembangan transmigrasi melalui kemitraan (partnerships) dengan pemangku-pemangku kepentingan yang berkaitan dengan pembangunan daerah yang berbasis komunitas (Kolopaking, 2006).

Untuk mewujudkan tujuan tersebut Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada tahun 2006 mengembangkan Kota Terpadu Mandiri (KTM) di kawasan-kawasan transmigrasi. Definisi KTM adalah kawasan transmigrasi

(27)

yang pembangunan dan pengembangannya dirancang menjadi pusat pertumbuhan yang mempunyai fungsi perkotaan melalui pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan yang mempunyai fungsi sebagai berikut (1) Pusat kegiatan pertanian berupa pengolahan barang pertanian jadi dan setengah jadi serta kegiatan agribisnis; (2) Pusat pelayanan agroindustri khusus (special agroindustry services), dan pemuliaan tanaman unggul; (3) Pusat pendidikan, pelatihan di sektor pertanian, industri dan jasa; (4) Pusat perdagangan wilayah yang ditandai dengan adanya pasar-pasar grosir dan pergudangan komoditas sejenis. KTM dibangun dengan konsep agropolitan (Depnakertrans, 2006). Menurut Anwar (2006) Pembangunan kota kecil dilingkungan pertanian merupakan pembangunan pusat-pusat pelayanan pada kota-kota kecil mencakup pula perlengkapan infrastruktur fasilitas publik perkotaan.

Menurut Suparno (2006) KTM akan dikembangkan di delapan kawasan transmigrasi yang ditunjuk sebagai pilot proyek Kota Terpadu Mandiri (KTM).

Adapun kedelapan kawasab tersebut yaitu Pulau Rupat di Provinsi Riau, Mesuji (Kabupaten Tulang Bawang, Lampung), Kaliorang dan Rantau Pulung (Kalimantan Timur), Mandastana (Kalimantan Selatan), Rasau Jaya dan Terentang (Kalimantan Barat), dan Pulau Morotai (Maluku Utara).

Menurut Depnakertrans (2006) Kawasan Transmigrasi Mesuji di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung dipilih sebagai pilot proyek pengembangan KTM dengan pertimbangan karena letaknya yang setrategis.

Kawasan Transmigrasi Mesuji berada di antara Jalan Lintas Timur Trans Sumatera yang menghubungkan Kota Bandar Lampung dan Kota Palembang.

Kawasan itu memiliki 50 satuan pemukiman dan telah dihuni sekitar 25 ribu kepala keluarga transmigran dari Jawa serta transmigran lokal dari sejumlah wilayah di Provinsi Lampung sejak awal 1980-an.

Berdasarkan Masterplan Pengembangan KTM Mesuji secara garis besar program pengembangan KTM Mesuji terdiri dari (1) Program Pengembangan Usaha Ekonomi Berbasis Komoditi Unggulan, (2) Program Pemberdayaan Masyarakat,(3) Program Pengembangan Infrastruktur Kawasan, dan (4) Program Pembangunan Kawasan dan Pengembangan Pusat KTM, yang meliputi desa-desa utama dan pusat KTM.

(28)

Di wilayah KTM Mesuji, sektor perkebunan dan pertanian tanaman pangan merupakan sektor prioritas yang akan dikembangkan, dengan komoditi unggulan kelapa sawit, karet, padi irigasi, jagung dan singkong. Selanjutnya dalam pengembangan industri, indutri yang perlu dikembangkan adalah industri pengolahan komoditi unggulan tersebut, dengan arahan agar dapat memberikan nilai tambah (Dirjen P2MKT Depnakertrans, 2006).

Namun demikian, permasalahan produksi, pascapanen, distribusi, dan pemasaran masih sering terjadi. Hal ini sebagai akibat lemahnya dukungan sarana dan prasarana pertanian, sehingga kurang berhasil mewujudkan sistem agribisnis yang baik - yang pada gilirannya gagal menaikkan pendapatan petani sebagai pelaku utama proses produksi pertanian. Oleh karena itu, dukungan sarana dan prasarana pertanian perlu untuk dikembangkan dalam suatu rancang bangun pengembangan yang komprehensif. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberi dampak kepada penyerapan tenaga kerja, dan mengurangi defisit perdagangan, serta meningkatkan keunggulan kompetitif produk-produk pertanian.

Disamping itu untuk memposisikan sektor pertanian melalui pendekatan agribisnis sebagai basis pengembangan kawasan transmigrasi akan dapat berhasil apabila permasalahan kegagalan kelembagaan yang dihadapi sektor pertanian selama ini dapat segera diatasi. Langkah awal yang diperlukan antara lain adalah dengan mempelajari jenis dan dinamika berbagai kelembagaan, faktor-faktor penentu kemajuan/kekagalan suatu kelembagaan yang terkait dengan pengembangan agribisnis dan kawasan.

Melalui penelitian ini diharapkan dapat diketahui bagaimana strategi pengembangan KTM di Kawasan Transmigrasi Mesuji yang berbasis potensi agribisnis masyarakat dan kawasan. Dengan demikian dapat dijadikan sebagai masukan bagi penentu kebijaksanaan dalam hal ini Pemerintah Daerah dalam pengambangan KTM, baik jangka pendek maupun jangka panjang dengan mengacu kepada masterplan pengembangan KTM yang telah ditetapkan oleh Departeman Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang.

(29)

Perumusan Masalah

Transmigrasi merupakan salah satu program pembangunan yang terutama diarahkan kepada pembangunan sektor pertanian. Pembangunan sektor pertanian diharapkan akan dapat mendukung peningkatan pendapatan, kesejahteraan dan pemerataan hasil pembangunan di kawasan transmigrasi. Keberhasilan Pembangunan Kawasan Transmigrasi akan sangat ditentukan oleh kemampuan strategi kebijaksanaan pertanian dalam meningkatkan keunggulan kompetitif produk-produk pertanian melalui pengembangan pusat-pusat agroindustri perdesaan. Program pengembangan KTM diharapkan dapat memacu pertumbuhan wilayah di dalam maupun di sekitar kawasan transmigrasi. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sebuah strategi pengembangan kewilayahan yang berbasis potensi agribisnis masyarakat dan kawasan.

Pembukaan kawasan transmigrasi pada awalnya ditujukan untuk menghasilkan produk pertanian. Peningkatan produksi pertanian diharapkan dari waktu ke waktu semakin meningkat dan dapat meningkatkan perekonomian desa- desa dan masyarakat di kawasan transmigrasi. Untuk mewujudkannya maka pengembangan kawasan transmigrasi hendaknya dilakukan dengan berbasis pada potensi agribisnis.

Pengembangan KTM yang berbasis agribisnis perlu didukung oleh sumberdaya lahan yang sesuai untuk pengembangan komoditi pertanian pilihan, selain peningkatan efisiensi kegiatan budidaya pertanian, pemasaran hasil produksi, peningkatan nilai tambah kepada petani, maupun peningkatan daya saing komoditas pertanian. Untuk itu, perlu dilakukan identifikasi potensi pengembangan komoditas pilihan berupa sumberdaya fisik lahan dalam hal kesesuaiannya, potensi pasar maupun keunggulan komoditas pilihan.

Pada program transmigrasi yang telah dilaksanakan terdahulu, perencanaan pembangunan kawasan transmigrasi umumnya belum dilakukan dengan suatu perencanaan integral kawasan. Akibatnya, perkembangan wilayah- wilayah transmigrasi yang dibangun sering tidak terintegrasi dengan perkembangan wilayah pemukiman yang telah ada. Hal ini antara lain berimplikasi pada tidak meratanya penyediaan fasilitas pelayanan. Kawasan transmigrasi pada umumnya hanya didukung dengan sarana prasarana pelayanan

(30)

dengan aksesbilitas yang rendah, serta berada di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. Melalui paradigma baru pembangunan ketransmigrasian yang diimplementasikan dalam bentuk KTM, diharapkan akan dapat diwujudkan pembangunan kawasan transmigrasi yang lebih terintegrasi dengan kawasan sekitarnya.

Selain pertimbangan fisik, pengembangan sarana dan prasarana pelayanan hendaknya memperhatikan pertimbangan sosiologis yang disesuaikan dengan aspirasi masyarakat yang didukung oleh sistem kelembagaan yang memadai. Oleh karena itu pusat-pusat pertumbuhan dan aktivitas KTM perlu diidentifikasi, baik berdasarkan jumlah dan jenis infrastrukturnya maupun aspirasi masyarakat dan dukungan kelembagaan.

Salah satu kunci penentu keberhasilan pengembangan kawasan transmigrasi yang berbasis potensi agribisnis masyarakat dan kawasan adalah peran kelembagaan. Menurut Coase (1960) dalam Aunuddin (2002), kelembagaan memainkan peranan yang vital dalam perekonomian. Dalam perspektif Coase, kelembagaan berfungsi sebagai instrumen untuk meminimumkan ongkos transaksi dalam perekonomian, sehingga perekonomian dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal. Semantara itu, North dan Thomas (1973) menunjukkan bahwa kelembagaan dapat direkayasa, dan membuktikan bahwa rekayasa kelembagaan yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan perekonomian yang cepat dan berkelanjutan. Dengan mengacu pada penemuan para pakar kelembagaan tersebut, maka pengembangan kawasan transmigrasi dengan basis agribisnis akan dapat berhasil hanya bila terlebih dahulu permasalahan kegagalan kelembagan yang diperkirakan dihadapi dapat diatasi. Oleh karena itu sebagai langkah awal perlu diketahui jenis dan dinamika berbagai kelembagaan yang terkait dengan pengembangan agribisnis dan kawasan, faktor-faktor penentu kemajuan dan kegagalan suatu kelembagaan.

(31)

Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, tujuan penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi potensi pengembangan komoditas pilihan di kawasan

transmigrasi.

(2) Mengidentifikasi pusat petumbuhan dan aktivitas pelayanan kawasan transmigrasi berdasarkan jumlah dan jenis infrastrukturnya serta aspirasi masyarakat dan kelembagaan yang mendukung.

(3) Mengidentifikasi tipologi kelembagaan agribisnis yang berkembang di kawasan transmigrasi

(4) Menyusun arahan strategi pengembangan KTM melalui pengembangan pusat aktivitas wilayah, pengembangan komoditas pertanian dan kelembagaan agribisnis di kawasan pengembangan KTM pada kawasan transmigrasi Mesuji.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah perencanaan pengembangan KTM Mesuji di Kawasan Transmigrasi Mesuji yang meliputi Kecamatan Mesuji Timur dan Mesuji. Kawasan tersebut merupakan kawasan yang cukup menarik untuk dijadikan studi pengembangan KTM.

Penelitian ini dilakukan dengan merujuk kepada kerangka Masterplan Pengembangan KTM Mesuji yang telah disusun oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang.

Dengan penelitian ini diharapkan dapat diberikan masukan dari sisi ilmiah kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang dalam pelaksanaan pengembangan KTM Mesuji.

(32)

Pengembangan Kawasan Transmigrasi

Berdasarkan Undang-undang Nomor 15 tahun 1997, transmigrasi didefinisikan sebagai perpindahan penduduk secara sukarela dan berencana untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di wilayah pengembangan transmigrasi atau lokasi pemukiman transmigrasi. Sasaran kegiatan transmigrasi adalah untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas masyarakat transmigran, membangun kemandirian dan mewujudkan integrasi di pemukiman transmigrasi sehingga ekonomi dan sosial budaya mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Tiga jenis transmigrasi yang telah dikembangkan Pemerintah adalah :

1. Transmigrasi umum, yaitu jenis transmigrasi yang sepenuhnya diselenggarakan oleh pemerintah.

2. Transmigrasi swakarsa berbantuan, yaitu jenis transmigrasi yang dirancang oleh pemerintah bekerjasama dengan badan usaha sebagai mitra usaha transmigran.

3. Transmigrasi swakarsa mandiri yaitu jenis transmigrasi yang sepenuhnya merupakan prakarsa transmigran yang dilakukan baik melalui kerjasama dengan badan usaha maupun sepenuhnya dikembangkan transmigran atas arahan pemerintah.

Pembangunan transmigrasi pada hakekatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan pembangunan daerah, sebagai upaya untuk mempercepat pem

(33)

Kerangka Pemikiran

Pembukaan kawasan transmigrasi pada awalnya ditujukan untuk menghasilkan produk pertanian. Peningkatan produksi pertanian diharapkan dari waktu ke waktu semakin meningkat dan dapat meningkatkan perekonomian desa- desa dan masyarakat di kawasan transmigrasi. Untuk mewujudkannya maka pengembangan kawasan transmigrasi yang berbasis pada potensi agribisnis perlu dilakukan dengan pengembangan dan peningkatan nilai tambah komoditas pilihan. Untuk itu, sumberdaya lahan yang sesuai untuk pengembangan komoditi pertanian tertentu perlu diperhatikan, disamping potensi pemasaran hasil pertanian, ketersedian industri dan pengolahan hasil pertanian, maupun daya saing komoditas pertaniannya.

Fasilitas pelayanan merupakan salah satu unsur dari sistem suatu daerah yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembangunan di daerah tersebut.

Fasilitas pelayanan berperan dalam meningkatkan kesejahteraan transmigran.

Fasilitas pelayanan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraanya.

Pada umumnya pada daerah dengan fasilitas pelayanan yang tinggi menjadi pusat aktivitas baik sebagai pusat pelayanan maupun pusat pertumbuhan suatu wilayah. Penggunaan fasilitas pada suatu pusat pelayanan merupakan fungsi dari aksesbilitas atau kemudahan dari titik permintaan ke titik penyediaan (pusat pelayanan tersebut). Namun demikian keberadaan fasilitas-fasilitas pelayanan bukan semata-mata penentu keberadaan pusat-pusat aktivitas, faktor lain seperti tersedianya jenis dan rute transportasi, karakteristik ekonomi kelompok yang menggunakan tradisi, aspirasi masyarakat, preferensi personal dan kapasitas kelembagaan yang ada serta kebijakan pemerintah menjadi penentu keberadaan pusat-pusat aktivitas. Berdasarkan hal tersebut, maka diharapkan dapat ditentukan pusat yang meminimumkan biaya pengalihan atau transfer cost dari barang jasa antara titik permintaan dan titik penyediaan.

(34)

Pusat-pusat aktivitas suatu wilayah sangat terkait dengan hierarki wilayah.

Hierarki wilayah dapat membantu untuk menentukan fasilitas apa yang harus ada atau perlu dibangun di masing-masing wilayah. Fasilitas kepentingan umum bukan hanya menyangkut jenisnya, tetapi juga kapasitas pelayanan dan kualitasnya. Jenis fasilitas itu mungkin harus ada di seluruh wilayah, tetapi kapasitas dan kualitas palayanannya harus berbeda. Makin maju suatu wilayah, semakin beragam fasilitas yang disediakan sehingga makin luas wilayah pengaruhnya (Tarigan, 2005).

Sebagai bagian dari pengembangan wilayah, pembangunan transmigrasi hendaknya menjadi satu rangkaian aktivitas yang saling mendukung dan memberikan manfaaat yang menguntungkan dan berkeadilan. Hal tersebut dapat terwujud apabila didukung dengan adanya pengembangan kelembagaan.

Pengembangan kelembagaan adalah proses dimana anggota-anggota masyarakat meningkatkan kapasitas kelembagaannya untuk memobilisasi dan mengelola sumberdaya untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesua dengan aspirasinya Oleh karena itu, dalam perkembangannya, kelembagaan dapat dilacak berdasarkan aspek historis atau riwayat (proses atau dinamikanya) dan keberlanjutan kelembagaan tersebut (institutional sustainability).

Beragam kelembagaan di kawasan transmigrasi dapat diidentifikasi berdasarkan aspek historis atau riwayatnya. Perkembangan beragam kelembagaan dapat menunjukan tipe dan dinamika yang berbeda antara satu kelembagaan dengan kelembagaan lain karena pengaruh faktor-faktor internal dan eksternal.

Pada taraf ini, dinamika kelembagaan tersebut dipahami sebagai “pola hubungan dalam kelembagaan dan antar-kelembagaan” dalam sistem agribisnis. Oleh karena itu, secara konseptual dinamika kelembagaan tersebut selain diidentifikasi menurut sistem agribisnis, diperlukan suatu konsep yang komprehensif dan holistik untuk memahami kekhasan dinamika dan tipologi masing-masing kelembagaan. Alur kerangka pikir penelitian disajikan pada Gambar 1.

(35)
(36)

Pusat-Pusat Pertumbuhan dan Aktivitas Pelayanan

Kelembagaan

Kawasan Transmigrasi

- Jumlah Penduduk - Fasilitas Pelayanan Umum - Fasilitas Sosial

- Tempat Penampungan Hasil Pertanian

- Transportasi - Aspirasi - Kelembagaan - Usahatani

- Efisiensi margin pemasaran

Faktor Internal - Kepemimpinan - Pendidikan - Aturan-aturan - Ukuran kelembagaan - Umur lembaga - Ketersediaan anggaran

Faktor Eksternal - Kebijakan pemerintah - Ketersediaan prasarana &

sarana umum

- Jaringan kerjasama antar lembaga

Pembangunan Sarana dan Prasarana Pelayanan Tambah Usaha Pertanian

Pengembangan Kelembagaan Berkelanjutan

- Peran serta anggota - Pelayanan thd. anggota - Manfaat bagi anggota - Good governance - Kompleksitas

Pengembangan KTM Berbasis Potensi Agribisnis Masyarakat

dan Kawasan

Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir Penelitian

(37)

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah perencanaan pengembangan KTM Kawasan Transmigrasi Mesuji (Kecamatan Mesuji, dan Mesuji Timur) Kabupaten Tulang Bawang, Propinsi Lampung. Secara geografis, lokasi KTM Mesuji berada pada posisi lintang dan bujur masing-masing antara 03o42’ – 04o5’ Lintang Selatan sampai dengan 105o23’ - 105o38’ Bujur Timur. Luas wilayah KTM Mesuji ini adalah 46.559,94 Ha. Batas-batas lokasi ini adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan Sebelah Barat : Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan Sebelah Selatan : Kecamatan Rawajitu Utara Kabupaten Tulang Bawang Sebelah Timur : Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Tulang Bawang

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai Agustus 2007

Metode Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah berupa data primer dan data sekunder. Jenis data primer yang dikumpulkan adalah data kelembagaan, harga pasar dan aspirasi masyarakat yang berkembang di kawasan transmigrasi Mesuji (wilayah perencanaan pengembangan KTM). Data sekunder diperoleh dari berbagai lembaga/instansi seperti BPS, Bappeda, Dinas Pertanian Tanaman pangan Kabupaten Tulang Bawang, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Tulang Bawang, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Tulang Bawang dan berbagai lembaga yang relevan dengan penelitian ini.

Penelitian ini dilakukan di Kawasan Transmigrasi Mesuji yang meliputi Kecamatan Mesuji Lampung dan Mesuji Timur. Namun demikian dikarenakan Kecamatan Mesuji Timur merupakan kecamatan baru hasil pemekaran Kecamatan Mesuji pada tahun 2006, sehingga data-data skunder yang ada merupakan data Kecamatan Mesuji sebelum dimekarkan. Teknik studi data sekunder dilakukan dengan melakukan studi kepustakaan dari publikasi data-data statistik BPS yang terdiri data potensi desa dan data kabupaten Tulang Bawang Dalam Angka, dan sumber-sumber lain yang mendukung topik penelitian. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara semi terstruktur, kuesioner kelembagaan dan kuisioner Analytical Hierarchy Proces (AHP)

(38)

Adapun jenis data yang dikumpulkan disajikan pada Tabel 1 dan untuk melihat keterkaitan antara tujuan, metode, analisis, variabel yang diukur, serta sumber-sumber data sebagaimana disajikan pada pada Tabel 2.

Tabel 1 Jenis Data yang Dikumpulkan

No Data Metode

Pengumpulan Data

Sumber

1 Data Primer :

a. Persepsi masyarakat dan pemegang kebijakan Daerah

Wawancara dengan kuisioner AHP

Responden :

(Tokoh Masyarakat, Perwakilan anggota DPRD Kabupaten Tulang Bawang,

Sekretaris Kabupaten Tulang Bawang, Unsur Bappeda Kabupaten Tulang Bawang, Unsur Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Tulang Bawang, Unsur Dinas Perkebunan dan Kehutanan kabupaten Tulang Bawang, Camat Mesuji Timur, Kepala Desa Tanjung Mas Makmur b. Efisiensi Marjin pasar Wawancara Petani, Pedagang Pengumpul tingkat

pertama, pedagang pengumpul tingkat kedua c. Tipologi

Kelembagaan Wawancara dengan panduan kuisioner

Anggota kelompok tani, P3A, dan Koperasi

2 Data Sekunder - Podes 2006 - Kabupaten Tulang

Bawang Dalam Angka

- Database Perkebunan - Database Pertanian - Database

Transmigrasi - Peta Administrasi - Peta Tanah 1 :

250.000 - Peta Geologi

Studi Pustaka Studi Pustaka Studi Pustaka Studi Pustaka Studi Pustaka Studi Pustaka Studi Pustaka Studi Pustaka Studi Pustaka

BPS BPS

Dinas Perkebunan Dinas pertanian

Disnakertrans Kabupaten Tulang Bawang, Departemen Tenaga kerja dan Transmigrasi Depnakertrans

Puslitanak, Disnakertrans, Lembaga Penelitian Universitas Lampung Depnakertrans

Penentuan responden untuk pengambilan sampel data kelembagaan dan marjin pasar dilakukan dengan stratified purposive sampling, yang dilakukan berdasarkan hasil analisis skalogram terhadap seluruh desa yang ada di Kecamatan Mesuji dan Mesuji Timur untuk memperoleh indeks perkembangan desa. Sampling diambil pada desa yang mewakili hierarki I, II dan III (hasil analisis Skalogram). Untuk data kelembagaan kelompok tani, tiap-tiap hierarki diwakili oleh 2 desa, masing masing desa diwakili 5 kelompok tani, sedangkan untuk P3A dan Koperasi karena jumlahnya yang terbatas, dilakukan pengambilan

(39)

data kelembagaan pada semua kelembagaan tersebut. Penentuan sampel untuk pengambilan data harga pasar di tingkat petani dilakukan bersamaan dengan pengambilan data kelembagaan, sedangkan untuk tingkat kelembagaan yang lebih tinggi dilakukan berdasarkan jalur pemasaran komoditas unggulan yang diproduksi kawasan transmigrasi Mesuji.

Responden untuk analisis AHP terdiri dari unsur masyarakat dan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang yang terdiri dari Sekretaris Daerah Kabupaten, unsur Bappeda Kabupaten Tulang Bawang, unsur perencanaan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Tulang Bawang, unsur perencanaan Dinas Pertanian Kabupaten Tulang Bawang, unsur perencanaan Dinas Perkebunan Kabupaten Tulang Bawang dan perwakilan anggota DPRD Kabupaten Tulang Bawang.

Tujuan yang diteliti, variabel dan sumber data disajikan pada Tabel 2.

berikut ini.

Tabel 2. Tujuan yang Diteliti, Variabel, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data

No Tujuan Variabel Sumber Data Teknik

Pengumpulan Data

Metode Analisis

1 Mengidentifikasi Potensi Pengembangan Komoditas Unggulan

Sumber Daya Fisik Wilayah (Kesesuaian Lahan), luas pengusahaan pertanian tanaman pangan dan perkebunan, harga pasar, efisiensi margin pemasaran

BPS, Dinas/instansi terkait Kabupaten dan masyarakat

Studi pustaka dan wawancara dengan masyarakat

Kesesuaian Lahan, Analisis

Keunggulan Komparatif Wilayah (LQ), Analisis Usaha Tani, Analisis Marjin Pemasaran

2 Mengetahui pusat- pusat aktivitas pelayanan KTM berdasarkan jumlah dan jenis termasuk infrastrukturnya serta aspirasi masyarakat dan kelembagaan yang mendukung.

Fasilitas pelayanan, persepsi, aspirasi masyarakat dan kelembagaan yang mendukung

BPS, Unsur Pemda Kabupaten Tulang Bawang, Masyarakat

Studi Pustaka,

Wawancara Analisis Skalogram, AHP

3. Mengidentifikasi tipologi kelembagaan agribisnis di kawasan transmigrasi

- Peran serta anggota - Pelayanan thd.

Anggota - Manfaat bagi

anggota - Governance - Kompleksitas

Masyarakat, kelompok tani, Koperasi, Pemda, Dinas/instansi terkait Kabupaten dan masyarakat

Studi pustaka

dan wawancara Analisis Tabulasi, Frekuensi, Analisis Statistika

(40)

Metode Analisis

Data-data yang telah terkumpul sesuai dengan tujuan penelitian, dianalisis dengan menggunakan beberapa teknik analisis data, yaitu Analisis Skalogram, Location Quatient (LQ), Analisis Efisiensi Margin Pemasaran, Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Analisis Kelembagaan.

Identifikasi Potensi Pengembangan Komoditas Unggulan A. Analisis Kesesuaian Lahan

Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan untuk mengidentifikasi potensi pengembangan komoditas unggulan berdasarkan karakteristik alamiah dari komponen-komponen lahan di Lokasi KTM Kawasan Transmigrasi Mesuji.

Analisis kesesuaian lahan kawasan transmigrasi dilakukan dengan metoda matching karakteristik dan kualitas lahan dengan persyaratan penggunaan lahan tertentu berdasarkan Kriteria Kesesuaian Lahan (LREP II, 1994 dalam Widiatmaka et al, 2007). Peta tanah yang digunakan bersumber dari Peta Tanah dan Satuan Lahan skala 1 : 250.000 (PPT, 1994, Widiatmaka et al., 2006).

Satuan peta lahan adalah kelompok lahan yang mempunyai sifat-sifat yang sama, penyebarannya digambarkan dalam peta sebagai hasil dari survai sumberdaya alam. Kualitas lahan adalah sifat-sifat lahan yang dapat diukur langsung (complex of land attributed) yang mempunyai pengaruh nyata terhadap kesesuaian lahan untuk penggunaan-penggunaan tertentu. Satu jenis kualitas lahan dapat disebabkan oleh beberapa karakteristik lahan, misalnya ketersediaan hara dapat ditentukan berdasar ketersediaan P dan K-dapat ditukar, dan sebagainya (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2001).

Penilaian kesesuaian lahan dilakukan dengan pendekatan satuan lahan yang dikemukakan FAO (1976). Kesesuaian lahan dibagi menjadi lima kelas, seperti berikut ini :

1. Kelas S1 : Sangat Sesuai. Lahan tidak mempunyai pembatas yang besar untuk pengelolaan yang diberikan, atau hanya mempunyai pembatas yang tidak secara nyata berpengaruh terhadap produksi dan tidak akan menaikan masukan yang telah diberikan

(41)

2. Kelas S2 : Cukup Sesuai. Lahan mempunyai pembatas-pembatas yang agak besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan.

Pembatas akan mengurangi produk atau keuntungan dan meningkatkan masukan yang diperlukan

3. Kelas S3 sesuai marjinal. Lahan mempunyai pembatas-pembatas yang besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Pembatas akan mengurangi produksi dan keuntungan atau lebih meningkatkan masukan yang diperlukan

4. Kelas N1 Tidak sesuai pada saat ini. Lahan mempunyai pembatas yang lebih besar, tetapi lebih memungkinkan diatasi, tetapi tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengelolaan dengan modal normal. Keadaan pembatas sedemikian besar sehingga mencegah penggunaan dalam jangka panjang.

5. Kelas N2 tidak sesuai untuk selamanya. Lahan mempunyai pembatas permanen yang mencegah segala kemungkinan penggunaan jangka panjang B. Analisis Identifikasi Keunggulan Komparatif Wilayah (Location Quotient

Analysis)

Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi keunggulan komparatif dari komoditas yang akan dikembangkan di Kawasan Transmigrasi Mesuji. Secara umum, metode analisis ini digunakan untuk menunjukkan lokasi pemusatan/basis (aktifitas). Selain itu analisis Location Quotient (LQ) juga bisa digunakan untuk megetahui kapasitas ekspor perekonomian suatu wilayah serta tingkat kecukupan barang/jasa dari produksi lokal suatu wilayah.

LQ merupakan suatu indeks untuk membandingkan pangsa sub wilayah dalam aktivitas tertentu dengan pangsa total aktifitas tersebut dalam total aktivitas wilayah. Secara operasional LQ didefinisikan sebagai rasio persentase dari total aktivitas pada suatu wilayah kecamatan-j terhadap persentase aktifitas total terhadap wilayah kabupaten yang diamati.

Analisis LQ dilakukan terhadap pengusahaan tanaman pangan dan perkebunan di Kecamatan Mesuji dan Mesuji Timur di bandingkan dengan wilayah Kabupaten Tulang Bawang. Data yang digunakan bersumber dari Tulang Bawang dalam angka tahun 2006 dan Database Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Tulang Bawang tahun 2006. Asumsi yang digunakan dalam analisis

(42)

ini adalah bahwa (1) kondisi geografis relatif seragam, (2) pola-pola aktifitas bersifat seragam, dan (3) setiap aktifitas menghasilkan produk yang sama.

Persamaan dari Location Quatient Analysis (LQ) adalah :

..

.

/ .

/ X Xi

X LQ

ij

= X

ij j

Keterangan :

LQij : Indeks Location Quotient i untuk komoditas j

Xij : Luas areal pengusahaan komoditas i di kecamatan j (ha) X.j : Luas areal total pengusahaan komoditas di kecamatan j (ha)

Xi. : Luas areal total pengusahaan komoditas i di Kabupaten Tulang Bawang (ha)

X.. : Luas areal total pengusahaan seluruh komoditas di wilayah Kabupaten Tulang Bawang (ha)

Untuk dapat menginterpretasikan hasil analisis LQ, digunakan batasan sebagai berikut :

- Jika nilai LQij > 1, maka hal ini menunjukkan terjadinya konsentrasi suatu aktivitas di kecamatan-j secara relatif dibandingkan dengan total kabupaten atau terjadi pemusatan aktifitas di kecamatan-j.

- Jika nilai LQij = 1, maka kecamatan-j tersebut mempunyai pangsa aktifitas setara dengan pangsa total atau konsentrasi aktifitas di kecamatan-j sama dengan rata-rata total kabupaten.

- Jika nilai LQij < 1, maka kecamatan-j tersebut mempunyai pangsa relatif lebih kecil dengan aktifitas secara umum ditemukan di seluruh kabupaten.

Untuk mendukung analisis LQ ini digunakan analisis Location Index (LI) dengan persamaan :α = (Xij/X.j)−Xi./X..). Setelah diperoleh hasil perhitungan, maka hasil perhitungan yang bernilai positif saja yang digunakan untuk komoditas yang diselidiki. Nilai α yang mendekati 1 artinya pengusahaan komoditas tersebut terkonsentrasi di suatu daerah.

C. Analisis Usahatani

Analisis usahatani dilakukan untuk mengetahui nilai tambah yang akan diperoleh petani di Kawasan Transmigrasi Mesuji, apakah usaha yang dilakukan petani menguntungkan atau tidak, sehingga dalam jangka panjang usahatani tersebut layak dikembangkan atau tidak. Metode analisis finansial untuk

Gambar

Gambar  22  Tipologi  Kelembagaan  Agribisnis  menurut  Hierarki  Wilayah  di  Kawasan  Transmigrasi Mesuji
Gambar  26  Peta  Tipologi  Kelembagaan  Semi  Sustain  dengan  Kendala  Tata  Kelola  (Governance)  menurut Hierarki Wilayah di Kawasan Transmigrasi Mesuji
Tabel 2.  Tujuan yang Diteliti, Variabel, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Gambar  2.  Struktur AHP Terhadap Penentuan Pusat Aktivitas Pelayanan KTM  Identifikasi Tiplologi Kelembagaan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji struktur mikro dapat diketahui dengan melihat hasil foto metalografi pada pendinginan terbentuk ledeburit dan cementite. Pada pendinginan udara ledeburite ke

Pada sampul luar ditulis nama paket pekerjaan, nama dan alamat peserta, serta ditujukan kepada Tim Pengadaan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Direksi, Komisaris,

Bagi negara yang mengandalkan sektor pajak sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan akan menghadapi masalah besar jika para wajib pajak (WP) nya masih sering

Sedangkan pendekatan sistem yang lebih menekankan pada elemen atau komponen mendefinisikan sistem sebagai kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai

Budaya amanat untuk hidup sederhana dan damai (selaras dengan lingkungan sosial dan lingkungan alam) telah membentuk masyarakat yang mandiri (pangan)

Pada fasilitas umum ditempatkan dekat dengan bangunan rusunawa yang memudahkan warga untuk menggunakan fasilitas tersebut. Dimana balai, perpustakaan mini dan musholla menjadi

Pada proses ini Dilakukan perataan hujan menggunakan metode rata-rata aljabar dari data hujan harian hasil pencatatan curah hujan dari daerah masing-masing

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pasien dalam meningkatkan. keberhasilan terapi DM