• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh. M. DODDY NURHADI /M.Kn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh. M. DODDY NURHADI /M.Kn"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh

M. DODDY NURHADI 147011165/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

M. DODDY NURHADI 147011165/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

Nomor Pokok : 147011165

Program Studi : KENOTARIATAN

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

Pembimbing Pembimbing

(Prof. Syamsul Arifin, SH, MH) (Dr. Edy Ikhsan, SH, MA)

Ketua Program Studi, Dekan,

(Prof.Dr.Muhammad Yamin,SH,MS,CN) (Prof.Dr.Budiman Ginting,SH,MHum)

Tanggal lulus : 08 February 2017

(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN Anggota : 1. Prof. Syamsul Arifin, SH, MH

2. Dr. Edy Ikhsan, SH, MA

3. Dr. Faisal Akbar Nasution SH, MHum 4. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum

(5)

Nama : M. DODDY NURHADI

Nim : 147011165

Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU

Judul Tesis : ANALISIS YURIDIS KEPEMILIKAN HAK ATAS TANAH SEMPADAN PANTAI DI DAERAH PANTAI CARITA PANDEGLANG BANTEN OLEH PT.

MUTIARA HITAM PERTIWI

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan,

Yang membuat Pernyataan

Nama : M. DODDY NURHADI Nim : 147011165

(6)

Dalam jual beli ternyata sering terjadi permasalahan yang timbul dari pemilik tanah.

Tanah tersebut abrasi sehingga menimbulkan objek tanah atau kedudukan nilai jual cottage menjadi murah/kurang nilai jual, Dalam hal ini ada pemilik cottage membuat bibir pantai dengan di beton untuk menahan deras air. Beberapa pihak yang tidak mau menjual tanah tersebut karena tidak sesuai dengan harga yang ditentukan oleh PT.

Mutiara Hitam Pertiwi disebabkan nilai objek berkurang dan tidak sesuai dengan nilai objek yang lama atau sesuai dengan sertifakat yang lama yang terdahulu 76.306 m2 dan sekarang tidak sesuai dengan sertifikat. Berdasarkan latar belakang tersebut maka sangat menarik untuk mengkaji permasalahan sebagai berikut : Bagaimana kedudukan hak atas tanah sempadan pantai PT Mutiara Hitam Pertiwi yang diperoleh dari jual beli? Bagaimana prosedur pendaftaran hak atas tanah sempadan Pantai di daerah Pantai Carita Pandeglang Banten oleh PT.Mutiara Hitam Pertiwi? Bagaimana legalitas sertifikat hak atas tanah yang di miliki oleh PT.Mutiara Hitam Pertiwi yang luasnya sudah berkurang akibat abrasi? Sifat dari penelitian ini adalah bersifat deskriftif Jenis penelitian ini adalah yuridis empiris , yaitu suatu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara melihat kepada aspek penerapan hukum itu sendiri ditengah masyarakat, ataupun suatu kajian mengenai perilaku masyarakat yang timbul akibat berinteraksi dengan sistem norma yang ada.

Kedudukan tanah sempadan pantai diperoleh dari jual beli dari masyarakat kabupaten pandeglang, desa cerita, Provinsi Banten, berdasarkan kepemilikan tanah atas kepemilikan tanah adalah surat keterangan kepala desa atau surat girik, yang diperoleh dari masyarakat dan di jual kepada PT.Mutiara Hitam Pertiwi, dan dikelolah menjadi cottages dan memperoleh Hak Guna Bangunan.

Posedur pendaftaran tanah sepadan pantai sesuai dengan yang umum sehingga fakta mengikuti akan tetapi tanah kepemilikan tidak sesuai dengan luasnya atas tanah dan kepemilikan harusnya dapat di patok atas kejadian penelitian yang tanah abrasi sehingga dapat melakukan penimbunan untuk memulihkan tanah seperti semula atau dalam Undang-undang Pokok Agraria (UUPA). Legalitas kepemilikan tanah yang abrasi secara hukumnya adalah sah secara hukum akan tetapi nilai objek tanah tersebut berkurang dari luasnya dan nilai jualnya. Analisis tentang objek tanah yang nilai objek tanah telah berubah dalam hal ini diperlukannya pengukuran ulang objek tanah.

Kata Kunci : Sempadan Pantai, Kepemilikan, Tanah

(7)

of Subdistrict. In fact, problems due to the land owner are frequently found. There was abrasion on the land that has decreased the resale value of the land or the cottage. In this case, one of the previous land owners has built the edge of beach using concrete for water current control. Some parties who did not agree to sell the land because they did not concur with the price determined by PT. Mutiara Hitam Pertiwi. The price was determined so because the object value has been decreased and it was not in accordance with the old object value. The object value as stated in its certificate was 76,306 m2, but the present value is no longer the same. Based on this case, the research problems were how about the position of the land title with coastal borders that PT. Mutiara Hitam Pertiwi obtained from the buying and selling? How about the title registration procedures of the land with coastal borders in Carita Beach, Pandeglang, Banten? And how about the legality of the land title certificate possessed by PT. Mutiara Hitam Pertiwi which width has been decreased due to abrasion? This is a descriptive research. The research type is judicial empirical; a legal research which is done by reviewing the aspects of law implementation in society, or a study on social behaviors which are caused by the interactions with the present norms.

The position of the land with coastal borders which was purchased from the people in Pandeglang Regency, Carita Village, Banten Province, according to the land entitlement, is the letter of notification by the Village Head or what is also called a temporary deed of ownership; which was gained from the people, sold to PT.

Mutiara Hitam Pertiwi, managed into cottages and granted HGB (Building Rights).

The title registration of the land with coastal borders has been in accordance with the general procedures so that the facts are valid. However, the land ownership is not in accordance with the land width and its borders should have been marked after the abrasion so that the piling up can be done to be compliant with the original width or the UUPA (Land Act). The ownership legality of the abraded land according to the law is legally valid; however, the land value has been decreased due to its width and resale value. The analysis of land which value has changed shows that the land requires to be measured again.

Keywords: With Coastal Borders, Ownership, Land

(8)

segala anugrah dan kesempatan yang telah diberikan olehnya mulai dari masa perkuliahan sampai dengan tahap penyelesaian tesis seperti sekarang ini di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Tesis ini diberi Judul “ANALISIS YURIDIS KEPEMILIKAN HAK ATAS TANAH SEMPADAN PANTAI DI DAERAH PANTAI CARITA PANDEGLANG BANTEN OLEH PT. MUTIARA HITAM PERTIWI”

Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis tidak lupa ingin mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa dan nama-nama yang disebut dibawah ini. Beliau-beliau tersebut merupakan penuntun dan juga motivasi yang mendukung penulis dari awal, masa perkuliahan hingga sekarang sampai selesainya tesis ini. Penulis menghaturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan yang berharga yang telah diberikan untuk dapat menyelesaikan studi strata-II Progam Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H., M.S., C.N., Selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara dan juga selaku Dosen

(9)

4. Bapak Prof. Syamsul Arifin, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing Ke-II penulis dalam penulisan tesis ini yang telah banyak memberikan masukan dan arahan yang berarti serta dengan memberikan petunjuk dalam penulisan ini.

5. Bapak Dr. Edy Ikhsan, S.H., M.A., selaku Dosen Pembimbing Ke-III penulis dalam penulisan tesis ini yang telah banyak memberikan masukan dan arahan yang berarti serta dengan memberikan petunjuk dalam penulisan ini.

6. Bapak Dr. Faisal Akbar Nasution S.H., M.Hum., selaku Dosen Penguji yang telah dengan sabar memberi masukan yang berarti dalam penulisan tesis ini.

7. Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, S.H., CN., M.Hum., selaku Dosen Penguji yang telah dengan sabar memberi masukan yang berarti dalam penulisan tesis ini.

8. Bapak dan Ibu Guru Besar juga segenap Dosen dan staf pengajar Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, tanpa bisa disebutkan satu persatu namanya, atas jasa-jasanya dalam memberikan ilmu dan bimbingan selama masa perkuliahan.

9. Para Pegawai pada program studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang selalu membantu kelancaran dalam manajemen administrasi yang diperlukan.

10. Kedua Orang Tua yang saya cintai dan sayangi, yaitu Bapakku IR H Tjipto Basuki dan Ibuku H Siti Miskaya, adik-adikku.

(10)

Tesis yang telah diselesaikan dengan segenap hati dan pemikiran ini tentunya masih perlu untuk diperbaiki karena di dalamnya masih terdapat kekurangan- kekurangan untuk itu, dengan tangan terbuka akan menerima segala kritik maupun saran yang sifatnya membangun demi kemajuan kita bersama.

Akhir kata, atas segala perhatian yang telah diberikan untuk tesis ini, sekali lagi penulis ucapkan terima kasih. Semoga tesis ini sedikit banyak juga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Februari 2017 Hormat Penulis

(M. Doddy Nurhadi)

(11)

Nama : M. Doddy Nurhadi Tempat/Tanggal lahir : Jakarta / 23 April 1969 Jenis Kelamin : Laki laki

Status : Menikah

Agama : Islam

Alamat : Jl. Cipinang Cempedak II / 42 A Jakarta Timur

II. KELUARGA

Nama Ayah : Ir. H. Tjipto Basuki

Nama Ibu : H. Siti Miskayah

Nama Isteri : Sovia YD.

III. PENDIDIKAN 1. SD Yaktapena (1982) 2. SMP Negeri 76 (1985) 3. SMA Negeri 22 (1988)

4. S-1 Fakultas Hukum Universitas Jakarta (2014)

5. S-2 Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2017)

(12)

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 17

C. Tujuan Penelitian ... 17

D. Manfaat Penelitian ... 18

E. Keaslian Penlitian ... 19

F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 20

1. Kerangka Teori ... 20

2. Konsepsi. ... 23

G. Metode Penelitian ... 26

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 27

2. Sumber Data. ... 28

3. Teknik Pengumpulan Data ... 29

4. Lokasi Penelitian ... 30

5. Alat Pengumpulan Data... 30

6. Analisa Data... 31

BAB II KEDUDUKAN HAK ATAS TANAH SEMPADAN PANTAI PT. MUTIARA HITAM PERTIWI YANG DIPEROLEH DARI JUAL BELI DARI MASYARAKAT ... 32

A. Tentang Tanah ... 32

1. Hak Penguasaan Atas Tanah. ... 33

(13)

C. Kedudukan Hak Atas Tanah Sempadan Pantai. ... 66

BAB III PROSEDUR PENDAFTARAN HAK ATAS TANAH SEPADAN PANTAI DI DAERAH PANTAI CARITA PANDEGLANG BANTEN OLEH PT. MUTIARA HITAM PERTIWI ... 69

A. Tinjauan Umum ... 69

1. Prosedur Pendaftaran Tanah ... 69

2. Legalitas Sertifikat Hak Atas Tanah Secara Umum ... 74

B. Pemeliharaan data tanah (maintenance) ... 75

C. Pendaftaran Tanah Secara Sistematik... 75

D. Pendaftaran Tanah Secara Sporadik ... 77

1. Macam Pendaftaran Tanah. ... 77

2. Penerbitan Sertifikat ... 81

E. Syarat-Syarat Dalam Permohonan Hak Atas Tanah Sempadan Pantai... 84

BAB IV LEGALITAS SERTIFIKAT HAK ATAS TANAH YANG DIMILIKI OLEH PT.MUTIARA HITAM PERTIWI ... 87

A. Tinjauan Umum ... 87

B. Status Objek Tanah yang Abrasi. ... 91

C. Legalitas Kepemilikan Tanah yang Abrasi... 93

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 95

A. Kesimpulan ... 95

B. Saran ... 96

DAFTAR PUSTAKA . ... 97

(14)

Dalam jual beli ternyata sering terjadi permasalahan yang timbul dari pemilik tanah.

Tanah tersebut abrasi sehingga menimbulkan objek tanah atau kedudukan nilai jual cottage menjadi murah/kurang nilai jual, Dalam hal ini ada pemilik cottage membuat bibir pantai dengan di beton untuk menahan deras air. Beberapa pihak yang tidak mau menjual tanah tersebut karena tidak sesuai dengan harga yang ditentukan oleh PT.

Mutiara Hitam Pertiwi disebabkan nilai objek berkurang dan tidak sesuai dengan nilai objek yang lama atau sesuai dengan sertifakat yang lama yang terdahulu 76.306 m2 dan sekarang tidak sesuai dengan sertifikat. Berdasarkan latar belakang tersebut maka sangat menarik untuk mengkaji permasalahan sebagai berikut : Bagaimana kedudukan hak atas tanah sempadan pantai PT Mutiara Hitam Pertiwi yang diperoleh dari jual beli? Bagaimana prosedur pendaftaran hak atas tanah sempadan Pantai di daerah Pantai Carita Pandeglang Banten oleh PT.Mutiara Hitam Pertiwi? Bagaimana legalitas sertifikat hak atas tanah yang di miliki oleh PT.Mutiara Hitam Pertiwi yang luasnya sudah berkurang akibat abrasi? Sifat dari penelitian ini adalah bersifat deskriftif Jenis penelitian ini adalah yuridis empiris , yaitu suatu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara melihat kepada aspek penerapan hukum itu sendiri ditengah masyarakat, ataupun suatu kajian mengenai perilaku masyarakat yang timbul akibat berinteraksi dengan sistem norma yang ada.

Kedudukan tanah sempadan pantai diperoleh dari jual beli dari masyarakat kabupaten pandeglang, desa cerita, Provinsi Banten, berdasarkan kepemilikan tanah atas kepemilikan tanah adalah surat keterangan kepala desa atau surat girik, yang diperoleh dari masyarakat dan di jual kepada PT.Mutiara Hitam Pertiwi, dan dikelolah menjadi cottages dan memperoleh Hak Guna Bangunan.

Posedur pendaftaran tanah sepadan pantai sesuai dengan yang umum sehingga fakta mengikuti akan tetapi tanah kepemilikan tidak sesuai dengan luasnya atas tanah dan kepemilikan harusnya dapat di patok atas kejadian penelitian yang tanah abrasi sehingga dapat melakukan penimbunan untuk memulihkan tanah seperti semula atau dalam Undang-undang Pokok Agraria (UUPA). Legalitas kepemilikan tanah yang abrasi secara hukumnya adalah sah secara hukum akan tetapi nilai objek tanah tersebut berkurang dari luasnya dan nilai jualnya. Analisis tentang objek tanah yang nilai objek tanah telah berubah dalam hal ini diperlukannya pengukuran ulang objek tanah.

Kata Kunci : Sempadan Pantai, Kepemilikan, Tanah

(15)

of Subdistrict. In fact, problems due to the land owner are frequently found. There was abrasion on the land that has decreased the resale value of the land or the cottage. In this case, one of the previous land owners has built the edge of beach using concrete for water current control. Some parties who did not agree to sell the land because they did not concur with the price determined by PT. Mutiara Hitam Pertiwi. The price was determined so because the object value has been decreased and it was not in accordance with the old object value. The object value as stated in its certificate was 76,306 m2, but the present value is no longer the same. Based on this case, the research problems were how about the position of the land title with coastal borders that PT. Mutiara Hitam Pertiwi obtained from the buying and selling? How about the title registration procedures of the land with coastal borders in Carita Beach, Pandeglang, Banten? And how about the legality of the land title certificate possessed by PT. Mutiara Hitam Pertiwi which width has been decreased due to abrasion? This is a descriptive research. The research type is judicial empirical; a legal research which is done by reviewing the aspects of law implementation in society, or a study on social behaviors which are caused by the interactions with the present norms.

The position of the land with coastal borders which was purchased from the people in Pandeglang Regency, Carita Village, Banten Province, according to the land entitlement, is the letter of notification by the Village Head or what is also called a temporary deed of ownership; which was gained from the people, sold to PT.

Mutiara Hitam Pertiwi, managed into cottages and granted HGB (Building Rights).

The title registration of the land with coastal borders has been in accordance with the general procedures so that the facts are valid. However, the land ownership is not in accordance with the land width and its borders should have been marked after the abrasion so that the piling up can be done to be compliant with the original width or the UUPA (Land Act). The ownership legality of the abraded land according to the law is legally valid; however, the land value has been decreased due to its width and resale value. The analysis of land which value has changed shows that the land requires to be measured again.

Keywords: With Coastal Borders, Ownership, Land

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pertumbuhan penduduk yang pesat disertai dengan meningkatnya intensitas pembangunan di segala bidang, menyebabkan permasalahan dan konflik di bidang pertanahan juga semakin meningkat. Permasalahan yang paling utama adalah terbatasnya ketersediaan lahan, terutama di kota-kota besar. Kondisi yang demikian memberikan alasan bagi para investor untuk merambah wilayah pesisir atau pantai dan menjadikannya sebagai tempat kegiatan usaha, mengingat selama ini wilayah pantai belum banyak tersentuh maupun dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan wilayah pantai tersebut meliputi kegiatan berbasis ekonomi, diantaranya sebagai lahan industri, rekreasi/wisata, bangunan hotel dan resort, pemukiman, pertanian, dan sebagainya. Sementara itu, wilayah pantai merupakan kawasan dengan ekosistem yang khas karena memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan menyangga kehidupan masyarakat pantai, sehingga keberadaannya perlu dilestarikan.1

Wilayah pesisir atau pantai merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan, baik perubahan alam maupun perubahan akibat ulah manusia. Fenomena yang terjadi saat ini sungguh sangat memprihatinkan dan membuat hati miris, dimana eksploitasi wilayah pantai hanya demi kepentingan pemilik modal besar. Sekitar 80%

wilayah pantai telah dikuasai oleh swasta, termasuk pengusaha. Mereka dengan

1 Arika, Yovita dan Triana, Neli. 2002. Ketika Pantura Jateng Terjamah Abrasi.

http://www.kompas.com

(17)

leluasa mengubah pantai, termasuk mendirikan bangunan di wilayah pantai dengan cara mereklamasi pantai.2 Selain itu kelestarian lingkungan dan ekosistem pesisir yang kaya tidak menjadi prioritas utama lagi. Desakan kebutuhan ekonomi telah menyebabkan wilayah pantai yang seharusnya menjadi wilayah penyangga daratan menjadi tidak dapat mempertahankan fungsinya sehingga kerusakan lingkungan pantai pun terjadi. Kondisi ini terjadi di pantai selatan Jabar, dimana keadaannyanya semakin mengkhawatirkan akibat adanya aktivitas masyarakat setempat serta eksploitasi sumber daya alam seperti pasir besi.

Pantai-pantai di seluruh wilayah Indonesia mestinya terbuka untuk kepentingan umum. Namun ketika hotel-hotel, resort, cottage serta pemukiman mewah semakin menjamur dibangun di sepanjang pantai, maka pantai tidak lagi menjadi ruang publik dan terbebas dari monopoli pihak bermodal besar. Seperti yang terjadi di sepanjang pantai Anyer atau pantai-pantai di Bali, bangunan atau properti yang seharusnya dibangun paling minim berjarak 20 m dari garis batas air pasang, ternyata berdiri dan berpagar kokoh serta begitu mepet dengan bibir pantai bahkan sampai menjorok ke laut.

Kondisi tersebut memberikan dampak terhadap kelestarian lingkungan pantai dan kehidupan nelayan tradisional. Dampak lainnya adalah nelayan kecil atau tradisional merasa diabaikan hak-haknya, karena adanya bangunan-bangunan tersebut di sepanjang pantai telah jelas akan menutup akses nelayan kecil atau tradisional terhadap ruang laut. Mereka akan kesulitan mendapatkan tempat untuk merapatkan

2Ibid

(18)

perahunya. Padahal nelayan tradisional yang merupakan komunitas terbesar masyarakat pantai yang pada akhirnya akan menjadi komunitas yang paling dirugikan dalam kasus seperti ini. Disamping itu dampak kerusakan lingkungan pantai dan pesisir yang cukup parah akan menghilangkan fishing ground dan mempengaruhi kehidupan nelayan tradisional di daerah tersebut yang akhirnya memerparah kemiskinan nelayan.

Fenomena banyaknya bangunan-bangunan di sepanjang pantai dan kerusakan lingkungan pantai serta kepentingan nelayan tradisional yang termarjinalkan harus segera mendapat perhatian sekaligus penangan serius. Untuk mencegah terjadinya kerusakan pantai lebih jauh, diperlukan adanya kawasan sempadan pantai. Daerah yang disebut sebagai sempadan pantai tersebut harus dijadikan daerah konservasi.

Dalam ketentuan Keppres No. 32 Tahun 1990, diatur perlindungan sempadan pantai sejauh 100 meter. Peraturan yang telah ada tersebut, hendaknya ditaati, ditegakkan,dan ditindaklajuti dengan aturan-aturan pelaksana dibawahnya baik di tingkat pusat maupun daerah.

Seringkali penggunaan istilah ”pantai” dan “pesisir” tidak didefinisikan dengan jelas dan pasti. Apabila ditinjau secara yuridis tampaknya kedua istilah tersebut harus diberi pengertian secara jelas. Pemaknaan kembali kedua istilah tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan keraguan atau ketidakpastian, baik dalam perumusan suatu peraturan maupun dalam pelaksanaannya. Berikut ini definisi

“pantai dan “pesisir :3

3 Diraputra, Suparman A. 2001. Sistem Hukum dan Kelembagaan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir secara Terpadu. Prosiding Pelatihan Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu.Bogor:

PKSPL IPB.

(19)

“Pantai adalah daerah pertemuan antara air pasang tertinggi dengan daratan.

Sedangkan garis pantai adalah garis air yang menghubungkan titik-titik pertemuan antara air pasang tertinggi dengan daratan. Garis pantai akan terbentuk mengikuti konfigurasi tanah pantai/daratan itu sendiri”.

“Pesisir adalah daerah pertemuan antara pengaruh daratan dan pengaruh lautan. Ke arah daratan mencakup daerah-daerah tertentu di mana pengaruh lautan masih terasa (angin laut, suhu, tanaman, burung laut, dsb). Sedangkan ke arah lautan daerah pesisir dapat mencakup kawasan-kawasan laut dimana masih terasa atau masih tampak pengaruh dari aktifitas di daratan (misalnya penampakan bahan pencemar, sedimentasi, dan warna air)”

Dari definisi pantai dan pesisir tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian pesisir mencakup kawasan yang lebih luas dari pengertian pantai. Dalam konteks ini dapat pula dibedakan antara „tanah pantai” dan “tanah pesisir”. Berikut ini definisi

“tanah pantai” dan “tanah pesisir”. Tanah pantai adalah tanah yang berada antara garis air surut terendah dan garis air pasang tertinggi, termasuk ke dalamnya bagian- bagian daratan mulai dari garis air pasang tertinggi sampai jarak tertentu ke arah daratan, yang disebut sebagai „sempadan pantai.

Menurut Kepmen Kelautan dan Perikanan No. 10 Tahun 2002 tentang Pengelolaan, sempadan pantai adalah daerah sepanjang pantai yang diperuntukkan bagi pengamanan dan pelestarian pantai. Kawasan sempadan pantai berfungsi untuk mencegah terjadinya abrasi pantai dan melindungi pantai dari kegiatan yang dapat mengganggu/merusak fungsi dan kelestarian kawasan pantai. Daerah sempadan pantai hanya diperbolehkan untuk tanaman yang berfungsi sebagai pelindung dan pengaman pantai, penggunaan fasilitas umum yang tidak merubah fungsi lahan sebagai pengaman dan pelestarian pantai sebagai berikut :

(20)

1) Perlindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah pantai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai.

2) Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah darat.

Di samping itu sebagaimana diatur dalam Pasal 14 UUPA bahwa terdapat pengaturan penguasaan dan penggunaan tanah untuk kawasan tertentu berdasarkan rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaannya, baik yang disusun perencanaannya oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk :

a) keperluan negara;

b) keperluan peribadatan dan keperluan-keperluan suci lainnya;

c) keperluan pusat-pusat kehidupan masyarakat, sosial, kebudayaan dan lain-lain kesejahteraan;

d) keperluan memperkembangkan produksi pertanian, peternakan dan perikanan serta sejalan dengan itu; dan

e) keperluan memperkembangkan industri, transmigrasi dan pertambangan.

Kawasan/garis pantai tersebut berdasarkan data yang ada, untuk seluruh wilayah ndonesia mencapai 81.800 km dan termasuk salah satu garis pantai yang paling panjang di dunia.4

Kawasan pantai tersebut menurut Penjelasan Pasal 1 angka 1 UU Nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang disebut sebagai sisi darat dari garis laut terendah dan merupakan bagian dari ruang daratan.

4 Andik Hardiyanto, Pembaruan Agraria di Sektor Perairan dalam Tim Lapera, Prinsip- prinsip Reforma Agraria Jalan Penghidupan dan Kemakmuran Rakyat, (Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2001), hal. 277.

(21)

Kawasan sepanjang pantai merupakan kawasan penting dalam penguasaan dan penggunaan tanahnya karena selain dapat dimanfaatkan untuk tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan seperti usaha pertanian, peternakan, perikanan/tambak, industri dan pertambangan, sumber energi, tempat penelitian dan percobaan, kawasan pariwisata juga dapat difungsikan untuk kepentingan yang lebih tinggi, antara lain menyangkut masalah lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan atau kepentingan masyarakat setempat khususnya nelayan.

Sedang di sisi lain, kawasan pantai juga tidak tertutup kemungkinan ada yang hilang secara alami, baik karena abrasi pantai, tenggelam atau hilang karena longsor atau karena pengerukan laut, tertimbun atau gempa bumi (tsunami) atau sebaliknya dapat saja bertambah luas karena munculnya tanah timbul akibat gelombang laut, selain itu, kawasan pantai juga dapat ditimbun (reklamasi) untuk kepentingan tertentu.

Bahkan belakangan muncul kecendrungan "pengkaplingan" kawasan pantai oleh masyarakat nelayan kampung, juga pengkaplingan untuk proyek perumahan di kawasan pantai, proyek pengembangan energi (PLTGU, misalnya), sehingga mengakibatkan rusaknya ekosistem pantai seperti habisnya hutan mangrove.5

Mengingat urgennya fungsi dan manfaat kawasan pantai yang sebagian dapat dimanfaatkan sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan manusia namun sekaligus pemanfaatan yang tidak terencana dapat merusak ekosistem sehingga perlu perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup di sekitarnya, maka

5Andik Hardiyanto, Ibid , hal.. 282.

(22)

berdasarkan Pasal 3 dan Pasal 5 Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, ditentukan bahwa kawasan sempadan pantai dikategorikan sebagai kawasan lindung atau kawasan perlindungan setempat.6

Pada Pasal 13 Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990 dinyatakan bahwa perlindungan sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah pantai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai. Semula oleh UUPA tidak ada diatur mengenai sempadan pantai tersebut apakah dapat diberikan hak-hak atas tanah, selanjutnya berdasarkan Pasal 60 Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai dinyatakan bahwa pemberian Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas sebidang tanah yang seluruhnya merupakan pulau atau berbatasan dengan pantai akan diatur tersendiri dengan Peraturan Pemerintah.

Ketentuan tersebut kemudian ditindak lanjuti dengan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 500-1197 Tanggal 3 Juni 1997, antara lain dinyatakan bahwa permohonan hak atas tanah yang seluruhnya merupakan pulau atau berbatasan dengan pantai untuk tidak dilayani sampai dikeluarkannya Peraturan Pemerintah yang mengatur hal tersebut.

Selanjutnya berdasarkan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 500-1698 Tanggal 14 Juli 1997 antara lain dinyatakan

6Lihat juga Penjelasan Pasal 4 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2004 tentang Penatagunaan tanah yang menegaskan bahwa sempadan pantai dikategorikan sebagai kawasan lindung/kawasan perlindungan setempat.

(23)

bahwa permohonan ijin lokasi dan permohonan hak atas tanah yang berbatasan dengan pantai masih dimungkinkan diproses yang dilakukan secara hati-hati dan selektif dan permohonan yang diajukan setelah tanggal 3 Juli 1997 agar dilaporkan kepada Menteri untuk mendapat petunjuk pelaksanaan lebih lanjut.

Ketentuan yang lebih tegas diatur dalam Pasal 11 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Pentagunaan Tanah yang menyebutkan bahwa terhadap tanah dalam kawasan lindung yang belum ada hak atas tanahnya dapat diberikan hak atas tanah, kecuali pada kawasan hutan, dengan catatan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 penggunaan dan pemanfaatan tanah di kawasan lindung atau kawasan budidaya harus sesuai dengan fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak boleh mengganggu fungsi alam, tidak mengubah benteng alam dan ekosistem alami.

Bahkan secara khusus dalam Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 diatur bahwa penggunaan dan pemanfaatan tanah pada pulau-pulau kecil dan bidang-bidang tanah yang berada di sempadan pantai, sempadan danau, sempadan waduk dan atau sempadan sungai harus memperhatikan :

a) kepentingan umum dan;

b) keterbatasan daya dukung, pembangunan yang berkelanjutan, keterkaitan ekosistem, keanekaragaman hayati serta kelestarian fungsi lingkungan.

Dalam hal ini penguasaan atas tanah menjadi faktor penting untuk dapat memanfaatkan dan menggunakan tanahnya, namun dalam penggunaan tanah tersebut ada aturan yang membatasi kewenangan dari yang menguasai tanah tersebut. A.P

(24)

Parlindungan menyatakan, “dikuasai” dan “dipergunakan” harus dibedakan, dalam arti bahwa dipergunakan itu sebagai tujuan daripada dikuasai dan kedua kata tersebut tidak ada sangkutpautnya dalam hubungan sebab akibat.7

Sekalipun dinyatakan bahwa dipergunakan sebagai tujuan daripada dikuasai, namun pengertian tersebut berbeda antara konsepsi yangdianut oleh Pemerintah melalui peraturan perundangan dengan pengertian yang dianut oleh masyarakat, dalam hal ini masyarakat memandang bahwa apabila sebidang tanah dikuasainya maka penggunaannya juga sesuai dengan kepentingannya.

Hal ini dapat dimengerti karena sejak dahulu terdapat perbedaan antara perasaan hukum rakyat dan kesadaran hukum penguasa atas tanah. Perselisihan mengenai tanah antara rakyat dan pemerintah secara umum telah terjadi karena pandangan yang berbeda mengenai konsep hak atas tanah.8

Dalam kaitan ini, peraturan perundang-undangan memandang diperkenankannya diberikan hak atas tanah pada kawasan pantai asal disesuaikan penggunaannya dengan fungsi kawasan yakni sebagai kawasan lindung, sedang masyarakat beranggapan bahwa penguasaan atas tanah berkaitan erat dengan penggunaannya, menguasai tanah berarti dapat menggunakannya juga.

Kemudian perkembangan terakhir, telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil yang

7 AP Parlindungan, Komentar Atas Undang Undang Penataan Ruang Bandung : Mandar Maju, 1993, hal. 42

8 BF. Sihombing, Evolusi Kebijakan Pertanahan Dalam Hukum Tanah Indonesia, Jakarta : Toko Gunung Agung, 2005, hal. 4

(25)

diundangkan pada tanggal 17 Juli 2007. Pengaturan tentang pengelolaan wilayah pesisir tersebut tentunya menyangkut wilayah pantai. Hal ini perlu ditelusuri ketentuan yang mengatur tentang obyek pantai dalam Undang Undang Nomor 27 Tahun 2007, sebab bisa jadi pengaturan atas obyek pantai berlainan antara satu peraturan perundangan dengan peraturan perundangan lainnya, sehingga menimbulkan konflik kepentingan terutama konflik antara lembaga yang menanganinya.

Hal ini dapat dimengerti karena dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 juga diatur adanya perizinan dengan bentuk Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) yang diterbitkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), sementara dalam hal pengelolaan tanah di kawasan pantai dapat juga diberikan hak atas tanah oleh Instansi Badan Pertanahan Nasional.

Wilayah pantai dapat dipahami sebagai wilayah tempat bertemunya berbagai kepentingan, baik pemerintah, pengusaha maupun masyarakat dalam rangka memanfaatkan wilayah pantai dan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya.

Dalam kaitan ini, pemanfaatan sumber daya pantai dan ekosistemnya melalui peraturan perundang-undangan memiliki kedudukan penting dalam upaya memperkecil, mencegah, atau bahkan menghindarkan terjadinya tumpang-tindih kewenangan dan benturan kepentingan.

Perlu diingat bahwa pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya pantai bersifat lintas sektoral karena sektor kelautan melingkupi kewenangan beberapa institusi negara yang memiliki bidang kerja yang berkaitan dengan laut, misalnya

(26)

perhubungan, pariwisata dan budaya, energi dan sumber daya mineral,serta kelautan dan perikanan. Problemnya, institusi-institusi tersebut tidak memiliki platform dan arah kebijakan pembangunan yang sejalan dalam bidang kelautan. Masing-masing institusi negara berjalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi yang jelas. Seperti yang terjadi di kawasan wisata Bunaken, tidak hanya Pemda terlibat dalam pengelolaannya, melainkan juga melibatkan sejumlah instansi terkait seperti, Badan Pengelola Kawasan Bunaken di Pemda Sulut, Dinas Pariwisata Sulut, Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam (SBKSDA) dan Dinas Kehutanan Sulut.

Tinjauan yuridis sempadan pantai mencakup pula status kepemilikan kawasan dalam sempadan pantai dan peraturan perundangan yang memuat ketentuan lebar kawasan sempadan pantai dihitung dari garis pantai. Dari beberapa definisi sempadan pantai yang telah dikemukan di atas, dapat disimpulkan bahwa kawasan sempadan pantai merupakan kawasan yang dikuasai oleh Negara yang dilindungi keberadaannya karena berfungsi sebagai pelindung kelestarian lingkungan pantai.

Dengan demikian kawasan sempadan pantai menjadi ruang publik dengan akses terbuka bagi siapapun (public domain).

Status tanah Negara pada kawasan tersebut mengisyaratkan bahwa negara dalam hal pemerintah yang berhak menguasai dan memanfaatkannya sesuai dengan fungsinya. Pemanfaatan dan pengelolaan kawasan sempadan pantai semata-mata difokuskan untuk kegiatan yang berkaitan dengan fungsi konservasinya serta harus steril atau terbebas dari kegiatan pembangunan. Pemerintah sebagai pemegang hak pengelolaan memegang peranan dalam mengendalikan pemanfaatannya tersebut, bisa

(27)

dengan jalan kontrol memberikan ijin pemanfaatan bagian-bagian tanah kawasan pantai pada pihak ketiga berdasarkan perjanjian. Dan Pemerintah atau Pemerintah Daerah mempunyai kewajiban mengadakan pengawasan terhadap pengelolaan kawasan pantai oleh pihak ketiga tersebut. Selain pengawasan dan kontrol terhadap pemanfaatan kawasan sempadanpantai, sebelumnya perlu dilakukan pengetatan pemberian izin lokasi untuk pemanfaatan tanah pantai.

Sempadan pantai sebagaimana dimaksud dalam uraian di atas ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di Indonesia, setelah terjadi perubahan paradigma pemerintahan, yakni dengan berlakunya UU No. 22 Tahun 1999, maka tiap daeah tingkat II memiliki wewenang untuk mengelola wilayah laut selebar 1/3 mil dari lebar laut yang menjadi wewenang propinsi.

Wewenang tersebut, termasuk membuat peraturan tentang penentuan kawasan sempadan pantai, yang lebarnya ditetapkan sesuai dengan kondisi fisik pantai masing- masing daerah. Walaupun begitu Pemerintah Pusat melalui Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, telah menetapkan kawasan sempadan pantai dengan jarak minimal 100 meter dari pantai pada waktu pasang tertinggi, sebagai pedoman bagi pemerintah di daerah tingkat II.

Fakta adanya pelanggaran-pelanggaran di kawasan sempadan pantai mungkin juga dipicu oleh peraturan perundang-undangan dalam jumlah banyak secara bersamaan dalam waktu yang sama dan dalam ruang yang sama pula. Hal ini sudah barang tentu telah membawa konsekuensi terjadinya disharmoni hukum yang ditunjukkan misalnya dengan adanya tumpang-tindih kewenangan dan benturan

(28)

kepentingan. Contoh konkret dari disharmoni tersebut adalah ketidakselarasan dan ketidakserasian antara penerapan UU Kehutanan dan UU Perikanan dalam masalah konservasi. Inkonsistensi dalam penjatuhan sanksi terhadap pelanggaran hukum juga menimbulkan terjadinya disharmoni hukum yang harus diharmonisasikan melalui kegiatan penyerasian dan penyelarasan hukum.9 Situasi ini perlu segera disikapi dengan menyelaraskan berbegai peraturan yang sudah melalui revisi-revisi, pencabutan atau penerbitan peraturan yang baru.

Garis sempadan pantai ditentukan lebarnya berdasarkan garis pantai yang ada.

Jadi sebelum dilakukan penentuan garis sempadan pantai, terlebih dahulu ditentukan garis pantainya sebagai acuan penarikan batas kawasan sempadan. Garis pantai menurut IHO Hydrographic Dictionary (1970) adalah garis pertemuan antara pantai dan air (lautan). Walaupun secara periodik permukaan laut selalu berubah, suatu permukaan laut tertentu yang tetap dan dapat ditentukan harus dipilih untuk menjelaskan posisi garis pantai. Sedangkan dalam UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, garis pantai didefinisikan sebagai garis air rendah. Oleh karena itu secara teknis harus dijelaskan juga garis air rendah mana yang dipilih.

Dalam bidang hidrografi biasanya digunakan garis air tinggi (high water line) sebagai garis pantai. Dalam bidang pertanahan garis pantai yang digunakan merupakan garis air rendah atau garis pertemuan antara air pasang rata-rata tertinggi pada saat pasang purnama atau pasang perbani, sehingga terdapat perbedaan dengan

9Patlis Jason M. Dkk. 2005. Menuju Harmonisasi Sistem Hukum Sebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. Jakarta: Bappenas.

(29)

garis pantai yang dimaksud dalam aplikasi hidrografi. Fakta yang ada, penentuan garis pantai di lapangan banyak menghadapi kendala, baik yang berkaitan dengan karakteristik pantai maupun teknik-teknik penentuannya.10

Namun dalam peraturan-peraturan perundangan yang berlaku garis sempadan pantai ditetapkan dengan acuan garis air tertinggi, seperti ketentuan mengenai sempadan pantai dalam Pasal 34 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, adalah:”Kriteria kawasan lindung untuk sempadan pantai yaitu daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat”. Pada prinsipnya penentuanletak garis sempadan pantai diperhitungkan berdasarkan karakterisik pantai, fungsi kawasan, dan diukur dari garis pasang tertinggi pada pantai yang bersangkutan. Contohnya untuk kawasan pantai budidaya/non-lindung, perhitungan garis sempadan pantai didasarkan pada tingkat kelandaian/keterjalan pantai. Sedangkan untuk kawasan pantai lindung, garis sempadan pantainya minimal 100 m dari garis pasang tertinggi pada pantai yang bersangkutan.

Gencarnya pembangunan sarana infrastruktur di kawasan pantai yang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan akan menyebabkan kerusakan ekosistem pantai dan laut. Tentu saja kerusakan ekosistem itu dipicu oleh pola hidup dan paradigma pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah,

10 Djunarsjah, Eka. 2001. Urgensi Penetapan Batas Laut berkaitan dengan Pelaksanaan Otonomi Daerah. Bandung: FTSP –ITB.

(30)

kurang mengacu pada kaidah kelestarian lingkungan. Apabila kawasan sempadan pantai dapat difungsikan secara optimal maka kerusakan perairan nasional dapat diminimalisir. Penentuan garis sempadan pantai yang tegas akan memberikan manfaat bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan dalam hal ini para stakeholder, beberapa manfaat tersebut yaitu:

1) Menjamin terbukanya akses ruang laut kepada nelayan tradisional, 2) Menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem di wilayah pesisir,

3) Menjamin keamanan bangunan atau infrastrukur lainnya dari jangkauan bencana tsunami dan penetapan daerah evakuasi jika terjadi bencana,

4) Menjadi patokan penyelenggara pemerintahan dalam menata kawasan pesisir/pantai.

Pantai Carita Pandeglang Banten terletak tidak jauh dari pantai Anyer yang terkenal itu. Pantai ini letaknya strategis, terletak di Jalan Raya Pandeglang-Labuan kecamatan Carita kabupaten Pandeglang Banten. Karena letaknya yang tidak jauh dari Ibukota, pantai ini merupakan wilayah pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan lokal ataupun wisatawan mancanegara khususnya pada akhir pekan. Pasca kejadian tsunami yang menimpa Aceh, wilayah pantai Carita sempat mengalami penurunan pengunjung karena khawatir akan terjadi hal serupa di pantai carita.

Namun seiring berjalannya waktu, pantai ini kembali ramai dikunjungi.

Kawasan pantai carita sendiri terdiri dari banyak pantai-pantai. Beberapa dikelola oleh penduduk sekitar, beberapa lagi dikelola oleh perusahan dan didirikan hotel atau cottage mewah diatasnya. Secara umum, anda akan disuguhi pemandangan

(31)

hamparan pasir yang lembut dan air laut yang berombak kecil. Aroma laut yang khas berpadu sempurna dengan pepohonan rindang di tepian pantai. Suasana yang tepat untuk berlibur karena letaknya yang dekat dengan selat sunda, dari kejauhan akan nampak pemandangan anak gunung krakatau yang kokoh berdiri.

Di wilayah pantai carita, mayoritas pantainya berpasir bukan karang sehingga anda dapat bermain-main dengan pasir dan air. Ombaknya yang tidak sebesar pantai di wilayah selatan membuat anda tidak perlu terlalu khawatir, ditambah lagi adanya penjaga pantai di beberapa pantai yang siap siaga menjaga keamanan pengunjung.

Untuk mencapai pantai carita dari Jakarta/Tangerang anda dapat melalui jalan tol Jakarta-Merak dan keluar gerbang tol Cilegon dan selanjutnya mengikuti petunjuk arah untuk menuju pantai carita. Bila anda tidak lewat tol, ikuti Jalan Raya Jakarta- Serang dan ambil arah Cilegon. Sesampainya di Cilegon anda dapat mengikuti petunjuk jalan menuju pantai Carita. Bila kepadatan jalur terjadi, anda boleh mencoba jalur alternatif menuju pantai Carita melalui Serang, Palima, Ciomas, Padarincang, Cinangka. Tidak disarankan memakai jalur alternatif pada malam hari. Secara keseluruhan, pantai Carita sangat tepat untuk liburan singkat melepaskan diri sejenak dari kejenuhan. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dan akses yang mudah membuatnya menja di pilihan tepat untuk liburan singkat.

PT. Mutiara Hitam Pertiwi di Pandeglang Banten mendirikan cottage dengan cara membeli tanah dari masyarakat, yang jual belinya dilakukan dihadapan camat.

Dalam jual beli ternyata sering terjadi permasalahan yang timbul dari pemilik tanah.

Tanah tersebut abrasi sehingga menimbulkan objek tanah atau kedudukan nilai jual

(32)

cottage menjadi murah/kurang nilai jual, Dalam hal ini ada pemilik cottage membuat bibir pantai dengan di beton untuk menahan deras air. Beberapa pihak yang tidak mau menjual tanah tersebut karena tidak sesuai dengan harga yang ditentukan oleh PT.

Mutiara Hitam Pertiwi disebabkan nilai objek berkurang dan tidak sesuai dengan nilai objek yang lama atau sesuai dengan sertifakat yang lama yang terdahulu 76.306 m2 dan sekarang tidak sesuai dengan sertifikat.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dibuatlah tesis dengan judul

”ANALISIS YURIDIS KEPEMILIKAN HAK ATAS TANAH SEMPADAN PANTAI DI DAERAH PANTAI CARITA PANDEGLANG BANTEN OLEH PT.

MUTIARA HITAM PERTIWI”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar betaking terse but dilates dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana kedudukan hak atas tanah sempadan pantai PT Mutiara Hitam Pertiwi yang diperoleh dari jual beli ?

2. Bagaimana prosedur pendaftaran hak atas tanah sempadan Pantai di daerah Pantai Carita Pandeglang Banten oleh PT.Mutiara Hitam Pertiwi?

3. Bagaimana legalitas sertifikat hak atas tanah yang di miliki oleh PT.Mutiara Hitam Pertiwi yang luasnya sudah berkurang akibat abrasi?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang tersebut diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah;

(33)

1. Untuk mengetahui kedudukan hak atas tanah sempadan pantai PT. Mutiara Hitam Pertiwi yang diperoleh dari jual beli

2. Untuk mengetahui prosedur pendaftaran hak atas tanah sempadan Pantai di daerah Pantai Carita Pandeglang Banten oleh PT.Mutiara Hitam Pertiwi.

3. Untuk mengetahui tentang legalitas sertifikat hak atas tanah yang di miliki oleh PT. Mutiara Hitam Pertiwi yang luasnya sudah berkurang akibat abrasi.

D. Manfaat Penelitian

Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan baik secara teoritis maupun praktis yaitu :

1. Secara Teoritis

a. Diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan yang sedang diteliti.

b. Diharapkan dapat digunakan sebagai sumbangan pemikiran dan pengembangan ilmu hukum pada umumnya dan hukum agraria pada khususnya dan penelitian ini dapat menambah bahan terutama mengenai sertipikat ganda.

c. Diharapkan dapat menambah referensi/literature sebagai bahan acuan bagi penelitian yang akan datang apabila melakukan penelitian dibidang yang sama dengan bahan yang telah diteliti.

2. Secara Praktis

(34)

a. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam penelitian ini.

b. Diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat umum dan menambah pengetahuan penelitian yang berkaitan dengan keabsahan kepemilikan dan peralihan hak atas tanah.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran sementara dan pemeriksaan yang telah penulis lakukan baik di kepustakaan penulisan karya ilmiah Magister Hukum, maupun di Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dan sejauh yang diketahui, penelitian tentang “ANALISIS YURIDIS KEPEMILIKAN HAK ATAS TANAH SEMPADAN PANTAI DI DAERAH PANTAI CARITA PANDEGLANG BANTEN OLEH PT. MUTIARA HITAM PERTIWI”, belum pernah dilakukan.

Artinya secara akademik penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan kemurniannya, karena belum ada yang melakukan penelitian yang sama dengan judul penelitian ini, dan berdasarkan penelusuran kepustakaan tersebut menunjukkan bahwa penelitian dengan beberapa Judul tesis yang berhubungan dengan Judul topik dalam tesis ini antara lain :

1. Penelitian dengan judul Tinjauan Hukum Terhaadap Pengaturan Dan Penggunaan Tanah Pada Kawasan Pantai (Studi Di Kecamatan Medan Belawan), oleh Edi Syahputra, Nim 057011023.

(35)

2. Analisis Yuridis Pemberian Hak Guna Usaha Terhadap Perusahaan Asingdalam Bentuk Joint Usaha (Venture) Setelah Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, oleh Ruben Sianipar, Nim 117011003.

F. Kerangka Teori Dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.11 Dalam penelitian suatu permasalahan hukum, maka relevan apabila pembahasan di kaji menggunakan teori-teori hukum, konsep- konsep hukum dan asas asas hukum. Teori hukum dapat digunakan untuk menganalisis dan menerangkan pengertian hukum dan konsep yuridis, yang relevan untuk menjawab permasalahan yang muncul dalam penelitian hukum.12

Teori adalah menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi, suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta- fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan atau petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati.13 Teori merupakan generalisasi yang dicapai setelah mengedepankan pengujian dan hasilnya mencakup ruang lingkup dan fakta yang

11M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994, hal. 80.

12Salim H. S, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, (Rajawali Pers : Jakarta, 2010 ), hal. 54.

13JJ. Wuisman, Penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu Sosial, Jilid 1, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1996), hal. 203.

(36)

luas.14 Sedangkan fungsi teori dalam penelitian adalah untuk mensistematiskan penemuan-penemuan penelitian, membuat ramalan atau prediksi atas dasar penemuan dan menyajikan penjelasan yang dalam hal ini untuk menjawab pertanyaan. Artinya teori merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskan dan harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.15 Peter Mahmud Marzuki mengatakan bahwa penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori, atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.16

Adapun teori yang digunakan dengan permasalahan dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum. Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung dua pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.17 Kepastian hukum bermuara pada ketertiban secara sosial. Dalam kehidupan sosial, kepastian adalah mensamaratakan kedudukan subjek hukum dalam suatu perbuatan dan peristiwa hukum. Dalam paham positivisme, kepastian di berikan oleh negara sebagai pencipta hukum dalam bentuk undang undang. pelaksanaan kepastian di konkritkan dalam

14 Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1986), hal. 126.

15M. Solly Lubis (I), Op Cit, hal. 17.

16Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media, Jakarta, 2005, hal. 35.

17Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Penerbit Citra Aditya Bakti,Bandung, 1999, hal. 23.

(37)

bentuk lembaga yudikatif yang berwenang mengadili atau menjadi wasit yang yang memberikan kepastian bagi setiap subjek hukum.

Menurut Soerjono Soekanto bagi kepastian hukum yang penting adalah peraturan dan di laksanakan peraturan itu sebagaimana yang di tentukan. Apakah peraturan itu harus adil dan mempunyai kegunaan bagi masyarakat adalah di luar pengutamaan kepastian hukum. dengan tersedianya perangkat hukum yang tertulis, siapa pun yang berkepentingan akan mudah mengetahui kemungkinan apa yang tersedia baginya untuk menguasai dan menggunakan tanah yang di perlukannya, bagaimana cara memperolehnya, hak-hak dan kewajiban serta larangan-larangan apa yang ada di dalam.18

Ajaran kepastian hukum ini berasal dari ajaran Yuridis-Dogmatik yang didasarkan pada aliran pemikiran positivistis di dunia hukum, yang cenderung melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom, yang mandiri, karena bagi penganut pemikiran ini, hukum tak lain hanya kumpulan aturan. Bagi penganut aliran ini, tujuan hukum tidak lain dari sekedar menjamin terwujudnya Kepastian hukum.

Kepastian hukum itu diwujudkan oleh hukum dengan sifatnya yang hanya membuat suatu aturan hukum yang bersifat umum. Sifat umum dari aturan-aturan hukum membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemanfaatan, melainkan semata-mata untuk kepastian.19

18Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, (Bandung, Alumni, 1982), hal. 21.

19Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), Penerbit Toko Gunung Agung, Jakarta, 2002, hal. 82-83.

(38)

Teori lain yang di gunakan dalam penelitian ini adalah teori keadilan, hukum harus mengandung nilai keadilan bagi semua orang. Mengartikan keadilan memang tidak mudah. Keadilan diartikan begitu beragam, Ulpianus mengatakan keadilan adalah kemauan yang bersifat terus menerus untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya dimiliki. Aristoteles mengartikan keadilan dengan memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya (due) atau sesuatu yang menjadi miliknya. Menurut Hart keadilan dan moralitas adalah sebagai berdampingan (koeksistensif), meskipun fakta berbicara bahwa keadilan adalah bagian tersendiri dari moralitas. Sedangkan David Hume menyatakan bahwa keadilan adalah aturan aturan di mana barang barang materil (kepemilikan/kemakmuran) ditujukan kepada individu individu, dan moralitas keadilan terlihat dengan menghormati kepemilikan itu tanpa melakukan tindakan tindakan memperoleh barang orang yang diperoleh secara tidak sah dan dikembalikan kepada pemiliknya.20

2. Konsepsi

Dalam bahasa Latin, kata conceptio (didalam bahasa Belanda : begrip) atau pengertian merupakan hal yang dimengerti. Pengertian bukanlah merupakan

”definisi” yang didalam bahasa Latin adalah definitio. Defenisi tersebut berarti perumusan (didalam bahasa Belanda : “omschrijving”) yang pada hakikatnya merupakan suatu bentuk ungkapan pengertian disamping aneka bentuk lain yang

20Hari Chand, Modern Jurisprudence, International Law Book Service, Kuala Lumpur, 1994, hal. 225

(39)

dikenal didalam epistemologi atau teori ilmu pengetahuan.21 Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Karena konsep adalah sebagai penghubung yang menerangkan sesuatu yang sebelumnya hanya baru ada dalam pikiran. Peranan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan dunia teori dan observasi, antara abstraksi dan realitas.22

Dengan demikian konsepsi dapat diartikan pula sebagai saran untuk mengetahui gambaran umum pokok penelitian yang akan dibahas sebelum memulai penelitian masalah yang akan diteliti. Konsep diartikan pula sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal khusus yang disebut definisi operasional.23

Suatu konsep atau suatu kerangka konsepsionil pada hakikatnya merupakan suatu pengarah, atau pedoman yagn lebih konkrit dari pada kerangka teoritis yang seringkali masih bersifat abstrak. Namun demikian, suatu kerangka konsepsionil, kadang-kadang dirasakan masih juga abstrak, sehingga diperlukan definisi-definisi operasional yang akan dapat pegangan konkrit didalam proses penelitian.24

Konsepsi merupakan definisi operasional dari intisari objek penelitian yang akan dilaksanakan. Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian dan penafsiran dari suatu istilah yang dipakai. Selain itu dipergunakan juga untuk memberikan pegangan pada proses penelitian ini.

21Soerjono Soekanto, Op. Cit, hal. 6.

22Masri Singarimbun dkk, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: LP3ES, 1999, hal. 34

23Sumadi Surya Brata, Metodologi Penelitian, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1998, hal. 28

24Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta,1986, hal. 133

(40)

Kerangka konsepsional dalam merumuskan atau membentuk pengertian pengertian hukum, kegunaannya tidak hanya terbatas pada penyusunan kerangka konsepsional saja, akan tetapi bahkan pada usaha merumuskan definisi-definisi operasional di luar peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, konsep merupakan unsur pokok dari suatu penelitian.25 Pentingnya defenisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. Oleh karena itu untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus dibuat beberapa defenisi konsep dasar sebagai acuan agar penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan, yaitu :

a. Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagian dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.

b. Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan- satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang- bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.

25Koentjaraningrat, 1997, Metode Penelitian Masyarahat (Gramedia Pustaka Utama,Jakarta), hal. 24.

(41)

c. Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada seseorang yang mempunyai hak untuk mempergunakan atau mengambil manfaat atas tanah tersebut. Hak atas tanah berbeda dengan hak penggunaan atas tanah.26

d. Tanah sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proforsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal sepanjang 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah darat.27

G. Metode Penelitian

Metode adalah cara yang berfungsi untuk mencapai tujuan. Metode merupakan suatu cara tertentu yang di dalamnya mengandung suatu teknik yang\

berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan tertentu.28

Penelitian (research) sesuai dengan tujuannya dapat didefinisikan sebagai usaha untuk menentukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.29 Usaha mana dilakukan dengan metode-metode ilmiah yang disebut dengan metodologi penelitian.30

Suatu penelitian ilmiah, harus melalui rangkaian kegiatan penelitian yang dimulai dari pengumpulan data sampai pada analisis data dilakukan dengan memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah sebagai berikut :

26https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_atas_tanah, diakses tanggal 12 Agustus 2016, Jam. 1742

27Menurut Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

28Arief Furchan, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, (Surabaya : Usaha Nasional, 1997), hal. 11.

29 Muslam Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, UMM Press, Malang, 2009, hal. 91

30Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1973, hal. 5

(42)

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Penelitian merupakan suatu pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi, hal ini disebabkan karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis, dan konsisten melalui proses penelitian tersebut diadakan analisa dan konstruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah.31

Jenis penelitian ini adalah yuridis empiris , yaitu suatu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara melihat kepada aspek penerapan hukum itu sendiri ditengah masyarakat,32ataupun suatu kajian mengenai perilaku masyarakat yang timbul akibat berinteraksi dengan sistem norma yang ada.33

Penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, bersifat deskriptif maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan.34

Dari uraian diatas, maka penilitian ini berusaha mengkaji norma-norma hukum yang hidup dalam kehidupan masyarakat, dan selanjutnya dihubungkan dengan ketentuan hukum formal (hukum tertulis) yang ada kaitannya dengan tanah.

31 Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 1

32Bambang Sungono, 2002,Metode Penelian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm.89.

33Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad,Op.cit, hlm.51.

34 Sunaryati Hartono, 1994,Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung, hlm.101.

(43)

2. Sumber Data

Untuk memperoleh data yang akurat dan objektif, maka dalam penelitian ini dilakukan dua cara pengumpulan data, yaitu data primer dan data sekunder. Data tersebut dapat diperoleh melalui:

a. Data Primer

Data primer ini diperoleh dengan cara mengadakan penelitian lapangan yaitu dengan mengadakan wawancara dengan bertanya secara langsung kepada Informan, responden, dan para narasumber yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak berstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan dengan tidak dibatasi oleh waktu dan daftar urutan pertanyaan, tetapi tetap berpegang pada pokok penting permasalahan yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Data yang diperoleh melalui pedoman wawancara dari para narasumber sebagai berikut :

1) Agus, SE sebagai Dirut PT. Mutiara Hitam Pertiwi 2) Syariffudin, SE sebagai Manager HRD

3) Bapak Aryo Nodya P. sebagai Resident Manager 4) Bapak Atma sebagai pengawas proyek

5) Camat Labuan.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang dikumpulkan melalui studi dokumen terhadap bahan kepustakaan dan data yang dikumpulkan melalui dokumen dan wawancara.

Dalam penelitian ini bahan dasar penelitian hukum normatif dari sudut kekuatan mengikatnya dibedakan atas 3 (tiga) bagian, yaitu:

(44)

1. Bahan hukum primer, yang terdiri dari :

a. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan ketentuan Keabsahan Kepemilikan dan Peralihan Hak Atas Tanah

b. Teori hukum Keabsahan Kepemilikan dan Peralihan Tanah.

2. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang berkaitan dengan bahan hukum primer, misalnya buku-buku yang berkaitan dengan permasalahan, tulisan para ahli, makalah, hasil-hasil seminar atau pertemuan ilmiah lainnya yang relevan dengan peneltian ini.

3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan yang bersifat menunjang bahan huku primer dan sekunder untuk memberikan informasi tentang bahan hukum sekunder, misalnya majalah, surat kabar, kamus hukum, kamus bahasa Indonesia.

Selain itu, juga dilakukan penelitian lapangan (field research) dimaksudkan untuk memperoleh data sekunder yang tidak diperoleh dalam penelitian kepustakaan dan data primer untuk mendukung analisis permasalahan yang telah dirumuskan.

3. Teknik Pengumpulan Data

Adapun untuk memperoleh data yang relevan dengan permasalahan yang diteliti dan dikaitkan dengan jenis penelitian hukum yang bersifat deskriptif analis maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research). Langkah-langkah tersebut berfungsi untuk mempermudah peneliti dalam proses pemerolehan data.

(45)

4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Desa Carita, Propinsi Banten.

5. Alat Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan hasil yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya serta dapat dipertanggungjawabkan hasilnya, maka data dalam penelitian ini diperoleh melalui alat pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan cara sebagai berikut:

a. Wawancara, dilakukan dengan pedoman wawancara kepada informan dan narasumber yang telah ditetapkan, dengan model wawancara langsung (tatap muka), yang terlebih dahulu dibuat pedoman wawancara yang sistematis, tujuannya agar mendapat data yang mendalam dan lebih lengkap dan punya kebenaran yang konkrit baik secara hukum maupun kenyataan yang ada di lapangan.

Para narasumber yang dipilih dalam penelitian yaitu : 1) Agus, SE sebagai Dirut PT. Mutiara Hitam Pertiwi 2) Syariffudin, SE sebagai Manager HRD

3) Bapak Aryo Nodya P sebagai Resident Manager 4) Bapak Atma sebagai pengawas proyek

5) Camat Labuan.

b. Studi Dokumen, digunakan untuk memperoleh data sekunder dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidenfikasi dan mengalisis data sekunder yang

(46)

berkaitan dengan materi penelitian.35Sehinggadata sekunder yang berkaitan dengan penelitian dapat diperoleh dengan menghimpun data yang berasal dari kepustakaan yang berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku atau literatur, karya ilmiah seperti makalah, jurnal maupun artikel-artikel yang terdapat pada majalah-majalah maupun koran yang berhubungan dengan tanah timbul.

6. Analisa Data

Analisis data adalah merupakan kegiatan dalam penelitian untuk melakukan kajian atau telaah terhadap hasil pengolahan data yang dibantu dengan teori yang telah ditetapkan sebelumnya.36 Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini, akan dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif yaitu pemaparan kembali dengan kalimat yang sistematis untuk memberikan gambaran jelas jawaban atas permasalahan yang ada. Selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan menggunakan metode deduktif sehingga dapat diperoleh kesimpulan.

35Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta, hlm.52.

36 Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm. 183

(47)

BAB II

KEDUDUKAN HAK ATAS TANAH SEMPADAN PANTAI PT. MUTIARA HITAM PERTIWI YANG DIPEROLEH DARI JUAL BELI

DARI MASYARAKAT

A. Tentang Tanah

Ruang lingkup bumi menurut UUPA adalah permukaan bumi, dan tubuh bumi dibawahnya serta yang berada di bawah air. Permukaan bumi sebagai bagian dari bumi juga disebut tanah. Tanah yang dimaksudkan disini bukan mengatur tanah dalam segala aspeknya, melainkan hanya mengatur salah satu aspeknya, yaitu tanah dalam pengertian yuridis yang disebut hak-hak penguasaan atas tanah.37

PT MUTIARA HITAM PERTIWI adalah badan hukum yang didirikan di jakarta pada tahun1988 yang dibuat oleh notaris KOESBIONO SARMANHADI SH yang berkedudukan di jakarta, pada tahun 1991 PT MUTIARA HITAM PERTIWI melakukan pembebasan lahan tanah milik masyarakat didesa carita kecamatan labuan Kabupaten Pandeglang seluas 76.306 m2 yang jual belinya dilakukan dicamat ppat dan alas hak tanah mlik masyarakat tersebut adalah girik atau sk desa.Dalam melakukan pembebasan tanah milik masyarakat tersebut banyak ditemukan kendala kendala dilapangan antara lain ditemukannya sk desa ganda ternyata masing masing ada hubungannya yaitu ahli waris, karena mereka ingin menguasai objek tanah tersebut. Seiring berjalannya waktu kendala kendala dilapangan dalam pembebasan tanah milik masyarakat dapat diselesaikan. Setelah 3 (tiga) tahun melakukan

37Wayan Suhendra, Hukum Pertanahan Indonesia, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1994), hal. 20

(48)

pembebasan tanah milik masyarakat maka pada tahun 1994 mengajukan permohonan ke badan pertanahan nasional untuk diterbitkanya sertifikat hak guna bangunan.Pada tahun 1995 Badan Pertanahan Nasoinal menerbitkan sertifikat Hak guna bangunan atas nama PT MUTIARA HITAM PERTIWI .Setelah ada ijin lokasi,peruntukan dan SK Bupati. Karena lokasinya didesa carita maka PT MUTIARA HITAM PERTIWI memberikan nama untuk cottagesnya MUTIARA CARITA COTTAGES. Dengan adanya MUTIARA CARITA COTTAGES didaerah tersebut membuka peluang pekerjaan dan peluang usaha bagi masyarakat setempat dan masyarakat Kabupaten Labuan serta menjadikan income pendapatan masyarakat daerah tersebut. MUTIARA CARITA COTTAGES mempekerjakan karyawan kurang lebih sekitar 100 orang.

Seiring berjalannya waktu. tanah PT MUTIARA HITAM PERTIWI yang posisinya berada di sepadan pantai mengalami pengikisan (abrasi) kurang lebih 2 meter dari batas tanah milik PT MUTIARA HITAM PERTIWI karena pengikisan tersebut maka pihak PT MUTIARA HITAM PERTIWI membuat beton pembatas untuk menahan derasnya gelombang air laut agar tanah milik PT MUTIARA HITAM PERTIWI tidak terkikis lagi oleh derasnya gelombang air laut.38

1. Hak Penguasaan Atas Tanah

Pengertian “Penguasaan” dapat dipakai dalam arti fisik, juga dalam arti yuridis; juga beraspek privat dan beraspek publik. Penguasaan dalam arti yuridis adalah penguasaan yang dilandasi hak, yang dilindungi oleh hukum dan pada umumnya memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik

38Hasil Wawancara dengan Aryo Nodya P, Residen Manger, tanggal 13 september 2016

Referensi

Dokumen terkait

Subjek juga tidak dapat mengerjakan jenis soal relational dengan benar, pada subjek metakognisi sedang hanya mampu menggunakan satu aspek saja sehingga tidak dapat

Berdasarkan sebaran angket yang dibagikan, jumlah orang tua yang menjawab mendampingi anaknya dalam proses pembelajaran daring sekitar 65 persen, dan 35 persen

!kripsi, tesis dan disertasi adalah K) 'Karya )ulis lmiah( dalam suatu "idang studi yang masing-masing ditulis oleh mahasiswa program !, !3 dan !4. +er"edaan ketiganya

 Dengan adanya masalah tersebut saya bisa mendapat keuntungan menambah relasi dengan toko lain, dan juga pembeli tidak merasa kecewa karena barang yang dipesan sudah tersedia.. 

Pos Indonesia (Persero) Cabang Renon, Denpasar, Bali ini membahas tentang perbedaan antara tekanan pekerjaan/stres kerja yang dialami oleh petugas kantor dan

advantage ). Dashboard yang akan dirancang mengambil data cube yang dihasilkan oleh OLAP, bersumberkan data mart Penerimaan Mahasiswa Baru, kemudian memprosesnya

Atas dasar hal tersebut di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian Gastropoda di hutan mangrove Segoro Anak Taman Nasional Alas Purwo dengan judul Komposisi

Aplikasi LED sebagai media tampilan sering dijumpai saat ini. LED dengan ukuran dan warna yang sama disusun sejajar membentuk baris dan kolom.. kemudian LED