• Tidak ada hasil yang ditemukan

TENGGELAMNYA MUSEUM KAMI: MUSEUM DAN PERUBAHAN IKLIM Falling into the Sea: Museum and Climate Change

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TENGGELAMNYA MUSEUM KAMI: MUSEUM DAN PERUBAHAN IKLIM Falling into the Sea: Museum and Climate Change"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

All Rights Reserved P- ISSN: 2355-5750

Volume 10 Nomor 1, Agustus 2021 Page: 22-29

Jurnal Prajnaparamita 22 TENGGELAMNYA MUSEUM KAMI: MUSEUM DAN PERUBAHAN IKLIM

Falling into the Sea: Museum and Climate Change

Hilman Handoni Museolog Independen Pos-el: [email protected]

Received: Jul 11, 2021 Accepted: Aug 15, 2021 Published: Aug 24,2021

Abstrak

Perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut telah mengancam aneka sektor kehidupan termasuk museum—baik koleksi, bangunan, maupun pengunjungnya. Sebagai lembaga yang punya fungsi

“melayani masyarakat dan pembangunannya”, museum punya tanggung jawab sosial membicarakan hal ini. Namun, nyatanya masih banyak museum yang tak punya kosakata atau belum banyak berbicara tentang perubahan iklim, misalnya, melalui program publiknya. Dengan pengamatan serta penelitian pustaka dan pemberitaan di media massa, tulisan ini menginvestigasi mengapa museum harus membicarakan perkara pokok ini. Bagaimana pula museum bisa membayangkan apa yang harus dilakukan dalam kondisi darurat iklim ini.

Kata kunci: Perubahan Iklim, Museum, Program Publik

Abstract

Climate change and rising sea levels have threatened various sectors of life, including museums—

both collections, buildings, and visitors. As an institution that has the function of "serving the community and its development" museums have a social responsibility to address this issue.

However, in fact there are still many museums that do not have a vocabulary or have not talked much about climate change, for example, in their public programs. By observing and researching literature and news coverage in the mass media, this paper investigates why museums should discuss this main issue. How museums can imagine what to do in this climate emergency.

Keyword: Climate Change, Museum, Public Program.

PENDAHULUAN

Kita mesti khawatir dengan laporan panel ilmuwan sedunia alias IPCC (Intergovernmental Panel Climate Change) yang barusan bocor ke media (Harvey, 2021). Laporan ini masih dalam bentuk draf dan baru akan dipublikasi pada konferensi

iklim sedunia yang baru akan berlangsung tahun depan. Laporan menyebut hutan-hutan Amazon di Brazil akan jadi padang rumput belaka serta es di kutub bumi akan mencair dan akan menuntun pada kenaikan permukaan air laut. Gelombang panas, kebakaran hutan, banjir dan badai, serta kekeringan

(2)

Tenggelamnya Museum Kami: Museum Dan Perubahan Iklim

_________________________________________________________________________________________

Hilman Handoni

Jurnal Prajnaparamita 23 akan menjadi dampak ikutan. Namun, yang paling

menakutkan, menurut laporan itu, adalah dampak perubahan iklim akan datang lebih cepat dan tidak akan dapat diatasi meskipun upaya pengendalian gas rumah kaca sudah dilakukan. Apakah museum kita bercakap-cakap mengenai perubahan iklim?

Pada 2007, laporan Panel ini juga memperingatkan kenaikan suhu global akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut dengan laju rata-rata 2,5 milimeter per tahun. Indonesia dengan 80.000 kilometer garis pantai amat rentan dengan fenomena ini. (Zikra, Suntoyo, &

Lukijanto, 2014)

Perubahan iklim telah mengancam kehidupan jutaan orang secara langsung yang hidup dan menggantungkan penghidupan mereka di pesisir (Amindoni, 2020). Di Jakarta, naiknya permukaan air laut telah terasa dan bisa kita amati, misalnya, di Museum Bahari. Lantainya telah ditinggikan untuk menahan laju amblasnya muka tanah. Sementara itu, air laut semakin deras mengintrusi bawah tanahnya. Jakarta, dengan puluhan atau ratusan cagar budaya di pesisirnya, termasuk salah satu megapolitan paling parah yang terdampak perubahan iklim (Sutrisno, 2020).

Ratusan bahkan ribuan situs cagar budaya di sepanjang pesisir utara Jawa sangat mungkin akan tenggelam karena ancaman rob dan penurunan permukaan tanah yang mencapai sepuluh sentimeter per tahun. (Sohirin, 2011).

Lantas di manakah museum kita berdiri saat air laut perlahan-lahan meninggi dan melahap pesisir-pesisir kita. Petani tak lagi panen karena musim tak bisa ditebak, sekujur kota dibekap banjir, dan suhu bumi menghangat. Apakah sayup- sayup terdengar keluhan warga yang didengar museum? Apakah ada suara warga dan generasi muda yang risau atas bencana lingkungan seperti yang didengungkan Greta Thunberg saat berapi-api menohok kita dengan kutipan: "We deserve a safe future. And we demand a safe future. Is that really too much to ask? (350.org, 2019)" Apakah ada yang masih tersisa untuk diawetkan jika bumi perlahan-lahan gosong dan kehidupan tak bisa lagi dilanjutkan?

Meski telah nyata terasa mengancam koleksi, bahkan bangunannya sendiri, tetapi rasanya museum belum engeh dengan masalah yang mendera dunia ini. Carilah sekilas di mesin

pencari. Adakah program publik atau pameran temporer yang membahas soal ini. Rasanya sedikit sekali yang bisa kita jumpai. Sementara itu, yang ada mungkin malah tidak terdokumentasi atau tak diperbincangkan sama sekali, lenyap dan menyesap. Hal ini berbanding lurus dengan kurang tersedianya kajian akademik yang mengaitkan perubahan iklim dan museum.

Kurang pedulinya museum terhadap isu- isu sosial kontemporer boleh jadi warisan dari paradigma lama museum yang menekankan orientasi lembaganya lebih kepada koleksinya.

Seiring dengan gerakan Museologi Baru (Vergo, 1989) pada tahun 80-an, yang mengkritik orientasi tersebut, saat ini kegiatan permuseuman pun bergeser kepada kepentingan masyarakat, meski belum semuanya. Museologi Baru menghendaki perubahan arah museum yang menitikberatkan pada peranan sosial dan politik museum yang lebih besar. Hal ini berbeda dengan tipikal museum klasik yang menempatkan koleksi sebagai pusat perhatiannya, dengan kata lain koleksi terlebih dahulu ketimbang pengunjungnya (Desvallées &

Mairesse, 2009). Gerakan Museologi Baru menginginkan museum lebih inklusif, terbuka dan akuntabel, serta berorientasi pada pengunjung (Hauenschild, 1988). Tujuan yang hendak dicapai adalah bagaimana membuat museum dapat menjadi lebih bermakna bagi masyarakat, tidak hanya dalam arti lebih memperoleh pengakuan atau lebih banyak pengunjung, melainkan lebih ditujukan pada bagaimana museum dapat berperan secara aktif memecahkan permasalahan konkret masa kini.

Tulisan ini tak hanya diharapkan bisa menjadi dasar kebijakan yang bisa diambil museum untuk merespons masalah perubahan iklim, tetapi juga bisa menjadi panduan bagaimana museum bisa ambil bagian dalam upaya global untuk memerangi perubahan iklim. Tentu saja, diharapkan, tulisan ini bisa mengisi kekosongan kajian akademik yang terkait dengan museum dan perubahan iklim.

Landasan Teori

Perubahan iklim yang ditandai dengan pemanasan suhu global disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (greenhouse gases) di atmosfer bumi. Gas ini dihasilkan dari pembakaran

(3)

p-ISSN: 2355-5750

24 Jurnal Prajnaparamita

atau penggunaan bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batu bara) oleh sektor industri, transportasi, kegiatan alih guna lahan (land use change), dan kegiatan penggundulan hutan (deforestation) (Purwanto, Walujo, Suryanto, & Ajiningrum, 2012).

Kenaikan suhu akan memicu pencairan gunung es, ketidakpastian musim yang berdampak langsung bagi para petani, menghilangnya keragaman hayati, cuaca esktrem, kerusakan habitat, dan semakin langkanya air. Untuk Indonesia sendiri, ada sejumlah dampak perubahan iklim. Dalam periode 2003-2005 saja, terjadi 1.429 kejadian bencana. Sekitar 53,3% adalah bencana terkait hidro-meteorologi (Bappenas dan Bakornas PB, 2006). Banjir adalah bencana yang paling sering terjadi (34%) dan diikuti oleh longsor (16%) (BA, 2012).

Museum jelas punya tanggung jawab sosial untuk membahas perubahan iklim. Tinjauan teori mengenai tanggung tanggung dan fungsi museum akan digabungkan dalam subbab pertama di bagian Hasil dan Pembahasan (lihat: “Mengapa Museum Harus Membicarakan Perubahan Iklim”).

Hal ini tidak terhindarkan karena pencarian landasan teori itu merupakan bagian pokok dalam pembahasan.

Metode Penelitian

Tulisan ini bersumber dari riset pustaka dan observasi terhadap pemberitaan media massa dan dokumentasi program publik museum-museum yang terdapat di media sosial maupun laman atau website museum. Sebagian kecil bahan, yang terkait dengan situasi di Museum Bahari, diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan. Pada awal Juni lalu, penulis berkesempatan mengunjungi Museum Bahari dan mendapatkan penjelasan singkat dari kurator Museum. Hasil pengamatan dideskripsikan di bagian pendahuluan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Mengapa Museum Harus Membicarakan Perubahan Iklim?

Ada yang mengalir dan tercatat dalam DNA museum, yaitu hasrat untuk mengawetkan.

Naluri untuk mempertahankan warisan agar senantiasa bisa diteruskan kepada anak cucu

kelak. Inilah salah satu naluri paling dasar dari museum sebelum akhirnya mengembangkan fungsi lainnya: mempelajari koleksi (riset) dan memamerkannya kepada publik (komunikasi, seperti yang disampaikan museolog Peter van Mensch (2003). Naluri mengawetkan itu bisa kita lihat dari kerja-kerja di museum. Maka, berkembanglah aneka macam metode konservasi dan preservasi. Mulai dari yang sederhana, yaitu dari mengelap debu dari tubuh koleksi, mencegah jamur dan kerapuhan, sampai dengan memikirkan bagaimana cara memamerkan sebuah artefak tanpa merusak materialnya. Intinya, museum punya naluri untuk merawat dan meneruskan warisan budaya untuk diteruskan kepada generasi kelak.

Perlu kita sadari pula bahwa museum tidak hanya perlu perfecto dalam mengemban tugas melestarikan masa lalu. Dia juga aktif hidup dalam masyarakat masa kini dan punya kesadaran penuh untuk merawat dan melestarikan “sejarah” hari ini. Bukankah lima menit yang lalu, kemarin, dan deretan angka dan peristiwa yang berlalu kemarin, pekan lalu, dan tahun lalu adalah masa lalu? Kita perlu melihat bagaimana museum-museum dunia aktif mengoleksi artefak masa kini.

Mari ambil contoh, saat merespons Tragedi 11 September 2001, National Museum of American History segera membuat tim kerja untuk mengumpulkan dokumen dan koleksi yang terkait peristiwa tersebut. Para kurator ini tahu betul yang dihadapi adalah peristiwa bersejarah (amhistory.si.edu). Peristiwa yang terbukti kelak mengubah lanskap sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan Amerika, bahkan dunia. Museum yang lain juga telah mengumpulkan objek perlindungan diri, semacam masker, baju pelindung, dan ilustrasi- ilustrasi yang dibuat oleh pasien Covid-19 pada masa pandemi. (Smith, 2020). Dengan begitu, museum juga punya visi ke depan. Museum punya tanggung jawab untuk “melestarikan”

masa kini yang akan menjadi penentu masa depan.

Hendaknya kita juga jangan melupakan kewajiban moral museum yang menempel pada definisi museum versi dewan museum

(4)

Tenggelamnya Museum Kami: Museum Dan Perubahan Iklim

_________________________________________________________________________________________

Hilman Handoni

Jurnal Prajnaparamita 25 internasional ICOM. Meski tak kunjung direvisi

sejak dicetuskan lebih dari satu dekade yang lalu, definisi ini punya cantolan yang cukup kuat untuk memayungi aktivisme museum.

“A museum is a non-profit, permanent institution in the service of society and its development, open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates and exhibits the tangible and intangible heritage of humanity and its environment for the purposes of education, study and enjoyment.

(International Council of Museum Website, n.d.)”

Definisi tersebut menyebut fungsi untuk melayani (service of society) dan membangun masyarakat (its development) yang bisa menjadi landasan bagi museum untuk terjun ke masalah- masalah pokok yang dihadapi warga pada masa kini, termasuk perubahan iklim. Kita juga perlu menilik pesan ahli museum George Hein yang pernah berkata bahwa pendidikan adalah alasan utama keberadaan museum. Dengan menyandarkan pendapatnya pada filsuf Amerika, John Dewey, dia menyebut tujuan pendidikan di dalam konteks museum mestilah dipandang sebagai kegiatan aktivitas sosial- politik untuk memperbaiki harkat kehidupan masyarakat. Dengan demikian, museum punya alasan teramat sah untuk terjun dalam aktivisme mencegah kerusakan akibat perubahan iklim.

Tidak mempercakapkan perubahan iklim di museum tidak hanya menyangkal DNA museum, tetapi juga merupakan aksi tutup mata fisik dan batin atas bencana yang sudah ada di depan mata.

Jika museum abai, sesungguhnya warga berhak untuk mendesak museum agar lebih aktif menghadapi masalah genting dan di depan mata ini—utamanya museum-museum milik pemerintah. Mestilah kita ingat, museum- museum ini didanai oleh pajak rakyat. Lembaga yang didanai pajak mestilah dimintai pertanggungjawabannya agar senantiasa bermanfaat buat warganya. Diam dan tidak membuka ruang diskusi mengenai perubahan iklim bukanlah sikap yang bisa diterima pada situasi semacam ini.

Bagaimana Museum Harus Membicarakan Perubahan Iklim?

Mari kita memegang teguh prinsip bahwa pendidikan bukan semata-mata untuk

memenuhi dahaga otak dan rasa ingin tahu saja.

Pendidikan yang menjadi alasan utama museum sebagaimana dirumuskan Hein di atas adalah aktivitas sosial-politik untuk memperbaiki harkat kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya menghindari bencana ekologis akibat perubahan iklim. Lantas bagaimanakah museum merealisasikan tanggung jawab sosialnya itu?

Ada banyak cara bagi museum mengekspresikan konsep edukasi yang lebih luas ini. Akan tetapi, paling tidak museum bisa menempuh dua arah untuk memenuhi misi edukasi ini (Hein, 2004).

Konten dan Tujuan Ekshibisi

Konsep ekshibisi tidak hanya ditujukan untuk memberi informasi atau mengedukasi, tetapi juga untuk memengaruhi perubahan sikap.

Misalnya, pameran mengenai binatang, dunia laut, dan sejarah alam harus diinisasi dalam bingkai besar untuk membangkitkan kesadaran untuk melestarikan flora, fauna, dan kehidupan di bumi.

Kemajuan teknologi video mapping bisa digunakan untuk mengilustrasikan betapa dahsyatnya dampak perubahan iklim.

Bayangkanlah seorang seniman video mapping mampu menghadirkan ilusi penenggelaman Museum Bahari! Sebuah sajian pertunjukan yang memikat mata, tetapi sekaligus menggugah sanubari bahwa kita mungkin akan menanggung akibat tak terperi kalau muka air laut terus meningkat.

Pameran mengenai tradisi sedekah laut yang nyaris ada di semua masyarakat pesisir di Nusantara tidak boleh berhenti pada sajian mengenai tata cara dan unsur yang digunaakan dalam upacara. Namun, dia harus diarahkan pada pemahaman bahwa manusia dan alam harus hidup berdampingan. Alam bukanlah objek yang harus ditaklukkan dan dieksploitasi habis-habisan untuk kepentingan manusia—

yang akhirnya menyebabkan kerusakan lingkungan. Pameran alat tangkap nelayan tradisional, misalnya, bubu, bisa dibingkai dalam kerangka pemaknaan bagaimana manusia semestinya hanya boleh mengambil secukupnya, tidak boleh mengonsumsi secara berlebihan. Bukankah hasrat manusia untuk

(5)

p-ISSN: 2355-5750

26 Jurnal Prajnaparamita

terus mengonsumsi adalah pokok segala kerusakan?

Perubahan pada Tata Praktik Museum

Tipe lain aksi sosial yang bisa dilakukan museum adalah dengan menimbang ulang praktik-praktik di museum. Langkah paling kecil adalah dengan menyadari bahwa organisasi museum sudah pasti memproduksi carbon footprint alias gas rumah kaca yang membuat selubung bumi menebal dan akhirnya memerangkap panas di dalam atmosfer.

Carbon footprint alias jejak karbon ringkasnya adalah jumlah karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh seseorang atau badan/lembaga, baik secara langsung maupun tak langsung (Selin, 2020). Menggunakan listrik pada perangkat lampu, handphone, laptop, atau AC sekilas tak akan mengeluarkan karbon di tempat kita menggunakannya. Akan tetapi, coba tanyakan kembali dari mana energi ini berasal?

Kebanyakan mestinya berasal dari pusat pembangkit listrik yang dihasilkan dari pembakaran batu bara. Penggunaan batu bara pada pembangkit listrik, selain berkontribusi langsung pada akumulasi gas rumah kaca di atmosfer, juga berdampak pada aneka penyakit pernapasan pada warga di sekitar pembangkit listrik. Di Indonesia, dampak polusi PLTU diperkirakan mengorbankan 6.500 nyawa tiap tahunnya, menurut studi Universitas Harvard (Greenpeace Indonesia, 2015).

Itu hanya dari sektor listrik, bagaimana dengan penggunaan transportasi, air, dll.? Ini juga harus dihitung. Aneka kertas atau bahan baku impor yang didatangkan dari luar negeri atau tempat yang jauh juga diperhitungkan sebagai jejak karbon yang berdampak pada lingkungan.

Oleh karena itu, program penghematan air dan energi dan penggunaan barang-barang ramah lingkungan dalam kegiatan sehari-hari bisa dilakukan. Dalam upaya untuk mengurangi jejak karbon, pengelola museum juga bisa mendorong budaya transportasi ramah lingkungan kepada pengunjungnya. Museum

bisa mengintegrasikan informasi jalur kereta, bus, atau transportasi publik lainnya dalam komunikasi di media sosial atau malah bisa memberikan potongan harga masuk buat mereka yang menggunakan transportasi umum.

Jangan lupa juga bahwa museum bisa menyediakan parkir sepeda untuk para karyawan dan pengunjung.

Museum bisa juga membuka ruang-ruang di dalam gedungnya untuk warga untuk berdiskusi mencari solusi apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi isu bersama ini.

Misalnya, dalam bentuk seminar atau lokakarya sederhana. Museum ikut Earth Hour atau kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), mengapa tidak?

Kombinasi keduanya

Manifestasi keterlibatan museum dalam memerangi perubahan iklim bisa menggabungkan dua metode di atas: melalui proses dan konten. Dalam konteks proses, museum mestinya sudah harus berani berbagi otoritasnya. Asosiasi Museum Amerika (2002) sejak lama, bahkan telah mendesak museum- museum agar lebih membuka diri, berkolaborasi, dan berbagi otoritasnya dengan anggota komunitas di luar museum

Museum bisa membuka pintu seluas- luasnya bagi warga, seniman, organisasi keagamaan, LSM, komunitas adat, dan warga untuk bersama-sama memanfaatkan koleksi dan fitur istimewa museum dalam bentuk pameran yang dikuratori warga. Contohnya, mintalah warga mengirimkan foto, benda, atau kisah yang menceritakan apa makna perubahan iklim, dampak, dan solusinya menurut mereka.

Bersiaplah untuk terkejut dengan kearifan lokal ala warga!

Museum bisa memamerkan koleksinya yang terkait dengan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan hidup bersisian dengan pameran inisiatif warga dalam membuka ruang resapan air, reboisasi, atau pengetahuan lokal dalam menjaga hutan.

Inisiatif menarik bisa kita lihat pada inisiatif Museum Sejarah Jakarta dan British Council pernah membuat Mystery of Batavia

(6)

Tenggelamnya Museum Kami: Museum Dan Perubahan Iklim

_________________________________________________________________________________________

Hilman Handoni

Jurnal Prajnaparamita 27 pada 2010 (dapoerdongeng, 2016). Program ini

menghidupkan mural karya maestro Harijadi S.

di salah satu temboknya menjadi animasi, pertunjukan teater, komik, dan game. “Koleksi”

Museum Sejarah Jakarta ini menarik tak hanya dari segi potensi dan aplikasi kreativitasnya—

sebagaimana yang telah ditunjukkan di atas.

Lukisan tembok ini juga bisa ditempatkan di lampu sorot untuk membahas perubahan iklim, karena intrusi air laut dan kelembaban udara yang merupakan dampak kerusakan lingkungan dan pemanasan global juga mengancam keberadaannya.

Museum bisa membuka koleksi, “gudang”, bahkan hasil risetnya untuk dimanfaatkan para chef untuk menghasilkan hidangan yang mampu menafsir ulang hubungan manusia dengan alam.

Museum bisa menawarkan diri dengan fasilitas produksi video dan audio yang mereka punya untuk merekam keanekaragaman pengetahuan lokal yang mungkin bermanfaat untuk adaptasi terhadap kerusakan lingkungan, dst. Semua mungkin bisa dilakukan. Tak ada hambatan!

Segalanya mungkin dengan kreativitas insan museum.

Selanjutnya, sudah saatnya museum mengadopsi semangat zaman masa kini:

kolaborasi! Mengapa Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Museum Wayang, dan Museum Keramik dan Seni Rupa berkolaborasi membuat kampanye atau pameran serentak?

Kerja sama dengan berbagai pihak selain meringankan kerja museum juga meningkatkan potensi dampak yang ingin ditimbulkan.

Sebagai penutup, menarik juga untuk kita merenungkan perkataan Sarah Sutton, principal Sustainable Museums dan penulis “The Green Museum: A Primer on Environmental Practice.” Menurutnya, museum menyimpan keragaman sumber daya fisikal dan intelektual, kemampuan, kreativitas, kebebasan, dan otoritas di dalam tubuhnya untuk memantik dan memelihara perubahan yang dibutuhkan dunia (Styx, 2020).

Museum butuh merealisasikan potensi dan tanggung jawabnya itu. Mutlak. Tujuannya adalah agar bumi dan segala museum yang ada di dalamnya tak tenggelam karena perubahan iklim.

SIMPULAN

Tinjauan di atas sudah bisa menjadi argumen yang cukup bagi museum untuk segera membahas perubahan iklim. Lebih dari soal keabsahan, membicarakan perubahan iklim adalah soal kegentingan dan kesegeraan. Aneka museum bahkan sudah merasakan dampak perubahan iklim. Singgahlah ke Museum Bahari, yang beberapa lantai dan permukaannya sudah ditinggikan lebih dari satu meter untuk mengatasi penurunan permukaan tanah dan kenaikan muka air laut. Lukisan karya maestro S. Sudjojono dan mural karya Harijadi S. di Museum Sejarah Jakarta sangat mungkin tak mampu menahan suhu, kelembaban, dan intrusi air laut. Belum lagi menghitung aneka tinggalan kebudayaan yang juga tak terhitung jumlahnya di kawasan pesisir: arena yang menjadi titik temu bangsa kita dengan kebudayaan lain sejak masa prasejarah. Tanpa upaya preservasi yang sungguh-sungguh, di tengah impitan perubahan iklim, sudah hampir bisa dipastikan warisan budaya ini dan pengetahuan di baliknya akan punah tepat di depan mata kita.

Untuk membahas perubahan, ada paradigma atau pola pikir kunci yang senantiasa harus ditanamkan di benak insan museum:

keadaan konstan saat para direktur, kurator, konservator, dan komunikator selalu menghubungkan potensi apa yang mereka punya di dalam dan di sekitar museum dengan masalah-masalah pokok yang dihadapi masyarakat. Pola pikir inilah yang bisa menuntun museum untuk mengembangkan program yang relevan untuk menjawab persoalan dan kebutuhan masyarakat, baik dalam bentuk pameran, tata praktik, maupun kemitraan dengan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

amhistory.si.edu (tanpa tanggal). Diambil dari amhistory.si.edu:

https://amhistory.si.edu/september11/

(7)

p-ISSN: 2355-5750

28 Jurnal Prajnaparamita

Greenpeace.org (2015, Agustus 12). Hasil Penelitian Harvard : Ancaman Maut PLTU Batu bara – Indonesia. Diambil dari Greenpeace Indonesia:

https://www.greenpeace.org/indonesia/p ublikasi/1223/hasil-penelitian-harvard- ancaman-maut-pltu-batu-bara-

indonesia/

350.org. (2019, September 23). Greta Thunberg at the Global Climate Strike in New York City. Diambil dari Youtube.com:

https://www.youtube.com/watch?v=tAL lM6uUWrc

Amindoni, A. (2020, Maret 26). BBC News Indonesia. Perubahan iklim: Pesisir Indonesia terancam tenggelam, puluhan juta jiwa akan terdampak. Diambil dari BBC.com:

https://www.bbc.com/indonesia/indones ia-51797336

BA, I. Yoesoef (2012, Februari 11). Dampak Perubahan Iklim Global terhadap Material Cagar Budaya. Diambil dari https://iaaipusat.wordpress.com/:

https://iaaipusat.wordpress.com/2012/02 /11/23/

Desvallées, A., & Mairesse, F. (2009). Key Concepts of Museology. Armand Colin Harvey, F. (2021, Juni 23). IPCC steps up

warning on climate tipping points in leaked draft report. Diambil dari The Guardian:

https://www.theguardian.com/environm ent/2021/jun/23/climate-change- dangerous-thresholds-un-report Hauenschild, A. (1988). Claims and Reality of

New Museology. Washington DC: Center of Museum Studies Smithsonian Institute.

Mensch, P. v. (2003). Museologi and

Management: Enemies Or Friends? -

Current Tendencies in Theoretical Museology and Museum Management in Europe. 4th Annual conference of the Japanese Museum Management

Academy.

Purwanto, Y., Walujo, E., Suryanto, J., &

Ajiningrum, E. M. (2012). Strategi mitigasi dan adaptasi terhadap

perubahan iklim: Studi kasus komunitas Napu di cagar biosfer Lore Lindu.

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 14 No. 3 , 541-570.

Selin, N. E. (2020, Januari 20). Carbon

footprint. Retrieved from Encyclopedia Britannica:

https://www.britannica.com/science/car bon-footprint

Smith, R. P. (2020, April 20). How Smithsonian Curators Are Rising To The Challenge Of Covid-19. Diambil dari

www.smithsonianmag.com:

https://www.smithsonianmag.com/smith sonian-institution/how-smithsonian- curators-are-rising-challenge-covid-19- 180974638/

Sohirin. (2011, Mei 12). Cagar Budaya di Pesisir Terancam Musnah. Diambil dari koran.tempo.co:

https://koran.tempo.co/read/berita- utama-jateng/235725/cagar-budaya-di- pesisir-terancam-musnah

Styx, L. (2020, Juni 30). Museums and the art of environmental sustainability. Diambil dari museumnext.com:

https://www.museumnext.com/article/m useums-and-the-art-of-environmental- sustainability/

Sutrisno, B. (2020, Februari 29). Jakarta among cities most threatened by rising sea levels, extreme weather: Report.

Diambil dari The Jakartapost.com

(8)

Tenggelamnya Museum Kami: Museum Dan Perubahan Iklim

_________________________________________________________________________________________

Hilman Handoni

Jurnal Prajnaparamita 29 https://www.thejakartapost.com/news/2

020/02/28/jakarta-among-cities-most- threatened-by-rising-sea-levels-extreme- weather-report.html.

Vergo, P. (1989). The New Museology.

Reaktion Books.

Zikra, M., Suntoyo, & Lukijanto. (2014).

Climate change impacts on Indonesian coastal areas. 2nd International Seminar on Ocean and Coastal Engineering, Environment and Natural Disaster . Elsevier B.V.

Referensi

Dokumen terkait

pengelasan tidak menyebabkan teljadinya perubahan-perubahan struktur dan Disamping ketiga pembagian utama tersebut masih ada satu daerah khusus membatasi antara

Uraian Pekerjaan Drilling Rig Mud Pump Compressor Biaya Tiap Jam Truck Pumping Test Generator Jumlah Pompa Mata Bor.. Drilling Rig Mud Pump

Sementara itu, dengan menggunakan pendekatan semantik sebagai kriteria utama dan afiks verbal dengan kriteria tambahan, Dardjowidjojo dalam Purwo (1986)

Upaya yang dilakukan guru ini diwujudkan dengan selalu meminta siswa untuk bertanya saat guru selesai menjelaskan materi, kesempatan yang diberikan ini tidak

17 Selama ini peraturan perwalian masih terbatas pada putusan hakim yang menghukum wali untuk melaksanakan tanggung jawab per- waliannya, akan tetapi pengawasan

Kareana itu dalam rangka melaksanakan tugas Kepala Sekolah sebagai supervisor/Penyelia maka perlu disusun suatu program supervisi yang secara menyeluruh dan sistematis

PENDETEKSIAN HOTSPOT DENGAN SPACE TIME SCAN STATISTICS PADA KESEHATAN BAYI DAN BALITA DI KOTA DEPOK.. Maryana 1* , Yekti Widyaningsih 2 , Dian

Dari hasil observasi yang dilakukan oleh pengamat saat proses belajar mengajar berlangsung, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa pada saat