1/20
KELURAHAN PLAMONGANSARI MENUJU KOTA SEHAT MANDIRI MELALUI PENDAMPINGAN IBU HAMIL,IBU NIFAS DAN GERAKAN PSN
Nama Diklat : Diklatpim Tingkat IV Angkatan XCVIII
Tahun : 2017
Ruang lingkup inovasi : Kelurahan
Cluster inovasi : Pemberdayaan Masyarakat Desa
Inovator : SUDARSIH, SH
Jabatan : Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Plamongansari Kecamatan Pedurungan Kota Semarang Instansi : Kelurahan Plamongansari Kecamatan Pedurungan Kota Semarang
Latar Belakang
Pembangunan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia adalah tercapainya bangsa yang maju dan mandiri, sejahtera lahir dan bathin. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah mempunyai derajat kesehatan yang tinggi, karena derajat kesehatan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas sumberdaya manusia. Hanya dengan sumberdaya yang sehat akan lebih produktif dan meningkatkan daya saing bangsa. Menyadari hal tersebut, pemerintah Republik Indonesia telah beberapa kali mencanangkan kebijaksanaan dan strategi baru dalam suatu Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan sebagai Strategi Nasional menuju Indonesia Sehat.
Dengan kebijaksanaan dan strategi ini, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan disemua sektor harus mampu mempertimbangkan dampak negatif dan positif terhadap sektor kesehatan, baik bagi individu, keluarga maupun masyarakat. Disektor kesehatan sendiri upaya kesehatan akan lebih mengutamakan upaya-upaya preventif dan promotif yang proaktif, tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Dasar pandangan baru dalam pembangunan kesehatan ini disebut “Paradigma Sehat”.Pembangunan kesehatan melalui pendampingan ibu nifas dan gerakan PSN bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk Kelurahan Plamongansari Kecamatan Pedurungan Kota Semarang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan ibu hamil.
Ibunifasdanangkakematianbayidanibuhamilyang optimal.Derajat kesehatan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada kualitas sumberdaya manusia.
Sumberdaya manusia yang sehat akan lebih produktif dan meningkatkan daya saing manusia.
Kota Sehatadalahsuatukondisikota yang bersih, nyaman, amandansehatuntukdihunipenduduk yang
dicapaimelaluiterselenggaranyapenerapanbeberapatanamandengankegiatan yang terintegrasi yang disepakatimasyarakatdanpemerintah. Adapun Tatanan Kota Sehat diantaranya adalah:
2/201.
Kawasan permukiman, sarana dan prasarana umum 2.
Kawasan ketahanan pangan dan gizi 3.
Kehidupan masyarakat sehat yang mandiri 4.
Kawasan sarana lalu lintas tertib dan pelayanan tranportasi 5.
Kawasan pertambangan yang sehat 6.
Kawasan industry dan perkantoran yang sehat 7.
Kawasan pariwisata sehat
Masalah kesehatan ibuhamildanibunifasadalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang salingberkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri.
Demikian pula pemecahan masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya sendiri, tapi harus dilihat dari seluruh segi yang adapengaruhnya terhadap masalah “sehat-sakit” atau kesehatan tersebut. Ada 4 (empat) faktor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat, yaitu keturunan, lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Status kesehatan akan tercapai secara optimal, bilamana keempat faktor tersebut secara
bersama-sama mempunyai kondisi yang optimal pula. Salah satu faktor saja berada dalam keadaan yang terganggu, maka status kesehatan bergeser di bawah optimal.
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam riwayat timbulnya penyakit. Oleh karena itu pengetahuan mengenai segi-segi penyehatan lingkungan sangat berperan dalam tiap upaya kesehatan, baik secara individual maupun secara berkelompok dalam masyarakat. Kesehatan lingkungan yang
merupakan bagian dari pada kesehatan masyarakat pada umumnya, mempunyai tujuan membina dan meningkatkan derajat kesehatan dari kehidupan sehari-hari, baik fisik, mental, maupun sosial dengan cara pencegahan terhadap penyakit dan gangguan kesehatan. Masalah kesehatan lingkungan terutama di wilayah Kelurahan Plamongansari Kecamatan Pedurungan Kota Semarang pada sekarang ini menjadi masalah yang sangat rumit dan memerlukan pemecahan secara terorganisir.Begitu pula masalah kesehatan lingkungan wilayah Kelurahan Plamongansari Kecamatan Kecamatan Pedungan.
Lingkungan kumuh merupakan salah satu masalah social di Kelurahan Plamongansari Kota Semarang Kecamatan Pedurungan yang tidak mudah untuk diatasi dan sudah berbagai upaya yang sudah dilakukan untuk mengatasinya, namun masih banyak yang kita jumpai. Bahkan di daerah permukiman masyarakat hampir di setiap sudut yang disertai dengan ketidaktertiban dalam hidup bermasyarakat di lingkungan pedesaan, misalnya:
1.
Pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya 2.
BAB masih ada yang di sungai 3.
Bangunan liar di pinggir jalan
Hal tersebut berdampak pada pencemaran lingkungan, masyarakat Kelurahan Plamongansari dengan berbagai problematika sosialnya sehingga perlu mengupayakan
3/20
masalah dan solusi terbaik bagi kesejahteraan masyarakat.
Kelurahan Plamongansari merupakan Kelurahan yang ada di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang dengan luas wilayah sebesar 265,931 Ha dengan jumlah
penduduk sebesar 14.072 orang dengan perincian laki-laki sebesar 7.026 orang dan perempuan sebesar 7.060 orang. Kelurahan Plamongansari terdiri dari 16 RW dan 89 RT, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut.
1.
Sebelah utara : Kelurahan Penggaron Kidul dan Kelurahan Pedurungan Lor 2.
Sebelah selatan : Kelurahan Batur sari 3.
Sebelah timur : Kelurahan Pedurungan Kidul 4.
Sebelah Barat : Kelurahan Mranggen
Berdasarkan Peraturan Walikota Semarang Nomor 90 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, Serta Tata Kerja Kecamatan dan Kelurahan Kota Semarang, susunan organisasi Kelurahan Plamongansari Kecamatan PedurunganKota Semarang sebagai berikut:
1.
Lurah 2.
Sekretaris 3.
Seksi Pemerintahan dan Pembangunan 4.
Seksi Kesejahteraan Sosial 5.
Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum 6.
Staf
Bagan struktur organisasi Kelurahan Plamongansari Kecamatan Pedurungansebagai berikut:
Gambar. 1
Bagan Organisasi KelurahanPlamongansari
Kecamatan PedurunganKota Semarang
4/20
Wilayah Plamongansari Kecamatan Pedurungan merupakan wilayah pinggiran yang mempunyai beberapa wilayah kumuh. Wilayah kumuh yang ada di Kelurahan Plamongansari terdapat dibeberapa RW, diantaranya RW I, RW II, RW IX, RW X, RW XI, RW XII, RW III. Dari beberapa wilayah kumuh tersebut masyarakat sekitar kurang memperhatikan kesehatan lingkungan, diantaranya masih melakukan buang air besar tidak di jamban dan kurang memperhatikan lingkungan tempat tinggal masing-masing.Melihat fenomena tersebut maka Seksi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Plamongansari berupaya meningkatkan perilaku sehat warga Kelurahan
Plamongansari khususnya warga yang berada di wilayah kumuh tersebut. Berdasarkan Peraturan Walikota Semarang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Penjabaran Tugas
5/20
dan Fungsi Kelurahan Kota Semarang Seksi Kesejahteraan Sosial mempunyai tugas:
1.
Menyiapkan kegiatan penyusunan rencana kegiatan dan anggaran SeksiKesejahteraan Sosial;
2.
Membagi tugas pada bawahan;
3.
Membimbing bawahan dalam lingkup tanggung jawab;
4.
Memeriksa hasil kerja bawahan;
5.
Menyiapkan kegiatan penyusunan sasaran kerja pegawai;
6.
Menyiapkan pelaksanaan koordinasi;
7.
Menyiapkan kegiata penyusunan kebijakan seksikesejahteraan sosial;
8.
nyiapkan Mekegiatan pembinaan dan pengawasan kerukunan hidup antar umat beragama, pendidikan kebudayaan dan ksehatan masyarakat;
9.
Menyiapkan kegiatan pembinaan dan pengawasan pelayanandan bantuan social, pemuda/karang taruna, keolahragaan, kepramukaan’ serta peranan wanita;
10.
Meny apkan kegiatan pengumpulan dan penditribusian Badan Amil Zakat (BAZ);
11.
Menyiapkan kegiatan fasilitas PKK, program peningkatan pengarusutamaan gender, UMKM, dan Karang Taruna;
12.
Menyiapkan kegiatan pengawasan program kesehatan masyarakat;
13.
Menyiapkan kegiatan penyusunan data KB, posyandu, Akseptor, Lansia, kader gizi;
14.
Menyiapkan kegiatanfasilitasi pembinaan anak telantar dan yatim piatu, pembinaan karang taruna wanita tuna susila dan gelandangan;
15.
Penyiapan kegiatan penyajian data dalamrangka pemberian bantuan kepada badan social dan korban bencana alam;
16.
Menyiapkan kegiatanfasilitasi pencegahan dan penanggulangan bencana alam dan pengungsi;
17.
Menyiapkan kegiatanfasilitasi pendataan warga miskin, pengelolaan dan pendistribusian beras (Raskin) kepada masyarakat miskin di wilayah Kelurahan;
18.
Menyiapkan kegiatan pengumpulan dana Palang Merah Indonesia (PMI);
19.
Menyiapkan kegiatan penyusunan data dan informasi Seksi Kesejahteraan Sosial ; 20.
Menyiapkan kegiatan pertanggungjawaban keuangan Seksi Kesejahteraan Sosial;
6/2021.
Menyiapkan penilaian kinerja pegawai dalam lingkup tanggung jawabnya;
22.
Menyiapkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan Seksi Kesejahteraan Nasional;
23.
Menyiapkan kegiatan penyusunan laporan pelaksanaan kegiatan Seksi Kesejahteraan Sosial;
24.
Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai tugas dan fungsinya.
Tabel. 1
Data Ibu Hami, Ibu Nifas dan Bayi Lahir
KelurahanPlamongansariKecamatanPedurungan Kota Semarang
No Jenis Jumlah
1 Ibu hamil (usia dibawah 40 tahun) 103
2 Ibu hamil yang mempunyai resiko tinggi
(usia diatas 40 tahun) 1
3 Ibu yang melahirkan 42
4 Bayi meninggal 3
Masyarakat plamogansari belum secara maksimal memahami pentingnya pola hidup bersih dan sehat, adanya wadah organisasi berbasis masyarakat yang bergerak dalam kesehatan lingkungan, kurangnya peran aktif aktif masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Selain hal tersebut dari lingkungan masyarakat, kurangnya pengetahuan masyarakat akan arti pentingnya perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat yang terbebas dari limbah dan kuman sehingga menjadikan masyarakat kurang memperhatikan dan mempunyai motivasi untuk terbiasa dengan berperilaku hidup bersih dan sehat dengan adanya pola kehidupan yang
beranekaragaman yang dimilikinya.
7/20
Permasalahan terkait lingkungan kumuh di wilayah Plamongansari Kecamatan Pedurungan Kota Semarang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:
1.
Rendahnya pengetahuan tentang kesepakatan;
2.
Disiplin warga rendah;
3.
Sebagian besar warga buruh pabrik sehingga tidak ada waktu untuk bersih-bersih;
4.
Masyarakatnya berpenghasilan rendah dengan kemampuan ekonomi menengah kebawah dianggap sebagai sumber ketidaktahuan dan ketidakpatuhan terhadap norma-normas sosial.
Dengan melakukan kegiatan pendataan ibu hamil, ibu nifas, serta gerakan sapu bersih (Saber) Jentik dan sekaligus melakukan pendampingan ibu hamil dan ibu nifas sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi masalah kesehatan, jauh sebelum masyarakat menyadari akan gaya hidup bersih dan sehat secara mandiri , Oleh karena itu, tidaklah bijaksana apabila pemeliharaan kesehatan diawali dari sasaran masakat langsung melalui pendampingan ibu hamil, ibu nifas dan gerakan PSN untuk dikembangkan bagi kepentingan masyarakat .
Pemberdayaan masyarakat mempunyai banyak keuntungan terutama dalam mewujudkan kemandirian masyarakat dalam pola kehidupan masyarakat sehari-hari berkembang secara intensif. Oleh karena itu masyarakat diberikan sosialisasi atau penyuluhan tentang kjesehatan yang dilakukan juga dengan cara
berkesinambungan,oleh karena itu pendekatan pemberdayaan masyarakat ini adalah cara yang sangat tepat.
Untuk memulai kegiatan yang dilaksanakan sebagai inovasi maka perlu dilakukan analisa lebih mendalam guna menindaklanjuti lebih lanjut inovasi yang dilaksanakan.
Untuk itu penulis berusaha menganalisa permasalahan yang ada dengan menggunakan metode analisis Open Systems Theory [1966], yaitu system yang selalu berhubungan dengan lingkungan luarnya (intersection) dan dipengaruhi oleh lingkungannya itu sendiri, sehingga terjadi informasi yang saling memberi dan menerima serta materi di lingkungannya, adapun analisa dengan menggunakan metode Open System Theory (1966) sepertidi bawah ini :
Gambar. 2
Open System Theory ( 1966 )
8/20
Open system Theori yang digunakan, secara garis besar dapat digambarkan bahwa untuk melaksanakan tupoksi yang ada, Input (Man, Money, Material, and Method, Machine) akan saling berhubungan satu sama lain dengan lingkungan/ masalah/ problem yang ada dan akan dicarikan solusinya untuk mengatasi masalah-masalah yang ada, melalui suatu proses sehingga bisa menghasilkan ouput yang diharapkan, sedang output yang dihasilkan sangat bermanfaat bagi lingkungan yang ada.
Adapun faktor- faktor yang ada di Kelurahan Plamongansari adalah sebagai berikut :
Input : 1.
Man:
Kelurahan Plamongansari memiliki ASN sejumlah 7 orang.Ada beberapa ASN yang kurang peduli terhadap kegiatan untuk mewujudkan kepedulian masyarakat dalam pola kehidupan yang bersih dan sehat serta mandiri.
1.
Money:
Semua kegiatan yang ada di Kelurahan Plamongansari Kecamatan Pedungan menggunakan dana operasional kelurahan, namun untuk kegiatan proyek perubahan belum ada anggaran dana, sehingga proyek perubahan akan menggunakan dana swadaya.
9/20
1.
Material:
Pelaksanaan proyek perubahan ini akan melibatkan masyarakat mulai dari Keluarga, Dasa Wisma,kelompok PKK RT/RW, bapak-bapak serta remaja dan anak-anak yang ada di lingkungan tersebut. Dalam kenyataannya banyak masyarakat yang belum memahami manfaat dari perilaku bersih dan sehat.
1.
Methode:
Methode yang dilaksanakan dalam proyekperubahan ini adalah dengan memberdayakan masyarakat untuk peduli lingkungan dengan cara pendekatan melalui
pertemuan-pertemuan, dan sosialisasi/ penyulahan,pendampingan lbu hamil, ibu nifas saber jentik dengan cara PSN dimulai dari keluraga, Dasa Wisma kelompok PKK RT, RW,sampai ke tingkat Kelurahan. Dalam kenyataannya saat ini banyak warga yang belum sadar dan mengetahui apa memanfaat perilaku bersih dan sehat.
1.
Machine:
Guna mendukung terlaksananya proyek perubahan ini dengan memanfaatkan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Kelurahan Plamongansari dan masyarakat serta kerjasama dengan stakeholder terkait, tetapi sarana dan prasarana yang dimiliki belum dioptimalkan.
1.
Lingkungan :
Dari hasil analisa terkait dengan lingkungan terdapat beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.
Kurangnya pemberdayaan masyarakat dalam melaksanakan perilaku bersih dan sehat secara mandiri
10/202.
Belum terbentuknya kelompok masyarakat peduli kesehatan lingkungan 3.
Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang arti pentingnya perilaku bersih dan sehat 4.
Kurangnya kerjasama dengan stakeholder dalam menciptakan lingkungan sehat dan mandiri.
1.
Proces
Dari hasil input, untuk menyelesaikan permasalahan yang ada agar menghasilkan keluaran yang diinginkan diperlukan suatu proses inovasi kegiatan sebagai berikut : 1.
Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dengan cara melakukan pendataan ibu hamil dan ibu nifas untuk dilakukan pendampingan.
2.
Untuk peningkatan kesehatan dan pengetahuan bagi masyarakat diadakan Sosialisasi/penyuluhan tentang perilaku sehat dan bagi ibu hamil diadakan Senam ibu hamil bekerja sama stake hoder terkait.
3.
Membentuk kelompok masyarakat peduli kesehatan lingkungan 4.
Mengadakan Gerakan Saber (Sapu Bersih) jentik PSN dari rumah ke rumah dan apa bila terdapat jentik maka dikenakan denda berupa uang.
5.
Uang dari denda tersebut di gunakan untuk kegiatan sosial.
6.
Meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat yang tidak mampu diadakan pelatihan ketrampilan bekerjasama dengan stakeholer terkait”
7.
Menjalin kerjasama dengan stakeholder dalam melaksanakan proyek perubahan
1.
Output
Kelurahan diharapkan setelah adanya proyek perubahan adalah sebagai berikut:
1.
Terlaksananya pemberdayaan masyarakat dalam menanamkan perilaku bersih dan sehat secara mandiri.
11/20
12/202.
Terbentuknya kelompok masyarakat peduli kesehatan lingkungan 3.
Meningkatnya pengetahuan masyarakat dalam perilaku bersih dan sehat secara mandiri 4.
Meningkatnya taraf hidup ekonomi masyarakat.
5.
Terjalinnya kerjasama dengan stakeholder dalam menciptakan proyek perubahan
Setelah dilakukan analisa dengan menggunakan open system theory, masalah utama ada pada variabel method yaitu banyak warga yang belum sadar dan mengetahui apa memanfaat perilaku bersih dan sehat di wilayah Kelurahan Plamongansari dalam menuju kota sehat mandiri melalui pendampingan ibu hamil, ibu nifas dan gerakan PSN yang berdampak pada variabel lingkungan yaitu kurangnya pemberdayaan masyarakat dalam melaksanakan perilaku bersih dan sehat secara mandiri, belum terbentuknya kelompok masyarakat peduli kesehatan lingkungan, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang arti pentingnya perilaku bersih dan sehat serta kurangnya kerjasama dengan stakeholder dalam menciptakan lingkungan sehat dan mandiridan proses yang akan dilaksanakan, yaitu : melaksanakan pemberdayaan masyarakat dengan cara melakukan pendataan ibu hamil dan ibu nifas untuk dilakukan pendampingan, untuk peningkatan kesehatan dan pengetahuan bagi masyarakat diadakan Sosialisasi/penyuluhan tentang perilaku sehat dan bagi ibu hamil diadakan Senam ibu hamil bekerja sama stake hoder terkait, membentuk kelompok masyarakat peduli kesehatan lingkungan, mengadakan Gerakan Saber (Sapu Bersih) jentik PSN dari rumah ke rumah dan apa bila terdapat jentik maka dikenakan denda berupa uang, uang dari denda tersebut di gunakan untuk kegiatan sosial, meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat yang tidak mampu diadakan pelatihan ketrampilan bekerjasama dengan stakeholer terkait. Dari beberapa permasalahan tersebut output dari hasil kinerja yang akan dilaksanakan dalam proyek perubahan adalah terlaksananya pemberdayaan masyarakat dalam menanamkan perilakubersih dan sehat secara mandiri, terbentuknya kelompok masyarakat peduli kesehatan lingkungan, meningkatnya pengetahuan masyarakat dalam perilaku bersih dan sehat secara mandiri, meningkatnya taraf hidup ekonomi masyarakat, dan terjalinnya kerjasama dengan stakeholder dalam menciptakan proyek perubahan. Dengan melihat hasil analisa tersebut diatas, maka penulis selaku Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Plamongansari mempunyai inovasi yang dilaksanakan yaitu “KELURAHAN PLAMONGANSARI MENUJU KOTA SEHAT MANDIRI MELALUI PENDAMPINGAN IBU HAMIL, IBU NIFAS DAN GERAKAN PSN“.
Hasil benchmarking di Pemerintah Kota Makasar dengan lokus Puskesmas Kassi-kassi dan Kelurahan Bonto Makkio Kecamatan Rappocini, maka yang dapat diadopsi adalah tentang pola kepemimpinan yang baik dan didukung oleh komitmen yang kuat dari stakeholder terkait.
Manfaat
13/20
14/201.
Manfaat bagi Peningkatan kinerja yang mendukung Reformasi Birokrasi
Manfaat yang berhubungan dengan program nawacita butir ke 5 yaitu Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas kesehatan dengan pendampngan ibu hamil, ibu nifas dan gerakan saber (sapu bersih) Jentik melaluiPSN menuju Indonesia sehat dan sejahtera.
1.
Manfaat bagi Peningkatan kualitas pelayanan publik
1.
Meningkatnya kinerja pemberdayaan masyarakat dalam perilakuhidup bersih dan sehat.
2.
Terwujudnya fasilitasikesadaran masyarakat akanperilakuhidup bersih dan sehat.
1.
Manfaat bagi Stakeholder 1.
Bagi Dinas Kesehatan Kota Semarang
Mendukung program pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan berkwalitas dan berbudaya serta terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, nyaman.
1. Bagi Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang
Tersedianya informasi tentang perilakuhidup bersih dan sehat.
1. Bagi Camat Pedurungan
Tersedianya informasi tentang perilakuhidup bersih dan sehat.
1. Bagi LPMK
Meningkatnya pengetahuan tentang manfaat perilakuhidup bersih dan sehat.
1. Bagi FKK
15/20
Meningkatnya pengetahuan tentang manfaat perilakuhidup bersih dan sehat.
1. Bagi RT/RW
Meningkatnya pengetahuan tentang manfaat perilakuhidup bersih dan sehat.
1. Bagi Karang Taruna
Meningkatnya pengetahuan tentang manfaat perilakuhidup bersih dan sehat.
1. Bagi Masyarakat 2.
Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat perilakuhidup bersih dan sehat.
3.
Memenuhi kebutuhan masyarakat akan lingkungan yang bersih dan sehat serta terhindar dari berbagai penyakit.
Milestone
NO TAHAPAN DAN CAPAIAN ANTARA OUTPUT TAHAPAN WAKTU
1 Jangka Pendek
1. Pembentukan tim kerja 1.
Pendistribusian dan pembagian tugas Tim Kerja 2.
Pengesahan SK Tim Kerja 3.
Penyusunan draft SK Tim Kerja
Terbentuknya tim kerja
Minggu I
Juni 2017
16/20
NO TAHAPAN DAN CAPAIAN ANTARA OUTPUT TAHAPAN WAKTU
1. Melakukan koordinasi dengan stakeholder internal dan eksternal 2.
Koordinasi dengan stakeholder internal 3.
Koordinasi dengan stakeholder eksternal
Terjalinnya koordinasi dan dukungan dari stakeholder terkait
Minggu I
Juni 2017
1. Membentuk Petugas Pendampingan Ibu Hamil
a. Koordinasi dengan Aparat Kelurahan
b. Menyusun SK Lurah Petugas Pendampingan Ibu Hamil
Tersusunnya SK Petugas Pendampingan Ibu Hasi
Minggu II
Juni 2017
1. Sosialisasi LBS (Lingkungan Bersih dan Sehat) 2.
Koordinasi dengan nara sumber 3.
Menyusun jadwal dan materi sosialisasi 4.
Melaksanakan sosialisasi LBS 5.
Resume hasil sosialisasi
Terlaksananya Sosialisasi LBS
Minggu II
Juni 2017
17/20
NO TAHAPAN DAN CAPAIAN ANTARA OUTPUT TAHAPAN WAKTU
1. Sosialisasi tentang Penyakit DBD 1. Koordinasi dengan nara sumber
1.
Menyusun jadwal dan materi sosialisasi 2.
Melaksanakan sosialisasi Penyakti DBD 3.
Resume hasil sosialisasi
Terlaksananya Sosialisasi tentang Penyakit DBD
Minggu III
Juni 2017
1. Melaksanakan pendataan jumlah ibu hamil dan ibu nifas 2.
Mengumpulkan data-data ibu hamil 3.
Mendata jumlah ibu hamil dan ibu nifas
Terlaksananya pendataan jumlah ibu hamil dan ibu nifas
Minggu III
Juni 2017
1. Mengadakan pendampingan Ibu Hamil dan Ibu Nifas 2.
Koordinasi dengan RT, RW dan Kader Pendampingan 3.
Menyiapkan jadwal dan materi pendampingan 4.
Melaksanakan pendampingan Ibu Hamil dan Ibu Nifas 5.
Data hasil pendampingan
Terlaksananya pendampingan Ibu Hamil dan Ibu Nifas
Minggu I
Juli 2017
18/20
NO TAHAPAN DAN CAPAIAN ANTARA OUTPUT TAHAPAN WAKTU
8. Mengadakan Kelas Ibu Hamil dan Senam Ibu Hamil
a. Koordinasi dengan stakeholder terkait
b. Menyusun jadwal Kelas Ibu Hamil dan Senam Ibu Hamil
c. Melaksanakan kegiatan Kelas Ibu Hamil dan Senam Ibu Hamil
Terlaksananya Kelas Ibu Hamil dan Senam Ibu Hamil
Minggu II
Juli 2017
1.
Pelaksanaan Gerakan Saber Jentik melalui PSN dan Kerja bakti lingkungan
1.
Melakukan koordinasi dengan RT/ RW 2.
Menyusun jadwal Gerakan Sabet Jentik PSN 3.
Melaksanakan Gerakan Saber Jentik melalui PSN dan kerja bakti lingkungan
Terlaksananya Gerakan Saber Jentik melalui PSN dan kerja bakti lingkungan
Minggu III
Juli 2017
1.
Membentuk Kelompok masyarakat peduli kesehatan lingkungan melaksanakan gerakan peduli kesehatan lingkungan
1.
Koordinasi dengan Aparat Kelurahan 2.
Menyusun SK. Lurah Kelompok masyarakat peduli kesehatan lingkungan melaksanakan gerakan peduli kesehatan lingkungan 3.
Membentuk Kelompok masyarakat peduli kesehatan lingkungan melaksanakan gerakan peduli kesehatan lingkungan
Terbentuknya Kelompok masyarakat peduli kesehatan lingkungan melaksanakan gerakan peduli kesehatan lingkungan
Minggu IV
Juli 2017
19/20
NO TAHAPAN DAN CAPAIAN ANTARA OUTPUT TAHAPAN WAKTU
11. Mengadakan pelatihan ketrampilan bagi ibu hamil, ibu nifas yang tergolong warga miskin 1.
Melakukan koordinasi dengan Stakeholder Terkait 2.
Menyusun materi dan Jadwal Pelatihan 3.
Memberikan Pelatihan
Terlaksananya pelatihan ketrampilan bagi ibu hamil, ibu nihas yang tergolong warga miskin
Minggu I
Agustus 2017
12. Melakukan identifikasi kasus DBD & Angka Kematian Bayi 1. Melaksanakan koordinasi dengan kader dan stakeholder terkait
1.
Melakukan pendataan kasus DBD & Angka Kematian Bayi
Teridentifikasinya kasus DBD & Angka Kematian Bayi
Minggu II
Agustus 2017
13. Melaksanakan monitoring dan evaluasi
Terlaksananya monev
Minggu II
Agustus 2017 2. Jangka Menengah
1.
Melaksanakan rapat koordinasi peduli lingkungan tingkat Kelurahan Plamongansari
a. Rapat Koordinasi dengan stakeholders.
b. Tindak lanjut hasil Rapat koordinasi.
Terlaksananya rapat koordinasi peduli lingkungan tingkat Kelurahan Plamongansari September s.d Desember 2017
20/20
NO TAHAPAN DAN CAPAIAN ANTARA OUTPUT TAHAPAN WAKTU
2. Pelaksanaan lomba tanaman kebersihan lingkungan antar RW
a. Persiapan lomba tanaman kebersihan lingkungan antar RW
b. Pelaksanaan lomba tanaman kebersihan lingkungan antar RW
c. Evaluasi hasil lomba tanaman kebersihan lingkungan antar RW
Terlaksananya lomba kebersihan lingkungan antar RW
September s.d Desember 2017
3. Jangka Panjang
Menjalin kerjasama dengan instansi terkait dalam pengembangan perilaku sehat serta lingkungan sehat dan mandiri
a. Lomba kebersihan lingkungan
b. Sosialisasi kesehatan lingkungan
Terjalinnya kerjasama dengan instansi terkait dalam pengembangan perilaku sehat serta lLingkungan sehat dan mandiri Tahun 2018
2. Monitoring dan Evaluasi
a. Rapat monitoring dan evaluasi
b. Penyusunan hasil monitoring dan evaluasi
Terlaksananya monev Tahun 2018
Dicetak melalui website E-Proper BPSDMD Provinsi Jawa Tengah (https://bpsdmd.jatengprov.go.id/eproper) pada 28 Jul 2022 18:06:41
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)