1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Sebagai negara berkembang Indonesia memiliki pertumbuhan penduduk yang cukup pesat. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki jumlah populasi penduduk terbanyak di dunia. Menurut data World Bank (2019) Indonesia saat ini menempati peringkat ke 4 di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat untuk negara dengan jumlah populasi penduduk terbanyak di dunia.
Memiliki jumlah populasi penduduk yang banyak Indonesia tidak terlepas dari masalah-masalah yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.
Masalah ketenagakerjaan yang dihadapi oleh Indonesia adalah pesatnya peningkatan jumlah angkatan kerja.
Tabel 1.1
Keadaan Tenaga Kerja Di indonesia
No Keterangan Tahun
Rata – Rata
2016 2017 2018
1 Jumlah Penduduk
Indonesia (jiwa) 259.233.263 262.409.042 265.522.753 262.388.353 2 Bukan Angkatan
Kerja (jiwa) 133.789.515 124.346.296 134.507.112 130.880.974
3
Angkatan Kerja
(jiwa) 125.443.748 128.062.746 131.015.641 128.170.712 a. Bekerja (jiwa) 118.411.973 121.022.423 124.004.950 121.146.449 b.Penggangguran
Terbuka (jiwa) 7.031.775 7.040.323 7.000.691 7.024.263
c. Persentase (%) 5,61% 5,50% 5,34% 5,48%
Sumber : Badan Pusat Statistik 2019 (data diolah)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Keadaan pasar tenaga kerja di Indonesia terus mengalami perkembangan. Dapat dilihat pada Tabel 1.1 Jumlah penduduk di Indonesia selalu mengalami peningkatan. Di tahun 2016 commit to user commit to user
2
penduduk Indonesia berjumlah 259,2 juta jiwa, lalu mengalami kenaikan sebesar 1,2 % menjadi 262,4 juta jiwa dan di tahun 2018 jumlah penduduk Indonesia mencapai 265,5 juta jiwa, dimana 49,28% (131,01 juta jiwa) diantaranya menjadi bagian dari angkatan kerja. Jumlah tersebut meningkat sebesar 2,25% (2,9 juta jiwa) dibandingkan keadaan pada tahun 2017 dan meningkat sebesar 4,44% (5,5 juta jiwa) dibandingkan keadaan pada tahun 2016. Peningkatan angkatan kerja menunjukkan penawaran tenaga kerja di dalam pasar bertambah, namun penawaran tenaga kerja yang bertambah tidak selalu diiringi dengan permintaan tenaga kerja yang mampu menyerap angkatan kerja. Hal tersebut ditunjukkan dengan masih tingginya tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia pada tahun 2018 yaitu sebesar 5,34% (7,01 juta jiwa).
Berdasarkan Tabel 1.1 jumlah pengangguran terbuka di Indonesia pada tahun 2016 – 2018 mengalami sedikit penurunan. Tahun 2016 jumlah pengangguran terbuka di Indonesia sebesar 7.031.775 jiwa dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,61%, lalu pada tahun 2017 menjadi 7.040.323 jiwa dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,50%, dan pada tahun 2018 berjumlah 7.000.691 dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,34%. Meskipun jumlah pengangguran di Indonesia mengalami penurunan, Namun penurunan tersebut lebih kecil dibandingkan peningkatan angkatan kerja di Indonesia.
commit to user commit to user
3 Tabel 1.2
Jumlah Angkatan Kerja pada 34 Provinsi di Indonesia Tahun 2016 – 2018 (Jiwa)
No Provinsi Tahun
Rata - Rata Urutan
2016 2017 2018
1 Aceh 2.257.943 2.288.777 2.353.440 2.300.053 16
2 Sumatra Utara 6.362.909 6.743.277 7.124.458 6.743.548 4
3 Sumatra Barat 2.719.591 2.473.675 2.552.130 2.581.798 11
4 Riau 298.7952 2.965.585 3.108.398 3.020.645 10
5 Jambi 1.692.193 1.724.633 1.790.437 1.735.754 20
6 Sumatera Selatan 4.178.794 4.123.669 3.868.957 4.057.140 8
7 Bengkulu 997.913 1.033.581 998.524 1.010.006 26
8 Lampung 4.121.668 4.072.487 4.232.066 4.142.073 7
9 Bangka Belitung 705.173 699.017 727.918 710.702 29
10 Kepulauan Riau 931.475 966.091 970.132 955.899 27
11 DKI Jakarta 5.178.839 4.856.116 5.041.620 5.025.525 6
12 Jawa Barat 21.075.899 22.391.003 22.628.122 22.031.675 1 13 Jawa Tengah 17.312.466 18.010.612 18.059.895 17.794.324 3
14 D.I. Yogyakarta 2.097.436 2.117.187 2.191.742 2135.455 17
15 Jawa Timur 19.953.846 20.937.716 21.300.423 20.730.662 2
16 Banten 5.587.093 5.596.963 5.829.228 5.671.094 5
17 Bali 2.463.039 2.434.450 2.525.355 2.474.281 12
18 Nusa Tenggara Barat 2.464.331 2.396.169 2.237.381 2.365.960 15
19 Nusa Tenggara Timur 2.353.648 2.398.609 2.486.281 2.412.846 14
20 Kalimantan Barat 2.388.758 2.408.259 2.451.399 2.416.138 13
21 Kalimantan Tengah 1.311.427 1.276.669 1.355.399 1.314.498 23
22 Kalimantan Selatan 2.078.384 2.074.117 2.116.944 2.089.815 18
23 Kalimantan Timur 1.717.892 1.654.964 1.732.598 1.701.818 21
24 Kalimantan Utara 288.522 330.731 341.197 320.150 34
25 Sulawesi Utara 1.183.721 1.121.309 1.175.809 1.160.279 25
26 Sulawesi Tengah 150.9505 1.428.583 1.502.972 1.480.353 22
27 Sulawesi Selatan 3.881.003 3.812.358 3.988.029 3.893.796 9
28 Sulawesi Tenggara 1.253.624 1.200.605 1.248.212 1.234.147 24
29 Gorontalo 562.196 547.766 578.880 562.947 31
30 Sulawesi Barat 645.671 614.748 639.622 633.347 30
31 Maluku 743.149 707.796 755.034 735.326 28
32 Maluku Utara 524.526 516.231 541.446 527.401 32
33 Papua Barat 434.817 430.478 445.630 436.975 33
34 Papua 1.722.162 1.762.841 1.835.963 1.773.655 19
Sumber : Badan Pusat Statistik 2019 (data diolah)
commit to user commit to user
4
Dalam keseluruhan Jumlah Angkatan kerja pada 34 Provinsi di Indonesia, Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah angkatan kerja terbanyak di Indonesia. Dalam periode tahun 2016 – 2018 Jumlah angkatan kerja di Provinsi Jawa Barat mempunyai nilai rata-rata sebesar 22.031.675 jiwa atau sekitar 17,2% dari seluruh angkatan kerja di Indonesia.
Dapat dilihat pada Tabel 1.2 jumlah angkatan kerja di Provinsi Jawa Barat selalu mengalami kenaikan. Pada tahun 2016 jumlah angkatan kerja di Provinsi Jawa Barat berjumlah 21.075.899 jiwa, lalu pada tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 6,2% (1,3 juta jiwa) dan di tahun 2018 mengalami sedikit kenaikan sebesar 1,05% (237 ribu jiwa)
Adapun seperti yang terlihat pada Tabel 1.2, 5 besar Provinsi dengan jumlah angkatan kerja terbanyak di Indonesia setelah Provinsi Jawa Barat terdapat Provinsi Jawa Timur lalu diikuti oleh Provinsi Jawa tengah, lalu ada Provinsi Sumatera Utara, dan yang terakhir yaitu Provinsi Banten. Kemudian 5 besar Provinsi dengan jumlah angkatan kerja terkecil berada di Provinsi Kalimantan Utara, Papua Barat, Maluku utara, Gorontalo, dan Sulawesi Barat.
Tabel 1.3
Keadaan Tenaga Kerja di Provinsi Jawa Barat
No Keterangan Tahun
Rata – Rata
2016 2017 2018
1 Jumlah Penduduk
Jawa Barat (jiwa) 47.379.389 47.982.632 48.684.721 48.015.580 2 Bukan Angkatan
Kerja (jiwa) 26.303.500 25.591.629 26.056.599 25.983.909
3
Angkatan Kerja
(jiwa) 21.075.899 22.391.003 22.628.122 22.031.675 a. Bekerja (jiwa) 19.202.038 20.551.575 20.779.888 20.177.833 b.Penggangguran
(jiwa) 1.873.861 1.839.428 1.848.234 1.835.842
c. Persentase (%) 8,89% 8,82% 8,17% 8,42%
Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Barat 2019 (data diolah)
commit to user commit to user
5
Walaupun Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi dengan jumlah angkatan kerja terbesar di Indonesia, Namun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Jawa Barat tergolong tinggi. Dapat dilihat pada Tabel 1.3, pada Tahun 2016-2018 rata-rata jumlah angkatan kerja di provinsi Jawa Barat berjumlah 22.031.675 jiwa. Namun jumlah penyerapan tenaga kerja di Provinsi Jawa Barat pada periode tahun yang sama hanya sebesar 20.177.833 jiwa. Hal tersebut mengakibatkan tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Jawa Barat jika dihitung secara rata-rata pada Tahun 2016-2018 sebesar 8,42%. dengan tingkat pengangguran terbuka yang sebesar itu menjadikan Provinsi Jawa Barat sebagai Provinsi yang memiliki tingkat pengangguran terbuka (TPT) terbesar di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2018). Hal ini menunjukkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat di Provinsi Jawa Barat masih rendah. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan dari pemerintah guna mengatasi hal tersebut terutama berkaitan dengan ketenagakerjaan.
Adapun faktor yang dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja salah satunya adalah Upah Minimum. Nilai upah minimum di Provinsi Jawa Barat tiap tahunnya selalu mengalami kenaikan (BPS Jawa Barat,2018).
Dengan meningkatnya nilai upah minimum maka akan meningkatkan konsumsi para pekerja sehingga terjadi kenaikkan permintaan barang dan jasa.
Kenaikkan permintaan barang dan jasa akan menyebabkan produksi barang dan jasa perusahaan meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan (Kuncoro,2002:42). Hal ini menunjukkan bahwa kenaikkan upah secara tidak langsung dapat meningkatkan kesempatan kerja.
Terdapat beberapa penelitian yang mencoba untuk mencari pengaruh hubungan antara nilai upah minimum terhadap penyerapan tenaga kerja, diantaranya adalah Ikka Dewi (2013) yang dalam penelitian nya menemukan adanya pengaruh positif dari nilai upah minimum terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Jawa Timur. Namun dalam penelitian Febryana (2016) ditemukan bahwa nilai upah minimum berpengaruh negatif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Pulau Jawa commit to user commit to user
6
Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja ialah Produk Domestik Bruto. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi atau sektor di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu. PDRB dapat mempengaruhi jumlah angkatan kerja yang bekerja dengan asumsi apabila nilai PDRB meningkat, maka jumlah nilai tambah output atau penjualan dalam seluruh unit ekonomi disuatu wilayah akan meningkat. Semakin besar output atau penjualan yang dilakukan perusahaan maka akan mendorong perusahaan untuk menambah permintaan tenaga kerja agar produksinya dapat ditingkatkan untuk mengejar peningkatan penjualan yang terjadi (Feriyanto, 2014: 43).
Beberapa penelitian yang mencari hubungan antara Produk Domestik Bruto (PDRB) dengan penyerapan tenaga kerja diantaranya, Habiburrahman (2012) yang dalam penelitiannya menemukan adanya pengaruh positif dari ni PDRB terhadap penyerepan tenaga kerja di provinsi Lampung, namun terdapat hasil penelitian yang berbeda oleh Aris Soelistyo (2018) yang dalam penelitiannya menemukan bahwa nilai PDRB berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja di Gerbang Kertasusila (Gresik-Bangkalan- Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan) .
Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja adalah investasi. Stok modal atau investasi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan tingkat pendapatan nasional. Kegiatan investasi memungkinkan suatu masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan taraf kemakmuran (Sukirno, 2000:367). Adanya investasi-investasi akan mendorong terciptanya barang modal baru sehingga akan menyerap faktor produksi baru yaitu menciptakan lapangan kerja baru atau kesempatan kerja yang akan menyerap tenaga yang pada gilirannya akan mengurangi pengangguran (Prasojo, 2009:136).
commit to user commit to user
7
Terdapat beberapa penelitian yang mencari hubungan pengaruh antara investasi dengan penyerapan tenaga kerja diantaranya, Abdul Haris (2017) yang dalam penelitiannya menemukan bahwa Investasi mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Jawa Tengah. Namun terdapat hasil penelitian yang berbeda, seperti yang dilakukan oleh Febryana (2016) dalam penelitiannya menemukan bahwa Investasi mempunyai pengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja di Pulau Jawa.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti dan mengembangkan faktor-faktor yang diyakini mampu mempengaruhi penyerapan tenaga kerja Sehingga judul penelitian yang diangkat oleh peneliti adalah “Analisis Pengaruh PDRB, Investasi dan Nilai Upah Minimum Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten dan Kota Provinsi Jawa Barat Tahun 2010-2018”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh PDRB terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat
2. Bagaimana Pengaruh Investasi terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat
3. Bagaimana pengaruh Upah Minimum terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten/Kota provinsi Jawa Barat
4. Bagaimana pengaruh upah minimum, PDRB dan investasi secara simultan terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh PDRB terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat.
commit to user commit to user
8
2. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh Investasi terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat.
3. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh Upah Minimum kabupaten./kota terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat.
4. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh upah minimum provinsi, PDRB dan investasi secara simultan terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini terbagi menjadi dua 2 manfaat yaitu manfaaat Ilmu Pengetahuan dan manfaat Praktis. Manfaat Ilmu Pengetahuan adalah sebagai berikut :
1. Sebagai Tugas Akhir penulis dalam menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta
2. Melengkapi kajian teoritis yang berkaitan dengan tenaga kerja yaitu Pengaruh Upah Minimum, produk domestik regional bruto dan investasi terhadap penyerapan tenaga kerja.
3. Dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya terutama yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.
Adapun manfaat praktisi sebagai berikut :
1. Dapat menjadi masukan bagi pemerintah pusat maupun daerah yang dalam hal ini meliputi (Bappenas,Bappeda, dan Kemenakertrans) untuk memahami kondisi ketenagakerjaan Provinsi yang ada di Provinsi Jawa Barat.
2. Dapat menjadi masukan bagi perencana pembangunan dalam merumuskan perencanaan pembangunan bidang ketenagakerjaan terutama dalam kaitannya dengan penyerapan tenaga kerja
commit to user commit to user