Penerapan Model Pembelajaran Osborn untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP.

34 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN OSBORN

UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMP

(Penelitian Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 10 Bandung)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh Fery Ferdiansyah

0907226

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN OSBORN

UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF

MATEMATIS SISWA SMP

Oleh

Fery Ferdiansyah

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar

Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

© Fery Ferdiansyah 2013

Universitas Pendidikan Indonesia

Juli 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN OSBORN

UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMASTIS SISWA SMP

(Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 10 Bandung)

Oleh Fery Ferdiansyah

0907226

Disetujui dan Disahkan Oleh: Pembimbing I

Drs. H. Erman Suherman, M.Pd. NIP. 194908041977021001

Pembimbing II

Kartika Yulianti, S.Pd., M.Si. NIP. 198207282005012001

Mengetahui,

Ketua Jurusan Pendidikan Matematika

(4)

ABSTRAK

Fery Ferdiansyah. (0907226). Penerapan Model Pembelajaran Osborn untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kreatif matematis siswa SMP, sehingga perlu untuk ditingkatkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Osborn lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan model tradisional, juga untuk mengetahui bagaimana sikap siswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran Osborn. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kuasi eksperimen dan desain kelompok kontrol non-ekivalen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 10 Bandung Kelas VIII dengan sampel dua kelas sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari instrumen tes berpikir kreatif matematis dan instrumen non tes seperti lembar observasi dan angket skala sikap siswa. Hasil penelitian ini adalah peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Osborn lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran tradisional. Siswa memberikan sikap positif terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran Osborn.

Kata kunci: Model Pembelajaran Osborn, Kemampuan Berpikir Kreatif

(5)

ABSTRACT

Fery Ferdiasnyah. (0907226). Application of Osborn Learning Model to Increase Mathematics Creative Thinking Ability of Junior High Students.

The research was motivated by the low of mathematics creative thinking ability junior high school, so it needs to be improved. The purpose of this research was to determine whether the mathematics creative thinking abilities of students who use the Osborn learning model better than students who are learning to use the traditional model, also to find out how students' attitudes toward learning mathematics using Osborn learning model. The research was carried out using the method of quasi-experimental and non-equivalent control group design. The populations in this research were all students of SMP Negeri 10 Bandung Class VIII with two classes of samples as the experimental class and control class. The instruments used in this research consisted of mathematics creative ability instruments test and nontest instruments such as observation sheets and questionnaires of students attitude scale. The results of this research is the increase in mathematics creative thinking abilities of students who use the Osborn learning model better than students who are learning to use the traditional model. Students responded positively to the learning of mathematics that uses the Osborn learning model.

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Batasan Masalah ... 4

D. Tujuan Penelitian ... 4

E. Manfaat Penelitian ... 4

F. Definisi Operasional ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Berpikir Kreatif Matematis ... 6

B. Model Pembelajaran Osborn ... 9

C. Hasil Penelitian ysng Relevan ... 13

D. Hipotesis Penelitian ... 13

(7)

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 15

C. Bahan Ajar ... 15

D. Instrumen Penelitian ... 16

E. Prosedur Penelitian ... 24

F. Teknik Pengolahan Data ... 25

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 30

1. Analisis Data Hasil Pretest ... 30

2. Analisis Data Hasil Posttest ... 32

3. Analisis Data Hasil Angket ... 35

4. Analisis Data Hasil Lembar Observasi ... 40

B. Pembahasan ... 41

1. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis ... 41

2. Respon Siswa terhadap Model Pembelajaran Osborn ... 43

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 45

B. Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 46

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan

dan perwujudan dari individu, terutama bagi pembangunan bangsa dan negara

(Munandar, 2009: 6). Dengan pendidikan akan lahir generasi-generasi penerus

yang berkualitas dan diharapkan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Kualitas hasil pendidikan tidak terlepas dari pelaksanaan pembelajaran yang

dilakukan pada tiap jenjang satuan pendidikan.

Pelaksanaan pembelajaran termasuk didalamnya adalah pembelajaran

matematika. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 menyatakan bahwa pelajaran

matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik dimulai dari sekolah

dasar. Dengan tujuan siswa dapat memiliki kemampuan berpikir logis, analitis,

sistematis, kritis, kreatif dan kemampuan bekerja sama secara efektif.

Merujuk pada tujuan pembelajaran yang dinyatakan dalam permendiknas

tersebut, jelas bahwa dalam belajar matematika siswa tidak hanya dilatih untuk

menghitung cepat dan menghafal rumus. Suherman (Astuti, 2012) menjelaskan

bahwa belajar adalah proses pengembangan potensi diri, akal (kognitif), rasa

(afektif-emosi), nurani (spiritual), dan keterampilan (psikomotorik). Dengan

demikian, belajar matematika merupakan serangkaian proses yang harus dilalui

seseorang dengan mengembangkan segala potensi dirinya untuk mencapai tujuan

pembelajaran matematika.

Kemampuan berpikir siswa berhubungan erat dengan kegiatan belajar. Pada

saat belajar, siswa menggunakan kemampuan berpikirnya untuk memahami

pengetahuan dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Sementara itu

kemampuan berpikir siswa sangat bergantung pada kualitas dan kuantitas hasil

(9)

berpikir sering diasosiasikan dengan aktivitas mental dalam memperoleh

pengetahuan dan memecahkan masalah.

Dengan pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru-guru saat ini (Teacher

Centered), mutu pendidikan di Indonesia dinilai kurang memuaskan. TIMSS

(Trends in International Mathematics and Science Study) mencatat data bahwa

peringkat prestasi matematika siswa kelas VIII (SMP) Indonesia pada tahun 2009

berada diperingkat ke-38 dari 42 negara dengan skor 386, turun 11 poin dari hasil

TIMSS pada 2007 yaitu 397 (Litbang Kemendikbud, 2011). Skor ini sungguh

rendah bila dibandingkan dengan rata-rata skor internasional yaitu 500.

Sedangkan menurut survei PISA (Programme for International Student

Assesment) tahun 2009, Indonesia menempati peringkat ke-61 dari 65 negara yang

disurvey dengan skor rata-rata kemampuan matematika siswa Indonesia yaitu 371,

skor tersebut masih di bawah rata-rata internasional yaitu 496 (Litbang

Kemendikbud, 2011). Berdasarkan data tersebut, jelas mutu pendidikan

matematika menurut TIMSS masih rendah karena dibawah rata-rata skor

internasional. Sedangkan menurut survei PISA, didapat fakta bahwa literasi

matematika siswa Indonesia juga rendah. Siswa Indonesia hanya mampu

memecahkan masalah sederhana, dan tidak bisa memecahkan masalah-masalah

yang tidak rutin. Hal ini berarti bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi

matematik siswa seperti berpikir kreatif masih kurang.

Mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis maupun

bekerjasama sudah lama menjadi fokus dan perhatian pendidik matematika di

sekolah, karena hal itu berkaitan dengan sifat dan karakteristik keilmuan

matematika (Siswono, 2009). Tetapi fokus dan perhatian pada upaya peningkatan

kemampuan berpikir kreatif dalam pembelajaran matematika masih jarang

dikembangkan. Padahal dalam konteks pembelajaran matematika, kemampuan ini

adalah kemampuan yang merangsang siswa untuk menemukan solusi yang

beragam dari pemecahan masalah. Sehingga, siswa dituntut untuk tidak lagi

(10)

3

Dalam konteks yang lebih luas di luar pembelajaran, Mahmudi (2010)

menyatakan bahwa kemampuan berpikir kreatif menjadi penentu keunggulan

suatu bangsa. Daya kompetitif suatu bangsa dalam persaingan global sangat

ditentukan oleh kreativitas sumber daya manusianya. Dengan demikian,

kemampuan berpikir kreatif merupakan kemampuan yang perlu untuk

ditingkatkan.

Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya suatu perbaikan dalam proses

pembelajaran matematika untuk membantu siswa dalam mengembangkan

kreativitasnya. Pembelajaran yang dilakukan tentunya harus tepat dengan

melibatkan siswa secara aktif. Proses kreativitas muncul karena adanya gagasan

dari siswa. Jadi dengan kata lain pembelajaran yang dilakukan harus dirancang

sedemikian rupa agar dapat memunculkan gagasan-gagasan kreatif dari siswa.

Salah satu model pembelajaran yang dinilai tepat dalam memunculkan

gagasan yang kreatif adalah model pembelajaran Osborn. Model pembelajaran

Osborn adalah suatu model pembelajaran dengan menggunakan metode atau

teknik brainstorming. Menurut Guntar (Afifah, 2010) teknik brainstorming adalah

teknik untuk menghasilkan gagasan yang mencoba mengatasi segala hambatan

dan kritik. Kegiatan ini mendorong munculnya banyak gagasan, termasuk gagasan

yang nyeleneh, liar, dan berani dengan harapan bahwa gagasan tersebut dapat

menghasilkan gagasan yang kreatif.

Taylor (Farhan, 2012) mengungkapkan bahwa teknik brainstorming dapat

menanamkan inhibisi pada pemikiran kreatif, karena ide-ide aneh yang muncul

dapat menggoncangkan gairah berpikir siswa. Evaluation of ideas is not allowed,

tidak perlu penilaian apa idenya yang penting harus menampung ide

sebanyak-banyaknya (Alma, 2009). Sentral dari brainstorming adalah konsep menunda

keputusan. Empat ketentuan dasar dari brainstorming (wikipedia) adalah fokus

pada kuantitas, penundaan kritik, sambutan terhadap ide yang tidak biasa,

(11)

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Osborn untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, disusun pertanyaan

sebagai berikut :

1. Apakah peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang

pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Osborn lebih baik

daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran

tradisional?

2. Bagaimana sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan model

pembelajaran Osborn?

C. Batasan Masalah

Untuk menghindari meluasnya permasalahan, maka masalah dibatasi sebagai

berikut:

1. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandung

tahun ajaran 2012/2013.

2. Pokok bahasan pada penelitian ini adalah kubus dan balok.

3. Indikator kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang diteliti yaitu

fluency (kelancaran), flexibility (keluwesan), originality (keaslian) dan

elaboration (keterincian).

(12)

5

Berdasarkan rumusan yang telah dikemukakan, tujuan dari penelitian ini

adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui apakah peningkatan kemampuan berpikir kreatif

matematis siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran

Osborn lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan model

pembelajaran tradisional.

2. Untuk mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan

model pembelajaran Osborn.

E. Manfaat penelitian

Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan dan hasil penelitian ini sebagai

berikut :

1. Bagi siswa, pembelajaran dengan model Osborn selama penelitian akan

memberi pengalaman baru dan mendorong untuk lebih terlibat aktif dalam

pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif

matematiknya.

2. Bagi guru, pembelajaran dengan model Osborn dapat dijadikan sebagai

alternatif strategi dalam usaha meningkatkan kemampuan berpikir kreatif

matematis siswa.

3. Dapat dijadikan bahan kajian bagi praktisi maupun peneliti pendidikan

matematika dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif

matematis siswa.

F. Definisi Operasional

1. Berpikir kreatif matematis adalah berpikir secara logis dan divergen untuk

menemukan gagasan atau solusi bervariasi dalam masalah matematika.

2. Model pembelajaran Osborn adalah model pembelajaran dengan

(13)

ide yang muncul dengan mengatasi segala hambatan dan kritik. Metode

brainstorming terdiri dari enam tahap yaitu orientasi, analisis, hipotesis,

pengeraman, sintesis, dan verifikasi.

3. Model pembelajaran tradisional merupakan model pembelajaran yang

berpusat pada guru, dimana guru mendominasi kegiatan belajar mengajar.

Metode yang digunakan pembelajaran tradisional adalah metode ceramah dan

tanya jawab. Dalam proses pembelajarannya guru menjelaskan materi, siswa

mengerjakan soal latihan yang diberikan oleh guru lalu membahasnya melalui

(14)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode dan Desain Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan sebab akibat antara variabel

bebas dengan variabel terikat. Perlakuan yang diberikan terhadap variabel bebas

dilihat hasilnya pada variabel terikat. Dalam hal ini, peneliti menguji sebuah

perlakuan yaitu model pembelajaran Osborn sebagi variabel bebas terhadap

kemampuan berpikir kreatif sebagai variabel terikat, yang diberi perlakuan khusus

dan dikontrol oleh peneliti. Sejatinya, penelitian seperti ini disebut penelitian

eksperimen, tetapi pengambilan sampel pada penelitian ini tidak secara acak

siswa, melainkan acak kelas. Peneliti harus menerima kondisi dua kelas yang

diperoleh secara acak tersebut. Sehingga, berdasarkan metodenya, menurut

Ruseffendi (2005: 31) penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen.

Dalam penelitian ini, terdapat dua kelompok yakni kelas eksperimen dan kelas

kontrol. Kelas eksperimen diberikan perlakuan khusus, dalam hal ini model

pembelajaran Osborn. Sementara itu, kelas kontrol menggunakan pembelajaran

tradisional. Selanjutnya pada penulisan ini, kelas eksperimen akan disebut kelas

Osborn dan kelas kontrol disebut kelas tradisional. Sebelum diberikan perlakuan,

kedua kelas tersebut diberikan tes awal. Setelah perlakuan diberikan, dilakukan

tes akhir. Desain eksperimen yang dilakukan dalam penelitian ini adalah desain

kelompok kontrol non-ekivalen seperti yang digambarkan dalam diagram berikut

ini (Ruseffendi, 2010: 53):

Diagram 3.1

Desain Kelompok Kontrol Non-ekivalen 0 X 0

0 0

(15)

0 : Pretes / postes

X : Pembelajaran dengan model pembelajaran Osborn

B. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP N 10

Bandung. Populasi dipilih dengan pertimbangan bahwa siswa kelas VIII

kemampuan kognitifnya sudah berkembang. Menurut Piaget (Afifah, 2010: 9),

anak pada umur 11 sampai 16 tahun perkembangan perilaku kognitifnya sudah

dalam tahap formal operational thought, artinya anak sudah mulai berpikir

abstrak dan hipotesis, mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin

terjadi. Selain itu, pada tahap ini anak sudah mampu memikirkan semua

kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan masalah.

Sampel dalam penelitian ini sebanyak dua kelas VIII di SMP Negeri 10

Bandung. Kelas VIII-A sebagai kelas tradisional dan kelas VIII-B sebagai kelas

Osborn pada penelitian ini.

C. Bahan Ajar

Materi yang diajarkan pada penelitian ini adalah kubus dan balok. Adapun

bahan ajar yang digunakan antara lain.

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun pada penelitian ini ada

dua, diantaranya rencana pelaksanaan pembelajaran pada kelas Osborn yaitu

rencana pelaksanaan pembelajaran matematika menggunakan model Osborn

dengan metode brainstorming dan rencana pelaksanaan pembelajaran pada

kelas tradisional yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran matematika

menggunakan model tradisional. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang

dibuat pada kelas Osborn dan tradisional terdiri dari empat pertemuan.

2. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar kerja siswa yang dibuat pada penelitian ini ada satu, yaitu lembar

(16)

16

mengkonstruksi sendiri pemahaman materi yang dipelajari dengan beberapa

permasalahan.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas instrumen tes dan

instrumen non tes. Instrumen tes berupa tes kemampuan berpikir kreatif

matematis, sedangkan instrumen non tes berupa angket dan lembar observasi.

1. Tes Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis

Menurut Arikunto, tes adalah serentetan pertanyaan, latihan atau alat lain yang

digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan

atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suratmini, 2010). Tes

kemampuan berpikir kreatif berupa tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest).

Pretest diberikan untuk mengukur kemampuan awal kelas Osborn dan kelas

tradisional serta mengetahui homogenitas. Sedangkan posttest diberikan untuk

mengetahui peningkatan kelas Osborn dan kelas tradisional.

Instrumen tes yang digunakan pada saat pretest dan posttest dengan

karakteristik setiap soal pada masing-masing tes adalah sama, baik di kelas

Osborn maupun tradisional. Tipe tes yang diberikan berupa tipe subyektif dengan

bentuk tes uraian. Tes uraian diharapkan mampu mengukur kemampuan berpikir

kreatif matematis siswa. Selain itu, tes jenis uraian memiliki keunggulan

dibandingkan dengan tes objektif, yaitu merangsang siswa untuk mengeluarkan

gagasan-gagasan atau ide-ide baru yang ada pada diri siswa.

Menurut Suherman (2003: 77) penyajian soal tipe subjektif dalam bentuk

uraian ini mempunyai beberapa kelebihan, yaitu :

1. Pembuatan soal bentuk uraian relatif lebih mudah dan bisa dibuat dalam

kurun waktu yang tidak terlalu lama.

2. Hasil evaluasi lebih dapat mencerminkan kemampuan siswa sebenarnya.

3. Proses pengerjaan tes akan menimbulkan kreativitas siswa, karena tes

(17)

Pemberian skor tes berpikir kreatif matematis mengacu pada indikator berpikir

kreatif yaitu kelancaran (fluency), keluwesan (Flexibility), keaslian (originality)

dan elaborasi (elaboration). Adapun kriteria penskoran yang digunakan dalam

penelitian ini adalah skor rubrik yang dimodifikasi dari Bosch (Ririn, 2012).

Tabel 3.1

Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis

Aspek yang Diukur Respon Siswa terhadap Soal/Masalah Skor

Elaborasi

(Elaboration)

Tidak menjawab/memberikan jawaban yang salah 0

Terdapat kekeliruan dalam memperluas situasi tanpa

disertai perincian 1

Terdapat kekeliruan dalam memperluas situasi dan

disertai perincian yang kurang detil 2

Memperluas situasi dengan benar dan merincinya

kurang detil 3

Memperluas situasi dengan benar dan memerincinya

secara detil 4

Kelancaran

(Fluency)

Tidak menjawab/memberikan ide yang tidak relevan

untuk pemecahan masalah 0

Memberikan sebuah idea yang relevan dengan

pemecahan masalah tetapi pengungkapannya kurang

jelas 1

Memberikan sebuah ide yang relevan dengan

pemecahan masalah dan pengungkapannya lengkap

serta jelas 2

Memberkan lebih dari satu ide yang relevan pemecahan

masalah tetapi pengungkapannya kurang jelas 3

Memberikan lebih dari satu ide yang relevan dengan

(18)

18

serta jelas

Keluwesan

(flexibility)

Tidak menjawab/memberikan ide yang tidak relevan

untuk pemecahan masalah 0

Memberikan jawaban hanya satu cara dan terdapat

kekeliruan dalam proses perhitungan sehingga hasilnya

salah 1

Memberikan jawaban dengan satu cara, proses

perhitungan dan hasilnya benar 2

Memberikan jawaban lebih dari satu cara (beragam)

tetapi hasilnya ada yang salah karena terdapat

kekeliruan dalam proses perhitungan 3

Memberikan jawaban lebih dari satu cara (beragam),

proses perhitungan dan hasilnya benar 4

Keaslian

(originality)

Tidak menjawab/memberikan jawaban yang salah 0

Memberikan jawaban dengan caranya sendiri tetapi

tidak dapat dipahami 1

Memberikan jawaban dengan caranya sendiri, proses

perhitungan sudah terarah tetapi tidak selesai 2

Memberikan jawaban dengan caranya sendiri tetapi

terdapat kekeliruan dalam proses perhitungan sehingga

hasilnya salah 3

Memberikan jawaban dengan caranya sendiri dan

proses perhitungan serta hasilnya benar 4

(Adaptasi dari Ririn, 2012)

Sebelum penelitian ini dilakukan, instrumen tersebut diujicobakan terlebih

dahulu, supaya dapat terukur validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan indeks

kesukaran dari instrumen tersebut. Langkah-langkah uji coba instrumen adalah :

pertama, dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dosen pembimbing dan guru

(19)

SMP Negeri 10 Bandung. Ketiga, setelah diujicobakan kemudian instrumen

diukur validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan indeks kesukaran dari instrumen

tersebut. Untuk mengetahui kriteria-kriteria tersebut, di bawah ini dipaparkan

penjelasannya, yaitu:

a. Validitas Butir Soal

Uji validitas dilakukan untuk valid atau tidaknya alat evaluasi. Suherman

(2003:102) mengatakan bahwa suatu alat evaluasi disebut valid (absah) apabila

alat tersebut mampu mengevaluasi apa yang seharusnya dievaluasi. Oleh karena

itu keabsahan nya tergantung pada sejauh mana ketepatan alat evaluasi itu dalam

melaksanakan fungsinya.

Untuk mencari koefisien validitas alat evaluasi adalah dengan menggunakan

rumus korelasi yang dimodifikasi dari Suherman (2003:102) sebagai berikut:

Keterangan :

: Koefisien korelasi

X : Skor tiap butir soal

Y : Skor total

N : Banyak subyek

Suherman (2003:113) nilai diartikan sebagai koefisien validitas, kategorinya

adalah:

Tabel 3.2

Interpretasi Validitas Nilai rxy

Nilai Keterangan

0,80 rxy 1, 00 Validitas sangat tinggi

0, 60 rxy 0,80 Validitas tinggi

(20)

20

Dengan menggunakan AnatesV4 maka validitas tiap butir soal tes kemampuan

berpikir kreatif matematis siswa yang diperoleh adalah sebagai berikut.

Tabel 3.3

Hasil Uji Validitas Butir soal

No

Soal Validitas Interpretasi 1 0,633 Validitas tinggi 2 0,739 Validitas Sangat tinggi 3 0,886 Validitas sangat tinggi 4 0,847 Validitas sangat tinggi

Berdasarkan Tabel 3.3 di atas maka diketahui bahwa validitas soal nomor 1

memiliki interpretasi validitas tinggi sedangkan soal nomor 2,3 dan 4 memiliki

kriteria interpretasi validitas sangat tinggi.

b. Reliabilitas

Suatu alat evaluasi dikatakan reliabel atau dapat diandalkan jika hasil evaluasi

tersebut relatif tetap jika digunakan untuk subjek yang sama (Suherman, 2003:

131). Untuk menghitung koefisien reliabilitas bentuk tes uraian digunakan rumus

Cronbach Alpha, sebagai berikut :

s jumlah varians skor setiap soal

 2

t

(21)

Tolak ukur untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas alat evaluasi

yang dapat digunakan dibuat oleh Guilford (Suherman, 2003: 139) adalah sebagai

berikut:

Dengan menggunakan AnatesV4 maka reliabilitas butir soal yang diperoleh

adalah 0,82 dengan interpretasi reliabilitas sangat tinggi.

c. Daya Pembeda

Daya pembeda dari sebuah butir soal menyatakan seberapa jauh kemampuan

butir soal tersebut mampu membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi

dan siswa yang berkemampuan rendah (Suherman, 2003: 159). Daya pembeda

tiap butir soal dapat ditentukan dengan rumus berikut:

atau

Keterangan:

DP = Daya Pembeda

= Jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar, atau jumlah benar untuk kelompok atas

= Jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar, atau jumlah benar untuk kelompok bawah

= Jumlah siswa kelompok atas

(22)

22

Klasifikasi interpretasi daya pembeda (dalam Suherman, 2003: 161) dapat

dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.5

Interpretasi Indeks Daya Pembeda

Dengan menggunakan AnatesV4 maka daya pembeda tiap butir soal yang

diperoleh adalah sebagai berikut.

Tabel 3.6

Hasil Uji Daya Pembeda Butir soal

No Soal DP Interpretasi

Indeks kesukaran butir soal merupakan bilangan yang menunjukkan derajat

atau tingkat kesukaran butir soal (Suherman, 2003:170). Indeks kesukaran butir

soal tipe uraian ditentukan dengan rumus berikut :

(23)

= Jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar, atau jumlah benar untuk kelompok atas

= Jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar, atau jumlah benar untuk kelompok bawah

= Jumlah siswa kelompok atas

= Jumlah siswa kelompok rendah

Klasifikasi interpretasi untuk indeks kesukaran (Suherman, 2003: 170) adalah :

Tabel 3.7

Interpretasi Indeks Kesukaran

Dengan menggunakan AnatesV4 maka indeks kesukaran tiap butir soal yang

diperoleh adalah sebagai berikut.

Tabel 3.8

Hasil Uji Indeks Kesukaran Butir Soal

No Soal IK Interpretasi

1 0,65 Sedang

2 0,26 Sukar

3 0,56 Sedang

4 0,18 Sukar

IK Keterangan

IK = 0,00 Soal terlalu sukar 0,00 < IK  0,30 Soal sukar 0,30 < IK  0,70 Soal sedang 0,70 < IK < 1,00 Soal mudah

(24)

24

Berdasarkan Tabel 3.8 maka diketahui bahwa soal nomor 1 dan 3 memiliki

interpretasi sedang, sedangkan soal nomor 2 dan 4 memiliki interpretasi sukar.

Karena setelah hasil ujicoba instrumen, validitas, reliabilitas, daya pembeda

dan indeks kesukaran tergolong baik. Maka instrumen ini selanjutnya digunakan

pada penelitian.

2. Instrumen Non Tes

Instrumen non tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket dan

lembar observasi.

a. Angket

Angket adalah jenis evaluasi yang berupa daftar pertanyaan atau pernyataan

yang harus dijawab oleh orang yang akan dievaluasi berkenaan dengan keadaan

atau data diri, pengalaman, pengetahuan, sikap, kegiatan belajar mengajar, sarana

dan prasarana serta fasilitas lainnya (Suherman, 2003: 56). Angket dalam

penelitian ini digunakan utuk mengetahui respon siswa terhadap model

pembelajaran Osborn. Model angket yang akan digunakan adalah skala Likert

yang terdiri dari empat pilihan jawaban, yaitu: SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS

(Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju).

b. Lembar Observasi

Lembar observasi adalah instrumen tes yang digunakan untuk melihat

aktivitas siswa dan guru selama pembelajaran berlangsung. Setiap pernyataan

pada lembar observasi untuk aktivitas siswa dan guru diberi penilaian skala 0-4.

Hal ini bertujuan untuk menganalisis jalannya pembelajaran dengan menggunakan

Model Osborn, sehingga dapat dilaksanakan perbaikan-perbaikan pada

pembelajaran selanjutnya.

E. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu sebagai berikut :

1. Tahap Persiapan

(25)

a. Mengidentifikasi masalah, merumuskan permasalahan beserta batasannya,

mengkaji berbagai literatur sebagai dasar untuk menentukan hipotesis,

metode, serta desain penelitian.

b. Membuat proposal penelitian.

c. Menyusun bahan ajar, yakni RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)

dan LKS (Lembar Kegiatan Siswa).

d. Menyusun Instrumen Tes.

e. Pemilihan Sampel Penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan

Dalam tahap pelaksanaan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Pemberian tes awal (pretest) kepada kelas tradisional dan kelas Osborn

yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif matematis

awal siswa.

b. Memberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran

Osborn pada kelas Osborn dan pembelajaran tradisional kepada kelas

tradisional.

c. Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti menggunakan lembar

observasi.

d. Pemberian angket pada kelas Osborn untuk mengetahui sikap siswa

terhadap model pembelajaran Osborn.

e. Pemberian tes akhir (posttest) pada kelas Osborn dan kelas tradisional.

3. Tahap Analisis Data

a. Mengumpulkan hasil data kuantitatif dan kualitatif.

b. Mengolah dan menganalisis data.

c. Menarik kesimpulan dari hasil analisis data.

F. Teknik Pengolahan Data

Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan pretest

(26)

26

dari tes kemampuan berpikir kreatif matematis (pretest-posttest) sedangkan data

kualitatif berasal dari hasil angket dan lembar observasi.

1. Pengolahan data kuantitatif

a. Analisis Data Pretest

Pretes dilakukan untuk melihat kemampuan awal dari kedua kelas apakah

sama atau berbeda. Hal ini dapat dilihat melalui uji perbedaan dua rata-rata

terhadap data hasil pretest kedua kelas. Uji ini dilakukan dengan bantuan

software IBM SPSS Statistics 20 for windows, yaitu dengan menggunakan

Independent Sample T-Test, jika hasil pengujian menunjukkan hasil yang

signifikan, artinya tidak ada perbedaan rata-rata yang berarti dari kedua kelas,

maka dapat dikatakan bahwa kemampuan awal kelas Osborn dan kelas

tradisional sama.

Asumsi yang harus dipenuhi sebelum dilakukan uji-t adalah normalitas

dan homogenitas data. Oleh karena itu, sebelum pengujian Independent

Sample T-Test terhadap data pretest dilakukan maka terlebih dahulu dilakukan

pengujian normalitas dengan menggunakan uji Saphiro Wilk.

Langkah-langkah yang akan dilakukan adalah :

1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah data dari kedua kelas

berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan dalam

penelitian ini adalah uji Saphiro Wilk dengan taraf signifikansi 5%. Hipotesis

dalam pengujian normalitas data pretest sebagai berikut:

H0 : Data pretest berasal dari sampel yang berdistribusi normal.

H1 : Data pretest berasal dari sampel yang tidak berdistribusi normal,

Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka kriteria pengujiannya

adalah :

a. Jika nilai signifikansi (Sig) ≥ 0,05 maka H0 diterima.

b. Jika nilai signifikansi (Sig) < 0,05 maka H0 ditolak.

(27)

Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui data dari kedua kelas

tersebut mempunyai varians yang homogen atau tidak. Untuk melakukan

pengujian homogenitas data pretest digunakan uji Lavene dengan perumusan

hipotesis sebagai berikut :

H0 : Data pretest bervarians homogen.

H1 : Data pretest bervarians tidak homogen.

Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka kriteria pengujiannya

adalah :

a. Jika nilai signifikansi (Sig) ≥ 0,05 maka H0 diterima.

b. Jika nilai signifikansi (Sig) < 0,05 maka H0 ditolak.

3. Uji Perbedaan Dua Rata-rata

Uji perbedaan dua rata-rata bertujuan untuk mengetahui perbedaan dua

rata-rata dari data pretest yang diperoleh. Pengolahan data dilakukan dengan

ketentuan:

H0 : Tidak terdapat perbedaaan rata-rata kemampuan awal yang signifikan

antara kelas Osborn dan kelas tradisional.

H1 : Terdapat perbedaan rata-rata kemampuan awal yang signifikan antara

kelas Osborn dan kelas tradisional.

a. Jika kedua data berdistribusi normal dan homogen, maka dilakukan uji

t. Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka kriteria

pengujiannya adalah :

1. Jika t-hitung < t-tabel maka H0 diterima.

2. Jika t-hitung ≥ t-tabel maka H0 ditolak.

b. Jika kedua data berdistribusi normal tetapi tidak homogen, maka

dilakukan uji-t’. Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka

kriteria pengujiannya adalah :

1. Jika t-hitung < t-tabel maka H0 diterima.

(28)

28

c. Jika salah satu atau kedua data tidak berdistribusi normal, maka

dilakukan uji Mann-Whitney. Dengan menggunakan taraf signifikansi

5% maka kriteria pengujiannya adalah :

1. Jika nilai signifikansi (Sig) ≥ 0,05 maka H0 diterima.

2. Jika nilai signifikansi (Sig) < 0,05 maka H0 ditolak.

b. Analisis Data Posttest

Postes dilakukan untuk melihat perbedaan kemampuan pada kedua

kelas setelah diberikan perlakuan. Analisis posttest dilakukan seperti

analisis pada data pretest. Apabila kemampuan awal (pretest) siswa di

kelas Osborn dan di kelas tradisional tidak berbeda secara signifikan,

maka analisis dicukupkan pada data posttest saja atau boleh juga dengan

data gain saja. Sedangkan jika kemampuan awal (pretest) kedua kelas

tersebut berbeda, maka analisis perbedaan peningkatan kemampuan

berpikir kreatif matematis siswa menggunakan data gain sangat

diperlukan. Pengolahan indeks gain ini dihitung dengan rumus :

Analisis data gain sama dengan analisis data pretest, dengan

asumsi yang harus dipenuhi sebelum uji perbedaan dua rata-rata, adalah

normalitas dan homogenitas data gain.

Untuk melihat peningkatan yang terjadi pada kedua kelas dapat

menggunakan rumus gain ternormalisasi, dan ditaksir menggunakan

kriteria indeks gain menurut Hake (1999:1) yang ada pada tabel berikut

Tabel 3.9 Kriteria Indeks Gains

2. Pengolahan Data Kualitatif

Indeks Gains Kriteria

g ≥ 0,7 Tinggi

(29)

Angket dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Hal ini

dikarenakan peneliti menginginkan jawaban yang benar-benar mewakili sikap

dan respon siswa terhadap pernyataan yang diberikan. Namun disini peneliti

hanya akan menggunakan empat kategori saja dengan menghilangkan kategori

netral, sehingga hanya terdapat Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju

(TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Hal ini dilakukan untuk menghindari

jawaban yang tidak objektif.

Pernyataan pada angket terbagi menjadi dua pernyataan, yaitu pernyataan

positif dan pernyataan negatif. Pernyataan ini dibuat berdasarkan aspek-aspek

yang diteliti. Aspek tersebut meliputi sikap siswa terhadap pelajaran

matematika, model pembelajaran Osborn dan terhadap tes kemampuan

berpikir kreatif matematis.

Dalam menganalisis data hasil angket, skala kualitatif ditransfer kedalam

skala kuantitatif :

Tabel 3.10

Kategori Skala Penilaian Angket

Alternatif Jawaban Bobot Penilaian Pernyataan Positif Negatif

Sangat Tidak Setuju 1 5

Tidak Setuju 2 4

Setuju 4 2

Sangat Setuju 5 1

Kriteria penilaian sikap yang diperoleh dari angket ini adalah jika skor

pernyataan kelas lebih dari 3 maka siswa memberikan sikap yang positif.

Sebaliknya, jika skor pernyataan kelas kurang dari 3 maka siswa memberikan

sikap yang negatif (Suherman, 2003: 191).

b. Lembar Observasi

Data hasil observasi merupakan data pendukung dalam penelitian ini. Data

tersebut dianalisis dan dideskripsikan untuk melihat tahapan-tahapan

(30)

30

observasi dianalisis dengan menghitung penilaian yang diberikan observer

(31)

BAB V

PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis data dan temuan penelitian, dapat dikemukakan

beberapa kesimpulan dan saran yang terkait dengan penelitian ini.

A. Kesimpulan

Beberapa hal yang dapat kita simpulkan berdasarkan pengolahan dan hasil

analisis data adalah sebagai berikut.

1. Peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang

pembelajarannya menggunakan model pembelajaran model pembelajaran

Osborn lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan

model pembelajaran tradisional.

2. Siswa memberikan sikap positif terhadap pembelajaran matematika

dengan model pembelajaran Osborn

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, berikut ini saran-saran yang diharapkan dapat

bermanfaat untuk perbaikan pada penelitian-penelitian selanjutnya ataupun untuk

diterapkan pada pembelajaran di sekolah.

1. Model pembelajaran Osborn memerlukan waktu yang relatif lama

sehingga diperlukan perencanaan dan persiapan yang matang sebelum

diterapkan di kelas.

2. Sebelum penerapan model pembelajaran Osborn, sebaiknya

memperhatikan kemampuan siswa dalam beradaptasi terhadap sesuatu

yang baru dan kesiapan siswa dalam menyelesaikan masalah yang

diberikan.

3. Pengalaman mengajar sangat diperlukan dalam penerapan model

pembelajaran Osborn, terutama komunikasi guru dan siswa sehingga

(32)

DAFTAR PUSTAKA

Afifah, L. N. (2010). Model Pembelajaran Osborn untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung : tidak diterbitkan.

Alma, B. (2009). Guru Profesional (Menguasai Metode dan Terampil Mengajar). Bandung: Alfabeta.

Apriani, D. (2012). Pengaruh Penggunaan Pendekatan Keterampilan Metakognitif dalam Pembelajaran Matematika Terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif pada Siswa SMP. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung : tidak diterbitkan

Astuti, C. (2012). Pengembangan Model Bahan Ajar Strategi Pembelajaran Konflik Kognitif (Cognitive Conflict) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa SMP. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung : tidak diterbitkan.

Departemen Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud. (2011). Survey

Internasional PISA [Online]. Tersedia:

http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/survei-internasional-pisa

Departemen Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud. (2011). Survey

Internasional TIMSS [Online]. Tersedia:

http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/survei-internasional-timss

Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Permendiknas No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan.

Fakhrudin. (2010). Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Open-Ended. Tesis Magister pada SPS UPI Bandung : tidak diterbitkan

Farhan. (2012). Pengertian metode pembelajaran brainstorming [Online]. Tersedia :

(33)

eka+cipta+dan+inovasi+salam+perspektif+kreativiti&hl=id&sa=X&ei=e

KzfUb3VJI-urAfGwYBI&ved=0CC4Q6AEwAA#v=onepage&q=reka%20cipta%20d an%20inovasi%20salam%20perspektif%20kreativiti&f=false

Herdian. (2010). Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. [Online]. Tersedia : http://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/kemampuan-berfikir-kreatif-siswa/

Huda, C. (2011). Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan Masalah Matematika dengan Model Pembelajaran Treffinger pada Materi Pokok Keliling dan Luas Persegipanjang [Online].Tersedia:http://digilib.sunanampel.ac.id/gdl.php?mod=browse& op=read&id=jiptiain--chotmilhud-9908

Mahmudi, A. (2010). Mengukur Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis [Online].Tersedia:http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Ali% 20Mahmudi,%20S.Pd,%20M.Pd,%20Dr./Makalah%2014%20ALI%20U NY%20Yogya%20for%20KNM%20UNIMA%20_Mengukur%20Kema mpuan%20Berpikir%20Kreatif%20_.pdf.

Martiani, S. (2012). Pengaruh Implementasi Model Pembelajaran Generatif dengan Strategi PQ4R Terhadap Peningkatan Kemampuan Ekplorasi Matematika siswa SMP. Skripsi FPMIPA UPI Bandung : tidak diterbitkan.

Mulyana, T. (2005). Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Siswa SMA Jurusan IPA Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Induktif-Deduktif. Tesis Magister pada FPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Munandar, U. (2009). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta : Rineka Cipta.

Pusat Bahasa. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring [Online]. Tersedia: http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/

Pura, Y. (2013). Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematis [Online]. Tersedia: http://www.slideshare.net/Jayadipura/kemampuan-berpikir-kritis-kreatif-dan-pemecahan-masalah-16660752

(34)

48

Ruseffendi. (2006). Pengantar Kepada Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito Bandung.

Ruseffendi. (2010). Dasar-dasar Penelitian Pendidikan & Bidang Non-eksakta Lainnya. Bandung: Tarsito Bandung.

Siswono, T.Y. (2007). Desain Tugas untuk Mengidentifikasi Kenanpuan Berpikir Kreatis Siswa dalam Matematika [Online]. Tersedia: http://tatagyes.files.wordpress.com/2007/10/tatag_jurnal_unej.pdf

Siswono, T.Y. (2009). Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif. [Online]. Tersedia: http://suaraguru.wordpress.com/2009/02/23/meningkatkan-kemampuan-berpikir-kreatif-siswa/

Sudjana. (2005). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Suherman, E. (2003). Evaluasi Pembelajaran Matematika. Bandung: JICA-UPI.

Supriadi, D. (2001). Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan Iptek. Bandung

: Alfabeta

Suratmini, S. (2010). Peningkatan Kemampuan Komunikasi Melalui Latihan Bina Wicara Pada Anak Tuna Rungu Wicara Di Slb-B Yrtrw Surakarta Tahun

Ajaran 2008/2009 [Online]. Tersedia:

http://eprints.uns.ac.id/56/2/170202311201009512.pdf

Syukur, M. (2004). Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMU Melalui Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended. Tesis Magister pada FPS UPI Bandung: tidak diterbitkan

Uyanto, S S. (2009). Pedoman Analisis Data dengan SPSS. Yogyakarta : Graha Ilmu.

____. Ground Rules of Brainstorming [Online]. Tersedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Brainstorming

____. (2012). Konsep Metode Brainstorming [Online]. Tersedia:

Figur

Tabel 3.1 Pedoman Penskoran Tes
Tabel 3 1 Pedoman Penskoran Tes . View in document p.17
Tabel 3.2 Interpretasi Validitas Nilai
Tabel 3 2 Interpretasi Validitas Nilai . View in document p.19
Tabel 3.4 Interpretasi Derajat Reliabilitas
Tabel 3 4 Interpretasi Derajat Reliabilitas . View in document p.21
Tabel 3.5 Interpretasi Indeks Daya Pembeda
Tabel 3 5 Interpretasi Indeks Daya Pembeda . View in document p.22
Tabel 3.7 Interpretasi Indeks Kesukaran
Tabel 3 7 Interpretasi Indeks Kesukaran . View in document p.23
Tabel 3.9 Kriteria Indeks Gains
Tabel 3 9 Kriteria Indeks Gains . View in document p.28
Tabel 3.10 Kategori Skala Penilaian Angket
Tabel 3 10 Kategori Skala Penilaian Angket . View in document p.29

Referensi

Memperbarui...