FITOREMEDIASI LOGAM KROM PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN SISTEM SIRKULASI.

16  14  Download (1)

Teks penuh

(1)

Syifa Chairul Hidayah, 2015

FITOREMEDIASI LOGAM KROM PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN SISTEM SIRKULASI

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ABSTRAK

Penggunaan logam Cr pada penyamakan kulit berdampak kepada terganggunya lingkungan perairan. Salah satu metode pengolahan limbah yang efektif, murah dan ramah lingkungan untuk mengurangi konsentrasi Cr pada limbah cair penyamakan kulit adalah fitoremediasi. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas penurunan konsentrasi Cr pada limbah penyamakan kulit menggunakan fitoremediasi dengan sistem sirkulasi. Tahapan penelitian terdiri dari (1) seleksi tanaman fitoremediator, (2) uji efektivitas penyisihan logam Cr pada limbah cair penyamakan kulit menggunakan sistem genang dan (3) uji efektivitas dan retensi penyisihan logam Cr pada limbah menggunakan penggabungan tanaman pada fitoreaktor sistem sirkulasi. Dari penyeleksian 10 tanaman fitoremediator. Didapatkan 5 tanaman yang mampu bertahan dalam limbah cair penyamakan kulit yaitu Vetiveria zizaionides, Typha latifolia, Equisetum hyemale,

Cyperus haspan, dan Typhonodorum lindleyanum. Kelima tanaman yang bertahan setelah diuji efektivitas menunjukkan penyisihan Cr total menggunakan wadah ember selama 30 hari mampu menurunkan Cr total dengan efektivitas 85-99% dengan urutan Typha latifolia 99%, Typhonodorum lindyeyanum 99%, Cyperus haspan 98%, Equisetum hymale 97% dan terendah yaitu Vetiveria zizanioides 85%. Tahap akhir dengan penggabungan tanaman Equisetum hyemale, Cyperus haspan, dan Typhonoderum lindleyanum pada fitorekator sistem sirkulasi menunjukkan efektivitas penurunan lebih baik dengan retensi waktu 7 hari dapat menurunkan konsentrasi Cr dengan efektivitas 85%.

Kata kunci: Fitoremediasi, Kromium, Penyamakan Kulit, Sistem Sirkulasi

ABSTRACT

The impact Cr used in tannery was a disruption of aquatic environments. One method of waste treatment that was effective, inexpensive and environmentally friendly to reduce the concentration of Cr in tannery effluent is phytoremediation. The aim of research to determine the effectiveness of was decreased the concentration of Cr in tannery wastewater use phytoremediation with the circulatory system. The stage of the study was consisted of (1) the selection of plants phytoremediator, (2) test the effectiveness of the allowance for Cr in tannery wastewater using stagnant system and (3) test the effectiveness and retention allowance for Cr in waste used plant incorporation in fitoreaktor circulatory system. From the selection of 10 plants phytoremediator. Obtained 5 plants that can survive in the tannery effluent was Vetiveria zizaionides, Typha latifolia,

Equisetum hyemale, Cyperus haspan, and Typhonodorum lindleyanum. Fifth plants that survive after the preliminary test showed the effectiveness of Cr total used buckets for 30 days were able to lower the total Cr with 85-99% effectiveness with Typha latifolia order of 99%, Typhonodorum lindleyanum 99%, Cyperus haspan 98%, Equisetum hyemale

97% and the lowest namely Vetiveria zizaionides 85%. Final stage with the incorporation of plant Equisetum hyemale, Cyperus haspan, and Typhonoderum lindleyanum on fitorekatorcirculatory system showed better efficacy with a reduction in retention time of 7 days can lower the concentration of Cr with 85% effectiveness.

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kromium merupakan salah satu elemen esensial yang tersebar luas di alam

dan banyak dimanfaatkan dalam kehidupan manusia. Kromium menempati posisi

ke empat dari dua puluh sembilan elemen biologi yang penting dan berada pada

posisi ke tujuh belas elemen non-gas. Kromium banyak ditemukan dihampir

semua makhluk hidup baik pada manusia, hewan, dan tumbuhan, selain itu

kromium juga ditemukan di udara, air dan tanah (Committee on Biologic Effects

of Atmospheric Pollutants, 1974). Kromium berada pada golongan VIB pada tabel

periodik, memiliki bilangan oksidasi mulai dari divalent (Cr2+) sampai hexavalent

(Cr6+). Kecepatan oksidasi Cr2+ bersifat relatif tidak stabil dibandingkan dengan

Cr3+, hanya Cr3+ dan Cr6+ merupakan logam yang memiliki bilangan oksidasi

paling stabil yang ditemukan di alam (Zayed et al., 1998). Di alam kromium tidak

pernah ditemukan dalam bentuk logam tunggal tapi ditemukan dalam senyawa

kromium yang berikatan dengan oksigen dan besi yang dikenal sebagai kromit

(FeCr2O4) (Chandra dan Kulshreshtha, 2004). Logam kromium memiliki banyak

manfaat diantaranya dapat digunakan sebagai bahan pelapis (Plating) peralatan

rumah tangga dan pelapis mobil. Kromium dapat berikatan dengan logam lain

membentuk alloy yang memiliki banyak fungsi, misalnya kromium berikatan

dengan besi akan menghasilkan baja anti karat, kromium berikatan dengan

molibdinum dapat berfungsi sebagai alat pemotong. Logam kromium dapat

dibentuk menjadi senyawa khromat dan dikhromat yang sering digunakan oleh

bidang litigrafi, tekstil, penyamakan, pencelupan, fotografi, zat warna dan masih

banyak manfaat lainnya. (Palar, 2008).

Selain dampak positif dari kromium yang digunakan dalam kehidupan

manusia, kromium juga memiliki dampak negatif apabila kromium digunakan

secara berlebihan, kromium akan mengkibatkan keracunan akut. Dampak lain

yang ditimbulkan seperti kankeer paru-paru (Palar, 2008), gagal ginjal, anemia,

alergi kulit, asma dan kanker perut (Agenci for Toxic Substances and Diase

(3)

2

Syifa Chairul Hidayah, 2015

FITOREMEDIASI LOGAM KROM PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN SISTEM SIRKULASI

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kepada mutagenik dan kersinogenik (Kaszycki et al, 2005). Pada tanaman

konsentrasi kromium yang berlebihan mengakibatkan terganggunya proses

metabolisme tanaman, terjadinya gejala klorosis dan nekrosis (Panda dan

Choudhury, 2005). Kromium pada tanaman juga dapat menyebabkan

terganggunya proses fotosintesis, fiksasi CO2, transpor elektron, fotofosforilasi

dan aktivitas enzim (Shanker et al., 2005).

Penggunaan kromium yang berlebihan dalam kehidupan sehari-hari akan

menjadi bahan pencemar bagi lingkungan. Salah satu sumber pencemaran dari

logam kromium ialah dari limbah hasil produksi penyamakan kulit. Industri

penyamakan kulit banyak menggunakan kromium sebagai bahan penyamak

dengan alasan kromium memiliki kemampuan untuk membentuk kompleks yang

stabil dengan materi organik dan kelompok amino sehingga kulit hasil

penyamakan dengan kromium lebih berkualitas bagus (Chandra dan Kulshreshtha,

2004).

Menurut perkiraan, di India dalam satu tahun kromium sulfat yang

digunakan untuk penyamakan kulit sebanyak 32 ton dan sebanyak 2000-3200 ton

limbah kromium yang dikeluarkan ke lingkungan. Limbah penyamakan kulit

mengandung kromium sangat tinggi dengan kadar limbah cair yang mengandung

krom 1500 – 3000 ppm (Suresh et al, 2001 dalam Aravindhan, et al., 2004),

sedangkan limbah penyamakan kulit sebelum dibuang ke sungai diberi perlakuan

dengan teknik yang lebih maju menghasilkan limbah dengan konsentrasi krom

cair 500 – 1000 ppm (Friberg et al, 1980 dalam Aravindhan, et al., 2004). Di

Indonesia, pencemaran logam kromium terjadi di sentra industri penyamakan

kulit, diantaranya di Sukaregang Garut. Total limbah yang dihasilkan dari 330

usaha kecil di Sukaregang Garut menghasilkan limbah sebanyak 6000 m3 perhari

(Adiprima, 2011). Baku mutu limbah kromium total yang ditetapkan oleh

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 03 Th. 2010 mengenai baku

mutu air limbah bagi kawasan industri adalah 0,5 ppm. Menurut Barros et al.

(2002), pengendapan limbah efektif dilakukan pada pH 8 dengan konsentrasi

akhir kromium adalah 18 ppm, sedangkan menurut Sunaryo et al. (1994) efektif

pada pH 9, akan tetapi, proses tersebut masih menyisakan konsentrasi kromium di

(4)

Limbah yang dihasilkan dari produksi penyamakan kulit sangatlah

berbahaya apabila langsung dibuang ke lingkungan dalam keadaan konsentrasi

limbah diatas baku mutu air limbah industri yang dapat dibuang ke lingkungan.

Pengolahan limbah menggunakan metode fisika dan metode kimia sudah banyak

digunakan oleh industri penyamakan kulit, namun biaya pengolahan limbah

menggunakan metode fisika dan metode kimia memerlukan biaya yang mahal dan

kurang efektif. Salah satu metode pengolahan limbah yang lebih murah ialah

menggunakan pengolahan limbah secara biologi. Pengolahan limbah secara

biologi sendiri yang digunakan ialah pemanfaatan tumbuhan untuk menyerap

bahan pencemar seperti logam berat kromium. Fitoremediasi adalah proses untuk

menyerap, mengambil, mengubah dan melepaskan kontaminan dari satu medium

ke medium lainnya (Mangkoediharjo dan Samudro, 2010). Masing-masing

tanaman memiliki kemampuan yang berbeda dalam proses penyerapan limbah

tersebut, unuk itu perlu dilakukan seleksi tanaman agar dapat mengetahui tanaman

mana yang dapat bertahan dalam limbah penyamakan kulit. Pada penelitian ini

tanaman yang akan digunakan ialah Typha latifolia, Equisetum hyemale, Cyperus

haspan, Typhonodorum lindleyanum, Zanthedeschia aethiopica, Echinodorus

palefolius, Nymphaea sp. Vetiveria zizaionides, Spirodela polirrhiza, dan

Eichornia crasipes.

Dari penelitian sebelumnya, Vetiveria zizanioides sangat baik untuk

meremediasi kromium, bahkan di Thailand sudah banyak dibudidayakan.

Tanaman ini dapat menyerap kromium dengan disimpan pada akar (Troung,

2000). Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Janngam et al. (2010)

menjelaskan bahwa Vetiveria zizanioides dapat tumbuh 100% dengan baik pada

tanah yang tercemar kromium. Spirodela polyrrhiza memiliki kemampuan

penyerapan logam berat kromium lebih tinggi dibandingkan gulma air lainnya,

begitu juga mampu menyimpan banyak dalam akar (Sugiyanto dan Nurhidayat,

1991). Eichornia crasipes pada penelitian yang dilakukan oleh Puspita et all,

(2011) mampu menurunkan kandungan kromium sebanyak 49,56%. Sementara

Echinodorus palefolius menurut penelitian yang dilakukan Malik, (2014) mampu

menyerap logam kromium sebanyak 9,64 gr dibandingkan Zanthedeschia

(5)

4

Syifa Chairul Hidayah, 2015

FITOREMEDIASI LOGAM KROM PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN SISTEM SIRKULASI

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pada limbah leachate sampah (Anam et al, 2013). Typha latifolia memiliki

kapasitas tinggi untuk mengambil logam berat ke dalam tubuhnya (Mc Naughton,

(1974 dalam Sasmaz et al, 2008). Nymphaea sp. dapat mengurangi kandungan

kromium dari limbah cair elektroplating sebanyak 2,119 mg dari 10 mg dengan

penyimpanan terbanyak di akar kemudian daun dan tangkai (Choo et al, 2006).

Cyperus haspan digunakan dalam penelitian penurunan air limbah lindi

menggunakan media subsurface constructed wetland sangat efektif dalam

menurunkan kandungan logam dengan prosentasi 29-89,4%. Hal itu menguatkan

bahwa Cyperus haspan memiliki kemampuan penyisihan logam tinggi (Akinbile

et al, 2012). Typhonodorum lindleyanum merupakan salah satu tanaman hias yang

berpotensi sebagai agen fitoremediasi di taman buangan air limbah di Bali yang

belum banyak diungkap manfaatnya (Irawanto, 2010).

Penggunaan tanaman dalam meremediasi limbah masih memiliki

kekurangan terhadap waktu yang diperlukan oleh tanaman untuk menurunkan

tingkat toksisitas limbah tersebut. Pada tahun 2013 telah dilakukan penelitian

mengenai potensi tanaman Pontenderia lanceolata, Echinodorus palefolius dan

Zanthedeschia aethopica sebagai agen fitoremediator logam krom. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa ketiga tanaman tersebut berpotensi sebagai agen

fitoremediasi dan masing-masing tanaman dapat menurunkan 99% kandungan

logam krom pada limbah penyamakan kulit dalam periode 60 hari. Sebagai tindak

lanjut dari penelitian tersebut kemudian dilakukan penelitian untuk

membandingkan pengaruh faktor sirkulasi terhadap efesiensi penyerapan logam.

Hasil kajian menunjukkan bahwa dengan sistem air tergenang (wetland

contruction) efesiensi penyisihan logam krom sebesar 99% untuk periode retensi

60, sedangkan menggunakan sirkulasi sistem penyisihan 73% dapat dicapai dalam

periode 27 hari (Surakusumah et al, 2013)

Berdasarkan permasalahan diatas, maka diperlukan solusi yang lebih murah

dan efektif dalam meremediasi limbah, salah satunya dengan melakukan

modifikasi terhadap metode fitoremediasi yang bertujuan menurunkan waktu

retensi dan meningkatkan efektivitas. Salah satu rekayasa yang dapat dilakukan

adalah dengan mengabungkan beberapa tanaman dalam satu reaktor dan

(6)

menurunkan waktu retensi. Diharapkan dengan proses rekayasa pada pengolahan

limbah cair industri penyamakan kulit tersebut penyisihan logam krom lebih

efektif dengan waktu yang lebih singkat dan air hasil pengolahan dapat dibuang

kelingkungan dengan konsentrasi air limbah sudah berada di bawah baku mutu air

limbah industri.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah pada

penelitian yang dilakukan adalah “bagaimanakah efektivitas penyisihan

konsentrasi kromium pada limbah cair penyamakan kulit sukaregang Garut

menggunakan fitoremediasi dengan sistem sirkulasi?”

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut dikemukakan beberapa pertanyaan

penelitian sebagai berikut :

1. Tanaman manakah yang dapat bertahan hidup pada limbah penyamakan

kulit berdasarkan fisiologi tanaman (persentase kematian tanaman akibat

klorosis dan nekrosis)?

2. Bagaimana efektivitas remediasi limbah penyamakan kulit menggunakan

persatu tanaman yang mampu bertahan hidup dalam limbah penyamakan

kulit terhadap penurunan pH, salinitas, turbiditas, BOD dan krom total

limbah dengan menggunakan sistem genang?

3. Bagaimana efektivitas dan retensi waktu fitoremediasi limbah penyamakan

kulit menggunakan kombinasi tanaman terhadap penurunan kadar BOD,

krom total, krom 6+, salinitas dan turbiditas menggunakan sistem sirkulasi?

D. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi agar tidak meluas dalam pelaksanaannya dan

diuraikan sebagai berikut :

1. Sampel tanaman dan tanah yang digunakan berasal dari

(7)

6

Syifa Chairul Hidayah, 2015

FITOREMEDIASI LOGAM KROM PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN SISTEM SIRKULASI

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Tanaman yang digunakan untuk diseleksi adalah Typha latifolia,

Equisetum hyemale, Cyperus haspan, Typhonodorum lindleyanum,

Zanthedeschia aethiopica, Echinodorus palefolius, Nymphaea sp.

Vetiveria zizaionides, Spirodela polirrhiza, dan Eichornia crasipes..

3. Efektivitas adalah persentase penurunan atau peningkatan parameter

penelitian agar dapat dibuang kelingkungan setelah memenuhi standar

baku mutu air limbah.

4. Retensi adalah waktu yang diperlukan oleh tanaman untuk dapat

meremediasi air limbah penyamakan kulit hingga dapat mencapai standar

baku mutu air limbah industri yang dapat dibuang ke lingkungan.

5. Akumulasi adalah peristiwa penumpukan logam-logam berat dan senyawa

kimia beracun lainnya pada tubuh tanaman.

6. Penyisihan krom adalah penurunan kadar krom pada air limbah

penyamakan kulit setelah mengalami proses remediasi dalam fitoreaktor

sistem alir.

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah

untuk mengetahui efektivitas penurunan kadar kromium limbah penyamakan kulit

Sukaregang Garut menggunakan fitoremediasi dengan sistem sirkulasi.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut :

1. Untuk memberikan alternatif metode pengolahan limbah penyamakan

kulit yang lebih efektif dan murah.

2. Untuk memberikan alternatif metode pengolahan limbah penyamakan

kulit yang ramah lingkungan serta dapat digunakan oleh industri kecil

(8)

G. Asumsi

Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Menurut Alvares et al (2008) Typha latifolia dapat menyerap beberapa

logam berat diantaranya Cr dalam konsentrasi logam berat yang tinggi dan

lebih banyak disimpan didalam akar

2. Cyperaceae berpotensial sebagai Phytoextraktor dan penstabilan kembali

lahan tercemar (Schachtschneider et al, 2010)

3. Cyperaceae, Poaceae berpotensial sebagai tanaman hiperakumulator

(Juhaeti et al., 2004)

4. Kombinasi tanaman menggunakan sistem sirkulasi menurunkan

kandungan limbah pencemar dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan

(9)

Syifa Chairul Hidayah, 2015

FITOREMEDIASI LOGAM KROM PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN SISTEM SIRKULASI

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penelitian mengenai fitoremediasi logam krom pada limbah cair

penyamakan kulit dengan sistem sirkulasi didapatkan lima tanaman yang mampu

bertahan pada limbah cair penyamakan kulit. Tanaman yang mampu bertahan

memiliki nilai persentase kematian terendah yaitu Equisetum hyemale, Cyperus

haspan, Typhonodorum lindleyanum, Vetiveria zizaionides dan Typha latifolia.

Uji efektivitas penyisihan logam limbah cair penyamakan kulit menggunakan

sistem genang didapatkan dua mekanisme remediasi limbah penyamakan kulit

yaitu mekanisme fitoekstraksi pada tanaman Equisetum hyemale, Cyperus haspan,

Typhonodorum lindleyanum, Vetiveria zizaionides dan mekanisme rhizofiltrasi

pada tanaman Typha latifolia. Kedua mekanisme tersebut dapat menurunkan Cr

total dan parameter uji lainnya hingga memenuhi standar baku mutu dalam waktu

30 hari. Uji efektivitas dan retensi penyisihan logam menggunakan penggabungan

tanaman pada fitoreaktor sistem sirkulasi menggunakan Equisetum hyemale,

Cyperus haspan dan Typhonoderum lindleyanum dapat menurunkan Cr total dan

parameter uji lainnya hingga memenuhi standar baku mutu dalam waktu 7 hari.

Penggunaan fitoreaktor dengan sistem sirkulasi dapat meningkatkan efektivitas

penyerapan Cr total dibandingkan menggunakan persatu tanaman pada sistem

genang dan dapat mengurangi retensi waktu yang dibutuhkan tanaman untuk

menurunkan logam Cr total limbah cair penyamakan kulit.

B. Saran

Penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan perubahan pada

penyusunan kombinasi tanaman pada fitoreaktor sistem sirkulasi untuk

mengetahui kemampuan remediasi limbah dan retensi waktu dari setiap

kombinasi yang dicobakan agar dapat mengetahui kombinasi yang paling efektif

untuk meremediasi limbah cair penyamakan kulit menggunakan sistem genang.

Disarankan juga pada penelitian selanjutnya untuk menyeleksi kembali tanaman

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Adiprima, K.P. (2011). Pengaruh Industri Kecil Terhadap Baku Mutu Lingkungan Hidup (Studi Kasus: Industri Penyamakan Kulit, Desa Sukaregang Garut). ITB. 1-2.

Agrihunt. (2013). Package of Practices for Cultivation of Vetiver. [online]. Tersedia: http://agrihunt.com/pak-agri-outlook/2524-package-of-practices-for-cultivation-of-vetiver.html (diakses : 17 Januari 2015)

Akinbile, C.O., Yusoff, M.S. dan Zuki, A.Z.A. (2012). Landfill Leachate Treatmen Using Sub-Surface Flow Constructed Wetland by Cyperus haspan. Waste Menegemen. 32: 1387-1393

Alvares, C.C., Castro, A.J.A., Torre, M.C.A. dan Cruz, R.F.G. (2008). Accumulation and Distribution of Heavy Metals in Scirpus americanus and Typha latifolia from an Artificial Lagoon in San Luis Potosí, México. Water Air Soil Pollut. 188: 297-309

Anam, M. M, Kurniati, E. dan Suharto, B. (2013). Penurunan Kandungan Logam Pb dan Cr Leachate Melalui Fitoremediasi Bambu air (Equisetum hyemale) dan Zeolit. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem. 2 (1): 43-59.

Anderson, C.W.N., Brooks, R.R., Chiaricci, A., LaCosta, C.L., LeBlance, M., Robinson,. B.H., Simcock, R., and Stewart, R.B. (1999). Phytomining for nickel , thallium, gold. Journal Geochemical Exploration. 67; 407 – 415.

Aravindhan, R. B, Madhan., J. R. Rao, B. U. Nair, dan T. Ramasami. (2004). Bioaccumulation of chromium from tannery wastewater: anapproach for chrome recovery and reuse. Environment Scince Technology. 38: 300-306

Anonim. (2010) Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 03 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kawasan Industri

Anonim. (2004) SNI No. 06-6989.17.2004. Tentang air dan air limbah: Cara uji krom total (Cr-T) dengan metode spektrofotometri serapan atom (SSA)-nyala. Serpong: BSN

(11)

76

Syifa Chairul Hidayah, 2015

FITOREMEDIASI LOGAM KROM PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN SISTEM SIRKULASI

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Anonim. (1991) SNI. No. 06-2503-1991. Tentang air dan air limbah: Cara uji kebutuhan oksigen biokimia (BOD). Serpong: BSN

Barros MASD, Arroyo PA, Sousa AEF, Tavares CRG, dan Zola AS. (2002). Equilibrium and Dinamics Ion Exchange Studies of Cr3+ on Zeolites NaA and NaX. Maringa. 24:1619-1625.

Chandra, K. dan Kulshreshtha, K. (2004). Chromium Acumulation and Toxicity in Aquatik Vascular Plants. The botanical review. 70, (3): 313-327

Choo, T.P., Lee, C.K., Low, K.S., dan Hishamuddin, O. (2006). Accumulation of Chromium (IV) from Aques Solutions Using Water Lilies (Nymphaea spontanea). Chemosphere. 62(6): 961-967.

Choudhuri, G.N. (1968). Effect of Soil Salinity on Germination and Survival of Some Steppe Plants in Washington. Ecology. 49(3): 465-471

Committee on Biologic Effects of Atmospheric Pollutants. (1974). Chromium. Wasington D.C. : National Academi of Science. 5-25

Conqruist, A. (1981). An Integrated System Of Classification Of Flowerung Plants. New York: Columbia University Press.

Don, W.S., Threes, E., dan Cherry, H. (2000). Tanaman Air. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta : Kanisius. 50-120

Eliopoulus, M.E., Antivachi, D., Vasilatos, C., dan Megremi, I. (2012). Evaluation of the Cr (VI) and other toxic element contamination and their potential sources: The case of the Thiva basin (Greece). Geoscience Frontiers. 3(4): 523-539.

Gardea-Torresdey, J. L., de la Rosa, G., dan Peralta-Videa, J. R. (2004). Use of phytofiltration technologies in the removal of heavy metals: A review. Pure and Applied Chemistry. 76(4): 801–813.

(12)

Gomez, A.A, dan Gomez, K.A. (1995). Prosedur Statistik untuk Penelitian Pertanian (Edisi kedua). Terjemahan Endang Sjamsuddin dan Justika S. Baharsjah. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press)

Handayanto dan Hairiah, K. (2007). Biologi Tanah. Yogyakarta : Pustaka Adipura

Irawanto, R. (2010). Fitoremediasi Lingkungan Dalam Taman Bali. Local Wisdom-Jurnal Ilmiah Online ISSN: 2086-3764. 2, (4): 29-35.

Jabeen, R., Ahmad, A., dan Iqbal, M. (2009). Phytoremediation of Heavy Metals: Physilogical and Molecular Mechanisms. Botanical Review. 75: 339-369

Jackson, W.P.U. (1986). The Cape White Arum Lily. Zantedeschia aethiopica in Veld& Flora 72:44-45

Janngam, J., Anurakpongsatorn, P., Satapanajaru, T., dan Techapinyawat, S. (2010). Phytoremediation : Vetiver Grass in Remediation of Soil Contaminated with Trichloroethylene. Science Journal Ubu. 2, (1): 52-57

Javed, M. T. (2011). Mechanism Behind pH Changes b Plants Roots and Shoot Caused by Elevated Concentration of Toxic Elements. ISBN 978-91-7447-413-8, Universitetsservice, Stockhlom. 1-40

Judoamidjojo, R.M. (1980). Teknik Penyamakan Kulit untuk Pedesaan. Bandung: Angkasa. 6-153

Juhaiti, T. Syarif, F. dan Hidayati, N. (2005). Inventarisasi Tumbuhan Potensial Untuk Fitoremediasi Lahan dan Air Terdegradasi Penambangan Emas.

Biodiversitas. 6(1): 31-33

Kaszycki, P., Gabrys, H., Appenroth, K.J., Jaglarz, A., Sedziwy, S., Walczak, T., dan Koloczek, H. (2005). Exogenously applied sulphate as a tool to investigate transport and reduction of chromate in the duckweed Spirodela polyrhiza. Plant, Cell and Environment. 28, 260-268.

Kurniadie, D. (2011). Teknologi Pengolahan Limbah Cair Secara Biologis.

Bandung: Widya Padjajaran. 30-46

Lehtonen, S. (2008). An Integrative Approach To Species Delimitation In Echinodorus (Alismataceae) and The Description of Two New Species. -

(13)

78

Syifa Chairul Hidayah, 2015

FITOREMEDIASI LOGAM KROM PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN SISTEM SIRKULASI

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Malik, R.A. (2014). Potensi Tanaman Pontederia lanceolata, Echinodorus palefolius, Zanthedeschia aethiopica sebagai Agen Fitoremediasi Limbah Cair Industri Tekstil. Skripsi Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UPI Bandung: tidak diterbitkan. 29-42

Mangkoedihardjo, S., dan Samudro, G. (2010). Fitoteknologi Terapan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Moenir, M. (2010). Kajian Fitoremediasi Sebagai Alternatif Pemulihan Tanah Tercemar Logam Berat. Jurnal Riset Teknologi Pencegahan dan Pencemaran Industri. 1(2): 115-123

Nazir,M. (2014). Metode Penelitian. Cetakan kesembilan. Bogor: Ghalia Indonesia. 51-55.

Nyquist, J. dan Greger M. (2009). Response two wetland species to Cd exsposure at low and high pH. Environment Exp Botanical. 65:417-424

Pacific Island Ecosystems at Risk. (2013). Cyperus haspan. [online]. Tersedia: http://www.hear.org/pier/species/cyperus_haspan.htm (diakses : 17 Januari 2015)

Padmavathiamma, P.K. dan Li, L.Y. (2007). Phytoremediation Technology: Hyper-accumulation Metal in Plants. Water Air Soil Pollution. 184: 105-126

Palar, H. (2008). Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rineka Cipta. 133-144

Panda, S.K. dan Choudhury, S. (2005). Chromium Stress in Plant. Brazil Journal Plant Physiologi. 17, (1): 95-102.

Peer, W.A., Baxter, I.R., Richard, E.L., Freeman, J.L., dan Murphy, A.S. (2005).

Phytoremediation and Hyperaccumulator Plants. 1-29

Plant For A Future. (2011). Eichhornia crassipes. [online]. Tersedia: http://www.pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Eichhornia+crassipes (diakses : 17 Januari 2015)

Purwati, S. dan Surachman, A. (2007). Potensi dan Pengaruh Tanaman Pada Pengolahan Air Limbah Pulp dan Kertas Dengan Sistem Lahan Basah.

(14)

Puspita, U.R., Siregar, A.S., dan Hidayati, N.F. (2011). Kemampuan Tumbuhan Air Sebagai Agen Fitoremediator Logam Berat Kromium (Cr) Yang Terdapat Pada Limbah Cair Industri Batik. Berkala perikanan terumbuk ISSN 0126-4265. 39 (1): 58-64

Risdianto, D. (2007). Optimisasi Proses Koagulasi Flokulasi untuk Pengolahan Air Limbah Industri Jamu (Studi kasus PT Sidomuncul). Tesis. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang. 66-88

Salisbury, F.B dan Ross, C.W. (1995). Fisiologi Tumbuhan (jilid 1 edisi keempat) Diterjemahkan oleh: Diah R. Lukman dan Sumaryono, Bandung: ITB. 139-169

Salt, D. E., Smith, R. D., dan Raskin, I. (1998). Phytoremediation. Annual Review of Plant Physiology and Plant Molecular Biology. 49: 643–668.

Sasmaz, A., Obek, E., dan Hasar, H. (2008). The Acumulation of Heavy Metal in Typa latifolia L. grown in a stream carrying secondary effluent.

Ecological Engineering The Jurnal of Ecosystem Restoration. 33: 278-284.

Schachtschneider, K., Muasya, M. dan Somerset, V. (2010). Indigenous wetland plants sre promosing candidates to extract and accumulate heavy metal along freshwater ecosystems. Natural Resources and the Environment Water, Healt and the Environment.1-46

Shah, K. dan Nongkynrih, J. M. (2007). Metal Hyperaccumulator and Bioremediation. Biologi Plantarum. 51(4): 618-634

Shanker, A. K., Djanaguiraman, M., Sudhagar, R., Chandrashekar, C N., dan Pathmanabhan, G. (2004). Differential Antioxidative Response of Ascorbat Glutathione Pathway Enzymes and Metabolites to Chromium Speciation Stress in Green Gram (Vigna radiate L.) R. Wilczek cv CO4

Roots. Plant Science. 166 : 1035-1043

Shanker, A. K., Cervantes C., Lova-Tavera H., Avudainayagam S. (2005).

Chromium Toxicity in Plants. Environment Science. 31: 739-753

(15)

80

Syifa Chairul Hidayah, 2015

FITOREMEDIASI LOGAM KROM PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN SISTEM SIRKULASI

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Sugiyanto, T., Darussalam, M., dan Nurhidayat, N. (1991). Pemanfaatan Gulma Air Untuk Menanggulangi Pencemaran Limbah Aktif Cr-51.

Proceedings Seminar Reaktor Nuklir dalam Penelitian Sains dan Teknologi Menuju Era Tinggal Landas. 291-294

Suhendrayatna. (2001). Heavy Metal Bioremoval by Microorganism, Bioteknologi untuk Indonesia Abad 21. PPI Tokyo Institute of Technologi. 1-9

Sunaryo, Karyadi, D., Sulietyah, W., dan Hasyimi, S. (1994). Kemungkinan Penerapan Cleaner Production di IndustriPenyamakan Kulit. Prosiding Workshop Industri penyamakan Kulit. Yogyakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Barang Kulit Karet dan Plastik.

Surakusumah.W, Tina, S., dan Hertien, S. (2012). Model Pengelolaan Grey Water dengan Metode Fitoremediasi menggunakan Fitoreaktor Circulation System. Laporan Penelitian PHKI.

Suresh, B., dan Ravishankar, G. A. (2004). Phytoremediation – Anovel and promising approach for environmental clean-up. Critical Reviews in Biotechnology. 24: 97–124.

Tan, R. (2001). Nymphaea sp. [online]. Tersedia: http://www.naturia.per.sg/buloh/plants/water_lily.htm (diakses : 17 Januari 2015)

Tordoff, G. M., Baker, A. J. M., dan Willis, A. J. (2000). Current approaches to the revegetation and reclamation of metal liferous mine wastes. Chemosphere. 41(1–2): 219–228.

Truong, P. (2000). Application of the Vetiver System for Phytoremediation of Mercury Pollution in the Lake and Yolo Counties, Northern California. 10-19

UWGB. (2000). Spirodela polyrhiza. [online]. Tersedia: https://www.uwgb.edu/biodiversity/herbarium/wetland_plants/spipol01. htm (diakses : 17 Januari 2015)

Vidaryathi, A K., Dutt, Dharm., Upadhyaya, J S. (2011). Reduction of pollutans in paper mill effluent by aquatic plants. Cellulose Chemical Technology. 45(3-4) : 291-296

(16)

Yang, X., Feng, Y., Zhenli, H., Stoffella, P.L. (2005). Moleculer mechanism of heavy metal hyperaccumulation and phytoremediaton. Journal of Trace Elemants in Medicine and Biology (18) 4 339-353.

Youngman, L. (1999). Physiological respon Of Switchgrass (Panicum Virgatum L) to Organic And Inorganic Amened Heavy-Metal Contaminated Chat Tailings. Phytoremediation of Soil and Water Contaminants, American Chemical society Symposium. Washington, D.C.

Zayed, A., Gowthaman, S., dan Terry, N. (1998) Phytoaccumulation of Trace Elements by Wetland Plants, I. Duckweed. Journal Environment. 27: 715-721.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di