1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Lanjut usia sering digolongkan sebagai usia yang tidak produktif, bahkan menjadi beban bagi yang berusia produktif. Hal ini terjadi karena adanya penurunan daya tahan fisik, psikis, sosial dan spiritual membuat kaum lansia terbatas dan lemah dalam segala hal.
Perubahan kondisi kesehatan sering menjadi masalah, karena para lansia tak bisa menikmati masa tuanya dengan bahagia. Pada usia lanjut, penyakit biasanya bersifat multiorgan, degeneratif, saling terkait, hingga kronis dan cenderung mengalami kecacatan hingga kematian.1 Pentingnya pencegahan penyakit pada lansia dapat dilakukan dengan mengunjungi pelayanan kesehatan seperti puskesmas, posyandu, klinik kesehatan atau rumah sakit terdekat. Adanya dukungan dan cinta kasih dari keluarga merupakan kontribusi berharga bagi kehidupan lansia tetap prima dan bahagia.
Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud Lanjut Usia (Lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Saat ini, Indonesia sedang mengalami peningkatan usia harapan hidup (UHP) diikuti dengan peningkatan penduduk lanjut usia. Tercatat 18 juta jiwa (7,56 % pada 2010, menjadi 25,9 juta jiwa (9,7 % pada 2019, dan diperkirakan akan terus meningkat dimana tahun 2035 menjadi 48,2 juta jiwa (15,77%).2 Berdasarkan data tersebut, meningkatnya jumlah lansia tidak lepas dari masalah kesehatan. Salah satu solusi yang dapat dilakukan oleh petugas kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia, yakni dengan memberikan pelayanan kesehatan berkualitas dan mudah dijangkau.
Kemajuan di bidang teknologi tidak hanya berkostribusi pada sektor ekonomi, pembangunan, sosial dan budaya, tetapi juga merambat sampai di bidang kesehatan. Saat manusia menghadapi pandemi virus corona yang mengharuskan setiap orang menjaga jarak, penggunaaan teknologi yang tepat menjadi solusinya. Dilansir dari webinar “The International Seminar on Health Technology and Informatics” dengan tema “The Role of Healthcare Technology on the Pandemic COVID-19”, memberikan pemahaman manfaat
1 Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, Situasi dan Analisis Lanjut Usia tahun 2014, diakses pada 4 January 2022.
2 Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI 2019, diakses pada 4 January 2022, dari https://bit.ly/3sVTorI
2
penggunaan teknologi pada layanan kesehatan yang memasuki masa post-pandemi era yakni3:
Implementasi dalam aspek administrasi yang meminimalisir miskomunikasi antar pekerja medis terkait riwayat kesehatan pasien; menjangkau lebih banyak pasien melalui teknologi telemedicine atau aplikasi konsultasi online dengan dokter spesialis yang diintegrasikan dengan teknologi blockchain, tanpa harus melakukan kontak fisik; dan meminimalisir biaya operasional.
Dengan demikian, kemajuan teknologi memberikan kontribusi yang positif dalam bidang kesehatan yang mampu menjangkau semua kalangan dengan mudah. Kendati demikian, gagap teknologi, kurangnya pengetahuan, serta minimnya sarana dan prasarana dapat menjadi masalah penghambat layanan kesehatan diberikan kepada masyarakat.
Menurut Hendrik L.Blum, terdapat beberapa faktor penyebab rendahnya tingkat kesehatan di masyarakat yakni: faktor lingkungan yang mana kualitas sanitasi lingkungan tempat manusia berada. Kualitas sanitasi lingkungan yang buruk seperti ketersediaan air bersih, udara yang bebas polusi sangat mempengaruhi tingkat kesehatan. Faktor sosial ekonomi berkaitan dengan kondisi perekonomian masyarakat. Semakin miskin individu/masyarakat maka akses untuk mendapatkan derajat kesehatan yang baik maka akan semakin sulit. Faktor gaya hidup yang tidak sehat. Pelayanan kesehatan yang tidak merata di banyak tempat di Indonesia. Faktor rendahnya tingkat pendidikan di masyarakat menyebabkan kurangnya pengetahuan untuk menjaga kesehatannya sendiri, serta faktor keturunan melalui genetik yang dibawa sejak lahir.4
Sebagai buah pekerjaan penyelamatan Allah, gereja dipanggil menjadi rekan sekerja dalam rangka penyelamatan-Nya terhadap manusia dan dunia. Gereja menghadirkan keselamatan, keselamatan yang mewujud pada kaum lansia adalah menghadirkan layanan kesehatan yang menjangkau seluruh aspek holistik dalam hidupnya. Visi gereja adalah Kerajaan Allah atau Keselamatan Sempurna di dalam Kerajaan Allah. Sedangkan, misi gereja adalah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah baik bagi diri gereja itu sendiri, maupun
3 Doctor of Computer Science, BINUS Graduate Program-BINUS University bersama Deakin University Australia, IEEE Computer Society Indonesia Chapter, dan Research Interest Group Intelligent System mengadakan webinar “The International Seminar on Health Technology and Informatics” dengan tema
“The Role of Healthcare Technology on the Pandemic COVID-19 pada 23 Juli 2020, diakses pada 04 Januari 2022, dari https://bit.ly/30wX4QD
4 Fatma Nasrudin dan Wardiah, “Kejadian Diare pada Wanita berdasarkan teori Hendrik L.Blum di kota Makassar”, Jurnal Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar, Vol: Xv, No.1 (Juni 2020): diakses
pada 4 Januari 2022, dari http://journal.poltekkes-
mks.ac.id/ojs2/index.php/mediakesehatan/article/view/1060/998
3
diluar dan bagi lingkungan sekitarnya.5 Tujuan penyelamatan Allah secara konsisten juga merupakan tujuan gereja untuk mengembalikan manusia ke dalam martabatnya sebagai (imago Dei). Dengan demikian, manusia dapat menjalin hubungan yang benar dengan Allah, sesama dan dengan lingkungannya.6
Keberadaan gereja berfungsi memuliakan Allah melalui partisipasi aktif dalam mewujudkan tujuan penyelamatan Allah bagi manusia dan dunia.7 Adapun visi, misi dan tujuan gereja tertuang dalam “tri tugas gereja”, yakni: bersekutu (koinonia), bersaksi (marturia), dan melayani (diakonia), yang akan tercermin melalui pola pelayanan gereja yang berorientasi pada visi/tujuan gereja.
Sebagai rekan sekerja Allah, gereja melayani jemaat Tuhan dengan memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya. Dalam mengatasi masalah kesehatan, gereja turut mengambil bagian mendirikan posko pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat. Pelayanan dan usaha yang dilakukan oleh gereja dalam bidang kesehatan adalah untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan masyarakat dan warga jemaat. Hadirnya posko pelayanan kesehatan gratis di gereja, meringankan beban biaya yang harus dikeluarkan ketika berobat di rumah sakit. Meskipun sebatas posko pelayanan, tetapi gereja memberikan layanan tenaga profesional dari dokter, perawat dan apoteker. Sampai disini, gereja menyadari bahwa kehadirannya menjadi bukti kepedulian terhadap masalah kemanusiaan, dan tidak hanya berkutat pada ritual peribadatan saja.
Bidang kesehatan merupakan salah satu bidang dimana gereja dapat mewujudkan peran diakonianya. Pelayanan medis merupakan tugas yang dapat dilaksanakan bersamaan dengan kedua tugas gereja lainnya yakni persekutuan dan kesaksian8. Sejarah gereja mencatat, bahwa pelayanan kesehatan merupakan akta pengabdian gereja bagi keberadaan jemaatnya. Para zending yang masuk ke Indonesia melihat bahwa persoalan kesehatan merupakan hal yang utama, sehingga salah satu misinya adalah bagaimana menyampaikan karya penyelamatan Allah dalam Yesus yang bersifat komprehensif menyangkut totalitas
5 Andreas Untung Wiyana & Sukardi, Manajemen Gereja: Dasar Teoritis dan Implikasi Praktisnya, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), 25.
6 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 33.
7 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 34.
8 Soetarman, Mulai dari Musa dan Segala Nabi; Makna Misi Gereja dalam Bidang Kesehatan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 38-39.
4
kehidupan alam dan manusia secara utuh jasmani dan rohani melalui pendirian rumah sakit serta klinik-klinik kesehatan.9
Sebagai wujud karya penyelamatan Allah di dalam dunia, layanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dan benar. Gereja harus memberdayakan sumber daya dan potensi yang dimilikinya. Salah satu sumber daya terbesar yang dimiliki gereja adalah warga gereja.
Pengelolaan sumber daya gereja yang benar, akan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo merupakan pemekaran dari gereja induk yakni Jemaat Pniel Palopo pada 06 November 1989 dengan pendeta J.B. Palimbunga, S.Th sebagai pendeta pertama.10 Visi Gereja adalah terwujudnya Gereja Toraja yang memuliakan Tuhan, memberitakan kebaikan-Nya, menjadi berkat bagi manusia dan dunia.11 Sedangkan misi gereja adalah bersaksi, bersekutu dan melayani yang terwujud dari berbagai program kegiatan pelayanan yang membawa damai sejahterah.12 Dengan 186 anggota kepala keluarga (KK), dan anggota jemaat berjumlah 868 orang,13 menjadi peluang terciptanya pelayanan yang baik.
Berdasar pada visi dan misi gereja, dibentuklah satu program pelayanan Klinik Kesehatan Gratis yang berfokus pada Lansia. Gereja memberdayakan jemaatnya yang mempunyai potensi dalam bidang kesehatan untuk dapat melakukan pelayanan.
Secara administratif warga jemaat merupakan orang-orang yang nama dan identitasnya telah dicatat dalam buku induk sebagai anggota gereja.14 Menurut Sugiyanto, warga gereja merupakan sumber daya yang berbeda dengan sumber daya lainnya. Warga gereja ialah subjek, oleh dorongan imannya dapat merancang serta mengevaluasi pelaksanaan serta hasilnya demi tujuan yang dikehendaki.15 Abineno mengatakan, warga gereja ialah sumber daya gereja utama, karena mereka sebagai pelaku pekerjaan pelayanan yang mempengaruhi mutu institusi gereja.16 Sebagai sumber daya utama maka, haruslah diatur sedemikian rupa agar terkoordinasi dengan baik dan mendukung pencapaian strategis organisasi.
9 Soetarman, Mulai dari Musa dan Segala Nabi, 37.
10 Sekilas Sejarah Berdirinya Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo, (Palopo, 1996), 4.
11 Buku Tata Gereja Toraja, 2.
12 Buku Tata Gereja Toraja, 3.
13 Sekilas Sejarah Berdirinya Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo, 9.
14 Andreas Untung Wiyana & Sukardi, Manajemen Gereja: Dasar Teoritis dan Implikasi Praktisnya, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), 70.
15 Sugiyanto Wiryoputro, Dasar-dasar Manajemen Kristiani, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 2-5.
16 J.L.Ch. Abineno, Jemaat: Ujud, Peraturan, Susunan, Pelayanan dan Pelayan pelayannya, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1983), 132-135.
5
Secara etimologi, istilah manajemen berasal dari bahasa Inggris “management” dari kata kerja “to manage” yang berarti “to control”. KBBI mengartikan dengan mengurus, mengatur, melaksanakan, dan mengelola sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.17 Secara epistemologi manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengendalian kegiatan penggunaan sumber daya manusia dan benda dalam suatu organisasi agar tercapai tujuan organisasi yang efektif dan efisien.18 Sedangkan Suharto menyatakan manajemen sebagai rangkaian langkah-langkah dari banyak orang secara terpadu, disertai dengan penggunaan berbagai sarana dan sumber daya yang relevan.
Hal ini dimaksudkan untuk mencapai sasaran yang sudah ditetapkan.19 Werther dan Davis (1996) mendefinisikan manajemen SDM sebagai aktivitas yang mencoba memfasilitasi orang-orang dalam organisasi untuk berkontribusi mencapai rencana strategis organisasi.20 Hal ini dilakukan untuk merancang sistem formal yang menjamin pemanfaatan SDM secara efektif dan efisien guna mendukung pencapaian tujuan dan rencana strategis organisasi.
Penelitian tentang Gereja dan pelayanannya dalam bidang kesehatan telah diteliti oleh beberapa peneliti lainnya yaitu: Clara Latupeirissa21 dalam tulisannya menyajikan sebuah gambaran terkait Gereja dan Diakonia dengan pendekatan studi kasus tentang perubahan bentuk pelayanan kesehatan gratis di jemaat GKI Salatiga. Akdel Parhusip22 dalam tulisannya memberikan gambaran Peran Manajemen dalam Mengembangkan Pelayanan di Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Perumnas Martubung di Medan, dengan pendekatan literatur deskriptif, sehingga memberikan gambaran umum tentang manajemen dan pentingnya penerapan manajemen dalam dunia gereja. Jannes Eduard Sirait23 menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskripsi eksploratif yang dikombinasikan dengan analisis wacana, sumber data dan teknik analisis data sehingga dari hasil penelitiannya ditemukan adanya urgensitas manajemen program dalam mencapai sasaran pelayanan gereja.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penulis akan mengkaji bagaimana proses manajemen gereja dalam pelayanan Klinik Kesehatan Lansia di Gereja Toraja Jemaat
17 Faustino Cardoso Gomes, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Andi, 2001), 1.
18 Wiryoputro, Dasar-dasar Manajemen Kristiani, 2-5.
19 Suharto Prodjowijono, Manajemen Gereja: Sebuah Alternatif., 6.
20 Dewi Hanggreani, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2012), 4-5.
21 Clara Latupeirissa, Jurnal Gereja dan Diakonia: Studi Kasus tentang Perubahan Bentuk Pelayanan Kesehatan Gratis di Jemaat GKI Salatiga, (Salatiga: Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana, 2016), 9.
22 Akdel Parhusip, Merry G. Panjaitan, Maya Dewi Hasugian, Jurnal Peran Manajemen dalam Mengembangkan Pelayanan di Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Perumnas Martubung, Medan, Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani, Epigraphe Vol 4, No 1, (Mei 2020), 45.
23 Jannes Eduard Sirait, Jurnal Persepsi Pendeta Jemaat tentang Urgensi Manajemen Program Pelayanan Gereja Lokal, Jurnal Teologi Kependetaan, Pneumatikos, Volume 11, No 2, Januari 2021.
6
Imanuel Palopo. Program ini ditetapkan pada 2017 lalu, dan dihentikan sementara karena pandemi. Penghentian dilakukan demi mencegah penularan virus yang begitu cepat, apalagi terhadap usia lanjut. Melihat perkembangan sekarang, masyarakat Indonesia telah menerima vaksinasi. Terkait hal tersebut, majelis gereja mengambil keputusan untuk membuka kembali pertemuan kegiatan tatap muka yang dilakukan di gedung gereja. Namun, suasana berbeda tampak dari program pelayanan Klinik Kesehatan Lansia yang belum dilaksanakan. Hal ini begitu disayangkan, mengingat kegiatan kategorial lainnya telah dilakukan sedangkan kegiatan pelayanan ini belum berjalan kembali. Dalam keadaan yang demikian, seharusnya jemaat khususnya para lansia tetap diberikan pelayanan kesehatan yang memadai dengan tetap mematuhi protocol kesehatan yang ada.
Berdasarkan dengan penjelasan di atas, penulis akan mengkaji proses Manajemen Gereja dalam Pelayanan Klinik Kesehatan Lansia menggunakan studi kasus. Penulis menganggap jika masalah kesehatan menjadi prioritas utama terlebih pada masa sekarang, maka sebaiknya program ini tetap dijalankan dengan menerapkan protocol kesehatan.
Memberikan perhatian terhadap kesehatan jemaat menjadi hal penting dan harus di prioritaskan. Pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan secara rutin, terencana dan terukur, sehingga masalah kesehatan jemaat dapat teratasi. Dengan demikian, berdasar pada misi gereja yakni melayani, menjadi berkat bagi manusia dan dunia dapat tercapai.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana Manajemen Gereja dalam Pelayanan Klinik Kesehatan bagi Lansia di Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo? 2) Apakah Tujuan Pelayanan Kesehatan bagi Lansia di Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo telah tercapai?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan Manajemen Gereja dalam Pelayanan Klinik Kesehatan bagi Lansia di Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo. Kedua, untuk mengetahui tercapainya tujuan Pelayanan Kesehatan bagi Lansia di Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo.
1.4 Manfaat Penelitian
Lewat latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penelitian maka penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembaca baik secara teoritis dan praksis.
7
a. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu memperdalam studi terkait manajemen gereja.
b. Manfaat praktis, bagi Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo, penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran manajemen pelayanan gereja.
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang bertujuan menggambarkan secara tepat keadaan, sifat-sifat individu, atau untuk menentukan frekuensi atau penyebaran suatu gejala dan gejala lain dalam suatu masyarakat atau bahkan kelompok tertentu.24 Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dengan tujuan mendapatkan keterangan secara lisan dari seorang narasumber, dapat juga dilakukan dengan bertatap muka secara langsung dengan narasumber.25 Dalam hal ini responden atau informan yang dilibatkan meliputi pendeta jemaat, penatua dan diaken, badan pekerja (BP) majelis jemaat, karyawan dan staf gereja, dan warga Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo.
1. Konsep Teori
2.1 Gereja dan Manajemen Gereja
Pekerjaan penyelamatan manusia yang jatuh ke dalam dosa merupakan inisiatif Allah, dan sekaligus respon manusia yang menandai terjadinya proses dan hasil. Gerak inisiatif- respon dan proses-hasil menunjukkan eksistensi sebagai sebuah sistem yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk sebuah totalitas.26 Goeorge O Wright dalam Andreas Untung menjelaskan bahwa, sebuah system pertama-tama ditandai dengan adanya masukan (input), proses (process), dan keluaran (output).27
Gereja sebagai sebuah sistem memiliki empat tatanan dasar yakni: tatanan ajaran, hukum, ibadat dan tatanan keumatan. Tatanan ajaran dirumuskan dalam bentuk doktrin/ajaran gereja. Tatanan hukum dalam bentuk tata gereja atau peraturan gereja. Tataran ibadat berupa aneka bentuk peribadatan jemaat yang merupakan wujud bakti umat kepada Tuhan.
Sedangkan, tatanan keumatan berupa komitmen dan perilaku kebersamaan dalam menjalani
24 John W.Creswell, Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran, (2014), 253.
25 Koentjaraningrat, Metode Wawancara, dalam Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1997), 129.
26 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 39-40.
27 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 40.
8
kehidupannya sebagai umat Allah.28 Sebagai sebuah sistem dengan kinerja organik yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungannya, gereja bergantung pada kemampuan pengendalian atas faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem29, dan dalam konteks manajemen gereja, faktor-faktor tersebut meliputi faktor eksternal dan internal.
Pertama faktor eksternal, pertama-tama didasari oleh Allah dan Firman-Nya (Injil) yang mengandung nilai-nilai dan tujuan hidup, diyakini melalui gereja Allah turut bekerja dengan roh dan firman-Nya karena terdapat kekuatan Allah yang mempengaruhi, membimbing dan memberkati gereja dalam melakukan tugas dan panggilannya.30 Selanjutnya faktor lingkungan, gereja diutus untuk masuk ke dalam dunia yang berarti hidup ditengah masyarakat dengan mempengaruhi dan dipengaruhi dimana gereja tersebut berada dan menjadi bagian di dalamnya.31 Kedua faktor internal, mencakup pelaksanaan fungsi- fungsi manajemen gereja (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan/pengendalian serta evaluasi).32 Kedua adalah pengelolaan sumber daya gereja.
Kemampuan gereja dalam mengelola sumber daya (warga gereja, iman gereja, sarana kerja, metode, keuangan dan lingkungan) menentukan keberhasilan kinerja system dalam gereja.33
Keberhasilan proses transformasi tergantung pada kemampuan gereja dalam mengelola dan memanfaatkan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja system untuk produktivitas dalam mencapai tujuannya.34 Pengelolaan tersebut haruslah bersifat efektif dan efisien sehingga mendukung tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Semua pelaksanaan pengelolaan kegiatan dinamai dengan proses manajemen. Istilah “manajemen” berasal dari kata bahasa inggris management, adapun asal kata aslinya adalah to manage yang berarti
“mengelola”.35 Dalam bahasa latin disebut manus yang artinya menangani atau tangan.36 Menurut Gr. Terry Manajemen merupakan suatu proses yang khas yang terdiri dari satu tindakan yang terencana sehingga mampu mencapai hasil optimal yang ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.37
28 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 41.
29 Jan Hendriks, Jemaat Vital dan Menarik, (Yogyakarta: Kanisius, Cetakan 5, 2006), 40.
30 H.B. Siswanto, Pengantar Manajemen, (Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2006), 5.
31 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 43.
32 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 44.
33 Yayat M. Herujito, Dasar-Dasar Manajemen, (Jakarta: Grasindo- Yayasan Trisakti, 2001), 3.
34 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 45.
35 Suharto Prodjowijono, Manajemen Gereja: Sebuah Alternatif., 5
36 Muh. Resky Naim, Pengantar Manajemen, (Jawa Timur: Qiara Media, 2019), 2
37 Naim, Pengantar Manajemen, 3
9
Manajemen sebagai ilmu merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, objektif, rasional, dapat dipelajari, memiliki konsep, teori, prinsip, metode ilmiah, serta mempunyai keterkaitan sebab-akibat sehingga menjadi tabiat Ilmu.38 Menurut Mary Parker Follet, manajemen sebagai seni adalah keterampilan seorang manajer menggunakan cara-cara tertentu untuk mengatur orang lain agar dapat bekerja sama demi mencapai tujuan organisasi.39 Adapun fungsi manajemen menurut Henry Fayol yang harus diperhatikan untuk menjalankan proses manajemen dan mencapai tujuan yakni; POCCC (Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling).40
1. Perencanaan (Planning). Tahap awal kegiatan adalah menetapkan tujuan dan memilih cara untuk mencapai tujuan tersebut.41 Dalam gereja, pertama-tama harus dimulai dengan identifikasi pemahaman dan kesadaran jati diri tentang eksistensi dan fungsi gereja ditengah masyarakat.42
2. Pengorganisasian (Organizing dan Staffing) adalah kegiatan mengkoordinasi sumber daya, tugas, dan otoritas di antara anggota organisasi. Pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab harus dilakukan secara terperinci. Hal ini berdasarkan pada pembagian tugas setiap bidang sehingga terintegrasikan hubungan kerja yang sinergis, koperatif, harmonis, dan seirama dalam mencapai tujuan yang telah disepakati.43 3. Pengarahan (Leading) adalah membuat bagaimana orang-orang tersebut bekerja untuk
mencapai tujuan organisasi. Dalam konteks manajemen gereja, langkah pengarahan lebih kepada proses pembelajaran bersama mengenai berbagai hal menyangkut visi/misi dan tujuan gereja, serta strategi/cara yang hendak digunakan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan bersama. 44
4. Pengendalian (Controlling) bertujuan melihat apakah kegiatan yang ditetapkan berjalan sesuai dengan rencana. Fungsi pengendalian meliputi empat kegiatan: (a) menentukan standar untuk mengukur kinerja beserta hasilnya; (b) mengukur dan membandingkan kinerja serta hasil dengan standar yang telah ditetapkan; (c)
38 Yayat M. Herujito, Dasar-Dasar Manajemen, 1
39Sri Mulyono, Pengantar Manajemen, (Bandung, Jawa barat: Penerbit Media Sains Indonesia, 2021), 25
40 Sri Mulyono, Pengantar Manajemen., 26-27
41 Luthfiyyah Saahjidah, Fungsi-Fungsi Manajemen dalam Pengelolaan Kurikulum, Jurnal ISEMA, vol.3 no.2 (Desember, 2018):203
42 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 51.
43 Luthfiyyah, Fungsi-Fungsi Manajemen dalam Pengelolaan Kurikulum, :204
44 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 60.
10
mengambil tindakan perbaikan jika ada penyimpangan dari standar yang telah ditentukan dan (d) terdapat evaluasi dan pertanggungjawaban. 45
Semua organisasi termasuk gereja menjalankan fungsi-fungsi manajemen tersebut. Dengan demikian, manajemen sebagai ilmu dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan manajemen gereja. Layaknya penekanan Dadut Setiadi mengatakan bahwa: Sebagai persekutuan beriman yang terorganisir secara hirarkis, gereja mewadahi persekutuan peziarahan iman yang memiliki dimensi ilahi juga manusiawi yang dapat diatur dan dilaksanakan secara profesional dengan ilmu manajemen.46 Sekali lagi, gereja sebagai sebuah institusi ilahi wajib terorganisir dengan baik.
Andreas memaparkan strategi keberhasilan dalam upaya pengelolaan pelayanan gereja yakni fokus kepada jemaat, iman gereja, cara kerja gereja, sarana, keuangan serta lingkungan gereja.47 Dalam tulisan ini akan lebih spesifik kepada warga gereja sebagai sumber daya utama yang harus diberdayakan dengan sebaik mungkin. Terdapat tiga startegi yang dapat digunakan yakni, strategi parokial, kategorial dan fungsional. Strategi parokial merupakan upaya gereja dalam membagi warga gereja berdasarkan letak geografis/tempat tinggal. Hal ini dilakukan demi memudahkan koordinasi di berbagai kegiatan sekaligus untuk tujuan pengkaderan di setiap kelompok.48 Inisiatif dari setiap anggota kelompok dihargai, sehingga terciptalah ruang untuk saling mengembangkan diri.
Strategi kategorial adalah upaya gereja pemberdayaan jemaat dengan membagi ke dalam kategori tertentu, seperti: kategori usia, bidang minat, kategori berdasarkan profesi, dll.49 Tujuannya adalah untuk mengatur dan melihat berbagai macam potensi yang ada di dalam gereja. Dengan demikian kebutuhan pelayanan di gereja dapat terpenuhi. Sebagai contoh, anggota jemaat yang berprofesi sebagai dokter, perawat dapat melakukan pelayanan dalam bidang kesehatan. Para pendidik dapat mengambil bagian dalam pelayanan anak, begitu pula dengan profesi lainnya pada bidangnya masing-masing.
45 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 61-69.
46 Dadut Setiadi, Manajemen Paroki Sebuah Renungan, Manajemen Paroki – Sebuah Renungan Dan Pemikiran | Portal Berita Unika Soegijapranata, diakses 16 Oktober 2021
47 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja.,107.
48 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja.,109- 110.
49 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja., 110-111.
11
Ketiga adalah strategi fungsional. Strategi ini disusun berdasarkan kesadaran pokok pada usaha mewujudkan fungsi gereja untuk memuliakan Allah dengan bekerja memberitakan injil dan memelihara iman.50 Beberapa pembagian tugas dilakukan meliputi bidang Pemberitaan Injil (PI), Pemeliharaan Iman Warga Gereja (PIWG), dan Penopang Pemberitaan Injil dan Pemeliharaan Iman Warga Gereja. Setiap warga gereja adalah subyek potensial yang dipakai Allah sebagai “rekan sekerja” dalam rangka penyelamatan manusia dan dunia. Ketiga strategi ini kemudian dipahami sebagai kesatuan yang utuh dan menyeluruh, tidak berdiri sendiri karena pada dasarnya memberikan sinergi bagi pencapaian visi/tujuan gereja.
2.2 Pelayanan Kesehatan Lansia/Geriatri
Kaum lansia juga merupakan sumber daya yang dimiliki oleh gereja, maka sepatutnya pula mendapatkan ruang untuk berkarya, melayani dan menyalurkan kreativitas dalam pelayanan. Namun, yang terjadi adalah usia lanjut sering diidentikan dengan usia yang tidak lagi produktif. Hal ini dikarenakan oleh kemampuan fisik yang sudah menurun serta adanya gangguan pada kesehatan. Lansia lebih sensitif terhadap penyakit sehingga memilih untuk berada di dalam rumah dan tidak melakukan banyak aktifitas. Agar kesehatan lansia tetap terjaga dan dapat produktif, maka gereja memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kesehatan.
Memberikan pelayanan kesehatan bagi kaum lansia memerlukan beberapa prinsip utama, yakni: Prinsip Holistik dan Prinsip Tata Kerja – Tata Laksana. Prinsip Holistik sangat unik karena menyangkut berbagai aspek, yaitu :
1. Seorang pasien usia lanjut harus dipandang sebagai manusia seutuhnya, meliputi pula lingkungan kejiwaan (psikologis) dan sosial ekonomi. Dalam aspek diagnosis penyakit perlu menggunakan tata cara pengkajian geriatri, meliputi seluruh organ dan sistem, serta menyangkut aspek kejiwaan dan lingkungan sosial ekonomi.51 2. Sifat holistik mengandung artian baik secara vertikal atau horizontal. Secara
vertikal pelayanan dimulai dari pelayanan klinik, puskesmas sampai ke pelayanan
50 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja.,110-111.
51Martono, Hadi dan Pranarka, Kris, Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut, Edisi 4, (Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009), 3
12
rumah sakit yang mempunyai sub spesialis geriatri. Holistik secara horizontal berarti pelayanan kesehatan merupakan bagian dari pelayanan kesejahteraan usia lanjut secara menyeluruh. Oleh karenanya, harus bekerja secara lintas sektoral dengan dinas/lembaga terkait di bidang kesejahteraan. Salah satunya seperti agama, pendidikan, kebudayaan, serta dinas sosial.52
3. Pelayanan holistik juga berarti pelayanan harus mencakup aspek pencegahan (preventif), promotif, penyembuhan (kuratif), dan pemulihan (rehabilitatif). Begitu pentingnya aspek pemulihan ini, sehingga WHO menganjurkan agar diagnosis penyakit pada usia lanjut harus meliputi 4 tingkatan penyakit. Pertama, Disease (penyakit), yaitu diagnosis penyakit pada pasien, misalnya penyakit jantung iskemik. Kedua, Impairment (kerusakan atau gangguan), yaitu adanya gangguan organ akibat penyakit, seperti (infark miokard akut atau kronis). Ketiga, Disability (ketidakmampuan), yaitu akibat obyektif pada kemampuan fungsional dari organ atau individu tersebut. Pada kasus di atas misalnya terjadi dekompensasi jantung.
Keempat, Handicap (hambatan) yaitu akibat sosial dari penyakit. Pada kasus ketidakmampuan pasien untuk melakukan aktivitas sosial baik di rumah, maupun di lingkungan sosial-nya.53
Adapun tim pelayanan lansia/geriatri merupakan bentuk kerjasama multidisiplin yang bekerja secara interdisiplin dalam mencapai tujuan pelayanan geriatri yang dilaksanakan.54 Komponen utama terdiri dari dokter, pekerja social medik, dan perawat. Anggota tim dapat ditambah dengan tenaga rehabilitasi medik (fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara), psikolog, psikiater, ahli farmasi, dan ahli gizi. Secara berkala dilakukan pertemuan antara anggota tim untuk mengadakan evaluasi kerja yang telah dicapai.55
Selanjutnya dengan memperhatikan kedua prinsip utama diatas, konsep pelayanan kesehatan pada usia lanjut terus mengupayakan prinsip holistik yang berkesinambungan.
Pelaksanaan pelayanan terbagi dalam 3 kategori yaitu; Pelayanan kesehatan geriatri di masyarakat yang dijalankan oleh puskesmas, dokter praktek, perawat yang adalah tulang punggung dalam pelayanan ini. Biasanya pihak puskesmas akan membentuk kelompok usia
52 Martono, Hadi dan Pranarka, Kris, Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut., 4
53 Martono, Hadi dan Pranarka, Kris, Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut., 5
54 Martono, Hadi dan Pranarka, Kris, Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut., 5
55 Martono, Hadi dan Pranarka, Kris, Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut., 6
13
lanjut yang memudahkan tindakan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative dilakukan.
Pada dasarnya layanan kesehatan geriatri di tingkat masyarakat mendayagunakan dan mengikut-sertakan masyarakat/semaksimal mungkin.
Kedua, Pelayanan berbasis rumah sakit merujuk pada usaha pembinaan puskesmas dan masyarakat awam yang berada diwilayah kerjanya. Kegiatan dilakukan berupa lokakarya, ceramah, symposium, serta sebagai rujukan dari layanan kesehatan di masyarakat. Ketiga, Pelayanan berbasis rumah sakit berupa poliklinik lanjut usia, penyediaan bangsal akut, klinik siang terpadu (day-hospital), bangsal kronis atau panti rawat wredha (nursing homes). 56 Berkaitan dengan hal tersebut, dalam lingkup gereja akan merujuk kategori pelayanan geriatri di tingkat masyarakat yang dijalankan oleh dokter serta perawat yang adalah warga gereja itu sendiri. Dengan demikian, gereja tertolong untuk terus mengembangkan diri secara optimal.
Menyesuaikan diri dan tanggap terhadap kebutuhan jemaat menjadi hal utama dengan tidak mengabaikan potensi yang dimilikinya.57
3 Hasil Penelitian
3.1 Profil Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo
Jemaat Imanuel merupakan pemekaran dari Jemaat Pniel Palopo pada 1960. Perayaan Natal pertama turut dihadiri oleh Komandan Wilayah Kepolisian yang kemudian mensponsori pembelian lokasi tanah gereja. 1969 Majelis Gereja Jemaat Palopo serta beberapa anggota kepolisian bersepakat dengan Opu Datu untuk membeli tanah melalui daeng Matutu sebagai perantara. Sebidang tanah tersebut akhirnya menjadi tempat berdiri Gereja Imanuel. Diatas tanah inilah, dibangun gedung gereja yang sudah mengalami tiga kali masa perombakan. Dimulai gedung darurat, semi permanen dan permanen seperti sekarang ini. Setelah mengalami masa pertumbuhan selama 20 tahun dalam persekutuan Jemaat Palopo, maka tibalah saatnya untuk dimekarkan menjadi jemaat yang mandiri.58
Atas dasar pertimbangan efektifnya pelayanan kepada anggota jemaat, maka pada 15 Mei 1989 diperoleh kesepatakan melalui Sidang Majelis Jemaat Palopo untuk memekarkan Jemaat Palopo menjadi 3 Jemaat. Jemaat tersebut ialah; Jemaat Palopo (Pniel), Jemaat Imanuel; dan Jemaat Eben Haezer, dan merealisasikannya pada 1 November 1989. Rapat perdana gabungan diadakan tanggal 6 November 1989 dihadapan Sidang Majelis Gereja.
56 Martono, Hadi dan Pranarka, Kris, Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut., 7
57 Akdel Parhusip, Merry G. Panjaitan, Maya Dewi Hasugian, Jurnal Peran Manajemen dalam Mengembangkan Pelayanan di Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Perumnas Martubung, Medan, Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani, Epigraphe Vol 4, No 1, (Mei 2020), 48.
58 Sejarah Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo, 4
14
Adapun agenda meliputi: Penanda Tanganan Naskah Berita Acara Serah Terima Pemekaran Jemaat Palopo, Penyerahan Tanggung Jawab Pelayanan, Penyerahan Harta Milik Jemaat, Administrasi Keuangan dan Inventaris lainnya kepada Jemaat yang telah mekar.59
Pada saat pemekaran Jemaat Imanuel Palopo dilayani oleh seorang Pdt. J.B.
Palimbunga Sm.Th yang bertugas sebagai pendeta sejak tanggal 1 Juli 1989. Pnt.Markus M.Rantepadang,BA sebagai Sekretaris dan Pnt.Soetaryono sebagai Bendahara Jemaat.
Terdapat 9 kelompok kebaktian Rumah Tangga pada saat itu, dilebur menjadi 7, hingga tersisa 5 Kelompok Kebaktian Rumah Tangga. Jemaat Imanuel telah dilayani oleh 8 Pendeta jemaat, Pdt. Hornita E.T. Simangunsong S.Th merupakan pelayan pada saat ini. Berdasarkan dari data base yang ada, jemaat ini memiliki potensi dan sumber daya manusia yang mampuni. Berbagai macam profesi warga jemaat mulai dari PNS, Dokter, Polri, Tenaga Kesehatan, Nelayan, Guru, Ibu Rumah Tangga, Pebisnis, Peternak Hewan, sampai kepada Anggota DPRD ada di dalamnya. Dengan berkumpulnya berbagai macam profesi yang ada, kegiatan pelayanan secara internal maupun eksternal gereja dapat dikatakan teratasi dengan baik.
3.2 Diakonia di Jemaat Imanuel Palopo
Kehadiran gereja di tengah kehidupan masyarakat adalah untuk melayani. Salah satu bentuk pelayanan gereja adalah Pelayanan Diakonia. Berdasarkan sidang keputusan majelis 2017 menetapkan program pelayanan Klinik Kesehatan Lansia secara gratis. Sasarannya ialah anggota jemaat khususnya lansia yang sakit. Pelayanan ini termasuk dalam diakonia karikatif, yang dipraktikan oleh gereja dan pekerja sosial. Pelayanan ini terwujud dalam bentuk pemberian makan dan pakaian bagi orang miskin, menghibur serta mengobati orang sakit, melakukan perbuatan amal kebajikan. Pelayanan ini tidak mengandung resiko yang berarti dan didukung secara penuh oleh institusi gereja. Selain melayani jemaat, juga dapat digunakan untuk menarik seseorang menjadi anggota agama, memusatkan perhatian pada hubungan pribadi, dan menciptakan hubungan subjek-objek.60
Selanjutnya, terdapat kegiatan dalam bantuan dana tunai kepada jemaat yang sakit (di RSUD) sesuai dengan kebutuhan. Les diakonia ditujukan untuk membantu warga jemaat yang mengalami kedukaan. Bingkisan Natal ditujukan kepada anggota jemaat yang mengalami kesulitan dalam merayakan Natal dan Tahun Baru. Bantuan kepada korban bencana alam akan diberikan sebagai tanda kasih dan partisipasi jemaat kepada sesama yang
59 Sejarah Gereja Toraja Jemaat Imanuel Palopo, 5
60 Josef Widyatmadja, Yesus dan Wong Cilik (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2010),35-49.
15
menderita. Bantuan dana bergulir serta bantuan langsung akan diberikan secara bertahap bagi anggota jemaat yang butuh modal untuk membuka usaha mandiri. Pelayanan ke lembaga pemasyarakatan Kota Palopo dijadwalkan secara rutin melalui pengurus wilayah Klasis.61
3.3 Manajemen Pelayanan Klinik Kesehatan Lansia di Jemaat Imanuel Palopo
Penetapan program pelayanan Klinik Kesehatan dimulai pada 2017 lalu, dan ditujukan pada jemaat yang sakit. Selain menolong jemaat yang sakit, juga bertujuan untuk menggerakkan potensi warga jemaat yang mampuni dalam bidang kesehatan. Meningkatkan kualitas kesehatan jemaat adalah pelayanan yang dilakukan gereja mengingat adanya sumber daya yang cukup baik di dalam jemaat itu sendiri. Dengan memperhatikan kondisi yang ada, maka gereja, melalui bidang diakonia memutuskan untuk membuka pelayanan kesehatan gratis. Adapun tahap-tahap perencanaan sampai pada pelaksanaan kegiatan ini sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan (Planning)
Pada tahapan ini, melalui rapat majelis dalam bidang diakonia menetapkan tujuan dari kegiatan berdasarkan pada visi dan misi gereja:
Visi : Kerajaan Allah atau Keselamatan Sempurna di dalam Kerajaan Allah.
Misi : Gereja adalah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah baik bagi diri gereja itu sendiri, maupun diluar dan bagi lingkungan sekitarnya, melalui tugas berdiakonia.
Tujuan : Terciptanya pelayanan kesehatan ditujukan bagi jemaat yang sakit, khususnya lanjut usia. Selain itu, memberdayakan potensi warga jemaat yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan.62
Sasaran : Menurut data base jemaat, terdapat 21 orang lanjut usia yang berusia 60 + tahun.63
Program Pelayanan Klinik Kesehatan masuk dalam Program Kerja Tahunan Jemaat.
Penetapan ini dilakukan mengingat dinamika perubahan yang begitu cepat, dan disesuaikan dengan kebutuhan jemaat.
Rapat resmi dilakukan sebanyak dua kali dan dihadiri oleh pimpinan majelis jemaat, majelis jemaat sebanyak 30 orang, serta 8 orang para tenaga kesehatan. Dalam rapat tersebut ditetapkan Ketua Tim Kesehatan yakni dokter umum, satu orang bidan, lima orang perawat,
61 Program Kerja Majelis Gereja & OIG Jemaat Imanuel Palopo, 2021, 9-10.
62 Wawancara bersama Pdt Dianto Paembonan M.Th sebagai pendeta jemaat, pada 12 Maret 2021.
63 Data Base jemaat Imanuel, diakes pada 23 November 2021.
16
dan satu orang apoteker. Administrasi keuangan diambil dari Kas Diakonia, sebanyak Rp.
15.000.000.64 Pelaksanaan kegiatan akan dilakukan pada Juni 2019 sampai Desember 2021.
Pengadaan inventaris atau alat kesehatan pun ditetapkan berupa:65
1. Satu buah Lemari untuk penyimpanan berbagai obat dan alat kesehatan;
2. Termometer berfungsi untuk mengukur suhu tubuh pasien;
3. Tensimeter berfungsi mengukur tekanan darah;
4. Timbangan berfungsi mengukur berat badan pasien;
5. Alat tes gula darah, kolesterol dan asam urat, untuk mengontrol kadar gula dalam darah;
6. Obat-obatan.
Kegiatan ini akan dilakukan satu kali dalam satu bulan, hari sabtu di minggu terakhir.
Adapun pemeriksaan yang dilakukan meliputi, kontrol gula darah, kolesterol dan asam urat.
Jika terdapat pasien yang membutuhkan pengobatan lebih lanjut, akan dirujuk ke RSUD terdekat. Penetapan pemberian tanda ucapan terima kasih (uang tunai) ditujukan khusus kepada tim kesehatan yang menangani di Klinik Kesehatan Lansia.66 Selanjutnya ditetapkan rapat koordinasi tiga bulan sekali (oleh petugas kesehatan bersama dengan bidang diakonia) dan rapat evaluasi satu kali satu tahun (oleh seluruh majelis dan semua yang terlibat dalam kegiatan ini).
2. Pengorganisasian (Organizing dan Staffing)
Adapun pedoman pelayanan dan prosedur pelaksanaan sebagai berikut:
Deskripsi tugas dari masing-masing komponen dalam struktur organisasi gereja, khususnya bidang diakonia.67
a. Ketua bidang bertugas mengkoordinir pelaksanaan kegiatan dalam program kerja.
b. Bendahara diakonia bertanggung jawab atas pengelolaan dana diakonia.
Menerima dan mengeluarkan dana atas persetujuan/ diketahui oleh ketua bidang.
Membuat laporan setiap akhir bulan.
c. Anggota bidang bertugas untuk membantu mekanisme yang terjadi di lapangan, khususnya pelayanan Lansia
Tim Pelayanan Diakonia bertugas sebagai berikut:68
a. Dokter adalah ketua tim kesehatan di lapangan yang bertugas untuk memeriksa kesehatan pasien, menjelaskan penyakit dan meresepkan obat-obatan.
64 Buku Program Jemaat Imanuel Tahun 2017-2021, 15.
65 Wawancara bersama Dokter Albert, pada 20 November 2021.
66 Mengenai besarnya dana tidak disebutkan oleh Bendahara Bidang Diakonia, pada 20 November 2021.
67 Buku Program Jemaat Imanuel Tahun 2017-2021. 5-6
68 Wawancara bersama Dokter Albert dan juga Bendahara Bidang Diakonia, pada 20 November 2021.
17
b. Perawat dan bidan bertugas dalam memeriksa tekanan darah, kolesterol, dan asam urat. Selain itu juga bertugas untuk menimbang berat badan dan mengecek suhu tubuh pasien.
c. Apoteker bertugas dalam memberikan obat yang telah diresepkan.
d. Seorang anggota bidang diakonia bertugas dalam bagian administrasi.
Adapun pendeta jemaat sebagai pimpinan, akan ikut mendampingi dalam setiap kegiatan atau program berjalan yang dilakukan oleh gereja. Jadi selain terdapat ketua tim dan penanggung jawab, juga ada pimpinan majelis jemaat.69
3. Pelaksanaan (Leading)
Pada tahapan pelaksanaan, dimulai dengan sosialisasi program ke jemaat. Awalnya pengumuman dilakukan dalam dua kali kebaktian hari minggu. Selanjutnya diadakan rapat bersama anggota jemaat yang dihadiri oleh para lansia, pemuda, majelis dan juga pendeta jemaat. Dalam sosialisasi program tersebut, majelis menerima tanggapan yang positif dari jemaat untuk segera mengadakan kegiatan ini. Setelah diadakan sosialisasi program, selanjutnya dilaksanakan ibadah khusus untuk memulai kegiatan tersebut di bulan Mei 2019.70
Kegiatan perdana dimulai pada Juni 2019, pemeriksaan dilakukan sebanyak satu kali dalam satu bulan, setiap hari sabtu di minggu terakhir bulan berjalan. Klinik Kesehatan Lansia dilakukan di konsistori gereja. Meskipun berfokus pada lansia jemaat Imanuel, tidak menutup kemungkinan warga jemaat atau bahkan jemaat lain juga berpartisipasi di dalamnya.
Jemaat lanjut usia yang ikut dalam kegiatan ini berjumlah 21 orang. Jumlah ini tetap dan mengalami pertambahan sebanyak 2 sampai 3 orang lanjut usia dari jemaat lain.
Adapun alur pemeriksaan kesehatan dimulai dari:
69 Wawancara bersama Pdt Dianto Paembonan M.Th sebagai pendeta jemaat, pada 20 November 2021
70 Wawancara bersama Dokter Albert pada 20 November 2021.
Registrasi Pasien &
Pemeriksaan Suhu badan
Menimbang Berat Badan Pasien
Pemeriksaan Gula Darah/Asam Urat dan Kolesterol
Pengambilan Obat Pemeriksaan Dokter
18
Para petugas medis melakukan tugas dan fungsinya masing-masing sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Kabar baik datang dari pemudi jemaat Imanuel yang bersekolah di bidang kesehatan, turut membantu berjalannya program tersebut. Meskipun mereka tidak masuk dalam struktur organisasi, akan tetapi kesediaanya dalam melayani disambut baik oleh jemaat.71
Setelah 3 bulan kegiatan ini berjalan, tim diakonia menyepakati untuk menambah kegiatan lansia sebelum pemeriksaan yakni senam bersama. Adapun di akhir kegiatan, tim diakonia memberikan kudapan sehat seperti bubur kacang hijau atau buah-buahan untuk dinikmati bersama. Tiga bulan pertama kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan perencanaan. Semua petugas medis dan tim diakonia datang disetiap kegiatan, dan melakukan koordinasi bersama. Namun, pada bulan-bulan selanjutnya mulai berkurang, hingga dibuatlah jadwal untuk petugas kesehatan. Hal ini disebabkan karena adanya jam pelayanan di tempat lain di waktu yang bersamaan, sehingga perawat yang datang hanya dua orang saja. Selain itu, anggota tim diakonia yang aktif tersisa dua orang, yakni bendahara dan satu orang anggota.72 Hal ini disebabkan karena aktivitas dan kegiatan mereka di tempat lain.
Sedangkan, pendeta jemaat sebagai pimpinan selalu hadir dalam pertemuan pemeriksaan bulanan ini.73
Program kerja jemaat khususnya dalam bidang diakonia merupakan program kerja tahunan. Disusun setiap lima tahun sekali dan diadakan rapat evaluasi bersama dengan OIG.
Penetapan pelayanan Klinik Kesehatan Lansia masuk dalam periode kerja Pdt. Dianto Paembonan M.Th dilakukan tahun 2017, waktu pelaksanaan mulai Juni 2019 hingga Desember 2021. Namun, yang terjadi dilapangan adalah pelaksanaan ini hanya berlangsung dari Juni 2019 hingga Maret 2020. Kegiatan kemudian dihentikan karena pandemi virus corona. Kegiatan ini dihentikan untuk sementara waktu oleh majelis gereja karena beberapa alasan. Pertama, adanya surat keputusan Sinode untuk menghentikan kegiatan tatap muka jemaat menjadi pertemuan online.74 Kedua, dokter yang melayani secara pribadi meminta pelayanan ini dihentikan secara sementara hingga situasi membaik. Hal ini juga diperkuat dengan surat keputusan Sinode. Beliau menganggap akan jauh lebih baik jika kegiatan pemeriksaan dihentikan sementara waktu mengingat kondisi lansia yang rentan terhadap
71 Wawancara bersama Kak Gusti pada 22 November 2021.
72 Wawancara bersama salah satu anggota bidang diakonia pada 21 November 2021.
73 Wawancara bersama salah satu anggota tim diakonia pada 21 November 2021.
74 Wawancara bersama dengan Majelis Jemaat Imanuel, pada 23 November 2021.
19
penyakit. Penghentian pemeriksaan juga dilakukan oleh beliau di tempat praktek pribadinya.75 Ketiga, adanya ketakutan jemaat akan bahaya virus khususnya para lansia yang hendak memeriksakan kesehatan mereka pada klinik kesehatan lansia.76 Beberapa faktor inilah yang kemudian dipertimbangkan oleh majelis untuk segera menghentikan sementara waktu kegiatan ini.
Melihat kondisi pandemi yang mereda, semua kegiatan kembali dilakukan secara tatap muka terbatas di 2021. Adapun surat keputusan Sinode yang membolehkan untuk membuka pertemuan gerejawi secara terbatas di gedung gereja. Namun, pemeriksaan Klinik Kesehatan Lansia belum dibuka kembali. Hal ini disebabkan karena baik bidang diakonia, tim kesehatan maupun seluruh majelis belum membicarakan lebih lanjut mengenai hal ini.77 Pengalihan kegiatan Klinik Kesehatan justru dilakukan oleh gereja saat pemberian vaksin, dimana gereja bekerjasama dengan Puskesmas Wara untuk memberikan vaksinasi kepada warga jemaat. Pendeta jemaat dan majelis menganggap baik hal ini, karena mengingat kondisi lansia yang tidak begitu senang untuk antri lama di posko/ RSUD demi mendapatkan vaksin.78
Setelah lima tahun masa jabatan Pdt. Dianto Paembonan M.Th kini saatnya penabisan pendeta jemaat yang baru pada Juni 2021. Program kerja yang direncanakan tetap dijalankan hingga akhir tahun 2021. Dalam masa kepemimpinan pendeta jemaat yang baru, belum membahas mengenai kapan dibukanya kembali program pelayanan Klinik Lansia.79 Menurut keterangan majelis, kemungkinan besar program Klinik Lansia akan dijalankan jika warga jemaat memberikan usul dalam rapat umum diperluas pada Januari 2022 dan kemudian dibicarakan dalam rapat majelis tertutup setelahnya.80 Jika warga jemaat yang diundang dalam rapat umum diperluas tidak memberikan masukan atau usulan, maka kemungkinan besar Klinik Kesehatan akan ditutup secara permanen. Sebelum dihentikan secara sementara, kegiatan ini belum melakukan evaluasi tahunan hingga berakhirnya masa jabatan pendeta maupun programnya. Menurut keterangan dokter, ketua diakonia belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai kapan diadakannya evaluasi bersama dengan pimpinan jemaat.
75 Wawancara bersama Dokter Albert pada 20 November 2021.
76 Wawancara bersama anggota jemaat lansia pada 21 November 2021.
77 Wawancara bersama Dokter Albert dan Pdt. Dianto Paembonan M.Th pada 20 November 2021.
78 Wawancara bersama majelis dan Pdt. Dianto Paembonan M.Th pada 20 November 2021.
79 Wawancara bersama majelis pada 20 November 2021.
80 Wawancara bersama majelis pada 20 November 2021.
20
Kendati kegiatan ini vakum selama 2 tahun, warga jemaat khususnya lansia tetap berharap agar Klinik Kesehatan segera dibuka kembali. Kerinduan para lansia untuk mendapatkan perhatian dan pelayanan dari gereja begitu besar. Lansia mendapatkan banyak manfaat dari Pemeriksaan Kesehatan yang dilakukan oleh gereja, salah satunya kondisi kesehatan mereka terkontrol dengan baik. Selain tidak dipungut biaya apa pun, lansia menganggap bahwa pelayanan yang dilakukan oleh gereja ternyata merangkul keberadaannya sebagai manusia dan umat Tuhan.81
4. Pendampingan (Controlling)
Upaya pendampingan pada dasarnya merupakan tanggung jawab majelis gereja selaku program gereja. Majalis gereja mempunyai tanggung jawab untuk mengusahakan terlaksananya semua program yang telah ditetapkan dan diputuskan. Pada pelayanan Klinik Kesehatan, usaha pendampingan pertama-tama ditunjukkan dari Pimpinan Majelis atau Pendeta Jemaat. Kehadiran beliau dalam mendampingi jemaat lansia merupakan bukti perhatiannya kepada jemaat Tuhan yang diberikan pelayanan. Selain itu, ketua tim diakonia juga turut hadir didalamnya.
Dalam usaha pendampingan, memang dilakukan evaluasi pelaksanaan program di tiga bulan pertama. Namun, di bulan selanjutnya evaluasi tersebut tidak dijalankan kembali. Jika terjadi kekurangan pada saat proses pemeriksaan berlangsung seperti kehabisan obat atau strip, maka jemaat yang ada pada saat itu berinisiatif membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Meskipun kegiatan ini belum pernah melakukan rapat evaluasi tahunan, setidaknya koordinasi di lapangan selama 10 bulan kegiatan ini berlangsung tetap dijalankan.82
3.4 Kepemimpinan dalam pelayanan Klinik Kesehatan Lansia Jemaat Imanuel
Dalam konteks manajemen gereja, upaya menggerakkan (memobilisasi) dan memberdayakan orang lain untuk melakukan pekerjaan yang telah direncanakan tidaklah mudah. Dilihat dari bentuknya, ada dua bentuk kepemimpinan gereja yakni tunggal dan jamak.83 Pada umumnya gereja arus utama memilih kepemimpinan jamak karena dipandang lebih egaliter, demokratis, dan sesuai Imamat am orang percaya.84 Dilihat dari jenisnya, kepemimpinan partisipatif dapat mendorong anggota gereja untuk bertumbuh dan berkembang di dalam organisasi. Biasanya jenis kepemimpinan ini disebut sebagai
81 Wawancara bersama Ibu Londong Pare pada 22 November 2021.
82 Wawancara bersama Dokter Albert pada 20 November 2021.
83 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja.,61.
84 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja.,61.
21
“kepemimpinan pelayan”. Dimana kepemimpinan yang melayani dan memberi kesempatan orang lain (anggota gereja) untuk berpartisipasi dalam pelayanan dan menentukan kebijakan penyelenggaraan gereja.85 Karakteristik utamanya adalah keinginan untuk melayani ada sebelum keinginan untuk memimpin. Model kepemimpinan ini lebih banyak melakukan fungsi pendampingan dan pemberdayaan dibandingkan komando atau memberi perintah.
Model kepemimpinan ini yang diterapkan pada pelayanan Klinik Kesehatan Lansia.
Pada dasarnya, setiap orang yang memberi diri untuk melayani di gereja berdasar pada iman dan kerinduannya untuk melayani Tuhan. Maka sebagai pemimpin yang hendak mencapai tujuan gereja, harus memiliki motivasi dan pertanggung jawaban yang benar di hadapan Tuhan dan jemaat. Kepemimpinan lebih diarahkan pada proses pembelajaran bersama mengenai berbagai hal baik menyangkut pemahaman visi, misi, serta strategi untuk mencapai tujuan gereja. Oleh karena itu, dalam setiap praktik kegiatan di lapangan, pemimpin harus luwes, fleksibel, tidak mengekang atau bahkan menghukum jika terjadi kesalahan yang dilakukan oleh warga/anggota jemaat.
Karena menerapkan pola kepemimpinan yang sifatnya partisipatif serta memberi kesempatan anggota gereja dalam menentukan arah kebijakan pelayanan, maka suara mayoritas dan orang yang berpengaruh dalam kegiatan akan diperhitungkan. Dalam pelayanan Klinik Kesehatan, dokter yang adalah tim medis sekaligus ketua di lapangan memilih untuk menghindari melakukan praktik pada masa pandemi. Maka, baik praktik yang dilakukan secara pribadi maupun pelayanan medis di tempat lain tidak dilakukannya. Hal ini untuk mengantisipasi bahaya penyebaran virus antar pasien dan dokter.86 Kedua, dalam masa pergantian pimpinan jemaat atau pendeta, majelis jemaat belum memfokuskan diri pada program Klinik Kesehatan Lansia.87 Ketiga, legitimasi atas surat putusan Sinode terhadap pembatasan mobilitas jemaat diberlakukan.88 Oleh karena itu, hingga saat ini program tersebut belum dijalankan.
4 ANALISA
Sejalan dengan misi Gereja Toraja tugas berdiakonia telah menyentuh kepentingan masyarakat, dan sekaligus dalam upaya memberdayakan anggota gereja.89 Muara dari
85 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja.,62.
86 Wawancara bersama Dokter Albert pada 20 November 2021.
87 Wawancara bersama Sekretaris Jemaat pada 20 November 2021.
88 Wawancara bersama Sekretaris Jemaat pada 20 November 2021.
89 Tata Gereja Toraja, 3.
22
pelayanan kasih terwujud dalam program yang direncanakan, dan diharapkan akan terlaksana sesuai dengan tujuannya. Gereja harus dan terus mempersiapkan diri dalam melihat realitas konteks yang terus berkembang serta berubah. Kemampuan gereja diuji dalam membangun strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan tepat dalam semua aktivitas pelayanan yang dilakukan.90 Pelayanan yang dilakukan oleh gereja adalah kelanjutan akta Allah dalam Yesus yang mengasihi dan menebus manusia dari dosa, sehingga memperoleh keselamatan.
Pelayanan gereja merupakan aktivitas refleksi etis dari manusia yang menyadari dirinya hidup dalam lingkaran yang saling terhubung dengan orang lain, saling membutuhkan dan dibutuhkan. Oleh sebab itu, pelayanan mengandung rasa tanggung jawab dan perhatian terhadap keberadaan dan kesejahteraan hidup orang lain.91
Berlandaskan dengan penjelasan diatas, jemaat Imanuel sebenarnya dalam upaya memberdayakan warga gereja demi kesejahteraan hidup jemaat itu sendiri. Melalui program pelayanan Klinik Kesehatan Lansia yang secara gratis yang dijalankan, dalam prosesnya menemui hambatan. Segala persiapan, perencanaan dan pelaksanaan program, dalam praktiknya menemui kendala sehingga pencapaian tujuan tidak berjalan dengan lancar.92 Adapun hambatan berasal dari internal atau pengurus program tersebut, maupun eksternal karena situasi pandemi yang melanda.
Berikut merupakan kendala dalam menjalankan program Klinik Kesehatan Lansia sehingga ditemui perbedaan dalam proses pelaksanaanya, yakni;
Pertama, berdasar pada surat keputusan Sinode segala bentuk kegiatan tatap muka gerejawi di masa pandemi awal memang dilarang. Sehingga majelis bersama tim medis memutuskan untuk menutup sementara kegiatan ini. Menurut penulis, dalam keputusan majelis ditemui kesenjangan. Pada saat kegiatan tatap muka diperbolehkan kembali meski secara terbatas, majelis kurang memperhitungkan pertemuan dalam kegiatan yang lain.
Kegiatan gerejawi tersebut meliputi: Ibadah rumah tangga, Ibadah minggu, paduan suara jemaat yang aktif kembali dan mayoritas kehadirannya adalah jemaat lanjut usia.
Seharusnya, jika majelis memutuskan untuk memberlakukan tatap muka terbatas, dan menghindari penyebaran virus corona yang rentan terhadap usia lanjut, maka kehadiran lansia
90 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja.,73.
91 A. Noordegraaf, Orientasi Diakonia Gereja (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2004), 2-4.
92 Wawancara bersama Dokter Albert pada 20 November 2021. Menurut keterangan beliau, sebenarnya program ini mencapai tujuannya pada saat program itu dijalankan. Meskipun secara periodik pencapaian terhadap kegiatan belum maksimal atau sepenuhnya berhasil.
23
harus dibatasi. Sayangnya, pembatasan terhadap kehadiran lansia dianggap cukup sulit, mengingat kerinduan lansia untuk datang bersekutu dan melayani Tuhan.93
Kedua, terkait dengan kepemimpinan dalam pelayanan Klinik Kesehatan Lansia.
Secara struktural penempatan orang yang tepat akan menentukan gerak efektifitas program, sehingga tidak berpotensi mengganggu penyelenggaraan kegiatan tersebut. Selain melihat kemampuan, keterampilan dan keluwesan juga dibutuhkan kemauan atas dasar pelayanan yang kuat. Meskipun terjadi hal diluar perencanaan, pemimpin yang berdiri dalam struktur tidak mudah putus asa, melainkan mencari cara agar program bisa tetap dijalankan.94 Dalam kasus ini, terdapat dua pemimpin yakni ketua diakonia dan ketua tim di lapangan adalah dokter. Saat tim medis bersepakat untuk menghindari pelaksanaan praktek tatap muka, seharusnya ketua tim diakonia bersama anggotanya merumuskan rencana apa yang harus dilakukan agar program ini tetap berjalan meskipun pada masa pandemi. Ada plan b, c dan d yang harus dipersiapkan dalam menghadapi tantangan eksternal yang diluar dugaan. Hemat penulis, pimpinan seharusnya dapat memanfaatkan sistem digital dalam membantu meningkatkan serta mengontrol kesehatan jemaatnya. Gereja tetap dapat melakukan pelayanan dengan cara konsultasi online melalui via whatsaap, telefon, atau pesan Chat/SMS.
Untuk pengambilan obat dapat dilakukan secara tatap muka terbatas sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Kemajuan teknologi seharusnya menjadikan manusia lebih kreatif dalam memecahkan masalah-masalah yang ada. Sehingga pelayanan pun dapat tetap dilakukan tanpa harus melakukan pertemuan tatap muka. Dunia sedang bergerak dalam perubahan yang pasti, maka gereja juga dituntut untuk berubah dari sistem pelayanannya yang lama ke yang baru, mengikuti perkembangan zaman dan mampu melihat peluang dimana gereja dapat terus berkarya melayani jemaat.
Ketiga, Prinsip the right person on the right place sebaiknya diterapkan dalam manajemen gereja untuk mengoptimalkan hasil yang diinginkan. Pendampingan, pengarahan, koordinasi serta evaluasi di setiap kegiatan program harus dijalankan dan dipertanggungjawabkan. Oleh karena seluruh pekerjaan pelayanan gereja didasarkan atas iman sebagai amanat/tugas panggilan gereja. Maka, baik proses maupun hasilnya seharusnya dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Selain itu, tanggungjawab terhadap beban pelayanan juga ditujukan kepada diri sendiri dan jemaat, sehingga perlunya evaluasi. Salah
93 Wawancara bersama Ibu Lomo dan Elisabet Londong Pare, pada 23 November 2021.
94 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja.,58
24
satu media yang dapat digunakan oleh gereja untuk tujuan evaluasi melalui forum rapat majelis terbuka/rapat jemaat.95 Akan tetapi, dalam program pelayanan Klinik Kesehatan Lansia, evaluasi tidak dilakukan hingga program kerja akan berakhir. Maka hemat penulis, program ini belum sepenuhnya menjalankan prinsip manajerial terakhir yakni evaluasi.
Kelemahan dan kelebihan dari program berjalan tidak mendapatkan masukan serta apresiasi secara jelas dalam satu struktur kepemimpinan organisasi.
Berikut analisis perencanaan awal, pelaksanaan/realisasi kegiatan dan evaluasi pada Klinik Kesehatan Lansia:
No. Rencana Realisasi Faktor Eksternal
Faktor Internal Evaluasi 1. Pelaksanaan
Pelayanan Kegiatan Klinik Lansia dimulai pada Juni 2019 sampai
Desember 2021.
Kegiatan dilakukan, satu kali dalam satu bulan.
Hanya
berjalan dari Juni 2019 sampai Maret 2020.
Kegiatan dilakukan, satu kali dalam satu bulan.
Adanya Pandemi Covid-19
Majelis dan Tim Medis memilih untuk
meniadakan kegiatan hingga situasi kondusif kembali.
Tidak adanya rencana lain dalam
menjalankan kegiatan diluar kegiatan tatap muka.
Majelis menunggu keputusan pada rapat diperluas awal tahun 2022. Hal ini terkait erat dengan
Kepemimpinan dan Pemimpin Gereja sekarang.
Target kegiatan dilakukan
sebanyak 30 kali pemeriksaan, tetapi hanya berjalan 9 kali pemeriksaan.
Kegiatan
dilakukan, satu kali dalam satu bulan. Maka, target tidak tercapai.
95 Andreas Untung Wiyono & Sukardi. Manajemen Gereja.,106.
25
Spesifik kepada Kebijakan Pimpinan Gereja.
2. Sasaran adalah Anggota jemaat yang sakit,
Khususnya Kaum Lansia
Tercapai.
Sebanyak 21 warga jemaat lansia,
bahkan di luar jemaat Imanuel turut berpartisipasi.
Para Lansia turut
memberikan informasi kepada jemaat lain, bahwa di Jemaat Imanuel terdapat pelayanan Kesehatan gratis.
Pelayanan yang diberikan oleh gereja dinilai berkualitas bagi jemaat,
khususnya lansia.
Mencapai Target.
3. Pemberdayaan warga gereja di bidang kesehatan.
Tercapai Tidak Ada Karena warga jemaat ada yang berprofesi sebagai tenaga medis.
Mencapai Target.
4. Pengadaan alat kesehatan
Tercapai Dukungan dana dari OIG.
Dana dari Kas Diakonia
Mencapai Target.
5. Transfort Tenaga Medis
Tercapai.
Namun, dikembalikan sebagai bentuk persembahan dan
pelayanan kepada Tuhan melalui jemaat-Nya.
Tidak Ada. Dipersembahkan kembali, sebagai bentuk
pelayanan kepada Tuhan.
Mencapai Target.
6. Partisipasi tim diakonia dan tim medis.
Terdapat 2-3 orang yang tidak datang saat
pelaksanaan
Adanya agenda yang bersamaan di tempat
Tidak Ada. Belum mencapai Target.