• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUPATI KABUPATEN ACEH BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUPATI KABUPATEN ACEH BARAT"

Copied!
197
0
0

Teks penuh

(1)

II-1

BUPATI KABUPATEN ACEH BARAT

KATA SAMBUTAN Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat 2010 telah diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam kepangkuan alam Nabi Besar Muhammad SAW, para sahabat dan keluarganya sekalian.

Dari sekian masalah penting yang harus diprioritaskan dalam peningkatan kualitas lingkungan adalah pengelolaan sanitasi, baik sanitasi dalam kedudukan sebagai salah satu kegiatan sektoral yang menjadi bagian dari program pengelolaan lingkungan maupun sanitasi sebagai bagian dari sistem pengembangan kawasan di wilayah perkotaan.

Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat merupakan gambaran kondisi eksisting dari sanitasi yang sebenarnya di Kabupaten Aceh Barat, baik ditinjau dari tingkat pelayanan, tantangan dan hambatan serta isu sentral yang ada di masyarakat melalui pemetaan kondisi awal yang harus didasari pada data valid dan empiris.

Peningkatan program air bersih, drainase, persampahan, penataan air limbah, Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), regulasi dan sosialisasi program dan kegiatan serta visi misi sanitasi Kabupaten Aceh Barat, merupakan sektor penting yang dijabarkan dalam buku ini, yang berfungsi sebagai dokumen penunjang tingkat kesejahteraan masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan, pola hidup dan kualitas permukiman.

Seiring dengan itu, kami menyambut gembira atas dipublikasikan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat yang akan menjadi pondasi untuk menentukan strategi yang tepat, termasuk di dalamnya adalah penentuan prioritas pembangunan sanitasi yang komprehensif dan berkesinambungan di Kabupaten Aceh Barat.

Akhirnya Kepada Allah jualah kita berserah diri, semoga kita semua mendapat petunjuk dan lindungan Nya. Amin ya rabbil’alamin.

Wabillahitaufiq wal hidayah, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Meulaboh , Desember 2010 BUPATI KABUPATEN

ACEH BARAT

RAMLI MS

(2)

II-2

KATA PENGANTAR

Permasalahan sanitasi akan timbul seiring dengan aktifitas pembangunan yang meningkat dengan bertambahnya penduduk dan akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik. Hal ini akan menyebabkan adanya pencemaran lingkungan, menurunnya kualitas lingkungan dan estetika serta kemungkinan timbulnya penyakit sehingga merugikan masyarakat di sekitarnya.

Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat 2010 ini, dimaksudkan sebagai buku induk serta acuan perencanaan dan pengembangan pembangunan sanitasi tingkat kota. Cakupan penulisannya diawali dengan latar belakang, maksud serta tujuan penulisannya. Pada Bab berikutnya menguraikan tentang kondisi Kabupaten Aceh Barat secara umum. Selanjutnya mendeskripsikan kondisi umum sanitasi dan komponen-komponen sanitasi lainnya. Dan dilanjutkan dengan menguraikan Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Aceh Barat serta penanganannya.

Kemudian dilanjutkan, mengenai Indikasi dan Pengembangan Sanitasi serta ditutup dengan Kesimpulan dan Rekomendasi.Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat ini merupakan hasil kerjasama yang melibatkan lintas instansi dan multistakeholder sehingga diharapkan dapat memberikan suatu panduan penentuan kebijakan dan skala prioritas terhadap arah pengembangan dan percepatan pembangunan sanitasi di Kabupaten Aceh Barat yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Akhirnya, Tim Sanitasi Kabupaten Aceh Barat mengucapkan terima kasih kepada SKPK, pihak akademisi, LSM serta masyarakat, yang telah membantu tenaga dan fikiran guna mendukung proses penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat dan kami mengharapkan adanya masukan dan koreksi yang bersifat kontruktif sehingga penulisan buku ini menjadi lebih sempurna.

Meulaboh, Desember 2010 Penyusun,

Kepala Bappeda Kabupaten Aceh Barat (Ketua Tim Sanitasi)

DRS. SAID RASUL Pembina Utama Muda NIP. 19610422 198503 1 001

(3)

II-3

LEMBAR PENGESAHAN

YANG BERTANDA TANGAN DIBAWAH INI:

NAMA : DRS. SAID RASUL

JABATAN : KEPALA BAPPEDA/KETUA TIM SANITASI

ALAMAT : JALAN GAJAH MADA-MEULABOH

MENYATAKAN BAHWA DOKUMEN BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN ACEH BARAT TELAH DISEPAKATI UNTUK DISAHKAN SEBAGAI DOKUMEN PERENCANAAN DI BIDANG SANITASI, PADA TGL 31 DESEMBER 2010.

DEMIKIAN SURAT PENGESAHAN INI DIBUAT UNTUK DAPAT DIPERGUNAKAN SEBAGAIMANA MESTINYA.

MEULABOH, 31 DESEMBER 2010 KETUA TIM SANITASI

DRS. SAID RASUL Pembina Utama Muda NIP. 19610422 198503 1 001

(4)

II-4

DAFTAR ISI

Halaman Lembar Pengesahan

Sambutan Bupati ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... iii

Daftar Tabel ... v

Daftar Gambar ... vii BAB I PENDAHULUAN ... I -1 1.1. Latar Belakang ... I -1 1.2. Pengertian Dasar Sanitasi ... I -2 1.3. Maksud dan Tujuan Penyusunan Buku Putih ... I -4 1.4 Metode Penyusunan Buku Putih ... I -5 1.5 Kedudukan Buku Putih ... I -6 1.6 Sumber Data ... I -7 1.7 Dasar Hukum Penyusunan ... I -8 1.8 Sistematika Dokumen ... I-12 BAB II GAMBARAN KONDISI UMUM DAERAH ... II -1 2.1 Topografis, Geografis dan Geohidrologi ... II -1 2.2 Administratif ... II -6 2.3 Kependudukan ... II -8 2.4 Pendidikan ... II-15 2.5 Kesehatan ... II-17 2.6 Sosial Masyarakat ... II-19 2.7 Perekonomian ... II-23 2.8 Visi dan Misi Kabupaten ... II-28 2.9 Institusi dan Organisasi Pengelola Sanitasi Pemda Aceh Barat ... II-29 2.10 Tinjauan Tata Ruang Kabupaten dan Kebijakan RTRW ... II-34 BAB III PROFIL SANITASI KABUPATEN ACEH BARAT ... III -1 3.1 Kondisi Umum Sanitasi Kabupaten Aceh Barat ... III -1 3.2 Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Aceh Barat ... III-33 3.3 Pengelolaan Persampahan ... III-41 3.4 Pengelolaan Drainase ... III-52 3.5 Penyediaan Air Minum/Air Bersih ... III-56 3.6 Komponen Sanitasi Lainnya ... III-64 3.7 Pembiayaan Pengelolaan Sanitasi ... III-70 BAB IV RENCANA PROGRAM PENGEMBANGAN SANITASI ... IV -1 4.1 Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Aceh Barat ... IV -1 4.2 Strategi Penanganan Sanitasi ... IV -2 4.3 Rencana Peningkatan Pengelolaan Limbah Cair ... IV -7 4.4 Rencana Peningkatan Pengelolaan Persampah (Padat) ... IV-16 4.5 Rencana Peningkatan Pengelolaan Saluran Drainase Lingkungan ... IV-19 4.6 Rencana Pengembangan Sektor Air Minum ... IV-22 4.7 Rencana Peningkatan Kampanye PHBS ... IV-26

BAB V INDIKASI PERMASALAHAN DAN OPSI PENGAMBANGAN

SANITASI ... V-1 5.1 Kajian dan Opsi Partisipasi Masyarakat dan Gender di Area Prioritas ... V-9

(5)

II-5

5.2 Media dan Peningkatan Kepedulian Sosial ... V-11 5.3 Hasil Pemetaan yang dilakukan oleh Pokja Sanitasi ... V-13 5.4 Hasil Penyebaran Kuisioner ... V-17 5.5 Keterlibatan Sektor Swasta Dalam Layanan Sanitasi ... V-20 5.6 Sub Sektor Limbah Cair Domestik ... V-20 BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... VI-1 6.1 Kesimpulan ... VI-1 6.2 Rekomendasi ... VI-4

(6)

II-6

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Luas Lahan Berdasarkan Kelas Kemiringan Kab. Aceh Barat ... II -3 Tabel 2.2 Jenis Tanah di Kabupaten Aceh Barat ... II -4 Tabel 2.3 Luas Wilayah Dirinci Perkecamatan di Kabupaten

Aceh Barat Tahun 2008 ... II -4 Tabel 2.4 Keadaan dan Perkembangan Penduduk Kabupaten Aceh Barat

Tahun 2003 s/d 2008 ... II -9 Tabel 2.5 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Barat

Tahun 2009-2012 ... II-10 Tabel 2.6 Tinggkat Kepadatan Penduduk di Kabupaten Aceh Barat

Tahun 2008 ... II-11 Tabel 2.7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kolompok usia Sekolah, Usia

Produktif dan Usia Tua Kabupaten Aceh Barat Tahun 2007 ... II-11 Tabel 2.8 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian Kabupaten Aceh Barat

Tahun 2007 ... II-12 Tabel 2.9 Jumlah Keluarga Prasejahtera (Miskin) Kabupaten Aceh Barat

Tahun 2008 ... II-13 Tabel 2.10 Potensi Pengembangan Kawasan Penyangga Berdasarkan Analisa

Kesesuian Lahan ... II-36 Tabel 2.11 Rencana Peruntukan Lahan ... II-38 Tabel 3.1 Penderita Penyakit Berhubungan Dengan Lingkungan Menurut

Kecamatan Tahun 2009-2010 ... III-1 Tabel 3.2 Rekapitulasi Pemantauan Status Gizi (PSG) Dinas Kesehatan

Kabupaten Aceh Barat Tahun 2007 ... III-1 Tabel 3.3 Rekapitulasi Pendataan Rumah Sehat, Perkarangan Sehat dan

Kandang Ternak di Wilayah Kab. Aceh Barat Tahun 2008 ... III-2 Tabel 3.4 Rekapitulasi Pendataan Jamban Kabupaten Aceh Barat

Tahun 2008 ... III-2 Tabel 3.5 Hasil Survey Penggunaan Jamban Kabupaten Aceh Barat

Tahun 2010 ... III-4 Tabel 3.6 Persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat

Kabupaten Aceh Barat Tahun 2009 ... III-8 Tabel 3.7 Cakupan Pelayanan PDAM Tirta Meulaboh ... III-9 Tabel 3.8 Jumlah Pelanggan PDAM Tirta Meulaboh ... III-10 Tabel 3.9 Hasil Rekapitulasi Pendataan Sumber Air Bersih (SAB) di Wilayah

Kabupaten Aceh Barat Tahun 2008 ... III-11 Tabel 3.10 Hasil Rekapitulasi Pendataan Sistem Pembungan Air Limbah (SPAL)

Di Wilayah Kerja Kabupaten Aceh Barat Tahun 2008 ... III-14 Tabel 3.11 Jumlah Timbulan dan Jumlah Sampah Per Kecamatan ... III-18 Tabel 3.12 Perkiraan Total Timbulan Sampah Sejenis Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga ... III-19 Tabel 3.13 Perkiraan Total Timbulan Sampah Sepesifik ... III-19 Tabel 3.14 Cara Pembuangan Sampah ... III-22 Tabel 3.15 Kondisi Fasilitas Penanganan Limbah Domestik

di Kabupaten Aceh Barat ... III-37 Tabel 3.16 Struktur dan Besarnya Tarif Restribusi Persampahan

di Kabupaten Aceh Barat ... III-45 Tabel 3.17 Angka Penganan Sampah di Kabupaten Aceh Barat ... III-47 Tabel 3.18 Pembagian Zona Drainase Primer di Kabupaten Aceh Barat ... III-54 Tabel 3.19 Kegiatan Promosi Kesehatan Program PHBS Tahun 2009 ... III-69

(7)

II-7

Tabel 3.20 Besaran Pendanaan Sanitasi di Kabupaten Aceh Barat ... III-70 Tabel 3.21 Rekapitulasi Pendanaan Kegiatan Sanitasi 2007 ... III-72 Tabel 3.22 Rekapitulasi Pendanaan Kegiatan Sanitasi 2008 ... III-73 Tabel 3.23 Rekapitulasi Pendanaan Kegiatan Sanitasi 2009 ... III-74 Tabel 3.24 Rekapitulasi Pendanaan Kegiatan Sanitasi 2010 ... III-75 Tabel 4.1 Rencana Kebutuhan dan Penambahan Perumahan di

Kabupaten Aceh Barat ... IV-5 Tabel 4.2 Rencana Pelayaran Air Limbah Kabupaten Aceh Barat ... IV-12 Tabel 4.3 Target Pelayanan Sampah Kabupaten Aceh Barat ... IV-17 Tabel 4.4 Proyeksi Kebutuhan Air Kabupaten Aceh Barat ... IV-23 Tabel 5.1 Hasil Survey Area Berisiko Tinggi dan Permasalahan Utama

Tahun 2010 ... V-1 Tabel 5.2 Klasifikasi Gampong di Kabupaten Aceh Barat ... V-3 Tabel 5.3 Tupoksi SKPK dan Bagian Humas Pemerintah Kabupaten

Aceh Barat ... V-13 Tabel 5.4 Hasil Survey Terhadap Ibu-ibu Tentang Jenis Media yang

Menjadi Sumber Informasi Paling Utama ... V-17 Tabel 5.5 Hasil Survey Terhadap Ibu-ibu Tentang Stasiun Televisi yang

Paling Sering Ditonton ... V-17 Tabel 5.6 Hasil Survey Terhadap Ibu-ibu Tentang Jenis Atau Program

Yang Paling Sering Ditonton ... V-18 Tabel 5.7 Hasil Survey Terhadap Ibu-ibu Tentang Seberapa Sering

Membaca Pengumuman Dipapan Pengumuman Desa/Gampong V-18 Tabel 5.8 Hasil Survey Terhadap Ibu-ibu Tentang Sumber Mendapatkan

Informasi Tentang Masalah Sanitasi (Sampah, Air Limbah,

Drainase dan Air Bersih) ... V-19 Tabel 5.9 Hasil Survey Terhadap Ibu-ibu Tentang Pertemuan yang

Paling Sering Diikuti di RT/RW/Gampong Tempat Tinggal ... V-19 Tabel 5.10 Hasil Survey Terhadap Ibu-ibu Tentang Penyuluhan Atau

Sosialisasi Yang Pernah Diikuti ... V-20

(8)

II-8

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Ketinggian Tanah Kabupaten Aceh Barat ... II -2 Gambar 2.2 Jenis Tanah Kabupaten Aceh Barat ... II -5 Gambar 2.3 Batas Administrasi Kabupaten Aceh Barat ... II -7 Gambar 2.4 Struktur Organisasi Badan Pengendalian Dampak Lingkungan

Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Aceh Barat ... II-30 Gambar 2.5 Struktur Organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Kabupaten Aceh Barat ... II-31 Gambar 2.6 Struktur Organisasi Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan

Daerah Kabupaten Aceh Barat ... II-32 Gambar 2.7 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat ... II-33 Gambar 3.1 Hasil Survey Pengunaan Jamban di Kabupaten Aceh Barat

Tahun 2010 ... III-6 Gambar 3.2 Hasil Survey Suspek Aman Penggunaan Jamban di Kabupaten

Aceh Barat Tahun 2010 ... III-7 Gambar 3.3 Hasil Survey Sumber Utama Air Minum di Kabupaten

Aceh Barat Tahun 2010 ... III-12 Gambar 3.4 Hasil Survey Tempat Pembuangan Tinja di Kabupaten

Aceh Barat Tahun 2010 ... III-15 Gambar 3.5 Hasil Survey Pembuangan Isi Septik Tank di Kabupaten

Aceh Barat Tahun 2010 ... III-16 Gambar 3.6 Hasil Survey Penerima Layanan Pengankutan Sampah di

Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010 ... III-23 Gambar 3.7 Hasil Survey Keberadaan Saluran Air Hujan di Kabupaten

Aceh Barat Tahun 2010 ... III-25 Gambar 3.8 Hasil Survey Kondisi Saluran Air Limbah Rumah Tangga

di Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010 ... III-26 Gambar 3.9 Hasil Survey Tumpukan Sampah di Saluran

di Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010 ... III-27 Gambar 3.10 Hasil Survey Kondisi Banjir di Kabupaten Aceh Barat ... III-28 Gambar 3.11 Hasil Survey Frekuensi Banjir di Kabupaten Aceh Barat ... III-29 Gambar 3.12 Hasil Survey Lama Air Akibat Banjir Mengering

di Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010 ... III-30 Gambar 3.13 Hasil Survey Tinggi Air yang Masuk Rumah Saat Banjir

di Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010 ... III-31 Gambar 3.14 Hasil Survey Tinggi Air Masuk Perkarangan

di Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010 ... III-32 Gambar 5.1 Peta Resiko EHRA di Kabupaten Aceh Barat

(Hasil Survey, 2010) ... V-8

(9)

II-9

BAB I PENDAHULUAN

1.4. Latar Belakang

Dalam salah satu misi pembangunan Aceh Barat (2007-2012) dinyatakan

“Meningkatkan kerjasama pembangunan dengan semua pihak terkait-dalam dan luar Negeri; dan memfasilitasi percepatan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh Barat pasca gempa, tsunami dan konflik dengan prioritas pembangunan pada bidang perumahan, sarana dan prasarana pemukiman, penerangan, Air Bersih dan Sanitasi, perhubungan (Jalan, jembatan, dan pelabuhan), ekonomi rakyat, pendidikan, kesehatan dan pranata sosial”,.

Dalam upaya mencapai segala aspek pembangunan tersebut di Kabupaten Aceh Barat telah dilaksanakan secara partisipatif, transparan dan akuntabel dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan pengertian dasar pembangunan yang berkelanjutan agar mekanisme pengelolaan, pemanfaatan semua sumber daya yang ada diharapkan nantinya akan bermuara kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mampu menjamin tetap terjaganya kualitas lingkungan yang memenuhi standar kehidupan.

Bertolak dari pemikiran tersebut, maka dalam pelaksanaan pembangunan Kabupaten Aceh Barat harus betul-betul memberikan perhatian lebih besar kepada program peningkatan kualitas lingkungan hidup dan sekaligus mengantisipasi tumbuh dan berkembangnya permasalahan sosial dan peningkatan kwalitas permukiman dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Satu diantara sekian masalah penting yang dijabarkan dalam RPJMD Aceh barat tersebut harus diprioritaskan dalam peningkatan kualitas lingkungan adalah pengelolaan sanitasi, baik sanitasi dalam kedudukan sebagai salah satu kegiatan sektoral yang menjadi bagian dari program pengelolaan lingkungan maupun sanitasi

(10)

II-10

sebagai bagian dari sistem pengembangan kawasan di wilayah permukiman. Sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan, peningkatan kualitas sanitasi di Kabupaten Aceh Barat lebih difokuskan kepada upaya peningkatan kualitas sanitasi yang berbasis masyarakat. Sedangkan sebagai subsistem pengembangan kawasan, peningkatan kualitas sanitasi di Kabupaten Aceh Barat difokuskan kepada penataan drainase lingkungan, pengelolaan persampahan dan dapat dicegahnya terkontaminasi air tanah dari limbah hasil kegiatan manusia khususnya di lingkungan pemukiman yang padat penduduk dan atau kawasan kumuh serta peningkatan kwalitas, kuantitas dan kontinyuitas penyediaan air minum bagi masyarakat.

Permasalahan sanitasi akan timbul seiring dengan aktifitas pembangunan yang meningkat dengan bertambahnya penduduk dan akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik. Hal ini akan menyebabkan adanya pencemaran lingkungan, menurunnya kualitas lingkungan dan estetika serta kemungkinan timbulnya penyakit sehingga merugikan masyarakat di sekitarnya.

1.5. Pengertian Dasar Sanitasi

Untuk pengertian dasar sanitasi ini memiliki beragam definisi yang menjelaskan hakikat dari sanitasi itu sendiri. Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor: 965/MENKES/SK/XI/1992 menyebutkan bahwa pengertian dari sanitasi adalah segala upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan.

Sanitasi itu sendiri merupakan perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia, sedangkan untuk pengertian dari sanitasi lingkungan, sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang

(11)

II-11

mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyedian air bersih dan sebagainya (Notoadmojo, 2003).

Pengertian dasar sanitasi Kabupaten Aceh Barat adalah sebagai berikut:

1. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water) yaitu air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk yang terbagi atas:

a. Blackwater adalah limbah rumah tangga yang bersumber dari WC dan urinoir.

b. Grey water adalah limbah rumah tangga non kakus yaitu buangan yang berasal dari kamar mandi, dapur (sisa makanan) dan tempat cuci.

2. Air buangan industri (industrial wastes water) yang berasal dari berbagai jenis industri akibat dari sebuah proses industri. Zat-zat yang terkandung di dalamnya sangat bervariasi antara lain: nitrogen, logam berat, zat pelarut dan sebagainya.

3. Air buangan kotapraja (municipal waster water) yaitu buangan yang berasal dari kawasan perkantoran, perdagangan, hotel dan restoran serta tempat-tempat ibadah dan sebagainya. Pada umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis limbah ini sama dengan air limbah rumah tangga. Karakteristik air limbah perlu dikenali, karena hal ini akan menentukan cara pengolahan yang tepat sehingga tidak mencemari lingkungan.

4. Penanganan persampahan atau limbah padat yaitu penanganan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, baik yang berasal dari kawasan permukiman, perkantoran, perdagangan, hotel/restoran dan tempat-tempat lain sebagainya yang ditampung melalui Tempat Penampungan Sampah Sementara dan diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Akhir.

5. Penanganan drainase wilayan perkotaan adalah memfungsikan saluran drainase sebagai penggelontor air kota dan selanjutnya diproses melalui wash water threatment plan yang akan memperbaiki kualitas air sebelum dibuang ke Krueng Meureubo.

(12)

II-12

6. Penyediaan air minum yang berkualitas, berkuantitas dan berkontinuitas dalam upaya pemerintah kota untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat baik melalui jaringan PDAM maupun non PDAM yang bersumber dari air permukaan maupun sumur dalam.

1.6. Maksud dan Tujuan Penyusunan Buku Putih A. Maksud

Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat ini merupakan Buku Induk terhadap rencana pengembangan pembangunan di bidang sanitasi dan menjadi dasar serta acuan terhadap semua pekerjaan sanitasi yang lebih terintegrasi dan terpadu secara berkesinambungan, karena buku putih sanitasi merupakan hasil kerja berbagai komponen SKPK dan lembaga lain yang terkait dengan sanitasi serta stakeholder yang mememiliki kepentingan terhadap masalah ini.

B. Tujuan

1. Mengidentifikasi keberhasilan dan kegagalan pembangunan sanitasi Kabupaten Aceh Barat dalam upaya untuk menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan.

2. Menjadikan Buku Putih sebagai pedoman penangganan dan pengembangan pembangunan sanitasi Kabupaten Aceh Barat, sehinga terdapat kesamaan pandang dari setiap pelaku pembangunan dalam penyusunan program pembangunan, pengendalian dan pengawasan dalam pembangunan sanitasi.

3. Menjamin terciptanya mekanisme pembangunan yang transparan, konsisten, partisipatif, berkeadilan dan akuntabilitas.

4. Terintegrasinya dan terkoordinasi dengan aspek-aspek perencanaan pembangunan lainnya.

(13)

II-13

1.7. Metode Penyusunan Buku Putih

Memperhatikan kondisi-kondisi yang mempengaruhi lingkup wilayah survei yang akan dilakukan, maka perlu disusunlah sebuah alur kerja dan metodologi yang tepat dan akurat. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh dalam hal ini meliputi:

1. Studi-studi terdahulu.

2. Diskusi terbatas dengan dinas teknis.

3. Wawancara dan kuisioner dengan warga dan tokoh masyarakat.

Sesuai dengan nature dari kegiatan-kegiatan tersebut, yang dalam hal ini saling terkait satu dengan yang lain, maka pendekatan dengan melakukan integrasi alur kegiatan dianggap optimal.

A. Input Awal:

Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat ini membutuhkan input data pendukung berupa:

- data sosial-ekonomi;

- topografi, geohidrologi dan geografi;

- data perencanaan tata ruang;

- perencanaan terkait lainnya.

Input-input tersebut diperlukan sebagai dasar dalam melakukan kegiatan analisis dalam tahap pelaksanaan pekerjaan.

B. Proses Studi :

Proses yang dilaksanakan dalam penyusunan dokumen ini dibagi ke dalam 6 kelompok kegiatan utama, yakni:

1. Analisis terhadap peningkatan pengelolaan limbah cair;

2. Analisis terhadap peningkatan pengelolaan persampahan;

(14)

II-14

3. Analisis terhadap peningkatan sistem jaringan drainase;

4. Analisis terhadap peningkatan air minum;

5. Analisis terhadap peningkatan komponen sanitasi lainnya;

6. Analisis terhadap peningkatan kelembagaan dan financial pengelolaan sanitasi Kabupaten Aceh Barat.

Penyusunan tahapan pekerjaan penyusunan dokumen sanitasi ini disesuaikan dengan kebutuhan pelaporan ini, dimana tujuan dari setiap tahapan adalah sebagai berikut:

(1) Tahap Persiapan dan Pengumpulan Data Awal (Reconnaissance Survei):

ditunjukkan untuk menyiapkan kerangka pelaksanaan kegiatan (berupa:

penyusunan dan pemantapan metodologi, persiapan survei, studi literatur) dan pengenalan awal cakupan wilayah.

(2) Tahap Pengumpulan Data: ditujukan untuk memperoleh data sekunder pelengkap maupun primer yang dibutuhkan dalam kegiatan ini baik berupa data statistik, proposal, laporan, foto dan peta.

(3) Tahap Analisis: ditujukan untuk menghasilkan perencanaan awal dan rekomendasi terhadap peningkatan aspek-aspek sanitasi yang ada di Kabupaten Aceh Barat .

(4) Tahap Kesimpulan dan Rekomendasi: ditujukan untuk melengkapi dokumen sesuai dengan hasil diskusi dan masukan dari berbagai pihak yang terlibat

1.8. Kedudukan Buku Putih

Buku Putih Sanitasi menyediakan data dasar yang esensial mengenai struktur, situasi dan kebutuhan sanitasi Kabupaten Aceh Barat. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat 2010 ini, diposisikan sebagai buku induk dan acuan perencanaan dan pengembangan pembangunan strategis sanitasi tingkat kota. Rencana pembangunan

(15)

II-15

sanitasi kota dikembangkan atas dasar permasalahan dan isu yang berkembang dengan tetap memperhatikan skala prioritas pembangunan yang dipaparkan dalam Buku Putih Sanitasi. Setiap tahun data yang ada, akan dibuat “Laporan Sanitasi Tahunan” yang merupakan gabungan antara laporan Tahunan SKPK Kabupaten Aceh Barat dan status proyek sanitasi. Laporan Sanitasi Tahunan menjadi Lampiran Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat 2010 dan setelah 5 tahun, semua informasi tersebut dirangkum dalam Revisi Buku Putih Sanitasi.

1.9. Sumber Data

Di dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat 2010 berlandaskan pada beberapa sumber data baik yang bersifat sekunder, persepsi SKPD dan data primer. Data Skunder berasal dari:

1. Buku Aceh Barat Dalam Angka yang dikeluarkan oleh BPS Kabupaten Aceh Barat tahun 2010.

2. Buku Produk Domestik Reginal Bruto (PDRB) Kabupaten Aceh Barat tahun 2008 dan 2009.

3. Buku Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kabupaten Aceh Barat tahun 2007-2011.

4. Buku Rencana Pembangunan Invenstasi Jangka Menengah (RPIJM) Kabupaten Aceh Barat tahun 2010-2014.

5. Buku Konsep Laporan Akhir Detail Engineering Design (DED) bidang Air limbah, persampahan dan air bersih kabupaten Aceh Barat tahun 2008.

6. Data-data survey dan data pelayanan dari Dinas Kesehatan, Badan Pengendali Dampak Lingkungan, Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Cipta Karya dan sumber Daya Air dan PDAM Tirta Meulaboh.

(16)

II-16

Penyusunan buku putih ini tidak menggunakan referensi buku Rencana Tata Ruang Wiayah (RTRW) Kabupaten Aceh Barat, karena dokumen tersebut masih bersifat draft dan belum dapat digunakan sebagai sumber referensi.

Sedangkan untuk data persepsi SKPK didapat dari hasil kesepakatan atas beberapa pertemuan kelompok Kerja (POKJA) sanitasi kabupaten Aceh Barat terhadap sektor air limbah, persampahan, jaringan drainase dan air minum.

Sementara untuk mendapatkan data primer akan dilakukan studi kesehatan lingkungan (EHRA-Environmental Health Risk Assesment) untuk memantau langsung kondisi sanitasi terkini di Kabupaten Aceh Barat.

1.10. Dasar Hukum Penyusunan

Di dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Barat 2010 berlandaskan pada beberapa peraturan perundang-undangan yang berlaku di tingkat nasional atau pusat, provinsi maupun daerah. Adapun peraturan perundang-undangan tersebut antara lain:

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang Hygiene;

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman;

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kabupaten Aceh Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4109);

5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

(17)

II-17

6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air;

7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421;

8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 ), sebagaimana telah diubah untuk yang kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844;

9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);

11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025;

12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;

13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;

(18)

II-18

14. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140);

15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimum (SPM);

16. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;

17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Anggaran Daerah;

24. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

25. Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor 2 Tahun 2008 Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRK Aceh Barat;

26. Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Dinas Kabupaten Aceh Barat;

27. Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Aceh Barat;

28. Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Kecamatan Kabupaten Aceh Barat;

29. Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Pelayanan Kesehatan;

30. Peraturan Bupati Kabupaten Aceh Barat Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Pokok- Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;

31. Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor 14 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Aceh Barat 2007- 2012;

(19)

II-19

32. Peraturan Bupati Kabupaten Aceh Barat No. 21a Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (Review) Kabupaten Aceh Barat 2007- 2012;

33. SE Mendagri Nomor 050/2020/SJ tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah;

(20)

II-20

1.11. Sistematika Dokumen

Buku Sanitasi Kabupaten Aceh Barat 2010, sistematikanya disusun sebagai berikut:

Bab 1 Pendahuluan

Berisikan latar belakang penulisan dan maksud serta tujuan penulisan dokumen sanitasi ini. Bab ini juga menguraikan metode penyusunan, kedudukan buku putih Kabupaten Aceh Barat dan dasar hukum yang menjadi pijakan hukum penulisan dokumen ini.

Bab 2 Gambaran Umum Kabupaten Aceh Barat

Menguraikan tentang kondisi administrasi, geografi, topografi, geohidrologi, kependudukan, sosial kemasyarakatan, kondisi kesehatan serta visi misi Kabupaten Aceh Barat. Pada bab ini juga turut diuraikan institusi dan organisasi pemerintah Kabupaten Aceh Barat yang terlibat langsung dalam penyusunan buku putih ini.

Bab 3 Profil Sanitasi Kabupaten Aceh Barat

Dalam bab ini dideskripsikan kondisi umum sanitasi, pengelolaan limbah cair, pengelolaan persampahan, pengelolaan drainase, penyediaan air bersih, dan komponen-komponen sanitasi lainnya serta pembiayaan pengelolaan sanitasi Kabupaten Aceh Barat.

Bab 4 Rencana Program Pengembangan Sanitasi

Visi dan misi sanitasi Kabupaten Aceh Barat, strategi penangganan sanitasi, rencana peningkaan pengelolaan limbah cair, rencana peningkatan pengelolaan persampahan, rencana peningkatan pengelolaan saluran drainase

(21)

II-21

lingkungan, rencana pembangunan penyediaan air minum, rencana peningkatan kampanye PHBS akan dibahas dalam bab 4 ini.

Bab 5 Indikasi Permasalahan dan Opsi Pengembangan Sanitasi Kabupaten Aceh Barat

Dalam bab 5 ini akan menguraikan arti pentingnya area beresiko tinggi dan permasalahan utama, opsi pengembangan sanitasi skala kota, media dan peningkatan kepedulian sosial dalam rangka PHBS, keterlibatan sektor swasta dalam layanan sanitasi serta sub sektor limbah cair domestik.

Bab 6 Kesimpulan dan Rekomendasi

Dalm bab terakhir ini berisikan kesimpulan dan rekomendasi yang akan menentukan arah pembangunan santasi Kabupaten Aceh Barat.

(22)

II-22

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN

Secara geografis Kabupaten Aceh Barat berada pada bagian pesisir Barat dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dengan bentuk topografi daerah pegunungan dibagian utara yang merupakan rangkaian dari Bukit Barisan yang termasuk dalam Ekosistem Leuser, serta dataran rendah dan pesisir pantai dibagian Selatan.

Berdasarkan kedudukan dan letak wilayah Kabupaten Aceh Barat yang diapit oleh Pegunungan Bukit Barisan dan Samudera Indonesia, Kabupaten Aceh Barat mempunyai posisi yang sangat strategis dan berpeluang dalam pengembangan bidang ekonomi, industri, perdagangan dan jasa.

2.1. Topografis, Geografis dan Geohidrologi

2.1.1 Topografi

Secara topografis, sebagian besar desa-desa yang ada di Kabupaten Aceh Barat merupakan wilayah dataran yaitu berjumlah 322 desa. Sisanya merupakan wilayah pantai, lembah dan lereng. Sedangkan kecamatan yang berbatasan langsung dengan lautan Samudera Indonesia ada empat kecamatan yaitu Kecamatan Johan Pahlawan, Kecamatan Meureubo, Kecamatan Samatiga dan Kecamatan Arongan Lambalek.

Kondisi topografi di Kabupaten Aceh Barat dinilai berdasarkan ketinggian dan kelerengan lahan. Sebagian wilayah daratan Kabupaten Aceh Barat berada pada ketinggian 0-500 meter DPL (Diatas Permukaan Laut) dan sebagian lagi berada pada ketinggian 500-1500 meter DPL dan > 1500 meter DPL. Kecamatan yang berada pada ketinggian 500 - 1500 meter DPL adalah Kecamatan Kaway XVI dan Kecamatan

(23)

II-23

Sungai Mas. Untuk lebih jelas mengenai sebaran berdasarkan ketinggian tanah Kabupaten Aceh Barat dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Ketinggian Tanah Kabupaten Aceh Barat

Berdasarkan kajian lereng yang ada, maka dapat dikatakan bahwa Kabupaten Aceh Barat memiliki lahan yang sesuai untuk pengembangan wilayah karena hampir sebagian wilayahnya memiliki sudut lereng berkisar antara 0 s/d 25% dengan luas 94.626 Ha atau 32,32% dari luas keseluruhan, sedangkan kemiringan yang relatif sedikit adalah kelas kemiringan diatas 1500 hanya seluas 330 Ha atau 0,11%. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2.1 mengenai Luas Lahan berdasarkan Kelas Kemiringan Kabupaten Aceh Barat.

(24)

II-24

Tabel 2.1 Luas Lahan berdasarkan Kelas Kemiringan Kabupaten Aceh Barat

No Kelas Kemiringan Luas (Ha) Persen (%)

1 0 – 25 94.626 32,32

2 25 – 100 70.319 24,02

3 100 – 500 62.439 21,33

4 500 – 1000 51.520 17,60

5 1000 – 1500 13.561 4,63

6 > 1500 330 0,11

Jumlah 292.795 100,00

Sumber: RTRW Kabupaten Aceh Barat, 2008.

Suhu udara rata-rata di Kabupaten Aceh Barat 26,3°C, suhu minimum mencapai 19,9°C, terjadi pada bulan Agustus, Sedangkan suhu maksimum mencapai 30,9°C, terjadi pada bulan Pebruari, Juni, dan Juli. Tingkat curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember mencapai 548,9 mm. Curah hujan terendah pada umumnya terjadi pada Juli mencapai 94,1 mm. Rata-rata lamanya penyinaran matahari minimum terjadi bulan Juli yaitu 44 jam dan penyinaran maksimum 80 jam pada Januari.

2.1.2. Hidrologi

Kondisi fisik Kabupaten Aceh Barat sebagian besar terdiri dari daerah perbukitan, dimana sekitar 20% dari wilayahnya merupakan dataran pesisir pantai yang berada pada ketinggian dibawah 10 meter dari permukaan laut. Kota Meulaboh yang berada dipesisir pantai Barat mencakup Kecamatan Johan Pahlawan dan Kecamatan Meurebo. Kedua kota tersebut merupakan wilayah yang paling padat penduduknya yakni sebesar 62.696 jiwa yang seluruh wilayahnya berada di bawah ketinggian 10 meter DPL. Sehingga menyebabkan sebagian besar kawasan

(25)

II-25

perkotaannya merupakan daerah rawan terhadap banjir, khususnya apabila ada banjir dari daerah hulu, pasang air laut, dan curah hujan yang lebat.

2.1.3 Geologi dan Jenis Tanah

Kabupaten Aceh Barat berada diantara dua patahan (sebelah Timur-Utara dan sebelah Barat-Selatan Kota) dan berada pada pertemuan Plate Euroasia dan Australia berjarak ± 130 km dari garis pantai barat sehingga kabupaten ini rawan terhadap tsunami.

Untuk lebih jelas mengenai luas berdasarkan jenis tanah di Kabupaten Aceh Barat dapat diliha pada Tabel 2.2 dan Gambar 2.3.

Tabel 2.2. Jenis Tanah di Kabupaten Aceh Barat

No Jenis Tanah Luas Persen (%)

1 Regosol 42.508 14,52

2 Organosol 69.489 23,73

3 Renzina 28.836 9,85

4 Alluvial 75.504 25,79

5 Kom PMK1 67.530 23,06

6 Kom PMK3 3.711 1,27

7 lain-lain 5.217 1,78

Jumlah 292.795 100,00

Sumber: RTRW Kabupaten Aceh Barat, 2008.

Sedangkan jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Aceh Barat terdiri dari jenis tanah Regosol Organosol Renzina Alluvial Kom PMK1 Kom PMK3 lain-lain. Jenis tanah Alluvial merupakan jenis tanah yang terluas di Kabupaten Aceh Barat yaitu seluas 75.504 atau 25,79% dari luas keseluruhan Kabupaten Aceh Barat yang

(26)

II-26

persebarannya meliputi sebagian Kecamatan Woyla, sebagian Kecamatan Woyla Timur, sebagian Kecamatan Pante Ceureumen dan sebagian Kecamatan Kaway XVI dan Kecamatan Panteun Reu, jenis tanah Organosol dengan 69.489 Ha atau 23,73 merupakan jenis tanah yang terluas kedua di Kabupaten Aceh Barat, jenis tanah ini persebarannya ada di sebagian Kecamatan Woyla Barat, sebagian Kecamatan Kaway XVI dan sebagian Kecamatan Meurebo.

2.2.4 Tekstur dan Kedalaman Efektif Tanah

Berdasarkan dari jenis-jenis tanah yang ada di Kabupaten Aceh Barat, maka sangat memungkinkan untuk pengembangan perkebunan, pertanian tanaman pangan, hortikultura dan budidaya perikanan sebagai aset untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.

Gambar 2.2. Jenis Tanah Kabupaten Aceh Barat

(27)

II-27

Potensi lahan sesuai dengan yang telah diuraikan di atas akan berpengaruh terhadap jenis tanaman yang mungkin dikembangkan untuk dibudidayakan, serta dapat digunakan sebagai data untuk kepentingan perencanaan pembangunan secara makro.

Kondisi kedalaman efektif tanah akan mempengaruhi jumlah kandungan air tanah yang terkandung di dalamnya. Kedalaman efektif tanah di Kabupaten Aceh Barat terjangkau pada kedalaman > 90 cm dan merata hampir di seluruh kecamatan.

Jangkauan pada kedalaman 60-90 cm hanya terdapat di Kecamatan Kaway XVI dan Kecamatan Sungai Mas.

2.2. Administratif

Kabupaten Aceh Barat dengan luas wilayahnya 2.927,95 Km2 atau 292.795,00 Ha, tertetak antara 2O – 5O16 Lintang Utara dan 95° - 97O10’ Bujur Timur yang batas- batasnya sebagai berikut:

• Sebelah Utara : Kabupaten Pidie

• Sebelah Selatan : Samudera Indonesia

• Sebelah Barat : Kabupaten Nagan Raya

• Sebelah Timur : Kabupaten Aceh Jaya

Kabupaten Aceh Barat terdiri atas 32 mukim, 322 desa dan 12 kecamatan antara lain yaitu Kecamatan Johan Pahlawan, Kecamatan Samatiga, Kecamatan Bubon, Kecamatan Arongan Lambalek, Kecamatan Woyla, Kecamatan Woyla Barat, Kecamatan Woyta Timur, Kecamatan Kaway XVI, Kecamatan Meureubo, Kecamatan Pante Ceureumeun, Kecamatan Sungai Mas, dan Kecamatan Panteun Reu.

Kecamatan Panteun Reu merupakan kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Kaway XVI pada Januari 2008.

(28)

II-28 SAM

UDER A INDO

NESIA

96º00’ 96º10’ 96º20’

4º404º304º204º10

96º00’ 96º10’ 96º20’

95º50’

4º404º304º204º10

95º50’

Samatiga Woyla

Pante Ceureumen Sungai Mas

Arongan Lambalek

Kaway XVI Woyla Timur

Woyla Barat

Meureubo Johan

Pahlawan

Panthon Reu

Bubon Tangkeh

Kajeung

Arongan

Suak Timah

Keude Aron Kuala Bhee

Padi Mali

Layung

Meureubo MEULABOH

Pante Ceureumen Meutulang

0 5 10 20 Km

Kabupaten Pidie

Kabupaten Aceh Jaya

Kabupaten Nagan Raya

Gambar 2.3. Batas Administrasi Kabupaten Aceh Barat

Kecamatan Sungai Mas merupakan kecamatan terluas yaitu 781,73 Km2 (78.173 Ha) atau 26,70% dari luas Kabupaten Aceh Barat keseluruhan, selanjutnya Kecamatan Kaway XVI yaitu seluas 510,18 Km2 (51.018 Ha) atau 17,42%, sedangkan kecamatan terkecil adalah Kecamatan Johan Pahlawan yang hanya 44,91 Km2 (449.100 Ha) luasaanya atau 1,53 % dari luas keseluruhan Kabupaten Aceh Barat diikuti oleh Kecamatan Panteun Reu 83,04 Km2 (8.304 Ha) atau 2,84 %.

(29)

II-29

Untuk jelasnya luas wilayah dirinci perkecamatan dalam Kabupaten Aceh Barat dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3. Luas Wilayah Dirinci Per Kecamatan di Kabupaten Aceh Barat Tahun 2008.

No Kecamatan Mukim Desa Luas Wilayah

(KM2) %

1 Johan Pahlawan - 21 44,91 1,53

2 Samatiga 6 32 140,69 4,81

3 Bubon 3 17 129,58 4,43

4 Arongan Lambalek 2 27 130,06 4,44

5 Woyla 3 43 249,04 8,51

6 Woyla Barat 2 24 123,00 4,20

7 Woyla Timur 2 26 132,60 4,53

8 Kaway XVI 4 44 510,18 17,42

9 Meureubo 2 26 112,87 3,85

10 Pante Ceureumen 4 25 490,25 16,74

11 Sungai Mas 2 18 781,73 26,70

12 Panthon Reu 2 19 83,04 2,84

Jumlah 32 322 2.927,95 100,00

Sumber: Aceh Barat Dalam Angka, 2009.

2.3 Kependudukan

Jumlah penduduk Kabupaten Aceh Barat tahun 2008 berjumlah 182.565 jiwa.

Penduduk dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 91.333 jiwa dan perempuan 91.232 jiwa.

Jika dilihat jumlah penduduk perkecamatan, maka Kecamatan Johan Pahlawan merupakan jumlah yang tertinggi penduduknya dibandingkan dengan kecamatan- kecamatan lain yaitu sebesar 66.350 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 15.321 rumah tangga. Hal ini dikarenakan kecamatan Johan Pahlwan merupakan tempat berlokasinya Ibu Kota Kabupaten Aceh Barat yaitu Kota Meulaboh. Sedangkan jumlah penduduk perkecamatan yang terkecil jumlah penduduk yaitu Kecamatan Panteun Reu sebesar 3.552 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 901 rumah

(30)

II-30

tangga, kecamatan ini merupakan kecamatan pemekaran dari Kecamatan Kaway XVI sebagai kecamatan induknya.

Tabel berikut menyajikan jumlah penduduk di empat kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Barat selama kurun waktu 2003 sampai dengan 2008.

Tabel 2.4. Keadaan dan Perkembangan Penduduk Kabupaten Aceh Barat Tahun 2003 s/d 2008.

No Kecamatan 2003 2004 2005 2006 2007 2008

1 Johan Pahlawan 43.349 43.782 44.220 45.897 46.723 66.350 2 Samatiga 14.599 14.745 14.892 15.105 15.377 14.850 3 Kaway XVI 21.030 21.240 21.453 23.016 23.430 21.014 4 Meureubo 10.936 11.045 11.156 17.638 17.955 18.429

Sumber: BPS Kabupaten Aceh Barat, 2004-2009.

Dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 1,018% pertahun selama periode 1996-2006 (Aceh Barat Dalam Angka 2006, BPS) kecuali pada tahun 2008 tercatat pertembuhan penduduk yang tidak normal yaitu mencaai 16,03%, sehingga dalam perhitungan berikutnya, tahun pertumbuhan ektrim ini tidak diperhitungkan dan diasumsikan kedepan tidak mengalami dinamika penduduk yang cukup extreeme, maka jumlah penduduk Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2012 akan mencapai 192.966 jiwa.

Tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2008 secara rata-rata adalah 166 jiwa/km2. Namun distribusi penduduk di masing-masing kecamatan relatif tidak merata. Kecamatan Johan Pahlawan merupakan wilayah yang paling padat penduduknya, yaitu rata-rata mencapai 1.477 jiwa/Km2. Sementara di Kecamatan Meureubo, Samatiga dan Kaway XVI masing-masing hanya didiami oleh 186 jiwa, 106 jiwa dan 43 jiwa per kilometer persegi.

(31)

II-31

Oleh karena itu, dengan proyeksi penduduk Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2012 mencapai 192.966 jiwa, diperkirakan konsentrasi penduduk akan semakin lebih besar di Kecamatan Johan Pahlawan, kondisi ini berlaku apabila tidak diikuti oleh pengembangan permukiman dan pengembangan aktifitas-aktifitas ekonomi ke wilayah- wilayah luar kecamatan Johan Pahlawan.

Tabel 2.5. Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Barat Tahun 2009-2012.

No. T a h u n Jumlah (Jiwa)

1.

2.

3.

4.

2009 2010 2011 2012

185.851 187.710 189.587 192.966

Pertumbuhan Rata-rata (%) 1,018

Sumber: BPS Kabupaten Aceh Barat, diolah, 2009.

Tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2008 secara rata-rata adalah 166 jiwa/km2. Namun distribusi penduduk di masing-masing kecamatan relatif tidak merata. Kecamatan Johan Pahlawan merupakan wilayah yang paling padat penduduknya, yaitu rata-rata mencapai 1.477 jiwa/Km2. Sementara di Kecamatan Meureubo, Samatiga dan Kaway XVI masing-masing hanya didiami oleh 186 jiwa, 106 jiwa dan 43 jiwa per kilometer persegi.

Oleh karena itu, dengan proyeksi penduduk Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2012 mencapai 192.966 jiwa, diperkirakan konsentrasi penduduk akan semakin lebih besar di Kecamatan Johan Pahlawan, kondisi ini berlaku apabila tidak diikuti oleh pengembangan permukiman dan pengembangan aktifitas-aktifitas ekonomi ke wilayah- wilayah luar kecamatan Johan Pahlawan.

(32)

II-32

Tabel 2.6. Tingkat Kepadatan Penduduk Di Kabupaten Aceh Barat Tahun 2008.

No. Kecamatan

Jumlah Penduduk

(Jiwa)

Luas Wilayah

(Km2)

Rata2 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 1.

2.

3.

4.

Johan Pahlawan Meureubo Kaway XVI Samatiga

66.350 21.014 18.429 14.850

44,91 112,87 427,029

140,69

1.477 186

43 106

Kabupaten Aceh Barat 120.643 725,499 166

Sumber: BPS Kabupaten Aceh Barat, 2009.

2.3.1 Proporsi Penduduk Menurut Umur

Distribusi penduduk berdasarkan kelompok usia di Kabupaten Aceh Barat didominasi oleh penduduk usia kerja produktif yaitu usia antara 15-59 tahun dengan jumlah 101.913 jiwa atau 66,48% dari total penduduk berdasarkan usia di Kabupaten Aceh Barat. Untuk lebih jelasnya, komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Usia Sekolah, Usia Produktif dan Usia Tua Kabupaten Aceh Barat Tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.7 dibawah ini.

Tabel 2.7. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Usia Sekolah, Usia Produktif dan Usia Tua Kabupaten Aceh Barat Tahun 2007.

No Kelompok Usia Laki-Laki (Jiwa)

Perempuan (Jiwa)

Jumlah (Jiwa)

Presentase (%)

1 Usia Sekolah 21.214 20.515 41.729 27,22

2 Usia Produktif 52.161 49.752 101.913 66,48

3 Usia Tua 4.816 4.836 9.652 6,30

Jumlah 78.191 75.103 153.294 100.00

Sumber : Aceh Barat Dalam Angka, 2008

Dominasi penduduk adalah penduduk usia produktif, pada Tahun 2007 Kabupaten Aceh Barat jumlah penduduk usia produktif sebesar 101.913 jiwa atau

(33)

II-33

66,48%, terbesar kedua penduduk usia sekolah sebesar 41.729 jiwa atau sebesar 27,22% sedangkan kelompok usia tua merupakan jumlah terkecil persentasenya yaitu sebesar 6,30% atau sebesar 9.652 jiwa.

2.3.2 Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Jumlah penduduk menurut mata pencaharian Kabupaten Aceh Barat Tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.8 berikut ini:

Tabel 2. 8. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian Kabupaten Aceh Barat Tahun 2007.

No Mata Pencaharian Pekerja (Jiwa) Persen (%)

1 Petani 45.199 29,49

2 Nelayan 2.391 1,56

3 Pengrajin/Industri Kecil 1.238 0,81

4 Buruh Industri 3.203 2,09

5 Buruh Bangunan 133 0,09

6 Pedagang 43.729 28,53

7 Pengangkutan 182 0,12

8 PNS / ABRI 42.986 28,04

9 Peternak 2.798 1,83

10 Honorer 1.606 1,05

11 Jasa 690 0,45

12 Lain-lain 9.139 5,96

Jumlah 153.294 100.00

Sumber: Aceh Barat Dalam Angka 2008.

Penduduk di Kabupaten Aceh Barat sebagian besar bekerja di sektor pertanian, dimana penduduk yang bermata pencaharian ini menyerap tenaga kerja sebesar 29,49

% atau 45.199 jiwa pada tahun 2007, pedagang sebesar 28,53 % dengan jumlah pekerja sebesar 43.729 jiwa dan diikuti oleh PNS/ABRI sebesar 28,04 % atau 42.986 jiwa. Sedangkan jenis mata pencaharian yang relatif sedikit jumlah pemintanya di

(34)

II-34

Kabupaten Aceh Barat adalah penduduk yang bermata pencaharian buruh bangunan dan pengangkutan yaitu masing-masing sebesar 0,09% dan 0,12%.

2.3.3. Keluarga Pra sejahtera (Keluarga Miskin)

Jumlah penduduk pra-sejahtera sebesar 23,76% dari total penduduk di Aceh Barat atau sebesar 9.996 kepala keluarga. Kecamatan yang dihuni oleh keluarga miskin paling besar adalah Kecamatan Panteun Reu (90,06% dari total penduduknya) dan Kecamatan dengan basis penduduk miskin terkecil adalah kecamatan Samatiga (6,33%), sedangkan Kecamatan Johan Pahlawan sebagai ibukota kabupaten memiliki distribusi kantong kemiskinan sebesar 17,36%.

Tabel 2. 9. Jumlah Keluarga Prasejahtera (Miskin) Kabupaten Aceh Barat Tahun 2008.

Kecamatan Jumlah KK KK Prasejahtera

Jumlah (KK) Persentase (%)

Johan Pahlawan 12.297 2.135 17,36

Samatiga 4.032 264 6,55

Bubon 1.506 250 16,6

Arongan Lambalek 2.992 1.083 36,2

Woyla 3.244 1.334 41,12

Woyla Barat 1.878 570 30,35

Woyla Timur 1.131 573 50,66

Kaway XVI 4.793 1.017 21,22

Meureubo 4.500 559 12,42

Pante Ceureumen 2.444 475 19,44

Sungai Mas 1.668 304 18,23

Panton Reu 1.590 1.432 90,06

JUMLAH 42.075 9.996 23,76

Sumber: Aceh Barat Dalam Angka, 2009.

2.3.4. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Jumlah penduduk Kabupaten Aceh Barat hasil SPAN tahun 2005 adalah 150.450 orang, Sebagian besar Penduduk bertempat tinggal di pedesaan dan sebagian dari mereka adalah perempuan. Akan tetapi saat ini peranan perempuan

(35)

II-35

semakin kecil terutama dalam bidang politik dan kebijakan publik. Disamping itu kurang sekali kesempatan yang diberikan kepada perempuan untuk berperan sebagai pemimpin di pedesaan, kecamatan dan di tingkat kabupaten.

Jikapun ada perempuan yang berkiprah dalam bidang pemerintahan hanya ada sedikit saja. Fenomena tersebut sudah berlangsung lama di Indonesia maupun di Aceh. Bagaimanapun perempuan masih menyimpan potensi alam berbagai bidang, seperti bidang politik dan ekonomi. Namun demikian perempuan banyak yang berkiprah dalam bidang pendidikan. Banyak perempuan Aceh lebih tertarik untuk menjadi guru karena sebagai pendidik tidak banyak masalah dibanding dalam bidang politik.

Saat ini masih banyak terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam rumah tangga. Pelanggaran hak asasi perempuan dan anak dalam rumah tangga masih sering terjadi di Aceh, terutama di daerah pedesaan. Fenomena tersebut erat kaitannya dengan tingkat pendidikan mereka yang rata-rata tingkat pendidikannya rendah. Demikian pula halnya dengan eksploitasi terhadap perempuan dan anak.

Walaupun persoalan ini di Aceh masih sedikit, jika tidak ada perhatian dari pemerintah maka eksploitasi terhadap perempuan akan tetap terjadi.

Persoalan perempuan merupakan hal yang sangat fundamental untuk diselesaikan dengan memberikan hak yang sama dengan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Status perempuan hendaknya diangkat sedemikian rupa sehingga sederajat dengan laki-laki. Namun demikian kesederajatan antara laki-laki dan perempuan diukur dengan tingkat kecerdasan, intelektual dan ketrampilan disamping hal-hal yang sifatnya kodrati.

Perempuan selain bekerja dalam bidang publik dan secara kodrati harus melahirkan. Namun demikian pengakuan terhadap status dan kesederajatan laki-laki dan perempuan hendaknya disamakan agar tidak terjadi diskriminasi dalam kebijakan politik, ekonomi maupun hal-hal lain. Oleh karena itu pemerintah perlu memberikan

(36)

II-36

kesempatan yang sama terhadap perempuan sehingga tidak terjadi diskriminasi dalam keselarasan kehidupan bernegara.

2.4. Pendidikan

Berdasarkan Undang-undang N0. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh, Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan peraturan pemerintah No-19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional tahun 2005-2009, maka arah pembangunan pendidikan Kabupaten Aceh Barat sejalan dengan program pendidikan nasional yang memiliki karakteristik sesuai dengan Syariat Islam yang berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

2.4.1. Akses dan Pemerataan Pendidikan

Berdasarkan Angka Partisipasi Kasar tahun 2006/2007 ternyata yang tertinggi ditingkat SD yaitu 118,165 % dan yang terendah ditingkat SMA yaitu 67,61 %.

Sedangkan Angka Partisipasi Murni untuk SD mencapai 90.45 % dan tingkat SMA baru mencapai 53,06 % maka dengan demikian program Perluasan Akses dan Pemerataan Pendidikan masih menjadi prioritas dalam rangka penuntasan wajib belajar sembilan tahun pada akhir tahun 2009.

Perluasan akses pendidikan lebih dititikberatkan pada tingkat SMP dengan harapan setiap kemukiman memilki satu unit SMP/MTS pada kahir tahun 2009.

Perluasan akses untuk tingkat SMA diharapkan pada akhir tahun 2008 setiap kecamatan telah memiliki satu unit SMA yang presentatif, sedangkan untuk usaha penurunan angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan maka pada akhir tahun 2010 diharapkan setiap kecamatan memiliki SMK yang representatif sesuai dengan potensi wilayah.

(37)

II-37

Jumlah bangunan sekolah yang rusak karena dibakar oleh orang tak dikenal ada masa konflik mencapai 84 unit di Kabupaten Aceh Barat. Kerusakan fisik bangunan tersebut juga diikuti oleh musnahnya peralatan-peralatan penunjang kegiatan belajar mengajar lainnya. Rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pendidikan yang rusak akibat konflik tersebut telah mencapai 75% pada pertengahan Desember 2004.

2.4.2. Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan

Peningkatan mutu pendidikan secara totalitas dalam rangka memenuhi tuntutan globalisasi yang mengarah kepada standarisasi sekolah mulai dari standar kecamatan, kabupaten, provinsi, nasional dan standar internasional. Peningkatan mutu lebih dititikberatkan pada sertifikasi guru, sebanyak 1.333 orang yang telah memenuhi persyaratan untuk ikut uji kompetisi, sedangkan 1.512 orang lagi belum memenuhi syarat karena belum menyelesaikan pendidikan sarjana (S1). Maka bagi mereka harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (S1) dan ini diharapkan tuntas pada tahun 2009. Peningkatan sarana penunjang lainnya seiring dengan perkembangan kemajuan pembagunan sector peningkatan mutu.

Kualifikasi guru berpendidikan D4/S1/S2 yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan hanya sebesar 34,47% yang berpendidikan S1, sementara 65,53% lainnya adalah guru yang berpendidikan dibawah S1/D4. Sementara Departemen Agama hanya memiliki 23,00% guru berpendidikan S1/D4 sedangkan 77,00% lagi hanya berpendidikan D3/D2 dan bahkan lebih rendah lagi. Melihat kenyataan tersebut, perlu diupayakan secepatnya peningkatan kualifikasi guru ke jenjang S1/D4 dan pelatihanpelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru. Hal lain yang perlu dilakukan adalah distribusi yang merata sampai ke daerah-daerah terpencil sehingga guru-guru yang telah ada tidak lagi terkonsentrasi di daerah perkotaan.

(38)

II-38

2.5. Kesehatan

Pasca bencana alam berupa gempa dan gelombang tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu kini memberi pengaruh yang besar terhadap perubahan gambaran status kesehatan masyarakat Kabupaten Aceh Barat, walaupun belum ada suatu laporan audentik tentang dampak bencana alam tersebut terhadap status kesehatan masyarakat. Untuk menggambarkan status kesehatan masyarakat Kabupaten Aceh Barat ada baiknya juga digambarkan situasi kesehatan sebelum bencana terjadi dan dibandingkan dengan keadaan setelah bencana terjadi.

2.5.1. Kondisi Kesehatan Masyarakat.

Secara umum isu kesehatan masyarakat di Kabupaten Aceh Barat dapat dilihat dari sisi persoalan kesehatan yang dialami masyarkat (Health Problem) dan persoalan yang dialami oleh pengendalian pelayanan kesehatan (Health Service Problem) yaitu penyedia pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Puskesmas, Polindes, Posyandu, Gudang Farmasi, Balai Pengawasan Obat dan Makanan unit pelayanan kesehatan swasta dan LSM lainnya dari sisi persoalan kesehatan yang dialami masyarakat berupa dampak konplik yang berkepanjangan, gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Aceh Barat dalam konteks persoalan kesehatan di masyarakat Kabupaten Aceh Barat, setidaknya terdapat 10 isu kesehatan utama masyarakat adalah:

1) Kesehatan Ibu dan Anak;

2) Status Gizi;

3) Malaria;

4) TBC;

5) Diare;

6) ISPA dan Phemonia;

7) Demam berdarah;

(39)

II-39

8) Lepra;

9) Infeksi kulit dan;

10) Kesehatan Jiwa.

Sedangkan dari sisi penyediaan pelayanan kesehatan, persoalan prioritas yang harus ditangani dalam lima kelompok permasalahan yaitu:

a. Kebijakan reformasi dan penentuan kembali sistem kesehatan.

b. Perencanaan dan pembiayaan kesehatan.

c. Sumber Daya Manusia (SDM).

d. Fasilitas peralatan kesehatan dan kelengkapan medis.

e. Penyediaan pelayanan (Service Delivery) kesehatan kepada masyarakat.

2.5.2. Pembiayaan Kesehatan

Secara umum, sumber pembiayaan kesehatan Aceh dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yakni:1) Pembiayaan Pemerintah; 2) Pembiayaan bersumber dari lembaga pemberi bantuan/donor; dan 3) Pembiayaan rumah tangga dan sektor swasta. Diharapkan pemerintah daerah memprioritaskan tujuan investasi di sektor kesehatan dalam jangka pendek yakni menghindari economic loss akibat penyakit dan kematian, dan tujuan investasi jangka panjang yakni human capital investment untuk pencapaian Millenium Development Goals. Diharapkan pula dengan memegang prinsip ini, alokasi anggaran pemerintah terhadap sector kesehatan akan meningkat sesuai keberadaan Undang-undang Pemerintahan Aceh sehingga upaya kesehatan seluruh masyarakat Aceh Barat mampu menjangkau layanan kesehatan yang lebih baik.

(40)

II-40

2.5.3. Fasilitas Kesehatan

Sebagian besar kecamatan di Kabupaten Aceh Barat telah terlayani kesehatannya. Hal ini terlihat dari sebaran sarana kesehatan (Puskesmas) yang telah ada di setiap kecamatan kecuali Kecamatan Woyla Timur, yang memang merupakan kecamatan baru. Namun di kecamatan tersebut juga telah dilaksanakan pembangunannya. Disamping itu terdapat juga Puskesmas Pembantu yang jumlahnya bervariasi untuk tiap kecamatannya. Kecamatan yang memiliki Puskesmas Pembantu paling banyak adalah Kecamatan Kaway XVI.

2.6. Sosial Masyarakat

Kondisi kultur masyarakat di Kabupaten Aceh Barat terdiri dari beberapa sub etnis (suku bangsa) namun budaya Aceh lebih dominan mengakulturasi budaya masyarakat yang ada di Kabupaten Aceh Barat, budaya Aceh identik dengan Agama Islam sehingga Islam menjadi sendi kehidupan bermasyarakat, bernegara dan segala aspek kehidupan lainnya.

Sistem kekerabatan di Kabupaten Aceh adalah system keluarga luas, garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral yang memperhitungkan garis keturunan dari ayah dan dari ibu. Hal tersebut hingga terimplimentasikan hingga kepada konsep perkawinan yang sering dilakukan antara sesame kerabat baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, sehingga diperkampungan Aceh tidak jarang kita melihat hubungan kekerabatan yang begitu besar dan luas.

Masih besarnya penduduk miskin yang berada dibawah garis kemiskinan disebabkan oleh beberapa aspek yaitu kemiskinan struktural, konflik yang berkepanjangan, krisis ekonomi, musibah bencana gernpa bumi dan tsunami juga ditambah dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri berpotensi menambah jumlah masyarakat miskin.

(41)

II-41

Upaya penanggulangan kemiskinan difokuskan pada: Pertama, perluasan akses masyarakat miskin terhadap pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, dan kesempatan memperoleh pekerjaan dan berusaha. Kedua, upaya penanggulangan kemiskinan memerlukan upaya yang bersifat pemberdayaan.

Upaya pemberdayaan masyarakat miskin menjadi penting karena akan menempatkan mereka bukan sebagai obyek melainkan subyek berbagai upaya penanggulangan kemiskinan. Untuk meningkatkan posisi tawar masyarakat miskin, diperlukan berbagai upaya pemberdayaan agar masyarakat miskin lebih berkesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.

Selain itu diperlukan upaya pemberdayaan agar masyarakat miskin dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi sehingga mengubah pandangan terhadap masyarakat miskin dari beban (liabilities) menjadi potensi (assets). Berbagai proses pemenuhan kebutuhan dasar dan pemberdayaan tersebut di atas perlu didukung oleh perbaikan sistem bantuan dan jaminan sosial serta kebijakan ekonomi yang pro-poor termasuk tata kelola pemerintahan yang baik.

Beberapa masalah pokok yang dihadapi oleh masyarakat miskin antara lain sebagai berikut: Pertama, rendahnya kemampuan daya beli dan kesadaran masyarakat akan pangan dengan gizi yang layak yang merupakan persoalan utama bagi masyarakat miskin. Kedua, terbatasnya akses atas kebutuhan dasar terutama pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar. Selama ini kelompok masyarakat miskin dihadapkan pada masalah tingginya biaya pendidikan, oleh karena itu telah menyebabkan tingginya angka putus sekolah.

Hal ini masih terjadi terutama pada jenjang pendidikan menengah, karena alasan anak harus membantu orang tua mencari nafkah. Kelompok masyarakat miskin juga dihadapkan pada mahalnya biaya pengobatan dan perawatan, jauhnya tempat pelayanan kesehatan, dan rendahnya jaminan kesehatan. Ketiga, masih minimnya penanganan dibidang kesejahteraan sosial, baik ditingkat perorangan, keluarga

(42)

II-42

maupun kelompok masyarakat. Perlindungan sosial bagi masyarakat miskin, khususnya fakir miskin dan PMKS, diperlukan agar mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri dan dapat mengakses sistem pelayanan social dasar, penyandang cacat, anak terlantar, anak korban penyalahgunaan NAPZA, gelandangan dan wanita rawan social ekonomi. Kelima, belum adanya rasa aman terhadap masyarakat yang tertimpa bencana, serta terjaminnya ketersediaan bantuan dan relokasi korban dalam situasi darurat sehingga dapat mengurangi penderitaan masyarakat yang terkena bencana.

Fenomena ini merupakan realitas yang harus mandapat perhatian serius dalam program pembangunan tahun 2007. Pembangunan diselenggarakan secara holistik yang memiliki keterkaitan (linkages) yang signifikan dengan kegiatan sektoral melalu pendekatan multiplayer effect dengan membuat skala prioritas dari kegiatan yang dapat meningkatkan kehidupan sosial ekonomi kemasyarakatan. Penduduk miskin yang umumnya berpendidikan rendah harus bekerja apa saja untuk mempertahankan hidupnya. Kondisi tersebut menyebabkan lemahnya posisi tawar masyarakat dan tingginya kerentanan terhadap perlakuan yang merugikan disamping itu juga harus menerima pekerjaan dengan imbalan yang sangat rendah, tanpa sistem kontrak atau tidak adanya kepastian perlindungan hukum terhadap pekerja informal tersebut.

Kantong-kantong kemiskinan pada umumnya terdapat pada zona pesisir dan desa-desa terpencil dengan sumber mata pencaharian sebagai nelayan dan petani tradisional dengan upah dan pendapatan yang relatif kecil. Oleh karena itu perlu paradigma baru dalam memanfaatkan sumberdaya local sebagai potensi yang dapat dikembangkan dalam proses percepatan pembangunan serta mengurangi ketimpangan pembangunan. Potensi tersebut adalah pemanfaatan pengembangan kawasan-kawasan secara optimal sebagai pusat-pusat pertumbuhan (growth center) melalui pembentukan pengelompokan pemukiman baru sebagai daerah pertumbuhan ekonomi dan pengembangan perluasan kesempatan berusaha.

Referensi

Dokumen terkait

Pengguna Anggaran Sekretariat DPRK Aceh Barat dengan ini memberitahukan Rencana umum Pengadaan (RUP) Barang dan Jasa Tahun 2013 sesuai dengan Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor :

pangguna Anggaran Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Aceh Barat, dengan ini 4engrrmumkan Rencana Umum Pengadaan berdasarkn Perpres No 54 Tahun 2010

Rencana Umum Pengadaan Barang dan Jasa Tahun 2012 sesuai dengan Qanun Kabupaten Aceh Barat tentang Anggaran. Pendapatan Bela{a Kabupaten Aceh Barat Tahun 2012, dengan

Pengguna Anggaran Dinas Pertanian dan Petemakan Kabupaten Aceh Barat mengumumkan Rencana Umum Pengadaan Barang dan Jasa Tahun 2012 sesuai dengan Qanun Kabupaten Aceh Barat tentang

Pengguna Anggaran Dinas Pertanian dan Petemakan Kabupaten Aceh Barat mengumumkan Rencana Umum Pengadaan Barang dan Jasa Tahun 2012 sesuai dengan Qanun Kabupaten Aceh Barat

Pengguna Anggaran Dinas Cipta Karya dan Pengairan Kabupaten Aceh Barat mengumumkan Rencana Umum Pengadaan Barang dan Jasa Tahun 2012 sesuai dengan Qanun Kabupaten Aceh Barat

Pengguna Anggaran Dinas Sittu Marga Kabupaten Aceh Barat mengumumkan Rencana Umum Pengadaan Barang dan Jasa Tahun 2012 sesuai dengan Peraturan Bupati Aceh Barat Nomor: 16 Tahun

Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pemerintahan Mukim (Lembaran Daerah Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Aceh