RE-DESIGN RUMAH SAKIT KANKER
ANAK DENGAN PENDEKATAN HEALING
ENVIRONMENT DI JAKARTA BARAT
Belinda Kurniasari, Augustina Ika, Gatot Suharjanto
Jurusan Arsitektur Universitas Bina Nusantara, Kampus Syahdan Jl. K.H. Syahdan No.9, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480, Telp. (62-21) 534 5830, [email protected]
ABSTRACT
This study aims to assess aspects of the approach to Healing Environment on children's Cancer Hospital in Jakarta. Methods of research that has been done is qualitative and quantitative. The analysis was conducted using descriptive analysis. Once researchers find the data availability of the therapeutic environment variable on the object comparison hospitals, the data are then analyzed and presented in the form of descriptive theory is used as a reference is the theory of Huisman and Morales Healing Environment with several factors that affect the healing of patients, namely enhancing controls , privacy, comfort, and family support. The results of the study are the factors that most influence is the comfort factor but it is most needed is a factor family support. It was concluded that not all aspects of the theory is really necessary and affect the healing of patients that need to be done sorting aspects in the design.(BK)
Penelitian ini bertujuan untuk menilai aspek-aspek pada pendekatan Healing Environment pada Rumah Sakit Kanker anak di Jakarta. Metode penelitian yang telah di lakukan adalah kualitatif dan kuantitatif. Analisis yang dilakukan dengan metode deskriptif analisis. Setelah peneliti menemukan data-data ketersediaan variabel lingkungan terapetik tersebut pada objek perbandingan rumah sakit, data-data tersebut kemudian dianalisa dan disajikan dalam bentuk deskriptif teori yang digunakan sebagai acuan adalah teori Healing Environment Huisman dan Morales dengan beberapa faktor yang mempengaruhi penyembuhan pasien yaitu enhancing controls, privacy, comfort, dan family support. Hasil yang didapat dari penelitian adalah faktor yang paling mempengaruhi adalah faktor comfort tetapi yang paling dibutuhkan adalah faktor family support. Disimpulkan bahwa tidak semua aspek dari teori tersebut benar-benar dibutuhkan dan mempengaruhi penyembuhan pasien sehingga perlu dilakukan pemilahan aspek dalam perancangan. (BK)
PENDAHULUAN
Kanker merupakan penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker dan dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga dapat menyebabkan kematian (www.yayasankankerindonesia.org, 2011). Saat ini diperkirakan 2-4% dari keseluruhan penyakit kanker di Indonesia menyerang anak-anak. Bahkan, penyakit kanker menyumbang sekitar 10% kematian pada anak-anak-anak. Menurut data kesehatan pada tahun 2007, di Indonesia setiap tahun ditemukan 4.100 pasien baru kanker anak. Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah anak penderita penyakit kanker terus bertambah setiap tahun nya dan Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2012 menyebutkan, prevalensi kanker mencapai 4,3 banding 1.000 orang. Padahal data sebelumnya menyebutkan prevalensinya 1 banding 1.000 orang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Serikat Pengendalian Kanker Internasional (UICC) memprediksi, akan terjadi peningkatan lonjakan penderita kanker sebesar 300 persen di seluruh dunia pada tahun 2030 dengan jumlah kematian akibat kanker mencapai 13.1 juta jiwa (www.who.int, 2012). Jumlah tersebut 70 persennya berada di negara berkembang seperti Indonesia. Seiring bertambahnya jumlah anak penderita kanker setiap tahun, hal tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan fasilitas penunjang pengobatan kanker di Jakarta.
Tabel 1 Jumlah Penduduk dan Angka Beban Tanggungan Menurut Kelompok Usia
NO. KAB/KOTA 0-14 Tahun 15-64 Tahun >65 Tahun Jumlah Penduduk Angka Beban Tanggungan 1 JAKARTA PUSAT 204.309 663.022 41.498 908.829 37,07 2 JAKARTA UTARA 410.269 1.255.645 49.650 1.715.564 36,63 3 JAKARTA BARAT 565.113 1.758.310 71.707 2.395.130 36,22 4 JAKARTA SELATAN 507.338 1.564.004 76.919 2.148.261 37,36 5 JAKARTA TIMUR 700.950 2.014.492 86.342 2.801.784 39,08 6 KEP. SERIBU 7.085 14.45 660 22.220 53,51 DKI JAKARTA 2.395.064 7.269.948 326.776 9.991.788 37,44
Sumber: BPS Provinsi Jakarta 2012
Berdasarkan data jumlah Penduduk pada tahun 2012 (BPS Provinsi DKI Jakarta) Jumlah penduduk golongan anak dengan range usia 0-14 tahun adalah 2.295.064 jiwa dari total penduduk 9.991.788 di DKI Jakarta dengan jumlah anak yang cukup banyak, maka fasilitas kesehatan khusus anak perlu ditingkatkan. Namun fasilitas kesehatan seperti rumah sakit anak khususnya Rumah Sakit Kanker belum sepenuhnya tersedia, saat ini rumah sakit yang menyediakan fasilits pengobatan kanker hanya ada beberapa namun Rumah Sakit khusus kanker hanya terdapat di Jakarta Barat yaitu RS. Dharmais. Rumah sakit Dharmais yang merupakan rumah sakit kanker nasional merupakan satu-satunya Rumah sakit khusus kanker di Jakarta. Rumah sakit ini menjadi rujukan bagi pasien-pasien kanker dari daerah sekitar DKI Jakarta, tetapi hal tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan jumlah ruang rawat inap dan ruang khusus kemoterapi sehingga proses kemoterapi dilakukan di dalam ruang inap. Karena keterbatasan tersebut, muncul banyak rumah singgah bagi para pasien kanker yang sedang menunggu jadwal pengobatan kemoterapi di RS.Dharmais, tetapi pasien kanker sebaiknya dirawat pada ligkungan yang layak karena mereka memiliki beberapa kemungkinan terburuk apabila
mereka tinggal dilingkungan yang tidak layak dan tidak sehat. Penyediaan fasilitas pengobatan kanker untuk anak perlu di khususkan karena selama ini anak-anak penderita kanker memiliki tekanan yang lebih dibandingkan dengan pasien kanker dari golongan dewasa. Para pasien kanker merasa takut bila berhadapan dengan penanganan kesehatan seperti kemoterapi, tindakan operasi, dan sebagainya. Kesan rumah sakit begitu menakutkan bagi mereka karena dokter, suntikan dan lainnya. Kondisi psikologis inilah yang menyebabkan anak-anak takut untuk datang dan di rawat di rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya. Dengan tekanan-tekanan yang anak hadapi, pasien anak membutuhkan suatu lingkungan terapetik dengan pendekatan Healing Environment. Lingkungan yang terapetik bagi anak bukan hanya sekedar penataan interior ruang yang menarik, namun juga harus mementingkan adanya hubungan sosial seperti komunikasi dengan orangtua, perawat, dokter, dan para staff lainnya, hubungan mereka dengan alam dengan berupa penyediaan taman dan fasilitas bermain lainnya. Rumah sakit Dharmais mulai menerapkan lingkungan yang terapetik, seperti pengaplikasian warna dan gambar menarik pada dinding, penanda ruang dengan gambar pada pintu, penggunaan sprei bergambar, area bermain, dan lain-lain tetapi belum termasuk dalam konsep Healing Environment yang mengutamakan konsep alam dalam menstimuli proses penyembuhan anak.
Teori Robert M. Kaplan, James F. Sallis. Jr, Thomas L. Patterson dalam bukunya Health and Human Behavior (1993) menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam proses kesembuhan, yakni : Faktor Lingkungan (40%), Faktor Medis (10%), Faktor Genetis (20%), dan Faktor Lainnya (10%) . Dapat dilihat dari teori diatas bahwa faktor lingkungan, yang akan berdampak pada psikologis manusia, merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam proses penyembuhan dibandingkan dengan faktor medis. Maka dari itu, diperlukan suatu pendekatan yang tepat dalam perancangan rumah singgah ini. Pendekatan Healing Environment adalah suatu konsep tentang keadaan lingkungan yang dapat mengurangi tingkat stress, tingkat kekhawatiran pasien terhadap kondisi yang sedang mereka alami. Menurut Dijkstra dalam jurnal Understanding Healing Environments: Effects of Physical Environmental Stimuli on Patiens’ Effects of Health and Well- Being, Healing Environment adalah lingkungan fisik fasilitas kesehatan yang dapat mempercepat waktu pemulihan kesehatan pasien atau mempercepat proses adaptasi pasien dari kondisi kronis serta akut dengan melibatkan efek psikologis pasien di dalamnya. Penerapan konsep Healing Environment pada lingkungan perawatan akan tampak pada kondisi akhir kesehatan pasien, yaitu pengurangan waktu rawat, pengurangan biaya pengobatan, pengurangan rasa sakit, pengurangan stres atau perasaan tertekan, memberikan suasana hati yang positif, membangkitkan semangat, serta meningkatkan pengharapan pasien akan lingkungan. Hal tersebut dapat diterapkan di Rumah Sakit Kanker Anak yang merupakan suatu sarana penunjang dalam pengobatan penyakit kanker pada Anak-anak.
Rumah Sakit kanker anak dengan pendekatan Healing Environment dirasa akan dapat membantu dalam proses penyembuhan atau pengobatan bagi anak-anak penderita kanker baik secara lingkungan fisik maupun psikis.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif ini menggunakan studi kasus pada Rumah Sakit Kanker Dharmais dan studi perbandingan dengan tujuan untuk mengumpulkan data mengenai healing environment pada rumah
sakit kanker anak. Objek yang menjadi studi banding adalah Children’s Hospital of Philadephia dan MD Anderson Children’s Cancer Hospital. Variabel kualitatif yang dianalisa pada setaip rumah sakit, adalah aspek Safety and security, Control, Privacy, Family Support dan Comfort Masing-masing Faktor Healing Environment tesebut memiliki aspek yang kemudian dijadikan variabel pada penelitian ini. Setiap variabel Healing Environment ini di analisa dengan penjelasan kualitatif dekripstif yang kemudian data-data ketersediaan aspek Healing environment ini disajikan dengan prosentase yang menjadi kuantitatif. Penelitian dengan melakukan perbandingan ini, melibatkan subjek dengan jumlah relatif sedikit. Kehadiran peneliti sebagai observan mengaharuskan peneliti berkutat dengan objek penelitian dan menganalisa dengan berdasarkan tema yang telah ditentukan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:
a. Studi Pustaka dan Studi Literatur, Penelitian ini dilakukan dengan membaca, mempelajari, dan mencatat dari textbook atau berupa jurnal dan artikel mengenai teori Healing environment pada rumah sakit. Data-data tersebut kemudian dipilah dan digunakan sebagai landasan teori dalam penelitian ini.
b. Wawancara, Dilakukan dengan tanya jawab secara langsung dengan pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini narasumber dari wawancara ini merupakan pegawai medis , dan orang tua pada rumah sakit anak. Hal yang diajukan dalam wawancara merupakan variabel-variabel yang menjadi kriteria desain lingkungan terapetik.
c. Observasi, Observasi yang dilakukan peneliti adalah peneliti melakukan pengamatan secara langsung pada objek penelitian yaitu rumah sakit kanker. Dalam kegiatan pengamatan ini, peneliti dapat melihat langsung kegiatan yang dilakukan pelaku dalam rumah sakit dan bagaimana fasilitas kesehatan yang disediakan pada rumah sakit tesebut yang dijadikan bahan perbandingan.
HASIL DAN BAHASAN
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti, Prinsip desain Healing Environment berdasarkan aspek empat faktor kunci yang mempengaruhi menurut Huisman dan Morales (2012) dalam jurnal Building and Environment belum sepenuhnya diterapkan pada Rumah sakit kanker Dharmais. Beberapa aspek yang sudah atau belum terpenuhi dapat dilihat pada tabel di bawah ini dan data-datanya dipaparkan secara analisa kualitatif deskriptif.
Tabel 2 Ketersediaan Aspek Healing Environment pada RS. Dharmais
FAKTOR ASPEK
Enhancing Control Kontrol terhadap pencahayaan V Kontrol terhadap elektronik V
Privacy Privasi pasien dan keluarga X
Comfort Seni dan estetika V
View & visual comfort X
Acoustic comfort X
Lighting V
Colors V
Pada Rumah sakit Dharmais, aspek yang paling dibutuhkan adalah Family Support. Anak-anak merupakan pribadi yang masih labil dan sangat bergantung kepada orang tua dan keluarga sehingga anak-anak membutuhkan perhatian selama 24 jam sedangkan fasilitas bagi keluarga sangat tidak mendukung pada rumah sakit ini. Faktor yang lain seperti controls dan comfort sudah tersedia di rumah sakit ini meskipun belum terlalu maksimal.
Pada analisa Studi banding, terdapat 3 objek rumah sakit yang dibandingkan aspek Healing Environment yang sudah di terapkan pada masing-masing rumah sakit. Rumah sakit tersebut adalah RS.Dharmais, MD Anderson Children’s cancer hospital dan Children Hospital of Philadelphia.
Tabel 3 Perbandingan Aspek Healing Environment
FAKTOR ASPEK
RS. Dharmais MD Anderson CHOP Enhancing Control Kontrol terhadap pencahayaan V V V Kontrol terhadap elektronik V V V
Privacy Privasi pasien dan keluarga
X V V
Comfort Seni dan estetika V V V
View & visual comfort X V V
Acoustic comfort X X V
Lighting V V V
Colors V V V
Family Support Ketersediaan Fasilitas X V V
Adapun perbandingan ketersediaan aspek-aspek yang meliputi faktor Healing Environment diuraikan dalam diagram berikut.
Gambar 1 Diagram Perbandingan Ketersediaan Aspek Healing Environment
Untuk mengetahui penilaian aspek-aspek Healing Environment tersebut dan bagaimana pengaruhnya pada penyembuhan pasien anak, penulis melakukan wawancara kepada orang tua pasien yang sedang menjaga anaknya dalam menjalani masa pengobatan penyakit kanker. Didapatkan faktor Healing Environment mana yang paling berpengaruh pada penyembuhan pasien. Adapun diagramnya adalah sebagai berikut.
Gambar 2 Diagram Perbandingan Faktor Healing Environment
Dari hasil wawancara terhadap 10 orang narasumber tersebut didapatkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi penyembuhan anak adalah faktor Comfort (40%), faktor Family support (35%), faktor Privacy (20%), dan faktor Enhancing Controls (5%).
Untuk mengetahui aspek lain yang dibutuhkan oleh pasien dan pendamping ketika sedang menjalani masa pengobatan di Rumah Sakit Kanker Dharmais, maka penulis menggali data dengan melakukan wawancara dengan narasumber orang tua pasien anak.
Adapun permasalahan yang terjadi di Rumah sakit Dharmais ini adalah :
1. Keterbatasan Kapasitas ruang Rawat Inap. Berdasarkan hasil wawancara dengan orang tua, mereka mengeluhkan keterbatasan jumlah ruang untuk pasien rawat inap di Rumah Sakit ini. Sehingga, para pasien yang hendak melakukan pengobatan kemoterapi harus melakukan reservasi terlebih dahulu kurang lebih 2 minggu sebelumnya.
2. Fasilitas bagi pendamping. Adapun yang dimaksud dalam hal ini adalah : kurangnya fasilitas yang disediakan bagi para orang tua atau pendamping anak ketika menjalani rawat inap. Pada Rumah sakit ini, fasilitas yang disediakan bagi pendamping hanya sebuah kursi disamping bed pasien. Dan para pendamping tidak diperkenankan membawa peralatan untuk tidur di dalam ruang seperti tikar atau kasur lipat. Hal tersebut menjadi kendala yang sangat berarti karena pasien masih tergolong usia dini sehingga membutuhkan pengawasan dan dampingan lebih dari orang tua. Dengan adanya persyaratan di dalam ruang inap, fasilitas ruang tunggu bagi keluarga juga tidak ditemukan pada sekitar area kamar rawat inap sehingga para orang tua atau keluarga yang mendampingi memiliki keterbatasan ketika menunggu.
3. Ketidaktersediaan area Outdoor di sekitar Rumah Sakit. Pada rumah sakit Dharmais, tidak ditemukan area taman atau area outdoor pada bangunan. Sedangkan anak-anak yang merupakan pribadi aktif membutuhkan sarana untuk refreshing sejenak selama menjalani pengobatan di Rumah sakit. Anak-anak cenderung merasakan bosan ketika menjalani rawat inap, terutama para pasien yang melakukan pengobatan dalam jangka waktu yang cukup lama. Sehingga pasien anak-anak di rumah sakit ini seringkali berkeliaran di koridor untuk mengurangi rasa bosan.
Dari hasil penelitian mengenai penerapan aspek Healing Environment pada Rumah Sakit Kanker Dharmais, maka didapatkan aspek-aspek apa saja yang harus dipenuhi untuk mengoptimalisasi efek penyembuhan pada lingkungan rumah sakit. Pada ruang rawat inap, kebutuhan ruang adalah sebagai berikut :
Gambar 3 Zoning Ruang Rawat Inap
a. Faktor Privacy
Penerapan Faktor Privacy pada Kamar rawat inap dilakukan dengan penggunaan kamar tipe single room sehingga para pasien dan keluarga mendapatkan privasi yang mereka butuhkan. Pada kamar rawat inap Kelas II dengan jumlah 2 tempat tidur pasien, maka penggunaan sekat pemisah pada ruang menjadi salah satu solusi dari faktor privacy
b. Faktor Comfort
Penerapan faktor Comfort pada kamar rawat inap rumah sakit kanke Dharmais dapat dilakukan dengan penerapan suatu konsep warna dalam ruang. Dinding mendapat treatment berupa cat dengan warna gradasi hijau dengan kombinasi warna krem. Warna hijau memberikan efek meneduhkan dan menyeimbangkan. Dengan penggunaan warna hijau, dapat menenangkan pasien sehingga pasien dapat beristirahat dan cepat sembuh dari sakitnya (Wandira & Pribadi; 2011). Selain treatment warna pada dinding, juga digunakan wallpaper/mural bergambar menarik. Menurut Eisen (2008) preferensi seni bagi anak di lingkungan rumah sakit adalah jenis seni bertema alam. Penggunaan seni ini juga untuk menghilangkan kesan monoton sehingga anak tidak cepat merasa bosan.
c. Faktor Family Support
Family Support merupakan suatu aspek penunjang proses pemulihan pasien dalam menjalani pengobatan kanker. Hal tersebut harus diimbangi dengan ketersediaan fasilitas bagi keluarga atau pendamping. Fasilitas yang perlu di penuhi adalah ruang tunggu bagi keluarga baik di dalam ruang ataupun di area blok kamar rawat inap. Pada kamar rawat inap, fasilitas bagi keluarga dapat diwujudkan dengan menyediakan Sofabed sehingga keluarga atau pendamping pasien dapat menemani selama 24 jam tanpa harus mencari tempat untuk beristirahat diluar rumah sakit.
Pada ruang bermain anak, faktor yang diutamakan adalah faktor comfort. Dengan mengutamakan kenyamanan anak-anak dalam penggunaan ruang, maka keamanan dan kesehatan furniture didalam ruang bermain indoor perlu di perhatikan. Pemilihan material harus disesuaikan dengan pengguna, dengan menghindari material yang berat dan tajam. Untuk penghawaan dan sinar matahari alami, maka dibutuhkan bukaan atau jendela untuk memperbaiki sirkulasi udara di dalam ruang sehingga anak-anak menjadi lebih sehat dengan udara segar. Pada ruang bermain, Warna yang dominan digunakan adalah oranye. Warna oranye dapat memberikan efek semangat dan aktif pada
anak-anak. Warna oranye yang terlalu dominan akan menimbulkan efek agresif, maka perlu di seimbangkan dengan penggunaan warna kuning, hijau, dan biru sebagai aksen..
Sedangkan pada ruang tunggu merupakan salah satu fasilitas penunjang pada faktor “Family support” yang harus dipenuhi dalam pendekatan Healing Environment. Ruang ini digunakan oleh pendamping dan keluarga saat melakukan pendampingan kepada pasien rawat inap. Peletakkan ruang tunggu pada area kamar rawat inap diusahakan memiliki jarak yang tidak terlalu jauh dari kamar rawat inap itu sendiri.
Gambar 4 Zoning Ruang Tunggu
Pada ruang tunggu, aspek yang di perhatikan adalah comfort dan family support sehingga para pendamping pasien ataupun keluarga dapat merasakan kenyamanan saat berada di ruang tunggu. Sedangkan aspek controls dan privacy tidak terlalu dipertimbangkan karena ruang ini bersifat publik dan digunakan bersama-sama dengan pendamping pasien lainnya.
Warna dominan pada ruang ini adalah gradasi biru dan hijau. Menurut Wandira dan Pribadi (2011), warna hijau dan biru dapat memberikan efek psikologis menenangkan syaraf dan membantu penyakit-penyakit fisik dan emosional. Sedangkan untuk lantai didesain warna putih yang dipercaya dapat memperbaiki keseimbangan. Pada ruang tunggu ini banyak digunakan untuk pelayanan rawat jalan, dimana pasien menunggu untuk mendapatkan pemeriksaan. Penyediaan area bermain untuk anak mencegah merasa bosan.
Lobby adalah ruang yang mewadahi aktivitas ‘penerimaan’ daripada ‘perawatan’, akan lebih baik apabila diterapkan warna cokelat/gradasinya sehingga tercipta ruangan yang terkesan hangat dan nyaman bagi pengunjung (Wandira & Pribadi; 2011). Lobby merupakan salah satu ruang utama yang memberikan kesan pertama pada sebuah Rumah sakit. Anak-anak akan menilai bagaimana kesan mereka saat pertama kali masuk ke dalam bangunan. Oleh sebab itu diperlukan kesan yang nyaman dan bersahabat bagi para pengunjung yang didominasi oleh anak-anak.
Menurut Wandira dan Pribadi (2011) dalam buku Terapi Warna untuk Kesehatan, warna yang cocok dan ideal diterapkan pada ruang foyer atau pintu masuk adalah wara cokelat karena memiliki kesan hangat dan welcoming karena memberikan rasa komitmen dan kepercayaan. Warna-warna cokelat ini diterjemahkan dengan pemilihan material kayu.
Pada area koridor, Berdasarkan peraturan standardisasi yang diterapkan oleh American National Standards yang terkait dengan persyaratan umum untuk interior yang aksesibel (General Requirements for Accesible Interior) dalam Reznikoff (1979:206)) ditetapkan bahwa kriteria umum lantai untuk area publik dengan intensitas pemakaian tinggi meliputi persyaratan: kesehatan dan keselamatan /health and safety, konstruksi/ construction, kekuatan fisik /physical strength, dan penampilan /appearance. Kriteria health and safety/kesehatan dan keselamatan meliputi kriteria: tahan api (flammability), mampu meredam pantulan cahaya (light reflectance), tidak licin (slipperiness), dan
Kecenderungan bentuk koridor adalah berbentuk lorong, sehingga penggunaan warna dominan yang digunakan untuk koridor sebaiknya warna yang tidak menimbulkan rasa takut. Warna hijau dan krem dapat menimbulkan efek kenyamanan dan ketenangan.
Berikut adalah hasil desain skematik masing-masing ruangan.
Gambar 5 Skematik Desain Ruang Rawat Inap Gambar 6 Skematik Desain Lobby
Gambar 7 Kualitas Ruang Bermain Anak Gambar 8 Skematik Desain Ruang Tunggu
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan penelitian terhadap tiga objek rumah sakit kanker, yaitu Rumah Sakit Kanker Dharmais, MD Anderson Children Cancer Center dan Children Hospital of Philadelphia didapatkan hasil perbandingan aspek healing environment sebagai berikut :
Berdasarkan hasil diagram tersebut, terlihat bahwa Children Hospital of Philadelphia menggungguli semua aspek dibanding Rumah sakit Kanker Dharmais dan MD Anderson Children Cancer Center, sehingga Children Hospital of Philadelphia dapat dijadikan acuan untuk Perancangan Rumah Sakit Kanker Anak. Rumah sakit Dharmais merupakan Rumah sakit yang paling rendah menerapkah prinsip healing environment sehingga diperlukan proses redesign untuk memperbaiki hal-hal yang belum diterapkan. Untuk mengetahui aspek mana yang paling mempengaruhi proses pemulihan pasien, dapat dilihat pada diagram berikut.
Gambar 11 Diagram perbandingan aspek healing environment
Aspek yang paling mempengaruhi adalah adalah Comfort baru kemudian Family Support, Privacy, dan Enhancing Control. Tetapi pada Rumah sakit kanker Dharmais, aspek yang paling dibutuhkan untuk menjawab permasalahan di Rumah sakit kanker Dharmais adalah aspek comfort dan Family Support. Kedua aspek tersebut sangat perlu diperhatikan untuk menciptakan healing environment di Rumah Sakit Kanker Dharmais.
Kriteria desain Healing Environment oleh Huisman dan Morales (2012) dalam jurnal Building and Environment, telah dianalisa terhadap tiga objek rumah sakit kanker, yaitu Rumah Sakit Kanker Dharmais, MD Anderson Children Cancer Center dan Children Hospital of Philadelphia . Namun hasil penelitian belum mencakup aspek anak di dalam kriteria desain tersebut. Kriteria Healing Environment yang dimaksud oleh Huisman dan Morales (2012) adalah prinsip desain pada rumah sakit umum, belum mengarah pada pengguna khusus, yaitu pasien anak yang berusia 0-14 tahun. Peneliti melakukan beberapa wawancara terhadap 10 narasumber yang merupakan orang tua dari pasien anak pada rumah sakit kanker Dharmais. Responden yang berjumlah 10 orang tersebut diberi pilihan faktor-faktor yang dapat mengoptimalkan penyembuhan pasien dan kebutuhan ruang berdasarkan dengan faktor healing environment. Hasil yang didapat adalah sebagai berikut.
Aspek diatas seluruhnya ditambahkan dalam kriteria desain perancangan rumah sakit anak. Aspek-aspek tersebut bisa menjadi faktor healing environment berdasarkan sudut pandang orang tua pasien anak.
Gambar 13 Perbandingan Faktor Healing Environment Menurut Preferensi Orang Tua Pasien
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat aspek dalam faktor tersebut yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap proses pemulihan pasien anak, aspek tersebut adalah aspek Enhancing Control. Kontrol pasien terhadap kondisi di dalam ruang tidak terlalu mempengaruhi kondisi pasien.
Kriteria-kriteria seperti inilah yang harus dipilah hingga diaplikasian pada desain rumah sakit yang dirancang.
Tabel 5.1 Penerapan Aspek Healing Environment pada Karakter Ruang No. Nama
Ruang Persyaratan Ruang Warna Efek
1. Ruang Rawat Inap
- Jendela mengarah pada view positif - unsur seni dan estetika
- fasilitas bagi pendamping
-Mengutamakan privasi (sekat pemisah)
Kombinasi hijau muda, krem, putih. Memberikan rasa ketenangan 2. Ruang Tunggu
- Jendela mengarah pada view positif - unsur seni dan estetika
- fasilitas bagi pendamping
- lokasi berdekatan dengan ruang rawat inap
Gradasi cokelat mudah dan putih
Memberikan kesan tidak monoton, tenang, dan bersih Menyatu dengan alam 3. Ruang Bermain
- bukaan / jendela mengarah view positif - Material yang aman bagi anak-anak - Berada dekat ruang rawat inap
Gradasi biru muda dan krem
Memberikan rasa nyaman dan efek aktif dan ceria pada anak-anak
4. Lobby Menggunakan aspek seni dan estetika Gradasi cokelat muda dan hijau muda
Memberikan rasa ketenangan dan kenyamanan
5. Koridor - material yang sehat.
-Koridor tidak berbelok-belok dan sirkulasi yang mudah
Gradasi biru dan putih
Memberikan kesan tidak monoton, tenang, dan bersih
Penelitian ini baru membahas ketersediaan kriteria desain Healing Environment menurut Huisman dan Morales (2012) terhadap 3 objek rumah sakit kanker yang kemudian didapatkan rumah sakit mana yang paling banyak memenuhi aspek desain tersebut dan kemudian dijadikan acuan desain dalam perancangan. Karena penulis ingin mengetahui fasilitas apa yang belum diterapkan dalam rumah sakit dari objek pengamatan dan didapatkan hasil aspek anak yang merupakan hasil dari sudut pandang orang tua. Untuk selanjutnya karena penelitian ini terkait dengan preferensi anak, seharusnya suatu aspek baru yang muncul didapatkan dari hasil wawancara atau kuisioner terhadap anak. Sehingga data-data yang didapatkan lebih tepat sasaran.
REFERENSI
Schaller, Brian. (2012). Architectural Healing Environments. Syracuse University. New York
Lidayana, Vidra. (2013). Konsep dan Aplikasi Healing Environrnent dalam fasilitas Rumah Sakit. Jurnal Teknik Sipil Untan l3(2), 417-428
Ferary, Sonia. (2013). Studi Perancangan Ruang Pusat Penyembuhan Kanker melalui Pendekatan
Psikologi Pengguna. Jurnal Tingkat Sarjana Senirupa dan Desain(1), 1-8.
Djikstra, K. (2009). Understanding Healing Environments : Effects of Physical Environmental Stimuli
on Patiens' Effects of Health and WeII- Being, Netherlands: University of Twente
Schweitzer, Marc. (2014). Healing Spaces: Elements of Environmental Design That Matre an Impact
on Health, Mary Liebert,Inc
RIWAYAT HIDUP
Belinda Kurniasari lahir di kota Surabaya pada tanggal 23 November 1993. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Teknik Arsitektur pada tahun 2015. Karena ketertarikan dalam bidang interior, penulis mengambil peminatan Arsitektur Interior.