4. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4377); 5.

Teks penuh

(1)

KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 35 TAHUN 2004 TENTANG

PELAKSANAAN PEMUNGUTAN PAJAK PENGAMBILAN DAN PEMANFAATAN AIR PERMUKAAN SERTA IURAN PEMBIAYAAN EKSPLOITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA PENGAIRAN SECARA TERPADU

GUBERNUR JAWA BARAT

Mcmimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemungutan pajak pengarnbilan dan pemanfaatan air permukaan serta iuran pembiayaan eksploitasi dan pemeliharaan prasarana pengairan di wilayah kerja Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta II melalui kesatuan sistem operasional dan kesamaan data telah ditandatangani Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Propinsi Jawa Barat dengan Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta II tanggal 20 Juli 2004 Nomor 973/193/Sarek 160/1/SPU/2004;

b. bahwa sesuai dengan amanat Pasal 3 Kesepakatan Bersama sebagaimana dimaksud pada huruf a di atas, mekanisme dan tata cara pelaksanaan pemungutan pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan serta iuran pembiayaan eksploitasi dan pemeliharaan prasarana pengairan di wilayah kerja Perusahaan Umum Jasa Tirta II diatur dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a dan b di atas perlu ditetapkan Keputusan Gubernur Jawa Barat tentang Pelaksanaan Pemungutan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan serta Iuran Pembiayaan Eksploitasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengairan Secara Terpadu.

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara tanggal 4 Juli 1950) Jo. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4010);

2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685) sebagaimana telah dirubah dengan Undang-undang 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048);

3. Undang-undang Nornor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

4. Undang

(2)

4. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4377);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1981 tentang Iuran Pembiayaan Eksploitasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengairan (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3189);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3441);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 1999 tentang Perusahaan Umum Jasa Tirta II (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 203);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 1999 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4138);

10. Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 1981 tentang Penetapan POJ sebagai Perusahaan yang dapat Menarik dan Menerima Iuran E&P Prasarana Pengairan;

11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48/PRT/1990 tentang Pengelolaan Atas Air dan/atau Sumber Air pada Wilayah Sungai;

12. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 18/KPTS/

M/2000 tentang Pedoman Kegiatan Operasional Perum Jasa Tirta II;

13. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2002 tentang Nilai Perolehan Air yang Digunakan BUMN, BUMD yang memberikan Pelayanan Publik, Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 93 Tahun 2003;

14. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2001 tentang Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 1 Seri A);

15. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 4 Seri A);

16. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 15 Tahun 2000 tentang Dinas Daerah Propinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 20 Seri D) jo. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2002 tentang Perubahan atas peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 15 Tahun 2000 tentang Dinas Daerah Propinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2002 Nomor 9 Seri D);

17. Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomlor 11 Tahun 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2001 tentang Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Gubernur Nomor 20 Tahun 2002 (Lembaran Daerah Tahun 2002 Nomor 10 Seri B);

18. Keputusan

(3)

18. Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 29 Tahun 2002 tentang Tata Cara Perhitungan Harga Dasar Air Sebagai Dasar Penetapan Nilai Perolehan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.

Memperhatikan : Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Propinsi Jawa Barat dengan Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta II tanggal 20 Juli 2004 Nomor 973/193/Sarek tentang Pemungutan Pajak Pengambilan dan

160/1/SPU/2004

Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan serta Iuran pembiayaan Eksploitasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengairan Secara Terpadu.

M E M U T U S K A N :

Menetapkan : KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA BARAT TENTANG PELAKSANAAN PEMUNGUTAN PAJAK PENGAMBILAN DAN PEMANFAATAN AIR PERMUKAAN SERTA IURAN PEMBIAYAAN EKSPLOITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA PENGAIRAN SECARA TERPADU.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Keputusan ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Propinsi Jawa Barat.

2. Pemerintah Daerah adalah Gubernur beserta Perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah.

3. Gubernur adalah Gubernur Jawa Barat.

4. Dinas adalah Dinas Pendapatan Propinsi Jawa Barat.

5. Dinas Teknis adalah Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Jawa Barat.

6. Unit Pelayanan Pendapatan Daerah yang selanjutnya disingkat UPPD adalah Unit Pelayanan Pendapatan Daerah pada Dinas Pendapatan Propinsi Jawa Barat, yang berada di Wilayah Kerja Perum Jasa Tirta II.

7. Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air yang selanjutnya disingkat BPSDA adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Jawa Barat yang berada di Wilayah Kerja Perum Jasa Tirta II.

8. Perum Jasa Tirta II yang selanjutnya disingkat PJT 11 adalah Perusahaan Umum Jasa Tirta II yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 1999.

9. Direksi adalah Direksi PJT II.

10. Wilayah Kerja adalah wilayah kerja PJT

11. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan yang selanjutnya disebut Pajak Air adalah pungutan Daerah atas Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan.

12. Wajib

(4)

12. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang mengambil dan atau memanfaatkan air permukaan.

13. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah Surat Pemberitahuan dari Wajib Pajak yang antara lain berisi besarnya jumlah air permukaan yang diambil dan atau dimanfaatkan Wajib Pajak dalam suatu masa pajak.

14. Iuran Pembiayaan Eksploitasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengairan yang selanjunya disebut IPEP adalah dana yang ditarik oleh PJT II sebagai imbalan dari pihak yang telah memperoleh manfaat guna dan kenikmatan keberadaan air atau sumber air dan dengan adanya bangunan hasil pangelolaan perusahaan, baik diusahakan maupun untuk kepentingan pihak lain.

15. Wajib Bayar adalah orang atau badan yang memperoleh manfaat penggunaan dan kenikmatan dengan tersedianya air dan sumber- sumber air di Wilayah kerja PJT II.

16. Prasarana Pengairan adalah bangunan pengairan dan bangunan lain yang menunjang kegiatan pengairan, baik langsung maupun tidak langsung.

17. Berita Acara Pengambilan/Pemanfaatan Air yang selanjutnya disebut BAPPA adalah Berita Acara yang memuat jumlah volume air permukaan yang diambil oleh Wajib Pajak dan juga sebagai Wajib bayar IPEP yang ditandatangani bersama oleh pihak PJT II, Dinas Teknis dan Wajib bayar.

18. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah Ketetapan Pajak yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang.

19. Surat Tagihan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat STPD, adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.

20. Faktur Tagihan IPEP adalah besarnya iuran yang harus dibayar oleh Wajib Bayar yang merupakan hasil perkalian volume air pada BAPPA dengan tarif yang berlaku.

21. Pendaftaran adalah kewajiban orang pribadi atau badan yang melaksanakan pengambilan dan atau memanfaatkan air permukaan untuk mendaftarkan pada saat pengambilan air mulai dilaksanakan.

22. Pendataan adalah serangkaian kegiatan untuk memperoleh data atau informasi serta penatausahaan yang dilaksanakan oleh petugas pajak dengan cara penyampaian SPTPD kepada Wajib Pajak untuk diisi secara lengkap dan benar

BAB II

MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2

(1) Pengaturan pelaksanaan pemungutan Pajak Air dan IPEP dimaksudkan sebagai petunjuk pelaksanaan dalam operasional pemungutan Pajak Air dan IPEP secara terpadu di wilayah kerja.

(2) Pengaturan

(5)

(2) Pengaturan pelaksanaan pemungutan Pajak Air dan IPEP sebagaimana dimaksud Ayat (1) pasal ini, bertujuan untuk :

a. meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak dan juga sebagai wajib bayar berupa kemudahan dalam melaksanakan pembayaran;

b. meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemungutan Pajak Air dan IPEP di wilayah kerja melalui kesatuan sistem operasional dan kesamaan data;

c. meningkatkan koordinasi antara Pemerintah Daerah dengan PJT II.

BAB III RUANG LINGKUP

Pasal 3

Ruang lingkup kegiatan ini meliputi pelaksanaan pemungutan Pajak Air dan IPEP secara terpadu terhadap Wajib Pajak Air dan juga sebagai wajib bayar IPEP di wilayah kerja.

BAB IV

JENIS-JENIS KEGIATAN Pasal 4

Jenis-jenis kegiatan yang dilakukan oleh Dinas, Dinas Teknis dan KT II dalam pemungutan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan serta IPEP secara terpadu yaitu :

1. Dinas :

a. Melakukan Pendaftaran dan Pendataan;

b. Menerbitkan SKPD;

c. Menyampaikan SKPD dan Faktur Tagihan IPEP dengan menggunakan Surat Pengantar Nota Perhitungan Pajak Air dan IPEP kepada Wajib Pajak dan juga wajib bayar;

d. Melakukan penerimaan pembayaran atas Pajak Air dan IPEP;

e. Menyampaikan STPD dan Faktur Tagihan Denda IPEP dengan menggunakan Surat Pengantar Nota Tagihan Perhitungan Pajak Air dan IPEP kepada Wajib Pajak dan juga wajib bayar;

f. Menyetorkan hasil pungutan Pajak Air dan IPEP ke Bank Jabar melalui rekening Escrow Account.

2. Dinas Teknis :

a. Bersama PJT II serta Wajib Pajak dan juga wajib bayar melakukan pencatatan volume pengambilan/pemanfaatan air permukaan;

b. Menandatangani BAPPA bersama PJT II dan Wajib Pajak dan juga wajib bayar dan menyampaikan BAPPA ke UPPD yang bersangkutan;

c. Menghitung

(6)

c. Menghitung NPA dan menyampaikan hasil perhitungan NPA kepada UPPD yang bersangkutan.

d. Dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Balai PSDA Wilayah Sungai yang berada diwilayah kerja.

3. PJT II :

a. Bersama Dinas Teknis melakukan pencatatan volume pengambilan/ pemanfaatan air permukaan;

b. Menandatangani BAPPA bersama Dinas Teknis dan Wajib Pajak dan juga wajib bayar;

c. Membuat Faktur Tagihan IPEP dan Faktur Tagihan denda IPEP;

d. Menyampaikan Faktur Tagihan IPEP dan Faktur Tagihan Denda IPEP kepada UPPD yang bersangkutan.

BAB V

PELAKSANAAN PEMUNGUTAN Bagian Pertama

Pendataan Pasal 5

(1) UPPD melakukan pendataan untuk memperoleh data dan informasi terhadap pengambil dan atau pemanfaat air permukaan.

(2) Untuk menghitung besarnya volume air yang diambil dan atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak dan juga wajib bayar, dilakukan pencatatan secara bersama-sama oleh petugas dari Dinas Teknis, petugas PJT II serta petugas Wajib Pajak dan juga wajib bayar yang bersangkutan.

(3) Hasil Pencatatan sebagaimana dimaksud Ayat (1) pasal ini dituangkan dalam BAPPA yang ditandatangani bersama oleh petugas yang bersangkutan.

(4) BAPPA sebagaimana dimaksud Ayat (3) pasal ini harus sudah selesai selambat-lambatnya tanggal 4 (empat) setiap bulannya.

(5) BAPPA sebagaimana Ayat (2) pasal ini, merupakan dasar menghitung NPA oleh Dinas Teknis dan membuat faktur tagihan IPEP oleh PJT II.

Bagian Kedua Penetapan

Pasal 6

(1) Penetapan Pajak Air dilakukan oleh UPPD dengan menerbitkan SKPD.

(2) Penetapan Jumlah IPEP dilakukan PJT II dengan menerbitkan Faktur Tagihan IPEP dan disampaikan kepada UPPD yang bersangkutan paling lambat 5 (lima) hari kerja terhitung sejak akhir bulan.

(3) SKPD

(7)

bersangkutan kepada Wajib Pajak Air dan juga Wajib Bayar IPEP dengan menggunakan Surat Pengantar Nota Perhitungan Pajak Air dan IPEP, yang ditandatangani oleh Kepala UPPD.

Bagian Ketiga Pembayaran

Pasal 7

(1) Pembayaran Pajak Air dan IPEP harus dibayar lunas dilakukan melalui :

a. Escrow Account pada Bank Jabar setempat;

b. pembayaran tunai yang diterima oleh petugas UPPD;

c. Pemegang Kas Pembantu Kantor UPPD setempat.

(2) Bank Jabar sebagaimana Ayat (1) huruf a pasal ini, paling lambat 1 (satu) kali 24 (dua puluh empat) jam harus sudah memindah bukukan penerimaan Pajak Air kepada Rekening khusus penampungan Kas Daerah pada Bank Jabar setempat dan penerimaan IPEP ke Rekening khusus PJT II di Bank Jabar Cabang Purwakarta.

(3) Apabila jumlah pembayaran oleh wajib pajak yang juga wajib bayar sebagaimana ayat (1) huruf a yang dilakukan secara non tunai kurang dari yang ditetapkan, maka Bank Jabar akan melakukan pemindahbukuan penerimaan pajak air terlebih dahulu sebesar penetapan pajak air ke rekening khusus penampungan Kas Daerah pada Bank Jabar setempat dan sisa pembayaran akan dipindahbukukan ke Rekening khusus PJT II di Bank Jabar Cabang Purwakarta.

(4) Petugas Pemungut sebagaimana ayat (1) hurup b Pasal ini menerbitkan Tanda Bukti Pembayaran untuk pajak air dan Bukti Penerimaan Sementara untuk pembayaran IPEP, dan paling lambat 1 (satu) kali 24 (dua puluh empat) jam harus sudah menyetorkan penerimaan Pajak Air dart IPEP kepada Pemegang Kas Pembantu setempat dengan menggunakan Daftar Himpunan Setoran (DHS) dan dilampiri tembusan Tanda Bukti Pembayaran untuk pajak air dan Bukti Penerimaan Sementara untuk pembayaran IPEP.

(5) Pemegang Kas Pembantu sebagaimana ayat (1) hurup c Pasal ini, menerima pembayaran Pajak Air dan IPEP dari :

a. Wajib Pajak yang juga Wajib Bayar dengan menerbitkan Tanda Bukti Pembayaran untuk Pajak Air dan Bukti Penerimaan Sementara untuk pembayaran IPEP.

b. Petugas Pemungut dengan menerima Daftar Himpunan Setoran (DHS) dan dilampiri tembusan Tanda Bukti Pembayaran untuk pajak air dan Bukti Penerimaan Sementara untuk pembayaran IPEP.

(6) Pemegang

(8)

(6) Pemegang Kas Pembantu sebagaimana ayat 5 Pasal ini, paling lambat 1 (satu) kali 24 (dua puluh empat) jam harus sudah menyetorkan penerimaan Pajak Air dan IPEP ke Escrow Account pada Bank Jabar setempat dengan menggunakan Surat Tanda Setoran (STS) dan Tanda Bukti Setoran, atas penerimaan pembayaran IPEP tersebut Bank Jabar menerbitkan Bukti Penerimaan asli dan selanjutnya Bank Jabar paling lambat 1 (satu) kali 24 (dua puluh empat) jam harus sudah memindahbukukan penerimaan Pajak Air kepada Rekening Khusus Penampungan Kas Daerah pada Bank Jabar setempat dan penerimaan IPEP ke Rekening Khusus PJT II di Bank Jabar Cabang Purwakarta.

(7) Bank Jabar memberikan laporan mingguan posisi Escrow Account kepada Kepala UPPD setempat dan PIT II.

Bagian Keempat Penagihan

Pasal 8

Penagihan atas Pajak Air dan atau IPEP yang belum atau kurang dibayar pada waktunya, hanya dapat dilakukan oleh Dinas dengan menggunakan Surat Pengantar Nota Perhitungan Penagihan Pajak Air dan IPEP yang ditandatangani oleh Kepala UPPD dengan dilampiri STPD dan atau Faktur Tagihan Denda IPEP.

BAB VII

DANA OPERASIONAL PEMUNGUTAN Pasal 9

(1) Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pemungutan Pajak Air dan IPEP secara Terpadu, disediakan Dana Operasional Pemungutan sebesar 5 % dari IPEP yang diterima PJT II.

(2) Dana Operasional Pemungutan sebagaimana ayat (1) Pasal ini diperuntukan bagi :

a. Dinas sebesar 1,5%;

b. Dinas Teknis sebesar 1,00%;

c. Tim Pembinaan dan Pengawasan Pelaksanaan Pemungutan Pajak Air dan IPEP secara terpadu sebesar 2,5%.

(3) Dana Operasional sebagaimana tersebut ayat (2) pasal ini dibayarkan kepada masing-másing pihak setiap awal triwulan berikutnya.

BAB VIII

PEMBINAAN DAN PENGAWASÁN Pasal 10

(1) Pembinaan dan Pengawasan terhadap pelaksanaan pemungutan Pajak air dan IPEP dilakukan oleh Tim Pembinaan dan Pengawasan Pelaksanaan Pemungutan Pajak Air dan IPEP Secara Terpadu, yang ditetapkan oleh Gubernur.

(2) Tim ...

(9)

(2) Tim sebagaimana ayat (1) Pasal ini melaporkan hasil pembinaan dan pengawasan setiap triwulan atau sewaktu-waktu apabila diperlukan kepada Gubernur dengan tembusan kepada PJT II dan Instansi lain yang berkepentingan .

BAB IX

KETENTUAN PENUTUP Pasal 11

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Keputusan ini, yang menyangkut teknis pelaksanaan ditetapkan oleh Dinas, Dinas Teknis dan PJT II.

Pasal 12

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal 1 September 2004.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Keputusan ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Propinsi Jawa Barat.

Diundangkan di Bandun9, path tanggal 23 Juli 2004

ERAH PROPINSI BARAT

,

DAERAH PROPINSI JAWA BARAT TAHUN 2004 NOMOR 1 SERI B DANNY SETIAWAN

'tetapkan di Bandung

t a n g g a l 21 Juli 2004

RNUR JAWA BARAT

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :