• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN EMPAT LA WANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN EMPAT LA WANG"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

-

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN EMPAT LA WANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN EMPAT LAW ANG

NOMOR 11 TAHUN 2008

Menimbang

Mengingat

TENTANG

PAJAKPENERANGANJALAN

DENG AN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI EMPAT LAWANG,

a. bahwa dengan telah ditetapkannya Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Empat Lawang yang salah satunya adalah melalui Pajak Penerangan Jalan;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, perlu diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Empat Lawang.

1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 08 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76;

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);

3. Undang-undang Nomor 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 1997 Nomor 41;

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685) yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997;

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah di ubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (L~mbaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844);

5. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2004 Nomor 126; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

6. Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Empat Lawang di Provinsi Sumatera Selatan;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 118;

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4138);

(2)

Menetapkan

8. Peraturan Pemerintah RI Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4578);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten I Kota (Lembaran Negara RI tahun 2007 Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4737);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERW AKILAN RAKYAT DAERAH dan

BUPATI EMPAT LAWANG EMPAT LAWANG

MEMUTUSKAN :

: PERATURAN DAERAH TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Empat Lawang;

2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Empat Lawang;

3. Bupati adalah Bupati Empat Lawang;.

4. Dinas Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah adalah Dinas Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Empat Lawang;

5. Perusahaan Listrik Negara yang selanjutnya disingkat PLN adalah Perusahaan Listrik Negara (Persero );

6. Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang Pajak sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

7. Pajak. Penerangan Jalan yang selanjutnya disebut Pajak adalah Pungutan Daerah atas penggunaan tenaga listrik;

8. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah surat digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak yang terhutang menurut Peraturan Perundang-undangan Perpajakan Daerah;

9. Surat Setoran Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SSPD adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran Pajak yang terhutang ke Kas Daerah atau ke tempat lain yang ditetapkan oleh Bupati;

2

(3)

10. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah surat keputusan yang menentukan besamyajumlah pajak yang terhutang;

11. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDKB adalah surat keputusan yang menentukan besamya jumlah pajak yang terhutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besamya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar;

12. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SKPDKBT adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan;

13. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pajak yang terhutang atau tidak seharusnya terhutang;

14. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil yang selanjutnya disingkat SKPDN adalah surat keputusan yang menentukan jumlah pajak yang terhutang sama besamya dengan jumlah kredit pajak, atau pajak tidak terhutang dan tidak ada kredit pajak;

15. Surat Tagihan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat STPD adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.

BABII

NAMA,OBJEK, SUBJEK DAN W AJIB PAJAK Pasal 2

(1) Dengan nama Pajak Penerangan Jalan dipungut pajak atas setiap penggunaan tenaga listrik;

(2) Objek Pajak adalah penggunaan tenaga listrik diwilayah daerah yang tersedia penerangan jalan yang rekeningnya dibayar oleh Pemerintah Daerah;

(3) Subjek Pajak adalah orang atau badan yang menggunakan tenaga listrik;

( 4) Wajib Pajak penerangan jalan adalah orang atau badan yang menjadi pelanggan listrik dan atau pengguna tenaga listrik;

(5) Dalam hal ini tenaga listrik disediakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), maka pemungutan Pajak Penerangan Jalan dilakukan oleh Perusahaan.

Pasal 3 Dikecualikan dari Objek Pajak adalah:

(1) Penggunaan tenaga listrik oleh instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

(4)

(2) Penggunaan tenaga listrik pada tempat-tempat yang digunakan oleh kedutaan, Perwakilan Asing dan Lembaga-lembaga Intemasional, dengan asas timbal balik sebagaimana berlaku untuk Pajak Negara;

(3) Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari bukan PLN dengan kapasitas tertentu yang tidak memerlukan izin dari instansi teknis terkait;

( 4) Penggunaan tenaga listrik lainnya yang diatur dengan Peraturan Daerah.

BAB III

DASAR PENGENAAN DAN TARIFPAJAK

Pasal 4

(1) Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Jual Tenaga Listrik;

(2) Nilai Jual Tenaga Listrik sebagai dimaksud pada ayat (1) ditetapkan:

a. Dalam hal tenaga listrik berasal dari PLN dengan pembayaran, Nilai Jual Tenaga Listrik adalah jumlah tagihan biaya beban ditambah dengan biaya pemakaian kwh yang ditetapkan dalam rekening listrik;

b. Dalam hal tenaga listrik berasal dari bukan PLN dengan tidak dipungut bayaran, Nilai Jual Tenaga Listrik dihitung berdasarkan kapasitas tersedia, penggunaan listrik atau taksiran pengunaan listrik dan harga satuan listrik yang berlaku di Wilayah Daerah.

(3) Khusus untuk kegiatan Industri pertambangan min yak bumi dan gas alam baik berasal dari PLN maupun non PLN, nilai jual Tenaga Listrik ditetapkan 30 % (tiga puluh persen).

Pasal 5 Tarif Pajak ditetapkan sebagai berikut:

a. Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), bukan untuk industri sebesar 10% (sepuluh persen);

b. Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari bukan PLN, bukan untuk industri sebesar 7 % (tujuh persen);

c. Penggrma tenaga listrik yang berasal dari bukan PLN untuk Industri sebesar 5 % (Lima Persen).

BAB IV

WILAYAH PEMUNGUTAN DAN CARA PENGHITUNGAN PAJAK

Pasal 6

(1) Pajak yang terhutang dipungut di Wilayah Daerah Kabupaten Empat Lawang;

4

(5)

(2) Besamya pajak terhutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dengan dasar pengenaan tarif pajak sebagaimana dalam Pasal 4;

(3) Apabila pemungutan pajak bekerjasama dengan PLN, rekening listrik dipersamakan dengan SKPD.

BABV

MASA PAJAK. SAAT PAJAK TERHUTANG

Pasal 7

Masa Pajak adalah jangka waktu tertentu yang ditetapkan oleh Kepala Daerah sebagai dasar untuk menghitung besamya pajak terhutang.

Pasal 8

Saat pajak terhutang adalah pada saat ditetapkannya SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan.

Pasal 9

(1) Setiap wajib pajak yang menggunakan tenaga listrik bukan dari PLN wajib mengisi SPTPD;

(2) SPTPD sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh wajib pajak atau kuasanya;

(3) SPTPD sebagaimana dimaksud ayat (1) harus disampaikan kepada Kepala Daerah selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berakhimya masa pajak;

( 4) Bentuk, isi dan tata cara pengisian SPTPD ditetapkan oleh Kepala Daerah Kabupaten Empat Lawang.

BAB VI

TATA CARA PERHITUNGAN DAN PENETAPAN PAJAK

Pasal 10

(1) Berdasarkan SPTPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1), Kep£!.la Daerah menetapkan pajak terhutang dengan menerbitkan SKPD;

(2) Apabila SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD.

Pasal 11

(1) Wajib Pajak yang membayar sendiri, SPTPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat ( 1) digunakan untuk menghitung memperhitungkan dan menetapkan pajak sendiri yang terhutang:

5

(6)

(2) Dalam jangka 5 (lima) tahun sesudah saat terhutangnya pajak, Kepala Daerah dapat menerbitkan :

a. SKPDKB;

b. SKPDKBT;

c. SKPDN.

(3) SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diterbitkan : a. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak

yang terhutang tidak atau kurang dibayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak terhutangnya pajak;

b. Apabila SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu tertentu dan telah ditegur secara tertulis, dikenakan sanksi administrasi 2

% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 ( dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terhutangnya pajak;

c. Apabila kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi, pajak yang terhutang dihitung secara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 ( dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terhutangnya pajak.

(4) SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diterbitkan apabila ditemukan data barn atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terhutang akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut;

(5) SKPDN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c diterbitkan apabila jumlah pajak yang terhutang sama besamya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terhutang dan tidak ada kredit pajak;

(6) Apabila kewajiban membayar pajak terhutang dalam SKPDKB dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan b tidak atau tidak sepenuhnya dibayar dalam jangka waktu yang telah ditentukan, ditagih dengan menerbitkan STPD ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga 2% ( dua persen) sebulan;

(7) Penambahan jumlah pajak yang terhutang sebagaimana dimaksud ayaf ( 4) tidak dikenakan apabila wajib pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan.

BAB VII

TATACARAPEMBAYARAN Pasal 12

(1) Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala Daerah sesuai waktu yang ditentukan dalam SPTPD, SKPD, SKPDKP, SKPDKBT dan STPD;

6

(7)

(2) Apabila pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk, hasil penerimaan pajak harus disetor ke Kas Daerah selarnbat- lambatnya 1 x 24 jam atau dalarn waktu yang telah ditentukan oleh Kepala Daerah;

(3) Pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dilakukan dengan menggunakan SSPD.

Pasal 13

( 1) Pembayaran pajak harus dilaksanakan sekaligus atau lunas;

(2) Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur pajak terhutang dalarn kurun waktu tertentu, setelah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan;

(3) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga sebesar 2% ( dua persen) sebulan dari jurnlah pajak yang belum atau kurang dibayar;

(4) Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk menunda pembayaran sarnpai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan bunga 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belurn atau kurang dibayar;

(5) Persyaratan untuk dapat mengangsur dan menunda pembayaran serta tata cara pembayaran angsuran dan penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4) ditetapkan oleh Kepala Daerah.

Pasal 14

(1) Setiap pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 13 diberikan tanda bukti pembayaran dan dicatat dalarn buku penenmaan;

(2) Bentuk, jenis, 1s1, ukuran tanda bukti pembayaran dan buku penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan oleh Kepala Daerah.

BAB VIII

TATA CARA PENAGIHAN PAJAK

Pasal 15

(1) Surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang seJems sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saatjatuh tempo pembayaran;

(8)

(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis, Wajib Pajak hams melunasi pajak yang terhutang;

(3) Surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh Pejabat.

Pasal 16

(1) Apabila jumlah pajak yang masih hams dibayar atau dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis, jumlah pajak yang hams dibayar ditagih dengan surat paksa;

(2) Pejabat menerbitkan surat paksa segera setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis.

Pasal 17

Apabila pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam sesudah tanggal pemberitahuan surat paksa, Pejabat segera menerbitkan surat perintah melaksanakan penyitaan.

Pasal 18

Setelah dilakukan penyitaan dan Wajib Pajak belum juga melunasi hutang pajaknya, setelah lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal surat perintah melaksanakan perintah penyitaan, Pejabat mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada Kantor Lelang Negara.

Pasal 19

Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam dan tempat pelaksanaan lelang, juru sita memberitahukan dengan segera secara tertulis kepada Wajib Pajak.

Pasal 20

Bentuk, jenis dan isi formulir yang dipergunakan untuk melaksanakan penagihan pajak daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah.

BAB IX

PENGURANGAN. KERINGANAN DAN PEMBEBASAN PAJAK

Pasal 21

(1) Kepala Daerah berdasarkan permohonan Wajib Pajak dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak;

(2) Tata cara pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1 ), ditetapkan oleh Kepala Daerah.

(9)

BABX TATA CARA

PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN, KETETAPAN DAN PENGHAPUSAN ATAU

PENGURANGAN SANKSI ADMINSTRASI Pasal 22

(1) Kepala Daerah karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat:

a. Membetulkan SKPD atau SKPDBK atau SKPDKBT atau STPD yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung dan atau kekeliruan dalam penerapan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan Daerah;

b. Membatalkan atau mengurangkan ketetapan pajak yang tidak benar;

c. Mengurangkan atau menghapus sanksi administrasi atau bunga, denda dan kenaikan pajak yang terhutang dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kehilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya.

(2) Permohonan pembetulan, pembatalan pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi atas SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD sebagaimana dimaksud ayat (1) harus disampaikan secara tertulis oleh Wajib Pajak kepada Kepala Daerah atau Pejabat selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima SKPD, SKPDKB, SKPDKBT atau STPD dengan memberikan alasan yang jelas;

(3) Kepala Daerah atau Pejabat paling lama 3 (tiga) bulan sejak surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah harus memberikan keputusannya;

(4) Apabila setelah lewat waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Kepala Daerah atau Pejabat tidak memberikan keputusan, permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi dianggap dikabulkan.

BAB XI

KEBERATAN DAN BANDING Pasal 23

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah atau Pejabat atas suatu :

a. SKPD;

b. SKPDKB;

c. SKPDKBT;

d. SKPDLB;

e. SKPDN.

(2) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan secara tertulis dalam bahasa Indonesia paling lama 3

9

(10)

(tiga) bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB dan SKPDN diterima oleh Wajib Pajak, kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaanya;

(3) Kepala Daerah atau Pejabat dalam waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Surat Permohonan Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah memberikan keputusan;

(4) Apabila sejak 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Kepala Daerah atau Pejabat tidak memberikan keputusan, permohonan keberatan dianggap dikabulkan;

(5) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menunda kewajiban membayar pajak.

Pajak25

Apabila pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 atau banding sebagaimana maksud Pasal 24 dikabulkan sebagian atau seluruhnya kelebihan membayar Pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

BAB XII

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK

Pasal 26

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak kepada Kepala Daerah atau Pejabat, secara tertulis dengan menyebutkan sekurang-kurangnya :

a. Nama dan Alamat Wajib Pajak;

b. Masa Pajak;

c. Besarnya kelebihan pembayaran pajak;

d. Alasan yangjelas.

(2) Kepala Daerah atau Pejabat dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan;

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana diarnkasud pada ayat (2) dilampaui Kepala Daerah atau Pejabat tidak memberikan keputusan, permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan SKPDLB harus diterbitkan dalam waktu paling lama 1 ( satu) bulan;

(4) Apabila Wajib Pajak mempunyai hutang pajak lainnya, kelebihan pembayaran pajak sebagaimana diamksud pada ayat (2) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu hutang pajak dimaksud;

10

(11)

(5) Pengernbalian kelebihan pernbayaran pajak dilakukan dalarn waktu paling lama 2 ( dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB, dengan rnenerbitkan Surat Perintah Mernbayar Kelebihan Pajak (SPMKP);

(6) Apabila pengernbalian kelebihan pernbayaran pajak dilakukan setelah lewat waktu 2 ( dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB, Kepala Daerah atau Pejabat rnernberikan irnbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlarnbatan pernbayaran kelebihan pajak.

Pasal 27

Apabila kelebihan pernbayaran pajak diperhitungkan dengan hutang pajak lainnya sebagairnana dirnaksud dalarn Pasal 26 ayat (4), pernbayarannya dilakukan dengan cara pernindahbukuan dan bukti pernindahbukuan juga berlaku sebagai bukti pernbayaran.

BAB XIII KEDALUW ARSA

Pasal 28

(1) Hak untuk rnelakukan penagihan pajak kedaluwarsa setelah rnelarnpaui jangka waktu 5 (lirna) tahun terhitung sejak saat terhutangnya pajak, kecuali apabila Wajib Pajak rnelakukan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah;

(2) Kedaluwarsa penagihan pajak sebagairnana dirnaksud pada ayat (1) tertanggung apabila :

a. Diterbitkan surat teguran dan surat paksa atau;

b. Ada pengakuan hutang pajak dari Wajib Pajak baik langsung rnaupun tidak langsung.

BAB XIV PENYIDIKAN

Pasal 29

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pernerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk rnelakukan penyidikan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah sebagairnana dirnaksud dalarn Undang-undang Nornor 08 Tahun 1981 tentang Hukurn Acara Pidana;

(2) Wewenang Penyidikan sebagairnana dirnaksud pada ayat (1) adalah:

a. Menerirna, rnencari, rnengurnpulkan dan rneneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bi dang Perpaj akan Daerah agar keterangan atau laporan tersebut rnenjadi lebih lengkap atau jelas;

b. Meneliti, rnencari dan rnengurnpulkan keterangan rnengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran, perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Perpajakan Daerah terse but;

c. Merninta keterangan dan bahan bukti dari orang terbukti atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah;

11

(12)

d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah;

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan 'dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah;

g. Menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Perpajakan Daerah;

i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

J. Menghentikan penyidikan;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah menurut hukum yang·

dapat dipertanggung jawabkan.

(3) Penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 08 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XV

KETENTUAN PIDANA Pasal 30

(1) Wajib pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau denda paling banyak 2 (dua) kalijumlah pajak yang terutang;

(2) Wajib pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak yang terutang;

(3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah pelanggaran.

BAB XVI

KETENTUANPENUTUP Pasal 31

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati Empat Lawang.

12

(13)

Pasal 32

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Empat Lawang.

Diundangkan di Tebing Tinggi pada tanggal, ~$.ff 2008 Pit. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN EMPAT LAWANG,

NADJAMUDDIN ZAHEIR

Ditetapkan di Tebi pada tanggal, :L1

;/)JUPATIE

LEMBARAN DAERAH KABUP ATEN EMP AT LA WANG TAHUN 2008 NOMOR

11

SERI

(14)

-

Pasal 22

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang rnengetahuinya rnemerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lernbaran Daeah Kabupaten Ernpat Lawang.

Diundangkan di Tebing Tinggi pada tanggal, 2008 Pit. SEKRET ARIS DAERAH KABUPATEN EMPAT LAWANG,

NADJAMUDDIN ZAHEIR

Ditetapkan di Tebing Tinggi pada tanggal, ~

'?

2008

ANG,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN EMPAT LAW ANG TAHUN 2008 NOMOR

1 t

Referensi

Dokumen terkait

Secara teoritis penelitian ini dapat menambah litelatur tentang fenomena pengaruh perencanaan pajak (tax planning) pada nilai perusahaan dengan leverage sebagai

eadaan osilasi atlantik tara sering ditun*ukkan oleh rata-rata atmosfer  perbedaan tekanan di permukaan laut antara A<ores dan %slandia untuk musim dingin

hasil penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa: (1) Strategi Pengelolaan Pembelajaran Scaffolding dalam Membentuk Kemnadirian Belajar siswa dapat dilakukan dengan

(2004) 'A View on Antimicrobial Resistance in Developing Countries and Responsible Risk Factors ', International Journal Of Antimicrobial Agents, 24, pp.. New York:

tajam Kesehatan karyawan Praktek lumbal punksi Sejak 1996 (8 standar) dan 2007 (3 Standar) STANDAR APD Perawatan PS Pengendalian Lingkungan Penanganan linen Penempatan Pasien

Pada uji coba pertama mendapatkan penilaian cukup layak dengan beberapa vareasi, hasil uji coba pertama alat pelontar bola tenis meja dan hal yang perlu di revisi:.

Administrasi APT mendukung pertimbangan untuk menempatkan alokasi primer radio location service pada pita 15,4 – 15,7 GHz dengan syarat bahwa hasil-hasil studi ITU-R

Tuntong laut (Batagur borneonsis) merupakan salah satu satwa khas serta spesies dari keluarga kura-kura yang habitat hidupnya terdapat di ekosistem mangrove yang terdapat di