PENERAPAN METODE MAKE A MATCH DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI PADA SMAN 1 BANUA LIMA
LISA DEWI MAYASARI
Pendidikan Profesi Guru, IAIN Palangka Raya Email [email protected]
ABSTRAK
Rendahnya hasil belajar dalam pembelajaran Pendididkan Agama Islam dan Budi Pekerti diakibatkan oleh proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru berlangsung monoton. Sehingga menyebabkan hasil belajar peserta didik menjadi kurang tercapai standar nilai. Usaha yang dilakukan sorang guru untuk mencapai tujuan pembelajaran maka di perlukan metode.
Rumusan masalah penelitian ini yaitu Apakah Metode Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar PAI dan Budi Pekerti. Sedangkan tujuan penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik melalui metode Make A Match. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan subjek penelitian peserta didik kelas X MIA SMAN 1 Banua Lima. Fokus yang diteliti adalah hasil belajar peserta didik. Data yang telah didapat kemudian dianalisis dengan metode deskriptif kuantitatif untuk mengetahui hasil belajar peserta didik. Indikator keberhasilan penelitian ini dilihat hasil belajar siswa yang mencapai ketuntasan belajar > 75. Hasil penelitian siklus I ketuntasan belajar mencapai 52% . Pada siklus II ketuntasan belajar mencapai 86%, hasil penelitian yang diperoleh berarti terdapat peningkatan dari siklus I ke siklus II dengan ketuntasan 33%. Maka dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa,” Terdapat peningkatan hasil belajar Peserta didik melalui penerapan metode Make A Match”
Kata Kunci: Metode, Make A Match, Hasil Belajar
PENDAHULUAN
Dalam proses belajar mengajar pada pembelajaran PAI dan Budi Pekerti, hasil belajar peserta didik merupakan hal yang penting karena berguna sebagai tolak ukur sejauh mana keberhasilan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Untuk mewujudkan hasil belajar peserta didik secara optimal maka perlu adanya cara-cara tertentu yang dilakukan oleh guru. Penggunaan metode yang kurang tepat, akan menjadikan peserta didik enggan belajar karena tidak mengetahui kegunaan mata pelajaran tersebut, dan peserta didik merasa bosan yang pada akhirnya mengakibatkan turunnya prestasi dan hasil belajar peserta didik. Rendahnya hasil belajar yang dicapai peserta didik tidak semata-mata disebabkan oleh kemampuan peserta didik, tetapi juga bisa disebabkan kurang berhasilnya guru dalam mengajar.
Metode pembelajaran adalah cara untuk mempermudah peserta didik mencapai kompetensi tertentu. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran sangat penting (Mulyono, 2012:81). Masih banyak guru menggunakan metode ceramah dari awal sampai akhir pembelajaran, sehingga berimplikasi kepada proses pembelajaran yang berpusat kepada guru. Metode pembelajaran yang tepat ternyata dapat berpengaruah pada hasil belajar peserta didik.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti tidak hanya menyajikan pengetahuan secara otodidak saja, melainkan juga dengan mengajak peserta didik untuk melafalkan dan mengamalkan materi. Sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, maka perlu dikembangkan metode pembelajaran yang tepat. Salah satu metode pembelajaran yang banyak melibatkan peserta didik adalah Metode Make A Match. Setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban), lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang.
Suasana pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match akan riuh, tetapi sangat asik dan menyenangkan (Widodo, 2010:199).
Metode ini memungkinkan peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran, mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya secara mandiri. kurangnya perhatian guru agama terhadap variasi penggunaan metode pembelajaran dalam upaya peningkatan mutu dan hasil pembelajaran secara baik. Begitu juga permasalahan yang terjadi di sekolah SMA Negeri 1 Banua Lima, yaitu rendahnya hasil belajar peserta didik kelas X MIA pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti hal tersebut terjadi salah satunya karena guru masih menggunakan model pembelajaran klasik, seperti ceramah, guru mencatat di papan tulis dan peserta didik menyalin apa yang ditulis atau dibaca oleh guru. Rendahnya nilai yang diperoleh peserta didik
disebabkan penggunaan metode pembelajaran yang tidak tepat dan monoton.
Metode klasik yang dipakai selama ini terbukti menyebabkan kurang tercapainya standar nilai yang diperoleh oleh peserta didik.
Rendahnya nilai yang diperoleh peserta didik disebabkan penggunaan metode pembelajaran yang tidak tepat dan monoton. Metode klasik yang dipakai selama ini terbukti menyebabkan kurang tercapainya standar nilai yang diperoleh oleh peserta didik, yaitu rentang nilai antara 40 dan 65 sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan 75. Dari uraian di atas maka perlu adanya upaya untuk mengatasi persoalan tersebut, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Upaya yang dimaksud adalah dengan mengubah cara mengajar guru yang monoton sebelumnya dengan menerapkan metode pembelajaran Make A Match yang dianggap dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas. Dengan ini, peneliti tertarik melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul PENERAPAN METODE MAKE A MATCH DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI PADA SMAN 1 BANUA LIMA.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas atau disebut dengan Classroom Action Research yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau sekolah tempat ia mengajar dengan tekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praksis pembelajaran. (Aqib & Amrullah, 2018:1).
Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran sehingga terjadi peningkatan terhadap hasil belajar siswa (Sigit, 2013:3). Dari sini dapat dinyatakan bahwa penelitian tindakan kelas harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi dalam pembelajaran dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas dilakukan oleh guru secara cermat, terus menerus, objektif dan sistematis (Sigit, 2013:4). Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwasannya Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh guru untuk menungkatkan hasil belajar peserta didik yang disebabkan oleh permasalahan yang ada di dalam kelas tersebut.
Didalam penelitian ini, peneliti mendeskripsikan suatu bentuk pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan metode Make A Match pada mata pelajaran PAI. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berbentuk deskriptif yaitu mengenai uraian- uraian kegiatan pembelajaran peserta didik dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas.
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya (Arikunto,2005:12). Dan dideskripsikan secara deduksi yang berangkat dari teori-teori umum, lalu dengan observasi untuk menguji validitas keberlakuan teori tersebut ditariklah kesimpulan. Kemudian di jabarkan secara deskriptif, karena hasilnya akan diarahkan untuk mendiskripsikan data yang diperoleh dan untuk menjawab rumusan. Adapun lokasi penelitian ini adalah di SMA Negeri 1 Banua Lima.
Dengan subjek peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Banua Lima yang berjumlah 15 orang, yang terdiri dari 6 Laki-laki dan 9 Perempuan.
Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan belajar dengan metode Make A Match , observasi aktivitas peserta didik dan guru, pre test dan post test untuk mengukur hasil belajar peserta didik dan dokumentasi. Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisis data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat mendeskripsikan data yang didapat untuk menemukan antara dua variabel atau lebih dengan tujuan mengetahui hasil belajar yang dicapai peseta didik juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran.
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa post test tertulis pada setiap akhir putaran siklus.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan rumus sederhana yaitu:
1. Untuk menilai hasil post test tiap akhir pembelajaran , untuk mengetahuai nilai rata-rata post tes akhir pembelajaran dengan rumus.
Rata-rata = Jlh Nilai Banyak Data
2. Untuk ketuntasan hasil belajar,Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:
Ket:
f = Frekuensi yang sedang dicari frekuensinya
N = Number of Class (Jumlah Frekuensi/banyaknya individu) P = Angka Presentase
penelitian tindakan kelas ini meliputi siklus I dan II. Proses PTK ini masing-masing siklus dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai,
setiap siklus terdiri dari 3 JP X 45 Menit dalam 1 kali pertemuan dan tiap selesai satu siklus diadakan post test untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap konsep mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti materi memahami materi Q.S al-Isra’/17:32 dan Q.S.an-Nur/24:2 serta Hadist terkait tentang Larangan Pergaulan Bebas dan Perbuatan Zina yang sudah dipelajari. Selain itu juga diadakan refleksi oleh peneliti yaitu seorang guru observator untuk membicarakan hal-hal yang ditemui dalam kegiatan pembelajaran pada siklus tersebut. Selanjutnya hasil refleksi dijadikan bahan perbaikan pada siklus berikutnya.
Ada empat tahap yang dilalui pada setiap siklusnya. Siklus penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan tindakan (Planning), mengobservasikan dan mengevaluasi hasil tindakan (Observation and Evalution), dan melakukan refleksi (Reflecting), dan seterusnya. Tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 1 Alur Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis & Mc.Taggart
Adapun penjelasan alur di atas adalah:
1. Perencenaan/ rencana awal, peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
2. Pelaksanaan/tindakan meliputi kegiatan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membagun pemahaman konsep peserta didik serta menegamati hasil atau dampak dari di terapkannya metode pembelajaran Make A Match
3. Pengamatan/observasi, mengamati setiap tindakan yang dilakasanakan, meliputi: aktivitas peserta didik dan guru, interaksi guru dan peserta didik.Pada tahap ini dimensi oleh pengambilan data-
data hasil pengukuran terhadap kegiatan guru dan peserta didik dengan menggunakan instrumen yang sudah di rancang.
4. Refleksi Dari pelaksanaan tindakan dan observasi yang telah dilakukan, maka akan memperoleh informasi tentang penerapan metode Make A Match, sudah berjalan sesuai dengan tujuan yang di inginkan atau tidak, kemudian hasil tersebut dianalisis dan dievaluasikan untuk menyempurnakan tindakan refleksi dalam penyusunan siklus selanjutnya.
Penelitian dibagi dalam dua siklus, yaitu siklus 1, 2 dimana masing - masing siklus dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan post test di akhir masing siklus. Dibuat dalam dua siklus dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian pembelajaran pada siklus I, untuk penerapan metode Make a Match dalam meningkatkan hasil pembelajaran peserta didik kelas X MIA SMAN 1 Banua Lima masih belum tuntas dan persentase masih belum mencabai batas maksimal Beberapa hal yang menyebabkan ini antara lain :
1. Hasil belajar peserta didik menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal peserta didik hanya 53%. Hal ini berarti hanya 53% dari peserta didik yang mengikuti siklus I sudah tuntas belajar sehingga ketuntasan hasil belajar pada siklus I belum tercapai dan harus melaksanakan siklus berikutnya.
2. Peserta didik masih belum bisa memahami seutuhnya konsep metode Make A Match, sehingga masih sering merasa bingung.
3. Peserta didik tidak mengingat materi yang dipelajari sehingga pembelajaran terbatas pada catatan yang mereka peroleh saja.
4. Peserta didik tidak menggunakan waktu yang di berikan dengan baik sehingga mereka mendapatkan poin yang sedikit.
5. Peserta didik belum aktif mencari pasangan kartunya masing-masing.
Tabel 1 Analisis Hasil Belajar Siklus I
NO Hasil Belajar Pretest Post Test
1 Nilai rata- rata 54 70
2 Nilai Terendah 20 40
3 Nilai Tertinggi 80 90
4 Jumlah Peserta Didik Tuntas 4 8
5 Persentase Ketuntasan 26% 53%
Hasil penelitian pembelajaran pada siklus 2, untuk untuk penerapan metode Make a Match dalam meningkatkan hasil pembelajaran peserta didik kelas X MIA SMAN 1 Banua Lima telah ditemukan fakta bahwa :
1. Hasil belajar peserta didik menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal peserta didik sudah 86%. Hal ini berarti hanya 14% dari peserta didik yang mengikuti siklus II belum tuntas belajar sehingga ketuntasan hasil belajar pada siklus II sudah di rasa cukup karena sudah di atas KKM.
2. Peserta didik sudah bisa memahami seutuhnya konsep metode Make A Match, sehingga tidak lagi merasa bingung.
3. Peserta didik sudah memfokuskan pembelajaran pada ingatan tidak hanya terbatas pada catatan yang mereka peroleh saja.
4. Peserta didik sudah bisa menggunakan waktu yang di berikan secara baik sehingga mereka mendapatkan poin yang banyak.
5. Peserta didik sudah aktif mencari pasangan kartunya masing-masing dengan benar.
Tabel 2 Analisis Hasil Belajar Siklus II
NO Hasil Belajar Tes Siklus I Tes Siklus II
1 Nilai rata- rata 70 82
2 Nilai Terendah 40 40
3 Nilai Tertinggi 90 100
4 Jumlah Peserta Didik Tuntas 8 13
5 Persentase Ketuntasan 53% 86%
Data di atas, menunjukkan bahwa nilai persentase ketuntasan dan nilai rata-rata sudah mencapai KKM dan indikator keberhasilan dalam pembelajaran bahkan ada beberapa anak yang nilai sudah level memuaskan. Berdasarkan hasil diatas, model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pembelajaran yang didasarkan dengan pembelajaran klasikal. Dampak dari pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan menarik dapat meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan pembelajaran klasikal. Siswa tidak hanya diam, tetapi siswa terlibat secara aktif sepanjang proses pembeljaran.
Hal ini sesuai dengan pendapat para ahli menyatakan penerapan metode pembelajaran Make A Match, dimana bisa memupuk kerja sama peserta didik dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar peserta didik lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan peserta didik tampak sekali pada saat peserta didik mencari pasangan kartunya masing-masing.(Kurniasih & Sani,2015:55).
Menurut Saiful Bahri Djamarah, (2010:72) kedudukan metode sebagai strategi pengajaran dan alat untuk mencapai tujuan sangat berpengaruh karena,Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik, Metode sebagai strategi pengajaran, Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan. Metode Make A Match melibatkan peserta didik berperan aktif untuk menemukan jawaban suatu permasalahan melalui proses bekerja sama, berpikir dan diskusi. Metode pembelajaran Make A Match menuntut keaktifan siswa secara mental maupun fisik. Aktivitas mental yang dilakukan dalam model pembelajaran Make A Match dapat membuat pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan sehingga mudah diingat peserta didik.
Hal ini didukung oleh pendapat Miftahul Huda yang menyatakan bahwa metode Make A Match.
1. Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa baik secara kognitif, maupun fisik.
2. Karena ada unsur permainan, metode ini menyenangkan.
3. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar .
4. Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi.
5. Efektif melatih kedisiplinan siswa belajar menghargai waktu untuk belajar (Huda, 2011:253-254).
Peningkatan hasil belajar peserta didik tiap siklus dapat dilihat pada grafik berikut:
Grafik 1 Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Per Siklus
KESIMPULAN
Dari uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa PAI dan Budi Pekerti merupakan salah satu mata pelajaran yang penting untuk diajarkan di Sekolah.
Karena itu, ada beberapa anak yang mengalami kesulitan dalam pelajaran PAI dan Budi Pekerti. Dengan demikian, untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik diperlukan adanya bimbingan dari guru. Metode yang cocok untuk menerangkan bimbingan pada peserta didik yang mengalami kesuliatan memahami Materi Q.S al-Isra’/17:32 dan Q.S.an-Nur/24:2 serta Hadist terkait tentang Larangan Pergaulan Bebas dan Perbuatan Zina kelas X MIA adalah metode pembelajaran Make A Match. Sehingga pembelajaran aktif, menyenangkan dan bekerja sama dengan orang lain dan penggunaan metode pembelajaran Make A Match dapat dijadikan sebagai alternatif.
Penerapan metode Make A Match pada pembelajaran PAI dan Budi Pekerti mempermudah bagi guru dalam mencapai tujuan belajar yang diinginkan dan mengoptimalkan/menuntaskan hasil belajar peserta didik. Hal ini terlihat dari persentase ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 53%, pada siklus II 86%. Nilai rata-rata hasil peserta didik juga mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu pada tahap siklus I sebesar 70, siklus II naik menjadi 82. Hal ini berarti, target yang ditetapkan peneliti yaitu standar ketuntasan hasil belajar peserta didik secara klasikal mencapai ≥ 80 % dan secara individual nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik ≥ 75 sudah tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Aqib Zainal, Amrullah. 2018. Penelitian Tindakan Kela,Teori dan Aplikasi.
Yogyakarta:Andi.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta:Rineka Cipta.
Djamarah,Saiful Bahri.2013. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Rineka Cipta Huda,Miftahul.2011.Cooperative Learning: Metode, Teknik, Struktur dan Model
Terapan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kurniasih,Imas dan Sani Berlin, 2015. Ragam Pengembangan dan Model Pembelajaran, Kata Pena:CV Solusi Distribusi
Komsiyah,Indah. 2012. Belajar dan Pembelajaran.Yogyakarta:Teras
Mulyono. 2012. Strategi Pembelajaran Menuju Efektivitas Pembelajaran Menuju di Abad Global. Malang:UIN-Maliki Press
Shoimin, Aris. 2014. Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Wardoyo, Mangun Sigit. 2013. Teknik menulis ,Panduan menulis Puisi untuk Siswa, Mahasiswa, Guru dan Dosen.Yogyakarta:Graha Ilmu.
Widodo, Rahmat, 2010. Model Pembelajaran Make A Match. Lorna Curran