69
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
A. Hasil Penelitian
Perkembangan internet dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan dan memberikan dampak untuk memudahkan kegiatan manusia. Internet sebagai salah satu media informasi dan komunikasi elektronik memberikan manfaat di berbagai kegiatan, seperti mencari data dan berita, mengirim pesan melalui e-mail, menjelajah (browsing) dan juga perdagangan. Perdagangan melalui internet atau secara online ini disebut sebagai electronic commerce atau disingkat e-commerce.
E-Commerce dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu: pertama, Business to Business (B2B). Karakteristik dari bisnis model B2B antara lain: (a) Trading partners yang sudah diketahui dan umumnya memiliki hubungan yang cukup lama. Informasi hanya dipertukarkan dengan partner tersebut. Dikarenakan sudah mengenal lawan komunikasi, maka jenis informasi yang dikirimkan dapat disusun sesuai dengan kebutuhan dan kepercayaan. (b) Pertukaran data berlangsung berulang-ulang dan secara berkala, misalnya setiap hari, dengan format data yang sudah disepakati bersama. Dengan kata lain, pelayanan yang digunakan sudah tertentu. Hal ini memudahkan pertukaran data untuk dua entiti yang menggunakan standar yang sama. (c) Salah satu pelaku dapat melakukan inisiatif untuk mengirimkan data, tidak harus menunggu partnernya.
Contohnya seperti perusahaan dengan fokus untuk menyediakan produk siap pakai bagi masyarakat. Perusahaan tersebut tentu membutuhkan bahan mentah terlebih dahulu. Perusahaan lain dapat menyediakan bahan baku tersebut guna
70
menunjang rantai pasokan pada kegiatan ekonomi. Di bawah ini adalah bagan hubungan hukum kedua perusahaan dengan model Business to Business (B2B) yaitu sebagai berikut :
1.1. Bagan Hubungan Hukum Business to Business (B2B).
Kedua, Business to Consumer (B2C). Business to Consumer e-commerce memiliki karakteristik sebagai berikut: (a) Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan ke umum; (b) Servis yang diberikan bersifat umum dengan menggunakan layanan sudah dinikmati masyarakat secara ramai; (c) Servis diberikan berdasarkan permohonan. Konsumen melakukan inisiatif dan produser harus siap memberikan respon sesuai dengan permohonan; (d) Pendekatan client/server sering digunakan dimana diambil asumsi client (konsumer) menggunakan sistem yang minimal (berbasis Web) dan processing diletakkan di sisi server. Oleh karena itu bisnis e-commerce ini sangat populer dikarenakan dapat menjual harga dibawah pasar dan mampu berkembang dengan sangat cepat. Sudah banyak toko virtual yang menggunakan website atau media sosial untuk mempromosikan dan memperkenalkan produknya.
Adapun contoh e-commerce menggunakan konsep B2C ini seperti amazon.com, blibli.com, jd.id, lazada.com, dan lain sebagainya. Di bawah
71
ini adalah bagan hubungan hukum antara perusahaan dan konsumen dengan model Business to Consumer (B2C) sebagai berikut :
1.2. Bagan Hubungan Hukum Business to Consumer (B2C).
Ketiga, konsumen ke konsumen (Consumer to Consumer). Konsumen ke konsumen merupakan tradisi bisnis secara elektronik yang dilakukan antar konsumen untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu dan pada saat tertentu pula, segmentasi konsumen ke konsumen ini sifatnya lebih khusus karena transaksi dilakukan oleh konsumen ke konsumen yang memerlukan transaksi. Internet yang telah dijadikan sebagai sarana tukar menukar informasi tentang produk baik mengenai harga, kualitas dan pelayanannya.
Contohsederhana dari model bisnis ini adalah Bukalapak, Tokopedia, BliBli, Shopee, dan marketplace lainnya. Adapun bagan hubungan hukum C2C yaitu sebagai berikut :
1.3. Bagan Hubungan Hukum Consumer to Consumer (C2C).
72
Selain itu terdapat beberapa tempat untuk terjadinya jual beli secara online, yaitu:
1. Sosial Media
Jaringan sosial merupakan salah satu dimensi sosial selain kepercayaan dan norma. Konsep jaringan dalam kapital sosial lebih memfokuskan pada aspek ikatan antar simpul yang bisa berupa orang atau kelompok (organisasi). Dalam hal ini terdapat pengertian adanya hubungan sosial yang diikat oleh adanya kepercayaan yang mana kepercayaan itu dipertahankan dan dijaga oleh norma-norma yang ada.
Pada konsep jaringan ini, terdapat unsur kerja, yang melalui media hubungan sosial menjadi kerja sama. Pada dasarnya jaringan sosial terbentuk karena adanya rasa saling tahu, saling menginformasikan, saling mengingatkan, dan saling membantu dalam melaksanakan ataupun mengatasi sesuatu, sehingga konsep jaringan dalam capital social menunjuk pada semua hubungan dengan orang atau kelompok lain yang memungkinkan kegiatan dapat berjalan secara efisien dan efektif.
Jejaring sosial atau jaringan sosial adalah suatu sturktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dan lain-lain. Analisis jaringan sosial memandang hubungan sosial sebagai simpul dan ikatan, simpul adalah aktor individu didalam jaringan, sedangkan ikatan adalah hubungan antar aktor tersebut. Media sosial memberikan kesempatan untuk berinteraksi lebih dekat dengan konsumen. Media sosial menawarkan bentuk komunikasi yang lebih individual, personal dan dua arah. Melalui media sosial para pemasar dapat mengetahui kebiasaan konsumen mereka dan melakukan interaksi secara personal serta membangun keterikatan yang lebih dalam.
73
Beberapa contoh jejaring sosial diantaranya facebook, twitter, instagram dan blog. Fungsi dari penerapan jejaring sosial berfokus pada koneksi yang akan dilakukan oleh satu orang dengan orang lain, dimana dapat berupa hubungan sahabat, keluarga, peristiwa, profesi hingga bisnis dan pekerjaan. Berikut adalah skema hubungan hukum atau transaksi yang terbentuk, sebagaimana digambarkan di bawah ini :
1.4. Bagan Hubungan Hukum E-Commerce melalui Sosial Media90
2. Market Place
Marketplace adalah platform di mana penjual berkumpul dan bisa menjual barang atau jasa ke pelanggan tanpa bertemu secara fisik. Perusahaan marketplace adalah menyediakan platform bertemunya penjual dan pembeli, di mana pembeli bisa melihat produk apa saja yang dijual, lalu perusahaan marketplace mengambil keuntungan melalui komisi dari setiap penjualan. Plaform dalam marketplace adalah bisa berbentuk website maupun aplikasi. Semua operasional marketplace,
90 Bagan ini merupakan hasil penyederhanaan dan perubahan berupa tambahan mengenai metode pembayaran yang dilakukan oleh User (Pembeli) kepada User (Penjual) yakni dapat dilakukan melalui transfer atau juga sistem Cash on delivery (COD) dari bagan yang termuat dalam artikel yang ditulis oleh Tashia dengan judul, “Sistem e-Commerce dan Perlindungan Konsumen”
yang diupload pada tanggal 29 Juni 2017 dan diakses pada tanggal 29 Juli 2022 pukul 11:39 WIB.
melalui https://aptika.kominfo.go.id/2017/06/sistem-e-commerce-dan-perlindungan-konsumen/.
74
termasuk pengelolaan wabsite hingga metode pembayaran difasilitasi oleh perusahaan penyedia marketplace.91
Marketplace adalah berbeda dengan toko online. Toko online merujuk pada toko tunggal (bukan berkumpulnya penjual dalam satu platform), yang menjual produknya sendiri secara online. Ada banyak perusahaan marketplace di dunia.
Beberapa perusahaan marketplace besar seperti Amazon, Rakuten, Alibaba, dan eBay. Di Indonesia, ada beberapa perusahaan marketplace antara lain Shopee, Tokopedia, BliBli, Belanjacom, JD.ID, Lazada, OLX, Elevania, dan Bukalapak.92
Pemasaran online adalah usaha perusahan untuk memasarkan produk dan pelayanan serta membangun hubungan pelanggan melalui internet. Dengan cara ini proses jual beli produk semakin mudah. Wilayah pemasaran online yaitu sebagai berikut:
a. Pemasaran online bisnis ke konsumen (B2C) adalah menjual barang dan jasa secara online kepada konsumen akhir (vide Bagan 1.2).
b. Pemasaran online bisnis (B2B) adalah menggunakan sites web B2B email, katalog produk online, jaringan dagang online, dan sumber daya online lainnya untuk menjangkau (vide Bagan 1.1).
3. Toko Online
Kata online terdiri dari dua kata, yaitu On (Inggris) yang berarti hidup atau didalam, dan Line (Inggris) yang berarti garis, lintasan, saluran atau jaringan.
Secara bahasa online bisa diartikan “didalam jaringan” atau dalam koneksi. Online
91 Artikel ini ditulis oleh Muhammad Idris di Kompas.com dengan judul "Apa Itu Marketplace dan Bedanya dengan Toko Online Maupun E-Commerce?", diakses pada tanggal 15 Mei 2022 pukul 17:31 WIB melalui : https://money.kompas.com/read/2021/09/29/134757926/apa- itu-marketplace-dan-bedanya-dengan-toko-online-maupun-e-commerce?page=all.
92 Ibid.
75
adalah keadaan terkoneksi dengan jaringan internet. Dalam keadaan online, kita dapat melakukan kegiatan secara aktif sehingga dapat menjalin komunikasi, baik komunikasi satu arah seperti membaca berita dan artikel dalam website maupun komunikasi dua arah seperti chatting dan saling berkirim email. Online bisa diartikan sebagai keadaan dimana sedang menggunakan jaringan, satu perangkat dengan perangkat lainnya saling terhubung sehingga dapat saling berkomunikasi.
Sedangkan toko berarti menunjukan tempat terjadinya jual beli. Jadi toko online berarti bahwa tempat dipertemukan penjual dan pembeli secara online untuk melakukan transaksi jual beli. Salah satu contoh toko online adalah Ditoko.com.
Berikut adalah skema hubungan hukum atau transaksi yang terbentuk, sebagaimana digambarkan di bawah ini :
1.5. Bagan Hubungan Hukum E-Commerce melalui Ditoko.com.93
93 Bagan ini merupakan hasil penyederhanaan dan perubahan berupa tambahan mengenai metode pembayaran yang dilakukan oleh User (Pembeli) kepada Penyelenggara selaku Penjual yakni dapat dilakukan melalui transfer atau juga sistem Cash on delivery (COD) dari bagan yang termuat dalam artikel yang ditulis oleh Tashia dengan judul, “Sistem e-Commerce dan Perlindungan Konsumen” yang diupload pada tanggal 29 Juni 2017 dan pada tanggal 29 Juli 2022 pukul 11:44 WIB.diakses melalui https://aptika.kominfo.go.id/2017/06/sistem-e-commerce-dan-perlindungan- konsumen/.
76
B. Analisis
1. Implementasi Teori Kesepakatan Dalam Perjanjian Jual Beli Secara Online
Perjanjian jual beli secara online memiliki pengertian yang sama dengan perjanjian jual beli secara konvensional, hanya saja salah satu perbedaan yang mendasar adalah jual beli secara online dilakukan tanpa harus penjual dan pembeli bertatap muka secara langsung. Sedangkan jual beli secara konvensional mengharuskan penjual dan pembeli bertatap muka secara langsung. Dengan demikian maka dapat dijustifikasikan bahwa perjanjian jual beli secara online dan perjanjian jual beli secara konvensional mempunyai perbedaan pada media atau sarana yang digunakan. Perjanjian jual beli secara online dilakukan melalui media atau sarana internet seperti melalui media sosial (facebook, instagram, twitter dan lain-lain), sedangkan perjanjian jual beli secara konvensional dilakukan dengan cara para pihak dipertemukan secara langsung dan para pihak akan melakukan tawar-menawar sehingga muncul kesepakatan.
Walaupun memiliki perbedaan yang mendasar, tetapi ketentuan mengenai syarat jual beli sebagaimana termuat dalam Pasal 1320 KUHPer tetap berlaku bagi kedua perjanjian tersebut. Pasal 1320 KUHPer menetapkan 4 (empat) syarat sahnya perjanjian, diantaranya adalah adanya kesepakatan. Kesepakatan merupakan syarat yang logis dalam mengadakan perjanjian dikarenakan kesepakatan merupakan kehendak dari kedua belah pihak, dimana kehendak pihak satu mengisi kehendak pihak lain, sehingga kehendak dari kedua pihak tersebut harus bertemu dan dalam bertemu itu, kehendak pun harus dinyatakan.
77
Penerapan kesepakatan dalam perjanjian jual beli secara online tersebut karena adanya pernyataan kehendak. Pernyataan kehendak mengandung dua unsur yaitu kehendak dan pernyataan. Menurut Agus Yudha Hernoko94, teori kehendak menyebutkan bahwa adanya keterikatan antara para pihak baru ada jika dan sejauh pernyataan berdasarkan putusan kehendak yang sungguh-sungguh sesuai dengan itu dan kehendak dari para pihak berperan penting dalam teori ini. Teori ini pada prinsipnya adalah suatu persetujuan yang tidak sesuai dengan kehendak yang benar maka persetujuan tersebut tidak sah. Selanjutnya J. Satrio95 menyebutkkan bahwa konsekuensi dari teori ini adalah jika orang memberikan suatu pernyataan yang tidak sesuai dengan kehendaknya, maka pernyataan tersebut tidak mengikat dirinya dan perjanjian tidak muncul atas dasar pernyataan yang tak dikehendaki. Agar pernyataan mengikat, ia harus didasarkan atas kehendak. Penulis melihat bahwa pernyataan kehendak yang muncul harus didasarkan pada kebebasan seseorang untuk menentukan atau memilih apa yang ia ingingkan. Kebebasan tersebut tidak boleh ada karena ada tekanan atau ancaman dari pihak lain.
Kemudian terkait dengan teori pernyataan (verklaringsleer;
verklaringstheorie), Agus Yudha Hernoko menjelaskan bahwa yang menjadi patokan dari teori ini adalah apa yang dinyatakan oleh seseorang, sehingga jika pernyataan dua orang sudah saling bertemu maka perjanjian sudah terjadi dan mengikat para pihak. Teori ini memiliki kelemahan yaitu jika pernyataan tidak sesuai dengan kehendak yang ada.96 Pernyataan akan sesuai dengan kehendak jika kehendak dinyatakan dengan benar, dan pada umumnya pernyataan memang sesuai
94 Agus Yudha Hernoko, Op. Cit, hal. 165.
95 J. Satrio, Hukum Perjanjian : Perjanjian Pada Umumnya, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992, hal. 165.
96 Agus Yudha Hernoko, Op. Cit, hal. 146.
78
dengan kehendak. Dalam kaitanya dengan hal tersebut, maka implementasi kesepakatan dalam jual beli secara online akan terjadi jika pembeli mengklik barang yang hendak dipesan sesuai keinginan, kemudian pembeli akan memilih ukuran atau warna juga metode pembayaran yang akan dilakukan, tahap-tahap tersebut merupakan bagian dari pernyataan pembeli dalam melakukan transaksi jual beli secara online. Ketika tahap-tahap tersebut telah dilalui, maka barang yang dipesan akan masuk dalam daftar pesanan yang kemudian oleh penjual akan dilakukan pengemasan dan dikirim sesuai dengan alamat pembeli yang tersedia pada akun pembeli. Dengan kalimat berbeda, teori ini memberi makna bahwa kesepakatan para pihak harus dinyatakan dalam suatu kehendak yang sama atas barang yang diperjual-belikan, harga, cara pembayaran an lain sebagainya. Ketika hal itu tercapai, maka secara hukum teori kesepakatan telah diimplementasikan dalam jual beli tersebut.
Selanjutnya adalah teori kepercayaan (vetrouwensleer; vertouwenstheorie).
Menurut Agus Yudha Hernoko, teori ini mengatasi kekurangan 2 (dua) teori sebelumnya. Teori ini menjelaskan bahwa pernyataan dari seseorang menimbulkan kepercayaan bahwa hal itu sesuai dengan kehendak, sehingga sepakat terjadi jika pernyataan dari kedua belah pihak menimbulkan kepercayaan bahwa sepakat tersebut telah sesuai dengan kehendak para pihak dan kepercayaan yang ditimbulkan karena pernyataan kehendak menjadi patokannya.97 Pernyataan serta persesuaian kehendak antara satu pihak dengan pihak lain merupakan arti dari kesepakatan. Menurut penulis, teori ini bersifat pelengkap karena para pihak yang melakukan transaksi jual beli bukan hanya karena ada pernyataan kehendak yang
97 Ibid., hal. 152.
79
sama, tetapi perjanjian yang dibangun harus didasarkan pada kepercayaan para pihak (sama-sama saling percaya), apalagi dalam perjanjian jual beli secara online mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap potensi kerugian bagi pihak pembeli dibandingkan dengan jual beli secara konvensional. Teori kepercayaan dalam jual beli secara online harus dipegang para pihak sehingga jual yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak.
Menurut Agus Yudha Hernoko, terdapat proses dalam pembentukan kesepakatan, yaitu adanya tawar menawar sebagai wujud kedua belah pihak saling menyatakan kehendak. Unsur tersebut adalah penawaran (offer, offerte, aanbod) dan penerimaan/akseptasi (aanvarding, acceptie, acceptance).98 Dijelaskan lebih lanjut oleh J. Satrio bahwa diperlukan penawaran dari satu pihak dan penerimaan penawaran dari pihak yang lain untuk tercapainya suatu kesepakatan. Penawaran merupakan pernyataan kehendak untuk mengadakan perjanjian atau penawaran adalah ajakan atau usul untuk mengadakan perjanjian. Sedangkan penerimaan/akseptasi merupakan pernyataan kehendak penerimaan atau setuju dengan pihak yang ditawari. Cara untuk pernyataan penerimaan dilakukan secara bebas, kecuali oleh orang yang menawarkan disyaratkan suatu bentuk akseptasi tertentu.99 Dalam jual beli online biasanya tidak ada penawaran mengenai harga karena sudah ditentukan atau sudah tercantum di dalam daftarnya. Sehingga ketika pembeli hendak memesan sesuatu, ia akan melihat harga yang sudah sediakan.
Kalaupun hendak melakukan tawar-menawar, bisa melalui percakapan dengan cara menekan opsi yang ada pada situs tersebut.
98 Ibid., hal. 162.
99 J. Satrio, Op. Cit., hal. 165.
80
Kesepakatan dalam perjanjian jual beli secara online merupakan persetujuan atau kesesuaian kehendak para pihak untuk mengikatkan diri dari penjual untuk menyerahkan barang dan pembeli untuk menyerahkan harga berupa uang untuk menyelesaikan transaksi. Kesepakatan merupakan syarat primer dalam suatu perjanjian baik perjanjian jual beli secara konvensional maupun secara modern atau online. Suatu perjanjian akan mengikat para pihak apabila terpenuhinya syarat utama perjanjian yakni kesepakatan para pihak.
Walaupun kesepakatan ini lahir dengan tidak adanya tatap muka secara langsung antara para pihak, akan tetapi kesepakatan tersebut tetap mengikat para pihak sebagaimana perjanjian konvensional pada umumnya yang berdasarkan asas kepastian hukum yaitu perjanjian mengikat kedua belah pihak layaknya undang- undang. Oleh karena itu jual beli secara online harus didasarkan prinsip saling percaya, itikad baik, kehati-hatian, tranparansi dan komitmen para pihak.
Secara sumir, kesepakatan dalam perjanjian jual beli secara online lahir ketika pembeli mengklik atau memenuhi semua persyaratan yang telah dibuat oleh pihak penjual. Pihak penjual melalui penawaran yang dilakukan telah menyediakan langkah-langkah yang harus dipenuhi oleh seorang calon pembeli agar diikuti seluruh proses atau instruksi yang telah disediakan tersebut. Pada saat pembeli mengklik barang yang hendak dipesan dan harga yang telah ditentukan, maka pembeli telah menyatakan kehendaknya atas barang dan harga yang ada. Kehendak yang dinyatakan oleh pembeli dan diterima oleh penjual harus didasari kepercayaan bahwa penjual akan melaksanakan kewajibannya mengirim barang yang sesuai dengan keterangan penjualan dan pembeli akan membayar harga yang sesuai sebagaimana disepakati.
81
Menurut penulis jual beli secara online baik melalui sosial media, market place, dan toko online sudah terjadi dan mengikat pada saat adanya kata sepakat mengenai barang dan harga antara kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli dalam perjanjian jual beli. Hal ini senada dengan Abdulkadir Muhammad100 yang menyebutkan bahwa ketika penjual dan pembeli setuju mengenai barang dan harga, maka saat itu juga jual beli terjadi dan secara sah megikat kedua belah pihak. Hal tersebut sesuai dengan substansi Pasal 1458 KUHPer yang menyatakan bahwa “jual beli dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak, seketika setelahnya orang- orang ini mencapai kata sepakat tentang kebendaan dan harganya, walaupun kebendaan itu belum diserahkan dan harganya belum dibayar”. Ketentuan ini secara mutatis mutandis berlaku bagi perjanjian jual beli secara online. Dalam jual beli secara online sepakat kebendaan dan harganya ditunjukkan dengan adanya tindakan pembeli yang mengklik barang yang hendak dipesan. Ketika itu dilakukan, maka pembeli dan penjual telah mencapai kata sepakat.
Menurut Moch. Isnaeni, sepakat yang menentukan lahirnya perjanjian jual beli memiliki arti bahwa perjanjian jual beli merupakan perjanjian konsensuil, yaitu dengan konsensus maka perjanjian tersebut lahir. Para pihak yaitu penjual dan pembeli yang sudah saling menerima mengenai kepastian benda dan besaran harga merupakan pencerminan dari sepakat.101 Sepakat disini berarti pihak penjual dan pembeli hanya menyetujui mengenai benda dan harga, sedangkan tujuan jual beli sendiri yaitu peralihan hak milik benda sebagai objek jual beli, belum terjadi.
100 Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, hal. 319.
101 Moch, Isnaeni, Op. Cit, hal. 32.
82
Kesepakatan atau konsualisme merupakan asas hukum dalam suatu perjanjian. Disamping sebagai syarat yang tertuang dalam Pasal 1320 KUHPer, namun asas konsensualisme juga merupakan dasar perjanjian dalam munculnya kesepakatan dalam perjanjian jual beli secara online. Asas ini dapat disimpulkan dari Pasal 1338 ayat (1) KUHPer dari kata-kata perjanjian yang dibuat secara sah dan Pasal 1320 poin (1) tentang sepakat mereka yang mengikatkan diri. Asas konsensualisme memiliki pengertian bahwa sejak saat terciptanya atau terjadinya konsensus atau sepakat diantara para pihak tanpa perlu adanya formalitas tertentu, perjanjian itu sudah lahir. Formalitas tertentu yaitu ada kesepakatan namun tidak perlu menggunakan tindakan formal tertentu, kesepakatan dapat saja dinyatakan secara diam-diam, dengan berdiam diri lalu kita setuju dengan harga barang yang diberikan lalu membayarnya tanpa mengucapkan sepatah kata, namun pada dasarnya telah terjadi kesepakatan atau bisa dengan cara yang lain.
Moch. Isnaeni juga menambahkan bahwa perbuatan hukum yang terjadi saat mengikrakan janji kepada sesuatu pihak sehingga dari perbuatan hukum itu muncul akibat hukum. Saat dalam perngikraran terdapat penawaran dan penerimaan atau akseptasi, maka akibat hukum yang muncul adalah timbulnya perikatan.102 Dikarenakan adanya kesepakatan, maka penjual dan pembeli saling terikat untuk para pihak saling bertukar kewajiban dan jika kewajiban tersebut terpenuhi selanjutnya akan lahir hak yang diinginkan oleh para pihak.
Kesepakatan yang muncul tidak hanya datang begitu saja, akan tetapi didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan mengenai hak-hak dan kewajiban- kewajiban dalam perjanjian disamping pertimbangan mengenai barang dan harga.
102 Ibid, hal. 33.
83
Oleh karena itu, untuk menciptakan hubungan yang serta keseimbangan antara penjual dan pembeli maka masing-masing pihak perlu mengetahui apa saja kewajiban-kewajiban hukum yang harus dilaksanakan sebelum mendapatkan hak- hak yang dimiliki para pihak. Berikut akan membahas mengenai hak dan kewajiban oleh masing-masing pihak.
Hak Penjual dalam perjanjian jual beli secara online adalah: 1). Menerima pembayaran dari pembeli berdasarkan harga yang telah disepakati dari barang yang dijual; 2). Menerima pembayaran pada waktu dan di tempat yang telah ditetapkan dalam persetujuan; dan 3).Menuntut pembatalan jual beli jika pembeli tidak membayar harga pembelian. Sedangkan kewajiban Penjual menurut Pasal 1473 KUHPer, seorang penjual diwajibkan untuk menyatakan dengan tegas untuk apa ia mengikatkan dirinya dan segala janji yang tidak terang akan ditafsir untuk kerugiannya. Disamping itu, menurut Pasal 1474 KUHPer, 2 (dua) kewajiban utama penjual yaitu: 1). Menyerahkan barangnya, dimana berdasarkan Pasal 1475 KUHPer, menyerahkan barang yang telah dijual ke dalam kekusaan dan kepemilikan pembeli; dan 2). Menanggung barang yang dijual, dimana penanggungan yang menjadi kewajiban penjual adalah untuk menjamin penguasaan benda yang dijual secara aman dan tenteram dan menjamin tidak adanya cacat barang yang tersembunyi.
Hak Pembeli adalah menerima barang. Pembeli berhak menerima barang, seperti yang tercantum dalam Pasal 1481 KUHPer yaitu “Barang harus diserahkan dalam keadaan dimana barang itu berada pada waktu penjualan. Sejak waktu itu segala hasil menjadi kepunyaan pembeli”. Berdasarkan Pasal 1475 KUHPer, Penyerahan barang tersebut merupakan tindakan pemindahan barang yang dijual ke
84
dalam kekuasaan dan kepemilikan pihak pembeli. Selain itu juga Hak menunda pembayaran. Hak menunda pembayaran atau menagguhkan terjadi karena barang yang sudah dibelinya itu terdapat gangguan. Gangguan tersebut berupa suatu tuntutan hukum berdasarkan hipotek atau suatu tuntutan hukum untuk meminta kembali barangnya. Berdasarkan Pasal 1516 KUHPer yang menyebutkan “ Jika dalam menguasai barang itu pembeli diganggu oleh suatu tuntutan hukum yang didasarkan hipotek atas suatu tuntutan untuk memperoleh kembali barang tersebut, atau jika pembeli mempunyai suatu alasan yang patut untuk khawatir akan diganggu dalam penguasaanya, maka ia dapat menangguhkan pembayaran harga pembelian sampai penjual menghentikan gangguan tersebut, kecuali jika penjual memilih memberikan jaminan atau jika telah diperjanjikan bahwa pembeli wajib membayar tanpa mendapat jaminan atas segala gangguan”. Sedangkan Kewajiban Pembeli berdasarkan Pasal 1513 KUHPer adalah membayar harga pembelian, pada waktu dan di tempat sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian. Jika tidak diperjanjikan maka pembeli harus membayar di tempat dan pada waktu dimana penyerahan itu harus dilakukan sesuai dengan Pasal 1514 KUHPer. Setelah membayar harga maka hak milik benda diperoleh pembeli setelah penjual melakukan salah satu kewajiban utamanya. Bila pembeli tidak membayar harga, penjual dapat mengambil sikap seperti yang diatur oleh Pasal 1266 dan Pasal 1267 KUHPer.103 Dengan demikiam, apabila pembeli hendak memperoleh benda/barang yang ada pada penjual, maka terlebih dahulu harus membayar kepada penjual.
Berdasarkan Pasal 1338 KUHPer dimana akibat adanya suatu perjanjian dimana dalam hal ini adalah perjanjian jual beli menyatakan bahwa semua
103 H. Moch. Isnaeni, Perjanjian Jual Beli, Penerbit PT Refika Aditama, Bandung, 2016, hal.
92.
85
perjanjian yang dibuat secara sah yang tertuang dalam Pasal 1320 KUHPer berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, yang artinya bahwa pihak penjual dan pembeli berhak untuk menaati perjanjian tersebut sama seperti menaati undang-undang. Jika kedua belah pihak melanggar perjanjian tersebut maka kedua belah pihak tersebut melanggar undang-undang. Sehingga, akan muncul akibat hukum dari pelanggaran yang dilakukan yaitu diberikannya sanksi hukum.
Barangsiapa yang melanggar perjanjian yang telah dibuat, maka akan mendapatkan hukuman sesuai dalam undang-undang.
Aturan penggunaan dalam kesepakatan online dan pemahaman pembelian dalam pelaksanaannya tergantung pada manfaat yang digunakan dan kepercayaan masing-masing pihak. Agar sebuah perdagangan antar pembeli dan penjual dapat dilakukan, maka harus ada satu proses tertentu. Menurut Edmon Makarim, transaksi jual beli secara elektronik ini dapat dilakukan dalam beberapa tahap, sebagai berikut: 104
a. Penawaran, yang dilakukan oleh penjual atau pelaku usaha melalui website di internet. Penjual atau pelaku usaha menyediakan etalase yang berisi katalog produk dan jasa yang akan disediakan. Orang yang masuk ke website pelaku usaha dapat melihat barang yang ditawarkan oleh penjual. Salah satu kelebihan transaksi jual beli melalui toko online ini adalah pembeli dapat berbelanja kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Penawaran dalam sebuah website biasanya menampilkan barang yang ditawarkan, harga, nilai rating atau jajak pendapat otomatis tentang barang yang diisi oleh pembeli sebelumnya, spesifikasi barang yang dimaksud dan menu produk terkait lainnya. Penawaran melalui internet terjadi apabila pihak lain yang menggunakan media internet memasuki situs milik penjual atau pelaku usaha untuk melakukan penawaran, oleh karena itu apabila seseorang tidak menggunakan media internet dan memasuki situs milik pelaku usaha yang menawarkan suatu produk, maka tidak dapat dilakukan penawaran. Dengan demikian penawaran melalui internet hanya
104 Edmon Makarim, Kompilasi Hukum Telematika, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 320-322.
86
dapat terjadi jika seseorang membuka situs yang menampilkan penawaran melalui internet.
b. Penerimaan, dapat dilakukan tergantung pada penawaran yang terjadi. Jika penawaran dilakukan melalui alamat email, maka penerimaan dilakukan melalui email, karena penawaran hanya ditujukan ke alamat email sehingga hanya pemilik email tersebut yang dialamatkan. Penawaran melalui website diperuntukan bagi semua orang yang membuka website, karena siapapun dapat masuk ke website yang berisi penawaran suatu barang yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha. Setiap orang yang berminat untuk membeli barang yang ditawarkan dapat membuat kesepakatan dengan penjual atau pelaku usaha yang menawarkan barang tersebut. Dalam transaksi jual beli secara elektronik khususnya melalui website biasanya calon pembeli akan memilih barang tertentu yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha, dan jika calon pembeli atau konsumen tertarik untuk membeli salah satu barang yang ditawarkan maka barang tersebut akan disimpan terlebih dahulu sampai calon pembeli/konsumen merasa yakin dengan pilihannya, maka pembeli/konsumen akan memasuki tahap pembayaran.
c. Pembayaran dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui fasilitas internet, namun tetap mengandalkan sistem keuangan nasional yang mengacu pada sistem keuangan daerah.
Kesepakatan dalam perjanjian jual beli secara online ini muncul saat pembeli sudah menyatakan pernyataannya dengan menyetujui terhadap penawaran yang diberikan oleh penjual dengan cara mengklik barang yang diinginkan kemudian mengisi order form dengan data yang valid yang kemudian diterima oleh pihak penjual. Tindak lanjut dari kesepakatan mengenai harga dan barang tersebut adalah dengan melakukan pembayaran harga oleh pihak pembeli dan penyerahan barang oleh pihak penjual. Pembayaran dapat dilakukan dimuka oleh pembeli dan mengirim bukti pembayaran tersebut ke penjual. Metode ini disebut pembayaran dimuka atau terlebih dahulu. Di samping metode tersebut, terdapat juga metode lain seperti cash on delivery (COD) atau bayar ketika barang sudah sampai. Jika dikaitkan dengan teori kesepakatan dalam perjanjian jual beli secara online, maka kedua metode baik pembayaran dimuka maupun ketika barang sampai baru dibayar
87
telah memenuhi salah satu teori kesepakatan yaitu teori penerimaan (ontvangstheorie) yang mana lahirnya perjanjian atau kesepakatan saat telah diterimanya surat jawaban tentang penerimaan suatu penawaran, sehingga kesepakatan dalam perjanjian jual beli secara online ini telah memenuhi salah satu dari 4 (empat) teori kesepakatan.
Klasifikasi cara pembayaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Transaksi model ATM, yaitu transaksi yang hanya melibatkan lembaga keuangan dan pemegang rekening yang akan menarik atau menyetor uang dari rekeningnya masing-masing;
2. Pembayaran oleh dua pihak tanpa perantara, yang dapat dilakukan secara langsung antara kedua pihak tanpa perantara menggunakan mata uang nasional mereka;
3. Pembayaran melalui pihak ketiga, umumnya adalah proses pembayaran yang melibatkan debet, kredit atau cek masuk. Metode pembayaran yang dapat digunakan antara lain: sistem pembayaran kartu kredit online dan sistem pembayaran cek inline.
Berdasarkan pengertian di atas, terkait dengan adanya pihak-pihak dalam transaksi jual beli secara online. Menurut Edmon Makarim, Pihak-pihak yang dimaksud adalah:105
1. penjual, yakni pihak yang menawarkan produk-produknya dengan menggunakan sarana internet;
2. pembeli, yaitu setiap orang yang tidak dilarang oleh undang- undang untuk menerima penawaran dan melakukan transaksi jual beli atas produk yang disediakan oleh penjual;
3. bank, yaitu pihak yang menjadi penengah antara penjual dan pembeli dalam hal pembayaran atas barang yang ditransaksikan karena penjual dan pembeli berada di wilayah yang berbeda;
105 Ibid., hal. 250.
88
4. provider atau operator yaitu perusahaan yang menyediakan akses internet yang menjadi media utama dalam jual beli secara online.
Perjanjian e-commerce dikenal dua pelaku yaitu pedagang/pelaku usaha yang melakukan penjualan dan pembeli/pelanggan/konsumen yang bertindak sebagai pembeli. Selain pelaku usaha dan konsumen, transaksi jual beli melalui media internet juga melibatkan provider sebagai penyedia jasa internet dan bank sebagai alat pembayaran. Terdapat unsur-unsur dalam pengertian transaksi online yaitu :
1. Adanya transaksi yang terjadi antara 2 pihak yang saling berhubungan;
2. Media utama dalam melakukan kegiatan perdagangan melalui jaringan internet.
Transaksi e-commerce melibatkan beberapa pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, tergantung dari kompleksitas transaksi yang dilakukan.
Artinya apakah semua proses transaksi dilakukan secara online atau hanya beberapa tahapan saja yang dilakukan secara online. Jika semua transaksi e-commerce dilakukan secara online, mulai dari proses transaksi hingga pembayaran, Budhiyanto mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat yang terdiri dari: 106
1. Penjual (merchant), yaitu perusahaan/produsen yang menawarkan produknya melaui internet. Untuk menjadi merchant, maka seseorang harus mendaftarkan diri sebagai merchant account pada sebuah bank, tentunya ini dimaksudkan agar merchant dapat menerima pembayaran dari custoumer dalam bentuk credit card.
2. Konsumren/card holder, yaitu orang yang ingin memperoleh produk (barang atau jasa) melalui pembelian secara online.
Konsumen yang berbelanja di internet dapat berstatus perorangan atau perusahaan.
3. Acquirer, yaitu pihak perantara penagihan (antara penjual dan penerbit) dan persantara pembayaran (antara pemegang dan penerbit). Perantara penagihan adalah pihak yang meneruskan tagihan kepada penerbit berdasarkan tagihan yang masuk kepadanya yang diberikan oleh penjual barang/jasa. Pihak perantara penagihan inilah yang melakukan pembayaran kepada
106 Dikdik M. Arief Mansyur dan Elisatris Gultom, Loc. Cit.,.152-154.
89
penjual. Pihak perantara pembayaran adalah bank dimana pembayaran kredit dilakukan dengan kartu kredit/card holder, selanjutnya bank yang menerima pembayaran ini akan mengirimkan uang pembayaran tersebut kepada penerbit kartu kredit (issuer).
4. Issuer, yaitu perusahaan penyedia credit card.
5. Certification Authoritis. Pihak ketiga yang netral yang memegang hak untuk mengeluarkan sertifikasi kepada merchant, kepada issuer dan dalam beberapa hal diberikan pula kepada card holder.
Meskipun transaksi jual beli dilakukan secara online berdasarkan UU ITE dan PP 71/2019, namun tetap diakui sebagai transaksi elektronik yang dapat dipertanggungjawabkan. Persetujuan konsumen untuk membeli barang secara online dengan mengklik persetujuan transaksi merupakan bentuk penerimaan yang menyatakan persetujuan dalam perjanjian transaksi elektronik. Penerimaan biasanya didahului dengan pernyataan persetujuan atas syarat dan ketentuan jual beli online yang juga dapat dikatakan sebagai bentuk kontrak elektronik. Kontrak elektronik menurut Pasal 46 ayat (2) PP 71/2019 dianggap sah apabila:
1. Terdapat kesepakatan para pihak.
2. Dilakukan oleh subjek hukum yang kompeten atau berwenang 3. Mewakili sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan
4. Ada hal-hal tertentu
5. Obyek transaksi tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan kesusilaan dan ketertiban umum.
E-commerce dapat dipahami sebagai suatu kegiatan transaksi perdagangan baik barang maupun jasa melalui media elektronik yang memberikan kemudahan dalam kegiatan transaksi konsumen di internet. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 2 UU ITE, disebutkan bahwa transaksi elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan/atau media elektronik lainnya. Berdasarkan ketentuan UU ITE yang dimaksud dengan perbuatan hukum adalah setiap perbuatan yang dengan sengaja dilakukan sehingga
90
menimbulkan hak dan kewajiban. Perbuatan yang dimaksud misalnya membuat perjanjian dalam transaksi online.
Transaksi jual beli secara elektronik merupakan salah satu perwujudan dari ketentuan di atas. Dalam transaksi elektronik ini para pihak yang terlibat di dalamnya melakukan hubungan hukum yang dituangkan dalam bentuk perjanjian atau kontrak yang juga dilakukan secara elektronik dan menurut ketentuan Pasal 1 angka 17 UU ITE disebutkan bahwa suatu kontrak elektronik adalah suatu perjanjian yang tertuang dalam suatu dokumen elektronik. Dokumen Elektronik dalam UU ITE adalah setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirim, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optik, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, desain, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau lubang yang mempunyai arti atau makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya atau media elektronik lainnya.
Berkembangnya kontrak jual beli konvensional menjadi kontrak elektronik merupakan perwujudan dari upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Salah satu kontrak elektronik yang muncul dan berkembang di dalam masyarakat adalah smart contract. Smart contract merupakan perjanjian yang dituangkan dalam kode-kode pemograman dan dioperasikan oleh blockchain atau data ledger sehingga dapat mengeksekusi secara otomatis klausula yang sebelumnya telah disepakati di dalam perjanjian.107 Smart contract dapat
107 Rizki, dkk., Urgensi Penggunaan Smart Contract Dalam Transaksi Jual Beli di E- Commerce, Jurnal Hukum Lex Generalis, Volume 3 Nomor 4, 2022, h.331., dikutip dari Mark Gates, Blockchain: Ultimate guide to understanding blockchain, bitcoin, cryptocurrencies, smart contracts
91
menjadi solusi karena karakteristiknya yang bersifat self-executed dan terdistribusi dapat menjamin pemenuhan kewajiban para pihak dan meminimalisasi risiko wanprestasi. Meski di sisi lain sifat smart contract yang immutable membuatnya menjadi tidak fleksibel untuk dilakukan perubahan isinya, namun hal ini tidak mengubahnya menjadi sangat kaku karena masih dimungkinkan terjadi perubahan selama para pihak menghendakinya.108
Berkembangnya kontrak ini tidak lepas dari teori hukum responsif yang dikemukakan oleh Nonet & Selznick. Hukum responsif yang dikemukakan oleh Nonet & Selznick ini menempatkan hukum sebagai sarana respon terhadap ketentuan-ketentuan sosial dan aspirasi publik. Sehingga, hukum responsif merupakan sebuah model yang bersifat sosiological jurisprudence yang menggunakan pendekatan sosiologi yang memberi perhatian pada dampak sosial yang nyata dari institusi, doktrin, dan praktik hukum. Hukum responsif ini bersifat terbuka maka tipe dari hukum ini mengedepankan akomodasi untuk menerima perubahan-perubahan sosial yang ada demi mencapai keadilan sosial dan emansipasi pubik.109
Dalam perkembangan zaman saat ini, hukum responsif menjadi perhatian yang sangat besar dan terus menerus, agar membuat hukum lebih responsif terhadap kebutuhan sosial, seperti dalam perjanjian jual beli yang dapat dilakukan melalui online (e-commerce) dan juga untuk memperhitungkan secara lebih lengkap dan lebih cerdas tentang fakta sosial yang menjadi dasar dari pembuatan hukum dan
and the future of money, Volume 125, Penerbit CrateSpase, Independent Publishing, Scotts Valley, 2017, p.3-5.
108 Rizki, dkk., Ibid., h.334.
109 Yoan Nursari Simanjuntak, Hukum Responsif: Interrelasi Hukum dan Dunia Sosial, Jurnal Yustika Vol. 8 No. 1, 2005, hal. 39.
92
penerapannya, untuk melayani kebutuhan dan kepentingan sosial. Penulis menilai bahwa teori ini merespon apa yang menjadi perkembangan teknologi saat ini yaitu perjanjian jual beli melalui internet (e-commerce). Dalam perjanjian jual beli secara online (e-commerce) ini hukum merespon perkembangan tersebut dengan memberikan penjelasan yang baru secara rasional dengan perkembangan yang terjadi tetapi menggunakan teori kesepakatan yang sudah ada sejak lama, walaupun peraturan yang konkrit belum ada yang mengaturnya.
2. Keabsahan Perjanjian Jual Beli Secara Online
Perjanjian jual beli secara online tetap sah dan mengikat para pihak apabila memenuhi syarat-syarat dalam perjanjian serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, kesusilaan, kepatutan dan ketertiban umum. Adapun syarat- syarat yang harus dipenuhi dalam membuat perjanjian jual beli secara online sehingga sah, maka merujuk pada Pasal 1320 KUHPer, yaitu:
1. Adanya kesepakatan antara kedua belah pihak;
2. Adanya kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum;
3. Adanya objek;
4. Adanya kuasa yang halal.
Syarat pertama dan kedua merupakan syarat subjektif, dikarenakan menyangkut mengenai orang atau subjek dari pihak yang mengadakan perjanjian.
Sedangkan syarat ketiga dan keempat merupakan syarat objektif, dikarenakan menyangkut mengenai perjanjian itu sendiri atau objek dari perbuatan hukum yang dilakukan. Apabila syarat pertama dan kedua dalam perjanjian tidak terpenuhi, maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan. Sedangkan syarat ketiga dan keempat
93
tidak terpenuhi, maka perjanjian batal demi hukum yang artinya sejak semula perjanjian tersebut dianggap tidak ada.
Berdasarkan 4 (empat) syarat sah perjanjian tersebut berlaku juga untuk syarat sah perjanjian jual beli yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kesepakatan antara kedua belah pihak
Subekti menyatakan bahwa kesepakatan merupakan hal yang penting dalam lahirnya suatu perjanjian. Dengan adanya kesepakatan dimaksudkan bahwa diantara pihak-pihak yang bersangkutan yaitu penjual dan pembeli tercapai sesuatu persesuaian kehendak. Sedangkan menurut Sudikono Mertokusumo110, kesepakatan merupakan persesuaian kehendak antara satu orang atau lebih dengan pihak lainnya, dimana sesuai yang dimaksudkan adalah pernyataannya karena kehendak tidak dapat dilihat atau diketahui oleh orang lain. Berdasarkan hal tersebut maka penulis berpendapat bahwa besesuaian kehendak oleh kedua belah pihak tersebut dapat diberikan dengan pernyataan dari masing-masing pihak sehingga tercapainya kesesuaian kehendak tersebut yaitu pernyataan-pernyataan yang telah disampaikan oleh kedua belah pihak.
Menurut Salim H.S., Terdapat 5 (lima) cara terjadinya persesuaian pernyataan kehendak tersebut, yaitu:111
1. Bahasa yang sempurna dan tertulis;
2. Bahasa yang sempurna secara lisan;
3. Bahasa yang tidak sempurna, asalkan dapat diterima oleh pihak lawan;
4. Bahasa isyarat asal dapat diterima oleh pihak lawan;
110 Muhammad Syaifuddin, Loc. Cit.
111 Salim H.S., Loc. Cit.
94
5. Diam atau membisu, tetapi dapat dipahami atau diterima oleh pihak lawan.
Namun demikian, kesepakatan akan dikatakan tidak sah apabila melanggar ketentuan Pasal 1321 KUHPer yang menerangkan bahwa : “Tiada sepakat yang sah apabila sepakat tersebut diberikan karena kekhilafan atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”. Berdasarkan Pasal 1321 KUHPer tersebut, maka kesepakatan harus disampaikan secara bebas tanpa adanya paksaan, kekhilafan, maupun penipuan agar kesepakatan tersebut mempunyai kekuatan mengikat. Jika kesepakatan diperoleh dengan paksaan, kekhilafan maupun penipuan maka kesepakatan tersebut menimbulkan kecacatan pada kesepakatan. Adanya kecacatan pada kesepakatan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pasal 1322 KUHPer mengenai kekhilafan yang terjadi jika terdapat kekeliuran terhadap subjek ataupun objek berdasarkan apa yang sudah diperjanjikan dan pihak lain membiarkan kekhilafan terjadi.
2. Pasal 1323-1327 KUHPer yang mengatur mengenai paksaan, terjadi apabila tidak ada kehendak bebas karena terdapat tekanan, ancaman atau paksaan saat memberikan kesepakatan oleh salah satu pihak.
3. Pasal 1328 KUHPer mengenai penipuan, dimana adanya keterangan yang tidak benar saat menyampaikan kehendak yang mengakibatkan pihak yang satu memberikan kesepakatan dalam perjanjian.
4. Penyalahgunaan keadaan, dimana salah satu pihak memiliki posisi yang kuat sehingga menggunakan keadaan tersebut kepada pihak lawan yang
95
memiliki posisi lemah untuk memberikan kesepakatan yang memberatkan dirinya.
Dalam hal kesepakatan yang mengandung unsur kecacatan seperti yang diuraikan diatas, maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan sesuai dengan isi Pasal 1449 KUHPer yang menerangkan bahwa : “Perikatan yang dibuat dengan paksaan, kekhilafan, atau penipuan, menerbitkan suatu tuntutan untuk membatalkannya”. Artinya bahwa harus ada gugatan ke pengadilan yang berwenang untuk membatalkan perjanjian tersebut. Dengan kalimat berbeda, sepanjang tidak ada tuntutan atau gugatan yang diajukan salah satu pihak yang merasa dirugikan, maka perjanjian tersebut tetap berlaku mengikat para pihak.
2. Kecakapan dari pihak penjual dan pembeli
Pasal 1329 KUHPer menyatakan bahwa : “Setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan, jika oleh undang-undang tidak dinyatakan tak cakap". Menurut Abdulkadir Muhammad112, pada umumnya, orang dikatakan sudah cakap melakukan perbuatan hukum apabila dia sudah dewasa, yang artinya sudah mencapai umur 21 tahun penuh atau sudah kawin walaupun belum berumur 21 tahun. Sehingga, pihak penjual dan pembeli haruslah cakap menurut hukum dalam membuat perjanjian jual beli.
Munir Fuady113 menerangkan bahwa akibat hukum jika dari para pihak tidak cakap dalam membuat perjanjian adalah:
112 Abdulkadir Muhammad, Op. Cit., hal. 301.
113 Munir Fuady, Loc. Cit.
96
a. Jika dilakukan oleh anak yang belum dewasa, perjanjian akan batal demi hukum. (Pasal 1446 ayat (1) KUHPer jo. Pasal 1331 ayat (1) KUHPer).
b. Jika dilakukan oleh orang yang berada di bawah pengampuan maka perjanjian tersebut batal demi hukum (Pasal 1446 ayat (1) KUHPer jo.
Pasal 1331 ayat (1) KUHPer).
c. Terhadap perjanjian yang dibuat oleh wanita yang bersuami hanyalah batal demi hukum (Vide pasal 1446 ayat (2) KUHPer jo. Pasal 1331 ayat (1) KUHPer).
d. Terhadap perjanjian yang dibuat oleh anak dibawah umur yang telah mendapatkan status disamakan dengan orang dewasa hanyalah batal demi hukum (Vide pasal 1446 ayat (2) KUHPer jo. Pasal 1331 ayat (1) KUHPer).
e. Terhadap perjanjian yang dibuat oleh orang yang dilarang oleh undang- undang untuk melakukan perbuatan tertentu, maka mereka dapat menuntut pembatalan perjanjian tersebut, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang (Pasal 1330 ayat (3) KUHPer)
Dengan demikian, maka dapat dijustifikasikan bahwa secara a contrario, setiap perjanjian jual beli secara online akan dikatakan sah dan mengikat para pihak apabila tidak bertentangan dengan ketentuan tersebut di atas, yaitu yang membuat perjanjian telah dewasa, antara suami dan istri sama-sama menyetujui perjanjian dimaksud, dan orang-orang yang tidak berada di bawah pengampuan.
97
3. Suatu hal tertentu dalam perjanjian jual beli
Suatu hal tertentu yang dimaksud dalam perjanjian jual beli adalah objek yang menyangkut hak dan kewajiban dari kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli. Objek yang dimaksud dalam perjanjian jual beli menurut Pasal 1333 KUHPer adalah barang yang harus tertentu, setidaknya harus ditentukan jenisnya dan mengenai jumlahnya tidak perlu ditentukan asalkan kemudian dapat ditentukan maupun diperhitungkan.
Ahmadi Miru114 menyebutkan bahwa dalam menentukan barang sebagai objek perjanjian, dapat dilakukan dengan cara seperti menghitung, menimbang, mengukur, atau menakar. Sedangkan jasa, harus ditentukan apa yang harus dilakukan oleh satu pihak. Selanjutnya Hardijan Rusli115 menyebutkan bahwa, zaak dalam Pasal 1333 KUHPer (juga dalam Pasal 1332 dan Pasal 1334) lebih tepat diterjemahkan sebagai pokok persoalan karena pokok atau objek dari perjanjian dapat berupa bukan benda/barang, tetapi bisa juga berupa jasa.
Bertitik tolak dari perjelasan di atas, penulis melihat bahwa suatu hal tertentu dalam ketentuan Pasal 1320 KUPer tidak hanya sebatas pada benda/atau barang, tetapi juga jasa. Misalnya perjanjian mengenai jasa pengiriman barang yang dibeli secara online dan yang lainnya. Namun demikian, dalam kaitanya dengan jual beli secara online, maka barang yang menjadi objek jual harus secara jelas ditentukan jenis, jumlah, bentuk, ukuran dan sebagainya yang dapat memberi gambarang mengenai benda/barang yang menjadi objek jual beli secara online.
114 Ahmadi Miru, Loc.Cit
115 Hardijan Rusli, Loc.Cit.
98 4. Suatu sebab yang halal
Dalam perjanjian, suatu sebab yang halal berkaitan denga nisi perjanjian dimana Pasal 1337 KUHPer menyebutkan bahwa isi perjanjian tidak dilarang oleh undang-undang, tidak bertentangan dengan ketertiban umum, dan tidak bertentangan dengan kesusilaan dalam masyarakat.
Pasal 1355 KUHPer menjelaskan bahwa suatu perjanjian jika tanpa sebab atau perjanjian yang telah dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang, maka perjanjian tersebut tidak mempunyai kekuatan. Abdulkadir Muhammad116 menyebutkan bahwa adanya suatu sebab yang halal pada Pasal 1320 KUHPer, bukan sebab yang membuat orang untuk membuat perjanjian tetapi isi dari perjanjian tersebut yang menjadi tujuan yang akan dicapai oleh para pihak. Yang diawasi oleh perjanjian adalah “isi perjanjian” sebagai tujuan yang hendak dicapai para pihak, karena Undang-Undang tidak memperdulikan apa yang menjadi sebab para pihak mengadakan perjanjian.
Namun demikian, penulis tidak sepakat dengan pendapat tersebut, menurut penulis, akan lebih tepat apabila syarat ini juga menjadi dasar untuk menilai asal-muasal perjanjian tersebut lahir. Apabila perjanjian jual beli secara online lahir karena adanya suatu sebab yang tidak halal atau tidak sesuai dengan norma hukum yang berlaku, maka perjanjian tersebut tetap harus batal demi hukum tanpa harus melalukan tuntutan atau gugatan ke pengadilan sebagai lembaga yang berwewenang.
116 Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, hal. 303.
99
Selanjutnya berdasarkan Pasal 52 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PP 80/2019), disebutkan bahwa Kontrak Elektronik sah dan mengikat para pihak apabila:
a. sesuai dengan syarat dan kondisi dalam Penawaran Secara Elektronik;
b. informasi yang tercantum dalam Kontrak Elektronik sesuai dengan informasi yang tercantum dalam Penawaran Secara Elektronik;
c. terdapat kesepakatan para pihak, yaitu syarat dan kondisi penawaran yang dikirimkan oleh pihak yang menyampaikan penawaran, diterima dan disetujui oleh pihak yang menerima penawaran;
d. dilakukan oleh subjek hukum yang cakap atau yang berwenang mewakili sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. terdapat hal tertentu; dan
f. objek transaksi tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang- undangan, kesusilaan, dan ketertiban umum
Dalam PP 80/2019 telah ditambahkan 2 (dua) syarat sah kontrak elektronik yang ditetapkan di depan, yaitu a). sesuai dengan syarat dan kondisi dalam Penawaran Secara Elektronik; dan b). informasi yang tercantum dalam Kontrak Elektronik sesuai dengan informasi yang tercantum dalam Penawaran Secara Elektronik. Penambahan kedua syarat tersebut di atas merupakan implikasi dari adanya kontrak elektronik yang memudahkan pihak penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli tanpa harus berhadapan atau bertemu secara langsung.
Kedua syarat tersebut sebagai bagian bentuk dari kepastian dan kejelasan mengenai barang yang diperjual-belikan dalam transaksi jual beli sehingga nantinya ketika
100
terjadi pengiriman sebagai tindak lanjut dari jual beli secara online dapat terlaksana dengan baik tanpa merugikan pihak lain.
Penambahan kedua syarat tersebut tidak terlepas dari jaminan kepastian hukum kontrak jual beli secara online sebagai hukum (undang-undang) bagi para pihak yang membuatnya sebagaimana diatur di dalam Pasal 1338 KUHPer. Pasal a quo merupakan ketentuan yang mengamanatkan bahwa kontrak yang dibuat para sebagai undang-undang sehingga harus ditetapi oleh para pihak. Perjanjian sebagai undang-undang akan melahirkan kepastian hukum mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan (hak dan kewajiban) oleh para pihak.
Hal ini senada dengan pandangan Utrecht yang menyatakan bahwa kepastian hukum itu mengandung dua arti, yaitu pertama adanya aturan yang bersifat umum agar manusia mengetahui perbuatan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, kedua adanya perlindungan hukum atau keamanan hukum dari tindakan kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan umum tersebut individu dapat mengetahui apa saja yang dapat dilakukan negara terhadap individu.117
Kepastian hukum dalam perjanjian jual beli secara online jika dikaitkan dengan kepastian hukum menurut Utrecht, isi dari perjanjian jual beli ini juga berisikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh kedua belah pihak dalam hal ini merupakan hak dan kewajiban dari para pihak itu sendiri. Mengingat perjanjian jual beli secara online ini merupakan undang-undang bagi kedua belah pihak, jika salah satu pihak melakukan tindakan diluar dari perjanjian jual beli tersebut, maka terdapat sanksi yang akan diberikan kepada salah satu pihak tersebut
117 Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal. 23.
101
yang melakukan tindakan di luar isi perjanjian jual beli. Disinlah kepastian hukum dalam bentuk perlindungan hukum terjadi.
Dalam pembuatan kontrak atau perjanjian jual beli online tidak lepas juga dari adanya kepastian hukum, karena setiap subjek hukum yang melakukan perjanjian memerlukan kepastian hukum. Kepastian hukum dalam suatu perjanjian tidak hanya muncul akibat suatu kontrak yang diinginkan, tetapi juga pada substansi dari perjanjian tersebut. Perjanjian jual beli yang dibuat oleh kedua belah pihak merupakan undang-undang yang berlaku bagi kedua belah pihak. Oleh karena perjanjian yang dibuat merupakan undang-undang bagi kedua belah pihak, maka isi perjanjian tersebut haruslah tidak menyimpang dari apa yang seharusnya. Kepastian hukum yang diberikan mengenai perbuatan hukum yang dilakukan saat melaksanakan perjanjian jual beli yaitu prestasi dari kedua belah pihak, dan jika terjadi wanprestasi maka terdapat pengaturan mengenai sanksi yang dikenakan sesuai dengan kesepakatan para pihak.
Berangkat dari uraian diatas, maka perjanjian jual beli yang dilakukan secara online akan sah dan mengikat penjual dan pembeli sebagai undang-undang apabila telah memenuhi rumusan Pasal 1320 KUHPer juncto Pasal 1338 KUHPer. Akan tetepi jika tidak memenuhi rumusan dalam ketentuan tersebut, maka perjanjian dapat dibatalakan atau menjadi batal demi hukum dan pihak yang dirugikan dapat meminta pertanggungjawaban ganti kerugian yang dialami melalui pengadilan.