• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS PENERAPAN GUGATAN CITIZEN LA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EFEKTIVITAS PENERAPAN GUGATAN CITIZEN LA"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

“EFEKTIVITAS PENERAPAN GUGATAN CITIZEN

LAWSUIT PADA KASUS KEBAKARAN HUTAN DI JAMBI”

(LIBRARY RESEARCH)

Disusun Oleh:

Firqotun Naziah

(8111416152)

Herning Setyowati

(8111416156)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

SEMARANG

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunianya serta solawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, yang senantiasa kita tunggu-tunggu safa’atnya di hari akhir nanti, sehingga kami telah berhasil menyelesaikan tugas kelompok Mata Kuliah Hukum Lingkunngan ini dengan tema “Analisis Yuridis Gugatan Citizen Lawsuit Pada Kasus Pencemaran Lingkungan Hidup.”

Terima kasih kami sampaikan kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah Hukum Internasional, Ridwan Arifn S.H., L.Lm. yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran bagi kami serta para pembaca. Tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung dalam pengerjaan makalah ini sehingga dapat selesai tepat waktu.

Tentunya dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan-kekurangan yang perlu untuk diperbaiki. Oleh karenanya, kritik dan saran dari pembaca akan sangat dibutuhkan agar kedepannya menjadi lebih baik lagi. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN

SAMPUL... 1 KATA

PENGANTAR... 2 DAFTAR

ISI... 3

BAB 1

PENDAHULUAN... 4 A. Latar

Belakang... 4

B. Rumusan

Masalah... 5 C. Metode

Penulisan... 5

BAB 2

PEMBAHASAN... 6 A. Kedudukan Gugatan Citizen Lawsuit di Dalam Hukum

Indonesia... 6

B. Kronologi Kasus Kebakaran Hutan di Jambi Sebagai Wujud dari Kelalaian

Pemerintah... ... 8

C. Kajian Penerapan Gugatan Citizen Lawsuit terhadap Kasus Kebakaran Hutan di

Jambi... ... 12

BAB 3

(4)

DAFTAR

PUSTAKA... 18

DAFTAR TABEL/GAMBAR

Tabel 1.1 Nama Daerah Yang Terkena Kebakaran Hutan Sampai Tahun 2013... 9

(5)

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkungan hidup Indonesia merupakan karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Memberi yang diberikan kepada rakyat dan bangsa Indonesia yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa Indonesia serta makhluk lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri.1Lingkungan atau lingkungan hidup manusia adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita.2 Namun, hampir setiap tahunnya terjadi kerusakan lingkungan di Indonesia lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia sendiri dari pada proses ilmiah.

Tanah logsor dan banjir terjadi akibat adanya penebangan liar. Adanya kebakaran hutan dibeberapa daerah di Indonesia seperti di Jambi, terjadi juga karena ulah manusia. Masyarakat sengaja membakar hutan yang bertujuan untuk memperluas lahan garapannya dan selain itu membakar lahan juga dianggap dapat meningkatkan kesuburan tanah. Sebenarnya, pembakaran hutan membuat tanah subur hanya untuk sementara saja dan selanjutnya malah merusak tanah itu sendiri. Jutaan tahun yang lalu manusia hidup tanpa perlu khawatir akan terjadinya gangguan atau bahaya oleh pencemaran udara, pencemaran air, atau pencemaran lingkungan yang dipermasalahkan sekarang, karena manusia percaya dan yakin pada kemampuan sistem alam untuk menanggulanginya.

Salah satu masalah lingkungan yang cukup parah saat ini adalah pencemaran udara. Udara merupakan campuran dari gas, yang terdiri dari sekitar 78% Nitrogen, 20% Oksigen; 0,93% Argon; 0,03% Karbon Dioksida (CO2) dan sisanya terdiri dari Neon (Ne), Helium (He), Metan (CH4) dan

1 Eko Handoyo. “Aspek Hukum Pengelolaan Lingkungan Hidup”. Jurnal Ilmu Hukum

Pandecta Vol. 3 No 1 (2009): hlm. 21.

2 M Daud Silalahi. Hukum Lingkungan dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan

(6)

Hidrogen (H2). Udara dikatakan “normal” dan dapat mendukung kehidupan manusia apabila komposisinya seperti tersebut diatas. Sedangkan apabila terjadi penambahan gas-gas lain yang menimbulkan gangguan serta perubahan komposisi tersebut, maka dikatakan udara sudah tercemar/terpolusi.

Beberapa permasalahan pokok hutan di Indonesia yaitu, terus menurunnya kondisi hutan di Indonesia, sistem pengelolaan hutan secara berkelanjutan belum optimal dilaksanakan, pembagian wewenang dan tanggung jawab pengelolaan hutan belum jelas, lemahnya penegakkan hukum terhadap pembalakan liar dan penyelundupan kayu, rendahnya kapasitas pengelolaan kehutanan, belum berkembangnya pemanfaatan hasil hutan non-kayu dan jasa-jasa lingkungan.3 Tak pelak kasus kebakaran hutan di Jambi dalam skala besar memberikan efek samping terjadinya pencemaran udara. Pemerintah berperan penting dalam menangani masalah kebakaran yang terjadi dikawasan hutan. Karena pemerintahlah yang memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan untuk mendirikan perusahaan untuk mengeksplorasi alam di hutan. Pemerintah harusnya bisa selektif dalam memberikan izin untuk perusahaan karena perusahaan sering kali tidak memenuhi standar yang telah ditentukan.

Dalam penyelesaiaan kasus kebakaran hutan, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan yaitu melalui pengadilan atau non pengadilan. Melalui jalur pengadilan ada tiga, yaitu penyelesaian kasus melalui pengadilan administrasi (PTUN), pengadilan perdata, dan pengadilan pidana. Sebagai warga negara Indonesia yang merasa dirugikan akibat terjadinya kebakaran hutan, maka kita dapat mengajukan gugatan ke pengadilan. Melalui jalur perdata, kita dapat mengajukan gugatan citizen lawsuit kepada pengadilan.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian masalah diatas maka dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagimana kedudukan gugatan citizen lawsuit di dalam hukum Indonesia?

(7)

2. Bagimana kronologi kasus kebakaran hutan di Jambi sebagai wujud kelalaian Pemerintah?

3. Bagaiamana kajian penerapan gugatan citizen lawsuit terhadap kasus kebakaran hutan di Jambi?

C. Metode Penulisan

Dalam pengerjaan makalah ini kami menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah kepustakaaan/library research yaitu pengumpulan data atau karya tulis ilmiah yag bertujuan dengan obyek penelitian atau pengumpulan data yang bersifat kepustakaan. Atau telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu pada penelaah kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan.

BAB 2

PEMBAHASAN

A. Kedudukan Gugatan Citizen Lawsuit di Dalam Hukum Indonesia

Citizen Lawsuit berkembang pula diberbagai negara yang telah mempraktekkannya dalam beberapa kasus, khususnya di bidang lingkungan hidup, seperti di Amerika Serikat, India, dan Australi, khususnya di bidang lingkungan hidup. Di Amerika Serikat hak gugat ini diperkenalkan dalam Clean Air Act (Article 304), The Endangered Species Act (1973), dan dalam Resource Concervation And Recovery Act (1976). Seorang warga negara Amerika Serikat pernah menggugat pemerintah atas kelalaian pemerintah dalam melakukan pelestarian terhasap spesies kelelawar langka. Gugtan tersebut dikabulkan dan pemerintah Amerika Serikat kemudian mengeluarkan undang-undang tentang konservasi kelelawar langka.

(8)

akses orang-perorangan, warga negara untuk kepentingan keseluruhan warga negara atau kepentingan publik dengan mengajukan gugtan di pengadilan guna menuntut agar pemerintah melakukan penegakkan hukum yang diwajibkan padanya atau untuk memulihkan kerugian publik atas pelanggaran yang terjadi.

Citizen lawsuit merupakan suatu gugatan perdata yang pada dasarnya lahir di negara-negara yang menganut sistem hukum common law, yang dalam sejarahnya pertama kali digunakan dalam permasalahan lingkungan. Namun seiring berkembangnya zaman, gugatan citizen lawsuit tidak hanya digunakan di dalam perkara lingkungan hidup, tapi juga berkembang pada perkara-perkara lainnya, di mana negara dianggap melakukan kelalaian dalam memenuhi hak warga negaranya.4 Bisa dibilang gugatan citizen lawsuit merupkan suatu mekanisme yang diajukan oleh warga negara untuk menggugat penyelenggara negara berkenaan dengan kepentingan umum, bukan karena mewakili dirinya sendiri (pribadi), atas kelalaian memenuhi hak-hak warga negara. Dan hukuman yang diterima dari putusan ini adalah bahwa negara harus mengeluarkan kebijakan yang isinya mengatur umum agar pelanggaran hak warga negara tersebut tidak terjadi lagi.

Terdapat empat karakteristik citizen lawsuit berdasarkan beberapa perkara yang pernah diputuskan oleh pengadilan Indonesia, yang disusun dengan memperhatikan batasan-batasan dalam mekanisme acara yang lain, yaitu:

a. Penggugat merupakan warga negara dan bertindak dengan mengatasnamakan seluruh atau sebagian Warga Negara Indonesia. b. Tergugat adalah penyelenggara negara, bisa Presiden, Menteri, sampai

dengan pejabat negara yang dianggap telah melakukan kelalainnya dalam memenuhi hak warga negaranya.

c. Perbuatan melawan hukum yang digugat adalah kelalaian penyelenggara negara dalam memenuhi hak-hak warga negara, dan harus jelas diuraikan bentuk dari kelalaian yang menjadikan tidak terpenuhinya hak-hak warga negara.

4 Gatot Supramono. Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Indonesia (Jakarta:

(9)

d. Memiliki karakteristik khusus yaitu tuntutan (petitum) harus berisi permohonan agar negara mengeluarkan suatu kebijakan yang mengatur umum (regeling) agar perbuatan melawan hukum tersebut tidak terulang lagi di masa yang akan datang.5

Keempat karakteristik harus tergambar di dalam gugatan jika seseorang mengatas namakan dirinya untuk kepentingan seluruh warga negara Indonesia. Dalam pembahasannya, gugatan citizen lawsuit disebut

actio popularis. Menurut Kotenhagen-Edzes, dalam Gugatan Citizen Lawsuit atau Actio Popularis setiap orang dapat menggugat atas nama kepentingan umum dengan menggunakan Pasal 1401 Niew BW (Pasal 1365 BW).6 Citizen lawsuit atau actio popularis memiliki kesamaan dengan class action, yaitu sama-sama merupakan gugatan yang melibatkan kepentingan sejumlah besar orang secara perwakilan oleh seorang atau lebih. Namun, dalam citizen lawsuit yang berhak mengajukan gugatan adalah setiap orang atas dasar bahwa ia adalah anggota masyarakat tanpa mensyaratkan bahwa ia adalah orang yang menderita kerugian secara langsung. Dalam class action tidak setiap orang dapat mengajukan gugatan, melainkan hanya satu atau beberapa orang yang merupakan anggota kelompok yang mengalami kerugian secara langsung.

Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomer: 28/Pdt.G/2003/PN.JKT.PST. merupakan awal dari diakuinya gugatan citizen lawsuit di Indonesia. Mempertimbangkan dari putusan tersebut, dasar hukum pelaksanaan gugatan ini adalah ketentuan Pasal 14 ayat (1) dan Pasal 27 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999, dan diubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, dan yang terbaru yaitu Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009.7

Putusan-putusan yang muncul selanjutnya diantaranya yaitu, Putusan Nomor 40/Pdt.G/2008/PN.JKT.SEL dan Putusan Nomor:

5 Siboro, Labueni, dkk. Panduan Pengendaliaan Kebakaran Hutan dan Lahan

Gambut. (Bogor:: WetlandsInternational.2014), hlm. 15.

6 Moch. Iqbal. “Aspek Hukum Class Action Dan Citizen Lawsuit Serta Perkembangannya

Di Indonesia”. Jurnal Hukum Dan Peradilan Volume 1, Nomor1, Maret (2012): hlm. 102-110.

7 A. Sonny Keraf. Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global (Yogyakarta : Yanisius.

(10)

145/Pdt.G/2009/PN.JKT.PST. berlandaskan Pasal 16 ayat (1) dan Pasal 28 UU Nomor 4 tahun 2004 , dan yang terbaru yaitu Pasal 5 dan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Petitum Gugatan Citizen Lawsuit tidak boleh berisi pembatalan atas suatu Keputusan Penyelenggara Negara (Keputusan Tata Usaha Negara) karena hal tersebut merupakan kewenangan dari Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). Petitum Gugatan Citizen Lawsuit juga tidak boleh memohon pembatalan atas suatu undang-undang karena itu merupakan kewenangan dari Mahkamah Konstitusi (MK). Selain itu Gugatan Citizen Lawsuit juga tidak boleh meminta pembatalan atas Peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang karena hal tersebut merupakan kewenangan Mahkamah Agung melalui mekanisme Judicial review. Untuk mengajukan gugatan Citizen Lawsuit, penggugat harus memiliki hak gugat (standing), bila standing Penggugat tersebut dapat dipatahkan oleh Tergugat, maka Tergugat dapat menuntut pembatalan Gugatan Citizen Lawsuit. Namun demikian bila hak Gugat Citizen Lawsuit sudah diakui (sertifkasi) dalam sebuah penetapan (putusan sela), maka pada proses berikutnya adalah sebagaimana prosedur perkara gugatan biasa, yaitu upaya perdamaian/mediasi, jawab menjawab (jawaban, replik, duplik), pembuktian dan putusan.

Dalam prosedur Citizen Lawsuit, surat pemberitahuan (notifkasi) adalah prasyarat yang harus dipenuhi oleh Penggugat sebelum mengajukan gugatan dan harus dilakukan dalam tenggang waktu yang layak. Kelayakan waktu untuk notifkasi tersebut menjadi penilaian hakim. Di Amerika kelayakan waktu tersebut yaitu 60 hari, sedangkan di Indonesia kelayakan waktu masih menjadi penilaian hakim, karena belum ada hukum acara yang mengatur.8

B. Kronologi Kasus Kebakaran Hutan di Jambi sebagai Wujud dari Kelalaian Pemerintah

Kasus kebakaran hutan bukan merupakan kasus baru lagi di negara Indoesia. Pada 2 November 1967, KOMPAS memberitakan, “Palembang Diselimuti Kabut Tebal”. Tahun 2017, tepat setengah abad, bencana asap

(11)

itu masih terjadi dan bahkan semakin meluas di sejumlah wilayah

Kebakaran hutan di Jambi sudah langsung lama dan bertahap sejak tahun 1997. Pada periode 1997 kebakaran terjadi lima tahun sekali, kemudian tahun 2006 sampai 2010 kebakaran atau kabut asap terjadi tiap dua tahun sekali. Dan mulai dari 2010 sampai 2015, kabut asap selalu terjadi setiap satu tahun sekali. Selama ini pola kebakaran hutan di Jambi selalu sama seperti itu dari tahun ke tahun, yaitu selalu terjadi di kawasan gambut dan di izin konsesi perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI).

(12)

Sumber lain menyebutkan, kebakaran di Jambi dalam satu bulan terakhir telah menyebar ke areal seluas 40.000 ha. Sebanyak 33.000 ha di antaranya merupakan kebakaran gambut yang masih terus meluas. Di Kalimantan Tengah, berdasarkan data pemadaman kebakaran BPBD kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah, luas lahan terbakar sejak Januari hingga 10 September mencapai 940,9 ha. Lalu kemudian pada tahun 2014, kebakaran lahan menghanguskan 4.022 ha.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi, luas lahan terbakar di Jambi pada 2015 kemarin seluas 135 ribu hektar, 10% atau 70 ribu diantaranya merupakan lahan gambut.9 Hasil investigasi dari Jaringan Masyarakat Gambut Jambi (JMGJ) di Kecamatan Tumpeh, Jambi, terdapat lima perusahaan yang melakukan perampasan hak masyarakat desa. Lima perusahaan tersebut mengalami kebakaran pada tahun 2015 yaitu, PT Bukit Bintang Sawit, PT Wana Seponjen Indah, PT Bara Eka Prima, PT Riki Kurniawan Kertas Persada, dan PT Putra Duta Indowood.

Menurut keterangan salah satu warga, konfik terjadi sejak perusahaan itu melakukan penguasaan paksa terhadap kebun dan hutan milik warga di tiga desa, yakni Desa Seponjen, Desa Sogo dan Kelurahan Tanjung. Dikatakan bahwa PT Bukit Bintang Sawit melakukan pengeringan lahan dengan kanal dan mengubah kebun karet warga menjadi perkebunan kelapa sawit. Awalnya kebakaran terjadi di lokasi milik perusahaan, tapi kemudian merambat ke kebun milik warga dan kawasan hutan milik pemerintah.

Pihak kepolisian setempat menemukan bukti bahwa beberapa perusahaan yang diduga tidak memiliki peralatan pemadaman memadai dan prosedur operasi standar (SOP) dalam menangani kebakaran. Dalam hal ini Direktur atau Pemimpin Perusahaan, menuru Kapolda harus bertanggung jawab bila nanti ditetapkan sebagai tersangka. Dari kelalian tersebut bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 dan Undang-Undang Perlindung dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

9 Abi Sarwanto. “Walhi Siapkan Gugatan ke Perusahaan Pembakar Hutan”.

(13)

Hasil analisis data dan fakta dari lima provinsi yang dimiliki WALHI, titik api kebakaran hutan dan lahan terjadi di dalam konsensi perusahaan. Kelima provinsi itu berturut-turut adalah Kalimantan Tengah 5.672 titik, Sumatera Selatan 4.416 titik, Jambi 2.842 titik, Kalimantan Barat 2.495 titik, dan Riau 1.005 titik.

Kerugian yang ditimbulkan dari bencana kebakaran hutan ini sangat besar. Kebakaran Hutan dan Lahan di Jambi membuat petani kesulitan.

Petani tidak dapat menghitung berapa banyak produksi dan pendapatan mereka. Sebelum terjadi kebakaran hutan, pendapatan mereka masih dapat dikatakan cukup. Salah satu petani asal Desa Sinar Wajo di Mendahara Hulu Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi mengatakan beberapa komoditas mempunyai produksi yang kebakaran, 1 hektar kebun pinang bisa menghasilkan 100 karung ukuran 50 kg dalam waktu dua bulan. Satu kilo pinang dihargai Rp 105 ribu. Artinya penghasilan mencapai Rp 10,5 juta atau Rp 5,2 juta per bulan. Dan untuk sawit, perbulan bisa 2 ton per hektar.

Setiap bulan bisa mencapai Rp2,1 juta, sementara untuk perkebunan kelapa, setiap empat bulan pada saat buah normal bisa menghasilkan 1.000-2.500 biji kelapa setiap per hektar. Banyak petani yang menjual kelapa kopra, setiap 2.500 biji kelapa akan menghasilkan 1 ton kelapa kopra yang dihargai Rp 370 ribu-Rp 500 ribu per kwintal. Dari hitungan ini pendapatan petani dari perkebunan kelapa mencapai Rp 3,7 sampai 5 juta selama empat bulan, atau 900 ribu rupiah hingga 1,2 juta rupiah sebulan.

Kerugian akibat bencana asap itu tidak hanya kerugian materi, tetapi juga kerusakan lingkungan dan menurunnya kualitas kesehatan masyarakat. Bencana asap akibat kebakaran hutan bahkan telah merenggut korban jiwa akibat terpapar asap pekat yang terjadi di Pekanbaru. Belum lagi puluhan ribu orang di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) karena terpapar asap kebakaran hutan. Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi merilis Indeks Standar Pencemaran Udara di Kota Jambi pada September 2015 mencapai 535, level berbahaya.

(14)

di Indonesia yang terbesar terjadi pada tahun 1997, yaitu mencapai US$ 2,45 milyar. Di Jambi kerugian diperkirakan senilai Rp 2,6 triliun akibat pencemaran udara yang timbul oleh kabut asap, dampak ekologis, ekonomi, kerusakan tidak ternilai, dan biaya pemulihan lingkungan. Nilai kerugian itu belum termasuk kerugian sektor ekonomi, pariwisata, dan potensi yang hilang dari lumpuhnya penerbangan.

Kerugian yang terjadi di Provinsi Riau akibat kabut asap juga tidak ternilai. Luas lahan yang terbakar tahun 2015 sudah mencapai 3.200 ha. Tahun 2014, luas areal yang terbakar lebih dari 60.000 ha dan penderita ISPA lebih dari 60.000 orang. Anak sekolah di Pekanbaru, Pelalawan, Bengkalis, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hulu diliburkan akibat bencana kebakaran ini dalam beberapa waktu. Menurut Kepala BNPB Willem Rampangilei, kerugian akibat kebakaran lahan dan hutan serta bencana asap di Riau tahun 2014, berdasarkan kajian Bank Dunia, mencapai Rp 20 triliun.

Pemerintah dinilai lamban dan terkesan mengabaikan dalam penanganan bencana asap yang terjadi selama bertahun-tahun. Pemerintah telah melakukan pembiaran terhadap perusakan ekosistem lahan gambut secara masif sehingga mudah memicu kebakaran lahan dan hutan. Para ahli dan aktivis lingkungan menilai akar masalah dari kebakaran lahan di Sumatera Selatan adalah kerusakan ekosistem lahan gambut. Sumatera Selatan memiliki 1,4 juta ha lahan gambut dengan kedalaman 2-8 meter. Pemicu kebakaran ini adalah karena keringnya lahan gambut setelah alih fungsi lahan.

(15)

C. Kajian Penerapan Gugatan Citizen Lawsuit terhadap Kasus Kebakaran Hutan di Jambi

Selama berbulan-bulan pada tahun 2015 lalu, berbagai daerah di Indonesia mengalami dampak atas kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah tanah air. Kebakaran hutan dan lahan yang berkepanjangan menghasilkan kabut asap yang berdampak dalam segi kehidupan manusia. Kabut asap dapat dikatakan merupakan hasil kejahatan lingkungan luar biasa, yang telah merampas hak asasi manusia untuk memperoleh udara segar. Akibat asap, ribuan warga indonesia mengalami kerugian materiil maupun fsik, baik itu kesehatan, pendidikan, maupun perekonomian.

Pembentukan posko-posko pengaduan dampak kabut asap diberbagai daerah menunjukkan bahwa saat ini kondisi masyarakat telah berubah dan berkembang. Dalam perkembnaganny amsyarakat semakin rasional menilai kinerja dan kebijakn apemerintah. Bahkan, masyarakat dapat mengintervensi pemerintah untuk mempengaruhi kebijakan yang ada. warga dibeberapa daerah merencanakan untuk mengajukan citizen lawsuit

kepada pemerintah yang dinilai lalai untuk mengatasi kabut asap.

Dikutip dari Oxford Journal, yang menyatakan bahwa di London juga mengalami masalah udara. “There have been six frst instance cases raising the topic of air pollution over the last year. This includes the frst instance decision in the ongoing ClientEarth challenge to the Government’s air pollution plans, often referred to as ClientEarth. ... It may also be due to a general consensus that air pollution is a serious health issue, especially for children and the elderly”.10

Sebagai bagian dari HAM, rakyat Indonesia mempunyai hak untuk mendaptakan lngkungan yang baik dan sehat serta berhak mendapatkan pelayanan kesehatan, seperti yang diatur dalam pasal 28 H ayat (1) UUD NKRI tahun 1945 yang menyatakan: “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

Manusia dan lingkungannya merupakan suatu kesatuan yang saling mempengaruhi seperti yang tercantum dalam Pasal 1 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perilindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH)

10 Justine Thornton. “Signifcant UK Environmental Law Cases 2016/17”. Journal of

(16)

menyatakan: “lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan peri kehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain”.

Lebih lanjut, penegasan tentang perlindungan akan udara yang sehat bagi rakyat adalah diatur dalam pasal 3 huruf b “... menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia”. Hal senada juga diatur dalam pasal 9 ayat (3) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM) yang menyatakan: “Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”. Lebih jelasnya adalam UU HAM, semua perlindungan itu dibebankan kepada pemerintah, seperti yang termuat dalam Pasal 8 yang memnyatakan: “Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab pemerintah”.

Dalam kasus kebakaran di Jambi yang telah merugikan banyak pihak dan merugikan negara, WALHI telah melakukan gugatan terkait kebakaran hutan dan lahan di Sumatera, terutama di Riau dan Jambi. WALHI juga telah melaporkan 117 perusahaan di Riau dan dua di Jambi kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Menurut WALHI gugatan dilayangkan karena pemerintah lamban dalam penanganan kebakaran hutan, termasuk kabut asap di Riau dan Jambi, baru-baru ini. Kejadian serupa pun terus terulang setiap tahun.

Selain itu, saat ada kabut asap penyediaan masker oleh pemerintah minim, hingga warga harus membeli sendiri. Lalu saat kejadian sudah beberapa minggu terjadi pemerintah baru menurunkan aparat TNI untuk mengevakusai warga. Dalam gugatan ini, Presiden, menjadi tergugat pertama, disusul beberapa kementerian dan pemerintah daerah.

Dalam tuntutanya WALHI meminta pemerintah mengeluarkan kebijakan guna melindungi warga negara yang berada dalam ancaman udara buruk karena melebihi ambang batas kesehatan, pencegahan dan penanggulangan cepat atas peristiwa kebakaran hutan disejumlah pulau di Indonesia.

(17)

banyak lahan gambut dalam dimiliki oleh perusahaan. Seharusnya diatas lahan itu tidak boleh ada izin ataupun konsesi. Apalagi lahan gambut ini berpotensi besar terjadi kebakaran hutan.

WALHI menuntut penegakan hukum termasuk menangkap pelaku-pelaku baik perseorangan maupun korporasi yang bertanggung jawab atas wilayah koneksi mereka. Sebelum upaya ini, WALHI telah melayangkan somasi anatara lain, kepada Kementerian Kehutanan (KemenHut), Kementerian Pertanian, kemernterian Lingkungan Hidup (KLH), Pemerintah daerah termasuk polisi. WALHI juga sudah melaporkan 117 perusahaan yang terlibat kebakaran hutan di Riau termasuk dua perusahaan di Jambi, PT Lestari Asti Jaya dan PT Wira Karya Sakti di Riau dari perusahaan itu, dan 32 perusahaan berstatus hak.

Namun, gugatan WALHI terhadap kasus kebakaran hutan dan gambut di Riau dan Jambi kepada Presiden, Menteri dan Kepala Daerah tidak diterima dengan alasan gugatan kurang pihak. WALHI tidak memasukkan Kementerian Pertanian, yang menurut hakim, seharusnya masuk.11

Setelah setahun persidangan kebakaran hutan dan lahan di Riau dan Jambi digelar Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, akhirnya majelis hakim memutuskan perkara tak diterima. WALHI menggugat Presiden, Kapolri, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Kehutanan dan 15 kepala daerah atas kebakaran hutan dan lahan di Riau dan Jambi. Hakim yang menangani kasus ini adalah Nani Indrawati, seorang hakim yang telah mengantongi sertifkasi hakim lingkungan hidup.

Majelis hakim beralasan kebakaran hutan dan lahan gambut sekitar 70-80% terjadi di konsesi perkebunan sawit. Seharusnya, Kementerian Pertanian masuk sebagai tergugat, tapi WALHI tidak memasukkannya. Kuasa hukum WAHLI mengatakan, jika merujuk pada tanggung jawab negara, sebetulnya WALHI cukup menggugat presiden. Karena presiden, orang yang bertanggungjawab dalam pemenuhan hak atas lingkungan.

11

Indra Nugraha. “Hakim Tolak Gugatan Kebakaran Hutan Walhi, Mengapa?”,

http://www.mongabay.co.id/2014/12/13/hakim-tolak-gugatan-kebakaran-hutan-walhi-mengapa/

(18)

Sayangnya, majelis hakim, tidak mempertimbangkan semua bukti dalam persidangan. Putusan tidak masuk pokok perkara, berhenti di persoalan kurang pihak. Untuk itu, WALHI akan membuat gugatan baru yang dilakukan per daerah. Kuasa hukum WALHI beralasan, dalam gugatan di Indonesia, warga hanya diberikan fasilitas menuntut hanya dua cara, perbuatan melawan hukum, atau wanprestasi. Dan WALHI tidak mungkin menggugat dengan alasan wanprestasi. Karena tidak ada hutang piutang. Gugatan perbuatan melawan hukum itu yang menjadikan sarana membuktikan negara lalai.

Kuasa hukum WALHI berpendapat, dengan putusan ini sebenarnya membuyarkan tanggungjawab negara atas hak warga mendapatkan lingkungan sehat. WALHI menuntut agar pemerintah melakukan audit lingkungan, pemetaan kerawanan kebakaran hutan, evaluasi perizinan, pencegahan dini dan permintaan maaf. Dan juga mengkritik Presiden yang waktu itu minta maaf ke Malaysia dan Singapura, tetapi tidak minta maaf kepada rakyat Indonesia.

Tahun 2016, WALHI kembali mengajukan gugatan ke pengadilan dengan para tergugat yaitu pihak perusahaan yang bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran hutan. gugatan diajukan 100 orang warga dalam bentuk class action terhadap 5 perusahaan besar Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perusahaan sawit. Di antaranya adalah dari Grup Sinar Mas yakni PT APP dan Grup Barito. Sejumlah tuntutan yang diajukan adalah menuntut perusahaan bertanggung jawab, terutama atas izin yang diberikan, dan menyerahkan biaya pemulihan serta kompensasi terhadap perusahaan.

(19)

Masih ada kemungkinan lain untuk bisa melakukan gugatan ke pengadilan secara perorangan terhadap kasus ini, yaitu, dengan menggunakan gugatan citizen lawsuit. Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa gugatan citizen lawsuit adalah gugatan yang dilakukan oleh seseorang, namun dalam mengajukan gugatannya tidak berdasarkan nama pribadi/ orang per orangan, melainkan atas nama warga negara yang merasa dirugikan akibat adanya pencemaran lingkungan di mana itu merupakan kelalaian pemerintah yang tidak bisa menjamin hak warga negara untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dan nyaman akibat adanya pencemaran udara karena kebakaran hutan.

Jadi, sebagai warga negara yang merasa dirugikan akibat adanya kebakaran hutan, kita dapat menuntut/ mengajukan gugatan ke pengadilan dengan mengatasnamakan diri sebagai warga negara, yang berarti mewakili kepentingan umum, guna menuntut pemerintah.

Namun, sebagai pertimbangan, kita perlu melihat gugatan-gugatan yang sebelumnya agar nanti saat mengajukan gugatan ke pengadilan kasus tersebut dapat ditangani. Mengajukan gugatan citizen lawsuit

haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti di dalam gugatan harus jelas diuraikan bentuk-bentuk kelalaian negara sehingga hak warga negara menjadi tidak terpenuhi. Hak warga negara yang gagal dipenuhi oleh negara juga harus dijelaskan secara rinci.

Berikut ini merupakan beberapa kelalaian negara/ pemerintah akibat terjadinya kebakaran hutan di Jambi dan sekitarnya:

1. Pemerintah lamban dalam penanganan kebakaran hutan, termasuk kabut asap di Riau dan Jambi.

2. Saat terjadi kabut asap, penyediaan masker oleh pemerintah minim, hingga warga harus membeli sendiri.

3. Saat kejadian sudah beberapa minggu terjadi pemerintah baru menurunkan aparat TNI untuk mengevakusai warga.

4. Pemerintah tidak serius dalam mengevakuasi perizinan maupun konsep baik kebun dan hutan tanaman industri (HTI).

(20)

Putusan dari pengajuan gugatan citizen lawsuit ini akan mengukum pemerintah/ negara untuk mengeluarkan kebijakan baru yang isinya harus memuat larangan perbuatan yang bisa mengakibatkan kebakaran hutan dan pencemaran udara/ kabut asap akibat kebakaran hutan.

Berikut ini yang merupakan tuntutan warga negara kepada pemerintah dapat berupa:

1. Pemerintah mengeluarkan kebijakan guna melindungi warga negara yang berada dalam ancaman udara buruk karena melebihi ambang batas kesehatan, pencegahan dan penanggulangan cepat atas peristiwa kebakaran hutan disejumlah pulau di Indonesia.

2. Pemerintah harus serius dalam mengevakuasi perizinan maupun konsep baik kebun dan hutan tanaman industri (HTI).

3. Menuntut penegakan hukum termasuk menangkap pelaku-pelaku baik perseorangan maupun korporasi yang bertanggung jawab atas wilayah koneksi mereka.

(21)

BAB 3

KESIMPULAN

Kebakaran hutan merupakan salah satu bentuk kerusakan lingkungan yang sampai pada saat ini masih menjadi problematika di Indonesia. Dalam penyelesaiaan kasus kebakaran hutan, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan yaitu melalui pengadilan atau non pengadilan. Melalui jalur pengadilan ada tiga, yaitu penyelesaian kasus melalui pengadilan administrasi (PTUN), pengadilan perdata, dan pengadilan pidana. Sebagai warga negara Indonesia yang merasa dirugikan akibat terjadinya kebakaran hutan, maka kita dapat mengajukan gugatan ke pengadilan. Melalui jalur perdata, kita dapat mengajukan gugatan citizen lawsuit kepada pengadilan.

Citizen lawsuit merupakan suatu mekanisme yang diajukan oleh warga negara untuk menggugat penyelenggara negara berkenaan dengan kepentingan umum, bukan karena mewakili dirinya sendiri (pribadi), atas kelalaian memenuhi hak-hak warga negara. Dan hukuman yang diterima dari putusan ini adalah bahwa negara harus mengeluarkan kebijakan yang isinya mengatur umum agar pelanggaran hak warga negara tersebut tidak terjadi lagi. Awal diakuinya gugatan Citizen Lawsuit di Indonesia yaitu Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomer: 28/Pdt.G/2003/PN.JKT.PST. Dengan dasar hukum yaitu Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman.

Kebakaran hutan di Jambi sudah berlangsung lama dan bertahap sejak tahun 1997. Pada periode 1997 kebakaran terjadi lima tahun sekali, kemudian tahun 2006 sampai 2010 kebakaran atau kabut asap terjadi tiap dua tahun sekali. Dan mulai dari 2010 sampai 2015, kabut asap selalu terjadi setiap satu tahun sekali. Selama ini pola kebakaran hutan di Jambi selalu sama seperti itu dari tahun ke tahun, yaitu selalu terjadi di kawasan gambut dan di izin konsesi perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Kebakaran hutan gambut di Jambi menimbulkan kerugian yang sangat besar, para petani karena membuat petani menjadi gagal panen, selain itu banyak dari warga masyarakat menderita ISPA dan penyakit seluran pernafsan lainnya karena semakin pekat dan tebalnya kabut asap dari pembakaran hutan.

Sebagai warga negara kita dapat melakukan gugatan citizen lawsuit

(22)

kebakaran lahan gambut. Dari gugatan tersebut dapat menghasilkan putusan dikeluarkannya suatu peraturan atau kebijakan baru yang mengatur agar tidak terjadi kebakaran hutan.

DAFTAR PUSTAKA

UNDANG-UNDANG

Undang-Undang Dasar 1945

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH)

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM)

BUKU

Silalahi, M Daud. Hukum Lingkungan dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia. Bandung: PT Alumni, 2014.

Supramono, Gatot. Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Indonesi.

Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2013.

Keraf, A. Sonny. Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global. Yogyakarta : Yanisius, 2010.

Siboro, Labueni, dkk. Panduan Pengendaliaan Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut. Bogor: Wetlands International, 2004.

JURNAL

Handoyo, Eko. “Aspek Hukum Pengelolaan Lingkungan Hidup”, Jurnal Ilmu Hukum Pandecta Volume 3 Nomor 1, Desember (2009).

Iqbal, Moch. “Aspek Hukum Class Action Dan Citizen Lawsuit Serta Perkembangannya Di Indonesia”. Jurnal Hukum Peradilan Volume 1, Nomor 1, Maret (2012).

Thornton, Justine. “Signifcant UK Environmental Law Cases 2016/17”, Journal of Environmental Law, 2017, 29.

(23)

Sarwanto, Abi. “Wahli Siapkan Gugatan ke Perusahaan Pembakar Hutan”. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160122150035-12-106059/wal hi-siapkan-gugatan-ke-perusahaan-pembakar-hutan/ diakses pada tanggal 6 Oktober 2017.

Gambar

Tabel  1.1  Daerah-daerah  yang  terkena  kebakaran  hutan  sampai

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul: “Pengaruh Jumlah Simpanan Dan Pinjaman Anggota

Karena itu aktivis diharapkan mempunyai kecerdasan adversitas yang tinggi agar dapat bertahan dengan kesulitan yang harus dihadapi dalam bidang akademis maupun non akademis,

Riset pemasaran atau marketing research adalah kegiatan penelitian di bidang pemasaran yang dilakukan secara sistematis mulai dari perumusan masalah,

Pemuliaan tanaman pada dasarnya adalah kegiatan memilih atau menyeleksi dari suatu populasi untuk mendapatkan genotipe tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul yang selanjutnya

No Ketua Peneliti Anggota Prodi Judul Jam Ruang

Dengan kemampuan berbahasa dan ketrampilan menerjemahkan, Penerjemah Lisan Komunitas merupakan pekerjaan ahli yang berperan menjembatani masyarakat dengan membantu

Secara umum campuran beton aspal dengan kadar limbah batu baterai (LBB) 4% memiliki karakteristik Marshall yang lebih baik di banding campuran beton aspal tanpa LBB, yang

data yang telah difokuskan pada folklor upacara tradisional Tuk si Bedug yaitu: asal- usul, prosesi, makna ubarampe serta fungsi folklor bagi masyarakat pendukungnya.. Maryaeni