• Tidak ada hasil yang ditemukan

Partikel pwa dalam Bahasa Jawa Kuno

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Partikel pwa dalam Bahasa Jawa Kuno"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Partikel pwa dalam Bahasa Jawa Kuno

oleh

Dwi Puspitorini [email protected]

ABSTRACT

This writing aims to explain the function of particles ta and pwa of the Old Javanese language in the syntactic level. The function of particles ta as sentence (syntactic) constituent markers has been explained by the experts, but the difference between ta and pwa as the clause marker necessary in a discourse (a topical clause) has not been studied in-depth. The data source used as analysis data is the Ancient Javanese narrative prose with the title Adiparwa, estimated to be made in the 10th century. The explanation of this function of particles ta and pwa gives an

advantage for in-depth understanding of the Old Javanese language aspects, particularly for translation of Old Javanese language texts to other languages.

keywords: old javanese, particle, actor focus, goal focus

1. Partikel dalam bahasa Jawa Kuno

Bahasa Jawa Kuno (BJK) memiliki partikel yang menempati posisi kedua dalam urutan konstituen kalimat, yaitu pwa dan ta. Posisi kedua dalam urutan konstituen kalimat yang

ditempati oleh partikel pwa dan ta dapat dilihat dalam contoh berikut ini.

(1) a. Lunghā ta sang Uttangka [Ad 15:1]

‘Sang Uttangka pergi’

b. Lunghā pwa sang Garuda [Ad 39:6]

‘Sang Garuda pergi’

(2) a. Kita ta prasiddha mijil saking hatingku [Ad 84:1]

‘Engkau benar-benar keluar dari hatiku ‘

b. Kita pwa magawe tapa mangke [Ad 117:26]

‘Engkau sekarang melangsungkan tapa ‘

Pada contoh di atas terlihat bahwa partikel ta dan pwa yang menempati posisi kedua

sama-sama memisahkan atau mewatasi dua konstituen kalimat yang secara fungsional berbeda. Oleh

karena itu, pertikel ta hanya muncul dalam satu kalimat dan tidak pernah muncul baik pada

posisi awal maupun akhir kalimat.

Pada contoh (1) partikel ta dan pwa menyusul unsur kalimat yang dipentingkan, yaitu

(2)

Uhlenbeck menggunakan rumus A-ta-B untuk menggambarkan posisi ta pada sebuah kalimat

dan strukturnya. Partikel ta memisahkan predikat yang ada pada posisi A dari subjek yang ada

pada posisi B (3).

(3) Mĕnga / ta / sang hyang prĕtiwi [Ad 15:9] A B

‘Sang Hyang Pertiwi (bumi) terbuka’

Rumus tersebut juga berlaku bagi partikel pwa. Partikel pwa memisahkan predikat yang ada

pada posisi A dari subjek yang ada pada posisi B (4).

(4) Atuha / pwa / ya. [ Ad 126 : 1 ]

A B

‘(Sudah) dewasa semua putra(nya).’

Pada umumnya peneliti BJK sepakat bahwa ta dan pwa adalah partikel yang sama, yaitu

partikel pementing atau penegas (lihat Zoetmulder 1954, Teselkin 1972, Uhlenbeck 1970, Hunter 1988, Harimurti dan Mardiwarsito 1984). Penyebutan kedua partikel tersebut sebagai partikel pementing atau penegas didasarkan pada pementingan komunikatifnya. Konstituen yang dipentingkan di dalam kalimat menempati posisi pertama di dalam kalimat dan diikuti oleh partikel ta atau pwa.

Penjelasan tentang fungsi pemakaian partikel ta sudah dilakukan oleh Uhlenbeck

(1970, 1987), Hunter (1988), Hoff (1998). Frekuensi pemakaian pwa lebih kurang hanya

seperdelapan dari frekuensi pemakaian partikel ta.1 Oleh karena dianggap sama, peneliti

terdahulu tidak mengkaji partikel pwa secara tersendiri atau secara terpisah dari ta. Akibatnya,

pemahaman tentang fungsi pemakaiannya juga kurang. Adanya perbedaan yang cukup jelas antara partikel ta dan pwa diperlihatkan dengan kemungkinan kehadiran kedua partikel tersebut

di dalam satu konstruksi kalimat.

(4) Katon pwa mahurip sang Kaca de nikang daitya, prihati taya amet upāya.

‘Saat terlihat oleh daitya itu (bahwa) Kaca masih hidup, mereka khawatir (dan karenanya) mencari upaya (lain).’

Zoetmulder juga menyatakan bahwa ta dan pwa adalah partikel yang sama. Namun,

Zoetmulder (1954) mengenali adanya hubungan antara kalimat pwa dan kalimat ta yang

berurutan sebagaimana diperlihatkan oleh contoh (4). Kalimat yang mengandung pwa berada

1 Menurut Uhlenbeck (1970), dalam teks Adiparwa partikel ta muncul sebanyak ± 2000 kali, sedangkan partikel

(3)

di urutan pertama dan kalimat yang mengandung ta ada di urutan kedua. Kedua kalimat

tersebut berhubungan erat. Zoetmulder tidak menjelaskan lebih lanjut keeratan kedua kalimat tersebut. Pernyataan Zoetmulder membuka jalan bagi ditelitinya hubungan makna antarkluasa dalam kalimat pwa.

Di dalam tulisan ini, analisis partikel pwa akan dilakukan dengan (i) struktur kalimat

yang mengandung pwa; (ii) hubungan semantis antarklausa di dalam kalimat yang

mengandung partikel pwa; (iii) perbandingan antara partikel pwa dan ta. Kalimat yang

mengandung pwa (untuk selanjutnya akan disebut kalimat pwa) akan diamati melalui klausa,

karena pada prinsipnya klausa merupakan satuan gramatikal terbesar yang dicakup oleh partikel pwa.

Klausa yang mengandung partikel pwa dapat berupa klausa bebas maupun klausa

terikat. Rumus A-pwa-B akan digunakan untuk menjelaskan struktur kalimat pwa. Beberapa

contoh kalimat di bawah ini memiliki struktur yang sederhana.

(5) Wruh pwa bhagawān Wasistha. [Ad 94:28]

‘Bhagawan Wasistha tahu.’

(6) Sinambutnira pwa ya kalih. [Ad 40:22]

`Mereka berdua disambutnya.`

(7) Datěng pwa ya. [B 26:2]

`Datanglah ia.`

Pada ketiga kalimat di atas, A diisi oleh kata tunggal berupa verba berfokus agen (actor

focus) maupun verba berfokus pasien (goal focus), sedangkan B diisi oleh nomina atau

pronomina. Pengisi A merupakan konstituen berfungsi predikat, sedangkan B berfungsi subyek. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh para ahli yang menyatakan bahwa bahasa Jawa Kuno memiliki struktur kalimat inti berpola P + S yang biasanya diikuti dengan partikel penegas/pementing, antara lain pwa (periksa Harimurti 1984; Teselkin 1972). Namun,

data yang saya amati juga memperlihatkan sejumlah kalimat berstruktur A-pwa-B dengan A

berupa subyek (8), keterangan (9), atau konjungsi (10). Contoh:

(8) Kita pwa magawe tapa mangke. [Ad 117:26]

`Kita bertapa sekarang.`

(9) Mangke pwa kita turung mânak. [Ad 117:2]

`Sekarang engkau belum berputra.`

(4)

`Selama engkau kena kutukku, selama itu pula engkau tidak akan memperoleh kemenangan.`

Pokok bahasan kedua menyangkut hubungan antarklausa dalam kalimat pwa. Kalimat

pwa sering merupakan urutan dua klausa yang memiliki hubungan makna. Secara struktural,

klausa pwa berada di urutan pertama, disusul oleh klausa yang mengandung ta atau klausa

tanpa partikel. Contoh (11) di bawah ini memperlihatkan hubungan sebab akibat yang dinyatakan oleh urutan dua klausa dalam kalimat pwa.

(11) Ahirěng pwa warnany awaknya, inaranan ta sira dewī Krsnā. [Ad 153:6]

`Tubuhnya berwarna hitam, maka dinamailah ia dewi Krsna`

Penelitian mengenai partikel pwa ini dilengkapi dengan menyoroti pwa dalam

kaitannya dengan partikel sejenis yaitu ta dan ya. Perbandingan antara partikel pwa dan ta dan

bentuk gabungan ta pwa, pwa ya dan pwa ya ta. Selain sebagai partikel, ta dan ya juga

merupakan pronomina (12) dan sebagai bagian dari partikel majemuk (13).

(12) Katon pwa ya de bhagawān Sthûlakeça. [Ad 21:2]

‘Ia pun terlihat oleh bhagawan Sthulakeça.`

(13) Kita pwa ya huwus krtayaça. [Ad 203:14]

`Engkau sudah tersohor.`

Pada kalimat (13), ya bukan merupakan pronomina persona III karena sudah ada

pronomina persona II kita sebagai pengisi subyek. Jika ya bersama-sama kita dianggap sebagai

pengisi subyek, maka pwa harus dianggap sebagai konjungsi koordinatif. Sejauh ini, tidak ada

bukti yang menunjukkan bahwa pwa pernah berfungsi sebagai konjungsi koordinatif.

Tambahan pula, konteks cerita menunjukkan bahwa hanya kita yang merupakan konstituen

pengisi subyek. Dengan demikian pwa ya pada contoh (13) harus dianggap bentuk majemuk.

2. Struktur kalimat

Klausa merupakan satuan gramatikal terbesar yang dicakup oleh partikel pwa. Pada

pola A-pwa-B, baik A maupun B keduanya merupakan konstituen yang secara fungsional

berbeda.

(14) Wruh pwa bhagawān Wasistha [Ad 94:26]

(5)

(15) Maturu pwa sira muwah [Ad 100:11] ‘Dia tidur lagi’

Pada klausa yang berawal predikat, posisi A diisi oleh predikat (P), dan B diisi oleh subyek (S). Kehadiran partikel pwa berhubungan dengan pengisi subjek yang berupa

pronomina topikal. Hunter (1988) menyebut ta dan juga pwa sebagai partikel pemarkah topik

(topic marker). Topik yang dimaksud oleh Hunter (1988) adalah pronomina yang memiliki

kesesuaian gramatikal dengan predikat verbal. Predikat verbal BJK memiliki ciri-ciri tertentu yang menentukan hubungan semantis antara verba dan argumen. Ciri-ciri tersebut

berhubungan dengan afiks verbal. Afiks mang- dan –um- memarkahi subjek berperan agen,

sedangkan afiks –in- memarkahi subjek berperan pasien. Argumen pengisi subjek yang berupa pronomina selalu berwujud pronomina topikal, apa pun perannya. Pronomina topikal berwujud kata mandiri, misalnya sira (16), sedangkan pronomina non-topikal berupa enklitik, misalnya

-ira (17).

(16) Dinudut pwa sira [Ad 32:12]

A B

‘Dia ditarik’

(17) Inungangnira pwa ikang sumur [Ad 78:18] ‘Sumur itu ditengoknya’

Pada contoh (16) di atas, B diisi subyek berperan pasien berupa pronomina ketiga sira.

Pronomina tersebut merupakan pronomina topikal karena memiliki kesesuaian gramatikal dengan afiks -in- yang merupakan afiks berfokus pasien. Pada contoh (17), argumen pelaku

berwujud prononima non-topikal (enklitik –ira) yang melekat pada verba berafiks –in- karena

bukan merupakan subyek.

Partikel pwa wajib hadir jika subyek diisi oleh pronomina topik yang anaforis dan

berada di posisi B (16). Jika diisi dengan kategori lain, partikel tidak wajib hadir. Bandingkan dua kalimat di bawah ini.

(18) Sumahur Bhagawan Bhisma. ‘Bhagawan Bhisma menjawab.’

(6)

Pada contoh (18) pengisi S adalah nomina, sehingga pwa tidak wajib hadir. Sebaliknya, pengisi

S pada kalimat (65) adalah pronomina topikal, karena itu partikel pwa wajib hadir. Wajib

hadirnya partikel pwa pada kalimat berpronomina topikal yang menempati posisi B lebih

diperjelas dengan contoh-contoh di bawah ini.

(20) Sundul ring ākaça pwa ya. [ B 21 : 14 ]

A C B

‘Ia (pohon itu) menjulang ke angkasa.’

(21) Tuměmpuh pwa ya i bhagawān Bhīsma. [ B 78 : 3 ] A B C

‘Ia(tombak itu) menerjang ke arah bhagawan Bhisma.’

Pada kalimat (20), predikat sundul ‘menjulang’ memerlukan pelengkap berupa frase

preposisional ring ākaça `ke angkasa`. Demikian pula tuměmpuh memerlukan pelengkap

berupa frasa preposisional i bhagawān Bhīsma (21). Pada kedua kalimat tersebut, pelengkap menempati posisi yang berbeda. Pada kalimat (20), pelengkap (ring ākāca) langsung menyusul konstituen yang menduduki posisi A, sehingga polanya adalah A-C-pwa-B. Pada kalimat (21)

pelengkap (i bhagawān Bhîsma) menempati posisi menyusul B, sehingga polanya adalah

A-pwa-B-C. Kesamaan kedua kalimat tersebut adalah pronomina topikal berada pada posisi

langsung menyusul pwa, yaitu di posisi B.

2. Hubungan semantis antarklausa

Kalimat-pwa sering terdiri dari dua klausa berurutan, tanpa kata penghubung.2 Urutan dua

klausa tersebut menimbulkan hubungan makna. Dalam hal yang demikian itu, klausa yang mengandung partikel pwa selalu terletak di posisi pertama (untuk selanjutnya disebut dengan

klausa pwa), disusul dengan klausa lain. Urutan tersebut bersifat tetap.

(22) Katon pwa dewī Kuntī matanghi de sang Hiḍimbī, masӧ ta ya manĕmbah, mājarakĕn

hyunya ri sang Bhīma [Ad 144:5]

‘Terlihat oleh Hidimbi (bahwa) dewi Kunthi bangun. Dia (Hidimbi) masuk (lalu)

menyembah (dan) menyampaikan keinginannya akan Bhima’

2 Zoetmulder (1954:86) sudah mencatat adanya urutan semacam ini, seperti dikutip di bawah ini.

“Jika ada dua kalimat berturut-turut, maka kerapkali terdapat pwa pada kalimat pertama, adapun pada kalimat kedua

terdapat ta, kedua kalimat itu biasanyaberhubungan erat. Kalimat dengan pwa boleh dipandang sebagai kalimat pendahuluan serta biasanja berpredikat: katon, tĕka, wruh, karĕngö, alawas. Kalimat ini mendjadi keterangan kalimat dengan ta berikutnja

(7)

Gabungan klausa-pwa dengan klausa lainnya menyatakan hubungan waktu berurutan

dan hubungan waktu bersamaan. Dalam hubungan waktu berurutan, ada dua peristiwa berurutan yang terjadi dalam waktu yang singkat atau hampir serentak (23).

(23) I sĕḍĕng ning yajña ginawe, hana ta Sārameya , śwāna milu manonton yajña nira. . Katon pwa ya de sang Śrutasena , pinalu nira ta ya ikaug asu si Sārameya.

‘Ketika upacara korban sedang dilaksanakan, ada seekor anjing (yaitu) Sarameya ikut melihat upacara korban tersebut. Saat terlihat oleh Sang Srutasena, anjing itu

dipukulnya.’

Urutan klausa pwa dan klausa pasangannya tersebut bersifat ikonik karena

menggambarkan urutan peristiwa seperti yang terjadi di luar bahasa. Dalam hal ini, klausa pwa

yang menempati posisi pertama mengacu ke peristiwa pertama, disusul oleh klausa lain, terutama klausa ta, yang menyatakan peristiwa berikutnya. Dalam hubungan waktu berurutan

ini, peristiwa yang ditandai oleh klausa pwa merupakan perbuatan yang terjadi dalam waktu

singkat, kemudian dalam waktu yang hampir serentak terjadi peristiwa kedua yang dinyatakan oleh klausa berikutnya.

Hubungan waktu yang kedua adalah hubungan waktu bersamaan (24). Klausa pwa

menjadi latar belakang waktu dan terjadinya peristiwa yang dinyatakan oleh klausa berikutnya.

Oleh sebab itu, dalam hubungan waktu bersamaan, hal atau peristiwa yang diungkap oleh

klausa kedua bukan bagian yang terpisah dari peristiwa yang dinyatakan oleh klausa pwa.

( 2 4 ) Sĕdĕng çānta p w a s a n g P r a b u , m â k a n a k i s i r a i n a r a n a n t a s a n g Ç a n t a n u . [ A 9 2 : 3 1 ]

` ( K e t i k a ) s a n g P r a b u s e d a n g d a l a m k e a d a a n t e n a n g , i a m e n d a p a t k a n a n a k , ( k a r e n a i t u ) d i n a m a i l a h ( a n a k n y a ) s a n g Ç a n t a n u.’

Penjelasan tentang hubungan waktu yang dinyatakan oleh urutan klausa pwa dan klausa ta

sesuai hasil penelitian Uhlenbeck tentang partikel ta.3

Gabungan klausa-pwa dengan klausa lainnya juga menyatakan hubungan sebab akibat.

Klausa pwa yang menyatakan sebab berada di urutan pertama, disusul oleh klausa lain yang

3 1. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Uhlenbeck yang menyebutkan klausa temporal biasanya mengawali

kalimat berstruktur A- ta –B. Partikel ta tidak pernah hadir pada klausa temporal tersebut. Contoh: sĕdĕng pinatangkilakĕn bhatara brahma, katancana katon ta rakwa bhatara Wisnu tĕkapnira. [Ad 96:21] '(ketika)

(8)

menyatakan akibat. Urutan ini bersifat tetap. Dengan demikian, hubungan tersebut juga bersifat ikonik.

(25) Ring dwīpa pwa sirān wijil, ya ta sang Dwaipāyana ngaran ira. [ A d 6 3 : 1 6 ]

D i a l a h i r d i p u l a u , k a r e n a i t u n a m a n ya s a n g D w a i p a ya n a . `

( 2 6 ) K a t o n p w a s i r a a h a y u , m a h y u n t i k a n g r a k s a s a s i D u l o m a .

[ A d 1 8 : 2 2 ]

`Ia ( s a n g P u l o m a ) k e l i h a t a n c a n t i k , ( s e h i n g g a ) s i D u l o m a , s a n g

r a k s a s a i t u m e n g i n g i n k a n n ya . `

3. Perbandingan Partikel pwa dan ta

Ada tiga kesamaan partikel pwa dan ta. Pertama, baik partikel pwa maupun ta hadir

pada satu konstruksi berupa klausa. Dengan demikian, jangkauan kedua partikel ini adalah satu

klausa. Dalam sebuah klausa, pwa dan ta berfungsi mewatasi dua konstituen yang berbeda

secara fungsional. Jadi pola A-pwa-B berlaku sama terhadap partikel ta. Keduanya dapat

berhubungan secara paradigmatis. (lihat kembali contoh 1(a) dan 1(b).

Kedua, baik partikel pwa maupun ta wajib hadir jika posisi B adalah subyek berupa

pronomina topikal, yaitu sira atau ya.

( 2 6 ) K a t o n p w a y a d e b h a g a w a n S t h u l a k e ç a . [ A d 2 1 : 2 ] ‘Ia t e r l i h a t oleh bhagawan Sthulakeça.’

( 2 7 ) Katon taya manglayang ring ākāça [Ad 57:14]

‘Ia terlihat (sedang) terbang ke angkasa’

Dalam kalimat berawal verba hana, baik pwa maupun ta merupakan penanda

diperkenalkannya tokoh baru.

(28) Sira ta sumilih ratu ri Hāstinapura, ri lunghā sang Pāndawa nusup ing alas muwah, lawasnira siniwi nĕmang puluh tahun, ndan kadi mahārāja Pāndu, sira śakta ring gunāburu. Asing wukir alas p a r a n i r â m e t m r g a . H a n a p w a k i d a n g t i n u t n i r a , a n g h e l t a s i r a d e n y a , a h y u n a n g i n u m a w w e s i r a . [ A 4 9 : 9 ]

‘ Ia (sang Parikesit) mengganti raja di Hastina, ketika Pandawa

m a s u k k e h u t a n l a g i , l a m a n ya m e n j a d i r a j a e n a m p u l u h t a h u n , s e p e r t i h a l n ya P a n d u , i a g e m a r b e r b u r u . A d a s e e k o r k i j a n g d i i k u t i n ya , ( m e n j a d i ) l e l a h i a k a r e n a n ya, ingin minum air ia.’

..

..

(9)

( 2 9 ) Hana sira brâhmana, bhagawān Dhomya ngaranira, patapanira ry

A y o d h y â w i s a y a . H a n a t a ç i s y a n i r a t i g a n g s i k i , n g â r a n i r a s a n g U t a m a n y u , s a n g A r u n i k a , s a n g W e d a . [ A 8 : 2 0 - 2 2 ]

‘Ada seorang brahmana bernama bhagawan Dom ya, p e r t a p a a n n ya d i n e g e r i A yo d h ya . A d a t i g a o r a n g m u r i d n ya , b e r n a m a U t a m a n yu ,

Arunika, dan Weda.’

Kesamaan partikel pwa dan ta terletak pada hadirnya kedua partikel tersebut pada satu

kalimat tunggal. Ada tiga perbedaan partikel pwa dan ta. Pertama, perbedaan partikel pwa

dan partikel ta terletak pada distribusi keduanya dalam kalimat majemuk yang terdiri dari dua

klausa. Partikel pwa hadir bersama-sama partikel ta. Keduanya memiliki hubungan

antarklausa. Dalam hal yang demikian ini, klausa pwa yang berhubungan secara semantis

dengan klausa ta selalu menempati urutan pertama. Jadi polanya adalah A-pwa-B, A-ta-B.

Pada kontruksi semacam itu, partikel pwa dan ta tidak berhubungan secara paradigmatis.

Urutan tersebut tidak dapat dibalik menjadi A-ta-B, A-pwa-B. Urutan klausa pwa dan klausa

ta terutama menyatakan hubungan makna waktu. Hal ini sesuai dengan kaidah yang ditetapkan

oleh Uhlenbeck (1970,1987) yaitu bahwa konstruksi dengan ta sering didahului oleh klausa

yang menyatakan waktu. Partikel ta tidak pernah hadir pada klausa pertama tersebut.

Kedua, partikel pwa tidak hadir dalam kalimat larangan yang didahului kata haywa,

dan kalimat tanya yang didahului oleh kata bilangan tak tentu pira, sedangkan ta dapat hadir

dalam kedua jenis kalimat tersebut. Contoh:

(30) H a y w a t a kita sangśaya. [ A d 2 8 : 2 9 ]

‘J anganlah engkau khawatir.’

(31) P i r a t a kwehnikang nāga mati ? [A d 2 3 : 1 9 ] ‘Berapa jumlah naga yang mati ?

Sebaliknya, partikel-partikel ta tidak pernah hadir pada kalimat ekuatif (32) dan kalimat

berawal konjungsi matangnyan (33). Akan tetapi, walau hanya didukung oleh satu data saja,

pwa dapat hadir pada kedua kalimat tersebut, seperti dikutip di bawah ini.

(32) Ta n t i p w a n g a r a n i n g p a s a m u h a n i k a n g l e m b u . [ B 4 1 : 1 9 ] ‘Tanti nama kumpulan lembu itu.’

(33) M a t a n g n y a n p w a mahārāja Krĕsna, tan ahyun nghulun i kawijayan

tan kapengin ing rājya- w i b h a w a . [ B 4 1 : 1 9 ]

‘Sebabnya maharaja Kresna, hamba tidak menginginkan kemenangan, tidak menginginkan negara dan kekuasaan.’

(10)

Uhlenbeck (1970, 1978) mengatakan bahwa ketidakhadiran partikel ta pada kalimat ekuatif

adalah karena pada pola A-ta-B, konstituen A ≠ B.

Ketiga, dalam perluasan pola A-ta-B, partikel ta tidak pernah hadir bila C menempati

posisi menyusul A. Contoh:

( 3 4 ) K a t o n / d e s a n g w i k u ring Çataçrĕngga / s i r a k a b e h . [ A 1 2 1 : 1 9 ]

A C B

‘Mereka semua terlihat oleh pendeta di Çataçrĕn g g a.’

Contoh (34) merupakan klausa pasif. Pada klausa pasif, biasanya posisi C diduduki oleh pelaku yang didahului oleh partikel de. Partikel ta tidak pernah hadir jika konstituen A dan B disela

oleh C. Partikel pwa dapat hadir pada klausa berpola semacam itu (35). Namun, konstituen

pengisi B, yang biasanya diisi oleh subyek berperan tujuan, tidak hadir dalam kalimat.

( 3 5 ) P i n a h a y u / p w a / d e s a n g B a s u k i . [ A d 2 8 : 2 8 ] ‘Disamb u t oleh sang Basuki.’

( 3 6 ) K a t o n / p w a / de sang Garuda, pinahalitnira tekāwaknira,

sakawĕnanga masuk i sĕla ning cakra. [ A d 4 3 : 2 4 ]

‘(Ketika) terlihat oleh sang Garuda, tubuhnya diperkecil agar dapat masuk ke celah

roda itu.’

4. Kesimpulan

Pengamatan terhadap partikel pwa telah memberikan pandangan baru tentang partikel tersebut.

Sebagian besar peneliti terdahulu menganggap pwa dan ta adalah partikel yang sama. Namun

dalam tulisan ini diperlihatkan bahwa kesamaan kedua partikel tersebut hanya terletak pada fungsi keduanya sebagai pewatas dua konstituen yang secara fungsional berbeda. Jadi jangkauannya adalah satu klausa.

Akan tetapi, dalam relasi ekstrakalimat, partikel pwa memiliki fungsi yang tidak sama

dengan partikel ta, yaitu menandai makna hubungan waktu dan sebab-akibat. Secara gramatikal, partikel pwa memiliki jangkauan antarklausa dalam satu kalimat majemuk. Urutan

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Becker, A.L dan I Gusti Ngurah Oka. (1974). ‘Person in Kawi: An Exploration of an Elementary Semantic Dimension’, Oceanic Linguistics 13: 229-255.

Becker, A.L. (1982). “Binding Wild Words: Cohesion in Old Javanese Prose” dalam Pelangi

Bahasa, ed. Harimurti Kridalaksana dan Anton M. Moeliono. Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara.

Creese, Helen. (2001). Old Javanese Studies. A Review of the Field. Dalam van der Mollen dan Helen Creese (ed.) Old Javanese Texts and Culture. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 157.1 KITLV. Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia & Oceania.

Dixon, R.M.W.. (2010a). Basic Linguistic Theory: Grammatical Topics (Vol. 1). Oxford: Oxford University Press.

__________. (2010b). Basic Linguistic Theory: Grammatical Topics (Vol. 2). Oxford: Oxford University Press.

Givón, Talmy. (1983). Topic Continuity and word-order pragmatics in Ute. Dalam Topic Continuity in Discourse: a Quantitative Cross-Language study, T. Givon (ed.) Typological Studies in Language 3, (hlm.141-214). Amsterdam dan Philadelphia: John Benjamins.

__________. (2001a). Syntax Volume I. Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins Publishing Company.

__________. (2001b). Syntax Volume II. Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins Publishing Company.

Gondan, Jan. (1959). “On Old-Javanese Sentence Structure”, Oriens Extremus 6: 57-68.

Hoff, Berend J., (1998). “Communicative Salience in Old Javanese”, in Productivity and

Creativity: Studies in General and Descriptive Linguistics in Honor of E.M. Uhlenbeck, edited by Mark Janse and Ann Verlinden, 337–47. Trends in Linguistics; Studies and Monographs 116. Berlin; New York: Mouton de Gruyter.

Hunter, M. Thomas. Jr. (1988). ‘Participant Marking in Old Javanese’ dalam Balinese Language: Historical Background and Contemporary State. Disertasi. The University of Michigan, 57—117.

Kaswanti Purwo, Bambang. (19860. “Strategi Pemilihan men- dan di- di dalam Wacana Bahasa Indonesia”. Linguistik Indonesia Tahun 4 No.8.

__________ . (1988). “Voice in Indonesian: A Discourse Study”, Masayoshi Shibatani (ed.)

(12)

__________ .(ed.). (1989). Serpih-serpih Telaah Pasif Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Mardiwarsito L & Harimurti Kridalaksana. (1984). Struktur Bahasa Jawa Kuno. Ende, Flores: Nusa Indah.

Muslim, Mohamad Umar. (2003). Morphology, Transitivity, and Voice in Indonesian. Disertasi La Trobe University.

Ogloblin, A.K., (1991). “Old Javanese verb structure”, in Lokesh Chandra (ed.), The Art and

Culture of South- East Asia, New Delhi, 245–257.

__________ . (2000). “The Old Javanese Word de”, dalam Lokesh Chandra (ed.), Society and Culture of Southeast Asia. Continuities and Changes, New Delhi, 179–190.

__________ . (2005a). “Irrealis in Old Javanese/Irrealis dalam bahasa Jawa Kuno”. Ceramah

dalam rangka Seminar Internasional Jawa Kuno, UI 2005.

__________ . (2005b). Javanese. Dalam Alexander Adeelaar and Nikolaus P. Himmelmann (ed.) The Austronesian Languages of Asia and Madagascar. London, New York : Routledge Language Family Series.

Teselkin, A.S. (1972). Old Javanese (Kawi) (John M. Echols, Penerjemah). Itacha, New York: Modern Indonesia Project Southeast Asia Program. Cornell University.

Uhlenbeck, E.M. (1964). Critical Survey of Studies on the Language of Java and Madura. Royal Institute of Linguistics and Anthropology, Bibliographical Series 7.

__________. (1970). Position and syntactic function of the particle ta in Old Javanese. Dalam R. Jacobson and S. Kawamoto (ed.) Studies in General and Oriental Lingusitics presented to Shiro Hattori, (hlm. 648-658). Tokyo: TEK Corporation for Language and Educational Research.

__________. (1982). Kajian Morfologi Bahasa Jawa. Seri ILDEP 4. Jakarta: Djambatan.

__________.(1985). “The Concept of Proportionality: Old Javanese Morphology and the Structure of the Old Javanese Word kakawin”, dalam Bahasa, Sastra, Budaya: Ratna

Manikam Untaian Persembahan Kepada Prof. P. J. Zoetmulder, Sulastin Sutrisno, Darusuprapta, and Sudaryanto (ed.), 66–82. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

__________.(1986). “Clitic, suffix, and particle: some indispensable distinctions in Old

Javanese grammar”, dalam C.M.S.

__________. (1987). “Sentence Pattern in the Old Javanese of the Parwa Literature” dalam

Donald C Laycock dan Werner Winter (De.), A World of Language: Papers Presented to Pprofessor S.A Wurm on Hie 65th Birthday, h. 695-708. Pacific Linguistics, C-100, 1987.

(13)

Van Valin Jr., R. D. (2005). Exploring the Syntax-Semantics Interface. Cambridge University Press

Verhaar, J.W.M. 1980a. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

__________. 1980b. Teori Linguistik dan Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Zoetmulder, PJ., (1950/1983), De taal van het Adiparwa: een grammaticale studie van het Oudjavaans. Dordrecht: Foris Publications.

__________ .(1982) Old Javanese-English Dictionary. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. (versi daring <sealang.net/ojed>)

__________ . (1985). Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.

__________ . 2006, Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: KITLV / Gramedia.

Zoetmulder, PJ dan I.R. Poedjawijatna. (1992). Bahasa Parwa I: Tatabahasa Jawa Kuna. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

__________ . (1993). Bahasa Parwa II: Tatabahasa Jawa Kuna. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sumber Data

Gonda J, (1936). Het Oud-Javaansche Bhīsmaparwa. BJ 7, Bandoeng.

Juynboll, H.H. (1906). Ãdiparwa. Oud-Javaansch Prozageschrift. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Referensi

Dokumen terkait

Terutama partikel 「 de 」 dalam kalimat bahasa Jepang dipakai untuk menyatakan bentuk suatu aktivitas atau penggunaan

Hasil penelitian yang diperoleh berupa (1) bentuk partikel bahasa Jawa yang dipakai oleh masyarakat Desa Karaban Kecamatan Gabus Kabupaten Pati terdapat delapan belas bentuk

Partikel de digunakan untuk menunjukkan cara, alat ataupun sarana. Ciri kalimat yang menyatakan shudan yaitu dimana nomina yang bervalensi dengan partikel de adalah nomina

Hum., selaku Ketua Program Studi Sastra Jawa Kuno Fakultas Sastra Universitas Udayana yang telah banyak membantu dan selaku dosen pembimbing II yang telah banyak

Dari 6 provinsi di Jawa, ITK Jawa Timur di Triwulan I – 2016 menempati posisi kedua atau mempunyai tingkat optimisme konsumen cukup baik.. Posisi pertama diduduki oleh

Dengan demikian dari data-data yang ditampilkan di atas partikel preposisi mo dalam bahasa Melayu Manado dapat menduduki posisi di tengah kalimat yang selalu mengikuti

Hal ini disebabkan karena partikel dalam bahasa Batak Karo yang terletak di depan dan di belakang berfungsi untuk menerangkan unsur yang terletak pada awal kalimat yang

Partikel le yang berdistribusi di tengah kalimat dan berfungsi sama seperti ini juga terdapat dalam partikel le yang memiliki makna menyatakan perubahan keadaan yang akan