• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN PERILAKU PROSOSIAL PADA MAHASIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GAMBARAN PERILAKU PROSOSIAL PADA MAHASIS"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN PERILAKU PROSOSIAL PADA MAHASISWA KARO

SKRIPSI

Oleh:

NURUL KHAIRINA SUBIARSONO 135120300111036

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia memiliki beragam suku bangsa. Salah satu suku bangsa yang ada adalah suku Batak. Menurut letak geografisnya, suku Batak berada pada daerah pegunungan Sumatra Utara, dimulai dari perbatasan Daerah istimewa Aceh di utara sampai ke perbatasan dengan Riau dan Sumatra Barat di sebelah selatan. Selain itu, tanah datar yang berada di antara daerah pegunungan dengan pantai Timur Sumatra Utara dan pantai Barat Sumatra utara merupakan daerah yang di diaminya. Suku Batak ini juga terbagi menjadi beberapa sub-suku bangsa, yaitu: Karo, Simalungun, Pakpak, Toba, dan Angkola (Koentjaraningrat, 2010).

Persebaran suku Karo pada Propinsi Sumatra utara cukup luas karena mendiami beberapa kabupaten di Sumatra Utara (Wiflihani, 2013). Suku Karo memiliki sistem kekerabatan yang biasa disebut dengan Dalikan Si Telu. Dimana Dalikan Si Telu ini dibagi menjadi 3 jenis kekerabatan, yaitu : Senina, Anakberu, dan Kalibumbu. Dimana Senina merupakan hubungan bersaudara antara orang yang berasal dari satu clan tetapi berbeda leniage. Tetapi, disamping arti tersebut, senina juga merupakan hubungan seseorang dengan orang lain walaupun clan atau merga yang berbeda (Taringan, 1988).

(3)

mereka berada. Tak terkelak juga pada suku Karo yang merantau. Hal ini sudah diwariskan secara turun menurun, dimanapun mereka tinggal.

Suku Karo memiliki beberapa sikap dan watak yang masih melekat, yaitu salah satunya adalah berani dan mudah menyesuaikan diri. Sikap berani ini, telah diajarkan dari orang tua mereka bahwa manusia adalah sederajat dan tidak ada manusia yang terlihat lebih istimewa daripada manusia lain. Penanaman sikap berani ini manjadikan suku Karo berani untuk merantau dan memiliki keluwesan dalam menempatkan diri di tengah masyarakat baru. Di samping itu, suku karo juga mudah dalam meyesuaikan diri. Mereka mudah memiliki pendirian dimana tanah dipijak disitu bumi dijunjung. Suku Karo akan mudah menyesuaikan diri pada tempat baru yang mereka pijaki (Bangun, 1986).

(4)

uang kiriman dari orang tua mereka karena keluarganya sedang terkena bencana (Hidupkatolik, 2015).

Selain KKY, ada juga IMKA (Ikatan Mahasiswa Karo). IMKA tersebar di beberapa daerah di Indonesia. IMKA merupakan wadah komunitas yang menaungi mahasiswa Karo di tempat perantauannya. Salah satu kota yang menjadi tempat perantauan untuk mahasiswa Karo adalah kota Malang. Kota Malang merupakan salah satu kota yang sedang berkembang pesat. Kota Malang juga merupakan salah satu kota pendidikan yang memiliki beragam suku didalamnya (Ulaan, 2016).

Menurut hasil studi pre eliminary, Mahasiswa Karo di kota Malang ini membentuk komunitas yang diberi nama Ikatan Mahasiswa Karo Rawin Jemba (IMKA Malang). Menurut Camenius (dalam Kurniawan, 2015), mahasiswa merupakan seseorang invidu yang berusia 18-24 tahun yang dikatagorikan berada pada pendidikan tinggi (Universitas). IKMA Malang memiliki berbagai kegiatan yang dilakukan bersama. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah melakukan penggalangan dana pada pada saat meletusnya Gunung Sinabung. Mereka juga memiliki kegiatan rutin tahunan yaitu melakukan penggalan dana untuk acara natal.

(5)

“Kami melakukan jual bunga juga untuk penggalangan dana untuk sesama mahasiswa Karo. Kita juga melakukan acara ‘berbagi kasih’ waktu ada musibah gunung Sinabung.”

“Pada penyambutan mahasiswa baru juga biasanya kita bantuin buat daftar ulang, nyari kos, atau nyari gereja mereka.”

“Pernah kejadian ada mahasiswa Karo yang sedang sakit dan harus dioperasi, mahasiswa Karo yang lain menjaganya secara bergantian di rumah sakit.”

“Kalo aku harus memilih antara menolong etnis yang lain atau pribadi sih lebih milih pribadi”

Kemudian, peneliti juga melakukan wawancara kepada significant others yang merupakan teman dari mahasiswa Karo tersebut dan memiliki suku yang berbeda. Pada saat wawancara dikatakan:

“Kalau aku lihat waktu ngobrol mereka kelihatan lebih leluasa dan terlihat tidak ada batasannya, beda kalau sama kita-kita. Walaupun dari mereka ada yang baru beberapa kenal di Malang, tetapi kelihatannya kaya udah kenal lama gitu. Mereka juga punya komunitas mahasiswa Karo atau apa gitu..”

Fenomena diatas menunjukkan bahwa suku Karo memiliki hubungan interaksi yang baik terhadap sesama. Tak terkelak komunitas yang didirikan oleh sesama mahasiswa Karo juga ikut memperkuat interaksi tersebut. Interaksi yang terjadi tidak lepas dari perbuatan tolong menolong. Jika dilihat lebih dalam lagi, walaupun dalam kehidupannya manusia bisa saja terlihat mandiri, tetapi pada saat tertentu pasti membutuhkan pertolongan orang lain (Triyanto, 2013). Perilaku tolong menolong ini merupakan salah satu bentuk prososial.

(6)

memperdulikan motif-motif dari si penolong. Tindakan prososial ini juga memungkinkan si penolong melakukan pengorbanan yang tinggi atau ia menunjukkan untuk lebih mementingkan orang lain daripada untuk mendapatkan imbalan materi atau sosial. Menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne (2005), prososial merupakan suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain dan dibeberapa kejadian dapat memberikan faktor resiko untuk si penolong.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Kartner, Keller, dan Chaudhary (2010) kepada orang Berlin dan Delhi, menjelaskan bahwa adanya perbedaan perilaku prososial pada budaya yang berbeda. Perilaku prososial ini biasanya terlihat sejak anak berusia 19 bulan. Pada penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa mengajarkan ketaatan pada anak sejak kecil mempengaruhi perilaku prososialnya pada saat dewasa. Kemudian, penelitian yang dilakukan oleh Busch (2011) terhadap 150 orang German dan 158 orang yang berasa dari Cameroonian NSO menjelaskan bahwa identitas, generatif, dan perilaku prososial memiliki kesetaraan. Identitas terkait dengan perilaku prososial, yang mana merupakan perilaku dalam memberikan keuntungan. Pada penelitian ini juga dijelaskan bahwa perilaku prososial dapat ditemukan terutama pada individu yang sudah lebih dewasa.

(7)

sama. Menurut Myers (2012), gen yag ada di diri manusia mengatur agar manusia tersebut peduli terhadap saudara-saudaranya. Hal ini tidak berarti bahwa kita dapat menghitung keterkaitan genetik sebelum menolong, tetapi alam (serta budaya) telah memprogram kita untuk peduli kepada keluarga yang dekat. Hal tersebut dapat dilihat melalui fenomena yang pada suku Karo, khususnya pada mahasiswa Karo.

Dari hasil penelitian dan kajian yang dipaparkan diatas medukung adanya perilaku prososial. Tetapi, penelitian pada perilaku prososial tersebut telah dilakukan pada kajian yang berbeda. Dengan nampaknya fenomena pada mahasiswa Karo, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana perilaku prososial yang ada pada mahasiswa Karo.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran perilaku prososial pada mahasiswa Karo di Kota Malang.

C. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran perilaku prososial yang ada pada mahasiswa Karo di Kota Malang.

D. Manfaat

1. Manfaat Teoritis

(8)

ini juga diharapkan dapat menambah kajian-kajian ilu dan teori mengenai prososial.

2. Manfaat Praktis

1. Memberikan pemahaman bahwa prososial merupakan salah satu aspek yang ada di masyarakat Indonesia

2. Memberikan pemahaman bahwa prososial memiliki manfaat untuk memepererat hubungan dari suatu suku bangsa.

E. Penelitian Terdahulu

Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang menjadi acuan bagi penulis, yaitu :

1. Triyanto, Alan Darma Saputra., Puspitadewi, Ni Wayan Sukmawati. (2013). Perbedaan Perilaku Prososial Antara Mahasiswa yang Aktif dengan Mahasiswa yang Tidak Aktif di Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Surabaya. Character, Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013.

(9)

analisis uji-t dua sampel independen yaitu nilai signifikasinya 0,000 yang kurang dari 0,05. Hal tersebut memiliki arti terdapat perbedaan perilaku prososial pada mahasiswa yang aktif dengan yang tidak aktif dalam organisasi.

2. Asih, Gusti Yuli., Pratiwi, Margaretha Maria Shinta. (2010). Perilaku Prososial Ditinjau dari Emapati dan Kematangan Emosi. Volume I, No. 1, Desember 2010.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara emapati dan kematangan emosi terhadap perilaku prososial. Indikator yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah penggunaan skala. Penelitian ini menggunakan analisis data regresi dan t-test. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan atara empati dan kematangan emosi terhadap perilaku prososial dengan rxy = 0,932 dengan p = 0,000, dan tidak ada perbedaan dalam perilaku prososial antara pria dan wanita.

3. Butarbutar, Eben Ezer. (2015). Hubungan Antara Identitas Etnis Batak dengan perilaku Prososial pada mahasiswa Etnis Batak di Universitas Kristen Satya Wacana. Skripsi.

(10)

menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara identitas etnis Batak dengan perilaku prososial pada mahasiswa Batak di UKSW. 4. Kartner, Joscha., Keller, Heidi., Chaudhary, Nandita. (2010).

Cognitive and Social Influences on Early Prosocial Behavior in Two Sociocultural Context. Development Psychology, 2010, Vol. 46, No.4, 905-014.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis utama dalam studi lintas budaya yaitu konsep diri utama merupakan pendahuluan dari perilaku prososial yang telah ada sejak usia 19 bulan dan ketaaran pada anak mempengaruhi perilaku prososialnya. Penelitian eksperimen yang dilakukan pada 38 orang Berlin dan 39 orang Dehli menunjukkan bahwa perilaku tolong menolong dapat menjadi jalur alternatif dalam perkembangan prososial pada balita.

5. Busch, Holger., Hofer, Jan. (2011). Identity, prosocial behavior, and generative concern in German and Cameroonian Nso adolescents. Journal of Adeolescence, 34 (2011) 629-638.

(11)

dan generatif pada usia dewasa dengan latar belakang budaya yang jauh berbeda.

F. Kekhasan Penelitian

Berdasarkan penelitian-penelitian diatas, penulis akan memaparkan kekhasan pada penelitian yang akan dilakukan. Kekhasan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang ada pada penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Triyanto (2013) dikemukakan bahwa adanya perbedaan perilaku prososial antara mahasiswa yang tidak aktif organisasi dengan mahasiswa yang aktif organisasi. Diketahui juga pada mahasiswa yang aktif orgnaisasi memiliki tingkatan perilaku prososial yang lebih tinggi. Sedangkan yang tidak aktif memiliki tingkatan perilaku prososial yang lebih rendah.

Butarbutar (2015) juga melakukan penelitian pada 60 mahasiswa etnis Batak yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan di UKSW juga menjelaskan adanya hubungan identitas etnis dengan perilaku prososial. Dijelaskan lebih lanjut, semakin tinggi identitas etnis yang ada, maka akan semakin tinggi juga tingkat perilaku prososialnya.

(12)
(13)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Prososial

1. Definisi

Prososial memiliki perbedaan dengan altruism. Altruism merupakan tindakan seseorang dalam membantu orang lain dengan tidak adanya pamrih, atau hanya sekedar berniat untuk beramal baik. Sedangkan, menurut Batson (dalam Taylor, 2009), prososial merupakan cangkupan yang lebih luasnya. Prososial dapat mencakup setiap tindakan yang membantu atau memang dirancang direncanakan untuk membantu orang lain, terlepas dengan motif dari si penolong.

Menurut Baron dan Byrne (2015), prososial merupakan semua tindakan apapun yang dapat menguntungkan orang lain. Secara umum, prososial meruppakan suatu tindakan yang menguntungkan orang lain tetapi tidak memberikan keuntungan langsung kepada si penolong. Bahkan kadang tindakan tersebut mengandung derajat resiko. Derajat resiko tersebut bisa rendah ataupun tinggi. Sebagai contoh seorang anak yang menolong nenek yang tidak dikenalnya untuk menyebrang pun memeiliki drajat resiko, tetapi anak tersebut tidak begitu memperdulikan resikonya.

(14)

antar-orang. Hal tersebut dapat berupa alasan karena menyukai orang lain, merasa memiliki kewajiban, empati, ataupun jika dilihat dalam kehidupan sehari-hari biasanya kita lebih cenderung menolong orang yang kita kenal. Tetapi, dalam hal menolong orang asing yang tidak kita kenalpun tidaklah merupakan hal yang jarang terjadi.

Dewi juga menjelaskan (dalam Kurniawan, 2015) perilaku prososial juga memberikan gambaran tentang menolong berbagi, bertindak jujur, menyumbang, memperhatikan hak serta kesejahteraan orang lain dan memiliki pekerdulian terhadap orang lain. Perilaku tersebut juga dapat terjadi dimanapun individu berada.

Berdasarkan uraian ditas dapat disimpulakan bahwa perilaku prososial merupakan perilaku dimana seseorang memberikan pertolongan kepada orang lain dan hal tersebut juga memberikan keuntungan kepada orang lain. Sedangkan si penolong tidak mengharapkan imbalan.

(15)

Perilaku prososial memiliki beberapa faktor yang mempengaruhinya. Menurut Sarwono (2009), faktor-foktor yang mempengaruhi perilaku prososial meliputi :

a. Pengaruh Faktor Situasional : 1. Bystander

Bystander merupakan orng yang berada di sekitar tempat kejadian dan memiliki peran dalam mempengaruhi orang untuk mengambil keputusan antara menolong atau tidak saat di hadapkan pada situasi yang darurat.

Efek dari bystander ini terjadi karena beberapa hal. Yang pertama merupakan pengaruh sosial dari orang lain yang dapat dijadikan patokan dalam menginterpretasikan situasi. Kemudian, yang kedua merupakan hambatan penonton, dimana seseorang merasa dirinya di perhatikan oleh orang lain dan jika ia menolong, hal tersebut dapat menimbulkan resiko seperti malu jika tindakannya kurang tepat. Lalu yang terakhir adalah penyebaran tanggung jawab. Dimana hal ini membuat tanggung jawab untuk menolong menjadi terbagi karena ada kehadiran dari orang lain.

(16)

Daya tarik merupakan bentuk sejauh mana seseorang menilai korban dari daya tariknya, dimana daya tarik tersebut akan mempengaruhi seseorang dalam membatu. Adanya daya tari “kesamaan” antara korban dengan si penolong akan meningkatkan kemungkinan tingkah laku untuk menolong. Pada umumnya seseorang akan menolong orang yang merupakan anggota kelompoknya terlebih dahulu. Hal ttersebut disebabkan oleh “kesamaan” yang dimiliki oleh si penolong dan korban.

3. Atribusi terhadap korban

Dalam hal ini, seseorang akan lebih termotivasi untuk memberikan bantuan kepada korban bila ia berpikir musibah tersebut merupakan hal yang ada diluar kendali korban. Maka, seseorang yang akan menolong tidak akan memberikan pertolongan jika hal tersebut merupakan kesalahan dari si korban itu sendiri.

4. Ada model

Biasanya seseorang akan memutuskan untuk menolong orang lain jika ia melihat ada orang lain yang melakukannya terlebih dahulu.

(17)

Dalam hal ini orang yang memiliki waktu luang lebih banyak akan memiliki kecenderungan untuk menolong dibandingkan orang yang sedang terburu-buru atau tergesa-gesa.

6. Sifat kebutuhan korban

Orang akan cenderung lebih menolong korban yang memang terlihat jelas membutuhkan bantuan dan memang layang diberikan bantuan.

b. Pengaruh faktor dari dalam diri 1. Suasana hati (mood)

Dalam hal ini suasana hati termasuk hal yang mempengaruhi orang dalam memberikan pertolongan. Orang yang memiliki emosi positif akan cenderung meningkat tingkah laku menolongnya. Sedangkan, orang yang emosinya sedang negatif kemungkinan akan memiliki perilaku menolong yang lebih kecil.

2. Sifat

(18)

3. Jenis kelamin

Jenis kelamin juga menntukan bagaimana seseorang akan menolong. Laki-laki akan lebih cenderung menolong dalam keadaan yang darurat dan terlihat membahayakan. Sedangkan, perempuan akan lebih menolong pada situasi untuk memberikan dukungan emosional, merawat ataupun mengasuh.

4. Tempat tinggal

Dalam hal tempat tinggal, orang yang tinggal diperdesaan akan lebih cenderung untuk memberikan pertolongan dibandingkan orang yang tinggal diperkotaan. Hal tersebut disebabkan orang-orang diperkotaan lebih banyak mendapatkan stimulasi lingkungan yang membuat mereka harus selektif dalam menjalankan peran dengan baik.

5. Pola asuh

(19)

Berdasarkan uraian yang dipaparkan diatas, faktor seseorang dalam menolong dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor situasional dan pengaruh faktor dari dalam diri. Lebih lanjut dijelaskan bahwa faktor situasional meliputi bystander, daya tarik, atribusi terhadap korban, ada model, desakan waktu, dan sifat kebutuhan korban. Sedagkan faktor dari dalam diri meliputi suasana hati (mood), sifat, jenis kelamin, tempat tinggal, dan pola asuh.

3. Aspek-aspek prososial

Mussen, dkk (dalam Asih, 2010) menjelaskan bahwa aspek-aspek perilaku prososial merupakan:

a. Berbagi

Dalam hal ini, berbagi merupakan suatu tindakan untuk bersedia membegi perasaan dalam suka maupun duka terhadapa orang lain.

b. Kerjasama

Dalam perilaku prososial, kerjasama diartikan dengan kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain demi tercapainya suatu tujuan.

(20)

Menolong merupakan suatu tindakan sesorang dimana orang tersebut bersedia untuk menolong orang lain yang sedang berada dalam kesulitan.

d. Bertindak jujur

Dalam hal ini perilaku bertindak jujur diartikan dengan kesedian untuk melakukan suatu tindakan seperti apa danya, tidak melakukan kecurangan.

e. Berderma

Berderma merupakan kesediaan utnuk memberikan dengan sukarela sebagian barang yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkan.

Berdasarkan uraian yang dipaparkan diatas dapat disimpulkan bahwa aspek dalam perilaku prososial merupakan berbagi, kerjasama, menolong, bertindak jujur, dan berderma.

B. Suku Karo 1. Suku bangsa

(21)

keturunan dan tempat asalnya. Jati diri sebuah suku bungsa adalah jati diri yang didapat berdasarkan kelahiran individu atau tempat asalnya. Sebagai golongan sosial, sukubangsa terwujud dalam sekumpulan masyarat yang hidup disebuah wilayah yang diakui sebagai wilayah tempat hidup mereka dan merupakan sumber pemenuh kehidupannya (Suparlan, 2003).

Menurut Badan Pusat Statistik (dalam Na’m, 2010), suku bangsa juga merupakan suatu kelompok etnis dan budaya masyarakat yang sudah dibentuk sejak alam dan diturunkan secara turun menurun. Identitas dan atribut yang terdapat pada suku bangsa tersebut akan diwariskan pada generasi berikutnya dan akan terus melekat pada diri setiap individu. Di Indonesia, secara umum suku bangsa seorang individu ditentukan melalui garis paternalistik (ayah/laki-laki). Sebagai contoh adalah seorang lelaki yang berasal dari Batak akan memberikan keturunannya suku Batak juga. Tetapi, terdapat juga beberapa suku di Indonesia yang mengikuti garis maternaliktik (ibu/perempuan), misalnya suku Minangkabau.

Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulakn bahwa suku bangsa merupakan sekelompok manusia yang mendiami suatu letak geografis, memiliki kesamaan yang menunjukan jati diri sukunya dan ksesamaan tersebut akan diturunkan secara turun menurun.

(22)

Suku Batak merupakan salah satu dari sekian banyak suku yang berada di Indonesia. Menurut Kontjaraningrat (2010), sebagian besar suku Batak tersebar di daerah pegunungan Sumatra Utata. Terhitung dari perbatasan Daerah Istimewa Aceh sampai ke perbatasan Riau dan Sumatra Barat di sebelah selatan. Suku Batak ini juga tersebar di daerah datar yang berada di antara pegunungan dengan pantai Timur Sumatra Utara dan pantai Barat Suatra Utara. Karena hal yang dipaparkan diatas, suku Batak ini mendiami: Dataran Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun, Dairi, Toba, Humbang, Silingdung, Angkola, dan Mandailing, dan Kabupaten Tapanuli tengah.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa, suku Batak biasanya tetap berpegang teguh pada adat budaya mereka dimanapun mereka berada. Walaupun mereka berada di perantauan, biasanya mereka tetap memegang identitas sukunya dan membuat perkumpulan semarga atau sesama suku Batak. Hal tersebut memiliki tujuan untuk tetap menghidupkan ide ide adat budaya Batak (Sitorus, 2013).

(23)

Aceh tenggara, dan Kotamadya Medan. Suku Karo sudah terikat oleh adat istiadatnya sejak dahulu. Ikatan kekeluargaan dan kekerabatan pada suku Karo pun memang diajarkan agak keras, sehingga sangat jarang telihat ada suku Karo yang melanggar ketentuan adat istiadat tersebut (Bangun, 1986).

Menurut Dr. Henry Guntur Tarigan (1988), suku Karo ini memiliki lima jenis merga yang biasa disebut merga si lima. Semua suku Karo ini memiliki merga nya sendiri-sendiri. Merga si lima memiliki beberapa sub merga, yaitu : Ginitng, Karokaro, Peranginangin, Sembiring, dan Tarigan. Masyarakat Karo juga memiliki sistem kekerabatan yang biasa disebut Dalikan Si Telu. Dalikan Si Telu didasarkan oleh pertalian darah maupun disebabkan oleh hubungan perkawinan, maka dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu : senina, kalibumbu , dan anakberu.

(24)

Peranan Dalikan Si Telu masih tetap dipegang teguh oleh suku Karo, tak tekelak dimanapun mereka berada. Walaupun mereka merantau ke berbagai kota di Indonesia, asalkan terdapat beberapa keluarga yang berbeda marga, mereka akan tetap membentuk Dalikan Si Telu (Bangun 1986).

Menurut Bangun (1986), suku Karo juga memiliki beberapa sifat dan perwatakan yang berwujud pada perilaku mereka dan masih melekat. Dijelaskan lebih lanjut, sifat dan perwatakan tersebut berupa jujur, tegas dan berani, percaya diri, pemalu, tidak serakah dan tahu akan hak, mudah tersinggung dan dendam, berpendirian tetap dan pragmatis, sopan, jaga nama keluarg dan harga diri, raaional dan kritis, mudah menyesuaikan diri, gigih mencari ilmu, dan iri.

Berani dalam suku Karo diartikan bahwa manusia memiliki derajat yang sama. Suku Karo pun jarang ada yang memiliki rasa ragu-ragu dan berani mengaku salah jika memang salah, begitupun sebaliknya. Salah satu keberanian suku Karo adalah untuk merantau dan keluwesan dalam menempatkan diri di antara masyarakat yang baru (Bangun, 1986).

(25)

masyarakat lain dan memengang teguh prinsip bahwa: “dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung”. Dalam hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Karo menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana pun mereka berada (Bangun, 1986).

Menurut paparan diatas dapat disimpulkan bahwa Dalikan Si Telu merupakan sistem kekerabatan yang ada didalam masyarakat Karo dan ditunkan secara turun menurun sampai saat ini. Lalu, berani dan mudah menyesuaikan diri merupakan sifat dan perwatakan masyarakat Karo yang menjadi dasar bekal hidup mereka diperantauan.

C. Mahasiswa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), mahasiswa merupakan seorang individu yang sedang belajar di perguruan tinggi (universitas). Camenius (dalam Kurniawan, 2015) menjelaskan, bahwa mahasiswa merupakan seseorang invidu yang berusia 18-24 tahun yang dikatagorikan berada pada pendidikan tinggi (Universitas).

D. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan, landasan teori, dan penelitian terdahulu yang telah dipaparkan diatas, maka dibuatlah kerang pemikiran seperti dibawah ini :

(26)

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Dari gambaran kerangka pemikiran diatas dapat dijelaskan bahwa perilaku prososial terjadi dikalangan mahasiswa. Salah satunya adalah mahasiswa yang berasal dari suku Karo. Mahasiswa Karo ini merantau ke berbagai daerah di Indonesia, salah satunya adalah Kota Malang. Perilku prososial ini meiliki beberapa dimensi yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk mendapatkan gambaran perilaku prososial, yaitu berbagi, kerjasama, menolong, bertindak jujur, dan berderma.

Dimensi Perilaku Prososial

(27)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desian Penelitian

Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Herdiansyah (2015), penelitian kualitatif ini bertujuan untuk memahami mengapa manusia dapat melakukan perilaku tertentu di kehidupannya, bagaimana penelitian tersebut terlihat dari sudut pandang yang berbeda, nilai apa yang mendasarinya, serta faktor apa yang memperkuat oerilaku tersebut. Salah satu daya tari dari penelitian kualitatif adalah keunikan dari kasus yang akan diteliti. Analisis dalam penelitian kualitatif juga di fokuskan pada “bagaimana” dan “apa”.

(28)

Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini menekankan penggambaran subjek terhadap pengalam-pengalamannya. Hal tersebut dirasa sesuai dengan fenomena mahasiswa Karo yang merantau ke Malang. Dalam hal ini fenomena yang terlihat adalah subjek memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku prososial. Hal tersebut mencakup kegiatan besar yang diadakan oleh komunitas mahasiswa Karo di malang maupun hal kecil yang terjadi sehari-hari.

B. Subjek

Subjek penelitian merupakan individu yang menempatkan posisi utama dalam penelitian (Herdiansyah, 2015). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengambilan subjek dengan teknik purpoosive sampling. Purposive sampling merupakan teknik pemilihan subjek yang didasari oleh ciri-ciri yang ada pada subjek yang terpilih, dimana ciri-ciri tersebut sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dilakukan (Herdiansyah (2015).

Penelitian ini dilakukan kepada mahasiswa Karo yang berada di kota Malang. Terdapat 4 subjek (tambahin pengertian dari idrus) dalam penelitian ini, yang memiliki kriteria sebagai berikut:

(29)

b. Tergabung dalam IMKA Malang (Ikatan Mahasiswa Karo Malang)

c. Cukup aktif dalam kegiatan IMKA Malang. C. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian kualitiatif ini berusaha untuk mengetahui kondisi perilaku yang ada di masyarakat atau lingkungan yang diteliti. Untuk memenuhi kebutuhan data penelitian kualitatif menggunakan berbagai metode pengumpulan data, yaitu wawancara individual, penelitian dokumen, serta penelitian di lapangan. Dijelaskan lebih lanjut, antara metode-metode tersebut memiliki kesinambungan antara satu dengan yang lainnya (Gunawan, 2014).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 3 teknik pengumpulan data, yaitu:

1. Observasi

(30)

Obeservasi ini mengoptimalkan kemampuan peneliti dalam meneliti dari berbagai segi seperti motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tidak sadar, kebiasaan, dan lainnya (Moleong, 2014). Menurut Guba dan Lincoln (dalam Gunawan, 2014) manfaat observasi dalam penelitian kualitataif meliputi :

a. Pengamatan secara langsung dirasa merupakan sebuah alat yang ampuh dalam memperoleh kebenaran. Jika terdapat informasi yang kurang meyakinkan, peneliti dapat lebih meyakinkan lagi dengan melalakukan pengamatan.

b. Pengamatan memungkinkan dilakukan oleh peneliti sendiri, kemudian peneliti mencatat nagaimana kejadian yang sebenarnya.

c. Pengamatan dapat memungkin peneliti mencatat kejadian yang relevan dengan pengetahuan yang di peroleh dari data.

d. Untuk menghindari bias saat memperoleh infoemasi, peneliti dapat melakukan pengamatan.

e. Pengamatan memungkinkan peneliti memahami situasi yang rumit atau perilaku yang kompleks.

(31)

Teknik observasi yang digunakan oleh peneliti merupakan observasi langsung. Menurut Nazir (2011), observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata apa adanya. Observasi secara langsung ini dilaksanakan terhadap subjek sebagaimana yang terlihat dilapangan.

Peneliti juga menggunakan anecdotal record sebagai metode pencatatan obervasi. Menurut Herdiansyah (2010), anecdotal record merupakan metode yang digunakan peneliti dengan hanya membawa kertas kosong yang digunakan untuk mencatat perilaku yang khas, unik, dan penting yang dilakukan oleh subjek penelitian.

2. Wawancara

(32)

Menurut Herdiansyah (2015), wawancara juga merupakan instrumen andalah dalam penelitian kualitatif. Wawancara juga memiliki persyaratan untuk dilakukan. Persyaratan tersebut antara lain:

a. Membangun rapport

Rapport adalah proses dimana peneliti berusaha mengubah wilayah yang personal menjadi wilayah publik. Hal ini artikan bagaimana seseorang yang awalnya memiliki persepsi yang personal dan merasa hal itu tidak layak diketahui oleh orang lain, dengan dibangunnya rapport ini menjadi lebih terbuka. Membina rapport antara peneliti dengan subjek sangat disarankan.

b. Mendapatkan trust

Trust merupakan proses alamiah yang dirasakan seseorang ketika ia merasa dihargai dan diterima. Dalam mendapatkan data akurat dan dapat dipercaya, maka trust merupakan kunci utamanya. Seorang peneliti kualitatif harus bisa mendapatkan trust dari subjeknya.

c. Perspektif emik

(33)

wawancara merupakan murni dari sudut pandang, sikap, dan pemikiran subjek.

d. Posisi tawar

Posisi dimana dalam melakukan wawancara peneliti tidak diperbolehkan memaksakan subjek untuk melakukan wawancara. Peneliti harus menyesuaikan waktu dan lokasi wawancara dengan keadaan subjek.

e. Fleksibilitas

sDalam wawancara kualitatif tidak diperkenankan memisahkan subjek dengan lingkungannya, karena pada perinsipya subjek dengan lingungannya merupakan suatu kesinambungan. Peneliti harus lebih fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan keadaan subjek. Walaupun telah dibuat panduan wawancara, peneliti tetap membebaskan subjek untuk bercerita.

(34)

wawancara tetapi hanya berupa topik-topik pembicaraan yang sesuai dengan tema wawancara. Peneliti juga dapat melakukan improvisasi (Herdiansyah, 2015)

D. Analisa Data

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data dari Miles dan Huberman (Herdiansyah, 2010). Teknis analisis data tersebut memiliki beberapa tahapan, antara lain:

a. Pengumpulan data

Pada teknik penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat terjadi setiap waktu. Tidak menentu segmen atau waktu itu sendiri. Pengumpulan data sudah dapat dilakukan sebelun penelitian, yang biasa di sebut studi eliminary. Studi pre-elimnary tersebut merupakan verifikasi dan pembuktian awal bahwa fenomena tersebut memang ada. Hal tersebut biasanya dibuktikan melalui wawancara dan observasi.

Lalu, pengumpulan data juga dilakukan saat penelitian berlangsung dan akhir penelitian. Dalam penelitian ini selama penelitian berlangsung, maka selama itu juga proses pengumpulan data dilakukan.

(35)

Reduksi data adalah penggabungn data menjadi satu bentuk tulisan (script) yang kemudian akan di analisis. Hasil tersebut akan diubah menjadi bentuk tulisan (script) dengan bentuknya masing. Pada hasil wawancara akan dirubah menjadi verbatim, sedangkan untuk hasil observasi akan dirubah sesuai dengan formatnya tergantung dengan peneliti.

c. Display data

Pada hal ini, display data merupakan pengolahan data yang telah menjadi script dan sudah seragam dalam tulisan dan alurnya. Lalu, hal tersebut akan dimasukkan ke sebuah matriks katagorisasi sesuai tema yang dikatagorikan. Kemudian, akan dipecah dalam bentuk konkret yang disebut subtema. Terakhir, akan diberikan kode (coding) dari subtema sesuai dengan verbatim.

d. Penarikan kesimpulan/verifikasi

Penarikan kesimpulan dalam metode kualitatif berisikan uraian dari selurug subkatagorisasi tema yang tercantum pada tabel katagorisasi. Setiap subkatagori diuraikan decara umum dibarengi dengan uraian subkatagori tema dan pengkodean yang berupa quote verbatim wawancara dan kemudian di simpulkan secara spesifik dan mengkrucut.

(36)

a. Menguraikan sukategori tema dalam tabel kategorisasi dan pengkodean disertai quote verbatim pada wawancaranya. b. Menjelaskan hasil temuan disangkutkan berdasarkan

aspek/faktor/dimensi.

c. Membuat kesimpulan dari temuan tersebut dengan memberikan penjelasan dari jawaban pertanyaan yang peneliti ajukan.

E. Uji validitas dan reabilitas

Sugiyono (2014) menjelaskan, uji keabsahan data pada penelitian kualitatif meliputi uji creability (validitas internal), transferability (validitas eksteral), dependalibility (reeabilitas), dan confirmability (objeksivitas). Pada penelitian ini peneliti menggunankan ¢reability, transferbility, dan confirmability yang akan dijelaskan dibawah ini:

a. Uji kreadibilitas

Uji kreadibilitas data pada penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: perpajangan pengamatan, peningkatan ketekunana, tirangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan membercheck. Pada penelitian ini peneliti menggunakan uji kreadibilitas melalui triangulasi sumber dan triangulasi waktu.

(37)

Triangulasi sumber digunakan untuk menguji kreadibilitas data yang dilakukan deengan cara mengecek data yang diperoleh dmelalui beberapa sumber. Data tringualisasi ini dilakukan dengan cara mewawancarai seumber sebagai data primer dan juga mewawancarai significant other seperti teman, bawahan, ditempat kerja, atau keluarga.

b. Triangulasi waktu

Waktu juga merupakan hal penting dalam mempengaruhi kreadibilitas data. Dalam rangka menguji kreadibiltas data agar lebih valid, wawancara dan observasi dapat dilakukan dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila terdapat hasil yang berbeda, makan dilakukan lagi dengan berulang sampai menemukan kepastian datanya.

c. Transferbility

Transferbility ini merupakan validitas eksternal dalam penelitian kualitatif. Validitas eksternal menunjukkan drajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi dimana sampel tersebut diambil. Nilai ternasfer ini berkenana dengan pertanyaan yang muncul, bilamana hasil penelitianini dapat diterapkan dalam situasi lain.

(38)
(39)

Daftar Pustaka

Asih, Gusti Yuli., Pratiwi, Margaretha Maria Shinta. (2010). Perilaku Prososial d ditinjau dari Emapati dan Kematangan Emosi. Volume I, No. 1.

Baron, R, A., Byrne, Donn. (2005). Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh. Jakarta:Penerbit Erlangga.

Busch, Holger., Hofer, Jan. (2011). Identity, prosocial behavior, and generative concern in German and Cameroonian Nso adolescents. Journal of Adeolescence, 34 (2011) 629-638.

Butarbutar, Eben Ezer. (2015). Hubungan Antara Identitas Etnis Batak dengan perilaku Prososial pada mahasiswa Etnis Batak di Universitas Kristen Satya Wacana. Skripsi.

Gunawan, Imam. (2014). Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara.

Herdiansyah, Haris. (2010). Metodelogi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Herdiansyah, Haris. (2015). Metode Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

(40)

Kurniawan, Danang,. Habibah, Nur. (2015). Konsep Diri Kecenderungan Perilaku Prososial Atas Kejadian Kecelakaan di Jalan Raya pada Mahasiswa UMSIDA. Psikologia/Vol.2 No. 1.

Myers, D, G. (2012). Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh. Jakarta: Salemba Humanika.

Moleong, L, J. (2014). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Na’im, A., Syaputra, H. (2010). Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Nazir. (2011). Metodelogi Penelitian. Bogor: Penerbit: Ghalia Indonesia.

Sarwono, S, W., Meinamo, E, A. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Sarwono, Jonathan. (2013). Strategi Melakukan Riset. Yogyakarta: PT Abdi Offset.

Sitorus, L, I, S., Warsito, H. (2013). Perbedaan Tingkat kemandirian dan Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantauan Suku Batak Ditinjau dari jenis Kelamin. Character, Volume 01, Nomor 02.

(41)

Suparlan, Parsudi. (2003). Bhinnek Tunggal Ika: Keanekaragaman Sukubangsa atau Kebudayaan?. Antropologi Indonesia.

Taringan, H. G. (1988). Percikan Budaya Karo. Penerbit Yayasan Merga Silima

Taylor, S, E., Peplau, L, A & Sears, D, O. (2009). Psikologi Sosial Edisi Kedua Belas. Jakarta: Kencama Media Group.

Triyanto, Alan Darma Saputra., Puspitadewi, Ni Wayan Sukmawati. (2013). Perbedaan Perilaku Prososial Antara Mahasiswa yang Aktif dengan Mahasiswa yang Tidak Aktif di Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Surabaya. Character, Volume 2 Nomor 1.

Ulaan, Kaludia., Herani, Ika & Rahmawati, Intan. (2016). Prasangka Mahasiswa Papua pada Etnis Jawa di Kota Malang. Jurnal Mediapsi Vol.2, No. 1, 11-18.

Referensi

Dokumen terkait

Dari fenomena tersebut kemudian peneliti melakukan wawancara terhadap 10 (sepuluh) mahasiswa program pengembangan kepemimpinan Yayasa n “X” Ba ndung mengenai beberapa

adalah mahasiswa kami yang saat ini sedang menjalankan penelitian untuk menyelesaikan tugas skripsi dengan judul "Prasangka Sosial dan Kecenderungan Perilaku

Atas dasar hasil wawancara yang telah dijelaskan oleh mahasiswa di atas, peneliti memandang perlunya dilakukan penelitian terkait hubungan dukungan sosial teman sebaya

peneliti melakukan penelitian dengan tiga teknik yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi dalam situasi waktu yang berbeda namun.

Terdapatnya hubungan antara faktor teman sebaya dengan perilaku merokok yang dijumpai dalam penelitian ini, menurut asumsi peneliti hal ini disebabkan karena saat berada

Kemudian adanya tanggapan nasabah terhadap kesesuaian M-banking Bank Mandiri pada saat penyebaran kuesioner, peneliti juga melakukan wawancara yang menghasilkan bahwa nasabah

Dari fenomena tersebut kemudian peneliti melakukan wawancara terhadap 10 (sepuluh) mahasiswa program pengembangan kepemimpinan Yayasan “X” Bandung mengenai beberapa

Hasil wawancara di bawah ini menyatakan bahwa mahasiswa angkatan pertama merupakan mahasiswa yang tidak memiliki kakak tingkat, namun subjek dapat saling bertukar pikiran dengan teman