• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PELIBATAN ORANG TUA TERHADAP LEM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PELIBATAN ORANG TUA TERHADAP LEM"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Masih banyak kenyataan yang terjadi di masyarakat adanya orang tua yang masih mempunyai pola pikir bahwa pendidikan itu sepenuhnya tanggungjawab pihak lembaga pendidikan saja. Seringkali orang tua menumpu harapan terlalu tinggi pada lembaga pendidikan, sehingga banyak orang tua yang berani membayar mahal biaya pendidikan anaknya. Di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang menuntut lembaga pendidikan harus berbuat seperti yang dikehendaki dan kecewa jika hasil pendidikan di lembaga tersebut tidak sesuai dengan harapannya. Fenomena keliru ini harus segera diluruskan agar tanggungjawab tinggi muncul dalam keluarga sehingga keluarga, khususnya ibu dan ayah juga berperan sebagai pendidik di rumah.

(2)

BAB II

Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini, Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dalam Membangun Masa Depan Bangsa, Perkembangan Anak Usia Dini dan Peran Orang Tua

dalam Pendidikan Anak Usia Dini

A. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Saat ini bidang ilmu pendidikan, psikologi, kedokteran, psikiatri, berkembang dengan sangat pesat. Keadaan itu telah membuka wawasan baru terhadap pemahaman mengenai anak dan mengubah cara perawatan dan pendidikan anak. Setiap anak mempunyai banyak bentuk kecerdasan (Multiple Intelligences) yang menurut Howard Gardner terdapat delapan domain kecerdasan atau intelegensi yang dimiliki semua orang, termasuk anak. Kedelapan domain itu yaitu inteligensi music, kinestetik tubuh, logika matematik, linguistik (verbal), spasial, naturalis, interpersonal dan intrapersonal.

(3)

Dalam kondisi seperti ini tentunya sulit bagi bangsa Indonesia untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Pembangunan sumber daya manusia yang dilaksanakan di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan sebagainya, dimulai dengan pengembangan anak usia dini yang mencakup perawatan, pengasuhan dan pendidikan sebagai program utuh dan dilaksanakan secara terpadu. Pemahaman pentingnya pengembangan anak usia dini sebagai langkah dasar bagi pengembangan sumber daya manusia juga telah dilakukan oleh bangsa-bangsa ASEAN lainnya seperti Thailand, Singapura, termasuk negara industry Korea Selatan. Bahkan pelayanan pendidikan anak usia dini di Singapura tergolong paling maju apabila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Di Indonesia pelaksanaan PAUD masih terkesan ekslusif dan baru menjangkau sebagian kecil masyarakat. Meskipun berbagai program perawatan dan pendidikan bagi anak usia dini usia (0-6 tahun) telah dilaksanakan di Indonesia sejak lama, namun hingga tahun 2000 menunjukkan anak usia 0-6 tahun yang memperoleh layanan perawatan dan pendidikan masih rendah. Data tahun 2001 menunjukkan bahwa dari sekitar 26,2 jut anak usia 0-6 tahun yang telah memperoleh layanan pendidikan dini melalui berbagai program baru sekitar 4,5 juta anak (17%). Kontribusi tertinggi melalui Bina Keluarga Balita (9,5%), Taman Kanak-kanak (6,1%), Raudhatul Atfal (1,5%). Sedangkan melalui penitipan anak dan kelompok bermain kontribusinya masing-masing sangat kecil yaitu sekitar 1% dan 0,24%.

Masih rendahnya layanan pendidikan dan perawatan bagi anak usia dini saat ini antara lain disebabkan masih terbatasnya jumla lembaga yang memberikan layanan pendidikan dini jika dibanding dengan jumlah anak usia 0-6 tahun yang seharusnya memperoleh layanan tersebut. Berbagai program yang ada baik langsung (melalui Bina Keluarga Balita dan Posyandu) yang telah ditempuh selama ini ternyata belum memberikan layanan secara utuh, belum bersinergi dan belum terintegrasi pelayanannya antara aspek pendidikan, kesehatan dan gizi. Padahal ketiga aspek tersebut sangat menentukan tingkat intelektualitas, kecerdasan dan tumbuh kembang anak.

(4)

Perhatian dunia internasional terhadap urgensi pendidikan anak usia dini diperkuat oleh berbagai penelitian terbaru tentang otak. Pada saat bayi dilahirkan ia sudah dibekali Tuhan dengan struktur otak yang lengkap, namun baru mencapai kematangannya setelah di luar kandungan. Bayi yang baru lahir memiliki lebih dari 100 milyar neuron dan sekitar satu trilyun sel glia yang berfungsi sebagai perekat serta synap (cabang-cabang neuron) yang akan membentuk bertrilyun-trilyun sambungan antar neuron yang jumlahnya melebihi kebutuhan. Synap ini akan bekerja sampai usia 5-6 tahun. Banyaknya jumlah sambungan tersebut mempengaruhi pembentukan kemampuan otak sepanjang hidupnya. Pertumbuhan jumlah jaringan otak dipengaruhi oleh pengalaman yang didapat anak pada awal-awal tahun kehidupannya, terutama pengalaman yang menyenangkan. Pada fase perkembangan ini akan memiliki potensi yang luar biasa dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, matematika, keterampilan berpikir, dan pembentukan stabilitas emosional.

Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak usia dini, yaitu: (1) menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas, (2) mendorong percepatan perputaran ekonomi dan rendahnya biaya sosial karena tingginya produktivitas kerja dan daya tahan, (3) meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat, (4) menolong para orang tua dan anak-anak.

Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Pendidikan anak usia dini sepatutnya juga mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan tidak terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi dalam lembaga pendidikan. Artinya, pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia dini.

C. Perkembangan Anak Usia Dini

Sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa memberikan pendidikan anak usia dini cukup dilakukan oleh orang dewasa yang tidak memerlukan pengetahuan tentang PAUD. Selain itu juga mereka menganggap PAUD tidak memerlukan profesionalisme. Pandangn tersebut adalah keliru.

(5)

Kenyataannya semakin banyak ibu-ibu bekerja di luar rumah, oleh karena itu haruslah orang yang menggantikan peran ibu tersebut memahami proses tumbuh kembang anak.

Pembelajaran pada anak usia dini adalah proses pembelajaran yang dilakukan melalui bermain. Ada lima karakteristik bermain yang esensial dalam hubungan dengan PAUD (Hughes, 1999), yaitu: meningkatkan motivasi, pilihan bebas (sendiri tanpa paksaan), non linier, menyenangkan dan pelaku terlibat secara aktif.

Bila salah satu kriteria bermain tidak terpenuhi misalnya guru mendominasi kelas dengan membuatkan contoh dan diberikan kepada anak maka proses belajar mengajar bukan lagi melalui bermain. Proses belajar mengajar seperti itu membuat guru tidak sensitif terhadap tingkat kesulitan yang dialami masing-masing anak.

Ketidaksensitifan orangtua terhadap kesulitan anak bisa juga terjadi, alasan utama yang dikemukakan biasanya karena kurangnya waktu karena orangtua bekerja di luar rumah. Memahami perkembangan anak dapat dilakukan melalui interaksi dan interdependensi antara orangtua dan guru yang terus dilakukan agar penggalian potensi kecerdasan anak dapat optimal. Interaksi dilakukan dengan cara guru dan orangtua memahami perkembangan anak dan kemampuan dasar minimal yang perlu dimiliki anak, yaitu musikal, kinestetik tubuh, logika matematika, linguistik, spasial, interpersonal dan intrapersonal, karena pada umumnya semua orang punya tujuh intelegensi itu, tentu bervariasi tingkat skalanya.

D. Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Anak adalah perwujudan cinta kasih orang dewasa yang siap atau tidak untuk menjadi orang tua. Memiliki anak, siap atau tidak, mengubah banyak hal dalam kehidupan, dan pada akhirnya mau atau tidak kita dituntut untuk siap menjadi orang tua yang harus dapat mempersiapkan anak-anak kita agar dapat menjalankan kehidupan masa depan mereka dengan baik.

Mengenal, mengetahui, memahami dunia anak memang bukan sesuatu yang mudah. Dunia yang penuh warna-warni, dunia yang segalanya indah, mudah, ceria, penuh cinta, penuh keajaiban dan penuh kejutan. Dunia yang seharusnya dimiliki oleh setiap anak anak namun dalam kepemilikanya banyak bergantung pada peranan orang tua.

(6)

seharusnya terlepas penuh dari orang tua dimana keputusan-keputusan hidup mereka sudah harus dapat dilakukan sendiri. Disinilah peranan orang tua sudah sangat berkurang dan sebagai orang tua, pada saat itu kita hanya dapat melihat buah hasil didikan kita sekarang, tanpa dapat melakukan perubahan apapun.

(7)

BAB III

Definisi Keterlibatan Orang Tua dan Manfaat dari Keterlibatan Orang Tua

A. Definisi Keterlibatan Orang Tua

Adiwikarta (1988:68) menyebutkan ”Keluarga adalah suatu sistem yang terdiri atas subsistem-subsistem yang saling berhubungan dan saling pengaruhi satu sama lain”. Adapun subsistem sosial itu bukan unit-unit fisik, melainkan peran- peran atau fungsi. Sebagai sebuah sistem sosial, keluarga berhubungan dan punya kesalingtergantungan tertentu dengan keluarga lain dan sistem sosial lain seperti dengan organisasi, kantor, sekolah dan lain-lain. Konsep keterlibatan orang tua bukanlah hal baru di lingkungan pendidikan dan telah memainkan peran yang nyata. Pihak yang terlibat dalam keterlibatan orang tua adalah sekolah, keluarga dan kemitraan masyarakat. Oleh karena itu tiga aspek yang saling mempengaruhi tersebut harus disatukan disetiap pendidikan dan pengembangananak. Menurut Wolfendale dalam Epstein (1996:81) bahwa “Keterlibatan orang tua secara luas diartikan dalam waktu tertentu diantara para pendidik terkadang menyamakannya dengan kemitraan, partisipasi orang tua, kekuasaan orang tua, sekolah, keluarga, dan kemitraan masyarakat. Adapun menurut Moles (1992:87)menyatakan “Banyak sekali variasi bentuk keterlibatan orang tua dan tingkatan dari keterlibatan tersebut, baik di dalam maupun di luar sekolah “. Semuanya mencakup segala kegiatan yang dapat didukung dan didorong oleh sekolah dan yang memberi kewenangan bagi para orang tua dalam hal pembelajaran dan perkembangan anak-anak. Menurut Defense Fund dalam Olsen dan Fuller (2003:136) bahwa “Setiap sekolah akan mengunggulkan kemitraan yang akan meningkatkan keterlibatan orang tua dan berpartisipasi dalam pertumbuhan sosial, emosi, dan akademik anak”. Hal tersebut tentu saja mendorong sekolah dan kerja sama masyarakat untuk membantu kesuksesan anak-anak dalam pendidikan. Dengan memiliki dasar yang baik dalam bidang ketrampilan berkomunikasi, menurut Lindenfield (1997:8), maka anak- anak akan dapat:

1. Mendengarkan orang lain dengan tepat, tenang dan penuh perhatian.

2. Bisa berbincang- bincang dengan orang lain dari segala usia dan segala jenis latar belakang.

3. Membaca dan memanfaartkan bahasa tubuh orang lain. 4. Bicara di depan umum tanpa rasa takut.

(8)

B. Hubungan Lembaga PAUD Dengan Orang Tua Dalam Konteks Umum

Berkomunikasi dengan orangtua merupakan salah satu tanggungjawab pendidik. Demikian juga dengan orangtua, mereka perlu menjalin komunikasi dengan pendidik. Komunikasi timbal balik ini akan sangat efektif untuk memberikan layanan yang berkualitas kepada anak usia dini. Orangtua dan pendidik saling berbagi informasi baik mengenai program lembaga maupun tentang individual anak. Orang tua dapat mengetahui program-program yang akan dan sedang dilaksanakan oleh lembaga. Di samping itu juga dapat memberi saran serta kritikan tentang pelaksanaan program – program dan saling bekerja sama demi kemajuan lembaga tersebut. Pendidik dapat menginformasikan dan berdiskusi tentang perkembangan anak selama mengikuti kegiatan di lembaga tersebut dan juga menggali informasi dari orangtua tentang berbagai hal mengenai anak tersebut. Kegiatan berkomunikasi tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara. Baik secara formal maupun informal, baik secara tertulis maupun lisan. Akan tetapi bukan hal yang mudah baik bagi pendidik maupun orangtua untuk menjalin komunikasi dua arah secara efektif. Ada banyak kendala baik dari pendidik maupun orangtua.

C. Tujuan keterlibatan orangtua dalam komunikasi dua arah ini yaitu:

1) Menyampaikan informasi tentang kebijakan dan program kegiatan yang ada di lembaga.

2) Menjalin kerjasama antara lembaga dan orangtua dalam melaksanakan program lembaga

3) Berdiskusi tentang perkembangan anak dan permasalahan yang dihadapi oleh masing – masing anak.

4) Berbagi pengalaman dan gagasan dalam membelajarkan anak.

5) Bertukar informasi mengenai perkembangan anak yang ada di lembaga dan di rumah.

6) Memperoleh informasi yang membantu pemahaman mengenai

berbagai aspek tentang kemajuan tumbuh kembang anak.

D. Manfaat dari Keterlibatan Orang Tua

Menurut pendapat Henderson dan Berla dalam Olsen dan Fuller (2003:136), tanda-tanda yang paling akurat dari pemahaman siswa di sekolah adalah bukan dikarenakan status sosial tetapi tingkat dimana keluarga siswa mampu untuk:

(9)

2. Menunjukkan harapan yang tinggi (tapi masuk akal) untuk pemahaman dan masa depan anak.

3. Menjadi pendorong pendidikan anak-anak di sekolah dan di masyarakat

Anderson dan Berla (1994) telah mengkaji dan menganalisis delapan puluh lima kajian yang telah mendokumentasikan manfaat menyeluruh dari keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak. Sebuah keterlibatan orang tua yang direncanakan secara efektif dan diterapkan dengan baik akan memberi manfaat yang sangat banyak bagi orang tua, pendidik, dan sekolah. Adapun manfaat bagi Anak-anak adalah:

a) Anak-anak cenderung lebih paham, tanpa memandang latar belakang suku atau ras, status sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan orang tua.

b) Secara umum anak-anak mendapatkan peringkat, nilai dan presentasi kehadiran yang lebih baik.

c) Anak-anak secara konsisten mengerjakan pekerjaan rumah mereka.

d) Anak-anak memiliki harga diri yang lebih baik akan lebih disiplin dan menampakkan pendapat serta motivasi untuk bersekolah.

e) Perilaku positif anak-anak tentang sekolah akan selalu berhasil meningkatkan perilaku baik di sekolah serta mengurangi pelanggaran disiplin.

f) Meminimalkan jumlah siswa yang ditempatkan di pendidikan khusus dan di kelas remidial.

g) Anak-anak dari beragam latar belakang budaya mudah berbaur saat orang tua dan pegawai profesional bekerja sama untuk menjembatani batas antara budaya di rumah dan budaya di sekolah.

h) Siswa SMP dan SMA yang orang tuanya selalu terlibat akan mudah mengatasi masa transisi dan mengurangi angka putus sekolah.

Manfaat bagi Orang Tua :

a) Para orang tua meningkatkan interaksi dan diskusi dengan anak-anak mereka dan para orang tua menjadi lebih responsive dan sensitive terhadap perkembangan intelektual, sosial, dan emosi anak-anak.

b) Para orang tua lebih percaya diri dalam mengasuh dan terampil dalam membuat keputusan.

c) Sebagai orang tua, memperoleh wawasan tentang perkembangan anak, akan lebih berguna dan menjadi dorongan positif sehingga mengurangi pemberian hukuman pada anak-anak mereka.

d) Para orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik tentang tugas guru dan kurikulum sekolah.

e) Saat para orang tua sadar tentang apa yang dipelajari anak-anak, mereka dengan senang hati membantu ketika para guru meminta mereka terlibat dalam aktivitas pembelajaran di rumah.

f) Persepsi orang tua terhadap sekolah menjadi lebih baik dan memperkuat ikatan serta komitmen dengan sekolah.

(10)

Manfaat bagi Pendidik :

a) Ketika suatu sekolah memiliki tingkat presentasi yang tinggi dalam melibatkan orang tua baik di dalam maupun di luar sekolah, para guru dan kepala sekolah akan mudah mendapat pengalaman memperoleh kewenangan yang lebih tinggi.

b) Para guru dan kepala sekolah selalu mendapatkan penghargaan yang lebih baik untuk profesi mereka dari para orang tua.

c) Keterlibatan orang tua yang konsisten membuat peningkatan komunikasi dan hubungan antara para orang tua, guru, dan tenaga kependidikan.

d) Guru dan kepala sekolah memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai budaya keluarga dan keberagamannya, dan mereka membuat penghargaan yang dalam untuk kemampuan dan waktu para orang tua.

e) Guru dan kepala sekolah dapat melaporkan peningkatan hasil kinerja mereka. Manfaat bagi sekolah :

a) Sekolah yang aktif melibatkan para orang tua dan masyarakat mudah mewujudkan reputasi yang baik di masyarakat

b) Sekolah juga lebih berpengalaman dalam dukungan masyarakat

Referensi

Dokumen terkait

The results were: firm size factor was dominant in all ASEAN countries; inflation rate was dominant in five countries; company growth was dominant in four countries; asset structure

Fokus dalam penelitian ini adalah mengenai filsafatnya mohammad iqbal tentang khudi/ego dan pemikiran mohammad iqbal tentang rekonstruksi pendidikan dimana tujuan akhir

Berdasarkan perumusan masalah dan hipotesis penelitian sebagaimana diuraikan pada bab sebelumnya, maka untuk membuktikan hipotesis dalam penelitian ini digunakan

Pramuka Penggalang merupakan potensi masa depan bangsa. Untuk itu, perlu dibina dan dilatih agar memiliki kreativitas tinggi dan daya saing yang sehat sehingga sanggup membina

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data jumlah penderita DBD di DKI Jakarta per hari dan data cuaca yang meliputi suhu terendah, suhu tertinggi dan curah hujan..

Said, “A respecification and extension of DeLone and McLean model of IS success in the citizen- centric e-governance,” in 2011 IEEE International Conference on Information

Data dan informasi mengenai distribusi luasan dan lokasi lahan dengan kelas kesesuaian untuk pengembangan budidaya cendana yang di tuangkan dalam bentuk peta digital diharapkan