KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian ini tepat pada waktunya. Penulisan hasil penelitian ini disusun guna melengkapi salah satu tugas Ujian Akhir Sekolah mata kuliah Teori Kepribadian Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. Penelitian ini menjelaskan tentang Gambaran Kebutuhan Kasih Sayang Wanita Dewasa Muda Yang Menikah dengan Laki Laki Biseksual Usia Pernikahan Dua Tahun Setengah.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu Riblita Damayanti,M.Psi., Psikolog selaku Dosen Teori Kepribadian yang telah memberikan tugas ini kepada kami sehingga kami dapat belajar mengenai hal yang berkaitan dengan masalah dan dampak dari hasil penelitian ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semuanya. Demi perbaikan selanjutnya, saran dan kritik yang membangun akan penulis terima dengan senang hati.
Akhir kata semoga hasil makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi kita semua.
DAFTAR ISI
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka ...5
2.1.1 Dewasa Muda ...6
2.1.2 Kebutuhan Kasih Sayang Menurut Abraham Maslow ...6
2.1.3 Biseksual ...6
2.1.4 Faktor Penyebab Seorang menjadi Biseksual ...7
GAMBARAN KEBUTUHAN KASIH SAYANG WANITA DEWASA MUDA YANG MENIKAH DENGAN LAKI LAKI BISEKSUAL USIA PERNIKAHAN
DUA TAHUN SETENGAH
ABSTRACK
This study aims to find out how the needs of the affection of women who have
bisexual husbands in the age of two and a half years of marriage. The study was
conducted on six subjects of women who had bisexual husbands. In the data collection
this research using interview. Questions in the interview are arranged with an open and
neutral nature. Questions posed by the subject include the background of sexual
deviance, the negative response (pressure) experienced by women, and the affection
received by women.
Key words : belongingness needs, bisexual
ABSTRAK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada masa dewasa muda individu mengalami perkembangan seksual, pematangan organ seksual sudah berfungsi baik untuk reproduksi (menghasilkan keturunan) maupun rekreasi (mendapat kesenangan), karena proses inilah menimbulkan adanya dorongan seksual dan rasa keterkaitan pada lawan jenis. Menurut Gunarsa dan Gunarsa (2004) dengan adanya dorongan seksual pada diri individu akan membuat seseorang mulai mengembangkan konsep diri sejalan dengan peran jenis kelamin dan juga berdasarkan bawaan biologis. Seks merupakan energi psikis, yang ikut mendorong untuk bertingkah laku. Bukan hanya bertingkah laku di bidang seks saja tetapi juga hal- hal lainnya termasuk pemberian dan kebutuhan akan kasih sayang.
wanita. Istilah ini umumnya digunakan dalam konteks ketertarikan manusia untuk menunjukkan perasaan romantis atau seksual kepada pria maupun wanita sekaligus.
Awalnya para ahli teori penyusunan identitas memandang biseksual sebagai salah satu bentuk penyembunyian identitas homoseksual atau sebagai tahap transisi antara identitas heteroseksual dan identitas gay dan lesbian (fox, 1995). Akhir akhir ini, biseksual telah di terima sebagai sebuah orientasi seksual tersendiri. Namun, kurangnya penerimaan oleh kaum gay dan lesbian serta kaum heteroseksual membuat penyusuanan identitas biseksual sangat menantang (Paul, 1996).
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah meneliti mengenai bagaimana kebutuhan akan kasih sayang yang diterima oleh wanita dewasa muda yang memiliki seorang suami biseksual dalam usia pernikahan dua tahun setengah.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini merupakan studi kasus yang bertujuan untuk mengetahui kebutuhan kasih sayang yang diterima oleh wanita dewasa muda yang memiliki seorang suami biseksual dalam usia pernikahan dua tahun setengah dan mengetahui bagaimana si wanita tersebut menjalani kesehariannya saat mengetahui suaminya adalah seorang biseksual.
Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi kondisi psikologis pada wanita dewasa muda yang telah menikah dengan laki laki biseksual, terutama psikologi abnormal yang terkait dengan pembahasan biseksual.
1.4.2 Manfaat Praktis
1.) Bagi subjek
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi baru tentang biseksual, sehingga subjek dapat membuka diri terhadap laki laki biseksual dan mampu membuka wacana baru mengenai berbagai pengalaman kehidupan dan perilaku kaum biseksual, sehingga subjek mampu melihat sisi positif, menjadi lebih menghargai, bersabar dan peka terhadap laki laki biseksual.
2.) Bagi laki laki biseksual
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi mengenai dampak yang dihadapi dari biseksual dimana hal tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan perubahan kepada laki laki tersebut.
3.) Bagi penulis
Penelitian ini merupakan wahana untuk menerapkan teori yang telah didapatkan selama perkuliahan pada masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata.
2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Dewasa Muda
Masa dewasa muda atau dewasa madya adalah masa transisi menuju dewasa akhir. Dewasa dalam hal ini tentunya memiliki arti menunjukan karakteristik kedewasaan dan bukan sekedar “dewasa” secara usia kronologis. Di Indonesia batas kedewasaan adalah dimulai diusia 21 tahun. Hal ini berarti bahawa pada usia itu seseorang sudah di anggap dewasa dan selanjutnya dianggap sudah mempunyai tanggung jawab terhadap perbuatan – perbuatannya (Monks, Knoers, & Haditono, 1996).
Masa dewasa muda adalah masa bercinta dan bekerja (Lieben Und Arbeiten). Masa dewasa muda adalah masa membina hubungan intim melawan isolasi (Erickson, 1993), membina keintiman dan pernikahan, menyesuaikan diri terhadap pernikahan, bertanggung jawab terhadap keluarga, dan membina karir dan keluarga (Turner dan Helms, 2000)
1. Aspek Fisik
kepuasan hidup pada usia 70 tahun yang mana lebih banyak terjadi pada laki- laki dari pada perempuan.
2. Aspek Kognitif
Menurut Piaget (dalam santrock, 2001) dewasa muda termasuk dalam tahap kognitif operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa). Tahap kognitif kognisi operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, sesorang dapat memahami hal – hal seperti cinta, bukti logis dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu- abu” di antaranya. Di lihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial.
3. Aspek Sosio- Emosional
perkembangan ini, akan menciptakan kerancuan identitas atau peran ditahapan selanjutnya yakni dewasa muda.
2.1.2 Kebutuhan Kasih Sayang Menurut Abraham Maslow
Sesudah kebutuhan fisiologis dan keamanan relatif terpuaskan, kebutuhan dimiliki atau dari kelompok social dan cinta menjadi tujuan yang dominan.
Ada dua jenis cinta (dewasa) yakni Deficiency atau D-love dan Being atau B-love. Kebutuhan cinta karena kekurangan, itulah D-love; orang yang mencintai sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti harga diri, seks, atau seseorang yang membuat dirinya menjadi tidak sendirian. D-love adalah cinta yang mementingkan diri sendiri, lebih memperoleh daripada memberi.B-love di dasarkan pada penilaian mengenai orang lain apa adanya, tanpa keinginan memanfaatkan orang itu. Menurut Maslow, kegagalan memenuhi kebutuhan dimiliki dan cinta menjadi sebab hampir semua bentuk psikopatologi.
Kebutuhan ini meliputi memberi dan menerima kasih sayang, perasaan dimiliki dan hubungan yang berarti dengan orang lain, kehangatan, persahabatan, serta mendapat tempat atau diakui dalam keluarga, kelompok dan lingkungan sosialnya. (Carlos dkk, 2009)
2.1.3 Biseksual
jenisnya. Disamping hubungan sosial biasa, diantara wanita dan pria itu bisa terjadi hubungan khusus yang sifatnya erotis, yang disebut sebagai relasi seksual. Dengan relasi seksual ini kedua belah pihak menghayati bentuk kenikmatan dan puncak kepuasan atau organisme (Kartono, 2009).
Hubungan seksual diantara dua jenis kelamin yang berlainan sifat dan sejenis disebut relasi heteroseksual. Jika dilakukan diantara dua jenis kelamin yang sama disebut sebagai homoseksual. Jika seseorang dapat mencapai kepuasan erotis secara optimal dengan sesama jenis dan lawan jenis disebut dengan biseksual (Sadarjoen, 2005). Bisexsuality (Biseksualitas, seksualiatas ganda) merupakan keadaan merasa tertarik sama kuatnya pada kedua jenis kelamin perempuan maupun laki laki dan memiliki ciri-ciri karakteristik anatomis dan psikologis dari kedua jenis kelamin (Kartono, 2004). Sedangkan Kartono (2009) biseksual adalah seseorang yang mencintai seorang wanita atau laki-laki sekaligus.
Menurut MacDonald dalam Crooks dan Baur (2005), individu biseksual adalah individu yang dapat terlibat dan menikmati aktifitas seksual dengan dua jenis kelamin, yaitu jenis kelamin yang sama dan jenis kelamin yang berbeda, atau mengetahui bhawa dirinya mau untuk melakukan hal tersebut. Kebanyakan biseksual tidak tertarik pada wanita dan pria sama besarnya dan terkadang berpindah-pindah fase ketertarikannya sepanjang waktu. Adakalanya pada saat ini ia tertarik kepada wanita tetapi seminggu kemudian ia hanya tertarik kepada pria. Namun adapula beberapa biseksual yang berada pada kondisi statis. Artinya sepanjang waktu ia mengalami ketertarikan terhadap pria dan wanita sama besarnya.
Pada fase falik, secara seksual, anak akan menyadari bahwa organ seksual merupakan sumber kenikmatan yang ia hayati. Oedipus Complex pada anak laki- laki dan Electra Complex pada anak perempuan merupakan drama relasi segitiga antara ayah dan ibu, yang menentukan identitas seksual anak di kemudian hari. Dalam hal ini anak harus menerima kenyataan akan ketidak mampuannya untuk memiliki ayah atau ibu, baik secara emosional maupun seksual. Apabila saat tersebut lingkungan keluarga tidak bersikap hangat, maka akan berpeluang untuk mengambil alih ciri hakiki identitas gender (gender identity) dari ayah ataupun ibu, yaitu anak laki- laki akan mengembangkan kepribadian homoseksual, sedangkan anak perempuan akan mengembangkan kepribadian lesbian (sadarjoen, 2005).
Sementara kinsey (dalam nugraha,2002) mengemukakan ada tiga hal yang dapat mendorong seseorang menjadi biseksual, yaitu :
1. Pengalaman seksual yang di dapatkan dari suatu hubungan persahabatan antara laki – laki dan perempuan yang sangat dekat.
Misalnya pada persahabatan antara dua laki- laki yang salah satunya memiliki kecenderungan memiliki perilaku homoseksual, meskipun nantinya ada kemungkinan kedua laki- laki tersebut mencari pasangan seorang perempuan.
2. Kelompok – kelompok yang membentuk pergaualan biseksual.
Kelompok tersebut berusaha memperkenalkan filosofi tentang biseksual. 3. Lingkungan
2.1.5 Dampak Psikologi Biseksual
Di dalam diri kaum biseksual, dorongan homoseksualnya menimbulkan suatu egodistonik, yaitu rasa terganggu akibat konflik psikis. Konflik- konflik psikis tersebut misalnya konflik keinginan untuk membuka diri dengan ketakutan tidak diterima oleh keluarga dan masyarakat, juga konflik dengan pemahaman terhadap agama yang cenderung menentang kevberadaan kaum homoseksual. Konflik psikis yang timbul menyebabkan perasaan tidak di sukai, cemas, bersalah, kesepian, malu karena merasa dirinya tidak wajar dan depresi (Novetri, 2003). Konflik internal menimbulkan persaan-perasaan negatif pada individu biseksual ini pada akhirnya dapat memunculkan tekanan yang berujung pada kondisi stres.
2.2 Kerangka Pemikiran
Menurut MacArthur & MacArthur (1999) mendefinisikan strategi coping sebagai upaya-upaya khusus, baik behavioral maupun psikologis, yang digunakan orang untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi dan meminimalkan dampak kejadian yang menimbulkan stres. Beberapa karakteristik strategi coping menurut Folkman dan Lazarus (dalam Taylor, 1999) adalah :
1. Coping merupakan suatu proses yang dinamis, sebuah rangkaian ang terdiri atas interaksi antara individu (dengan segala kemampuan, nilai dan komitmen) dengan lingkungan.
2. Definisi coping menggambarkan adanya keluasan cakupan. Proses coping meliputi seluruh tindakan dan reaksi terhadap situasi stressful.
3. Coping sangat berkaitan erat dengan penilaian yang dilakukan individu terhadap situasi yang dialami. Penilaian yang dilakukan oleh individu akan menentukan apa yang nantinya akan dilakukan oleh individu tersebut. (Bishop, 1994).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Dalam penelitian ini melibatkan 6 (enam) wanita dewasa muda usia 27 tahun yang telah mengakui memiliki seorang suami yang biseksual dalam usia pernikahan dua tahun setengah. Poerwandari (2005) menyebutkan bahwa karakteristik diarahkan pada kasus-kasus tipikal sesuai masalah penelitian, bukan diarahkan pada jumlah responden yang besar.
subjek penelitian dapat mewakili fenomena yang akan diteliti. Dalam penelitian ini kriteria subjek yang dimaksud adalah :
1. Wanita dewasa muda usia 25 sampai 30 tahun yang telah menikah selama dua tahun setengah.
2. Pernah atau sering melihat suaminya menjalani hubungan (intim atau mesra) dengan laki laki lain disaat yang bersamaan atau berdekatan.
3. Wanita tersebut mengakui memiliki seorang suami berstatus biseksual kepada keluarga dan atau teman-teman terdekatnya. Mengakui status biseksual suami, berarti subjek telah mengetahui dan mengkomunikasikan perihal orientasi seksual suaminya dalam menjalani kehidupan sebagai wanita yang memiliki suami biseksual ditengah orang orang tersebut.
3.2 Metode Penelitian 3.2.1 Wawancara
terstruktur. Dalam penelitian ini menggunakan wawancara tidak terstruktur. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengap untuk pengumpulan data. Dalam wawancara tidak terstruktur peneliti dapat menggunakan cara “berputar putar baru memukik” atau dengan kata lain membuka pembicaraan yang tidak terkait dengan tujuan dan setelah terbuka kesempatan, baru menanyakan sesuatu yang sesuai tujuan penelitian. (Sugiono, 2011).
Pencatatan data wawancara dilakukan dengan alat MP3 sebagai alat perekam. Alat ini dapat mencatat jawaban secara lengkap dan menyeluruh. Peneliti meminta agar responden tidak keberatan bila percakapan tersebut direkam, dengan menjamin kerahasiaan dan untuk memberikan salinan pembicaraan itu untuk diperbaiki atau diubah sesuai persetujuan subjek. Informasi yang ingin digali atau menjadi pedoman wawancara terhadap wanita akan kebutuhan kasih saying yang diterimanya dari laki-laki biseksual dilakukan dengan menggunakan panduan pertanyaan, yaitu wawancara mengenai :
1. Bentuk-bentuk perilaku kasih sayang yang diberikan oleh laki-laki biseksual selama pernikahan dua tahun setengah dan tanggapan subjek mengenai perilaku kasih sayang yang diberikan oleh laki-laki biseksual.
2. Bentuk-bentuk perilaku negatif yang telah diketahui oleh subjek selama pernikahan dua tahun setengah dengan laki-laki biseksual.
3. Bentuk-bentuk perilaku negatif laki-laki biseksual yang dapat menimbulkan rasa tertekan atau stres pada subjek baik melalui sepengetahuannya sendiri ataupun dari orang lain.
4. Kondisi subjek dan orang disekitar subjek setelah dilakukannya coping.
Obeservasi adalah kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut (Poerwandari, 2005). Dalam penelitian ini observasi dilakukan dengan tujuan untuk mendeksripsikan situasi dan pengalaman yang dialami subjek, aktivitas-aktivitas yang berlangsung serta orang-orang yang terlibat dalam kejadian yang diamati termasuk laki-laki biseksual atau suami subjek.
Hal ini dilakukan agar peneliti dapat memahami lebih baik mengenai hal yang diteliti sesuai dengan konteksnya; observasi memungkinkan peneliti untuk melihat hal-hal yang seringkali kurang disadari oleh subjek dan memungkinkan juga untuk memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka saat wawancara. Jenis observasi yang digunakan adalah observasi partisipan. Dalam observasi partisipan peneliti adalah bagian dari keadaan alamiah, tempat dilakukannya observasi. (Black and Champion, 2001)
3.3 Analisa Data
Peneltian ini menekankan pada analisis-analisis kualitatif deksriptif. Prosedur analisis data yang dilakukan adalah :
2. Setelah verbatim dibuat, langkah selanjutnya adalah koding. Koding dilakukan dengan membaca transkrip verbatim dengan seksama dan memberikan kode pada kalimat-kalimat yang sesuai dengan apa yang hendak dicari.
3. Setelah koding selesai dikerjakan, kemudian dilakukan pembuatan tabel tabulasi koding. Tabel tabulasi koding dibuat terpisah antara subjek satu dengan subjek yang lain.
4. Setelah kedua tabel tabulasi koding tersebut selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah menggabungkan kedua tabel tabulasi koding yang telah dibuat sebelumnya menjadi sebuah tabel tabulasi koding keenam subjek.
5. Melakukan interprestasi data dan melakukan pembahasan.
Barelson (dalam Zuchdi, 1993) menyatakan bahwa analisis isi merupakan salah satu teknik penelitian untuk menghasilkan dekripsi yang objektif dan sistematik mengenai isi yang terungkap dalam komunikasi. Data yang diperoleh dalam peelitian ini banyak berbentuk narasi dan dekripsi tertulis yang berasal dari transkrip wawancara tidak terstruktur, catatan lapangan hasil observasi dan wawancara informal, maka metode analisa data yang digunakan adalah analisis konten atau analisis isi. Analisa data kualitatif dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Membuat salinan kata demi kata dari rekaman hasil wawancara yang disebut tanskip verbatim. Transkrip verbatim ini dicatat dalam kolom-kolom yang telah disusun peneliti sedemikian rupa sehingga memudahkan peneliti untuk pemberian kode dan catatan-catatan penting.
2. Memberikan nama untuk setiap transkrip serta membubuhkan tanggal dan tempat sewaktu pengambilan data wawancara.
3. Membaca transkrip verbatim dengan teliti dan berulang-ulang.
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. 2006. Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Jakarta: UMM.
Alimun, Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Salemba Medikal.
Carver, C.S., Scheir, M.F., & Wientraub, J.K. 1989. Assessing Coping Strategies: A Theoritically Based Approach. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 56, No. 2, 267 – 283.
Chaplin, J.P. 2004. Kamus Lengkap Psikologi, (Terjemahan Kartini dan Kartono). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Coyne, J., Aldwin, C., & Lazarus, R. 1981. Depression and Coping In Stressfull Episodes. Journal of Abnormal Psychology. Vol. 50, No. 2, 234-254.
Edward, Hoffman. 1988. A Biography of Abraham Maslow. Los Angeles: Jeremy P. Tarcher.
Emery, Robert E dan Thomas F. Oltmanns. 2013. Psikologi Abnormal Edisi ketujuh. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Hurlock, E. B. 1994. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentaang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Julius, dkk. 1991. Psikologi umum. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Sarwono. 2000. Aliran-aliran dan Tokoh Psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Lexy J. Moleong. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Robert J. Taormina, 2013, “American Journal of Pschology”.Vol 126, No. 2, http://translationjournal.net/journal/65naive.html, 10 July 2013.