BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 - Potensi Konflik Antara Peternak Babi Dengan Masyarakat Sekitar Daerah Simalingkar B di Medan (Studi Kasus di Daerah Gang Maju III Lingkungan X Simalingkar B,Kwala Bekala, Medan)

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 INTERAKSI SOSIAL

Pengertian Interaksi Sosial Interaksi sosial dapat diartikan sebagai

hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat

berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara

kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan

individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai

sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang

menggunakannya.

Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer adalah pada saat manusia

bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi

manusia. Kemudian makna yang dimiliki sesuatu itu berasal dari interaksi antara

seseorang dengan sesamanya. Dan terakhir adalah Makna tidak bersifat tetap

namun dapat dirubah, perubahan terhadap makna dapat terjadi melalui proses

penafsiran yang dilakukan orang ketika menjumpai sesuatu. Proses tersebut

disebut juga dengan interpretative process.

Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok

terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama

dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu

(2)

Interaksi Sosial Suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila

tidak memenuhi dua syarat (Soerjono Sukanto) yaitu: adanya kontak sosial, dan

adanya komunikasi.

1. Kontak Sosial

Kontak sosial berasal dari bahasa latin con atau cum yang berarti

bersama-sama dan tango yang berarti menyentuh. Jadi secara harfiah

kontak adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak baru terjadi

apabila terjadi hubungan badaniah. Sebagai gejala sosial itu tidak perlu

berarti suatu hubungan badaniah, karena orang dapat mengadakan

hubungan tanpa harus menyentuhnya, seperti misalnya dengan cara

berbicara dengan orang yang bersangkutan. Dengan berkembangnya

teknologi dewasa ini, orang-orang dapat berhubungan satu sama lain

dengan melalui telepon, telegraf, radio, dan yang lainnya yang tidak perlu

memerlukan sentuhan badaniah.

Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk (Soerjono

Soekanto : 59) yaitu sebagai berikut :

a. Antara orang perorangan Kontak sosial ini adalah apabila anak

kecil mempelajari kebiasaankebiasaan dalam keluarganya. Proses

demikian terjadi melalui komunikasi, yaitu suatu proses dimana

anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan

(3)

b. Antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau

sebaliknya. Kontak sosial ini misalnya adalah apabila seseorang

merasakna bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan

norma-norma masyarakat.

c. Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia

lainnya. Umpamanya adalah dua partai politik yang bekerja sama

untuk mengalahkan partai politik lainnya. Kontak sosial memiliki

beberapa sifat, yaitu kontal sosial positif dan kontak sosial

negative. Kontak sosial positif adalah kontak sosial yang mengarah

pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negative mengarah

kepada suatu pertentangan atau bahkan sama sekali tidak

menghasilkan kontak sosial. Selain itu kontak sosial juga memiliki

sifat primer atau sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang

mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka,

sebaliknya kontak yang sekunder memerlukan suatu perantara.

2. Komunikasi

Komunikasi adalah bahwa seseorang yang memberi tafsiran

kepada orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau

sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.

Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan

yang ingin disampaikan. Dengan adanya komunikasi sikap dan perasaan

(4)

kemudain merupakan bahan untuk menentukan reaksi apa yang akan

dilakukannya.

Dalam komunikasi kemungkinan sekali terjadi berbagai macam

penafsiran terhadap tingkah laku orang lain. Seulas senyum misalnya,

dapat ditafsirkan sebagai keramah tamahan, sikap bersahabat atau bahkan

sebagai sikap sinis dan sikap ingin menunjukan kemenangan. Dengan

demikian komunikasi memungkinkan kerja sama antar perorangan dan

atau antar kelompok. Tetapi disamping itu juga komunikasi bisa

menghasilkan pertikaian yangterjadi karena salah paham yang

masing-masing tidak mau mengalah.

2.3 Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

2.3.1 Proses Disosiatif

Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional processes,

persis halnya dengan kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat,

walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan system

social masyarakat bersangkutan. Apakah suatu masyarakat lebih

menekankan pada salah satu bentuk oposisi, atau lebih menghargai kerja

sama, hal itu tergantung pada unsure-unsur kebudayaan terutama yang

menyangkut system nilai, struktur masayarakat dan system sosialnya.

(5)

Oposisi dapat diartikan sebagai cara berjuang melawanseseoran

atau sekelompok manusia, untuk mencapai tujuan tertentu. Terbatasnya

makanan, tempat tinggal serta lain-lain factor telah melahirkan beberapa

bentuk kerja sama dan oposisi. Pola-pola oposisi tersebut dinamakan juga

sebagai perjuangan untuk tetap hidup (struggle for existence). Perlu

dijelaskan bahwa pengertian struggle for existence juga dipakai untuk

menunjuk kepada suatu keadaan di mana manusia yang satu tergantung

pada kehidupan manusia yang lainnya, keadaan mana menimbulkan kerja

sama untuk dapat tetap hidup.

Perjuangan ini mengarah pada paling sedikit tiga hal yaitu

perjuangan manusia melawan sesame, perjuangan manusia melawan

makhluk-makhluk jenis lain serta perjuangan manusia melawan alam.

Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahuan, oposisi atau proses-proses

yang disosiatif dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu :

1. Persaingan (competition)

Suatu proses social, di mana individu atau

kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui

bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi

pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok

manusia) dengan cara menarik perhatian public atau dengan

mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan

(6)

1) Persaingan ekonomi. Timbul karena terbatasnya

persediaan apabila dibandingkan dengan jumlah konsumen.

2) Persaingan kebudayaan. Menyangkut persaingan

kebudayaan, keagamaan, lembaga kemasyarakatan seperti

pendidikan, dan sebagainya.

3) Persaingan kedudukan dan peranan. Di dalam diri

seseorang maupun di dalam kelompok terdapat

keinginan-keingian untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang

mempunyai kedudukan serta peranan yang terpandang.

4) Persaingan ras. Perbedaan ras baik karena perbedaan

warna kulit, bentuk tubuh, maupun corak rambut dan

sebagainya, hanya merupakan suatu perlambang kesadaran

dan sikap atas perbedaanperbedaan dalam kebudayaan.

Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat memiliki

beberapa fungsi, antara lain :

1) Menyalurkan keinginan-keinginan individu ata u

kelompok yang bersifat kompetitif

2) Sebagai jalan di mana keinginan, kepentingan serta

nilai-nilai yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian,

(7)

3) Merupakan alat untuk mengadakan seleksi atas dasar

seks dan social

4) Alat untuk menyaring para warga golongan karya

(fungsional) yang akhirnya akan menghaslkan pembagian

kerja yang efektif.

Hasil suatu persaingan terkait erat dengan berbagai factor,

antara lain :

1) Kepribadian seseorang

2) Kemajuan masyarakat

3) Solidaritas kelompok

4) disorganisasi

2. Kontravensi (contravention)

Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk

proses social yang berada antara persaingan dan pertentangan atau

pertikaian.

1. Bentuk-bentuk kontravensi

Menurut Leopold von Wiese, dan Howard Becker, ada 5,

yaitu a) Yang umum meliputi perbuatan-perbuatan seperti

(8)

menghalang-halangi, protes, gangguan-gangguan,

perbuatan kekerasan, dan mengacaukan rencana pihak lain.

b) Yang sederhana seperti menyangkal pernyataan orang

lain di depan umum, memaki melalui selembaran surat,

mencerca, memfitnah, melemparkan beban pembuktian

kepada pihak lain, dan sebagainya.

c) Yang intensif mencakup penghasutan, menyebarkan

desasdesus, mengecewakan pihak lain, dsb.

d) Yang rahasia, seperti mengumumkan rahasia pihak lain,

perbuatan khianat, dll.

e) Yang taktis, misalnya mengejutkan lawan, mengganggu

atau membingungkan pihak lain, seperti dalam kampanye

parpol dalam pemilihan umum.

2. Tipe-tipe Kontravensi

Menurut von Wiese dan Becker terdapat tiga tipe

umum kontravensi yaitu kontravensi generasi masyarakat 9

bentokan antara generasi muda dengan tua karena

perbedaan latar belakang pendidikan, usia dan

pengalaman), kontravensi yang menyangkut seks

(hubungan suami dengan istri dalam keluarga) dan

(9)

mayoritas dengan minoritas dalam masyarakat baik yang

menyangkut hubungan mereka di dalam lembaga-lembaga

legislative, keagamaan, pendidikan, dan seterusnya).

Selain tipe-tipe umum tersebut ada ada pula

beberapa kontravensi yang sebenarnya terletak di antara

kontravensi dan pertentangan atau pertikaian,yang

dimasukkan ke dalam kategori kontravensi, yaitu :

a) Kontravensi antar masyarakat

b) Antagonism keagamaan

c) Kontravensi intelektual

d) Oposisis moral

Kontravensi, apabila dibandingkan dengan persaingan dan

pertentangan bersifat agak tertutup atau rahasia.

3. Pertentangan atau pertikaian (conflict)

Pertentangan atau pertikaian adalah suatu proses social di

mana individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuannya

dengan jalan menentang pihak lawan dengan ancaman atau

kekerasan. Peyebab terjadinya pertentangan, yaitu :

(10)

3) Perbedaan kepentingan

4) Perbedaan sosial

Pertentangan-pertentangan yang menyangkut suatu tujuan,

nilai atau kepentingan, sepanjang tidak berlawanan dengan

pola-pola hubungan social di dalam srtuktur social tertentu, maka

pertentangan-pertentangan tersebut bersifat positif. Masyarakat

biasanya mempunyai alat-alat tertentu untuk menyalurkan

benih-benih permusuhan, alat tersebut dalam ilmu sosiologi dinamakan

safety-valve institutions yang menyediaka objek-objek tertentu

yang dapat mengalihkan perhatian pihak-pihak yang bertikai ke

arah lain. Bentuk-bentuk pertentangan antara lain :

1) Pertentengan pribadi

2) Pertentangan rasial

3) Pertentangan antara kelas-kelas social, umumnya disebabkan

oleh karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan.

4) Pertentangan politik

5) Pertentangan yang bersifat internasional.

Akibat dari bentuk-bentuk pertentangan adalah sebagai berikut :

1) Bertambahnya solidaritas “in-group” atau malah sebaliknya

(11)

2) Perubahan kepribadian

3) Akomodasi, dominasi dan takluknya satu pihak tertentu

2.3.4 Jenis-jenis Interaksi Sosial Ada tiga jenis interaksi sosial, yaitu:

1. Interaksi antara Individu dan Individu

Pada saat dua individu bertemu, interaksi sosial sudah mulai

terjadi. Walaupun kedua individu itu tidak melakukan kegiatan apa-apa,

namun sebenarnya interaksi sosial telah terjadi apabila masing-masing

pihak sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan dalam

diri masing-masing. Hal ini sangat dimungkinkan oleh faktor-faktor

tertentu, seperti bau minyak wangi atau bau keringat yang menyengat,

bunyi sepatu ketika sedang berjalan dan hal lain yang bisa mengundang

reaksi orang lain.

2. Interaksi antara Kelompok dan Kelompok.

Interaksi jenis ini terjadi pada kelompok sebagai satu kesatuan

bukan sebagai pribadi-pribadi anggota kelompok yang bersangkutan.

Contohnya, permusuhan antara Indonesia dengan Belanda pada zaman

perang fisik. 3. Interaksi antara Individu dan Kelompok. Bentuk interaksi

di sini berbedabeda sesuai dengan keadaan. Interaksi tersebut lebih

mencolok manakala terjadi perbenturan antara kepentingan perorangan

(12)

2.3.5 Ciri-ciri Interaksi Sosial

Interaksi sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang

2. Ada komunikasi antarpelaku dengan menggunakan simbol-simbol

3. Ada dimensi waktu (masa lampau, masa kini, dan masa mendatang)

yang menentukan sifat aksi yang sedan berlangsung

4. Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama tidaknya tujuan tersebut

dengan yang diperkirakan oleh pengamat.

Tidak semua tindakan merupakan interaksi. Hakikat interaksi

terletak pada kesadaran mengarahkan tindakan pada orang lain. Harus ada

orientasi timbal-balik antara pihak-pihak yang bersangkutan, tanpa

menghiraukan isi perbuatannya: cinta atau benci, kesetiaan atau

pengkhianatan, maksud melukai atau menolong.

2.3.6 Faktor-faktor Interaksi Sosial

Kelangsungan interaksi sosial, sekalipun dalam bentuknya yang

sederhana, ternyata merupakan proses yang kompleks, tetapi padanya

dapat kita beda-bedakan beberapa faktor yang mendasarinys, baik secara

(13)

1. Faktor Imitasi

Gabriel Tarde beranggapan bahwa seluruh kehidupan sosial

sebenarnya berdasarkan faktor imitasi. Walaupun pendapat ini

ternyata berat sebelah, peranan imitasi dalam interaksi sosial itu tidak

kecil. Misalnya bagaimana seorang anak belajar berbicara. Mula-mula

ia mengimitasi dirinya sendiri kemudian ia mengimitasi kata-kata

orang lain. Ia mengartikan kata-kata juga karena mendengarnya dan

mengimitasi penggunaannya dari orang lain.

Lebih jauh, tidak hanya berbicara yang merupakan alat

komunikasi yang terpenting, tetapi juga cara-cara lainnya untuk

menyatakan dirinya dipelajarinya melalui proses imitasi. Misalnya,

tingkah laku tertentu, cara memberikan hormat, cara menyatakan

terima kasih, cara-cara memberikan isyarat tanpa bicara, dan lain-lain.

Selain itu, pada lapangan pendidikan dan perkembangan kepribadian

individu, imitasi mempunyai peranannya, sebab mengikuti suatu

contoh yang baik itu dapat merangsang perkembangan watak

seseorang.

Imitasi dapat mendorong individu atau kelompok untuk

melaksanakan perbuatanperbuatan yang baik. Peranan imitasi dalam

interaksi sosialjuga mempunyai segi-segi yang neatif. Yaitu, apabila

hal-hal yang diimitasi itu mungkinlah salah atau secara moral dan

yuridis harus ditolak. Apabila contoh demikian diimitasi orang

(14)

kolektif yang meliputi jumlah serba besar. Selain itu, adanya proses

imitasi dalam interaksi sosial dapat menimbulkan kebiasaan di mana

orang mengimitasi sesuatu tanpa kritik, seperti yang berlangsung juga

pada faktor sugesti.

Dengan kata lain, adanya peranan imitasi dalam interaksi

sosial dapat memajukan gejala-gejala kebiasaan malas berpikir kritis

pada individu manusia yang mendangkalkan kehidupannya. Imitasi

bukan merupakan dasar pokok dari semua interaksi sosial seperti yang

diuraikan oleh Gabriel tarde, melainkan merupakan suatu segi dari

proses interaksi sosial, yang menerangkan mengapa dan bagaimana

dapat terjadi keseragaman dalam pandangan dan tingkah laku di

antara orang banyak.

2. Faktor Sugesti

Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan

interaksi sosial hampir sama. Bedanya adalah bahwa dalam imitasi itu

orang yang satu mengikuti sesuatu di luar dirinya; sedangkan pada

sugesti, seseorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya

yang lalu diterima oleh orang lain di luarnya. Sugesti dalam ilmu jiwa

sosial dapat dirumuskan sebagai suatu proses di mana seorang

individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman

(15)

Secara garis besar, terdapat beberapa keadaan tertentu serta

syarat-syarat yang memudahkan sugesti terjadi, yaitu:

a. Sugesti karena hambatan berpikir Dalam proses sugesti

terjadi gejala bahwa orang yang dikenainya mengambil alih

pandangan-pandangan dari orang lain tanpa memberinya

pertimbangn-pertimbangan kritik terlebih dahulu. Orang

yang terkena sugesti itu menelan apa saja yang dianjurkan

orang lain.

Hal ini tentu lebih mudah terjadi apabila ia – ketika terkena

sugesti – berada dalam keadaan ketika cara-cara berpikir

kritis itu sudah agak terkendala. Hal ini juga dapat terjadi –

misalnya – apabila orang itu sudah lelah berpikir, tetapi juga

apabila proses berpikir secara itu dikurangi dayanya karena

sedang mangalami rangsangan-rangsangan emosional.

Misalnya: Rapat-rapat Partai Nazi atau rapat-rapat raksasa

seringkali diadakan pada malam hari ketika orang sudah

cape dari pekerjaannya. Selanjutnya mereka pun senantiasa

memasukkan dalam acara rapat-rapat itu hal-hal yang

menarik perhatian, merangsang emosi dan kekaguman

sehingga mudah terjadi sugesti kepada orang banyak itu.

b. Sugesti karena keadaan pikiran terpecah-pecah (disosiasi)

Selain dari keadaan ketika pikiran kita dihambat karean

(16)

pun mudah terjadi pada diri seseorang apabila ia mengalami

disosiasi dalam pikirannya, yaitu apabila pemikiran orang

itu mengalami keadaan terpecah-belah. Hal ini dapat terjadi

– misalnya – apabila orang yangbersangkutan menjadi

bingung karena ia dihadapkan pada kesulitan-kesulitan

hidup yang terlalu kompleks bagi daya penampungannya.

Apabila orang menjadi bingung, maka ia lebih mudah

terkena sugesti orang lain yang mengetahui jalan keluar

dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya itu.

Keadaan semacam ini dapat pula menerangkan mengapa

dalam zaman modern ini orang-orang yang biasanya

berobat kepada dokter juga mendatangi dukun untuk

memperoleh sugestinya yang dapat membantu orang yang

bersangkutan mengatasi kesulitan-kesulitan jiwanya.

c. Sugesti karena otoritas atau prestise Dalam hal ini, orang

cenderung menerima pandangan-pandangan atau

sikap-sikap tertentu apabila pandangan atau sikap-sikap tersebut

dimiliki oleh para ahli dalam bidangnya sehingga dianggap

otoritas pada bidang tersebut atau memiliki prestise sosial

yang tinggi.

d. Sugesti karena mayoritas Dalam hal ini, orang lebih

cenderung akan menerima suatu pandangan atau ucapan

(17)

besar dari golongannya, kelompknya atau masyarakatnya.

e. Sugesti karena ”will to believe” Terdapat pendapat

bahwa sugesti justru membuat sadar akan adanya

sikap-sikap dan pandangn-pandangan tertentu pada orang-orang.

Dengan demikian yang terjadi dalam sugesti itu adalah

diterimanya suatu pandangan tertentu karena

sikap-pandangan itu sebenarnya sudah tersapat padanya tetapi

dalam kedaan terpendam. Dalam hal ini, isi sugesti akan

diterima tanpa pertimbangan lebih lanjut karena pada diri

pribadi orang yang bersangkutan sudah terdapat suatu

kesediaan untuk lebih sadar dan yakin akan hal-hal

disugesti itu yang sebenarnya sudah terdapat padanya.

3. Fakor Identifikasi

Identifikasi adalah sebuah istilah dari psikologi Sigmund

Freud. Istilah identifikasi timbul dalam uraian Freud mengenai

cara-cara seorang anak belajar norma-norma sosial dari orang

tuanya. Dalam garis besarnya, anak itu belajar menyadari bahwa

dalam kehidupan terdapat norma-norma dan peraturan-peraturan

yang sebaiknya dipenuhi dan ia pun mempelajarinya yaitu dengan

dua cara utama.

Pertama ia mempelajarinya karena didikan orangtuanya

(18)

normanya. Lambat laun anak itu memperoleh pengetahuan

mengenai apa yang disebut perbuatan yang baik dan apa yang

disebut perbuatan yang tidak baik melalui didikan dari

orangtuanya. Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk

menjadi identik (sama) dengan seorang lain.

Kecenderungan ini bersifat tidak sadar bagi anak dan tidak

hanya merupakan kecenderungan untuk menjadi seperti seseorang

secara lahiriah saja, tetapi justru secara batin. Artinya, anak itu

secara tidak sadar mengambil alih sikap-sikap orangtua yang

diidentifikasinya yang dapat ia pahami norma-norma dan

pedoman-pedoman tingkah lakunya sejauh kemampuan yang ada

pada anak itu. Sebenarnya, manusia ketika ia masih kekurangan

akan norma-norma, sikapsikap, cita-cita, atau pedoman-pedoman

tingkah laku dalam bermacammacam situasi dalam kehidupannya,

akan melakukan identifikasi kepada orang-orang yang dianggapnya

tokoh pada lapangan kehidupan tempat ia masih kekurangan

pegangan.

Demikianlah, manusia itu terus-menerus melengkapi

sistem norma dan cita-citanya itu, terutama dalam suatu

masyarakat yang berubah-ubah dan yang situasi-situasi

kehidupannya serba ragam. Ikatan yang terjadi antara orang yang

(19)

batin yang lebih mendalam daripada ikatan antara orang yang

saling mengimitasi tingkah lakunya.

Di samping itu, imitasi dapat berlangsung antara

orang-orang yang tidak saling kenal, sedangkan orang-orang tempat kita

mengidentifikasi itu dinilai terlebih dahulu dengan cukup teliti

(dengan perasaan) sebelum kita mengidentifikasi diri dengan dia,

yang bukan merupakan proses rasional dan sadar, melainkan

irasional dan berlangsung di bawah taraf kesadaran kita.

4. Faktor Simpati

Simpati dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya

seseorang terhadap orang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis

rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaan sebagaimana proses

identifikasi. Akan tetapi, berbeda dengan identifikasi, timbulnua

simpati itu merupakan proses yang sadar bagi manusia yang

merasa simpati terhadap orang lain. Peranan simpati cukup nyata

dalam hubungan persahabatan antara dua orang atau lebih.

Patut ditambahkan bahwa simpati dapat pula berkembang

perlahan-lahan di samping simpati yang timbul dengan tiba-tiba.

Gejala identifikasi dan simpati itu sebenarnya sudah berdekatan.

Akan tetapi, dalam hal simpati yang timbal-balik itu, akan

dihasilkan suatu hubungan kerja sama di mana seseorang ingin

(20)

merasa berpikir dan bertingkah laku seakan-akan ia adalah orang

lain itu.

Sedangkan dalam hal identifikasi terdapat suatu hubungan

di mana yang satu menghormati dan menjunjung tinggi yang lain,

dan ingin belajar daripadanya karena yang lain itu dianggapnya

sebagai ideal. Jadi, pada simpati, dorongan utama adalah ingin

mengerti dan ingin bekerja sama dengan orang lain, sedangkan

pada identifikasi dorongan utamanya adalah ingin mengikuti

jejaknya, ingin mencontoh ingin belajar dari orang lain yang

dianggapnya sebagai ideal.

Hubungan simpati menghendaki hubungan kerja sama

antara dua atau lebih orang yang setaraf. Hubungan identifikasi

hanya menghendaki bahwa yang satu ingin menjadi seperti yang

lain dalam sifat-sifat yang dikaguminya. Simpati bermaksud kerja

sama, identifikasi bermaksud belajar.

2.2 Konflik

Konflik dapat dilihat sebagai sebuah perjuangan antar individu atau

kelompok untuk memenangkan sesuatu tujuan yang sama-sama ingin mereka

capai. Kekalahan atau kehancuran pihak Iawan dilihat oleh yang bersangkutan

sebagai sesuatu tujuan utama untuk memenangkan tujuan yang ingin dicapai.

Berbeda dengan persaingan atau kompetisi, dimana tujuan utama adalah

pencapaian kemenangan melalui keunggulan prestasi dan yang bersaing, maka

(21)

tujuan untuk memenangkan sesuatu yang ingin dicapai menjadi tidak sepenting

keinginan untuk menghancurkan pihak lawan. Konflik sosial yang merupakan

perluasan dari konflik individual, biasanya terwujud dalam bentuk konflik fisik

atau perang antar dua kelompok atau Iebih, yang biasanya selalu terjadi dalam

keadaan berulang.

Menurut Soerjono Soekanto, konflik sosial adalah suatu proses sosial

dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan

menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan Menurut

teori konflik, masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang di

tandai oleh pertentangan yang terus menerus diantara unsur-unsurnya. Teori

konflik melihat bahwa setiap elemen memberikan sumbangan terhadap

adisintegrasi sosial. Teori konflik melihat bahwa keteraturan yang terdapat dalam

masyarakat itu hanyalah disebabkan karena adanya tekanan atau pemaksaan

kekuasaan dari atas golongan yang berkuasa.

Sesuatu konflik fisik atau perang biasanya berhenti untuk sementara

karena harus istirahat supaya dapat melepaskan lelah atau bila jumlah korban

pihak lawan sudah seimbang dengan jumlah korban pihak sendiri. Setelah

istirahat konflik diteruskan atau diulang lagi pada waktu atau kesempatan yang

lain setelah itu.

Para ahli sosiologi konflik, melihat gejala-gejala sosial, termasuk

tindakan-tindakan sosial manusia, adalah sebagai hasil dan konflik. Menurut para

ahli sosiologi konflik, kepentingan-kepentingan yang dipunyai orang perorang

(22)

masyarakat yang bersangkutan. Usaha-usaha pencapaian kepentingan-kepentingan

itu didorong oleh konflik-konflik antar individu dan kelompok sebagai

aspek-aspek yang biasa ada dalam kehidupan sosial manusia. Sedangkan model lain

yang bertentangan tetapi relevan dengan model konflik adalah model ketaraturan

yang digunakan untuk melihat berbagai bentuk kompetisi dan konflik dalam

olahraga dan politik sebagai sebuah bentuk keteraturan.

Dahrendorf, salah seorang tokoh yang mengembangkan model konflik,

melihat bahwa kehidupan manusia dalam bermasyarakat didasari oleh konflik

kekuatan, yang bukan semata-mata dikarenakan oleh sebab-sebab ekonomi

sebagaimana dikemukakan oleh Karl Marx, tetapi karena berbagai aspek yang ada

dalam masyarakat; Yang dilihatnya sebagai organisasi sosial. Lebih lanjut

dikatakannya bahwa organisasi menyajikan pendistribusian kekuatan sosial

kepada warganya secara tidak merata. Oleh karena itu warga sebuah masyarakat

akan tergolong dalam mereka yang mempunyai dan yang miskin dalam kaitannya

dengan kekuatan sosial atau kekuasaan. Karena organisasi itu juga membatasi

berbagai tindakan manusia maka pembatasan-pembatasan tersebut juga hanya

dapat dilakukan oleh mereka yang mempunyai kekuasaan. Sedangkan mereka

yang miskin kekuasaan, yang terkena oleh pembatasan-pembatasan secara

organisasi oleh yang mempunyai kekuasaan, akan berada dalam konflik dengan

mereka yang mempunyai kekuasaan. Oleh Dahrendorf konflik dilihat sebagai

sesuatu yang endemik atau yang selalu ada dalam kehidupan manusia

(23)

Bila kita mengikuti model Dahrendorf diatas, maka secara hipotetis kita

ketahui bahwa dalam setiap masyarakat terdapat potensi-potensi konflik karena

setiap warga masyarakat akan mempunyai kepentingan yang harus dipenuhi yang

dalam pemenuhannya akan harus mengorbankan kepentingan warga masyarakat

lainnya. Upaya pemenuhan kepentingan yang dilakukan oleh seseorang yang

mengorbankan kepentingan seseorang lainnya dapat merupakan potensi konflik,

bila dilakukan tanpa mengikuti aturan main (yang terwujud sebagai hukum, warga

masyarakat akan mempunyai kepentingan yang harus dipenuhi yang dalam

pemenuhannya akan harus mengorbankan kepentingan warga masyarakat lainnya.

Upaya pemenuhan kepentingan yang dilakukan oleh seseorang yang

mengorbankan kepentingan seseorang lainnya dapat merupakan potensi konflik,

bila dilakukan tanpa mengikuti aturan main (yang terwujud sebagai hukum,

hukum adat, adat, atau konvensi sosial yang berlaku setempat) yang dianggap adil

dan beradab. Sedangkan bila dalam masyarakat tersebut ada aturan-aturan main

yang diakui bersama oleh warga masayarakat tersebut sebagai adil dan beradab,

maka potensi-potensi konflik akan mentransformasikan diri dalam berbagai

bentuk persaingan. Jadi, potensi-potensi konflik tumbuh dan berkembang pada

waktu dalam hubungan antar individu muncul dan berkembang serta mantapnya

perasaan-perasaan yang dipunyai oleh salah seorang pelaku akan adanya

perlakuan sewenang-wenang dan tindakan-tindakan tidak adil serta biadab yang

dideritanya yang diakibatkan oleh perbuatan pihak lawannya.

Adanya potensi konflik dalam diri seseorang atau sekelompok orang

(24)

keadaan mana si pelaku tidak mampu untuk melawan atau menolaknya, dan

bahkan tidak mampu untuk menghindarinya. Dalam keadaan tersebut si pelaku

mengembangkan perasaan kebencian yang terpendam terhadap pihak Iawan, yang

perasaan kebencian tersebut bersifat akumulatif oleh perbuatan-perbuatan lain

yang merugikan dari pihak Iawannya. Kebencian yang mendaiam dari si pelaku

yang selalu kalah biasanya terwujud dalam bentuk menghindar atau melarikan diri

dari si pelaku. Tetapi kebencian tersebut secara umum biasanya terungkap dalam

bentuk kemarahan atau amuk, yaitu pada waktu si pelaku yang selalu kalah tidak

dapat menghindar lagi dari pilihan harus melawan atau mati, yang dapat dilihat

dalam bentuk konflik fisik dan verbal diantara dua pelaku yang berlawanan

tersebut.

Konflik fisik yang menyebabkan kekalahannya oleh lawan akan

menghentikan tindakan perlawanannya. Tidak berarti bahwa berhentinya

perlawanan tersebut menghentikan kebenciannya ataupun dorongannya untuk

menghancurkan pihak lawannya. Kebencian yang mendalam masih disimpan

dalam hatinya, yang akan merupakan landasan semangat untuk menghancurkan

pihak lawan. Sewaktu-waktu bila pihak lawan lengah atau situasi yang dihadapi

memungkinkan maka dia akan berusaha untuk menghancurkannya. Yaitu, agar

merasa telah menang atau setidak-tidaknya telah seimbang dengan kekalahan

yang telah dideritanya dari pihak lawan tersebut.

Ketidak adilan dan kesewenang-wenangan biasanya dilihat oleh pelaku

yang bersangkutan dalam kaitannya dengan konsep hak yang dimiliki (harta,

(25)

dan komuniti atau masyarakatnya. Sesuatu pelanggaran atau perampasan atas hak

milik yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang akan dapat diterima

oleh seseorang atau sekelompok orang tersebut bila sesuai menurut norma -norma

dan nilai-nilai budaya yang berlaku daiam masyarakat setempat, atau memang

seharusnya demikian. Tetapi tidak dapat diterima oleh yang bersangkutan bila

perbuatan tersebut tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai budaya yang

berlaku. Dalam hubungan antar sukubangsa, konsep hipotesa kebudayaan

dominan dari Bruner (lihat Suparlan 1999d : 13-20) menjadi relevan sebagai

acuan untuk memahami keberadaan aturan-aturan main atau konvensi-konvensi

sosial yang berlaku diantara dua sukubangsa atan lebih yang bersama-sama

menempati sebuah wilayah dan membentuk kehidupan bersama dalam sebuah

masyarakat setempat.

Perlakuan sewenang-wenang oleh orang atau kelompok lain yang diderita

oleh seseorang atau sebuah kelompok atau masyarakat, bila tidak mampu diatasi

dalam bentuk perlawanan oleh yang diperlakukan sewenang-wenang akan

membekas dalam bentuk kebencian, dan kebencian tersebut pada waktu terjadinya

peristiwa tersebut akan disimpan atau terpendam dalam hati, karena tidak berani

atau tidak mampu untuk melawannya, atau karena tertutup oleh berbagai

kesibukan dalam suatu jangka waktu tertentu. Peristiwa kesewenang-wenangan

yang terpendam seperti ini akan muncul dan terungkap dalam bentuk stereotip dan

prasangka. Stereotip atau prasangka tersebut akan terwujud dalam bentuk

simbol-simbol yang menjadi atribut dari keburukan atau kerendahan martabat pelaku

(26)

Konflik sosial terjadi antara dua kelompok atau lebih, yang terwujud

dalam bentuk konflik fisik antara mereka yang tergolong sebagai anggota-anggota

dari kelompokkelompok yang berlawanan. Dalam konfik sosial, jatidiri dari orang

perorang yang terlibat dalam konflik tersebut tidak lagi diakui keberadaannya.

Jatidiri orang perorang tersebut diganti oleh jatidiri golongan atau kelompok.

Dengan kata-kata lain, dala konflik sosial yang ada bukanlah konflik antara orang

perorang dengan jatidiri masingmasing tetapi antara orang perorang yang

mewakili jatidiri golongan atau kelompoknya. Atribut-atribut yang menunjukkan

ciri-ciri jatidiri orang perorang tersebut berasal dari stereotip yang berlaku dalam

kehidupan antar golongan yang mewakili oleh kelompok-kelompok konflik.

Dalam konflik sosial tidak ada tindakan memilah-milah atau menyeleksi

siapa-siapa pihak lawan yang harus dihancurkan. Sasarannya adalah keseluruhan

kelompok yang tergolong dalam golongan yang menjadi musuh atau lawannya,

sehingga penghancuran atas diri dan harta milik orang perorang dari pihak Iawan

mereka lihat sama dengan penghancuran kelompok pihak lawan.

Selain konflik fisik yang terjadi, orang dan golongan sosial atau

sukubangsa yang berbeda yang semula adalah teman baik, akan menghapus

hubungan pertemanan yang baik tersebut menjadi hubungan permusuhan atau

setidak-tidaknya menjadi hubungan penghindaran. Hubungan mereka menjadi

hubungan golongan, yaitu masing-masing mewakili golongannya dalam hubungan

konflik yang terjadi. Orang-orang luar, yang sama sekali tidak ada hubungannya

dengan kelompok-kelompok yang sedang dalam konflik fisik tersebut bila

(27)

pihak lawan akan digolongkan sebagai lawan dan tanpa permisi atau meminta

penjelasan mengenai jatidiri golongannya akan juga dihancurkan.

Konflik merupakan kenyataan hidup, tidak terhindarkan dan sering

bersifat kreatif. Konflik terjadi ketika tujuan masyarakat tidak sejalan, berbagai

perbedaan pendapat dan konflik biasanya bisa diselesaikan tanpa kekerasaan, dan

sering menghasilkan situasi yang lebih baik bagi sebagian besar atau semua pihak

yang terlibat (Fisher, 2001:4).

Konflik sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Ketika orang

memperebutkan sebuah area, mereka tidak hanya memperebutkan sebidang tanah

saja, namun juga sumber daya alam seperti air dan hutan yang terkandung di

dalamnya. Upreti (2006) menjelaskan bahwa pada umunya orang berkompetisi

untuk memperebutkan sumber daya alam karena empat alasan utama. Pertama,

karena sumber daya alam merupakan “interconnected space” yang memungkinkan

perilaku seseorang mampu mempengaruhi perilaku orang lain. Sumber daya alam

juga memiliki aspek “sosial space” yang menghasilkan hubungan-hubungan

tertentu diantara para pelaku. Selain itu sumber daya alam bisa menjadi langka

atau hilang sama sekali terkait dengan perubahan lingkungan, permintaan pasar

dan distribusi yang tidak merata. Yang terakhir, sumber daya alam pada derajat

tertentu juga menjadi sebagai simbol bagi orang atau kelompok tertentu.

Menurut teori konflik, unsur-unsur yang terdapat di dalam masyarakat

cenderung bersifat dinamis atau sering kali mengalami perubahan. Setiap

elemen-elemen yang terdapat pada masyarakat dianggap mempunyai potensi terhadap

(28)

hanyalah karena ada tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari golongan yang

berkuasa. Adanya perbedaan peran dan status di dalam masyarakat menyebabkan

adanya golongan penguasa dan yang dikuasi. Distribusi kekuasaan dan wewenang

yang tidak merata menjadi faktor terjadinya konflik sosial secara sistematis

(Ritzer, 2002:26).

Dahrendrof membedakan golongan yang terlibat konflik atas tiga tipe

kelompok, yaitu kelompok semu (Quasi Group) atau sejumlah pemegang posisi

dengan kepentingan yang sama atau merupakan kumpulan dari para pemegang

kekuasaan atau jabatan dengan kepentingan yang terbentuk karena munculnya

kelompok kepentingan .kelompok yang kedua adalah kelompok kepentingan.

Kelompok kepentingan terbentuk dari kelompok semu yang lebih luas,

mempunyai struktur, organisasi program, tujuan, serta anggota yang jelas.

Kelompok kepentingan ini lah yang menjadi sumber nyata timbulnya konflik .

Dari berbagai jenis kelompok kepentingan inilah muncul kelompok

konflik atau kelompok yang terlibat dalam konflik kelompok aktual. Konflik yang

terjadi menyebabkan perubahan –perubahan dalam masyarakat. segera setelah

kelompok konflik muncul, kelompok tersebut akan melakukan tindakan yang

menyebabkan perubahan-perubahan dalam struktur sosial. Bila konflik itu hebat,

perubahan yang terjadi adalah perubahan yang radikal, bila konflik itu disertai

dengan tindakan kekerasan, akan terjadi perubahan struktur secara tiba -tiba

(Ritzer, 2002:156). Secara akademis, konflik tidak harus berarti kekerasan.

Konflik juga bisa berupa kompetisi untuk perebutan sumber daya alam yang yang

(29)

saling berhadapan dan bertentangan denganm kepentingan, tujuan dan nilai yang

di pegang oleh masing-masing individu.

Secara teoritis, konflik yang terjadi dalam masyarakat dapat

dibedakankedalam dua bentuk, yaitu konflik sosial vertikal dan horizontal.

Konflik sosial vertikal adalah konflik yang terjadi antara masyarakat dan Negara

dan dapat dikatakan konflik laten, sebab benih-benih konflik sudah ada dan telah

terpendam pada masa sebelumnya. Konflik sosial horizontal, disebabkan karena

konflik antar etnis, suku, golongan, agama, atau antar kelompok masyarakat yang

dilatar belakangi oleh kecemburuan sosial yang memang sudah terbentuk dan

eksis sejak masa kolonial.

Pola konflik dibagi kedalam tiga bentuk ; pertama, konflik laten sifatnya

tersembunyi dan perlu diangkat ke permukaan sehingga dapat ditangani secara

efektif. Kedua, konflik terbuka adalah konflik yang berakar dalam dan sangat

nyata, dan memerlukan berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan

berbagai macam efeknya. Dan yang ketiga adalah, konflik di permukaan memiliki

akar yang dangkal atau tidak berakar dan muncul hanya karena kesalahpahaman

mengenai sesuatu yang dapat diatasi dengan menggunakan komunikasi

(Fisher,2001:6).

Untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat, tentu kita

harus mengetahui apa yang menjadi penyebab suatu konfik itu dapat terjadi.

Dalam pandangan sosiologis, masyarakat itu selalu dalam perubahan dan setiap

elemen dalam masyarakat selalu memberikan sumbangan bagi terjadinya konflik.

(30)

teoritisnya lebih pada fenomenologis. Menurut Collins, konflik sebagai fokus

berdasarkan landasan yang realistik dan konflik adalah proses sentral dalam

kehidupan sosial.

Salah satu penyebab terjadinya konflik adalah karena ketidakseimbangan

antara hubungan-hubungan manusia ,seperti aspek sosial, ekonomi, dan

kekuasaan. Konflik dapat juga terjadi karena adanya mobilisasi sosial yang

memupuk keinginan yang sama. Menurut perspektif sosiologi (Soekanto,

2002:98), konflik di dalam masyarakat terjadi karena pribadi maupun kelompok

menyadari adanya perbedaan-perbedaan badaniah, emosi, unsure-unsur

kebudayaan, pola perilaku dengan pihak lain. Konflik atau pertentangan adalah

suatu proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi

tujuannya dengan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan/ atau

kekerasan.

2.3 Jenis-Jenis Konflik

Soerjono Soekanto membagi konflik sosial menjadi lima bentuk khusus,

yaitu sebagai berikut:

1. Konflik atau pertentangan pribadi, yaitu konflik yang terjadi antara dua

individu atau lebih karena perbedaan pandangan dan sebagainya.

2. Konflik atau pertentangan rasial, yaitu konflik yang timbul akibat

perbedaan-perbedaan ras.

3. Konflik atau pertentangan antara kelas-kelas sosial, yaitu konflik yang

(31)

4. Konflik atau pertentangan politik, yaitu konflik yang terjadi akibat adanya

kepentingan atau tujuan politis seseorang atau kelompok.

5. Konflik atau pertentangan yang bersifat internasional, yaitu konflik yang terjadi karena perbedaan kepentingan yang kemudian berpengaruh pada

kedaulatan Negara.

2.4 Faktor Penyebab Konflik

Konflik merupakan suatu kenyataan hidup, tidak terhindarkan dan sering

bersifat kreatif. Konflik terjadi ketika tujuan masyarakat tidak sejalan. Berbagai

perbedaan pendapat dan konflik biasanya diselesaikan tanpa kekerasan dan sering

menghasilkan situasi yang lebih baik bagi sebagain besar atau semua pihak yang

terlibat. Penyebab konflik menurut Dahrendorf adalah kepemilikan wewenang

(otoritas) dalam kelompok yang beragam. Jadi, konflik bukan hanya materi

(ekonomi saja).

Dahrendorf memandang bahwa konflik hanya muncul melalui relasi-relasi

sosial dalam sistem. Setiap individu atau kelompok yang tidak terhubung dalam

sistem tidak akan mungkin terlibat konflik. Maka dari itu, unit analisis konflik

adalah keterpaksaan yang menciptakan organisasi-organisasi sosial bisa bersama

sebagai sistem sosial. Dahrendorf menyimpulkan bahwa konflik timbul karena

ketidakseimbangan antara hubungan-hubungan itu. Contohnya, kesenjangan status

sosial, kurang meratanya kemakmuran dan akses yang tidak seimbang terhadap

sumber daya serta kekuasaan yang tidak seimbang yang kemudian menimbulkan

masalah-masalah seperti diskriminasi, pengangguran, kemiskinan, penindasan dan

(32)

rantai yang memiliki potensi kekuatan untuk menghadirkan perubahan, baik yang

konstruktif maupun yang destruktif.

Dahrendorf memahami relasi-relasi dalam struktur sosial ditentukan oleh

kekuasaan. Ia mendefinisikan kekuasaan menjadi penyebab timbulnya

perlawanan. Esensi kekuasaan yang dimaksud oleh Dahrendorf adalah kekuasaan

kontrol dan sanksi sehingga memungkinkan mereka yang memiliki kekuasaan

memberi berbagai perintah dan mendapatkan apa yang mereka inginkan dari

mereka yang tidak memiliki kekuasaan. Jadi, konfik kepentingan menjadi fakta

tidak terhindarkan dari mereka yang memiliki kekuasaan dan tidak memiliki

kekuasaan.

Dahrendorf menjelaskan penyebab konflik dalam 6 teori utama. Teori

hubungan masyarakat menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi

yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan diantara kelompok yang

berbeda dalam suatu masyarakat. Teori negosiasi prinsip menganggap bahwa

konflik disebabkan oleh posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan

tentang konflik oleh pihak yang mengalami konflik. Teori kebutuhan manusia

berasumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar

manusia baik fisik, mental maupun sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi.

Keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi dan otonomi sering merupakan inti

pembicaraan dalam konflik.

Sementara itu, teori identitas berasumsi bahwa konflik disebabkan karena

identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau

(33)

berpandangan berbeda, teori ini berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh

ketidakcocokan dan cara-cara komunikasi diantara berbagai budaya yang berbeda.

Teori transformasi konflik berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh

masalah-masalah ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang muncul sebagai masalah-masalah sosial,

budaya dan ekonomi.

Konflik menurut Dahrendorf akan muncul karena adanya suatu isu

tertentu yang memunculkan dua kelompok untuk berkonflik. Dasar pembentukan

kelompok adalah otoritas yang dimiliki oleh setiap kelompok yaitu kelompok

yang berkuasa dan kelompok yang dikuasai. Kepentingan kelompok yang

berkuasa adalah mempertahankan kekuasaanya sedangkan kelompok yang

dikuasai adalah menentang legitimasi otoritas yang ada.

Dahrendorf memandang wewenang dalam masyarakat modern dan

industrial sebagai kekuasaan. Relasi wewenang yaitu selalu relasi antara super dan

subordinasi. Dimana ada relasi wewenang, kelompok-kelompok superordinasi

selalu diharapkan mengontrol perilaku kelompok subordinasi melalui permintaan

dan perintah serta peringatan dan larangan. Berbagai harapan tertanam relative

permanent dalam posisi sosial pada karakter individual. Saat kekuasaan

merupakan tekanan satu sama lain, maka kekuasaan dalam hubungan kelompok

terkoordinasi ini memeliharanya menjadi legitimasi.

Sedangkan menurut menurut perspektif sosiologi (Soekanto, 2002: 98),

konflik di dalam masyarakat terjadi karena pribadi maupun kelompok menyadari

adanya perbedaan-perbedaan badaniah, emosi, unsure-unsur kebudayaan pola

(34)

individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuann ya dengan menantang

pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan.

Adapun yang menjadi faktor penyebab konflik, antara lain yaitu:

1. Adanya perbedan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan,

karena setiap manusia unik, dan mempunyai perbedaan pendirian, perasaan

satu sama lain. Perbedaan pendirian dan perasaan ini akan menjadi satu faktor

penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial seorang

individu tidak selalu sejalan dengan individu atau kelompoknya.

2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadipribadi

yang berbeda-beda, individu sedikit banyak akanterpengaruh oleh pola

pemikiran dan pendirian kelompoknya, dan itu akan menghasilkan suatu

perbedaan individu yang dapat memicu konflik.

3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok, individu memiliki latar

perasaan, pendirian dan latar belakang budaya yang berbeda. Ketika dalam

waktu yang bersamaan masing-masing individu atau kelompok memilki

kepentingan yang berbeda. Kadang, orang dapat melakukan kegiatan yang

sama, tetapi tujuannya berbeda. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini

dapat pula menyengkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu

pula dapat terjadi antar kelompok atau antar kelompok dengan individu.

4. Faktor terjadinya konflik juga dapat disebabkan karena perubahanperubahan

nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Perubahan adalah sesuatu

yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau

(35)

2.3 Tahapan Konflik

Fisher, dkk menyebutkan ada beberapa alat bantu unntuk menganalisis

situasi konflik, salah satunya adalah penahapan konflik. Konflik berubah setiap

saat, melalui tahap aktivitas, intensitas, ketegangan dan kekerasan yang berbeda

(Fisher,2001:19-20). Tahap-tahap ini adalah :

1. Pra-Konflik : merupakan periode dimana terdapat suatu ketidaksesuain

sasaran diantara dua pihak atau lebih, sehingga timbul konflik. Konflik

tersembunyi dari pandangan umum, meskipun salah satu pihak atau lebih

mungkin mengetahui potensi terjadi konfrontasi. Mungkin terdapat

ketegangan hubungan diantara beberapa pihak dan/ atau keinginan untuk

menghindari kontak satu sama lain.

2. Konfrontasi : pada saat ini konflik menjadi semakin terbuka. Jika hanya satu

pihak yang merasa ada masalah, mungkin para pendukungnya mulai

melakukan demonstrasi atau perilaku konfrontatif lainnya.

3. Krisis : ini merupakan puncak konflik, ketika ketegangan dan/ kekerasan

terjadi paling hebat. Dalam konflik skala besar, ini merupakan periode perang,

ketika orang-orang dari kedua pihak terbunuh. Komunikasi normal diantara

dua pihak kemungkinan putus, pernyataan-pernyataan umum cenderung

menuduh dan menentang pihak lainnya.

4. Akibat : kedua pihak mungkin setuju bernegosiasi dengan atau tanpa

perantara. Suatu pihak yang mempunyai otoritas atau pihak ketiga yang lebih

berkuasa mungkin akan memaksa kedua pihak untuk menghentikan

(36)

5. Pasca-Konflik : akhirnya situasi diselesaikan dengan cara mengakhiri berbagai

konfrontasi kekerasan, ketegangan berkurang dan hubungan mengarah lebih

normal diantara kedua pihak. Namun jika isu-isu dan masalah-masalah yang

timbul karena sasaran mereka saling bertentangan tidak diatasi dengan baik,

tahap ini sering kembali lagi menjadi situasi prakonflik.

2.6 Jenis Konflik

Secara teoritis, konflik yang terjadi dalam masyarakat dapat dibedakan

menjadi dua bentuk, yaitu konflik sosial vertikal dan konflik sosial horizontal.

Konflik sosial vertikal adalah konflik yang terjadi antara masyarakat dan

Negara dan dapat dikatakan konflik latent, sebab benih-benih konflik sudah

ada dan telah terpendam pada masa sebelumnya.

Seperti di Indonesia, konflik sosial vertikal ini dapat dicermati dari

beberapa upaya daerah yang melepaskan diri dari belenggu pemerintahan

pusat. Konflik ini semakin tidak akan terkendali karena pendekatan

penyelesaian masalah diwarnai dengan pendekatan militer. Peranan aparat

militer masih mendominasi daripada diplomasi politik dan kultural. Ada

beberapa hal yang menjadi akar permasalahan terjadinya intensitas konflik

vertikal, khususnya di Indonesia antara lain:

1. Luapan kekecewaan dan ketidakpuasan terhdap perilaku pemerintah dan

aparatur pemerintah yang secara sistematis mengeksploitasi sumber daya

(37)

2. Pemerintah pusat dengan berdalih pembangunan seringkali semena-mena

merampas dan menduduki hak-hak penduduk lokal di suatu daerah.

Menurunya kepercayaan masyarakat daerah pada pemerintah karena

pemerintah tidak lagi memihak dan melayani kepentingan-kepentingan

tuntutan masyarakat tetapi secara terencana memperdaya masyarakat.

3. Terbukannya ruas sosial (sosial space). Hal ini merangsang terjadinya

konflik vertikal dan tanpa disadari mendorong masyarakat untuk

bereuphoria sebagai bentuk balas dendam atau sekedar melepas rasa

ketidakpuasan pada pejabat pemerintah.

4. Tidak tertutup kemungkinan konflik vertikal ini terjadi karena ditunggangi

oleh sekelompok elit yang rakus dan haus kekuasaan.

Konflik sosial horizontal, disebabkan karena konfik antar etnis, suku,

golongan , agama, atau antar kelompok masyarakat yang dilatarbelakangi

oleh kecemburuan sosial yang memang sudah terbentuk dan eksis sejak

masa kolonial. Adapun hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya konflik

horizontal adalah:

1. Saling mengklaim dan menguasai sumber daya alam yang mulai

terbatas akibat tekanan penduduk dan kerusakan lingkungan.

2. Kecemburuan sosial yang bersumber dari

ketimpangan-ketimpangan ekonomi antara kaum pendatang dan penduduk

lokal. Keberhasilan ekonomi para pendatang sebagai usaha kerja

(38)

pasar dan peluang ekonomi sering dilihat sebagai penjajahan

ekonomi.

3. Dorongan emosional kesukuan karena ikatan-ikatan norma

tradisional. Konflik ini dapat juga muncul disebabkan karena

kefanatikan ajaran ideologi tertentu .

4. Mudah dibakar dan dihasut oleh para dalang kerusuhan, elit

politik dan orang-orang yang haus kekuasaan.hal ini didorong

oleh kualitas sumber daya manusia yang rendah, juga diikuti oleh

rendahnya kesadaran social.

2.7 Dampak Konflik

Menurut Soerjono Soekanto (1989:90), akibat negatif yang timbul

dari sebuah konflik sosial sebagai berikut.

1. Bertambahnya Solidaritas Anggota Kelompok yang Berkonflik

Jika suatu kelompok terlibat konflik dengan kelompok lain, maka

solidaritas antarwarga kelompok tersebut akan meningkat dan bertambah

berat. Bahkan, setiap anggota bersedia berkorban demi keutuhan

kelompok dalam menghadapi tantangan dari luar.

2. Jika Konflik Terjadi pada Tubuh Suatu Kelompok maka akan

Menjadikan Keretakan dan Keguncangan dalam Kelompok Tersebut

Visi dan misi dalam kelompok menjadi tidak dipandang lagi

sebagai dasar penyatuan. Setiap anggota berusaha menjatuhkan

anggota lain dalam kelompok yang sama, sehingga dapat dipastikan

(39)

3. Berubahnya Kepribadian Individu

Dalam konflik sosial biasanya membentuk opini yang berbeda,

misalnya orang yang setuju dan mendukung konflik, ada pula yang

menaruh simpati kepada kedua belah pihak, ada pribadi-pribadi yang

tahan menghadapi situasi konflik, akan tetapi ada yang merasa

tertekan, sehingga menimbulkan penderitaan pada batinnya dan

merupakan suatu penyiksaan mental. Keadaan ini dialami oleh

orang-orang yang lama tinggal di Amerika Serikat. Sewaktu Amerika Serikat

diserang mendadak oleh Jepang dalam Perang Dunia II, orang-orang

Jepang yang lahir di Amerika Serikat atau yang telah lama tinggal di

sana sehingga mengambil kewarganegaraan Amerika Serikat,

merasakan tekanan-tekanan tersebut. Kondisi ini mereka alami karena

kebudayaan Jepang masih merupakan bagian dari hidupnya dan

banyak pula saudaranya yang tinggal di Jepang, sehingga mereka pada

umumnya tidak dapat membenci Kerajaan Jepang seratus persen

seperti orang-orang Amerika asli.

4. Hancurnya Harta Benda dan Jatuhnya Korban Jiwa

Setiap konflik yang terjadi umumnya membawa kehancuran

dan kerusakan bagi lingkungan sekitarnya. Hal ini dikarenakan

masing-masing pihak yang berkonflik mengerahkan segala kekuatan

untuk memenangkan pertikaian. Oleh karenanya, tidak urung segala

(40)

menyebabkan penderitaan yang berat bagi pihakpihak yang bertikai.

Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban jiwa wujud nyata akibat

konflik.

5. Akomodasi, Dominasi, dan Takluknya Salah Satu Pihak

Jika setiap pihak yang berkonflik mempunyai kekuatan

seimbang, maka muncullah proses akomodasi. Akomodasi menunjuk

pada proses penyesuaian antara individu dengan individu, individu

dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok guna

mengurangi, mencegah, atau mengatasi ketegangan dan kekacauan.

Ketidakseimbangan antara kekuatan-kekuatan pihak yang mengalami

konflik menyebabkan dominasi terhadap lawannya. Kedudukan pihak

yang didominasi sebagai pihak yang takluk terhadap kekuasaan

lawannya.

Dari keterangan-keterangan di atas dapat dilihat akibat konflik

sebagai bentuk interaksi disosiatif. Walaupun begitu tidak selamanya

akibat konflik bersifat negatif. Sebagai contohnya, konflik dalam

bentuk lunak biasanya digunakan dalam seminar-seminar dan

diskusi-diskusi sebagai media penajaman konsep-konsep atau persoalan

ilmiah. Selain itu, konflik dijadikan sebagai sarana untuk mencapai

suatu keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat,

dapat pula menghasilkan suatu kerja sama di mana masing-masing

pihak melakukan introspeksi yang kemudian melakukan

(41)

sehingga masing-masing pihak yang bertikai sadar akan kedudukannya

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (41 Halaman)