SEMINAR BISNIS DAN MANAJEMEN TIM
Topik : Mempersiapkan Teamwork yang Efektif
Dosen : M. Taufik Amir, PhD.
Disusun Oleh:
Desca Chrisviani
0731501004
Novi Agustin
0731501014
Vicitta
0731501022
MAGISTER MANAJEMEN
KWIK KIAN GIE SCHOOL OF BUSINESS
ABSTRAK
Tim dibentuk untuk mempermudah organisasi dalam mencapai tujuannya, dibutuhkan kesamaan visi dan misi agar tim tersebut dapat berjalan dengan baik. Tim terdiri dari beberapa orang yang memiliki skill dan kemampuan yang beragam, dengan gabungan tersebut tentunya akan lebih mudah bagi tim untuk mencapai tujuannya. Akan tetapi pada perjalanannya, tidak mudah bagi sebuah tim untuk mencapai tujuan tersebut, akan timbul konflik kepentinga, perbedaan pandangan dan kesalahpahaman antar anggota. Sehingga sangat penting bagi pemimpin untuk dapat memahami pola perilaku dari anggota tim nya agar dapat berjalan secara efektif.
Seperti yang dibahas dalam kasus ...
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat-Nya, makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini ditujukan sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Seminar Bisnis dan Manajemen Tim. Pada kesempatan ini, sebagai tim pembahas kami akan menyampaikan topik mengenai “Mempersiapkan Teamwork yang Efektif.”
Pada dasarnya sebuah organisasi tidak dapat mencapai tujuannya apabila team yang dibuat tidak memiliki kemampuan atau skill yang dibutuhkan dan diperparah apabila masing-masing anggotanya tidak dapat menjalin hubungan dan bekerjasama dengan baik satu sama lain. Maka dari itu kami akan membahas teori-teori mengenai topik ini dan kemudian mengimplementasikannya ke dalam sebuah kasus yang berasal dari pengalaman kami selama bekerja dalam sebuah tim.
Tak ada gading yang tak retak, demikian pula makalah yang kami buat ini masih jauh dari kata sempurna. Sehingga saran dan kritik yang membangun akan sangat kami harapkan. Besar harapan kami agar makalah ini dapat bermanfaat. Dan akhir kata tidak lupa kami ucapkan terima kasih.
Jakarta, 21 April 2016
DAFTAR ISI
Abstrak ... 2
Kata Pengantar ... 2
Daftar Isi ... 3
Pendahuluan ... 4
Chapter 2 : Membentuk Sebuah Tim ... 4
Chapter 3 : Tujuan, Visi dan Nilai-nilai ... 6
Chapter 4 : Kemampuan dalam Mengerjakan Tugas dan Pola Perilaku ... 8
Implementasi Kasus ... 11
Penutup ...
PENDAHULUAN
Membentuk sebuah tim dengan visi dan misi yang sama bagi sebuah organisasi sangat penting agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Untuk mencapai suatu tujuan maka sebuah tim perlu mengadopsi visi, misi yang mencerminkan nilai-nilai yang ingin dicapai yang didukung oleh strategi sumber daya manusia dan budaya tim yang tepat pula. Dalam menghadapi perubahan, diperlukan kehati-hatian untuk dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan dan sekaligus menjaga agar tim tersebut dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Dalam pembentukkan sebuah tim, secara sadar atau tidak, pendiri meletakkan dasar budaya bagi tim yang didirikan. Mereka mempunyai suatu visi bagaimana seharusnya tim tersebut mencapai tujuan nya, kemudian visi tersebut diimplementasikan oleh anggota tim yang kemudian menjadi perilaku tim tersebut. Dengan bertumbuhnya sebuah tim, sebagai hasil interaksi tim dengan lingkungannya, secara sadar nilai-nilai pokok tertentu mengalami perubahan.
Budaya tim yang kuat merupakan pembangkit semangat yang paling berpengaruh dalam menuntun perilaku karena dapat membantu para anggota tim dalam melakukan pekerjaan-pekerjaannya dengan lebih baik, nilai-nilai budaya dapat diterjemahkan sebagai filosofi usaha, asumsi dasar, slogan atau moto sebuah tim. Tujuan umum tim dan prinsip-prinsip yang menjelaskan mengapa tim tersebut dibentuk. Nilai-nilai tersebut apabila dianut dan dilaksanakan secara bersama oleh para anggota tim dapat memperkuat budaya tim tersebut. Budaya yang kuat ditandai oleh nilai-nilai inti tim yang dipegang kukuh dan disepakati secara luas. Semakin banyak anggota tim yang menerima nilai-nilai inti dan semakin besar komitmen mereka terhadap nilai-nilai-nilai-nilai tersebut, semakin kuat suatu budaya.
Suatu budaya yang kuat akan memiliki pengaruh yang besar dalam sikap anggota dalam tim dibandingkan dengan budaya yang lemah. Komitmen tim adalah kuatnya pengenalan dan keterlibatan seseorang dalam suatu tim tertentu. Komitmen juga digambarkan sebagai kecenderungan untuk terikat dalam garis kegiatan yang konsisten karena menganggap adanya biaya pelaksanaan kegiatan yang lain. Budaya yang kuat akan memperlihatkan kesepakatan yang tinggi mengenai tujuan tim di antara anggota-anggotanya. Kebulatan suara terhadap tujuan akan membentuk keterikatan, kesetiaan dan komitmen tim. Kondisi ini selanjutnya akan mengurangi kecenderungan anggota tim untuk keluar dan tujuan yang ingin dicapai dapat terpenuhi.
Oleh karena itu, penulis dalam hal ini akan menjelaskan tentang bagaimana sebuah sebuah tim harus dibentuk dengan yang berisi orang-orang yang memiliki kemampuan dalam mengerjakan tugas dan pola perilaku yang sesuai dengan visi,misi, dan tujuan tim.
CHAPTER 2 MEMBENTUK SEBUAH TIM
Sebuah tim seringkali secara bersemangat / berkeinginan untuk memulai bekerja setelah diberi sedikit pertimbangan untuk merencanakan bagaimana cara yang paling efektif untuk melakukan kegiatan - kegiatan yang dapat mencapai tujuan.
Keinginan tersebut dapat mencerminkan komitmen untuk dapat menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan tetapi sering dapat mengakibatkan kesulitan yang signifikan.
Tanpa perencanaan yang memadai, kesulitan-kesulitan ini dapat muncul dan memiliki efek negatif pada kinerja tim dan menghasilkan ketidakpuasan bagi anggota tim.
Sebelum memulai pekerjaan, tim harus menentukan :
1. Apa tujuan sebuah tim dan apa yang harus dilakukan untuk sampai ketujuan tersebut?
Ini berarti mendefinisikan tujuan dari tim yang dibentuk, memverifikasi bahwa semua anggota mengetahui tujuan dibentuknya tim tersebut.
Sebuah tim harus jelas tentang tujuan dan juga penting untuk anggota tim mengenali tujuan itu dapat dicapai.
Isu terkait lainnya adalah deadline , dimana masalah ini menjadi penting dalam sebuah tim. Menemukan jalur terbaik ke tujuan adalah langkah yang terbaik. Terbaik memiliki beberapa arti : yang paling efisien, paling memuaskan bagi anggota, paling cocok untuk keterampilan dan pengalaman para anggota.
Ini berarti mengidentifikasi keterampilan dari setiap anggota serta pengalaman yang dimiliki dan menentukan apakah ini akan memungkinkan tim mencapai tujuannya. Jika ada skill atau kemampuan khusus yang diperlukan namun diantara tim tidak ada yang memiliki kemampuan tersebut, maka dapat disesuaikan dengan cara diberikan pelatihan tambahan.
Dalam menentukan anggota tim dibutuhkan : a. Keterampilan Teknikal
Keterampilan ini dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan dari sebuah tim / perusahaan
b. Keterampilan Sosial
Keterampilan ini memungkinkan anggota untuk berinteraksi dengan cara melakukan
update dari kinerja tugas yang sedang dikerjakan untuk mencapai tujuan dari tim
Dalam sebuah tim agar menjadi tim yang efektif, suatu tim diharapkan terdiri dari orang-orang yang ditempatkan pada posisi yang benar sesuai dengan kompetensinya. Suatu kelompok harus memiliki :
a. Ketua (Pemimpin)
Seorang pemikir yang disiplin yang bertugas mengorganisir dan mengkoordinir tim, memelihara keseimbangan usaha dan menjadi titik tumpu tim dalam menjaga posisi mereka
b. Pembentuk
Seorang yang memiliki kemampuan untuk memberikan dinamika dan pengarahan kepada tim, menyediakan motivasi, kreatif
c. Pemikir
Seorang yang menyediakan gagasan bagi kemajuan tim d. Pengevaluasi
Seorang yang dapat mengevaluasi permasalahan dan hasil kerja tim e. Penyelidik Sumberdaya
Seorang yang menyediakan informasi dan jejarng sosial dan relasi f. Pekerja Tim
Yang secara langsung berhubungan langsung dengan pekerjaan, memecahkan konflik, memperlancar hubungan, dan memotivasi rekan satu tim
g. Pengawas
Yang memandu dan memberi peringatan kepada tim jika terjadi hal yang tidak sesuai dengan komitmen bersama
3. Bagaimana tim akan melakukan tugasnya?
Hal ini menjabarkan bagaimana membangun prinsip-prinsip tentang bagaimana para anggota bekerja sama untuk mencapai tujuan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep saling ketergantungan dan kontras dengan kemandirian anggota
Jalan tim untuk mencapai tujuan tentunya akan melibatkan para anggota untuk melakukan tugas-tugas nya untuk mencapai tujuan. Di dalam sebuah tim, umumnya akan saling ketergantungan satu sama lain. Hal ini berarti bahwa di dalam satu tim, tindakan anggota mempengaruhi anggota lain dan sebaliknya
Saling ketergantungan adalah jantung dari kerja sama tim. Di dalam kerja tim, keunggulan potensinya lebih besar daripada bekerja secara independen
4. Apa yang meningkatkan kinerja tim?
Ini membahas bagaimana faktor-faktor yang harus ditempuh untuk mempermudah dan mendukung kinerja dalam tim agar lebih optimal, dan menghindari faktor-faktor negatif yang akan mempengaruhi dan menurunkan kinerja
Hal-hal yang dapat membantu atau menghambat kinerja tim : 1. Keterlibatan anggota
dapat berkontribusi dengan baik, maka akan menimbulkan kepuasan bagi seluruh anggota tim lainnya.
2. Keberagaman anggota tim
Di dalam sebuah tim, pastinya setiap anggota memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik dalam kemampuan pengetahuan, kemampuan memecahkan masalah, personality, dan latar belakang nya.
3. Komunikasi anggota tim
Komunikasi anggota tim adalah kunci utama agar tim dapat bekerja secara efektif. Setiap anggota harus mampu untuk mendukung dan melengkapi satu sama lain untuk mencapai tujuan dari tim
4. Komunikasi terstruktur
Dalam sebuah tim sebaiknya diatur agar tidak terjadi miscommunication. Ukuran tim dapat mempengaruhi kinerja tim baik secara langsung maupun tidak langsung melalui beberapa proses termasuk dari partisipasi anggota, kesulitan yang dihadapi saat melakukan diskusi, dan tantangan dalam memimpin tim.
Lingkungan tim juga memberikan pengaruh dalam keberhasilan komunikasi antar anggota tim. Organisasi yang besar, umumnya dapat lebih banyak memiliki investasi (kemampuan anggota) sehingga dapat lebih mudah untuk mencapai tujuannya.
CHAPTER 3
TUJUAN, VISI, DAN NILAI-NILAI
Tujuan sebuah tim menentukan apa yang ingin capai. Ketika tujuannya jelas dan anggota bersatu untuk mengejar itu, tujuan dapat menjadi kekuatan pendorong yang kuat. Ketika tujuannya tidak jelas atau anggota tidak setuju tentang hal itu, maka tim kehilangan kekuatannya, karena tidak tahu apa yang ingin dicapai.
Pengertian Tujuan
Tujuan adalah sebuah hal di masa depan yang masih abstrak yang membutuhkan kinerja dari waktu ke waktu dengan satu atau lebih tugas untuk mencapainya. Hal ini abstrak karena belum dicapaidan karena masih merupakan konsep dalam kesadaran anggota tim. Meskipun abstrak, tujuan harus jelas dan obyektif untuk tim mengejar itu. "Tujuan jelas" berarti bahwa tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diidentifikasi dan bahwa sejauh mana urutan tertentu tindakan akan memindahkan tim ke arah tujuan nya dapat ditentukan. Ini juga berarti mendefinisikan dan pengujian saja alternatif dari tindakan dalam mencapai suatu tujuan. Tujuan adalah panduan untuk tindakan. Sebuah tujuan membutuhkan sebuah tim untuk memutuskan bagaimana mencapainya.
Mencapai Kesepakatan Tujuan sebuah tim
Tujuan Sebuah tim, bahkan tujuan yang menarik, bisa sulit untuk dikejar karena beberapa alasan. Karena tujuan adalah sebuah abstraksi, anggota dapat dengan mudah melihatnya secara berbeda dan tidak setuju tentang bagaimana untuk melanjutkan.
Membedakan Tujuan Individu dan Sasaran Tim
Setiap individu yang menjadi anggota tim memiliki tujuannya sendiri , untuk berpartisipasi. Bagaimana tujuan individu berhubungan dengan tujuan tim? Orang mungkin menganggap bahwa tujuan tim terjadi ketika semua anggota memiliki tujuan yang sama.
Tujuan individu menentukan pilihan, hal apa yang ingin dicapai bagi individu itu dan memandu tindakan individu tersebut untuk mencapainya
Tujuan tim menetapkan pilihan, hal dimasa depan yang menjadi sasaran untuk tim sebagai sebuah unit dan memandu anggota tim dengan tindakan kolektif untuk mencapai itu.
Konversi Tujuan Individu Untuk Tim Dalam Mencapai Tujuan
bahwa preferensi masing-masing anggota harus jelas untuk dan sama-sama seimbang bagi anggota lain.
Untuk meningkatkan efektivitas, anggota tim perlu meningkatkan konsensus mereka tentang tujuan tim dan meminimalkan ketidakcocokan antara tujuan anggota dan tujuan tim. Ketika tim pertama kali dibentuk, hal yang penting adalah untuk mendiskusikan tujuannya secara menyeluruh. Diskusi ini penting, bahkan ketika individu unggul menentukan tujuan. Diskusi membantu menghilangkan kesalahpahaman dan mendorong kepemilikan.
Visi Tim: Yang penting dari Tujuan nya
Dikatakan bahwa tujuan adalah sebuah "hal di masa depan yang masih abstrak"
Sebuah visi tim memberikan arti dan makna untuk tujuan tim dan prestasi. Kinerja tinggi dan upaya terus menerus yang diperlukan untuk membuat visi yang nyata. Di dalam visi, harus terdapat tujuan dan apa yang ingin dicapai oleh suatu tim pada masa yang akan datang. Hal ini tidak hanya di mana tim akan, tapi bagaimana proses dan apa yang harus dilakukan setelah sampai di tujuan. Visi menyediakan tim yang dinamis.
Inti Ideologi
Visi diartikulasikan terdiri dari dua fitur utama. Salah satunya adalah ideologi inti. Yang lainnya adalah masa depan yang dibayangkan. Ideologi inti adalah apa yang mendorong atau memotivasi tim. Tujuan inti mendapat alasan-alasan yang lebih dalam untuk keberadaan tim ini lebih dari sekedar mencapai tujuannya.
Sebuah tim harus memiliki tujuan inti dan nilai-nilai inti yang diwujudkan dalam prinsip-prinsip operasi. Hal ini mengatur bagaimana anggota tim melakukan tugas-tugas mereka, berhubungan satu sama lain, dan berhubungan dengan orang lain di luar tim.
Masa Depan dibayangkan
Fitur utama kedua dari visi tim adalah masa depan yang dibayangkan. Ini adalah apa yang tim mengharapkan untuk mengalami ketika visi tercapai, ketika masa depan yang semula abstrak menjadi nyata.
Pengaruh Sasaran Tim
Setelah tujuan tim dan visi terkait didefinisikan, diharapkan untuk mempengaruhi perilaku anggota tim dan interaksi mereka dengan dan evaluasi dari setiap pengaruh lain. Tujuan tim jelas menginduksi saling ketergantungan. Ini adalah fokus untuk tanggung jawab kolektif tim.
Mencapai Sasaran Tim dan Visi
Tujuan sebuah tim dan visi untuk tujuannya sangat erat terkait. Jika visi tim untuk tujuannya adalah "hanya untuk menyelesaikannya" prestasi dan jalan untuk itu akan datar, tidak menarik. Jika visi itu adalah "untuk mendapatkannya dilakukan dengan cara atau pada tingkat kualitas kepuasan dalam mencapai nya," jalan menuju prestasi dan realisasinya bisa sulit, tetapi juga menarik.
Piagam Tim
Dari pertimbangan tim tentang tujuan , pembahasan tujuan anggota, perumusan visi, dan definisi dari seperangkat nilai-nilai dan harus datang konsensus tentang di mana tim akan dan bagaimana tim akan berperilaku proses menuju ke sana.
Sebuah tim dapat terdiri dari beberapa bagian:
Tujuan Tim
Pernyataan yang tepat dari apa yang tim berusaha untuk mencapai. Hal abstrak apa yang berusaha dicapai oleh sebuah tim untuk menjadi nyata.
Visi Tim
Pernyataan yang tepat dari usaha tim untuk pencapaiannya. Hal-hal apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuannya
Prinsip operasi Tim
Logo Tim
Sebuah tim sering mengdesain logo atau simbol yang bagi tim, mewujudkan prinsip-prinsip tujuan, visi, dan operasi.
CHAPTER 4
KEMAMPUAN DALAM MENGERJAKAN TUGAS DAN POLA PERILAKU
Seseorang yang masuk dalam sebuah tim, baik secara sukarela ataupun karena mereka ditugaskan untuk berpartisipasi. Untuk dapat mencapai tujuan, sebuah tim harus melakukan satu atau beberapa tugas. Dan performa dari sebuah team tergantung pada skill yang dimiliki oleh anggotanya.
Hasil kerja tim bervariasi, meskipun tidak dapat dihindari akan tetap melibatkan dua kemampuan, yaitu kemampuan teknis dan kemampuan sosial. Tugas yang berbeda memerlukan kombinasi kemampuan yang berbeda.
TUGAS TIM DAN KEMAMPUAN YANG DIBUTUHKAN Skill Teknis
Anggota tim pada dasarnya dipilih karena memiliki kemampuan teknis yang dibutuhkan. Tim dibentuk untuk mencapai tujuan yang bervariasi, bagaimanapun untuk melakukannya dibutuhkan skill
yang bervariasi untuk mendukung kemampuan teknis.
Kompetensi Sosial
Kemampuan sosial diperlukan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Dimana dalam melaksanakan tugasnya, tim akan menemui kesulitan dalam mencapai tujuannya, sehingga secara alami dibutuhkan interaksi sosial antar anggotanya.
Menghasilkan sebuah Produk atau Outcome
Ketika tim ditugaskan untuk menghasilkan sebuah outcome, terdapat dua strategi: a. merencanakan sebuah strategi dimana untuk mendapatkan outcome
b. menciptakan outcome itu sendiri.
Tugas Perencanaan
Perencanaan merupakan hal krusial dalam performa sebuah tim. Perencanaan melibatkan: a. Semua anggota tim mengerti dan setuju pada tujuan yang ingin dicapai.
b. Adalah mengidentifikasi langkah alternatif (yang memungkinkan) beserta detail dan hasil jika alternatif tersebut dijalankan.
Creating Tasks
Tugas-tugas yang berkaitan dengan menghasilkan outcome yang berawal dari rencana yang kurang terstruktur, contohnya adalah brainstorming.
Dalam brainstorming, masing-masing anggota tim akan memiliki perspektif yang berbeda terhadap suatu tugas dan memungkinkan bagi tim untuk melihat suatu masalah secara berbeda. Tujuan brainstorming adalah untuk menghasilkan sebanyak mungkin ide. Brainstorming didesain untuk menerima semua kontribusi anggota satu dengan yang lainnya agar anggota merasa nyaman dalam menyalurkan idenya sebagai pertimbangan dalam tim.
Memilih Opsi untuk Mencapai Suatu Hasil
Ketika tim harus memilih outcome dari banyak outcome yang sudah ditentukan sebelumnya, ada dua strategi yang dapat dilakukan, tergantung situasi yang terjadi.
a. Memilih satu diantara banyak opsi yang sudah ditetapkan, ini disebut pengambilan keputusan.
b. Ketika opsi kurang jelas, tugasnya menjadi pemecahan masalah.
Artinya salah satu strategi, atau kadang keduanya dapat diformulasikan, tergantung masalah yang ada, kemudian memilih strategi mana yang dapat digunakan.
Tugas untuk Mengambil Keputusan
Keuntungan jika menggunakan pendekatan ini:
a. Dengan skill dan pengetahuan luas dari anggota, tim dapat membuat keputusan yang lebih baik
b. Tim dapat memperoleh dan memproses informasi dengan jumlah lebih banyak dengan cara mengelompokkan tanggung jawab
c. Keputusan yang dicapai oleh tim dianggap masuk akal dan layak untuk diikuti karena merupakan keputusan dari banyak orang.
Kerugian yang dapat terjadi:
a. Tim tidak dapat menggunakan skill atau pengetahuannya secara maksimal karena satu atau lebih anggota tidak mau berkontribusi, atau merasa kontribusi mereka tidak akan diterima b. Beberapa anggota tim yang lebih memengaruhi pengambilan keputusan dibanding anggota
lain
c. Anggota tim terburu-buru untuk mencapai kesepakatan sehingga alternatif pertimbangan menjadi terbatas
d. Perbedaan pandangan dan value dari anggota menjadi luas sehingga akan menjadi sulit untuk disatukan dan tidak bisa mencapai keputusan.
Aturan dalam pengambilan keputusan ditentukan oleh tim, bisa saja dengan keputusan yang disetujui oleh semua anggota atau dengan sistem voting.
Tugas untuk Memecahkan Masalah
Tujuannya adalah untuk mencari sebuah jawaban yang benar. Sebagai contoh, jika kita mencari jawaban untuk “Jam berapa ini?” Untuk masalah ini, jika jawaban diidentifikasi dan kebenaran jawaban sudah jelas dan anggota tim langsung setuju, ini disebut truth wins. Jika dipecahkan secara aljabar, mungkin sulit untuk di dapatkan jawaban benarnya, tapi dapat dibuktikan dan diterima, ini disebut truth-supported wins. Tapi ketika jawabannya tidak dapat dipecahkan oleh anggota tim dan memerlukan bantuan dari expert, hal ini disebut truth with much support wins.
Negosiasi untuk Mencapai Suatu Hasil
Tipe lain dari tugas tim adalah menegosiasikan perbedaan untuk mencapai kesepakatan. Dalam hal ini termasuk menyelesaikan perbedaan dari bagaimana persoalan dipandang, hal ini disebut
cognitive conflict. Jika perbedaan yang muncul dari konflik keperluan atau motif, disebut sebagai
mixed motives.
Cognitive Conflict Tasks
Konflik ini muncul ketika anggota tim melihat persoalan secara berbeda. Konflik kognitif seringkali sulit untuk dipecahkan, karena anggota tim cenderung salah paham satu sama lain. Untuk memecahkan masalah diperlukan diskusi guna mengklarifikasi pandangan yang berbeda, lalu negosiasi, dilanjutkan dengan kompromi dan diharapkan tercapai kesepakatan.
Mixed-Motive Tasks
Anggota tim dapat juga memiliki pertentangan dalam motif atau kepentingan. Hal ini dapat menimbulkan perselisihan yang sangat mengganggu. Mixed-motive tasks melibatkan situasi dimana hasil terbaik untuk satu anggota belum tentu terbaik bagi anggota lainnya. Konflik tersebut dapat diselesaikan dengan negotiation, bargaining, dilemma tasks atau coalition.
Negotiation melihat untuk menyelesaikan masalah dengan mempertimbangkan berbagai trade-offs antara berbagai dimensi.
Bargaining menunjukkan satu dimensi dalam perselisihan antara dua atau lebih orang. Dalam proses bargaining sangat penting bagi masing-masing pihak mengerti apa yang menjadi masalah dari pihak lain. Mengetahui apa yang menjadi masalah dapat membantu dalam mencari solusi untuk meminimalisasi masalah.
Dilemma tasks melibatkan dua atau lebih orang untuk membuat pilihan secara independen. Hal ini dapat terjadi ketika ada pembagian tanggung jawab.
Masalah utama dari mixed-motive adalah bagaimana tiap pihak memberikan solusi yang ideal. Terdapat pertimbangan, yaitu ketika satu atau banyak persoalan menimbulkan perselisihan.
Bargaining dapat berguna ketika ada satu dimensi. Ketika ada beberapa dimensi, negosiasi dibutuhkan untuk menyelesaikan perselisihan. Semakin banyak dimensi dalam konflik semakin kompleks perselisihannya.
Melakukan untuk Mendapatkan Hasil
Ketika tugas tim adalah untuk kerja dan mencapai hasil, hasil dapat dibedakan menjadi dua tipe :
a. Contests
Tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah dari kekuatan untuk menang. Sebuah tim bisa saja performanya buruk tapi tetap menang. Ketika kontes melibatkan koordinasi yang kompleks, multiple tasks, kompetisi akan terarah ke bubarnya koordinasi, kecuali diimbangi oleh pelaksanaan yang luas.
b. Performance
Tim dapat melaksanakan tugas sesuai dengan tujuan standar. Performa dapat dipengaruhi beberapa factor, yaitu : faktor fisik dari lingkungan kerja, jumlah anggota tim yang berpengalaman atau terlatih
Mengidentifikasi dan Mengembangkan Skill yang Relevan dengan Tugas
Orang yang sudah memiliki pengalaman perencanaan sebelumnya menambah skill untuk tim. Mereka cenderung merencanakan sebelum bergerak. Beberapa orang memiliki pengalaman bernegosiasi dan mampu menganalisa konflik dan menawarkan resolusi.
POLA PERILAKU
Pola perilaku mengacu pada konsistensi dari sikap individu dalam bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Konsistensi perilaku tidak merefleksikan karakteristik seseorang (skill atau kepandaian). Pola perilaku sangat penting bagi anggota tim yaitu untuk pengembangan perilaku, saling melengkapi dan saling berpengaruh positif sesama anggota tim.
Menggambarkan Ragam Perilaku
Ragam perilaku dapat digambarkan dalam banyak cara yang berbeda. Salah satu metode yang banyak digunakan adalah Myers-Briggs Type Inventory, yang menggambarkan seseorang dalam empat dimensi
a. Extrovert vs introvert
Introvert adalah pemikir, focus pada diri sendiri. Extrovert lebih dapat bersosialisasi, focus pada sekitar dan suka bergaul
b. Sensor vs intuitor (berkaitan dengan pengumpulan informasi)
Sensor cenderung praktis, realistis, faktual dan spesifik. Intuitor lebih konseptual, teoritis, general dan random
c. Feeler vs thinker (berkaitan dengan pengambilan keputusan)
Feelers manusiawi, harmonis, dan subjektif dalam pengambilan keputusan. Thinker lebih tegas, jelas dan objektif
d. Perceiver vs judger (berkaitan dengan bagaimana seseorang berurusan dengan lingkungan dan menciptakan gaya hidupnya)
Perceiver cenderung lebih mudah beradaptasi, fleksibel, spontan dan terbuka. Judgers
menekankan pada control, perencanaan, struktur dan menjadwalkan hidupnya.
Inteligensi Emosi
Perspektif lain dalam performance “styles” disebut inteligensi emosional, yang meliputi lima fitur : a. Knowing one’s emotions Kesadaran diri dan kemampuan untuk mengenali perasaan saat
terjadi
b. Managing emotions Menangani emosi agar sesuai
c. Motivating oneself Kemampuan untuk mengajak seseorang agar tertarik dalam mencapai tujuan
d. Recognizing emotions in others Kemampuan untuk menempatkan diri untuk memiliki
e. Handling relationship Mengenai kemampuan untuk merespon secara benar dan
konstruktif terhadap emosi orang lain.
Kemampuan-kemampuan diatas menggambarkan pengetahuan seseorang dan rasa mengerti terhadap orang lain.
Inteligensi Emosi berbeda dan terkait sedikit dengan Inteligensi intleketual (IQ). IQ hanya sedikit dapat dilihat sebagai dasar awal untuk skill teknis. Inteligensi Emosional adalah dasar untuk lebih sosial, kemampuan antar pribadi.