DIVERSIFIKASI PRODUK INDUSTRI TENUNAN TR

Teks penuh

(1)

DIVERSIFIKASI PRODUK INDUSTRI TENUNAN TRADISIONAL BALI MENUJU INDUSTRI KREATIF I Gede Sudirtha

Universitas Pendidikan Ganesha,Singaraja

sudirthaG@yahoo.com

Abstrak

Tujuan penelitian adalah: 1) mengetahui berbagai motif dan mengklasisifikasi motif tenunan tradisional di Bali, 2) menelusur berbagai permasalahan tentang kemungkinan pemanfaatan bahan dasar alternative, mengkaji pengembangan prototype alternatif produk pada industri tenun tradisional dengan memanfaatkan bahan baku, dan alternative produksi yang lebih murah, cepat, dan sesuai kebutuhan.Untuk mencapai tujuan di atas, maka penelitian ini diarahkan kepada konsep penelitian pengembangan dan pengkajian interpretatif-induktif-kualitatif. Data dikumpulkan dan dianalisis dengan melibatkan beberapa disiplin ilmu/ keterampilan seperti ; praktisi dan ahli desain (kerajinan, fashion, grafis), praktisi pariwisata, praktisi dan ahli pemasaran, dll. Hasil penelitian menunjukkan: (1) motifyang ada dalam kain tenun tradisional dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu: (a) Motif Geometris, (b) motif manusia. (c) motif tumbuh-tumbuhan. (d) motif binatang. (e) motif campuran (kombinasi), (2) belum ditemukan hasil karya tenunan dengan memanfaatkan bahan baku dari serat alternative, (3) untuk mempertahankan eksistensi kain tenun tradisional, maka perlu dikembangkan produk alternative yang relative murah, biaya produksi rendah, waktu pengerjaan relative lebih singkat, mengarah kepada selera pasar,namun masih mempertahankan ciri khas tradisional.

Kata kunci: tenunan tradisional, alternatif produksi, industri kreatif

Abstract

The purpose of the study were: 1) to know the various motifs and traditional woven motifs clasification in Bali, 2) searching various problems about the possible use of alternative base materials, reviewing the prototype development of alternative products on the traditional weaving industry by utilizing raw materials, and production of a cheaper alternative, fast, and in accordance.For achieve the above objectives, this research is directed to the development of research concepts and study interpretive-qualitative-inductive. Data were collected and analyzed by involving multiple disciplines/ skills such as; practitioners and experts design (crafts, fashion, graphics), tourism practitioners, practitioners and marketing experts, etc. The results showed: (1) motif present in traditional woven fabrics can be classified into five groups: (a) geometric motif, (b) human motives. (c) plants motif. (d) animal motifs. (e) motive mixture (combination), (2) has not been found to work woven by using raw materials from alternative fibers, (3) to maintain the existence of the traditional woven cloth, it is necessary to develop an alternative product that is relatively inexpensive, low production cost, processing time relatively shorter, leading to the tastes of the market, but still maintains a traditional characteristic.

Keywords: traditional weaving, production of alternative, creative industries

A. Latar Belakang

Sebagai daerah yang memiliki kebudayaan yang beranekaragam, Bali memiliki cukup banyak seni kerajinan dan seni lainnya. Salah satu kerajinan tersebut adalah kerajinan tenun. Tenunan merupakan salah satu ciri khas masyarakat Bali dan bahkan kebudayaan menenun juga begitu meluas di seluruh wilayah Indonesia. Meski memiliki kemiripan dengan daerah lain tenunan Bali termasuk yang paling banyak memiliki variasi. Setiap daerah, yang ada di Bali memiliki perbedaan ciri khas tenunan, seperti dapat dilihat pada motif atau corak tenunan. Keberadaan kain tenun dewasa ini sangat membutuhkan perhatian khusus dalam menghadapi tantangan dan perkembangan jaman. Dikuatirkan produk tenunan tradisional terdesak oleh berbagai produk tekstil yang datang dari luar. Kualitas

(2)

150.000 sampai Rp. 500.000,- per bulan (Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Vol. 9 .No.1 Januari 2012) lebih lanjut ditemukan pada saat tertentu pesanan produk seperti disebutkan dalam penelitian tersebut mengalami pasang surut. Pada saat mengalami masa surut (tidak ada pesanan) para pengerajin tidak dapat berbuat apa kecuali menunggu pesanan berikutnya. Jadi dari segi produktivitas hal ini sangat tidak menguntungkan para karyawan dan pengerajin. Sehingga tidak jarang dari para karyawan beralih profesi menjadi pembantu rumah tangga, atau menjadi pelayan toko di Kota Denpasar dan sekitarnya.

Dari artikel hasil penelitian yang dilakukan oleh Hesti Pusparini, 2011 tentang Strategi Pengembangan Industri Kreatif di Sumatera Barat (Studi Kasus Industri Kreatif Subsektor Kerajinan: Industri Bordir/Sulaman dan Pertenunan)”, menunjukkan beberapa kelemahan yang dihadapi industri dalam melaksanakan usahanya yang dirinci sebagai berikut. 1) Dari sisi sumber daya manusia ditemukan : jumlah dan kualitas SDM kurang memadai, kurangnya keinginan SDM baru yang ingin berkiprah di sulaman dan bordiran, kurangnya loyalitas, ketekunan, dan daya konsentrasi saat bekerja, perginya SDM ke bidang usaha lain dengan upah yang lebih tinggi. 2) Dari sisi permodalan : jumlah modal masih kecil/terbatas. 3) Dari sisi manajemen : kemampuan pengelolaan pembukuan masih belum baik, sebagian usaha tidak memiliki laporan keuangan, pengelolaan organisasi kurang baik karena masih terdapat beberapa, kendala manajemen seperti tidak adanya perencanaan, koordinasi kurang baik dan tidak adanya controlling dalam menjalankan usaha, 4) Dari sisi proses produksi : masih menggunakan mesin dan peralatan tradisonal yang pengerjaannya jauh lebih lama.

Dari urain tersebut mengindikasikan bahwa kain tenun tradisional sangat membutuhkan penanganan yang serius terutama dari sisi diversifikasi produk yang sesuai dengan selera pasar, sentuhan teknologi, desain, teknologi pengolahan bahan, teknologi produksi, serta manajemen dan pemasaran. Jadi hasil produksi yang baik dan berkualitas yang dihasilkan oleh pengerajin tenun tradisional perlu dianekaragamkan sesuai kebutuhan pasar dengan tidak meninggalkan ciri khas masing-masing. Sehingga proses produksi bisa berjalan lancar dan keunggulan

tenunan tradisional terus terjaga kelestariannya dan bahkan menjadi lebih berkembang. Pengembangan bahan baku/ pengolahan bahan baku alternative juga sangat diperlukan yang diperoleh dari lingkungan sekitar dengan biaya yang relative lebih murah. Pada prinsipnya dibutuhkan usaha-usaha strategis untuk memberdayakan usaha kerajinan tenun tradisional agar dapat menjadi penopang perekonomian, seperti yang terjadi di negara-negara maju (Jepang dan Taiwan).

Dari beberapa uraian di atas, maka permasalahan yang akan diteliti adalah “bagaimana mengembangkan dan menemukan desain, teknik, pemanfaatan bahan dasar alternatif, dan prototype produk sebagai alternatif produksi pada industri tenun tradisional yang bisa dikembangkan menjadi produk industri kreatif penunjang pariwisata”?. Dari pengkajian permasalahan tersebut dalam jangka panjang akan dihasilkan berbagai pengembangan produk kerajinan tradisional yang masih kental dengan ciri dan nilai-nilai tradisional akan tetapi sudah mendapat sentuhan teknologi dalam proses produksinya sehingga dapat dihandalkan sebagai produk unggulan yang kompetitif di pasar tradisional, nasional maupun internasional.

(3)

yang jelas. Dari 62 orang pengerajin di desa Jineng Dalem sebagian besar (55 orang atau 88.7%) menyebutkan keterampilan menenun diperoleh dari orang tua atau mertua. Sisanya 7 orang (11.3%) memperoleh keterampilan menenun dari orang lain/kerabat dan tetangga. Demikian juga pada pengerajin tenun yang lain yang ada di Bali memilik kendala yang hampir sama seperti produktivitas kerja, pemasaran, alih teknologi, masalah manajerial, maupun alih generasi seperti yang dikutif dari hasil penelitian Nusari, 2007 tentang tenun Gedongan di Desa Julah Kabupaten Buleleng.

Hasil penelitian Gede Raga 2006, tentang “wanita dan kain tenun cagcag dalam persepektif ekonomi keluarga di Kabupaten Jembrana menemukan keberadaan kerajinan tradisional tenun cagcag masih dipertahankan karena faktor ekonomi dan faktor warisan leluhur. Faktor ekonomi yang dimaksud adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga, kerajinan tenun cagcag merupakan penghasilan tambahan bagi keluarga di Jembrana. Sebagai warisan budaya leluhur dimaksudkan sebagai warisan budaya yang harus dipertahankan dan dilanjutkan oleh generasi penerusnya, dan ada suatu kepercayaan bahwa setiap wanita remaja harus bisa menenun.

Hasil wawancara tanggal 16 Pebruari 2009 dengan Dinas Perindagkop Kabupaten Buleleng menyebutkan usaha kerajinan tenun tradisional di Buleleng mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan salah satunya dari produksi yang mereka buat terbatas pada produk-produk yang digunakan untuk keperluan upacara terkait dengan Agama Hindu seperti: destar, saput, kain/ kamben, dan selendang. Sedangkan pola pembinaan yang dilakukan dari pemerintah (Disperindagkop) baru hanya sebatas mengikutsertakan pengerajin pada beberapa kegitan seperti : pameran dan studi banding ke daerah lain. Melihat kenyataan tentang keberadaan pengerajin dan tenunan tradisional yang sudah ada sejak dahulu kala sangat dibutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak yang berkompeten, karena kenyataannya Sebagai usaha kecil yang bersipat tradisional dan berkembang secara turun temurun, mereka memiliki potensi yang luar

biasa, akan tetapi perlu

ditumbuhkembangkan untuk menjadi usaha kecil yang mampu bersaing secara lokal, nasional, bahkan internasional. Akan tetapi sampai saat ini perkembangannya belum

mengembirakan. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan memberdayakan potensi yang mereka miliki dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti : melalui desain motif, berbagai alternatif produksi yang sesuai permintaan dan selera pasar, penguasaan teknik creative material (misalnya dengan memanfaatkan dan mengolah bahan-bahan alternatif), dll.

Sebagai luaran dari penelitian ini disamping dihasilkan publikasi di jurnal yanmg terakreditasi, juga sangat penting untuk menghasilkan sebuah buku yang dapat dijadikan sebagai bahan ajar/ sumber informasi yang dapat dimanfaatkan pengerajin dalam mengembangkan kreativitas dalam berproduksi yang di dalamnya berisi berbagai desain alternatif atau berupa gambar prototipe yang selanjutnya akan diujicoba dan disosialisasikan kepada para pengerajin tenunan tradisional.

Dari beberapa hasil penelitian sebelumnya dapat diidentifikasi beberapa masalah yang cukup lama menjadi kendala seperti bahan baku yang sulit didapat dan harganya sangat mahal, belum ada yang mengembangkan alternatif bahan baku serbagai pengganti, jumlah produksi terbatas yang diakibatkan lamanya proses pembuatan tenunan, jenis produksi yang dihasilkan kurang dapat mengantisipasi kebutuhan/ selera pasar, kendala modal dan pemasaran, regenerasi atau para penerus budaya menenun yang jarang diminati oleh generasi muda, dan mungkin banyak permasalahan lainnya, sehingga semakin jelas bahwa industri kerajinan tenunan tradisional sangat perlu dan sangat beralasan untuk terus diperhatikan dan perlu mendapatkan pembinaan dari berbagai pihak terkait beberapa kelemahan dan juga potensi yang dimiliki.

(4)

pengetahuan dan informasi, serta teknologi agar mampu bersaing ditengah persaingan global juga perlu mendapat kajian bertikutnya.

Dalam harian Bali Post, 7 Maret 2006 disebutkan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia makin merana, karena di pasar ekspor kalah saing dengan negara-negara lain seperti Cina dan India. Lebih lanjut disebutkan upaya yang harus dilakukan dalam meningkatkan kembali gairah TPT di Indonesia kususnya Bali adalah mempertahankan ciri khas. Pelaku industri semestinya mengangkat kembali kelebihan dari industri TPT. Sebagai salah satu sentra kerajinan tradisional, Bali sejak dulu dikenal memiliki beberapa kelebihan terutama produk hand made-nya. Buktinya baju-baju renda, dan tekstil tradisional lainnya, meskipun volumenya relatif kecil namun hingga kini mampu bertahan, dan setidaknya mampu menghidupi ratusan bahkan ribuan orang yang terlibat di dalamnya.

Dari uraian di atas, jenis tekstil tradisional seperti tenunan songket dan lainnya yang memiliki ciri khas tradisional Indonesia tetap bertahan, walaupun tidak eksis seperti produk tekstil modern. Karena memang secara kenyataan produk tekstil tradisional tetap diminati dan tidak ada duanya di dunia, karena proses perbuatannya, bahan, dan motif dikerjakan secara tradisional dengan teknik tertentu. Setidaknya dengan mempertahankan ciri khas yang dimiliki yang secara nyata dan sejak lama sudah diminati, harus dapat dijadikan keunggulan dalam daya saing dengan produk luar. Akan tetapi kerajinan tenunan tradisional dalam perjalanannya masih memerluakan uluran tangan dari berbagai pihak guna dapat terus bertahan dan berkembang menjadi industri kreatif sesuai kebutuhan pasar lokal, dan global.

Konsep Industri Kreatif

Daniel L. Pink (The Whole New Mind, 2005. Dalam Mari Elka Pangestu, Departemen Perdagangan RI, 2008) mengungkapkan bahwa di era kreatifitas, bila ingin maju kita harus melengkapi kemampuan teknologi (high tech) dengan hasrat untuk mencapai tingkat ‘high concept’ dan high touch. High concept adalah kemampuan menciptakan keindahan artistic dan emosional, mengenali pola-pola dan peluang, menciptakan narasi yang indah dan menghasilkan temuan-temuan yang belum disadari orang lain. High touch adalah kemampuan berempati, memahami

esensi interaksi manusia, dan menemukan makna.

Lebih lanjut disebutkan dalam konteks pola pikir kreatif terdapat beberapa prinsip dan pola pikir yang harus dimiliki di masa depan (five minds of the future) yang dikutip dari bukunya Howard Gardner. Beberapa konsep tersebut adalah: 1) pola pikir

mensintesa, yaitu kemampuan

menggabungkan ide-ide dari dari berbagai desiplin ilmu atau menyatukannya ke dalam satu kesatuan dan kemampuan menyampaikan hasil integrasi itu kepada orang banyak. Sering kali suatu solusi yang kita cari-cari dari suatu masalah ditemukan di di area disiplin lain yang sama sekali berbeda dan sepintas terlihat tidak ada korelasinya 2) pola pikir kreasi, yaitu kemampuan untuk mengungkapkan dan menemukan jawaban dari suatu permasalahan atau fenomena ditemuinya. Dalam konteks desain, proses kreasi selalu

diawali dengan pengumpulan

permasalahan-permasalahan yang ada yang harus dipecahkan. Di akhir proses, akan dihasilkan desain-desain baru yang tidak lain adalah hasil pemecahan suatu masalah. Tentu saja agar hasil maksimal, proses kreasi harus dibekali dengan bakat (talent) yang cukup. Dalam konteks bisnis, kemampuan ini bisa menggerakkan perusahaan-perusahaan untuk lebih proaktif, tidak hanya mengikuti trend, tetapi justru menciptakan trend.

Pola pikir dan prinsip-prinsip di atas selanjutnya dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan industry kreatif untuk menjadikan kain tenun tradisional semakin eksis dan berkembang sebagai produk industri kreatif berlandaskan budaya lokal guna menunjang industri pariwisata yang merupakan sector handalan Provinsi Bali.

(5)

mendayagunakan sumber daya yang dimilikinya (sesuai dengan pendekatan RBV) akan lebih mudah bagi IK karena yang dibutuhkan adalah kapabilitas dalam pendayagunaan sumber daya tersebut yaitu kapabilitas personal pemilik. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut maka secara teoritis pendekatan RBV lebih sesuai untuk diterapkan di IK. Keunggulan kompetitif dapat diciptakan jika pelaku industri secara efektif dapat mengidentifikasi, mengembangkan dan mendayagunakan sumber daya strategisnya untuk meningkatkan pendapatan. Sumber daya strategis ialah sumber daya yang memenuhi kriteria bernilai, mempunyai hambatan untuk diduplikasi dan dapat menyesuaikan diri. Sedangkan untuk dapat mengidentifikasi, mengembangkan dan mendayagunakan sumber daya strategisnya guna memperoleh keunggulan kompetitif, suatu perusahaan harus memiliki sifat entrepreneurial, yaitu kecenderungan untuk menghadapi risiko, inovasi dan sikap proaktif.

(http://www.petra.ac.id/~puslit/journals Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra VOL. 10, NO. 1, JUNI 2008: 50-64)

Dari forum group discusion antara Undiksha dan Dinas Koperasi, Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Buleleng tanggal 10 April 2013 disebutkan ‘produk-produk industri yang ada saat ini di Bali adalah produk berbasis budaya setempat dan dikembangkan sebagai

pendukung pariwisata karena

pengembangan produk mereka lebih banyak berdasar order dari wisatawan. Sehingga pengembangan industri di Buleleng berorientasi pada budaya dan pariwisata. Seperti misalnya industri tenun terdiri dari tenun cagcag dan tenun dengan ATBM. Industri ini banyak terdapat di Desa Jinengdalem, Desa Sinabun, Desa Petemon, Desa Kalianget dan di Desa Pacung. Permasalahan yang ada dan perlu mendapatkan penanganan adalah : 1) minimnya generasi penerus penenun dan desain, 2) untuk tenun songket produksi sangat lambat dan pasarnya terbatas, 3) keterbatasan Modal, dan 4) teknik pencelupan dan pewarnaan masih relatif kurang.

Hasil penelitian Mohammad Adam Jerusalem terkait pengembangan industry fesyen kreatif menyebutkan pentingnya Sistem ekonomi kreatif yang diyakini akan menggeser system ekonomi yang telah berjalan seperti sistem ekonomi pertanian,

ekonomi industri, dan ekonomi komunikasi. Indonesia yang kaya akan budaya dan berpenduduk besarmempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan ekonomi kreatif ini,termasuk didalamnya pengembangan industri kreatif bidang fashion. Untuk dapat mengembangkan industri kreatif bidang fashion maka diperlukan suatu grand design pengembangan industri kreatif bidang fashion. Dari studi diketahui tahapan perancangan industri kreatif bidang fashion terdiri dari penetapan visi, tujuan kunci, katalis, aspek pendukung, pendekatan klaster, dan strategi industri kreatif bidang fashion. Dalam ranah operasional, maka output dari perancangan ini adanya rencana aksi (action plan) pengembangan industri kreatif bidang fashion (Prosiding Seminar Nasional Program Studi Teknik Busana 2009).

Studi pemetaan industry kreatif yang telah dilakukan oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia tahun 2007 mendefinisikan industry kreatif sebagai berikut: “Industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut”

Subsektor yang merupakan industri berbasis kreativitas diantaranya adalah : a) kerajinan: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya antara lain meliputi barang kerajinan yang terbuat dari:batu berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bamboo, kayu, logam (emas, perak, tembaga, perunggu, besi) kayu, kaca, porselin, kain, marmer tanah liat dan kapur. Produk kerajinan pada umumnya hanya diproduksi dalam jumlah yang relative kecil (bukan produksi massal), b) fesyen: kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultasi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen (Mari Elka Pangestu, Departemen Perdagangan RI, 2008)

(6)

diteliti melalui keunggulan dan kelemahan yang dimilki oleh masing-masing industri akan dikaji, dan kemungkinan dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan industri secara keseluruhan seperti desain alternatif, teknik produksi, bahan baku, dll.

Dari beberapa uraian di atas pengembangan industri kerajinan yang kreatif sangat diperlukan guna mengangkat derajat industry tradisional yang keberadaannya sangat membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, praktisi pariwisata, ilmuan/ akademisi dengan pendekatan berbagai bidang ilmu dan keterampilan sehingga dapat berkembang seiring dengan perkembangan ipteks dan perkembangan pariwisata. Salah satu upaya pengembangannya adalah bagaimana memberdayakan sumber daya yang ada diberbagai industri kecil tradisional untuk dikaji sehingga diperoleh berbagai temuan untuk mengatasi permasalahan.

B. Metode Penelitian

Untuk dapat menjawab permasalahan penelitian yang dirumuskan, penelitian ini mengunakan paradigma interpretatif-induktif-kualitatif (Neuman, 2006; Creswell, 1994). 64).

Data tentang eksplorasi produk, teknik pengolahan bahan, proses produksi, desain, trend kebutuhan pasar/ konsumen yang diperoleh dari lapangan (berbagai industri kerajinan tradisional yang ada di Bali), selanjutnya dikaji dan dianalisis untuk memperoleh teori, metode/ teknik produksi, maupun pengolahan bahan (creative material). Data dikumpulkan dan dianalisis dengan melibatkan beberapa disiplin ilmu/ keterampilan seperti ; praktisi dan ahli desain (kerajinan, fashion, grafis), praktisi pariwisata, praktisi dan ahli pemasaran, dll. Disamping itu juga dilakukan pengkajian teori dari berbagai pustaka terkait seni kerajinan, desain produk kerajinan, creative material, dan strategi pengembangan industry kreatif. Sesuai dengan konsep penelitian ini, maka metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan pencatatan dokumen, serta studi literatur. Penelitian dilakukan di sentra-sentra pengerajin tenunan tradisional yang ada di sembilan kabupaten dan kota di Propvinsi Bali, termasuk juga di beberapa pasar/pusat oleh-oleh Bali yang ada di beberapa tempat di Bali seperti Pasar Sukawati dan Klungkung untuk memperoleh informasi dan data terkait trend pasar.

Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan, maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah : beberapa industri kerajinan terkait yang memiliki karakteristik yang relatif bervariasi, sedangkan yang menjadi responden adalah para pengerajin, pekerja yang bekerja sebagai pekerja upahan pada industri kerajinan tenun tradisional, pedagang di pasar oleh-oleh, instansi terkait seperti Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi kabupaten dan propinsi (Disperindagkop). Dengan demikian keseluruhan unit analisis yang diperhitungkan sebagai populasi dalam penelitian ini adalah para pengerajin tenunan tradisional dan pedagang/ pemilik kios pasar oleh-oleh yang ada di Provinsi Bali.

C. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Motif Tenunan tradisional

Motif atau juga dikenal dengan istilah ragam hias merupakan bagian penting dalam memproduksi kain. Menambahkan motif pada permukaan kain dapat menambah keindahan permukaan kain, sehingga menambah nilai dari kain tersebut. Rizki A. Zaelani (2004:18) menyebutkan motif adalah unit bentuk yang berulang yang dikenali pada sebuah karya seni. Dalam pengertian yang lebih luas, motif sebagai suatu pola atau tanda yang terjadi berulang berlaku sebagai struktur penting dalam sebuah ekspresi secara keseluruhan. Hery Suhersono (2004:5) menyatakan : desain motif adalah sebuah karya seni. Melalui penataan susunan berbagai garis, bentuk, warna dan figur yang diciptakan mengandung nilai-nilai keindahan dan dilandaskan pada perkembangan imajinasi. Tidak terlepas dari sesuatu yang dapat dipengaruhi oleh bentuk-bentuk alami benda, misalnya tumbuhan, figur (hewan dan manusia), bentuk garis (geometris), dan bentuk abstrak. Sebuah karya desain motif terlahir dari sebuah goresan. Artinya kelincahan dan keterampilan tangan pembuat desain sangat menentukan desain motif yang akan dihasilkan.

Beberapa jenis motif yang ada dalam kain tenun tradisional dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu:

(7)

2) Motif Manusia. Dalam karya tenunan tradisional motif ini dimanfaatkan dalam menghias permukaan kain dalam wujud gambar manusia seperti berbentuk wayang dan bentuk-bentuk dengan berbagai bentuk yang distilasi. Dari hasil temuan, motif ini sangat jarang dijumpai.

3) Motif Tumbuh-tumbuhan. Dalam karya tenunan, motif ini ditemukan dalam bentuk stilasi dari bagian tumbuh-tumbuhan seperti daun, bunga, ranting yang dirangkai dalam satu irama atau pergerakan yang sedemikian rupa yang dirangkai dengan sulur-sulur sehingga membentuk suatu pola ragam hias yang seimbang dan harmoni. Dalam istilah seni ragam hias hal ini sering diistilahkan dengan motif: kayonan, kembang kangkung, kembang ketampalan, kembang pare, buah anggur, kembang seruni, dan kembang anggrek.

4) Motif Binatang. Sama seperti halnya dengan pemanfaataan motif lain dalam kain tenunan. Motif bentuk binatang juga merupakan hasil stilasi beberapa bentuk binatang. Bentuk motif binatang yang dijumpai pada motif his tenunan seperti: burung, singa, ular, menjangan, gajah, kalajengking (celedu), kupu-kupu, capung, udang, cecak, dan beberapa binatang lain dalam symbol dalam mithologi.

5) Motif Campuran. Sesuai dengan namanya, motif campuran ini ditemukan pada kain tenun berupa kombinasi dari dua jenis motif atau lebih pada kain tenun.

Teknik pembuatan tenunan dengan peralatan tradisional (cagcag) atau ATBM (alat tenun bukan mesin) yang merupakan modifikasi dari alat tenun cagcag. Penerapan ragam hias pada kain dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu yang sering dikenal dengan reka latar dan reka rakit kain. Reka latar adalah menghias kain dengan ragam hias dengan teknik menambahkan ragam hias di atas permukaan kain, contohnya : penerapan ragam hias dengan teknik sulam, batik, prada, sablon atau cetak saring. Sedangkan penerapan ragam hias yang kedua adalah penerapan dengan teknik rekarakit yaitu penerapan ragam hias yang dibentuk bersamaan dengan proses pembuatan kain. Contohnya kain songket, lurik, atau tenun ikat pakan, ikat lungsi, dan double ikat. Pembuatan kain atau tenun ikat tidak terlepas dari bahan, alat dan proses pembuatannya. Bahan terdiri dari serat yang berasal dari alam seperti tanaman dan hewan. Di samping itu, terdapat pula serat buatan, yaitu serat hasil rekayasa manusia sebagai upaya untuk meniru serat alam.

Masing-masing serat memiliki keunggulan dan kelemahan. Berdasarkan peninggalan, diketahui bahwa pada awalnya manusia mengenal serat untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kain. Serat-serat ini dipilin dan dipintal menjadi benang. Setelah itu, benang kemudian ditenun menjadi sehelai kain.

2.Hasil penelusuran pasar tentang pemanfaatan bahan dasar alternative

Para pengerajin kain tenunan yang ada di sentra-sentra pengerajin di beberapa kabupaten di daerah Bali belum ada yang membuat karya tenunan dengan memanfaatkan bahan baku dari serat alternative. Seperti misalnya serat tumbuh-tumbuhan yang diolah terlebih dahulu. Seperti misalnya serat dari pelepah pisang, serat nenas, atau serat alam lainnya yang mudah dan murah diperoleh. Hal ini menunjukkan perlu hasil penelitian dan pengkajian yang lebih mendalam tentang penggunaan serat-serat alam yang mudah dan murah agar para pengerajin dapat memanfaatkannya untuk alternative produksi sebagai bagian dari produksi untuk membuat produk alternative selain kain tenun. Produk alternative yang dimaksud bisa berupa benda-benda kerajinan lain seperti lenan rumah tangga, atau hiasan meja, serbet, alas meja, atau barang kerajinan lain sesuai kebutuhan pasar oleh-oleh penunjang pariwisata.

3.Kajian pengembangan prototype alternatif produk pada industri tenun tradisional

(8)

relative murah, biaya produksi rendah, waktu pengerjaan relative lebih singkat, mengarah kepada selera pasar (modis), akan tetapi masih mempertahankan unsur tradisional (memiliki ciri khas tenun ikat), pemanfaatannya bervariasi, dll.

Dari dua alternative tersebut diyakini akan dapat mempertahankan eksistensi tenunan tradisional yang sangat banyak ragamnya, ciri khasnya, keunikannya, dll. Di Bali, di setiap kabupaten, kecamatan, bahkan mungkin desa dapat dipastikan memiliki tenunan tradisional yang masih mungkin diangkat dan diberdayakan (dengan dua alternative di atas). Kain tenun tradisional tersebut : kain tenun cerik bolong (tabanan), kain lurik, kain tenun mastuli, tenun gedogan, tenun cepuk, dll., semua tenunan tersebut memiliki ciri khas tersendiri.

Beberapa contoh alternative produksi tersebut adalah : pengembangan produk berbasis tenun local yang tidak membutuhkan pengerjaan dengan waktu lama, pengembangan produk fashion dengan sentuhan motif tenun yang tidak bersipat serak/ atau menyebar, tetapi bisa dibuat motif sesuai kebutuhan pada bagian-bagian busana tertentu sesuai desain atau prototype, dan tentunya harus sesuai selera pasar/ konsumen. Hal ini harus dikerjakan secara seriun dengan berkolaborasi dengan para designer, pengerajin oleh-oleh khas Bali, para seniman, dll.

D. Simpulan dan Saran

Dari uraian dan kajian hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan:

(1) Beberapa jenis motif yang ada dalam kain tenun tradisional dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu: (a) Motif Geometris, (b) motif manusia. (c) Motif Tumbuh-tumbuhan. (d) Motif Binatang. (e) Motif Campuran (kombinasi dari motif yang ada yang disusun dengan seni dan kombinasi yang tinggi) sehingga melahirkan motif campuran.

(2) Pengerajin kain tenunan yang di sentra-sentra pengerajin di daerah Bali belum ada yang membuat karya tenunan dengan memanfaatkan bahan baku dari serat alternative. Seperti misalnya serat dari pelepah pisang, serat nenas, atau serat alam lainnya yang mudah dan murah diperoleh. Hal ini memerlukan hasil penelitian dan pengkajian yang lebih mendalam tentang penggunaan serat-serat alternative yang mudah dan murah diperoleh, agar para pengerajin dapat dimanfaatkan oleh pengerajin

untuk alternative produksi (produk alternative selain kain tenun yang telah dijual di pasaran).

(3) Keberadaan kain tenun secara tradisional masih sangat dibutuhkan dalam sebagai bagian dari upacara/ seremoni dalam kaitannya dengan pakaian upacara agama Hindu, akan tetapi kebutuhan tersebut masih dalam katagori terbatas dan bersipat local, sehingga masih banyak para penenun local yang kadang kekurangan order, tersandung biaya produksi (modal besar), bahan baku yang mahal, proses pengerjaan yang membutuhkan waktu lama. Sehingga perlu pemecahan

persoalan tersebut. Untuk

mempertahankan eksistensi kain tenun tradisional, maka perlu dikembangkan produk alternative yang relative murah, biaya produksi rendah, waktu pengerjaan relative lebih singkat, mengarah kepada selera pasar (modis), akan tetapi masih mempertahankan unsur tradisional (memiliki ciri khas tenun ikat), pemanfaatannya bervariasi, dll.

Daftar Pustaka

Agus Mayuni dan Sudirtha. 2007. Produktivitas Kerja dan Tingkat Partisipasi Kerja (TPK) Wanita Pengerajin Tenunan Tradisional di Desa Jineng Dalem Kabupaten Buleleng Bali. Laporan Hasil Penelitian Kajian Wanita. Singaraja.

Bali Post. Selasa. & Maret 2006. Pertahankan Ciri Khas, Pemerintah Mesti Serius Garap Industri Garment.

Bali Post, Selasa 10 Pebruari 2009. Soal AS Berdayakan Produk Lokal Bukan Ancaman Bagi Ekspor Bali.

Dinas Kebudayan Propensi Daerah TK I Bali, 1994. Tata Busana Adat Bali. Departemen Perdagangan Republik

Indonesia.2008. “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 : Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009 – 2025”

Ina Primiana. 14-07-05. Strategi Baru

Pemberdayaan UKM.

http://perpustakaan.bappenas.go.id/ http://ilmukomputer.org/2006/09/27/pengelol

aan-pengetahuan-dan-modal-intelektual-untuk-pemberdayaan-ukm/Author: Administrator · Published: September 27, 2006 · Category: Knowledge Management.

(9)

Mohammad Adam Jerusalem. 2009. Perancangan Industri Kreatif Bidang

Fashion dengan Pendekatan

Benchmarkingpada Queensland’s Creative Industry. Prosiding Seminar Nasional Program Studi Teknik Busana. Jurusan PTBB-Fakultas Teknik-UNY. Nusari, 2007 Tenun Gedongan di Desa

Julah Kabupaten Buleleng. Skripsi. Singaraja Universitas Pendidikan Ganesha.

Raga, Gede 2006. Wanita dan Kain Tenun Cagcag dalam persepektif ekonomi keluarga di Kabupaten Jembrana. Laporan Penelitian. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja.

Ronald Nangoi. 2004. Pemberdayaan di Era Ekonomi Pengetahuan. Jakarta : PT Grasindo.

Sajogyo, Pudjiwati. 1983. Peranan Wanita Dalam Perkembangan Masyarakat Desa. Jakarta : C.V. Radjawali. http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajian/article/ view/4641/3528.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...