0
PENYELAMATAN GENERASI BANGSA MELALUI
PELESTARIAN DAN PENANAMAN NILAI-NILAI BUDAYA
TERINTEGRASI DALAM PENDIDIKAN
Oleh Siswanto, S.Pd.
Pogram studi : S2 Pendidikan Fisika
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
1 ABSTRAK
Pada era globalisasi sekarang ini, terjadi pergeseran dan penyimpangan perilaku siswa. Hilangnya jati diri siswa sebagai warga negara yang berbudaya dan bermartabat menjadi penyebab utama. Kekayaan budaya bangsa sebagai kebanggaan dan pegangan jati diri telah luntur dan terabaikan oleh siswa sebagai generasi penerus bangsa. Penanaman nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa kepada siswa dapat mencegah terjadinya pergeseran dan penyimpangan perilaku siswa. Oleh sebab itu, diperlukan upaya pelestarian dan penanaman nilai-nilai kebudayaan bangsa melalui kegiatan pendidikan.
PENDAHULUAN
Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing di era global. Upaya yang tepat untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan menjadi satu-satunya wadah yang dapat dipandang serta berfungsi sebagai alat untuk membangun SDM yang bermutu tinggi adalah pendidikan.
Menurut Joesoef (2001:198), pendidikan pada prinsipnya memikul amanah “etika masa depan”. Menurutnya, etika masa depan timbul dan dibentuk oleh kesadaran bahwa setiap anak manusia akan menjalani sisa hidupnya di masa depan bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya yang ada di sekitarnya. Hal ini berarti bahwa, di satu pihak, etika masa depan menuntut manusia untuk tidak mengelakkan tanggung jawab atas konsekuensi dari setiap perbuatan yang dilakukannya sekarang ini. Dilain pihak, manusia juga dituntut untuk mampu mengantisipasi, merumuskan nilai-nilai, dan menetapkan prioritas-prioritas dalam suasana yang tidak pasti agar generasi-generasi mendatang tidak menjadi mangsa dari proses yang semakin tidak terkendali di zaman mereka dikemudian hari.
2
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, pemerintah telah menyelenggarakan perbaikan-perbaikan, serta peningkatan mutu pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang, mulai dari perbaikan kurikulum pembelajaran, sampai pada upaya peningkatan kompetensi guru dalam mendidik.
Perubahan kurikulum pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan hidup manusia masa kini dan masa mendatang. Sehingga, diharapkan melalui perubahan kurikulum pendidikan, siswa menjadi pribadi yang cakap dan terampil dalam memecahkan segala persoalan yang ada dalam kehidupan masa kini.
Selain kurikulum, pemerintah juga senantiasa berupaya meningkatkan kompetensi guru dalam mendidik. Hal ini disadari bahwa secara langsung, kualitas suatu pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kualitas atau kompetensi yang dimiliki guru. Upaya yang dilakukan pemerintah diantaranya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan kepada guru supaya guru menjadi lebih terampil dalam mendidik siswa. Selain itu, pemerintah juga sering mengadakan seminar-seminar loka karya guna pengembangan keterampilan guru dalam mengajar.
Akan tetapi, fakta di lapangan tentang mutu pendidikan nasional tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia. Masalah pendidikan muncul dari segala aspek, baik masalah yang disebabkan karena faktor internal seperti sistem pendidikan yang diterapkan maupun masalah eksternal seperti adanya globalisasi yang berpengaruh terhadap perilaku manusia dalam hal ini adalah siswa.
Adanya arus globalisasi di era saat ini menjadi faktor utama penyebab pergeseran perilaku siswa. Pengaruh globalisasi yang masuk ke dalam diri tiap siswa Indonesia begitu kuat, sehingga membuat banyak generasi muda Indonesia seakan-akan kehilangan jati diri. Dari waktu ke waktu, para generasi penerus bangsa terlihat lupa akan kepribadian bangsa. Tingkah laku yang ditunjukan para generasi penerus bangsa tidak mencerminkan perilaku bangsa Indonesia.
3
yang egois, individualis, konsumtif, kehilangan nasionalisme, krisis kreatif, dan hancurnya moral individu.
Baru-baru ini, dunia pendidikan Indonesia di hebohkan dengan berbagai masalah terkait dengan pergeseran perilaku siswa akibat pengaruh globalisasi. Hal ini disebabkan oleh lunturnya nilai-nilai budaya yang tertanam dalam diri siswa. Menurut Koentjaraningrat (1996), kebudayaan merupakan suatu sistem ide/gagasan yang dimiliki suatu masyarakat yang kemudian dijadikan sebagai acuan dalam bertingkah laku pada kehidupan sosial bagi masyarakat tersebut.
Penyimpangan dan pergeseran perilaku siswa muncul di setiap jenjang pendidikan, mulai dari SD sampai pada tingkat perguruan tinggi. Pergeseran perilaku tersebut antara lain, kasus pembunuhan anak SD oleh teman satu sekolahnya, kasus video porno yang dilakukan oleh siswa siswi SMP dan SMA, kasus tawuran antar pelajar dari tingkat sekolah menengah sampai tingkat perguruan tinggi, serta kasus pemerasan oleh rekannya sendiri di lingkungan sekolah yang berujung pada kematian.
Fakta mengenai penyimpangan perilaku siswa di era sekarang menjadi
masalah besar yang harus diatasi bersama. Penyimpangan perilaku siswa disebabkan oleh arus globalisasi yang masuk dalam diri siswa melunturkan jati diri siswa sebagai individu bangsa yang bermartabat dan berbudaya. Oleh sebab itu, penanaman nilai-nilai budaya dalam diri siswa dapat menjadi benteng bagi siswa untuk memperkuat jati dirinya sebagai bangsa yang bermartabat.
Budaya merupakan identitas jati diri bangsa, sehingga bangsa yang menghargai budayanya dan mau mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadikan bangsa menjadi bermartabat di mata dunia (Koentjaraningrat, 1996). Oleh sebab itu, pelestarian dan penanaman nilai-nilai budaya bangsa dalam diri setiap individu menjadi sangat penting untuk dilakukan guna mencegah lunturnya moral dan hilangnya jati diri individu sebagai bangsa yang bermartabat.
4
budaya dapat dilakukan melalui sebuah kegiatan pendidikan di dalam kelas yang mengedepankan wawasan kebudayaan bangsa bagi setiap siswa sebagai pelaku pendidikan itu sendiri. Kegiatan pendidikan dapat dilakukan di semua mata pelajaran yang ada di kurikulum yang diterapkan di setiap jenjang pendidikan.
KEKAYAAN BUDAYA INDONESIA
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Menurut TAP MPR No.II tahun 1998, kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang berlandaskan Pancasila yang merupakan perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Sedangkan menurut Koentjaraningrat (1996), kebudayaan merupakan sesuatu yang khas dan bermutu dari suku bangsa dimana pun asalnya, asalkan dapat mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga.
Indonesia adalah Negara Kesatuan yang penuh dengan keragaman.
Indonesia terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Namun Indonesia mampu mepersatukan berbagai keragaman itu sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia "Bhineka Tunggal Ika" , yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Keragaman budaya atau “cultural diversity” menjadi suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia yang dapat memperkuat jati diri bangsa sebagai bangsa yang bermartabat. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah yang bersifat kewilayahan dan merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut.
5
posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Pada kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional.
Kekayaan budaya Indonesia tercermin dari keragaman dan kemajukan kebudayaan daerah. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda. Jenis-jenis kebudayaan yang ada di Indonesia seperti rumah adat, tarian, lagu, musik, alat musik, kesenian, makanan, dan permainan.
PEMAKNAAN NILAI-NILAI KEBUDAYAAN BANGSA
Setiap kebudayaan yang diwariskan terhadap bangsa memiliki nilai-nilai yang pantas untuk diamalkan (Sriyono, 2010). Nilai-nilai tersebut dapat dimaknai sebagai landasan pembentuk jati diri bangsa. Dalam pemaknaan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan bangsa, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Agama
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu,
kehidupan individu, masyarakat dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Atas dasar pertimbangan ini, pemaknaan nilai-nilai budaya harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama, yaitu untuk menjadikan warga negara yang beriman dan bertaqwa kepada Tuha Yang Maha Esa.
2. Pancasila
6 3. Norma masyarakat
Masyarakat Indonesia hidup dilingkungan masyarakat yang memiliki aturan atau norma-norma tertentu. Sehingga, pemaknaan budaya bangsa perlu di dasarkan pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu. Nilai-nilai tersebut yaitu berbudi pekerti baik, peduli terhadap lingkungan sekitar, dan memiliki semangat kekeluargaan yang tinggi.
4. Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional dapat menjadi sumber yang paling operasional dalam pemknaan terhadap nilai-nilai budaya bangsa. Nilai-nilai tersebut antara lain beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
PRINSIP PENGEMBANGAN NILAI-NILAI KEBUDAYAAN DALAM KEGIATAN PENDIDIKAN
Pada prinsipnya, pengembangan nilai-nilai budaya dalam pendidikan adalah dengan mengintegrasikan suatu kebudayan tertentu ke dalam suatu mata pelajaran tertentu yang akan diajarkan. Proses integrasi ini berarti bahwa kebudayaan tertentu yang ditampilkan dalam penyampaian mata pelajaran tertentu, tidak menjadi pokok bahasan utama dalam penyampaian materi.
Kegiatan pendidikan yang digunakan dalam pengembangan nilai-nilai budaya bangsa mengusahakan agar siswa mengenal dan menerima nilai-nilai budaya sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Pengembangan nilai-nilai budaya ini diharapkan dapat menjadi pondasi siswa dalam bersikap dan berperilaku di era globalisasi sekarang ini. Pengembangan nilai tersebut perlu dilakukan dengan prinsip pendidikan berkelanjutan, diterapkan pada semua mata pelajaran, terintegrasi dalam suatu mata pelajaran, serta aktif dan menyenangkan bagi siswa.
7
menilai pilihan, menentukan pendirian atas pilihan yang dipilihnya, dan kemudian siswa meyakini nilai tersebut sebagai suatu nilai yang perlu ada dalam dirinya untuk hidup dan menyelesaikan masalah. Ketiga proses tersebut, dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong pserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial.
PELESTARIAN DAN PENANAMAN NILAI-NILAI BUDAYA MELALUI PENDIDIKAN
Secara umum, berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa budaya merupakan keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan tersebut adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan tersebut digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem keparcayaan, sistem pengetahuan, tehnologi, seni dan sebagainya. Manusia sebagai mahkluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan yang telah dihasilkannya.
Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi siswa. Pada hakikatnya, pendidikan merupakan usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa.
8
1. Integrasi pelestarian dan penanaman nilai-nilai budaya dalam proses belajar mengajar di kelas
Pengintegrasian kegiatan pelestarian dan penanaman nilai-nilai kebudayaan dapat di desain sedemikian rupa dalam beberapa mata pelajaran. Pemetaan mata pelajaran yang akan di integrasikan perlu dilakukan dengan cermat, agar dapat terintegrasi secara harmonis dan tidak tumpang tindih. Sebagai contoh, proses pengintegrasian ke dalam mata pelajaran Fisika pada materi jarak dan perpindahan. Guru dapat menggunakan permainan tradisional Egrang untuk menjelaskan konsep jarak dan perpindahan. Sebelum memulai proses pembelajaran, guru merumuskan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan Egrang, misalnya rasa semangat yang tinggi, kerja keras, kerjasama dan kekeluargaan. Melalui proses ini, selain siswa lebih mudah memahami materi yang dijelaskan, karena proses pembelajaran yang bersifat kontekstual, siswa menjadi kenal kebudayaan daerah serta mampu memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Proses pemahaman nilai-nilai selain dilakukan secara langsung oleh siswa melalui kegiatan tersebut, juga dilakukan oleh guru melalui
penjelasan dan penguatan ketika guru menjelaskan dan meguatkan materi yang diajarkan. Dalam hal ini, kreatifitas guru untuk dapat mengembangkan sebuah pembelajaran sangat dituntut.
2. Pelestarian dan penanaman nilai-nilai budaya dalam pengembangan instrumen test
9
3. Pelestarian dan penanaman nilai-nilai budaya melalui pembuatan bahan ajar Pelestarian dan penanaman nilai-nilai budaya juga dapat dilakukan dengan pembuatan bahan ajar. Guru dapat mengembangkan bahan ajar yang berdasarkan pada wawasan kebudayaan. Pada bagian tertentu dalam bahan ajar, guru menampilkan sebuah informasi tentang suatu kebudayaan, menginformasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, dan kemudian memberikan sebuah permasalahan yang berkaitan dengan materi bahan ajar yang dibuat. Misalnya, pada mata pelajaran Fisika. Pada bahan ajar yang dibuat oleh guru, di bagian tertentu guru menampilkan informasi tentang seni bela diri silat yang merupakan asli budaya Indonesia. Pada bagian tersebut guru menampilkan sebuah informasi bahwa dalam permainan silat diperlukan sebuah keseimbangan tubuh. Oleh sebab itu, guru menampilkan sebuah permasalahan kepada siswa untuk menghitung titik keseimbangan tubuh manusia. Sehingga, rasa ingin tahu siswa muncul melalui pemberian masalah yang bersifat kontekstual. Selain itu, guru juga perlu menginformasikan kepada siswa terkait nilai-nilai yang terkandung dalam seni bela diri silat yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga,
selain bahan ajar menjadi lebih menarik perhatian siswa, melalui bahan ajar tersebut dapat mengenalkan budaya bangsa dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
4. Pelestarian dan penanaman nilai-nilai budaya melalui sebuah inovasi model pembelajaran
10
depan kelas. Hal ini dapat menumbuhkan semangat kekeluargaan dan kebersamaan. Guru menjadi fasilitator untuk menyampaikan dan menanamkan nilai-nilai tersebut kepada siswa.
PENUTUP
Upaya pelestarian dan penanaman nilai kebudayan diperlukan untuk membentengi siswa dari penyimpangan dan pergeseran perilaku siswa akibat dari arus globalisasi.
Pelestarian dan penanaman nilai-nilai kebudayaan bangsa dapat dilakukan melalui pengintegrasian ke dalam kegiatan pendidikan. Kegiatan pendidikan tersebut antara lain pengintegrasian ke dalam proses kegiatan belajar megajar di kelas dalam materi pembelajaran tertentu, pengembangan soal menggunakan kalimat yang penuh dengan wawasan kebudayaan, pengembangan bahan ajar yang mengandung wawasan kebudayaan, dan pengembangan sebuah model pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
http://hukum.kompasiana.com/2012/02/18/.html http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Indonesia.html
Joesoef, Daoed. (2001). Pembaharuan Pendidikan dan Pikiran. Jakarta: Kompas. Koentjaraningrat. (1996). Pengantar Ilmu Antropologi; Jakarta: Rineka Cipta. Sriyono. (2010). Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa melalui Integrasi
Mata Pelajaran, Pengembangan, dan Budaya Sekolah. Jakarta: