• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kepemim pinan terhadap kepuasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Kepemim pinan terhadap kepuasan"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL KEPEMIMPINAN ORGANISASI

“PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP

KEPUASAN KERJA KARYAWAN”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kepemimpinan Organisasi

Dosen Pengampu : Drs. Munawir Yusuf, M.Psi.

Disusun Oleh :

Elis Eka Kieswanti

G0111024

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

“PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KEPUASAN KERJA

KARYAWAN”

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Di dalam sebuah organisasi atau perusahaan pasti selalu berkaitan dengan sekelompok orang yang masing-masing mau bergerak sesuai dengan fungsinya demi mencapai tujuan bersama yang biasa disebut dengan sumber daya manusia. Adanya kumpulan orang-orang ini, akan menjadi sebuah tim yang solid dan mampu mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sejak awal, apabila terdapat seseorang yang mampu memimpin atau mengkoordinasi sekumpulan orang-orang ini, umumnya diberi sebutan pemimpin dan diakui oleh seluruh anggota-anggotanya.

Seorang pemimpin tak pernah lepas dari yang dinamakan kepemimpinan. Kepemimpnan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok. Ada tiga gaya kepemimpinan dalam suatu perusahaan atau organisasi pada umumnya, yang memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang khas, yaitu gaya kepemimpinan otoriter, demokratis dan laissez faire.

Gaya kepemimpinan yang ada pada seorang pemimpin dalam suatu perusahaan atau organisasi mempunyai perbedaan dalam penerapan gaya kepemimpinannya masing-masing, yang penerapan gaya kepemimpinan tersebut dapat memberikan pengaruh langsung kepada bawahannya terutama terhadap kepuasan kerja karyawan-karyawannya.

Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan sesuatu yang bersifat relatif dan individual, artinya dengan perbedaan yang ada tersebut, maka tingkat kepuasan kerja individu akan berbeda sesuai dengan sistem dan nilai yang berlaku pada masing-masing individu, rasa puas bukanlah merupakan sesuatu yang tetap, karena dapat dipengaruhi oleh kekuatan dari dalam maupun dari luar lingkungan kerja.

(3)

Keberhasilan dari pencapaian tujuan yang diinginkan tidak hanya ditentukan oleh kepribadian, kecakapan, serta kemampuan seorang pemimpin saja, tapi ada satu hal yang sangat berpengaruh yaitu penerapan suatu model atau gaya kepemimpinan sebagai simbol dari seorang pemimpin untuk melaksanakan fungsi dan perannya yang secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi lingkungan internal organisasinya, terutama bagi para karyawannya.

Gaya kepemimpinan yang ada pada seorang pemimpin sangat berpengaruh dan berperan aktif dalam penciptaan iklim kerja. Para karyawan akan melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik apabila tercermin pada proses penerimaan terhadap model atau gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh pemimpin mereka. Secara tidak langsung suatu model atau gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin sangat berpengaruh dominan terhadap kepuasan kerja karyawan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kepuasan Kerja Karyawan.”

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan diteliti:

Apakah Gaya Kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap Kepuasan Kerja Karyawan?

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja karyawan.

Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan. 2. Untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja.

3. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja karyawan

(4)

BAB II LANDASAN TEORI a. Variabel Tergantung

Definisi

T. Hani Handoko (2002:193) mendefinisikan: ”Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana karyawan memandang pekerjaan mereka”. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini tampak dari sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapinya dalam lingkungannya.

Gibson (2001:67) mendefinisikan: “Kepuasan kerja adalah sikap seseorang terhadap pekerjaan mereka. Sikap ini berasal dari persepsi mereka tentang pekerjaanya, maksudnya sejauh mana faktor dalam pekerjaannya dapat memenuhi kebutuhan pribadinya”. Kepuasan kerja merupakan suatu reaksi emosional yang komplek yang merupakan akibat dari dorongan keinginan, tuntutan dan harapan-harapan karyawan terhadap pekerjaan yang dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang dirasakan karyawan sehingga menimbulkan rasa senang, puas ataupun tidak puas.

Wexley dan Yulk (2000:129), mendefinisikan: “Kepuasan kerja adalah cara seorang pekerja mengerjakan pekerjaannya. Kepuasan kerja merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaannya yang didasarkan atas aspek-aspek pekerjaannya yang bermacam-macam”.

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu kepuasan kerja adalah sikap seorang pekerja terhadap pekerjaannya yang bisa dicerminkan oleh sikap menyenangkan atau tidak menyenangkan melalui aspek pekerjaannya.

Aspek-aspek / dimensi dari variabel tergantung

1. Kerja yang secara mental menantang.

(5)

tantangan yang sedang, kebanyakan karyawan akan didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar pengupahan komunitas, kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. tidak semua orang mengejar uang. Banyak orang bersedia menerima baik uang yang lebih kecil untuk bekerja dalam lokasi yang lebih diinginkan atau dalam pekerjaan yang kurang menuntut atau mempunyai keleluasaan yang lebih besar dalam kerja yang mereka lakukan dan jam-jam kerja. Tetapi kunci yang manakutkan upah dengan kepuasan bukanlah jumlah mutlak yang dibayarkan; yang lebih penting adalah persepsi keadilan. Serupa pula karyawan berusaha mendapatkan kebijakan dan praktik promosi yang lebih banyak, dan status sosial yang ditingkatkan. Oleh karena itu individu-individu yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi dibuat dalam cara yang adil (fair and just) kemungkinan besar akan mengalami kepuasan dari pekerjaan mereka.

3. Kondisi kerja yang mendukung.

Karyawan peduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas. Studi-studi memperagakan bahwa karyawan lebih

(6)

5. Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan.

Pada hakikatnya orang yang tipe kepribadiannya kongruen (sama dan sebangun) dengan pekerjaan yang mereka pilih seharusnya mendapatkan bahwa mereka mempunyai bakat dan kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut, dan karena sukses ini, mempunyai kebolehjadian yang lebih besar untuk mencapai kepuasan yang tinggi dari dalam kerja dimensi itu adalah upah, pekerjaan, kesempatan promosi, penyelia (supervisi) dan rekan sekerja (co-workwer).

Kemudian Gilmer dalam As’ad (2007:115), mengemukakan bahwa faktor-faktor yang dapat menimbulkan kepuasan kerja adalah kesempatan untuk maju, keamanan kerja, aspek social dalam pekerjaan, komunikasi (antara pimpinan dan bawahan), dan fasilitas. Sedangkan As’ad (2007;119), berpendapat bahwa kepuasan kerja ditimbulkan karena faktor yang memiliki hubungan dengan pekerjaan, kondisi kerja, teman sekerja, pengawasan, promosi dan upah.

Dalam prakteknya, ciri-ciri kepemimpinan yang menonjol dan perilaku seorang pimpinan dalam menghadapi situasi tertentu tergantung pada apa yang ingin dicapai oleh seorang pimpinan yang bersangkutan. Menurut Siagian (2003:132) serangkaian penelitian oleh para ahli dan banyak pengalaman praktisi menunjukkan bahwa apabila kepuasan kerja dikalangan para bawahan atau karyawan yang ingin dikejar oleh seorang pimpinan, maka gaya kepemimpinan demokratis sebagai salah satu ciri-ciri gaya kepemimpinan yang paling tepat untuk diterapkan, karena dengan merasa dihargai para karyawan didorong untuk berusaha sekuat tenaga yang pada akhirnya melahirkan kepuasan kerja.

(7)

dalam penerapannya tergantung dengan situasi dan kondisi tertentu dari masing-masing organisasi dan perusahaan.

b. Variabel Bebas

Definisi

Banyak ahli mengemukakan definisi tentang kepemimpinan diantaranya Sunindhia dan Widiyanti (1993:4), mengemukakan : ”Kepemimpinan adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang-orang agar bekerja sama menuju suatu tujuan tertentu yang mereka inginkan bersama.” Dengan perkataan lain kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi perilaku manusia dan mengendalikan orang-orang dalam organisasi, supaya perilaku mereka sesuai dengan perilaku yang diinginkan oleh organisasi.

Kemudian R.D. Agarwal dalam Anoraga dan Suyati (2005:186) mengatakan kepemimpinan adalah :” Seni mempengaruhi orang lain untuk mengarahkan kemauan mereka”. Selanjutnya Gibson (2001:186) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah upaya penggunaan pengaruh bukan paksaan (concoersive) untuk memotivasi orang-orang untuk mencapai tujuan.

Dari definisi di atas jelas bahwa kepemimpinan melibatkan kemampuan mempengaruhi. Kemampuan mempengaruhi ini mempunyai maksud untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Ada beberapa sumber kekuasaan yang dapat digunakan oleh pemimpin dalam hubungannya dalam melaksanakan kepemimpinannya, dalam Anoraga dan Suyati (2005:223) yaitu :

Kekuasaan Koersif (Coersive Power)

Disini pemimpin yang bersangkutan mengendalikan diri pada perasaan takut dan yang diusahakan atas perkiraan bahwa pihak bawahan menganggap bahwa hukuman diberikan karena mereka tidak menyetujui tindakan-tindakan dan keyakinan pihak atasan.

Kekuasaan karena diberikannya penghargaan (Reward Power)

(8)

Kekuasaan karena memiliki suatu keahlian (Expert Power)

Kekuasaan ini timbul karena seorang individu memiliki skill khusus, pengetahuan atau keahlian tertentu.

Kekuasaan karena identifikasi dengan orang yang dikagumi (Referent Power)

Kekuasaan ini didasarkan atas identifikasi seorang pengikut dengan seorang pemimpin yang dikagumi dan sangat dihargai.

Kekuasaan karena kewenangan yang sah (legitimate Power).

Jenis kekuasaan ini dimiliki oleh seorang pemimpin karena ia di berikan kewenangan resmi untuk melaksanakan kekuasaannya.

Kepemimpinan yang efektif merupakan persyaratan vital bagi kelangsungan hidup dan keberhasilan organisasi atau perusahaan. Kepemimpinan itu dikatakan efektif atau tidak tergantung dari gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin. Karena sudah jelas bahwa gaya kepemimpinan akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap efektifitas kepemimpinannya.

Telah banyak ahli mendefinisikan tentang pengertian gaya kepemimpinan, diantaranya adalah Effendi (2002:28), berpendapat bahwa “ Gaya Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin melaksanakan kegiatannya dalam upaya membimbing, memandu, mengarahkan dan mengontrol pikiran, perasaan, atau perilaku seseorang atau sejumlah orang untuk mencapai tujuan tertentu”.

Kemudian Flippo dalam Heidjrahman dan Husnan (2000:224), mengatakan bahwa : “ Gaya Kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk mencapai suatu tujuan tertentu”.

(9)

Aspek-aspek

Kepemimpinan Otoriter

Winardi (2000:62) mendefinisikan: “Kepemimpinan otoriter didasarkan atas perintah-perintah, pemaksaan dan tindakan yang arbitrer dalam hubungan antara pimpinan dengan pihak bawahan. Pemimpin disini cenderung mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan, pemimpin melaksanakan pengawasan seketat mungkin dengan maksud agar pekerjaan tersebut dilaksanakan sesuai dengan rencana”.

Menurut Sunindia dan Widiyanti (1993:9), menyatakan bahwa kepemimpinan secara otoriter artinya pemimpin menganggap organisasi sebagai milik sendiri. Dimana seorang pemimpin mengatur para bawahan dengan tidak memperhatikan keinginan para bawahan. Pemimpin seperti ini sering memberikan ancaman-ancaman dan sering pula dengan paksaan.

Menurut Kartono (2000:71), gaya kepemimpinan otoriter berdasarkan pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi, pemimpin selalu ingin berperan sebagai pemain tunggal. Setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya.

Kepemimpinan Otoriter mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Wewenang mutlak terpusat pada pimpinan. 2. Keputusan selalu dibuat oleh pimpinan. 3. Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan.

4. Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan.

5. Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahannya selalu dilakukan secara ketat. 6. Prakarsa selalu datang dari pimpinan.

7. Kaku dalam bersikap.

8. Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh pimpinan.

9. Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan atau pendapat.

Kepemimpinan Demokratis

(10)

hubungan antara pimpinan dan bawahan bukan sebagai majikan dan buruh, akan tetapi sebagai saudara terhadap teman sekerjanya.

Menurut Sudarman Danim (2000:75), inti dari demokrasi adalah keterbukaan dan keinginan memposisikan pekerjaan dari, oleh dan untuk bersama. Tipe kepemimpinan demokratis bertolak dari asumsi bahwa hanya dengan kekuatan kelompok, tujuan-tujuan yang bermutu dapat dicapai. Pemimpin yang demokratis berusaha lebih banyak melibatkan anggota kelompok dalam memacu tujuan-tujuan.

Kepemimpinan demokratis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Wewenang pimpinan tidak mutlak.

2. Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan.

3. Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan. 4. Kebijaksanaan dibuat bersama antara pimpinan dan

bawahan.

5. Komunikasi berlangsung timbal balik, baik yang terjadi antara pimpinan dan bawahan maupun antara sesama bawahan.

6. Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan. 7. Banyak kesempatan bagi bawahan untuk menyampaikan

saran, pertimbangan atau pendapat.

8. Terdapat suasana saling percaya, saling hormat menghormati dan saling menghargai.

9. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul bersama pimpinan dan bawahan.

Kepemimpinan Laissez Faire

Winardi (2000:64), mengemukakan dalam kepemimpinan laissez faire seorang pemimpin memberikan kebebasan seluas-luasnya pada para pengikutnya dalam menentukan aktifitas-aktifitasnya. Pemimpin tidak berpartisipasi, atau apabila hal itu dilakukan maka partisipasi tersebut tidak berarti.

(11)

melaksanakan suatu tugas, sedangkan ia sendiri tidak mengambil prakarsa apa-apa.

Kepemimpinan Laissez Faire mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Pimpinan melimpahkan wewenang lebih banyak sepenuhnya kepada bawahan.

2. Keputusan lebih banyak dibuat oleh para bawahan.

3. Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh para bawahannya.

4. Hampir tidak ada pengawasan tehadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan yang dilakukan oleh para bawahan.

5. Hampir tidak ada pengarahan dari pimpinan. 6. Kebijaksanaan banyak dibuat oleh para bawahan. 7. Prakarsa banyak dibuat oleh bawahan.

8. Peranan pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok.

9. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh orang perorang.

Apakah seorang pimpinan itu otoriter, demokratis dan laissez faire dapat dilihat dari gaya kepemimpinan mana yang sering ditonjolkan atau dominan dipakai dalam kepimpinannya. Ada enam aspek dalam suatu gaya kepemimpinan yaitu: aspek kewenangan, pengambilan keputusan, proses komunikasi, pelaksanaan pekerjaan, pengawasan dan sikap dalam menghadapi bawahan. Keenam aspek tersebut akan nampak pada perilaku pimpinan dalam menghadapi bawahan.

Empat Gaya Kepemimpinan dari Empat Macam Kepribadian

1. GAYA KEPEMIMPINAN KARISMATIS

Kelebihan gaya kepemimpinan karismatis ini adalah mampu menarik orang. Mereka terpesona dengan cara berbicaranya yang membangkitkan semangat. Biasanya pemimpin dengan gaya kepribadian ini visionaris. Mereka sangat menyenangi perubahan dan tantangan.

(12)

ternyata tidak dilakukan. Ketika diminta pertanggungjawabannya, si pemimpin akan memberikan alasan, permintaan maaf, dan janji.

2. GAYA KEPEMIPINAN DIPLOMATIS

Kelebihan gaya kepemimpinan diplomatis ini ada di penempatan perspektifnya. Banyak orang seringkali melihat dari satu sisi, yaitu sisi keuntungan dirinya. Sisanya, melihat dari sisi keuntungan lawannya. Hanya pemimpin dengan kepribadian putih ini yang bisa melihat kedua sisi, dengan jelas! Apa yang menguntungkan dirinya, dan juga menguntungkan lawannya.

Kesabaran dan kepasifan adalah kelemahan pemimpin dengan gaya diplomatis ini. Umumnya, mereka sangat sabar dan sanggup menerima tekanan. Namun kesabarannya ini bisa sangat keterlaluan. Mereka bisa menerima perlakuan yang tidak menyengangkan tersebut, tetapi pengikut-pengikutnya tidak. Dan seringkali hal inilah yang membuat para pengikutnya meninggalkan si pemimpin.

3. GAYA KEPEMIMPINAN OTORITER

Kelebihan model kepemimpinan otoriter ini ada di pencapaian prestasinya. Tidak ada satupun tembok yang mampu menghalangi langkah pemimpin ini. Ketika dia memutuskan suatu tujuan, itu adalah harga mati, tidak ada alasan, yang ada adalah hasil. Langkah – langkahnya penuh perhitungan dan sistematis.

Dingin dan sedikit kejam adalah kelemahan pemimpin dengan kepribadian merah ini. Mereka sangat mementingkan tujuan sehingga tidak pernah peduli dengan cara. Makan atau dimakan adalah prinsip hidupnya.

4. GAYA KEPEMIMPINAN MORALIS

Kelebihan dari gaya kepemimpinan seperti ini adalah umumnya Mereka hangat dan sopan kepada semua orang. Mereka memiliki empati yang tinggi terhadap permasalahan para bawahannya, juga sabar, murah hati Segala bentuk kebajikan ada dalam diri pemimpin ini. Orang – orang yang datang karena kehangatannya terlepas dari segala kekurangannya.

(13)

c. Hubungan antara X dan Y

Setiap pemimpin dari organisasi atau perusahaan yang satu dengan yang lain mempunyai perbedaan dalam penerapan gaya kepemimpinan, yang mana penerapan gaya kepemimpinan itu memberikan pengaruh kepada para bawahan terutama terhadap kepuasan kerja yang dinyatakan dengan sikap bawahan terhadap pekerjaannya.

Menurut penelitian yang diakukan oleh Branca dalam Efendi (2004:33), pada gaya kepemimpinan demokratis bawahan bekerja dengan penuh kegairahan. Sedangan pada gaya kepemimpinan otoriter bawahan bekerja penuh dengan perasaan tertekan dan bahkan sering terjadi ketegangan antara bawahan, dan pada gaya kepemimpinan laissez faire bawahan bekerja secara tidak teratur. Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa penerapan gaya kepemimpinan akan memberikan pengaruh terhadap kepuasan kerja bawahan.

d. Kerangka Pikir

Berdasarkan studi pustaka di atas, maka dapat dibuat suatu kerangka analisis untuk mengetahui Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kepuasan Karyawan.

X

Y

Gambar 1. Kerangka Analisis

Pada gambar 1. arah panah menunjukkan adanya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya. Sebagai variabel pengaruh (X) gaya kepemimpinan, sedangkan variabel terpengaruh (Y) kepuasan kerja.

Definisi Operasional

1. Gaya kepemimpinan adalah perilaku seorang pemimpin dalam usahanya mempengaruhi bawahannya untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.

Gaya kepemimpinan tersebut terdiri dari:

 Gaya Kepemimpinan Otoriter

 Gaya Kepemimpinan Demokratis

 Gaya Kepemimpinan Laissez Faire

(14)

 Promosi

 Kondisi kerja

 Teman sekerja

 Pengawasan

 Gaji/upah

e. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang sebenarnya masih harus diuji secara empiris. Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan studi pustaka, maka dalam penelitian ini dapat dibuat hipotesis sebagai berikut:

(15)

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dari pengolahan data dan analisis, maka pada bagian ini akan ditarik kesimpulan yang akan dijabarkan sebagai berikut :

1. Berdasarkan hipotesis peneliti bahwa kepuasan kerja dipengaruhi secara positif oleh gaya kepemimpinan.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepemimpinan-menurut-para-ahli/#ixzz1ijX4CPTU

http://organisasi.org/jenis_dan_macam_gaya_kepemimpinan_pemimpin_klasik_otoriter_dem okratis_dan_bebas_manajemen_sumber_daya_manusia

http://wapannuri.com/a.kepemimpinan/kepemimpinan_efektif.html

http://felixdeny.wordpress.com/2012/01/07/definisi-kepemimpinan-dan-macam-macam-gaya-kepemimpinan/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kepuasan_Kerja

http://journal.usm.ac.id/jurnal/dinamika-manajemen/630/detail/

http://ejournal.unisridigilib.ac.id/index.php/Manajemen/article/view/86

http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/index.php?

option=com_content&view=article&id=1304:pengaruh-kepuasan-kerja-motivasi-kerja-gaya- kepemimpinan-dan-budaya-kerja-terhadap-kinerja-karyawan-rumah-sakit-royal-progress-jakarta&catid=21&Itemid=412

http://manajemenringga.blogspot.com/2012/06/pengaruh-gaya-kepemimpinan-dan-motivasi.html

http://journal.usm.ac.id/jurnal/dinamika-manajemen/324/detail/

http://ejournal.undip.ac.id/index.php/smo/article/download/4190/3811

http://ojs-stie.harapan.ac.id/index.php/JKB/article/view/75

http://myrahdika.ueuo.com/jurnal2/

PEMIMPINANPENGARUHNYATERHADAPKEPUASANKERJAKARYAWAN.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Data ini juga menunjukkan secara spesifik penempatan oksida besi di antara lembaran bentonit yang makin meningkat dengan meningkatnya suhu seperti yang diperoleh dari data

Kawasan hutan mangrove di stasiun riset Yayasan Gajah Sumatera (YAGASU) Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan dipilih sebagai tempat penelitian karena

Penyebab terjadinya tindak pidana Narkotika yang dilakukan oleh anggota Polri di wilayah Polda Jatim antara lain yang pertama adalah karena alas an ekonomi,

Guna mengetahui seberapa efektif dan efisiennya komunikasi pemasaran yang dilaksanakan oleh perusahaan dalam hal ini adalah bank-bank penyelenggara kartu kredit harus

Tercapainya pengelolaan dan pemeliharaan sarana rumah sakit dengan baik, bermutu, profesional dan memuaskan sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku

Seperti yang telah disebutkan dalam sub bab sebelumnya bahwa perbedaan antara Ibn hazm dan al-Rafi‟i tentang meminang di atas pinangan orang lain adalah hanya

Maka dari itu cara saya dalam menginspirasi adik-adik adalah dengan memberikan pengalaman langsung, akan lebih baik yang sudah saya alami untuk diceritakan ke adik atau

Huang, Eveleth & Huo (1998) menjelaskan Chinese work value dipengaruhi oleh ajaran konfunsianisme terdiri dari collectivism (memprioritaskan tujuan kelompok atas