KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan sekalian Alam, yang memberikan kita harapan dan pengetahuan untuk mengenal, mempelajari dan berbuat sesuatu yang menguntungkan bagi kemaslahatan makhluk.
Makalah ini disusun selain untuk menyelesaikan tugas kelompok juga untuk memberi pandangan pengetahuan dan ilmu tambah bagi semua mahasiswa mengenai tata cara eksekusi terhadap tindak pidana korupsi, oleh karena itu penulis yang berbentuk kelompok ini menuliskan sebuah makalah yang berjudul Eksekusi Tindak Pidana Korupsi dan Dasar Hukum.
Terima kasih penulis ucapkan kepada guru-guru pembimbing yang senantiasa mengarahkan dan memberikan masukan baik materi maupun ide-ide demi tersusunnya makalah ini.
Terima kasih juga penulis ucapkan kepada teman-teman anggota kelompok yang sudah meluangkan waktu, menyalurkan ide-ide, memberikan pengarahan, menciptakan pola penyususan yang sistematis untuk terwujudnya makalah ini.
Harapan penulis dan kelompok adalah tercipta pola pikir yang mementingkan kepentingan khalayak ramai dibandingkan dengan kepentingan yang bersifat koruptif yang merugikan diri mereka sendiri, masyarakat, negara dan generasi mendatang. Selain itu penulis juga berharap dengan tersusunnya makalah ini dapat memberikan pandangan umum mengenai tata cara eksekusi asset tipikor berdasarkan perundang-undangan atau dasar hukum yang berlaku.
Penulis dan kelompok juga berharap sudi kiranya para pembaca untuk memberikan kritik membangun, dan saran yang berguna agar makalah ini dapat memberikan makna dalam, yang kita dan pembaca dapat mengambil sarat makna.
Jakarta, 18 November 2014
Kelompok 3 Pendidikan Anti Korupsi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
PENDAHULUAN ...1
PEMBAHASAN A. Pengertian Eksekusi ...2
B. Macam-Macam Eksekusi ...3
C. Dasar Hukum Eksekusi ...3
D. Contoh Kasus ...4
E. Cara Penyitaan Asset Dalam Negeri ...6
F. Cara Penyitaan Asset yang Berada Di Luar Negeri ...7
G. Faktor Penghambat Pengembalian Asset yang Di Luar Negeri ...8
H. Pelelangan Barang Hasil Korupsi ...8
KESIMPULAN ...10
DAFTAR PUSTAKA 12
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang sarat akan perkara korupsi bahkan sudah mendarah daging dalam tubuh bangsa ini, data yang dikumpulkan oleh World Bank menunjukkan indonesia adalah negara terkorup di asia tenggara, dengan berbagai kasus yang menggerogoti bak kanker ganas mulai dari sektor pemrintahan pusat, kementerian, bahkan ke sektor-sektor kecil diperdesaan.
Berbicara mengenai korupsi, banyak kalangan berpendapat bahwa korupsi sudah menjadi budaya bangsa ini dikarenakan korupsi memang sudah terjadi mulai saat bangsa ini didirikan, namun sebagian lagi berpendapat bahwa korupsi bukanlah budaya namun lebih didasari atas prilaku tamak, dan sifat konsumtif yang tidak dibaringi dengan pendapat.
Negara ini merupakan negara hukum, yang tentunya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai hukum, dalam hal ini pemerintah membentuk komite-komite dan instansi pemerintah yang mengawasi kinerja dan transparansi penggunaan anggaran pemerintah dan penilaian kinerja seperti, KPK, BAPPENAS yang sekarang dikenal dengan OJK, BPKP dan lainnya yang ditempatkan disetiap daerah di indonesia. Selain itu pemerintah juga membuka jalur komunikasi dengan masyarakat guna melaporkan setiap tindakan yang mencurigakan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah demi meminimalkan tindakan penyalahgunaan wewenang.
Bagi pejabat negara yang terbukti melalukan tindakan korupsi dan atau menyalahkan wewenang jabatannya untuk memperkaya diri sendiri, kelompok atau golongan tertentu maka akan diadili, setelah putusan hakim maka seluruh asset dan harta yang dihasilkan dari hasil korupsi akan disita dan dieksekusi oleh negara, dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai tata cara peng-eksekusian dan dasar-dasar hukum.
Adapun poin-point yang akan dijabarkan adalah membahas mencakup :
1. Pengertian Eksekusi bagi Tindak Pidana Korupsi 2. Dasar-Dasar Hukum Eksekusi
3. Contoh Kasus Tindak Pidana Korupsi yang di Eksekusi
4. Tindakan-Tindakan yang di Ambil Jika Terjadi Penolakan Eksekusi 5. Cara Penyitaan Asset Korupsi Dalam dan Luar Negeri
6. Hambatan Pemulangan Asset Korupsi yang Berada Di Luar Negeri 7. Pelelangan Barang Hasil Korupsi
Eksekusi adalah hal menjalankan putusan Pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap. Putusan Pengadilan yang dieksekusi adalah putusan Pengadilan yang mengandung perintah kepada salah satu pihak untuk membayar sejumlah uang, atau juga pelaksanaan putusan hakim yang memerintahkan pengosongan benda tetap, sedangkan pihak yang kalah tidak mau melaksanakan putusan itu secara sukarela sehingga memerlukan upaya paksa dari Pengadilan untuk melaksanakannya. Putusan Pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang mempunyai kekuatan eksekutorial. Ada pun yang memberikan kekuatan eksekutorial pada putusan Pengadilan terletak pada kepada putusan yang berbuyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Di samping itu putusan Pengadilan yang mempunyai titel eksekutorial adalah putusan yang bersifat atau yang mengandung amar “condemnatoir”, sedangkan putusan Pengadilan yang bersifat deklaratoir dan constitutif tidak dilaksanakan eksekusi karena tidak memerlukan eksekusi dalam menjalankannya. Menurut Sudikno Mertokusumo (1988 : 201) eksekusi pada hakekatnya tidak lain ialah realisasi daripada kewajiban pihak yang kalah untuk memenuhi prestasi yang tercantum dalam putusan Pengadilan tersebut. Pihak yang menang dapat memohon eksekusi pada Pengadilan yang memutus perkara tersebut untuk melaksanakan putusan tersebut secara paksa (execution force). Dalam pelaksanaan eksekusi dikenal beberapa asas yang harus dipegangi oleh pihak Pengadilan, yakni sebagai berikut :
1. Putusan Pengadilan harus sudah berkekuatan hukum tetap.
Sifat putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap adalah tidak ada lagi upaya hukum, dalam bentuk putusan tingkat pertama, bisa juga dalam bentuk putusan tingkat banding dan kasasi. Sifat dari putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap adalah litis finiri opperte, maksudnya tidak bisa lagi disengketakan oleh pihak-pihakyang berperkara. Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap mempunyai kekuatan mengikat para pihak yang berperkara dan ahli waris serta pihak-pihak yang mengambil manfaat atau mendapat hak dari mereka. Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dapat dipaksa pemenuhannya melalui Pengadilan jika pihak yang kalah tidak mau melaksanakannya secara sukarela.
2. Putusan tidak dijalankan secara sukarela.
kalah dengan sukarela melaksanakan putusan tersebut, dan dengan cara paksa melalui proses eksekusi oleh Pengadilan. Pelaksanaan putusan Pengadilan secara paksa dilaksanakan dengan bantuan pihak kepolisian sesuai dengan Pasal 200 ayat (1) .
B. Macam-Macam Eksekusi
Sudikno Mertokusumo,SH. (1988:201) mengemukakan ada tiga jenis eksekusi yaitu: (1) eksekusi putusan yang menghukum pihak yang dikalahkan untuk membayar sejumlah uang sebagaimana diatur dalam Pasal 196, dan Pasal 208 (2) eksekusi putusan yang menghukum orang untuk melakukan sesuatu perbuatan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 225, dan Pasal 259 (3) eksekusi riil yaitu pelaksanaan putusan hakim yang memerintahkan mengosongkan benda tetap kepada orang yang dikalahkan, tetapi perintah tersebut tidak di laksanakan secara sukarela.
Eksekusi terak ini diatur dalam Pasal 1033 Rv. dalam Pasal 200 ayat (11), dan Pasal 218 ayat (2). hanya mengenal eksekusi riil dalam penjualan lelang. Dalam praktek Peradilan dikenal dua macam eksekusi yaitu (1) eksekusi riil atau nyata sebagaimana yang diatur dalam Pasal 200 ayat (11), Pasal 218 ayat (2). dan Pasal 1033 Rv yang meliputi penyerahan, pengosongan, pembongkaran, pembahagian, dan melakukan sesuatu, (2) eksekusi pembayaran sejumlah uang melalui lelang atau executorial verkoop sebagaimana tersebut dalam Pasal 200. dan Pasal 215.
C. Dasar Hukum Eksekusi
1. Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana
2. Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negera yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
3. Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
4. Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
5. Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
7. Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2005 tentang Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia KPK
8. Undang-Undangn No. 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi 9. Peraturan Pemerintah No. 103 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah No. 63 Tahun 2005 Tentang Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia KPK
10.Undang-Undang No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian
D. Contoh Kasus
Bandung- Hakim Mahkamah Agung (MA) memvonis terpidana kasus Bansos Pemkot Bandung anggaran 2009-2010, Uus Ruslan hukuman enam tahun penjara
denda Rp 300 juta subsider kurungan 8 bulan penjara.
Putusan itu diketuk pimpinan Majelis hakim di MA, Artidjo Alkostar. Hukuman kepada Uus lebih berat dibanding putusan di Pengadilan Tinggi (PT) Jabar yang memvonis Uus dengan hukuman 2,5 tahun penjara.
Bahkan di tingkat Pengadilan Negeri (PN) Bandung Uus dan enam terdakwa lainnya pada kasus ini hanya divonis 1 tahun penjara. Saat di PN Bandung, ketua majelis hakimnya Setyabudi Tejocahyono.
Dalam salinan petikan putusan yang diterima PN Tipikor Bandung, majelis hakim menyatakan terdakwa Uus Ruslan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sma dan berlanjut.
"Menjatuhkan pidana penjara selama 6 enam tahun dan denda Rp 300 juta, jika denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 8 bulan," demikian dalam petikan putusan MA.
Kahumas PN Tipikor Bandung Djoko Indiarto didampingi Panmud Tipikor Susilo Nandang Bagio mengatakan, petikan putusan MA baru diterima PN Bandung Selasa (23/9/2014).
Putusan MA itu sendiri ditandatangani oleh hakim ketua Artidjo Alkostar dan dua hakim anggota yakni MS Lumme dan Leopold Luhut Hutagalung pada 13 Januari 2014." Jadi salinannya baru kita terima 9 bulan setelah putusan di MA," katanya.
Dia menyebutkan, pada salinan putusan MA itu juga tertera kewajiban bagi Uus untuk membayar uang pengganti sebesar Rp 1,4 miliar. Namun karena sebelumnya Uus dan enam terdakwa lainnya sudah mengembalikan kerugian negara pada kasus korupsi tersebut, maka kewajiban membayar uang pengganti itu langsung digugurkan.
Jika pemberitahuan itu sudah sampai ke Kejati, selanjutnya tugas jaksa untuk melakukan eksekusi terhadap terdakwa."Mengenai kapan waktu eksekusinya, itu sepenuhnya kewenangan jaksa," kata Djoko.
Terdakwa Kasus BBJ Kembalikan Kerugian Negara
KBRN Jember: Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jawa Timur, Jumat (5/9/2014), kembali melanjutkan sidang dugaan Kasus Korupsi Bulan Berkunjung Jember (BBJ) 2012 dengan menghadirkan 2 Terdakwa SSH, Mantan Kabaghumas Pemkab Jember dan GTH Ketua KONI.
Dengan agenda sidang Penyampaiaan Tuntutan Tim Jaksa Penuntut Umum. Dalam sidang yang digelar Selasa (2/9/2014), kemarin, Pengacara kedua terdakwa menitipkan uang pengembaliaan atas kerugiaan negara yang ditimbulkan dalam kasus korupsi BBJ 2012, sehingga hal tersebut menjadi pertimbangaan dalam penyampaiaan tuntutan tim jaksa yang akan dibacakan saat persidangaan kali ini.
Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Jember Hambaliyanto mengungkapkan, pengembaliaan kerugiaan negara yang dilakukan kedua terdakwa menjadi pertimbangaan tersendiri dalam penyampiaan Tuntutan bagi keduanya, sebab hal itu sudah menunjukan itikad baik atas pertanggung jawaban pengembaliaan kerugiaan negara dari kedua terdakwa.
“Dalam sidang kemarin, kedua terdakwa melalui pengacaranya menitipkan pengembaliaan kerugiaan negara sebesar 175 juta lebih atau sesuai dengan hasil audit yang dikeluarkan BPKP Jawa Timur,” ujar Hambaliyanto, Jumat (5/9/2014).
Ditambahkan olehnya, Pengembalian uang kerugian negara itu bisa menjadi pertimbangan yang meringankan hukuman terdakwa dan menjadi pertimbangan tersendiri bagi jaksa penuntut umum untuk menyusun tuntutan kedua terdakwa kasus korupsi BBJ itu.
“Untuk terdakwa SND masih terus kita pantau kondisi kesehataannya, hasil pemeriksaan Dokter yang bersangkutan divonis terkena Stroke sehingga tidak memungkinkan untuk diperiksa, namun jika kondisinya membaik tetap akan kita proses sesuai aturan hukum,” pungkas Hambaliyanto. (GL/AKS)
E. Cara Penyitaan Asset dalam Negeri
Upaya Jaksa Penuntut Umum dalam Melakukan Penyitaan Harta Kekayaan Sebagai Uang Pengganti Dari Terpidana Tindak Pidana Korupsi
Uang Pengganti adalah hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan kepada terpidana berupa pembayaran sejumlah uang yang disesuaikan dengan kerugian negara yang timbul karena perbuatan pidana korupsi.
Pidana pembayaran uang pengganti merupakan konsekuensi dari akibat tindak pidana korupsi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, sehingga untuk mengembalikan kerugian tersebut diperlukan sarana yuridis yakni dalam bentuk pembayaran uang pengganti.
Pasal 39 menyebutkan yang dapat dikenakan penyitaan adalah :
a. Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindak pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana;
b. Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya;
c. Benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan tindak pidana; d. Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana ;
e. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilaktikan.
f. Benda yang berada dalam sitaan karena perkara perdata atau karena pailit dapat juga disita untuk kepentingan penyidikan, penuntutan dan mengadili perkara pidana, sepanjang memenuhi ketentuan ayat (1).
F. Cara Penyitaan Aset yang Berada Diluar Negeri
pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi sebagai berikut:
2. Terdapat pula mekanisme dalam melakukan proses pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi, yaitu: pertama dengan melakukan pelacakan, selanjutnya aset yang sudah dilacak dan diketahui kemudian dibekukan, terakhir, aset yang dibekukan lalu disita dan dirampas oleh badan berwenang dari negara di mana aset tersebut berada, dan kemudian dikembalikan kepada negara tempat aset tersebut diambil melalui mekanisme-mekanisme tertentu.
Dengan diaturnya ketentuan mengenai bantuan hukum timbal balik di dalam UNCAC, maka upaya pengembalian aset dapat terlaksana dengan maksimal. Cara paling mudah dalam melakukan proses pengembalian aset yang berada di luar yurisdiksi negara korban adalah melalui bantuan hukum timbal balik. Ketika aset-aset hasil tindak pidana korupsi ditempatkan di luar negeri, negara korban yang diwakili oleh penyelidik, penyidik, atau lembaga otoritas dapat meminta kerjasama dengan negara penerima untuk melakukan proses pengembalian aset. hal ini sesuai dengan apa yang diatur dalam Pasal 46 UNCAC, di mana negara-negara penerima aset harus memberikan bantuan kepada negara korban dalam rangka proses pengembalian aset.
Lebih jauh dikritisi bahwa bantuan timbal balik merupakan hakikat dari kerja sama internasional dalam pengembalian aset. UNCAC memberikan jalan keluar yang sangat mudah kepada negara-negara korban dalam melakukan proses pengembalian aset. UNCAC mewajibkan setiap negara peserta untuk memberikan bantuan (timbal balik) kepada para negara korban yang membutuhkan. Bahkan penulis melihat bahwa bantuan timbal balik ini memberikan terobosan bagi para negara korban untuk menembus batasan-batasan konvensional yang selama ini menjadi penghambat dalam proses pengembalian aset.
G. Faktor Penghambat Pengembalian Asset yang Di Luar Negeri
Faktor-faktor penghambat atau permasalahan tersebut antara lain:
1. Pengaturan Hukum Nasional yang tidak Menunjang Keberlakuan UNCAC di Indonesia.
Semenjak UNCAC di adopsi oleh Majelis Umum PBB berdasarkan resolusi 58/ 4 tanggal 31 Oktober 2003, Indonesia telah meratifikasinya melalui Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan UNCAC pada tanggal 18 April 2006.
para negara korban untuk dapat melakukan kerja sama internasional dalam upaya pengembalian aset, tetapi setiap negara peserta harus mempunyai suatu peraturan nasional yang dapat memberlakukan UNCAC tersebut.
Permasalahannya di sini adalah ratifikasi Indonesia terhadap UNCAC tidak menjadikan penerapan proses pengembalian aset menjadi terlaksana secara maksimal. Karena Indonesia belum memiliki pengaturan khusus mengenai proses pengembalian aset yang didasarkan atas kerja sama internasional.
2. Tidak Adanya Kemauan Politik Pemerintah yang Kuat terhadap Upaya Pemberantasan Korupsi.
Proses pengembalian aset sebagai salah satu upaya pemberantasan korupsi memerlukan dukungan kuat dari pemerintah negaranya. Kemauan politik pemerintah merupakan faktor utama yang menentukan dalam berhasil tidaknya suatu upaya pemberantasan korupsi di suatu negara, khususnya terhadap proses pengembalian aset.
Hal ini terlihat dalam proses hukum kasus mantan Presiden Soeharto, di mana hingga saat Soeharto meninggal pun belum ada satu aset pun (hasil tindak pidana korupsi) yang berhasil dikembalikan.
H. Pelelangan Barang Hasil Korupsi
JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pemberantasan Korupsi melelang sejumlah barang hasil sitaan dari berbagai kasus korupsi yang sudah berkekuatan hukum tetap. Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa Nugraha mengatakan, kegiatan lelang ini dilakukan KPK setidaknya setahun sekali.
"Bukan barang rampasan tahanan, tapi barang yang statusnya dirampas untuk negara melalui putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap," ujar Priharsa melalui pesan singkat, Rabu (12/11/2014).
Sebanyak 42 barang sitaan yang dilelang oleh KPK, yang terdiri dari ponsel berbagai merek, laptop bermerek Toshiba, netbookbermerek Fujitsu, dan proyektor bermerek Toshiba.
Harga limit yang diterapkan beragam, tergantung jenis barang yang dilelang. Misalnya, untuk ponsel merek BlackBerry, kisaran harga limitnya antara Rp 400.000 hingga Rp 800.000.
Sementara proyektor Toshiba dikenakan harga limit sebesar Rp 500.000, laptop Toshiba dikenakan harga limit sebesar Rp 750.000, serta netbook bermerek Fujitsu dikenakan harga limit sebesar Rp 400.000.
Sebelum pelaksanaan lelang, peserta diminta menyerahkan uang jaminan lelang sejumlah yang tertera di daftar barang. Uang jaminan yang ditetapkan pun berbeda pada setiap barang, dengan kisaran antara Rp 20.000 hingga Rp 300.000.
dilunasi, maka akan dianggap wanprestasi dan uang jaminan akan disetorkan ke kas negara. Peserta tersebut juga akan dimasukkan ke dalam daftar hitam lelang.
Priharsa mengatakan, uang hasil lelang akan diserahkan ke kas negara. Setoran tersebut akan diserahkan dalam bentuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
KESIMPULAN
Eksekusi adalah hal menjalankan putusan Pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap. Putusan Pengadilan yang dieksekusi adalah putusan Pengadilan yang mengandung perintah kepada salah satu pihak untuk membayar sejumlah uang, atau juga pelaksanaan putusan hakim yang memerintahkan pengosongan benda tetap, sedangkan pihak yang kalah tidak mau melaksanakan putusan itu secara sukarela sehingga memerlukan upaya paksa dari Pengadilan untuk melaksanakannya.
Dalam pelaksanaan eksekusi dikenal beberapa asas yang harus dipegangi oleh pihak Pengadilan, yakni sebagai berikut :
1. Putusan Pengadilan harus sudah berkekuatan hukum tetap 2. Putusan tidak dijalankan secara sukarela.
1. Eksekusi putusan yang menghukum pihak yang dikalahkan untuk membayar sejumlah uang sebagaimana diatur dalam Pasal 196, dan Pasal 208.
2. Eksekusi putusan yang menghukum orang untuk melakukan sesuatu perbuatan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 225, dan Pasal 259.
3. Eksekusi riil yaitu pelaksanaan putusan hakim yang memerintahkan mengosongkan benda tetap kepada orang yang dikalahkan, tetapi perintah tersebut tidak di laksanakan secara sukarela.
Penyitaan asset dalam negeri diatur oleh Pasal 39 yang menyebutkan bahwa hal-hal yang dapat dikenakan penyitaan adalah :
a. Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindak pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana;
b. Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya;
c. Benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan tindak pidana; d. Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana ;
e. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilaktikan. f. Benda yang berada dalam sitaan karena perkara perdata atau karena pailit dapat juga disita
untuk kepentingan penyidikan, penuntutan dan mengadili perkara pidana, sepanjang memenuhi ketentuan ayat (1).
Sedangkan cara penyitaan asset yang berada diluar negeri hasil tindak pidana korupsi sebagai berikut:
1. Pengembalian aset adalah sistem penegakan hukum yang dilakukan oleh negara korban (victim state) tindak pidana korupsi untuk mencabut, merampas, menghilangkan hak atas aset hasil tindak pidana korupsi dari pelaku tindak pidana korupsi melalui rangkaian proses dan mekanisme. Baik secara pidana maupun perdata, aset yang berada di dalam maupun disimpan di luar negeri, yang dilacak, dibekukan, dirampas, disita, dan dikembalikan kepada negara korban hasil tindak pidana korupsi, sehingga dapat mengembalikan kerugian keuangan akibat tindak pidana korupsi. Juga termasuk untuk memberikan efek jera kepada pelaku dan/ atau calon pelaku tindak pidana korupsi.
2. Terdapat pula mekanisme dalam melakukan proses pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi, yaitu: pertama dengan melakukan pelacakan, selanjutnya aset yang sudah dilacak dan diketahui kemudian dibekukan, terakhir, aset yang dibekukan lalu disita dan dirampas oleh badan berwenang dari negara di mana aset tersebut berada, dan kemudian dikembalikan kepada negara tempat aset tersebut diambil melalui mekanisme-mekanisme tertentu.
1. Pengaturan Hukum Nasional yang tidak Menunjang Keberlakuan UNCAC di Indonesia. 2. Tidak Adanya Kemauan Politik Pemerintah yang Kuat terhadap Upaya Pemberantasan
Korupsi
Barang-barang hasil eksekusi akan dilelang kepada khalayak ramai, dan hasil pelelangan tersebut akan dimasukkan ke kas negara, setoran tersebut akan diserahkan dalam bentuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
DAFTAR PUSTAKA http://www.kpk.go.id/id/tentang-kpk/undang-undang-pendukung
inilah.com
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/135559-T%2027980-Implikasi%20perampasan-Metodologi.pdf
kompas.com