• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Biologi Tanaman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Biologi Tanaman"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi Tanaman

Menurut Rukmana (1997), dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan

kentang diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Subdivisio : Angiospermae

Clasis : Dicotyledonae

Ordo : Solanales

Familia : Solanaceae Genus : Solanum

Spesies : Solanum tuberosum Linn.

Tanaman kentang yang berasal dari umbi tidak terdapat akar tunggang tetapi

hanya akar halus saja yang panjangnya dapat mencapai 60 cm. Di dalam tanah, akar –

akar banyak terdapat pada kedalaman 20 cm (Rich, 1983).

Batang tanaman berbentuk segi empat atau segi lima, tergantung pada

varietasnya. Batang tanaman berbuku–buku, berongga, dan tidak berkayu, namun

agak keras bila dipijat. Diameter batang kecil dengan tinggi dapat mencapai 50–

120 cm, tumbuh menjalar. Warna batang hijau kemerah-merahan atau hijau

keungu–unguan . Batang tanaman berfungsi sebagai jalan zat–zat hara dari tanah

ke daun dan untuk menyalurkan hasil fotosintesis dari daun ke bagian tanaman

(2)

Tanaman kentang umumnya berdaun rimbun. Helaian daun berbentuk

bulat lonjong, dengan ujung meruncing, memiliki anak daun primer dan sekunder,

tersusun dalam tangkai daun secara berhadap-hadapan (daun mejemuk) yang

menyirip ganjil. Warna daun hijau keputih–putihan. Posisi tangkai utama terhadap

batang tanaman membentuk sudut kurang dari 45o atau lebih besar 45o. Pada dasar

tangkai daun terdapat tunas ketiak yang dapat berkembang menjadi cabang

sekunder. Daun berkerut–kerut dan permukaan bagian bawah daun berbulu. Daun

tanaman berfungsi sebagai tempat proses asimilasi untuk pembentukan

karbohidrat, lemak, protein dan vitamin yang digunakan untuk pertumbuhan

vegetatif, respirasi dan persediaan tanaman (Rubatzky dan Yamaguchi, 1995).

Bunga kentang adalah zygomorph (mempunyai bidang simetris), berjenis

kelamin dua (Hermaphroditus) warna mahkota brbentuk terompet dengan ujung

seprti bintang, lima benang sari berwarna kuning melingkari tangkai putiknya.

Bunga kentang tersusun dalam bentuk karangan bunga (inflorescens) yang

tumbuh diujung batang. Satu karangan bunga memiliki 1 – 30 bunga. Tetapi pada

umumnya 7 – 15 bunga untuk tiap karangan bunga (Soelarso, 1997).

Umbi terbentuk dari cabang samping diantara akar–akar. Proses

pembentukan umbi ditandai dengan terhentinya pertumbuhan memanjang dari

rhizome atau stolon yang diikuti pembesaran sehingga rhizome membengkak.

Umbi berfungsi menyimpan bahan makanan seperti karbohidrat, protein, lemak,

(3)

Syarat Tumbuh Tanah

Tanah yang cocok untuk kentang yaitu tanah yang subur, air tanahnya

dalam, berdrainase yang baik dan pH anatar 5-6,5. Pada tanah ber-pH rendah,

mutu kentang yang dihasilkan akan menurun (Setiawan, 1995).

Tanaman kentang membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak

mengandung bahan organik, bersolum dalam, aerasi dan drainasenya baik dengan

reaksi tanah (pH) 5–6,5. Jenis tanah yang paling baik adalah Andosol dengan ciri–

ciri solum tanah agak tebal antara 1–2 m, berwarna hitam atau kelabu sampai

coklat tua, bertekstur debu atau lempung berdebu sampai lempung dan bertekstur

remah. Jenis tanah Andosol memiliki kandungan unsur hara sedang sampai

tinggi, produktivitas sedang sampai tinggi dan reaksi tanah masam sampai netral

(Rukmana, 1997).

Daerah pegunungan yang dijadikan lahan untuk budidaya tanaman

kentang merupakan lahan yang cukup baik dalam perkembangannya karena tanah

tersebut mengandung bahan organik dari material vulkanis gunung yang dapat

membuat tanah tersebut subur. Menurut AAK (1992:146), tanaman kentang cocok

dengan tanah yang subur, ringan dan dalam dengan drainase yang baik. Setiadi

dan Nurulhuda (1993:21) memperkuat pendapat tersebut dengan menyatakan

bahwa tanah yang paling baik untuk kentang adalah tanah yang gembur atau

sedikit mengandung pasir agar mudah diresapi air dan mengandung humus yang

tinggi (Agnestika, 2013).

Derajat keasaman tanah atau pH tanah juga memiliki pengaruh bagi

(4)

untuk kentang bervariasi tergantung dari varietas kentangnya. Tanah dengan pH

5,5-6,5 (agak asam) lebih disukai karena dengan keasaman tanah kurang dari 5,4

membantu mengendalikan penyakit kudis pada kentang (Streptomyces scabies) (Rubatzky dan Yamaguchi, 1995).

Menurut Setiadi dan Nurulhuda (1993:21) Semakin baik kondisi lahan

tempat budidaya tanaman kentang, maka semakin besar pula kandungan bahan

organik dalam lahan tersebut. Sehingga, lahan yang digunakan untuk budidaya

tanaman kentang tersebut menjadi lahan yang subur karena mengandung unsur

hara yang tinggi. Pernyataan ini didukung oleh Rubatzky dan Yamaguchi

(1995:122) yang mengatakan bahwa ketersediaan hara sangat penting untuk

pertumbuhan awal tanaman dan kebutuhan pupuk tertinggi terjadi selama

pembesaran umbi (Agnestika, 2013).

Iklim

Kentang yang dapat tumbuh di daerah tropis tetap saja membutuhkan

daerah berhawa dingin atau sejuk. Suhu udara ideal untk kentang berkisar antara

15-18oC pada malam hari dan 24-30 oC di siang hari. Namun, kentang masih dapat

hidup di daerah yang suhu udaranya, terutama pada malam hari, dibawah suhu

tersebut diatas. Ukuran iklim ini cukup dingin bagi Indonesia yang tergolong

negara tropis dan mempunyai suhu pada siang hari 24-25 oC dan 15-24 oC di

malam hari (Setiadi, 2009).

Tanaman kentang merupakan salah satu tanaman pangan yang sering kita

jumpai di daerah-daerah pegunungan karena mempunyai iklim yang rendah serta

ketinggian yang cocok untuk pertumbuhannya secara optimal. Setiadi dan

(5)

tempat-tempat yang cukup tinggi, seperti di daerah pegunungan dengan

ketinggian sekitan 500-3.000 meter diatas permukaan laut (mdpl), tetapi tempat

yang ideal berkisar antara 1.000-3.000 mdpl dengan suhu udara berkisar antara

15-18° C pada malam hari dan 24-30° C pada siang hari, serta curah hujan

kira-kira 1.500 mm per tahun (Agnestika, 2013).

Faktor cahaya matahari sangat berpengaruh terhadap pembentukan organ

vegetatif tanaman, seperti batang, cabang (ranting), dan daun, serta organ

generatif seperti bunga dan umbi. Terbentuknya bagian vegetatif dan generatif ini

merupakan hasil proses asimilasi atau fotosintesis yang menguatkan cahaya

matahari sebagai sumber energi. Faktor cahaya yang penting untuk pertumbuhan

tanaman adalah intensitas cahaya matahari yang dapat diterima tanaman dapat

mempercepat proses pertumbuhan tanaman dan pembentukan umbi (Samadi,

1997).

Penyakit Hawar Daun (Phytophthora infestans (Mont.) de Barry) Menurut Agrios (1996) klasifikasi jamur ini sebagai berikut :

Kingdom : Mycetae

Divisio : Eumycota

Subdiviso : Mastigomycotina

Class : Oomycetes

Ordo : Peronosporales

Famili : Pythiaceae Genus : Phytophthora

(6)

Miselium pada jamur parasit tanaman ini dapat tumbuh di dalam sel

(intracelluler) atau antar sel (intercelluler). Sporangiofor biasanya

bercabang-cabang dan biasanya dibentuk di permukaan tanah, pada tanaman, dan dapat

muncul dari inang melalui efidermis atau stomata (Landecker, 1982).

Miselium interseluler, tidak bersekat, mempunyai banyak haustorium.

Konidiofor keluar dari mulut kulit, berkumpul 1-5, dengan percabangan

simpodial, mempunyai banyak bengkakan-bengkakan yang khas. Konidium

berbentuk buah pir, 22-32 x 16-24 µm, berinti banyak, 7-32. Konidium

berkecambah secara langsung dengan membentuk hifa (benang) baru, atau secara

tidak langsung dengan membentuk spora kembara (zoospora). Oleh karena dapat

membentuk spora kembara, konidium dapat juga disebut sebagai sporangium atau

zoosporangium. Jamur dapat membentuk oospora meskipun agak jarang

(Semangun, 1989).

Sporangium yang pertama terbentuk adalah patogen tular udara.

Sporangium terbentuk pada kelembapan relatif (RH) minimum 91% dan optimum

pada 100% dan temperatur udara berkisar antara 23-26oC, dimana temperatur

yang optimum pada 18-22 oC. Pembentukan sporangium pada temperatur 15 oC

akan membentuk zoospore dalam satu atau dua hari. Sedangkan pada suhu 25 oC

membutuhkan waktu yang lebih lama yaitu 5-7 hari. Oosspora berkecambah pada

temperatur 12-15 oC setelah perkecambahan, tabung kecambah dari zoospora

mengalami perkembangan dari jamur ini sesudah terjadi infeksi pada tanaman

kentang (Walker, 1957).

Dwidjoseputro (1978) menyatakan bahwa jamur ini mempunyai

(7)

(simpodial), dan pertumbuhannya berlangsung terus menerus. Sporongium yang

telah kosong gugur, dan tumbuh sporangium yang baru pada ujung cabang yang

baru. Bentuk sporangium berbentuk seperti jeruk nipis yang mempunyai tonjolan

kecil. Sporangium tidak tahan kekeringan. Jika ada air, maka ia menghasilkan

zoospora. Pada suhu yang tinggi ia membentuk buluh kecambah, dan pada suhu

yang rendah ia menghasilkan zoospora (Aruan, 2004).

Penyakit hawar daun sangat merusak dan sulit dikendalikan, karena

P. infestans merupakan jamur patogen yang memiliki patogenisitas beragam. Pada umumnya, patogen ini berkembangbiak secara aseksual dengan zoospora, tetapi

dapat juga berkembangbiak secara seksual dengan oospora. Jamur ini bersifat heterotalik, artinya perkembangbiakan secara seksual atau pembentukan oospora

hanya terjadi apabila terjadi mating (perkawinan silang) antara dua isolat P. infestans yang mempunyai tipe perkawinan berbeda (Purwanti, 2002).

Gejala Serangan

Daun-daun yang sakit mempunyai bercak-bercak nekrotik pada tepi dan

ujungnya. Kalau suhu suhu tidak terlalu rendah dan kelembapan cukup tinggi, Gambar. 1 Miselium Jamur P.infestans

Sumber : Foto Langsung

Sporangium

Hifa

(8)

bercak-bercak tadi akan meluas dengan cepat dan mematikan seluruh daun.

Bahkan kalau cuaca sedemikian berlangsung lama, seluruh bagian tanaman diatas

tanah akan mati. Dalam cuaca yang kering jumlah bercak terbatas, segera

mengering dan tidak meluas. Umumnya gejala baru tampak bila tanaman berumur

lebih dari satu bulan, meskipun kadang-kadang sudah terlihat pada tanaman yang

berumur 3 minggu (Semangun, 1996).

Awalnya, pada daun terdapat bercak agak kebasah-basahan. Bila

kelembapan tinggi, bercak akan cepat meluas. Sel-sel ditempat tersebut mati

dengan cepat sehingga bercak tampak berwarna coklat. Dibatas bercak timbul

suatu daerah putih yang terdiri atas miselia dan sporangiofora beserta

sporangianya. Jika iklim terus-menerus basah, seluruh daun dan bagian lainnya

akan menunjukkan gejala serupa, lalu membusuk dengan cepat. Umbi di dalam

tanah pun bisa diserangnya, dengan gejala busuk berwarna coklat

kehitam-hitaman (Rukmana dan Saputra, 1997).

Gejala pada tingkat awal timbul bercak nekrotik pada bagian tepi dan

ujung daun. Gejala ini bertahan atau berkembang lambat pada varietas yang tahan

atau dalam cuaca yang kering. Gejala pada tingkat lanjut muncul bercak-bercak

nekrotik yang berkembang keseluruh daun tanaman dan menyebabkan matinya

bagian tanaman yang ada diatas tanah. Gejala pada daun tanaman muncul setelah

tanaman berumur lebih dari satu bulan. Hal ini terutama terjadi pada varietas

rentan dan kelembapan cukup tinggi pada suhu yang tdak terlalu rendah

(9)
(10)

Sifat serangannya epidemik berbentuk bunga majemuk/multiple interest disease; terdapat banyak ras-ras fisiologis patogennya; tanaman inang antara lainnya adalah tomat dan beberapa anggota Solanaceae; dapat bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman inang dan umbi yang membusuk di lapangan dan didalam

tanah sebagai saprofit (Djafaruddin, 2000).

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit

Pembentukan dan perkecambahan konidium Ph. infestans sangat dipengaruhi oleh kelembapan dan suhu, terutama kelembapan. Pada udara kering

konidium sudah mati dalam waktu 1-2 jam, sedang pada kelembapan 50-80%

dalam waktu 3-6 jam. Pada suhu 10-25o C, kalau ada air, konidium membentuk

zoospora dalam waktu ½ - 2 jam. Perkembangan bercak pada daun paling cepat

terjadi pada suhu 18-20o C. Pada suhu 30o C perkembangan bercak akan

terhambat. Oleh karena itu pada kentang dataran rendah (kurang dari 500 m dari

permukaan laut) Ph. infestans tidak merupakan masalah karena pada kondisi ini tanaman jamur sulit tumbuh (Semangun,1996).

Suhu merupakan faktor yang sangat penting pada perkembangan jamur ini

antara lain ukuran sel mikroorganisme, metabolisme, metabolisme pembentukan

pigmen dan toksin pengambilan nutrisi fungsi enzim dan komposisi kimia dari sel

(11)
(12)

hingga 25 kilometer di sekitar gunung ini. Pada tanggal 7 September 2010,

Gunung Sinabung kembali metelus. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung

ini menjadi aktif (BPTP Sumut, 2013).

Pada tahun 2013, Gunung Sinabung meletus kembali, dalam bulan

September 2013, telah terjadi 4 kali letusan. Letusan pertama terjadi ada tanggal

15 September 2013 dini hari, kemudian terjadi kembali pada sore harinya. Status

gunung sinabung dari WASPADA (Level II) menjadi SIAGA (level III). Tidak

ada tanda-tanda sebelumnya akan peningkatan aktivitas sehingga tidak ada

peringatan dini sebelumnya. Hujan abu mencapai kawasan Sibolangit dan

Berastagi. Abu vulkanis selain menutupi jalanan, rumah-rumah penduduk juga

menutupi tanaman. Debu vulkanik berdampak pada 6 (enam) kecamatan di sekitar

gunung Sinabung yaitu Kecamatan Namanteran, Kecamatan Simpang Empat,

Kecamatan Merdeka, Kecamatan Dolat Rayat, Kecamatan Barusjahe, dan

Kecamatan Berastagi. Letusan terkini terjadi pada tanggal 15 Oktober 2013 dan

dilaporkan juga mengeluarkan lava. Jarak dari Gunung Sinabung ke Kecamatan

Simpang Empat adalah ± 6 Km dari puncak (PVMBG, 2013).

Abu vulkanik letusan Gunung Sinabung menyelimuti pemukiman

masyarakat di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Letusan gunung yang

disertai dengan gempa itu membuat masyarakat dilanda kepanikan. Sebanyak 17

jiwa meninggal akibat guguran awan panas sinabung. Akibat letusan gunung

berapi, beberapa material yang keluar dari kepundan gunung tersebut antara lain

adalah awan panas, material pijar, hujan abu, kemungkinan gas beracun yang

terlempar ke atmosfer. Semua material tersebut memiliki dampak yang berbeda –

(13)

Gunung Sinabung mengeluarkan bahan material vulkanik seperti debu dan awan

panas yang disemburkan ke udara saat terjadi suatu letusan dan jatuh wilayah

hingga mencapai > 25 km dari kawah ke arah timur karena pengaruh hembusan

angin. Di Beberapa desa mengalami dampak langsung antara lain

bangunan/rumah, lahan, dan tanaman diselimuti oleh debu dan diperparah lagi

selama 3 minggu pasca erupsi tidak ada turun hujan. Akibat debu dari erupsi

Gunung Sinabung yang menyelimuti atap seng bangunan rumah penduduk terlihat

berwarna kekuningan dijumpai pada desa Sukanalu (5 km), Sadaperarih (10 km)

dan Dolatrayat (15 km) diperkirakan akan merusap atas bangunan rumah

(PVMBG, 2013).

Penanganan sayuran yang terkena dampak erupsi sinabung adalah sebagai

berikut : a) Perlu penyediaan embung di daerah erupsi gunung Sinabung, karena

tanaman sayuran yang terkena abu vulkanik perlu segera disiram air. b) Daun

tanaman yang sudah tua terkena abu gunung Sinabung sebaiknya dipangkas/

dihilangkan (BPTP Sumut, 2013).

Kandungan Abu Vulkanik

Debu vulkanik yang menjadi lumpur bahkan memiliki pH yang lebih

rendah, yaitu 3,81 yang tergolong masam. Tanah yang bercampur debu vulkanik

(tanah lapisan atas) tergolong masam dengan nilai pH 4,83. Kemasaman yang

tinggi atau nilai pH yang rendah hingga sangat rendah dari debu vulkanik ini,

disebabkan kadar sulfur (belerang) yang tinggi dengan kadar belerang (S) total

sebesar 3,36%. Demikian juga kelarutannya dalam bentuk sulfat (SO4) yang

cukup tinggi mencapai 62 ppm, jauh diatas kadar yang dapat menyebabkan iritasi

(14)

Namun demikian, kadar SO4 sebesar 62 ppm ini belum tergolong ke dalam

level yang berbahaya dengan kadar 400-500 ppm. Kadar hara yang tinggi terdapat

pada debu vulkanik Gunung Sinabung, Kalium (K) dan Magnesium (Mg), kadar

hara lainnya seperti Fosfat (P) dan Boron (B) rendah, dan kandungan

logam-logam berat (Pb, Cu, Cd, dan Fe) yang dapat bersifat toxic bagi tanaman, sangat

rendah, sehingga tidak menyebabkan pencemaran bagi tanaman. Bahan pada

silikat (SiO2) yang lebih berfungsi sebagai bahan amelioran (bahan pembenah)

tanah sangat tinggi terdapat pada debu vulkanik Gunung Sinabung mencapai

74,47 % (Tim FP USU, 2014).

Hasil analisa kimia batuan letusan gunung Sinabung tanggal 23 Desember

2013. Conto Pumice (kedalaman lapisan) di analisa dengan X-Ray Fluorescence (XRF) adalah sebagai berikut :

Tabel. 1 Analisa Kimia Abu Vulkanik

Tahun SiO2 TiO2 Al2O3 FeO* MnO MgO CaO Na2O K2O P2O5

2013 58,9 0,71 17,88 6,78 0,15 2,84 7,73 2,97 1,86 0,13

800-1000

59,7 0,71 17,60 6,58 0,15 2,86 7,37 2,99 1,93 0,13

Letusan tahun 800-1000 dicirikan oleh aliran awan panas (aliran block-dan

abu) tanpa didahului erupsi plinian (semburan gas dan abu vulkanik yang tinggi).

Endapannya tersebar di tenggara lereng gunung Sinabung. Aliran awan panas ini

dihasilkan dari perulangan guguran lava pijar dari kubah lava. Aliran awan panas

saat ini diestimasikan masih sama dengan kejadian sebelumnya (800-1000 tahun

lalu), namun demikian surge (awan abunya dapat lebih panjang 1-2 km dari ujung

(15)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di pertanaman kentang Kecamatan Simpang

Empat pada beberapa desa dengan ketinggian tempat ±1.340 m dpl dan

dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2014.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain kertas

kuisioner, air, tisue, methyl blue, slotipe.

Adapun alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain mikroskop,

preparat, kamera, gunting, cangkul, plastik transparan, kotak tray, kawat,

kalkulator, penggaris dan alat tulis.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode survei. Tahapan

penelitiannya adalah sebagai berikut :

1. Metode Daerah Sampel

Metode penentuan daerah penelitian ditetapkan secara purposive sampling.

Purposive sampling adalah metode pengambilan sampel yang dipilih dengan cermat

sehingga relevan dengan struktur penelitian, dimana pengambilan sampel dengan

mengambil sampel orang-orang yang dipilih oleh penulis menurut ciri-ciri spesifik

dan karakteristik tertentu. Dalam purposive sampling pemilihan sampel bertitik tolak

pada penilaian pribadi peneliti yang menyatakan bahwa sampel yang dipilih

benar-benar representatif (Djarwanto dan Subagyo, 1998). Daerah penelitian ditetapkan di

Kecamatan Simpang Empat yang ditentukan secara sengaja dengan pertimbangan

adalah salah satu daerah produksi kentang dan daerah yang terkena dampak erupsi

(16)

dipilih di empat desa yaitu Desa Ujung, Desa Gajah, Desa Bulan Baru, dan Desa

Torong yang masih memproduksi kentang selama erupsi gunung Sinabung. Dan

diambil 10 sampel petani di setiap desa.

2. Metode Pengambilan sampel

Penggambilan sampel dilakukan sistem random sampel, pada pengambilan

sampel secara random, setiap unit populasi, mempunyai kesempatan yang sama

untuk diambil sebagai sampel. Faktor pemilihan atau penunjukan sampel yang

mana akan diambil, yang semata-mata atas pertimbangan peneliti, disini

dihindarkan. Bila tidak, akan terjadi bias. Ini merupakan salah satu usaha untuk

mendapatkan sampel yang representatif. Dari satu lahan pertanaman kentang

terdapat 5 sampel batang tanaman kentang yang dipilih secara acak dan diberi

tanda dengan pacak yang diberi nomor.

Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Tanda

Tanda yang terbuat dari pacak yang berukuran 50 cm yang diberi nomor

pada bagian atas pacak yang menandakan nomor sampel. Tanda yang sudah siap

ditempatkan disamping sampel sesuai nomor urutan sampel.

Survei Penyakit Hawar Daun Kentang

Survei penyakit hawar daun kentang dilakukan dengan membagikan

angket pertanyaan pada petani (kuisioner) yang berisi mengenai cara budidaya

kentang yang dilakukan petani, pengenalan petani terhadap penyakit hawar daun

kentang, perkembangan penyakit hawar daun kentang selama erupsi gunung

sinabung dan pengendalian yang dilakukan petani terhadap penyakit hawar daun

(17)

penyakit hawar daun kentang yang dilakukan oleh petani dapat dilihat dari

pembagian angket pertanyaan (kuisioner) pada petani dapat dilihat pada

lampiran 1.

Pengamatan di Laboratorium

Diambil salah satu sampel tanaman yang terserang penyakit, dibawa ke

laboratorium. Disporulasi sampel selama ±2 hari, kemudian diamati jamur yang

tumbuh di bawah mikroskop. Didokumentasikan hasil pengamatan.

Peubah Amatan

Persentase Kejadian Penyakit

Untuk setiap desa diambil satu pertanaman sampel, Persentase Kejadian

penyakit dihitung berdasarkan tanaman yang terserang penyakit hawar daun kentang

dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

KjP = Kejadian Penyakit (%)

a = jumlah tanaman sakit

b = jumlah tanaman sehat

(Purwanti, 2002)

Produksi Tanaman Kentang

Produksi kentang dihitung dengan menimbang berat kentang (kg) yang

dipanen kemudian di konversikan dalam ton/Ha menggunakan rumus : a

KjP = x 100% b

X 1000 kg

Y (ton/Ha) = x

(18)

Keterangan:

Y : Produksi dalam Ton/Ha

X : Produksi dalam Kg/Plot

L : Luas Plot ( m2)

(Sudarsono dan Suparman, 1981).

Pengendalian Penyakit Hawar Daun Kentang

Pengamatan Pengendalian penyakit hawar daun kentangdilakukan dengan

memberi angket pertanyaan (kuisioner) kepada petani.

Analisis Data Analisis Regresi

Untuk menganalisis data yang diperoleh, digunakan metode analisis

kuntitatif regresi.

Regresi merupakan suatu alat ukur yang juga digunakan untuk mengukur

ada atau tidaknya korelasi antar variabel. Regresi berfungsi untuk

menggambarkan seberapa besar variabel bebas (X) mempengerahui variabel

terikat pada dua kejadian. Regresi juga dapat digunakan untuk meramalkan

kejadian yang akan datang.

Variabel yang diduga penyebab atau pendahulu dari variabel yang lain

disebut variabel bebas (x). Variabel yang diduga sebagai akibat atau yang dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya disebut variabel tidak bebas (y).

Pemeriksaan regresi antara variabel x dan variabel y digunakan koefisien regresi linier sederhana sebagai berikut:

(19)

Y = variabel tidak bebas

X = variabel bebas

a = konstanta

b = koefisien regresi / slop

Besarnya regresi berkisar antara +1 s/d -1. Koefisien regresi menunjukkan

kekuatan hubungan linier dan arah hubungan dua variabel acak. Jika koefisien

regresi positif, maka kedua variabel mempunyai hubungan searah. Artinya, jika

nilai variabel x tinggi, maka nilai variabel y akan tinggi pula. Sebaliknya, jika koefisien korelasi negatif, maka kedua variabel mempunyai hubungan terbalik.

Artinya, jika nilai variabel x tinggi, maka nilai variabel y akan menjadi rendah (Sarwono, 2006).

Untuk menguji apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak,

maka dilakukan uji signifikan dengan uji statistik t, sebagai berikut :

b t =

Se Keterangan :

t = nilai t hitung

b = koefisien regresi

Se = Standar estimasi

Untuk menguji apakah regresi tersebut signifikan atau tidak, maka

dilakukan uji signifikan dengan uji statistik-t untuk signifikan = 0,05 (tingkat

kepercayaan 95%), dengan ketentuan sebagai berikut :

t hitung > t tabel atau t hitung < -t tabel = Ha diterima Ho ditolak

(20)

I. Regresi Antara Banyaknya Terjadi Erupsi dengan Persentase Kejadian Penyakit Hawar Daun Kentang

Untuk menganalisis regresi antara banyaknya terjadi erupsi dengan

intensitas serangan penyakit hawar daun kentang ditentukan 2 variabel

yaitu banyaknya terjadi erupsi sebagai variabel bebas (x) dan kejadian penyakit hawar daun kentang sebagai variabel tidak bebas (y).

II. Regresi Antara Pengendalian Setelah Erupsi Terjadi dengan Persentase kejadian Penyakit Hawar Daun Kentang

Untuk menganalisis regresi antara pengendalian setelah erupsi

terjadi dengan intensitas serangan penyakit hawar daun kentang ditentukan

2 variabel yaitu pengendalian setelah erupsi terjadi sebagai variabel bebas

(x1) dan Persentase kejadian penyakit sebagai variabel tidak bebas (y). III. Regresi Antara Pengendalian Setelah Erupsi Terjadi dengan

Produksi Kentang

Untuk menganalisis regresi antara pengendalian setelah erupsi

terjadi dengan produksi kentang ditentukan 2 variabel yaitu pengendalian

setelah erupsi terjadi sebagai variabel bebas (x1) dan produksi kentang sebagai variabel tidak bebas (y1).

Grafik Regresi Linier Sederhana

(21)

Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Sinabung dan Pengambilan Sampel Desa

Gambar. 5 Pengambilan Sampel Desa Torong

Gajah

Gambar

Gambar. 1 Miselium Jamur P.infestans Sumber : Foto Langsung
Gambar. 22
Tabel. 1 Analisa Kimia Abu Vulkanik
Grafik  Regresi Linier Sederhana
+2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut; adanya ion sianida (CN - ) dengan jumlah mol yang lebih kecil dari

Limbah industri teh juga menunjukan potensi yang baik sebagai media tumbuh jamur dalam penelitian menunjukan bahwa penambahan dedak dan lama pelapukan memberikan pengaruh

Nilai pengaruh tidak langsung diperoleh dari hasil perkalian koefisien antara variabel eksogen, yaitu variabel konflik peran, ambiguitas peran, peluang promosi, kepuasan

Memenuhi surat Sekretaris Mahkamah Agung RI Nomor : 552/SEK/01/XII/2011, tanggal 19 Desember 2011 Perihal : Penyampaian LAKIP Tahun 2011 dan Dokumen Penetapan Kinerja

Pokok masalah penelitian ini adalah bagaimana implementasi pemidanaan terhadap pelaku tindak pidana perjudian di Pengadilan Negeri Sungguminasa perspektif hukum

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan kegiatan intrakurikuler yang wajib diikuti oleh mahasiswa program Kependidikan Universitas Negeri Semarang. Puji syukur

Petugas kesehatan berpotensi terinfeksi karena pajanan mereka pada pasien COVID-19 selama shift kerja, sehingga petugas kesehatan mengalami kondisi yang rentan

Menurut Nasibah Harun (1997) dalam artikelnya Dasar Pertahanan Menyeluruh, konsep HANRUH ini telah diamalkan oleh banyak negara seperti Sweden 1 , Denmark, Finland,