TINJAUAN PUSTAKA
Biologi Tanaman
Menurut Rukmana (1997), dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan
kentang diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Clasis : Dicotyledonae
Ordo : Solanales
Familia : Solanaceae Genus : Solanum
Spesies : Solanum tuberosum Linn.
Tanaman kentang yang berasal dari umbi tidak terdapat akar tunggang tetapi
hanya akar halus saja yang panjangnya dapat mencapai 60 cm. Di dalam tanah, akar –
akar banyak terdapat pada kedalaman 20 cm (Rich, 1983).
Batang tanaman berbentuk segi empat atau segi lima, tergantung pada
varietasnya. Batang tanaman berbuku–buku, berongga, dan tidak berkayu, namun
agak keras bila dipijat. Diameter batang kecil dengan tinggi dapat mencapai 50–
120 cm, tumbuh menjalar. Warna batang hijau kemerah-merahan atau hijau
keungu–unguan . Batang tanaman berfungsi sebagai jalan zat–zat hara dari tanah
ke daun dan untuk menyalurkan hasil fotosintesis dari daun ke bagian tanaman
Tanaman kentang umumnya berdaun rimbun. Helaian daun berbentuk
bulat lonjong, dengan ujung meruncing, memiliki anak daun primer dan sekunder,
tersusun dalam tangkai daun secara berhadap-hadapan (daun mejemuk) yang
menyirip ganjil. Warna daun hijau keputih–putihan. Posisi tangkai utama terhadap
batang tanaman membentuk sudut kurang dari 45o atau lebih besar 45o. Pada dasar
tangkai daun terdapat tunas ketiak yang dapat berkembang menjadi cabang
sekunder. Daun berkerut–kerut dan permukaan bagian bawah daun berbulu. Daun
tanaman berfungsi sebagai tempat proses asimilasi untuk pembentukan
karbohidrat, lemak, protein dan vitamin yang digunakan untuk pertumbuhan
vegetatif, respirasi dan persediaan tanaman (Rubatzky dan Yamaguchi, 1995).
Bunga kentang adalah zygomorph (mempunyai bidang simetris), berjenis
kelamin dua (Hermaphroditus) warna mahkota brbentuk terompet dengan ujung
seprti bintang, lima benang sari berwarna kuning melingkari tangkai putiknya.
Bunga kentang tersusun dalam bentuk karangan bunga (inflorescens) yang
tumbuh diujung batang. Satu karangan bunga memiliki 1 – 30 bunga. Tetapi pada
umumnya 7 – 15 bunga untuk tiap karangan bunga (Soelarso, 1997).
Umbi terbentuk dari cabang samping diantara akar–akar. Proses
pembentukan umbi ditandai dengan terhentinya pertumbuhan memanjang dari
rhizome atau stolon yang diikuti pembesaran sehingga rhizome membengkak.
Umbi berfungsi menyimpan bahan makanan seperti karbohidrat, protein, lemak,
Syarat Tumbuh Tanah
Tanah yang cocok untuk kentang yaitu tanah yang subur, air tanahnya
dalam, berdrainase yang baik dan pH anatar 5-6,5. Pada tanah ber-pH rendah,
mutu kentang yang dihasilkan akan menurun (Setiawan, 1995).
Tanaman kentang membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak
mengandung bahan organik, bersolum dalam, aerasi dan drainasenya baik dengan
reaksi tanah (pH) 5–6,5. Jenis tanah yang paling baik adalah Andosol dengan ciri–
ciri solum tanah agak tebal antara 1–2 m, berwarna hitam atau kelabu sampai
coklat tua, bertekstur debu atau lempung berdebu sampai lempung dan bertekstur
remah. Jenis tanah Andosol memiliki kandungan unsur hara sedang sampai
tinggi, produktivitas sedang sampai tinggi dan reaksi tanah masam sampai netral
(Rukmana, 1997).
Daerah pegunungan yang dijadikan lahan untuk budidaya tanaman
kentang merupakan lahan yang cukup baik dalam perkembangannya karena tanah
tersebut mengandung bahan organik dari material vulkanis gunung yang dapat
membuat tanah tersebut subur. Menurut AAK (1992:146), tanaman kentang cocok
dengan tanah yang subur, ringan dan dalam dengan drainase yang baik. Setiadi
dan Nurulhuda (1993:21) memperkuat pendapat tersebut dengan menyatakan
bahwa tanah yang paling baik untuk kentang adalah tanah yang gembur atau
sedikit mengandung pasir agar mudah diresapi air dan mengandung humus yang
tinggi (Agnestika, 2013).
Derajat keasaman tanah atau pH tanah juga memiliki pengaruh bagi
untuk kentang bervariasi tergantung dari varietas kentangnya. Tanah dengan pH
5,5-6,5 (agak asam) lebih disukai karena dengan keasaman tanah kurang dari 5,4
membantu mengendalikan penyakit kudis pada kentang (Streptomyces scabies) (Rubatzky dan Yamaguchi, 1995).
Menurut Setiadi dan Nurulhuda (1993:21) Semakin baik kondisi lahan
tempat budidaya tanaman kentang, maka semakin besar pula kandungan bahan
organik dalam lahan tersebut. Sehingga, lahan yang digunakan untuk budidaya
tanaman kentang tersebut menjadi lahan yang subur karena mengandung unsur
hara yang tinggi. Pernyataan ini didukung oleh Rubatzky dan Yamaguchi
(1995:122) yang mengatakan bahwa ketersediaan hara sangat penting untuk
pertumbuhan awal tanaman dan kebutuhan pupuk tertinggi terjadi selama
pembesaran umbi (Agnestika, 2013).
Iklim
Kentang yang dapat tumbuh di daerah tropis tetap saja membutuhkan
daerah berhawa dingin atau sejuk. Suhu udara ideal untk kentang berkisar antara
15-18oC pada malam hari dan 24-30 oC di siang hari. Namun, kentang masih dapat
hidup di daerah yang suhu udaranya, terutama pada malam hari, dibawah suhu
tersebut diatas. Ukuran iklim ini cukup dingin bagi Indonesia yang tergolong
negara tropis dan mempunyai suhu pada siang hari 24-25 oC dan 15-24 oC di
malam hari (Setiadi, 2009).
Tanaman kentang merupakan salah satu tanaman pangan yang sering kita
jumpai di daerah-daerah pegunungan karena mempunyai iklim yang rendah serta
ketinggian yang cocok untuk pertumbuhannya secara optimal. Setiadi dan
tempat-tempat yang cukup tinggi, seperti di daerah pegunungan dengan
ketinggian sekitan 500-3.000 meter diatas permukaan laut (mdpl), tetapi tempat
yang ideal berkisar antara 1.000-3.000 mdpl dengan suhu udara berkisar antara
15-18° C pada malam hari dan 24-30° C pada siang hari, serta curah hujan
kira-kira 1.500 mm per tahun (Agnestika, 2013).
Faktor cahaya matahari sangat berpengaruh terhadap pembentukan organ
vegetatif tanaman, seperti batang, cabang (ranting), dan daun, serta organ
generatif seperti bunga dan umbi. Terbentuknya bagian vegetatif dan generatif ini
merupakan hasil proses asimilasi atau fotosintesis yang menguatkan cahaya
matahari sebagai sumber energi. Faktor cahaya yang penting untuk pertumbuhan
tanaman adalah intensitas cahaya matahari yang dapat diterima tanaman dapat
mempercepat proses pertumbuhan tanaman dan pembentukan umbi (Samadi,
1997).
Penyakit Hawar Daun (Phytophthora infestans (Mont.) de Barry) Menurut Agrios (1996) klasifikasi jamur ini sebagai berikut :
Kingdom : Mycetae
Divisio : Eumycota
Subdiviso : Mastigomycotina
Class : Oomycetes
Ordo : Peronosporales
Famili : Pythiaceae Genus : Phytophthora
Miselium pada jamur parasit tanaman ini dapat tumbuh di dalam sel
(intracelluler) atau antar sel (intercelluler). Sporangiofor biasanya
bercabang-cabang dan biasanya dibentuk di permukaan tanah, pada tanaman, dan dapat
muncul dari inang melalui efidermis atau stomata (Landecker, 1982).
Miselium interseluler, tidak bersekat, mempunyai banyak haustorium.
Konidiofor keluar dari mulut kulit, berkumpul 1-5, dengan percabangan
simpodial, mempunyai banyak bengkakan-bengkakan yang khas. Konidium
berbentuk buah pir, 22-32 x 16-24 µm, berinti banyak, 7-32. Konidium
berkecambah secara langsung dengan membentuk hifa (benang) baru, atau secara
tidak langsung dengan membentuk spora kembara (zoospora). Oleh karena dapat
membentuk spora kembara, konidium dapat juga disebut sebagai sporangium atau
zoosporangium. Jamur dapat membentuk oospora meskipun agak jarang
(Semangun, 1989).
Sporangium yang pertama terbentuk adalah patogen tular udara.
Sporangium terbentuk pada kelembapan relatif (RH) minimum 91% dan optimum
pada 100% dan temperatur udara berkisar antara 23-26oC, dimana temperatur
yang optimum pada 18-22 oC. Pembentukan sporangium pada temperatur 15 oC
akan membentuk zoospore dalam satu atau dua hari. Sedangkan pada suhu 25 oC
membutuhkan waktu yang lebih lama yaitu 5-7 hari. Oosspora berkecambah pada
temperatur 12-15 oC setelah perkecambahan, tabung kecambah dari zoospora
mengalami perkembangan dari jamur ini sesudah terjadi infeksi pada tanaman
kentang (Walker, 1957).
Dwidjoseputro (1978) menyatakan bahwa jamur ini mempunyai
(simpodial), dan pertumbuhannya berlangsung terus menerus. Sporongium yang
telah kosong gugur, dan tumbuh sporangium yang baru pada ujung cabang yang
baru. Bentuk sporangium berbentuk seperti jeruk nipis yang mempunyai tonjolan
kecil. Sporangium tidak tahan kekeringan. Jika ada air, maka ia menghasilkan
zoospora. Pada suhu yang tinggi ia membentuk buluh kecambah, dan pada suhu
yang rendah ia menghasilkan zoospora (Aruan, 2004).
Penyakit hawar daun sangat merusak dan sulit dikendalikan, karena
P. infestans merupakan jamur patogen yang memiliki patogenisitas beragam. Pada umumnya, patogen ini berkembangbiak secara aseksual dengan zoospora, tetapi
dapat juga berkembangbiak secara seksual dengan oospora. Jamur ini bersifat heterotalik, artinya perkembangbiakan secara seksual atau pembentukan oospora
hanya terjadi apabila terjadi mating (perkawinan silang) antara dua isolat P. infestans yang mempunyai tipe perkawinan berbeda (Purwanti, 2002).
Gejala Serangan
Daun-daun yang sakit mempunyai bercak-bercak nekrotik pada tepi dan
ujungnya. Kalau suhu suhu tidak terlalu rendah dan kelembapan cukup tinggi, Gambar. 1 Miselium Jamur P.infestans
Sumber : Foto Langsung
Sporangium
Hifa
bercak-bercak tadi akan meluas dengan cepat dan mematikan seluruh daun.
Bahkan kalau cuaca sedemikian berlangsung lama, seluruh bagian tanaman diatas
tanah akan mati. Dalam cuaca yang kering jumlah bercak terbatas, segera
mengering dan tidak meluas. Umumnya gejala baru tampak bila tanaman berumur
lebih dari satu bulan, meskipun kadang-kadang sudah terlihat pada tanaman yang
berumur 3 minggu (Semangun, 1996).
Awalnya, pada daun terdapat bercak agak kebasah-basahan. Bila
kelembapan tinggi, bercak akan cepat meluas. Sel-sel ditempat tersebut mati
dengan cepat sehingga bercak tampak berwarna coklat. Dibatas bercak timbul
suatu daerah putih yang terdiri atas miselia dan sporangiofora beserta
sporangianya. Jika iklim terus-menerus basah, seluruh daun dan bagian lainnya
akan menunjukkan gejala serupa, lalu membusuk dengan cepat. Umbi di dalam
tanah pun bisa diserangnya, dengan gejala busuk berwarna coklat
kehitam-hitaman (Rukmana dan Saputra, 1997).
Gejala pada tingkat awal timbul bercak nekrotik pada bagian tepi dan
ujung daun. Gejala ini bertahan atau berkembang lambat pada varietas yang tahan
atau dalam cuaca yang kering. Gejala pada tingkat lanjut muncul bercak-bercak
nekrotik yang berkembang keseluruh daun tanaman dan menyebabkan matinya
bagian tanaman yang ada diatas tanah. Gejala pada daun tanaman muncul setelah
tanaman berumur lebih dari satu bulan. Hal ini terutama terjadi pada varietas
rentan dan kelembapan cukup tinggi pada suhu yang tdak terlalu rendah
Sifat serangannya epidemik berbentuk bunga majemuk/multiple interest disease; terdapat banyak ras-ras fisiologis patogennya; tanaman inang antara lainnya adalah tomat dan beberapa anggota Solanaceae; dapat bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman inang dan umbi yang membusuk di lapangan dan didalam
tanah sebagai saprofit (Djafaruddin, 2000).
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit
Pembentukan dan perkecambahan konidium Ph. infestans sangat dipengaruhi oleh kelembapan dan suhu, terutama kelembapan. Pada udara kering
konidium sudah mati dalam waktu 1-2 jam, sedang pada kelembapan 50-80%
dalam waktu 3-6 jam. Pada suhu 10-25o C, kalau ada air, konidium membentuk
zoospora dalam waktu ½ - 2 jam. Perkembangan bercak pada daun paling cepat
terjadi pada suhu 18-20o C. Pada suhu 30o C perkembangan bercak akan
terhambat. Oleh karena itu pada kentang dataran rendah (kurang dari 500 m dari
permukaan laut) Ph. infestans tidak merupakan masalah karena pada kondisi ini tanaman jamur sulit tumbuh (Semangun,1996).
Suhu merupakan faktor yang sangat penting pada perkembangan jamur ini
antara lain ukuran sel mikroorganisme, metabolisme, metabolisme pembentukan
pigmen dan toksin pengambilan nutrisi fungsi enzim dan komposisi kimia dari sel
hingga 25 kilometer di sekitar gunung ini. Pada tanggal 7 September 2010,
Gunung Sinabung kembali metelus. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung
ini menjadi aktif (BPTP Sumut, 2013).
Pada tahun 2013, Gunung Sinabung meletus kembali, dalam bulan
September 2013, telah terjadi 4 kali letusan. Letusan pertama terjadi ada tanggal
15 September 2013 dini hari, kemudian terjadi kembali pada sore harinya. Status
gunung sinabung dari WASPADA (Level II) menjadi SIAGA (level III). Tidak
ada tanda-tanda sebelumnya akan peningkatan aktivitas sehingga tidak ada
peringatan dini sebelumnya. Hujan abu mencapai kawasan Sibolangit dan
Berastagi. Abu vulkanis selain menutupi jalanan, rumah-rumah penduduk juga
menutupi tanaman. Debu vulkanik berdampak pada 6 (enam) kecamatan di sekitar
gunung Sinabung yaitu Kecamatan Namanteran, Kecamatan Simpang Empat,
Kecamatan Merdeka, Kecamatan Dolat Rayat, Kecamatan Barusjahe, dan
Kecamatan Berastagi. Letusan terkini terjadi pada tanggal 15 Oktober 2013 dan
dilaporkan juga mengeluarkan lava. Jarak dari Gunung Sinabung ke Kecamatan
Simpang Empat adalah ± 6 Km dari puncak (PVMBG, 2013).
Abu vulkanik letusan Gunung Sinabung menyelimuti pemukiman
masyarakat di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Letusan gunung yang
disertai dengan gempa itu membuat masyarakat dilanda kepanikan. Sebanyak 17
jiwa meninggal akibat guguran awan panas sinabung. Akibat letusan gunung
berapi, beberapa material yang keluar dari kepundan gunung tersebut antara lain
adalah awan panas, material pijar, hujan abu, kemungkinan gas beracun yang
terlempar ke atmosfer. Semua material tersebut memiliki dampak yang berbeda –
Gunung Sinabung mengeluarkan bahan material vulkanik seperti debu dan awan
panas yang disemburkan ke udara saat terjadi suatu letusan dan jatuh wilayah
hingga mencapai > 25 km dari kawah ke arah timur karena pengaruh hembusan
angin. Di Beberapa desa mengalami dampak langsung antara lain
bangunan/rumah, lahan, dan tanaman diselimuti oleh debu dan diperparah lagi
selama 3 minggu pasca erupsi tidak ada turun hujan. Akibat debu dari erupsi
Gunung Sinabung yang menyelimuti atap seng bangunan rumah penduduk terlihat
berwarna kekuningan dijumpai pada desa Sukanalu (5 km), Sadaperarih (10 km)
dan Dolatrayat (15 km) diperkirakan akan merusap atas bangunan rumah
(PVMBG, 2013).
Penanganan sayuran yang terkena dampak erupsi sinabung adalah sebagai
berikut : a) Perlu penyediaan embung di daerah erupsi gunung Sinabung, karena
tanaman sayuran yang terkena abu vulkanik perlu segera disiram air. b) Daun
tanaman yang sudah tua terkena abu gunung Sinabung sebaiknya dipangkas/
dihilangkan (BPTP Sumut, 2013).
Kandungan Abu Vulkanik
Debu vulkanik yang menjadi lumpur bahkan memiliki pH yang lebih
rendah, yaitu 3,81 yang tergolong masam. Tanah yang bercampur debu vulkanik
(tanah lapisan atas) tergolong masam dengan nilai pH 4,83. Kemasaman yang
tinggi atau nilai pH yang rendah hingga sangat rendah dari debu vulkanik ini,
disebabkan kadar sulfur (belerang) yang tinggi dengan kadar belerang (S) total
sebesar 3,36%. Demikian juga kelarutannya dalam bentuk sulfat (SO4) yang
cukup tinggi mencapai 62 ppm, jauh diatas kadar yang dapat menyebabkan iritasi
Namun demikian, kadar SO4 sebesar 62 ppm ini belum tergolong ke dalam
level yang berbahaya dengan kadar 400-500 ppm. Kadar hara yang tinggi terdapat
pada debu vulkanik Gunung Sinabung, Kalium (K) dan Magnesium (Mg), kadar
hara lainnya seperti Fosfat (P) dan Boron (B) rendah, dan kandungan
logam-logam berat (Pb, Cu, Cd, dan Fe) yang dapat bersifat toxic bagi tanaman, sangat
rendah, sehingga tidak menyebabkan pencemaran bagi tanaman. Bahan pada
silikat (SiO2) yang lebih berfungsi sebagai bahan amelioran (bahan pembenah)
tanah sangat tinggi terdapat pada debu vulkanik Gunung Sinabung mencapai
74,47 % (Tim FP USU, 2014).
Hasil analisa kimia batuan letusan gunung Sinabung tanggal 23 Desember
2013. Conto Pumice (kedalaman lapisan) di analisa dengan X-Ray Fluorescence (XRF) adalah sebagai berikut :
Tabel. 1 Analisa Kimia Abu Vulkanik
Tahun SiO2 TiO2 Al2O3 FeO* MnO MgO CaO Na2O K2O P2O5
2013 58,9 0,71 17,88 6,78 0,15 2,84 7,73 2,97 1,86 0,13
800-1000
59,7 0,71 17,60 6,58 0,15 2,86 7,37 2,99 1,93 0,13
Letusan tahun 800-1000 dicirikan oleh aliran awan panas (aliran block-dan
abu) tanpa didahului erupsi plinian (semburan gas dan abu vulkanik yang tinggi).
Endapannya tersebar di tenggara lereng gunung Sinabung. Aliran awan panas ini
dihasilkan dari perulangan guguran lava pijar dari kubah lava. Aliran awan panas
saat ini diestimasikan masih sama dengan kejadian sebelumnya (800-1000 tahun
lalu), namun demikian surge (awan abunya dapat lebih panjang 1-2 km dari ujung
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di pertanaman kentang Kecamatan Simpang
Empat pada beberapa desa dengan ketinggian tempat ±1.340 m dpl dan
dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2014.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain kertas
kuisioner, air, tisue, methyl blue, slotipe.
Adapun alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain mikroskop,
preparat, kamera, gunting, cangkul, plastik transparan, kotak tray, kawat,
kalkulator, penggaris dan alat tulis.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode survei. Tahapan
penelitiannya adalah sebagai berikut :
1. Metode Daerah Sampel
Metode penentuan daerah penelitian ditetapkan secara purposive sampling.
Purposive sampling adalah metode pengambilan sampel yang dipilih dengan cermat
sehingga relevan dengan struktur penelitian, dimana pengambilan sampel dengan
mengambil sampel orang-orang yang dipilih oleh penulis menurut ciri-ciri spesifik
dan karakteristik tertentu. Dalam purposive sampling pemilihan sampel bertitik tolak
pada penilaian pribadi peneliti yang menyatakan bahwa sampel yang dipilih
benar-benar representatif (Djarwanto dan Subagyo, 1998). Daerah penelitian ditetapkan di
Kecamatan Simpang Empat yang ditentukan secara sengaja dengan pertimbangan
adalah salah satu daerah produksi kentang dan daerah yang terkena dampak erupsi
dipilih di empat desa yaitu Desa Ujung, Desa Gajah, Desa Bulan Baru, dan Desa
Torong yang masih memproduksi kentang selama erupsi gunung Sinabung. Dan
diambil 10 sampel petani di setiap desa.
2. Metode Pengambilan sampel
Penggambilan sampel dilakukan sistem random sampel, pada pengambilan
sampel secara random, setiap unit populasi, mempunyai kesempatan yang sama
untuk diambil sebagai sampel. Faktor pemilihan atau penunjukan sampel yang
mana akan diambil, yang semata-mata atas pertimbangan peneliti, disini
dihindarkan. Bila tidak, akan terjadi bias. Ini merupakan salah satu usaha untuk
mendapatkan sampel yang representatif. Dari satu lahan pertanaman kentang
terdapat 5 sampel batang tanaman kentang yang dipilih secara acak dan diberi
tanda dengan pacak yang diberi nomor.
Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Tanda
Tanda yang terbuat dari pacak yang berukuran 50 cm yang diberi nomor
pada bagian atas pacak yang menandakan nomor sampel. Tanda yang sudah siap
ditempatkan disamping sampel sesuai nomor urutan sampel.
Survei Penyakit Hawar Daun Kentang
Survei penyakit hawar daun kentang dilakukan dengan membagikan
angket pertanyaan pada petani (kuisioner) yang berisi mengenai cara budidaya
kentang yang dilakukan petani, pengenalan petani terhadap penyakit hawar daun
kentang, perkembangan penyakit hawar daun kentang selama erupsi gunung
sinabung dan pengendalian yang dilakukan petani terhadap penyakit hawar daun
penyakit hawar daun kentang yang dilakukan oleh petani dapat dilihat dari
pembagian angket pertanyaan (kuisioner) pada petani dapat dilihat pada
lampiran 1.
Pengamatan di Laboratorium
Diambil salah satu sampel tanaman yang terserang penyakit, dibawa ke
laboratorium. Disporulasi sampel selama ±2 hari, kemudian diamati jamur yang
tumbuh di bawah mikroskop. Didokumentasikan hasil pengamatan.
Peubah Amatan
Persentase Kejadian Penyakit
Untuk setiap desa diambil satu pertanaman sampel, Persentase Kejadian
penyakit dihitung berdasarkan tanaman yang terserang penyakit hawar daun kentang
dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
KjP = Kejadian Penyakit (%)
a = jumlah tanaman sakit
b = jumlah tanaman sehat
(Purwanti, 2002)
Produksi Tanaman Kentang
Produksi kentang dihitung dengan menimbang berat kentang (kg) yang
dipanen kemudian di konversikan dalam ton/Ha menggunakan rumus : a
KjP = x 100% b
X 1000 kg
Y (ton/Ha) = x
Keterangan:
Y : Produksi dalam Ton/Ha
X : Produksi dalam Kg/Plot
L : Luas Plot ( m2)
(Sudarsono dan Suparman, 1981).
Pengendalian Penyakit Hawar Daun Kentang
Pengamatan Pengendalian penyakit hawar daun kentangdilakukan dengan
memberi angket pertanyaan (kuisioner) kepada petani.
Analisis Data Analisis Regresi
Untuk menganalisis data yang diperoleh, digunakan metode analisis
kuntitatif regresi.
Regresi merupakan suatu alat ukur yang juga digunakan untuk mengukur
ada atau tidaknya korelasi antar variabel. Regresi berfungsi untuk
menggambarkan seberapa besar variabel bebas (X) mempengerahui variabel
terikat pada dua kejadian. Regresi juga dapat digunakan untuk meramalkan
kejadian yang akan datang.
Variabel yang diduga penyebab atau pendahulu dari variabel yang lain
disebut variabel bebas (x). Variabel yang diduga sebagai akibat atau yang dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya disebut variabel tidak bebas (y).
Pemeriksaan regresi antara variabel x dan variabel y digunakan koefisien regresi linier sederhana sebagai berikut:
Y = variabel tidak bebas
X = variabel bebas
a = konstanta
b = koefisien regresi / slop
Besarnya regresi berkisar antara +1 s/d -1. Koefisien regresi menunjukkan
kekuatan hubungan linier dan arah hubungan dua variabel acak. Jika koefisien
regresi positif, maka kedua variabel mempunyai hubungan searah. Artinya, jika
nilai variabel x tinggi, maka nilai variabel y akan tinggi pula. Sebaliknya, jika koefisien korelasi negatif, maka kedua variabel mempunyai hubungan terbalik.
Artinya, jika nilai variabel x tinggi, maka nilai variabel y akan menjadi rendah (Sarwono, 2006).
Untuk menguji apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak,
maka dilakukan uji signifikan dengan uji statistik t, sebagai berikut :
b t =
Se Keterangan :
t = nilai t hitung
b = koefisien regresi
Se = Standar estimasi
Untuk menguji apakah regresi tersebut signifikan atau tidak, maka
dilakukan uji signifikan dengan uji statistik-t untuk signifikan = 0,05 (tingkat
kepercayaan 95%), dengan ketentuan sebagai berikut :
t hitung > t tabel atau t hitung < -t tabel = Ha diterima Ho ditolak
I. Regresi Antara Banyaknya Terjadi Erupsi dengan Persentase Kejadian Penyakit Hawar Daun Kentang
Untuk menganalisis regresi antara banyaknya terjadi erupsi dengan
intensitas serangan penyakit hawar daun kentang ditentukan 2 variabel
yaitu banyaknya terjadi erupsi sebagai variabel bebas (x) dan kejadian penyakit hawar daun kentang sebagai variabel tidak bebas (y).
II. Regresi Antara Pengendalian Setelah Erupsi Terjadi dengan Persentase kejadian Penyakit Hawar Daun Kentang
Untuk menganalisis regresi antara pengendalian setelah erupsi
terjadi dengan intensitas serangan penyakit hawar daun kentang ditentukan
2 variabel yaitu pengendalian setelah erupsi terjadi sebagai variabel bebas
(x1) dan Persentase kejadian penyakit sebagai variabel tidak bebas (y). III. Regresi Antara Pengendalian Setelah Erupsi Terjadi dengan
Produksi Kentang
Untuk menganalisis regresi antara pengendalian setelah erupsi
terjadi dengan produksi kentang ditentukan 2 variabel yaitu pengendalian
setelah erupsi terjadi sebagai variabel bebas (x1) dan produksi kentang sebagai variabel tidak bebas (y1).
Grafik Regresi Linier Sederhana
Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Sinabung dan Pengambilan Sampel Desa
Gambar. 5 Pengambilan Sampel Desa Torong
Gajah