• Tidak ada hasil yang ditemukan

perbedaan efektivitas larutan salin hipe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "perbedaan efektivitas larutan salin hipe"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PERBEDAAN EFEKTIVITAS LARUTAN SALIN ISOTONIK DAN HIPERTONIK TERHADAP TINGKAT KELUHAN GEJALA KLINIS

PENDERITA RINOSINUSITIS KRONIK Nurmala Shofiyati, Made Setiamika, Ari Natalia

Program Studi Magister Kedokteran Keluarga, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Latar Belakang : Rinosinusitis Kronik (RSK) merupakan inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal dengan jangka waktu gejala ≥ 12 minggu. RSK ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung tersumbat atau obstruksi atau sekret nasal (anterior, posterior nasal drip). Keadaan ini ditambah nyeri wajah spontan atau pada penekanan, berkurangnya atau kehilangan sensasi penghidu. Untuk mengukur beratnya gejala dapat digunakan Visual analog scale (VAS). Perbaikan gejala klinis terjadi akibat mekanisme kerja dari cuci hidung dengan larutan salin hipertonik yang bekerja membilas mukosa hidung dari zat-zat iritan sehingga proses inflamasi dapat ditekan serta memperbaiki fungsi transpor mukosilia pada mukosa hidung dan sinus paranasal.

Tujuan : Penelitian ini untuk membuktikan perbedaan efektivitas pada pemberian larutan salin isotonik dan hipertonik terhadap tingkat keluhan gejala klinis penderita RSK.

Bahan dan Cara : Penelitian eksperimental murni dengan desain RCT. Sampel terdiri dari dua kelompok: RSK yang mendapat larutan salin isotonik dan hipertonik. Tiap kelompok terdiri dari 20 sampel. Keluhan gejala klinis dilakukan pre dan post memakai VAS. Analisis data menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasil : Untuk keluhan hidung tersumbat, rata-rata penurunan skor VAS pada kelompok larutan salin isotonik adalah 1,20 sedangkan pada kelompok larutan salin hipertonik adalah 2,60 dan perbedaan tersebut secara statistik dinyatakan signifikan (p < 0,001). Untuk keluhan pilek, rata-rata penurunan skor VAS pada kelompok larutan salin isotonik adalah 1,50 sedangkan pada kelompok larutan salin hipertonik adalah 2,80 dan perbedaan tersebut secara statistik dinyatakan signifikan (p = 0,001). Untuk keluhan nyeri wajah, rata-rata penurunan skor VAS pada kelompok larutan salin isotonik adalah 0,90 sedangkan pada kelompok larutan salin hipertonik adalah 2,05 dan perbedaan tersebut secara statistik dinyatakan signifikan (p = 0,003). Untuk keluhan gangguan penghidu, rata-rata penurunan skor VAS pada kelompok larutan salin isotonik adalah 0,45 sedangkan pada kelompok larutan salin hipertonik adalah 1,30 dan perbedaan tersebut secara statistik dinyatakan signifikan (p = 0,026).

(2)

Kata Kunci :gejala klinis, VAS, larutan salin isotonik, larutan salin hipertonik, rinosinusitis kronik.

ABSTRACT

Background : Chronic rhinosinusitis (CRS) is an inflammation of the mucosa of the nose and paranasal sinuses with periods of symptoms ≥ 12 weeks. CRS is characterized by two or more symptoms, which one of them is nasal congestion or obstruction or nasal discharge (anterior, posterior nasal drip). This situation accompanied with spontaneous facial pain or pressure, reduction or loss of sensation of smell. Visual analog scale (VAS) can be used to measure the severity of the symptoms.

Aim : This study to prove the difference in the effectiveness of the administration of isotonic and hypertonic saline solution to the complaint rate of clinical symptoms of patients with CRS.

Result : For nasal congestion complaints, the average reduction of VAS score in group using isotonic saline solution was 1.20 while in the hypertonic saline group was 2.60. For colds complaints, the average reduction in VAS score in isotonic saline solution group was 1.50 while in the hypertonic saline group was 2.80. For facial pain complaints, an average reduction in the VAS score in isotonic saline group was 0.90 while in the hypertonic saline group was 2.05. For smell disorders complaints, the average reduction in VAS score in isotonic saline solution group was 0.45 while in the hypertonic saline group was 1.30.

Conclusion : The use of hypertonic saline solution in the nasal washing treatment were more effective than the use of isotonic saline solution in lowering the level of clinical symptoms complaints of patients with CRS.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rinosinusitis kronik (RSK) merupakan inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal dengan jangka waktu gejala ≥ 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung tersumbat atau obstruksi atau sekret nasal (anterior, posterior nasal drip). Keadaan ini ditambah nyeri wajah spontan atau pada penekanan, berkurangnya atau kehilangan sensasi penghidu serta temuan endoskopik berupa polip atau sekret mukopurulen yang berasal dari meatus medius dan atau edema/ obstruksi mukosa primer pada meatus medius, dan atau temuan CT Scan berupa perubahan mukosa pada kompleks osteomeatal dan atau sinus paranasal (Fokkens et al, 2012).

(4)

poliklinik THT-KL RSUD Dr. Moewardi Surakarta tercatat sepanjang tahun 2014 angka kejadian rinosinusitis kronik sebanyak 204 kasus (13,01%) dari 1567 pasien rawat jalan rawat jalan.

Penelitian yang dilakukan oleh Amaruddin et al., pada tahun 2006, melakukan penelitian pada 22 sampel, gejala yang paling sering adalah hidung tersumbat (100%), ingus purulen (95,5%), nyeri wajah (91%), gangguan penghidu (59,1%). Hidung tersumbat juga merupakan gejala yang paling sering timbul sebanyak 80%, diikuti oleh ingus purulen 72%, gangguan penghidu 68 % dan nyeri sinus dan wajah sekitar 64% (Ryan et al., 2011). Untuk mengukur beratnya gejala dapat digunakan Visual analog scale (VAS). Penggunaan VAS telah terbukti relevan secara klinis dalam mengukur tingkat berat tiap gejala subyektif yang dirasakan pasien rinosinusitis kronik. Penilaiannya dilakukan dengan cara menilai berat ringannya keluhan berdasarkan gambar dan dianalogikan ke dalam skala 0 yaitu tidak mengganggu sampai skala 10 yaitu keluhan yang sangat mengganggu (Fokkens et al., 2012; Pradana et al., 2012; Bubun et al., 2009).

(5)

mekanisme kerja dari cuci hidung yang bekerja membilas mukosa hidung dari zat-zat iritan sehingga proses inflamasi dapat ditekan serta memperbaiki fungsi transpor mukosilia pada mukosa hidung dan sinus paranasal (Arnold, et al., 2007; Giger, 2010; Kumar, et al., 2013)

Di RSCM Jakarta, NaCl 0,9% telah digunakan sebagai cuci hidung untuk menjaga stabilisasi fungsi hidung dan sinus paranasal. Sub divisi Rinologi RSCM telah mengeluarkan beberapa leaflet mengenai manfaat dan tatacara cuci hidung dengan tujuan sosialisasi penggunaan cuci hidung pada penderita infeksi hidung dan sinus paranasal. Kelompok studi Rinologi Indonesia berpendapat bahwa penggunaan cuci hidung selain mengurangi proses inflamasi lokal pada hidung, juga dapat membersihkan debu-debu yang tersaring pada siliar-siliar epitel hidung sehingga iritasi mukosa dan proses infeksi dapat dicegah. Di RSUP Dr. M. Djamil, penggunaan cuci hidung dengan NaCl 0,9% sudah dilakukan pada penderita rinosinusitis kronis dengan hasil perbaikan gejala klinis pada beberapa pasien (Kumar, et al., 2013).

(6)

B. Rumusan Masalah

Apakah terdapat perbedaan efektivitas antara pemberian larutan salin isotonik dan hipertonik terhadap tingkat keluhan gejala klinis pada penderita rinosinusitis kronik?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk membuktikan perbedaan efektivitas pada pemberian larutan salin isotonik dan hipertonik terhadap tingkat keluhan gejala klinis penderita rinosinusitis kronik.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui efektivitas pemberian larutan salin isotonik dan hipertonik terhadap tingkat keluhan gejala klinis pilek penderita rinosinusitis kronik.

b. Untuk mengetahui efektivitas pemberian larutan salin isotonik dan hipertonik terhadap tingkat keluhan gejala klinis hidung tersumbat penderita rinosinusitis kronik.

(7)

d. Untuk mengetahui efektivitas pemberian larutan salin isotonik dan hipertonik terhadap tingkat keluhan gejala klinis penurunan penghidu penderita rinosinusitis kronik.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat ilmiah

Hasil penelitian dapat memberikan informasi dan pengetahuan mengenai pemberian larutan cuci hidung salin isotonik dan hipertonik pada penderita rinosinusitis kronik.

2. Manfaat Klinis

Hasil penelitian ini sebagai dasar pemberian larutan salin isotonik dan hipertonik dalam mengurangi tingkat keluhan gejala klinis penderita rinosinusitis kronik.

E. Originalitas Penelitian

Penelitian tentang Perbedaan efektivitas pada pemberian larutan salin hipertonik dan isotonik terhadap tingkat keluhan gejala klinik penderita rinosinusitis kronik belum pernah dilakukan di RSUD Dr.Moewardi Surakarta. Penelitian lain yang terkait dengan judul penelitian ini adalah :

Peneliti, Tahun

(8)
(9)

A. Anatomi dan Fisiologi Hidung 1. Anatomi Hidung

Hidung merupakan organ yang penting karena fungsinya sebagai pelindung dari lingkungan luar yang tidak menguntungkan. Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung dalam. Struktur hidung luar ada 3 bagian yang dapat dibedakan: paling atas kubah tulang yang tak dapat digerakkan, dibawahnya kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan dan yang paling bawah adalah lobolus hidung yang mudah digerakkan (Ballenger, 2003; Krouse and Stachler, 2006).

Hidung luar dibentuk oleh tulang keras dan tulang rawan, jaringan ikat serta otot-otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan lubang hidung. Hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os internum disebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. Kavum nasi berbentuk terowongan dari depan kebelakang, dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. pintu depan atau nares anterior dan pintu belakang nares posterior berhubungan dengan nasofaring (Ballenger, 2003).

Vestibulum adalah bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai ala nasi, tepat dibelakang nares anterior.Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut dengan vibrise (Ballenger, 2003).

(10)

konkha media dan konkha inferior. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konkha inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, yang lebih kecil lagi konka superior, sedangkan yang terkecil ialah konka suprema. Konka suprema biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior, berikutnya celah antara konkha media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konkha media disebut meatus superior (Ballenger, 2003; Krouse and Stachler, 2006).

Meatus medius merupakan celah yang penting karena disini terdapat muara dari sinus maksilla, sinus frontal dan bagian anterior sinus etmoid. Infundibulum adalah bagian yang terletak di balik meatus medius dinding lateral di bagian anterior. Ada suatu muara atau fisura yang menghubungkan meatus medius dengan infundibulum yang dinamakan hiatus semilunaris. Dinding inferior dan medial infundibulum membentuk tonjolan yang dikenal sebagai prosesus unsinatus (Ballenger, 2003).

(11)

sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari nervus maksila melalui ganglion sfenopalatinum (Ballenger, 2003).

Nervus Olfaktorius turun melalui lamina kribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian menyebar di mukosa yang melapisi bagian atas konka superior dan bagian septum yang (Ballenger, 2003).

2. Fisiologi Hidung

Fungsi hidung adalah sebagai fungsi penghidu, filtrasi, menyiapkan keadaan udara agar sesuai dengan suhu tubuh. Partikel yang besarnya 5-6 mikrometer atau lebih, 85 % -90% disaring didalam hidung dengan bantuan transpor mukosilia (Ballenger, 2003; Beule, 2010).

Menurut Mangunkusumo (2001) fungsi utama hidung yaitu Sebagai jalan nafas, alat pengatur kondisi udara, penyaring udara, indra penghidu, resonansi suara, turut membantu proses bicara, reflek nasal (Beule, 2010; Busquets, 2010).

B. Anatomi dan Fungsi Sinus Paranasal 1. Sinus maksila

(12)

bermuara ke hiatus semilunaris berjalan melalui infundibulum etmoid (Ballenger, 2003).

2. Sinus etmoid

Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini dianggap paling penting, merupakan sumber infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti piramid dengan dasarnya dibagian posterior (Steven, 2000).

Bagian anterior sinus bermuara ke meatus medius dan bagian posterior yang bermuara ke meatus superior. Sel anterior dan posterior dipisahkan oleh lempeng tulang transversal yang tipis. Tempat perlekatan konka media pada dinding lateral hidung juga merupakan patokan letak perbatasan kelompok sel-sel anterior dan posterior. Kelompok sel anterior terdapat didepan dan bawahnya sedang kelompok posterior ada diatas dan belakangnya (Steven, 2000; Ballenger, 2003).

3. Sinus frontal

Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar dari pada lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak digaris tengah. Kurang lebih 15 % orang dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5 % sinus frontalnya tidak berkembang. Sinus frontalis dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fossa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar kedaerah ini. Sinus frontal ini berdrenase melalui ostiumnya dan bermuara ke meatus media (Ballenger, 2003).

(13)

Masing-masing sinus sphenoid berhubungan dengan meatus superior melalui celah kecil menuju ke resesus spheno-etmoidalis.. Batas-batasnya ialah sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan arteri karotis interna dan disebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior didaerah pons (Steven, 2000; Ballenger, 2003).

5. Fungsi sinus paranasal

Fungsi sinus paranasal antara lain: sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning), sebagai penahan suhu (thermal insulators), membantu resonansi suara, membantu keseimbangan kepala, sebagai peredam perubahan tekanan udara, membantu produksi mucus (Steven, 2000).

C. Kompleks Osteo Meatal (KOM)

(14)

D. Rinosinusitis Kronik

1. Definisi

Rinosinusitis menurut European Position Paper on Rinosinusitis and Nasal Polyps 2012 (EPOS 2012) dapat didefinisikan sebagai inflamasi pada hidung dan sinus paranasal yang dikarakteristik oleh dua atau lebih gejala, salah satunya harus berupa hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau nasal discharge (anterior/posterior nasal drip), nyeri atau tekanan pada wajah, penurunan atau menghilangnya daya penghidu. Sedangkan berdasarkan tanda dari endoskopi rinosinusitis merupakan polip hidung dan atau mukopurulen dari meatus medius dan atau edema pada meatus medius dan berdasarkan perubahan CT scan ditemukan mukosa yang berubah diantara ostiomeatal complex dan atau sinus (Fokkens et al., 2012).

2. Etiologi

Faktor etiologi dari rinosinusitis kronik antara lain: a. Infeksi virus dan bakteri

(15)

normal, baik secara spontan atau efek dari obat-obat yang diberikan sehingga terjadi kesembuhan. Apabila obstruksi ostium sinus tidak segera diatasi (obstruksi total) maka dapat terjadi pertumbuhan bakteri sekunder pada mukosa dan cairan sinus paranasal. Pada saat respons inflamasi terus berlanjut dan respons bakteri mengambil alih, lingkungan sinus berubah ke keadaan yang lebih anaerobik. Flora bakteri menjadi semakin banyak (polimikrobial) dengan masuknya kuman anaerob, Streptococcus pyogenes (microaerophilic streptococci), dan Staphylococcus aureus. Perubahan lingkungan bakteri ini dapat menyebabkan peningkatan organisme yang resisten dan menurunkan efektivitas antibiotik akibat ketidakmampuan antibiotik mencapai sinus. Infeksi menyebabkan 30% mukosa kolumnar bersilia mengalami perubahan metaplastik menjadi mucus secreting goblet cells, sehingga efusi sinus makin meningkat (Heldin et al, 2009).

b. Alergi

Alergen menyebabkan respons inflamasi dengan memicu rangkaian peristiwa yang berefek pelepasan mediator kimia dan mengaktifkan sel inflamasi. Limfosit T helper 2 (Th 2) menjadi aktif dan melepaskan sejumlah sitokin yang berefek aktivasi sel mastosit, sel B dan eosinofil. Berbagai sel ini kemudian melanjutkan respons inflamasi dengan melepaskan lebih banyak mediator kimia yang menyebabkan oedem mukosa dan obstruksi ostium sinus (Heldin et al, 2009).

(16)

Infeksi gigi (infeksi dentogenik) pada gigi rahang atas merupakan salah satu faktor risiko rinosinusitis kronik. Dasar sinus maksila adalah prosesus alveolaris tempat akar gigi rahang atas, sehingga sinus maksila hanya terpisahkan oleh tulang tipis dengan akar gigi, bahkan kadang-kadang tanpa tulang pembatas. Infeksi gigi rahang atas seperti infeksi apikal akar gigi atau inflamasi jaringan periodontal mudah menyebar secara langsung ke sinus / melalui pembuluh darah dan limfe. Biasanya sinusitis dentogen pada sinusitis maksila kronik yang mengenai satu sisi dengan ingus purulen dan nafas bau busuk. Pengobatannya harus meliputi pencabutan atau perawatan gigi yang terinfeksi dan pemberian antibiotika spectrum luas dan terkadang dibutuhkan kombinasi dengan antibiotik untuk kuman anaerob, terkadang perlu dilakukan irigasi sinus maksila (Puglisi, 2011; Longhini, 2011).

Rinosinusitis kronik dentogenik terjadi apabila membran Scheneiderian teriritasi atau robek sebagai akibat infeksi gigi, trauma maksilaris, benda asing kedalam sinus dan lain-lain. Rinosinusitis dentogenik dapat terjadi melalui 2 mekanisme: dapat menjalar ke sinus melalui ruang pulpa gigi yang menyebabkan peridontitis. Mekanisme kedua melalui infeksi kronik dan destruksi dari soket gigi yang disebut marginal periodontitis (Costa, 2007).

(17)

media, benda asing di hidung, polip serta tumor di dalam rongga hidung (Becker,2011).

Diabetes mellitus merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya rinosinusitis kronik. Hal ini disebabkan penderita diabetes mellitus berada dalam kondisi immunocompromised atau turunnya sistem kekebalan tubuh sehingga lebih rentan terkena penyakit infeksi seperti rinosinusitis.

3. Patofisiologi

(18)

hari. Sekresi sel goblet dan kelenjar mukus memfasilitasi eliminasi dari partikel-partikel asing. Mukus sangat efektif dalam mengangkut partikel-partikel yang lebih besar dari 3-5 mikro hingga 80%, tidak hanya patogen anorganik tetapi juga 75% dari bakteri yang memasuki hidung. Mucus blanket juga berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh mempunyai struktur yang sangat dinamis, terus menerus diperbarui setiap 10-20 menit. Adanya antigen akan merangsang sistem kekebalan tubuh, pergerakan dari epitel bersilia, mendorong mukus kearah ostium sinus, kemudian mengalirkan ke rongga hidung. Mukus tersebut kemudian didorong ke nasofaring untuk ditelan, dan patogen tersebut akan dihancurkan oleh sekresi asam lambung (Becker, 2011).

(19)

4. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan rinosinusitis kronik dapat berupa terapi medikamentosa dan tindakan bedah. Berdasarkan pedoman terapi rinosinusitis PERHATI-KL Kelompok Studi Rinologi tahun 2007, penatalaksanan rinosinusitis kronik berupa pemberian antibiotik lini kedua Amoksilin klavulanat/ Ampisilin sulbaktam, Cephalosporin generasi kedua, makrolid dan terapi tambahan. Terapi tambahan Dekongestan oral, Kortikosteroid oral dan atau topikal, mukolitik, antihistamin pada pasien alergi (Soetjipto, 2007).

Penggunaan larutan cuci hidung dengan salin terbukti aman bagi anak-anak, orang dewasa, kehamilan maupun usia lanjut. Pencucian hidung dengan larutan salin isotonis dapat diberikan sebagai terapi tambahan pada rinosinusitis, rinitis alergi, infeksi saluran napas atas dan pasca pembedahan sinus. Kontraindikasi penggunaan terapi ini adalah trauma wajah yang belum sembuh sempurna, gangguan neurologis dan muskuloskeletal. Tidak ada peneliti yang melaporkan adanya efek samping yang serius terhadap penggunaan larutan salin isotonis ini. Keluhan yang sering ditemui adalah rasa tidak nyaman dan cemas pada saat penggunaan awal larutan tersebut (Papsin et al., 2003; Rabago et al., 2009).

(20)

menggunakan kemasan botol semprot yang bertekanan positif rendah (Rabago et al., 2009).

Tindakan pembedahan diindikasikan pada rinosinusitis kronik yang gagal dengan terapi konservatif. Tindakan pembedahan dapat berupa irigasi sinus atau bedah sinus endoskopi fungsional (Busquets, 2006).

Gambar 2.1. Bagan penatalaksanaan rinosinusitis kronik tanpa polip berdasarkan EPOS 2012 (Fokken et al., 2012).

E. Pengaruh Pemberian Larutan Salin pada Rinosinusitis Kronik

1. Larutan Salin Isotonik

(21)

suatu larutan yang mempunyai konsentrasi zat terlarut yang sama (tekanan osmotik yang sama) dengan konsentrasi didalam sel (Hernandez, 2007; Robago, 2009).

Cuci hidung dengan larutan salin isotonik terbukti efektif dalam menurunkan gejala klinis rinosinusitis kronik. Mekanisme pasti terjadinya belum diketahui, namun dikatakan cuci hidung dapat memperbaiki fungsi mukosa sinonasal melalui beberapa efek fisiologis, yaitu; pencucian langsung koloni mikroorganisme patogen dan zat iritan pada permukaan mukosa hidung, pengurangan mediator inflamasi, pengurangan udem pada mukosa, pengurangan sekresi musin, peningkatan transpor mukosilia dengan meningkatkan frekuensi gerakan silia. Cuci hidung dengan larutan salin isotonik digunakan sebagai terapi tambahan beberapa penyakit sinonasal (termasuk rinosinusitis akut, rinosinusitis kronis, rinitis alergi, dan penyakit sinonasal lainnya) (Culig, 2010; Satdhabudha, 2012; Wei, et al., 2011).

2. Larutan Salin Hipertonik

Larutan hipertonik adalah larutan yang mempunyai konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi daripada didalam sel. Dikarenakan ada perbedaan konsentrasi sehingga secara fisiologis larutan didalam sel akan bergerak ke luar sel untuk menyeimbangkan konsentrasi zat didalam dan luar sel (Halperin, 2009).

(22)

intraseluler, peningkatan availabilitas adenosine triphosphate pada aksonema silia dan peningkatan ciliary beat. Larutan hipertonis juga memiliki efek mukolitik pada konsentrasi NaCl 7%. Larutan salin hipertonik memiliki efek antibakteri serta dapat mengurangi udema mukosa (Garavello, et al., 2003; Lee, et al., 2003). Pengangkutan aktif terjadi pada penggunaan cairan hipertonik, dimana substansi melewati membran sel dari daerah yang berkonsentrasi rendah ke daerah yang berkonsentrasi tinggi (Hernandez, 2007).

(23)

Na+ yang relatif tinggi. Sehingga penyerapan air menjadi lebih tinggi pada ASL (Beule, 2010; Zhang, et al, 2011).

Gambar 2.2. Salin Hipertonik menarik air untuk rehidrasi ASL dan mengencerkan mukus (dikutip dari Rogers, 2007)

Larutan hipertonik yang paling banyak digunakan adalah NaCl 3%. Untuk penggunaan NaCl dengan konsentrasi yang lebih tinggi masih dihindari oleh karena dapat menyebabkan cell injury (Hernandez, 2007).

F. Tehnik Cuci Hidung

Cuci hidung dilakukan dengan melakukan penyemprotan cairan ke bagian superolateral kavum nasi dalam posisi duduk atau posisi berdiri, dengan kepala condong ke kanan atau kekiri dengan sudut sekitar 450 sehingga satu lubang

(24)

hidung setelah proses pencucian selesai untuk membersihkan sisa-sisa cairan dan (Miwa et al., 2007).

G. Visual Analog Scale

Rasa tidak nyaman adalah pengalaman manusia yang keberadaannya dapat dikomunikasikan melalui deskripsi linguistik. Terdapat tiga dimensi yang bisa dinilai yaitu sensorik-diskriminatif, afektif-motivasional dan kognitif-evaluatif. Dimensi sensorik-diskriminatif meliputi aspek sensorik, termasuk intensitas dan lokasi. Dimensi afektif-motivasional mencerminkan aspek emosi dan perlawanan terhadap rasa tidak nyaman tersebut. Dimensi kognitif-evaluatif mencerminkan pengertian terhadap arti dan konsekuensi rasa tidak nyaman tersebut termasuk dampak terhadap kualitas hidup (Dauphin et al., 2000).

Visual Analog Scale yang paling sederhana adalah garis horisontal lurus pada ukuran yang tertentu, misalnya 10 cm. Batas akhir didefinisikan sebagai batas ekstrim limit dari parameter yang diukur. Pada beberapa penelitian orientasi dari kiri kekanan, tetapi ada juga penelitian yang menggunakan VAS dengan orientasi vertikal. Scott dan Huskisson melaporkan tidak ada perbedaan antara VAS vertical dan horizontal pada survey yang melibatkan 100 subyek, 23

Beberapa penulis mengatakan bahwa penambahan deskripsi sepanjang garis dapat

mempengaruhi distribusi hasil. Bilangan seharusnya tidak ditempatkan pada VAS,

karena nomor pilihan seperti 5 dan 10 akan menarik pasien. VAS baris polos

(garis absolut atau ditandai) berjalan dari kiri ke kanan adalah skala yang tidak

(25)

Menurut EPOS beratnya gejala rinosinusitis kronik dapat dibagi menjadi

ringan, sedang, berat, dimana derajat ringan gejala rinosinusitis bila skor ≤3,

derajat sedang skor >3−7, dan derajat berat skor >7−10 untuk menilai berat

ringannya gejala pasien diminta untuk memberikan jawaban pada skala VAS

tentang keluhan/gangguan yang dirasakannya (Fokken et al., 2012).

Gambar. 2.3. Penilaian berdasarkan VAS.

Kelebihan VAS yaitu pengukuran yang sederhana, murah, tidak tergantung bahasa dan tersedia di semua fasilitas kesehatan. VAS sering digunakan untuk mengukur intensitas dan frekuensi berbagai gejala khususnya nyeri. Kekurangan VAS, dipengaruhi usia dan tingkat pengetahuan pasien memfokuskan perhatiannya pada gejala dapat mempengaruhi persepsi seseorang (Dauphin et al., 2000).

H. Kerangka Berpikir

Faktor etiologi:

- Infeksi (bakteri, virus, jamur) - Infeksi gigi rahang atas

- Alergi Faktor Predisposisi:- Faktor lingkungan (iritan, polutan) - Malnutrisi

- Defisiensi imun

(26)

J. Hipotesis

Larutan salin hipertonik lebih efektif dalam memperbaiki tingkat keluhan gejala klinis penderita rinosinusitis kronik dibandingkan larutan salin isotonik.

Mukosa hidung dan sinus paranasal

Edema mukosa Viskoelastisitas mukus Gerakan silia

RINOSINUSITIS KRONIK

Tingkat keluhan gejala klinis yang dinilai dengan VAS :

- Hidung tersumbat - Pilek

- Nyeri tekan di wajah - Penurunan penghidu

Larutan salin hipertonik Larutan salin isotonik

-Viskoelastisitas mukus - Gerakan silia - Edema mukosa

Perbaikan tingkat keluhan gejala klinis yang dinilai dengan VAS :

- Hidung tersumbat - Pilek

(27)

BAB III

METODE DAN PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

(28)

B. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan desain penelitian Randomized Control Trial pre dan post test design dengan double blind, yaitu subjek dan peneliti tidak mengetahui siapa yang mendapatkan perlakuan I dan II. Peneliti meminta bantuan kepada manager penelitian untuk memberikan label A untuk larutan salin isotonik dan label B untuk larutan salin hipertonik kemudian diberikan kepada subjek penelitian.

Penelitian menggunakan 2 kelompok sampel yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Adapun kedua kelompok sampel tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kelompok perlakuan adalah penderita rinosinusitis yang mendapat terapi Amoksilin klavulanat 625 mg 3 x 1 tablet, dekongestan pseudoephedrin 60 mg/triprolidin HCl 2,5 mg 3 x 1 tablet dan mukolitik ambroxol 3 x 30 mg, kortikosteroid methylprednisolone 8 mg 3 x 1 tablet dan larutan salin hipertonik NaCl 3%.

(29)

Pada penelitian ini dilakukan pre test yaitu pemeriksaan tingkat keluhan gejala klinik awal dan post test yaitu pemeriksaan tingkat keluhan gejala klinik akhir. Rinosnusitis kronik merupakan inflamasi pada hidung dan sinus paranasal yang dikarakteristik oleh 2 atau lebih gejala, salah satunya harus berupa hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau nasal discharge (anterior/posterior nasal drip), nyeri atau tekanan pada wajah, penurunan atau menghilangnya daya penciuman. Sedangkan berdasarkan tanda dari endoskopi rinosinusitis merupakan polip hidung dan atau mukopurulen dari meatus medius dan atau edema pada meatus medius dan berdasarkan perubahan CT scan ditemukan mukosa yang berubah diantara osteomeatal complex dan atau sinus.

2. Berusia lebih dari 18 – 60 tahun

(30)

b. Kriteria Eksklusi :

1. Pasien dengan obstruksi mekanik (massa tumor di hidung, septum deviasi, konka bulosa, polip).

2. Pasien dengan riwayat operasi hidung dan sinus.

3. Tidak sedang dalam pemakaian obat tetes hidung jangka panjang. 4. Diabetes Mellitus.

5. Penderita immunocompromized (HIV).

6. Malnutrisi. Dinilai dari IMT adalah: ukuran antropometri massa tubuh yang ditentukan dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. Kriteria dibagi menjadi underweight bila IMT <18,5, normal bila IMT 18,5 – 22,9, overweight bila IMT 23 – 24,9, obese bila IMT 25 – 29,9 dan obese tipe 2 bila IMT ≥30.

2. Besar sampel

Sampel penelitian adalah pasien rinosinusitis kronik yang bersedia menjadi subjek penelitian dan menandatangani persetujuan serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Besar sampel dihitung menggunakan rumus uji hipotesis terhadap dua

(31)

(Zα + Zβ)S

n = 2

X1-X2

 Zα = level of signifikan =1,96

 Zβ = power = 0,84

 S= simpang baku = 5.5

 X1 – X2 = perbedaan klinis yang diinginkan (clinical judgement) = 5

(Nezamoddin Berjis et al., 2011)

 Didapatkan jumlah dari perhitungan sebanyak 18.9 untuk

masing-masing kelompok

 Jadi besar sampel yang harus dipenuhi minimal sebanyak 19 sampel

untuk masing-masing kelompok.

 Dengan risiko drop out sebesar 10 % maka 19 + 1.9 = 19.9 dibulatkan 20

 Jadi besar sampel n : 20, untuk masing masing kelompok, N : 40, untuk jumlah seluruh sampel.

3. Sampling

Sampel penelitian dipilih dengan cara non-probability sampling, yaitu dengan teknik consecutive sampling: setiap subjek yang memenuhi kriteria penelitian dilibatkan dalam kegiatan penelitian sampai kurun

(32)

waktu tertentu, sehingga jumlah subjek penelitian yang diperlukan terpenuhi.

D. Variabel Penelitian

 Variabel bebas : larutan salin hipertonik dan larutan salin isotonik.  Varibel terikat : tingkat keluhan gejala klinis.

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Larutan Salin Hipertonik

 Definisi : suatu larutan yang mempunyai konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi dengan konsentrasi didalam sel.

 Instrumen :

- Skala data : nominal

 Hasil ukur : NaCl 3% yang mengandung Sodium 513 mmol/L, Klorida 513 mmol/L dalam 500 ml air.

 Skala ukur: mmol/L. 2. Larutan Salin Isotonik

 Definisi : suatu larutan yang mempunyai konsentrasi zat terlarut yang sama (tekanan osmotik yang sama) dengan konsentrasi didalam sel.  Instrumen :

- Skala data : nominal

(33)

 Skala ukur : mmol/L 3. Tingkat keluhan gejala pilek

 Definisi :Merupakan keluhan berupa keluarnya lendir didalam hidung menuju ke arah anterior maupun ke arah posterior atau tenggorokan yang dirasakan oleh pasien yang di ukur menggunakan skala VAS dalam bentuk kuisioner. Berat ringannya keluhan dihitung dari skala 0 (tidak ada keluhan) hingga skala 10 (keluhan dirasakan sangat mengganggu)

 Instrumen : skala VAS  Skala data : numerik

 Hasil ukur : VAS antara 0-10

 Skala ukur : skoring

4. Tingkat keluhan gejala hidung tersumbat

 Definisi: keluhan hidung tersumbat pada salah satu sisi ataupun kedua sisi hidung yang dirasakan oleh pasien yang di ukur menggunakan skala VAS dalam bentuk kuisioner. Berat ringannya keluhan dihitung dari skala 0 (tidak ada keluhan) hingga skala 10 (keluhan dirasakan sangat mengganggu)

(34)

 Hasil ukur : VAS antara 0-10

 Skala ukur : skoring

5. Gejala Nyeri Wajah

 Definisi: Merupakan keluhan berupa rasa sakit atau rasa tertekan pada daerah pipi, dahi dan sekitar mata yang dirasakan oleh pasien yang di ukur menggunakan skala VAS dalam bentuk kuisioner. Berat ringannya keluhan dihitung dari skala 0 (tidak ada keluhan) hingga skala 10 (keluhan dirasakan sangat mengganggu).

 Instrumen : skala VAS  Skala data : numerik

 Hasil ukur : VAS antara 0-10

 Skala ukur : skoring

6. Gejala Gangguan Penghidu

(35)

 Instrumen : skala VAS  Skala data : numerik

 Hasil ukur : VAS antara 0-10

Skala ukur : skoring

F. Pelaksanaan Penelitian

1. Pasien rinosinusitis kronik yang berkunjung ke poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL yang memenuhi kriteria inklusi, kriteria eksklusi dan telah menandatangani informed consent. Dimasukan dalam sampel penelitian. 2. Selanjutnya sampel dibagi menjadi dua kelompok secara random. Kelompok

pertama sebagai kelompok kontrol diberikan terapi medikamentosa dan cuci hidung dengan larutan salin isotonik. Kelompok kedua sebagai perlakuan diberikan terapi medikamentosa dan cuci hidung dengan larutan salin hipertonik. Peneliti dan pasien tidak mengetahui jenis larutan salin yang diberikan.

3. Dilakukan anamnesis untuk pengambilan data tentang tingkat keluhan gejala klinis dengan skoring VAS.

(36)

5. Setelah 2 minggu pemberian terapi, dilakukan penilaian tingkat keluhan gejala klinis dengan skoring VAS.

6. Dilakukan pengumpulan data dan dilakuan analisis data.

G. Rancangan Penelitian

Gejala klinik dengan skoring VAS sebelum terapi

Gejala klinik dengan skoring VAS 2 minggu pasca terapi Gejala klinik dengan skoring VAS

2 minggu pasca terapi

(37)

H. Instrumen Penelitian

1. Alat untuk cuci hidung menggunakan ENT Clear, larutan salin isotonik NaCl 0.9% dan larutan salin hipertonik NaCl 3%.

2. Medikamentosa: Amoksilin klavulanat 625 mg 3 x 1 tablet, dekongestan pseudoephedrin 60 mg/triprolidin HCl 2,5 mg 3 x 1 tablet dan mukolitik ambroxol 3 x 30 mg, kortikosteroid methylprednisolone 8 mg 3 x 1 tablet (Soetjipto et al., 2007).

3. Tabel kepatuhan pasien melakukan cuci hidung

I. Cara Analisis Data

Data yang diperoleh diuji kenormalan terlebih dahulu dengan uji shapiro-Wilk, jika data terdistribusi normal digunakan uji t tidak berpasangan. Jika data tidak terdistribusi normal dilakukan analisis statistik dengan uji Mann-Whitney.

J. Etika Penelitian

(38)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis kronik yang berobat di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Selama penelitian diambil sampel sebanyak 40 pasien di mana 20 pasien di antaranya diberi perlakuan berupa cuci hidung dengan larutan salin isotonik dan 20 pasien yang lain diberi perlakuan berupa cuci hidung dengan larutan salin hipertonik. Perbaikan tingkat keluhan gejala klinis yang diukur dengan skor Visual Analogue Scale (VAS) diamati sebagai parameter untuk mengevaluasi hasil eksperimen.

A. Deskripsi Karakteristik Sampel

Sebagian besar variabel yang dapat merancu hasil eksperimen sudah dikontrol melalui prosedur inklusi dan eksklusi. Variabel yang masih dapat menunjukkan heterogenitas sampel hanya karakteristik demografis yang meliputi usia dan jenis kelamin. Deskripsi usia dan jenis kelamin pasien dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Deskripsi Karakteristik Sampel

(39)

(n = 20) (n = 20)

Keterangan: 1 Usia dinyatakan dengan nilai mean SD dan diuji beda antara dua kelompok

dengan independent samples t test.

2 Jenis kelamin dinyatakan dengan angka frekuensi (prosentase) dan diuji beda

antara dua kelompok dengan chi square test.

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa terdapat sedikit perbedaan karakteristik demografis antara kedua kelompok pasien. Usia kelompok yang diberi larutan salin isotonik (35,95  10,40 tahun) relatif lebih muda dibandingkan usia kelompok yang diberi larutan salin hipertonik (39,15 

11,87 tahun). Meskipun begitu pengujian statistik menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan (p=0,370; p>0,05). Pada kelompok yang diberi larutan salin isotonik jumlah pasien laki-laki (55,0%) lebih banyak dibandingkan jumlah pasien perempuan (45,0%), sedangkan pada kelompok yang diberi larutan salin hipertonik jumlah pasien laki-laki (40,0%) lebih sedikit dibandingkan jumlah pasien perempuan (60,0%). Meskipun begitu pengujian statistik menunjukkan bahwa perbedaan distribusi tersebut tidak signifikan (p=0,342; p>0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa karakteristik demografis pasien pada kedua kelompok eksperimen termasuk homogen.

(40)

Ada 4 jenis gejala klinis yang dikeluhkan pasien yang diamati dalam penelitian ini yaitu hidung tersumbat, pilek, nyeri wajah, dan gangguan penghidu. Tingkat keluhan dinyatakan dengan skor VAS yang dideskripsikan dengan nilai mean dan standar deviasi. Uji beda skor VAS antara sebelum dan sesudah pemberian terapi cuci hidung dengan larutan salin isotonik dilakukan dengan paired samples t test (apabila data memenuhi syarat normalitas) atau wilcoxon signed rank test (apabila data tidak memenuhi syarat normalitas). Deskripsi skor VAS sebelum dan sesudah pemberian terapi cuci hidung dengan larutan salin isotonik dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Deskripsi Skor VAS Sebelum dan Sesudah Pemberian Terapi Cuci Hidung dengan Larutan salin Isotonik

Gejala Klinis Sebelum Terapi Sesudah Terapi p1

Hidung tersumbat 4,80  2,07 3,60  1,82 < 0,001*

Pilek 4,35  2,35 2,85  1,95 < 0,001*

Nyeri wajah 4,20  2,28 3,30  2,03 < 0,001* Gangguan penghidu 2,05  2,33 1,60  1,79 0,007*

Keterangan: 1 Uji beda pada keempat gejala klinis dilakukan dengan wilcoxon signed rank

test karena data tidak memenuhi syarat normalitas berdasarkan uji shapiro-wilk (uji normalitas direkomendasikan untuk sampel < 50).

* p < 0,05 artinya perbedaan signifikan.

(41)

menurun dari 4,20 menjadi 3,30 dan penurunan ini secara statistik dinyatakan signifikan (p < 0,001). Rata-rata skor VAS gejala gangguan penghidu menurun dari 2,05 menjadi 1,60 dan penurunan ini secara statistik dinyatakan signifikan (p = 0,007). Dengan demikian diketahui bahwa terapi cuci hidung dengan larutan salin isotonik terbukti efektif dapat menurunkan keluhan hidung tersumbat, pilek, nyeri wajah, dan gangguan penghidu.

C. Deskripsi Skor VAS pada Kelompok yang Diberi Perlakuan Cuci Hidung dengan Larutan Salin Hipertonik

Sebagaimana pada kelompok pasien yang diberi perlakuan cuci hidung dengan larutan salin isotonik, prosedur dan rincian pengamatan serta analisis yang sama dilakukan pada kelompok pasien yang diberi perlakuan cuci hidung dengan larutan salin hipertonik. Deskripsi skor VAS sebelum dan sesudah pemberian terapi cuci hidung dengan larutan salin hipertonik dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Deskripsi Skor VAS Sebelum dan Sesudah Pemberian Terapi Cuci Hidung dengan Larutan Salin Hipertonik

Gejala Klinis Sebelum Terapi Sesudah Terapi p1

Hidung tersumbat 4,75  2,24 2,15  1,14 < 0,001* berdasarkan uji shapiro-wilk. Adapun uji beda pada gejala klinis pilek dan gangguan penghidu dilakukan dengan wilcoxon signed rank test karena data tidak memenuhi syarat normalitas.

(42)

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa skor VAS keempat gejala klinis pada kelompok pasien yang diberi perlakuan cuci hidung dengan larutan hipertonik mengalami penurunan dari sebelum ke sesudah terapi. Rata-rata skor VAS gejala hidung tersumbat menurun dari 4,75 menjadi 2,15 dan penurunan ini secara statistik dinyatakan signifikan (p < 0,001). Rata-rata skor VAS gejala pilek menurun dari 4,75 menjadi 1,95 dan penurunan ini secara statistik dinyatakan signifikan (p < 0,001). Rata-rata skor VAS gejala nyeri wajah menurun dari 4,15 menjadi 2,10 dan penurunan ini secara statistik dinyatakan signifikan (p < 0,001). Rata-rata skor VAS gejala gangguan penghidu menurun dari 2,55 menjadi 1,25 dan penurunan ini secara statistik dinyatakan signifikan (p = 0,002). Dengan demikian diketahui bahwa terapi cuci hidung dengan larutan hipertonik terbukti efektif dapat menurunkan keluhan hidung tersumbat, pilek, nyeri wajah, dan gangguan penghidu.

(43)
(44)

Tabel 4.4 Perbandingan Penurunan Skor VAS antara Kelompok Pasien yang Diberi Terapi Cuci Hidung dengan Larutan Salin Isotonik dengan Kelompok Pasien yang Diberi Terapi Cuci Hidung dengan Larutan Salin Hipertonik

Gejala Klinis Isotonik Hipertonik p2

Hidung tersumbat 1,20  0,70 2,60  1,31 < 0,001*

Pilek 1,50  0,76 2,80  1,36 0,001*

Nyeri wajah 0,90  0,55 2,05  1,36 0,003*

Gangguan penghidu 0,45  0,60 1,30  1,22 0,026*

Keterangan: 1 Angka-angka deskripsi dalam tabel menyatakan penurunan skor VAS yang

diperoleh dari selisih skor VAS sebelum dan sesudah terapi.

2 Uji beda pada keempat gejala klinis dilakukan dengan mann-whitney test

karena data tidak memenuhi syarat normalitas berdasarkan uji shapiro-wilk.

* p < 0,05 artinya perbedaan signifikan.

Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa pada semua gejala klinis rata-rata penurunan skor VAS pada kelompok yang diberi terapi cuci hidung dengan larutan salin hipertonik lebih besar dibandingkan rata-rata penurunan skor VAS pada kelompok yang diberi terapi cuci hidung dengan larutan salin isotonik.

1. Untuk keluhan hidung tersumbat, rata-rata penurunan skor VAS pada kelompok larutan salin isotonik adalah 1,20 sedangkan pada kelompok larutan salin hipertonik adalah 2,60 dan perbedaan tersebut secara statistik dinyatakan signifikan (p < 0,001).

(45)

3. Untuk keluhan nyeri wajah, rata-rata penurunan skor VAS pada kelompok larutan salin isotonik adalah 0,90 sedangkan pada kelompok larutan salin hipertonik adalah 2,05 dan perbedaan tersebut secara statistik dinyatakan signifikan (p = 0,003).

4. Untuk keluhan gangguan penghidu, rata-rata penurunan skor VAS pada kelompok larutan salin isotonik adalah 0,45 sedangkan pada kelompok larutan salin hipertonik adalah 1,30 dan perbedaan tersebut secara statistik dinyatakan signifikan (p = 0,026).

(46)

BAB V PEMBAHASAN

Rancangan penelitian eksperimental ini menggunakan dua kelompok subjek pengamatan yaitu pasien rinosinusitis kronik yang diberikan larutan salin isotonik dan larutan salin hipertonik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan perbedaan efektivitas pada pemberian larutan salin isotonik dan hipertonik terhadap tingkat keluhan gejalan klinis penderita rinosinusitis kronik. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan penelitian eksperimental murni dengan desain penelitian Randomized Control Trial pre dan post test design dengan double blind.

Penelitian ini dilaksanakan pada pasien rinosinusitis kronik di poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Perbaikan tingkat keluhan gejala klinis yang diukur dengan skor Visual Analogue Scale (VAS) diamati sebagai parameter untuk mengevaluasi hasil penelitian. Pemilihan sampel penelitian ini dengan cara non-probability sampling, yaitu dengan teknik consecutive sampling: setiap subjek yang memenuhi kriteria penelitian dilibatkan dalam kegiatan penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah subjek penelitian yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro dan Ismael, 2008).

(47)

Rinosinusitis kronik merupakan penyakit multifaktorial dengan beberapa gejala klinis yang ditimbulkannya. Banyak penderita yang mendapat pengobatan medis untuk mengurangi gejala klinis tersebut. Penggunaan cuci hidung menjadi perhatian pada penelitian ini dalam memperbaiki gejala klinis dan kualitas hidup penderita rinosinusitis kronis.

Pada data demografi yaitu umur dan jenis kelamin uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan umur (p = 0,370) dan distribusi jenis kelamin tidak signifikan (p = 0,342).

Rinosinusitis kronik lebih sering dijumpai pada wanita dibandingkan pria dengan rasio 6:4. Di Kanada dilaporkan penderita rinosinusitis kronik berkisar antara umur 20-39 tahun atau 50-59 tahun. Setelah usia 60 tahun dijumpai prevalensi dari rinosinusitis kronik mulai menurun hingga 50% (Fokkens et al, 2012).

(48)

menderita RSK akibat sering terpaparnya dengan zat polutan di lingkungan sekitar Dousary et al, 2012).

Terdapat perbaikan dalam keluhan subyektif setelah pemberian terapi pada masing-masing kelompok. Pemberian larutan salin hipertonik pada terapi cuci hidung lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan larutan salin isotonik dalam menurunkan skor VAS atau mengurangi keluhan hidung tersumbat, pilek, dan nyeri wajah pada pasien rinosinusitis kronik. Keluhan gangguan penghidu penurunan skor VAS pada kelompok isotonik dan hipertonik adalah sama dan secara statistik dinyatakan tidak ada perbedaan signifikan.

Rinosinusitis kronik merupakan penyakit multifaktorial dengan beberapa gejala klinis yang ditimbulkannya. Banyak penderita yang mendapat pengobatan medis untuk mengurangi gejala klinis tersebut. Penggunaan cuci hidung menjadi perhatian pada penelitian ini dalam memperbaiki gejala klinis dan kualitas hidup penderita rinosinusitis kronik.

(49)

Gangguan mukosiliar klirens terjadi akibat peningkatan jumlah bakteri dan perubahan pada viskoelastisitas mukus sehingga terjadi proses rehidrasi pada mukosa hidung yang menyebabkan terjadinya gangguan gerakan silia. Cuci hidung berperan dalam memperbaiki fungsi mukosiliar klirens melalui pembilasan terhadap koloni-koloni kuman yang ada. Pada beberapa penelitian menyatakan peningkatan mukosiliar klirens tidak begitu signifikan terlihat pada penggunaan cuci hidung dengan larutan salin isotonik, tetapi sebaliknya terjadi peningkatan yang bermakna pada penggunaan larutan salin hipertonik. Larutan salin hipertonik menyebabkan terjadinya peningkatan pelepasan Ca+2 dari dalam sel yang

merangsang peningkatan frekuensi gerakan silia akibat asupan dari adenosin tripospat pada akson silia (Snidvongs, Chaowanapanja, et al. 2008).

(50)

Pada beberapa penelitian penggunaan cuci hidung dengan larutan salin isotonik memberikan perbaikan terhadap gejala klinis setelah p emberian 14 hari. Namun terdapat beberapa pendapat lain yang menyatakan waktu 4-12 minggu merupakan waktu yang cukup memberikan perbaikan terhadap gejala klinis rinosinusitis kronik (Wei, Sykes, et al. 2011).

(51)

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Larutan salin hipertonik lebih efektif dalam menurunkan tingkat keluhan gejala klinis penderita rinosinusitis kronik.

B. Saran

1. Penelitian ini membuktikan bahwa pemberian larutan salin hipertonik efektif dalam memperbaiki tingkat keluhan gejala klinis penderita rinosinusitis kronik sehingga dapat digunakan sebagai terapi tambahan dalam pengobatan rinosinusitis kronik

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Amaruddin T, Kadriyan H, Iswarini AD,Oedono T, Yohanes, Asmoro. Hubungan antara derajat rinosinusitis berdasarkan gejala dan CT scan. ORLI 2005; 35(4):404.

Arnold, et al. 2007. Clinical practice guideline: Adult sinusitis. Otolaryngology Head and Neck Surgery; (137): 1-31

Ballenger. 2003. Anatomy and Physiology of The Nose and Paranasal Sinuses. In : Snow, J.B. and Ballenger, J.J., editors. Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 16th. Ed. Spanyol: BC Decker Inc. p. 547-60.

Becker. 2011. Allergic and Non-Allergic Sinusitis for Primary Care Physiacian: Pathophysiology, Evaluation and Treatment. Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery University of Pennysylvania.

Bernstein. 2006. Chronic rhinosinusitis with and without nasal polyposis. In Brook I, eds. Sinusitis from microbiology to management. New York: Taylor & Francis; p.371-98

Beule. 2010. Physiology and pathophysiology of respiratory mucosa of the nasal and the paranasal sinuses. GMS Curr Top Otorhinolaryngol Head Neck Surg 9: 1-24.

Bubun, Azis, Akil, Perkasa. 2009. Hubungan gejala dan tanda rinosinusitis kronik dengan gambaran CT scan berdasarkan skor Lund-Mackay. Bagian Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Busquets. 2006. Nonpolypoid Rhinosinusitis: Classification, Diagnosis and Treatment in Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol I. FoourthEdition. Byron J. Bailey Lippincott Wiliams and Wilkins. Philadelphia. 405-416.

Candra, et al. 2013. Penurunan kadar IL-8 sekret mukosa hidung pada rhinosinusitis tanpa polip non alergi oleh antibiotik makrolid meningkatkan fungsi penghidu. FK Universitas padjajaran- RSHS Bandung.

(53)

Culig, Leppee, et al. 2010. Efficiency of hypertonic and isotonic seawater solutions in chronic rhinosinusitis. Med Glas Ljek komore Zenicko-doboj kantona. 7(1): 116-23

Dousary, Lima, Baudoin, Cobo, Constantinidis, Dhong, et al. 2012. European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyposis. Rhinology 2012. 23: 8-13.

Dauphin, Guillemin, Virion, Briancon, 2000. Bias and precision in visual analog scales: A Randomized Controlled trial. Am J Epidemiol ;150:1117-27

Fokkens et al. 2012. A summary for Otorhinolaryngologists. EPOS 2012: European Position paper on rinosinusitis and nasal polyps.

Garavello, Romagnoli, Sordo, Gaini, Berardino, Angrisano. 2003. Hypersaline Nasal Irrigation in Children With Symptomatic Seasonal Allergic Rhinitis: A Randomized Study. Pediatr Allergy Immunol 14(2): 140-3.

Giger, Roland. 2010. Current conservative treatments in chronic rhinosinusitis with or without nasal polyps. Review and analysis of reports on controlled clinical trials; 17-53

Hauptman and Ryan. 2007. The Effect of Saline Solutions on Nasal Patency and Mucociliary Clearance in Rhinosinusitis Patients. Otolaryngology-Head and Neck Surgery 137(5): 815-21.

Halperin, Goldstein, Kamel. 2009. Fluid, electrolyte and acid-base physiology : A problem based approach. Philadelphia:S aunders; 110-25.

Heldin CH, Landstr¨om M, Moustakas A., 2009. Mechanism of TGF-� signaling to growth arrest, apoptosis, and epithelialmesenchymal transition, Current Opinion in Cell Biology, vol. 21, no. 2, pp. 166–176.

Hendrik, Raubenheimer. 2013. The Role of Airway Surface Liquid in the Primary Management of Rhinosinusitis. J Interdiscipl Med Dent Sci 1: 106. doi: 10.4172/2376-032X.1000106

Hernandez. 2007. Nasal Saline Irrigation for Sinonasal Disorders. Philipp J Otolaryngol Head Neck Surg. 22 (1,2): 37-9

(54)

Keojampa, Nguyen, Ryan. 2004. Effects Of Buffered Saline Solution on nasal mucociliary clearance and nasal airway patency. Otolaryngology Head and Neck Surgery; (131): 679-82.

Krouse and Stachler. 2006. Anatomy and Physiology of the Paranasal Sinuses. In: Brook, I., editor. Sinusitis from Microbiology to Management. New York: Taylor & Francis Group. p. 95-108.

Kumar, Viswanatha, Krishna, Jayanna, Shetty. 2013. Efficacy of Hypertonic Saline and Normal Saline in the Treatment of Chronic Sinusitis. International Journal of Otolaryngology and Head & Neck Surgery; (2):90-6 Lee, Song, Hwang, Lee. 2003. Effect of ypertonic Seawater (Sinomarin) on

Mucociliary clearance in normal subjects. J Rhinol 10(1,2): 19-22.

Longhini AB., Ferguson BJ., 2011. Clinical aspects of odontogenic maxillary sinusitis: a case series, Int Forum Allergy Rhinol. Sep-Oct; 1(5):409-15, doi: 10.1002/alr.20058, Epub.

Miwa, Matsunaga, Nakajima, Yamaguchi, Watanabe. 2007. Hypertonic saline alters electrical barrier of the airway epithelium Otolaryngology Head and Neck Surgery; (136): 62-6

Papsin, and McTavish. 2003. Saline Nasal Irrigation: Its Role As An Adjunct Treatment. Can Fam Physician 49: 168-73.

Pradana, Madiadipoera, Sudiro, Dermawan. 2012. Efektivitas imunoterapi terhadap gejala, temuan nasoendoskopik dan kualitas hidup pasien rinosinusitis alergi. Departemen THT-KL UNPAD-RSHS bandung. ORLI Vol. 42 No. 12.

Puglisi, S., Privitera, S, Maiolino L, Serra A, Garotta M, et al., 2011. Bacteriological findings and antimicrobial resistance in odontogenic and non-odontogenic chronic maxillary sinusitis, J Med Microbiol. Sep; 60(Pt 9):1353-9.

Rabago, Barrett, Marchand, Maberry, Mundt. 2006. Qualitative aspects of nasal irrigation use by patients with chronic sinus disease in a multi-method study. Annals of Family Medicine. (4): 295-301.

(55)

Sastroasmoro dan Ismael. 2008. Dasar-dasar Metodologi Penelititan Klinis. Edisi Tiga. Jakarta : Sagung Seto.

Satdhabudha, Poachanukoon. 2012. Efficacy of buffered hypertonic saline nasal irrigation in children with symptomatic allergic rhinitis: A randomized double-blind study. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology. (76): 583-8.

Snidvongs, Chaowanapanja, et al. 2008. Does nasal irrigation enter paranasal sinuses in chronic rhinosinusitis? Am J Rhinol. 22; 483-6

Soetjipto, et al. 2007. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia (PERHATI-KL). In: Kelompok Studi Rinologi, editors. Guideline Penyakit THTKL di Indonesia. Jakarta:PT. Bristol Myers Squibb Indonesia.Tbk.h. 63. Steven. 2000. Anatomy of The Nose and Sinuses. In : Nasal and Sinus Surgery.

WB Saunders Company, Philadhelpia. p.13-15

Wei, Sykes, et al. 2011. Safety and Efficacy of Once-Daily Nasal Irrigation for the Treatment of Pediatric Chronic Rhinosinusitis. Laryngoscope. (121): 1989– 2000

(56)
(57)

Lampiran 2

SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN

(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : pemeriksaan, prosedur tindakan, risiko serta manfaat tindakan uji sakarin yang akan dilakukan kepada diri saya. Dengan demikian saya bersedia mengikuti / menjalani seluruh prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk penelitian mengenai:

PERBEDAAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN LARUTAN SALIN HIPERTONIK DAN ISOTONIK TERHADAP TINGKAT KELUHAN GEJALA KLINIS

PENDERITA

RINOSINUSITIS KRONIK

Surat pernyataan persetujuan (informed consent) ini saya buat dengan sukarela dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun, agar dapat dipergunakan bilamana diperlukan.

(58)

Penanggungjawab peneliti Peserta penelitian

dr. Nurmala Shofiyati ………

Lampiran 3

STATUS PENELITIAN

Perbedaan Efektivitas Larutan Salin Isotonik Dan Hipertonik Terhadap Tingkat Keluhan Gejala Klinis Penderita

Rinosinusitis Kronik dr. Nurmala Shofiyati Tanggal :

No. Rekam medik : A. IDENTITAS Nama :

Umur :

Jenis Kelamin : 1. L 2. P Alamat :

B. ANAMNESIS

1. Keluhan Hidung tersumbat : o 1. Ya 2. TIDAK

o 1. Salah satu sisi : Kanan/kiri 2. Kedua sisi

(59)

o VAS sebelum terapi

o VAS 2 minggu pasca terapi

2. Hidung keluar ingus : o 1. YA 2. TIDAK

o 1. Ke arah depan (Anterior) 2. Kearah belakang/tenggorokan (Posterior) o Lama keluhan : ....

o VAS sebelum terapi

o VAS 2 minggu pasca terapi

3. Nyeri/rasa tertekan di wajah : o 1. YA 2. TIDAK

(60)

o VAS sebelum terapi

o VAS 2 minggu pasca terapi

4. Gangguan Penghidu/Pembauan : o 1. YA 2. TIDAK

o Lama keluhan : ....

o VAS sebelum terapi

o VAS 2 minggu pasca terapi

5. Gejala lainnya :

(61)

1. Telinga : Dekstra Sinistra Daun telinga :

Liang telinga : Sekret :

Membran Timpani :

2. Hidung :

Hidung luar : Kavum nasi : Sekret :

Konka inferior : Septum nasi : Massa : 3. Tenggorokan :

Palatum mole dan arkus faring : Tonsil :

Dinding faring :

(62)

Nasoendoskopi :

Rontgen Thoraks :

Lampiran 4

Data Hasil Penelitian

No Usia(th) Jenis Kelamin Cairan ygDiberikan

(63)

11 18 Perempuan Isotonik 4 2 2 4 3 1 2 3

No Usia(th) Jenis Kelamin Cairan ygDiberikan

(64)

28 50 Laki-laki Hipertonik 6 7 7 6 3 2 3 3

29 43 Laki-laki Hipertonik 8 3 7 1 3 1 4 0

30 25 Perempuan Hipertonik 7 6 3 2 3 2 2 0

31 35 Laki-laki Hipertonik 4 4 0 7 2 2 0 5

32 38 Perempuan Hipertonik 6 2 4 5 4 1 2 3

33 43 Laki-laki Hipertonik 2 8 5 0 1 4 3 0

34 22 Perempuan Hipertonik 5 7 5 2 3 2 3 1

35 52 Perempuan Hipertonik 7 8 2 2 3 4 1 0

36 63 Perempuan Hipertonik 6 6 4 0 2 2 2 0

37 30 Laki-laki Hipertonik 5 4 1 7 2 2 0 5

38 35 Perempuan Hipertonik 7 6 7 6 3 2 3 3

39 42 Perempuan Hipertonik 3 3 6 4 1 1 2 1

40 27 Perempuan Hipertonik 4 4 0 7 2 2 0 4

Lampiran 5

Hasil Perhitungan Deskripsi Karakteristik Sampel

(65)
(66)
(67)

Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor VAS

(68)

Hasil Perhitungan Deskripsi Skor VAS

(69)
(70)

Hasil Perhitungan Uji Beda Skor VAS Sebelum Terapi antara Kelompok Isotonik dengan Kelompok Hipertonik

(71)

NPar Tests

(72)

Hasil Perhitungan Uji Beda Skor VAS Sesudah Terapi antara Kelompok Isotonik dengan Kelompok Hipertonik

(73)

NPar Tests

(74)

Hasil Perhitungan Uji Beda Penurunan Skor VAS antara Kelompok Isotonik dengan Kelompok Hipertonik

NPar Tests

(75)

Hasil Perhitungan Uji Beda Skor VAS antara Sebelum dan Sesudah Terapi pada Kelompok Isotonik

NPar Tests

(76)

Hasil Perhitungan Uji Beda Skor VAS antara Sebelum dan Sesudah Terapi pada Kelompok Hipertonik

(77)

NPar Tests

(78)

Gambar

Gambar 2.1. Bagan penatalaksanaan rinosinusitis kronik tanpa polip berdasarkanEPOS 2012 (Fokken et al., 2012).
Gambar 2.2. Salin Hipertonik menarik air untuk rehidrasi ASL dan mengencerkan
Tabel 4.2 Deskripsi Skor VAS Sebelum dan Sesudah Pemberian Terapi CuciHidung dengan Larutan salin Isotonik
Tabel 4.3 Deskripsi Skor VAS Sebelum dan Sesudah Pemberian Terapi CuciHidung dengan Larutan Salin Hipertonik

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan Kontekstual adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis

Aspek yang akan dicapai dalam penelitian pengembangan ini adalah berupa paket yang didasarkan pada skala penilaian dari buku Standards For Evaluation Educational

hukum keluarga Melaksanakan kerjasama antarlembaga dalam pengembangan keilmuan hukum keluarga Islam dengan tetap menjaga nilai-nilai kesantrian; Prodi Hukum Keluarga

Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu pertama mengidentifikasi kesesuaian ruang perairan untuk budidaya rumput laut dilakukan dengan cara menentukan

oleh bank atas permintaan nasabahnya untuk kepentingan pihak ketiga yang menjadi mitra kerja nasabah, sehubungan dengan tanggung jawab nasabah atas pemeliharaan hasil

Based on the contour map of Radon and Thoron concentration ratio, the fault which is being main channel fluid from reservoir migrated to surface located in a zone

Menerapkan hasil yang diperoleh dari estimasi parameter distribusi Loglogistik pada data tahan hidup tersensor progressive tipe II dengan menggunakan algoritma

Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah sekolah mencakup model pembelajaran, kurikulum, relasi guru dengan siswa, disiplin