PENGARUH FAKTOR INTERNAL UNTUK MEMBANGUN KEMANDIRIAN PETANI
DALAM UPAYA KONSERVASI AIR TANAH DI KABUPATEN TAKALAR
1).
(Effect of Internal Factors to Establish of Independence Farmers in Groundwater
Conservation Efforts in The District Takalar)
Darwis 2)
Abstrak :
Permasalahan yang ingin dipecahkan oleh penelitian ini adalah bagaimana memberdayakan petani pengguna air tanah untuk konservasi air tanah pada lahan mereka, dan secara khusus yang ditinjau adalah pengaruh dari faktor internal petani dalam meningkatkan pengetahuan petani tentang air tanah, dan mengubah sikap petani terhadap air tanah. Faktor internal yang dilihat dalam penelitian ini tiga hal yakni : (1) tingkat pendidikan, (2) tingkat pendapatan, (3) tingkat beban keluarga petani.
Disain penelitian ini menggunakan Quasi Experimental dalam bentuk Nonequivalent Control Group Design. Ketiga faktor pengaruh yang diteliti diukur sebelum dan sesudah perlakuan, untuk mengetahui tingkat pengaruh ketiga faktor tersebut sekaligus untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pengetahuan dan sikap petani sebagai variabel terikat. Perlakuan yang diberikan dalam bentuk bimbingan tentang air tanah yang dikemas dalam lima modul, yakni ; proses pembentukan air tanah, manfaat air tanah, akibat yang ditimbulkan oleh krisis air tanah, teknik konservasi air tanah, dan peranan yang dapat dilakukan oleh petani dalam upaya konservasi air tanah.
Pengukuran yang dilakukan dalam penelitian ada tiga macam, yakni : (1) teknik observasi, untuk mendiskripsikan tingkat pengetahuan dan skala sikap petani berdasarkan ketiga faktor internal petani; (2) teknik test, untuk melakukan pengukuran pengetahuan petani tentang air tanah; dan (3) teknik kuisioner, untuk mengukur skala sikap petani terhadap konservasi air tanah.
Dari hasil penelitian ini, ditemukan kesimpulan sebagai berikut : (1) ketiga faktor internal memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas pengetahuan dan sikap petani terhadap konservasi air tanah; (2) pengaruh perlakuan signifikan terhadap peningkatan pengetahuan petani tentang konservasi air tanah; (3) pengaruh perlakuan signifikan terhadap perubahan sikap petani ke arah positif tentang konservasi air tanah.
Abstract :
Problems to be solved by this study is how to empower farmers to conserve soil water users groundwater on their land, and in particular under review is the influence of internal factors farmers in improving farmers' knowledge about groundwater, and changing the attitudes of farmers to groundwater. Internal factors were seen in this study three things: (1) education, (2) income, (3) the burden of the family farmer. The design of this study using Quasi-Experimental in the form Nonequivalent Control Group Design. The third factor studied the effect is measured before and after treatment, to determine the level of influence of these three factors as well as to determine the effect of treatment on the knowledge and attitude of farmers as the dependent variable. The treatment is given in the form of guidance on groundwater are packed in five modules, namely; the formation of ground water, ground water benefits, due to the crisis caused by groundwater, soil water conservation techniques, and the role that can be done by farmers in conservation of groundwater.
Measurements were performed in the study, there are three kinds, namely: (1) observation, to describe the level of pengatahuan and attitude scale farmers based on the three internal factors farmer; (2) engineering test, to measure their knowledge of groundwater; and (3) technical questionnaire, to measure the scale of the attitude of farmers towards the conservation of groundwater.
From these results, it was found the following conclusions: (1) three internal factors have a significant influence on the quality of farmers' knowledge and attitudes toward conservation of ground water; (2) a significant treatment effect on the improvement of farmers' knowledge about the conservation of ground water; (3) a significant treatment effect on the change in the attitude of farmers towards positive about water conservation land.
Keywords : Internal factor,conservation, ground water.
A. Pendahuluan
Konservasi setiap jenis sumber daya
alam
diperlukan
untuk
menjamin
kesinambungan ketersediaannya. Seperti
halnya dengan air tanah, jika tidak dikelola
dengan
baik
dan
terencana,
dapat
menyebabkan terganggunya siklus hidrologi,
sehingga menimbulkan ketidakseimbangan
sumberdaya air secara global, yang pada
akhirnya
akan
merusak
keberlanjutan
(sustainability) alam semesta. Degradasi air
tanah dapat berakibat terjadinya proses
intrusi air laut, penurunan kesuburan lahan,
meningkatkan temperatur udara, dan/atau
mengganggu siklus musim (climate), serta
berbagai dampak lainnya (Vries & Simmers,
2002).
Secara geografis zona eksploitasi air
tanah yang dilakukan oleh petani di
Kabupaten Takalar cukup rentan, karena
disamping
volume
air
tanah
yang
deksploitasi pada musim kering cukup
banyak,
juga
pada
umumnya
sumur
eksploitasi mereka relatif berjarak cukup
dekat dari pesisir pantai dengan gradient
kemiringan lahan
yang sangat
kecil.
Disamping itu struktur geologi lapisan tanah
pada pesisir pantai bersifat porous, karena
terbentuk dari endapan (sedimen) material
pasir dan lanau (granuler soil). Disamping
itu pemahaman masyarakat terhadap urgensi
konservasi air tanah masih sangat rendah.
Hal ini disebabkan karena adanya
anggapan masyarakat awam bahwa air tanah
terbentuk dengan sendirinya, dan tersedia
sepanjang tahun untuk dimanfaatkan. Petani
setempat pada umumnya belum menyadari
bahwa letak air tanah di lahan mereka
semakin dalam, dan hal tersebut sudah
merupakan
indikasi
awal
terjadinya
degradasi air tanah pada lahan pertanian
mereka. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa
upaya pengimbuhan air tanah buatan
(artificial rechange), maka pada akhirnya
suatu waktu mereka atau mungkin
anak-cucu mereka nantinya yang akan mengalami
kehabisan air tanah, yang dengan sendirinya
kelak akan menganggu eksistensi dan
keberlanjutan usaha pertanian mereka.
Eksistensi air di dalam lapisan tanah
sangat penting karena dapat mempengaruhi
karakteristik dan stabilitas tanah (abiotik),
serta menjaga keseimbangan lingkungan
hidup (biotik), baik lingkungan hidup di atas
maupun lingkungan
hidup
di
bawah
permukaan tanah. Oleh karena sifat air
sebagai fluida selalu mencari keseimbangan
permukaan (surface equilibrium), sehingga
mengakibatkan setiap tindakan yang bersifat
mengganggu keseimbangan air tanah, akan
segera
direspon
dengan
pembentukan
keseimbangan baru (re-equilibrium), yang
dengan sendirinya akan berdampak pada
perubahan lingkungan di sekitarnya. Oleh
karena itu setiap gangguan terhadap
eksistensi air tanah akibat pemompaan, akan
berakibat buruk baik terhadap lingkungan
biotik maupun abiotik.
Kondisi lapisan permukaan tanah pada
lahan petani di lokasi penelitian pada
umumnya bersifat semi-permeabel, sehingga
mengakibatkan rendahnya tingkat imbuhan
alamiah (natural rechange) yang terjadi pada
lahan mereka. Sedangkan pengambilan air
tanah pada musim kering tidak terbatas,
tergantung kebutuhan air tanaman sawah
dan ladang petani, dan hal ini belum
dipahami akibatnya oleh petani pemakai air
tanah di Kabupaten Takalar. Oleh karena
belum
ada
petani
yang
berinisiatif
mengupayakan pengimbuhan buatan pada
lahan pertanian mereka. Kenyataan dimana
semakin dalamnya muka air tanah dari tahun
ke tahun masih dianggap sebagai gejala
alam yang normal, dan mereka hanya
meresponnya dengan memperdalam sumur
eksploitasi pada lahan pertanian
masing-masing. Ironisnya ternyata jalan pintas yang
mereka lakukan dengan memperdalan sumur
eksploitasi, justru semakin memperparah
degradasi air tanah dari tahun ke tahun,
karena daya jangkau pemompaan mereka
semakin dalam, sehingga volume air tanah
yang terangkat ke permukaan semakin besar.
Sikap petani yang diakibatkan karena
keterbatasan pengetahuan petani semacam
ini memberikan peringatan (warning) bahwa
pemberdayaan petani pemakai air tanah
sudah sangat mendesak diupayakan. Hal ini
sangat
dibutuhkan
untuk
menjamin
kesinambungan air tanah
yang telah
mengalami degradasi di wilayah tersebut,
dengan melalui usaha konservasi mandiri
yang dapat dilakukan oleh petani.
Permasalahan yang ingin dipecahkan dalam penelitian, adalah bagaimana mengatasi pengaruh faktor internal keluarga petani terhadap rendahnya tingkat keberdayaan petani pemakai air tanah dalam upaya melakukan konservasi air tanah secara mandiri. Dengan demikian rumusan permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut :
(1) Seberapa besar tingkat pengaruh faktor “tingkat pendidikan petani” terhadap “tingkat keberdayaan” petani pemakai air tanah dalam upaya melakukan konservasi air tanah secara mandiri.
(2) Seberapa besar tingkat pengaruh faktor “tingkat pendapatan petani” terhadap “tingkat keberdayaan” petani pemakai air tanah dalam upaya melakukan konservasi air tanah secara mandiri.
(3) Seberapa besar tingkat pengaruh faktor “beban tanggungan keluarga petani” terhadap “tingkat keberdayaan” petani pemakai air tanah dalam upaya melakukan konservasi air tanah secara mandiri.
Berdasarkan pemasalahan tersebut, maka tujuan khusus penelitian ini adalah :
(1) Mengetahui tingkat pengaruh faktor “tingkat pendidikan petani” terhadap “tingkat keberdayaan” petani pemakai air tanah dalam upaya melakukan konservasi air tanah secara mandiri, sekaligus menemukan metode peningkatan pendidikan informal petani pemakai air tanah.
(2) Mengetahui tingkat pengaruh faktor “tingkat pendapatan petani” terhadap “tingkat keberdayaan” petani pemakai air tanah dalam upaya melakukan konservasi air tanah secara mandiri, sekaligus menemukan metode peningkatan pendapatan usaha tani para petani pemakai air tanah.
(3) Mengetahui tingkat pengaruh faktor “beban
tanggungan keluarga petani” terhadap “tingkat keberdayaan” petani pemakai air tanah dalam upaya melakukan konservasi air tanah secara mandiri, sekaligus menemukan metode menyeimbangkan beban tanggungan keluarga petani pemakai air tanah.
B. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimen
(Quasi Experimental Research),
dalam bentuk Nonequivalent Control Group
Design.
1.
Variabel Bebas (Independent Variable) ;
(1)
Tingkat pendidikan petani.
(2)
Tingkat pedapatan petani
(3)
Beban keluarga petani
2.
Variabel Terikat (Dependent Variable) ;
(1)
Pengetahuan petani tentang air
tanah.
(2)
Sikap petani terhadap konservasi air
tanah.
Hubungan variabel variabel-variabel bebas dengan variabel-variabel terikat tersebut diatas dapat digambarkan dengan skema di bawah ini :
Gambar 1: Skema Hubungan Variabel Penelitian
Untuk mengumpulkan data primer dalam
penelitian ini dipergunakan berbagai teknik,
antara
lain;
teknik
observasi,
teknik
pengukuran tes, dan teknik kuesioner
(angket). Ketiga jenis pengukuran tersebut
mempunyai kegunaan dan sasaran yang
berbeda satu sama lain.
1)
Teknik observasi, dipergunakan untuk
diskripsi indikator pengaruh dari tiga
faktor internal petani, yakni ; (1) tingkat
pendidikan
petani,
(2)
tingkat
pendapatan petani, (3) tingkat beban
keluarga petani. Skala pengukuran yang
dipergunakan pada instrumen ini adalah
skala guttman, dengan gradasi YA dan
TIDAK.
2)
Teknik
tes,
dipergunakan
untuk
mengukur pengetahuan petani tentang
air tanah dan konservasi air tanah,
dengan menggunakan 5 (lima) indikator
pada dimensi kognitif, 5 (lima) indikator
pada dimensi afektif, dan 4 (empat)
indikator pada dimensi psikomotor.
Skala pengukuran yang dipergunakan
pada instrumen ini adalah skala guttman,
dengan gradasi BENAR dan SALAH.
3)
Teknik kuesioner, untuk mengukur
sikap petani terhadap konservasi air
tanah, menggunakan 4 (empat) indikator
pada dimensi arah sikap, 4 (empat)
indikator pada dimensi intensitas atau
kekuatan sikap, 4 (empat) indikator
pada dimensi keluasan sikap, 4 (empat)
indikator pada dimensi konsistensi sikap,
4 (empat) indikator pada dimensi
spontanitas atau keterbukaan sikap.
Skala pengukuran yang digunakan pada
instrumen ini adalah skala likert, dengan
gradasi dari sangat positif sampai sangat
negatif, atau sebaliknya.
Untuk dapat menyimpulkan hasil penelitian ini, maka dilakukan analisis data yang dihasilkan dari pengukuran di atas. Analisis data dalam penelitian ini digunakan dua cara, yakni : 1) Analisis Deskriftif ; dipergunakan untuk
menganalisis data hasil observasi , sehingga dapat dihasilkan diskripsi tentang pengaruh 3 (tiga) faktor internal yakni ; (1) tingkat
pendidikan
petani,
(2)
tingkat
pendapatan petani, (3) tingkat beban
keluarga petani.
2) Analisis Inferensial ; dipergunakan untuk menganalisis data hasil tes pengetahuan dan hasil pengukuran sikap, sehingga didapatkan gambaran tentang pengaruh perlakuan (treatment) terhadap peningkatan pengetahuan petani, dan perubahan sikap petani terhadap eksistensi air tanah.
Analisis inferensial menggunakan uji-t, dengan formula statistik sebagai berikut :
X
= Rata-rata sampel kelompok perlakuan2
X
= Rata-rata sampel kelompok kontroln1 = Jumlah sampel kelompok perlakuan n2 = Jumlah sampel kelompok kontrol
s2 = Simpangan baku sampel kelompok kontrol s12 = Varian sampel kelompok perlakuan s22 = Varian sampel kelompok kontrol r = korelasi antara dua kelompok sampel
C. Hasil dan Pembahasan
1. Pengaruh tingkat pendidikan terhadap pengetahuan dan sikap petani
Pengaruh tingkat pendidikan terhadap pengetahuan petani dapat dilihat sbb : 1) Data sebelum dilakukan perlakuan,
dihasilkan nilai statistik dari faktor tingkat pendidikan terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah, didapat sebesar t-hitung = 2,18. Sedangkankan dari tabel diketahui untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d +1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini bermakna bahwa faktor tingkat pendidikan petani memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah.
2) Data setelah dilakukan perlakuan, dihasilkan nilai statistik dari faktor tingkat pendidikan terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah, didapat sebesar t-hitung = 1,84. Sedangkankan dari tabel diketahui untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d +1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini bermakna bahwa faktor tingkat pendidikan petani memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah. Kedua hasil analisis di atas, dapat memperlihatkan dua gejala, yakni :
a) Bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari faktor tingkat pendidikan terhadap kualitas pengetahuan petani tentang konservasi air tanah. Gejala ini terlihat baik sebelum perlakukan maupun pada saat setelah perlakuan diberikan.
b) Bahwa nilai t-hitung sesudah pemberian perlakukan lebih kecil dibandingkan dengan nilai t-hitung sebelum perlakuan diberikan. Hal ini bermakna bahwa perlakukan memberikan dampak semakin mengecilnya jarak kesenjangan akibat pengaruh tingkat pendidikan petani terhadap pengetahuan petani
khususnya pengetahuan tentang konservasi air tanah.
Sedangkan pengaruh tingkat pendidikan terhadap skala sikap petani adalah sbb :
1) Data sebelum dilakukan perlakuan,
dihasilkan nilai statistik dari faktor
tingkat pendidikan
terhadap skala
sikap petani tentang konservasi air
tanah, didapat sebesar t-hitung
= 1,98.
Sedangkankan dari tabel diketahui
untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d
+1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha
diterima. Hal ini bermakna bahwa
faktor tingkat pendidikan petani
memberikan pengaruh yang cukup
signifikan terhadap skala sikap
petani tentang konservasi air tanah.
2) Data setelah dilakukan perlakuan,
dihasilkan nilai statistik dari faktor
tingkat pendidikan
terhadap skala
sikap petani tentang konservasi air
tanah, didapat sebesar t-hitung
= 1,80.
Sedangkankan dari tabel diketahui
untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d
+1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha
diterima. Hal ini bermakna bahwa
faktor tingkat pendidikan petani
memberikan
pengaruh
yang
signifikan terhadap skala sikap
petani tentang konservasi air tanah.
Kedua hasil analisis di atas, dapat
memperlihatkan dua gejala, yakni :
a) Bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan
dari
faktor
tingkat
pendidikan terhadap kualitas skala
sikap petani tentang konservasi air
tanah. Gejala ini terlihat baik
sebelum perlakukan maupun pada
saat setelah perlakuan diberikan.
b) Bahwa
nilai
t-hitung
sesudah
khususnya sikap petani tentang
konservasi air tanah.
2. Pengaruh tingkat pendapatan terhadap pengetahuan dan sikap petani
Pengaruh tingkat pendapatan terhadap pengetahuan petani dapat dilihat sbb : 1) Data sebelum dilakukan perlakuan,
dihasilkan nilai statistik dari faktor tingkat pendapatan terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah, didapat sebesar t-hitung = 2,04. Sedangkankan dari tabel diketahui untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d +1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini bermakna bahwa faktor tingkat pendapatan petani memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah.
2) Data setelah dilakukan perlakuan, dihasilkan nilai statistik dari faktor tingkat pendapatan terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah, didapat sebesar t-hitung = 1,88. Sedangkankan dari tabel diketahui untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d +1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini bermakna bahwa faktor tingkat pendapatan petani memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah.
Kedua hasil analisis di atas, dapat memperlihatkan dua gejala, yakni :
a) Bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari faktor tingkat pendapatan terhadap kualitas pengetahuan petani tentang konservasi air tanah. Gejala ini terlihat baik sebelum perlakukan maupun pada saat setelah perlakuan diberikan.
b) Bahwa nilai t-hitung sesudah pemberian perlakukan lebih kecil dibandingkan dengan nilai t-hitung sebelum perlakuan diberikan. Hal ini bermakna bahwa perlakukan memberikan dampak semakin mengecilnya jarak kesenjangan akibat pengaruh tingkat pendapatan petani terhadap pengetahuan petani khususnya pengetahuan tentang konservasi air tanah.
Sedangkan pengaruh tingkat pendapatan terhadap skala sikap petani adalah sbb :
1) Data sebelum dilakukan perlakuan,
dihasilkan nilai statistik dari faktor
tingkat pendidikan
terhadap skala
sikap petani tentang konservasi air
tanah, didapat sebesar t-hitung
= 2,06.
Sedangkankan dari tabel diketahui
untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d
+1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha
diterima. Hal ini bermakna bahwa
faktor tingkat pendapatan petani
memberikan pengaruh yang cukup
signifikan terhadap skala sikap
petani tentang konservasi air tanah.
2) Data setelah dilakukan perlakuan,
dihasilkan nilai statistik dari faktor
tingkat pendidikan
terhadap skala
sikap petani tentang konservasi air
tanah, didapat sebesar t-hitung
= 1,88.
Sedangkankan dari tabel diketahui
untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d
+1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha
diterima. Hal ini bermakna bahwa
faktor tingkat pendapatan petani
memberikan
pengaruh
yang
signifikan terhadap skala sikap
petani tentang konservasi air tanah.
Kedua hasil analisis di atas, dapat
memperlihatkan dua gejala, yakni :
a) Bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan
dari
faktor
tingkat
pendapatan terhadap kualitas skala
sikap petani tentang konservasi air
tanah. Gejala ini terlihat baik
sebelum perlakukan maupun pada
saat setelah perlakuan diberikan.
b) Bahwa
nilai
t-hitung
sesudah
3. Pengaruh tingkat beban keluarga terhadap pengetahuan dan sikap petani
Pengaruh tingkat beban keluarga terhadap pengetahuan petani dapat dilihat sbb : 1) Data sebelum dilakukan perlakuan,
dihasilkan nilai statistik dari faktor tingkat beban keluarga terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah, didapat sebesar t-hitung = 1,96. Sedangkankan dari tabel diketahui untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d +1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini bermakna bahwa faktor tingkat beban keluarga petani memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah.
2) Data setelah dilakukan perlakuan, dihasilkan nilai statistik dari faktor tingkat beban keluarga terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah, didapat sebesar t-hitung = 1,84. Sedangkankan dari tabel diketahui untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d +1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini bermakna bahwa faktor tingkat beban keluarga petani memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah. Kedua hasil analisis di atas, dapat memperlihatkan dua gejala, yakni :
a) Bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari faktor tingkat beban keluarga terhadap kualitas pengetahuan petani tentang konservasi air tanah. Gejala ini terlihat baik sebelum perlakuan maupun pada saat setelah perlakuan diberikan.
b) Bahwa nilai t-hitung sesudah pemberian perlakukan lebih kecil dibandingkan dengan nilai t-hitung sebelum perlakuan diberikan. Hal ini bermakna bahwa perlakukan memberikan dampak semakin mengecilnya jarak kesenjangan akibat pengaruh tingkat beban keluarga petani terhadap pengetahuan petani khususnya pengetahuan tentang konservasi air tanah.
Sedangkan pengaruh tingkat beban keluarga terhadap skala sikap petani adalah sbb : 1) Data sebelum dilakukan perlakuan,
dihasilkan nilai statistik dari faktor tingkat beban keluarga terhadap skala
sikap petani tentang konservasi air tanah, didapat sebesar t-hitung = 2,22. Sedangkankan dari tabel diketahui untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d +1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini bermakna bahwa faktor tingkat beban keluarga petani memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap skala sikap petani tentang konservasi air tanah.
2) Data setelah dilakukan perlakuan, dihasilkan nilai statistik dari faktor tingkat pendidikan terhadap skala sikap petani tentang konservasi air tanah, didapat sebesar t-hitung = 2,02. Sedangkankan dari tabel diketahui untuk dk = 30, t-0,95 = -1,70 s/d +1,70. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini bermakna bahwa faktor tingkat beban keluarga petani memberikan pengaruh yang signifikan terhadap skala sikap petani tentang konservasi air tanah. Kedua hasil analisis di atas, dapat memperlihatkan dua gejala, yakni :
a) Bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari faktor tingkat beban keluarga terhadap kualitas skala sikap petani tentang konservasi air tanah. Gejala ini terlihat baik sebelum perlakukan maupun pada saat setelah perlakuan diberikan.
b) Bahwa nilai t-hitung sesudah pemberian perlakukan lebih kecil dibandingkan dengan nilai t-hitung sebelum perlakuan diberikan. Hal ini bermakna bahwa perlakukan memberikan dampak semakin mengecilnya jarak kesenjangan akibat pengaruh tingkat beban keluarga petani terhadap skala sikap petani, khususnya sikap petani
tentang
konservasi air tanah.
4. Pengaruh perlakuan terhadap peningkatan pengetahun petani tentang konservasi air tanah
dilakukan analisis statistik berupa uji-t Sampel Bebas (Independent Sample t-Test).
Sebelum Perlakuan (Pre test)
Hasil uji statistik terhadap data pengetahuan dari dua kelompok yang diukur (treatment group dan control group), sebelum perlakuan diberikan dihasilkan nilai-nilai indikator statistik sebagai berikut :
1) Nilai distrubusi varian (Fhitung) = 0,98089 Dengan = 0,05; df1 = 29 ; df2 = 29 ; maka didapat :
Ftabel = 1,86081
Karena: Fhitung < Ftabel ; Jadi : maka Ho diterima.
Hal ini bermakna bahwa data pada kedua kelompok memiliki keragaman varian yang sama (data equal variance).
2) Nilai thitung (tstat) = -0,15656 Nilai ttabel (tcritical two-tail) = 2,00292 Karena: thitung < ttabel ; Jadi : Ho diterima. Hal ini bermakna bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara tingkat pengetahuan petani antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol.
Setelah Perlakuan (Post test)
Hasil uji statistik terhadap data pengetahuan pada kedua kondisi yang diukur (sebelum/sesudah perlakuan) untuk kelompok perlakuan, dihasilkan nilai-nilai indikator statistik sebagai berikut :
1) Nilai distrubusi varian (Fhitung) = 0,764311 Dengan = 0,05; df1 = 29 ; df2 = 29 ; maka didapat :
Ftabel = 1,860811
Karena: Fhitung < Ftabel ; maka : Ho diterima. Hal ini bermakna bahwa data pada kedua kelompok memiliki keragaman varian yang sama (data equal variance).
2) Nilai thitung (tstat) = 5,64599
Nilai ttabel (tcritical two-tail) = > 2,04523
Karena: thitung > ttabel ; Jadi : Ho ditolak & H1 iterima.
H1 diterima ; bermakna bahwa Terdapat perbedaan pengetahuan petani yang signifikan tentang air tanah, antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok perlakuan.
Sedangkan hasiluji statistik terhadap data pengetahuan pada kedua kondisi yang diukur (sebelum/sesudah perlakuan) untuk kelompok kontrol, dihasilkan nilai-nilai indikator statistik sebagai berikut :
1) Nilai distrubusi varian (Fhitung) = 1,04241 Dengan = 0,05; df1 = 29 ; df2 = 29 ; maka didapat :
Ftabel = 1,860811
Karena: Fhitung < Ftabel ; maka : Ho diterima. Hal ini bermakna bahwa data pada kedua kelompok memiliki keragaman varian yang sama (data equal variance).
2) Nilai thitung (tstat) = 0,49366
Nilai ttabel (tcritical two-tail) = > 2,06452 Karena: thitung < ttabel ; maka : Ho diterima. Ho diterima ; bermakna bahwa Tidak ada perbedaan pengetahuan petani yang signifikan tentang air tanah, antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol.
Hal ini bermakna bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara tingkat pengetahuan petani antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol.
5. Pengaruh perlakuan terhadap perubahan sikap petani tentang konservasi air tanah Sama halnya dengan analisis pengaruh pengaruh perlakuan (bimbingan dan penyuluhan) bak terhadap peningkatan pengetahuan, maka terhadap perubahan skala sikap petani tentang konservasi air tanah, perlu dianalisis lebih lanjut terhadap dua kelompok data ; (1) data sebelum perlakukan, (2) data setelah perlakuan. Analisis statistik yang dilakukan berupa uji-t Sampel Bebas (Independent Sample t-Test).
Sebelum Perlakuan (Pre test)
Hasil pengujian statistik terhadap data skala sikap dari dua kelompok (treatment group dan control group), yang diukur sebelum pemberian perlakukan dihasilkan nilai-nilai indikator statistik sebagai berikut :
1) Nilai distrubusi varian (Fhitung) = 1,55783 Dengan = 0,05; df1 = 29 ; df2 = 29 ; maka didapat :
Maka : Fhitung < Ftabel ; Jadi : Ho diterima. Hal ini bermakna bahwa data pada kedua kelompok memiliki keragaman varian yang sama (data equal variance). 2) Nilai thitung (tstat) = 1,10714
Nilai ttabel (tcritical two-tail) = 2,00172 Maka : thitung < ttabel ; Jadi : Ho diterima. Hal ini bermakna bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara tingkat skala sikap petani antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol.
Setelah Perlakuan (Post test)
Hasil uji statistik terhadap data skala sikap pada kedua kondisi yang diukur (sebelum/sesudah perlakuan) untuk kelompok perlakuan, dihasilkan nilai-nilai indikator statistik sebagai berikut :
1) Nilai distrubusi varian (Fhitung) = 1,053836
Dengan = 0,05; df1 = 29 ; df2 = 29 ; maka didapat :
Ftabel = 1,860811
Maka : Fhitung < Ftabel ; Jadi : Ho diterima. Hal ini bermakna bahwa data pada kedua kelompok memiliki keragaman varian yang sama (data equal variance). 2) Nilai thitung (tstat) = 6,41852
Nilai ttabel (tcritical two-tail) = > 2,04523 Maka : thitung > ttabel ; Jadi : Ho ditolak & H1 diterima.
H1 diterima ; bermakna bahwa Terdapat perbedaan skala sikap petani yang signifikan terhadap konservasi air tanah, antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok perlakuan.
Sedangkan hasil uji statistik terhadap data sikap pada kedua kondisi yang diukur (sebelum/sesudah perlakuan) untuk kelompok kontrol, dihasilkan nilai-nilai indikator statistik sebagai berikut :
1) Nilai distrubusi varian (Fhitung) = 0,965507
Dengan = 0,05; df1 = 29 ; df2 = 29 ; maka didapat :
Ftabel = 1,860811
Maka : Fhitung < Ftabel ; Jadi : Ho diterima.
Hal ini bermakna bahwa data pada kedua kelompok memiliki keragaman varian yang sama (data equal variance). 2) Nilai thitung (tstat) = 0,84627
Nilai ttabel (tcritical two-tail) = > 2,04523 Maka : thitung < ttabel ; Jadi : Ho diterima. Ho diterima ; bermakna bahwa Tidak ada perbedaan skala sikap petani yang signifikan terhadap konservasi air tanah, antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok perlakuan.
D. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan :
1) Bahwa 3 (tiga) faktor internal petani yang diobservasi mengenai signifikansi pengaruhnya terhadap pengetahuan dan skala sikap petani pemakai air tanah terhadap upaya konservasi air tanah, ketiganya terbukti “memberikan dampak yang signifikan”. Ketiga faktor internal tersebut mempunyai urutan kekuatan pengaruh yang berbeda terhadap pengetahuan dan skala sikap petani. 2) Urutan kekuatan pengaruh ketiga faktor
tersebut terhadap pengetahuan petani tentang konservasi air tanah adalah sebagai berikut : (1) faktor tingkat pendidikan petani dengan indikator nilai kekuatan = 2,18 ; (2) faktor tingkat pendapatan petani dengan indikator nilai kekuatan = 2,04 ; dan (3) faktor tingkat beban keluarga petani dengan indikator nilai kekuatan = 1,96.
3) Urutan kekuatan pengaruh ketiga faktor tersebut terhadap skala sikap petani terhadap konservasi air tanah adalah sebagai berikut : (1) faktor tingkat beban keluarga petani dengan indikator nilai kekuatan = 2,22 ; (2) faktor tingkat pendapatan petani dengan indikator nilai kekuatan = 2,04 ; dan (3) faktor tingkat pendidikan petani dengan indikator nilai kekuatan = 1,98.
harapan dan potensi yang besar untuk memberdayakan petani agar dapat mandiri memelihara air tanah untuk menunjang pembangunan pertanian mereka secara berkelanjutan (sustainability), sekaligus dapat menjaga keseimbangan lingkungan hidup (equilibrium of environmental).
5) Pengaruh perlakuan (bimbingan dan penyuluhan) terhadap perubahan sikap petani cukup signifikan, terutama pada dimensi arah sikap dan keluasan sikap. Gejala ini juga menguatkan kesimpulan hasil penelitian tahun pertama dan menyimpan harapan baik untuk memberdayakan petani agar dapat mandiri memelihara air tanah untuk menunjang pembangunan pertanian mereka secara berkelanjutan (sustainability), sekaligus dapat menjaga keseimbangan lingkungan hidup (equilibrium of environmental).
2. Saran
1) Petani pemakai air tanah perlu segera membentuk organisasi khusus berupa Perkumpulan Petani Pemakai Air Tanah (P3AT). Hal ini akan memberikan keuntungan berganda kepada para petani tersebut, karena disamping mudah mengakses sumber-sumber bantuan dari luar, juga dapat dengan mudah diakses oleh berbagai pihak pencinta lingkungan hidup yang ingin memberikan apresiasinya terhadap kelompok-kelompok penyelamat lingkungan. 2) Pemerintah Daerah (Pemda) perlu segera
melakukan upaya pemberdayaan petani pemakai air tanah untuk mampu secara mandiri dan bersama-sama (terpadu) melakukan upaya konservasi air tanah pada lahan mereka, baik dalam bentuk kegiatan bimbingan dan penyuluhan melalui tenaga penyuluh pertanian, maupun berupa gerakan turun lapang (motivator) untuk kegiatan percontohan konservasi air tanah pada lahan-lahan pertanian.
3) Masih perlu dilakukan penelitian lanjutan terutama untuk melihat pengaruh berbagai faktor eksternal yang mungkin menjadi penyebab rendahnya pengetahuan para petani pemakai air
tanah baik tentang eksistensi air tanah, maupun penyebab rendahnya skala sikap mereka terhadap urgensi konservasi air tanah. Faktor eksternal penting diteliti antara lain : (1) faktor peran pemerintah daerah, (2) faktor peran tokoh masyarakat, dan (3) faktor peran pengusaha mitra petani.
Daftar Rujukan
Alawneh R., et al., (2011) : “Modeling of
Groundwater Recharge by Rainwater Harvesting – Wadi Bayer (Case Study)”, Jordan Journal of Civil Engineering, Vol. 5 No.2, 2011, page 191–209.
Bouwer Herman, 2002. Artificial recharge of groundwater : hydrogeology and engineering, Hydrogeology Journal (2002) 10:121–142.
Cherkauer D.S. and Ansari S.A., 2005. Estimating Groundwater Rechange from Topography, Hydrogeology, and Land Cover, Groundwater Vol.43 No.1, January-February 2005, 102-112.
Darwis et al., 2012. Pemodelan Formasi Sumur Resapan untuk Recovery Air Tanah dan Pencegahan Intrusi Air Laut ke Lapisan Tanah pada Lahan Pertanian di Kabupaten Takalar, Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing Depdikbud, Desember 2012. Djaali & Mulyono, Pudji. (2007). Pengukuran
dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Grasindo Dzeco C., Amilai C., and Cristovao A., (2010) : “Farm field schools and farmer’s empowerment in Mozambique : A pilot
study”, 9th European IFSA Sysposium, 4-7
July 2010, Vienna (Austria).
Hadi Agus P., 2010. Konsep Pemberdayaan, Partisipasi dan Kelembagaan Dalam Pembangunan, Yayasan Agribisnis/Pusat Pengembangan Masyarakat Agrikarya (PPMA).
Hirokawa Sachika, (2010) : “Promoting Sustainable Agriculture Development and Farmer Empowerment in Northeast Thailand”, 4th Asian Rural Sociology Assocation (ARSA) International Conference, September 2010 in Lagazpi City – Philipines.
Michigan Farmers”, Journal of Extension, Vol, 40 No.1, February 2002.
Ife, J.W., 1995. Community Development: Creating Community Alternatives-vision, Analysiis and Practice. Melbourne : Longman.
Kumar C.P., 2007. Estimation of Groundwater Rechange using Soil Moisture Balance Approach. Scientist ‘El’, National Institute of Hydrology, Roorkee – India.
Llamas M.R. & Santos P.M., 2005. Intensive Groundwater Use : Silent Revolution & Potential Source of Social Conflicts, Journal of Water Resources Planning & Management, ASCE, Sept./Oct. 2005. Nuryanti Sri, 2005. Pemberdayaan Petani
dengan Model Cooperative Farming, Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian, Vol. 3 No.2 Juni 2005, hal 152-158.
Sadono Dwi, 2008. Pemberdayaan Petani : Paradigma Baru Penyuluhan Pertanian di Indonesia, Jurnal Penyuluhan IPB - ISSN: 1858-2664 Maret 2008, Vol. 4 No.1.
Sharda V.N., et al., 2006. Estimation of groundwater recharge from water storage structures in a semi arid climate of India, Journal of Hydrology (2006) 329,224, 243. Sidu Dasmin & Basita, 2007. Pemberdayaan
Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung Jompi Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, Jurnal Penyuluhan, Vol. 3, No. 1, Maret 2007.
Sugiyo, et al., 2013. Empowering Farmers in Conserving Soil and Water in the Sampeyan Watershed, Situbondo, East Java, Indonesia, Journal of Environment and Earth Science, Vol. 3, No.7, 2013.
Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Cetakan ke-15. Alfabeta, Bandung.
Sumodiningrat, G., 1999. Pemberdayaan Masyarakat dan Jaring Pengaman Sosial, Jakarta: Gramedia.
Taheri A. and Zare M., 2011. Groundwater artificial recharge assessment in Kangavar Basin, a semi-arid region in the western part of Iran, African Journal of Agricultural Research Vol. 6(17), pp. 4370-4384, 12 Sept. 2011.
Tiro, Muhammad Arif, 2008. Dasar-dasar Statistika, Edisi ketiga, Andira Publisher, Makassar.
Wang B., et al., 2008. Estimating groundwater recharge in Hebei Plain, China under varying land use practices using tritium and bromide tracers, Journal of Hydrology (2008) 356, 209–222.
---, 2004. U.U. R.I. No.7 Tahun 2004, tentang Sumber DayaAir.
---, 2004. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Permukiman & Prasarana Wilayah, Menteri Pertanian ; tentang Pedoman Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air.
---, 2008. Peraturan Pemerintah R.I. No. 42 Tahun 2008, tentang Pengelolaan Sumber Daya Air.
---, 2008. Peraturan Pemerintah R.I. No. 43 Tahun 2008, tentang Air Tanah. ---, 2009. U.U. R.I. No.32 Tahun
2009, tentang Perlindungan & Pengelolaan Lingkungan Hidup.
---, 2012. Peraturan Menteri ESDM No. 15 Tahun 2012 tentang Penghematan Penggunaan Air Tanah. ---, 2012. Peraturan Menteri
Pertanian No.79/Permentan/OT.140/ 12/2012, tentang Pedoman Pembinaan dan Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air.