p-ISSN 1410-900X
BALAI BAHASA JAWA TIMUR
BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA, KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Terakreditasi No. 599/AU2/P2MI-LIPI/03/2015
Atavisme Vol. 19 No. 2 Sidoarjo, Desember 2016
Hlm. 130-262
e-ISSN 2503-5215 p-ISSN 1410-900X Identifikasi Ideologi dan Pola Relasinya dalam
Novel-Novel Jacqueline Woodson
Muhammad Al Hafizh, Faruk, Juliasih
Negosiasi antara Homoerotika dan Budaya
Machismo dalam Novel Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe
Alberta Natasia Adji
Urbanisme, Urbanisasi, dan Masyarakat Urban di Jakarta dalam Novel Senja di Jakarta
Purwantini
Tafsir Amanat dalam Mitos Manarmakeri
Sri Yono
Legenskap Masyarakat Bangkalan dan Unsur-Unsur Pembentuknya
Iqbal Nurul Azhar
Metafora dalam Puisi Antikorupsi Karya Penyair Indonesia
Chafit Ulya, Nugraheni Eko W., Yant Mujianto
Ragam Vegetasi dalam Puisi-Puisi Palestina
Hindun
Kondisi Kejiwaan Para Tokoh dalam “
Sangidu
Kuasa Orientalis Belanda atas Naskah-Naskah Kuno Indonesia dalam Cerpen “Di Jantung Batavia” Karya Indah Darmastuti
Yusri Fajar
e‐ISSN 2503‐5215 p‐ISSN 1410‐900X
Atavisme
Volume 19, No. 2, Edisi Desember 2016
ATAVISME terakreditasi dengan Nomor 599/AU2/P2MI‐LIPI/03/2015 berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Nomor 335/E/2015, tanggal 15 April 2015 tentang Hasil Akreditasi Majalah Berkala Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Tahun 2015. Masa berlaku tiga tahun.
Penanggung Jawab: Drs. Amir Mahmud, M.Pd. Pemimpin Redaksi: Yulitin Sungkowati, M.Hum.
Anggota Redaksi: Anang Santosa, M.Hum., Mashuri, M.A., Ni Nyoman Tanjung Turaeni, M.Hum., Maimunah, M.A.
Redaksi Pelaksana: Hero Patrianto, M.A., Awaludin Rusiandi, M.A.
Mitra Bebestari:
Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo (Puisi dan Prosa/Universitas Gadjah Mada) Prof. Dr. Soedjijono, M.Hum. (Prosa/Universitas Kanjuruhan Malang)
Prof. Dr. I.B. Putera Manuaba, M.Hum. (Prosa dan Drama/Universitas Airlangga) Prof. Dr. Koh Young Hun (Prosa/Hankuk University of Foreign Studies, Seoul,) Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. (Prosa/Universitas Udayana)
Prof. Madya Dr. Mawar Safei (Prosa dan Puisi/Universitas Kebangsaan Malaysia) Dr. Aprinus Salam, M.Hum. (Prosa dan Puisi/Universitas Gadjah Mada)
Dr. Mu’jizah, M.Hum. (Filologi/Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa) Dr. Wigati Yektiningtyas‐Modouw, M.Hum. (Sastra Lisan/Universitas Cendrawasih) Diah Ariani Arimbi, Ph.D. (Prosa/Universitas Airlangga)
Azhar Ibrahim, Ph.D. (Prosa/National University of Singapore) Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Sastra Lisan/Universitas Jember) Dr. Pujiharto, M.Hum. (Prosa/Universitas Gadjah Mada)
Nurwulan, Ph.D. (Prosa/Universitas Airlangga)
Wening Udasmoro, Ph.D. (Prosa/Universitas Gadjah Mada) Prof. Dr. Darni, M.Pd. (Sastra Daerah/Universitas Negeri Surabaya) Ronit Ricci, Ph.D. (Filologi/Australian National University)
Distribusi: M. Iwan Mukaffi, A.Md., Rahmidi
Penerbit Balai Bahasa Jawa Timur
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Alamat Redaksi
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji II/1, Buduran, Sidoarjo 61252, Telepon/Faksimile: (031) 8051752, Laman: www.atavisme.web.id, Pos‐el: [email protected]
Katalog dalam Terbitan 808.83
ATA Atavisme. Sidoarjo: Balai Bahasa Jawa Timur 2016—(berkala, tengah tahunan)
xviii, 134 hlm.; 29,7 cm.
Jurnal Atavisme terbit kali pertama tahun 1998 di Jakarta. Tahun 2007, redaksi pindah ke Sidoarjo. Terbit dua kali
setahun, pada Juni dan Desember. Atavisme memuat tulisan ilmiah hasil penelitian sastra. Redaksi menerima tulisan
i e‐ISSN 2503‐5215 p‐ISSN 1410‐900X
Atavisme
Volume 19, No. 2, Edisi Desember 2016
DAFTAR ISI
Identifikasi Ideologi dan Pola Relasinya dalam Novel‐Novel Jacqueline Woodson (The Identification of Ideology and Its Relation Pattern in Jacqueline Woodson’s Novels)
130‐147
Muhammad Al Hafizh, Faruk, Juliasih
Negosiasi antara Homoerotika dan Budaya Machismo dalam Novel Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe (Negotiation Between Homoeroticism and Machismo in Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe Novel)
148‐161
Alberta Natasia Adji
Urbanisme, Urbanisasi, dan Masyarakat Urban di Jakarta dalam Novel Senja di Jakarta (Urbanism, Urbanization, and Urban Society in Jakarta in Novel Senja di Jakarta)
162‐175
Purwantini
Tafsir Amanat dalam Mitos Manarmakeri (The Message of Manarmakeri Myth) 176‐191
Sri Yono
Legenskap Masyarakat Bangkalan dan Unsur‐Unsur Pembentuknya (Bangkalanese Legendscape and Its Constituent Elements)
192‐205
Iqbal Nurul Azhar
Metafora dalam Puisi Antikorupsi Karya Penyair Indonesia (Metaphors in Anti‐ Corruption Poetries Written by Indonesian Poets)
206‐219
Chafit Ulya, Nugraheni Eko W., Yant Mujiyanto
Ragam Vegetasi dalam Puisi‐Puisi Palestina (Vegetation Variety in Palestinian Poetries) 220‐235
Hindun
Kondisi Kejiwaan Para Tokoh dalam “Kānat Hiyal‐Adh’āf” Karya Nawal El Sa’dawi (Psychological Condition of the Characters in Nawal El Sa’dawi’s “Kānat Hiyal‐Adh’āf”)
236‐250
Sangidu
Kuasa Orientalis Belanda atas Naskah‐Naskah Kuno Indonesia dalam Cerpen “Di Jantung Batavia” Karya Indah Darmastuti (Power 0f Dutch Orientalist toward Old Manuscripts of Indonesia in Indah Darmastuti’s Short Story “Di Jantung Batavia”)
251‐262
Yusri Fajar
ii
e‐ISSN 2503‐5215
p‐ISSN 1410‐900X
PRAKATA
Sastra tidak hanya sebatas cermin kehidupan yang mikroskopis, terkotak, dan sempit. Namun, di dalamnya tersimpan jejak kearifan, sistem pengetahuan, dan hal‐ihwal persoalan dalam kehidupan yang luas. Meskipun sastra diciptakan dengan bertumpu pada imajinasi, tetapi sastra tetap berasal dari realitas dan berakar pada kehidupan sebenarnya. Oleh karena itu, sejak zaman dulu, karya sastra digunakan untuk memahami kehidupan, baik yang mempersoalkan hal‐hal sakral maupun yang profan, termasuk sebagai hiburan. Bagi sebagian masyarakat pemiliknya, sastra menjadi sumber makna dan nilai, yang merupakan kristalisasi dari pergulatan manusia dan
sejarah. Pada perkembangannya, sastra menjadi perwujudan ekspresi,
pengejawantahan diri, sarana perjuangan ideologi, bahkan pada perkembangan mutakhir, sastra menjadi peneguh identitas komunal dalam dunia yang semakin global. Fakta sastra tersebut dapat ditemui dalam tulisan‐tulisan yang dimuat Atavisme Volume 19. No. 2, Edisi Desember 2016 ini. Dalam sembilan karya tulis ilmiah hasil penelitian pustaka dan lapangan yang ditulis oleh para dosen, peneliti, dan ahli sastra di Indonesia tersebut, terdapat beragam pandangan, capaian, dan makna sastra dari berbagai segi kehidupan. Karya‐karya yang diteliti para sarjana tersebut sudah melampaui ruang dan waktu. Beberapa karya yang dibahas berbahasa asing, berbahasa Indonesia, dan berbahasa daerah, serta berasal dari berbagai wilayah dan belahan dunia yang beragam.
Terdapat penelitian yang meliputi ranah sastra Inggris dengan membahas novel‐ novel Jacqueline Woodson dan novel karya Benjamin Alire Sáenz, Aristotle and Dante
Discover the Secrets of the Universe. Ada penelitian terhadap sastra Arab dengan objek
puisi‐puisi perlawanan karya para penyair Palestina dan cerpen karya penulis perempuan Mesir, Nawal El Sa’dawi. Dalam ranah sastra Indonesia, terdapat penelitian terhadap cerpen “Di Jantung Batavia” karya Indah Darmastuti, novel Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis, dan puisi‐puisi antikorupsi karya penyair Indonesia. Adapun terhadap sastra daerah, yang diteliti meliputi mitos Manarmakeri dari Biak, Papua dan legenskap masyarakat Bangkalan di Pulau Madura.
Karya‐karya tersebut dilihat dari berbagai sudut pandang dan menunjukkan segi‐ segi kehidupan yang luas dan berbeda. Dalam perkembangan kondisi dunia yang semakin global, memahami perbedaan sebagai keniscayaan adalah sebuah cara untuk tetap bertahan dan merayakan kemanusiaan dengan wajar. Apalagi dalam sastra, perbedaan dan kontradiksinya terangkum dalam sebuah bentuk penyajian yang bernalar dan berestetika. Para peneliti melakukan telaah pada karya‐karya tersebut, dengan cara menguak kemungkinan‐kemungkinannya dari sudut pandang‐sudut pandang keilmuan dan seni penafsiran.
iii sebagai akumulasi keilmuan sastra semata, tetapi juga berikhtiar memberi sumbangsih pada masyarakat agar nilai‐nilai kemanusiaan yang terkandung dalam rahim sastra dapat dikenali dan menjadi sumber inspirasi, serta sebagai sarana saling pengertian untuk menatap kehidupan yang semakin baik dan beradab.
Redaksi
iv
UCAPAN TERIMA KASIH UNTUK MITRA BEBESTARI
Redaksi Atavisme mengucapkan terima kasih yang setulus‐tulusnya kepada mitra bebestari yang telah me‐review artikel‐artikel yang diterbitkan dalam Atavisme Volume 19, Nomor 2, Edisi Desember 2016. Mitra bebestari tersebut, yaitu
Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Prof. Dr. I.B. Putera Manuaba, M.Hum. (Universitas Airlangga, Surabaya)
Prof. Dr. Soedjijono, M.Hum. (Universitas Kanjuruhan, Malang)
Prof. Madya Dr. Mawar Safei (Universitas Kebangsaan Malaysia, Kualalumpur)
Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Universitas Jember, Jember)
Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M. Litt, (Universitas Udayana)
Diah Ariani Arimbi, Ph.D. (Universitas Airlangga, Surabaya)
Dr. Aprinus Salam, M.Hum. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Dr. Pujiharto, M.Hum. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Dr. Wigati Yektiningtyas‐Modouw (Universitas Cendrawasih, Papua)
Dr. Mu’jizah (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta)
Dr. Wening Udasmoro (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
v
Vol. 19, No. 2, Edisi Desember, 2016 e‐ISSN 2503‐5215
p‐ISSN 1410‐900X
ATAVISME
ram Ilmu‐Ilmu Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada)
Identifikasi Ideologi dan Pola Relasinya da‐ lam Novel‐Novel Jacqueline Woodson
Atavisme, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember 2016, hlm. 130‐147
Karya sastra sebagai situs hegemoni me‐ nampilkan berbagai ideologi yang ada di da‐ lamnya. Ideologi tentang perbedaan ras, be‐ serta konteks sosial politik yang melatarbe‐ lakanginya, menjadi suatu tema penting da‐ lam karya sastra Amerika. Tema tersebut ti‐ dak hanya ditulis oleh pengarang kulit hitam, tetapi juga kulit putih. Artikel ini bertujuan untuk mengindetifikasi ideologi tentang per‐ bedaan ras dan pola relasinya dalam sastra kulit hitam Amerika dengan menggunakan teori poskolonialisme dan hegemoni. De‐ ngan menggunakan perspektif hegemoni, se‐ orang peneliti sastra populer dapat mene‐ mukan hegemoni ideologi tertentu di balik sebuah karya. Artikel ini merupakan hasil kajian pustaka mengenai identifikasi ideolo‐ gi tentang perbedaan rasial dan pola rela‐ sinya dalam novel‐novel sastra populer Jacqueline Woodson. Hasil penelitian me‐ nunjukkan bahwa (1) ideologi yang terlibat dalam perbedaan rasial dalam novel‐novel Woodson adalah ideologi liberalisme, kapi‐ talisme, dan rasisme; (2) pola relasi antara ideologi tersebut menunjukkan bahwa ideo‐ logi liberalisme adalah ideologi yang hege‐ monik, sedangkan kapitalisme adalah ideo‐ logi yang bangkit, dan rasisme adalah ideo‐ logi endapan.
Negosiasi antara Homoerotika dan Budaya
Machismo dalam Novel Aristotle And Dante Discover the Secrets of The Universe
Atavisme, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember 2016, hlm. 148‐161
Artikel ini bertujuan mengungkap negosiasi antara homoerotika dan prinsip machismo yang dijunjung tinggi dalam budaya Meksiko serta pengaruh faktor kelas sosial dan pendi‐ dikan keluarga terhadap hubungan tersebut dalam sastra Amerika Latin kontemporer berjudul Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe karya Benjamin Alire Sáenz. Masalah yang menjadi fokus peneliti‐ an adalah bagaimana negosiasi antara ho‐ moerotika dan prinsip machismo serta fak‐ tor kelas sosial dan pendidikan keluarga memberikan pengaruh terhadapnya dalam novel tersebut. Dengan perspektif teori queer yang dicetuskan Annamarie Jagose dan metode pembacaan cermat, penelitian ini menghasilkan temuan bahwa machismo yang masih kuat dalam masyarakat Meksiko melahirkan perasaan homofobia, bahkan da‐ lam diri kaum homoseksual sendiri. Kare‐ nanya, para gay cenderung menjadi rendah diri dengan orientasi seksualnya. Latar bela‐ kang pendidikan keluarga dan perbedaan kelas sosial memengaruhi persepsi tentang machismo pada kaum lelaki. Keduanya me‐ rupakan faktor penting yang mendasari peri‐
vi
Urbanisme, Urbanisasi, dan Masyarakat Urban di jakarta dalam Novel Senja di Jakarta
Atavisme, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember 2016, hlm. 162‐175
Penelitian ini bertujuan memahami aspirasi dan gagasan kelompok sosial pengarang yang diekspresikan melalui sebuah panda‐ ngan dunia. Urbanisme merupakan tradisi urban yang berkaitan erat dengan pemben‐ tukan negara dan sistem dominasi. Oleh ka‐ rena itu, perpindahan penduduk dari desa ke kota bertujuan mencari pekerjaan. Namun, para urbanis justru tidak mendapatkan pe‐ kerjaan yang layak, bahkan terjebak oleh ha‐ sutan kelompok komunis. Sebaliknya, pe‐ nguasa yang berasal dari pedalaman mem‐ peroleh tempat strategis dalam pekerjaan karena bekerja sama dengan partai politik. Akibatnya, mereka melakukan tindak korup‐ si dan pelanggaran, baik di bidang demo‐ krasi, nasionalisme, maupun agama. Teori yang digunakan adalah teori strukturalis‐ me‐genetik dengan metode dialektis Lucien Goldmann. Hasil penelitian yang diperoleh: demokrasi telah mati, agama tersingkir dari kehidupan masyarakat, dan nasionalisme, meskipun masih eksis, kalah oleh kaum ka‐ pitalis. Akibatnya, masyarakat urban tidak mengenal arti demokrasi, nasionalisme, dan menganggap agama hanya sebagai sebuah mitos. Pandangan dunia yang diekspresikan adalah kembalikan demokrasi, hargailah kaum nasionalis, dan gunakan agama seba‐ gai pegangan hidup.
DDC 899. 507
Sri Yono (Balai Bahasa Provinsi Papua) Tafsir Amanat dalam Mitos Manarmakeri
Atavisme, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember 2016, hlm. 176‐191
Mitos Manarmakeri bagi masyarakat Biak sudah menjadi ideologi sehingga menarik untuk digali kode‐kode yang ada di dalam‐ nya. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertu‐ juan untuk menafsirkan amanat yang terda‐ pat di dalam mitos Manarmakeri dengan menggunakan analisis modus transaksi ama‐ nat Roland Barthes. Sumber data didapat melalui penelitian lapangan yang dilakukan
di Kampung Sopen, Distrik Biak Barat, Pa‐ pua. Ada lima kode yang dibedah dalam penelitian ini, yaitu (1) kode hermeneutik (kode teka‐teki); (2) kode semik (kode kono‐ tatif); (3) kode simbolik; (4) kode proaretik (logika tindakan); dan (5) kode gnomik (ko‐ de kultural). Berdasarkan analisis diketahui bahwa secara keseluruhan pesan‐pesan di dalam mitos ini merupakan penegasan ideo‐
Iqbal Nurul Azhar (Program Studi Sastra Inggris, Universitas Trunojoyo)
Legenskap Masyarakat Bangkalan dan Un‐ sur‐Unsur Pembentuknya
Atavisme, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember 2016, hlm. 192‐205
Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan legenskap di Kabupaten Bangkalan. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis data interaktif yang diusulkan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis legenda yang terdapat pada ma‐ syarakat Bangkalan ada lima, yaitu asal mua‐ sal berdirinya sebuah daerah, kesaktian to‐ koh masyarakat yang telah meninggal dan kuburannya dianggap keramat, tempat‐tem‐ pat mistik, penyebaran agama Islam, dan asal‐usul munculnya sebuah budaya. Sebar‐ an layer berdasarkan waktu terbentuknya, terbagi menjadi lima, yaitu legenda klasik, neoklasik, zaman tengah, zaman baru, dan masa kini. Berdasarkan hubungan cerita, Ka‐ bupaten Bangkalan dibagi menjadi empat kontur legenda, yaitu kontur utara, barat, se‐ latan, timur, dan tengah. Penelitian ini juga menemukan dua fakta menarik yaitu adanya empat legenda yang melibatkan karakter pe‐ rempuan Madura yang kuat bernama Bendoro Gung, Dewi Retnadi, Syarifah Ambami, dan Dewi Nawang Wulan. Keempat wanita ini sangat dihormati orang Madura padahal budaya Madura terkenal dengan patriarkatnya. Fakta kedua adalah jejak Pangeran Trunojoyo yang begitu terkenal di Madura namun tidak tampak menghiasi skap legenda masyarakat Bangkalan.
vii DDC 899.221.107
Chafit Ulya, Nugraheni Eko W., Yant Mujiyanto (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pen‐ didikan, Universitas Sebelas Maret)
Metafora dalam Puisi Antikorupsi Karya Pe‐ nyair Indonesia
Atavisme, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember 2016, hlm. 206‐219
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan aspek‐as‐ pek metaforis dalam puisi antikorupsi yang ditulis oleh penyair Indonesia. Prosedur pe‐ nelitian yang digunakan untuk melihat aspek metaforis ini adalah metode deskriptif kuali‐ tatif. Kategori metafora yang digunakan ter‐ diri atas empat jenis, yakni metafora antro‐ pomorfis, metafora kehewanan, metafora pengabstrakan, dan metafora sinestetis. Dari analisis yang dilakukan diperoleh hasil bah‐ wa di antara empat kategori metafora yang digunakan, tuturan metafora yang mendo‐ minasi dalam puisi antikorupsi adalah meta‐ fora kehewanan dan pengabstrakan. Kedua kategori metafora tersebut mengekspresi‐ kan perasaan tidak suka dan kecewa para penyair terhadap tindak pidana korupsi. De‐
Atavisme, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember 2016, hlm. 220‐235
Vegetasi Palestina adalah sekelompok ta‐ naman yang tumbuh di bumi Palestina. Para penyair Palestina, melalui puisinya, menge‐ mukakan beragam vegetasi yang tumbuh di Palestina sehingga menimbulkan permasa‐ lahan ragam vegetasi apa saja yang disebut dalam puisi dan apa fungsi penyebutannya? Tujuan penelitian ini adalah mengungkap ra‐ gam vegetasi asli Palestina dalam puisi karya penyair Palestina. Teori yang dimanfaatkan adalah teori adab al‐muqawamah, yang mengatakan bahwa karya sastra merupakan pat tanaman itu tumbuh dan ada bangsa yang memanfaatkan tanaman itu dalam ke‐ hidupan mereka. Penyebutan ragam vege‐ tasi Palestina itu menjadi simbol perlawanan bangsa Palestina terhadap penjajahan Israel yang menduduki tanah Palestina melalui aneksasi dan kolonialisasi. Puisi perlawanan ini merupakan sebuah upaya untuk mem‐ bangkitkan kesadaran umat manusia di du‐ nia, khususnya bangsa Palestina, untuk me‐ lawan segala bentuk penjajahan di muka bu‐ mi.
DDC 813. 155 407
Sangidu (Departemen Antarbudaya, Fakul‐ tas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada) Kondisi Kejiwaan Para Tokoh dalam “Kānat Hiyal‐Adh’āf” Karya Nawal El Sa’dawi
Atavisme, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember 2016, hlm. 236‐250
viii
yang satu dan tokoh lainnya berbeda‐beda.
DDC 899.221.307
Yusri Fajar (Program Studi Sastra Inggris, Ju‐ rusan Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya)
Kuasa Orientalis Belanda atas Naskah‐ Naskah Kuno Indonesia dalam Cerpen “Di Jantung Batavia” Karya Indah Darmastuti
Atavisme, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember 2016, hlm. 251‐262
Pascamemproklamasikan kemerdekaan dan sekarang memasuki dunia global, Indonesia tetap menjadi objek penelitian penting para orientalis Belanda yang ingin mengeksplo‐ rasi budaya Indonesia. Fenomena ini tere‐ presentasikan dalam cerpen “Di Jantung Ba‐ tavia” karya Indah Darmastuti. Masalah pe‐ nelitian ini adalah bagaimanakah strategi‐ strategi orientalis Belanda dalam menguasai berbagai naskah kuno Indonesia dan bagai‐ manakah pandangan orang Indonesia
terhadap eksistensi orientalis Belanda dalam cerpen “Di Jantung Batavia”? Tujuan pene‐ litian ini adalah mengungkap dan mendes‐ kripsikan berbagai strategi orientalis Belan‐ da dalam menguasai dan mempelajari nas‐ kah kuno Indonesia dan menggambarkan pandangan orang Indonesia terhadap orien‐ talis Belanda. Hasil penelitian ini menunjuk‐ kan bahwa orientalis Belanda menjalankan misinya dengan membangun citra kejayaan Belanda di Indonesia, menjalin kedekatan dengan narasumber dari Indonesia, mengua‐ sai bahasa Indonesia, dan memburu naskah kuno di Perpustakaan Nasional, serta mengunjungi situs sejarah Indonesia. Orien‐ talis Belanda ini dipandang superior dan se‐ bagai sumber pengetahuan budaya Indo‐ nesia oleh orang Indonesia.
ix
Vol. 19, No. 2, December Edition, 2016 e‐ISSN 2503‐5215
p‐ISSN 1410‐900X
Muhammad Al Hafizh, Faruk, Juliasih (Humanities Program, Faculty of Humani‐ ties, Gadjah Mada University)
The Identification of Ideology and Its Rela‐ tion Pattern in Jacqueline Woodson’s Novels
Atavisme, Vol. 19, No. 2, December Edition, 2016, pp. 130‐147
Literary work as a hegemonic site reflects various kinds of ideology within. Ideology of racial difference, along with its social‐poli‐ tical context, has become an important theme in American literature. This theme was not only written by black authors, but also white ones. This article aims to identify the ideology of racial difference and its rela‐ tion in black American literature by using postcolonialism and hegemony theory. By using hegemony perspective, a popular lit‐ erature reseracher can find certain hege‐ mony of ideology in a literary work. This is a library study on ideology of racial differ‐ ences along with its relation pattern in the popular works of Jacqueline Woodson. The result shows that (1) ideology involved in racial differences in Woodson’s novels are liberalism, capitalism, and racism; (2) the pattern of ideology relation shows that lib‐ eralism is the hegemonic ideology, while capitalism is the emergent one, and racism is the residual one.
DDC 873.07
Alberta Natasia Adji (Master Program in Literary and Cultural Studies, Faculty of Humanities, Airlangga University)
Negotiation between Homoeroticism and
Machismo in Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe Novel
Atavisme, Vol. 19, No. 2, December Edition,
2016, pp. 148‐161
The article strives to reveal the negotiation between homoeroticism and machismo norms highly valued in Mexican culture, as well as the impact of social class and acade‐ mic background, toward such relationship in a contemporary Latin American literary work, Benjamin Alire Sáenz ‘s Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe. The focus of the study is how the negotia‐ tion between homoeroticism and machismo values, as well as social class and academic background, affect that relationship. Using Annamarie Jagose’s queer theory and close reading technique, the study results in the fact that machismo, still strongly held in Mexican communities, begets a homopho‐ bic feeling even for the homosexuals them‐ selves. Therefore, the gays tend to feel infe‐ rior with their sexual orientation. The fami‐ ly’s academic background and social class difference influence the perception about
machismo in men. Both prove to be crucial factors in determining one’s sexual orien‐ tation toward his social surroundings.
DDC 899.221 307
Purwantini (Indonesian Literature Depart‐ ment, Faculty of Humanities, Airlangga Uni‐ versity)
Urbanism, Urbanization, and Urban Society in Jakarta in Novel Senja di Jakarta
Atavisme, Vol. 19, No. 2, December Edition, 2016, pp. 162‐175
x
Unfortunately, the urbans cannot get descent jobs. In contrast, the village ruling class hold strategic positions in their jobs for being involved with the political parties. Consequently, they engage in corruption, violations in democracy, nationalism, and infringement on values of religion. This research used genetic structuralism with Lucien Goldmann’s dialectic method. The result shows that democracy has failed, religion is swept away from the peoples’ lives, and nationalism, though still exists, is defeated by the capitalist. Consequently, urbans do not recognize the meaning of democracy and nationalism, and considers religion as a myth. The author’s world visi‐
Atavisme, Vol. 19, No. 2, December Edition, 2016, pp. 176‐191
Biak people consider Manarmakeri myth to be ideology and therefore it is interesting to know the codes inside. This descriptive qua‐ litative paper aims to explore the transac‐ tion modus of message on Manarmakeri Myth based on Roland Barthes theory. The main data was collected through a field re‐ search in Kampong Sopen, West Biak Dis‐ trict, Papua. There are five codes to concern, they are hermeneutic code, semes code, symbolic code, proairetic code, and culture code. From the analysis, it has been found that all messages in this myth are commu‐ nicating the koreri ideology. Basically it is the representation of “cargo kult”.
DDC 398.598 280 7
Iqbal Nurul Azhar (English Literature De‐ partment, Trunojoyo University)
Bangkalanese Legendscape and Its Consti‐ tuent Elements
Atavisme, Vol. 19, No. 2, December Edition, 2016, pp. 192‐205
The purpose of this study is to explain the
Bangkalanese legendscape. The method used to analyze the data was the interactive data analysis, which was proposed by Miles and Huberman. From the data analysis, it has been found that there are five types of Bangkalan legends, namely: the origin of the establishment of a region, respectful leaders who died, living his/her sacred grave, mystical places, the spread of Islam, and the origins of the emergence of a culture. It has also been found the distributional of layers of legends existance namely; classics, neo‐ classic, middle ages, new era, and present layers. Based on the legend interrelations, it has been found four contours of legends, namely the north, west, the south, the east, and the central contours. In addition, this study also reveals two other interesting facts. The first is about the existence of four legends involving Madura strong female characters named Bendoro Gung, Dewi Retnadi, Syarifah Ambami and Dewi Nawang Wulan. The four women are highly respected by Madurese. This is contradic‐ tory to Madurese culture which admires pa‐ triarchy (man’s power) very much. The second is about Trunojoyo’s traces. This figure is so well known in Madura yet his footsteps are not so visible in Bangkalan legendscape.
DDC 899.221.107
Chafit Ulya, Nugraheni Eko W., Yant Mujiyanto (Faculty of Education, Sebelas Maret University)
Metaphors in Anti‐Corruption Poetries Written by Indonesian Poets
Atavisme, Vol. 19, No. 2, December Edition, 2016, pp. 206‐219
xi Both categories of metaphors were express‐
ing the poets’ dislike and disappointment against corruption. Thus, the anti‐corrupt‐ ion poetries are the poets’ expressions of expressing disappointment, hatred, as well as the fight against corruption in Indonesia.
DDC 801.951 07
Hindun (Interculture Department, Faculty of Humanities, Gadjah Mada University) Vegetation Variety in Palestinian Poetries
Atavisme, Vol. 19, No. 2, December Edition, 2016, pp. 220‐235
Palestine’s vegetation is a group of plants growing in the Palestine’s soil. The Palesti‐ nian poets, through their poetries, explained the variety of plants growing in Palestine. Therefore, the research questions are what kinds of native plant growing in Palestine and why the Palestinian poets explain those plants in their poetries? The analysis theory is adab al‐muqawamah meaning that liter‐ ary work is an instrument to fight all forms of occupation and colonialism by using words to inspire the readers to fight. The result is that Palestine’s plant variety is a symbol of the presence of the region and the Palestinians, which means that there is a land where the plants grow and there is a nation that use the plants in their lives. Mentioning the diverse vegetation in poetries has become a symbol of Palestinian resistance against Israeli that has occupied Palestinian land through annexation and colonization. Poetry resistance is an effort to raise awareness of mankind in the world, especially the Palestinians, to fight against all forms of colonialism on this earth.
DDC 813. 155 407
Sangidu (Interculture Department, Faculty of Humanities, Gadjah Mada University) Psychological Condition of The Characters in Nawal El Sa’dawi’s “Kānat Hiyal‐Adh’āf”
Atavisme, Vol. 19, No. 2, December Edition, 2016, pp. 236‐250
A short story (al‐qish‐shatul‐qashîrah) en‐ titled “Kānat Hiyal‐Adh’āf” written by Nawal El Sa’dawi contains psychological unrest,
sadness, and pressures experienced by the community, especially Arab women. The culture of virginity test is regarded as a dis‐ grace and psychological pressure for wom‐ en in general and Arab women in particular. Therefore, to reveal the characters’ psy‐ chological condition related to the culture of virginity test for Arab women in the short story “Kānat Hiyal‐Adh’āf”, a psychological approach and method is needed. Psycholog‐ ical approach is a discipline which regards that literary works contain psychological elements. The method of psychological ap‐ proach describes the characterization of the characters in the work in question. This study concludes that each character experi‐ ences different psychological condition re‐ lated to id, ego, and superego.
DDC 899.221.307
Yusri Fajar (English Literature Department, Faculty of Humanities, Brawijaya Univer‐ sity)
Power of Dutch Orientalist toward Old Ma‐ nuscripts of Indonesia in Indah Darmastuti’s Short Story “Di Jantung Bata‐ via”
Atavisme, Vol. 19, No. 2, December Edition, 2016, pp. 251‐262
xii
Indonesian language, and searching for old manuscripts in Indonesian National Library and observing historical sites. Dutch orien‐ talists are regarded as superior and sources of knowledge on Indonesian culture.
148
DALAM NOVEL
ARISTOTLE AND DANTE
DISCOVER THE SECRETS OF THE UNIVERSE
Negotiation between Homoeroticism and Machismo in Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe Novel
Alberta Natasia Adji
Magister Kajian Sastra dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga Jalan Dharmawangsa Dalam Selatan, Surabaya 60286, Indonesia, Telepon (031)
5035676/5033080, Faksimile (031) 5035807, Pos‐el: [email protected]
(Naskah Diterima Tanggal 30 Juli 2016—Direvisi Akhir Tanggal 2 November 2016—Disetujui Tanggal 3 November 2016)
Abstrak: Artikel ini bertujuan mengungkap negosiasi antara homoerotika dan prinsip machismo yang dijunjung tinggi dalam budaya Meksiko serta pengaruh faktor kelas sosial dan pendidikan
keluarga terhadap hubungan tersebut dalam sastra Amerika Latin kontemporer berjudul Aristotle
and Dante Discover the Secrets of the Universe karya Benjamin Alire Sáenz. Masalah yang men‐
jadi fokus penelitian adalah bagaimana negosiasi antara homoerotika dan prinsip machismo serta bagaimanakah faktor kelas sosial dan pendidikan keluarga memberikan pengaruh terhadapnya
dalam novel tersebut. Dengan perspektif teori queer yang dicetuskan Annamarie Jagose dan me‐
tode pembacaan cermat, penelitian ini menghasilkan temuan bahwa machismo yang masih kuat
dalam masyarakat Meksiko melahirkan perasaan homofobia, bahkan dalam diri kaum homo‐
seksual sendiri. Karenanya, para gay cenderung menjadi rendah diri dengan orientasi seksualnya.
Latar belakang pendidikan keluarga dan perbedaan kelas sosial memengaruhi persepsi tentang
machismo pada kaum lelaki. Keduanya merupakan faktor penting yang mendasari perilaku
seseorang dalam menentukan orientasi seksualnya di lingkungan sekitar.
Kata‐Kata Kunci: homoerotika, sastra Amerika Latin kontemporer, queer, machismo
Abstract: The article strives to reveal the negotiation between homoeroticism and machismo norms highly valued in Mexican culture, as well as the impact of social class and academic background, toward such relationship in a contemporary Latin American literary work, Benjamin
Alire Sáenz‘s Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe. The focus of the study is
how the negotiation between homoeroticism and machismo values, as well as social class and academic background, affect that relationship. Using Annamarie Jagose’s queer theory and close reading technique, the study results in the fact that machismo, still strongly held in Mexican communities, begets a homophobic feeling even for the homosexuals themselves. Therefore, the gays tend to feel inferior with their sexual orientation. The family’s academic background and social class difference influence the perception about machismo in men. Both prove to be crucial
factors in determining one’s sexual orientation toward his social surroundings.
Key Words: homoeroticism, contemporary Latin American literature, queer, machismo
PENDAHULUAN
Kali pertama diterbitkan pada tahun
2012, Aristotle and Dante Discover the Se‐
crets of the Universe mengambil latar tempat dan waktu di kota El Paso,
sebelah barat Texas, Amerika Serikat, pada tahun 1987. Kisahnya bertutur me‐ ngenai dua orang remaja laki‐laki berda‐
rah Meksiko‐Amerika, Aristotle
ATAVISME, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember, 2016: 148‐161
149
dipertemukan pada suatu musim panas dan akhirnya bersahabat erat. Dalam ki‐ sahnya, Ari digambarkan sebagai se‐ orang pemuda yang masih memegang teguh nilai‐nilai orisinal budaya Meksiko yang sangat heteronormatif karena po‐ pulasi mayoritas di lingkungan tempat tinggalnya di El Paso adalah orang His‐ panik. Sementara itu, sosok Dante mere‐ presentasikan generasi diaspora modern yang telah ‘tercerabut’ dari akar‐akar tradisi lama yang berasal dari budaya Meksikonya, yang membuatnya lebih be‐ bas mengaku pada Ari bahwa ia adalah seorang homoseksual. Ari, sang sahabat karib, justru mati‐matian menyangkal ja‐
ti dirinya sebagai seorang gay1 hingga
menjelang akhir cerita. Yang menarik, pada akhirnya kedua orang tua mereka‐ lah yang justru menyadarkan Ari bahwa dirinya juga seorang homoseksual seper‐ ti Dante, sehingga kedua pemuda terse‐ but akhirnya menjadi pasangan.
Di tempat asalnya, novel ini meraih banyak penghargaan sastra di tahun
2013, seperti A Printz Honor Book seba‐
gai karya tentang kaum remaja yang ter‐
baik, Stonewall Book Award untuk kepia‐
waian sang penulis dalam menampilkan pengalaman kaum LGBT dalam karya
sastra, Pura Belpré Award untuk mere‐
presentasikan sekaligus menjunjung tinggi nilai‐nilai budaya Meksiko, dan be‐ berapa penghargaan lain. Dalam salah satu wawancaranya dengan School Li‐ brary Journal pada Januari 2013, Sáenz, sang penulis, mengungkapkan kegembi‐ raan khususnya terhadap tiga penghar‐ gaan tersebut karena masing‐masing berasal dari komunitas masyarakat hete‐ ro (Printz), komunitas gay (Stonewall),
dan komunitas Latin (Belpré) sekaligus,
yang ketiga‐tiganya memang terwakili dalam karya tersebut (Peterson, 2013).
Benjamin Alire Sáenz adalah se‐ orang penyair sekaligus novelis berke‐ bangsaan Meksiko‐Amerika yang ba‐ nyak menulis tema budaya Amerika
Latin dan LGBT. Sáenz sempat belajar te‐ ologi di University of Louvain, di Leuven, Belgia dan bahkan menjadi seorang pas‐ tur selama beberapa tahun di El Paso, se‐ belum akhirnya meninggalkan ordonya untuk studi doktoral. Di akhir tahun 2000, tepatnya pada usia 54 tahun, ia
mengklaim sebagai seorang gay dan
hingga kini mengajar program penulisan kreatif di University of Texas, El Paso, yang menginspirasinya untuk membuat latar kota novel yang dibahas ini. Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe sengaja ditulis untuk me‐ representasikan pengalamannya sebagai bagian dari kaum LGBT Meksiko sekali‐ gus kelas‐kelas sosial dalam masyarakat Meksiko‐Amerika yang selama ini kebe‐ radaannya jarang diungkap ke publik, yakni kelas pekerja seperti keluarga Aristotle Mendoza dan kelas ‘profesio‐ nal’ seperti keluarga Dante Quintana
yang berlatar belakang akademik
(Peterson, 2013). Keduanya sangat ber‐ beda dari stereotip kelas imigran ilegal serta pengedar narkoba yang selama ini melekat pada kaum tersebut.
150
Amerika Latin diawali oleh Manuel Puig
pada tahun 1976 lewat novelnya El beso
de la mujer araña, yang memberi penga‐ ruh signifikan bagi penulis‐penulis beri‐ kutnya yang mengangkat tema fluiditas gender dan seksualitas dalam budaya Amerika Latin (Foster, 2002, hlm. 167).
Artikel ini berusaha menjawab per‐ tanyaan‐pertanyaan yang telah dirumus‐ kan sebagai berikut: bagaimanakah ne‐ gosiasi antara homoerotika dan budaya machismo dari Meksiko yang mengarah pada hubungan homoseksualitas antara dua tokoh utama pria dalam novel Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe (2012) dan bagaimana‐ kah fenomena tersebut dikaitkan dengan benturan‐benturan budaya setempat serta norma‐norma hetero yang masih diberlakukan dalam lingkungan sosial tempat tinggal kedua tokoh? Pemilihan novel tersebut didasarkan pada tiga alas‐ an. Pertama, kurangnya penelitian yang
membahas novel queer dengan latar be‐
lakang budaya Amerika Latin yang dihu‐
bungkan dengan budaya machismo bagi
kaum lelaki Meksiko. Kedua, dengan fe‐ nomena homofobia yang tengah marak di Indonesia seperti halnya yang terjadi di Amerika Serikat saat ini, yakni dengan munculnya beberapa kasus penembakan berbasis homofobia sepanjang tahun 2016, maka diperlukan suatu perspektif baru dalam memandang kaum LGBT. Yang terakhir, novel tersebut dipilih ka‐ rena dianggap dapat memotret sudut pandang pribadi dan proses transfor‐ masi dari pencarian orientasi seksual, serta dukungan positif dari keluarga kaum LGBT—yang cukup jarang ditam‐ pilkan dalam karya sastra yang mengge‐ luti tema tersebut—secara detail dan
menyeluruh. Lewat teori queer yang di‐
cetuskan oleh Annamarie Jagose, studi ini berusaha menelaah homoerotika yang tercipta dari hubungan perteman‐ an antara sesama laki‐laki yang nantinya menjurus pada hubungan homoseksual
antara dua tokoh utama dalam novel Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe.
Seksualitas pada dasarnya sangat‐ lah cair, sehingga kita tidak dapat begitu saja menempatkannya dalam kategori yang permanen. Karenanya, orientasi seksual muncul menjadi beberapa ma‐
cam sekaligus. Awalnya, istilah queer di‐
gunakan masyarakat untuk merendah‐ kan kaum homoseksual karena orientasi seksual mereka yang dianggap menyim‐ pang (Jagose, 1996, hlm. 2). Michel Foucault (dalam Spargo, 1999, hlm. 8‐9)
menerangkan bahwa istilah queer dalam
bahasa Inggris berarti ‘aneh’, yang ber‐ kebalikan dengan kata ‘normal’ yang se‐ ringkali merujuk pada laki‐laki atau pe‐ rempuan hetero. Lambat laun, kata ter‐ sebut justru dipakai secara resmi seba‐ gai istilah payung yang menyangkut ka‐
um gay, lesbian, biseksual, transgender,
interseks, yang telah dikaji serta ditrans‐ formasi menjadi sebuah teori akademis
berbasis penelitian atau queer theory.
Hal ini lantas memicu penggunaan istilah yang sama dalam berbagai produk buda‐ ya seperti karya sastra dan media, wa‐ laupun pada kenyataannya teori terse‐ but menolak untuk mengafiliasikan diri pada satu kelompok tertentu secara per‐ manen.
Annamarie Jagose mengungkapkan
bahwa queer sebenarnya tidak memiliki
batasan yang pakem dalam menentukan hubungan gender dengan seks, yang membuat teori tersebut terbuka terha‐ dap segala bentuk ambiguitas dan fluidi‐ tas gender dan seksualitas (Jagose, 1996,
hlm. 4). Queer theory sejatinya sangat
terkait dengan pascastruktur, yang ber‐ usaha mendobrak pakem‐pakem struk‐ tural serta pascamodern dan lebih ber‐ basis pada nilai‐nilai humanisme yang ada (Gamson, 2000, hlm. 349). Ia meng‐
kritik wacana‐wacana mayor atau main‐
ATAVISME, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember, 2016: 148‐161
151
rakyat, menentang aturan‐aturan baku yang selama ini dianggap paling benar. Dean Spade (2007) dalam esainya yang
berjudul Methodologies for Trans Resis‐
tance berkata bahwa:
The “queer” consciousness vision in‐ cludes a deeper set of changes, including an end to state privileging of certain sexual and familial relationships over others such that people can form families and have sex how they want without certain financial penalties or incentives
ensuing. (Spade, 2007, hlm. 241)
‘Kesadaran “queer” melibatkan sederet
perubahan yang mendalam, termasuk mengakhiri hak istimewa yang diberi‐ kan negara pada hubungan seksual dan keluarga tertentu atas lainnya sehingga masyarakat dapat membangun keluar‐ ga dan melakukan hubungan seksual sesuai keinginan mereka tanpa harus dikenai denda ataupun jeratan hukum.’
Dengan munculnya queer theory,
prinsip yang dipegang teguh kini ialah bahwa kelompok tersebut telah berhasil memperoleh pengakuan sekaligus peng‐ hargaan dari kaum hetero bahwa kebe‐ radaan mereka dalam masyarakat bu‐ kannya tanpa makna atau hanya dilihat
sebagai kaum liyan atau the other belaka.
Yang jelas, queer theory berupaya men‐
dalami inkonsistensi yang tercipta dalam kenyataan antara kondisi lahiriah seks dengan gender serta orientasi seksual seseorang yang seringkali sangat cair atau tidak pakem.
Merujuk pada hal ini, Maimunah (2007) mencermati tiga kategori seksual minoritas yang ada dalam film Indonesia kontemporer dan menspesifikkannya le‐ bih lanjut lewat homoerotisme yang ter‐
kandung dalam pembacaan film Soe Hok
Gie (Maimunah, 2010); keduanya meng‐
gunakan teori queer. Satu studi pendahu‐
lu lainnya adalah sebuah tesis magister yang ditulis oleh Louise Jensen (2014); salah satu bahasan utamanya ialah
hubungan bromance antara Sherlock
Holmes, seorang tokoh detektif fiksi re‐ kaan Sir Arthur Conan Doyle yang sangat tersohor di dunia, dan Dr John Watson
dalam film Sherlock Holmes dan sekuel‐
nya, A Game of Shadows.
METODE
Karena merupakan penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan objek beru‐ pa karya sastra atau novel berbahasa
Inggris yang berjudul Aristotle and Dante
Discover the Secrets of the Universe (2012) yang diterbitkan oleh Simon & Schuster, New York. Teknik pengambil‐ an data primernya adalah pembacaan
cermat atau simak catat atau close‐read‐
ing technique yang berarti penulis meng‐ ambil data primer dari buku tersebut da‐ lam bentuk kutipan potongan dialog dan kata‐kata atau adegan karakter yang akan disertai dengan deskripsi analisis. Semua itu dianalisis menggunakan sum‐ ber data sekunder, yakni buku‐buku teo‐
ri kajian queer theory dan buku Tropics
of Desire: Interventions from Queer Latino America karya Jose Quiroga yang dapat mendukung argumen penulis.
Di tahap pertama, setelah melaku‐ kan pembacaan berulang, penulis meng‐ identifikasi dua tokoh utama, Dante dan Aristotle, terkait perilaku mereka yang
menunjukkan indikasi homoerotika
yang mengarah ke hubungan homosek‐ sual. Langkah berikutnya adalah meng‐ analisis aspek tersebut karena perben‐ turannya dalam konteks budaya Meksi‐ ko yang hingga kini masih menormakan
nilai‐nilai machismo atau maskulinitas
152
terjadi dalam komunitas kaum penda‐ tang dari Meksiko di Amerika. Penulis lantas mencermati bahwa norma‐norma heteronormatif inilah yang menyebab‐
kan banyak pasangan gay berdarah
Amerika Latin berusaha sekuat tenaga
untuk menutupi orientasi seksual
mereka dari lingkungan sekitar, teruta‐ ma ketika mereka tinggal dalam kota be‐ sar yang memiliki populasi mayoritas orang Hispanik. Studi ini berangkat dari hubungan homoerotis yang terjalin anta‐ ra kedua tokoh protagonis yang lambat laun berkembang menjadi hubungan ho‐ moseksual, yang dikaitkan pula dengan
kentalnya tradisi budaya Meksiko ma‐
chismo yang memberikan dampak signi‐
fikan terhadap benturan‐benturan buda‐ ya setempat yang dialami oleh kedua to‐ koh utama dalam proses pencarian ori‐ entasi seksual mereka.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Homoerotika dan Machismo dalam
Aristotle and Dante Discover the Se‐
crets of the Universe
Dilihat sejak awal, indikasi‐indikasi ho‐ moerotika telah jelas terlihat dari per‐ cakapan Ari dan Dante yang nyaman membicarakan hal‐hal pribadi dengan sangat intim dan akrab walaupun baru saling mengenal. Homoerotisme sendiri dapat dimaknai sebagai istilah payung bagi semua bentuk hasrat romantis an‐ tarlelaki (Noriega, 2007, hlm. 188). Pertama, saat Dante hendak melukis Ari, mereka berdua menunjukkan rasa malu‐ malu yang cenderung sentimental untuk
dua orang remaja laki‐laki yang
umumnya bersikap lebih acuh tak acuh atau tak begitu menunjukkan emosi. Kedua, alih‐alih menyebut Dante sebagai pemuda yang tampan, gagah, atau keren, Ari tanpa ragu mendeskripsikan sosok
Dante menggunakan kata ‘beautiful’ atau
‘cantik’, yang lebih umum digunakan untuk mendeskripsikan perempuan. Ketiga, Ari mendeskripsikan dengan
detail ketika Dante memandikannya se‐ telah perawatan pascakecelakaan, yakni cara tangan Dante menyentuh bagian‐ bagian tubuhnya dengan sangat pelan dan halus. Keempat, Dante tanpa ragu mengaku pada sahabatnya tersebut bah‐ wa Ari adalah salah satu dari dua hal yang paling disukainya di dunia. Keem‐ pat, Ari dan Dante mencoba berciuman untuk mengetes apakah Ari memiliki
kecenderungan gay atau tidak. Jika pada
dasarnya Ari bukanlah seorang homo‐ seksual, kemungkinan besar ia akan langsung menolak eksperimen tersebut. Berikut ialah cuplikan yang menun‐ jukkan reaksi Ari saat hendak dilukis oleh Dante.
Dante smiled. “Don’t be an asshole.” He
seemed embarrased. But not as
embarassed as I was. I could feel myself
turning red (Sáenz, 2012, hlm. 72).
‘“Bagaimana jika aku tak ingin dilukis?” “Bagaimana aku bisa jadi seorang seniman jika aku tak bisa berlatih?” “Bukannya jadi model lukisan itu dibayar?”
“Hanya yang ganteng saja.” “Jadi aku tidak ganteng?”
Dante tersenyum. “Jangan cerewet.” Ia tampak malu. Tapi tidak semalu diriku.
Aku bisa merasa wajahku memerah.’
ATAVISME, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember, 2016: 148‐161
153
dengan cukup jelas tanpa perlu secara eksplisit diutarakan.
Suatu kali ketika Dante hendak di‐ tabrak mobil, Ari dengan refleks berlari dan mendorongnya ke tepi sehingga mo‐ bil tersebut mengenainya dan membuat‐ nya nyaris lumpuh selama sebulan. Dante sempat memandikan Ari yang ti‐ dak mungkin menggerakkan tangan dan kakinya yang masih berada dalam balut‐ an perban. Dengan mata tertutup, Ari dengan detail mendeskripsikan bagian‐ bagian tubuh yang disentuh oleh tangan Dante, yang sangat mengindikasikan rasa keintiman seksual yang kuat antara kedua pemuda itu.
Dramatisasi ikatan yang terjalin di antara keduanya digambarkan lugas oleh sang penulis, terutama dengan Ari, yang selama ini tak pernah memiliki se‐ orang kawan dekat, langsung saja mam‐ pu menyelami dunia Dante tanpa kesu‐ litan. Selain itu, fakta bahwa walaupun ada dua teman perempuan yang sering menggodanya, Gina Navarro dan Susie Byrd, nyatanya mereka tak pernah mem‐ buatnya tergerak. Homoerotika antara keduanya tampak sedemikian gamblang dan berkembang dengan begitu cepat. Namun hal itu tak lantas membuat mere‐ ka mudah mengakuinya terhadap satu sama lain. Bayang‐bayang norma dari lingkungan sekitar mereka tentu saja masih ada, terlebih pada masa yang ti‐ dak terlalu jauh dari Stonewall Riot di Amerika Serikat pada saat itu. Penolak‐ an dan tuntutan masyarakat terhadap kaum homoseksual untuk menekan has‐ rat homoerotisme dari mata publik bah‐ kan dapat mengganggu kesehatan men‐ tal dan menyebabkan hubungan seks yang tidak aman hingga HIV/AIDS yang tidak tertangani dengan baik (Verduzco, 2016, hlm. 270).
Berikut ini merupakan kutipan wa‐ wancara Benjamin Alire Sáenz me‐
ngenai tema Aristotle and Dante Discover
the Secrets of the Universe sekaligus
alasan pemilihan nama bagi tokoh‐to‐ kohnya.
So I thought I wanted to write a gay‐ themed book, I thought that I wanted to write a book about a young boy who really didn’t know that he was gay. I mean Ari really doesn’t know it. That’s the theme—what does he know? So I created this situation, and I thought about what names I would give them, and I love the name Dante and I teach the Inferno a lot. And “Ari” is not un‐ common among Latinos, or at least Mexican Nationals. So I just started to write this story and I wanted it to be set not in the present time, because I think it’s easier now for boys to admit they’re gay. In the 1980s I don’t think it was so easy, and I didn’t want to have all this texting stuff in the book. (Peterson, 2013)
‘Ketika aku ingin menulis buku bertema
gay, kupikir aku ingin menulis buku
tentang seorang pemuda yang tidak ta‐
hu bahwa dirinya seorang gay. Mak‐
sudku, Ari tidak benar‐benar mengeta‐ huinya. Itulah inti temanya—apa yang diketahuinya? Jadi aku menciptakan si‐ tuasi ini, dan aku memikirkan nama‐na‐ ma mereka, dan aku suka nama Dante dan aku sendiri sering mengajar ten‐
tang novel Inferno. Dan nama “Ari” sa‐
ngat familier di antara orang Latin, atau setidaknya di Negara‐Negara Meksiko. Jadi aku mulai menulis cerita ini dan
ingin agar setting‐nya bukan di masa ki‐
ni, karena aku pikir lebih mudah bagi para pemuda zaman sekarang untuk
mengakui bahwa mereka gay. Menu‐
rutku di tahun 1980an hal itu tidak be‐ gitu mudah, dan aku tidak suka harus memasukkan hal‐hal berbau teknologi modern (media sosial) di dalam buku‐ ku.’
154
jati dirinya pada usia 54 tahun, proses pencarian identitas seksual yang ditam‐ pilkan dalam novel ini diakuinya memi‐ liki banyak kemiripan dengan pengala‐ mannya sendiri. Bukti bahwa Sáenz sem‐ pat menikah dengan perempuan selama 15 tahun berarti bahwa ia juga tidak langsung saja sadar bahwa dirinya ada‐ lah seorang homoseksual, yang belaka‐ ngan diakuinya sebagai bentuk trauma karena kekerasan seksual yang pernah dialaminya saat kanak‐kanak.
Salah satu indikasi kuatnya machis‐
mo dalam budaya Meksiko yang paling
kentara dalam karya ini terlihat dari pe‐ nyangkalan yang sangat kuat dari Ari saat ia terus menolak mengakui dirinya
sebagai gay, yang justru amat berkeba‐
likan dengan Dante yang bersikap terbu‐ ka atas orientasi seksualnya. Menurut Jose Quiroga (2000, hlm. 13) dan Carrillo
(2011, hlm. 1241), pasangan gay Ameri‐
ka Latin sering dikategorikan menjadi dua, yakni antara partner yang pasif dan partner yang aktif tetapi tak mampu me‐ nunjukkannya atau tampil di depan pub‐ lik. Dalam hal ini, Ari menempati kategori yang pertama, sedangkan Dante yang kedua. Dante mampu mengung‐ kapkan perasaannya pada Ari dan bah‐ kan bereksperimen mencium lawan maupun sesama jenis, tetapi pada akhir‐ nya ia harus menerima hukuman yang berat sebagai kompensasinya, yakni di‐ pukuli oleh sekelompok geng yang me‐ mergokinya berciuman dengan pemuda lain. Sanksi sosial dari norma‐norma yang berlaku kental dalam budaya Mek‐ siko itulah nilai‐nilai heteronormatif machismo atau maskulinitas Meksiko yang selalu ditekankan, yakni bahwa se‐ orang laki‐laki harus tetap setia pada ‘kodrat’‐nya sebagai pria. Apabila ia ti‐ dak dapat melakukannya, ia dianggap mengecewakan keluarga dan masyara‐ katnya (Herek, 2006, hlm. 124‐125). Di‐ kaitkan dengan fakta bahwa kedua to‐ koh utama masih berusia remaja, hal
tersebut dianggap menyalahi proses pubertas yang seharusnya dialami oleh
remaja Latino ketika maskulinitas ma‐
chismo seolah selalu ditekankan di anta‐ ra mereka, sebagai syarat untuk tumbuh menjadi lelaki dewasa dan diperhitung‐ kan dalam kehidupan sosial masyarakat (Mora, 2012, hlm. 434).
Berdasarkan survei ISSP (Internati‐
onal Social Survey Programme) 1998‐ 2008, di Meksiko pada tahun 2008, se‐ banyak 55,6 persen responden menja‐ wab bahwa hubungan seksual antara dua orang dewasa yang berjenis kelamin sama selalu dianggap menyalahi norma dan aturan masyarakat (Smith, et al., 2014, hlm. 20). Menurut mereka, kaum LGBT tidak diizinkan bersuara dengan keras atau tampil dengan bebas karena mereka dipandang sebagai bagian dari masyarakat yang tidak higienis, yang sudah sepatutnya dipinggirkan, di‐ kucilkan, dan dilupakan. Hasil studi ter‐ sebut sesuai dengan reaksi banyak pe‐ muda Latino yang merasa terkungkung di kampung halamannya bukan hanya karena masalah ekonomi, tetapi juga tuntutan orientasi seksual yang hetero‐ normatif. Bahkan, hingga kini setelah Meksiko mengalami demokratisasi dan
mengubah bentuk citizenship atau ke‐
wargaan dalam banyak aspek, ranah seksual tetaplah dibatasi dan diatur oleh negara (Amuchastegui, 2007, hlm. 6).
Menurut Paul Kwon (2013, hlm. 374), penerimaan diri terhadap orientasi seksual seseorang dapat membantunya mengatasi tekanan dari lingkungan seki‐ tar. Akan tetapi, hal itu akan jadi sangat membebani jika seseorang harus terus‐ menerus bungkam tentang orientasi sek‐ sualnya, terlebih lagi ketika seseorang ti‐ dak dapat menerima bahwa dirinya ter‐
masuk dalam kaum queer. Dengan ke‐
ATAVISME, Vol. 19, No. 2, Edisi Desember, 2016: 148‐161
Melalui analogi mimpinya (Sáenz, 2012, hlm. 169), dapat dilihat bahwa Ari tengah menghadapi dilema, dipaksa un‐ tuk memilih orientasi seksualnya, baik antara heteroseksual maupun homo‐ seksual. Mimpi tersebut datang berkali‐ kali, dan kadang disertai dengan hujan lebat atau badai, yang merepresenta‐ sikan hasrat seksualnya yang menggebu‐ gebu pada Dante. Ia berusaha mencari‐ cari Ileana untuk membuktikan diri bahwa ia menyukai gadis itu, tetapi jelas bahwa pencarian sosok itu hanyalah se‐ buah pengganti, bahwa ia sesungguhnya sangat merindukan Dante dan bahkan Ari masih berusaha menyangkal keterta‐ rikannya pada Dante secara tidak sadar. Ia berusaha menahan hasratnya demi berpegang pada harga diri bahwa ia bu‐
kanlah bagian dari queer; ia adalah se‐
orang remaja Meksiko‐Amerika yang normal, yang lebih menyukai gadis‐gadis daripada sahabat karibnya. Ari berusaha keras memenuhi tuntutan heteronorma‐ tivitas dari masyarakat, yaitu bahwa laki‐laki Meksiko harus tetap mengacu
pada machismo atau peran maskulin
mereka, dengan terus menolak ‘ajakan’ Dante.
Dalam budaya Meksiko, machismo
atau ‘kodrat’ lahiriah bagi kaum lelaki untuk senantiasa tampil serta bersikap maskulin masih menjadi hal yang sangat penting atau mutlak bagi kaum lelaki, dan secara otomatis terkait langsung de‐ nganperan gender tradisional yang ma‐ sih dipegang teguh dalam budaya Meksi‐ ko, yakni laki‐laki harus menjadi kuat, gagah, maskulin serta wajib berperan se‐ bagai pelindung bagi kaum perempuan dan keluarga (Estrada, et al., 2011, hlm.
359). Pria sejati atau macho dalam kon‐
teks budaya Meksiko ialah pria yang mampu menghasilkan banyak keturun‐ an dari kaum perempuan—dan oleh
karena pria homoseksual secara logika tidak menikah dengan perempuan—ma‐
ka kaum gay tidak akan pernah dipan‐
dang sebagai laki‐laki oleh masyarakat sekitarnya; mereka dianggap gagal men‐
jalankan tugas sebagai lelaki (Knapp, et
al., 2009, hlm. 6). Selain itu, kepercayaan
terhadap gereja Katolik Roma yang kuat dalam keluarga‐keluarga Meksiko juga turut memberikan andil dalam mena‐ namkan nilai‐nilai peran gender tradisi‐ onal alih‐alih homoseksual dalam tradisi gender dan orientasi seksual mereka (Hagopian, 2006, hlm. 9). Karenanya tidak mengherankan apabila Ari tampak sangat enggan mengakui kecenderungan homoseksualnya pada siapa pun, terma‐ suk dirinya sendiri.
Machismo yang masih menjadi nilai panutan bagi kaum lelaki Meksiko pada akhirnya justru melahirkan perasaan ho‐ mofobia bahkan dalam diri kaum homo‐ seksual sendiri, yang terlihat jelas dari si‐ kap Ari yang merasa malu bahwa ia mencintai sesama lelaki dan bukannya perempuan. Lebih jauh lagi, para kaum LGBT Meksiko yang akhirnya telah mengklaim identitas baru terhadap ori‐ entasi seksual mereka cenderung menja‐ di rendah diri; mereka merasa telah me‐ ngecewakan keluarga beserta seluruh komunitas mereka, yang membuat me‐ reka secara tak sadar menginternalisasi homofobia sekaligus penindasan yang diberikan oleh lingkungan sekitar, serta keharusan untuk berpegang pada peran gender tradisional (Herek, 2006, hlm. 125). Hal ini terlihat dari reaksi Dante yang memohon kepada Ari agar sahabat‐ nya tersebut tidak pernah meninggal‐
kannya hanya karena ia gay, dan berha‐
rap sepenuh hati semoga ibunya yang sedang mengandung akan melahirkan seorang adik laki‐laki yang heteroseksu‐
al. Hal ini membuktikan bahwa machis‐
mo dalam budaya Meksiko masih sangat