• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilihan Umum daerah kabupaten (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pemilihan Umum daerah kabupaten (1)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Indah Maisuri

NIM : 1101112264

Jurusan/Kelas : Hubungan Internasional/B Mata Kuliah : Pengantar Ilmu Politik

Dosen : Dr. Alimin Siregar, MA

Paper Ke : 12

PEMILIHAN UMUM

1. Pendahuluan

Didalam sebuah negara yang mengakui sebagai negara demokratis, tidak akan lengkap jika tidak ada pemilihan umum atau biasa disingkat dengan pemilu. Pemilu merupakan salah satu bentuk atau salah satu ciri negara demokratis. Jadi, tidak ada negara demokratis yang tidak menjalankan pemilihan umum. Dalam tulisan ini akan membahas definisi dari Pemilu, penjelasan sistem yang digunakan negara-negara di dunia, juga kelebihan dan kelemahannya diantara sistem-sistem tersebut.

2. Pembahasan

2.1. Pengertian Pemilu

(2)

pada dasarnya pemilihan umum tidak saja mencakup hal-hal tersebut, pemilihan ketua kelas juga termasuk pemilihan umum, hanya saja berbeda ruang lingkupnya. Disini akan lebih dipusatkan pada Pemilihan Umum secara garis besar, atau yang secara umum sering didiskusikan. Pemilu merupakan salah satu usaha untuk memengaruhi rakyat secara persuasif, salah satunya yaitu melalui kampanye. Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan menjelang hari pemungutan suara. Pemenang Pemilu ditentukan oleh sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih.

2.2. Sistem Pemilu

Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilihan umum, namun pada umumnya ada dua system yang umum digunakan, yaitu Single-Member Constituency dan Multi-Member Constituency. Berikut penjelasannya:

1. Single-Member Constituency (Sistem Distrik)

Sistem ini merupakan sistem pemilihan yang paling tua dan didasarkan atas kesatuan geografis. Setiap distrik mempunyai satu wakil dalam dewan perwakilan rakyat. Untuk keperluan itu negara dibagi dalam sejumlah besar distrik dan jumlah wakil rakyat dalam dewan perwakilan rakyat ditentukan oleh jumlah distrik. Calon yang dalam satu distrik memperoleh suara yang terbanyak menang, sedangkan suara-suara yang ditujukan kepada calon-calon lain dalam distrik itu dianggap hilang dan tidak diperhitungkan lagi, bagaimana kecil pun selisih kekalahannya, hal ini dinamakan the first past the post (FPTP). Jadi tidak ada sistem menghitung suara lebih seperti yang dikenal dalam Sistem Proposional.

Sistem pemilihan ini dipakai di Inggris, Kanada, Amerika Serika dan India. Sistem Distrik ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:

a) Kurang memperhitungkan partai-partai kecil dan golongan minoritas.

b) Kurang representatif, karena partai yang calonnya kalah dalam suatu distrik, maka sejumlah suara yang telah mendukungnya tidak diperhitungkan sama sekali. Hal ini akan dianggap tidak adil oleh golongan-golongan yang merasa dirugikan. c) Kurang efektif bila dipakai di negara yang masyarakatnya plural, karena akan memunculkan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan etnis dan agama. d) Adanya kecenderungan wakil yang terpilih lebih memerhatikan kepentingan distrik dibanding kepentingan nasional.

Di samping kelemahan-kelemahan tersebut, ada keuntungan yang diperoleh negara-negara yang memakai sistem ini, keuntungannya antara lain:

(3)

b) Sistem ini lebih mendorong ke arah integrasi partai-partai politik karena kursi yang diperebutkan dalam setiap distrik pemilihan hanya satu. Hal ini akan mendorong partai-partai untuk menyisihkan perbedaan-perbedaan yang ada dan mengadakan kerjasama.

c) Berkurangnya partai dan meningkatnya kerjasama antara partai-partai mempermudah terbentuknya pemerintah yang stabil dan mempertingkat stabilitas nasional.

d) Sistem ini menunjang bertahannya sistem dwi-partai. e) Sistem ini sederhana dan murah untuk diselenggarakan. 2. Multi-Member Constituency (Sistem Proporsional)

Adanya sistem ini bertujuan untuk mengurangi kelemahan dari sistem distrik. Jumlah kursi yang diperoleh oleh suatu partai sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya. Negara dianggap sebagai satu daerah pemilihan yang besar, akan tetapi untuk keperluan teknis-administratif dibagi dalam beberapa daerah pemilihan yang besar, di mana setiap daerah pemilihan memilih sejumlah wakil sesuai dengan banyaknya penduduk dalam daerah pemilihan itu. Dalam sistem ini setiap suara dihitung, hal ini diperlukan guna memperoleh kursi tambahan. Sistem Proporsional dipakai dibeberapa negara diantaranya yaitu Belanda, Swedia, Belgia dan Indonesia. Sama halnya dengan sistem distrik, pada sistem proporsional juga terdapat beberapa kelemahan, antara lain:

a) Sistem ini memunculkan partai-partai baru.

b) Wakil yang terpilih merasa dirinya lebih terikat kepada partai dan kurang merasakan loyalitas kepada daerah yang telah memilihnya. Hal ini disebabkan selain karena wilayahnya lebih besar, sehingga sulit untuk dikenal orang banyak, juga peran partai lebih besar dalam meraih kemenangan, yang akan membuat wakil yang terpilih lebih memerhatikan kepentingan partainya.

c) Sistem Proporsional memberikan kedudukan yang kuat pada pimpinan partai melalui Sistem Daftar karena pimpinan partai menentukan daftar calon.

d) Banyaknya partai mempersulit terbentuknya pemerintah yang stabil, karena umumnya harus mendasarkan diri atas koalisi dari dua partai atau lebih.

(4)

Alternative Vote, Two-Round System, Limited Vote, Single Non-Transferable Vote, Mixed Member Proporsional dan Single Transferable Vote. Berikut penjelasannya:

a) Block Vote, merupakan penerapan pluralitas suara dalam distrik dengan lebih dari 1 wakil. Pemilih punya banyak suara sebanding dengan kursi yang harus dipenuhi di distriknya, juga mereka bebas memilih calon terlepas dari afiliasi partai politiknya. Mereka boleh menggunakan banyak pilihan atau sedikit pilihan, sesuai kemauan pemilih sendiri.Sistem ini biasa digunakan di negara dengan partai politik yang lemah atau tidak ada. Kelebihan sistem ini memberikan keleluasaan bagi pemilih untuk menentukan pilihannya. Kekurangannya yaitu sistem ini bisa menunjukkan hasil yang sulit diprediksi.

b) Alternate Vote, sama dengan First Past The Post, sebab dari setiap distrik dipilih satu orang wakil saja. Bedanya yaitu dalam penghitungan suara. Sistem ini digunakan di Fiji dan Papua Nugini.Kelebihannya adalah memungkinkan pilihan atas sejumlah calon berakumulasi. Kelemahannya adalah, ia menghendaki tingkat baca-tulis huruf dan angka yang tinggi di kalangan pemilih, di samping kemampuan pemilih untuk menganalisis para calon.

c) Two Round System adalah sistem pluralitas di mana proses pemilu tahap 2 akan diadakan jika pemilu tahap 1 tidak ada yang memperoleh suara mayoritas yang ditentukan sebelumnya. Negara-negara yang menggunakan Two Round System adalah Perancis, Republik Afrika Tengah, Kongo, Gabon, Mali, Mauritania, Togo, Mesir, Haiti, Iran, Kiribati, Vietnam, Belarusia, Kyrgyztan, Turkmenistan, dan Uzbekistan.Kelebihan Two Round System adalah memungkinkan pemilih punya kesempatan kedua bagi calon yang dijagokannya sekaligus mengubah pikirannya dan memungkinkan kepentingan yang beragam berkumpul di kandidat yang masuk ke putaran kedua pemilu. Kekurangannya adalah membuat penyelenggara Pemilu bekerja ekstra keras jika ada putaran kedua, membuat dana pemilu membengkak, juga dicurigai membuat fragmentasi antar partai-partai politik. d) Limited Vote adalah sistem Pluralitas yang digunakan untuk distrik-distrik dengan

(5)

partai.

e) Single Non Transferable Vote, setiap pemilih memiliki satu suara bagi tiap calon, lebih dari satu kursi yang harus diisi di tiap distrik pemilihan. Calon-calon dengan total suara tertinggi mengisi posisi. Kelebihan SNTV adalah kemampuannya memfasilitasi perwakilan partai minoritas dan calon independen. Semakin besar jumlah kursi, semakin sistem ini menjadi proporsional. Sistem ini menjadikan partai terorganisir dan menyuruh pemilih memberikan suaranya kepada partai lain yang lebih berpotensi memenangkan suara dan ujungnya, menciptakan satu partai dominan. Selain itu, SNTV dinyatakan sebagai mudah digunakan. Kelemahan SNTV adalah, partai kecil yang suaranya tersebar mungkin saja tidak akan memenangkan kursi dan partai perlu mempertimbangkan strategi yang rumit seputar manajemen nominasi calon dan pemberian suara.

f) Mixed Member Proportional. Di bawah sistem MMP, kursi sistem Proporsional dianugrahkan bagi setiap hasil yang dianggap tidak proporsional. MMP digunakan di Albania, Bolivia, Jerman, Hungaria, Italia, Lesotho, Meksiko, Selandia Baru, dan Venezuela. Di negara-negara ini, kursi distrik dipilih menggunakan FPTP. Hungaria menggunakan TRS dan metode Italia lebih rumit lagi, seperempat kursi di majelis rendah dicadangkan untuk mengkompensasikan suara terbuang di distrik-distrik dengan satu wakil. Meskipun MMP didesain untuk hasil yang lebih proporsional, adalah mungkin terjadi ketidakproporsionalan begitu besar di distrik dengan satu wakil, sehingga kursi yang terdaftar tidak cukup untuk mengkompensasikannya.

(6)

para pemilih. Sistem ini juga memancing fragmentasi di dalam internal partai poitik oleh sebab calon-calon dari partai yang sama saling bersaing satu sama lain. 2.3. Pemilu Di Indonesia

Pemilihan yang dilakukan di Indonesia saat ini jauh dari tujuan demokrasi. Indonesia yang menggunakan system pemilu proporsional, yang kandidatnya dipilih dari berbagai partai menyebabkan kandidat yang terpilih lebih memerhatikan kepentingan partainya dibanding wilayah yang dikuasainya, hal ini menyebabkan ketidakseimbangan politik yang bisa dirasakan saat ini. Banyak keluhan dari masyarakat atas kinerja pemimpin daerahnya, dikarenakan pada umumnya pemimpin mereka tidak mengenal daerah kekuasaannya, permasalahan yang terjadi disekitarnya dan keinginan dari rakyat dipimpinnya, bahkan pemimpin negara tidak luput dari kritikan. Disamping kelebihan yang ada pada system proporsional, tidak dapat dipungkiri jga terdapat kelemahan, ini juga yang menyebabkan kurangnya bahkan tidak ada kerjasama antar partai politik, mereka berjuang untuk dapat menduduki kursi yang tersedia dengan segala cara, sehingga banyak dijumpai persaingan tidak sehat dan kecurangan, seperti mencuri start kampanye atau adanya politik uang didalamnya. Pemilu di Indonesia yang dapat dikatakan sukses hanya dirasakan saat pertama kali pemilu tersebut dilakukan yaitu pada tahun 1955. Pelaksanaannya berjalan dengan lancar, adil dan khidmat, karena pada waktu itu Indonesia masih dalam masa kemerdekaan. Setelah beberapa tahun, dan beberapa kali pemilu, malah menjadikan system pemilu di Indonesia semakin buruk.

3. Simpulan

Pemilihan Umum yang seharusnya sebagai ajang pemilihan pemimpin oleh masyarakat, dimanfaatkan beberapa pelaku partai politik untuk mendapatkan kekuasaan, sehingga banyak penyalahgunaan jabatan yang terjadi di Indonesia. Diharapkan untuk pemilihan umum selanjutnya, kandidat yang dipilih tidak saja memerhatikan kepentingan anggota partai politiknya tetapi juga rakyat yang dipimpinnya, karena jika tidak, maka akan semakin banyak bermunculan golongan putih-golongan putih yang tentu merugikan dan mengacaukan proses pemilihan umum itu sendiri.

4. Referensi

Buku

(7)

Budiarjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Edisi Revisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Internet

http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum

(Diakses pada tanggal 17 Desember 2011 pukul 19:00 WIB)

http://www.g-excess.com/544/beberapa-sistem-pemilihan-umum-dalam-dunia-politik/ (Diakses pada tanggal 17 Desember 2011 pukul 19:00 WIB)

Referensi

Dokumen terkait

Indonesia adalah negara yang 2/3 wilayahnya terdiri dari lautan dimana di dalamnya terdapat berbagai jenis biota laut, baik yang sudah dikenal maupun yang belum. Biota laut

Pertumbuhan pada tanaman cabai merupakan proses bertambahnya ukuran dari kecil hingga sampai dewasa yang sifatnya kuantitatif, artinya dapat kita ukur yang dapat dinyatakan dengan

# Pemilihan jenis struktur yang tepat dan baik untuk bangunan high rise # Jenis struktur yang dipilih disesuaikan dengan kondisi tanah di site Aspek lingkungan.. #

Hasil penelitian menunjukkan pengawasan pemerintah daerah terhadap pengelolaan limbah industri PT.Semen Tonasa adalah pengawasan langsung meliputi perencanaan bagi

Namun apabila produk yang tidak lulus proses quality control tersebut tidak memungkinkan untuk dibenahi dan termasuk kategori barang cacat maka produk tersebut

Penelitian Darley dan Latane tersebut membuktikan bahwa bystander effect mempengaruhi tingkah laku prososial seseorang dengan dinamika hubungan antara keduanya,

Dalam data format vektor, bumi kita direpresentasikan sebagai suatu mosaik dari garis (arc/line), polygon (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik

Alasan pengambilan judul tentang masalah tersebut yakni: Pertama, hal yang sangat unik pada masa itu di dalam instansi kepolisian terdapat suatu organisasi yang