• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA. sama, tetapi berbeda pada genus dan speciesnya, yaitu Phyllum : Spermatophyta;

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA. sama, tetapi berbeda pada genus dan speciesnya, yaitu Phyllum : Spermatophyta;"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Tanaman

Rumput benggala dan rumput gajah mempunyai sistematika yang hampir sama, tetapi berbeda pada genus dan speciesnya, yaitu Phyllum : Spermatophyta; SubPhyllum : Angiospermae; Classis : Monocotyledoneae; Ordo : Glumiflora; Familia : Gramineae; SubFamilia : Panicurdeae. Rumput benggala mempunyai

genus Panicum dan species Panicum maximum. Rumput gajah mempunyai Genus : Pennisetum dan Species : Pennisetum hibrida, Pennisetum puporoide.

Rumput gajah secara umum merupakan tanaman tahunan yang berdiri tegak, berakar dalam, dan tinggi dengan rimpang yang pendek. Tinggi batang dapat mencapai 2-4 meter (bahkan mencapai 6-7 meter), dengan diameter batang dapat mencapai lebih dari 3 cm dan terdiri sampai 20 ruas / buku. Rumput benggala berasal dari Afrika tropik dan subtropik. Rumput berdaun lebat, tinggi bervariasi menurut varietasnya, parenial, berkembang dengan potongan-potongan bulu akar dan tunas atau rhizoma (Reksohadiprodjo, 1985).

Hijauan Makanan Ternak

Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga (Sugeng, 1998). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Nasution (1986) yang menyatakan makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun-daunan. Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan ternak bisa dinerikan dalam dua macam bentuk, yakni hijauan segar dan kering. Hijauan

(2)

sebagai makanan ternak, hijauan memegang peranan sangat penting, sebab hijauan :

- Mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan

- Khususnya di Indonesia, bahan makanan hijauan memegang peranan istimewa, karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah yang besar.

- Sebagian besar pakan ruminansia adalah bahan pakan yang berserat tinggi dengan kecernaan rendah, oleh karena itu harus diusahakan agar ternak sebanyak mungkin mengkonsumsi makanan untuk mencukupi kebutuhannya akan zat-zat makanan

(Mc Donald dkk., 1973).

Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan. Bahan pakan ternak terdiri dari tanaman, hasil tanaman, dan

kadangkadang berasal dari ternak serta hewan yang hidup di laut (Tillman dkk., 1991). Hijauan memegang peranan penting pada produksi ternak

ruminansia, termasuk Indonesia (Reksohadiprodjo dkk., 1995) karena pakan yang dikonsumsi oleh sapi, kerbau, kambing, dan domba sebagian besar dalam bentuk hijauan, tetapi ketersediaannya baik kualitas, kuantitas, maupun kontinyuitasnya masih sangat terbatas.

Kebutuhan dan Manfaat Unsur Hara bagi Tanaman

Setiap tanaman memerlukan paling sedikit 16 unsur hara untuk pertumbuhan normalnya yang diperoleh dari udara, air, tanah dan garam-garam mineral atau bahan organik. Unsur yang diperoleh dari udara ada 3 jenis, yaitu unsur Carbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen(O), sedangkan 13 unsur lainnya seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Calsium (Ca), Magnesium (Mg),

(3)

Sulfur (S), Besi (Fe), Mangan (Mn), Seng (Zn), Tembaga (Cu), Boron (B), Molibdenum (Mo) dan Klorin (Cl) diperoleh tanaman dari dalam tanah. Tetapi dari anatara 13 unsur hara tersebut, hanya 6 unsur yang amat dibutuhkan dalam porsi yang cukup banyak, yaitu N, P, K, S, Ca dan Mg. Namun dari 6 unsur ini hanya 3 yang mutlak harus ada bagi tanaman yaitu N, P, K (Lawani, 1993).

Nitrogen (N) merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman yang pada umunya sangat diperlukan untuk pembentukan dan pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman, seperti daun, batang dan akar. Fosfor (P) terdapat dalam bentuk phitin, nuklein dan fosfatide; sedangkan kalium bukanlah elemen yang langsung pembentuk bahan organik. Fungsi N bagi tanaman antara lain: meningkatkan pertumbuhan tanaman, menyehatkan pertumbuhan daun, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan, meningkatkan mikroorganisme di dalam tanah. Fungsi P bagi tanaman adalah mempercepat pertumbuhan akar semai, mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa pada umunya, mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, dapat meningkatkan produksi biji-bijian, sedangkan kalium berperan membantu : pembentukan protein dan karbohidrat, mengeraskan batang dan bagian kayu dari tanaman, meningkatkan resistensi tanaman terhadap penyakit, meningkatkan kualitas biji/buah (Sutedjo, 2002).

Urin Sapi

Urin sapi memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagung. Karena baunya yang khas urin ternak juga dapat mencegah

(4)

datangnya berbagai hama tanaman sehingga urin sapi juga dapat berfungsi sebagai pengendalian hama tanaman dari serangan (Phrimantoro dan Indriyani, 1994).

Pupuk kandang adalah kotoran padat dan cair dari hewan yang tercampur dengan sisa-sisa pakan dan alas kandang. Nilai pupuk kandang tidak saja ditentukan oleh kandungan nitrogen, asam fosfat, dan kalium saja, tetapi karena mengandung hampir sermua unsur hara makro (unsur hara makro seperti Nitrogen (N), Fospat (P2O5), Kalium (K2O) dan Air (H2O) dan mikro (Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Tembaga (Cu), Mangan (Mn), dan Boron (Bo) yang dibutuhkan tanaman serta berperan dalam memelihara keseimbangan hara dalam tanah (Sarno, 2008).

Telah banyak diketahui bahwa bahan organik seperti limbah tanaman, pupuk hijau dan kotoran ternak dalam sistem tanah-tanaman dapat memperbaiki struktur tanah dan membantu perkembangan mokroorganisme tanah (Yaacob et al., 1980; Kerley et al., 1996; Matsushita et al., 2000; Widjajanto et al., 2001; 2002; 2003). Kondisi ini sebagai awal mula proses transformasi N secara biologis dalam tanah dan, menghasilkan konversi bentuk N organik menjadi bentuk an organik yang tersedia bagi tanaman.

Tabel 1. Jumlah unsur hara pada kotoran ternak

Jenis N P K Ca Hg Na Fe Mn Zn Cu Ni Cr

Sapi 1,1 0,5 0,9 1,1 0,8 0,2 5726 344 122 20 - 6 Babi 1,7 1,4 0,8 3,8 0,5 0,2 1692 507 624 510 19 25 Ayam 2,6 3,1 2,4 12,7 0,9 0,7 1758 572 724 80 48 17

(5)

Tabel 2. Kandungan zat hara beberapa kotoran ternak padat dan cair Nama Ternak Bentuk

Kotorannya Nitrogen (%) Fosfor (%) Kalium (%) Air (%) Kuda Padat 0.55 0.30 0.40 75 Cair 1.40 0.02 1.60 90 Kerbau Padat 0.60 0.30 0.34 85 Cair 1.00 0.15 1.50 92 Sapi Padat 0.40 0.20 0.10 85 Cair 1.00 0.50 1.50 92 Kambing Padat 0.60 0.30 0.17 60 Cair 1.50 0.13 1.80 85 Domba Padat 0.75 0.50 0.45 60 Cair 1.35 0.05 2.10 85 Babi Padat 0.95 0.35 0.40 80 Cair 0.40 0.10 0.45 87

Ayam Padat dan Cair 1.00 0.80 0.40 55

Sumber : Lingga, 1991.

Bahan organik di dalam tanah dapat berperan sebagi sumber unsur hara, memelihara kelembaban tanah, sebagai buffer dengan mengkhelat unsur-unsur penyebab salinitas sehingga dapat meningkatkan ketersediaan unsur-unsur hara (Buckman dan Brady, 1982).

Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kandang ternak, baik berupa kotoran padat (feces) yang bercampur sisa makanan maupun air kencing (urin), sehingga kualitas pupuk kandang beragam tergantung pada jenis, umur serta kesehatan ternak, jenis dan kadar serta jumlah pakan yang dikonsumsi, jenis pekerjaan dan lamanya ternak bekerja, lama dan kondisi penyimpanan, jumlah serta kandungan haranya (Soepardi, 1983). Pupuk kandang (termasuk urin) biasanya terdiri atas campuran 0,5% N; 0,25% P2O5 dan 0,5% K2O

(Tisdale and Nelson, 1965).

Nutrisi alami belum banyak dimanfaatkan atau digunakan oleh masyarakat secara luas, sedangkan untuk pupuk telah lama digunakan petani. Pupuk atau nutrisi ini berasal dari kotoran hewan, seperti ayam, kambing, kerbau, kuda, babi,

(6)

dan sapi. Kotoran tersebut dapat berupa padat dan cair (urin ternak) dengan kandungan zat hara yang berlainan. Pupuk kandang cair jarang digunakan, padahal kandungan haranya lebih banyak. Hal ini disebabkan untuk menampung urin ternak lebih susah repot dan secara estetika kurang baik (Phrimantoro, 1995).

Tabel 3. Kandungan hara urin ternak Sumber

pukan

Kadar air Bahan organik N P2O5 K2O CaO Sapi Kerbau kambing Babi Kuda 92 81 86.3 96.6 89.6 4.8 - 9.3 1.5 8 1.21 0.6 1.47 0.38 1.29 0.01 sedikit 0.05 0.1 0.01 1.35 1.61 1.96 1.99 1.39 1.35 sedikit 0.16 0.02 0.45 Sumber : Anonimus (1993).

Urin ternak mengandung N ± 10 g l-1, sebagian besar berbentuk urea. Urin juga mengandung unsur-unsur mineral (S, P, K, Cl dan Na) dalam jumlah bervariasi tergantung jenis dan makanan ternak, fisiologis serta iklim. Hara tersebut dibutuhkan oleh mikroba dan pertumbuhan tanaman. Urin terdiri atas 90-95% air. Urea dalam urin adalah bahan padat utama yang umumnya > 70% nitrogen dalam urin.

Novizan (2002) menyatakan bahwa urin ternak umumnya memiliki kandungan hara yang lebih tinggi dibandingkan kotoran padat, sehingga pada aplikasinya tidak sebanyak penggunaan pupuk organik padat.

Zat Pengatur Tumbuh

Zat perangsang tumbuh atau hormon tumbuh adalah senyawa organik yang dalam konsentrasi rendah (< 1 mm) mampu mendorong, menghambat, atau secara kualitatif merubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Moore, 2005).

Dalam urin sapi juga mengandung sejumlah auksin yang berasal dari makanannya berupa tumbuhan, terutama dari ujung tanaman seperti tunas, kuncup

(7)

daun, kuncup bunga dan lain-lain, dimana tumbuhan tersebut di dalam sistem pencernaannya diolah sedemikian rupa sehingga auksin diserap bersama dengan zat-zat yang ada pada tumbuhan tersebut, karena auksin tidak terurai dalam tubuh, maka auksin dikeluarkan sebagai filtrat bersama-sama dengan urin. Auksin sebagai salah satu hormon tumbuhan bagi tanaman mempunyai peranan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dilihat dari segi fisiologi, hormon tumbuh ini berpengaruh tehadap pembelahan sel, pemanjangan sel hingga terjadi pembentukan akar, batang, daun, dahan, ranting, bunga dan buah. Untuk memanfaatkan urin hewan ternak telah dicoba pada berbagai penelitian seperti urine sapi dicoba pada penyetekan kopi yang dapat meningkatkan jumlah setek yang berakar mencapai 81.10-96.60% (Suprijadi, 2001).

Seiring dengan berkembanganya ilmu pengetahuan, dari hasil penelitian ternyata rooton f juga terdapat dalam urin sapi (air kencing sapi). Fungsinya sama, yakni merangsang pertumbuhan akar pada stek kopi sebagai bahan tanam (Abdurrani, 1990).

Fungsi auksin pada tanaman antara lain merangsang pertumbuhan dan mempertinggi persentase timbulnya bunga dan buah, mendorong partenokarpi yaitu suatu kondisi dimana tanaman berbuah tanpa fertilisasi atau penyerbukan, mengurangi gugurnya buah sebelum waktunya, serta mematahkan dominasi pucuk atau apikal yaitu suatu kondisi dimana pucuk tanaman atau akar tidak mau berkembang (Naswir, 2003).

Auksin mempengaruhi perkembangan dinding sel, sehingga mengakibatkan berkurangnya tekanan dinding sel terhadap protoplas. Akibat tekanan dinding sel berkurang, protoplas mendapat kesempatan untuk menyerap

(8)

air dari sel-sel yang ada di bawahnya, karena sel-sel yang dengan titik tumbuh mempunyai nilai osmosis yang tinggi. Maka akan diperoleh sel-sel yang panjang-panjang dengan vakuola yang besar di daerah belakang titik tumbuh. Pembentukan akar terjadi karena pergerakan kebawah auksin, karbohidrat dan rooting kofaktor (zat yang berinteraksi dengan auksin yang mengakibatkan perakaran) baik dari tunas maupun daun. Zat ini akan mengumpul di dasar setek yang selanjutnya akan menstimulir pembentukan akar setek. Jadi dalam hal ini tunas diperlukan untuk mendorong terjadinya perakaran setek. Pembentukan akar tidak akan terjadi bila seluruh tunas dihilangkan atau dalam keadaan dorman. Kandungan nutrisi dalam setek, terutama persediaan karbohidrat dan nitrogen juga mempengaruhi perkembangan akar dan tunas (Dwidjoseputro, 1999).

Menurut Wattimena (1988) auksin sebagai hormon tumbuhan mempunyai pengaruh fisiologis terhadap berbagai aspek perkembangan dan pertumbuhan yaitu:

1. Pembesaran sel. Studi mengenai pertumbuhan kleoptil menunjukkan bahwa IAA dan auksin lain mendorong pembesaran sel. Pemanjangan kleoptil atau batang merupakan hasil dari pembesaran sel tersebut.

2. Penghambatan mata tunas samping. Pertumbuhan dari mata tunas samping dihambat oleh IAA yang diproduksi pada meristem apikal. Jika sumber auksin ini dihilangkan dengan jalan memotong meristem apikal itu mata tunas samping ini akan tumbuh menjadi tunas.

3. Aktifitas kambium. Pertumbuhan sekunder termasuk pembelahan sel-sel di daerah kambium dan pembentukan jaringan xilem dan floem dipengaruhi oleh IAA dan pembelahan sel-sel di daerah kambium juga dirangsang IAA.

(9)

4. Pertumbuhan akar. Auksin pada konsentrasi yang tidak terlalu tinggi akan merangsang pembentukan akar.

5. Absisi (pengguran daun). Pengguran daun terjadi sebagai akibatn dari proses absisi (proses-proses fisik dan biokimia) yang terjadi di daerah absisi. Daerah absisi adalah kumpulan sel yang terdapat pada pangkal tangkai daun. Proses absisi ada hubungan dengan IAA pada sel-sel di daerah absisi.

Pertumbuhan Tanaman dan Pemotongan

Rumput gajah mampu tumbuh dan berproduksi baik pada lahan marginal seperti lahan masam dan salin (Sumarsono dkk., 2006). Petumbuhan tanaman ditunjukkan oleh adanya pertambahan ukuran dan bahan kering yang mencerminkan pertambahan dari protoplasma. Defoliasi sebaiknya dilakukan pada masa pertumbuhan vegetatif, karena pada masa pertumbuhan vegetatif ini tanaman mengalami tiga proses penting, yaitu : pembelahan sel, perpanjangan sel dan difrensiasi sel. Ketiga proses ini akan mengembangkan batang, daun dan sistim perakaran tanaman (Harjadi, 1983).

Selama hidupnya tanaman mengalami tiga masa pertumbuhan, yaitu : masa perkecambahan, pertumbuhan vegetatif dan masa pertumbuhan generatif. Defoliasi sebaiknya dilakukan pada masa pertumbuhan vegetatif, karena tidak membahayakan pertumbuhan kembali, kandungan gizinya masih tinggi, kandungan serat kasarnya belum begitu tinggi serta rasanya masih enak (Anonimus, 1989).

Rumput benggala mempunyai kecepatan pertumbuhan tertinggi dan menghasilkan hijauan 70 ton/ha pada siklus pertumbuhan selama 12 minggu. Pemotongan tiap 3 minggu memberikan produksi total minimum 50 ton/ha.

(10)

Persentase protein kasar dalam bahan kering pada pemotongan 3 minggu sekali sebesar 11.6% dan menurun menjadi 6.4% bila rumput tersebut dipotong 12 minggu sekali (McIlroy, 1977).

Salah satu faktor yang mempengaruhi petumbuhan adalah persediaan karbohidrat di dalam akar yang ditinggalkan setelah pemotongan, kadar protein akan menurun sesuai dengan meningkatnya umur tanaman sedangkan serat kasar semakin tinggi. Pada pemotongan 4-5 minggu batang rumput masih rendah, kandungan air dan proteinnya tinggi (Rismunandar, 1986).

Morfologi dan fisiologi toksisitas cekaman NaCl pada tanaman tampak pada reduksi pertumbuhan akar (Kusmiyati dkk., 2000), penurunan serapan unsur hara (Sopandie, 1990) dan perubaan struktur tanaman seperti reduksi ukuran daun dan jumlah stomata, penebalan kutikula daun dan terbentuknya lapisan lilin pada permukaan daun serta lignifikasi akar yang lebih awal (Harjadi dan Yahya, 1988).

Crowder and Chheda (1982) menyatakan bahwa interval pemotongan berpengaruh terhadap produksi hijauan, nilai nutrisi, kemampuan untuk tumbuh kembali, komposisi botani dan ketahanan spesies. Ferkuensi pemotongan berlaku bahwa pada batas tertentu, frekuensi yang semakin rendah akan mengakibatkan produksi kumulatif bahan kering semakin tinggi dibandingkan produksi kumulatif oleh pemotongan yang lebih sering.

Pemotongan rumput gajah dilakukan bila rumput sudah setinggi 1-1.5 m. Apabila lebih tinggi atau lebih tua, proporsi batang sedemikian besarnya sehingga kadar serat kasarnya menjadi tinggi dan nilai makanan ternak turun. Pemotongan rumput disisakan setinggi 10-15 cm dengan interval pemotongan 6-8 minggu (paling baik 6 minggu) (Reksohadiprodjo, 1994).

(11)

Pada saat tanaman rumput dipotong, bagian yang ditinggalkan tidak boleh terlalu pendek ataupun terlalu tinggi. Sebab semakin pendek bagian tanaman yang ditinggalkan dan semakin sering dipotong pertumbuhan kembali tanaman tersebut akan semakin lambat karena persediaan energi (karbohidrat) dan pati yang ditinggalkan pada tunggul pun semakin sedikit (Nasution, 1997).

Unsur N yang diserap tanaman berperan dalam menunjang pertumbuhan vegetatif tanaman seperti akar, batang dan daun. Unsur P berperan dalam membentuk sistem perakaran yang baik. Unsur K yang berada pada ujung akar merangsang proses pemanjangan akar. Di samping itu unsur K juga berperan merangsang titik-titik tumbuh tanaman, sedangkan unsur Mg diperlukan sebagai inti penyusun khlorofil. Apabila tanaman kekurangan unsur hara P, maka dapat menyebabkan berkurangnya perkembangan akar, dimana akar akan kelihatan kecil-kecil (Sarief, 1986).

Produksi dan Kualitas Rumput

Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan salah satu rumput pakan berproduksi dan berkualitas tinggi. Produksi rumput gajah pada kondisi ideal mencapai 290 ton bahan segar (BS)/ha/th (Soegiri dkk., 1982).

Kadar protein kasar tanaman penggembalaan 8−10% dari bahan kering.

Pada musim hujan dapat menghasilkan produksi yang tinggi, karena batang akan cepat panjang dan fase berbunga akan terjadi sebelum musim kemarau. Tanaman akan berkurang kandungan protein, mineral dan karbohidratnya dengan meningkatnya umur tanaman, sedangkan kadar serat kasar dan lignin akan bertambah (Reksohadiprodjo, 1985). Pertumbuhan sebagai proses diferensiasi

(12)

terutama pada akumulasi bahan kering yang digunakan sebagai karakteristik pertumbuhan tanaman (Dartius, 1995).

Rumput gajah menjadi kurang produktif, baik dalam keadaan kering (DM) hasil dan mutu gizi dengan panen berturut-turut. Penurunan kualitas dan kuantitas rumput gajah telah dikaitkan dengan kegagalan oleh para petani untuk

mengadopsi praktek-praktek produksi ternak berkelanjutan (Katuromunda et al., 2001). Lekasi et al (2001) melaporkan bahwa kompos

kotoran ternak dapat menyebabkan hilangnya sejumlah besar nitrogen (N) melalui volatilisation amonia. Hal ini karena itu, menunjukkan bahwa penerapan langsung ekskreta untuk bidang rumput gajah yang disediakan akan segera dibahas di parit dalam baris mungkin merupakan cara efektif untuk memanfaatkan N dari tinja.

Rumput gajah merupakan tumbuhan yang memerlukan hari dengan waktu siang yang pendek, dengan fotoperiode kritis antara 13-12 jam. Kandungan nutrisi rumput gajah terdiri atas: 19.9% bahan kering (BK), 10.2% protein kasar (PK), 1.6% lemak, 34.2% serat kasar, 11.7% abu dan 42.3% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) (Reksohadiprodjo, 1985).

Banyak dari rumput-rumputan yang sesuai untuk daerah tropik yang lembab (basah) mempunyai daya pertumbuhan yang tinggi, kelemahannya adalah sukar untuk dipertahankan nilai nutrisinya yang tetap tinggi, karena makin tua umur rumput tersebut makin berkurang kadar proteinnya, sedang kadar serat kasarnya makin tinggi. Kebanyakan rumput tropik ini tahan tekanan penggembalaan sampai derajat penggembalaan tertentu, kadang-kadang tahan serangan herba “weed” (Reksohadiprodjo, 1994). McDonald et al (2000)

(13)

menyatakan bahwa tingginya kadar serat ini yang umumnya didominasi komponen lignoselulosa (karbohidrat komplek) yang sulit dicerna.

Produksi bahan kering dari hijauan tiap unit tanah tergantung pada jenis tanaman yang dipakai, jumlah radiasi sinar matahari, tersedianya kelembaban tanah dan zat-zat makanan untuk tanaman dan cara pengolahan (Williamson and Payne, 1993).

Protein kasar merupakan zat makanan yang penting bagi kehidupan. Istilah protein kasar digunakan untuk menggolongkan semua ikatan nitrogen dalam bahan makanan. Pada daerah tropika kandungan protein dari rumput kira-kira 7%. Pada daerah tersebut tanaman rumput cepat sekali menjadi tua dan kandungan protein dapat turun dengan sangat drastis mencapai 4-6% setelah 3-5 bulan (Crowder and Chheda, 1982).

Tabel 4. Perbandingan kualitas hijauan dengan limbah pertanian lain (%)

No Bahan PK SK Lemak Abu BETN

1. Rumput gajah 6.40 34.50 3.00 8.60 47.50 2. Rumput lapang 6.69 34.19 1.78 9.70 47.64 3. Jerami padi 4.10 29.20 1.60 21.50 43.60 4. Jerami kacang tanah 16.59 25.41 2.90 7.51 47.59 5. Jerami ketela pohon 3.98 33.29 1.59 49.79 11.35 6. Jerami kacang kedelai 12.50 36.00 3.92 10.88 36.70 7. Jerami sorghum 14.20 30.30 4.70 7.20 43.60 8. Jerami ketela rambat 3.90 2.10 0.40 - 4.30 9. Jerami jagung 5.56 33.58 1.25 7.28 53.32

10. Pucuk tebu 7.40 42.30 2.90 7.40 40.00

Sumber : Silitonga (1985).

Spesies hijauan pakan ternak mempunyai nilai gizi yang berbeda. Hal ini disebabkan olaeh banyak faktor, antara lain jenis dan umur tanaman. Kadar protein akan menurun sesuai dengan meningkatnya umur tanaman tetapi selain serat kasarnya semakin tinggi, maka pemotongan hijauan segar sangat erat

(14)

hubungannya dengan daya cerna serta jumlah konsumsi oleh ternak yang memakannya.

Tabel 5. Analisa beberapa spesies rerumputan pada umur 3-4 minggu

Spesies Protein Kasar Serat Kasar

3-4 Minggu Rataan 3-4 Minggu Rataan

Andropogon sp 13.2 7.6 26.9 31.0 Cloris gayana 14.9 8.4 27.4 30.1 Panicum maximum 13.5 8.2 28.3 33.8 Pennisetum sp 14 9.2 26 30 Setaria sp 10.9 6.5 30.8 33 Sumber : Mc Ilroy (1977).

Mutu hijauan ditentukan oleh kadar proteinnya. Di daerah tropis, seperti Indonesia dengan curah hujan dan intensitas sinar matahari yang tinggi mengakibatkan pertumbuhan hijauan relatif cepat daripada di daerah subtropis. Rumput yang lebih cepat menua yang diakibatkan oleh tingginya intensitas sinar matahari akan memiliki nilai gizi yang rendah. Mutu hijauan erat kaitannya dengan zat gizi yang dikandungnya. Hijauan mempunyai kadar air 60%-90%, tergantung pada jenis dan umurnya. Di samping itu, selulosa yang banyak terdapat dalam rumput yang sudah menua dapat dimanfaatkan oleh ternak (Anonimus, 1978).

Tabel 6. Kandungan zat makanan dalam hijauan

Kandungan Zat Muda (%) Masak (%)

Serat Kasar Bahan segar : Bahan kering : Protein Kasar Bahan segar : Bahan kering : BETN Bahan segar : Bahan kering : 5.1-9.3 30.8-34.5 1.7-3.8 10-20.4 6.9-13.5 39.5-44.8 9.1-11.8 27.9-42.3 0.7-3.6 4.3-10.3 11-18.3 43.7-52.4 Sumber : Tillman (1986).

(15)

Produksi bahan kering rumput benggala di India bagian barat daya dengan curah hujan 350 mm/tahun adalah 2.98-3.78 ton/ha/tahun (Tomar et al, 2003).

Di Tanzania rumput benggala yang didefoliasi saat tanaman mencapai tinggi 40 cm mempunyai kadar serat kasar 29.90%, sedangkan di Malaysia rumput benggala yang mengalami defoliasi setiap 6 minggu mempunyai kadar serat kasar 31.20% (Aganga and Tshwenyane, 2004).

Referensi

Dokumen terkait

Pengamatan kondisi site dan kawasan sekitar yang akan dijadikan lokasi bangunan shopping mall untuk mendapatkan data terkait dengan kelebihan dan kekurangan kawasan

Saat pasien di pasang plate and scrw pasien jarng latihan atau kurangya aktivitas lengan kanannya dan terjadi penurunan LGS siku kanannya, kemudian saat

Ilmu filsafat memberikan sentuhan pemikiran yang mendorong manusia untuk berfikir secara kritis setiap kejadian sejarah yang kemudian menjabarkan bagaimana

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan paradigma fenomenologi dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dokumentasi, dan memanfaatkan berbagai

Menyatakan bahwa seluruh informasi yang Pemohon berikan pada Formulir Pembukaan Rekening ini adalah benar dan tidak ada sedikitpun informasi yang bersifat material yang

Akan tetapi faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi terutama keadaan lingkungan kerja di RSUD Kudungga harus terus dibenahi, tanggung jawab dan wewenang dalam

Sistem drainase sangat diperlukan untuk mengatur aliran air di dalam maupun di permukaan tanah. Sistem drainase digunakan di berbagai tempat untuk mengatasi luapan dan kandungan

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah tes dan pengukuran tingkat kondisi fisik yang terdiri dari tes kecepatan dengan tes lari 30 meter,