DAFTAR ISI Latar Belakang Masalah Rumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian...

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PERSYARATAN GELAR ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN ... iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iv

LEMBA PENGESAHAN ... v

PANITIA PENGUJI ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL DAN BAGAN ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

GLOSARIUM ... xviii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4

1.3.1 Tujuan Penelitian ... 4

1.3.2 Manfaat Penelitian ... 5

1.4 Kajian Pustaka, Kerangka Teori dan Konsep ... 5

1.4.1 Kajian Pustaka ... 5

(2)

1.4.3 Konsep ... 11

1.5 Model Penelitian ... 15

1.6 Metode Penelitian ... 17

1.6.1 Lokasi Penelitian ... 18

1.6.2 Jenis Data dan Sumber Data ... 18

1.6.3 Teknik Pengumpulan Data ... 19

1.6.3.1 Teknik Penentuan Informan ... 19

1.6.3.2 Teknik Observasi dan Partisipasi ... 20

1.6.3.3 Teknik Wawancara ... 21

1.6.3.4 Studi Pustaka ... 21

1.6.4 Teknik Analisis Data ... 22

BAB II GAMBARAN UMUM DESA MANIKLIYU 2.1 Lokasi dan Lingkungan Alam ... 24

2.2 Penduduk dan Angka Demografi ... 32

2.2.1 Sejarah Desa Manikliyu ... 34

2.2.2 Pendidikan ... 37

2.2.3 Sistem Mata Pencaharian Hidup ... 40

2.3 Sistem Organisasi Sosial Masyarakat ... 42

2.3.1 Pemerintahan Adat ... 43

2.3.2 Pemerinatahan Desa Dinas ... 46

2.4 Agama dan Sistem Kepercayaan ... 49

2.5 Kesenian ... 54

(3)

BAB III PROSESI RITUS METOH-TOHAN

3.1 Prosesi Upacara ... 61

3.1.1 Tempat Upacara ... 62

3.1.2 Saat Upacara ... 64

3.1.3 Benda-Benda Upacara ... 65

3.1.4 Orang-orang yang Melakukan dan Memimpin Upacara ... 67

3.1.5 Rangkaian Upacara ... 69

3.1.5.1 Nanceb (memasang) Penjor ... 70

3.1.5.2 Membuat Candi Bentar dan Gelung Kuri ... 71

3.1.5.3 Melasti ... 72

3.1.5.4 Sampiyan Oyod lunga (mengunjungi) ke Kahyangan Tiga, Pura Dadia (klen), dan Pemaksan (merajan) ... 76 3.1.5.5 Metoh-tohan ... 78 3.1.5.6 Metalun Teruna ... 88 3.1.5.7 Metani ... 89 3.1.5.8 Metalun Desa ... 93 3.1.5.9 Mabuang ... 93

BAB IV FUNGSI DAN MAKNA RITUS METOH-TOHAN 4.1 Fungsi dan Makna Ritus Metoh-tohan ... 95

4.1.1 Fungsi dan Makna Sosial ... 96

4.1.2 Fungsi dan Makna Pendidikan ... 98

4.1.3 Fungsi Ekonomi ... 101

(4)

4.1.5 Fungsi Psikologi ... 107 BAB V PENUTUP 5.1 SIMPULAN ... 110 5.2 SARAN ... 112 DAFTAR PUSTAKA ... 113 LAMPIRAN ... 116

(5)

ABSTRAK

Masyarakat Manikliyu, Kecamatan Kintamani memiliki ritus yang dilakukan secara turun temurun yaitu ritus metoh-tohan. Ritus ini dilaksanakan berkaitan dengan perayaan Galungan Nadi dan Galungan Mebunga. perayaan Galungan Nadi merupakan tingkat ritual yang besar yang menggunakan hewan kurban yaitu kerbau putih (misa). Galungan Nadi dilaksanakan pada Budha Kliwon Wuku Dunggulan pada Sasih Kapitu dan bertepatan dengan bulan purnama. Masyarakat yang berperan penting dalam ritus metoh-tohan ialah daha (pemudi), teruna (pemuda), janda (balu luh), dan duda (balu muani). Adapun masalah dalam penelitian ini, berfokus pada dua hal yaitu (a) bagaimanakah prosesi ritus metoh-tohan di Desa Manikliyu dan (b) apa fungsi dan makna pelaksanaan ritus metoh-tohan di Desa Manikliyu. adapun tujuannya ialah untuk mengetahui prosesi ritus metoh-tohan, dan untuk mengungkap fungsi dan makna dari pelaksanaan ritus metoh-tohan yang ada di Desa Manikliyu.

Kedua rumusan masalah dapat dibedah dengan teori ritus yang dikemukakan oleh Victor Turner. Adapun konsep yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian ini adalah konsep ritus, metoh-tohan, dan Desa Bali Aga. Begitu pula pada pada penelitian ini menggunakan metode Etnografi berupa penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa ritus metoh-tohan melalui berbagai tahapan yaitu: nanceb (memasang) penjor, membuat Candi Bentar dan Gelung Kuri, Melasti, Sampiyan Oyod lunga (mengunjungi) ke Kahyangan Tiga, Pura Dadia, dan pemaksan, metoh-tohan, Metalun Teruna, Metani, Metalun Desa, dan Mabuang. Fungsi dan makna suatu ritus ialah menguatkan hubungan sosial dengan orang lain dan perlu tercipta keharmonisan yang dapat direalisasikan dalam bentuk gotong royong, kebersamaan, musyawarah dan saling pengertian. Kebersamaan akan terlihat pada waktu suatu ritus dilaksanakan bersama-sama dalam membuat keperluan upacara. Masyarakat dalam hal ini memungkinkan adanya terjadi suatu ketertarikan kepada lawan jenisnya untuk mencari jodoh baik oleh daha (pemudi), teruna (pemuda), janda (balu luh), duda (balu muani), dan warga desa lainnya. Dari sikap kebersamaan yang sudah ditanamkan akan menghasilkan suatu pendidikan non-formal kepada generasi muda khusunya untuk senantiasa menjaga, melestarikan, dan memelihara suatu kebudayaan. Masyarakat melakukannya untuk menjauhkan masyarakat dari marabahaya yang dapat mengganggu kehidupan manusia seperti kelaparan, kekeringan, dan bencana alam lainnya. Ritus metoh-tohan dilaksanakan yang merupakan bagian dari wujud syukur masyarakat akan berkah dan anugrahnya yang dilimpahkan dan mendapat perlindungan oleh Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi wasa. Kata Kunci : ritus, metoh-tohan, Desa Manikliyu

(6)

ABSTRACT

Manikliyu society, Kintamani has a rites that is performed from generation to generation that is metoh-tohan rite. This rite is held in connection with the celebration of Galungan Nadi and Galungan Mebunga. Galungan Nadi celebration is a great ritual level that uses animal sacrifice that is white buffalo (misa). Galungan Nadi performed on Kliwon Wuku Dunggulan Budha at Sasih Kapitu and coincided with the full moon. People who play an important role in metoh-tohan rite is daha (young), young (youth), widow (balu luh), and widower (balu muani). The problem in this research, focuses on two things: (a) how is the process of metoh-tohan ritual in Manikliyu Village and (b) what is the function and meaning of methane implementation in Manikliyu Village. As for its purpose is to know the procession of metoh-tohan rite, and to reveal the function and meaning of the implementation of metoh-tohan rite in Manikliyu Village.

Both problem formulas can be dissected with the rite theory proposed by Victor Turner. The concept used as a guideline in this research is the concept of rite, metoh-tohan, and Bali Aga Village. Similarly, in this study using the method of ethnography in the form of qualitative research with data collection techniques through participatory observation, in-depth interviews, and literature study. The results showed that the ritual metoh-tohan through various stages: nanceb (install) penjor, craeting temple Bentar and Gelung Kuri, Melasti, Sampiyan Oyod lunga (visiting) to Kahyangan Tiga, Pura Dadia, and pemaksan, metoh-tohan, Metalun Teruna, Metani, Metalun Desa, and Mabuang. The function and meaning of a rite is to strengthen social relationships with others and need to create harmony that can be realized in the form of mutual cooperation, togetherness, deliberation and mutual understanding. Togetherness will be seen when a rite is held together in making ceremonial purposes. Society in this case allows for an interest in the opposite sex to find a good match by daha (young), young (youth), widow (balu luh), widower (balu muani), and other villagers. From the attitude of togetherness that has been implanted will result in a non-formal educations to the younger generation especially to maintain, preserve, and maintain a culture. Society does it to keep people away from distress that can disrupt human life such as hunger, drought, and other natural disasters. Rite metoh-tohan implemented which is part of the form of gratitude of society will be blessing and grace that is bestowed and got protection by God /Ida Sang Hyang Widhi wasa.

(7)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pulau Bali adalah salah satu pulau di Indonesia yang penduduknya masih mempertahankan tradisi dan budaya warisan nenek moyangnya. Pulau ini disebut juga Pulau Dewata karena selain keunikan budayanya, keindahan alam dan keramahan penduduknya, serta adanya berbagai ritual keagamaan dalam kehidupan keseharian mereka yang dilaksanakan di pura sehingga pulau ini dikenal pula dengan sebutan Pulau Seribu Pura. Aktivitas ritual keagamaanyang mereka lakukan pada umumnya bertujuan untuk menghormati, mensyukuri, memuja, dan memohon keselamatan pada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Salah satu desa di Bali, yaitu Desa Manikliyu memiliki suatu bentuk ritual yang dianggap unik, yaitu ritus metoh-tohan. Desa ini merupakan salah satu desa di Bali yang termasuk desa Bali “asli” atau disebut juga dengan sebutan Desa Bali Aga. Keunikan ritus metoh-tohan tersebut karena dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Galungan yang jatuh pada Buda Kliwon Wuku Dunggulan pada Sasih Kapitu (perhitungan bulan berdasarkan kalender bali). Selain itu bertepatan pula dengan Bulan Purnama, hari raya ini disebut dengan Galungan Nadi. Ritus metoh-tohan dapat juga dilaksanakan pada Galungan Mebunga, yaitu hari Raya Galungan yang jatuh pada Sasih Kapitu (perhitungan bulan berdasarkan kalender bali). Menurut kepercayaan masyarakat setempat, metoh-tohan disamakan artinya dengan sabung ayam (tajen, tabuh rah), dimana tajen mempergunakan ayam jago sebagai alat bertanding. Pada ritus metoh-tohan pemain utamanya adalah daha (pemudi), teruna (pemuda), janda (balu luh) dan duda (balu muani). Penyebutan janda karena ditinggal mati oleh suaminya disebut dengan balu luh. Sedangkan penyebutan untuk laki-laki yang ditinggal mati oleh istrinya disebut dengan balu muani (duda). Beda halnya dengan janda maupun duda karena perceraian dinamakan dengan mesapih (berpisah).

(8)

Sama halnya dengan tajen, metoh-tohan juga disamakan dengan ajang taruhan, bagi yang mengalami kekalahan harus membayar denda berupa 2 kaling atau 2-3 liter minuman tuak (air pohon enau). Pada saat pementasan yang menyaksikan adalah prajuru adat setempat dan diiringi oleh Sekaa Gong dan Sekaa Gambang (Penabuh Gong dan Penabuh Gambang).

Pada saat ritus metoh-tohan dilakukan tarian dengan mengelilingi api unggun selama 12 jam, dan para penari berikut Sekaa Gambang dan Sekaa Gong (penabuh gambang dan gong) berpuasa, tidak boleh tidur dan tidak boleh keluar dari arena pertandingan (grombong). Pelaksanaan metoh-tohan dilaksanakan di areal Jaba Tengah Pura Bale Agung di Desa Manikliyu. Sebelum melakukan metoh-tohan diwajibkan bagi daha (pemudi) dan janda (balu luh) untuk sembahyang di Pura Puseh, sedangkan untuk teruna (pemuda) dan duda (balu muani) melakukan persembahyangan di Pura Dalem untuk memohon keselamatan agar ritus tersebut berjalan dengan lancar.

Perayaan Galungan secara umum adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran dan pendirian yang seterang-terangnya Hari Raya Galungan adalah hari kemenangan dharma (baik) melawan adharma (buruk) (Anada, 2010: 84-85). Adapun ritus metoh-tohan merupakan bagian dari Hari Raya Galungan Nadi dan Galungan Mebunga. Galungan Nadi di Desa Manikliyu tingkat pelaksanaan ritualnya lebih besar, karena menggunakan kerbau jantan berwarna putih (misa) sebagai

kurbannya. Sedangkan Galungan Mebunga merupakan tingkat upacara yang lebih kecil, karena hanya sapi dan babi jantan yang dijadikan kurban. Selain adanya hari baik dilaksanakan di atas, metoh-tohan ditandai dengan adanya burung besar (kedis kokokan) yang mengelilingi desa dan hinggap disalah satu pelinggih, tidak hanya itu ritus metoh-tohan juga ditandai dengan padi mulai berbuah (padi beling). Urutan acaranya sendiri, mulai dari persiapan sampai ahkir berlangsung selama satu bulan 11 hari.

Bagi masyarakat Desa Manikliyu ritus metoh-tohan merupakan salah satu ritus yang mereka anggap penting dalam hidup keseharian mereka, karena berkaitan dengan nilai-nilai tradisi yang mereka junjung selama ini. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Turner, yang melihat masyarakat sebagai proses sosial yang dinamik dan ada hubungan erat antara hidup sehari-hari masyarakat dengan ritus-ritus. Lebih lanjut

(9)

menurut Turner bahwa ritus mengungkapkan nilai pada tingkat yang paling dalam dan merupakan kunci untuk memahami pembentukan essensial masyarakat (Turner dalam Winangun, 1990: 12-15).

Berdasarkan hal tersebut dan pemaparan-pemaparan yang telah disampaikan sebelumnya penulis mengkaji ritus metoh-tohan secara lebih mendalam pada sebuah penelitian yang berjudul, “Ritus Metoh-tohan Pada Masyarakat Desa Manikliyu, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

(10)

1.2 Rumusan Masalah

Penelitian ini mengkaji ritus metoh-tohan di Desa Manikliyu, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.

1. Bagaimanakah prosesi ritus metoh-tohan di Desa Manikliyu, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli ?

2. Apa fungsi dan makna pelaksanaan ritus metoh-tohan bagi masyarakat Desa Manikliyu, ?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Uraian tentang latar belakang penelitian yang kemudian dirumuskan dalam dua permasalahan penelitian mendasar pada penelitian ini bertumpu pada tujuan dan manfaat yang ingin dicapai penulis. Adapun tujuan dan manfaat penelitian ini sebagai berikut.

1.3.1 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana prosesi ritus metoh-tohan yang ada di Desa Manikliyu.

2. Untuk mengetahui fungsi dan makna dilaksanakannya ritus metoh-tohan bagi masyarakat Desa Manikliyu.

(11)

1.3.2 Manfaat penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan sumbangan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan wawasan keilmuan khususnya Antropologi. Selain itu, pula diharapkan memiliki manfaat dalam memperkaya pembendaharaan pustaka yang telah ada dan berfungsi sebagai sumber informasi khususnya dalam rangka menunjang penelitian selanjutnya yang serupa dan penelitian ini nantinya bermanfaat khasanah Budaya Bali yang memiliki variasi yang beragam khusunya di Desa Manikliyu.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan dapat digunakan sebagai alternatif dalam pemecahan masalah pembangunan. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan kepada masyarakat mengenai kondisi sosial budaya pada masyarakat Desa Manikliyu, serta pentingnya suatu pengumpulan data yang mengarah pada kehidupan sosial budaya.

1.4 Kajian Pustaka, Kerangka Teori dan Konsep 1.4.1 Kajian Pustaka

Kajian pustaka yang berkaitan langsung dengan topik penelitian ini belum ditemukan sampai saat ini. Akan tetapi, ada beberapa tulisan yang diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan dan mengembangkan konsep berfikir bagi penulis sebagai berikut. Beberapa tulisan di bawah ini sekiranya dapat dijadikan bahan kepustakaan, bahan pembanding, menjadi sumber rujukan dan sebagai sumber inspirasi bagi peneliti untuk mengkaji ritus metoh-tohan, di Desa Manikliyu, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

(12)

Buku yang berjudul “Upacara Pertanian dalam Sistem Subak di Bali”, ditulis oleh I Wayan Suca dkk (2015). Dalam buku ini diungkapkan upacara pertanian di Bali yang dapat dipilah ke dalam beberapa prosesi, baik yang dilakukan secara

bersama-sama oleh krama subak, maupun yang dilakukan secara individu oleh krama subak itu sendiri. Upacara tersebut merupakan serangkaian upacara yang

dilaksanakan mulai saat mengolah dan mengairi sawah, menanam, sampai saat menyimpan hasil panen. Dalam buku ini diuraikan secara rinci bagaiamana proses upacara pertanian dalam sistem subak di Bali yang fokus kajiannya di Desa Jatiluwih. Menurut Suca, persembahan dalam wujudnya berupa pelaksanaan suatu upacara pertanian, di samping merupakan salah satu media juga sebagai upaya pelestarian terhadap nilai-nilai budaya yang didalamnya melekat beberapa fungsi yaitu (1) fungsi penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa; (2) fungsi budaya; (3) fungsi sosial; (4) fungsi fisik.

Tulisan lainnya yang berhubungan dengan upacara adalah buku “Tradisi Bali-Aga” di Desa Adat Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng yang ditulis oleh I Made Purna (Mei 2016). Tulisan ini membahas mengenai ritual Briyang Agung, adapun tujuan dari upacara ritual ini adalah sebagai peringatan atas turunnya para dewa-dewi (Bhatara turun kabeh) dari masing-masing pengemong yang

dipusatkan pada Pura Puseh Bale Agung. Upacara ritual Briyang Agung dilaksanakan 3 tahun sekali yang jatuh pada hari Purnama Sasih Kedasa (bulan 10 penanggalan Saka). Tujuan Upacara Briyang Agung yang utama adalah untuk melakukan

pembersihan, maka waktu yang paling cocok dilakukan pada bulan yang bersih yaitu pada sasih ke dasa (bulan ke-10). Karena pada hari Purnama Sasih Kedasa, posisi dan kedudukan bulan pada saat itu sangat sempurna seperti bulatnya bulan sangat penuh dan besar, dengan sinar bulan yang paling terang hingga disebut sebagai bulan Purnama Sidhi. Pada Ritual Briyang Agung ini terdapat upacara Makala-kalaan, yaitu upacara mengelilingi api yang besar dengan bahar bakar bambu di halaman Pura Desa Bale Agung. Upacara tersebut dilakukan oleh seseorang yang mengusung senjata pusaka sambil mengelilingi api unggun sebanyak tiga kali sendirian. Ritual Briyang Agung memiliki fungsi religius, filosofis, sosial, pendidikan, dan fungsi ekonomi bagi masyarakat Desa Adat Sidetapa.

Tulisan I Made Purna di atas menjelaskan bahwa, adanya ritual Briyang Agung yang dalam proses upacaranya menggunakan sarana api unggun yang sama dengan apa yang ditulis oleh penulis. Namun letak perbedaan ritual Briyang Agung khusunya Upacara Makala-kalaan pada prosesinya mengusung senjata pustaka sedangkan pada ritus metoh-tohan yaitu mengeliling api unggun selama 12 jam dengan pantangan

(13)

berpuasa, tidak boleh keluar arena pertandingan, dan tidak boleh tidur. Dari segi proses upacara dan benda yang digunakan juga berbeda. Inilah yang menjadi

perbedaan antara penulisan dalam buku I Made Purna dengan penelitian yang dikaji dalam skripsi penulis.

Tulisan Ritus K’bor dan Arti Simboliknya dalam Kebudayaan Biak Numfor, Irian Jaya di dalam buku Koentjaraningrat, “Ritus Peralihan Di Indonesia” (1993). Ritus ini dijalani oleh seorang pemuda apabila ia selesai menjalani masa

pendidikannya di rum sram pada usia sekitar 15 atau 16 tahun. Ritus ini merupakan ritus terpenting di antara ritus lainnya yang harus dilalui oleh seseorang dalam perjalanan hidupnya sejak lahir sampai mati, yaitu ritual inisiasi. Acara puncak dari ritus ini adalah pengirisan kulit penis dari orang yang diinisiasi, kemudian darah yang keluar dari luka ditampung dalam sebuah tempurung lalu dicampur dengan makanan untuk dibagi-bagikan kepada para saudara perempuannya untuk dimakan. Ritus K’bor yang dipraktekan di daerah kebudayaan Biak-Numfor pada waktu yang lampau mempunyai banyak fungsi. Pertama, ritus itu menandai peralihan kedudukan

seseorang dari kedudukan warga biasa menjadi warga penuh dalam masyarakat. Kedua ritus itu ditunjukan untuk menguji keberanian dan ketabahan seorang pemuda, dan ketiga, ritual menyimbolkan hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat.

Tesis yang berjudul “Tari Sanghyang Janger Maborbor di Desa Yangapi, Kabupaten Bangli (2005) yang ditulis oleh Ni Wayan Parmi. Tulisan mengupas tentang bentuk tari, fungsi, dan makna Tari Sanghyang Janger Maborbor. Tarian Sanghyang dalam tulisan ini dikatakan sebagi tari kerawuhan (trance) karena ada bagian pertunjukan dimana pelakunya kemasukan roh (bidadari kahyangan, dan binatang-binatang lain yang memiliki kekuatan gaib) dan merupakan tarian warisan pra-Hindu yang berfungsi sebagai penolak bahaya, atau sarana komunikasi spritual dari warga masyarakat dengan alam gaib. Tarian Sanghyang Janger Maborbor merupakan salah satu kesenian sakral dan termasuk kesenian rakyat Bali. Tari Sanghyang Janger Maborbor ini disakralkan dan pertunjukannya dikaitkan dengan upacara di Pura Masceti dan sebagai penolak wabah. Pada bagian pembukaan ditampilkan tari barong macan yang dimainkan oleh dua orang laki-laki, yang kemudian dilanjutkan dengan pepeson yaitu tampilnya Janger dan kecak.

Pejanggeran merupakan inti dari pertunjukan Tari Sanghyang Janger Maborbor. Puncak sekaligus penutupan tarian itu adalah bagian kerawuhan yang ditandai dengan para penari dan pemangku kesurupan dan menginjak-nginjak bara api. Dalam

perkembangannya, Tari Sanghyang Janger Maborbor ini juga dipertunjukan sebagai presentasi estetis yakni sebagai tontonan dan hiburan wisatawan.

(14)

Berdasarkan keempat kajian di atas ada kesamaan sudut pandang yang melihat bahwa suatu ritus merupakan sebagai sarana komunikasi kepada leluhur, meminta berkah, dan memohon keselamatan. Selain itu juga membahas mengenai fungsi dan makna dari ritus itu sendiri. Walaupun mempunyai tujuan yang sama, namun penulis dalam hal ini membahas dan lebih menekankan pada pemahaman makna-makna yang terkandung dalam suatu ritus. Dalam hal ini, Turner (dalam Winangun, 1990:24) menegaskan bahwa studi tentang ritus merupakan kunci untuk memahami

pembentukan essensial masyarakat, karena ritus mengungkapkan nilai yang paling dalam dan mempunyai peran serta fungsi penting dalam suatu masyarakat.

(15)

1.4.2 Kerangka Teori Teori Ritus Victor Turner

Victor Turner adalah seorang ahli Antropologi Sosial. Ia mempelajari

fenomena-fenomena religius masyarakat suku dan masyarakat modern dalam dimensi sosial dan kultural. Dengan dasar penelitian di Afrika Tengah, Victor Turner

menghasilkan prestasi etnografik yang kaya pada periode sesudah Perang Dunia II dan menjelaskan hakekat ritual religius dan simbolisme di masyarakat Afrika (Turner dalam Winangun, 1990: 11)

Menurut Turner, ritual merupakan sinkronisasi dari berbagai genre performatif, yang diatur oleh struktur dramatis tertentu, sering melibatkan suatu tindakan

pengorbanan atau pengorbanan diri, yang memberikan energi dan memberikan pewarnaan emosional dengan kode komunikatif yang saling bergantung dan mengungkapkan bermacam makna yang saling melekat erat. Dalam hal ini, Turner melihat ritual sebagai suatu proses penampakan atau pertunjukan (performance) dari keyakinan religius dengan segala tatacara dan praktek-prakteknya. Suatu ritus

diartikan sebagai ekspresi dari keyakinan dan sikap religius manusia. Ritus-ritus yang dilakukan mendorong orang-orang untuk melakukan dan mentaati tatanan sosial tertentu. Ritus memberikan motivasi dan nilai-nilai pada tingkat yang paling tinggi. Dalam ritus manusia mengungkapkan apa yang menggerakkan mereka dan

mempunyai peranan serta fungsi penting dalam masyarakat. Ritus dapat menghilangkan konflik, mengatasi perpecahan, dan membangun solidaritas masyarakat. Hal tersebut menunjukkan adanya kaitan erat antara ritus dengan kehidupan sosial di masyarakat. Dengan melakukan suatu ritus orang mendapatkan motivasi dan kekuatan baru untuk hidup dalam masyarakat sehari-hari (Turner,1982: 79-81, Winangun,1990:67).

1.4.3 Konsep 1.4.3.1 Ritus

Ritus adalah ekspresi dari keyakinan dan sikap religius manusia, yang

merupakan suatu proses penampakan atau pertunjukan (performance) dari keyakinan religius dengan segala tatacara dan praktek-prakteknya (Turner, 1982:81). Ritus itu tidak dilihat sebagai sesuatu yang statis saja, tetapi sebagai suatu proses. Ritus-ritus

(16)

mengiringi proses-proses perubahan yang ada dalam masyarakat, tidak hanya aspek luarnya atau sosialnya, tetapi juga aspek batin moral dan kognitif. Ritus berhubungan erat dengan masyarakat, dimana ritus tidak dapat dipisahkan dengan simbol-simbol religius.

1.4.3.2 Metoh-tohan

Berdasarkan kamus Bahasa Bali-Indonesia (Anandakusuma, 1986: 204), kata metoh-tohan memiliki kata dasar, yaitu toh yang artinya petaruh, dimana kata metoh yang memiliki arti bertaruh. Kata metoh mendapat awalan “me” yang menjadi metoh, begitu juga dengan kata tohan yang mendapat akhiran “an” menjadi tohan. Menurut masyarakat setempat, metoh-tohan disamakan artinya dengan tajen (tabuh rah), dimana dalam tajen mempergunakan ayam jago sebagai alat bertanding, sedangkan pada ritus metoh-tohan pemain utamanya adalah daha (pemudi), teruna (pemuda), janda (balu luh), dan duda (balu muani). Sama halnya dengan tajen, metoh-tohan juga disamakan dengan ajang taruhan, bagi yang mengalami kekalahan harus membayar denda berupa 2-3 liter (2 kaling) minuman tuak (minuman dari pohon enau). Pada saat pementasan yang menyaksikan adalah prajuru adat setempat dan diiringi oleh Sekaa Gong dan Sekaa Gambang (Penabuh Gong dan Penabuh Gambang).

Ritus metoh-tohan, yaitu menari mengelilingi api unggun selama 12 jam dengan pantangan berpuasa tidak diperbolehkan keluar dari arena dan tidak tidur. Pelaksanaan metoh-tohan dilaksanakan di areal Jaba Sisi Pura Bale Agung di Desa Manikliyu. Dalam konsep Tri Mandala yaitu terdiri dari : Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala. Kaitan ritus metoh-tohan dengan konsep Tri Mandala yang posisinya terletak di Madya Mandala. Sebelum melakukan metoh-tohan

diwajibkan untuk daha (pemudi) dan janda (balu luh) untuk sembahyang di Pura Puseh, sedangkan untuk teruna (pemuda) dan duda (balu muani) sembahyang di Pura Dalem untuk memohon keselamatan agar upacara tersebut berjalan dengan lancar.

1.4.3.4 Desa Bali Aga

Leluhur orang Bali adalah orang-orang yang berjiwa besar, wira usaha mandiri yang tangguh. Mereka adalah pelaut-pelaut yang ulung, tangguh mengarungi lautan yang luas antara Madagaskar di Afrika Timur, sampai Formosa Samudra Fasifik.

(17)

Kemudian mereka adalah Rohaniawan (Mpu, Rsi, Bujangga) yang militan, dan para raja serta prajurit yang mansyur tidak ada tandingannya, semua itu menyatu di pulau Bali menurunkan orang-orang Bali. Sekarang dari keturunanya telah berkelompok dalam ikatan geneologis, satu kawitan yang disebut dengan pungkusan, soroh atau wangsa. (Wikarman, 1998: 4-5).

Manusia tertua yang mendiami pulau Bali adalah manusia pendukung

kebudayaan kapak genggam. Hal ini dibuktikan dengan penemuan DR.R.P.Soejono berupa jenis kapak genggara, kapak perimpas, pahat genggam, serut dan sebagainya pada tahun 1961 di Desa Sembiran, Singaraja, dan tepi sebelah Timur dan Tenggara Danau Batur, Kintamani. Dengan adanya persamaan alat-alat yang ditemukan di Bali dengan yang di Pacitan, terdapatlah suatu kemungkinan bahwa alaat-alat batu dari Sembiran dan Trunyan diciptakan oleh manusia Phitecantropus Erectus atau jenis keturunannya, pendukung kebudayaan Kapak Genggam dari jaman Pleistocen adalah satu juta tahun sebelum Masehi, ketika Bali, Jawa, dan Sumatra masih bergabung dengan daratan Asia, wilayahnya disebut dengan Dataran Sunda. Para ahli telah memperkirakan, bahasa yang dipergunakan adalah Bahasa Melayu-Polinesia atau lebih dikenal dengan bahasa Austronesia. Bangsa yang mempergunakan bahasa tersebut merupakan bangsa Austronesia, pendukung kebudayaan kapak persegi berpusat di daerah Tonkin. Dari Tonkin bangsa Austronesia menyebar mengarungi laut yang sangat luas, dengan mempergunakan perahu bercadik. Batas pelayaran mereka adalah di sebelah Timur Formosa, dan di sebela Barat sampai Pulau

Madagaskar (Afrika Timur). Bangsa pelaut yang wira mandiri ini datang ke Bali kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi.

Orang-orang Austronesia dari jaman perundagian ini ternyata kehidupan mereka sudah begitu teratur. Mereka tinggal berkelompok yang membentuk suatu persektuan hukum yang mereka namakan thani atau dusun, bahwa sebutan terhadap wilayah yang lebih luas, yang terdiri dari beberapa thani. Orang Austronesia ini mempunyai kepercayaan bahwa roh-roh leluhurnya akan melindungi mereka oleh karenanya selalu ia puja. Persekutuan masyarakat orang-orang keturunan

Austronesia ini disebut dengan thani atau banua, dipimpin secara kolektif oleh 16 jero yang umumnya disebut dengan sahing 16. Sebagai pemimpin tertinggi disebut dengan Jro Gede. Penunjukan anggota sahing 16, mereka lakukan dengan sistem hulu apad yaitu sistem giliran menurut usia anggota persekutuan. Setiap anggota persektuan kepemimpinan tersebut tidak ada yang cacat baik mental amupun jasmani, akan dapat giliran menjadi anggota jro.

(18)

Manusia pendukung kebudayaan tersebut inilah yang kemudian menjadi leluhur sebagian orang bali, yang sudah tentu fase berikutnya akan membaur lagi dengan orang-orang yang baru datang dari luar bali. Orang keturunan ini disebut dengan orang Bali asli. Adanya sebutan Bali Mula, adalah untuk membedakan dengan orang-orang yang leluhurnya datang belakangan ke Bali, yang umumnya mereka adalah orang jawa (Sutaba dalam Wikarman, 1998: 9-11).

Orang keturunan dari Austronesia yang telah menyebar di wilayah Bali mereka tinggal berkelompok di bawah pemimpin kelompoknya. Kelompok-kelompok inilah yang nantinya menjadi cikal bakal desa di Bali. Mereka disebut dengan Bali Mula dan ketua kelompoknya disebut dengan Pasek Bali. Ketika itu orang Bali Mula belum mengenal ajaran agama maka datanglah seorang rsi bernama Rsi Markandya. Nama Markandya bukanlah nama perorangan melainkan nama perguruan atau Pasraman. Jadi Sang Rsi Markandya adalah seorang rsi dari garis perguruan Markandya di India, beliau datang ke Indonesia adalah menyebarkan Agama Hindu dari Sekte Waisnawa. Sebagai rohaniawan (pandita), orang Aga dan Bali Mula adalah keturunan Maharsi Markandya sendiri yang disebut dengan Warga Bhujangga Waisnawa.

Kebesaran Bujangga Waisnawa sebagai pembimbing masyarakat Bali, terutama kalangan masyarakat Bali Mula dan Bali Aga masih dapat dilihat sampai sekarang. Pada tiap-tiap masyarakat Bali Mula dan Bali Aga, selalu ada sebuah pelinggih sebagai Sthana Bhatara Sakti Bhujangga. Untuk keturunan orang-orang Aga dari Gunung Raung telah membaur dengan Bali Mula penduduk asli pulau Bali, mereka menjadi orang Bali Mula atau Bali Aga (Wikarman, 1998: 15-19)

1.5 Model Penelitian

Penulis dalam penelitian ini menggunakan model penelitian yang membantu mengembangkan permasalahan yang diangkat. Model tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut.

(19)

Keterangan Gambar : Pengaruh sepihak : Saling mempengaruhi

Penjelasan Model Penelitian:

Desa Manikliyu merupakan salah satu Desa Bali Aga yang ada di Kintamani Bangli. Desa ini masih memegang teguh adat dan tradisinya. Salah satu ritus yang masih dilaksanakan yaitu ritus metoh-tohan. Ritus ini merupakan bagian dari Hari Raya Galungan Nadi, hari raya ini merupakan hari raya yang tergolong besar, yaitu menggunakan hewan kerbau jantan berwarna putih (misa) sebagai kurbannya. Sedangkan Galungan Mebunga, mempergunakan sapi dan babi jantan sebagai kurbannya. Prosesi Galungan Nadi dan Galungan Mabunga sampai adanya ritus metoh-tohan ini berlangsung dalam kurun waktu satu bulan 11 hari. Sebelum pelaksanaan ritus metoh-tohan ini masyarakat bergotong royong untuk mencari

Masyarakat Desa Manikliyu

Upacara Galungan Nadi dan Galungan Mebunga

Ritus Metoh-tohan

Prosesi Upacara Makna

(20)

bahan-bahan yang dibutuhkan seperti pelepah dan daun pohon enau (jaka) dan batang bambu. Masyarakat yang sangat berperan dalam hal ini yaitu pradulu adat (Ulu Apad) setempat, janda (balu luh), duda (balu muani), daha (pemudi), teruna (pemuda), Sekaa Gong dan Sekaa Gambang (Penabuh Gong dan Penabuh Gambang) yang mempunyai tugas masing-masing. Ritus ini tidak bisa dipertunjukan begitu saja tanpa adanya hari yang baik untuk dilaksanakannya. Ritus ini bersifat sakral yang didalamnya terdapat fungsi dan makna dari diadakannya ritus metoh-tohan.

1.6 Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan berupa penelitian etnografi. Pada suatu penelitian etnografis, metode pengumpulan data yang digunakan bersifat kualitatif, yaitu berupa wawancara dan pengamatan berpatisipasi (Soeriadiredja, 2016: 3). Penelitian kualitatif sifatnya deskrtiptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil wawancara, hasil pengamatan, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti dilokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif (Gunawan, 2013: 87).

(21)

1.6.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian di Desa Manikliyu, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan di Desa Manikliyu karena ritus Matoh-tohan ini berasal dari Desa Manikliyu, dan desa ini dianggap desa tertua oleh desa-desa disekitarnya. Desa Manikliyu merupakan salah satu Desa Bali Aga, yang tergabung kedalam Gebog Satak Kintamani. Menurut Router (2005: 119), istilah gebog itu menunjuk pada seperangkat atau sekumpulan kelompok atau sebuah kesatuan yang terdiri dari atas bagian-bagian yang dipersatukan (sebagaimana panjangnya kain) dan satak (dua ratus). Gagasan keraman satak (dua ratus kepala keluarga) disemua mitos-mitos dan asal-usul masing-masing desa sebagai jumlah penduduk yang ideal.

1.6.2 Jenis Data dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dengan sumber data yang diperoleh melalui informan. Untuk mendapatkan sejumlah data yang diperlukan, penulis menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer dimaksud adalah data yang diperoleh langsung dari informan (sumber data yang pertama) di lokasi penelitian atau obyek penelitian, sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua, anatara lain dokumen, jurnal, situs internet, dan monografi desa.

(22)

1.6.3 Teknik Pengumpulan Data 1.6.3.1 Teknik Penentuan Informan

Untuk menentukan informan, penulis memerlukan keterangan dan data dari individu-individu tertentu, dan mengingat bahwa tidak semua orang dalam suatu masyarakat mengetahui kebudayaan mereka sendiri secara baik. Proses penentuan informan dilakukan dengan cara teknik purposive atau pemilihan kelompok subyek berdasarkan ciri-ciri atau kriteria tertentu yang dipandang memiliki kriteria yang dapat menggambarkan obyek penelitian dengan baik. Dari teknik tersebut, maka ditentukan informan pangkal. Wawancara dilakukan kepada para informan yang telah ditunjuk oleh informan pangkal, yaitu orang yang dapat memberikan petunjuk

tentang orang-orang lainnya yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang dibutuhkan. Informan pangkal serupa itu sebaiknya merupakan orang yang mempunyai pengetahuan meluas mengenai berbagai sektor dalam masyarakat, dan yang mampu mereduksikan (Koentjaraningrat, 1977: 164).

Penulis dalam penelitian ini menetapkan Kepala Desa Manikliyu sebaga informan pangkal. Selanjutnya dari kepala Desa ini akan menunjuk siapa saja orang yang lebih mengetahui apa yang dianggkat oleh penulis, maka ditetapkanlah informan kunci (key informant). Informan kunci dipilih berdasarkan pada pengetahuan dan kemampuannya dalam menjelaskan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Desa Manikliyu adalah Jero Mangku Rsi dan Jero Kubayan. Keseluruhan teknik di atas, penulis juga menggunakan informan bebas ialah orang-orang yang ditemukan penulis secara tidak sengaja seperti bertemu di jalan, di pasar, di warung, dan di ladang.

1.6.3.2 Teknik Observasi Partisipasi

Teknik Observasi dapat digolongkan menurut teknik observasi yang berstruktur dan yang tidak berstruktur. Untuk itu dalam jangka waktu tertentu peneliti tinggal di salah satu keluarga penduduk setempat, dan dengan demikian akan memungkinkan peneliti untuk mengamati dan mencatat dari dekat tentang berbagai aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan ritus metoh-tohan dan kejadian sehari-hari atau

(23)

gejala-gejala lainnya yang ada relevannya dengan masalah penelitian. Hal ini cocok untuk meniliti bagaimana manusia berperilaku dan memandang realitas kehidupan mereka dalam lingkungan mereka yang biasa, rutin,dan alamiah (Mulyana, 2004: 167).

Langness (dalam Soeriadiredja, 2016: 7) menjelaskan bahwa observasi-partisipasi sambil tinggal dengan komunitas yang dipelajari memungkinkan peneliti untuk membangun hubungan yang erat didalamnya. Idealnya hubungan antara peneliti dan penduduk setempat perlu dibangun sebelum ia melakukan wawancara yang intensif, dan mengumpulkan sejarah hidup informan-informan tertentu untuk dikemukan sebagai studi kasus.

(24)

1.6.3.3 Teknik Wawancara

Wawancara bertujuan untuk mengumpulkan keterangan tentang kehidupan masyarakat Desa Manikliyu. Sebelum wawancara dilakukan, maka akan dilakukan beberapa persiapan terlebih dahulu, antara lain; menyeleksi individu yang hendak diwawancarai, pendekatan dengan individu yang terseleksi, dan pengembangan suasana lancar dalam wawancara. Adapun macam wawancara yang akan dilakukan adalah wawancara mendalam, yang terdiri dari standardized interview, yaitu wawancara yang berdasarkan suatu daftar pertanyaan yang telah direncanakan dan disusun sebelumnya berupa pedoman wawancara. Adapun macam wawancara lainnya, yaitu wawancara sambil lalu (casual interview), ialah wawancara tanpa rencana dan orang-orang yang diwawancara tidak diseleksi terlebih dahulu, melainkan dijumpai secara kebetulan atau sambil lalu. Bentuk pertanyaan tersebut bersifat terbuka (open interview), dalam arti memberi keleluasaan bagi para informan untuk menjawab pertanyaan dan memberi pandangan-pandangannya secara bebas dan terbuka serta memungkinkan peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam (Koentjaraningrat, 1977: 174-175).

1.6.3.4 Studi Pustaka

Pada penelitian inidiperlukan banyak dokumen sebagai bagian penunjang. Dokumen ini digunakan sebagai bahan informasi dan data yang terkait dalam permalahan yang hendak dikaji. Bahan bacaan dalam penelitian ini berupa jurnal, buku, dan tulisan-tulisan ilmiah sangat penting untuk diikutsertakan, dan memperkuat data primer yang ditemukan dilapangan.

(25)

1.6.4 Teknik Analisis Data

Analisis data adalah pencarian atau pelacakan pola-pola. Analisis data kualitatif adalah pengujian sistemik dari sesuatu untuk menetapkan bagian-bagiannya, hubungan antar kajian, dan hubungannnya terhadap keseluruhannya (Spradley dalam Gunawan, 1980: 210). Miles dan Habermen (dalam Gunawan, 1992: 210) mengemukakan tiga tahapan yang harus dikerjakan dalam menganalisis data penelitian kualitatif, yaitu (1) reduksi data ( data reduction); (2) paparan data (data display); dan (3) penarikan kesimpulan dan verifikasi (conslusion drawing/verifying). Mereduksi data merupakan kegiatan merangkum, memilah hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan mencari tema dan polanya (Sugiyono dalam Gunawan, 2007: 92). Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran lebih jelas dan memudahkan untuk melakukan pengumpulan data. Temuan nyang dipandang asing, tidak dikenal, dan belum memiliki pola, maka hal itulah yang dijadikan perhatian karena penelitian kualitatif bertujuan untuk mencari pola dan makna yang tersembunyi dibalik pola dan data yang tampak (Gunawan, 2014: 211). Data yang sudah direduksi maka langkah selanjutnya adalah memaparkan data. Pemaparan data sebagai sekumpulan informasi tersusun, dan memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Miles dan Habermes dalam Gunawan, 1992: 17).

Pertama-tama peneliti mengumpulkan data wawancara, fieldnotes dan rekaman audiovisual yang kemudian dicatat kembali dalam bentuk catatan etnografis yang lengkap. Selanjutnya peneliti menyusun catatan mengenai berbagai hal yang berisikan gagasan atau ungkapan yang mengarah pada teorisasi berkenaan dengan data yang

(26)

ditemui di lapangan. Selanjutnya peneliti menyusunnya dan dilengkapi dengan kode dan cacatan yang berisikan gagasan yang mengarah terhadap teorisasi dengan sejumlah data yang ditemukan di lokasi penelitian. Pada akhirnya, peneliti menyusun rancangan konsep serta penjelasan.

(27)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :