Bab 3 Analisis Data
Dalam bab ini, penulis akan menganalisis penyebab gangguan depresi yang dialami oleh tokoh ibu, yang tercermin melalui drama Freeter, Ie wo Kau. Dalam drama ini diceritakan tentang tokoh ibu yang bernama Take Sumiko. Ia tinggal bersama suami dan anak laki-lakinya. Suaminya sibuk bekerja dan sebagai seorang ibu rumah tangga penuh waktu, ia bertugas untuk mengurus rumah dan anak. Baru tiga bulan bekerja, anak laki-lakinya yang bernama Seiji memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja dan karena sulitnya mendapatkan pekerjaan baru, ia menjadi seorang freeter. Berikut ini penulis akan menganalisis latar belakang terjadinya depresi melalui teknik verbal (percakapan) dan non verbal (perbuatan) sesuai dengan teori penokohan pada bab 2. Penulis akan menjabarkan penyebab gangguan depresi yang dilatarbelakangi oleh ketidakharmonisan keluarga dan faktor lingkungan sosial, yaitu lingkungan tempat tinggal.
Dalam analisis data ini, penulis menggunakan teori depresi yang ditunjang dengan konsep keluarga, konsep kyouiku mama, dan konsep wanita Jepang. Berikut ini merupakan penjelasan pembagian analisis tersebut.
3.1 Analisis Latar Belakang Keluarga Sebagai Penyebab Depresi
Keluarga seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa aman, kasih sayang dan mengembangkan hubungan yang baik diantara anggota keluarga. Namun, jika interaksi dengan anggota keluarga lain, tidak berjalan dengan lancar, maka keadaan tersebut menunjukan kondisi keluarga yang tidak harmonis.
3.1.1 Analisis Latar Belakang Keluarga Sebagai Penyebab Depresi Secara Verbal Situasi 1
Episode 1
Menit : 00:11:12
Malam hari saat sedang makan malam, sang ayah yaitu Seichi memarahi Seiji karena berhenti dari pekerjaanya tanpa pemikiran yang matang . Ia pun bertanya kepada istrinya, yaitu Sumiko mengapa ia tidak mempermasalahkan Seiji yang berhenti dari pekerjaan secara tiba-tiba dan belum juga mendapatkan pekerjaan baru.
Gambar 3.1 Pertengkaran Ayah dan Anak
Sumber : Freeter, Ie wo Kau (2010) Percakapan : 誠一 : これでも誠治が決めたことだから、 会社を辞めたって構わないって 言えるのか? 寿美子: まだまだ これからよ。 誠一 : 一日中 家にいる 寿美子は 社会の厳しさが分からないんだよ。 仕事なんてな いくらでもあると 思ったら大間違いだ。 誠治 : もう ほっとけよ 誠一 : 家に食費も納めないお前が偉そうな口 たたくな。 誠治 : お代わり。 寿美子: はい。 誠一 : いいか お前みたいな人間をな ごくつぶしっていうんだよ。 寿美子も寿美子だよ。こうやって甘やかしてきたから 誠治がこんな こらえ性のない人間に なってしまったんだ。 (Freeter, Ie wo Kau, 2010)
Terjemahan :
Seichi : Seiji memutuskan untuk berhenti dari tempat kerjanya, apa kamu tidak keberatan mendengarnya?
Sumiko : Ia baru memulai hidupnya dari awal
Seichi : Sumiko, kamu setiap hari hanya menghabiskan waktu di rumah. Kamu tidak mengerti kerasnya pekerjaan. Jika kamu pikir pekerjaan ada banyak sekali, kamu salah.
Seiji : Jangan pedulikan aku
Seichi : Orang yang tidak dapat membayar biaya makan tidak perlu berkata sombong
Seiji : Tambahkan lagi nasinya Sumiko : Ya
Seichi : Lihat, kamu adalah manusia yang tidak punya kelebihan.
Sumiko kamu juga tidak lebih baik. Karena kamu merusaknya, dia menjadi orang yang tidak menjalankan tugasnya
Analisis :
Dari perkataan Seichi「寿美子も寿美子だよ。こうやって甘やかしてきたから 誠治がこんな こらえ性のない人間に なってしまったんだ。」, yang berarti “Sumiko kamu juga tidak lebih baik. Karena kamu merusaknya, dia menjadi orang yang tidak menjalankan tugasnya” terlihat bahwa sang suami menyalahkan istrinya karena terlalu santai dan tidak mempermasalahkan tindakan Seiji yang berhenti dari pekerjaanya tanpa pemikiran yang matang. Setiap kali bertemu muka dengan ayahnya, Seiji selalu bertengkar. Komunikasi antara orang tua dan anak tidak berjalan dengan baik. Maka, untuk menghindari bertemu muka dengan sang ayah, Seiji memutuskan untuk makan di dalam kamar saja. Terlihat pada perkataan Seiji dalam episode 1 menit 13:20 “ sudah cukup, aku tidak mau lagi mendengarnya. Mulai sekarang aku akan makan di atas.” Hal itu merupakan ciri keluarga yang tidak normal, sebab menurut Manurung (1995:73) dalam keluarga normal terdapat interaksi sosial yang harmonis.
Adanya kesepahaman merumuskan norma-norma, tidak akan menimbulkan pertentangan pada norma dan peraturan tersebut.
Di dalam keluarga Take tidak ada kesepahaman dalam mendidik anak. Menurut sang ayah, Seiji harus mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang mempunyai reputasi baik dan cukup ternama, sedangkan menurut sang ibu, tidak perlu harus di perusahaan ternama, sebab apapun pekerjaannya, jika dikerjakan dengan sepenuh hati merupakan pekerjaan yang baik. Sebagai seorang suami, ia mengharapkan istrinya patuh dan setuju dengan apapun pendapatnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kerbo (1998:96) bahwa wanita yang ideal tidak seharusnya mengancam kedudukan tinggi suaminya sebagai kepala keluarga. Karena tidak adanya kesepahaman, pertengkaranlah yang selalu terjadi. Pertengkaran antara anggota keluarga yang sering terjadi dapat menyebabkan kondisi batin yang tertekan dalam waktu panjang (stres berkelanjutan) pada salah satu anggota. Depresi merupakan respon terhadap stres kehidupan (Atkinson, 1999:258). Di dalam kasus ini, tokoh ibu mengalami depresi karena mengalami stres selalu disalahkan oleh sang suami karena dianggap gagal dalam mendidik anak dan tidak terciptanya interaksi keluarga yang harmonis. Bila orang yang mengalami depresi gagal melaksanakan tugasnya, mereka lebih mungkin menyalahkan diri sendiri (Atkinson, 1999:265). Menurut analisis penulis, karena selalu disalahkan oleh sang suami, di dalam batin Sumiko akan tertanam perasaan bersalah karena dianggap tidak mendidik anak dengan baik. Perasaan bersalah timbul dalam pemikiran orang yang mengalami depresi.
Situasi 2 Episode 1
Menit : 00:31:01
Pagi hari sang ayah, Seichi sedang makan dan istrinya sedang menyetrika pakaian. Ia mengeluhkan kelakuan Seiji yang setelah dua bulan berhenti dari pekerjaannya belum juga mendapatkan pekerjaan baru, tidak mencari pekerjaan paruh waktu dan hanya bermalas-malasan di rumah. Bahkan tidak mau bertemu muka dengan ayahnya. Ia lalu menyalahkan istrinya bahwa istrinya terlalu santai dan malas dan karena itu Seiji pun malas.
Gambar 3.2 Seichi Mengeluhkan Kelakuan Seiji
Sumber : Freeter, Ie wo Kau (2010) Percakapan : 誠一 : 誠治は いったい何をやってんだよ。 就職活動はしない、アルバイトもしない、俺と顔も合わせない。 もう2カ月だぞ。何が楽しくて、こんな自堕落な生活続けてんだよ。 お前が のんきにしてるから 誠治がつけあがって 毎日 毎日 だらだら過ごしてんだよ。聞こえてんのか? 寿美子: ……… (Freeter, Ie wo Kau, 2010)
Terjemahan :
Seichi : Apa yang sebenarnya Seiji lakukan?
Dia tidak mencari pekerjaan, tidak melakukan pekerjaan paruh waktu dan tidak mau bertemu muka denganku. Ini sudah berlangsung selama dua bulan. Apa yang menyenangkan dari melanjutkan hidup seperti itu?
Kamu terlalu malas dan santai sehingga Seiji rusak. Makanya dia menghabiskan waktu sepanjang hari dengan bermalas-malasan. Apa kamu mendengarkan?
Sumiko : ……
Analisis :
Setelah dua bulan berhenti dari pekerjaannya, Seiji belum juga mendapatkan pekerjaan baru, tidak melakukan pekerjaan paruh waktu dan hanya bermalas-malasan di rumah. Ia bahkan tidak mau bertemu muka dengan ayahnya. Ayahnya pun kesal melihat kelakuan Seiji dan menyalahkan istrinya.
Berdasarkan perkataan yang diucapkan oleh Seichi,「お前がのんきにしてるから 誠治がつけあがって 毎日 毎日だらだら過ごしてんだよ。」yang berarti “Kamu terlalu malas dan santai sehingga Seiji rusak. Makanya dia menghabiskan waktu sepanjang hari dengan bermalas-malasan”. Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa sang suami menyalahkan istrinya yang dianggap tidak dapat mengurus anak dengan baik. Seorang ibu yang tidak melakukan perannya sebagai pendidik, akan beresiko sangat luas. Pendidikan keluarga yang gagal, akan mengakibatkan seseorang tidak memiliki karakter atau kepribadian yang diharapkan. Hal itu terlihat dalam diri Seiji. Ia tidak punya kegigihan, tidak punya sasaran dalam hidup, dan tidak pernah mengerjakan segala sesuatu dengan serius. Hal itu dapat merugikan atau merusak, bukan saja keluarga yang bersangkutan, tetapi juga bangsa secara keseluruhan. Oleh karena itu, pendidikan keluarga dipandang sebagai sesuatu yang sangat strategis dan utama. Hal tersebut sesuai
dengan pernyataan Morosawa dalam Fujimura (1995:96) bahwa dasar pokok untuk sebuah negara maju terletak pada pendidikan, dimana dasarnya adalah dengan pendidikan wanita. Sebuah kesuksesan atau kegagalan dari negara itu tergantung pada pendidikan wanita. Sebagai seorang istri, Sumiko akan patuh terhadap otoritas suami, maka ia hanya diam saat sang suami menyalahkannya. Karena mempunyai mental yang lemah, di dalam dirinya akan tertanam perasaan bersalah karena dianggap gagal dalam mendidik anak.
Menurut analisis penulis, Sumiko diam saat dimarahi oleh suaminya karena iapun menganggap bahwa kelakuan Seiji yang malas merupakan kesalahan dirinya. Hal tersebut sesuai dengan perkataan Atkinson (199:265) bahwa apabila orang yang mengalami depresi gagal melaksanakan tugasnya, mereka lebih mungkin menyalahkan diri sendiri (Atkinson, 199:265). Perasaan bersalah timbul dalam pemikiran orang yang mengalami depresi. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan. Banyak pula yang merasa dirinya menjadi beban bagi orang lain dan menyalahkan diri mereka atas situasi tersebut. Teori psikoanalisis berpendapat bahwa orang-orang yang mengalami depresi mempunyai harga diri yang rendah dan perasaan tidak berguna (Atkinson, 1999:262).
3.1.2 Analisis Latar Belakang Keluarga Sebagai Penyebab Depresi Secara Non Verbal
Situasi 1 Episode 1
Keluarga Take membawa Sumiko ke dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan dirinya. Dokter mengatakan Sumiko mengalami depresi yang disebabkan oleh stres. Di halaman rumah sakit, bukannya saling mendukung dan mencari cara untuk menyembuhkan Sumiko, mereka bertengkar dan saling menyalahkan satu sama lain sebagai penyebab Sumiko mengalami depresi.
Gambar 3.3 Seichi Menyalahkan Seiji
Sumber : Freeter, Ie wo Kau (2010)
Analisis :
Pada adegan di atas, terlihat bahwa Seichi menyalahkan Seiji karena dianggap sebagai penyebab ibunya mengalami depresi. Sebagai kepala keluarga, ia merasa sudah memenuhi kewajibannya untuk mencari nafkah sehingga tidak mungkin Sumiko mengalami stres. Kalaupun ada, hal itu disebabkan oleh Seiji yang tidak kunjung
mendapatkan pekerjaan tetap. Menurut ayahnya, Seiji tidak punya keahlian tapi mempunyai harga diri yang terlalu tinggi sehingga tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan tetap sepanjang hidupnya.
Dalam menghadapi suatu masalah, keluarga seharusnya menjadi tempat untuk saling memberikan perhatian, dukungan, semangat dan rasa aman. Namun, di dalam keluarga Sumiko, fungsi keluarga yang seharusnya tidak terlaksana. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang dan mengembangkan hubungan yang baik diantara anggota keluarga. Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek, dan keinginan untuk menumbuh-kembangkan anak yang dicintainya (Yusuf, 2007:38). Ketika mengetahui bahwa Sumiko mengalami stres berat hingga menjadi depresi, keluarga seharusnya saling mendukung dan mencari penyelesaian agar penyakit Sumiko tidak bertambah parah. Namun, bukannya saling mendukung, keluarga Take saling menyalahkan satu sama lain sebagai penyebab Sumiko mengalami depresi
Setiap bertemu, pertengkaran antara anggota keluarga yang selalu terjadi. Pertengkaran yang selalu terjadi menunjukan keluarga yang tidak harmonis. Sebab, menurut Wilis dalam Damayanti (2008:15-16), keluarga yang harmonis adalah apabila struktur keluarga itu utuh dan interaksi diantara keluarga berjalan dengan baik, artinya hubungan psikologi diantara mereka cukup memuaskan dirasakan oleh setiap anggota keluarga. Hubungan psikologi yang dirasakan oleh Sumiko terhadap keluarganya kurang memuaskan dikarenakan selalu terjadi pertengkaran antara ayah dan anak yang menguras emosi. Saat seseorang emosi, ia akan mengeluarkan cacian, makian, bahkan menggunakan kekerasan. Pertengkaran itu akan mengakibatkan stres pada salah satu
anggota keluarga. Dalam kasus ini tokoh ibulah yang mengalami gangguan depresi dikarenakan sebagai seorang wanita, ia harus mendedikasikan hidupnya kepada suami dan anak. Ia harus sepenuh hati, berbudi baik, sabar dan mendukung anggota keluarga (Kerbo, 1998:93). Sumiko memilih untuk tidak terlibat dalam pertengkaran, bersikap netral dengan tidak memihak pihak manapun dan hanya memendam perasaannya dalam hati sehingga menjadi depresi. Depresi diartikan sebagai sebuah kondisi batin yang tertekan dalam waktu panjang (stress berkelanjutan) (Ubaydillah, 2006).
Situasi 2 Episode 4
Menit : 00:27.25
Suami dan anak-anak Sumiko sedang berkumpul untuk membicarakan penyebab ijime yang dialami Sumiko. Seiji dan kakak perempuannya, Ayako mengatakan penyebabnya adalah Seichi yang mengatakan kepada tetangga bahwa mereka hanya membayar uang sewa rumah sebesar 5000 yen. Seichi menolak untuk disalahkan dan karena Seiji telah mengatakan sesuatu yang menyinggung perasannya, ia pun menampar Seiji dan kejadian tersebut disaksikan oleh Sumiko.
Sumber : Freeter, Ie wo Kau (2010) Analisis :
Dalam film ini Take Sumiko digambarkan sebagai ibu rumah tangga penuh waktu yang bertugas mengurus rumah. Dengan pergeseran masyarakat dari keluarga besar menjadi keluarga inti, tugas ibu rumah tangga dalam hal mengurus rumah tidak terlalu berat. Hal itu dikarenakan ibu rumah tangga zaman sekarang mempunyai begitu banyak peralatan listrik sehingga lebih praktis dan ia mempunyai waktu luang yang banyak. Tugas rumah yang tidak sulit, ditambah lagi karena semua anggota keluarga sibuk dengan kegiatannya masing-masing, bagi ibu rumah tangga penuh waktu, hal tersebut menimbulkan perasaan kesepian. Saat bertemu dan berinteraksi dengan anggota keluarga, bukannya perasaan aman, tentram dan damai, akan tetapi pertengkaran antara ayah dan anak lah yang selalu dihadapi. Maka, fungsi dasar keluarga dalam keluarga Sumiko tidak terlaksana dengan baik. Seperti yang dikatakan (Yusuf, 2007:38) bahwa fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang dan mengembangkan hubungan yang baik diantara anggota keluarga.
Sebagai seorang ibu, Sumiko memilih untuk tidak ikut campur dalam pertengkaran tersebut dan hanya memendam perasaannya. Menurut penulis keadaan tersebut menunjukkan kondisi keluarga yang tidak harmonis karena hampir setiap hari apabila Seiji bertemu dengan ayahnya, pertengkaranlah yang selalu terjadi. Sebab, menurut Wilis dalam Damayanti (2008:15-16), keluarga yang harmonis adalah apabila struktur keluarga itu utuh dan interaksi diantara keluarga berjalan dengan baik, artinya hubungan psikologi diantara mereka cukup memuaskan dirasakan oleh setiap anggota keluarga. Hubungan psikologi yang dirasakan oleh Sumiko terhadap keluarganya kurang memuaskan dikarenakan selalu terjadi pertengkaran antara ayah dan anak yang
menguras emosi. Saat seseorang emosi, ia akan mengeluarkan cacian, makian, bahkan menggunakan kekerasan. Meskipun Sumiko tidak terlibat dan pertengkaran tersebut tidak berhubungan langsung dengan dirinya, Sumiko akan menganggap pertengkaran tersebut terjadi karena dirinya dan ia akan menyalahkan diri sendiri. Hal ini sesuai dengan teori kognitif yang diungkapkan Atkinson (1999:265) bahwa individu yang mudah terkena depresi telah mengembangkan sikap umum untuk menilai peristiwa dari segi negatif dan kritik diri. Mereka lebih cenderung menyalahkan diri sendiri ketimbang situasi jika ada hal-hal yang kurang beres.
3.2 Analisis Lingkungan Sosial Sebagai Penyebab Depresi
Lingkungan sosial yaitu lingkungan tempat tinggal, merupakan lingkungan pergaulan yang penting bagi ibu rumah tangga. Ketika suami dan anak-anak sibuk dengan kegiatan masing-masing, dan pekerjaan rumah telah selesai, ibu rumah tangga biasanya akan menghabiskan waktu dengan berinteraksi antar sesama ibu rumah tangga lainnya. Berikut ini adalah situasi-situasi di lingkungan tempat tinggal yang menyebabkan Take Sumiko mengalami gangguan depresi.
3.2.1 Analisis Lingkungan Sosial Sebagai Penyebab Depresi Secara Verbal Situasi 1
Episode 3
Menit : 00:21:38
Ketika mau menaruh sampah, Matsumoto melihat sampah milik keluarga Take. Sebelum ada orang datang, ia memasukkan botol pada sampah itu dan ketika tetangga
lain datang ia menunjukkan pada yang lain bahwa ada botol pada sampah itu. Mereka pun berasumsi bahwa sampah tersebut pasti milik keluarga Take.
Gambar 3.5 Matsumoto Memasukan Botol dalam Sampah
Sumber : Freeter, Ie wo Kau (2010) Percakapan : 主婦 : あっ どうしたの? 西本 : あっ ねえ 見て。ペットボトルのごみの中に 瓶が入ってたの。 主婦 : あら また武さんね。 西本 : 瓶をね … 取り出しておいてあげようと思ったんだけど。 主婦 : はあ……. もう西本さん面倒見いいから。 主婦 ; うん。 主婦 : でもさ そんなことしたら また 武さん つけ上げるわよ。 主婦 : そうよ。 西本 : そう? 2人 : そうよ。 西本 : じゃ そこまで言うなら 武さんには もう一度ごみを出し直して もらうわ。 主婦 : 当然よ。
主婦 : そうよ。
(Freeter, Ie wo Kau, 2010) Terjemahan :
Tetangga 1 : Aa.. ada apa?
Matsumoto : Eh lihat,, di dalam sampah plastik terdapat botol Tetangga 1 : Ahh.. pasti Take san lagi
Matsumoto : Botol ya,, aku bermaksud untuk mengambil botolnya Tetangga 2 : Aaa Nishimoto san sangat baik
Tetangga 1 : Benar
Tetangga 2 : Tapi kalau kamu berbuat begitu, Take san pasti merasa penting lagi Tetangga 1 : Iya benar
Matsumoto : Apa iya? Ke-2 tetangga : Iya
Matsumoto : Jika kalian bilang begitu, aku akan meminta Take san untuk memeriksa kembali sampahnya dengan benar
Tetangga 2 : Itu baru benar Tetangga 1 : Ya
Analisis :
Matsumoto selalu memasukkan botol pada sampah plastik milik keluarga Take. Ketika tetangga lain berdatangan untuk membuang sampah ia berkata 「あっ ねえ 見て。ペットボトルのごみの中に 瓶が入ってたの。 」 yang berarti “Eh lihat, di dalam sampah plastik terdapat botol”. Ia pun bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi dan menunjukkan pada tetangga lain bahwa pada salah satu sampah terdapat botol. Merekapun langsung berasumsi bahwa sampah tersebut pasti milik keluarga Take. Di hadapan para tetangga lain, ia bersikap sebagai tetangga yang baik dan perhatian, padahal sebenarnya ia telah menyebarkan isu sehingga Sumiko dijauhi oleh tetangga sekitar rumahnya. Alasan Matsumoto melakukan tindakan seperti itu terdapat pada episode 9 menit 00:35:13. Ia mengatakan “ karena iri. Take-san selalu tersenyum dan terlihat bahagia.”
Kondisi lingkungan tempat tinggal yang buruk mempunyai pengaruh yang besar bagi kesehatan seseorang. Rasa tercekam dan tidak merasa aman akan mengganggu ketenangan dan ketentraman hidup, sehingga dapat mengakibatkan seseorang mengalami depresi. Sumiko tidak mempunyai hubungan yang baik dengan tetangganya. Dengan kata lain, Sumiko tidak memperoleh dukungan moral yang diberikan sekelompok teman. Menurut Atkinson (1999: 261) depresi ditafsirkan sebagai suatu reaksi terhadap kehilangan. Sifat kehilangan tersebut misalnya, hilangnya orang yang dicintai karena kematian, kehilangan kedudukan, kehilangan dukungan moral yang diberikan oleh sekelompok teman. Menurut analisis penulis, Sumiko mengalami depresi karena tidak adanya dukungan moral yang diberikan oleh sekelompok teman.
Situasi 2 Episode 3
Menit : 25:12
Ayako dan Seiji membawa Sumiko ke dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu mereka. Seiji mengatakan pada dokter bahwa tetangga mereka selalu menaruh botol di sampah, sehingga sampah tersebut selalu dikembalikan. Lalu, Ayako teringat kejadian aneh yang berkaitan dengan keluarga mereka.
Gambar 3.6 Ayako dan Seiji Membawa Sumiko ke Dokter
Sumber : Freeter, Ie wo Kau (2010) Percakapan : 亜矢子: あっ そうだ そういえば 昔 あれ? って思ったことがあった。 誠治 : 何? 亜矢子: あの町内会費をさ。うちが払ってないっていう噂が あるのを聞いてね。わたし お母さんに聞いてみたの。そしたら 払いに行くの忘れたってお母さんは言ったんだけど町内会費って 払いに行くんじゃなくて集金に来るはずだから おかしいなって思ったんだよ。 誠治 : えっ? 亜矢子: そう それに ほら クリーニング屋の おばあちゃんが亡くなったときもうちだけが 連絡が なかったってこともあったわ。 誠治 : あっ じゃ それ全部 西本さんが意地悪したってこと? 亜矢子: いや 意地悪じゃなくて いじめよ。 誠治 : それ どれぐらい前の話? 亜矢子: わたしが高校生のとき。 誠治 : えっ じゃ もう 10年も前の話じゃん。 そんな前から 母さん いじめられてたの? 亜矢子: 何で お母さん わたしに 話してくれなかったのかな。 話せなくて ずっと苦しんでたのかな。 誠治 : いや 俺が もっと 早く気付いてりゃよかった。 (Freeter, Ie wo Kau, 2010) Terjemahan :
Ayako : Ah ya,, bicara tentang hal itu aku jadi teringat sesuatu Seiji : Apa?
Ayako : Dulu aku mendengar rumor kalau rumah kita tidak membayar biaya iuran rumah. Lalu aku bertanya pada ibu. Ibu bilang dia lupa bayar iuran rumah, tapi menurutku aneh karena kita tidak pergi untuk membayar iuran tapi ia
akan datang menagih. Seiji : Eee?
Ayako : Ya, terus sewaktu nenek di tempat cleaning meninggal, kita satu-satunya yang tidak diberi tahu
Seiji : Aah, berarti selama ini, itu perbuatan jahat Matsumoto Ayako : Tidak, bukan perbuatan jahat tapi ijime
Seiji : Pembicaraan itu waktu kapan? Ayako : Sewaktu aku masih SMA
Seiji : Ee.. berarti sudah 10 tahun. Selama itu ibu mengalami ijime??
Ayako : Kenapa selama ini ibu tidak menceritakannya padaku. Tidak dapat bercerita pasti sangat menderita.
Seiji : Tidak,, aku juga seharusnya mengetahuinya lebih awal.
Analisis :
Berdasarkan perkataan Ayako 「いや 意地悪じゃなくて いじめよ。」, yang berarti “tidak, bukan perbuatan jahat tapi ijime”. Dari pernyataan itu, terlihat bahwa Sumiko mengalami tindakan ijime yang dilakukan oleh tetangganya. Ijime merupakan tindakan agresif dari seseorang, secara sengaja atau bersama melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan perasaan terluka pada seseorang. Masyarakat Jepang merupakan masyarakat homogen yang tidak suka adanya perbedaan dalam suatu kelompok. Hal itu dapat dibuktikan pada perkataan Ayako pada episode 4 menit 26:23, ia mengatakan bahwa “orang-orang di negara ini suka mengikuti kelompoknya. Kita semua suka bersama-sama. Jika kamu berbeda, mereka akan menendangmu”.
Tindakan ijime yang dialami Sumiko berupa selalu dikembaliknya sampah plastik karena ada yang memasukan botol di dalamnya sehingga pihak pengelola sampah tidak mau mengambil sampah tersebut. Selain itu, saat ada salah satu tetangga yang meninggal, hanya keluarga Take sajalah yang tidak diberitahu mengenai kabar tersebut. Menurut Ubaydillah (2006) depresi diartikan sebagai sebuah kondisi batin yang tertekan dalam waktu panjang (stress berkelanjutan) dan mengakibatkan hilangnya
harapan hidup, makna hidup, motivasi berprestasi, dan kepercayaan diri. Menurut perkataanAyako「何でお母さんわたしに話してくれなかったのかな。話せなくて ずっと苦しんでたのかな。」, yang berarti “kenapa selama ini ibu tidak menceritakannya padaku. Tidak dapat bercerita pasti sangat menderita”. Dari perkataan itu, terlihat bahwa Sumiko telah mengalami ijime selama 10 tahun tanpa pernah menceritakan hal tersebut pada keluarganya. Terus memendam perasaan dan tidak berbagi beban pada keluarga, dapat membuat kondisi batin yang tertekan sehingga memicu stres, yang jika stres tersebut tidak dapat diatasi akan berujung pada depresi. Apabila orang mengalami depresi, sumber penguatan utama mereka adalah simpati dan perhatian yang mereka terima dari keluarga dan teman-teman (Atkinson. 1999:264). Di dalam kasus ini, Sumiko tidak memperoleh simpati dan perhatian dari keluarga maupun teman dikarenakan ia tidak pernah menceritakan perbuatan ijime yang diterimanya.
3.2.2 Analisis Lingkungan Sosial Sebagai Penyebab Depresi Secara Non Verbal Situasi 1
Episode 2
Menit : 00:23.09
Ketika Seiji pulang sehabis bekerja paruh waktu, ia melihat bahwa sampah milik keluarganya dikembalikan lagi, padahal sebelumnya ia sudah memeriksanya secara teliti dan mereka sudah mengumpulkan sampah tersebut dengan benar. Ketika ia melihat sampah tersebut, di dalamnya terdapat botol. Seiji pun menanyakan pada ibunya mengenai botol dalam sampah itu, dan Sumiko mengatakan ia tidak memisahkan
sampah dengan benar, padahal sebelum bekerja Seiji yakin sudah memeriksa sampah itu secara teliti.
Gambar 3.7 Sampah Keluarga Take Dikembalikan Lagi
Sumber : Freeter, Ie wo Kau (2010)
Analisis :
Dari adegan di atas, terlihat bahwa ada orang yang secara sengaja memasukkan botol ke dalam sampah plastik milik keluarga Take agar sampah tersebut tidak diambil pengelola sampah dan dikembalikan lagi. Di Jepang, sampah hanya akan diambil oleh pengelola sampah jika sampah-sampah itu sudah dipisahkan dengan benar sesuai hari pembuangan sampah. Dari peristiwa itu terlihat bahwa keluarga Take tidak memiliki hubungan yang baik dengan tetangga di sekitar rumahnya. Konsep penguatan sangat penting dalam kaitannya dengan depresi. Lewinsohn dalam Atkinson (1999:263) mengatakan bahwa orang akan mengalami depresi apabila lingkungan sosialnya sedikit sekali memberi penguatan positif. Interaksi positif antara individu dengan lingkungan
menyediakan penguatan yang positif. Dalam kasus ini, Sumiko mengalami perlakuan yang buruk dan tidak mempunyai penguatan yang positif dari lingkungan sosial yaitu lingkungan tempat tinggalnya sehingga menyebabkan kesedihan dan merupakan faktor pendukung terjadinya depresi.
Ketika Seiji menanyakan mengapa sampah mereka selalu dikembalikan lagi, Sumiko mengatakan bahwa ia tidak memisahkan sampah dengan benar sehingga sampah tersebut dikembalikan lagi. Seiji merasa itu bukan kesalahan ibunya, sebab ia sendirilah yang memisahkan sampah plastik tersebut dan yakin bahwa ia sudah memisahkan sampah dengan benar. Karena mengalami gangguan depresi, Sumiko akan menyalahkan dirinya karena tidak dapat memisahkan sampah dengan benar sehingga selalu dikembalikan lagi. Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan Atkinson (1999:265) bahwa individu yang mudah terkena depresi telah mengembangkan sikap umum untuk menilai peristiwa dari segi negatif dan kritik diri. Mereka lebih cenderung menyalahkan diri sendiri daripada situasi jika ada hal-hal yang kurang beres.