BAB I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kontribusi

Teks penuh

(1)

1 Bab ini menguraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kontribusi penelitian, dan sistematika penulisan.

1.1 Latar Belakang

Penelitian ini bertujuan untuk menguji mengenai bagaimana pengaruh tingkat akrual diskresioner perusahaan dan kesulitan keuangan yang dialami perusahaan terhadap kemungkinan1 dilakukannya manipulasi laporan keuangan oleh perusahaan. Informasi akrual dapat digunakan untuk menentukan terjadinya manipulasi laporan keuangan karena akrual merupakan fokus manajemen dalam mengimplementasikan kebijakannya dengan menggunakan berbagai metode akuntansi (DeFond and Jiambalvo 1994; Dechow, Sloan and Sweeney 1995; Beneish 1997, 1999; Healy and Wahlen 1999; Kothari 2001; DeFond and Subramanyam 1998; Fields, Lys, and Vincent 2001). Selain itu, kesulitan keuangan juga dapat menjadi motivasi utama manajemen untuk melakukan manipulasi. Perusahaan dengan kondisi finansial yang buruk dapat terdorong untuk melakukan manipulasi laporan keuangan dengan harapan untuk meningkatkan kemungkinan memperoleh dana tambahan atau investasi baru agar dapat memperbaiki kondisi keuangan perusahaan (Dechow, Sloan, and Sweeney 1996; Rosner 2003; Hasnan, Rahman, and Mahenthiran 2013).

1 Penelitian ini menggunakan kemungkinan terjadinya manipulasi keuangan karena penggunaan model dari Beneish (1997,1999) merupakan rumus probabilitas terjadinya manipulasi laporan keuangan pada sampel perusahaan yang belum pasti tergolong manipulator.

(2)

Penelitian ini dimotivasi oleh terbatasnya penelitian mengenai manajemen laba yang menggunakan M-Score dari Beneish (1997, 1999). M-score banyak digunakan pada penelitian yang membahas mengenai manipulasi laporan keuangan, yang juga di dalamnya termasuk manajemen laba dan kecurangan (fraud) (Jones, Krishnan, and Melendrez 2008; Goel 2014). Penelitian ini menggunakan definisi manipulasi berdasarkan dari Perols and Lougee (2011, 40) yaitu,

“…given that firms can manipulate financial statements using accounting

practices that are within GAAP or outside of GAAP, we define financial statement manipulation as occurring when managers commit financial

statement fraud or manage earnings (or both).”

Variabel manipulasi telah digunakan dalam penelitian-penelitian terdahulu (Beneish 1997, 1999; Jones, Krishnan, and Melendrez 2008; Goel 2014) dengan menggunakan sampel perusahaan yang telah terdeteksi melakukan manajemen laba ataupun kecurangan (fraud). Penggunaan variabel manipulasi pada penelitian ini berperan sebagai jalan untuk tidak secara langsung menilai bahwa perusahaan-perusahaan tersebut telah melakukan manajemen laba ataupun kecurangan (fraud). Penelitian ini menggunakan seluruh perusahaan dalam industri manufaktur sebagai sampel.

Rumus M-Score dapat digunakan oleh investor untuk menguji kemungkinan terjadinya manipulasi pada perusahaan. Jones, Krishnan, and Melendrez (2008) menguji manipulasi yang terjadi di perusahaan dengan menggunakan berbagai model akrual diskresioner dan menemukan M-Score dapat mendeteksi lebih baik dibandingkan dengan model lainnya. Goel (2014) dengan menggunakan M-Score menemukan adanya manajemen laba dan kualitas

(3)

pelaporan keuangan yang rendah pada perusahaan-perusahaan yang tergolong terbaik di India.

Motivasi manajemen menjadi isu utama untuk menjawab mengapa manajemen terdorong untuk melakukan manipulasi laporan keuangan. Penelitian terdahulu menunjukkan terdapat berbagai motivasi yang mendorong manajemen untuk melakukan manipulasi terhadap laporan keuangan diantaranya adalah untuk menghindari kerugian perusahaan (Burgstahler and Dichev 1997), opsi saham dan kompensasi kas sebagai bonus (Persons 2012) ataupun untuk meningkatkan harga saham (DuCharme, Malatesta, and Sefcik 2001; Cohen and Zarowin 2010) Berdasarkan hasil kajian dari penelitian-penelitian terdahulu tentang manajemen laba, Dechow, Ge, and Schrand (2010) mengungkapkan bahwa perusahaan yang teridentifikasi oleh Accounting and Auditing Enforcement Releases (AAER) melakukan manipulasi didasarkan oleh alasan perjanjian utang, kompensasi manajemen, insentif dari pasar modal dan lemahnya tata kelola perusahaan.

Manajer sebagai pihak yang diberikan kepercayaan oleh investor dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk menciptakan kesempatan dan memanfaatkannya untuk melakukan manajemen laba. Manajemen laba dapat dilakukan dengan cara memilih penggunaan metode pelaporan ataupun estimasi yang tidak secara akurat merefleksikan kinerja ekonomik perusahaan (Healy and Wahlen 1999). Selain itu, manajer ataupun pihak yang memiliki kendali atas perusahaan memiliki insentif untuk mengatur laba yang dilaporkan dengan tujuan untuk menyembunyikan kinerja perusahaan dari investor ataupun

(4)

menyembunyikan manfaat yang diperoleh dari pengendalian yang mereka lakukan (Leuz, Nanda, and Wysocki 2003).

Manajemen laba merupakan suatu bentuk manipulasi atas laporan keuangan yang dilakukan oleh manajer. Manipulasi atas laporan keuangan dapat dilakukan dalam bentuk penggunaan atau pemilihan praktik akuntansi yang masih dalam lingkup prinsip akuntansi yang berterima umum atau diluar lingkup tersebut (Erickson, Hanlon, and Maydew 2006; Perols and Lougee 2011). Berbagai teknik manipulasi laba dapat dilakukan oleh manajer, salah satunya adalah dengan mengelola akrual perusahaan sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan ataupun menurunkan laba perusahaan (DeFond and Subramanyam 1998; Kothari 2001; Fields, Lys, and Vincent 2001). Tetapi, peningkatan atau penurunan ini juga dapat menyebabkan timbulnya dampak negatif bagi perusahaan di hadapan para pemangku kepentingan. Penelitian yang dilakukan oleh Dechow and Dichev (2002) menemukan bahwa pengelolaan laba dengan menggunakan akrual dapat menurunkan kualitas dari laba perusahaan. Selain itu manipulasi laba dengan menggunakan akrual diskresioner merupakan tindakan yang memiliki resiko tinggi untuk dideteksi oleh investor ataupun pihak yang memiliki kepentingan (Cohen and Zarowin 2010).

Manipulasi atas laporan keuangan yang dilakukan dengan mengabaikan prinsip akuntansi yang berterima umum dikategorikan sebagai financial statement

fraud. Fraud terjadi ketika perusahaan yang melakukan pembalikan pendapatan

(earnings reversal) dan dihadapkan dengan berkurangnya fleksibilitas untuk melakukan manajemen laba, maka manajer akan beralih melakukan tindakan

(5)

curang (fraudulent activities) untuk mencapai sasaran yang sebelumnya hanya bisa dicapai dengan mengelola laba (Perols and Lougee 2011).

Menurut studi global yang dilakukan oleh Association of Certified Fraud

Examiner (ACFE) dengan menggunakan survey online pada tahun 2015, total

kerugian akibat fraud adalah $6,3 Milyar dengan rata-rata kerugian setiap kasus sebesar $2,7 Juta. Penyalahgunaan asset (assets misappropriation) merupakan tipe

fraud yang paling umum terjadi, dengan total kasus 83% tetapi dengan median

kerugian sekitar $125.000, sedangkan untuk korupsi (corruption) total rata-rata kerugian sekitar $200.000. Financial statement fraud merupakan kejadian yang hanya terjadi sekitar 10% tetapi dengan jumlah rata-rata kerugian sekitar $975.000 (ACFE, report to the nations on occupational fraud and abuse, 2016).

Kesulitan keuangan (financial distress) dapat menjadi pendorong perusahaan untuk melakukan tindakan manipulasi agar dapat memperbaiki atau menutupi kondisi perusahaan yang memburuk. Tetapi tindakan ini hanyalah menjadi bentuk kosmetik dan tipuan sementara yang hanya menutupi kondisi perusahaan yang sebenarnya dari investor (Purwanti et al. 2015). Hasnan, Rahman, and Mahenthiran (2013) menemukan bahwa perusahaan di Malaysia yang mengalami kesulitan keuangan memiliki hubungan yang positif dengan kemungkinan terjadinya kecurangan dalam pelaporan keuangan (fraudulent

financial reporting). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Butler, Leone, and

Willenborg (2004) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara abnormal

accrual dengan perusahaan yang menerima opini audit going concern dan

(6)

Indonesia tergolong dalam negara yang memiliki perlindungan investor lebih rendah dari negara seperti Amerika Serikat ataupun Malaysia (La Porta and Lopez-de-Silanes 1998; Leuz, Nanda, and Wysocki 2003; Klapper and Love 2004; Brown, Preiato, and Tarca 2014). Dengan perkembangan pasar modal yang terus meningkat, informasi ataupun berita mengenai perusahaan yang melakukan manipulasi laporan keuangan masih sangat kecil jumlahnya. Penelitian ini dimotivasi karena terdapat bukti bahwa manipulasi laporan keuangan yang banyak terjadi di perusahaan merupakan penyebab kerugian terbesar bagi para investor serta pemangku kepentingan lainnya. Tidak jarang manipulasi laporan keuangan yang terjadi pada perusahaan tidak dapat dengan mudah dideteksi oleh auditor dalam laporan keuangan tahunan. Sehingga, dibutuhkan suatu cara untuk mendiagnosa atau mengetahui tanda-tanda dalam laporan keuangan dan kondisi perusahaan sebagai “red flag” terjadinya manipulasi laporan keuangan.

Perusahaan dapat mengelola laba perusahaan dengan melakukan manipulasi terhadap laporan keuangannya. Berbagai cara dan alasan dapat digunakan oleh manajer perusahaan untuk melakukan manipulasi terhadap laporan keuangan. Sehingga, pertanyaan penelitian pertama dalam penelitian ini adalah menjawab mengenai bagaimana pengaruh tingkat akrual diskresioner perusahaan terhadap kemungkinan terjadinya manipulasi terhadap laporan keuangan perusahaan. Hal ini disebabkan karena akrual diskresioner merupakan suatu elemen dalam laporan keuangan yang dapat di modifikasi oleh manajer atau perusahaan sesuai dengan kebijakannya. Pertanyaan penelitian yang kedua adalah menjawab bagaimana pengaruh kesulitan keuangan terhadap kemungkinan perusahaan untuk melakukan

(7)

manipulasi terhadap laporan keuangannya. Kesulitan keuangan yang dialami oleh perusahaan dapat mendorong manajemen untuk melakukan manipulasi agar dapat menghindari kebangkrutan dan juga untuk memperoleh tambahan dana sehingga perusahaan dapat keluar dari keadaan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang pada bagian sebelumnya maka ada beberapa rumusan masalah yang ingin dijawab pada penelitian ini. Rumusan masalah tersebut diantaranya adalah.

1. Apakah terdapat hubungan antara tingkat akrual diskresioner yang dimiliki perusahaan terhadap kemungkinan terjadinya manipulasi pada perusahaan? 2. Apakah terdapat hubungan antara kesulitan keuangan yang dialami oleh perusahaan dengan kemungkinan dilakukannya manipulasi oleh perusahaan?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini secara umum adalah untuk menjawab rumusan masalah yang telah diuraikan dan akan dijelaskan sebagai berikut.

1. Untuk menguji pengaruh tingkat akrual diskresioner yang dimiliki oleh perusahaan dalam industri manufaktur di Indonesia terhadap kemungkinan terjadinya manipulasi,

2. Untuk menguji pengaruh kesulitan keuangan yang dialami oleh perusahaan dalam industri manufaktur di Indonesia terhadap kemungkinan terjadinya manipulasi.

(8)

1.4 Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel seluruh perusahaan manufaktur di Indonesia. Pengumpulan data sampel perusahaan manufaktur dan laporan keuangannya diperoleh melalui BVD OSIRIS dan website Bursa Efek Indonesia. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah MAN_PROB sebagai kemungkinan terjadinya manipulasi yang diukur dengan menggunakan M-score dari Beneish (1997, 1999) dan variabel independen yang terdiri dari DA dan FIN_DISS yaitu tingkat akrual diskresioner yang diukur dengan model Dechow and Dichev (2002) dan kesulitan keuangan yang diukur dengan EM Z-score oleh Altman (2005). Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis

ordinary least square (OLS) untuk menguji pengaruh akrual diskresioner dan

kesulitan keuangan terhadap kemungkinan terjadinya manipulasi. Software Eviews 8.0 digunakan dalam penelitian ini sebagai alat bantu analisis untuk pengujian asumsi klasik dan pengujian hipotesis penelitian.

1.5 Hasil Penelitian

Berdasarkan dari hasil uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa tingkat akrual diskresioner perusahaan memang mempengaruhi tingkat kemungkinan dilakukannya manipulasi oleh perusahaaan. Selain itu, hubungan antara tingkat akrual diskresioner dan kemungkinan dilakukannya manipulasi adalah positif. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan dalam industri manufaktur di Indonesia melakukan manipulasi terhadap laporan keuangannya melalui peningkatan laba perusahaan. Hasil uji hipotesis kedua memberikan bukti bahwa kesulitan keuangan juga mempengaruhi bagaimana perusahaan bertindak untuk

(9)

melakukan manipulasi terhadap laporan keuangannya. Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dapat memilih untuk melakukan manipulasi sebagai salah satu upaya untuk menghindari kebangkrutan.

1.6 Kontribusi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat. Beberapa kontribusi tersebut diantaranya adalah.

1.6.1 Kontribusi literatur

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk literatur mengenai manipulasi laporan keuangan di Indonesia. Penelitian mengenai manipulasi laporan keuangan dengan menggunakan M-Score dari Beneish (1997, 1999) masih belum luas dilakukan dan sangat terbatas. M-Score secara khusus digunakan dalam membuktikan fraud yang terjadi pada perusahaan yang menjadi subyek Accounting

and Auditing Enforcement Releases (AAER). Pengunaan M-Score dalam

mendeteksi manipulasi laporan keuangan diharapkan dapat digunakan sebagai “red

flag” untuk menutupi kurangnya informasi yang dimiliki oleh investor ataupun

pemangku kepentingan mengenai keadaan perusahaan.

1.6.2 Kontribusi praktik

Bagi investor, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi untuk membantu dalam mengambil keputusan investasi. Investor tidak hanya sekedar memanfaatkan informasi dari laporan keuangan auditan dan laporan analis tetapi dapat menggunakan M-Score dari Beneish untuk melakukan penilaian terhadap kemungkinan terjadinya manipulasi dalam perusahaan. Selain itu, informasi mengenai kesulitan keuangan perusahaan juga dapat digunakan oleh investor

(10)

sebagai tambahan dalam melakukan pertimbangan. Hal ini disebabkan karena manipulasi atas laporan keuangan merupakan masalah penting yang tidak mudah untuk dideteksi dan dapat mempengaruhi performa perusahaan pada masa depan.

Bagi auditor, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi sebagai salah satu alat deteksi awal sebelum melakukan pemeriksaan audit. Auditor dapat menggunakan pertimbangan menggunakan model Beneish untuk menentukan luas audit dan menentukan materialitas. Hal ini disebabkan karena manipulasi yang dilakukan manajer atau perusahaan kemungkinan besar sulit terdeteksi apabila hanya menggunakan model analisis sederhana ataupun penggunaan model rasio keuangan.

Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan mengenai manipulasi laporan keuangan. Akademisi juga dapat mengetahui beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya manipulasi dan dapat memanfaatkan Beneish M-Score untuk penelitian lainnya yang membahas mengenai manipulasi laporan keuangan yang terjadi di Indonesia.

1.7 Sistematika Penulisan

Penelitian ini terbagi menjadi lima bagian yang membahas secara rinci mengenai studi yang dilakukan, diantaranya adalah Bab I Pendahuluan, Bab II Kajian Pustaka dan Hipotesis, Bab II Metode Penelitian, Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, dan Bab V Kesimpulan, Keterbatasan dan Saran Penelitian.

Bagian pertama yaitu pendahuluan yang membahas latar belakang mengenai manipulasi laporan keuangan dilanjutkan dengan rumusan permasalahan mengenai bagaimana pengaruh akrual diskresioner dan kesulitan keuangan

(11)

terhadap kemungkinan terjadinya manipulasi. Kemudian ditutup dengan pembahasan mengenai tujuan penelitian serta kontribusi yang diharapkan bagi penelitian pada bidang manipulasi di Indonesia.

Bagian kedua yaitu kajian pustaka dan pengembangan hipotesis yang memuat mengenai pembahasan regulatory environment di Indonesia dilanjutkan dengan penjelasan singkat mengenai Beneish M-score, kemudian latar belakang teori dan kajian pustaka serta pengembangan hipotesis untuk kedua pertanyaan penelitian. Bagian ketiga atau bab ketiga membahas mengenai metode penelitian yang meliputi kategori pemilihan sampel perusahaan manufaktur yang digunakan, teknik pengumpulan data, definisi operasional dan pengukuran variabel penelitian, dan teknik analisis data.

Bagian keempat membahas mengenai pengujian hipotesis penelitian dan pembahasannya yang meliputi pemilihan sampel, analisis deskriptif, analisis uji asumsi klasik, analisis ordinary least square dan pembahasan hasil pengujian. Bab kelima dan yang terakhir dari penelitian ini membahas mengenai kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil pengujian akrual diskresioner dan kesulitan keuangan terhadap kemungkinan terjadinya manipulasi, dilanjutkan dengan keterbatasan serta saran untuk pengembangan bagi penelitian selanjutnya yang membahas mengenai manipulasi ataupun penggunaan M-score untuk penelitian di Indonesia.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :