1
RESPON PERTUMBUHAN EKSPLAN KAWISTA (LIMONIA ACIDISSIMA L.) TERHADAP BEBERAPA KONSENTRASI NAPHTHALENE ACETIC ACID (NAA) DAN BENZIL AMINO PURINE (BAP)Fanny Purnadyanti
Universitas Singaperbangsa Karawang, Indonesia Email: [email protected]
INFO ARTIKEL ABSTRAK
Diterima 3 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Agustus 2020
Diterima dalam bentuk revisi 20 Agustus 2020
Kawista (Limonia acidissima L.) is a plant belonging to the family Rutaceae (orange-jerukan). Kawista, including plants that grow slowly. Plants that need 15-year-old seeds to bear fruit. In line with the development of science in technology, these challenges can be overcome, among others, through tissue culture. The research method used is an experimental method using factorial design with BAP and NAA composition, in a Completely Randomized Design. Each of the three times, thus the number of tries is 4 x 4 = 16 combination settings. The experimental results showed that the implementation of Naphthalene Acetic Acid (NAA) and Benzyl Amino Purine (BAP) compressions significantly affected the growth component and also clarified the yield components: the percentage of explants that grew, when the sprouts appeared, the roots appeared, the root length of the plantlet, plantlet height, the number of plantlet leaves, plantlet weight, and stem diameter of the plantlet. Based on interactions on plantlet weights with the best results on A3B1 training (NAA 10 ppm + BAP 0.1 ppm) of 0.38 grams. The A1B0 treatment (NAA 0.1 ppm + BAP 0 ppm) at plantlet height with the best results was 5.87 cm, and the root length of the plantlet with the best results was 9.73 cm.
Kata kunci:
Kawista Seeds, Explants, Tissue Culture, Naphthalene Acetic acid (NAA) and Benzyl Amino Purine (BAP).
Pendahuluan
Kawista (Limonia acidissima L.)
merupakan tanaman yang tergolong dalam famili Rutaceae (jeruk-jerukan). Kawista
termasuk tanaman yang pertumbuhnya
lambat. Tanaman yang berasal dari biji memerlukan waktu hingga 15 tahun untuk berbuah. Populasi kawista yang semakin menurun dapat dicegah dengan perluasan lahan tanam yang membutuhkan jumlah bibit yang besar. Ketersediaan bibit saat ini masih kurang. Pengembangan dan peningkatan produksi dipengaruhi oleh beberapa faktor
salah satunya bibit yang berkualitas
(Wattimena, 1986). Sejalan dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan terutama
bidang teknologi, kendala-kendala tersebut dapat diatasi antara lain melalui kultur jaringan.
Kultur in vitro memiliki beberapa keunggulan antara lain (Sunarjono, 2002), penyediaan bibit dapat diprogram sesuai kebutuhan dan jumlah, sifat unggul tetua tetap dimiliki, bibit yang dihasilkan lebih bebas hama dan penyakit (perbanyakan aseptik), dan memiliki keseragaman bahan tanaman yang bagus.
Keberhasilan kultur in vitro sangat
dipengaruhi oleh Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Hormon yang digunakan adalah NAA dan BAP. Naphthalene Acetic Acid (NAA) merupakan auksin yang mempunyai peranan terhadap pertumbuhan sel, dominasi apikal
2
Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020dan pembentukan kalus. Kisaran konsentrasi auksin yang biasa digunakan adalah 0,01 - 10 ppm. Menurut (Nurjanah, 2009), 6-Benzil Amino Purine (BAP) merupakan sitokinin yang paling banyak digunakan dalam kultur
jaringan karena paling efektif untuk
merangsang pembentukan tunas, lebih stabil, dan tahan terhadap oksidasi serta paling murah diantara jenis sitokinin lainnya.
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan di
Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan
Bioteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang. Waktu yang digunakan untuk penelitian pada bulan Maret 2019 – Agustus 2019. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimen
dengan menggunakan rancangan pola
faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap. Rancangan perlakuan pada penelitian ini terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi NAA (A) yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0 ppm, 0.1 ppm, 1 ppm, dan 10 ppm. Faktor kedua konsentrasi BAP (B) yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0 ppm, 0.1 ppm, 1 ppm, dan 10 ppm. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali, dengan demikian banyaknya yang dicobakan ada sebanyak 4 x 4 = 16 kombinasi perlakuan, sehingga didapat 48 unit percobaan.
Hasil dan Pembahasan
1.Pengamatan Penunjang
Pengamatan penunjang merupakan
parameter pengamatan yang mendukung adanya pengamatan utama. Pengamatan penunjang yang dilakukan pada percobaan ini adalah suhu dan kelembaban.
a. Suhu dan Kelembaban
Selama penelitian pada bulan April 2019 sampai dengan Juni 2019, keadaan suhu harian di Laboratorium percobaan. Rata-rata suhu pada percobaan yaitu 28.05 oC , Rata-rata kelembaban pada percobaan yaitu 51.00 % . Suhu maksimum dan minimum yaitu
29.04 oC dan 26.04 oC. Kelembaban maksimum dan minimum yaitu 61.00 % dan 42.00 %.
Suhu yang diperoleh berdasarkan hasil
pengamatan berpengaruh terhadap
pertumbuhan eksplan biji tanaman kawista. Berdasarkan hasil pengamatan rata-rata suhu di laboratorium penelitian yaitu 28.05 oC. Beberapa penelitian in vitro menyebutkan bahwa suhu konstan yang baik adalah antara 20.00 oC – 28.00 oC. Suhu optimum dapat dicapai bila digunakan lampu flouresensi
secara efisien dan ruangan yang
menggunakan “air conditioner” (Wetherell, 1982).
Kelembaban yang diperoleh
berdasarkan hasil pengamatan berpengaruh terhadap pertumbuhan eksplan biji tanaman kawista. Berdasarkan hasil pengamatan rata-rata suhu di laboratorium penelitian yaitu 51.00 %.), kelembaban relatif di ruang kultur
sekitar 70.00%. Wetherell (1982),
mengemukakan bahwa kelembaban ruangan yang rendah akan menyebabkan penguapan air dari media kultur akan terlalu besar. Sebaliknya, kelembaban ruang kultur yang tinggi akan menaikkan derajat kontaminasi. 2. Pengamatan Utama
Pengamatan dilakukan dari setelah penanaman sampai eksplan berumur 10 minggu setelah inokulasi atau 60 hari setelah
inokulasi (hsi), pengamatan dilakukan
terhadap persentase eksplan yang tumbuh (%), waktu muncul kecambah (hsi), waktu muncul akar (hsi), panjang akar plantlet (cm), tinggi plantlet (cm), jumlah daun plantlet (helai), bobot plantlet (gram), dan diameter batang plantlet (cm).
Tabel 1. Data Pengaruh Pemberian
Naphthalene Acetic Acid (NAA) dan Benzil Amino Purine (BAP) terhadap Eksplan
Kawista. Parameter Pengamatan
NAA BAP NAA
dan BAP 1. Waktu
Muncul
Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 3 Kecambah 2. Waktu Muncul Akar 4.62* 4.21* 7.42* 3. Panjang Akar Plantlet 25.92* 41.16* 8.85* 4. Tinggi Plantlet 39.75* 47.34* 11.61* 5. Jumlah Daun Plantlet 20.96* 1.39ns 4.67* 6. Bobot Plantlet 33.75* 13.43* 12.12* 7. Diameter Batang Plantlet 3.40* 1.25ns 2.50* ns : non significant * : significant
Tabel 2. Rerata Parameter Pengaruh Pemberian Naphthalene Acetic Acid (NAA) dan Benzil Amino Purine (BAP) terhadap Eksplan Kawista. Perla kuan Per sen tas e eks pla n yan g tu mb uh (% ) Wakt u munc ul kecam bah (hsi) Wakt u munc ul akar (hsi) Pa nja ng aka r pla ntle t (cm ) Tinggi plantl et (cm) Ju mla h dau n pla ntle t (hel ai) Bo bot pla ntle t (gr am ) Dia met er bat ang pla ntle t (cm ) A0 B0 100 3.33a 5.33a 5.4 7b 4.53bc 3.3 3bc d 0.1 6ef g 1.6 0c A1 B0 100 3.33a 5.33a 9.7 3a 5.87a 4.3 3bc d 0.1 6ef g 1.9 0bc A2 B0 100 3.33a 6.33ab 0.4 7c 4.80ab c 5.6 7bc d 0.2 0de f 2.5 7ab c A3 B0 100 3.33a 6.33ab 2.2 3c 1.10i 2.6 7cd 0.1 8ef g 3.3 3a A0 B1 100 3.33a 5.33a 5.2 7b 5.00ab c 4.0 0bc d 0.1 3g 1.7 0c A1 B1 100 3.33a 5.33a 10. 07a 5.50ab 6.3 3bc 0.1 4fg 1.7 7c A2 B1 100 3.33a 5.33a 2.7 7bc 4.60bc 6.6 7b 0.2 5cd 2.8 3ab A3 B1 100 3.33a 7.00b 0.1 7c 2.93de f 2.0 0d 0.3 8a 1.9 7bc A0 B2 100 3.33a 7.00b 1.0 0c 3.87cd e 4.6 7bc d 0.1 4g 2.0 3bc A1 B2 100 3.33a 5.33a 0.4 0c 1.20 hi 3.0 0bc d 0.2 1de 2.0 3bc A2 B2 100 3.33a 5.33a 0.4 3c 4.00cd 4.0 0bc d 0.2 0de 1.9 3bc A3 B2 100 3.33a 7.00b 0.1 3c 1.73gh i 2.0 0d 0.3 5ab 2.0 0bc A0 B3 100 3.33a 6.00ab 0.4 0c 2.80ef g 11. 00a 0.3 0bc 2.2 7bc A1 B3 100 3.33a 7.00b 0.3 0c 1.17hi 2.0 0d 0.2 0de 1.7 3c A2 B3 100 3.33a 7.00b 0.4 2.27fg 5.0 0.2 2.0 7c h 0bc d 6cd 3bc A3 B3 100 3.33a 5.67a 0.1 3c 1.37hi 2.0 0d 0.2 6cd 2.0 7bc
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%.
1. Persentase eksplan yang tumbuh (%)
Hasil persentase eksplan yang
tumbuh semua perlakuan yaitu pada 48 botol dan 16 perlakuan dan 3 ulangan menunjukkan persentase tumbuh eksplan mencapai 100%. Hal ini disebabkan karena pemberian auksin
dan sitokinin secara eksogen maupun
endogen mampu jadi pemicu dalam
pertumbuhan dan perkembangan jaringan. Hal ini sesuai dengan pendapat Lestari (2011), bahwa penambahan auksin dan sitokinin ke dalam media kultur dapat
meningkatkan konsentrasi zat pengatur
tumbuh endogen di dalam sel, sehingga menjadi “faktor pemicu” dalam proses tumbuh dan perkembangan jaringan.Hal ini disebabkan karena hormon endogen yang ada di dalam eksplan sudah mencukupi untuk pertumbuhan eksplan biji dan ditambah lagi dengan hormon eksogen yaitu NAA dan BAP dengan konsentrasi yang seimbang dapat merangsang pertumbuhan eksplan. Faktor lain yang mendukung keberhasilan persentase tumbuh eksplan pada penelitian ini adalah karena penggunaan media Murashige Skoog (MS) yang mengandung komposisi lengkap
untuk pertumbuhan eksplan. Menurut
(Wahyuni, D. Fitrianingsih, 2009), pemberian hormon dengan beberapa konsentrasi pada media MS memberikan persentase tumbuh eksplan yang baik, karena pada media mengandung vitamin, unsur hara makro dan mikro serta besi dan sukrosa sehingga cukup untuk memacu pertumbuhan eksplan.
2. Waktu muncul kecambah
Hasil uji DMRT pada waktu muncul kecambah berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan NAA, BAP serta interaksi antara NAA dan BAP tidak berpengaruh nyata terhadap waktu muncul kecambah. Hal
4
Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020ini diduga berkaitan dengan kerja auksin dan sitokinin yang belum berimbang. Menurut (Abidin, 2005), kerja auksin dan sitokinin
dalam perimbangan yang tepat akan
menghasilkan pertumbuhan yang optimum. 3. Waktu muncul akar
Hasil uji DMRT pada waktu muncul akar berdasarkan Tabel 2 menunjukkan waktu muncul akar memiliki 2 kelompok hasil rerata yang berbeda antara lain pada perlakuan A0B0 (NAA 0 ppm + BAP 0 ppm), A0B1 (NAA 0 ppm + BAP 0.1 ppm), A1B0 (NAA 0.1 ppm + BAP 0 ppm), A1B1 (NAA 0.1 ppm + BAP 0.1 ppm), A1B2 (NAA 0.1 ppm + BAP 1 ppm), A2B1 (NAA 1 ppm + BAP 0.1 ppm), A2B2 (NAA 1 ppm + BAP 1 ppm), dan A3B3 (NAA 10 ppm + BAP 10 ppm), tidak berbeda nyata pada perlakuan A0B3 (NAA 0 ppm + BAP 10 ppm), A2B0 (NAA 1 ppm + BAP 0 ppm), dan A3B0 (NAA 10 ppm + BAP 0 ppm), tetapi berbeda nyata pada perlakuan A0B2 (NAA 0 ppm + BAP 1 ppm), A1B3 (NAA 0.1 ppm + BAP 10 ppm), A2B3 (NAA 1 ppm + BAP 10 ppm), A3B1 (NAA 10 ppm + BAP 0.1 ppm), dan A3B2 (NAA 10 ppm + BAP 1 ppm). Waktu muncul akar yang lambat terdapat pada perlakuan A0B2 (NAA 0 ppm + BAP 1 ppm), A1B3 (NAA 0.1 ppm + BAP 10 ppm), A2B3 (NAA 1 ppm + BAP 10 ppm), A3B1 (NAA 10 ppm + BAP 0.1 ppm), dan A3B2 (NAA 10 ppm + BAP 1 ppm) dengan waktu selama 7 hari setelah inokulasi. Waktu muncul akar dengan hasil yang cepat dari semua perlakuan terdapat pada A0B0 (NAA 0 ppm + BAP 0 ppm), A0B1 (NAA 0 ppm + BAP 0.1 ppm), A1B0 (NAA 0.1 ppm + BAP 0 ppm), A1B1 (NAA 0.1 ppm + BAP 0.1 ppm), A1B2 (NAA 0.1 ppm + BAP 1 ppm), A2B1 (NAA 1 ppm + BAP 0.1 ppm), A2B2 (NAA 1 ppm + BAP 1 ppm), dan A3B3 (NAA 10 ppm + BAP 10 ppm) sebesar 5.33 hari setelah inokulasi. Hal ini sesuai dengan teori terhadap fungsi hormon auksin yakni mempercepat pembentukan akar adventif
pada konsentrasi yang rendah dan tanpa pemberian hormon yang lain.
Pendapat ini didukung oleh Nisa dalam (Rodinah, 2005), yang menyatakan bahwa medium tanpa sitokinin lebih baik dari pada medium yang mengandung sitokinin untuk pembentukan akar. Sitokinin tidak begitu memiliki peran yang penting, karena sesuai fungsinya sitokinin lebih berperan dalam pembentukan tunas. Pemberian auksin yang
tinggi menyebabkan terhambatnya
perpanjangan akar tetapi meningkatkan
induksi kalus.
4. Panjang akar plantlet
Hasil uji DMRT pada panjang akar plantlet berdasarkan Tabel 2 menunjukkan panjang akar plantlet memiliki 3 kelompok hasil rerata yang berbeda antara lain pada
perlakuan A1B0 (NAA 0.1 ppm + BAP 0
ppm) dan A1B1 (NAA 0.1 ppm + BAP 0.1
ppm), berbeda nyata pada perlakuan A0B0
(NAA 0 ppm + BAP 0 ppm), dan A0B1 (NAA
0 ppm + BAP 0.1 ppm), tidak berbeda nyata
pada perlakuan A2B1 (NAA 1 ppm + BAP 0.1
ppm), tetapi berbeda nyata pada perlakuan
A0B2 (NAA 0 ppm + BAP 1 ppm), A0B3
(NAA 0 ppm + BAP 10 ppm), A1B2 (NAA
0.1 ppm + BAP 1 ppm), A1B3 (NAA 0.1 ppm
+ BAP 10 ppm), A2B0 (NAA 1 ppm + BAP 0
ppm), A2B2 (NAA 1 ppm + BAP 1 ppm), A2B3
(NAA 1 ppm + BAP 10 ppm), A3B0 (NAA 10
ppm + BAP 0 ppm), A3B1 (NAA 10 ppm +
BAP 0.1 ppm), A3B2 (NAA 10 ppm + BAP 1
ppm) dan A3B3 (NAA 10 ppm + BAP 10
ppm). Panjang akar plantlet dengan hasil yang terbaik dari semua perlakuan terdapat pada
A1B0 (NAA 0.1 ppm + BAP 0 ppm) sebesar
9.73 cm dan A1B1 (NAA 0.1 ppm + BAP 0.1
ppm) sebesar 10.07 cm. Panjang akar plantlet dengan hasil terendah terdapat pada perlakuan
A3B2 (NAA 10 ppm + BAP 1 ppm) dan A3B3
(NAA 10 ppm + BAP 10 ppm) sebesar 0.13 cm. Hal ini disebabkan karena konsentrasi yang diberikan pada eksplan telah optimal. Selain itu, konsentrasi auksin yang digunakan dalam percobaan ini juga relatif rendah yakni
Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 5
0,5-2 mg. Hal ini sesuai dengan pendapat (Skoog, F. and Miller, 1975), bahwa untuk perakaran secara in vitro biasanya digunakan auksin dalam konsentrasi rendah. Hal ini disebabkan karena pemberian NAA dapat
menstimulasi terbentuknya akar. NAA
merupakan pilihan yang tepat untuk
menstimulasi akar karena NAA tidak dirusak oleh hormon sintetik seperti BAP selain itu NAA lebih stabil. Pendapat ini sesuai dengan pendapat (Harjadi, 1993), yang menyatakan bahwa pengakaran dapat terjadi lebih cepat bila diberi zat pengatur tumbuh (ZPT), jenis
ZPT dan konsentrasi yang diberikan
menetukan jumlah dan penyebaran akar. 5. Tinggi plantlet (cm)
Hasil uji DMRT pada tinggi plantlet berdasarkan Tabel 2 menunjukkan tinggi plantlet memiliki 9 kelompok hasil rerata
yang berbeda antara lain pada perlakuan A1B0
(NAA 0 ppm + BAP 0 ppm) tidak berbeda
nyata pada perlakuan A1B1 (NAA 0.1 ppm +
BAP 0.1 ppm), tetapi pada perlakuan A3B0
(NAA 10 ppm + BAP 0 ppm) berbeda nyata pada perlakuan lain. Tinggi plantlet yang
terbaik terdapat pada perlakuan A1B0 (NAA
0.1 ppm + BAP 0 ppm) sebesar 5.87 cm, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan
A1B1 (NAA 0.1 ppm + BAP 0.1 ppm) sebesar
5.50 cm. Tinggi plantlet dengan hasil
terendah terdapat pada perlakuan A3B0 (NAA
10 ppm + BAP 0 ppm) sebesar 1.10 cm. Hal ini dapat dihubungkan dengan pendapat (Abidin, 2005), dengan penambahan BAP saja tanpa NAA mampu menginduksi sel-sel tanaman untuk terus berkembang dan bertambah ukurannya. Selain itu hal ini dikarenakan telah tercukupinya kebutuhan auksin secara endogen di dalam biji Kawista dan penambahan BAP untuk sel-sel eksplan tunas biji Kawista mengalami pembelahan dan pembesaran selnya, pembelahan sel
dimulai setelah adanya auksin yang
mempengaruhi sintesis protein dan mitosis, seterusnya pembesaran sel akan berlangsung dengan bantuan hormon sitokinin yang
akhirnya dapat menambah pemanjangan tunas.
6. Jumlah daun plantlet (helai)
Hasil uji DMRT pada jumlah daun
plantlet kawista berdasarkan Tabel 2
menunjukkan jumlah daun plantlet memiliki 4 kelompok hasil rerata yang berbeda antara lain pada perlakuan A0B3 (NAA 0 ppm + BAP 10 ppm) berbeda nyata pada perlakuan lain, tetapi pada perlakuan A2B1 (NAA 1 ppm + BAP 0.1 ppm) tidak berbeda nyata pada perlakuan A1B1 (NAA 0.1 ppm + BAP 0.1 ppm), A0B0 (NAA 0 ppm + BAP 0 ppm), A0B1 (NAA 0 ppm + BAP 0.1 ppm), A0B2 (NAA 0 ppm + BAP 1 ppm), A1B0 (NAA 0.1 ppm + BAP 0 ppm), A1B2 (NAA 0.1 ppm + BAP 1 ppm), A2B0 (NAA 1 ppm + BAP 0 ppm), A2B2 (NAA 1 ppm + BAP 1 ppm), dan A2B3 (NAA 1 ppm + BAP 10 ppm). Perlakuan A1B3 (NAA 0.1 ppm + BAP 10 ppm), A3B1 (NAA 10 ppm + BAP 0.1 ppm), A3B2 (NAA 10 ppm + BAP 1 ppm), dan A3B3 (NAA 10 ppm + BAP 10 ppm) berbeda nyata pada perlakuan lain. Jumlah daun
plantlet yang terendah terdapat pada
perlakuan A1B3 (NAA 1 ppm + BAP 10 ppm), A3B1 (NAA 10 ppm + BAP 0.1 ppm), A3B2 (NAA 10 ppm + BAP 1 ppm), dan A3B3 (NAA 10 ppm + BAP 10 ppm), sebesar 2 helai. Jumlah daun plantlet dengan hasil yang terbaik dari semua perlakuan terdapat pada A0B3 (NAA 0 ppm + BAP 10 ppm) sebesar 11 helai.
Secara umum ZPT dapat membantu peningkatan pertumbuhan tanaman. Interaksi dan perimbangan antara ZPT yang diberikan dalam media dan yang diproduksi oleh sel
secara endogen, menentukan arah
perkembangan suatu kultur. Tanaman yang berbeda dapat merespon ZPT (auksin dan sitokinin) dalam berbagai konsentrasi secara berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kandungan konsentrasi hormon endogen tumbuhan itu sendiri. Jumlah daun sangat mempengaruhi panjang tunas yang terbentuk, yaitu berhubungan dengan proses fotosintesis
6
Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020dan penyerapan hormon NAA dan BAP, hal tersebut seperti diungkapkan (Sipayung, 2010). Makin banyak daun yang terbentuk maka semakin panjang tunas yang tumbuh. Hal itu dikarenakan tunas yang tumbuh telah mampu mengolah makanan sendiri yang diperoleh dari hara mikro dan makro dari media, serta dengan bantuan cahaya yang cukup dapat membantu tunas yang telah berdaun melakukan fotosintesis. Selain itu penyerapan tunas terhadap hormon BAP
mempengaruhi banyaknya daun yang
terbentuk. Makin tinggi penyerapan hormon oleh tunas, maka makin banyak daun yang terbentuk.
7. Bobot plantlet (gram)
Hasil uji DMRT pada bobot plantlet berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bobot plantlet memiliki 7 kelompok hasil rerata yang berbeda antara lain pada perlakuan A3B1 (NAA 10 ppm + BAP 0.1 ppm) tidak berbeda nyata pada perlakuan A3B2 (NAA 10 ppm + BAP 1 ppm), tetapi pada perlakuan A0B3 (NAA 0 ppm + BAP 10 ppm) tidak berbeda nyata pada perlakuan A2B1 (NAA 1 ppm + BAP 0.1 ppm), A2B3 (NAA 1 ppm + BAP 10 ppm), A3B3 (NAA 10 ppm + BAP 10 ppm). Perlakuan A1B2 (NAA 0.1 ppm + BAP 1 ppm), A1B3 (NAA 0.1 ppm + BAP 10 ppm), dan A2B2 (NAA 1 ppm + BAP 1 ppm) tidak berbeda nyata pada perlakuan A2B0 (NAA 1 ppm + BAP 0 ppm), A3B0 (NAA 10 ppm + BAP 0 ppm), A1B0 (NAA 0.1 ppm + BAP 0 ppm) dan A0B0 (NAA 0 ppm + BAP 0 ppm), tetapi pada perlakuan A0B1 (NAA 0 ppm + BAP 0.1 ppm) dan A0B2 (NAA 0 ppm + BAP 1 ppm) berbeda nyata pada perlakuan lain. Bobot plantlet dengan hasil yang terbaik dari semua perlakuan terdapat pada A3B1 (NAA 10 ppm + BAP 0.1 ppm) sebesar 0.38 gram. Bobot plantlet yang terendah terdapat pada perlakuan A0B1 (NAA 0 ppm + BAP 0.1 ppm) sebesar 0.13 gram, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan A0B2 ( NAA 0 ppm + BAP 1 ppm) sebesar 0.14
gram. Hal ini disebabkan dimana
pertumbuhan akar dan tunas yang baik mempengaruhi bobot plantlet, meskipun NAA termasuk golongan auksin. Hal ini
sesuai pendapat (Parera, 1997), yang
mengemukakan bahwa auksin berperan pula dalam penyerapan air yang akan mendorong pemanjangan sel dan pembesaran sel yang dapat meningkatkan bobot atau berat basah tanaman. Pendapat ini juga didukung oleh (Abidin, 2005), yang mengemukakan bahwa fungsi dari hormon auksin adalah membantu proses pertumbuhan akar maupun batang, mempercepat perkecambahan serta membantu proses pembelahan sel. Di dalam proses pembelahan sel maka ukuran eksplan, bentuk dan volume eksplan akan bertambah besar sehingga mempengaruhi berat eksplan. Hal ini serupa pada hasil penelitian (Wulandari, 2004) bobot basah kalus tertinggi pada perlakuan NAA 10 ppm dan BAP 10 ppm sebesar 0.25 gram, hal ini disebabkan konsentrasi NAA dan BAP yang diberikan mampu mendorong terbentuknya kalus lebih cepat dan diikuti pertumbuhan sel sehingga meningkatkan bobot basah kalus.
8. Diameter batang plantlet (cm)
Hasil uji DMRT pada diameter
batang plantlet berdasarkan Tabel 2
menunjukkan diameter batang plantlet
memiliki 3 kelompok hasil rerata yang berbeda antara lain pada perlakuan A3B0 (NAA 10 ppm + BAP 0 ppm) tidak berbeda nyata pada perlakuan A3B1 (NAA 10 ppm + BAP 0.1 ppm), tetapi pada perlakuan A2B0 (NAA 1 ppm + BAP 0 ppm) tidak berbeda nyata pada perlakuan A0B2 (NAA 0 ppm + BAP 1 ppm), A0B3 (NAA 0 ppm + BAP 10 ppm), A1B0 (NAA 0.1 ppm + BAP 0 ppm), A1B2 (NAA 0.1 ppm + BAP 1 ppm), A2B2 (NAA 1 ppm + BAP 1 ppm), A2B3 (NAA 1 ppm + BAP 10 ppm), A3B1 (NAA 10 ppm + BAP 0.1 ppm), A3B2 (NAA 10 ppm + BAP 1 ppm), dan A3B3 (NAA 10 ppm + BAP 10 ppm). Pada perlakuan A0B0 (NAA 0 ppm + BAP 0 ppm), A0B1 (NAA 0 ppm + BAP 0.1 ppm), A1B1 (NAA 0.1 ppm + BAP 0.1 ppm)
Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 7
dan A1B3 (NAA 0.1 ppm + BAP 10 ppm) berbeda nyata pada perlakuan lain. Diameter batang yang terkecil terdapat pada perlakuan A0B0 (NAA 0 ppm + BAP 0 ppm) 1.60 cm, A0B1 (NAA 0 ppm + BAP 0.1 ppm) 1.70 cm, A1B1 (NAA 0.1 ppm + BAP 0.1 ppm) 1.77 cm, dan A1B3 (NAA 0.1 ppm + BAP 10 ppm) 1.73 cm). Diameter batang dengan hasil yang terbesar terdapat pada perlakuan A3B0 (NAA 10 ppm + BAP 0 ppm) sebesar 3.33 cm.
Penambahan NAA pada media
menyebabkan sel-sel aktif dalam mengontrol
proses dasar seperti pembelahan sel,
pembesaran sel, menaikkan tekanan osmotik, dan meningkatkan sintesis protein. Di dalam jaringan auksin terlibat dalam pembentukan dan pemeliharaan polaritas di seluruh
tanaman, efeknya ditandai dengan
pemeliharaan dominasi apikal (George et al.,
2008). Penggunaan media yang bisa
menyerap dan menyimpan nutrisi lebih banyak akan membuat akar lebih mudah menyerap nutrisi sehingga akan mendukung pertumbuhan tanaman terutama diameter batang.
Kesimpulan
Terdapat pengaruh nyata pada
parameter waktu muncul akar, panjang akar plantlet, tinggi plantlet, jumlah daun plantlet, bobot plantlet, dan diameter batang plantlet, dalam penambahan beberapa konsentrasi hormon Naphthalene Acetic Acid (NAA) dan Benzil Amino Purine (BAP) terhadap
pertumbuhan eksplan kawista (Limonia
acidissima L.). Terdapat interaksi pada bobot plantlet dengan hasil yang terberat perlakuan A3B1 (NAA 10 ppm + BAP 0.1 ppm) sebesar 0.38 gram. Perlakuan A1B0 (NAA 0.1 ppm + BAP 0 ppm) pada tinggi plantlet dengan hasil yang tertinggi sebesar 5.87 cm dan panjang akar plantlet dengan hasil yang terpanjang sebesar 9.73 cm.
BIBLIOGRAFI
Abidin, Z. (2005). Dasar-dasar Pengetahuan
tentang Zat Pengatur Tumbuhan.
Penerbit Angkasa Press.
George, E. F., Hall, M. A., & De Klerk, G.-J. (2008). The components of plant tissue culture media I: macro-and micro-nutrients. In Plant propagation by tissue
culture (pp. 65–113). Springer.
Harjadi, S. S. (1993). Pengantar Agronomi. Gramedia.
Nurjanah, E. (2009). Pengaruh kombinasi
NaCI Dan ZPT IBA pada media MS terhadap pertumbuhan galur mutan padi secara In Vitro.
Parera, D. F. (1997). Pengaruh tingkat
konsentrasi air kelapa terhadap
pertumbuhan dan perbanyakan tanaman anggrek Dendrobium spp. melalui teknik kultur jaringan. GOTI-Jurnal
Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Universitas Pattimura, 2.
Rodinah, N. C. (2005). Kultur Jaringan Beberapa Kultivar Buah Pisang (Musa paradisiacal L.) dengan Pemberian Campuran NAA dan Kinetin. Jurnal
Bioscientiae, 2, 23–36.
Sipayung, E. N. (2010). Respon Tunas
Gaharu (Aquilaria malacensis) secara In Vitro terhadap Pemberian ZPT.
Skoog, F. and Miller, C. O. (1975). Chemical
regulation of growth and organ formation. Symposium of the Society
for Experimental Biology.
Sunarjono, H. (2002). Budidaya Pisang dengan Bibit Kultur Jaringan. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Wahyuni, D. Fitrianingsih, A. (2009). Teknik
Pemberian Benzyl Amino Purine untuk Memacu.