• Tidak ada hasil yang ditemukan

HARAPAN PELAKU USAHA KEPADA PEMERINTAH BARU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HARAPAN PELAKU USAHA KEPADA PEMERINTAH BARU"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

HARAPAN PELAKU USAHA KEPADA

PEMERINTAH BARU

Supriatna Suhala

Direktur Eksekutif APBI-ICMA

Disampaikan pada :

INDONESIA MINING OUTLOOK 2015

(2)
(3)

 Sejak awal tahun 2012 sampai saat ini harga batubara mengalami

trend menurun yang belum ada tanda-tanda untuk “recovery”;

 Penurunan harga batubara yang berkepanjangan ini pada dasarnya

disebabkan oleh “ over supply “ di pasar dunia ;

 Pasar batubara di Asia dibanjiri oleh batubara dari Benua Amerika .

Di Amerika saat ini “shale gas” mulai menggeser batubara sebagai

sumber primer sebagai akibat adanya kebijakan Pemerintahan

Presiden Obama yang lebih Pro Lingkungan dan sejalan dengan Kyoto

Protocol ;

 Kebijakan Pemerintah PR China untuk mengurangi emisi CO

2

mengakibatkan PR China akan lebih banyak menggunakan gas alam

dari Rusia, pembangunan PLTU Nuklir didalam negeri serta

membangun lebih banyak PLTA ;

PENDAHULUAN

(4)

 Harga batubara yang rendah berkepanjangan telah memukul banyak

perusahaan tambang batubara Indonesia khususnya yang

mempunyai stripping ratio besar dan berkalori rendah ;

 Situasi sulit yang dihadapi oleh perusahaan tambang batubara

Indonesia saat ini diperparah oleh kebijakan pemerintah untuk

menaikan tarif-tarif PNBP dan Pajak Daerah yang memberatkan .

(5)

TANTANGAN UTAMA INDUSTRI

TAMBANG BATUBARA SAAT INI

(6)

1. KEPASTIAN HUKUM;

2. PENGAWASAN DAN PENEGAKAN HUKUM YANG LEMAH;

3. HARGA BATUBARA YANG RENDAH DAN BERKEPANJANGAN;

4. BIAYA OPERASI YANG TINGGI;

5. PERKEMBANGAN KONSUMSI BATUBARA DI DALAM NEGERI YANG

LAMBAT ;

6. PENINGKATAN NILAI TAMBAH.

TANTANGAN UTAMA INDUSTRI TAMBANG BATUBARA SAAT INI

(7)

 Masalah Renegosiasi Kontrak (PKP2B) ;

 Koordinasi kewenangan antara instansi pemerintah (contoh untuk peningkatan nilai

tambah batubara terdapat potensi tumpang tindih kewenangan dari ESDM dan Kemenperin) ;

 Optimalisasi penerimaan negara yang dilakukan tanpa memperhatikan kepastian

hukum khususnya bagi pemegang PKP2B ;

 Ketidakpastian hukum sebagai implikasi dari UU Pemerintah Daerah yang baru (UU

No. 23 Tahun 2014).

(8)

2. PENGAWASAN DAN PENEGAKAN HUKUM YANG LEMAH

 Terbatasnya jumlah dan kemampuan pelaksana Inspektur tambang;

Kualitas dan kemampuan aparatur Dinas Pertambangan yang masih perlu

ditingkatkan;

(9)

299 353 384 424 210 287 340 349 89 66 44 75 0 100 200 300 400 500 2010 2011 2012 2013 Badan Pusat Statistik (BPS) KESDM Selisih Juta Ton Sumber :

KESDM dan Statistical Yearbook of Indonesia 2014, Badan Pusat Statistik Indonesia EKSPOR BATUBARA INDONESIA

YANG TIDAK TERVERIFIKASI

( Versi Kementerian ESDM VERSUS Versi Badan Pusat Statistik ) 2. PENGAWASAN DAN PENEGAKAN HUKUM YANG LEMAH

(10)

3. HARGA BATUBARA YANG RENDAH DAN BERKEPANJANGAN

 Oversupply yang disebabkan peningkatan produksi batubara di negara-negara produsen batubara sebagai dampak tingginya harga batubara pada periode 2007 – 2011;

 Menurun pertumbuhan ekonomi di PRC yang mendorong rendahnya

permintaan batubara dari Tiongkok;

(11)

11 63.84 0 20 40 60 80 100 120 140 Ja n-1 1 Ap r-1 1 Ju l-11 O ct-1 1 Ja n -1 2 Ap r-1 2 Ju l-12 O ct-1 2 Ja n-1 3 Ap r-1 3 Ju l-13 O ct-1 3 Ja n-1 4 Ap r-1 4 Ju l-14 O ct-1 4 Ja n-1 5 6322 Kcal/kg GAR 5700 Kcal/kg GAR 5000 Kcal/kg GAR 4200 Kcal/kg GAR Grafik HBA & HPB (Januari 2011- Januari 2015)

USD/MT

Lanjutan 3. HARGA BATUBARA YANG RENDAH DAN BERKEPANJANGAN

(12)

4. BIAYA OPERASI PRODUKSI YANG TINGGI

 Pemilihan teknologi dalam operasi penambangan perlu di review kembali;

Masih banyak ekonomi biaya tinggi yang disebabkan prinsip “ No Service

But Must Pay “ ;

(13)

5. PERKEMBANGAN KONSUMSI BATUBARA DI DALAM NEGERI YANG LAMBAT

2009 2010 2011 2012 2013 2014

Produksi (Juta Ton) 254 275 353 412 474 458 Ekspor (Juta Ton) 198 210 287 345 402 382 Penjualan Domestik (Juta Ton) 56 65 66 67 72 76 Harga Rata-Rata Batubara

(14)

254 275 353 412 474 458 198 210 287 345 402 382 76 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 100 150 200 250 300 350 400 450 500

Produksi (Juta Ton)

Ekspor (Juta Ton)

Penjualan Domestik (Juta Ton)

JUTA TON USD/Mt

5. PERKEMBANGAN KONSUMSI BATUBARA DI DALAM NEGERI YANG LAMBAT Lanjutan

(15)

Pasal 95 Butir C :

“ Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumberdaya mineral dan /atau batubara”

Pasal 102 :

“ Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumberdaya mineral dan/atau batubara dalam pelaksanaan penambangan, pengolahan dan pemurnian serta pemanfaatan mineral dan batubara”

Pasal 103 :

“ Pemegang IUP dan IUPK OP wajib melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan didalam negeri”

Pasal 170 :

“ Pemegang Kontrak Karya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah berproduksi wajib melakukan

pemurnian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak UU ini di undangkan”

TIDAK ADA BATAS WAKTU UNTUK KEWAJIBAN HILIRISASI BATUBARA, YANG ADA HANYA UNTUK MINERAL

HILIRISASI BATUBARA DALAM UU No. 4 Tahun 2009

(16)

 Crushing, Screening, Washing

 Coal Blending

 Coal Upgrading

 Mine Mouth Power Plant

 Coal Briqueting

 Coal Conversion :

- Gasification ( CTG ) - Liquifaction ( CTL )

Lanjutan

BERBAGAI BENTUK PENINGKATAN NILAI TAMBAH BATUBARA

(17)

 Pembayaran Royalti ( di Hulu Versus di Hilir ) ;

 Rezim perizinan ( Kementerian ESDM vs Kementerian Perindustrian );  Masalah Kepemilikan ( Divestasi );

 Masalah incentives Fiscal ( Industry Dasar - Frontier );  Alokasi Batubara ( Single Source vs Multi Source );

 Tata Niaga/ Tata Kelola Produk ( Liberalisasi Produk vs Regulated Product );  Perpanjangan IUP / IUPK dengan syarat;

 Saat ini sektor pertambangan menjadi kurang menarik lagi bagi institusi keuangan ( akibatnya perusahaan tambang sulit mendapatkan pinjaman ).

Lanjutan

BERBAGAI ISSUE PENINGKATAN NILAI TAMBAH BATUBARA

(18)

HARAPAN PELAKU PERTAMBANGAN

BATUBARA KEPADA PEMERINTAH BARU

(19)

1. MEMBERIKAN KEPASTIAN HUKUM

Menghormati kontrak – kontrak yang ada;

Renegosiasi dilakukan dengan prinsip “ Take and Give”;

Optimalisasi penerimaan negara sepanjang yang menyangkut tarif

diperlukan “duduk bersama” . Kenaikan tarif diminta yang wajar;

Pembagian kewenangan diantara instansi pemerintah harus

diperjelas;

Revisi UU No. 4/2009 dan seluruh Peraturan Pemerintah (PP)

dibawahnya (terkait terbitnya UU No. 23/2014 ) perlu

memperhatikan kepastian hukum dan kelangsungan bisnis

pertambangan.

(20)

2. MENINGKATKAN SISTEM PENGAWASAN DAN

PENEGAKAN HUKUM

 Menambah jumlah dan meningkatkan kemampuan pelaksana inspeksi ( Inspektur ) tambang melalui pelatihan dan sertifikasi;

 Menerapkan sistem pengawasan elektronik ( IT ) dan sistem penginderaan jauh ( remote sensing – satelite );

Menutup tambang – tambang illegal yang tidak “comply” dengan Undang - Undang dan regulasi .

(21)

3. MEMANFAATKAN MOMENTUM HARGA BATUBARA

YANG SEDANG RENDAH

 Meningkatkan pemanfaatan batubara di berbagai sektor industri di dalam negeri;

 Mendorong pembangunan PLTU mulut tambang dengan memberikan insentif ;

Mendorong tambang – tambang batubara untuk menggunakan sumber energi sendiri dalam operasinya .

(22)

4. PENGURANGAN BIAYA OPERASI TINGGI YANG

DISEBABKAN OLEH BIROKRASI DI PEMERINTAHAN

Menghilangkan praktek – praktek pungli / “ No Service But Must

Pay “ ;

(23)

5. MENYEDIAKAN BERBAGAI INSENTIF BAGI USAHA

INDUSTRI PENINGKATAN NILAI TAMBAH BATUBARA

 Keharusan melakukan divestasi diberikan lebih panjang;

Disediakan “fiscal insentives” untuk industri yang bersifat “frontier” ( Pertama di Indonesia ) ;

Industri hilir diperbolehkan mendapat “multi source” untuk bahan baku ; Produk hilir diberikan kebebasan untuk dipasarkan ;

(24)

Terima Kasih

Sekretariat APBI-ICMA :

Menara Kuningan Building, 1st Floor - Suite A,M & N

Jl. HR Rasuna Said Block X-7, Kav. 5 Jakarta 12940 – INDONESIA

Supriatna Suhala

Referensi

Dokumen terkait

untuk menjelaskan dua, tiga atau lebih judul pembahasan ilmu nahwu, seperti kata ٍجاَشْمَأ pada ayat ke-2 surat Al-Insan yang mengandung 2 aspek perbedaan I’rab

Bagian identitas abstrak diketik hanya dengan satu spasi dan dicetak tebal, nama penulis diketik dengan huruf besar sedangkan judul hanya huruf awal dari setiap kata yang

Selain itu, untuk menjamin bahwa masyarakat Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember pada khususnya terlindung dari bahan pangan yang membahayakan kesehatan yaitu

Dengan lain kata, KB tidak mampu menggantikan peranan Penasihat Syariah, yang walaupun tidak termaktub dalam undang- undang sedia ada untuk menzahirkan konsep urbanisme,

1) Bentuk dan rumusan/formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi yang diterapkan dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Dari penelitian yang telah dilakukan menggunakan bahan-bahan hukum yang telah ditentukan, dapat dilihat secara jelas bahwa masih adAnya celah kekosongan norma

a. Menghadiri rapat Direksi dan rapat gabungan antara Dewan Pengawas dengan Direksi. Menyiapkan bahan penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Sekretaris

Tiu: Barangkali hal yang paling menyedihkan adalah bahwa prilaku mereka itu bisa dengan mudah mencemar hal-hal yang baik yang telah dilakukan oleh staf internasional yang berada di