SKRIPSI. Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.

138 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

P E N G A R U H R E L I G I U S I T A S T E R H A D A P

M I N A T M E N A B U N G D I B A N K S Y A R I A H

(Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan)

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E)

Disusun Oleh:

PENI DARMISAH

NIRM. 1209.16.07948

P R O G R A M S T U D I E K O N O M I S Y A R I A H

S EK OLA H T IN G GI A GA MA ISLA M (ST A I )

A U L I A U R R A S Y I D I N - T E M B I L A H A N

1 4 4 2 H / 2 0 2 0 M

(2)
(3)

i

ABSTRAK

PENI DARMISAH, 2020 “PENGARUH RELIGIUSITAS TERHADAP MINAT MENABUNG DI BANK SYARIAH (STUDI KASUS MAHASISWA PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH STAI AULIAURRAYIDIN TEMBILAHAN)”

Sebagai mahasiswa yang memiliki latar belakang pendidikan Ekonomi Syariah, dari masing-masing mahasiswa tentunya mempunyai persepsi yang berbeda dalam memandang Perbankan Syariah. Pengetahuan mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah tentu menjadikan minat menabung di Perbankan Syariah sangatlah besar. Hal ini dapat menjadikan religiusitas yang dimiliki bisa mempengaruhi minat mereka terhadap Bank Syariah. Namun, yang terlihat masih ada beberapa mahasiswa membandingkan antara Bank Syariah dan Bank Konvenisonal. Dari keraguan antara sistem operasional dalam menabung, mempersamakan pembiayaan atau potongan, dan melihat keberadaan Bank Konvensional lebih terjangkau dibandingkan Bank Syariah untuk daerah yang terpencil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan dari religiusitas terhadap minat menabung di Bank Syariah. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah STAI Auliaurrasyidin Tembilahan sedangkan objek penelitiannya adalah pengaruh religiusitas terhadap minat menabung di Bank Syariah.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif karena hasil data yang didapat merupakan kumpulan dari pada angka-angka. Dengan menggunakan metode regresi sederhana. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan.

Hasil dari regresi menunjukkan nilai t hitung sebesar 14,832 sehingga t tabel 1,975 < t hitung 14,832 dengan signifikansi 0,000 dibawah dari 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa religiusitas secara signifikan berpengaruh terhadap minat menabung mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah di Bank Syariah.

(4)
(5)

iii

(6)

iv MOTTO



⧫⧫☺

❑

⧫◆❑

✓◆

⧫◆

⬧

◼⧫

❑→



Artinya:

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

(7)

v

PERSEMBAHAN Alhamdulillah Yaa Rabb ..

Engkau telah membantu hamba Mu dalam segala kesulitan, ketidakputusasa, dan kemudahan yang kini telah memberikan jalan hingga sampai ke tujuan

Syukur atas Rahmat dan Karunia yang telah Engkau beri atas ilmu-ilmu yang berlimpah sebagai bekal hamba dikemudian hari

hingga sampai dipenghujung akhir skripsi ini

Skripsi ini sebagai ibadah yang telah hamba laksanakan kepada Allah SWT Saya persembahkan tulisan ini sebagai wujud terimakasih untuk : Bapak Husni dan Ibu Sadariah yang telah memberikan semua pengorbanan,

kasih sayang, dukungan dan doa yang tiada henti dipanjatkan untuk keberhasilan saya dimasa depan. Semoga ini langkah awal pembuka untuk

membahagiakan ayah dan ibu

Adik Rahmat Fixri Juniansyah dan Keluarga besar yang selalu memberikan inspirasi, dukungan, semangat dan doa

Dosen pembimbing Bapak Sai’in, S.E.I., M.E.Sy yang selalu memberikan bimbingan hingga skripsi ini bisa dengan selesai dan teruntuk semua Dosen terkhusus Dosen Ekonomi Syariah STAI Auliaurrasyidin Tembilahan yang selalu

memberikan ilmu, nasehat, dan arahan

Untuk semua sahabat Fitri Rahmah, Dessy Trimulyani, Delvi Hamiska P, Afdila, Zikrillah Rahmayanti, Elesiya Dea P, Dini Marsilia, M. Dwi Pandi, Reski, Windri, Fahruzi, Pahrul Anwar, dan semua orang yang saya sayangi yang tiada

henti memberikan ilmu, nasehat, bahkan dorongan semangat yang kuat Keluarga besar Ekonomi Syariah terkhusus Angkatan I yang selama ini berjuang

(8)
(9)

vii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan Kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang telah memberikan rahmat, hidayah dan petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Religiusitas Terhadap Minat Menabung Di Bank Syariah (Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Ekonomi

Syariah STAI Auliaurrasyidin Tembilahan)". Skripsi ini ditulis sebagai salah satu

persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana Program Studi Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Auliaurrasyidin Tembilahan.

Penulisan skripsi ini dapat terwujud berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada:

1. Bapak H. Kursani, S.Pd.I. selaku Ketua Yayasan STAI Auliaurrasyidin. 2. Bapak Syarifuddin, S.Pd.I., M.Pd.I. sebagai Ketua Umum STAI

Auliaurrasyidin Tembilahan.

3. Bapak M. Ridhwan, S.Pd., M.Ed. selaku Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Bapak H. Deddy Yusuf Yudhayarta, S.Mn, M.Pd.I., selaku Wakil Ketua II Bidang Administrasi Umum Perencanaan dan Keuangan, Bapak Dr. Ir. H. Sahruddin, M.M. selaku Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama STAI Auliaurrasyidin Tembilahan.

4. Bapak Sai’in, S.E.I., M.E.Sy. selaku Ketua Program Studi Ekonomi Syariah dan selaku Pembimbing Skripsi di STAI Auliaurrasyidin Tembilahan.

(10)

viii

5. Bapak dan Ibu Dosen STAI Auliaurrasyidin Tembilahan yang telah memberikan ilmunya kepada peneliti.

6. Bapak dan Ibu Karyawan TU STAI Auliaurrasyidin Tembilahan yang telah membantu penyelesaian skripsi ini.

7. Semua Pihak Kampus STAI Auliaurrasyidin Tembilahan yang telah bersedia memberikan waktu dan tempat untuk penelitian.

8. Orang Tua dan Keluarga yang telah memberikan bantuan dan motivasi untuk menyelesaikan tugas akhir skripsi ini.

9. Serta sahabat dan semua teman terdekat terkhusus keluarga besar Ekonomi Syariah terkhusus Angkatan I yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung.

Penulis telah berusaha sesuai dengan kemampuan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Namun demikian, penulis sangat menghargai masukan yang positif dari pembaca guna kesempurnaan skripsi ini. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi Program Studi Ekonomi Syariah.

Tembilahan, 27 Mei 2020

(11)

ix

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL

ABSTRAK ... i

BERITA ACARA PENGESAHAN BIMBINGAN ... ii

BERITA ACARA UJIAN SKRIPSI ... iii

LEMBARAN MOTTO PENULIS ... iv

PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DARTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Batasan Masalah ... 9

D. Rumusan Masalah ... 10

E. Tujuan Penelitian ... 10

F. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II KAJIAN TEORI A. Religiusitas ... 12

1. Pengertian religiusitas ... 12

2. Fitrah manusia untuk beragama ... 17

3. Faktor-faktor religiusitas ... 20

4. Fungsi agama (religius) bagi manusia ... 21

5. Dimensi religiusitas ... 23

6. Perspektif islam tentang religiusitas ... 25

7. Hubungan manusia dengan agama ... 29

B. Minat menabung ... 33

1. Pengertian minat ... 33

(12)

x

3. Pengertian menabung ... 36

4. Beberapa jenis tabungan di Bank Syariah ... 38

5. Perbedaan antara menabung Bank Syariah dan Bank Konvensional ... 40

C. Bank Syariah ... 43

1. Pengertian Bank Syariah ... 43

2. Fungsi Bank Syariah ... 44

3. Produk-produk Bank Syariah ... 46

D. Kajian Penelitian yang Relevan ... 50

E. Asumsi Penelitian ... 52

F. Hipotesis ... 52

G. Konsep Operasional ... 53

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 56

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 57

1. Tempat penelitian ... 57

2. Waktu penelitian... 57

C. Subjek dan Objek Penelitian ... 57

1. Subjek penelitian ... 57

2. Objek penelitian ... 57

D. Populasi dan Sampel Penelitian ... 58

1. Populasi penelitian ... 58

2. Sampel penelitian ... 58

E. Teknik Pengumpulan Data ... 59

1. Kuesioner (Angket) ... 59

2. Dokumentasi ... 60

F. Instrumen Penelitian ... 60

1. Jenis Intrumen ... 60

2. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 61

G. Teknik Analisis Data ... 62

1. Regresi Linear Sederhana ... 62

2. Uji Hipotesis ... 63

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Sejarah Singkat STAI Auliaurrasyidin Tembilahan ... 65

B. Penyajian Data ... 67

1. Penyajian data hasil dokumentasi ... 67

2. Penyajian data hasil penelitian ... 86

C. Analisis Data ... 100

1. Hasil Uji Instrumen ... 100

2. Pengujian Hipotesis ... 102

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 107

(13)

xi B. Saran ... 108 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel Hal 1. Transformasi dari Variabel Religiusitas dan Minat Menabung ... 54

2. Jumlah Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah Tahun 2016-2019 ... 58

3. Skor Untuk Jawaban Pernyataan... 60

4. Profil Prodi STAI Auliaurrasyidin Tembilahan ... 72

5. Profil Dosen Tetap STAI Auliaurrasyidin Tembilahan ... 73

6. Profil Dosen Tidak Tetap STAI Auliaurrasyidin Tembilahan ... 76

7. Profil Tenaga Kependidikan STAI Auliaurrasyidin Tembilahan ... 79

8. Sarana dan Prasarana STAI Auliaurrasyidin Tembilahan ... 80

9. Jumlah Mahasiswa 3 Tahun Terakhir STAI Auliaurrasyidin Tembilahan ... 81

10.Jumlah Alumni sampai dengan Februari 2019 STAI Auliaurrasyidin Tembilahan ... 81

11.Karakteristik Responden Jenis Kelamin ... 86

12.Penyajian Data Hasil Angket Variabel X ... 87

13.Penyajian Data Hasil Angket Variabel Y ... 93

14.Hasil Uji Validitas Variabel Religiusitas (X) ... 100

15.Hasil Uji Validitas Variabel Minat Menabung (Y) ... 101

16.Hasil Uji Reliabilitas ... 102

17.Hasil Output Estimasi Regresi ... 103

18.Hasil Analisis Uji R2 ... 104

19.Hasil Analisis Uji F ... 105

20.Hasil Analisis Uji T ... 106

(14)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

(15)
(16)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia sebagai sebuah negara berpenduduk Muslim terbesar dunia baru pada akhir-akhir abad ke-20 ini memiliki bank-bank yang mendasarkan pengelolaannya pada prinsip syariah. Pada awal-awal berdirinya negara Indonesia perbankan masih berpegang pada sistem konvensional atau sistem bunga bank (interest system).1

Perbankan adalah lembaga yang mempunyai peran utama dalam pembangunan suatu negara. Peran ini terwujud dalam fungsi bank sebagai lembaga intermediasi keuangan (financial intermediary institution), yakni menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Perbankan syariah merupakan institusi yang memberikan layanan jasa perbankan berdasarkan prinsip syariah. Prinsip syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Prinsip ini menggantikan prinsip bunga yang terdapat dalam sistem perbankan konvensional.2

1Khotibul Umam, S.H., LL.M., Perbankan Syariah: Dasar-dasar dan Dinamika

Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016) hlm. 26.

(17)

2

Prinsip utama operasional bank yang berdasarkan pada prinsip syariah adalah hukum islam yang bersumber dari Al-qur’an dan Alhadis. Kegiatan operasional bank harus memperhatikan perintah dalam Al-qur’an dan Sunnah Rasul Muhammad SAW. Larangan terutama berkaitan dengan kegiatan bank yang dapat diklasifikasikan sebagai riba.3 Islam tidak menyukai umatnya melakukan riba, bagi seorang muslim yang melakukan riba adalah haram hukumnya.4 Allah SWT dalam Al-qur’an berfirman:

⧫



❑⧫◆

❑→



⬧◆

⧫

◆⧫



❑⧫





⧫✓⬧



⬧



❑➔➔⬧

❑⬧⬧

⬧





❑◆◆

◆

➔

→◼⬧



→◆❑



❑☺→⬧

◆

❑☺◼→➔



3Totok Budisantoso, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, (Jakarta: Salemba Empat, 2017), hlm.

207.

(18)

3

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 278-279)5

Karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bsgi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.6

Secara kelembagaan bank syariah pertama kali yang berdiri di Indonesia adalah PT Bank Muamalat Indonesia (BMI), kemudian baru menyusul

bank-5Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Diponegoro, 2008),

hlm.47.

6Julius R. Latumaerissa, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, (Jakarta: Salemba Empat, 2013),

(19)

4

bank lain yang membuka jendela syariah (islamic window) dalam menjalankan kegiatan usahanya. Sedangkan secara yuridis di tataran undang-undang di mulai pada tahun 1992 dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan yang memuat ketentuan-ketentuan yang secara eksplisit memperbolehkan pengelolaan bank berdasarkan prinsip bagi hasil (profit and

loss sharing). Hal tersebut dipertegas melalui Peraturan Pemerintah Nomor 72

Tahun 1992 tentang Bank berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. Kemudian dipertegas lagi melalui Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 yang merupakan amandemen dari Undang-undang Nomor 7 tahun 1992. Dalam Undang-undang nomor 10 tahun 1998 ini secara tegas membedakan bank berdasarkan pada pengelolaannya terdiri dari bank konvensional dan bank syariah, baik itu di bank umum maupun bank perkreditan rakyat. Dengan di undangkannya Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 yang memberikan landasan hukum yang lebih kuat bagi keberadaan sistem perbankan syariah, serta kemudian disusul oleh keluarnya Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana yang telah diubah dengan undang-undang nomor 3 tahun 2004 yang memberikan kewenangan kepada Bank Indonesia untuk dapat pula menjalankan tugasnya berdasarkan prinsip syariah, menyebabkan industri perbankan syariah berkembang lebih cepat.7

Dengan lahirnya bank Islam yang beroperasi berdasarkan sistem bagi hasil sebagai pengganti dari bunga pada bank-bank konvensional, menjadikan

(20)

5

peluang bagi umat Islam untuk memanfaatkan jasa bank seoptimal mungkin. Hubungan antara umat muslim dengan perbankan dapat menjadi tenang tanpa adanya keraguan dan tentunya didasari oleh motivasi keagamaan yang kuat.

Saat ini sebagian besar masyarakat hanya melihat bahwa nilai tambah bank syariah adalah lebih halal dan selamat, lebih menjanjikan untuk kebaikan akhirat, dan juga lebih berorientasi pada menolong antar sesama dibandingkan dengan bank konvensional. Hal tersebut memang benar, namun bank syariah memiliki keuntungan duniawi karena produk-produknya tidak kalah bersaing dengan bank-bank konvensional dan juga bagi hasil yang ditawarkan tidak kalah menguntungkan dibandingkan dengan bunga. Peranan bank konvensional yang telah berdiri lebih dahulu dibandingkan bank syariah, sudah memenuhi kebutuhan masyarakat dalam melakukan transaksi perbankan.

Hal ini menjadikan sebagian masyarakat muslim sudah menggunakan jasa bank konvensional, karena bank konvensional dianggap memiliki fasilitas yang lebih lengkap, dan cabang yang lebih tersebar di sebagian penjuru kota di Indonesia. Adanya bank syariah di Indonesia menjadi pilihan bagi sebagian umat muslim di Indonesia untuk menggunakan jasa perbankan syariah, namun masih banyak yang tetap menggunakan bank konvensional dengan berbagai pertimbangan. Berikut ini perkembangan perbankan syariah di Indonesia:

(21)

6

Gambar I.1

Perkembangan Lembaga Perbankan Syariah Di Indonesia periode 2015-2018 Sumber: Otoritas Jasa Keuangan Syariah (2015-2018)

Jika dilihat dari grafik diatas dari sumber Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Syariah, setiap tahunnya perkembangan perbankan syariah di Indonesia tidak stabil. Kenaikan dan penurunan setiap periode jumlah dari BUS, UUS, BPRS itu sendiri bisa dilihat bahwasanya bank syariah bukanlah menjadi prioritas mereka dalam menentukan pilihan untuk menggunakan jasa perbankan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat belum memahami secara benar konsep bank syariah sebagai institusi keuangan Islam yang sebenarnya bertujuan lebih dari sekedar itu.

Berdasarkan alasan dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada 12 Januari 2020, peneliti menyimpulkan hasil wawancara beberapa mahasiswa masih memperbandingkan keraguan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional. Dari sistem operasional dalam menabung, mempersamakan

1.990 1869 1825 1875 311 283 332 166 344 441 354 495 0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 2015 2016 2017 2018

INDUSTRI PERBANKAN

(22)

7

pembiayaan atau potongan, keberadaan Bank Konvensional lebih terjangkau dibandingkan Bank Syariah untuk daerah yang terpencil.

Dengan latar belakang pendidikan Ekonomi syariah, dari masing-masing mahasiswa mempunyai persepsi berbeda dalam memandang perbankan syariah. Dari keseluruhan jumlah mahasiswa jurusan ekonomi syariah mempunyai kecenderungan yang berbeda pula dalam memilih dan menggunakan jasa perbankan syari'ah, dengan berbagai alasan masing-masing. Pengetahuan mahasiswa jurusan ekonomi syariah bisa menjadikan minat menabung di perbankan syariah sangatlah besar. Mereka lebih mengetahui bagaimana sistem ataupun operasional dari perbankan syariah melalui ranah pendidikan dan aplikasi mereka dengan menjadi salah satu nasabah di perbankan syariah, serta produk-produk unggulan yang dimiliki bank syariah.

Berbagai alasan yang memicu mahasiswa enggan menabung di Bank Syariah, sebagian merupakan alasan dari dalam diri dan sebagian lagi merupakan alasan dari luar. Alasan dari dalam misalnya sikap mahasiswa terhadap bank syariah dan religiusitas mahasiswa. Mahasiswa merasa malas menabung, meskipun pada dasarnya mereka berminat. Hal ini merupakan contoh sikap mahasiswa terhadap bank syariah. Kemudian yang berkaitan dengan religiusitas mahasiswa yaitu adanya keraguan mengenai praktik bank syariah apakah sudah sesuai dengan syariat Islam atau belum. Sedangkan alasan dari luar berasal dari bank syariah sendiri. Kesulitan akses menjangkau misalnya. Jika dibandingkan

(23)

8

dengan bank konvensional, informasi mengenai bank syariah memang cenderung lebih terbatas.

Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti ingin menemukan fakta seberapa besar pengaruh religiusitas mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah angkatan 2016-2019 terhadap minat menabung di Bank Syariah, berdasarkan uraian-uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “PENGARUH RELIGIUSITAS TERHADAP MINAT MENABUNG DI BANK SYARIAH” (Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah STAI Auliaurrasyidin Tembilahan).

(24)

9

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian-uraian dari latar belakang masalah diatas, penulis dapat mengidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :

1. Masih kurangnya sosialisasi dari pihak Bank Syariah untuk menarik perhatian mahasiswa dalam menabung.

2. Pola pikir sebagian mahasiswa yang belum sepenuhnya memahami perbankan syariah.

3. Mahasiswa memiliki religiusitas tinggi cenderung memilih Bank Syariah sebagai tempat penyimpanan uang, namun masih kurangnya minat mahasiswa dalam memilih Bank Syariah.

4. Masih terdapat beberapa lokasi pendirian Bank Syariah yang tidak sepenuhnya terjangkau sehingga menyulitkan mahasiswa menabung.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka peneliti membatasi masalah yang menjadi ruang lingkup penelitian. Penelitian ini terfokus pada masalah pengaruh religiusitas terhadap minat menabung di Bank Syariah.

(25)

10

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah religiusitas berpengaruh secara signifikan terhadap minat menabung mahasiswa di Bank Syariah ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh religiusitas mahasiswa secara signifikan terhadap minat menabung di Bank syariah.

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi peneliti

Sebagai pengembangan wawasan keilmuan tentang Pengaruh Religiusitas Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah Terhadap Minat Menabung di Bank Syariah.

2. Bagi akademisi

Dapat dijadikan sebagai salah satu bahan masukan bagi mahasiswa kampus STAI Auliaurrasyidin Tembilahan terkhususnya bagi mahasiswa

(26)

11

program studi ekonomi syariah untuk dapat meningkatkan minat menabung di bank syariah.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai religiusitas mahasiswa program studi ekonomi syariah terhadap minat menabung di bank syariah.

(27)

12

BAB II KAJIAN TEORI

A. Religiusitas

1. Pengertian religiusitas

Religiusitas dalam kamus lengkap psikologi yaitu berasal dari kata

religion (agama). Religion (agama) adalah suatu sistem yang kompleks dari

kepercayaan, keyakinan, sikap-sikap, dan upacara-upacara yang menghubungkan individu dengan suatu keberadaan atau makhluk yang bersifat ketuhanan.1

Banyaknya ragam tentang definisi agama sebagaimana dikemukakan oleh pakar keagamaan justru mengaburkan apa yang sebenarnya hendak kita pahami dengan agama. Hal itu dikarenakan begitu sulitnya mendefinisikan terminologi yang bernama agama. Bahkan, Mukti Ali mengatakan “bahwa tidak ada kata yang paling sulit diberi pengertian dan definisi selain kata agama”. Ia mengemukakan ada alasan tentang hal itu, yaitu:

a. Pengalaman agama merupakan soal batin yang subjektif dan sangat individualis.

b. Pembahasan agama selalu melibatkan emosi yang kuat.

c. Konsepesi seseorang tentang agama selalu dipengaruhi oleh tujuan orang itu mendefinisikan agama itu. Orang yang suka pergi ke tempat

1James P Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hlm.

(28)

ibadah cenderung menganggap bahwa agama identik dengan pergi ke masjid, gereja, candi, dan sebagainya sedangkan antropologi yang mempelajari agama cenderung menganggap agama sebagai kegiatan dan adat kebiasaan yang bisa diamati.2

Banyak pula yang memahami agama dengan keberagamaan. Bagi E.B. Taylor agama adalah The faith in spiritual beings (kepercayaan terhadap wujud spiritual). Pratt mengemukakan bahwa agama sebagai The serious and social attitude of individuals or communities toward the power

or powers which they conceive as having ultimate control over their interest

and destinies (sikap yang serius dan social dari individu atau komunitas pada

satu atau lebih kekuatan yang mereka anggap memiliki kekuasaan tertinggi terhadap kepentingan dan nasib mereka).

Sementara itu, Everyman’s Encylopaedia, seperti dikutip Anshari, menjelaskan bahwa dalam arti luas agama dapat didefiniskan sebagai

acceptance of obligation toward power higher than man himself

(penerimaan atas tata aturan kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi dari pada manusia itu sendiri)”.3

Menurut Harun Nasution agama adalah:

a. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia degan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.

2Dr. Adon Nasrullah Jamaludin, M.Ag., Agama dan Konflik Sosial (Bandung: CV Pustaka

Setia, 2015), hlm. 65.

(29)

b. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia. c. Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan

pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia dan memengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.

d. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.

e. Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari kekuatan gaib.

f. Pegakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib.

g. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.

h. Ajaran-ajaran yang di wahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.4

Menurut Sidi Gazalba bahwa istilah al-din lebih luas pengertiannya dari pada agama dan religi. Agama dan religi hanya berhubungan manusia dengan Tuhan saja, sedangkan al-din berisi hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia. Sedangkan menurut Zainal

4Dr. Bambang Syamsul Arifin, M.Si., Psikologi Agama, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2015),

(30)

Arifin Abbas, kata al-din (memakai awalan al-ta’rif) hanya ditujukan kepada islam saja, dan selainnya tidak demikian.5 Sebagai mana firman Allah swt:









◼

⧫◆

◼⧫



❑➔

⧫





➔⧫

⧫

➔◆

➔

☺⧫

⧫

⧫◆

→⧫

⧫⧫



⬧





⧫



Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (Qs. Ali-Imran: 19)6

Agama merupakan wujud yang berdiri sendiri dan berada di luar diri manusia. Misalnya, agama islam bukanlah secara otomatis sama dengan sikap dan amalan orang yang mengaku sebagai penganut islam. Belum tentu seorang yang mengaku beragama islam sudah mencerminkan agama islam yang sesungguhnya. Demikian pula, agama Kristen mungkin tidak seperti

5Prof. Dr. Muhaimin, M.A., et al., Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan

(Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 31.

6Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: CV Diponegoro, 2008),

(31)

yang dipraktikkan oleh mereka yang mengaku sebagai penganut Kristen. Sikap dan amalan setiap penganut agama adalah wujud keberagamaan, yang menggambarkan sifat dan tingkat keyakinan, pemahaman dan kesetiaan mereka terhadap agamanya.7

Dengan demikian, secara definitif agama adalah ajaran, petunjuk, perintah, larangan, hukum, dan peraturan, yang diyakini oleh penganutnya berasal dari dzat gaib Yang Mahakuasa, yang digunakan manusia sebagai pedoman tindakan dan tingkah laku dalam menjalani hidup sehari-hari. Dengan kata lain, inti agama adalah ajaran yang digunakan manusia sebagai pedoman hidup. Agama adalah ajaran dan berbagai aturan yang menjadi pedoman hidup yang terdiri atas pedoman dalam berpikir, memandang, dan menilai sesuatu, serta bertindak sehari-hari.8

Secara bahasa, agama bukanlah kata sifat, keadaan, atau kata kerja. Kata yang mengandung makna sifat atau keadaan adalah keberagamaan, yaitu kata dasar agama yang di bentuk menjadi beragama, lalu di beri imbuhan ke- dan –an sehingga menjadi keberagamaan. Keberagamaan berarti keadaan atau sifat orang-orang beragama, yang tingkat kepatuhannya untuk melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, dan keadaan perilaku hidupnya sehari-hari setelah ia menjadi penganut suatu agama.9

7Dr. Adon Nasrullah Jamaludin, M.Ag., Op.Cit, hlm. 67. 8Ibid, hlm. 68

(32)

Inti dari kehidupan beragama adalah penghayatan hubungan manusia dengan Allah SWT. Penghayatan ini secara psikologis membawa manusia ke dalam pengalaman transendental, pengalaman yang mengatasi dunia realnya sendiri. Pengalaman transcendental, secara psikologis membawa manusia pada paham fundamental tentang agamanya. Selama nilai fundamental tersebut memperdalam penghayatan iman seseorang terhadap agamanya dan tidak mengganggu eksistensi orang lain, hal itu termasuk dalam taraf positif. Orang yang memiliki religiusitas beragama baik cenderung memiliki fanatisme agama kuat.10

Dapat disimpulkan oleh peneliti dari beberapa pendapat tentang religiusitas diatas bahwasanya religiusitas merupakan seluruh kegiatan terpuji yang dilakukan atas dasar hubungan manusia yang terikat akan ketaatannya dengan Allah swt yang bertindak sesuai dengan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

2. Fitrah manusia untuk beragama

Kata “fitrah” berasal dari Arab yang bersifat bawaan setiap sesuatu dari awal penciptaannya. Fitrah juga dapat berarti sifat dasar manusia untuk beragama, bahkan fitrah juga memiliki pengertian “agama”, maksudnya bahwa setiap manusia dasarnya memiliki sifat dasar untuk memiliki kecenderungan beragama tauhid, artinya kecenderungan dasar untuk 10Ibid, hlm. 87.

(33)

meyakini adanya dzat Yang Maha Esa sebagai Tuhan penciptanya yang patut dan wajib disembah serta diagungkan.11

Jadi dapat dsimpulkan bahwa fitrah merupakan potensi rohani yang dimiliki oleh manusa. Akal sendiri merupakan salah satu potensi rohani yang dimiliki manusia. Perbedaan asasi antara manusia dan hewan adalah ialah akal. Akal menyatakan pikiran dan perasaan manusia. Dengan akal manusia melahirkan kebudayaan. Melalui akal manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang semakin pesat.

Namun secara fitrah, manusia tidak akan merasa puas dengan ilmu pengetahuannya dan tidak akan merasa kenyang dengan kegemrannya terhadap seni, sastra dan lainnya. Manusia akan tetap merasa kebimbangan dalam jiwanya, kelaparan rohaninya, dan akan kehausan fitrahnya. Artinya dalam hidupnya manusia pasti akan mengalami serba kekurangan, kebimbangan, keraguan, ketakutan, keresahan dan kegelisahan.

Agama menjadi sebuah kepercayaan yang diyakini dan diamalkan ajaran-ajarannya oleh manusia dan setelah meyakini serta mengamalkannya barulah ia akan menemukan dan merasakan ketenangan, ketentraman, dan kedamaian yang hakiki dalam hidupnya. Kondisi yang demikianlah yang senantiasa dibutuhkan oleh fitrah hakiki setiap manusia yang dibawa dan dibentuk semenjak awal kelahirannya.

11Novan Ardy Wiyani, M.Pd.I, Pendidikan Agama Islam berbasis Pendidikan Karakter

(34)

Abraham Maslow, seorang tokoh psikologi humanistik mengidentifikasi adanya lima kebutuhan manusia yang bersifat hierarkis

(hierarchy of needs), yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, afiliasi, harga

diri, dan pengembangan potensi. Aktualisasi diri, perkembangan, dan penggunaan potensi merupakan satu tahapan yang menurut Maslow didorong oleh adanya memotivasi (metamotivation) yang antara lain berwujud mystical atau peak experience, sejenis dorongan kekuatan gaib atau Tuhan. Hal tersebut mengidentifikasi bahwa dalam jiwa manusia telah muncul adanya fitrah beragama. Kaum perenialisme juga menyatakan bahwa secara intrinsik dan alamiah Tuhan telah menanamkan benih (potensi atau fitrah) beragama pada diri setiap insani. Itulah yang menjadikan manusia dikenal sebagai homo religious.12

Semakin jelaslah bahwa pada hakikatnya manusia pada awalnya sudah mempunyai fitrah dan kecenderungan untuk beragama yang didasarkan pada perasaan dan kesadarannya. Terlebih lagi dalam sejarah dapat diketahui bahwa tidak ada bangsa yang dapat hidup tanpa agama. Munculnya berbagai agama pada masa beribu-ribu tahun yang lalu di Mesir, Asiria, Babilonia, Cina dan lainnya merupakan realitas empiris yang mendukung tentang kebenaran akan fitrah manusia untuk beragama.13

12Ibid, hlm. 24 13Ibid, hlm. 25

(35)

3. Faktor-faktor religiusitas

Robert H. Thouless membedakan sejumlah faktor-faktor yang ada dalam perkembangan sikap keagamaan menjadi empat, yaitu :

a. Pengaruh pendidikan atau pengajaran dan berbagai tekanan sosial (faktor sosial).

b. Berbagai pengalaman-pengalaman yang membantu sikap keagamaan, terutama pengalaman-pengalaman mengenai :

a) keindahan, keselarasan, dan kebaikan didunia lain (faktor alami), b) konflik moral (faktor moral) dan c) pengalaman emosional keagamaan (faktor afektif).

c. Faktor-faktor yang seluruhnya atau sebagian timbul dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi, terutama kebutuhan-kebutuhan-kebutuhan-kebutuhan terhadap: a) keamanan, b) cinta kasih, c) harga diri, dan d) ancaman kematian.

d. Berbagai proses pemikiran verbal (faktor intelektual).14

14Robert H. Thouless, Pengantar Psikologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

(36)

4. Fungsi agama (religius) bagi manusia

Menurut Hendropuspito fungsi agama bagi manusia meliputi beberapa hal diantaranya:

a. Fungsi edukatif

Manusia mempercayakan fungsi edukatif pada agama yang mencakup tugas mengajar dan membimbing. Keberhasilan pendidikan terletak pada pendayagunaan nilai-nilai rohani yang merupakan pokok-pokok kepercayaan agama. Nilai yang diresapkan antara lain: makna dan tujuan hidup, hati nurani, rasa tanggung jawab kepada Tuhan. b. Fungsi penyelamatan

Agama dengan segala ajarannya memberikan jaminan kepada manusia keselamatan di dunia dan akhirat.

c. Fungsi pengawasan sosial

Agama ikut bertanggung jawab terhadap norma-norma sosial sehingga agama menyeleksi kaidah-kaidah sosial yang ada, mengukuhkan yang baik dan menolak kaidah yang buruk agar selanjutnta ditinggalkan dan dianggap sebagai larangan. Agama juga memberi sanksi-sanksi yang harus dijatuhkan kepada orang yang melanggar larangan dan mengadakan pengawasan yang ketat atas pelaksanaanya.

(37)

d. Fungsi memupuk persaudaraan

Persamaan keyakinan merupakan salah satu persamaan yang bias memupuk rasa persaudaraan yang kuat. Manusia dalam persaudaraan bukan hanya melibatkan sebagian dari dirinya saja, melainkan seluruh pribadinya juga dilibatkan dalam suatu keintiman yang terdalam dengan sesuatu yang tertinggi yang dipercaya bersama. e. Fungsi transformatif

Agama mampu melakukan perubahan terhadap bentuk kehidupan masyarakat lama ke dalam bentuk kehidupan baru. Hal ini dapat berarti pula menggantikan nilai-nilai lama dengan menanamkan nilai-nilai baru. Transformasi ini dilakukan pada nilai-nilai adat yang kurang manusiawi. Sebagai contoh kaum qurais pada jaman Nabi Muhammad yang memiliki kebiasaan jahiliyah. Islam sebagai agama yang menanamkan nilai-nilai baru sehingga nilai-nilai lama yang tidak manusiawi dihilangkan.15

15Hendro Puspito, Sosiologi Agama, (Yogyakarta: Kanisus dan BPK Gunung Mulia, 1990),

(38)

5. Dimensi religiusitas

Menurut Glock dan Stark, ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu:

a. Dimensi keyakinan

Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan dimana orang

religious berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan

mengakui kebenaran-kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana para penganut diharapkan akan taat. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi tidak hanya di antara agama-agama, tetapi seringkali juga di antara tradisi-tradisi dalam agama yang sama.

b. Dimensi praktik agama

Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik-praktik kegamaan ini terdiri atas dua kelas penting, yaitu :

1) Ritual, mengacu kepada seperangkat ritus, tindakan kegamaan formal dan praktek-praktek suci yang seua mengharapkan para pemeluk melaksanakan.

2) Ketaatan, ketaatan dan ritual bagaikan bagaikan ikan dengan air, meski ada perbedaan penting. Apabila aspek ritual dari komitmen sangat formal dank has public, semua agama yang dikenal juga

(39)

mempunyai perangkat tindakan persembahan an kontemplasi personal yang relatif spontan, informal, dan khas pribadi.

c. Dimensi pengalaman

Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir (kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan supernatural). Seperti telah kita kemukakan, dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang atau didefiniskan oleh suatu kelompok keagamaan (atau suatu masyarakat) yang melihat komunikasi, walaupun kecil, dalam suatu esensi ketuhanan, yaitu dengan Tuhan, kenyataan terakhir, dengan otoritas transedental.

d. Dimensi pengetahuan agama

Dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dimensi pengetahuan dan keyakinan jelas berkaitan satu sama lain, karena pengetahuan mengenai suatu keyakinan adalah syarat bagi penerimaannya. Walaupun demikian, keyakinan tidak perlu diikuti oleh syarat pengetahuan, juga semua pengetahuan agama tidak selalu

(40)

bersandar pada keyakinan. Lebih jauh, seseorang dapat berkeyakinan bahwa kuat tanpa benar-benar memahami agamanya, atau kepercayaan bias kuat atas dasar pengetahuan yang amat sedikit.

e. Dimensi pengamalan atau konsekuensi

Konsekuensi komitmen agama berlainan dari keempat dimensi yang sudah dibicarakan di atas. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Istilah “kerja” dalam pengertian teologis digunakan di sini. Walaupun agama banyak menggariskan bagaimana pemeluknya seharusnya berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari, tidak sepenuhnya jelas sebatas mana konsekuensi-konsekuensi agama merupakan bagian dari komitmen keagamaan atau semata-mata berasal dari agama.16

6. Perspektif islam tentang religiusitas

Islam menyuruh umatnya untuk beragama (atau berislam) secara menyeluruh dalam firman Allah SWT :

⧫



❑⧫◆

❑➔







◆

16Dr. Djalamudin Ancok dan Fuad Nashori Suroso, Psikologi Islami, (Yogyakarta: Pustaka

(41)

❑➔⬧

◆❑

⬧



→⬧

⧫

✓



Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)17

Setiap Muslim, baik dalam berpikir, bersikap maupun bertindak, diperintahkan untuk berislam. Dalam melakukan aktivitas ekonomi, sosial, politik atau aktivitas apapun, si Muslim diperintahkan untuk melakukannya dalam rangka beribadah kepada Allah. Di mana pun dan dalam keadaan apapun, setiap muslim hendaknya berislam.18

Esensi islam adalah tauhid atau pengesahan Tuhan, tindakan yang menegaskan Allah sebagai Yang Esa, pencipta yang mutlak dan transenden, penguasa segala yang ada. Tidak ada satu pun perintah dalam islam yang bias dilepaskan dari tauhid. Seluruh mematuhi perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, akan hancur begitu tauhid dilanggar. Dapat disimpulkan bahwa tauhid adalah intisari islam dan suatu tindakan tak dapat disebut sebagai bernilai islam tanpa dilandasi oleh kepercayaan kepada Allah.

Searah dengan pandangan islam, Glock dan Stark menilai bahwa kepercayaan keagamaan (teologi) adalah jantungnya dimensi keyakinan. Teologi terdapat dalam seperangkat kepercayaan mengenai kenyataan 17Departemen Agama RI, Op.Cit, hlm.25.

(42)

terakhir, mengenai alam dan kehendak-kehendak supernatural, sehingga aspek-aspek lain dalam agama menjadi koheren. Ritual dan kegiatan yang menunjukkan ketaatan seperti dalam persekutuan atau sembahyang tidak dapat dipahami kecuali jika kegiatan-kegiatan itu berada dalam kerangka kepercayaam yang mengandung dalil bahwa ada suatu kekuatan yang besar yang harus disembah.

Disamping tauhid atau akidah, dalam islam juga ada syariah dan akhlak. Endang Saifuddin Anshari mengungkapkan bahwa pada dasarnya islam dibagi menjadi tiga bagian, yaitu akidah, syariah dan akhlak, di mana tiga bagian tadi satu sama lain saling berhubungan. Akidah adalah sistem kepercayaan dan dasar bagi syariah dan akhlak. Tidak ada syariah dan akhlak islam tanpa akidah islam.19

Konsep religiusitas versi Glock dan Stark adalah rumusan brilian. Konsep tersebut mencoba melihat keberagamaan seseorang bukan hanya dari satu atau dua dimensi, tapi mencoba memperhatikan segala dimensi. Keberagamaan dalam islam bukan hanya diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual saja, tapi juga dalam aktivitas-aktivitas lainnya. Sebagai suatu sistem yang menyeluruh, islam mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh pula. Karena itu, hanya konsep yang mampu memberi penjelasan tentang kemenyeluruhan yang mampu memahami kebaragaman umat islam.

(43)

Untuk memahami islam dan umat islam, konsep yang tepat adalah konsep yang mampu memahami adanya beragam dimensi dalam berislam. Menurut hemat penulis, rumusan Glock dan stark yang membagi keberagamaan menjadi lima dimensi dalam tingkat tertentu mempunyai kesesuaian dengan islam.

Walaupun tak sepenuhnya sama, dimensi keyakinan dapat disejajarkan dengan akidah, dimensi praktik agama disejajarkan dengan syariah dan dimensi pengalaman disejajarkan dengan akhlak.

a. Dimensi keyakinan atau akidah islam

Menunjuk pada seberapa tingkat keyakinan muslim terhadap kebenaran ajaran-ajaran agamanya, terutama terhadap ajaran-ajaran yang bersifat fundamental dan dogmatik. Di dalam keberislaman, isi dimensi keimanan menyangkut keyakinan tentang Allah, para malaikat, Nabi/Rasul, kitab-kitab Allah, surga dan neraka, serta qadha dan qadar. b. Dimensi peribadatan (atau praktek agama) atau syariah

Menunjukkan pada seberapa tingkat kepatuhan muslim dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana disuruh dan dianjurkan oleh agamanya. Dalam keberislaman, dimensi peribadatan menyangkut pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-qur’an, doa, zikir, ibadah kurban, iktikaf di masjid di bulan puasa, dan sebagainya.

(44)

Menunjuk pada seberapa tingkatan muslim berprilaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan dunianya, terutama dengan manusia lain. Dalam keberislaman, dimensi ini meliputi perilaku suka menolong, bekerjasama, berderma, menyejahterakan dan menumbuh kembangkan orang lain, menegakkan keadilan dan kebenaran, berlaku jujur, memaafkan, menjaga lingkungan hidup, menjaga amanat, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak menipu, tidak berjudi, tidak meminum minuman yang memabukkan, mematuhi norma-norma islam dalam perilaku seksual, berjuang untuk hidup sukses menurut ukuran islam, dan sebagainya.20

7. Hubungan manusia dengan agama

Dalam masyarakat sederhana banyak peristiwa yang terjadi dan berlangsung di sekitar manusia dan di dalam diri manusia, tetapi tidak dipaham oleh mereka. Yang tidak dipahami itu dimasukkan ke dalam kategori gaib. Karena banyak hal atau peristiwa gaib ini menurut pendapat mereka, mereka merasakan hidup dan kehidupan penuh keagaiban. Menghadapi peristiwa gaib ini mereka merasa lemah tidak berdaya. Untuk menguatkan diri, mereka mencari perlindungan pada kekuatan yang menurut anggapan mereka menguasai alam gaib yaitu Dewa atau Tuhan. Karena itu hubungan mereka dengan para Dewa atau Tuhan menjadi akrab. Keakraban 20Ibid., hlm. 80.

(45)

hubungan dengan Dewa-dewa atau Tuhan itu terjalin dalam berbagai segi kehidupan: sosial, ekonomi, kesenian dan sebagainya. Kepercayaan dan system hubungan manusia dengan para Dewa atau Tuhan itu membentuk agama. Manusia, karena itu, dalam masyarakat sederhana mempunyai hubungan erat dengan agama. Gambaran ini berlaku di seluruh dunia.21

Dalam masyarakat modern yaitu masyarakat yang telah maju, masyarakat yang telah memahami peristiwa-peristiwa alam dan dirinya melalui ilmu pengetahuan, ketergantungan kepada kekuatan yang dianggap menguasai alam gaib dalam masyarakat sederhana, menjadi berkurang bahkan di beberapa bagian dunia menjadi hilang. Perkembangan pemikiran manusia terhadap diri dan alam sekitarnya menjadi berubah. Timbullah berbagai teori mengenai hubungan manusia dengan diri dan alam sekitarnya. Salah satu teori (pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa) yang banyak mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan sosial, adalah teori August Comte yang terdapat dalam bukunya yang masyhur: Course de la Philosophie

Positive (1842). Dalam buku yang terdiri dari enam jilid itu, August Comte

menyebut tiga tahap perkembangan pemikiran manusia de lois des trois etat (terjemahan bebasnya, lebih kurang tida hokum perkembangan). Menurut August Comte dalam bukunya itu, sepanjang sejarah, sejak dahulu sampai

21Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H., Pendidikan Agama islam, (Jakarta: Rajawali Pers,

(46)

sekarang, pemikiran manusia berkembang melalui tiga tahap, yaitu (a) tahap teologik, (b) tahap metafisik, (c) tahap positif.22

Menurut dia, tahap pemikiran yang paling rendah ialah (a) tahap pemikiran teologik yaitu tahap pemikiran manusia yang percaya kepada Tuhan, percaya pada ajaran agama. Menurut Comte, dalam pemikiran teologik ini manusia belum tahu tentang sebab musabab kejadian di ala mini, tidak tahu mengenai hal atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Karena itu ia selalu hidup dalam ketakutan terhadap, misalnya, bencana alam seperti banjir, gunung meletus dan sebagainya. Untuk menghindari ketakutan itu, manusia lalu melindungikan dirinya pada Tuhan atau dewa, menyerahkan dirinya pada yang maha kuasa. Tahap ini adalah tahap yang paling bawah dalam tingkat pemikiran manusia. Oleh karena itu, bila pemikiran manusia berkembang karena pertambahan pengalaman dan pengetahuan, manusia akan meninggalkan tahap teologik atau tahap percaya pada ajaran agama dan pada Tuhan yang melindunginya. Pindah ke tahap yang lebih tinggi yaitu (b) tahap metafisik (tahap percaya pada kekuatan-kekuatan atau hal-hal nonfisik, yang tidak kelihatan). Untuk keselamatan dirinya, dalam tahap ini manusia berusaha menjinakkan kekuatan-kekuatan nonfisik itu dengan saji-sajian.23

22Ibid., hlm. 41. 23Ibid., hlm. 42.

(47)

Sejarah umat manusia di barat menunjukkan kepada kita bahwa dengan menyampingkan agama dan menempatkan ilmu dan akal manusia semata-mata sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai segala-galanya

(anthropocentrisme yaitu paham yang menjadikan manusia menjadi pusat),

telah menyebabkan berbagai krisis dan malapetaka. Dan karena pengalanan itu, kini perhatian manusia di bagian dunia itu dan di seluruh dunia kembali kepada agama. Ini disebabkan karena beberapa hal. Di antaranya adalah karena (1) para ilmuwan yang selama ini meninggalkan agama, kembali berpaling pada agama sebagai pegangan hidup sesungguhnya, dan (2) karena harapan manusia kepada otak manusia untuk memecahkan segala masalah yang dihadapinya pada abad-abad yang lalu, ternyata tidak terwujud.24

Agama sangatlah perlu bagi manusia terutama bagi orang yang berilmu, apapun displin ilmunya. Sebab karena dengan agama ilmunya akan lebih bermakna. Bagi kita umat islam, agama yang dimaksud adalah agama yang kita peluk yaitu agama islam. Agama islam adalah agama keseimbangan dunia akhirat, agama yang tidak mempertentangkan iman dan ilmu, bahkan menurut Sunnah Rasulullah, agama yang mewajibkan manusia, baik pria maupun wanita, menuntut ilmu pengetahuan mulai dari buaian sampai ke liang lahat.25

24Ibid., hlm. 43. 25Ibid., hlm. 45.

(48)

B. Minat menabung 1. Pengertian minat

Minat (interest), istilah ini menunju pada adanya Intensitas perhatian yang tinggi seseorang terhadap suatu hal peristiwa, orang atau benda.26

Minat adalah aspek kejiwaan dan bukan hanya mewarnai perilaku seseorang untuk melakukan aktifitas yang menyebabkan seseorang merasa merasa tertarik kepada sesuatu. Selain itu minat memiliki makna yang luas, karena dengan minat akan mampu merubah sesuatu yang jelas menjadi lebih jelas.27

Menurut Pandji “minat lebih dikenal sebagai keputusan pemakaian atau pembelian jasa/produk tertentu”. Dalam buku Sofjan Assauri minat merupakan keputusan pembelian merupakan suatu proses pengambilan keputusan atas pembelian yang mencakup penentuan apa yang akan dibeli atau tidak melakukan pembelian dan keputusan tersebut di peroleh dari kegiatan-kegiatan sebelumnya yaitu kebutuhan dan dana yang dimiliki.28

Minat merupakan suatu keinginan yang timbul dari diri sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam dunia perbankan yang dimaksud dengan konsumen atau pelanggan adalah

26Fuad Hasan, dkk, Kamus Istilah Psikologi (Jakarta: Progres, 2003),hlm. 78.

27Hutomo Rusdianto dan Chanafi Ibrahim, Pengaruh Produk Bank Syariah Terhadap Minat

Menabung Dengan Persepsi Masyarakat Sebagai Variabel Moderating Di Pati, (Jurnal Ekonomi Syariah: Vol. 4, Nomor 1, Juni 2016), hlm. 49.

28Tri Astuti dan Rr. Indah Mustikawati, Pengaruh Persepsi Nasabah Tentang Tingkat Suku

Bunga, Promosi dan Kualitas Pelayanan Terhadap Minat Menabung Nasabah, (Jurnal Nomina: Vol. 2, Nomor 1, 2013), hlm. 186.

(49)

nasabah. Menurut UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan adalah nasabah yang menempatkan dananya di bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan. Minat mengarahkan perhatian, rasa tertarik, keinginan, dan motif nasabah untuk merealisasikan loyalitas. Loyalitas nasabah kemudian dapat diwujudkan dengan adanya berbagai bentuk, misalnya dengan mulai memperhatikan produk lain yang ditawarkan, ketertarikan untuk memberi rekomendasi kepada keluarga dan rekan kerja, dan keinginan untuk menjadikan produk tersebut sebagai pilihan utama, serta tidak mudah berpindah pada bank lain.29

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa minat menabung adalah suatu keinginan yang timbul dari diri nasabah untuk menggunakan jasa/produk yang ada di bank sebagai tempat untuk penyimpanan uang yang mereka miliki.

2. Dimensi minat

Minat dapat diidentifikasikan melalui indikator-indikator sebagai berikut :

a. Minat transaksional

Minat transaksional yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli produk.

29Kristiyadi dan Sri Hartiyah, Pengaruh Kelompok Acuan, Religiusitas, Promosi dan

Pengetahuan Tentang Lembaga Keuangan Syariah Terhadap Minat Menabung Di Koperasi Jasa Keuangan Syariah, (Jurnal Ekonomi dan Teknik Infromatika: Vol. 5, Nomor 9, Februari 2016), hlm. 48.

(50)

b. Minat refrensional

Minat refrensional yaitu menggambarkan perilaku seseorang yang cenderung merefrensikan produk yang sudah dibelinya, agar dibeli oleh orang lain dengan refrensi pengalaman konsumennya.

c. Minat prefrensi

Minat prefrensi yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki prefrensi utama pada produk tersebut. Prefrensi ini hanya dapat diganti jika terjadi seseuatu dengan produk prefrensinya.

d. Minat eksploratif

Minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.30

3. Pengertian menabung

Menabung adalah tindakan yang dianjurkan oleh islam, karena dengan menabung berarti seorang muslim mempersiapkan diri untuk pelaksanaan perencanaan masa yang akan datang sekaligus untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam Al-qur’an terdapat

ayat-30Augusty Ferdinand, Metode Penelitian Manajemen, (Semarang: Badan Penerbit Universitas

(51)

ayat yang secara tidak langsung telah memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan hari esok secara lebih baik.31 Firman Allah SWT:

◆◆



❑⬧

❑⧫⬧





➔

➔

❑➔⬧

◼⧫

❑→◆⬧



❑❑→◆◆

❑⬧





Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.” (QS. An-nissa’: 9)32

◆❑⧫

→⧫◼



❑⬧

⬧







◆

⬧



⬧⬧



⬧





→

⧫☺

⧫◆



⬧◆

➔

➔→

⧫⬧





31Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani

Press, 2001), hlm. 153.

(52)

⧫

⬧◆⧫⬧



✓⧫



→⬧

⧫

➔⬧

⧫⬧



Artinya: “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang Dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS.Al-baqarah: 266)33

Kedua ayat tersebut memerintahkan kita untuk bersiap-siap antisipasi masa depan keturunan, baik secara rohani (iman/takwa) maupun secara ekonomi harus dipikirkan langkah-langkah perecanaannya. Salah satu langkah perencanaan adalah dengan menabung.34

Dalam dunia perbankan sumber dana terbesar bersumber dari para nasabah yang melakukan transaksi yaitu dalam hal ini nasabah yang melakukan transaksi menabung, sehingga pihak lembaga keuangan

33Departemen Agama RI, Op.Cit., hlm. 45. 34Muhammad Syafi’I Antonio,Op.Cit., hlm. 154.

(53)

mempunyai aturan yang ketat kepada pengelolaan keuangan yang bersumber dari masyarakat atau nasabah.35

4. Beberapa jenis tabungan di Bank Syariah a. Memilih antara Wadiah dan Mudharabah

Seseorang yang ingin menabung di bank syariah dapat memilih antara akad al-wadi’ah atau al-mudharabah. Meskipun jenis produk tabungan di bank syariah mirip dengan bank konvensional., yaitu giro, tabungan, dan deposito, namun dalam bank syariah terdapat perbedaan-perbedaan yang prinsipil seperti yang dijelaskan berikut ini:

1) Giro

Pada umumnya, bank syariah menggunakan akad al-wadiah pada rekening giro. Nasabah yang membuka rekening giro berarti melakukan akad wadiah “titipan”. Dalam fiqh muamalah, wadiah dibagi menjadi dua macam: wadiah yad al-amanah dan wadiah yad adh-dhamanah. Akad wadiah yad al-amanah adalah akad titipan yang dilakukan dengan kondisi penerima titipan (dalam hal ini bank) tidak wajib mengganti jika terjadi kerusakan. Biasanya, akad ini diterapkan bank pada titipan murni, seperti safe deposit box. Dalam hal ini, bank hanya bertanggung jawab atas kondisi barang (uang) yang dititpkan.

(54)

Adapun wadiah yad dh-dhamanah adalah titipan yang dilakukan dengan kondisi penerima titipan bertanggung jawab atas nilai (bukan fisik) dari uang yang dititipkan. Bank syariah menggunakan akad wadiah yada dh-dhamanah untuk rekening giro. 2) Tabungan

Bank syariah merupakan dua akad dalam tabungan, yaitu wadiah dan mudhrabah. Tabungan yang menerapkan akad wadiah mengikuti prinsip-prinsip wadiah yada dh-dhamanah seperti yang dijelaskan di atas. Artinya, tabungan ini tidak mendapatkan keuntungan karena ia titipan dan dapat diambil sewaktu-waktu dengan menggunakan buku tabungan atau media lain seperti kartu ATM. Tabungan yang berdasarkan akad wadiah ini tidak mendapatkan keuntungan dari bank karena sifatnya titipan. Akan tetapi, bank tidak dilarang jika ingin memberikan semacam bonus/hadiah.

Tabungan yang menerapkan akad mudharabah mengikuti prnsip-prinsip akad mudharabah. Di antaranya sebagai berikut, Pertama, keuntungan dari dana yang digunakan harus dibagi antara shahibul maal (dalam hal ini nasabah) dan mudharib (dalam hal ini bank). Kedua, adanya tenggang waktu antara dana yang diberikan dan pembagian keuntungan, karena untuk melakukan investasi dengan memutarkan dana itu diperlukan waktu yang cukup.

(55)

3) Deposito

Bank syariah menerapkan akad mudharabah untuk deposito. Seperti dalam tabungan, dalam hal ini nasabah (deposan) bertindak sebagai shahibul maal dan bank selaku mudharib. Penerapan mudharabah terhadap deposito dikarenakan kesesuaian yang terdapat di antara keduanya. Misalnya, seperti yang dikemukakan di atas bahwa akad mudharabah mensyaratkan adanya tenggang waktu antara penyetoran dan penarikan agar dana itu diputarkan. Tenggang waktu ini merupakan salah satu sifat deposito, bahkan dalam deposito terdapat pengaturan waktu, seperti 30 hari, 90 hari, dan seterusnya.36

5. Perbedaan antara menabung Bank Syariah dan Bank Konvensional

Sepintas, secara teknis fisik, menabung di bank syariah dengan yang berlaku di bank konvensional hampir tidak ada perbedaan. Hal ini karena baik bank syariah maupun bank konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi, jika diamati secara mendalam, terdapat perbedaan besar di antara keduanya.

Perbedaan pertama terletak pada akad. Pada bank syariah, semua transaksi harus berdasarkan akad dibenarkan oleh syariah. Dengan demikian, semua transaksi itu harus mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku pada akad-akad muamalah syariah. Pada bank konvensional, transaksi pembukaan 36Muhammad Syafi’I Antonio, Op.Cit, hlm. 155.

(56)

rekening, baik giro, tabungan, maupun deposito, berdasarkan perjanjian titipan, namun perjanjian titipan ini tidak mengikuti prinsip mana pun dalam muamalah syariah, misalnya wadiah, karena salah satu penyimpangannya di antaranya menjanjikan imbalan dengan tingkat bunga tetap terhadap uang yang disetor.37

Perbedaan kedua terdapat pada imbalan yang diberikan. Bank konvensional menggunakan konsep biaya (cost concept) untuk menghitung keuntungan. Artinya, bunga yang dijanjikan di muka kepada nasabah penabung merupakan ongkos yang harus dibayar oleh bank. Karena itu, bank harus “menjual” kepada nasabah lainnya (peminjam) dengan biaya (bunga) yang lebih tinggi. Perbedaan di antara keduanya disebut spread. Jika bunga yang dibebankan kepada peminjam lebih tinggi dari bunga yang harus dibayar kepada nasabah penabung, bank akan mendapatkan spread positif. Jika bunga yang diterima dari si peminjam lebih rendah, terjadi spread negatif bagi bank. Bank harus menutupnya dengan keuntungan yang dimiliki sebelumnya. Jika tidak ada, ia harus menanggulanginya dengan modal.

Bank syariah menggunakan pendekatan profit sharing, artinya dana yang diterima bank disalurkan kepada pembiayaan. Keuntungan yang di dapatkan dari pembiayaan tersebut dibagi dua, untuk bank dan untuk nasabah, berdasarkan perjanjian pembagian keuntungan di muka (biasanya

(57)

terdapat dalam formulir pembukaan rekening yang berdasarkan mudharabah).

Perbedaan ketiga adalah sasaran kredit/pembiayaan. Para penabung di bank konvensional tidak sadar bahwa uang yang ditabungkannya diputarkan kepada semua bisnis, tanpa memandang halal-haram bisnis tersebut, bahkan sering terjadi dana tersebut digunakan untuk mebiayai proyek-proyek milik grup perusahaan bank tersebut. Celakanya, kredit itu diberikan tanpa memandang apakah jumlahnya melebihi batas maksimum pemberaian kredit (BMPK) ataukah tidak. Akibatnya, ketika krisis dating dan kredit-kredit itu bermasalah, bank sulit mendapatkan pengembalan dana darinya.

Adapun dalam bank syariah, penyaluran dana simpanan dari masyarakat dibatasi oleh dua prinsip dasar, yaitu prinsip syariah dan prinsip keuntungan. Artinya, pembiayaan yang akan diberikan harus mengikuti kriteria-kriteria syariah, di samping pertimbangan-pertimbangan keuntungan. Misalnya, pemberian pembiayaan (kredit) harus kepada bisnis yang halal, tidak boleh kepada perusahaan atau bisnis yang memproduksi makanan dan minuman yang di haramkan, perjudian, pornografi, dan bisnis lain yang tidak sesuai dengan syariah. Karena itu, menabung di bank syariah relative lebih

(58)

aman ditinjau dari perspektif islam karena akan mendapatkan keuntungan yang didapat dari bisnis yang halal.38

C. Bank Syariah

1. Pengertian Bank Syariah

Bank syariah merupakan bank yang secara operasional berbeda dengan bank konvensional. Salah satu ciri khas bank syariah yaitu tidak menerima atau membebani bunga kepada nasabah, akan tetapi menerima atau membebankan bagi hasil serta imbalan lain sesuai dengan akad-akad yang di perjanjikan. Konsep dasar bank syariah didasarkan pada Al-Qur’an dan hadis. Semua produk dan jasa yang ditawarkan tidak boleh bertentangan dengan isi Al-Qur’an dan hadis Rasulullah.39

Undang-undang Perbankan Syariah No. 21 Tahun 2008 menyatakan bahwa perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri atas bank umum syariah (BUS), unit usaha syariah (UUS), dan bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS).40

38Ibid, hlm. 158.

39Drs. Ismail, MBA., AK., Perbankan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 29. 40Ibid., hlm. 33.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :