BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Demam Berdarah Dengue adalah salah satu penyakit yang masih menimbulkan masalah

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Demam Berdarah Dengue adalah salah satu penyakit yang masih menimbulkan masalah kesehatan di Indonesia. Virus penyebab maupun nyamuk penular DBD sudah tersebar luas di seluruh wilayah di Indonesia baik di perumahan penduduk maupun fasilitas umum DBD adalah penyakit yang di sebabkan oleh virus dengue yang di tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan albopictus, kedua jenis nyamuk tersebut terdapat hampir di seluruh Indonesia. Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang di penggaruhi lingkungan dan perilaku masyarakat, spenyakit demam berdarah juga disebut dengan Dengue Hamorragie Fever (DHF) (Slamet,2014) Penyakit Demam Berdarah Dengue sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, Demam Berdarah merupakan penyakit endemis dan kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi diberbagai daerah di Indonesia, dan Jumlah kasus demam berdarah yang meningkat dan menyebarannya bertabah luas dan sampai saat ini. Virus

dengue dan nyamuk aedes aegypti penularan penyakit DBD di berbagai wilayah di Indonesia. Demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang di sebabkan oleh vector nyamuk genus

Aedes dan aegypti (Hanim, 2013). Berdasarkan data kasus demam berdarah dengue mencapai (1.000) demam berdarah dengue 50-100 juta kasus DBD pertahunnya dan 90% nya pada anak-anak berusia 15 tahun penyakit demam berdarah dengue semakin tahun semakin meningkat dengan yang berbedah mulai yang ringan sampai yang berat karena sering terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya cukup tinggi demam berdarah juga di kenal dengan dengue Haemorragic fever (DHF) merupakan suatu penyaktit yang di sebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti betina (Depkes, RI 2015).

(2)

Nyamuk ini merupakan spesies nyamuk tropis dan subtropis dan hidup di daerah ketinggiannya mencapai 2200 msdiatas permukaan laut, dan nyamuk aedes ini sangat antropolitik dan hidup dekat dengan manusia dan sering hidup di dalam rumah di negara Indonesia merupakan salah satu Negara yang di tetapkan sebagai negara endemik demam berdarah. Masyarakatnya belum berperilaku hidup bersih dan sehat sehingga angka kesakitan masyarakat sanggat tinggi.Terutama diare DBD, thypoid, dan kolerah (Depkes,2009). Sedangkan data Riset Kesehatan 2015. Menunjukan bahwa rumah tangga mempraktekan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mencapai 38,7%, data kesehatan Indonesia 2009 62,41%. Dan institus pendidikan( 67,52%), tempat kerja( 59,15%), tempat ibadah (58,84%), fasilitas kesehatan (77,02%), dan saran lain (62,26%). Data 2010 tentang pengetahuan dan sikap orangtua terhadap (PHBS) menunjukan bahwa 47,1%, perilaku hidup bersih dan sehat seseorang menyangkut kebersihan yang dapat di hindari dengan (PHBS), mulai dari diare, DBD, flu burung dan flu babi, adalah salah satu faktor yang mendungkung perilaku hidup bersih dan sehat adalah kesehatan lingkungan kesehatan lingkungan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pelaksanaan perawatan komunitas. Maka guna tercapainya keberhasilan keperawatan komunitas perlu adanya pembahasan khusus untuk mengenai. PHBS kesehatan lingkungan dan diperlukan upaya pendidikan kesehatan kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang (PHBS), perilaku hidup bersih dan sehat adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran masyarakat sehingga anggota dapat dirihnya sendiri di bidang kesehatan, dan berperan aktif dalam kegiatan kesehatan masyarakat PHBS menunjukan tentang kesehatan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya, membersikan lingkungan. Sehingga setiap rumah tangga dianjurkan untuk melaksanakan semua perilaku kesehatan, untuk mencegah terjadinya penyakit seperti DBD dan diare, dan untuk meningkatkan (PHBS) di lingkungan hidup,

(3)

pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat dalam rumah tangga dan bagimana uapaya PHBS tersebut dapat dilihat.

Data dari WHO mencatat bahwa Negara Indonesia adalah sebagai Negara tertinggi dengan kejadian kasus demam berdarah dengue (DBD) di Asia Tenggara yang tertinggi nomor 2 di Dunia setelah Thailand, Menurut WHO jumlah angka kematian oleh penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Dunia mencapai 5% dengan perkiraan 25.000 angka kematian setiap tahunnya (WHO, 2010-2012).

Data dari Kementrian Kesehatan RI,2016 Data dari Kementrian Kesehatan RI Tahun 2016 terdapat jumlah kasus DBD sebanyak 204.171 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 1.598 orang dan jumlah kasus DBD tahun 2016 meningkat dibandingkan jumlah kasus tahun 2015 (129.650 kasus), Jumlah kematian akibat DBD tahun 2016 juga meningkat dari tahun 2015 (1.071 kematian). Angka kesakitan DBD tahun 2016 juga meningkat dari tahun 2015, yaitu 50,75 menjadi 78,85 per 100.000 penduduk, DBD menurut beberapa provinsi pada tahun 2016 dengan angka kesakitan DBD tertinggi sampai yang terendah yaitu Bali sebesar 515,90 per 100.000 penduduk, Kalimantan Timur sebesar 305,95 per 100.000 penduduk, dan DKI Jakarta sebesar 198,71 per 100.000 penduduk, Yogyakarta sebesar (167,89), kalimatan barat (158,33)Sulawesi Tenggara (123,34), Kalimantan Selatan (101,05), Kepulauan Riau (97,77), Bengkulu (91,66), Sulawesi Selatan (89,29), Sulawesi Utara (81,04), sulawesi Tengah (79,20), Jawa Barat (77,31), Sumatra barat (75,75), Sulawesi barat (66,82), kalimatan tengah (65,05), gorontalo (64,83), riau (64,14), jawa timur (62,65), Sumatra utara (61,11), lampung (55,04), nusa tenggara barat (52,80), aceh (52,02), banten (50,31), sumatera selatan (47,19), jambi (44,90), jawa tengah (42,26), papua (35,23), kepulauan Bangka Belitung (34,95), Maluku utara (25,04), Maluku (21,16), nusa tenggara timur (19,51), kalimatan barat (12,09), papua barat (11,75). Penderita DBD dengan jumlah angka kematian 108 orang golongan terbanyak yang mengalami

(4)

demam berdarah dengue (DBD) pada usia 5-14 tahun yang mencapai 43,44% dan pada usia 15-44 tahun mencapai 33,25% di Negara Indonesia.

Data profil dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang diperoleh pada Bulan Januari sampai Desember 2013, jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Timur sebanyak 17.230 orang. Kemudian pada tahun 2014 dari Bulan Januari sampai Desember dengan kejadian demam berdarah dengue sebanyak 9.445 orang penderita, selanjutnya pada tahun 2015 terjadi kenaikan cukup tinggi dengan jumlah penderita (DBD) di Jawa Timur sebanyak 21.266 orang sehingga ditetapkan kejadian luar biasa (KLB), dan pada tahun 2016 dengan kejadian DBD jumlah penderita kembali menurun menjadi 3.590 orang, sedangkan pada tahun 2017 dengan kejadian demam berdarah dengue (DBD) sebanyak 410 orang penderita dari jumlah tersebut angka kematian sebanyak 5 orang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kejadian DBD telah menurun dari tahun-tahun sebelumnya.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya tercatat dengan kejadian demam berdarah dengue pada tahun 2013 sebanyak 2.207 orang, dan pada tahun 2014 sebanyak 816 orang, pada tahun 2015 sebanyak 640 orang, pada tahun 2016 sebanyak 938 orang pada tahun 2017 sebanyak 302 orang penderita demam berdarah dengue (DBD).

Data yang dapat diperoleh dari Rumah Sakit Kodam Brawijaya dengan kejadian demam berdarah dengue pada tahun 2017 sebanyak 254 orang dengan data keseluruhan dari bulan Januari-Desember 2017

Berdasarkan data yang saya dapat diperoleh diatas dengan kejadian demam berdarah dengue di Rumah Sakit Kodam Brawijaya Surabaya maka peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Anak Umur 9-18 Tahun di Rumah Sakit Kodam Brawijaya Surabaya.

(5)

Demam Berdarah Dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang disebabkan dari salah satu dari empat serotype virus dari genus Flavivirus, family, Flaviviridae infeksi dan dengue merupakan penyakit menular melalui gigitan nyamuk

(mosquitoborne) yang paling sering terjadi pada manusia.

Penyebaran penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedse aegypti dan Aedes albopictus sehingga pada wilayah yang sudah diketahui adanya serangan penyakit DBD akan mungkin ada penderita lainnya bahkan akan dapat menyebabkan wabah yang luar biasa bagi penduduk disekitarnya. Dengue virus ditularkan atau disebarkan sebagian besar oleh nyamuk

Aedes, khususnya tipe nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini biasanya hidup di antara garis lintang 35 derajat utara dan 35 derajat selatan, dibawa ketinggian 1000 m. Nyamuk- nyamuk tersebut lebih sering menggigit pada siang hari. Satu gigitan dapat menginfeksi manusia.

Terkadang nyamuk juga tertular dengue dari manusia, jika nyamuk betina yang menggigit orang yang terinfeksi, nyamuk tersebut dapat tertular virus. Mulanya virus hidup di sel yang menuju saluran pencernaan nyamuk. Sekitar 8-10 hari berikutnya, virus menyebar ke kelenjar saliva nyamuk yang memproduksi saliva (atau “ludah”). Ini berarti bahwa saliva yang diproduksi oleh nyamuk tersebut terinfeksi virus dengue (Dunia Kedokteran 1950). Oleh karena itu ketika nyamuk menggigit manusia, saliva yang terinfeksi tersebut masuk ke dalam tubuh manusia dan menginfeksi orang tersebut. Virus sepertinya tidak menimbulkan masalah pada nyamuk yang terinfeksi, yang akan terus terinfeksi sepanjang hidupnya. Nyamuk Aedes aegypti

adalah nyamuk yang paling banyak menyebarkan dengue, ini karena nyamuk tersebut menyukai hidup berdekatan dengan manusia dan makan dari manusia alih-alih dari binatang. Nyamuk ini juga suka bertelur di wadah-wadah air yang ditutup oleh manusia.

(6)

Dengue juga dapat disebarkan melalui produk darah yang telah terinfeksi dan melalui donasi organ. Jika seseorang dengan dengue mendonasikan darah atau organ tubuh, yang kemudian diberikan kepada orang lain, orang tersebut dapat terkena dengue dari darah atau organ yang didonasikan tersebut. Di beberapa Negara, seperti Singapura dengue biasa terjadi di Negara-negara ini antara 1,6 dan 6 transfusi darah dari setiap 10.000 menularkan dengue. Virus dengue juga dapat ditularkan dari ibu ke anaknya selama kehamilan atau ketika anak tersebut dilahirkan pada tahun 1975. Penyakit ini disebabkan oleh suatu virus yang menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan, vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti.

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hidup sehat dan bersih dalam kehidupan di lingkungan masyarakat dampak dari pengetahuan dan pemahaman yang kurang tentang perilaku hidup bersih dan sehat diduga menjadi salah satu faktor penyebab tingginya kasus seperti diareh, DBD, dan malaria pada tahun 2010 untuk meningkatkan pola hidup sehat melalui (PHBS), upaya sosialisasi dapat dilakukan dengan pengenalan konsep PHBS, mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikan (Kemenkes RI 2010), kesehatan sekolah (2010) pelaksanaan PHBS di sekolah dapat di mulai dari hal, mencuci tangan dengan sabun, cuci tangan dengan air yang mengalir, cuci tangan yang benar, cuci tangan bebelum dan sesudah makan pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia sehat, setiap orang hidup dalam lingkungan yang sehat, berpirilaku hidup bersih dan sehat (Depkes,2009) data tahun 2010, cakupan rumah tangga yang ber-PHBS masih di bawah target 70% sedangkan data PHBS 2011 ( 34,22%) masih belum memenuhi target rumah tangga sehat yang ditetapkan oleh pemerintah (70%). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga merupakan salah satu upaya strategis untuk menggerakan

(7)

dan memberdayakan keluarga dan anggota rumah tangga untuk hidup bersih dan sehat Data Depkes, RI 2007) Lingkungan yang sehat akan menunjang pola perilaku hidup bersih dan sehat secara berkelanjutan dalam lingkungan hidup bagi masyarakat baik rumah tangga, tempat kerja, disekolah, tempat ibadah PHBS rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar, mau dan mampu melaksanakan perilaku hihup bersih dan sehat rumah tangga yang sehat adalah, rumah tangga yang melakukan 10 indikator PHBS di rumah tangga yaitu: Persalinaan di tolong oleh tenagah kesehatan, memberi bayi ASI eksklusif, menimbang bayi dan balita, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik dirumah, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, tidak merokok dalam rumah (Nuha Medika Yogyakarta, Januari 2012).

Pengertian pola hidup sehat adalah suatu gaya hidup dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi kesehatan. Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, apa yang penting orang pertimbangkan pada lingkungan dan apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri gaya hidup mencerminkan keseluruhan pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan, mencegah sakit adalah lebih mudah dan murah dari pada mengobati seseorang apabila jatuh sakit. Salah satu cara untuk mencegah hal tersebut adalah dengan bergaya hidup yang sehat, gaya hidup sehat adalah segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. Dengan semakin banyaknya penderita penyakit tidak menular lainnya yang disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat, maka untuk menghindarinya kita perlu bergaya hidup yang sehat setiap harinya. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan cerminan pola hidup keluarga yang senantiasa memperhatikan dan

(8)

menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga, sehingga semua anggota keluarga tidak mudah sakit (Nuha Medika., Yogyakarta, Januari 2012).

1.2. Rumusan Masalah.

Apakah ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Anak Umur 9-18 Tahun di Rumah Sakit Kodam Brawijaya Surabaya.

1.3. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Anak Umur 9-18 Tahun di Rumah Sakit Kodam Brawijaya Surabaya 2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengindentifikasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Sakit Kodam Brawijaya Surabaya.

b. Untuk mengindentifikasi kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Anak Umur 9-18 Tahun di Rumah Sakit Kodam Brawijaya Surabaya

c. Untuk menganalisis hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian demam berdarah dengue Pada Anak Umur 9-18 Tahun di Rumah Sakit Kodam Brawijaya Surabaya.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang di harapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memberkaya ilmu pengetahuan bagi masyarakat mengenai Demam Berdarah Dengue dan dapat menjadi bahan informasi bagi penelitian selanjutnya.

2. Manfaat praktis a. Bagi Institusi

Penelitian ini dapat dilakukan sebagai bahan masukan untuk melakukan kampanye tentang bahaya terjadinya demam berdarah dengue di semua kalangan lingkungan masyarakat.

(9)

b. Bagi peneliti

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti di bidang penelitian, khususnya mengenai demam berdarah dengue dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di lingkungan masyarakat.

c. Bagi Masyarakat

Manfaat yang dapat diperoleh bagi masyarakat, khususnya perilaku bersih dan sehat (PHBS) adalah sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat untuk dapat berupaya mencegah terjadinya Demam Berdarah Dengue sejak dini.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :