AIR LIMBAH
PKS
PENDAHULUAN
Kebijakan Perusahaan
Melalui pengelolaan air limbah PMKS akan dipenuhi syarat buangan limbah yang sesuai dengan peraturan pemerintah dan terhindar dari dampak sosial di
masyarakat
DASAR-DASAR PENGOLAHAN
Jenis Limbah
Limbah yang dihasilkan oleh PMKS berupa limbah cair berupa air limbah. Limbah
padat berupa cangkang, janjangan
kosong, serabut, solid dan kerak boiler.
KARAKTERISTIK LIMBAH
Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan oleh PMKS semuanya dimanfaatkan diantaranya:
cangkang dan serabut digunakan sebagai bahan bakar boiler
sebagian cangkang yang berlebih digunakan untuk pelapis jalan.
Janjangan kosong dibawa ke lahan
KARAKTERISTIK LIMBAH
Limbah Cair
Limbah cair yang dihasilkan oleh PMKS bersumber dari air kondensat, air cucian pabrik, air
hydrocyclone atau claybath dan sebagainya.
Limbah cair ini kesemuanya ditampung dan diolah di kolam limbah dan setelah memenuhi syarat air
buangan dapat dibuang ke sungai.
DASAR-DASAR PENGOLAHAN
Mekanisme Perombakan Limbah
Proses perombakan bahan organik
air dapat dilakukan melalui reaksi
kimia dan dapat pula melalui reaksi
biokimia .
MEKANISME PEROMBAKAN LIMBAH
Reaksi Kimia
1. Limbah PMKS yang terdiri dari bahan organik dapat dirombak melalui reaksi oksidasi dengan bahan kimia seperti KMnO4. Reaksi ini dapat terjadi jika terdapat katalisator oksida dalam air limbah.
2. Reaksi ini umumnya berjalan lambat, karena tidak seluruhnya karbohidrat dapat dioksida.
Penerapan oksidasi pada bahan organik
deanggap dapat menimbulkan efek samping yang membahayakan terhadap pemakai air.
MEKANISME PEROMBAKAN LIMBAH
Reaksi Bio Kimia
Reaksi biokimia terjadi bila perombakan organik menjadi senyawa sederhana dengan bantuan mikroba. Reaksi
perombakan ini terjadi dengan dua cara yaitu secara anaerobik dan secara aerobik.
PROSEDUR OPERASIONAL
1. Mekanisme Penanganan Limbah Cair dari Pabrik ke IPAL adalah sbb:
Air yang dihasilkan dari proses produksi di pabrik Minyak Kelapa Sawit mempunyai kisaran BOD 25.000 ppm. Pengolahan air limbah dimaksudkan agar kandungan zat-zat yang merupakan bahan pencemar berkurang dan memenuhi baku mutu limbah cair yang dipersyaratkan.
Air limbah dari recovery tank dipompakan menuju cooling pond.
Tujuan penampungan limbah di cooling pond adalah untuk pendinginan air limbah agar mencapai suhu 40 0C.
PROSEDUR OPERASIONAL
Dari cooling pond, air limbah dialirkan ke acidification
pond.
Tujuan penampungan di acidification pond adalah untuk terjadinya proses pengasaman dan pembiakan bakteri anaerob.
Setelah melalui proses ini, pH air limbah yang keluar adalah berkisar 6-8 sehingga proses selanjutnya dapat berjalan dengan baik.
Dari Acidification pond, air limbah dialirkan ke primary
anaerobic pond untuk penguraian senyawa kompleksmenjadi senyawa sederhana.
PROSEDUR OPERASIONAL
Proses ini ditandai dengan terbentuknya gelembung gas methane dan CO
2sebagai hasil dari proses
fermentase secara anaerob.
Kandungan BOD air limbah yang diharapkan setelah proses diatas adalah < 5000 ppm
Dari Primary anaerobic pond sebagian air limbah akan
Dipompakan kembali ke acidification pond untuk meningkatkan kecepatan pembiakan bakteri
Dialirkan ke lahan tanaman untuk land aplikasi
PROSEDUR OPERASIONAL
Dialirkan ke secondary anaerobic pond.
Tujuan penampungan air limbah di secondary anaerobic pond adalah untuk penguraian
senyawa sederhana menjadi senyawa terlarut.
Pada proses ini gelembung-gelembung gas methane dan CO
2sudah berkurang.
PROSEDUR OPERASIONAL
Air limbah dari secondary anaerobic dialirkan ke
aerobic pond. Air limbah di aerobic pond dilakukan
penambahan oksigen dengan menggunakan aerator untuk menurunkan kandungan BODn hingga < 100 ppm
Dari aerobic pond air limbah dialirkan ke sedimentasi
pond, tujuannya adalah untuk mengendapkanpadatan yang terlarut dalam air limbah dan
selanjutnya dialirkan ke sungai
PROSEDUR OPERASIONAL
2. Reaksi Perombakan Cairan Limbah Reaksi Anaerobik
Proses perombakan anaerobik berlangsung tanpa
oksigen. Perombakan dibantu bakteri anaerobik yang aktif mengeluarkan enzim untuk menguraikan zat organik.
Mikroba yang berperan dalam reaksi perombakan ini adalah bakteri yang membutuhkan lingkungan reaksi sebagai berikut
CnH2nOn + O CO2 + H2O
PROSEDUR OPERASIONAL
Lingkungan Yang cocok adalah:
Keasaman Limbah
Derajat keasaman pada mikroba yaitu: 5 – 9.
Suhu
Suhu yang keluar dari pabrik umumnya 50-80 0C tergantung pengolahan di fat pit atau recovery tank. Sifat adaptasi bakteri terhadap suhu adalah:
Phsycrophill, aktif pada suhu 10 0C (sub tropis)
Mesophill, aktif pada suhu 10 – 50 0C (tropis)
Thermophill, bakteri tahan panas aktif pada 50-80 0C banyak dijumpai di perut bumi
PROSEDUR OPERASIONAL
Nutrisi
Komposisi limbah pabrik adalah
karbohidrat, protein, lemak dan mineral.
Bakteri tidak dapat langsung
memakannya. Perlu ditambahkan unsur
P dan N, dan diberikan dalam bentuk
pupuk TSP dan Urea.
PROSEDUR OPERASIONAL
Udara
Reaksi perombakan anaerobic tidak
menghendaki kehadiran oksigen, karena
oksigen tersebut dapat menon-aktifkan
bakteri. Oksigen dapat bersumber dari
air hujan
REAKSI AEROBIK
Dapat disebut fermentasi aerobik menggunakan oksigen yang berasal dari udara yang dipompakan ke dalam cairan. Pemberian udara
dilakukan dengan beberapa cara:
1. Diffuse: Menginjeksikan udara dalam cairan dalam bentuk
gelembung halus, yang kemudian oksigen melarut dalam cairan
2. Aeration Blowing: Mengangkut air dengan kipas (propeller) sehingga air menaik dan membentuk lapisan tipis dan kontak dengan udara
3. Sprinkle: Alat yang memompa cairan limbah melalui nozzle
sehingga membentuk siraman halus dan kontak dengan udara
4. Aeration Tower: Menara tempat pembentukan butiran air yang kecil melalui lubang-lubang halus dan jatuh bebas. Saat air jatuh bebas akan beresinggungan dengan uadara
PARAMETER KUALITAS AIR LIMBAH
1. pH; menyatakan intensitas asam dan basa
2. BOD; jumlah oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme untuk oksidasi biologikal dari bahan organik di dalam waktu dan suhu tertentu
3. COD; jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik dan anorganik.
PARAMETER KUALITAS AIR LIMBAH
4. Solids (Total solids, suspended solids, Disolved solids, Volatile Suspended Solids)
Total solid; Bahan-bahan yang tertinggal pada dish setelah
penguapan dan pengeringan di oven pada temperatur 105 0C
Suspended solid; Terdiri dari bahan organik dan anorganik yang tak terlarut di dalam air limbah yang dapat dihilangkan dengan kertas saringan
Dissolved solid; Terdiri dari bahan-bahan organik dan anorganik yang dapat larut
Volatile Suspended Solids; Sebuah indikasi daripada konsentrasi bakteri yang ada di dalam proses pengolahan limbah dan
dapat ditentukan dengan pengeringan sebuah sampel limbah di dalam dapur (oven) pada 55 0C
PARAMETER KUALITAS AIR LIMBAH
5. Oil dan Grease;
Grease dihubungkan dengan bahan-bahan hydrokarbon, lemak- lemak, minyak, lilin dan molekul-molekul berat, asam lemak tinggi.
Besar kecilnya parameter oil dan grease di air limbah menunjukkan tingkat kesukaran dalam penanganan pengolahannya.
6. Total Volatile Acid; Besarnya penguapan asam yang dapat disaring dari sampel air limbah. TVA sangat berguna sebagai control test
7. Total Alkalinity (TA); Menunjukkan kapasitas limbah menerima
proton-proton dan TA yang dihubungkan dengan jumlah kebutuhan asam untuk mencapai titik keseimbangan pH 4.5 di dalam sistem
8. Total Organik Nitrogen dan Ammonical Nitrogen; Nitrogen organik yang ada sebagai protein yang secara keseluruhan diubah ke Nitrogen inorganik seperti Nitrat
PENGENDALIAN MUTU AIR LIMBAH
Cairan limbah PMKS sebelum dibuang ke sungai
terlebih dahulu ditampung dan diolah di kolam limbah sampai cairan tersebut memenuhi syarat untuk
dibuang.
Beberapa perlakukan pengendalian mutu air limbah
meliputi: Pendinginan, deoiling pond, pengasaman,
netralisasi, kolam pembiakan bakteri, kolam anaerobik,
kolam fakultatif, kolam aerasi, kolam sedimentasi.
Pendinginan
Temperatur cairan limbah keluar dari pabrik umumnya berkisar pada (50- 70) 0C. Pendinginan dilakukan dengan 2 cara:
Menara pendingin; Pendinginan dengan menggunakan menara yang kemudian dibantu dengan bak. Rata-rata penurunan
temperatur limbah sekitar 20 0C.
Kolam pendingin, yaitu pendinginan limbah dengan kolam.
Pendinginan ini dikombinasikan dengan pengutipan minyak.
PENGENDALIAN MUTU AIR LIMBAH
Deoiling Pond
Berfungsi untuk mengutip minyak hingga kadar minyak 0.4 %, merupakan instalasi tambahan membantu fat pit.
Pengasaman
Kandungan senyawa organik mudah dihidrolisa dan menghasilkan senyawa asam. Agar senyawa ini tidak mengganggu proses
pengendalian limbah maka dilakukan pengasaman.
Dalam kolam ini pH limbah umumnya berkisar 3 - 4 dan kemudian pH nya naik setelah asam-asam organik terurai kembali oleh proses
hidrolisa yang berlanjut.
Netralisasi
Tindakan ini dilakukan dengan penambahan bahan kimia atau cairan alkali. Bahan yang sering ditambahkan adalah:
Soda api
Kapur tohor
Abu tandan kosong
Cairan limbah yang sudah netral
PENGENDALIAN MUTU AIR LIMBAH
Kolam Pembiakan Bakteri
Kolam pembiakan limbah dibuat untuk membiakkan bakteri pada awal
pengoperasian pengendalian limbah
PENGENDALIAN MUTU AIR LIMBAH
Kolam Anaerobik
Limbah yang telah dinetralkan dialirkan ke dalam kolam anaerobik untuk diproses.
Proses perombakan limbah dapat berjalan lancar jika
kontak antara limbah dan bakteri yang berasal dari kolam pembiakan lebih baik.
Untuk mengefektifkan proses perombakan dalam kolam anaerobik maka perlu diperhatikan beberapa faktor yaitu:
Sirkulasi
Resirkulasi
Kandungan minyak
Kedalaman dan volume
PENGENDALIAN MUTU AIR LIMBAH
Sirkulasi
Untuk mempertinggi frekuensi
persinggungan antara bakteri dengan substrat maka dilakukan sirkulasi dalam kolam itu sendiri. Sirkulasi dalam kolam
anaerobik semakin efektif jika inlet kapasitas pompa sirkulasi setara dengan kapasitas
outlet.
PENGENDALIAN MUTU AIR LIMBAH
Resirkulasi
Resirkulasi adalah pemasukan hasil olah
limbah dari kolam di hilir ke kolam di hulu
dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi
substrat dalam pH, nutrisi dan kelarutan
PENGENDALIAN MUTU AIR LIMBAH
Kandungan Minyak
Minyak bisa menjadi isolasi antara bakteri
dengan substrat dan bila bereaksi dengan alkali dapat membentuk sabun busa jika bercampur dengan benda-benda lain yang dan
mengapung di permukaan kolam disebut scum.
Gas methane yang terlalu tebal dapat
mempersulit pengeluaran gas methane oleh sebab itu perlu dibuang.
PENGENDALIAN MUTU AIR LIMBAH
Kedalaman dan Volume Kolam
Kedalaman kolam anaerobik harus dipertahankan dengan melakukan pengorekan terjadwal
Kedalaman yang berkurang akan menyebabkan aktifitas bakteri menurun.
Volume yang berkurang akan menyebabkan retention time.
Untuk mengefektifkan perombakan substrat maka dibuat kolam anaerobik dibuat bertahap yaitu primer dan sekunder
JENIS BAKTERI YANG DIKEMBANGKAN
Bakteri harus dipilih sesuai dengan bahan organik yang terkandung di dalam limbah
Kandungan limbah PMKS umumnya adalah:
karbohidrat, sellulosa, protein, lignin, dan minyak
KOLAM FAKULTATIF
Kolam ini merupakan kolam peralihan dari kolam anaerobik menjadi kolam aerobik
Di dalam kolam ini proses perombakan anaerobik masih tetap berjalan sebagai sisa perombakan pada anaerobik
Pada bagian hulu kolam masih menunjukkan adanya gelembung udara.
Pada bagian hilir kolam sudah tidak menunjukkan lagi adanya gelembung udara.
KOLAM AERASI
Pada kolam aerasi ditempatkan alat yang dapat meningkatkan jumlah oksigen terlarut dalam air, dengan tujuan agar dapat berlangsung reaksi oksidasi dengan baik.
Pemberian oksigen dapat dilakukan dengan cara diffusi atau persentuhan air dengan udara
KOLAM SEDIMENTASI
Kedalaman kolam ini dangkal sekitar 2.5 m menjadikan adanya kontak udara yang
memungkinkan terjadinya diffusi ke dalam air.
Kolam ini adalah kolam terakhir dan air limbah telah
dapat dialirkan ke sungai
PENGELOLAAN AIR LIMBAH
Beberapa kendala yang sering timbul di dalam pengolahan limbah di nataranya adalah:
Kelebihan umpan
Kapasitas berkurang karena solid menumpuk
Kadar minyak tinggi
Pengawasan yang tidak baik
Pencampuran/sirkulasi tidak baik
karena pompa rusak
BAKU MUTU LIMBAH
Parameter baku mutu limbah cair untuk industri minyak kelapa sawit sesuai KLH No. Kep-51/MenLH/10/1995 yaitu:
a.
pH : 6 – 9
b.
BOD : 100 mg/L
c.
COD : 350 mg/L
d.
Padatan Tersuspensi
Total (TSS) : 250 mg/L
e.
Minyak dan lemak : 25 mg/L
f.
NH
3– N Amoniak Nitrogen : 50 mg/L
PENGENDALIAN PROSES
1. Secara rutin melakukan pengukuran, pencatatan dan pengambilan sampel air limbah untuk dianalisa agar kondisi air limbah dapat terus diketahui
2. Lakukan pemeriksaan secara rutin untuk mencegah adanya kebocoran maupun tumpat
3. Pengiriman air limbah ke lahan atau land aplikasi tidak
diperbolehkan pada musim hujan atau pada daerah yang sering banjir
4. Bila nilai BOD dan COD masih di atas standard, jangan lakukan pembuangan air limbah ke sungai sampai nilainya mencapai standard yang diizinkan
5. Bila terjadi pendangkalan terhadap volume kolam limbah segera dilakukan pengerukan isi kolam limbah