• Tidak ada hasil yang ditemukan

STIGMA MASYARAKAT TERHADAP PENDERITA HIV-AIDS DI BANDA ACEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STIGMA MASYARAKAT TERHADAP PENDERITA HIV-AIDS DI BANDA ACEH"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

65

STIGMA MASYARAKAT TERHADAP PENDERITA HIV-AIDS DI BANDA ACEH

Elly Wardani1

([email protected])

Rachmah2* ([email protected])

Eddy Gunawan3 ([email protected])

Abstrak

Stigma terhadap penderita HIV AIDS merupakan factor dominan dalam pencegahan, deteksi dini pengobatan dan perawatan ODHA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan stigma berupa diskriminasi masyarakat terhadap ODHA di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2017. Sampel penelitian sebanyak 1.121 orang. Hasil studi menunjukkan 72 % wanita dan 61,8

% pria kawin memiliki pengetahuan tentang cara pencegahan HIV AIDS, 48,6 % wanita dan 42,8 % pria tidak sependapat tentang anak yang terinfeksi HIV dapat bersekolah dengan anak yang tidak terinfeksi HIV, 74,2 % wanita dan 65,1 % pria tidak mau membeli sayuran segar dari penjual yang terinfeksi HIV, 44,4%

wanita dan 40,5 % pria merahasiakan anggota keluarga yang terinfeksi HIV, 89,7

% wanita dan 84,6 % pria memiliki sikap diskriminasi terhadap penderita HIV.

Pengetahuan mengenai HIV AIDS dapat mengurangi stigma masyarakat terhadap ODHA.

Kata Kunci: HIV, AIDS, Diskriminasi, Stigma.

1 Elly Wardani adalah Staf Pengajar di Fakultas Keperawatan, Universitas Syiah Kuala, Aceh, Indonesia 2* Rachmah adalah Staf Pengajar di Fakultas Keperawatan, Universitas Syiah Kuala, Aceh, Indonesia 3 Eddy Gunawan adaalah Staf Pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Aceh, Indonesia

(2)

66 Abstract

Stigma against HIV sufferers is the dominant factor in prevention, detection of denim treatment and care of ODHA. The purpose of this study is to study the description of knowledge and stigma that consists of the community towards ODHA in Indonesia. This study uses data from the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2017. The study samples were 1,121 people. The study shows 35%

of married women and men have knowledge of how to get HIV AIDS, 49% of women and 43% of men disagree about HIV-supported children who can go to school with HIV-uninfected children, 74% of women and 65% of men are not want to buy fresh vegetables from sellers who win HIV, 44.4% of women and 40.5% of men keep a family member who is anti-HIV, 89.7% of women and 84.6% of men have opposing attitudes towards people with HIV. Knowledge about HIV can reduce people's stigma towards ODHA.

Keywords: HIV, AIDS, Discrimination, Stigma.

(3)

67 I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang menyerang sel-sel kekebalan tubuh. Virus HIV dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui perantara darah, semen dan sekret vagina (Pinsky & Douglas, 2009). Penularan HIV/AIDS akibat melalui cairan tubuh yang mengandung virus HIV yaitu melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun heteroseksual, jarum suntik pada pengguna narkotika, transfusi komponen darah dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang dilahirkannya (Alwi et all, 2015).

HIV AIDS merupakan penyakit yang hingga saat ini sangat ditakuti oleh masyarakat. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit ini merupakan penyebab utama yang mempengaruhi stigma masyarakat terhadap Orang Hidup Dengan HIV-AIDS (ODHA). Prevalensi penderita HIV AIDS 15 hingga 49 tahun menurut WHO (2017) adalah 0,8 % dari seluruh penduduk dunia yang terdiri atas Europa 0,4 %, America 0,5 %, Africa 4,1 %, Asia Tenggara 0,3 %, Pasific Barat 0,1 %, Mediterania 0,1 %. Berdasarkan data UNAIDS (2017) sebanyak 36,9 juta orang di dunia hidup dengan HIV.

Prevalensi penderita HIV AIDS di Indonesia Berdasarkan Laporan Perkembangan HIV AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) Triwulan IV Tahun 2017 jumlah penderita HIV sebanyak 14.640 orang dengan prevalensi sebesar 69,2

% pada kelompok usia 25 hingga 49 tahun, sedangkan jumlah penderita AIDS sebesar 4720 orang, dengan prevalensi sebesar 35,2 % pada kelompok usia 30 hingga 39 tahun. Jumlah kumulatif penderita HIV sejak 1987 hingga Desember 2017 sebesar 280.623 orang, sedangkan jumlah kasus AIDS berjumlah 102.667, dengan penderita terbanyak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 57 % (Depkes, 2017). Aceh menempati urutan ke 29 dari 34 Provinsi di Indonesia, dengan jumlah infeksi HIV sebanyak 420 orang (Depkes, 2017). Dinas Kesehatan Provinsi Aceh menyebutkan bahwa total kasus sejak tahun 2004 hingga 2017 ada 632 kasus HIV/AIDS (SDKI, 2017), dengan jumlah terbanyak berada di Kota Banda Aceh sebanyak 77 kasus.

(4)

68

Berbagai upaya pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS telah dicanangkan oleh pemerintah yang bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero pada 2030, antara lain: tidak ada lagi kasus penularan infeksi baru HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV AIDS (ODHA). Bahkan pada Hari Aids Sedunia (HAS) tahun 2017 dicanangkan strategi Fast Track 90-90-90 untuk mempercepat pencapaian 90% dari orang yang hidup dengan HIV (ODHA) mengetahui status HIV mereka melalui tes atau deteksi dini; 90% dari ODHA yang mengetahui status HIV untuk memulai terapi pengobatan ARV, dan 90% ODHA yang dalam pengobatan ARV telah berhasil menekan jumlah virusnya sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV; serta tidak ada lagi stigma dan diskriminasi ODHA.

Situmeang, B., Syarif, S., Mahkota, R (2017) mengatakan bahwa stigma merupakan hambatan utama dalam pencegahan, perawatan, pengobatan, dan dukungan HIV. Ketakutan akan stigma membuat orang cenderung kurang ingin melakukan pemeriksaan HIV dan kurang ingin atau menunda mengungkapkan status HIV kepada pasangan. Stigma juga berhubungan dengan penundaan atau penolakan perawatan dan ketidakpatuhan dalam pengobatan HIV. Stigma dapat berupa diskriminasi, kekerasan, layanan kesehatan yang buruk, pelecehan, kemiskinan, dan kesejahteraan social yang buruk. Di 35% negara, lebih dari 50%

orang melaporkan memiliki sikap diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan HIV UNAIDS (2015). Beberapa orang dengan HIV dijauhi oleh keluarga, teman sebaya dan masyarakat luas, sementara penderita lainnya menghadapi pelayanan kesehatan yang buruk dan gangguan psikologis. Hal ini dapat mengganggu pengobatan HIV (Stangl, A.L. et al, 2013., Katz, I.T. et al, 2013).

Di Indonesia, stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) ditemukan baik pada unit pelayanan kesehatan, tempat kerja, lingkungan keluarga maupun di masyarakat umum. Komisi Penanggulangan AIDS (2007) mengatakan bahwa dukungan dan perberdayaan kelompok-kelompok dukungan sebaya (KDS) sebagai mitra kerja yang efektif dan mahasiswa sebagai kelompok yang potensial dapat mengurangi stigma dan diskriminasi.

(5)

69 1.2. Perumusan Masalah

Saat ini, yang menjadi masalah adalah jumlah kasus HIV yang ditemukan dan dilaporkan masih jauh dari yang diperkirakan, sebanyak 640.443 ODHA yang diperkirakan tahun 2016, namun yang dilaporkan hingga Desember 2017 hanya berjumlah sepertiganya yaitu 280.623 orang. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia antara lain dengan meningkatkan penemuan kasus HIV, meningkatkan pemberian terapi ARV, dan mengurangi jumlah ODHA yang putus obat ARV. Namun pertanyaan terbesar adalah mengapa jumlah HIV makin meningkat setiap tahunnya?. Saat ini pemerintah bereaksi cepat terhadap upaya kuratif pada penderita HIV, namun beberapa penelitian mengatakan bahwa ledakan kasus HIV justru karena stigma masyarakat terhadap penderitanya yang di akibatkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penyakit tersebut, sehingga hal ini baik langsung maupun tidak langsung menghambat proses perawatan dan pengobatan penderita HIV.

1.3. Tujuan

Penulisan makalah ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan stigma berupa diskriminasi masyarakat terhadap ODHA di Banda Aceh.

II. METODE PENELITIAN 2.1. Cakupan

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersumber dari data sekunder SDKI 2017. Sampel SDKI 2017 di Provinsi Aceh mencakup 92 blok sensus yang meliputi daerah perkotaan 30 blok sensus dan perdesaan 32 blok sensus, dengan jumlah sampel WUS sebanyak 955 orang dan Pria Kawin sebanyak 166 orang.

Kerangka sampel SDKI 2017 menggunakan Master Sampel Blok Sensus dari hasil Sensus Penduduk 2010 (SP2010). Adapun desain sampling dilakukan dengan dua tahap yaitu memilih sejumlah blok dengan probability proportional to size (PPS) sistematik dengan size jumlah rumah tangga hasil listing SP2010, kemudian mengurutkan blok sensus berdasarkan kategori Wealth Index dari hasil SP2010, dan

(6)

70

memilih 25 rumah tangga biasa di setiap blok sensus terpilih secara sistematik dari hasil pemutakhiran rumah tangga di setiap blok sensus tersebut. Sampel pria kawin (PK) akan dipilih 8 rumah tangga secara sistematik dari 25 rumah tangga tersebut (SDKI, 2017).

2.2. Tahap Persiapan

Penelitian ini menggunakan 2 (dua) jenis kuesioner yaitu kuesioner rumah tangga, wanita usia subur (WUS) dan pria kawin (PK). Kuesioner rumah tangga dan wanita umur 15-49 mengacu pada kuesioner DHS (Demographic Health Surveys) Phase 7 tahun 2015 yang sudah mengakomodasi beberapa isu terbaru sesuai keterbandingan internasional (SDKI, 2017).

2.3. Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan menggunakan data yang ada dari IPADI 2017 yang dikumpulkan melalui survey kepada wanita usia subur (WUS) dan pria kawin (PK) (SDKI, 2017).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Gambaran Pengetahuan Responden tentang HIV AIDS

Gambaran pengetahuan wanita dan pria kawin mengenai HIV AIDS berdasarkan latar belakang atau karakteristik responden yang meliputi umur, status perkawinan, daerah tempat tinggal, dan pendidikan disajikan pada tabel 1.

Pada tabel 1, diketahui bahwa Pria Kawin berusia 25 hingga 29 tahun memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai HIV AIDS (83,6 %) daripada Wanita (79,3 %) usia 25 hingga 29 tahun. Notoadmojo (2003) mendefenisikan pengetahuan sebagai sesuatu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan didapatkan melalui penginderan melalui indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba dan merupakan sesuatu yang dapat mempengaruhi sikap dan tindakan seseorang.

61,8 % Pria Kawin dan 66,4 % wanita yang pernah mendengar mengenai HIV AIDS berstatus kawin atau hidup bersama. Mayoritas responden yang

(7)

71

memiliki pengetahuan yang baik dilatarbelakangi dengan pendidikan yang tinggi yaitu perguruan tinggi (96,1 – 96,3 %). Pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan dan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Nursalam, 2001). Ketidaktahuan dapat disebabkan karena pendidikan yang rendah, seseorang dengan tingkat pendidikan yang terlalu rendah akan sulit menerima pesan, mencerna pesan, dan informasi yang disampaikan (Effendi, 1998).

Berdasarkan daerah tempat tinggal, diketahui bahwa wanita perkotaan memiliki pengetahuan yang lebih baik (84,1 %) daripada wanita diperdesaan (67,4 %), begitu pula pengetahuan pria kawin diperkotaan memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang HIV AIDS (83,6 %).

Tabel 1. Pengetahuan tentang HIV AIDS

Karakteristik latar belakang

Wanita Pria kawin

Pernah mendengar

HIV AIDS Jumlah

Pernah mendengar

HIV AIDS Jumlah

Umur

15-24 85,5 285 na 3

..15-19 81,4 151 na 0

..20-24 90,0 134 na 3

25-29 79,3 141 (83,6) 16

30-39 66,3 297 68,6 56

40-49 58,4 233 57,0 66

50-54 na 0 44,4 26

Status Perkawinan

Belum kawin 86,7 291 na 0

Pernah melakukan hubungan seks na 1 na 0

Tidak pernah melakukan hubungan seks 86,6 290 na 0

Kawin/hidup bersama 66,4 623 61,8 166

Cerai/pisah/janda 53,1 41 na 0

Daerah Tempat Tinggal

Perkotaan 84,1 264 83,6 45

Perdesaan 67,4 691 53,7 121

Pendidikan

Tidak sekolah (4,2) 14 na 2

Tidak tamat SD 24,4 58 (39,3) 15

Tamat SD 37,0 145 41,8 38

Tidak tamat SLTA 70,0 254 51,0 44

Tamat SLTA 86,3 240 82,4 46

Perguruan tinggi 96,1 243 96,3 21

Jumlah 72,0 955 61,8 166

(SDKI, 2017)

(8)

72

3.2. Perilaku diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan HIV AIDS Gambaran perilaku diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan HIV AIDS berdasarkan latar belakang atau karakteristik responden yang meliputi umur, status perkawinan, daerah tempat tinggal, pendidikan, dan kuintil kekayaan disajikan pada tabel 2.

(9)

73

Tabel 2. Perilaku diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan HIV AIDS

Wanita Pria kawin

Karakteristik latar belakang

Persentase yang tidak sependapat tentang anak yang menderita HIV AIDS boleh bersekolah dengan

anak yang bukan penderita HIV AIDS

Persentase yang tidak mau membeli sayuran

segar dari penjual yang terinfeksi HIV

Persentase yang merahasiakan

anggota keluarga yang

terinfeksi HIV

Persentase yang tidak mau merawat anggota

keluarga yang terinfeksi HIV

Persentase sikap diskriminasi

terhadap pengidap HIV1

Jumlah responden yang pernah

mendengar tentang HIV AIDS

Persentase yang tidak sependapat bahwa anak yang menderita

HIV AIDS boleh bersekolah dengan

anak yang bukan penderita HIV AIDS

Persentase yang tidak mau membeli sayuran segar dari

penjual yang terinfeksi HIV

Persentase yang merahasiakan

anggota keluarga yang

terinfeksi HIV

Persentase yang tidak mau merawat

anggota keluarga yang terinfeksi HIV

Persentase sikap diskriminasi

terhadap pengidap HIV1

Jumlah responden yang pernah

mendengar tentang HIV AIDS

Umur

15-24 47,2 76,7 39,8 15,8 89,3 243 na na na na na 2

..15-19 50,0 80,4 40,5 15,3 90,9 123 na na na na na 0

..20-24 44,4 73,0 39,0 16,2 87,6 121 na na na na na 2

25-29 49,8 75,1 45,2 15,2 90,5 112 (39,8) (76,1) (33,7) (29,3) (82,5) 13

30-39 48,0 69,9 46,1 20,1 89,4 197 53,9 61,2 41,3 29,1 88,8 39

40-49 51,0 75,2 49,7 20,2 90,4 136 31,6 65,1 42,9 40,6 82,3 38

50-54 na na na na na 0 (50,6) (71,3) (44,9) (20,5) (84,5) 11

Status perkawinan

Belum kawin 47,0 75,3 39,3 14,5 88,3 252 na na na na na 0

Pernah melakukan hubungan seks na na na na na 1 na na na na na 0

Tidak pernah melakukan hubungan seks 46,9 75,4 39,4 14,6 88,3 252 na na na na na 0

Kawin/hidup bersama 49,6 73,3 47,2 19,7 90,4 413 42,8 65,1 40,5 32,4 84,6 103

Cerai/pisah/janda 49,0 78,9 51,7 19,2 93,2 22 na na na na na 0

Daerah tempat tinggal

Perkotaan 49,0 73,0 38,5 16,4 87,3 222 43,4 63,4 42,0 30,3 84,2 38

Perdesaan 48,4 74,8 47,2 18,4 90,9 466 42,4 66,1 39,6 33,6 84,8 65

Pendidikan

Tidak sekolah na na na na na 1 na na na na na 0

Tidak tamat SD (50,2) (74,0) (37,7) (27,9) (84,8) 14 na na na na na 6

Tamat SD 50,0 70,3 51,8 24,3 89,1 54 (39,6) (59,2) (46,4) (34,1) (85,4) 16

Tidak tamat SLTA 51,6 81,9 42,3 17,8 91,5 178 35,9 60,6 41,4 30,2 79,2 23

(10)

74

Wanita Pria kawin

Karakteristik latar belakang

Persentase yang tidak sependapat tentang anak yang menderita HIV AIDS boleh bersekolah dengan

anak yang bukan penderita HIV AIDS

Persentase yang tidak mau membeli sayuran

segar dari penjual yang terinfeksi HIV

Persentase yang merahasiakan

anggota keluarga yang

terinfeksi HIV

Persentase yang tidak mau merawat anggota

keluarga yang terinfeksi HIV

Persentase sikap diskriminasi

terhadap pengidap HIV1

Jumlah responden yang pernah

mendengar tentang HIV AIDS

Persentase yang tidak sependapat bahwa anak yang menderita

HIV AIDS boleh bersekolah dengan

anak yang bukan penderita HIV AIDS

Persentase yang tidak mau membeli sayuran segar dari

penjual yang terinfeksi HIV

Persentase yang merahasiakan

anggota keluarga yang

terinfeksi HIV

Persentase yang tidak mau merawat

anggota keluarga yang terinfeksi HIV

Persentase sikap diskriminasi

terhadap pengidap HIV1

Jumlah responden yang pernah

mendengar tentang HIV AIDS

Tamat SLTA 52,1 76,9 46,9 18,4 91,6 207 42,3 68,6 38,0 35,1 89,6 38

Perguruan tinggi 42,6 66,8 42,4 15,2 87,0 234 50,0 62,6 34,4 23,8 80,4 20

Jumlah

48,6 74,2 44,4 17,8 89,7 687 42,8 65,1 40,5 32,4 84,6 103

(SDKI, 2017)

(11)

75

Perilaku diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan HIV AIDS disajikan pada tabel 2. Berdasarkan tabel 2, Persentase wanita usia 40 – 49 tahun yang tidak sependapat tentang anak yang menderita HIV AIDS boleh bersekolah dengan anak yang bukan penderita HIV AIDS sebesar 51 %, sedangkan presentasi 53, 9 % terdapat pada pria usia 30 – 39 tahun. Hal ini bertolak belakang dengan data pada tabel 1, dimana wanita usia 40 – 49 tahun sebanyak 58,4 % pernah mendengar HIV AIDS. Dengan pengetahuan tersebut, seharusnya responden mengetahui cara penularan HIV AIDS sehingga tidak akan muncul kekhawatiran mengenai anak dengan atau tanpa HIV bisa bersekolah bersama.

Berdasarkan tabel 2, diketahui bahwa persentase keluarga yang merahasiakan anggota keluarga yang terinfeksi HIV pada wanita dan pria kawin berkisar antara 33,7 – 49,7 %. Wanita perkotaan cenderung tidak merahasiakan anggota keluarga yang terinfeksi HIV (38,5 %) sedangkan wanita perdesaan memilih untuk merahasiakan jika ada anggota keluarga yang terkena HIV (47,2 %).

Pria kawin di perkotaan memilih untuk merahasiakan jika ada anggota keluarga yang terkena HIV (42 %), sedangkan pria kawin di perkotaan menyatakan merahasiakan jika ada anggota keluarga yang terkena HIV sebesar 39,6 % .

Data responden terhadap diskriminasi terhadap pengidap HIV memiliki persentase yang tinggi yaitu berkisar antara 79,2 % hingga 91,5 %. Hal ini sangat relevan antara diskriminasi yang tinggi pada penderita dan merahasiakan anggota keluarga yang terkena HIV. Temuan dari 50 negara, menunjukkan bahwa sekitar satu dari delapan orang yang hidup dengan HIV ditolak layanan kesehatan karena stigma dan diskriminasi. Michel Sidibé, Executive Director of UNAIDS mengatakan bahwa “setiap kali AIDS menang, itu berarti stigma, rasa malu, ketidakpercayaan, diskriminasi, dan sikap apatis ada di pihaknya. Setiap kali AIDS dapat dikalahkan, itu karena kepercayaan, keterbukaan, komunikasi antara individu dan komunitas, dukungan keluarga, toleransi antar sesame manusia, dan ketekunan manusia untuk menemukan jalan dan solusi baru”

3.3. Pembahasan

(12)

76

Beberapa permasalahan pada penderita HIV AIDS di Aceh adalah:

1. Pengetahuan mengenai HIV AIDS

72 % wanita dan 61,8 % pria kawin memiliki pengetahuan tentang cara pencegahan HIV AIDS, jika dilihat dari aspek pengetahuan dapat kita nyatakan bahwa pengetahuan responden baik. Namun hal ini berbanding terbalik dengan stigma masyarakat antara lain; 48,6 % wanita dan 42,8 % pria tidak sependapat tentang anak yang terinfeksi HIV dapat bersekolah dengan anak yang tidak terinfeksi HIV, 74,2 % wanita dan 65,1 % pria tidak mau membeli sayuran segar dari penjual yang terinfeksi HIV. Hal ini memberi arti bahwa kurangnya pengetahuan mempengaruhi cara pandang atau persepsi seseorang terhadap HIV AIDS. Prevalensi remaja yang mempunyai stigma terhadap ODHA sebesar 71,63%, prevalensi remaja yang memiliki pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS sebesar 49,10%. Pengetahuan yang kurang 1,210 (95% CI: 1,149-1,273) kali lebih berisiko mempunyai stigma terhadap ODHA dibandingkan dengan pengetahuan yang cukup tentang HIV/AIDS setelah dikontrol keterpaparan media massa (Situmeang, B., Syarif, S., Mahkota, R, 2017).

Kesalahpahaman mengenai HIV di kalangan remaja masih banyak ditemukan dimana seks tidak dibicarakan secara terbuka, masih tabu untuk dibicarakan. Remaja diberikan pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi, tetapi mereka tidak diberi pengetahuan tentang bagaimana membuat keputusan tentang seks (UNAIDS, 2017). Hasil penelitian dari H. Yang, X. Li,B.

Stanton, X. Fang, D. Lin, And S. Naar-King, (2007) diketahui bahwa peningkatan pengetahuan HIV tidak cukup untuk pencegahan dan pengendalian HIV yang efektif, perlu berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan pengetahuan baik disalurkan melalui pendidikan, promosi kesehatan melalui media massa untuk menyebarkan pengetahuan, informasi, hukum, atau peraturan terkait HIV AIDS sehingga hal ini baik langsung ataupun tidak langsung dapat membantu proses perawatan dan pengobatan ODHA.

(13)

77

2. Stigma masyarakat terhadap ODHA melalui sikap diskriminasi terhadap penderita HIV

Stigma adalah penilaian negatif yang dilakukan oleh masyarakat atau sebagian dari masyarakat diakibatkan oleh ketidaktahuan, ketakutan atau keyakinan salah. Diskriminasi adalah hasil dari tindakan yang membatasi atau menolak hak individu atau komunitas tertentu untuk menikmati hak-hak mereka. Perlindungan terhadap diskriminasi termaktub didalam hak asasi manusia. Stigma adalah fenomena sosial yang kompleks.

Stigma pada orang dengan HIV AIDS pertama kali dibahas dalam sebuah acara informal ke-42 PBB pada tahun 1987 (Mann, 1988), dan telah ada berbagai diskusi tentang tanggapan efektif terhadap stigma HIV dan AIDS. Hingga saat ini, stigma masih terus menjadi penghambat upaya pencegahan HIV (de Bruyn 2004;

Rahmati-Najarkolaei 2010; Thi 2008). UNAIDS dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa stigma dan diskriminasi oleh masyarakat pada pasien HIV merupakan alasan utama mengapa orang enggan untuk dilakukan tes, mengungkapkan status HIV mereka dan menggunakan obat antiretroviral (ARV).

Keengganan untuk melakukan tes HIV berarti bahwa lebih banyak orang didiagnosis terlambat, ketika virus mungkin sudah berkembang menjadi AIDS. Hal ini membuat pengobatan menjadi kurang efektif, meningkatkan kemungkinan penularan HIV ke orang lain, dan menyebabkan kematian dini.

Stigma HIV-AIDS selalu menjadi hambatan besar untuk pengobatan yang efektif. Tantangan ini menghambat upaya lokal, nasional dan global untuk mengatasi stigma terkait HIV AIDS (UNAIDS, 2011). Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa stigma masyarakat berupa perilaku diskriminasi masih terjadi, antara lain 48,6 % wanita dan 42,8 % pria tidak sependapat tentang anak yang terinfeksi HIV dapat bersekolah dengan anak yang tidak terinfeksi HIV, 74,2

% wanita dan 65,1 % pria tidak mau membeli sayuran segar dari penjual yang terinfeksi HIV, 44,4% wanita dan 40,5 % pria merahasiakan anggota keluarga yang terinfeksi HIV dan 89,7 % wanita dan 84,6 % pria memiliki sikap diskriminasi terhadap penderita HIV. Stigma yang terbentuk dalam pikiran masyarakat melahirkan perilaku yang cenderung mendiskriminasikan ODHA, hal ini tidak

(14)

78

lebih akibat ketakutan yang berlebihan akan tertular penyakit ini, serta adanya anggapan bahwa penyakit tersebut ditularkan akibat dari perilaku menyimpang sehingga dianggap merupakan aib bagi pengidap dan keluarganya.

Stigma dan diskriminasi seringkali diarahkan terhadap populasi kunci dengan risiko HIV yang lebih tinggi, seperti pekerja seks, pria yang berhubungan seks dengan pria dan orang dengan narkoba suntik, serta terhadap semua orang yang hidup dengan HIV (WHO, 2015). Stigma bukan hanya ditemukan pada masyarakat, namun juga didapatkan stigma oleh pemberi layanan kesehatan. WHO (2017) mengatakan bahwa hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan petugas kesehatan terhadap HIV AIDS, rasa takut, dan kompetensi yang tidak memadai.

WHO (2015) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2018) telah menerapkan program inovatif seperti target Three Zero pada 2030, yaitu Zero New HIV Infection, Zero Stigma and Discrimination dan Zero AIDS Related Death, kemudian strategi Fast Track 90-90-90, dDapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. The three 90s: targets, indicators, and definitions

(15)

79

(WHO, 2015)

Upaya yang dapat dilakukan ODHA untuk mengatasi stigma. Program yang dirancang untuk mengurangi stigma, antara lain: 1) memberikan informasi tentang HIV, stigma HIV dan populasi kunci yang terkena dampak. Informasi dapat diberikan kepada masyarakat umum atau kepada kelompok sasaran, 2) pengembangan keterampilan dan pembelajaran partisipatif Ini lebih dari sekadar memberikan informasi, seperti keterampilan dapat diajarkan untuk mendukung seseorang untuk mengenali dan menantang stigma. 3) konseling, 4) perubahan dalam kebijakan publik, misalnya, memperkenalkan undang-undang untuk melindungi orang yang hidup dengan HIV dari stigma dan diskriminasi serta

(16)

80

memastikan bahwa ODHA mendapatkan hak yang sama sebagai manusia. Adapun framework strateginya dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. The where, what and how of an intervention strategy for stigma

(NAT, 2015)

IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini didapatkan beberapa kesimpulan, yaitu:

1. 72 % wanita dan 61,8 % pria kawin memiliki pengetahuan tentang cara pencegahan HIV AIDS

2. 48,6 % wanita dan 42,8 % pria tidak sependapat tentang anak yang terinfeksi HIV dapat bersekolah dengan anak yang tidak terinfeksi HIV

3. 74,2 % wanita dan 65,1 % pria tidak mau membeli sayuran segar dari penjual yang terinfeksi HIV

4. 44,4% wanita dan 40,5 % pria merahasiakan anggota keluarga yang terinfeksi HIV

5. 89,7 % wanita dan 84,6 % pria memiliki sikap diskriminasi terhadap penderita HIV.

(17)

81 4.2. Saran

Dari hasil kesimpulan penelitian ini dibuatkan beberapa rekomendasi, yaitu:

1. Perlunya sosialisasi mengenai HIV AIDS secara berkesinambungan melalui institusi pendidikan sesuai dengan level pendidikan

2. Perlunya upaya pendekatan psikososial dan spiritual kepada penderita HIV selain pendekatan yang berorientasi terhadap permasalahan biologis.

3. Perlunya peran serta Pemerintah Daerah dalam upaya mengoptimalisasikan upaya preventif dan kuratif penyakit HIV AIDS.

4. Perlunya perencanaan alternatif terhadap semakin banyaknya jumlah penderita HIV AIDS, dengan membantu pemerintah dalam mengimpelementasikan target Three Zero pada 2030, antara lain: tidak ada lagi kasus penularan infeksi baru HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).

5. Perlu kerjasama lintas program dan lintas sektoral dalam mengimplementasikan strategi Fast Track 90-90-90 untuk mempercepat pencapaian 90% dari orang yang hidup dengan HIV (ODHA) mengetahui status HIV mereka melalui tes atau deteksi dini; 90% dari ODHA yang mengetahui status HIV untuk memulai terapi pengobatan ARV, dan 90%

ODHA yang dalam pengobatan ARV telah berhasil menekan jumlah virusnya sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV; serta tidak ada lagi stigma dan diskriminasi ODHA.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi I, Simon S, Rudy H, Juferdi K, Dicky L (2015). Penatalaksanaan di bidang Ilmu Penyakit Dalam Panduan Praktek Klinis. Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam

Effendy, N (1998). Dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat. Edisi 2.

Jakarta: EGC

de Bruyn 2004 de Bruyn T. Stigma and stigmatization. A plan of action for Canada to reduce HIV/AIDS-related stigma and discrimination. Toronto, Ontario:

Canadian HIV/AIDS Legal Network, 2004:8–19.

(18)

82

Depkes (2018). Hari AIDS Sedunia, Momen STOP Penularan HIV: Saya Berani,

Saya Sehat!. Diakses pada laman

http://www.depkes.go.id/article/view/18120300001/hari-aids-sedunia- momen-stop-penularan-hiv-saya-berani-saya-sehat-.html pada 24 April 2019 pukul 10:51 WIB

H. Yang, X. Li,B. Stanton, X. Fang, D. Lin, And S. Naar-King, (2007). HIV-related knowledge, stigma, and willingness to disclose: A mediation analysis. AIDS Care. 2006 Oct; 18(7): 717–724. doi: 10.1080/09540120500303403

Kementerian Kesehatan (2017). Laporan Perkembangan HIV AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) Triwulan IV Tahun 2017. Diakses melalui http://siha.depkes.go.id/portal/perkembangan-kasus-hiv-aids_pims# pada 23 April 2019 pukul 00:28 WIB

Katz, I.T. et al (2013) ‘Impact of HIV-related stigma on treatment adherence:

systematic review and meta-synthesis’ JIAS 16(Supplement 2):18640

Mann 1988 Mann J. Statement at an informal briefing on AIDS to the 42nd session of the Unites Nations General Assembly. Journal of the Royal Statistical Society. Series A 1988;151(1): 131–6.

NAT, 2015. Tackling HIV Stigma: What works? Using the global evidence base to

reduce the impact of HIV stigma.

https://www.nat.org.uk/sites/default/files/publications/Jun_16_Tackling_H IV_Stigma.pdf

Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rin eka Cipta.

Nursalam dan Pariani, S. 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan.

Jakarta: Salemba Medika.

Pinsky L, Douglas PH (2009). The Columbia University Handbook on HIV and AIDS. Columbia: Columbia University

Rahmati-Najarkolaei 2010 Rahmati-Najarkolaei F, Niknami S, Aminshokravi F, Bazargan M, Ahmadi F, Hadjizadeh E, et al. Experiences of stigma in healthcare settings among adults living with HIV in the Islamic Republic of Iran. Journal of the International AIDS Society 2010;13:27.

Situmeang, B., Syarif, S., Mahkota, R (2017). Hubungan Pengetahuan HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS di Kalangan Remaja 15-

(19)

83

19 Tahun di Indonesia (Analisis Data SDKI Tahun 2012). Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 1.

Stangl, A.L. et al (2013) ‘A systematic review of interventions to reduce HIV- related stigma and discrimination from 2002 to 2013: how far have we come?’ JIAS 16(Supplement 2):18734

Thi 2008 Thi MD, Brickley DB, Vinh DT, Colby DJ, Sohn AH, Trung NQ, et al.

A qualitative study of stigma and discrimination against people living with HIV in Ho Chi Minh City, Vietnam. AIDSand Behavior2008;12(4 Suppl):

S63–70.

UNAIDS 2011 UNAIDS. Global HIV/AIDS response: Epidemic update and health

sector progress towards universal access.

http://www.unaids.org/en/media/unaids/contentassets/

documents/unaidspublication/2011/20111130_UA_ Report_en.pdf 2011

UNAIDS (2015). Focus on location and population. Diakses pada laman http://www.unaids.org/sites/default/files/media_asset/WAD2015_report_e n_part01.pdf pada 24 April 2019 pukul 11:13

UNAIDS (2017). Global HIV Statistics. Diakses melalui http://www.unaids.org/sites/default/files/media_asset/UNAIDS_FactSheet _en.pdf. pada 22 April 2019 pukul 21:01 WIB.

WHO (2017). Prevalence of HIV among adults aged 15 to 49. Diakses melalui https://www.who.int/gho/hiv/hiv_013.png?ua=1 pada 22 April 2019 pukul 20:49 WIB.

WHO (2015). Consolidated Strategic Information Guidelines For HIV In The

Health Sector.

https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/164716/9789241508759_

eng.pdf;jsessionid=CF6D364A4BFF96D5D4B9BF7114F41B82?sequence

=1

Gambar

Tabel 2. Perilaku diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan HIV AIDS
Gambar 2. The where, what and how of an intervention strategy for stigma

Referensi

Dokumen terkait

waktu tanam terbaik adalah pada akhir musim hujan, walaupun demikian dapat pula ditanama pada musim kemarau dengan pengairan atau penyiraman yang cukup, dengan

Sebelum melaksanakan praktek mengajar, praktikan membuat RPP sesuai dengan kompetensi yang akan diajarkan. Praktikan mendapat kesempatan untuk mengajar

10 2.1 Scan asli Surat Penugasan dari Pemimpin Perguruan Tinggi Negeri/Swasta sebagai dosen tetap pada program studi yang diusulkan;. 11 2.1 Scan ijazah asli dan transkrip

Jika dikaitkan dengan indikator ketuntasan hasil belajar siswa maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas VII5 SMP Negeri 18 Makassar setelah diterapkan

Group Pretest-Posttest Design, dimana menggunakan satu kelompok perlakuan dan satu kelompok kontrol yang tidak dipilih dengan acak, tujuanya untuk mengetahui adanya

Untuk memodelkan sistem dari satu atau lebih turbin angin, pada Homer, Perencana harus memasukkan data sumber daya angin yang menunjukkan kecepatan angin selama 12

Data – data yang dibutuhkan untuk menghitung kriteria investasi penerapan peak clipping dan strategic conservation antara lain: Data Kenaikan Faktor Beban pelanggan rumah