Dalam masyarakat modern, mengkonsumsi makanan memiliki implikasi bukan hanya sekedar menyediakan nutrisi dan energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidup. Makanan dan makan juga memainkan peran utama dalam kehidupan bersosial, karena itu, tidak perlu heran jika ada hubungan yang kuat antara konteks sosial dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Penelitian tentang pengujian jumlah asupan makanan mengungkapkan bahwa orang cenderung makan lebih banyak ketika orang lain makan lebih dan kurang ketika orang lain makan lebih sedikit (cf Herman, Roth, & Polivy, 2003).
Salah satu wisata kuliner di Yogyakarta yang memfasilitasi duduk lesehan adalah di Teratai Cafe. Teratai cafe memiliki konsep tempat terbuka, yang membuat pengunjung dapat langsung menghirup udara bebas, dengan pemandangan lampu remang-remang di samping persawahan. Kebanyakan pengunjungnya adalah anak muda yang datang secara berpasangan (terdiri dari 2 orang), dan jika berkelompok yaitu 4-6 orang, dengan rata-rata usia 17-25 tahun, dan segmentasi konsumen kelas menegah. Fasilitas duduk lesehan memiliki ruangan yang disekat bambu berukuran 2mx2m, dan tinggi sekat 52cm, sambil duduk diatas karpet, dan mengelilingi meja dari bahan kayu berlapis kaca dengan ukuran 65cmx65cm, dan tinggi 37cm. Meja digunakan untuk kegiatan makan, menaruh minuman, bermain kartu, dan menyandarkan lengan ke arah meja. Meja tersebut hanya mampu menampung 4 orang saja, dan jika pengunjung yang datang berkelompok lebih dari 4, mereka duduk berhadapan dengan sudut meja atau bersandar pada sekat yang mengelilingi ruangan.
Menurut Probo Hindarto (2010), lesehan merupakan istilah untuk cara duduk diatas lantai, dimana akar budayanya berasal dari tata krama duduk di dunia timur. Lesehan merupakan posisi duduk alternatif yang biasanya dipakai, karena dianggap menyenangkan dan lebih bebas. Posisi ini banyak digunakan sehari-hari di ruang keluarga, atau saat ada hajatan dan perkumpulan, karena dapat lebih banyak menampung orang. Menurut Ninin (2011), dalam budaya Indonesia lesehan merupakan cara menjual belikan makanan atau suatu barang sembari duduk di tikar atau lantai.
Menurut Zulnynadia (2010), Mengembangkan potensi wisata kuliner di Yogyakarta menjadi semakin penting karena muncul kecenderungan kuat di kalangan kelas menengah dan masyarakat urban yang menjadikan makan bukan lagi sekedar memenuhi kebutuhan biologis untuk mengisi perut yang lapar, melainkan makan telah berubah fungsi menjadi gaya hidup yang didalamnya terdapat relasi-relasi sosial, ekonomi dan budaya yang saling berkaitan.
Oleh : Puput Arga Lestari (24. 08. 0083)
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
© UKDW
Menurut pengunjung, jika pramusaji yang dipanggil datangnya lama, mereka membenahi perabot sendiri untuk bermain. Adanya sisa makanan, menimbulkan kesan jijik untuk membereskan perabotan tersebut. Selain itu jumlah pramusaji yang ada di sana hanya 2 orang. Kesan kurang nyaman dan tidak enak hati juga dirasakan pengunjung saat memanggil pramusaji untuk membereskan perabot makan disaat pengunjung belum mau meninggalkan tempat tersebut. Pengunjung menata perabot dengan cara disusun, penyusunannya ada yang secara acak ataupun secara teratur. Saat menyusun piring yang terdapat sisa makanan, sisa makanan tersebut ada yang jatuh ke karpet, karena mereka menaruhnya secara cepat, supaya dapat langsung bermain. Sedangkan jika ada sisa makanan jatuh ke karpet, kondisi karpet tersebut jarang dibersihkan. Adapula pengunjung yang bermain kartu sambil menikmati minuman yang mereka pesan, minuman tersebut mereka letakkan di atas karpet (berdekatan dengan posisi mereka duduk), karena meja yang ada digunakan untuk kegiatan bermain kartu. Dan dari keterangan pengunjung, mereka sering lupa ketika sedang asyik bermain dan tidak sengaja menumpahkan minuman yang mereka pesan, karena tersenggol saat mereka menaruhnya di atas karpet.
Sikap duduk lesehan yang digunakan pun memiliki berbagai macam gaya, seperti duduk bersimpuh, duduk bersila, lesehan dengan satu kaki menyilang ke atas, duduk selonjor kaki terjulur ke depan, atau duduk bersandar dengan tangan membelakangi punggung. Mereka mengubah posisi duduk mereka kira-kira setiap 15-20 menit, karena lama-kelamaan merasa tidak nyaman, pegal dan sesekali ingin bersandar untuk menghilangkan rasa pegal tersebut. Dari hasil kuisioner pada 20 responden tentang kebiasaan duduk lesehan, didapat kesimpulan bahwa kebanyakan dari mereka mengalami kesemutan pada kaki, kesulitan berdiri, dan sakit punggung saat duduk lesehan. Namun mereka tetap memilih budaya duduk lesehan karena menurut mereka tradisi duduk lesehan terkesan dekat dengan lawan bicara untuk bersosialisasi, lebih leluasa, dan dapat menampung orang dalam jumlah yang banyak.
Dari pengamatan pada umumnya, terlihat berbagai aktivitas yang dilakukan pengunjung seperti : membuka obrolan, makan, minum, bercanda, menyimak obrolan orang lain, bermain handphone, atau bermain kartu. Sebagian besar pengunjung menghabiskan waktunya sambil bersosialisasi dengan cara bermain kartu, dan berbincang-bincang. Pengunjung tidak perlu repot membawa kartu dari rumah, karena fasilitas peminjaman kartu sudah disediakan di tempat makan tersebut. Setelah kegiatan makan selesai, terlihat perilaku pengunjung yang membereskan perabotan makan mereka ke tepi, atau ke bawah meja, dan menggunakan meja tersebut untuk kegiatan bermain.
Perabotan makanan dan minuman yang ada disana seperti piring, sendok, garpu, pisau steak, gelas, dan sedotan.
Oleh : Puput Arga Lestari (24. 08. 0083)
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
© UKDW
Sarana interaksi bermain bagi pengunjung di area makan lesehan dengan mebel makan untuk memudahkan pergerakan tubuh dan meminimalis sisa makanan dan minuman agar tidak tumpah ke karpet.
Pengunjung Teratai café mengalami masalah ketika aktivitas bersantai dengan permainan table game setelah aktivitas makan, atau sambil menikmati minuman yang ada. Masalahnya dikarenakan menggunakan media meja yang sama, saat kegiatan setelah makan dan ingin bermain table game, hal yang sering terjadinya adalah adanya sisa makanan yang jatuh tercecer di karpet saat ingin meringkas dan memindahkan perabot kotor tersebut. Selain itu saat kegiatan minum sambil bermain, minuman tersebut diletakkan di karpet yang dekat dengan posisi mereka duduk karena meja yang digunakan untuk bermain, akibatnya saat keadaan asyik bermain, pengunjung lupa bahwa ada minuman di dekatnya dan tidak sengaja menyenggol minuman tersebut. Rata-rata pengunjung Teratai café adalah mahasiswa dengan jumlah 4-6 orang, dan mereka datangnya secara berkelompok.
Sedangkan ukuran meja yang ada hanya dapat menampung 4 orang saja, akibatnya sisanya tidak mendapatkan space meja saat kegiatan berinteraksi. Untuk itu diperlukan sarana mebel makan yang dapat meminimalis tingkat sisa makanan, dan minuman yang jatuh ke karpet, dan mendukung kegiatan berinteraksi berkelompok dengan pemerataan space meja yang di dapat oleh tiap-tiap pengunjung.
Rata-rata minimal waktu yang mereka habiskan di Teratai 60 menit, waktu tersebut mencakup kegiatan seperti memilih tempat duduk, memesan menu, menunggu menu datang, makan atau minum, berbicara, dan bercanda. Jika mereka bermain kartu, waktu yang dihabiskan di Teratai bertambah lama, bahkan berjam- jam. Rata-rata waktu yang dihabiskan pengunjung untuk bermain kartu adalah 90 menit.Di Teratai sendiri tidak ada batasan waktu, karena konsep tempat ini adalah kepuasaan pelanggan yang diutamakan, selain itu jumlah persaingan diantara tempat yang sejenis semakin banyak, Bagi manager Teratai jika tempat terkesan penuh, hal ini tidak menjadi masalah dan menggangu alur pergerakan konsumen, karena ada kemungkinan untuk memesan menu tambahan yang berarti pengunjung betah berlama-lama, sehingga diharapkan pengunjung tidak menyesal untuk datang ke tempat tersebut.
Dari paparan di atas ditarik kesimpulan bahwa duduk lesehan merupakan sikap duduk yang disukai oleh masyarakat, khususnya kelompok anak muda saat kegiatan makan bersama. Walaupun ada beberapa hal yang mengganggu kenyamanan saat duduk lesehan, namun ada banyak keunggulan lain yang didapat dari penataan ruang yang memungkinkan terjadi bermacam kegiatan, dan kedekatan secara psikologis yang sulit dicapai dengan posisi duduk lainnya, seperti misalnya berbincang-bincang, atau melakukan permainan berkelompok yang dapat menghibur dan membentuk proses bersosialisasi. Mereka berharap adanya fasilitas yang dapat mendukung kebutuhan aktivitas mereka saat harus duduk lesehan, dan meminimalisasikan gangguan yang diakibatkan dari kegiatan duduk tersebut.
Oleh : Puput Arga Lestari (24. 08. 0083)
1.2 PERNYATAAN DESAIN
1.3 RUMUSAN MASALAH
© UKDW
vPenelitian Kualitatif dan Kuantitatif
Pengamatan yang dilakukan di Teratai café, yang meliputi pengamatan pengunjung Teratai café dengan segala macam aktivitas dan kegiatannya, segmentasi konsumen Teratai café,wawancara dengan manager Teratai café untuk mengetahui visi, misi, sejarah, dan harapan ke depannya Teratai, wawancara dan menyebarkan kuisinoner dengan sebagian pengunjung yang datang ke Teratai café untuk mengetahui, menjawab apa yang dibutuhkan bagi pengunjung, dan nama Teratai café di mata pengunjung yang membedakan dengan café sejenis lainnya .
vMetode eksperiment kelayakan fungsi produk
Dengan membuat model yang akan diuju untuk menjawab apakah model tersebut sudah berfungsi dengan baik, dan menjawab kebutuhan pengunjung.
v Metode SCAMPER
Merupakan metode penggabungan dari berbagai obyek lain menjadi satu obyek dengan cara mengkombinasikan produk yang sudah ada. Ada yang perlu dihilangkan dan ada juga yang perlu ditambahkan. Metode ini digunakan untuk mengembangkan produk yang sudah ada.
Tujuan :
ØMendukung aktivitas berinteraksi berkelompok dalam penggunaan space meja secara merata, mudah dan fleksibel sesuai kebutuhan jumlah pengunjung
ØMemberikan rasa nyaman karena kebersihan tempat yang tetap terjaga ØSebagai media promosi fasilitas hiburan yang ada di café tersebut untuk
menarik minat pengunjung Manfaat :
ØMebel multifungsi yang dapat mencakup kegiatan aktivitas pengunjung dengan lebih mudah dan leluasa
ØMembantu pramusaji dalam hal efisiensi waktu saat meringkas dan membawa perabot ke dapur cuci
ØMenarik perhatian pengunjung dengan fasilitas hiburan yang dapat meningkatkan interaksi di antara anggota kelompoknya
Oleh : Puput Arga Lestari (24. 08. 0083)
1.5 METODE DESAIN 1.4 TUJUAN dan MANFAAT
© UKDW
Oleh : Puput Arga Lestari (24. 08. 0083)
1.6 BRAINSTORMING
FASILITAS
SEGMENTASI PENGUNJUNG
AKTIVITAS
DUDUK HIBURAN
PRAMUSAJI
KURSI
LESEHAN
JUMLAH 3-4 ORANG
PEMINJAMAN KARTU HOTSPOT
MENENGAH
BERJUMLAH 7 SET
BERJUMLAH 14 SET 1 MEJA TERDAPAT 4
KURSI
MEJA LESEHAN
RUANGAN 2MX2M
MAHASISWA NOBAR (NONTON
BOLA RAMAI- RAMAI)
PERSEGI, UKURAN 65X65X37CM
MEMUAT MAK 4 ORANG BAHAN KAYU LAPIS
KACA
USIA 17-25
TERATAI CAFE
TINGGI SEKAT 52CM
PINTU 60 CM
DIGUNAKAN UNTUK MENYANDARKAN
TUBUH LEBIH DARI 4, TIDAK
MENDAPAT SPACE MEJA
MENU WESTERN
FOOD ORIENTAL
FOOD
MENIKMATI FASILITAS PERMAINAN TABLE
GAME
MENIKMATI FASILITAS HOTSPOT BERBINCANG
DENGAN KELOMPOK
MENIKMATI MAKANAN MINUMAN DUDUK LESEHAN M NGGUNAKAN MEE DIA MEJA YANG SAMA
SETELAH AKTIVITAS MAKAN
SAMBIL MENIKMATI MINUMAN
KIATN A A
B Y
SISA MAKANAN ADA YANG JATUH KE KARPET KONDISI KARPET YANG
JARANG DI CUCI KESAN KOTOR DAN JIJIK YANG TERJ
ADI PENGUNJUNG MERINGKAS PERABOT
MAKANNYA SENDIRI
JUMLAH PRAMUSAJI HANYA 3-4 ORANG (SIBUK MELAYANI KONSUMEN LAIN)
RASA TIDAK NYAMAN, KARENA MASIH INGIN MENGHABISKAN WAKTU BERLAMA-LAMA KARE
NA YANG
ERJAD I T
MENGGUNAKAN MEDIA MEJA YANG SAMA
SHISA ANEKA MINUMAN DINGIN DAN PANAGS
POSISI MINUMAN DIPINDAHKAN KE KARPET
DEKAT DENGAN POSISI PENGUNJUNG DUDUK
SAAT ASYIK BERMAIN, MINUMAN TANPA SENGAJA MINIMAL WAKTU
YANG DIHABISKAN 45 MENIT
TUJUAN
MEMBUANG PENAT PRESEPSI
PENGUNJUNG KONSEP TEMPAT SEMI
TERBUKA DAPAT MERASAKAN LANGSUNG DINGINNYA
MALAM ADANYA SEKAT PADA LESEHAN
MEMBUAT DUDUK PRIVASI BERKELOMPOK LEBIH NYAMAN
LAMPU REMANG- REMANG MEMBUAT
KDEKATAN