i
Nama Mahasiswa : Hijrawati Dg. Nisaga Nomor Stambuk : 10561 03805 10
Program Studi : Ilmu Administrasi Negara
Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.
Makassar, ... 2015 Yang Menyatakan
ii Mahsyar, dan Adnan Ma’ruf)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana efektivitas pelaksanaan program peraturan walikota tentang pengaturan jam operasional truk sepuluh roda nomor 94 tahun 2013, karena melihat kenyataan dilapangan dalam proses pelaksanaannya masih sering ditemukan truk-truk yang melanggar dan menyebabkan kemacetan dijalan juga tingkat kecelakaan yang disebabkan truk-truk besar terutama truk sepuluh roda bertambah.
Jenis penelitian ini adalah pendekatan kualitatif menggunakan metode wawancara yang instrumennya berupa pertanyaan-pertanyaan kepada informan yang dipilih, yang terdiri dari orang-orang yang dianggap memahami isu yang dipersoalkan dalam penelitian ini. Data ini dikumpul dengan menggunakan instrument berupa : Observasi dan wawancara.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum pelaksanaan program pengaturan jam operasional truk sepuluh roda belum berjalan secara efektif karena masih seringnya terjadi pelanggaran terhadap program walikota tentang pengaturan jam operasional truk sepuluh roda. kurangnya kejelasan dalam aturan tersebut berupa sanksi yang tidak jelas serta bertentangannya peraturan walikota Makassar tersebut dengan peraturan daerah kabupaten Gowa dan Maros.
iii
pada junjungan Rasulullah SAW dan keluarga yang dicintainya serta sahabat-sahabatnya, manakala penulisan skripsi yang berjudul “implementasi kebijakan pengaturan jam operasional truk sepuluh roda di kota Makassar” dapat
terselesaikan dengan baik yang sekaligus menjadi tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Administrasi Negara pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
Syukur Alhamdulillah dan kupersembahkanskripsi ini terkhusus kepada orang tua tercinta Ayahanda Hamsir dan Ibunda Hasna, terima kasih atas segala pengorbanan, kesabaran, doa dukungan dan semangat yang tak ternilai hingga penulis dapat menyelesaikan studi, kiranya amanah yang diberikan kepada penulis tidak tersia-siakan. Terima kasih kepada keluarga besarku
Dalam proses penyusunan hingga terwujudnya skripsi ini, tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. Bapak Abdul Dr. Abdul Mahsyar. M. Si selaku pembimbing I dan bapak Adnan Ma’ ruf S.Sos, M.Si selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
iv
Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Bapak Drs. Anwar Kuba selaku penasehat akademik selama memnempuh kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Muhammadiyah Makassar.
5. Staf-staf yang membantu pengurusan saya selama kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar. 6. Seluruh dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Muhammadiyah Makassar yang telah membekali segudang ilmu kepada penulis.
7. Polres Tabes Kota Makassar dan Dinas Perhubungan Kota Makassar yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis.
8. Saudara Nikmawati, S.Sos, Nurmiati Rahman, S.Sos, Muskar S.Sos, Muh. Asri Azis, S.Sos, Irnawati, S.Sos dan semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
9. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi dari awal hingga akhir yang penulis tidak dapat sebut satu persatu.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada semua pihak yang membantu hingga terselesainya
v datang.
Akhirnya semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua dan apa yang disajikan dalam skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.
Makassar, April 2015
vi
Halaman Persetujuan... ii
Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iii
Daftar Isi... iv
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian, Teori dan Konsep... 7
1. Implementasi Kebijakan... 7
2. faktor faktor yang mempengaruhi kebijakan ... 11
B. Kerangka pikir………..22
C. Fokus penelitian………24
D. Deskripsi fokus penelitian………...25
BAB III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan lokasi penelitian...27
B. Jenis dan Tipe penelitian...27
C. Sumber Data...27
D. Informan Penelitian...27
E. Teknik pengumpulan data...28
F. Teknik Analisis Data...28
G. Keabsahan Data...28
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Obyek Penelitian……….30
B. Efektifitas Implementasi Kebijakan Pengaturan Jam Operasional Truk Sepuluh Roda………44
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pengaturan Jam Operasional Truk Sepuluh Roda………52 BAB V PENUTUP
vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Salah satu permasalahan yang selalu dihadapi di kota-kota besar adalah masalah lalu lintas. Hal ini terbukti karena semakin maraknya pelanggaran lalulintas yang banyak menyebabkan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas. Keadaan ini merupakan salah satu perwujudan dari perkembangan teknologi modern. Kecelakaan lalu lintas ini bukan hanya disebabkan karena pelanggaran lalu lintas. Tetapi juga disebabkan oleh banyak faktor, yaitu pengemudi kendaraan yang buruk, kerusakan kendaraan, pejalan kaki yang kurang hati-hati, dan kondisi jalan yang kurang baik.
Lalu lintas dan pemakai jalan memiliki peranan yang sangat penting dan strategis sehingga penyelenggaraanya dikuasai oleh negara. Pembinaan perlu dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan pengguna jalan yang selamat, aman, lancar, tertib, dan teratur. Pembinaan di bidang lalu lintas meliputi aspek pengaturan, pengendalian, dan pengawasan lalu lintas yang bertujuan untuk keselamatan, keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.
Masyarakat Indonesia masih banyak yang melanggar lalu lintas dengan tidak sengaja maupun dengan sengaja. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap peraturan lalu lintas atau tata tertib lalu lintas, sehingga masyarakat menyepelekan kesalamatannya sendiri bahkan bisa berdampak terhadap keselamatan orang lain, karena itulah tingkat kecelakan di jalan terus meningkat.
Faktor-faktor kemacetan lalu lintas tentu saja sangat banyak, bukan hanya disebabkan oleh pengemudi kendaraan saja, tapi lalu lintas yang macet juga terjadi karena faktor lain. Kemacetan di Makassar terjadi karena beberapa faktor, seperti pengendara sepeda motor yang semakin banyak jumlahnya. sopir angkot yang menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat, Faktor lain dari kemacetan lalu lintas seperti adanya pedagang kaki lima atau pasar kaget yang melebar hingga ke badan jalan. Kehadiran mobil besar seperti truk, juga menjadi salah satu faktor tersebut.
Truk adalah sebuah kendaraan bermotor untuk mengangkut barang, disebut juga sebagai mobil barang. Dalam bentuk yang kecil mobil barang disebut sebagai pick-up, sedangkan bentuk lebih besar dengan 3 sumbu, 1 di depan, dan tandem di belakang disebut sebagai truk tronton, sedang yang digunakan untuk angkutan peti kemas dalam bentuk tempelan disebut sebagai truk trailer. Juga ada jenis truk tangki yang berguna untuk mengangkut cairan seperti BBM dan lainnya.
Truk yang bisa keluar masuk Makassar pada jam tertentu yakni kendaraan dengan bobot 8.000 kg ke atas. Selan itu, Dinas Perhubungan Makassar telah mengeluarkan rute truk selama berada di Makassar. Pemkot juga telah menyiapkan satuan pengamanan untuk menertibkan kendaraan truk dan barang. Tim terpadu tersebut terdiri dari POM TNI, kepolisian dan dinas perhubungan.
Pemerintah daerah kota Makassar dalam melihat hal ini ikut serta untuk pengendalian tersebut hingga mengeluarkan peraturan Walikota Makassar mengenai pengaturan jam operasional truk 10 roda yakni peraturan WaliKota Makassar nomor 94 tahun 2013 tentang larangan jam operasional kendaraan truk 10 roda. Dalam Peraturan Walikota tersebut hanya mengatur truk sepuluh roda
dilarang melintas atau beroperasi dikota Makassar mulai jam 05 subuh hingga jam 9 malam.
Dalam Perwali tersebut, truk yang dilarang beroperasi dalam kota pada jam yang dilarang, yakni kendaraan yang memiliki Muatan Sumbu Terberat (MST) di atas 5 ton. Termasuk, mobil truk pengangkut material bangunan dan timbunan, pengangkut barang dari pelabuhan, dan mobil molen. Truk yang memiliki 5 MST kebawah seperti mobil pick-up, mobil truk empat roda, mobil boks, bisa beroperasi di dalam kota. Tapi ada juga truk di atas enam roda yang dikecualikan, seperti mobil tangki BBM dan gas serta mobil tentara dan polisi.
Rembang 10 yang beroperasi di Makassar sebagian besar berasal dari Maros dan Gowa. Kedua kabupaten ini merupakan penyuplai material tambang galian C untuk bangunan yang dibutuhkan oleh Makassar dalam rangka aktivitas ekonomi, Itu pulalah penyebab macet di Makassar. Mereka beroperasi di jalan sempit seperti Sultan Alauddin, Pettarani, Urip Sumoharjo hingga Perintis Kemerdekaan. Siang, malam, jam sibuk, jam lengang. Tanpa ada upaya pengawasan. Jalan-jalan nasional, provinsi bahkan jalan lorong seperti terlihat di sekitar arah Samata, Hertaning Baru dan Pettarani, dan di utara kota menjadi pelarian bagi mereka.
Bukan hanya Rembang 10, sarana angkut muatan berat termasuk tronton dan trailler (gandengan) mesti diatur karena dimensinya sangat besar dan tinggi sehingga mendominasi ruas jalan. Pada jam padat “peak hour” sangat potensi bersinggungan dengan pengguna jalan lainnya. Tronton dan kontainer harusnya dibolehkan beroperasi pada siang hari hanya di rute jalan tol Sutami, dan arteri Sutami untuk pelayanan kawasan industri dan pergudangan baik itu dari dan ke
pelabuhan dan di malam harinya dapat melayani rute lainnya dalam kota makassar sesuai dengan peruntukan beban jalan. Hal yang sama juga untuk Rembang 10.
Sementara kenyataannya kerap didapati truk yang beroperasi di jam tersebut. Kondisi Kota Makassar sebagai salah satu kota metropolitan tidak bisa dihindarkan dari kemacetan. Itu terlihat pada saat-saat tertentu, utamanya jam kantor pagi dan pulang kantor sore. Hingga kini, truk-truk ukuran besar 10 roda masih bebas berkeliaran di dalam Kota Makassar. Kehadiran truk-truk ini, terutama pada jam-jam sibuk, ikut andil kemacetan di dalam kota terutama di jalan-jalan utama. selain menyebabkan kemacetan, kehadiran truk besar ini juga mengancam pengendara lainnya, terutama sepeda motor.
Meskipun tidak bisa dikatakan bahwa truk adalah penyebab utama dalam kecelakaan. Lebih tepat jika kita mengatakan bahwa yang terjadi ini adalah miss traffic, yaitu suatu keadaan dimana bermacam-macam jenis kendaraan beredar di jalanan, mulai dari motor, mobil, sampai truk secara bersamaan berada di jalan, sehingga menyebabkan tingkat kefatalan jauh lebih tinggi. Hanya saja truk memang menjadi pengguna ruang terbesar, bisa mencapai 7 kali dibanding dengan kendaraan yang lain. Inilah yang menyebabkan terjadinya kemacetan serta kecelakaan yang tidak diinginkan, sehingga harus dibuat kebijakan untuk mengatur hal tersebut.
Penggambaran di atas harusnya bisa dipahami oleh masing-masing pihak untuk mengambil langkah konkrit. Ketika ada ketidakberesan manajemen beroperasinya truk di jalan, Pemerintah harusnya tak tinggal diam. Faktanya, ada ketidaksinkronan peraturan. Pemkot Makassar memberi izin beroperasinya truk pada pagi sampai siang sementara Pemkab Gowa memberi izin operasi mulai pukul
05.00 wita sampai jam 17.00 wita. Bagaimana mungkin sementara target obyeknya sama? Inilah yang mengkondisikan terjadinya pelanggaran sebab kedua wilayah otonom itu tak sejalan.
Berdasarkan apa yang dipaparkan di atas, penulis mencoba untuk mengkaji lebih jauh dalam bentuk penelitian dengan judul: “Pelaksanaan Program Pengaturan jam operasional truk sepuluh roda di Kota Makassar”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana efektivitas pelaksanaan program pengaturan jam operasional truk sepuluh roda?
2. Faktor – faktor apa yang mempengaruhi pelaksanaan program pengaturan jam operasional truk sepuluh roda?
C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan program pengaturan jam operasional truk sepuluh roda.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi pelaksanaan program pengaturan jam operasional truk sepuluh roda.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan pertimbangan kedepan terhadap pemerintah atau instansi yang terkait tentang bagaimana menyelesaikan persoalan pengaturan jam operasional truk sepuluh roda di kota Makassar.
2. Sebagai bahan pertimbangan kedepan kepada masyarakat untuk bagaimana membantu pemerintah dalam menangani permasalahan pengaturan jam operasional truk sepuluh roda di kota Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian, Teori dan Konsep
1. Implementasi Kebijakan
Kamus Webster (Wahab, 2008: 64) merumuskan secara singkat bahwa to implement (mengimplementasikan) berarti to provide the meansfor carrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu); to give practical effect to (menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu). Implementasi kebijakan dapat dipandang sebagai suatu proses melaksanakan keputusan kebijakan (biasa dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan, perintah eksekutif, atau dekrit presiden).
Ripley dan Franklin (Winarno, 2012: 148) berpendapat bahwa implementasi adalah apa yang terjadi setelah undang-undang ditetapkan yang memberikan otoritas program, kebijakan, keuntungan (benefit), atau suatu jenis keluaran yang nyata (tangible output). Istilah implementasi menunjuk pada sejumlah kegiatan yang mengikuti pernyataan maksud tentang tujuan-tujuan program dan hasil-hasil yang diinginkan para pejabat pemerintah. Implementasi mencakup tindakan-tindakan (tanpa tindakan-tindakan-tindakan-tindakan) oleh berbagai aktor, khususnya para birokrat, yang dimaksudkan untuk membuat program berjalan.
Menurut Salusu (2002), implementasi adalah seperangkat kegiatan yang dilakukan menyusul satu keputusan. Suatu keputusan selalu dimaksudkan untuk mencapai sasaran. Guna merealisasikan pencapaian sasaran tersebut, diperlukan serangkaian aktivitas. Jadi dapat dikatakan bahwa implementasi adalah operasionalisasi dari berbagai aktivitas guna mencapai sasaran tertentu.
Berbicara mengenai “kebijakan (policy)“ hendaknya dibedakan dengan “kebijaksanaan (wisdom)“, meskipun dalam penerapan dan penggunaan keduanya sering dipersamakan. Kebijakan merupakan kesepakatan bersama dari berbagai persoalan yang timbul dalam masyarakat dan sudah disahkan oleh masyarakat itu sendiri melalui lembaga yang berwenang untuk dilaksanakan. Sedangkan kebijaksanaan merupakan suatu rangkaian tindakan dari aturan yang sudah ditetapkan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat oleh personal/individu pejabat yang berwenang (Syafiie dkk, 1999: 105). Dengan demikian, yang ada terlebih dahulu adalah kebijakan, sedangkan kebijaksanaan ada setelah suatu kebijakan tersebut disepakati. Jadi tidak mungkin suatu kebijaksanaan timbul sebelum adanya kebijakan.
Guna mempertajam pengertian tentang kebijakan, berikut ini dikemukakan pendapat dari beberapa ilmuwan sebagaimana yang dikutip dari Thoha (2002: 60-61). Salah satu diantaranya adalah menurut Lasswell dan Kaplan yang menyatakan bahwa kebijakan merupakan suatu program yang diproyeksikan dari tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan pratika-pratika. Selanjutnya, Eulau dan Prewitt merumuskan kebijakan sebagai suatu keputusan yang teguh dan disifati oleh adanya perilaku yang konsisten, serta pengulangan pada bagian keduanya, yakni bagi orang-orang yang membuatnya dan bagi orang-orang yang melaksanakannya. Dalam hal ini, kebijakan dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh pihak-pihak lain yang melaksana-kannya dengan menekankan perilaku yang konsisten dan berulang.
Mengacu pada pendapat para ilmuwan di atas, Thoha (2002:59-60) merumuskan bahwa dalam arti yang luas, kebijakan mempunyai 2 (dua) aspek pokok, yaitu:
a. Kebijakan merupakan pratika sosial, bukan event yang tunggal atau terisolir. Dengan demikian suatu yang dihasilkan pemerintah berasal dari segala kejadian dalam masyarakat dan dipergunakan pula untuk kepentingan masyarakat.
b. Kebijakan adalah suatu peristiwa yang ditimbulkan, baik untuk mendamaikan claim dari pihak-pihak yang konflik atau untuk menciptakan insentif terhadap tindakan bersama bagi pihak-pihak yang ikut menciptakan tujuan, akan tetapi mendapatkan perlakuan yang tidak rasional dalam usaha bersama tersebut.
Menurut Nugroho (2003: 162), pelaksanaan atau implementasi kebijakan dalam konteks manajemen berada di dalam kerangka pengorganisasian (organizing) atau memimpin pelaksanaan pengendaliannya (leading-controlling). Inti permasalahan dalam implementasi kebijakan adalah bagaimana kebijakan yang dibuat disesuaikan dengan sumber-daya yang tersedia. Menurut Brian W. Hoogwood dan Lewis A. Gun (Nugroho, 2003: 170-174), syarat-syarat untuk melakukan implementasi kebijakan agar efektif antara lain:
1. Jaminan bahwa kondisi eksternal yang dihadapi oleh lembaga/badan pelaksana tidak akan menimbulkan masalah yang besar.
2. Ketersediaan sumberdaya yang memadai, termasuk sumberdaya waktu untuk melaksanakannya.
3. Keterpaduan sumber-sumber yang diperlukan.
4. Kehandalan hubungan kausal yang mendasari kebijakan yang akan diimplementasikan.
6. Hubungan saling ketergantungan (interdependensi) kebijakan. 7. Permohonan yang mendalam dalam kesepakatan terhadap tujuan. 8. Tugas-tugas telah dirinci dan ditempatkan dalam urutan yang benar. 9. Komunikasi dan koordinasi yang sempurna.
10. Pihak-pihak yang memiliki wewenang kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan kepatuhan yang sempurna.
Menurut Nugroho (2008: 432) implementasi kebijakan adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Dan untuk mengimplementasikan kebijakan publik itu ada dua pilihan langkah, yaitu langsung mengimplementasikan dalam bentuk program atau melalui formulasi kebijakan derivate atau turunan dari kebijakan publik tersebut.
Upaya menjamin implementasi dapat berjalan dengan lancar, sebelum kegiatan penyampaian berbagai keluaran kebijakan dilakukan dengan kelompok sasaran dimulai perlu didahului dengan penyampaian informasi kepada kelompok sasaran. Tujuan dari pemberian informasi ini ialah agar kelompok sasaran tersebut agar memahami kebijakan yang akan diimplementasikan sehingga mereka tidak hanya akan menerima berbagai program yang diinisiasi oleh pemerintah akan tetapi berpartisipasi aktif dalam upaya untuk mewujudkan tujuan-tujuan kebijakan. Kegiatan penyampaian informasi ini bisa disebut sebagai kegiatan sosialisasi, sosialisasi dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Sosialisasi secara langsung dilakukan melalui: ceramah, forum warga, sarasehan, dialog interaktif dan lain-lain. Sedangkan sosialisasi secara tidak langsung terjadi ketika petugas garda depan dalam mensosialisasikan suatu
kebijakan suatu kebijakan tidak berinteraksi secara langsung (face to face) tetapi melaui papan pengumuman, pamphlet, spanduk, brosur, iklan, dan lain-lain.
Menurut Achmad Ali (1998), sosialisasi undang-undang merupakan proses penting dalam law enforcement, karena bertujuan:
1. Bagaimana agar warga masyarakat dapat mengetahui kehadiran suatu undang atau peraturan;
2. Bagaimana agar warga masyarakat dapat mengetahui isi suatu undang-undang atau peraturan;
3. Bagaimana agar warga masyarakat dapat menyesuaikan diri (pola pikir dan tingkah laku) dengan tujuan yang dikehendaki oleh undang-undang atau peraturan hukum tersebut.
Hakikat utama implementasi kebijakan adalah memahami apa yang seharusnya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan. Pemahaman ialah dimana suatu lembaga atau stakeholder memahami akan atas apa maksud dari dikeluarkannya program tersebut sehingga mengetahui apa yang seharusnya dilaksanakan untuk pencapaian dari program yang dilaksanakan.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan
Kebijakan apapun bentuknya sebenarnya mengandung resiko untuk gagal. Hoogwood dan Gunn (1984) membagi pengertian kegagalan kebijakan (policy failure) ke dalam dua kategori yaitu non implementation (tidak terimplementasikan) dan unsuccesful implementation (implementasi yang tidak berhasil). Tidak terimplementasikan mengandung arti bahwa suatu kebijakan tidak dilaksanakan sesuai dengan rencana, mungkin karena pihak-pihak yang terlibat didalam pelaksanaannya tidak mau bekerjasama, atau mereka telah bekerja secara
tidak efisien, bekerja setengah hati atau mereka tidak sepenuhnya menguasai permasalahan, atau permasalahan yang dibuat di luar jangkauan kekuasaannya, sehingga betapapun gigih usaha mereka, hambatan-hambatan yang ada tidak sanggup mereka tanggulangi. Akibatnya implementasi yang efektif sukar dipenuhi. (Mustari, 2013: 131-132).
a. Faktor Penghambat Implementasi Kebijakan
Menurut Bambang Sunggono, implementasi kebijakan mempunyai beberapa faktor penghambat, yaitu:
1. Isi kebijakan
Pertama, implementasi kebijakan gagal karena masih samarnya isi kebijakan, maksudnya apa yang menjadi tujuan tidak cukup terperinci, sarana-sarana dan penerapan prioritas, atau program-program kebijakan terlalu umum atau sama sekali tidak ada. Kedua, karena kurangnya ketetapan intern maupun ekstern dari kebijakan yang akan dilaksanakan. Ketiga, kebijakan yang akan diimplementasiakan dapat juga menunjukkan adanya kekurangan-kekurangan yang sangat berarti. Keempat, penyebab lain dari timbulnya kegagalan implementasi suatu kebijakan publik dapat terjadi karena kekurangankekurangan yang menyangkut sumber daya-sumber daya pembantu, misalnya yang menyangkut waktu, biaya/dana dan tenaga manusia. 2. Informasi
Implementasi kebijakan publik mengasumsikan bahwa para pemegang peran yang terlibat langsung mempunyai informasi yang perlu atau sangat berkaitan untuk dapat memainkan perannya dengan baik. Informasi ini justru tidak ada, misalnya akibat adanya gangguan komunikasi.
3. Dukungan
Pelaksanaan suatu kebijakan publik akan sangat sulit apabila pada pengimlementasiannya tidak cukup dukungan untuk pelaksanaan kebijakan tersebut.
4. Pembagian Potensi
Sebab musabab yang berkaitan dengan gagalnya implementasi suatu kebijakan publik juga ditentukan aspek pembagian potensi diantara para pelaku yang terlibat dalam implementasi. Dalam hal ini berkaitan dengan diferensiasi tugas dan wewenang organisasi pelaksana. Struktur organisasi pelaksanaan dapat menimbulkan masalah-masalah apabila pembagian wewenang dan tanggung jawab kurang disesuaikan dengan pembagian tugas atau ditandai oleh adanya pembatasan-pembatasan yang kurang jelas (Sunggono, 1994 : 149-153).
Adanya penyesuaian waktu khususnya bagi kebijakan-kebijakan yang kontroversial yang lebih banyak mendapat penolakan warga masyarakat dalam implementasinya. Menurut James Anderson (Sunggono, 1994: 144-145), faktor-faktor yang menyebabkan anggota masyarakat tidak mematuhi dan melaksanakan suatu kebijakan publik, yaitu :
1. Adanya konsep ketidakpatuhan selektif terhadap hukum, dimana terdapat beberapa peraturan perundang-undangan atau kebijakan publik yang bersifat kurang mengikat individu-individu;
2. Karena anggota masyarakat dalam suatu kelompok atau perkumpulan dimana mereka mempunyai gagasan atau pemikiran yang tidak sesuai atau bertentangan dengaan peraturan hukum dan keinginan pemerintah;
3. Adanya keinginan untuk mencari keuntungan dengan cepat diantara anggota masyarakat yang mencenderungkan orang bertindak dengan menipu atau dengan jalan melawan hukum;
4. Adanya ketidakpastian hukum atau ketidakjelasan “ukuran” kebijakan yang mungkin saling bertentangan satu sama lain, yang dapat menjadi sumber ketidakpatuhan orang pada hukum atau kebijakan publik;
5. Apabila suatu kebijakan ditentang secara tajam (bertentangan) dengan sistem nilai yang dianut masyarakat secara luas atau kelompokkelompok tertentu dalam masyarakat.
Suatu kebijakan publik akan menjadi efektif apabila dilaksanakan dan mempunyai manfaat positif bagi anggota-anggota masyarakat. Dengan kata lain, tindakan atau perbuatan manusia sebagai anggota masyarakat harus sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemerintah atau negara. Sehingga apabila perilaku atau perbuatan mereka tidak sesuai dengan keinginan pemerintah atau negara, maka suatu kebijakan publik tidaklah efektif.
b. Faktor Pendukung Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan bila dipandang dalam pengertian yang luas, merupakan alat administrasi hukum dimana berbagai aktor, organisasi, prosedur, dan teknik yang bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang diinginkan (Winarno, 2002: 102). Adapun syarat-syarat untuk dapat mengimplementasikan kebijakan negara secara sempurna menurut Teori Implementasi Brian W. Hogwood dan Lewis A.Gun (Abdul Wahab, 1997: 71-78), yaitu :
a. Kondisi eksternal yang dihadapi oleh badan atau instansi pelaksana tidak akan mengalami gangguan atau kendala yang serius. Hambatan-hambatan tersebut mungkin sifatnya fisik, politis dan sebagainya
b. Untuk pelaksanaan program tersedia waktu dan sumber-sumber yang cukup memadai
c. Perpaduan sumber-sumber yang diperlukan benar-benar tersedia
d. Kebijaksanaan yang akan diimplementasikan didasarkan oleh suatu hubungan kausalitas yang handal.
e. Hubungan kausalitas bersifat langsung dan hanya sedikit mata rantai penghubungnnya
f. Hubungan saling ketergantungan kecil
g. Pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan h. Tugas-tugas diperinci dan ditempatkan dalam urutan yang tepat i. Komunikasi dan koordinasi yang sempurna
j. Pihak-pihak yang memiliki wewenang kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan kepatuhan yang sempurna.
Menurut Teori Implementasi Kebijakan George Edward III (Winarno, 2002: 126-151), faktor-faktor yang mendukung implementasi kebijakan, yaitu: 1) Komunikasi.
Ada tiga hal penting yang dibahas dalam proses komunikasi kebijakan, yakni transmisi, konsistensi, dan kejelasan (clarity). Faktor pertama yang mendukung implementasi kebijakan adalah transmisi. Seorang pejabat yang mengimlementasikan keputusan harus menyadari bahwa suatu keputusan telah dibuat dan suatu perintah untuk pelaksanaanya
telah dikeluarkan. Faktor kedua yang mendukung implementasi kebijakan adalah kejelasan, yaitu bahwa petunjuk-petunjuk pelaksanaan kebijakan tidak hanya harus diterima oleh para pelaksana kebijakan, tetapi komunikasi tersebut harus jelas. Faktor ketiga yang mendukung implementasi kebijakan adalah konsistensi, yaitu jika implementasi kebijakan ingin berlangsung efektif, maka perintah-perintah pelaksanaan harus konsisten dan jelas. 2) Sumber-sumber
Sumber-sumber penting yang mendukung implementasi kebijakan meliputi: staf yang memadai serta keahlian-keahlian yang baik untuk melaksanakan tugas-tugas mereka, wewenang dan fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang pelaksanaan pelayanan publik.
3) Kecenderungan-kecenderungan atau tingkah laku-tingkah laku (disposisi) Kecenderungan dari para pelaksana mempunyai konsekuensi-konsekuensi penting bagi implementasi kebijakan yang efektif. Jika para pelaksana bersikap baik terhadap suatu kebijakan tertentu yang dalam hal ini berarti adanya dukungan, kemungkinan besar mereka melaksanakan kebijakan sebagaimana yang diinginkan oleh para pembuat keputusan awal. 4) Struktur birokrasi
Birokrasi merupakan salah satu badan yang paling sering bahkan secara keseluruhan menjadi pelaksana kebijakan, baik itu struktur pemerintah dan juga organisasi-organisasi swasta.
Menurut Teori Proses Implementasi Kebijakan menurut Van Meter dan Horn (Winarno, 2002: 110), faktor-faktor yang mendukung implementasi kebijakan yaitu:
a. Ukuran-ukuran dan tujuan kebijakan.
Dalam implementasi, tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran suatu program yang akan dilaksanakan harus diidentifikasi dan diukur karena implementasi tidak dapat berhasil atau mengalami kegagalan bila tujuan-tujuan itu tidak dipertimbangkan.
b. Sumber-sumber Kebijakan
Sumber-sumber yang dimaksud adalah mencakup dana atau perangsang (incentive) lain yang mendorong dan memperlancar implementasi yang efektif.
c. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan
Implementasi dapat berjalan efektif bila disertai dengan ketepatan komunikasi antar para pelaksana.
d. Karakteristik badan-badan pelaksana
Karakteristik badan-badan pelaksana erat kaitannya dengan struktur birokrasi. Struktur birokrasi yang baik akan mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi kebijakan.
e. Kondisi ekonomi, sosial dan politik
Kondisi ekonomi, sosial dan politik dapat mempengaruhi badan-badan pelaksana dalam pencapaian implementasi kebijakan.
f. Kecenderungan para pelaksana
Intensitas kecenderungan-kecenderungan dari para pelaksana kebijakan akan mempengaruhi keberhasilan pencapaian kebijakan.
Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak hanya ditujukan dan dilaksanakan untuk intern pemerintah saja, akan tetapi ditujukan dan harus dilaksanakan pula oleh seluruh masyarakat yang berada di lingkungannya. Menurut James Anderson (Sunggono, 1994: 144), masyarakat mengetahui dan melaksanakan suatu kebijakan publik dikarenakan :
1) Respek anggota masyarakat terhadap otoritas dan keputusan-keputusan badan-badan pemerintah;
2) Adanya kesadaran untuk menerima kebijakan;
3) Adanya keyakinan bahwa kebijakan itu dibuat secara sah, konstitusional, dan dibuat oleh para pejabat pemerintah yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan;
4) Sikap menerima dan melaksanakan kebijakan publik karena kebijakan itu lebih sesuai dengan kepentingan pribadi;
5) Adanya sanksi-sanksi tertentu yaang akan dikenakan apabila tidak melaksanakan suatu kebijakan.
Van Mater dan Van Horn menjelaskan bahwa Implementasi kebijakan menekankan pada suatu tindakan-tindakan, baik yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun individu (atau kelompok) swasta, yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu keputusan kebijakan sebelumnya. Tindakan-tindakan ini, pada suatu saat berusaha untuk mentransformasikan keputusan-keputusan menjadi pola-pola operasional, serta melanjutkan usaha-usaha tersebut untuk mencapai perubahan baik yang besar maupun yang kecil yang diamanatkan oleh keputusan- keputusan kebijakan tertentu.
Mazmatian dan Sabatier dalam Agustino (2006:139) menjelaskan bahwa Pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentu Undang-undang, namun dapat pula perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan. Lazimnya, keputusan mengidentifikasikan masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegastujuan atau sasaran yang ingin dicapai dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses implementasinya. Perlu dicatat bahwa implementasi kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam struktur kebijakan, karena melalui prosedur ini proses kebijakan secara keseluruhan dapat dipengaruhi tingkat keberhasilan atau tidaknya pencapaian tujuan.
Lebih lanjut Nugroho, (2004:158-160) menjelaskan bahwa Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya, tidak lebih dan kurang. Untuk mengimplementasikan kebijakan publik, maka ada dua pilihan langkah yang ada, yaitu langsung mengimplementasikan dalam bentuk program-program atau melalui formulasi kebijakan derivate atau turunan dari kebijakan tersebut. Kebijakan public dalam bentuk Undang-undang atau Peraturan Daerah adalah jenis kebijakan yang memerlukan kebijakan publik penjelas atau sering diistilahkan sebagai peraturan pelaksanaan. Kebijakan publik yang bisa langsung dioperasionalkan antara lain Keputusan Presiden, Instruksi Presiden, Keputusan Menteri, Keputusan Kepala Daerah, Keputusan Kepala Dinas, dan lain-lain.
Menurut G. Shabbir Cheema dan Dennis A. Rondinelli dalam Subarsono (2005:101) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
implementasi kebijakan program-program pemerintah yang bersifat desentralistis. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
1. Kondisi lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi implementasi kebijakan, yang dimaksud lingkungan ini mencakup lingkungan sosio kultural serta keterlibatan penerima program.
2. Hubungan antar organisasi
Dalam banyak program, implementasi sebuah program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain. Untuk itu diperlukan koordinasi dan kerjasama antar instansi bagi keberhasilan suatu program.
3. Sumberdaya organisasi untuk implementasi program Implementasi kebijakan perlu didukung sumberdaya baik sumberdaya manusia (human resources) maupun sumberdaya non-manusia (non human resources).
4. Karakteristik dan kemampuan agen pelaksana
Yang dimaksud karakteristik dan kemampuan agen pelaksana adalah mencakup struktur birokrasi, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi, yang semuanya itu akan mempengaruhi implementasi suatu program.
Berdasarkan pada pendapat dari beberapa ahli di atas, nampak bahwa implementasi kebijakan tidak hanya terbatas pada tindakan atau perilaku badan alternatif atau unit birokrasi yang bertanggungjawab untuk melaksanakan program dan menimbulkan kepatuhan dari target group, namun lebih dari itu juga berlanjut dengan jaringan kekuatan politik sosial ekonomi yang berpengaruh pada perilaku
semua pihak yang terlibat dan pada akhirnya terdapat dampak yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan.
Model Implementasi Kebijakan George Edward III
Berikut ini adalah model Implementasi Kebijakan yang dikembangkan oleh Edward III yang dikutip oleh Winarno (2002:149), sebagai berikut:
1. Komunikasi (communication)
Terdapat tiga indikator yang dapat dipakai dalam mengukur keberhasilan variabel komunikasi, diantaranya : Transmisi, penyaluran komunikasi yang baik akan menghasilkan suatu implementasi yang baik pula. Seringkali yang terjadi dalam penyaluran komunikasi adalah adanya salah pengertian dikarenakan komunikasi telah melalui beberapa tingkatan birokrasi, sehingga apa yang diharapkan terdistorsi ditengah jalan. Kejelasan, komunikasi yang diterima oleh para pelaksana kebijakan haruslah jelas dan tidak membingungkan. Ketidakjelasan pesan kebijakan tidak selalu menghalangi implementasi, pada tataran tertentu, para pelakasana membutuhkan fleksibilitas dalam melaksanakan kebijakan. Konsistensi, perintah yang diberikan dalam pelaksanaan suatu komunikasi haruslah suatu konsistensi dan jelas.
2. Sumberdaya (resources)
Sumberdaya utama dalam implementasi kebijakan adalah staff. Diperlukan staff yang ahli dan mampu dalam mengimplemetasikan suatu kebijakan. Yang kedua adalah informasi, informasi berhubungan dengan cara melaksanakan kebijakan, implementator harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan disaat mereka diberi perintah untuk melakukan tindakan.
Menurut George C Edward III disposisi merupakan sikap dari pelakasana kebijakan adalah faktor penting ketiga dalam pendekatan mengenai pelaksanaan suatu kebijakan publik. Jika pelaksanaan suatu kebijakan ingin efektif, maka para pelakasana kebijakan tidak hanya harus mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, sehingga dalam praktiknya tidak terjadi bias.
4. Struktur Birokrasi (bureucratic structure)
Menurut Edward III, yang mempengaruhi tingkat keberhasilan implementasi kebijakan publik kebijakan, adalah struktur birokrasi. Walaupun sumber sumber untuk melaksanakan suatu kebijakan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, dan mempunyai keinginan untuk melaksanakan suatu kebijakan, kemungkinan kebijakan tersebut tidak dapat terlaksana atau terealisasi karena terdapatnya kelemahan dalam stuktur birokrasi. Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya kerjasama banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada kebijakan yang tersedia, maka hal ini akan menyebagiankan sumberdaya-sumberdaya menjadi tidak efektif dan menjadi penghambat jalannya kebijakan. Birokrasi sebagai pelaksana sebuah kebijakan yang telah diputuskan secara politik dengan jalan melakukan koordinasi dengan baik.
B. Kerangka Pikir
Salah satu permasaalahan yang selalu dihadapi di kota-kota besar adalah masalah lalulintas. Hal ini terbukti karena semakin maraknya pelanggaran lalulintas yang banyak menyebabkan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas. Keadaan ini merupakan salah satu perwujudan dari perkembangan teknologi modern. Perkembangan ini nampak membawa pengaruh terhadap keamanan laulintas yang
banyak menimbulkan kecelakaan dan kemacetan lalulintas. Kecelakaan lalulintas ini bukan hanya disebabkan karena pelanggaran lalulintas. Tetapi juga disebabkan oleh banyak faktor, yaitu pengemudi kendaraan yang buruk, kerusakan kendaraan, pejalan kaki yang kurang hati-hati, dan kondisi jalan yang kurang baik.
Mengingat semakin padatnya kendaraan di kehidupan zaman modern ini, maka tidak dipungkiri lagi jika dari tahun ketahun, penggunaan kendaraan terus meningkat sehingga tingkat kecelakaan juga terus meningkat. Peningkatan penggunaan kendaraaan ini banyak kita jumpai pada anak-anak di bawah umur yang mengemudikan kendaraan. Hal tersebut menimbulkan banyak pelanggaran lalulintas. Misalnya penggunaan bentor di jalan – jalan utama/jalan raya.
Lalulintas dan pemakai jalan memiliki peranan yang sangat penting dan strategis sehingga penyelenggaraanya dikuasai oleh negara. Pembinaan perlu dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mewujudkan lalulintas dan pengguna jalan yang selamat, aman, lancar, tertib, dan teratur. Pembinaan di bidang lalulintas dan angkutan jalan meliputi aspek implementasi kebijakan pengaturan jam operasional truk roda sepuluh di Kota Makassar sesuai dengan peraturan Walikota Makassar Nomor 94 tahun 2013.
Bagan Kerangka Pikir
C. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini berangkat dari latar belakang masalah kemudian dirumuskan dalam rumusan dan dikaji berdasarkan teori dalam tinjauan pustaka. Adapun fokus penelitian yang berpijak dari rumusan masalah. Fokus penelitian ini terdiri beberapa hal pokok yang perlu di uraikan yaitu :
a. Efektifitas implementasi kebijakan pengaturan jam operasional truk sepuluh roda.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi suatu implementasi kebijakan. Implementasi program
Peraturan Wali Kota Makassar Nomor 94 tahun
2013 Faktor Penghambat 1. Isi Kebijakan 2. Informasi 3. Dukungan 4. Pembagian Potensi Faktor pendukung 1. Komunikasi 2. Sumber daya 3. Disposisi 4. Struktur Birokrasi
Efektifitas Implementasi Kebijakan Pengaturan Jam Operasional Truk
D. Deskripsi Fokus Penelitian
1. Implementasi kebijakan adalah penerapan rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak.
2. Peraturan Wali Kota Makassar nomor 94 tahun 2013 tentang pengaturan jam operasional truk sepuluh roda. Dalam hal ini truk sepuluh roda hanya diperbolehkan beroperasi di jam21.00-05.00WIB.
3. Komunikasi, keberhasilan kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan dalam hal ini supir truk dan masyarakat lain harus mengetahui isi dari kebijakan tersebut.
4. Sumber daya, adalah segala potensi yang berpengeruh dalam pengimplementasian sebuah kebijakan. Yang dimaksud disini adalah pembuat kebijakan dan orang yang akan menjalankan kebijakan tersebut. 5. Disposisi, adalah watak dan karakteristik atau sikap yang dimiliki oleh
implementor seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis.
6. Struktur birokrasi adalah jejang tugas dan Fungsi pokok dalam pengimplementasian kebijakan yang dimulai dari pembuat kebijakan, pelaksanaan kebijakan, pengawas kebijakan serta tujuan kebijakan.
7. Isi kebijakan adalah peraturan yang akan diimplementasikan yang biasanya berupa peraturan perundang – undangan, perda serta atauran lainnya.
8. Informasi adalah kejelasan dari sebuah kebijakan yang diimplementasikan kepada pelaksanaan / sasaran kebijakan.
10. Pembagian Potensi adalah pemerataan sumberdaya yang dimiliki sesuai dengan kebutuhannya.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam rentang waktu dua bulan di kota Makassar, alasannya atas dasar lokasi penelitian mudah terjangkau serta terdapat masalah yang menarik dan memenuhi kriteria untuk dijadikan objek penelitian. B. Jenis dan Tipe Penelitian
1. Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif menggunakan metode wawancara yang instrumennya berupa pertanyaan-pertanyaan kepada informan yang dipilih.
2. Tipe penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. C. Sumber Data
1. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara langsung di lapangan kepada informan yang dipilih yang data belum diolah sebelumnya. 2. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui buku-buku bacaan,
jurnal, serta hasil penelitian sebelumnya. D. Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini ditetapkan secara purposive sampling, berdasarkan pertimbangan yaitu keterlibatan dalam pelaksanaan program pengaturan jam operasional truk sepuluh roda dan yang bersangkutan memahami isu yang dipersoalkan dalam penelitian ini. Berdasarkan proses pemilihan tersebut, kemudian dipilih informan sebagai berikut:
1. staf urbin lantas Dinas Kepolisian Kota Makassar : 2 orang
2. staf bagian lalu lintas Dinas Perhubungan Kota Makassar : 2 orang 3. supir truk 10 roda : 2 orang
4. pengguna jalan lain (pengendara sepeda motor) : 2 orang 5. pengusaha/ pemilik tambang : 2 orang
E. Tehnik Pengumpulan Data
Menggunakan tehnik observasi yaitu dengan cara melakukan pengamatan langsung ke lapangan, serta wawancara mendalam kepada informan dengan menggunakan rekaman suara mengenai pengimplementasian kebijakan pengaturan jam operasional truk sepuluh roda di kota Makassar.
F. Tehnik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini di mulai dengan pengumpulan data yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh data yang akurat dan relevan terhadap masaalah penelitian yang di peroleh melalui observasi langsung dan melalui wawancara mendalam. Tahap selanjutnya dilakukan reduksi data yang merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa, hingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan di verifikasi.
G. Keabsahan Data
Dalam pengujian keabsahan data, diperlukan teknik pemeriksaan. Menurut Lexy J. Maleong (2012) pelaksanaan teknik pemeriksaan di dasarkan akan sejumlah kriteria tertentu, kriteria tersebut adalah derajat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan dan kepastian. Dalam penelitian ini akan menggunakan salah satu kriteria pemeriksaan di atas, yaitu derajat kepercayaan dengan teknik pemeriksaan
triangulasi data. Menurut William dalam Sugiyono (2012:273) triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.
Menurut peneliti salah satu cara paling tepat untuk menguji keabsahan data dalam penelitian ini adalah dengan dengan hasil triangulasi peneliti, metode, dan sumber dat. Dengan mengacu kepada Denzindalam Lexy J. Maleong (2012:330). 1. Triangulasi Sumber yaitu Triagulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek
pada sumber lain keabsahan data yang telah diperoleh sebelumnya.
2. Triangulasi Metode yaitu Triagulasi metode bermakna data yang diperoleh dari satu sumber dengan menggunakan metode atau teknik tertentu, diuji keakuratan dan ketidak akuratannya.
3. Triangulasi Waktu yaitu Triagulasi waktu berkenan dengan waktu dan pengambilan data
BAB IV
HASIL PENELITIAN A. Karakteristik Obyek Penelitian
1. Gambaran Umum Kota Makassar
Secara geografis, letak Kota Makassar berada pada 119°24’17’38’’BT dan 5°8’6’19’’LS dengan luas wilayah 175,75km. Batas-batas wilayah kota Makassar adalah sebagai berikut :
a. Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Pangkep b. Sebelah Selatan berbatasan dengan kabupaten Gowa c. Sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Maros d. Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar
Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi di Kota Makassar sebagai berikut:
a. Kecamatan Mariso : 1,82 (Km²) dengan persentase 1,04 % b. Kecamatan Mamajang : 2,25 (Km²) dengan persentase 1,28 % c. Kecamatan Tamalate : 20,21 (Km²) dengan persentase 11,52 % d. Kecamatan Rappocini : 9,23 (Km²) dengan persentase 5,26 % e. Kecamatan Makassar : 2,52 (Km²) dengan persentase 1,44% f. Kecamatan Ujung Pandang : 2,63 (Km²) dengan persentase 1,5 % g. Kecamatan Wajo : 1,99 (Km²) dengan persentase 1,13%
h. Kecamatan Bontoala : 2,10 (Km²) dengan persentase 1,2% i. Kecamatan Ujung Tanah : 5,94 (Km²) dengan persentase 3,38% j. Kecamatan Tallo : 5,83 (Km²) dengan persentase 3,32%
l. Kecamatan Manggala : 21,14 (Km²) dengan persentase 13,76% m. Kecamatan Biringkanaya : 48,22 (Km²) dengan persentase 27,48% n. Kecamatan Tamalanrea : 31,84 (Km²) dengan persentase 18,15%
Sistem transportasi sangat penting untuk mendukung angkutan barang dan penumpang. Sistem transportasi yang digunakan masyarakat saat ini dalam pengangkutan sangat ditentukan dengan ketersediaan prasarana jalan terutama dukungan prasarana ke kawasan perkotaan. Berdasarkan kondisi prasarana jalan yang dimanfaatkan masyarakat terdiri atas jalan aspal, pengerasan dan jalan tanah. Jenis klasifikasi jalan kota Makassar sebagai berikut:
Data panjang jalan dan jembatan kota Makassar. Data jalan menurut fungsi jalan (km):
a. Arteri, 76.52 (2010), 64.42 (2011), 64.42 (2012) b. Kolektor, 380.93 (2010), 743.32 (2011), 743.32 (2012) c. Lokal, 1120.88 (2010), 770.27 (2011), 770.27 (2012) d. Inpeksi Kanal, 15.13 (2010), 15.13 (2011), 15.13 (2012)
Sumber : Dinas Perhubungan bidang jalan dan jembatan kota Makassar Data panjang jalan dan jembatan kota Makassar. Data jalan menurut kontruksi jalan (km): a. Aspal, 1212.20 (2010), 1266.59 (2011), 1170.76 (2012) b. Berbatu, 1212.20 (2010), 1266.59 (2011), 1170.76 (2012) c. Kerikil, 38.10 (2010), 214.09 (2011), 6.62 (2012) d. Tanah, 82.86 (2010), 57.63 (2011), 55.23 (2012) e. Paving block, 82.86 (2010), 57.63 (2011), 55.23 (2012) f. Beton, 82.86 (2010), 57.63 (2011), 55.23 (2012)
g. Tidak dirinci, 260.30 (2010), 57.63 (2011), 55.23 (2012)
Sumber : Dinas Perhubungan bidang jalan dan jembatan Kota Makassar Data panjang jalan dan jembatan Kota Makassar. Data jalan menurut kondisi:
a. Baik : 899.26 (2010), 772.69 (2011), 727.69 (2012), 627.36 (2013) b. Sedang : 122.83 (2010), 264.04 (2011), 264.04 (2012), 423.46 (2013) c. Rusak ringan : 201.96 (2010), 382.15 (2011), 283.15 (2012), 304.15 (2013) d. Rusak berat : 369.41 (2010), 273.58 (2011), 318.58 (2012), 238.50 (2013)
Sumber : Dinas Perhubungan bidang jalan dan jembatan kota makassar Daftar jalan nasional (kep.Menteri PU No 631/KPTS/M/2009 Tentang Jalan Nasional : a. Jl. Perintis Kemerdekaan : 12.510 m b. Jl. Urip Sumoharjo : 4.943 m c. Jl. G. Bawakaraeng : 1.110 m d. Jl. Masjid Raya : 1.224 m e. Jl. Bulusaraung : 0.675 m f. Jl. Ahmad Yani : 0.700 m g. Jl. Riburane : 0.230 m h. Jl. Nusantara : 1.942 m i. Jl. Veteran Utara : 2.074 m j. Jl. S. Alauddin : 3.702 m k. Jl. A. P. Pettarani : 4.370 m
Data jalan provinsi (Kep. Gub. Sulsel No. 4261/XII/Tahun 2010 Tentang Penetapan Status Ruas-Ruas Jalan Sebagai JAlan Provinsi Sulawesi Selatan :
a. Jl. Ratulangi : 2.067 m b. Jl. Jend. Sudrman : 1.339 m c. Jl. Syekh Yusuf : 2.457 m d. Jl. Tamangapa Raya : 3.364 m e. Jl. Antang Raya : 1.500 m f. Jl. Dr. Leimena : 2.700 m g. Jl. Mappainga : 1.442 m h. Jl. Abduln Kudus : 860 m
Sumber : Dinas Perhubungan bidan jalan dan jembatan kota Makassar Dari gambaran selintas mengenai lokasi dan kondisi geografis Makassar memberi penjelasan bahwa secara geografis Kota Makassar memang sangat strategis dilihat dari sisi kepentingan ekonomi maupun politik. Dari sisi ekonomi, Makassar menjadi simpul jasa distribusi yang tentunya akan lebih efisien dibandingkan daerah lain. Memang selama ini kebijakan makro pemerintah yang seolah-olah menjadikan Surabaya sebagai home base pengelolaan produk-produk draft kawasan Timur Indonesia, membuat Makassar kurang dikembangkan secara optimal. Padahal dengan mengembangkan Makassar, otomatis akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan Timur Indonesia dan percepatan pembangunan. Dengan demikian, dilihat dari sisi letak dan kondisi geografis Makassar memiliki keunggulan komparatif dibanding wilayah lain di Kawasan Timur Indonesia. Saat ini Kota Makassar dijadikan inti pengembangan wilayah terpadu Mamminasata.
2. Gambaran umum Polresatabes Kota Makassar Bagian Polantas Kota Makassar
a. Visi
Menjamin tegaknya hukum di jalan yang bercirikan perlindungan, pengayoman, pelayanan masyarakat yang demokrasi sehingga terwujud keamanan, ketertiban, keselamatan, dan kecelakaan lalu lintas.
b. Misi
Mewujudkan masyarakat pemakai jalan memahami dan yakin kepada polantas sebagai pelindung , pengayoman dan pelayanan masyarakat dalam kegiatan pendidikan masyarakat lalu lintas, penegakan hukum lalu lintas, pengkajian masalah lalu lintas, registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dan mengemudi.
c. Tugas Pokok
Bertugas dan menyelenggarakan, membina fungsi lalu lintas kepolisian yang meliputi pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patrol,pendidikan masyarakat dan rekayasa lalu lintas registrasi dan identifikasi surat izin mengemudi, penyidikan dan penyelidikan kecelakaan lalu lintas serta penegakan hukum di bidang lalu lintas guna memelihara keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.
STRUKTUR ORGANISASI KASAT LANTAS
AKBP M.HIDAYAT B, SH, SIK,MH
WAKASAT LANTAS KOMPOL ISMAIL HUSEIN, SH,
MH
KAUR BIN OPS
AKP ERNAWATI,M PS,KAUR MINTU
AIPTUSYACHRUL
KANIT LAKA AKP ALIMUDDIN
KANIT SIM AKP IRWAN SETIONO
KANIT PATROLI AKP SUKARDI
KANIT DIKYASA AKP RADEN JAYA
KASUBNIT AIPTU RISNAN ALDINO
Ps. KASUBNIT AIPTU ISTACHORI
Ps. KASUBNIT AIPTU RUBIANTO
Ps. KASUBNIT AIPTU ARI SUKARNA
KASUBNIT I Ps. KASUBNIT II AIPTU SUGIARTY Ps. KASUBNIT II AIPTU SUGIARTY Ps. KASUBNIT II AIPTU SUGIARTY Ps. KASUBNIT II AIPTU SUGIARTY
3. Gamabaran umum Dinas Perhubungan Kota Makassar a. Tugas pokok
Menyiapkan pembinaan manajemen dan rekayasa lalu lintas di jalan kota, jalan provinsi dan nasional yang berada di Kota Makassar serta pemeliharaan prasarana lalu lintas yang ada di Kota Makassar, melakukan kajian lalu lintas terhadap suatu pengembangan kawasan Kota Makassar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Fungsi
1. Menyiapkan perencanaan, pengaturan, pengawasan dan pengendalian lalu lintas di jalan Kota Makassar, jalan provinsi dan jalan nasional yang berada di dalam Kota Makassar.
2. Menyiapkan perencanaan pengadaan, penempatan dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas, marka jalan dan alat pemberi isyarat lalu lintas, serta fasilitas perlengkapan jalan lainnya di jalan Kota Makassar, jalan provinsi dan jalan nasional yang berada dalam Kota Makassar.
3. Menyiapkan perencanaan pemeliharaan prasarana lalu lintas dan fasilitas perlengkapan jalan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undanagan yang berlaku.
c. Seksi-Seksi Bidang lalu lintas 1) Seksi Manajemen Lalu lintas a) Tugas
Melaksanakan kegiatan perencanaan, pengaturan, pengawasan dan pengendalian lalu lintas jalan-jalan kota Makassar, jalan provinsi dan jalan nasional yang berada dalam Kota Makassar.
b) Fungsi
1. Menyusun rencana dan program kerja seksi Mnajemen lalu lintas. 2. Menyusun rencana umum jaringan transportasi jalan (RUJTJ).
3. Menyusun data kegiatan lomba tertib lalu lintas (Wahana Tatanugraha). 4. Menyusun tatanan transportasi local (TATRALOK).
5. Merencanakan, memuaskan dan melakukan koordinasi lalu lintas sector kajian manajemen lalu lintas meliputi kegiatan perencanaan, pengaturan, pengawasan dan pengendalian lalu lintas setiap ruas jalan dan persimpangan di Kota Makassar.
6. Memberikan rekomendasi analisis dampak lalu lintas (ANDALALIN). 7. Melalukan survey lalu lintas jalan dalam Kota Makassar.
8. Melakukan survey kebutuhan rambu-rambu lalu lintas, marka jalan dan alat pemberi isyarat lalu lintas, serta fasilitas perlengkapan jalan.
9. Melakukan pengolahan dan analisi kebutuhan rambu-rambu lalu lintas, marka jalan dan alat pemberi isyarat lalu lintas, serta fasilitas perlengkapan jalan.
10. Melakukan perencanaan kebutuhan rambu-rambu lalu lintas, marka jalan dan alat pemberi isyarat lalu lintas, serta fasilitas perlengkapan jalan di Kota Makassar.
11. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya.
12. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas.
13. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan. 2) Seksi Rekayasa Lalu Lintas
a. Tugas
Menyiapkan perencanaan pengadaan, penempatan dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas, marka jalan dan alat pemberi isyarat lalu lintas, serta fasilitas perlengkapan jalan lainnya di jalan Kota Makassar, jalan provinsi dan jalan nasional yang berada dalam kota Makassar.
b. Fungsi
1. Menyusun rencana dan program kerja pada seksi rekayasa lalu lintas.
2. Menentukan titik lokasi dan penempatan rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas perlengkapan jalan lainnya.
3. Melakukan pengadaan dan pemasangan kebutuhan rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas perlengkapan jalan lainnya.
4. Menyiapkan desain ruas jalan dan persimpangan jalan-jalan di Kota Makassar.
5. Menyiapkan perencanaan, penunjukan lokasi, pembangunan, pengembangan, pengelolaan, pemeliharaan fisik serta pengendalian halte.
6. Menyiapkan perencanaan, penunjukkan lokasi, pembangunan, pengembangan, pengelolaan, pemeliharran fisik serta pengendalian jembatan penyebrangan.
7. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya.
8. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas.
9. Melakukan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan. 3) Seksi Prasarana Lalu Lintas
a. Tugas
Menyiapkan perncanaan pemeliharaan prasarana lalu lintas dan fasilitas perlengkapan jalan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Fungsi
1. Menyusun rencana dan program kerja pada seksi prasrana lalu lintas.
2. Menyusun rencana kegiatan pemeliharaan rambu-rambu lalu lintas.
4. Menyusun rencana kegiatan pemeliharaan alat pemberi isyarat lalu lintas.
5. Menyusun rencana kegiatan pemeliharaan fasilitas perlengkapan jalan.
6. Menyusun rencana kegiatan pemeliharaan lampu penerangan jalan.
7. Melakukan kegiatan pemeliharaan rambu-rambu lalu lintas. 8. Melakukan kegiatan pemeliharaan marka jalan.
9. Melakukan kegiatan pemeliharaan alat pemberi isyarat lalu lintas.
10. Melakukan kegitan pemeliharaan fasilitas perlengkapan jalan.
11. Melakukan kegiatan pemeliharaan lampu penerangan jalan. 12. Melakukan pemeliharaan fisik serta pengendalian halte. 13. Melakukan pemeliharaan fisik serta pengendalian jembatan
penyeberangan.
14. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya.
15. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas.
16. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan.
4) Seksi Ketertiban Lalu Lintas dan Angkutan jalan a. Tugas
Menyiapkan perencanaan kegiatan penertiban lalun lintas jalan dan angkutan.
b. Fungsi
1. Menyusun rencana dan program kerja pada seksi penertiban lalu lintas.
2. Menyiapkan penyusunan pedoman, mekanisme dan tata cara penyelengaraan penertiban lalu lintas.
3. Menyusun rencana kegiatan pengawasan dan penertiban angkutan orang.
4. Menyusun rencana kegiatan pengawasan dan penertiban angkutan barang.
5. Menyusun rencana kegiatan pengawasan dan penertiban angkutan khusus.
6. Menyusun rencana kegiatan pengawasan dan penertiban kendaraan tidak bermotor.
7. Menyiapkan rekomendasi izin pengunaan jalan. 8. Melakukan kegiatan pengawalan lalu lintas.
9. Melakukan kegiatan pengaturan lalu lintas pada daeraH rawan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas dalam wilayah Kota Makassar.
10. Melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas pada kegiatan lebaran, natal dan tahun baru.
11. Mengevaluasi kegiatan penertiban lalu lintas secara berkala. 12. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain dengan bidang
tugasnya.
13. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas.
14. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan.
5) Seksi Bimbingan Keselamatan Lalu Lintas Angkutan jalan a. Tugas
Menyiapkan perencanaan kegiatan bimbingan keselamatan lalu lintas di jalan, pembinaan, pengumpulan data, analisis data kecelakaan lalu lintas di jalan, pembinaan, pengumpulan data, analisis data kecelakaan lalu lintas di jalan.
b. Fungsi
1. Menyusun rencan dan program kerja pada seksi bimbingan keselamatan lalu lintas angkutan jalan.
2. Menyiapkan penyusunan pedoman, mekanisme dan tata cara penyelenggaraan bimbingan keselamatan lalu lintas angkutan jalan.
3. Melakukan inventarisasi daerah rawan kemacetan dan kecelakaan.
4. Memberikan penyuluhan keselamatan lalu lintas kepada pelajar dan mahasiswa
5. Memberikan penyuluhan keselamatan lalu lintas kepada pengemudi angkutan umum.
6. Memberikan penyuluhan keselamatan lalu lintas jalan dan pelayaran kepada masyarakat.
7. Melakukan sosialisasi keselamatan lalu lintas melalui media massa, media cetak dan elektronik.
8. Melakukan kampanye keselamatan lalu lintas jalan. 9. Melakukan pekan keselamatan lalu lintas
10. Mengumpulkan data daerah rawan kecelakaan dan kemacetan.
11. Menganalisis data daerah rawan kecelakaan dan kemacetan. 12. Membentuk dewan keselamatan lalu lintas kota Makassar. 13. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan
dengan bidang tugasnya.
14. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas
15. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang di berikan oleh atasan.
Ketetapan Peraturan Walikota Makassar No. 94 Tahun 2013 tentang Pengaturan Jam Operasional Truk Sepuluh Roda di Kota Makassar tidak hanya aparat kepolisian yang memiliki tanggung jawab dalam pelaksanaannya tetapi Dinas Perhubungan berperan penting juga, dan dalam beberapa bulan terakhir ini Dinas Perhubungan telah melakukan lima kali razia di jalan terhadap supir-supir truk sepuluh roda yang masi melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Karena tidak adanya sanki yang jelas terhadap pengemudi truk sepuluh roda maka dishub dan hanya memberikan tilang berupa penahanan sim, stnk, dan truk serta dicabutnya izin beroperasi selama dua minggu.
B. Efektifitas Pelaksanaan Program Pengaturan Jam Operasional Truk Sepuluh Roda
Seiring dengan perkembangannnya teknologi banyak sekali terjadi perubahan di Negara ini salah satu contohnya yaitu dalam hal peningkatan kendaraan di kota-kota contohnya di daerah metropolitan seperti halnya dengan kota Makassar, terjadi peningkatan volume kendaraan.
1. Jam Operasional Truk Sepuluh Roda di Kota Makassar
Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 94 tahun 2013 terkait jam operasi truck 10 roda di kota Makassar. Dalam peraturan walikota tersebut hanya mengatur truk sepuluh roda dilarang melintas atau beroperasi di Kota Makassar mulai jam 21.00 sampai jam 05.00 Wita. Pasalnya, dalam perwali yang memberikan batasan jam operasi kepada truck 10 roda atau lebih dikenal dengan istilah rembang 10 itu malahan bebas melenggang tanpa terikat aturan. Dalam Perwali membatasi jam operasi truck 10 roda. Sementara, truck 6 roda yang ukurannya sama bebas bergerak tanpa terikat aturan. Perwali yang dihasilkan membuat para supir dan pengusaha truck 10 roda terancam terancam gulung tikar.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Staf Bagian lalu lintas dinas perhubungan Kota Makassar mengatakan bahwa:
“Saya lebih melihat pada efektifitas pengaturan. Karena kadang banyak aturan yang dibuat tapi masih lemah pada penindakan. Itu juga yang harus diseriusi pemkot. Dibutuhkan komitmen pemkot dalam penegakan perwali dengan mengintensifkan penegakan termasuk dinas perhubungan (dishub) untuk menegakkan aturan.”. (Hasil wawancara 22 Desember 2014)
Pemerintah dalam hal kemacetan dan kecelakaan lalu lintas di kota Makassar perlu mendapat perhatian yang serius dari pihak yang bersangkutan agar terwujud lalu lintas yang aman, lancar, tertib dan teratur, yang menyebabkan
kemacetan dan kecelakaan lalu lintas adalah sopir angkot yang menaikkan dan menurunkan di sembarang tempat belum lagi dengan kehadiran mobil besar seperti truk yang beroperasi pada jam kerja atau waktu-waktu sibuk. Menurut hasil wawancara dengan staf Urbin Lantas Dinas Kepolisian Kota Makassar mengatakan bahwa:
“Truk besar diperbolehkan masuk Makassar antara pukul 21.00 hingga pukul 05.00 Wita, Siang hari hanya diizinkan sampai di wilayah perbatasan, untuk truk Gowa dibatasi hingga perempatan Sungguminasa -Jalan Sultan Alauddin, untuk truk dari Maros dibatasi sampai Mandai, di siang hari material tambang harus dibongkar di perbatasan, dan baru diperbolehkan masuk Makassar pada malam hari”. (Hasil wawancara 22 Desember 2014)
Berdasarkan hasil wawancara di atas terlihat jelas bahwa butiran Perwali truk sebagai mana yang telah disahkan dimana Truk besar diperbolehkan masuk Makassar antara pukul 21.00 hingga pukul 05.00 Wita, Siang hari hanya diizinkan sampai di wilayah perbatasan, untuk truk Gowa dibatasi hingga perempatan Sungguminasa - Jalan Sultan Alauddin, untuk truk dari Maros dibatasi sampai Mandai, di siang hari material tambang harus dibongkar di perbatasan, dan baru diperbolehkan masuk Makassar pada malam hari , serta soal lokasi penampungan bahan material, menjadi tanggung jawab pengusaha. Berdasarkan hasil wawancar dengan Staf Bagian lalu lintas bagian perhubungan Kota Makassar mengatakan bahwa:
“Pemerintah Kota Makassar melakukan pengendalian dengan mengeluarkan peraturan walikota Makassar mengenai peraturan jam operasional truk 10 roda yakni tentang peraturan walikota Makassar nomor 94 tahun 2013 tentang larangan jam operasional kendaraan truk 10 roda. Dalam peraturan walikota tersebut hanya mengatur truk sepuluh roda dilarang melintas atau beroperasi di Kota Makassar mulai jam 21.00 sampai jam 05.00 Wita”. (Hasil wawancara 22 Desember 2014)
Berdasarkan hasil wawancara diatas terlihat jelas bahwa Peraturan walikota Makassar tersebut dalam pelakasanaannya mengalami kendala karena tidak adanya kejelasan hukuman atau sanksi di dalamnya. Selain itu adanya ketidaksinkronnya peraturan walikota ini dengan peraturan daerah kabupaten Gowa yang justru tidak mengizinkan truk sepuluh roda beroperasi di malam hari merupakan penyebab masih banyaknya pelanggaran terjadi mengenai truk sepuluh roda ini. . AH selaku staf urbin lalu lintas kepolisian Kota Makassar mengatakan bahwa:
“Kami selaku staf urbin lalu lintas kepolisian Kota Makassar sudah menjalankan tugas sebagaimana yang diperintahkan atasan kami, Akan tetapi mengenai lalu lintas masih terjadi peningkatan kemacetan dan kecelakaan setiap tahunnya hal ini disebabkan dengan para pengendara yang tidak mematuhi aturan lalu lintas, pengendara yang tidak konsertrasi mengemudi, selain itu yang sering menyebabkan yaitu banyaknya kendaraan yang parkir di sembarang tempat terutama kendaraan besar seperti truk sepuluh roda yang mengambil tempat yang luas. Saya kira sudah diberlakukan peraturan walikota tentang jam operasional truk sepuluh roda kami dari kepolisian lalu lintas sudah menjalankannya akan tetapi mungkin akan jauh lebih baik apabila ada kerjasama dan komunikasi yang terjalin dari pihak tertentu misalnya dari pihak Dinas Perhubungan dan dari para sopir truk (Hasil wawancara 22 Desember 2014)”.
Berdasarkan hasil wawancara di atas penulis dapat menggambarkan bahwa pengimplementasian peraturan wali kota tentang jam operasional truk sepuluh roda belum berjalan secara efektif hal ini terbukti dari pendapat dari pihak kepolisian lalu lintas kota Makassar bahwa masih banyaknya terjadi kemacetan dan kecelekaan yang terjadi akibat dari truk sepuluh roda yang beroperasi yang bukan pada jamnya, parkir di sembarang tempat yang menyebabkan kemacetan di mana-mana, perlu adanya kerjasama dan komunikasi yang terjalin dari pihak tertentu.
Berdasarkan hasil penelitian penulis di lapangan masih terjadi pelanggaran lalu lintas di mana-mana utamanya di Kota Makassar misalnya pelanggaran yang parkir disembarang tempat dan truk-truk yang beroperasi bukan pada jam opaerasinya sebagaimana yang terkandung dalam peraturan walikota Makassar tentang jam operasional truk yang memuat barang di atas lima ton. Menurut pengamatan penulis di lapangan belum efektifnya pengawasan yang di lakukan dari pihak terkait tentang pengimplementasian peraturan walikota tentang jam operasional truk sepuluh roda yang memuat barang di atas lima ton
2. Jam Operasional Truk Sepuluh Roda di Kabupaten Gowa
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa juga melarang operasi truck rembang 10 pada malam hari. aturan Makassar dan Gowa saling tumpang tindih sehingga berdampak pada mata pencaharian para pengusaha truck dan supir rembang 10. Masalah ini kompleks tidak bisa dilihat secara sederhana saja. Pihak provinsi sebenarnya harus segera mempertemukan dua pemerintah baik Gowa maupun Makassar agar segera mencari solusi terbaik. Mengenai adanya penentangan dari Bupati Gowa Ikhsan Yasin Limpo yang sebelumnya menolak aturan Pemkot Makassar yang mengharuskan truk beroperasi pada waktu pagi hingga sore hari itu, dijelaskannya sudah selesai.
“Yang dilarang di Gowa itu adalah melintasi jalan kabupaten. Kalau jalan provinsi dan jalan negara dilewati, mau 10 roda beroperasi malam hari tetap bisa. Kalau dikatakan di Makassar melarang truk beroperasi, itu salah. Karena truk untuk roda 6 dibawah tonase 8 ton, tetap bisa beroperasi," (Hasil wawancara 22 Desember 2014)
Lebih lanjut ditambahkan oleh pemerintah Gowa mengatakan bahwa: “Material tambang galian C untuk bangunan yang dibutuhkan oleh Makassar dalam rangka aktivitas ekonomi. Inilah yang juga menjadi sebab masih banyaknya pelanggaran terhadap truk sepuluh roda di kota