• Tidak ada hasil yang ditemukan

Distribusi Vektor Malaria... ( Andi Tilka Muftiah Ridjal)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Distribusi Vektor Malaria... ( Andi Tilka Muftiah Ridjal)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Anopheles is an eminent mosquito vector responsible for Plasmodium infection in human.

By far, 430 anophelines have been identified but only 30-40 species have the potential to transmit malaria. A survey was carried to describe the distribution of anophelines species in seven community health centre (CHC) working areas including Caile, Ujung Loe, Bonto Bahari, Bonto Tiro, Batang, Bonto Bangun and Tanete in Bulukumba District, South Sulawesi. HumanLanding Collectionmethod,Net trap, and light trap was applied to collect adult anophelines mosquitoes. TheAnophelesmalaria vectors wereobserved in all areas. Various anophelines malaria vectors exist in Bulukumba District, including An.

subpictus An. barbirostris An. hyrcanus An. vagus An. indefinitus An. parangensis, , , , , and An. kochi. Of which,Anopheles subpictuswas the most abundant species and the majority of Anopheles mosquitoes were found in Ujung Loe area. Our study indicates that community-based programs and routine entomological surveillance especially in high- risk areas should be implemented to effectively control malaria transmission in Bulukumba District.

A B S T R A C T / A B S T R A K INFO ARTIKEL

Malaria pada manusia ditularkan oleh nyamuk betina Anopheles yang berperan sebagai vektor yang membawa parasitPlasmodium. Terdapat sekitar 430 spesiesAnopheles, 30- 40 diantaranya berpotensi untuk menularkan malaria ke manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi vektor Anopheles di Kabupaten Bulukumba melalui survei entomologi (observasional) dengan pendekatan deskriptif.

Sampel penelitian adalah nyamukAnophelesdi tujuh wilayah kerja puskesmas, yakni Puskesmas Caile, Ujung Loe, Bonto Bahari, Bonto Tiro, Batang, Bonto Bangun dan Tanete. Penangkapan vektor Anopheles dilakukan dengan metode Human Landing Collection (HLC),Net Trap,danLight Trap. Hasil penelitian menggambarkan distribusi vektorAnophelesyang tersebar di tujuh wilayah kerja puskesmas yakniAn. subpictus, An. barbirostris An. hyrcanus An. vagus An. indefinitus, An. parangensis, , , danAn. kochi.

Anopheles subpictus merupakan spesies yang paling banyak ditemukan, sedangkan wilayah kerja Puskesmas Ujung Loe merupakan lokasi yang paling banyak ditemukan vektor Anopheles. Variasi vektor Anopheles yang tersebar di wilayah Kabupaten Bulukumba hendaknya mendorong para pengambil kebijakan di tingkat dinas kesehatan dan puskesmas untuk menyusun program pengendalian malaria yang optimal dan sesuai, baik dari segi pemberdayaan masyarakat dan pelaksanaan survei entomologi secara berkala khususnya pada wilayah yang berisiko(receptive area).

© 2018 Jurnal Vektor Penyakit. All rights reserved Kata kunci:

distribusi, vektor, Anopheles,

Kabupaten Bulukumba Article History:

13 Oct.

Received: 2017 Revised:12 Jan. 2018 Accepted: 29 Jan. 2018

*Alamat Korespondensi : email :tilka.muftiah@gmail.com Keywords:

distribution, vector, Anopheles, Bulukumba District

Distribusi Vektor Malaria Anopheles (Diptera: Cullicidae) di Kabupaten Bulukumba, Indonesia

Andi Tilka Muftiah Ridjal*

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar

Jl. Maccini Raya, No. 197, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia

The Distribution of Anopheles (Diptera: Cullicidae) Malaria Vectors in Bulukumba District, Indonesia

PENDAHULUAN

Malaria pada manusia ditularkan oleh nyamuk betina genus Anopheles yang berperan sebagai vektor yang membawa parasit Plasmodium. Terdapat sekitar 430 spesies Anopheles yang telah dikenal, 30-40 diantaranya berpotensi untuk menularkan

malaria ke manusia. Secara global, terdapat1 3,2 milyar orang yang diperkirakan berisiko untuk terinfeksi penyakit malaria dan 1,2 m i lya r d i a n t a ra nya b e r i s i k o t i n g g i . Berdasarkan estimasi terakhir, 198 juta kasus malaria terjadi secara global pada tahun 2013 dan 584.000 kematian akibat malaria. Beban

(2)

tertinggi malaria terjadi di wilayah Afrika, dengan estimasi sekitar 90% kematian dan 78% kematian terjadi pada anak-anak balita.2

AngkaAnnual Parasite Incidence(API) di Indonesia menunjukkan penurunan yang signifikan pada tahun 2013 – 2016 yakni 1,38 – 0,99 menjadi0,85 – 0,77 per 1000 jumlah penduduk. Dari 33 provinsi di Indonesia, 153 provinsi mempunyai prevalensi malaria di atas angka nasional, yang sebagian besar berada di wilayah Indonesia Timur.4 Data insiden kasus malaria di Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan angka API 0,25‰ pada tahun 2013 dan mengalami penurunan hingga 0,12‰ pada tahun 2016. Sulawesi Selatan3 merupakan salah satu provinsi di wilayah Indonesia bagian tengah yang menunjukkan prevalensi malaria di atas angka nasional.

Kabupaten Bulukumba menunjukkan angka kasus malaria pada tahun 2012 dan 2013 semakin meningkat, kemudian menurun pada tahun 2014. Pada tahun 2012 ditemukan penderita positif 37 orang (API 0,09‰), tahun 2013 terdapat 51 penderita positif (API 0,13‰) dan pada tahun 2014 ditemukan 23 penderita positif (API 0,06‰). Akan tetapi5 berdasarkan hasil konfirmasi petugas malaria, kasus malaria yang terdapat di Kabupaten Bulukumba merupakan kasus impor.

P e n e l i t i a n m e n g e n a i k o n f i r m a s i entomologi kasus malaria di Kabupaten Bulukumba telah membuktikan bahwa di wilayah kerja Puskesmas Ujung Loe ditemukan nyamuk An. barbirostris yang memiliki frekuensi menggigit manusia tertinggi baik di dalam maupun di luar ruangan.6 Berdasarkan eksistensi kasus malaria selama tiga tahun berturut-turut serta ditemukannya variasi genus Anopheles yang berpotensi sebagai vektor malaria di beberapa wilayah Kabupaten Bulukumba, maka penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi vektor Anopheles di Kabupaten Bulukumba.

BAHAN DAN METODE

Pe n e l i t i a n i n i m e r u p a ka n s u r ve i e n t o m o l o g i ( o b s e r va s i o n a l ) d e n g a n pendekatan deskriptif di tujuh wilayah kerja puskesmas yang dipilih berdasarkan data API,

yakni wilayah Puskesmas Caile, Ujung Loe, Bonto Bahari, Bonto Tiro, Batang, Bonto Bangun dan Tanete Kabupaten Bulukumba pada bulan April – Mei tahun 2015.

Sampel pada penelitian ini adalah nyamuk Anopheles di tujuh wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Bulukumba.

Penangkapan vektor Anopheles dilakukan dengan beberapa metode yakni Human Landing Collection (HLC), Net TrapdanLight Trap sesuai dengan prosedur WHO. Nyamuk7 dewasa yang berhasil ditangkap kemudian d i i d e n t i f i k a s i s e c a r a b e r l a n j u t d i L a b o r a t o r i u m E n t o m o l o g i Fa k u l t a s Kedokteran Universitas Hasanuddin. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk diagram disertai dengan narasi.

HASIL

Hasil survei entomologi menemukan tujuh spesies nyamuk Anopheles, yakni An.

subpictus41 nyamuk (48,2%),An. barbirostris 20 nyamuk (23,5%),An. hyrcanus11 nyamuk (12,9%),An. vagusenam nyamuk (7,1%),An.

indefinitus dan An. parangensis masing- masing tiga nyamuk (3,5%) danAn. kochisatu nyamuk (1,2%) (Gambar 1). Nyamuk Anopheles terbanyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Ujung Loe 49 nyamuk (58%), disusul Puskesmas Tanete 19 nyamuk (22%), Puskesmas Caile dan Puskesmas Bonto Bahari m a s i n g - m a s i n g t u j u h nya m u k ( 8 % ) , Puskesmas Bonto Bangun dua nyamuk (3%), Puskesmas Batang satu nyamuk (1%) dan tidak ditemukan nyamukAnophelesdi wilayah kerja Puskesmas Bonto Tiro (0%) (Gambar 2).

Distribusi ketujuh spesies nyamuk Anopheles yang ditemukan di tujuh wilayah kerja puskesmas Kabupaten Bulukumba dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 1. Proporsi Spesies Nyamuk Anopheles yang Tertangkap di Kabupaten

(3)

Penangkapan nyamuk Anopheles yang terbanyak dengan menggunakan metode HLC adalah nyamuk An. barbirostris dalam rumah empat nyamuk (33,3%) danluar rumahdua nyamuk (16,7%), disusul An. subpictus dalam rumah dan luar rumah masing-masing satu nyamuk (8,3%),An. Vagus dalam rumah dan luar rumah masing-masing satu nyamuk (8,3%) dan An. hyrcanus dalam rumah dua nyamuk (16,7%) dan tidak ditemukan di luar rumah (0%) (Gambar 4). Penangkapan nyamuk Anopheles yang terbanyak dengan menggunakan metode Net Trap adalah nyamuk An. subpictus tujuh nyamuk di E1 (31,8%) dan tiga nyamuk di E2 (13,6%), satu nyamuk An. vagus di E1 (4,5%) dan dua nyamuk di E2 (9,1%), dua nyamuk An.

hyrcanus di E1 (9,1%) dan satu nyamuk di E2 (4,5%), An. barbirostris masing-masing satu nyamuk di E1 dan E2 (4,5%), An. indefinitus dua nyamuk di E1 (9,1%) dan tidak ditemukan di E2 (0%),An. parangensistidak ditemukan di E1 (0%) dan satu nyamuk di E2 (4,5%), dan

satu nyamukAn. kochidi E1 (4,5%) dan tidak ditemukan di E2 (0%) (Gambar 5).

Penangkapan nyamuk Anopheles yang terbanyak dengan menggunakan metode Light Trap adalah nyamuk An. subpictus 29 nyamuk (56,9%), disusul An. barbirostris12 nyamuk (23,5%), enam nyamuk An. hyrcanus (11,8%), dua nyamukAn. parangensis(3,9%), serta An. vagus dan An. indefinitus masing- masing satu nyamuk (2%) (Gambar 6).

Gambar 2. Jumlah NyamukAnophelesyang Tertangkap di Kabupaten Bulukumba, April - Mei 2015

Gambar 3. Jumlah Spesies Nyamuk Anopheles yang Tertangkap di Kabupaten Bulukumba, April - Mei 2015

Gambar 4. Jumlah NyamukAnophelesyang Tertangkap denganMetode HLC di Kabupaten Bulukumba, April - Mei 2015

Gambar 5. Jumlah NyamukAnophelesyang Tertangkap dengan Metode Net Trap di Kabupaten Bulukumba, April – Mei 2015

Gambar 6. Jumlah NyamukAnophelesyang Tertangkap dengan Metode Light Trap di Kabupaten Bulukumba, April – Mei 2015

(4)

PEMBAHASAN

Terdapat kurang lebih 80 spesies Anopheles yang dilaporkan ada di Indonesia, 20 spesies diantaranya telah terbukti dapat menularkan Plasmodium dan tersebar di berbagai kepulauan di Indonesia. Di bagian timur Indonesia, nyamuk yang terbukti sebagai vektor malaria adalah An. barbirostris, An. subpictus, An. bancrofti, An. koliensis, An.

farauti, An. sundaicus dan yang berpotensi sebagai vektor (saat dibedah ditemukan oosit) yaitu An. vagus. Di Sulawesi, nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria adalah An. barbirostris, An. sundaicus, An. kochi, An.

nigerrimus dan yang berpotensi sebagai v e k t o r a d a l a h A n . f a v i r o s t r i s , A n .l barbumbrosus, An. minimusdanAn. sinensis.8

Kabupaten Bulukumba merupakan wilayah yang memiliki variasi karakteristik fisik lingkungan. Adanya kondisi geografis yang berbeda-beda serta banyaknya breeding site merupakan faktor penentu ditemukannya berbagai macam jenis nyamuk Anopheles. Penelitian eksperimen yang dilaksanakan tahun 2013 menjelaskan bahwa suhu mempengaruhi perbedaan daya tahan hidup pada tiga spesiesAnophelesberbeda yakniAn.

gambiae, An. arabiensis dan An. funestus. Puncak kelangsungan hidup An. arabiensis adalah 32 C,o An. gambiaepada suhu 24 C dano An. funestus pada suhu 25 C. Berbagai jeniso 9 nyamuk Anopheles juga telah berhasil dikumpulkan di Iran Selatan dengan total jumlah nyamuk 3.841 nyamuk yang tersebar tidak merata di tiga wilayah utama dengan faktor perbedaan topografi, serta faktor lingkungan dan biologi seperti suhu, karakteristik habitat larva dan jenis host yang disukai (antropofilikatauzoofilik).10

Selain faktor alami lingkungan, adanya tempat perindukan nyamuk yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles juga menjadi faktor penting. Seperti penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten Pesisir Selatan, ditemukan lima spesies nyamuk AnophelesyaituAn. aconitus An. barbirostris,, An. kochi, An. subpictus, An. sundaicus dan terdapat tujuh tempat perindukan (breeding place) larva Anopheles yaitu kolam bekas kurungan ikan,lagoon, rawa-rawa, kubangan kerbau, tambak, sawah dan sungai.11 Survei entomologi di Botswana (2017) juga berhasil

mengumpulkan 404 nyamuk Anopheles betina, dimana 196 diantaranya merupakan hasil ternak larva Anopheles yang ditangkap dari berbagai jenis breeding site.12

Spesies yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini adalah nyamuk An.

subpictus yaitu sebanyak 41 nyamuk di wilayah kerja Puskesmas Caile, Ujung Loe, dan Bonto Bahari. Ketiga wilayah kerja tersebut merupakan wilayah dataran rendah dengan ketinggian sekitar 0 – 500 mdpl. Wilayah kerja Puskesmas Ujung Loe merupakan wilayah yang mayoritas terdiri atas persawahan sedangkan wilayah kerja Puskesmas Caile dan Bonto Bahari merupakan wilayah pesisir.

Penelitian lainnya di Kabupaten Bulukumba juga menunjukkan bahwa jumlah nyamuk An.

subpictus yang paling tinggi ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Bonto Bahari. Amrul dan Imron (2010) menjelaskan bahwa daerah pantai, terutama muara sungai, tambak- tambak di tepi pantai, rawa-rawa, hutan bakau yang mengandung air payau dan lagoon merupakan tempat yang disenangi oleh nyamuk An. subpictus.8

P e n e l i t i a n W i d y a, d k k d i A c e h membuktikan bahwa nyamuk dewasa dan larva An. subpictus banyak ditemukan di wilayah yang di sekitarnya terdapat kandang ternak sapi, kambing, ayam, itik, semak- semak, pohon pisang, kelapa dan sirsak, rawa- rawa, genangan air parit yang ditimbuni sampah dan rerumputan, serta saluran pembuangan yang tidak lancar.13An. subpictus telah terbukti berperan sebagai vektor malaria utama di Asia Tenggara. Hasil penelitian di wilayah pedesaan India Barat membuktikan bahwa An. subpictus mampu menularkan P.

vivaxdan infeksi gabungan antaraP. vivaxdan P. falciparum yang terkandung di kelenjar air liurnya.14

Pe n e l i t i a n l a i n nya d i K a b u p a t e n Bulukumba menunjukkan tingkat kepadatan nyamuk Anopheles dari metode HLC indoor dan outdoor masing-masing adalah 3,2 n y a m u k / o r a n g / j a m d a n 3 , 3 1 nyamuk/orang/jam, jauh berbeda dari hasil6 penelitian ini. Ada beberapa faktor yang dapat secara langsung menyebabkan kehadiran nyamukAnophelesdi suatu wilayah, seperti di N e g a r a I n d i a b a g i a n t i m u r, a d a n ya

(5)

menyebabkan berkurangnya nyamuk An. dirus dan An. culicifacies. Selain itu, dampak pola perubahan penggunaan lahan dan regulasi malaria di suatu wilayah juga turut menentukan tingkat kepadatan nyamuk Anopheles.15

Aktivitas manusia juga memiliki peran besar dalam perubahan keanekaragaman ekosistem lokal dengan cepat, baik disengaja maupun tidak disengaja yang dapat meningkatkan atau menurunkan faktor risiko malaria dengan mengubah lingkungan dan habitat perkembangbiakan nyamuk. Seperti15 halnya yang terjadi di salah satuspot survei entomologi di wilayah kerja Puskesmas Ujung Loe Kabupaten Bulukumba berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, angka kepadatan nyamuk Anopheles menggigit di luar rumah lebih tinggi daripada angka kepadatan nyamuk Anopheles menggingi di dalam rumah. Hal ini disebabkan oleh adanya6 proses penimbunan galian besar yang telah dilakukan pada wilayah tersebut sebagai bentuk kesadaran masyarakat akan bahaya nyamuk Anopheles sebagai vektor penyakit malaria.

Hal penting yang harus disadari oleh masyarakat adalah jarak antara habitat perkembangbiakan nyamuk Anopheles dengan pemukiman penduduk. Hasil pemetaan yang dilakukan oleh Vivin, dkk (2015) di Sumatera Selatan membuktikan b a h w a s e b a g i a n b e s a r h a b i t a t perkembangbiakan nyamukAnophelesberada dekat dengan pemukiman penduduk sehingga orang yang rumahnya dekat dengan genangan air lebih berisiko tinggi untuk menderita malaria, mengingat terdapat delapan kabupaten endemis malaria dari 15 kabupaten yang ada di Sumatera Selatan.16

Perbedaan hasil survei entomologi vektor Anopheles pada penelitian Asniar (2013) dengan hasil penelitian ini juga dapat disebabkan oleh faktor waktu yang terkait dengan curah hujan. Penelitian Asniar dilaksanakan pada bulan Maret 2013 sedangkan penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2015. Penelitian di Desa L i f u l e o K e c a m a t a n K u p a n g B a r a t menunjukkan fluktuasi bervariasi pada masing-masing spesies selama 16 minggu penangkapan sejak awal Maret hingga akhir

Juni. Namun demikian, secara umum enam spesies yang tertangkap menunjukkan kepadatan yang tinggi pada bulan Maret dan selanjutnya terus menurun selama bulan April–Juni. Hal ini dapat dipengaruhi oleh curah hujan dan ketersediaan tempat perindukan di lokasi tersebut. Curah hujan di Kabupaten Kupang bulan Maret–Juni 2009 berkisar antara 0–50,81 mm/bulan, dan pada bulan Maret sangat tinggi (50,81 mm/bulan) dan selanjutnya menurun hingga bulan Juni tidak terdapat hujan (0 mm/bulan).17

Penelitian ini juga menggambarkan proporsi nyamuk Anopheles yang tertangkap melalui tiga metode yakni HLC, Net Trap dan Light Trap. Jumlah nyamuk yang paling banyak ditangkap adalah dengan metodeLight Trap (54 nyamuk), metodeNet Trap(19 nyamuk), metode HLC indoor (delapan nyamuk) dan HLC outdoor (empat nyamuk). Hal ini menunjukkan bahwa nyamuk Anopheles di Kabupaten Bulukumba bersifat eksofagik dan cenderung menyukai darah binatang (zoofilik) karena penangkap Light Trap diletakkan di dekat kandang ternak. Penelitian Widya dkk di Aceh juga menemukan nyamuk dewasa An.

subpictus sering ditemukan melalui metode penangkapanLight Trapyang dipasang pada malam hari di luar rumah.13 An. subpictus menggigit pada malam hari dan memiliki tempat istirahat di dalam dan luar rumah, termasuk kandang ternak.18 Berbeda halnya dengan penelitian di Desa Lifuleo NTT, terlihat bahwa Anopheles paling banyak tertangkap dengan cara umpan badan luar rumah. Hal ini menunjukkan bahwa nyamukAnophelesyang ada di Desa Lifuleo lebih banyak menghisap darah manusia (antropofilik)yang berada di luar rumah (eksofagik).17

Hasil yang sama dengan penelitian ini ditunjukkan oleh penelitian di China yang membandingkan hasil penangkapan nyamuk An. sinensis dengan menggunakan metode Light Trap, penangkap nyamuk (aspirator) elektrik dan HLC. Masing-masing metode penangkapan mendapatkan jumlah nyamuk sebesar 6610, 680 dan 1640 nyamuk nyamuk.

Metode penangkapan elektrik dan Light Trap dalam penelitian tersebut bertujuan untuk memperkirakan kepadatan nyamuk yang menggigit manusia di desa-desa lokasi penelitian.19

(6)

KESIMPULAN

Hasil penelitian ini menggambarkan distribusi vektor Anophelesyang tersebar di tujuh wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Bulukumba yakni An. subpictus, An.

barbirostris An. hyrcanus An. vagus An., , , indefinitus, An. parangensis dan An. kochi.

Nyamuk An. subpictus merupakan spesies yang paling banyak berhasil ditangkap, sedangkan wilayah kerja Puskesmas Ujung Loe merupakan lokasi penelitian yang paling banyak ditemukanvektor Anopheles.

SARAN

Variasi vektorAnophelesyang tersebar di wilayah Kabupaten Bulukumba hendaknya mendorong para pengambil kebijakan di tingkat dinas kesehatan kabupaten dan puskesmas untuk menyusun program pengendalian malaria yang optimal dan sesuai. Program pengendalian malaria dari segi pemberdayaan masyarakat, pelaksanaan survei entomologi secara berkala khususnya pada wilayah yang berisiko (receptive area), dan pengadaan kerjasama lintas sektor dalam mengendalikan penggunaan lahan di Kabupaten Bulukumba sebagai tempat p o te n s i a l p e r ke m b a n g b i a k a n ve k to r Anopheles.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih yang sebesar- sebesarnya penulis sampaikan kepada kepala dan para pegawai Bagian Pemberantasan Malaria Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba. Terima kasih juga disampaikan kepada tim Laboratorium Entomologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin atas segala bentuk dukungannya hingga penelitian ini selesai.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soedarto. Malaria. Jakarta: CV Sagung Seto;

2011.

2. W H O . Wo r l d M a l a r i a R e p o r t 2 0 1 4. Switzerland; 2014.

3. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Data Dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2016. Jakarta; 2017.

4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.Riset Kesehatan Dasar 2013.; 2013.

5. Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba. Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba.; 2012.

6. Asniar A, Ishak H, Wahid I. Konfirmasi Entomologi Kasus Malaria pada Sepuluh Wilayah Puskesmas di Kabupaten Bulukumba.

2013.

7. World Health Organization. Division of Malaria and Other Parasitic Diseases. Manual on Practical Entomology in Malaria: Methods and Techniques. Issue 13. University of Minnesota:

WHO offset publication; 1975.

8. Munif A, TA MI. Panduan Pengamatan Vektor Malaria. Jakarta: CV Sagung Seto; 2010.

9. Lyons CL, Coetzee M, Chown SL. Stable and fluctuating temperature effects on the development rate and survival of two malaria vectors, Anopheles arabiensis and Anopheles funestus. Parasit Vectors. 2013;6(1):104.

doi:10.1186/1756-3305-6-104.

10. Soleimani-Ahmadi M, Vatandoost H, Zare M, Tu r k i H , A l i z a d e h A . To p o g ra p h i c a l Distribution of Anopheline Mosquitoes in An Area under Elimination Programme in The South of Iran. Malar J. 2015;14(1):1-8.

doi:10.1186/s12936-015-0771-7.

11. Lestari S, Adrial, Rasyid R. Identifikasi nyamuk Anopheles sebagai vektor malaria dari survei larva di Kenagarian Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. J Fak Kedokt Unand. 2012;5(3):656-660.

1 .2 Tawe L, Ramatlho P, Waniwa K, et al.

Preliminary Survey on Anopheles Species Distribution in Botswana Shows The Presence of Anopheles gambiae and Anopheles funestus c o m p l exe s . M a l a r J. 2 0 1 7 ; 1 6 ( 1 ) : 1 - 7 . doi:10.1186/s12936-017-1756-5.

1 .3 Sari W, Zanaria TM, Agustina E. Studi Jenis N y a m u k A n o p h e l e s p a d a Te m p a t Perindukannya di Desa Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. J UNSYIAH. 2 0 1 1 ; 3 ( 1 ) : 3 1 - 3 4 . http://jurnal.unsyiah.ac.id/JBE/article/view /456/616.

14. Kumar A, Hosmani R, Jadhav S, et al. Anopheles subpictus Carry Human Malaria Parasites in An Urban Area of Western India and May Facilitate Perennial Malaria Transmission.

Malar J. 2016;15(1):1-8. doi:10.1186/s12936- 016-1177-x.

15. Choffnes ER, Mack A, Threats M. Vector-Borne Diseases: Understanding the Environmental, Human Health and Ecological Connections.

N a t i o n a l A c a d e m i e s P r e s s ; 2 0 0 8 . doi:10.17226/11950.

(7)

16. Mahdalena V, Suryaningtyas NH, Ni'mah T.

E k o l o g i H a b i t a t P e r k e m b a n g b i a k a n Anopheles spp. di Desa Simpang Empat, Kecamatan Lengkiti, Ogan Komering Ulu. J Ekol Kesehat. 2015;14(4):342-349.

1 7 . R a h m a w a t i E , H a d i U , S o v i a n a S . Keanekaragaman Jenis dan Perilaku Menggigit Vektor Malaria (Anopheles spp.) di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. J Entomol I n d o n e s . 2 0 1 4 ; 1 1 ( 2 ) : 5 3 - 6 4 . doi:10.5994/jei.11.2.53.

18.Gandahusada S, DAP HDI, Pribadi W.

Parasitologi Kedokteran. Ketiga. Jakarta:

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;

2004.

19. Duo-quan W, Lin-hua T, Zhen-cheng G, Xiang Z, Man-ni Y, Wei-kang J. Comparative Evaluation of Light-Trap Catches, Electric Motor Mosquito Catches and Human Biting Catches of Anopheles in The Three Gorges Reservoir.

P L o S O n e . 2 0 1 2 ; 7 ( 1 ) : 1 - 5 . doi:10.1371/journal.pone.0028988.

(8)

Gambar

Gambar 1. Proporsi Spesies Nyamuk Anopheles yang Tertangkap di Kabupaten
Gambar 2. Jumlah Nyamuk Anopheles yang Tertangkap di Kabupaten Bulukumba, April - Mei 2015

Referensi

Dokumen terkait

Sumber data primer dalam penelitian ini yaitu tes atau butir- butir soal objektif tes bentuk multiple choice buatan guru penilaian akhir semester I mata

Semasa memasukkan teks menggunakan papan kekunci pada paparan atau Pad telefon, anda boleh mengakses tetapan papan kekunci dan tetapan input teks lain yang membantu anda

Pada kegiatan kali ini, pemberian bantuan social dan pemeriksaan gula darah dan asam urat di Pos Pengungsi Cipugur, Desa Cileuksa, Kabupaten Bogor dilakukan tanpa adanya

Penelitian dengan objek penelitian fonotaktik silabel dan fonotaktik kata pada kosakata atau istilah dalam bahasa slang yang dipergunakan oleh komunitas mantan pengguna narkoba

120 Kota Bandung MENEMBAK PUT RA - T EAM 10 M AIR PIST OL 1621 Perunggu 121 Kota Bandung PANAHAN PUT RA - NASIONAL JUARA JARAK 50 M GANDI SAPUT RA Emas 122 Kabupaten Sumedang

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala

Faktor strategi internal dan eksternal dirumuskan Wana Wisata Curug Tujuh Cilember bersama-sama dengan pengelola melalui wawancara, observasi di lapangan, dan melihat