• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahapan Pemetaan Swadaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Tahapan Pemetaan Swadaya"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Tahapan Pemetaan Swadaya

Langkah Satu : Persiapan

Agar proses Pemetaan Swadaya memperoleh hasil yang optimal, dan

memperkecil resiko kegagalan, serta mempermudah pelaksanaan di lapangan , maka perlu persiapan yang baik . Di bawah ini dijelaskan mengenai langkah – langkah minimal yang harus dilaksanakan sebelum mengawali Pemetaan Swadaya.

Kegiatan 1 : Pembentukan Tim PS

Pada tahap yang pertama, perlu disepakati dengan Tim Inti (Relawan), siapa yang akan memfasilitasi keseluruhan kegiatan Pemetaan Swadaya. Perlunya

melibatkan relawan dalam proses ini, karena beberapa hal, yaitu :

ƒ Sesuai dengan pendekatan pembangunan partisipatif dan prinsip – prinsip dalam P2KP, yaitu demokrasi dan partisipasi, maka keterlibatan

masyarakat menjadi bagian yang sangat penting untuk melaksanakan proses penanggulangan kemiskinannya sendiri, walaupun dalam tahapan belajar masih didampingi oleh Fasilitator Kelurahan.

ƒ Wilayah Kelurahan/desa dampingan yang cukup luas, mungkin juga

dengan rentang jarak yang cukup jauh (terutama di luar Jawa), memberikan alternatif pilihan satuan analisa yang lebih kecil (komunitas) sehingga

memerlukan Fasilitator yang cukup banyak, yang tentu saja tidak mungkin hanya dilakukan oleh Tim Fasilitator sendirian. Dengan demikian

keterlibatan warga untuk menjalankan peran Fasilitator dalam proses PS menjadi penting.

Dalam pelaksanaannya, tidaklah mungkin keseluruhan warga masyarakat menjadi Fasilitator dalam proses PS, maka harus dikembangkan Tim yang akan terlibat untuk memfasilitasi dan mengorganisir proses yang disebut dengan Tim PS.

Anggota Tim ini terdiri dari : (1) relawan – relawan warga yang mau

menyumbangkan waktu, tenaga, dan pikirannya ; (2) Tim Fasilitator dan apabila dirasa perlu dan memungkinkan jumlah Tim PS ini dapat ditambah dengan

melibatkan (3) lembaga – lembaga atau individu yang mempunyai kepedulian dan atau kemampuan dalam hal-hal penggalian informasi dan kajian yang sifatnya teknis ( sebagai narasumber untuk bidang-bidang teknis tertentu ). Juga akan sangat membantu apabila terdapat anggota Tim yang ahli di bidang ilmu sosial kemasyarakatan. Dalam hal ini sangat baik kalau bisa melibatkan anggota KBP dalam Tim PS.

Perbandingan antara ’orang luar’ dan ’orang dalam’ sebaiknya seimbang. Jika kebanyakan anggotanya ’orang luar’, akan ada kecenderungan ’orang luar’

mendominasi dan berdiskusi di antara mereka sendiri. Komposisi dari relawan

(2)

juga sebaiknya berimbang antara berbagai golongan (apabila memungkinkan disesuaikan dengan relawan yang ada), seperti lelaki dan perempuan, wakil kelompok tua dan muda dan sebagainya.

Kegiatan 2 : Bimbingan (coaching) Tim PS

Memfasilitasi dan mengorganisir Pemetaan Swadaya, memerlukan kemampuan dan keterampilan khusus. Proses ini bisa jadi karena PS merupakan hal yang relatif baru untuk masyarakat, mengingat pendekatan pembangunan selama ini lebih banyak menggunakan pendekatan dari atas ke bawah. Oleh karena itu perlu pemberian pengetahuan dan keterampilan kepada Tim PS terutama mengenai :

ƒ Pemahaman metodologis

ƒ Penggunaan alat – alat kajian

ƒ Gambaran wilayah dan masyarakatnya

ƒ Langkah – langkah pelaksanaan

ƒ Dan hal lain yang dianggap perlu

Proses pemampuan Tim PS, dilaksanakan melalui bimbingan dari Tim Fasilitator dan KMW atau pihak – pihak lain yang mempunyai kompetensi dalam bidang ini, yang bersedia bekerja secara sukarela.

Dengan demikian, keterlibatan masyarakat (relawan) sebagai anggota Tim PS benar-benar dapat berarti. Proses pembekalan terhadap Tim PS ini perlu

disesuaikan dengan karakter masyarakatnya. Untuk kepentingan bimbingan KMW mengembangkan Panduan coaching, dengan penjelasan – penjelasan yang sederhana dan mudah dipahami, sebaiknya dihindari penggunaan bahasa asing dan konsep yang abstrak

Kegiatan 3 : Pengembangan bahan – bahan sosialisasi

Sebelum pelaksanaan kegiatan Pemetaan Swadaya, masyarakat perlu

mengetahui dan menyadari pentingnya pelaksanaan siklus ini. Artinya sosialisasi bukan hanya memberikan informasi tetapi juga harus mampu membangun

motivasi kepada warga masyarakat untuk turut terlibat alam setiap kegiatan.

Untuk tujuan tersebut di atas, maka Tim Fasilitator ( bersama dengan Tim PS), dengan dibantu oleh Tim Kerja sosialisasi KMW harus menyiapkan bahan – bahan yang diperlukan untuk mensosialisasikan siklus PS. Materi sosialisai tidak hanya menyangkut prosedur pelaksanaan PS akan tetapi juga mengenai :

ƒ Mengapa siklus PS dilakukan ?

ƒ Apa hubungannya siklus PS dengan daur program partisipatif ?

ƒ Mengapa harus Partisipatif ?

ƒ Apa manfaat PS untuk masyarakat ? , dsb

Media yang dikembangkan adalah media informasional dan motivasional

(3)

Kegiatan 4 : Kegiatan Pengkajian Data sekunder :

Data atau informasi sekunder merupakan informasi yang sudah tersedia atau berasal dari dokumen yang ada. Data ini antara lain mencakup keterangan

mengenai keadaan masyarakat dan lingkungan tempat masyarakat tinggal, yaitu : topografi dan tataguna lahan, pengairan, jenis – jenis mata pencaharian

masyarakat, pola konsumsi dan produksi, jumlah dan perubahan penduduk dari tahun ke tahun, kualitas dan fasilitas pendidikan, kualitas dan fasilitas kesehatan, program – program yang sudah ada sebelum P2KP, lembaga – lembaga

masyarakat dan kegiatannya, dan lain – lain yang dianggap perlu.

Tujuan dari pengumpulan data sekunder adalah :

ƒ Mendapatkan gambaran awal keadaan desa, baik masyarakat maupun lingkungannya

ƒ Memperkirakan kebutuhan informasi yang perlu dikaji lebih lanjut di lapangan sehingga Tim PS bisa menyusun rencana kajian.

ƒ Sebagai data pembanding terhadap informasi yang diperoleh langsung dari masyarakat ( fungsi triangulasi)

Bisa jadi data – data tersebut sudah terkumpul pada saat kegiatan pemetaan sosial yang sudah dilaksanakan oleh Tim Fasilitator pada saat awal masuk ke wilayah sasaran atau dari hasil refleksi kemiskinan yang telah dilaksanakan dalam siklus sebelumnya.

Kegiatan 5 : : Penyusunan Rancangan Kajian

Tahap selanjutnya dari kegiatan persiapan adalah menyusun rancangan kajian yang akan menjadi acuan penerapan diskusi – diskusi penggalian informasi dan proses kajian di lapangan.

Sebelum melaksanakan kegiatan PS di lapangan maka seharusnya Tim PS merancang metode dan teknik yang akan dipakai dalam melakukan penggalian informasi, pengkajian dan perumusan masalah. Rancangan kajian yang baik merupakan langkah awal yang menentukan pada pekerjaan selanjutnya dalam melaksanaan Pemetaan Swadaya. Penyusunannya dilakukan oleh Fasilitator dengan anggota masyarakat yang telah dipesiapkan untuk menjadi anggota Tim Inti, serta stakeholder yang dapat membantu.

Rancangan PS, berbeda dengan ‘Disain penelitian’ yang dilakukan oleh para peneliti yang sudah baku dan standar. Rancangan yang disusun bukanlah bentuk baku melainkan hanya sekedar acuan bagi pekerjaan di lapangan. Penyesuaian- penyesuaian akan dilakukan oleh Tim PS sesuai dengan proses di lapangan.

Langkah – langkah penyusunan rancangan kajian PS : Kegiatan 5.1 : Penetapan Tujuan Penerapan PS

Agar penerapan PS menjadi lebih jelas arahnya, gagasan-gagasan tersebut kemudian dirumuskan dalam suatu bentuk tujuan penerapan PS. Di dalam

(4)

rancangan PS, tujuan ini dicantumkan sebagai hasil yang ingin dicapai dalam menyelenggarakan kegiatan penerapan PS.

Tujuan yang berhubungan dengan Daur program

Berdasarkan kepada Daur program dan siklus penanggulangan kemiskinan ( P2KP ), maka PS dilaksanakan dengan tujuan untuk penjajakan kebutuhan.

Tujuan penerapan PS yang berhubungan dengan Isu (bidang program) Dalam konteks P2KP, isu utama yang menjadi kajian adalah permasalahan kemiskinan akan tetapi di dalamnya tentu memuat isu – isu lain seperti

pendidikan, sanitasi lingkungan, perumahan, kesehatan, ekonomi, kepemimpinan, kelembagaan , sensitivitas gender, masalah anak terlantar dan lainnya sesuai dengan masalah-masalah yang teridentifikasi pada saat refleksi kemiskinan.

Kegiatan 5.2 : Penentuan Kebutuhan Informasi

Setelah merumuskan tujuan PS, kemudian dilakukan penentuan kebutuhan

informasi yang dianggap penting untuk dikaji di lapangan. Penentuan informasi ini diperlukan untuk menghemat waktu, tenaga, serta biaya, juga diharapkan dapat memaksimalkan proses dan hasil lapangan. Tanpa kegiatan ini bisa jadi kita banyak membuang waktu untuk mengumpulkan berbagai informasi yang ternyata tidak diperlukan.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan di dalam menentukan kebutuhan informasi antara lain adalah :

9 Menggunakan data sekunder dan hasil refleksi kemiskinan yang telah dianalisis sebagai dasar dari penentuan topik-topik informasi kajian selanjutnya; Anggota Tim PS yang merupakan anggota masyarakat bisa dimanfaatkan sebagai narasumber untuk mengambil keputusan tentang penentuan topik-topik yang penting.

9 Merumuskan tujuan khusus kajian dari setiap topik dan analisis

kemungkinan keterkaitan satu topik dengan topik lainnya berdasarkan kepada data sekunder atau penjelasan dari masyarakat pada saat refleksi kemiskinan.

Kebutuhan informasi ditentukan berdasarkan kepada :

Kebutuhan informasi selain berdasarkan kajian data sekunder lokasi ditambah penjelasan dari narasumber, juga dipadukan dengan topik-topik yang berkaitan dengan isu program lembaga.

Fasilitator sebaiknya menyampaikan kepada masyarakat mengenai bidang garapan P2KP yang paling utama, dengan demikian masyarakat juga

mempertimbangkan keterbatasan P2KP dalam proses menentukan kemungkinan kegiatan.

Sedangkan untuk masalah/kebutuhan yang muncul di luar bidang garapan P2KP, sebaiknya diupayakan penggalian potensi lokal atau potensi swadaya masyarakat.

(5)

Menjadi peran dan tanggung jawab Fasilitator dan KMW untuk memfasilitasi hubungan dengan lembaga lain yang mungkin bisa membantu.

Kegiatan 5.3 : Pemilihan Metode/Teknik

Berdasarkan penentuan jenis informasi yang akan digali ( yang sudah ditentukan pada proses sebelumnya),maka dapat dipilih dan atau ditentukan teknik/metode yang sesuai untuk mengumpulkan informasi tertentu, tetapi sebenarnya tidak bersifat baku dan bisa dimodifikasi (dirubah sesuai kebutuhan).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan teknik/metode :

9 Walau setiap teknik yang ada biasa digunakan untuk mengkaji informasi tertentu, tetapi sebenarnya bisa disesuaikan dengan jenis informasi lain.

9 Sebuah teknik kajian dikatakan memiliki penekanan khusus untuk mengkaji informasi tertentu sebenarnya tidak tepat. Memang benar, sebuah teknik telah biasa dipergunakan untuk mengkaji informasi tertentu, tetapi

sebenarnya tidak harus demikian karena bisa dilakukan penyesuaian – penyesuaian.

9 Sebuah informasi juga tiak hanya diperoleh dari sebuah teknik saja, tetapi dapat pula dilengkapi dengan hasil yang didapat melalui teknik-teknik lainnya.

Contoh :

Bagan alur produksi dan pemasaran untuk mengkaji tentang alur kegiatan usaha sampai dijual atau dipasarkan. Ternyata di dalam diskusi dengan teknik

kelembagaan (diagram venn), muncul juga masalah pemasaran karena adanya lembaga koperasi desa yang ternyata tidak dapat bersaing dengan tengkulak.

Wawancara Keluarga Miskin biasanya juga memunculkan informasi mengenai masalah pemasaran hasil usaha keluarga.

Kegiatan 5.4 : Penentuan Sumber Informasi

Penentuan sumber informasi bisa perlu bisa tidak, karena pada dasarnya

penerapan PRA dalam PS tidak membatasi anggota masyarakat mana saja yang terlibat di dalam diskusi. Artinya, walaupun dipertimbangkan pemilihan masyarakat yang akan dilibatkan, tetapi tidak ada pembahasan yang ketat. Tetapi harus

dipertimbangkan kohesivitas sosial di masing –masing lokasi yang menjadi satuan analisa (kajian), karena tingkat keakraban dan hubungan sosial bisa

mempengaruhi apakah warga tersebut bisa menjadi narasumber untuk masalah- masalah warga di sekitarnya.

Beberapa contoh dalam mempertimbangkan pemilihan sumber informasi, antara lain :

9 Kajian tentang alur pemasaran akan lebih baik apabila memperoleh informasi dari anggota masyarakat yang bekerja sebagai ’pedagang –

(6)

pengumpul’ bandar untuk memahami bagaimana proses pemasaran dilakukan setelah pengumpul itu membeli dari produsen.

9 Kajian mengenai jenis-jenis usaha produktif (menghasilkan uang) yang dilakukan oleh perempuan, akan lebih baik bila dilakukan secara khusus dengan kelompok ibu-ibu selain dengan kelompok diskusi campuran antara bapak-bapakn dan ibu-ibu (hasilnya seringkali berbeda)

Kadang –kadang kita juga perlu ’menghindari’ sumber informasi tertentu. Misalnya : kajian kelembagaan desa/kelurahan sebaiknya dihindari kehadiran seseorang (tokoh suatu lembaga) di dalam diskusi dengan masyarakat yang sedang berkonflik dengannya, karena hal ini akan menimbulkan konflik terbuka.

Sebaliknya kepada orang tersebut dilakukan pendektana khus Kegiatan 6 : Pembagian Tugas Tim PS

Tugas – tugas utama yang diselenggarakan oleh Tim PS adalah : penyiapan bahan-bahan sosialisasi kepada warga masyarakat, sosialisasi kegiatan

Pemetaan Swadaya, merumuskan tujuan dan menyusun rencana kegiatan serta membahas dan menyepakatinya bersama masyarakat, memandu dan

memfasilitasi pelaksanaan sesuai tujuan, serta mempersiapkan perangkat – perangkat yang dibutuhkan untuk melaksanakannya.

Untuk melakukan penerapan Pemetaan Swadaya perla diadakan pembagian tugas untuk masing-masing anggota Tim PS. Tugas – tugas tersebut adalah :

Sosialisasi

Sebelum pelaksanaan Pemetaan swadaya, harus dilaksanakan kegiatan sosialisasi , agar masyarakat bisa memahami arti pemetaan sawadaya bagi mereka. Dalam Tim, sebaiknya disepakti bersama siapa – siapa saja yang akan terlibat dalam kegiatan ini, tergantung dari strategi sosialisasi dan media yang dikembangkan untuk sosialisai.

Pembentukan ‘Panitia Lokal’

Persiapan – persiapan dan pelaksanaan yang dilakukan harus ada yang mengorganisir, untuk kepentingan tersebut maka sebaiknya dibentuk panitia pelaksanaan ( organizing committee) yang harus memastikan semua kegiatan dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik.

Hal – hal yang perlu dipersiapkan adalah :

ƒ Menyiapkan undangan (peserta pertemuan sesuai yang telah disepakati)

ƒ Mengundang baik secara lisan maupun tertulis,kepada warga untuk hadir dalam pertemuan/diskusi kajian

ƒ Mempersiapkan tempat pertemuan ( bisa di rumah salah satu warga, balai RW atau tempat lain sesuai kesepakatan)

ƒ Mempersiapkan konsumsi

(7)

ƒ Mempersiapkan alat – alat dan bahan yang diperlukan

Tugas – tugas pelaksanaan

Dalam pelaksanaan beberapa tugas dari Tim Pemandu Diskusi adalah :

ƒ Untuk keperluan proses pelaksanaan , sebaiknya diidentifikasi siapa saja yang mempunyai kemampuan memandu diskusi ( dapat dilihat dari kegiatan refelksi kemiskinan dan pada saat coaching Pemetaan

Swadaya), siapa yang mampu untuk menjadi pemerhati proses dan pemerhati peserta, siapa pencatat proses. Kemudian sepakati bersama siapa saja yang akan bertugas untuk melaksanakan tugas-tugas tadi

ƒ Apabila jumlah Tim PS cukup banyak, biasanya dibagi ke dalam beberapa kelompok ( Sub Tim) yang masing-masing akan

menyelenggarakan kegiatan pengkajian informasi dalam satu wilayah Kelurahan/Desa, sesuai satuan analisa yang disepakati ( Dusun, RW, Komunitas tukang ojek, dan sebagainya). Misalnya apabila Tim PS terdiri dari 12 orang, dibagi ke dalam 3 sub – Tim yang masing-masing terdiri dari Pemandu, pemerhati proses, dan pencatat.

Kegiatan 7 : Penentuan waktu dan tempat

Waktu pelaksanaan kajian disepakati bersama masyarakat agar bisa berjalan dengan baik dan disesuaikan dengan ketersediaan waktu masyarakat. Biasanya, warga masyarakat tidak bisa mengikuti pertemuan sepanjang hari karena harus bekerja. Dengan demikian, sampaikan kepada masyarakat perkiraan lamanya waktu kegiatan, dan waktu-waktu pertemuan yang mungkin dilakukan pada setiap harinya. Sedangkan penyepakatan tempat , terdiri dari tempat anggota Tim PS yang berasal dari luar lokasi kelurahan/Desa dan tempat-tempat yang

memungkinkan untuk menyelenggarakan pertemuan masyarakat. Biasanya masyarakat sendiri yang akan mengatur penyediaan tempat ini.

Kegiatan 8 : Persiapan alat – alat dan bahan

Alat – alat dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan kajian adalah : kertas besar (plano), spidol besar beberapa warna, spidol kecil beberapa warna, lem, selotif, gunting, alat tulis, serta bahan – bahan lokal bisa berupa biji-bijian, kerikil, ranting dan sebagainya sesuai dengan kondisi wilayah setempat. Akan sangat baik apabila Tim PS juga mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk rekaman diskusi dan pemotretan yang bisa dipergunakan kembali sebagai bahan diskusi dengan masyarakat apabila suatu saat diperlukan.

(8)

Langkah Dua : Pelaksanaan

Kegiatan 1 : Sosialisasi ( Kunjungan persiapan dan pengakraban)

Meskipun Tim Fasilitator sudah beberapa bulan mendampingi masyarakat, akan tetapi kegiatan ini tetap penting untuk dilakukan, sebagai kegiatan sosialisasi yang menerus. Kegiatan pengakraban ini seharunya akan lebih mudah dilakukan

karena sebenarnya sebagian besar sudah terjadi dan sebagian besar anggota Tim PS adalah warga setempat.

Tujuan dari kunjungan persiapan adalah :

ƒ Membangun kepercayaan, keterbukaan dan suasana akrab antara masyarakat dengan Tim PS.

ƒ Mendapatkan gambaran awal keadaan wilayah (lokasi satuan analisa)

ƒ Menyampaikan dan membahas maksud dan tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan kepada masyarakat.

ƒ Mengembangkan rencana pelaksanaan PS bersama masyarakat.

Pengembangan rencana dapat dilakukan melalu diskusi pada pertemuan di tingkat kelurahan atau beberapa pertemuan kecil , pada saat kunjungan persiapan dilakukan.

Kegiatan 2 : Petemuan awal dengan warga masyarakat

Walaupun sebagain besar Tim PS adalah anggota masyarakat setempat, akan tetapi sebaiknya Tim ini memperkenalkan diri terlebih dahulu, dalam kaitannya dengan perannya sebagai Tim PS. Perkenalan ini bisa dilaksanakan dalam pertemuan – pertemuan kecil ataupun pertemuan di tingkat Kelurahan/Desa.

Kesempatan pertemuan ini dapat dimanfaatkan oleh TimPS untuk membahas kembali maksud dan tujuan kegiatan PS. Berikan gambaran singkat proses yang akan dilakukan. Fasilitasi agar masyarakat mengajukan pertanyaan –pertanyaan mengenai kegiatan yang akan dilakukan agar timbul kesadaran dan keinginan untuk terlibat di dalam kegiatan nanti karena memahami manfaat dan tujuannya.

Kesempatan ini juga sangat baik dimanfaatkan untuk membahas jadwal

pertemuan dengan masyarakat yang telah dirancang oleh Tim PS, dan buatlah kesepakatan waktu setiap pertemuan. Sampaikan juga kepada masyarakat bahwa jadwal ini mungkin perlu disesuaikan terus dengan proses yang berlangsung nanti.

Artinya, bisa jadi akan dilakukan perubahan – perubahan . Kegiatan 3 : Pengumpulan Informasi

Kegiatan pengkajian dilakukan dengan memakai metode/teknik PRA, yang beberapa di antaranya telah dikembangkan untuk kegiatan kajian kemiskinan.

Akan tetapi alat – lata kajian ini juga disesuaikan dengan rancangan kajian yang telah disusun ( tidak baku : untuk setiap wilayah perlu ada penyesuaian –

penyesuaian).

(9)

Pada saat melakukan kajian, yang harus diperhatikan adalah : Mengawali dikusi dengan masyarakat :

ƒ Awali diskusi dengan menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan , jelaskan kepada peserta pertemuan gambaran singkat mengenai teknik yang digunakan dan manfaat dari penggunaan teknik – teknik bagi mereka, dengan penekanan kepada bagaimana teknik – teknik tersebut

dipergunakan untuk mengkaji suatu infromasi.

ƒ Paling penting harus diperhatikan di dalam diskusi adalah proses masyarakat untuk menganalisi informasi terhadap topik yang dibahas, bukan pengalihan untuk memahami dan menggunakan teknik PRA.

Menetapkan fokus informasi

Setelah diskusi pertama, biasanya muncul sejumlah infromasi yang dianggap penting. Tim PS memfasilitasi masyarakat untuk memilih topik bahasan selanjutnya. Diskusikan serta sepakati bersama mengapa topik tersebut penting untuk didikusikan lebih lanjut. Dengan demikian, proses pemilihan infromasi berikutnya selalu berasal dari gagasan-gagasan masyarakat.

Untuk memudahkan, teknik yang pertama dipakai adalah pemetaan wilayah Kelurahan/Desa. Sedangkan teknik – teknik kajian berikutnya disesuaikan dengan topik informasi yang akan didiskusikan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih dan menetapkan topik-topik kajian berikutnya agar informasi semakin dalam dan fokus pada sejumlah infromasi terpenting, adalah :

Informasi setiap teknik selalu saling melengkapi; Artinya pengkajian pertama selalu dijadikan dasar atau bahan pemilihan topik kajian selanjutnya.

Begitu juga dengan pengkajian berikutnya, selalu menggunakan bahan – bahan diskusi sebelumnya. Dengan demikian tidak terjadi banjir informasi yang tidak perlu, dan proses seleksi dan mempersempit bahasan ke dalam sejumlah topik tertentu yang paling penting berlangsung berdasarkan hasil diskusi.

Menghubungkan informasi yang diperoleh dalam setiap teknik;

Pengkajian informasi dengan teknik PRA tidaklah berdiri sendiri. Artinya setiap kali dilakukan kajian selanjutnya, informasi yang pertama dijadikan bahan untuk cek – silang informasi (triangulasi). Apabila hasil dari satu teknik dengan teknik yang lain saling bertenatangan, hal tersebut harus didiskusikan

sehingga kesalahan – kesalahan bisa langsung dikoreksi.

Kaji ulang informasi

Seringkali kita tidak menyadari bahwa kecepatan dan kemampuan setiap orang dalam mengikuti proses kajian ini, berbeda satu sama lain. Bisa saja sejumlah peserta telah memahami proses dengan baik, akan tetapi sebagian lainnya masih kebingungan menghubungkan satu keadaan dengan keadaan yang lain, satu informasi dengan infromasi yang lain. Kemampuan analisis peserta mungkin berbeda – beda . Karenanya , Tim PS harus memastikan hal

(10)

ini dengan cara mengkaji ulang seluruh informasi bersama masyarakat, yaitu dengan menyampaikan rangkuman dan kesimpulan dari seluruh informasi.

Berbagi informasi antar Sub – Tim PS

Yang dimaksud ’berbagi informasi’antar Sub – Tim adalah pembahasan bersama informasi-infromasi yang telah dikumpulkan. Caranya, dengan melakukan diskusi dalam Tim besar untuk :

ƒ Saling melengkapi informasi antar Sub – Tim

ƒ Saling menghubungkan informasi antar Sub – Tim

ƒ Mencek – silang informasi dari masyarakat dengan data sekunder, bila ada triangulasi

ƒ Menentukan informasi – informasi yang dianggap masih ’meragukan’

atau kurang lengkap untuk di – cek silang kembali kepada masyarakat (triangulasi)

ƒ Membahas jadwal tentatif dan perubahan yang terjadi

ƒ Merencanakan pembagian tugas sub – Tim untuk keesokan harinya.

Kegiatan 4 : Pendokumentasian Hasil Kajian

Pendokumentasian (pencatatan), baik itu pencatatan proses maupun informasi yang muncul dalam diskusi, dilakukan pada setiap melakukan diskusi dengan teknik PRA. Setiap kali dilakukan diskusi teknik, terdapat anggota Tim PS yang mencatat. Gambar – gambar dan bagan – bagan yang dibuat pada saat

melakukan kajian juga dikumpulkan dengan baik karena akan dipergunakan sebagai bahan diskusi pada saat perumusan masalah tingkat desa/kelurahan.

Langkah Tiga : Lokakarya Kelurahan/Desa untuk Perumusan Masalah

Kegiatan 1 : persiapan bahan

Seluruh infromasi hasil kajian tingkat dusun/RW dikumpulkan oleh Tim PS dan dikaji bersama. Untuk mempermudah proses, ditulis masing-masing pada selembar kertas besar mengenai :

ƒ Berbagai masalah yang terkumpul dari keseluruhan teknik

ƒ Berbagai potensi yang terkumpul dari seluruh penerapan teknik Kegiatan 2 : Penyepakatan waktu

Sepakati waktu lokakarya dengan masyarakat, agar waktu pertemuan tidak mengganggu waktu warga masyarakat. Biasanya, pertemuan ini bisa sampai sehari penuh.

(11)

Kegiatan 3 : Persiapan teknis

Persiapan teknis yang perlu dilakukan antara lain adalah :

ƒ Menyepakati jadwal pertemuan dengan masyarakat

ƒ Mengundang berbagai kelompok masyarakat untuk hadir dalam pertemuan (bisa dengan lisan bisa dengan menyebarkan undangan )

ƒ Mempersipakan tempat pertemuan ( yang agak luas )

ƒ Mempersiapkan konsumsi bersama masyarakat dan pihak Kelurahan?Desa

ƒ Mempersiapkan alat dan bahan : kartu – kartu, kertas besar, lem, selotif dan alat tulis.

Kegiatan 4 : Pelaksanaan

Pembukaan, penyampaian maksud dan tujuan

Setelah peserta pertemuan terkumpul, maka Ketua ’Tim PS’ akan menyampaikan kembali maksud dan tujuan dari pertemuan ini. Juga biasanya dari pemuka masyarakat, seperti Kepala Desa/Lurah dan tokoh setempat, akan menyampaikan sambutan singkat.

Penyajian seluruh hasil infromasi

Tahap selanjutnya adalah penyampaian seluruh hasil kajian kepada peserta pertemuan. Apabila kajian dilakukan oleh Tim PS beserta masyarakat per dusun/RW, penyampaiannya dilakukan oleh masing- masing dusun. Seorang anggota masyarakat, mewakili dusun masing- masing menyampaikan dalam bentuk rangkuman, dan menyampaikan masalah – masalah utama yang ditemukan di dusunnya, serta potensi yang ada. Setiap temuan diskusikan dengan peserta.

Pengorganisasian masalah

Masalah – masalah yang muncul di masyarakat akan sangat beragam topik-topiknya. Topik –topik yang muncul pasti beragam dengan berbagai isu yang sebetulnya bisa jadi saling berkaitan. Semua masalah yang ada ditulis dalam kertas plano (dikumpulkan) , kemudian dikelompokkan berdasarkan kepada isu besar yang sama, misal kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Setelah semua masalah dikelompokkan kemudian ditarik hubungan sebab akibatnya menjadi pohon masalah, seperti yang dilaksanakan dalam refleksi kemiskinan, akan tetapi dalam kegiatan ini masalah – masalah yang muncul sudah lebih jelas karena hasil kajian yang mendalam.

Masalah – masalah tersebut kemudian dirumuskan menjadi masalah tingkat Kelurahan/Desa.

(12)

Langkah – langkah Pengorganisasian Masalah

Masalah – masalah yang muncul di masyarakat akan sangat beragam topik – topiknya. Karena tidak mungkin untuk menangani semua masalah secara sekaligus pada saat yang bersamaan, perlu dilakukan ‘seleksi’ dengan proses pengorganisasian masalah. Langkah – langkah dalam pengorganisasian masalah adalah pengumpulan masalah, pengelompokkan masalah, serta pengkajian

hubungan sebab akibat masalah.

Langkah 1 : Pengumpulan Masalah

Setelah penyajian seluruh hasil kajian, masalah – masalah yang muncul kemudian ditampilkan seluruhnya di atas kertas lebar yang ditempelkan di dinding. Masalah –masalah dapat saja dikurangi atau di drop atas usulan peserta , karena menurut mereka tidak layak dibahas. Misalnya : masalah “tidak ada bengkel atau radio rusak”, tidak dimasukkan ke dalam daftar masalah , sebab bukan yang benar- benar perlu. Biasanya pada saat pengkejian hubungan sebab akibat masalah, muncul tampilan masalah-masalah baru.

Langkah 2 : Pengelompokkan Masalah

Tujuan dilakukannya pengelompokkan masalah ini antara lain :

ƒ Menyederhanakan tampilan seluruh permasalahan

ƒ Mendiskusikan pembidangan pembangunan Desa/Kelurahan

ƒ Mendiskusikan bidang/aspek kehidupan apa yang paling banyak masalah Langkah langkah :

ƒ Pengelompokkan masalah dilakukan dengan cara menyatukan masalah- masalah yang dianggap berada di satu topik.

ƒ Tuliskan masing- masing masalah di atas kartu – kartu satu persatu saling berdekatan, bila dianggap sebagai kelompok masalah.

ƒ Tempelkan dengan selotif kecil agar mudah dipindah (dikoreksi)

ƒ Sepakati bersama setiap penempelan kartu masalah tersebut, jangan sampai ditentukan oleh pendapat seseorang yang dominan.

ƒ Apabila pengelompokkan itu sudah dianggap baik, baru kartu –kartu di lem dengan kuat.

ƒ Tuliskan dia atas kartu berwarna lain, nama topik untuk setiap kumpulan masalah (misal : masalah lembaga, penghasilan, pendidikan, dan

sebagainya)

Langkah 3 : Kajian hubungan sebab akibat masalah :

Tujuan kajian hubungan sebab akibat antara masalah – masalah yang ada, yaitu :

ƒ Mengkaji masalah – masalah mana yang menjadi penyebab dari masalah yang lain

ƒ Mengkaji masalah – masalah yang paling banyak menyebabkan masalah lainnya, disebut sebagai Akar masalah

ƒ Mengkaji masalah – masalah mana yang menjadi akibat masalah yang lain.

(13)

Manfaat kajian hubungan sebab akibat antara lain adalah :

ƒ Masyarakat melihat permasalahan yang mereka hadapi secara menyeluruh dalam bentuk visual (bagan hubungan sebab – akibat masalah )

ƒ Masyarakat menilai permasalahan itu sebagai suatu keadaan yang tidak bisa dipisah-pisahkan sehingga perlu dipecahkan bersama.

Langkah – langkah pelaksanaannya :

ƒ Tempelkan kartu – kartu satu per satu saling berdekatan bila dianggap memiliki hubungan sebab akibat.

ƒ Untuk memudahkan, mulailah dengan masalah – masalah yang berada di dalam satu kelompok (topik).

ƒ Tempelkan dengan selotif kecil agar mudah dipindah (dikoreksi)

ƒ Sepakati bersama hubungan sebab akibat itu, jangan hanya ditentukan oleh orang – orang tertentu yang dominan. Apabila pengelompokkan itu sudah dianggap baik, baru kartu-kartu di lem dengan kuat.

Penting diperhatikan :

ƒ Berdasarkan pengalaman masyarakat masih sering tertukar dalam menetapkan masalah, sebab masalah dan akibat. Pemandu perlu menjelaskan pengertian ini berulang-ulang

ƒ Terkadang satu kartu masalah berhubungan dengan banyak kartu yang lain. Apabila perlu, satu masalah bisa dibuat menjadi bebetrapa kartu.

ƒ Pemandu sebaiknya sabar dalam memfasilitasi diskusi. Biarkan peserta untuk memproses sendiri hubungan sebab akibat ini. Pemandu hanya membantu dengan pertanyaan – pertanyaan untuk mempertimabngkan kesimpulan – kesimpulan dengan cermat.

Seleksi Masalah

Kajian hubungan sebab akibat sebaiknya dimulai dengan proses yang sederhana agar masyarakat secara bertahap mengenal cara analisis ini. Kartu – kartu

masalah jangan dipergunakan terlalu banyak atau bagan (pohon masalah) yang dibuat tidak terlalu besar dahulu. Cara untuk melakukan seleksi, dari banyak masalah yang ada antara lain :

ƒ Sepakati bersama masyarakat, kelompok masalah mana yang paling utama dibahas dengan pertimbangan a.l : masalah itu mendesak (kebutuhan primer), kepentingan bersama, potensi mengembangkan kegiatan ada (potensi lokal maupun di luar )

ƒ Sepakati bersama masyarakat bahwa masalah mendesak atau gawat lainnya di luar kelompok di atas akan tetap dipertimbangkan di dalam memilih prioritas masalah nanti.

(14)

Kegiatan 4 : Pendokumentasian

Seluruh kegiatan lokakarya ini didokumentasikan, termasuk hasil – hasil

pengorganisasian masalah yang akan dipakai dalam sebagai dasar penyusunan PJM Pronagkis tingkat Kelurahan/Desa.

Referensi

Dokumen terkait

Menimbang, bahwa Pemohon dengan surat permohonannya tertanggal 2 Juni 2014 yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah Agung pada tanggal 2 Juni 2014 dan diregister

Sebaliknya dari suatu tree yang memiliki derajat vertex empat atau kurang kita juga dapat membuat alkana dengan menambahkan atom hidrogen untuk menjadikan atom korbon

Berdasarkan hasil prasurvei yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah mengambil judul “apakah ada pengaruh positif penggunaan media program Microsoft

Dunn, Beaudry dan Klavas (1989) pula menyatakan gaya pembelajaran adalah “…….ciri-ciri peribadi yang ditanam secara biologikal dan proses pengembangan di mana akan membuat

Sesiapa yang tiba di Arafah sebelum subuh pada hari sembelihan, maka dia telah mendapati haji lalu dia menunaikan haji dalam keadaan itu berdasarkan perkataan Nabi S.A.W sesiapa

Menurunnya jumlah pembaca koran secara nasional lima tahun terakhir tentu membuat karyawan Pikiran Rakyat terus dituntut bekerja lebih keras agar mampu terus bertahan dalam

Dalam perkembangan musik di Indonesia, dia bersama kelom- pok musiknya, Soneta, mengawali warna baru dalam gaya Orkes Melayu dengan gagasan kreatifnya, termasuk memasuk-

Unsur yang mendukung adalah sampai saat ini sebagian besar angkatan laut negara-negara yang ada di dunia sudah menggunakan San Remo Manual sebagai acuan, seperti