• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTRIBUSI USAHA TERNAK SAPI TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA PETANI PETERNAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KONTRIBUSI USAHA TERNAK SAPI TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA PETANI PETERNAK"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

KONTRIBUSI USAHA TERNAK SAPI TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA PETANI PETERNAK

(Studi Kasus: Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)

SKRIPSI

OLEH:

RIZAL ADHA ANANDA 130304070

AGRIBISNIS

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

KONTRIBUSI USAHA TERNAK SAPI TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA PETANI PETERNAK

(Studi Kasus: Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)

SKRIPSI

OLEH:

RIZAL ADHA ANANDA 130304070

AGRIBISNIS

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana Di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian,

Universitas Sumatera Utara, Medan

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

Judul Skripsi : Kontribusi Usaha Ternak Sapi Terhadap Pendapatan Keluarga Petani Peternak (Studi Kasus: Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)

Nama : Rizal Adha Ananda

NIM : 130304070

Program Studi : Agribisnis

Disetujui Oleh:

Komisi Pembimbing

Ketua Komisi Pembimbing Anggota Komisi Pembimbing

(Dr.Ir. Satia Negara Lubis, MEc) (Dr.Ir. Tavi Supriana, MS NIP. 196302041997031001 NIP. 196411021989032001

)

Mengetahui,

Ketua Program Studi Agribisnis

NIP. 196304021997031001 (Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M. Ec)

Tanggal Lulus : 23 Agustus 2017

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

RIZAL ADHA ANANDA (130304070), Dengan Judul Skripsi Kontribusi Usaha Ternak Sapi Terhadap Pendapatan Keluarga Petani Peternak (Studi Kasus: Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai). Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skrispsi Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, dan Diterima Untuk Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana.

Pada Tanggal, 23 Agustus 2017

Panitia Penguji Skripsi :

Ketua :

NIP: 196304021997031001 ...

(Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M. Ec)

Anggota : 1. (Dr.Ir. Tavi Supriana, MS

NIP: 196411021989032001 ...

)

2. (Ir. Yusak Maryunianta, M. Si

NIP. 196206241986031003 ...

)

3. (Ir. Lily Fauzia, M.Si

NIP. 196308221988032003 ...

)

Mengetahui,

Ketua Program Studi Agribisnis

NIP. 196304021997031001 (Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M. Ec)

(5)

ABSTRAK

Rizal Adha Ananda (130304070) dengan judul skripsi “Kontribusi Usaha Ternak Sapi Terhadap Pendapatan Keluarga Petani Peternak (Studi Kasus:

Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)”

Penelitian ini dibimbing oleh Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, MEc selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS selaku anggota komisi pembimbing.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik peternak sapi dan tatalaksana usaha ternak sapi, menganalisis besarnya kontribusi usaha ternak sapi terhadap pendapatan keluarga masyarakat petani peternak, dan menganalisis hambatan-hambatan teknis usaha ternak sapi dalam upaya peningkatan produktivitas normal. Adapun metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskripsi dan analisis proporsi. Responden diambil dengan menggunakan metode sensus yaitu sebanyak 20 orang petani peternak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan usaha ternak sapi potong di daerah penelitian masih tergolong sederhana atau tradisional (ekstensif).

Rataan pendapatan bersih usaha ternak sapi potong adalah sebesar Rp.25.095.889 per peternak/tahun, dengan kontribusi usaha ternak sapi terhadap pendapatan keluarga adalah > 50% yakni sebesar 54,28% yang berarti memberikan kontribusi cukup besar. Hambatan yang dihadapi petani peternak umumnya adalah kurangnya pendidikan dan kurang tersedia modal untuk meningkatkan usaha ternak sapi di daerah penelitian.

Kata kunci : usaha ternak sapi, analisis finansial, kontribusi pendapatan.

(6)

ABSTRACT

Rizal Adha Ananda (130304070) with the thesis entitled, Contribution of Cattle Business on the Income of Cattle Breeders’ Families (A Case Study at Lubuk Bayas Village, Perbaungan Subdistrict, Serdang Bedagai Regency. The research was supervised by Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec as the Chairperson of the Supervisory Committee and Dr. Ir. Tavi Supriana, MS as the Member of Supervisory Committee.

The objective of the research was to find out the characteristics of cattle breeders and the management of cattle breeding, to analyze the contribution of cattle breeders to their families’ income, and to analyze technical obstacles of cattle breeding in increasing their normal productivity. The data were analyzed by using descriptive analysis and proportional analysis. The samples were 20 cattle breeders, taken by using census method.

The result of the research showed that beef cow business in the research area was simple or traditional (extensive). The average income of beef cattle business was Rp.25,095,889 per cattle/year. The contribution of cattle breeding business to families’ income was > 50% (54.28%) which indicated that it gave big contribution. The obstacles faced by cattle breeders in the research area were the lack of education and the lack of capital to increase cattle breeding business.

Keywords: Cattle Breeding Business, Financial Analysis, Contribution to Income

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis memiliki nama lengkap Rizal Adha Ananda, lahir di Hamparan Perak pada tanggal 06 Mei 1995. Penulis merupakan anak Kedua dari tiga bersaudara dari Bapak Syafruddin dan Ibu Dahlia Hasibuan. Pendidikan formal yang pernah ditempuh dan kegiatan yang pernah diikuti penulis adalah sebagai berikut :

1. Tahun 2001 masuk Sekolah Dasar di SDN 064006 tamat pada tahun 2007.

2. Tahun 2007 masuk Sekolah Menengah Pertama di MTS. Raudhatul Hasanah dan tamat pada tahun 2010.

3. Tahun 2010 masuk Sekolah Menengah Atas di MA. Raudhatul Hasanah dan tamat pada tahun 2013.

4. Tahun 2013 diterima di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur Undangan (SNMPTN).

5. Pada bulan Agustus - September 2016 melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Naga Kisar, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara.

6. Anggota Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

7. Anggota Ikatan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (IMASEP) Departemen Hubungan Masyarakat (HUMAS) Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

(8)

KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhana Wa Taala Yang Maha Kuasa atas segala nikmat yang telah diberikannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan judul skripsi “Kontribusi Usaha Ternak Sapi Terhadap Pendapatan Keluarga Petani Peternak (Studi Kasus: Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai”.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, MEc selaku Ketua Program Studi Agribisnis dan Ketua Komisi Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan, serta saran dan selalu memberikan banyak nasehat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

2. Ibu Dr.Ir. Tavi Supriana, MS selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan, serta saran dan selalu memberikan banyak nasehat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini pada waktu yang tepat.

3. Bapak Ir. H. Luhut Sihombing, MP selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis yang telah bersedia meluangkan waktunya dari awal sampai akhir perkuliahan untuk memberikan bimbingan, arahan, serta saran dan selalu memberikan banyak nasehat sehingga penulis dapat menyelesaikan masa perkuliahan dengan baik.

4. Bapak Ir. M. Jufri, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

5. Kedua orang tua tercinta Bapak Syafruddin dan Ibu Dahlia Hasibuan yang selalu mendoakan, mendukung, memberikan banyak perhatian, kasih sayang,

(9)

motivasi serta dukungan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini pada waktu yang tepat.

6. Keluarga besar penulis, Adik,Kakak, Uak, Tulang, Ibuk, Om Amir, Adek Fitri, Kak Sarina, yang memberikan banyak perhatian, kasih sayang serta dukungan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini dengan baik.

7. Sahabat MA 622 terbaik Ave, Fani, Reza, Ibrahim, Tamimi, Pramesco, Rizki, Zeni, Arif, Rijal, Agung, Agus, Irham yang telah memberikan bantuan dan motivasi serta menemani penulis dalam menghabiskan waktu liburan.

8. Teman-teman PKL terbaik Elita, Ade, Khusnul, Ivana. Teman-teman kelompok Kewirausahaan terbaik Tiurma, Ayu, Annur, David.

9. Sahabat terbaik Uta, Fanema, Azwar, Adit, Ardi, Vicky, Reza, Maimuddin, Imam, Roy, Efraim, Jefri, Abri, dan seluruh teman-teman yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah memberikan motivasi, berbagi suka dan duka serta menemani hari-hari perkuliahan sehingga penulis dapat menikmati masa perkuliahan dengan baik.

10. Abang dan Kakak senior, Bang Kevin, Bang Bernandi, Bang Zein, Bang Melki (alm), Bang Jona, Bang Voldo, Bang Hasian, Bang Irwan, Bang Richard, Bang Gosyen, Bang Roy, Bang Rani, Bang Perda, dan seluruh Abang dan Kakak senior yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan dan motivasi selama penulis menempuh pendidikan.

11. Seluruh dosen yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada penulis serta kepada seluruh staf pengajar dan seluruh staf pegawai Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, khususnya staf pegawai yang ada di

(10)

Departemen Agribisnis Kak Runi dan Kak Lisbeth yang telah membantu seluruh proses administrasi.

12. Seluruh instansi dan responden yang terkait dengan penelitian penulis terutama Bapak Sutarkari yang telah banyak membantu penulis mengumpulkan data dalam penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun untuk penyempurnaan skripsi ini. Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan. Akhir kata, penulis mengcapkan terima kasih.

Medan, Agustus 2017

Penulis

(11)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Kegunaan Penelitian... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka ... 7

2.1.1 Klasifikasi Sapi ... 7

2.1.2 Usaha Ternak Sapi Potong ... 8

2.1.3 Teknis Budidaya Sapi ... 9

2.1.4 Penelitian Terdahulu ... 17

2.2 Landasan Teori ... 19

2.2.1 Penerimaan ... 19

2.2.2 Pendapatan ... 19

2.2.3 Pendapatan Usaha Ternak ... 20

2.3 Kerangka Pemikiran ... 21

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 23

3.2 Metode Penentuan Sampel ... 23

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 23

3.4 Metode Analisis Data ... 24

3.5 Defenisi dan Batasan Operasional ... 27

3.5.1 Definisi ... 27

3.5.2 Batasan Operasional ... 28

(12)

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL

4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian ...29

4.1.1 Geografi dan Topografi ...29

4.1.2 Demografi ...29

4.1.3 Sarana dan Prasarana ...31

4.2 Karakteristik Sampel ...33

4.2.1 Umur Peternak Sampel ...33

4.2.2 Pendidikan Peternak Sampel ...34

4.2.3 Jumlah Tanggungan Keluarga Peternak Sampel ...35

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Sistem Pemeliharaan Usaha Ternak Sapi di Daerah Penelitian ...36

5.2 Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong ...40

5.3 Kontribusi Usaha Ternak Sapi Terhadap Pendapatan Keluarga ...43

5.4 Hambatan Yang Dialami Peternak ...44

5.4.1 Masalah Yang Dihadapi Peternka Dalam Usaha Ternak Sapi Potong ...44

5.4.2 Upaya-upaya Yang Dilakukan Untuk Mengatasi Masalah Dalam Usaha Ternak Sapi Potong ...46

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ...49

6.2 Saran ...50

(13)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

1.1 Populasi Sapi Potong Tahun 2012-2016 (per

Kabupaten/Kota) 2

1.2 Jumlah Populasi Sapi Potong Jantan di Kecamatan

Perbaungan Tahun 2015 3

4.1

Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Lubuk Bayas Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai

30

4.2

Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur di Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai

30 4.3 Sarana dan prasarana di desa Lubuk Bayas, 2016 31 4.4 Karakteristik peternak sampel di desa Lubuk Bayas tahun

2017 33

4.5 Keadaan umur peternak sampel di desa Lubuk Bayas,

2017 34

4.6 Tingkat pendidikan peternak sampel di desa Lubuk

Bayas, 2017 35

4.7 Jumlah tanggungan peternak sampel di desa Lubuk

Bayas, 2017 35

5.1 Rata – rata biaya produksi usaha ternak sapi potomg

(Rp/tahun/peternak) 41

5.2 Rata – rata penerimaan pada usaha ternak sapi potong

pada daerah penelitian (Rp/tahun/peternak) 42 5.3 Rata – rata pendapatan bersih usaha ternak sapi potong

(Rp/tahun/peternak) 42

5.4 Kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong terhadap

pendapatan keluar di desa penelitian, 2017 44

(14)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1 Bagan Kerangka Pemikiran 22

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul

1 Populasi Sapi Potong Tahun 2012 – 2016 (Per Kabupaten/Kota) 2 Jumlah Populasi Sapi Potong Jantan di Kecamatan Perbaungan 2015 3 Jenis Pekerjaan Petani Peternak di Desa Lubuk Bayas, 2017

4 karakteristik peternak sampel tahun 2017

5 Biaya kandang dan penyusutan kandang (per tahun) 6 Biaya pakan ternak sapi potong (per tahun)

7 Biaya obat - obatan pada usaha ternak sapi potong (per tahun) 8 Penerimaan usaha ternak dari kotoran ternak sapi potong (per bulan) 9 Penerimaan usaha ternak sapi potong dari penjualan kotoran sapi

potong (per tahun)

10 Penerimaan usaha ternak sapi potong dari penjualan ternak sapi potong (Juli 2016 – Juli 2017)

11 Keadaan pada awal tahun (Juli 2016 – Juli 2017)

12 Keadaan ternak sapi potong pada akhir tahun (Juli 2016 – Juli 2017) 13 Penerimaan usaha ternak sapi potong dari pertambahan nilai ternak

sapi potong (per tahun)

14 Penerimaan usaha ternak sapi potong (per tahun) 15 Pendapatan bersih usaha ternak sapi potong (per tahun)

16 Produksi usahatani padi (Pendapatan non usaha ternak) per tahun 17 Kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluarga

(per tahun)

18 Spesifikasi masalah yang dihadapi peternak sapi potong di daerah penelitian, tahun 2017

19 Spesifikasi upaya masalah yang dilakukan peternak sapi potong di daerah penelitian, tahun 2009

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan pertanian saat ini khususnya sub sektor peternakan dihadapkan pada sejumlah tantangan. Dinamika lingkungan dalam negeri berkaitan dengan dinamika permintaan produk peternakan, penyediaan bibit ternak, kualitas bibit, terjadinya berbagai wabah penyakit ternak yang sangat merugikan bagi sub sektor peternakan sendiri, serta tuntutan perubahan manajemen pembangunan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan partisipasi masyarakat.

Produksi ternak sapi di Sumatera Utara sangat beragam yang disebabkan adanya perkembangan kenaikan jumlah populasi yang semakin meningkat setiap tahun.

Pada tahun 2004, populasi ternak sapi sebesar 248.971 ekor dan pada tahun 2008, populasi ternak sapi sebesar 388.240 ekor dengan persentase kenaikan rata-rata sebesar 13,98%. Sampai tahun 2008 Provinsi Sumatera Utara memproduksi daging sapi sebesar 12.957 ton. Konstribusi bagi peternakan nasional sebesar 4,14%. Sektor peternakan mampu menyerap tenaga kerja sebesar 35.290 orang dengan besar persentase adalah 1,48% dari 2.373.843 orang tenaga kerja yang bergerak di bidang pertanian (Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Utara, 2008).

Propinsi sumatera utara selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sapi potong terbesar di Indonesia salah satunya ialah kabupaten Serdang Bedagai, terlihat dari besarnya produksi yang dihasilkan oleh setiap kabupaten yang ada di Sumatera Utara khususnya kabupaten Serdang Bedagai, Simalungun, Langkat dan kabupaten lainnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Peternakan

(17)

Sumatera Utara tahun 2016, kabupaten dengan jumlah populasi sapi potong terbesar di Sumatera Utara salah satunya ialah Kabupaten Serdang Bedagai, yakni sebesar 43,618 ekor tahun 2016. Hal ini dapat dilihat dari tabel 1.1 :

Tabel 1.1 Populasi Sapi Potong Tahun 2012 – 2016 (Per Kabupaten/Kota)

No Kabupaten/ Tahun

Kota 2012 2013 2014 2015 2016

1 Nias 0 4 0 - 0

2 Mandailing Natal 5,043 4,281 4,610 4,631 5,515 3 Tapanuli Selatan 2,427 1,896 2,294 2,614 2,7798 4 Tapanuli Tengah 2,134 1,457 2,459 2,111 2,117

5 Tapanuli Utara 526 284 437 442 444

6 Toba Samosir 1,650 1,470 1,653 2,037 2,302

7 Labuhan Batu 12,236 15,956 18,318 19,604 23,526

8 Asahan 75,094 79,084 83,266 87,818 87,616

9 Simalungun 104,235 97,575 100,798 100,798 100,848

10 Dairi 3,198 2,711 2,738 2,765 3,024

11 Karo 16,448 13,258 10,749 8,751 8,573

12 Deli Serdang 78,995 53,474 87,423 87,423 87,423 13 Langkat 152,115 110,124 168,873 177,352 185,284

14 Nias Selatan 105 30 58 61 67

15 Humbang Hasundutan

1,021 1,089 1,225 1,282 1,287

16 Pakpak Bharat 304 168 223 234 257

17 Samosir 2,117 1,454 2,155 2,128 2,169

18 Serdang Bedagai 47,325 41,761 43,387 43,533 43,618 19 Batubara 27,598 27,221 28,366 30,890 32,390 20 Padang Lawas Utara 13,983 12,647 14,018 14,195 15,336 21 Padang Lawas 6,640 9,230 6,931 7,302 7,886 22 Labuhan Batu Selatan 11,048 9,971 13,598 14,366 14,507 23 Labuhan Batu Utara 32,622 26,342 40,091 40,520

24 Nias Utara 186 299 142 174 256

25 Nias Barat 114 116 123 127 139

26 Sibolga 0 0 0 - 0

27 Tanjung Balai 429 639 636 628 700

28 Pematang Siantar 668 904 377 381 487

29 Tebing Tinggi 2,116 1,914 2,260 2,089 2,112

30 Medan 2,771 2,858 2,878 1,281 1,345

31 Binjai 5,904 4,165 5,741 5,772 6,070

32 Pdang Sidempuan 777 786 832 825 1,000

33 Gunung Sitoli 122 109 100 100 120

Jumlah 609,951 523,277 646,749 662,234 683,332 Sumber: Dinas Peternakan Sumatera Utara, 2016

(18)

Kabupaten Serdang Bedagai merupakan daerah peternakan sapi yang memiliki potensi yang baik apabila dikelola dengan baik dengan meningkatkan kualitas budidaya ternaknya. Berdasarkan keterangan tersebut maka Kabupaten Serdang Bedagai dipilih sebagai daerah penelitian dengan harapan daerah tersebut dapat menjadi salah satu sentra produksi sapi di massa yang akan datang. Berdasarkan data yang di peroleh dari Badan Pusat Statistik, berikut jumlah populasi sapi potong jantan di Kecamatan Perbaungan:

Tabel 1.2 Jumlah Populasi Sapi Potong Jantan di Kecamatan Perbaungna Tahun 2015

No. Desa/Kelurahan Anak Muda Dewasa

1 Adolina 10 7 -

2 Melati II 20 27 45

3 Tanjung Buluh 3 15 2

4 Sei Buluh 9 - -

5 Sei Sijenggi - 9 6

6 Deli Muda Hulu - 2

7 Melati 1 9 8 14

8 Citaman Jernih 11 13 13

9 Batang Terap - - 3

10 Simpang Tiga Pekan 12 11 8

11 Kota Galuh 5 7 10

12 Tualang 6 10 4

13 Bengkel 4 7 3

14 Deli Muda Hilir - - -

15 Tanah Merah 19 11 7

16 Lubuk Bayas 15 6 4

17 Sei Naga Lawan 12 5 1

18 Lubuk Rotan 9 7 2

19 Kesatuan 7 13 1

20 Lidah Tanah 5 4 2

21 Pematang Tatal 6 2 -

22 Lubuk Dendang 3 - -

23 Suka Beras 7 9 3

24 Cinta Air 5 4 2

25 Pematang Sijonam 15 5 -

26 Lubuk Cemara 5 6 3

27 Jambur Pulau 5 12 8

28 Suka Jadi 7 15 3

Jumlah 209 215 144

Sumber: BPS Serdang Bedagai 2015

(19)

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahawa desa Lubuk Bayas merupkan salah satu desa dengan populasi sapi jantan tertinggi di Kecamatan Perbaungan, oleh karena itu desa Lubuk Bayasa layak memiliki potensi dalam pengembangan usaha ternak sapi potong.

Pembangunan sub sektor peternakan memiliki peran sangat strategis dalam upaya ketahanan pangan, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan dan mencerdaskan sumberdaya manusia yang berkualitas melalui konsumsi produknya. Peran strategis tersebut ditunjang dengan potensi ternak yang berbeda- beda pada masing-masing daerah.

Usaha ternak sapi merupakan usaha yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani peternak.

Kecamatan Perbaungan merupakan kecamatan yang memiliki populasi ternak Sapi terbanyak dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan yang berada di Kabupaten Serdang Bedagai. Ternak Sapi memiliki keunggulan yang dapat dijadikan potensi untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani peternak.

Ternak sapi lebih disukai keluarga petani peternak oleh karena, antara lain: (1) dapat memanfaatkan tenaga kerja keluarga, (2) memanfaatkan limbah pertanian dan rumput lapang, (3) mendukung sistem produksi tanaman melalui pupuk kandang, (4) dapat memecahkan kebutuhan uang tunai, (5) secara tidak langsung dapat meningkatkan status pemiliknya, (6) mudah beradaptasi terhadap berbagai lingkungan, (7) cepat berkembang biak, (8) kurang memerlukan lahan dan modal yang relatif besar dan (9) cara pemeliharaannya tidak terlalu sulit sehingga banyak dipelihara oleh peternak sebagai usaha sampingan.

(20)

Usaha ternak sapi merupakan salah satu jenis usaha yang dapat mendukung pola usaha tani di pedesaan karena dapat memberikan pupuk kandang dan sebagai sumber keuangan untuk membeli kebutuhan pertanian atau untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang mendadak. Usaha ternak sapi juga sangat disenangi oleh petani peternak di pedesaan karena pemeliharaannya relatif mudah serta tidak memerlukan modal usaha yang besar.

Selian berternak sapi, para peternak di Desa Lubuk Bayas memeiliki pekerjaan lainnya. Berikut adalah usaha selain ternak sapi di Desa Lubuk Bayas:

Tabel 1.3 Jenis Pekerjaan Petani Peternak di Desa Lubuk Bayas

No. NAMA PEKERJAAN

1 Sunardi Petani Padi

2 Warseno Buruh pabrik

3 Untung Petani Padi

4 Suardi Petani Padi

5 Adi D Petani Padi

6 Hamdan LBS Petani Padi

7 Sukardi Petani Padi

8 Ian D Petani Padi

9 Asmiadi Buruh tani

10 Junaidi Petani Padi

11 Syahril Petani Padi

12 Anto Petani Padi

13 Supri Petani Padi

14 Ari Petani Padi

15 Basiri Petani Padi

16 Suparmin Petani Padi

17 Ono Petani Padi

18 Pitir Petani Padi

19 Iwan Petani Padi

20 Suktar Petani Padi

Berkaitan dengan hal tersebut diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi yang dibutuhkan sebagai acuan untuk para pengambil kebijakan, baik

(21)

itu petani peternak sendiri ataupun pihak pemerintah dan para investor, dalam mengembangkan usaha ternak sapi yang dapat meningkatkan pendapatan pada masyarakat petani peternak.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan permasalahan antara lain adalah:

1. Bagaimana karakteristik peternak sapi dan tatalaksana usaha ternak sapi?

2. Berapa besarnya kontribusi usaha ternak sapi terhadap pendapatan keluarga masyarakat petani peternak?

3. Apa hambatan-hambatan teknis usaha ternak sapi dalam upaya peningkatan produktivitas normal?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui karakteristik peternak sapi dan tatalaksana usaha ternak sapi 2. Menganalisis besarnya kontribusi usaha ternak sapi terhadap pendapatan

keluarga masyarakat petani peternak.

3. Menganalisis hambatan-hambatan teknis usaha ternak sapi dalam upaya peningkatan produktivitas normal.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat sebagai:

1. Bahan masukan bagi instansi pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai dalam mengambil kebijakan untuk mengembangkan subsektor peternakan dalam hal ini usahaternak sapi.

2. Bahan informasi bagi pihak yang berminat untuk melakukan penelitian selanjutnya.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

Kebanyakan sapi ternak merupakan keturunan dari jenis liar yang dikenal sebagai Auerochse atau Urochse (dibaca auerokse, bahasa Jerman berarti “sapi kuno”, nama ilmiah: Bos primigenius), yang sudah punah di Eropa sejak 1627. Namun, terdapat beberapa spesies sapi liar lain yang keturunannya didomestikasi, termasuk sapi bali yang juga diternakkan di Indonesia, klasifikasi sapi adalah sebagai berikut:

2.1.1 Klasifikasi Sapi

kindom : animalia fylum : chordate class : mamalia ordo : artiodactyla family : bovidae genus : bos species : bos taurus

Bos primigenius taurus

Bos primigenius indicus (sapi zebu) Bos javanicus domesticus

Bos gaurus frontalis Bos mutus grunniens Ras hibrida

Ras-ras (breeds) sapi ternak

(23)

sapi

Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti : Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi dan seluruh nusantara (Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas).

– atau lembu adalah hewan ternak anggota suku Bovidae dan anaksuku Bovinae. Sapi dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai pangan manusia. Hasil sampingan, seperti kulit, jeroan, tanduk, dan kotorannya juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Di sejumlah tempat, sapi juga dipakai sebagai penggerak alat transportasi, pengolahan lahan tanam (bajak), dan alat industri lain (seperti peremas tebu). Karena banyak kegunaan ini, sapi telah menjadi bagian dari berbagai kebudayaan manusia sejak lama.

2.1.2 Usaha Ternak Sapi Potong

Pemilihan ternak sapi disesuaikan dengan tujuan usaha peternakan yang dilaksanakan. Tipe ternak yang akan dipelihara untuk tujuan menghasilkan daging, misalnya dipilih ternak sapi tipe pedaging atau sapi potong. Ciri-ciri sapi tipe pedaging adalah : (a) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat atau balok;

(b) kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan; (c) laju pertumbuhannya cepat; (d) cepat mencapai dewasa; (e) efisiensi pakannya tinggi (Santosa, 1997).

(24)

Menurut Suryana (2009), sistem pemeliharaan sapi potong di Indonesia dibedakan menjadi tiga, yaitu : intensif, ekstensif, dan usaha campuran (mixed farming).

Pada pemeliharaan secara intensif, sapi dikandangkan secara terus-menerus atau hanya dikandangkan pada malam hari dan pada siang hari ternak digembalakan.

Pola pemeliharaan sapi secara intensif banyak dilakukan petani peternak di Jawa, Madura, dan Bali. Pada pemeliharaan secara ekstensif, ternak dipelihara di padang penggembalaan dengan pola pertanian menetap atau di hutan. Pola tersebut banyak dilakukan peternak di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Usaha ternak sapi potong di Indonesia berkembang sangat banyak. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005, rumah tangga peternak di Indonesia berjumlah 4.980.302 dan 58 persen dari jumlah tersebut atau sebesar 2.888.575 adalah rumah tangga peternak sapi potong.

2.1.3 Teknis Budidaya Sapi Penyiapan Sarana dan Peralatan

Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.

Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus

(25)

lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.

Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.

Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.

Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%.

Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).

Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.

1. Konstruksi dan letak kandang

Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di

(26)

luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.

Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.

Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan tidak boleh kehabisan setiap saat.

Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.

2. Ukuran Kandang

Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5x1 m.

3. Perlengkapan Kandang

Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjakinjak/

tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai. Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya.

(27)

Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.

Pembibitan

Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:

1. Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.

2. Matanya tampak cerah dan bersih.

3. Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.

4. Kukunya tidak terasa panas bila diraba.

5. Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.

6. Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.

7. Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.

8. Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.

Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:

1. tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.

2. kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.

3. laju pertumbuhannya relatif cepat.

(28)

Pemeliharaan

Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :

1. Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.

2. Mempermudah perawatan dan pemantauan.

3. Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.

Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.

1. Sanitasi dan Tindakan Preventif

Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.

2. Pemberian Pakan

Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.

(29)

Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.

Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.

Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.

Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering

(30)

adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau.

Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.

Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.

3. Pemeliharaan Kandang

Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik.

Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.

Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.

Hama dan Penyakit 1. Penyakit antraks

Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah

(31)

dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.

2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE) Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE. Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.

3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE) Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri. Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan

(32)

4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot) Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.

Pengendalian

Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:

1. Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.

2. Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.

3. Mengusakan lantai kandang selalu kering.

4. Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.

Panen

Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya.

2.1.4 Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sianipar (2016) mengenai “Analisis Finansial dan Kontribusi Usahatani Kopi Arabika (Coffea arabica) Terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Paraduan Kecamatan Ronggur Nihuta Kbupaten Samosir” Metode analisis yang digunakan adalah analisis kelayakan yaitu metode analisis NPV, Net B/C dam IRR, serta metode analisis proporsi (kontribusi

(33)

pendapatan keluarga) dana analisis deskriptif tentang hambatan-hambatan teknis usahatani kopi Arabika terhadap upaya peningkatan produktivitas normal.

Hasil dari penelitian adalah analisis kelayakan yaitu NPV yaitu sebesar Rp.

2.113.081 dan Net B/C yaitu sebesar Rp. 1.546 dan IRR yaitu sebesar 4,9% , kontribusi pendapatan usahatani kopi Arabika terhadap pendapatan keluarga yaitu sebesar 50% dan hambatan hambatan teknis yaitu hambatan internal yaitu kurangnya modal dan sikap pasrah petani serta hambatan internal yaitu kurangnya perhatian seta peran pemerintah dan harga juaal kopi yang rendah.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Rahmat (2008) dengan judul “Kontribusi Usaha Ternak Domba Terhadap Pendapatan Keluarga Petani Peternak (Studi Kasus di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut)” Penelitian ini didesain menggunakan metode studi kasus yang bersifat deskriptif-analitis. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut selama 1 bulan pada minggu ketiga bulan September 2007 sampai dengan minggu ketiga bulan Oktober 2007. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja melalui dua tahapan, yaitu:

(1) menentukan Kabupaten Garut sebagai lokasi penelitian karena Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah yang memiliki populasi domba yang cukup banyak (405.379 ekor pada tahun 2006) dan (2) memilih Kecamatan Cikajang sebagai lokasi penelitian karena Kecamatan Cikajang merupakan kecamatan yang memiliki populasi domba terbanyak dibandingkan kecamatan lainnya, pada penelitian ini Kecamatan Cikajang diwakili oleh tiga desa (Desa Cikandang, Desa Margamulya dan Desa Simpang) dengan alasan bahwa ketiga desa tersebut merupakan desa yang menjadi daerah pengembangan ternak domba dan sebagian

(34)

domba. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif, analisis pendapatan usaha ternak domba, analisis pendapatan keluarga petani peternak, analisis kontribusi usaha ternak domba terhadap pendapatan keluarga petani peternak dan analisis korelasi Pearson. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah metode sensus yaitu dengan mengambil semua anggota pada masing-masing kelompok ternak di setiap desa. Desa yang terpilih adalah Desa Cikandang dengan jumlah sampel yang ditetapkan 20 orang, Desa Margamulya dengan jumlah sampel yang ditetapkan 12 orang dan Desa Simpang dengan jumlah sampel yang ditetapkan 7 orang.

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Penerimaan

Harga penjualan ternak sapi potong ditentukan oleh peternak dengan berdasar pada biaya-biaya yang dikeluarkan selama mengelola usaha peternakan tersebut.

Penerimaan usaha peternakan sapi potong yang diperoleh dari penjumlahan antara jumlah sapi yang telah dijual, jumlah ternak sapi yang di konsumsi dan jumlah ternak sapi yang masih ada dijumlahkan dengan harga jual. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soekartawi (1995) yang menyatakan bahwa penerimaan usaha tani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual.

2.2.2 Pendapatan

Untuk mengetahui besarnya pendapatan atau keuntungan yang diperoleh peternak maka harus ada keseimbangan antara penerimaan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dengan menggunakan suatu alat analisis yaitu π = TR – TB dimana π adalah pendapatan (keuntungan), TR adalah Total Revenue atau total penerimaan

(35)

adalah pendapatan (keuntungan), TR adalah total revenue atau total penerimaan peternak dan TC adalah total cost atau total biaya-biaya. Namun sebelum menggunakan alat analisis tersebut maka terlebih dahulu dilakukan pemisahan biaya dan penerimaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soekartawi (1995) yang menyatakan bahwa pendapatan usaha tani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya.

Keuntungan yang diperoleh petani merupakan hasil dari penjualan ternak sapi potong dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan selama masa produksi.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Daniel (2002), yang menyatakan bahwa pada setiap akhir panen petani akan menghitung hasil bruto yang diperolehnya. Hasil itu harus dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkannya. Setelah semua biaya tersebut dikurangkan barulah petani memperoleh apa yang disebut dengan hasil bersih atau keuntungan.

On farm adalah suatu kegiatan pertanian yang produk (usahatani) dilakukan dilahannya sendiri. Disini petani sebagai pemilik, oleh karena itu petani perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan didalam bidang pertanian. Petanilah yang melakuakan segala usahatani dari mulai menyediakan masukan, produksi dan pengeluaran yaitu pengolahan dan pemasarn.

Off farm adalah suatu kegiatan yang dilakukan diluar lahan pertanian tetapi masih berkaitan dengan produk usahatani Suatu kegiatan pertanian yang oroses produksinya pertanian dilakukan oleh petani selaku pekerja Contoh: penggilingan padi, pembuatan roti, industri rokok, dll. Maka pekerjaan dan pendapatan usaha ternak sapi dan petani termasuk on farm.

(36)

2.2.3 Pendapatan Usaha Ternak

Analisis pendapatan berfungsi untuk menngukur berhasil tidaknya suatu kegiatan usaha, menentukan komponen utama pendapatan dan apakah komponen itu masih dapat ditingkatkan atau tidak. Kegiatan usaha dikatakan berhasil apabila pendapatannya memenuhi syarat cukup untik memenuhi semua saran produksi.

Analisis usaha tersebut merupakan keterangan yang rinci tentang penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu tertentu (Aritonang, 1993).

Analisis usahaternak sapi sangat penting sebagai kegiatan rutin suatu usahternak komersial. Dengan adanya analisis usaha dapat dievaluasi dan mencari langkah pemecahan berbaggai kendala, baik usaha untuk mengembangkan, rencana penjualan maupun mengurangi biaya-biaya yang tak perlu (murtidjo, 1993).

Usaha ternak sapi telah memberi kontribusi dalam peningkatan pendapatan keluarga peternak. (Soekartawi, 1995) menyatakan bahwa peningkatan pendapatan keluarga peternak sapi tidak dapat dilepaskan dari cara mereka menjalankan dan mengelola usahaternaknya yang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan faktor ekonomi.

Pendapatan usahaternak sapi sangat dipengaruhi oleh banyaknya ternak yang dijual oleh peternak itu sendiri sehingga semakin banyak jumlah ternak sapi maka semakin tinggi pendapatan bersih yang diperoleh (soekartawi, 1995)

Hernanto (1995), menyatakan bahwa berdasarkan jumlah output yang dihasilkan biaya produksi dapat dibedakan menjadi:

1. Biaya tetap adalah besar kecilnya biaya tidak berpengaruh terhadap besar kecilnya produksi

(37)

2. Biaya variabel adalah biaya yang berpengaruh langsung terhadap besar kecilnya produksi pada usaha tani

Sedangkan berdasarkan biaya yang langsung dikeluarkan dan diperhitungkan, terdiri dari:

1. Biaya tunai adalah biaya tetap dan biaya variabel yang dibayar tunai. Biaya tunai digunakan untuk melihat pengaruh pengalokasian modal yang dimiliki oleh peternak.

Biaya diperhitungkan meliputi biaya penyusutan peralatan dan bangunan, sewa lahan milik sendiri dan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya diperhitungkan digunakan untuk melihat bagaimana pengelolaan suatu usaha tani.

2.3 Kerangka Pemikiran

Kabupaten Serdang Bedagai merupakan daerah yang memiliki ciri khas yaitu sentra ternak sapi. Ternak sapi memiliki peran yang strategis dalam upaya ketahanan pangan, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan dan mencerdaskan sumberdaya manusia. Penelitian ini menganalisis tentang usaha ternak sapi di Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Besarnya kontribusi yang diberikan usaha ternak sapi dapat dilihat dari analisis pendapatan peternak sapi dan pendapatan keluarga petani peternak.

Secara skematis, kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut:

(38)

Gambar 1. Bagan Perangka Pemikiran Penelitian Keterangan :

: Menyatakan Hubungan : Menyatakan Pengaruh Petani Peternak

Usaha Pertanian

Usaha Perikanan

Usaha Ternak Selain Sapi

Usaha Ternak Sapi Usaha Non Pertanian

Pendapatan Keluarga Petani Peternak

Kontribusi Usaha Ternak Sapi Terhadap Pendapatan Keluarga Petani Peternak

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai.

Lokasi penelitian dipilih secara sengaja melalui dua tahapan, yaitu: (1) menentukan Kabupaten Serdang Bedagai sebagai lokasi penelitian karena Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu daerah yang memiliki populasi sapi yang cukup banyak tahun (43.618 ekor pada tahun 2016) dan (2) memilih Kecamatan Perbaungan sebagai lokasi penelitian karena Kecamatan Perbaungan merupakan kecamatan yang memiliki potensi dalam jumlah peningkatan populasinya dibandingkan kecamatan lainnya.

Sudah tidak asing lagi bagi warga di Kabupaten Serdang Bedagai dan Kecamatan Perbungan bawa Desa Lubuk Bayas dijuluki Desa Organik, dikarnakan desa lubuk bayas berkembang dalam pengembangan Padi Organik. hampir seluruh usaha tani padi memanfaatkan pupuk organik yang berasal dari ternak sapi yang di usahakan. Selain itu urin ternak sapi juga digunakan sebagai pupuk dan pembasmi hama yang ada di lahan padi tersebut.

3.2 Metode Penentuan Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006).

Pada dasarnya semua anggota populasi mempunyai peluang yang sama menjadi anggota sampel dalam sebuah penelitian (Hadi, 2000).

Responden dalam penelitian ini adalah para peternak sapi di Desa Lubuk Bayas

(40)

adalah metode sensus yaitu dengan mengambil semua peternak didesa Lubuk Bayas. Setelah di lakukannya pra-survey maka dapat diketahui bahwa Desa yang terpilih adalah desa Lubuk Bayas dengan jumlah sampel yang di tetapkan 20 orang.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari peternak yang mengembangbiakkan sapi yang menjadi sampel penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan, wawancara langsung dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari BPS Sumatera Utara, Dinas Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai, literature, buku, dan media internet yang sesuai dengan penelitian ini.

3.4 Metode Analisis Data

Untuk mengetahui karakteristik peternak sapi dan tatalaksana ternak sapi, dilakukan dengan melakukan wawancara langsung dengan peternak sapi, menggunakan kuesioner yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

untuk mengetahui berapa besar proporsi pendapatan usaha ternak sapi terhadap pendapatan total keluarga yang disebut dengan kontribusi pendapatan keluarga digunakan alat analisis dengan menggunakan metode analisis proporsi.

Analisis proporsi ditentukan dengan menggunakan Rumus dari Tan (1977), yaitu:

x 100%

Dimana :

Y = Proporsi pendapatan/ kontribusi pendapatan

(41)

A = Jumlah pendapatan usaha ternak sapi

B = Pendapatan rumahtangga peternak (Pendapatan Total Keluarga) i = 1,2,3,...n

Keterangan, dengan ketentuan apabila :

Kontribusi Pendapatan Usaha ternak sapi > 50% Kontribusinya besar Kontribusi Pendapatan Usaha ternak sapi < 50% Kontribusinya rendah

Pendapatan total keluarga petani diperoleh dengan menjumlahkan pendapatan usahatani dan pendapatan non usahatani baik yang berasal dari sektor pertanian maupun sektor non pertanian.

Menurut Soekartawi (1995), penerimaan dalam usahaternak merupakan perkalian antara produksi fisik dengan harga jual atau harga produksi. Sedangkan menurut Boediono (1998), penerimaan total (total revenue) adalah penerimaan produsen dari hasil penjualan output-nya. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

TR = Q x P Keterangan:

TR = Total Revenue (Penerimaan total) (Rp)

Q = Quantity (Jumlah produksi yang dihasilkan) (kg) P = price (Harga) (Rp)

Pengeluaran yang dikeluarkan oleh peternak dalam satu kali masa tanam terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan oleh peternak yang tidak tergantung pada besarnya output yang dihasilkan.Biaya variabel diartikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi

(42)

oleh output yang dihasilkan. Kedua biaya tersebut jika dijumlahkan akan menghasilkan biaya total.

Untuk menghitung seluruh biaya digunakan rumus : TC = FC + VC Dimana :

TC = Total cost (Total Biaya) (Rp) FC = Fixed Cost (Biaya Tetap) (Rp) VC = Variabel Cost (Biaya Variabel) (Rp)

Pendapatan bersih (keuntungan) peternak adalah selisih antara total penerimaan (TR) dengan total biaya yang dikeluarkan oleh peternak dalam satu kali masa tanam (TC). Untuk menghitung jumlah pendapatan peternak digunakan rumus :

π = TR –TC Dimana:

π = profit (Pendapatan ternak sapi potong) (Rp) TR = Total Revenue (Penerimaan Total) (Rp) TC = Total Cost (Total Biaya) (Rp)

Pendapatan peternak sapi potong dapat dilihat dari hasil produksi daging yang kemudian di jual sehingga menghasilkan keuntungan bersih.

Pendapatan peternak dinyatakan lebih besar apabila usahaternak yang dilakukan efisien, dalam artian penggunaan faktor produksi menggunakan biaya minimal untuk menghasilkan produksi sapi yang maksimal. Karena keberhasilan peternak tidak hanya diukur dari besarnya hasil produksi, akan tetapi juga dilihat dari besarnya biaya dalam proses proses selama produksi berlangsung. Hal ini

(43)

dikarenakan dalam proses produksi sangat menentukan pendapatan bersih peternak. Keuntungan merupakan insentif bagi peternak untuk melakukan proses produksi. Keuntungan inilah yang mengarahkan peternak untuk mengalokasikan sumberdaya ke proses produksi tertentu. Peternak bertujuan untuk memaksimumkan keuntungan dengan kendala yang dihadapi (Sunaryo, 2001).

Untuk tujuan ketiga, yaitu untuk mengetahui hambatan-hambatan teknis usaha ternak sapi dalam upaya peningkatan produktivitas dijelaskan secara deskriptif sesuai dengan keadaan yang ada di daerah penelitian.

3.5 Defenisi dan Batasan Oprasional

Untik memperjelas dan menghindari kesalahpahaman dalam penelitian ini, maka dibuat defenisi dan batasan operasional sebagai berikut :

3.5.1 Defenisi

1. Usaha ternak sapi adalah kegiatan membudidayakan sapi dengan mengerahkan tenaga dan pikiran untuk menghasilkan daging, susu dan kulit.

2. Produktivitas adalah merupakan suatu ukuran yang menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan di manfaatkan untuk mencapai hasil yang optimal.

3. Penerimaan adalah perkalian antara produksi fisik dengan harga jual atau harga produksi.

4. Harga adalah suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau barang lain untuk manfaat yang diperoleh dari suatu barang atau jasa.

5. Output adalah barang atau jasa yang dihasilkan dari suatu proses produksi.

(44)

6. Input adalah barang atau jasa yang digunakann sebagai masukan pada suatu proses produksi.

7. Hambatan adalah usaha yang berasal dari dalam dengan tujuan untuk melemahkan/menghalangi secara tidak konsepsional (tidak terarah).

8. Pendapatan usaha ternak sapi adalah selisih antara total penerimaan usaha ternak sapi dengan pengeluaran usaha ternak sapi (biaya variabel ditambah biaya tetap) dalam waktu tertentu.

9. Biaya variabel adalah biaya yang di keluarkan untuk membeli barang dan jasa yang digunakan dalam usaha ternak sapi. Besarnya dipengaruhi oleh jumlah sapi yang dipelihara dalam satu tahun dan habis dipakai selama satu tahun, seperti pakan, obat-obatan, perlengkapan dan tenaga kerja keluarga.

10. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang yang digunakan dalam usaha ternak sapi. Besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah sapi yang dipelihara dan tidak habis penggunaannya selama satu tahun, seperti penyusutan ternak, penyusutan peralatan dan penyusutan kandang.

11. Penyusutan adalah penurunan nilai iventaris yang disebabkan oleh pemakaian selama jangka waktu tertentu.

(45)

3.5.2 Batasan Oprasional

1. Derah penelitian adalah Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai.

2. Sampel adalah peternak yang melakukan usaha ternak sapi di Desa Lubuk Bayas dan penyuluh di desa penelitian.

3. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2017.

(46)

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL

4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian 4.1.1 Geografi dan Topografi

Desa Lubuk Bayas merupakan salah satu dari 24 Desa yang terletak di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Desa Lubuk Bayas terletak di dataran tinggi dengan ketinggian 5-15 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata berkisar 30ºC dengan curah hujan rata-rata berkisar 200 mm/tahun. Tanah di desa ini termasuk tanah jenis aluvial dengan tekstur umumnya lembung berpasir.

Desa Lubuk Bayas terletak di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai dengan luas wilayah 481 Ha, terletak 14 km dari Ibukota Kecamatan Perbaungan, ± 29 km dari Ibukota Kabupaten Serdang Bedagai dan ± 52 km dari Ibukota Propinsi Sumatera Utara.

Secara administrasi batas-batas wilayah sebagai berikut :

- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Naga Kisar, Pantai Cermin - Sebelah Selatan berbatasan dengan Tanjung Buluh

- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sei Buluh, Sei Mengkudu - Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tanah Merah, Lubuk Rotan.

4.1.2 Demografi

A. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Keadaan penduduk di Desa Lubuk Bayas menurut jenis kelamin dapat dilihat dari tabel 4.1 :

(47)

Tabel 4.1 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Lubuk Bayas Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai

No. Jenis Kelamin Jumlah

(Jiwa)

Persentase (%)

1 Laki-Laki 1.304 49,4

2 Perempuan 1.327 50,6

Jumlah 2.631 100,00 Sumber : Kantor Kepala Desa Lubuk Bayas 2016

Dari Tabel 4.1 dapat dijelaskan bahwa penduduk perempuan lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki yakni, perempuan sebanyak 1.327 jiwa dengan persentase 50,6 %, sedangkan laki-laki sebanyak 1.304 dengan persentase 49,4%. Jumlah penduduk Desa Lubuk Bayas berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Kepala Desa tahun 2016 ialah 2.631 jiwa.

B. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur

Jumlah penduduk di Desa Lubuk Bayas menurut kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 4.2 :

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur di Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai

No. Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. 0 – 4 277 12.05

2. 5 – 9 387 13,98

3. 10 – 14 240 7,92

4. 15 – 19 248 10,19

5. 20 – 24 242 9,58

6. 25 – 29 194 9,91

7. 30 – 34 185 7,20

8. 35 – 39 100 3,21

9. 40 – 44 177 6,82

10. 45 – 49 168 5,93

11. 50 – 54 132 4,41

12. 55 – 59 107 3,94

13. 60 – 64 70 2,55

14.

15.

65 – 69 70+

38 66

0,27 2,00 Jumlah 2631 100 Sumber : Badan Pusat Statistik 2016

(48)

Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa penduduk Desa Lubuk Bayas dengan kelompok umur usia 15- 59 tahun mempunyai jumlah paling banyak yaitu sebanyak 1553 jiwa (58,19%) , disusul dengan kelompok umur 0-14 tahun yaitu sebanyak 904 jiwa (37,85%), sedangkan kelompok umur > 60 tahun memiliki jumlah penduduk terkecil yaitu sebanyak 174 jiwa (4,82%).

4.1.3 Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana yang ada di Desa Lubuk Bayas cukup memadai sehingga mendukung berbagai aktifitas masyarakat di Desa Lubuk Bayas. Sarana dan Prasarana sangat menunjang pembanguanan masyarakat desa. Bila sarana dan prasarana baik maka pembangunan desa dan masyarakatnya akan semakin baik pula. Hal ini dapat dilihat dari jenis-jenis fasilitas umum yang telah tersedia baik fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, maupun fasilitas peribadatan. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah sarana dan prasarana yang ada di Desa Lubuk Bayas dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Sarana dan prasarana di desa Lubuk Bayas, 2016

No Fasilitas Sarana dan prasarana Jumlah bangunan

1 Pendidikan - SD

- SMP - SMA - MTS

1 - - 1 2 Kesehatan - Puskesmas pembantu

- Toko obat

- Tempat praktek bidan

1 1 1 3 Pribadatan - Masjid

- musholala - Pura - Greja - Wihara

3 6 - - - Sumber : data monografi desa peneltian, 2016

Tabel 4.3 menunjukkan ketersediaan sarana dan prasarana desa penelitian dibidang pendidikan, kesehatan, peribadatan, dan sosial cukup baik, akan tetapi

(49)

masih perlu dibenahi bidang pendidikan, dimana di desa ini telah tersedia fasilitas pendidikan seperti SD (Sekolah Dasar) dan MTS (Madrasah tsanawiyah) sedangkan SMA (Sekolah Menengah Atas) ada di ibukota Kecamatan dengan jarak tempuh biasanya berjalan kaki biasanya 1 jam atau menggunakan jasa angkutan yang ada di desa ini. Dengan cara demikian maka akan semakin meningkatkan minat anak desa ini untuk sekolah.

Di desa ini hanya memiliki satu unit puskesmas pembantu, satu unit Toko obat dan satu unit tempat Praktek Bidan, padahal pusat kesehatan masyarakat ini sangat diperlukan oleh masyarakat untuk berobat maupun untuk mendapatkan penyuluhan maupun informasi kesehatan. Sarana kesehatan masih kurang memadai, harapan masyarakat kepada pemerintah agar menyediakan fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang memadai supaya kesehatan masyarakat akan terjamin karena hal ini berkaitan dengan kualitas hidup penduduk desa tersebut.

Fasilitas peribadatan dan sosial keberadaannya cukup tersedia bagi masyarakat, namun perlu diperhatikan dalam pemakaiannya dimana mesjid sebagai tempat beribadah dan balai desa adalah tempat pertemuan bagi masyarakat jikalau ada rapat/perkumpulan masyarakat. Daerah ini telah dapat di capai dengan angkutan umum atau angkutan roda empat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa peternak tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh sarana produksi dan juga dalam hal penjualan hasil, karena sarana transportasi sudah cukup tersedia dengan baik.

4.2 Karakteristik Sampel

Peternak sampel yang dimaksud disini adalah seluruh peternak Sapi yang memiliki usahaternak Sapi dan menjualnya dalam bentuk Ekor yang berada di

(50)

Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai.

Karakteristik peternak sampel dalam penelitian ini terdiri dari umur peternak, tingkat pendidikan peternak, lama berusahaternak, luas lahan (kandang), jumlah tanggungan keluarga. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4 berikut : Tabel 4.4 Karakteristik peternak sampel di desa Lubuk Bayas tahun 2017

No Uraian Range Rataan

1 Umur (Tahun) 26-60 50,67

2 Tingkat pendidikan (Tahun) 6-12 20,33

3 Pengalaman berternak (Tahun) 2-15 12,15

4 Jumlah tanggungan (Jiwa) 1-4 5.00

5 Skala usaha (Ekor) 2-12 11,85

Sumber : data diolah dari lampiran 4

Dapat kita lihat dari tabel di atas bahwasannya umur peternak sampel memiliki rataan umur peternak sampel adalah 50,67 % dengan range 26-60 tahun, tingkat pendididkan 20,33 dengan range 6-12 tahun, pengalaman berternak 12,15 range 2- 15 tahun, jumlah tanggungan 5,00 dengan range 1-4 jiwa dan skla usaha 11,85 dengan range 2-12 ekor.

4.2.1 Umur Peternak Sampel

Dalam hal ini umur peternak merupakan salah satu faktor yang berkaitan langsung dengan kemampuan peternak dalam melaksanakan kegiatan usahaternaknya.

Semakin tua umur peternak maka kemampuan bekerjanya pun cenderung menurun, yang akhirnya dapat mempengaruhi produksi dan pendapatan yang diperoleh peternak itu sendiri. Hal ini dikarenakan pekerjaan sebagai peternak lebih banyak mengandalkan kondisi fisik dari peternak. Rata-rata keadaan umur peternak sampel di Desa Lubuk Byas ialah 47 tahun dengan interval umur antara

(51)

26-60 tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan umur peternak sampel dapat dilihat pada Tabel 4.5 :

Tabel 4.5 Keadaan umur peternak sampel di desa Lubuk Bayas, 2017 No Kelompok umur (Tahun) Jumlah (jiwa) Persentase (%)

1 26 – 35 1 5,0

2 36 – 45 8 40,0

3 46 – 55 9 45,0

4 >55 2 10,0

Jumlah 20 100,0

Sumber : data yang diolah dari lampiran 4

Dari Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa jumlah peternak sampel yang terbesar berada pada kelompok umur 46-55 tahun yaitu dengan jumlah peternak sebanyak 9 orang atau sekitar 45,0% dari jumlah peternak sampel. Artinya peternak sampel didaerah penelitian berada pada usia produktif yang masih berpotensi dalam mengoptimalkan usahataninya. Sedangkan jumlah terkecil berada pada kelompok 26-35 tahun yaitu dengan jumlah peternak sebanyak 1 orang atau sekitar 5,% dari jumlah peternak sampel.

4.2.2 Pendidikan Peternak Sampel

Pendidikan peternak sangat erat kaitannya dengan kemampuan peternak dalam mengadopsi teknologi baru yang dapat menunjang usahaternaknya yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan peternak. Pendidikan peternak yang semakin tinggi membuat peternak memiliki pendapatan yang semakin tinggi pula.

Untuk lebih jelas lagi mengenai tingkat pendidikan peternak sampel dapat dilihat pada Tabel 4.6 :

(52)

Tabel 4.6 Tingkat pendidikan peternak sampel di desa Lubuk Bayas, 2017 No Tingkat pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%)

1 SD 12 60,0

2 SMP 4 4,0

3 SMA 3 15,0

4 SLTA 1 5,0

Jumlah 20 100

Sumber : Data yang diolah di lampiran 4

Dari Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa sebagian besar peternak sampel memiliki tingkat pendidikan SD, yaitu sebanyak 12 orang peternak atau sekitar 60,0% dari total jumlah peternak sampel.

4.2.3 Jumlah Tanggungan Keluarga Peternak Sampel

Perbedaan jumlah tanggungan keluarga peternak sampel akan mempengaruhi jumlah penggunaan tenaga kerja dalam mengelola usahaternak keluarga yang nantinya dapat berdampak pada jumlah pendapatan yang diterima peternak. Semakin banyak jumlah anggota keluarga peternak dalam usia produktif maka pengelolaan usahatani peternak akan semakin mudah sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak. Klasifikasi jumlah tanggungan keluarga peternak sampel dapat dilihat pada Tabel 4.7 :

Tabel 4.7 Jumlah tanggungan peternak sampel di desa Lubuk Bayas, 2017 No Kelompok jumlah tanggungan Jumlah tanggungan Persentase (%)

1 1-2 16 80,0

2 3-4 4 20,0

Jumlah 20 100

Sumber : Data yang diolah di lampiran 4

Dari Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan keluarga peternak sampel terbesar di Desa Lubuk Bayas berada pada kelompok tanggungan 1-2 orang yaitu sebanyak 16 0rang atau sekitar 80,0 % dari jumlah tanggungan peternak sampel di Desa Lubuk Bayas. Sedangkan jumlah tanggungan peternak sampel pada kelompok 3-4 orang yaitu sebanyak 4 orang atau sekitar 20,0%.

Gambar

Gambar 1. Bagan Perangka Pemikiran Penelitian  Keterangan  :   : Menyatakan Hubungan  : Menyatakan Pengaruh Petani Peternak  Usaha Pertanian  Usaha Perikanan

Referensi

Dokumen terkait

Variabel yang diamati adalah Persepsi keluarga peternak (suami istri) terhadap peran perempuan dalam pengambilan keputusan pada usaha ternak sapi perah dan

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Penyebab lain yang menyebabkan kontribusi usaha ternak ayam buras terhadap pendapatan rumah tangga peternak ayam buras menjadi rendah yaitu karena rata-rata

Hasil analisis kolerasi antara skala usaha ternak sapi perah dengan pendapatan dan kontribusi pendapatan usaha ternak sapi perah memiliki nilai yang positif yaitu memiliki

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Sebagian besar peternak di Indonesia adalah anggota koperasi susu yang mendapat fasilitas pinjaman sarana produksi ternak sapi perah dan pakan konsentrat agar

Perkiraan analisis ekonomi pada usaha ternak ayam kampung KUB di peternak plasma, modal usaha akan kembali apabila peternak plasma mendapatkan keuntungan lebih

sebagian besar ternak sapi potong yang dipelihara oleh peternak masih dalam.. skala kecil, dengan lahan dan modal yang sangat terbatas