• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBELAJARAN TERPADU MODEL NESTED TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH PEMBELAJARAN TERPADU MODEL NESTED TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA"

Copied!
164
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBELAJARAN TERPADU MODEL NESTED TERHADAP HASIL BELAJAR

MATEMATIKA SISWA

(Studi Eksperimen di SDN Sukamulya 1 Tangerang)

Oleh:

DWI WAHYUNI NIM: 103017027230

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1429H/2009M

(2)

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN MUNAQASYAH

Skripsi berjudul: “ Pengaruh Pembelajaran Terpadu Model Nested Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa” diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam ujian munaqasyah, di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar sarjana SI (S.Pd) dalam bidang pendidikan Matematika.

Jakarta, Februari 2009

Panitia Ujian Munaqyah

Tanggal Tanda Tangan

Ketua Panitia (Ketua Jurusan Matematika)

Maifalinda Fatra, M.Pd ...

...

NIP. 150277129

Sekertaris Jurusan Matematika

Otong Suhyanto, M.Si ...

...

NIP.150293239 Penguji I

Dr. Kadir, M.Pd ...

...

NIP. 150265632 Penguji II

Drs. H. M. Ali Hamzah, M.Pd ...

...

NIP. 150210082

Mengetahui:

Dekan,

(3)

Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA NIP. 150231356

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH Yang bertandang tangan dibawah ini :

Nama : Dwi Wahyuni

Tempat/ Tgl. Lahir : Tangerang, 21 Nopember 1984

NIM : 103017027230

Jurusan : Pendidikan Matematika Angkatan Tahun : 2003/2004

Alamat : Jl. Raya Kresek Kp. Tegal Anyar Rt.05/01 Desa.

Sukamulya Kec. Sukamulya Kab. Tangerang-Banten Kode Pos 15610.

MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA

Bahwa skripsi yang berjudul ” Pengaruh Pembelajaran Terpadu Model Nested Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa” adalah benar hasil karya sendiri di bawah bimbingan Dosen:

1. Nama : Maifalinda Fatra, M.Pd

NIP : 150277129

Dosen Jurusan : Pendidikan Matematika

2. Nama : Drs. Mulyono, M.Pd

NIP : 131974444

Dosen Jurusan : Pendidikan Matematika

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap menerima segala konsekuensi apabila ternyata skripsi ini bukan hasil karya sendiri.

Jakarta, 12 Maret 2009 Yang menyatakan

(4)

Dwi Wahyuni

DEPARTEMEN AGAMA UIN JAKARTA

FITK

Jl.Ir. H. Juanda No.95 Ciputat 15412 Indonesia

FORM ( FR )

No. Dokumen : FITK-FR-AKD-098 Tgl.Terbit : 1 September 2008 No.Revisi : 00

Hal : 1/1

PENDAFTARAN PESERTA WISUDA

1. Nama : DWI WAHYUNI

2. Tempat, Tanggal Lahir : Tangerang, 21 Nopember 1984

3. NIM : 103017027230

4. Jurusan/Priod : Pendidikan Matematika/SI

5. Program : Reguler

6. Judul Skripsi : PENGARUH PEMBELAJARAN TERPADU MODEL NESTED TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA 7. Pembimbing : 1. Maifalinda Fatra, M.Pd

2. Drs. Mulyono, M.Pd

8. Penguji : 1. Dr. Kadir, M.Pd

2. Drs. H. M. Ali Hamzah, M.Pd 9. Tanggal Lulus : 3 Maret 2009

10. No Ijazah : ...

11. Indeks Prestasi/ Yudisium : 3,01

12. Alamat Asal : Jl. Raya Kresek Kp. Tegal Anyar Rt.05/01 Desa. Sukamulya Kec. Sukamulya Kab.

Tangerang-Banten Kode Pos 15610.

13. Alamat Sekarang : Jl. Raya Kresek Kp. Tegal Anyar Rt.05/01 Desa. Sukamulya Kec. Sukamulya Kab.

Tangerang-Banten Kode Pos 15610.

(5)

14. Nama Ayah : A. Suhandi. BA 15. Pendidikan Terakhir Ayah : Sarjana Muda 16. Pekerjaan Ayah : Pensiunan Guru

17. Nama Ibu : Siti Masithoh

18. Pendidikan Terakhir Ibu : SI

19. Pekerjaan Ibu : PNS

Jakarta, 11 Maret 2009 Calon Wisudawan/Wati

(DWI WAHYUNI)

(6)

ABSTRAK

Dwi Wahyuni. Pengaruh Pembelajaran Terpadu Model Nested Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Jakarta, Febuari 2009.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembelajaran terpadu menggunakan model nested dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Quasi eksperimen. Penelitian ini dilakukan di SDN Sukamulya 1 Tangerang . Instrumen yang diberikan berupa tes pilihan ganda sebanyak 30 soal. Teknik analisis data menggunakan Tes Lilifors untuk menguji normalitas data, Uji Fisher untuk menguji homogen. Dari pengujian disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran terpadu model nested lebih tinggi dari pada siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional. Dengan demikian pembelajaran terpadu model nested berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa.

(7)

ABSTRACT

Dwi Wahyuni. Pengaruh Pembelajaran Terpadu Model Nested Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negri Jakarta, Febuari 2009.

The problem in this research is the low result learns student mathematics in elementary school. One of the reason is mathematics study model in this time less optimize in develop student intellectual ability, caused by teacher domination in study process and teacher less give experience learns that have a meaning for student intellectual development. The solution for this problem, necessary canvassed a model other in mathematics study that make possible student in optimize the ability. Study model is inwrought study model. This study model copes to fuse matter with authentic condition exist in environment with optimizes study material use to be more concrete matter learns that submitted. Process learns to emphasized in student activity so that mobile student, creative, and erudition that got student is intact inwrought, one of them is Nested Model. The kind research is experiment research, consist of two class that is experiment class the study uses Nested Model and control class the study uses conventional method. Evaluation result that give by using posttest. Result difference posttest average value from experiment group 70,26 and control class average value 61,80. then Webbed model inwrought study very significant to be use in elementary school student in general class III especially, that is known t count 1,925 bigger than in t standard table significant = 0,05 and degree of freedom ( db) 50 as big as 1,675 so that inferential that is result average learn higher experiment class from average result learn control class.

Keyword: Nested Model, Study Model

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Yang Maha Kuasa atas segala daya dan upaya manusia, rahmat dan hidayah-Nya yang selalu tercurah pada hamba-hamba-Nya tak terkecuali pada penulis yang teraplikasikan dalam pikiran, energi dan kemampuan diri penulis sehingga penulis akhirnya dapat menyelesaikan pekerjaan yang sulit dan penuh dinamika yaitu penulisan skripsi yang merupakan tugas yang harus diselesaikan untuk meraih Strata Satu (SI) pada Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selama penulisan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang dialami. Namun, berkat kerja keras, do’a, dan kesungguhan hati serta dukungan dari berbagai pihak

untuk penyelesaian skripsi ini, semua dapat teratasi. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(9)

2. Ibu Maifalinda Fatra, M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Matematika sekaligus sebagai Dosen Pembimbing I yang penuh kesabaran dan keikhlasan dalam membimbing penulis selama penyususnan skripsi ini 3. Bpk Otong Suhyanto, M.Si, sebagai Sekretaris Jurusan Pendidikan Matematika sekaligus Dosen Pembimbing Akademik yang penuh kesabaran dan keikhlasan dalam membimbing penulis selama perkuliahan

4. Bpk. Drs. Mulyono, M.Pd, sebagai Dosen Pembimbing II yang penuh kesabaran dan keikhlasan dalam membimbing penulis selama penyusunan skripsi ini.

5. Seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan, semoga ilmu yang telah Bapak dan Ibu berikan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

6. Kepala Sekolah SDN Sukamulya I Bpk. Suhartono, S.Pd yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut, serta dewan guru khususnya Ibu Nining dan Ibu Aam, sebagai guru matematika kelas III yang telah membantu penulis melaksanakan penelitian ini.

7. Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan beserta Staf yang telah memberikan fasilatas berupa kemudahan dalam meminjam buku.

(10)

8. Teristimewa untuk kedua orang tuaku ayahanda A. Suhandi. BA dan ibunda Siti Masithoh. S.Pd yang telah memberikan dukungan secara moril dan materil. Ketulusan dengan penuh kasih sayang dan motivasi mereka, penulis dapat menuntut ilmu dan menyelesaikan skripsi seperti sekarang ini. Semoga Allah membalas kebaikan dan cinta yang mereka berikan kepada penulis. Adikku Mira dan Dilah (terimakasih atas do’a dan dukungannya selama ini), dan yang telah memberi support kepada penulis dan dengan canda tawa.Semoga Allah

memberikan balasan terindah.

9. Sahabat-sahabat tersayang; Trie, Fera, Naina, Chie, Uput sahabatan terbaik selama dikampus dari suka dan duka selalu mengiasi kita bersama (terimakasih atas kebersamaannya selama ini), Sahabat seperjuanganku: Popoh, Eva, Mimin, olan, Lukman, Hadi, Rafli.

Teman-teman Puri Bidadari: Teh Wiwi, Endah, Yuyun, Leli, Ika, Teh Fitri ,Dizah terima kasih atas doa, dukungan dan bantuan yang kalian berikan pada penulis. Terima kasih atas persahabatannya, keberadaan kalian menjadi inspirasi selama ini, menjalani segala rintangan menjadi mudah karena kalian semua.

10. Kepada yang tersayang Ebot yang selalu sabar dan setia menemani disaat suka maupun duka selama ini dan yang telah memberikan motivasi kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini (terimakasih atas do’a dan kebersamaannya selama ini).

(11)

11. Kepada teman-teman LA: Dadang, Nesa, Rohmah, Mahmudah, Amel, terutama Lut terimakasih atas Do’anya .

12. Kepada semua teman-teman Jurusan Pendidikan Matematika Angkatan 2003, kelas A dan B terutama , Dini, Ucha, Lia, Ani, Hesti, Nia terima kasih atas kebersamaannya, dukungan, bantuan dan motivasinya. Tiada hal terindah kecuali mengenang masa kita berjuang bersama di kampus.

Akhirnya, segala kebenaran hanya milik-Nya, semoga skripsi ini membawa manfaat bagi khalayak ramai dan akademisi dan senantiasa Allah membalas jasa kebaikan mereka di atas dengan balasan yang setimpal. Amin ya rabb al-‘Alamin.

Jakarta, Febuari 2009

Penulis

(12)

DAFTAR ISI

ABSTRAK i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR ix

DAFTAR LAMPIRAN x

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Identifikasi Masalah 5

C. Pembatasan Masalah 5

D. Perumusan Masalah 6

E. Tujuan Penelitian 6

F. Manfaat Penelitian 6

(13)

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A Deskripsi Teoritis 7

1. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar 7

2. Pengertian Pembelajaran Matematika 20

a. Pengertian Matematika 20

b. Pembelajaran Matematika 24

3. Pembelajaran Terpadu 27

a. Pengertian Pembelajaran Terpadu 27

b. Strategi Pembelajaran Terpadu 30

c.Karakteristik Pembelajarn Terpadu 32

d.Tujuan Pembelajaran Terpadu 33

e.Kemanfaatan Pembelajaran Terpadu 34

4. Model Nested (Tersarang) Dalam Pembelajaran Matematika...

.35

5. Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Model Nested (Tersarang)...

...37

(14)

6. Penelitian yang Relevan 39

B. Kerangka Berfikir 40

C. Pengujian Hipotesis 41

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Penelitian

...42 B. Tempat Dan Waktu Penelitian

42

C. Populasi dan Sampel 42

D. Metode Penelitian 43

E. Instrumen Penelitian 44

F. Teknik Pengumpulan Data 49

G. Teknik Analisis Data 50

H. Hipotesis Statistik 53

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data

54

B. Uji Persyaratan Analisis Data 59

a. Uji Normalitas 59

(15)

b. Uji Homogenitas 60

C. Pengujian Hipotesis 61

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

63 B. Saran 63

DAFTAR PUSTAKA 65

LAMPIRAN-LAMPIRAN 66

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Unsur-unsur Keterampilan berfikir, Keterampilan Sosial,

dan Keterampilan Mengorganisir 40

Tabel 2 : Desain Penelitian 43

Tabel 3 : Kisi-kisi Instrumen 45

Tabel 4 : Tingkat Kesukaran 48

Tabel 5 : Klasifikasi Daya Beda 49

Tabel 6 : Distribusi Frekuensi Nilai Tes Siswa Kelas Eksperimen 55

Tabel 7 : Distribusi Frekuensi Nilai Tes Siswa Kelas Kontrol 57

(16)

Tabel 8 : Statistik Deskritif Hasil Belajar Matematika Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

59

Tabel 9 : Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 60

Tabel 10 : Uji Homogenitas 61

Tabel 11 : Uji-t 61

Tabel 12 : Nilai Posttes 124

Tabel 13 : Uji Validitas Butir Soal Hasil Uji Coba Validitas 125

Tabel 14 : Hasil Uji Coba Validitas 126

Tabel 15 : Uji Reliabilitas Butir Soal 128

Tabel 16 : Indek Kesukaran Tes 129

Tabel 17 : Daya Beda Soal 136

Tabel 18 : Distribusi Frekuensi Nilai Tes Kelas Eksperimen 140

Tabel 19 : Distribusi Frekuensi Nilai Tes Kelas Kontrol 143

Tabel 20 : Uji Normalitas Kelompok Eksperimen 145

Tabel 21 : Uji Normalitas Kelompok Kontrol 143

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Model Nested Mata Pelajaran Matematika 37

Gambar 2 : Desain Pembelajaran Terpadu Model Nested 38

Gambar 3 : Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi

Hasil Belajar Matematika Kelas Eksperimen 52 Gambar 4 : Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi

Hasil Belajar Matematika Kelompok Kontrol 53

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : RPP Kelas Ekperimen 67

Lampiran 2 : RPP Kelas Kontrol 91

Lampiran 3 : Uji Coba Soal Matematika 116

Lampiran 4 : Kunci Jawaban Tes Uji Coba 122

Lampiran 5 : Nilai Posttes 123

Lampiran 6 : Uji Validitas Butir Soal 124

Lampiran 7 : Hasil Uji Coba Validitas 125

Lampiran 8 : Uji Reliabilitas Butir Soal 126

Lampiran 9 : Tabel Indeks Kesukaran Tes 128

Lampiran 10 : Daya Beda Soal 129

Lampiran 11 : Soal Tes Matematika 130

Lampiran 12 : Distribusi Frekuensi Nilai Tes Kelas Eksperimen 135 Lampiran 13 : Distribusi Frekuensi Nilai Tes Kelas Kontrol

139

(19)

Lampiran 14 : Uji Normalitas Kelompok Eksperimen 143

Lampiran 15 : Uji Normalitas Kelompok Kontrol 145

Lampiran 16 : Uji Homogenitas 147

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejalan dengan pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, matematika makin diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Tetapi pada umumnya banyak orang yang beropini bahwa matematika merupakan pelajaran yang cukup berat, melihat kenyataan siswa yang kurang minat terhadap matematika, sehingga nilai mata pelajaran matematika masih menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan. Dikarenakan siswa menganggap pelajaran matematika sebagai pelajaran yang membosankan dan menakutkan. Dalam Forum Trends Of International Mathematic and Science

(20)

Studies (TIMSS) tahun 2003 menempatkan indonesia pada posisi ke-34 dalam bidang matematika dari 45 negara yang disurvei, artinya prestasi pelajar Indonesia lebih rendah di bidang matematika.1 Dalam hal ini peran guru sangatlah penting terutama dalam proses belajar mengajar di sekolah guru harus mengarah kepada kesulitan belajar siswa, guru harus dapat memotivasi anak untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar mengajar, karena guru sebagai tenaga pengajar yang secara langsung melaksanakan proses pendidikan. Dalam UU RI No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 yang menjelaskan:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan Suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara2.

Oleh karena itu guru mempunyai peranan penting yang sangat besar dalam proses belajar mengajar, yang merupakan ujung tombak guna tercapainya keberhasilan siswa. Kemampuan guru dalam memberikan materi pelajaran sangat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam menguasai pelajaran. Maka guru matematika perlu memahami dengan mengembangkan berbagai model dan keterampilan dalam pengajaran siswa.

Pendidikan adalah upaya manusia secara sadar yang tujuannya bersifat ganda yaitu mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia.

Oleh karena itu pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Melalui pendidikan manusia memperoleh ilmu pemgetahuan yang dapat dijadikan tuntutan dalam hidupnya, dan dengan ilmu pengetahuan manusia dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sebagai sabda Nabi Saw:

1www.kompas.com,/kompas-cetak/0603/13/jabar/418.htm

2UU Tentang Sisdiknas 2003 ( Bandung : Citra UMbara, 2003) h,3.

(21)

درا ﻦﻣ ﺎﯿﻧﺪﻟا ﮫﯿﻠﻌﻓ ﻢﻠﻌﻟﺎﺑ ﻦﻣو دارا ةﺮﺧﻻا ﮫﯿﻠﻌﻓ ﻢﻠﻌﻟﺎﺑ ﻦﻣو دارا ﺎﻤھ ﮫﯿﻠﻌﻓ ﻢﻠﻌﻟﺎﺑ

Artinya :

“ Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia, hendaknya ia memilikim ilmu. Dan Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di akherat, hendaknya ia memiliki ilmu. Dan barang siapa menghendaki kedua-duanya, maka ia pun harus berilmu”.

.

Di sekolah dasar terdapat berbagai bidang studi yang harus dikuasai siswa, salah satunya adalah matematika. Pendidikan matematika pada tingkat SD, memegang peranan penting bagi penguasaan materi matematika pada jenjang berikutnya, karena apabila kemampuan dasar matematikanya tidak kuat akan terus terbawa hingga jenjang berikutnya. Adapun tujuan umum pemberian mata pelajaran matematika dari tingkat SD sampai tingkat perguruan tinggi menurut R.Soedjadi yaitu:3

a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemilihan secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif

b. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

Sesuai dengan teori perkembangan intelektual piaget, anak-anak pada tingkat sekolah dasar (SD) berada pada periode operasi konkrit, anak telah dapat mengetahui simbol-simbol matematis, tapi belum dapat menghadapi

3R.soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan, (Jakarta: Depdijknas, 2000), h. 43.

(22)

hal-hal yang abstrak.4 Selama usia SD, tahap berfikir anak tentang matematika masih berdasarkan pada benda-benda konkrit dan situasi nyata.

Anak SD pada kelas rendah belajar matematika dengan berfikir informal, meraba, dan menduga-duga. Sedangkan anak SD pada kelas yang lebih tinggi memiliki kemampuan untuk bernalar lebih abstrak, tetapi masih bergantung pada penyajian konkrit dari matematika yang dipelajarinya. Di sisi lain guru cenderung mengajarkan matematika secara simbolis atau abstrak sehingga bertentangan dengan kemampuan kognitif anak. Oleh karena itu, ketika seorang guru kurang menguasai metode pembelajaran yang tepat, hal tersebut dapat menimbulkan kesulitan siswa dalam mengerti dan memahami materi pembelajaran, yang nanti pada akhirnya akan menimbulkan kejenuhan bagi siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, dominasi guru dalam melaksankan proses pembelajaran yang kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya sehingga guru membuat siswa menjadi pasif.

Akibat lain dari pembelajaran yang berpusat kepada guru adalah siswa diperlakukan seperti mesin yang harus menyerap semua informasi.

Sedangkan pada hakekatnya siswa berkembang secara universal. Dan perkembangan suatu aspek tidak dapat dipisahkan dari aspek lainnya.

Perkembangan tersebut meliputi perkembangan, kognitif, fisik, emosi dan sosial. Seharusnya guru menyadari perkembangan tersebut dan dapat menggunakannya untuk mempermudah proses belajar mengajar. Oleh karena itu untuk menerapkan matematika agar dapat disenangi dan diminati oleh anak-anak usia SD, memerlukan berbagai macam cara penyampaian baik metode maupun alat-alat peraganya. Untuk dapat menyelesaikan perkembangan kemampuan dasar secara optimal, diperlukan kreativitas guru untuk memilih alternatif model pembelajaran yang menekan pada aktivitas dan kreativitas anak, sehingga proses belajar mengajar lebih efektif. Salah satu model pembelajaran yang memperhatikan karakteristik anak serta menekankan pada aktivitas dan kreatifitas anak adalah pembelajaran terpadu,

4Wasty Soemanto,Pisikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), h. 133

(23)

melalui pembelajaran terpadu, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh (holistic), bermakna, otentik dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif.

Model pembelajaran terpadu yaitu pembelajaran yang berupaya untuk memadukan materi atau keterampilan belajar dengan keadaan otentik yang ada dilingkungan serta mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran untuk lebih mengkongkritkan materi belajar yang disampaikan. Proses pembelajaran terpadu menekankan pada aktivitas siswa sehingga siswa aktif, kreatif, dan pengetahuan yang diperoleh siswa menjadi utuh terpadu.

Landasan teoritik pembelajaran terpadu adalah teori Konstruktivisme yang dikembangkan berdasarkan ide dan hasil kerja secara terpisah oleh Jean Piaget (ahli Biologi Perancis yang mendalami Psikologi) dan Lev Vygotsky (ahli Psikologi Rusia) yang keduanya tertarik pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Prinsip Konstruktivisme menyatakan bahwa “ aktivitas harus selalu mendahului analisis”.5 Dengan kata lain, pengalaman dan refleksi terhadap pengalaman merupakan kunci untuk belajar bermakna, bukannya pengalaman orang lain yang diabstraksikan dan dikumpulkan dalam bentuk buku teks, tetapi pengalaman langsung dengan dirinya sendiri.

Analisis, atau pemikiran reflektif, kemudian harus mengikuti pengalaman itu.

Salah satu diantara pembelajaran terpadu adalah model Nested.

Tujuan model pembelajaran ini antara lain agar dapat menyusun program pengajaran yang dapat membangkitkan keterampilan siswa dalam berfikir dan memotivasi siswa agar mereka belajar dengan antusias dan merasa ikut ambil bagian serta berperan secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Dengan demikin penghayatan siswa terhadap matematika lebih mantap dan

5Analisis dan Teori

http://118.98.216.59/subdom/modul/bahan/sd_tematik_2008/analisis.htm

(24)

siswa lebih menyenangi matematika. Berdasarkan permasalahan diatas maka peneliti ini diarahkan pada prosedur “ PENGARUH PEMBELAJARAN TERPADU MODEL NESTED TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA” .

B. Identifikasi Masalah

1. Bagaimanakah penerapan pembelajaran terpadu dengan menggunakan model nested?

2. Apakah penerapan pembelajaran terpadu model nested mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatkan hasil belajar siswa?

3. Apakah penerapan pembelajaran terpadu dengan menggunakan model Nested dapat meningkatkan aspek kemampuan dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika?

C. Pembatasan Masalah

Agar memudahkan penulis dalam menyusun skripsi dan tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda, maka penulis membatasi permasalahan ini sebagai berikut:

1. Penelitian dilakukakan pada siswa kelas III SDN Sukamulya I Tangerang Tahun ajaran 2007/2008 dengan pokok bahasan Sudut 2. Penulis menganalisis dan membahas mengenai pembelajaran terpadu model nested dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa

3. Hasil belajar matematika siswa dibatasi hanya pada aspek kognitif yang diambil dari instrument penelitian yang dibuat oleh penulis setelah siswa diberikan pembelajaran terpadu dengan model nested.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian-uraian yang tertuang dalam pembatasan masalah maka perumusan masalahnya adalah : “Apakah penerapan

(25)

pembelajaran terpadu model nested berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa?”.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pentingnya pembelajaran terpadu model nested dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dengan fokus utama pada pendidikan matematika.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan praktis dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Manfaat lain dari hasil penelitian ini diharapkan dapat:

1. Memberikan alternatif kepada guru dalam mengajar pembelajaran matematika

2. Memberikan manfaat untuk sekolah yang diteliti agar dapat memberikan wacana baru tentang pembelajaran matematika yang diinginkan para siswanya.

3. Memberikan motivasi bagi siswa untuk lebih berminat dan antusias dalam belajar matematik

BAB II

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskrifsi Teoritis

1. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar

(26)

Dalam pengertian Belajar ini banyak para ahli berpendapat diantaranya adalah: Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dan interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai: “ Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.6

Belajar menurut Good dan Brophy dalam buku Education Psychologi: A Realistic Approach mengemukakan arti belajar yaitu Learning is the development of new associations as a result of experience.

Dari definisi yang dikemukakannya itu selanjutnya menjelaskan bahwa belajar itu suatu proses yang benar-benar bersifat internal. Belajar tidak dapat dilihat dengan nyata; proses itu terjadi dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud denagn belajar menurut Good dan Brophy bukan tingkah laku yang tampak, tetapi terutama adalah prosesnya yang terjadi secara internal di dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan-hubungan baru.7

Belajar menurut Muhibin Syah mengutip pendapat Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan, yaitu:

1) Rumusan pertama berbunyi: belajar adalah perolehan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman.

2) Rumusan kedua berbunyi: belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.8

Disamping pendapat-pendapat tersebut, ada beberapa definisi tentang belajar, antara lain dapat diuraikan sebgai berikut:

6Slameto, Belajar Dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya , ( Jakarta: Rineka Cipta, 1995)h.2

7Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2002).

Cet. Ket-19, h.85.

8Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Jakarta: Remaja Rosda Karya, 2004), Cet ke-9, h. 90.

(27)

a. Cronbach memberikan definisi: “Learning is show by a change in behavior as a result of experience”

b. Harold spears memberikan batasan: “learning is to observe, to read, to imitate, to try something them selves, to listen, to follow direction”

c. Geoch, mengatakan: learning is a change in performance as a result of practice

Dari ketiga definisi diatas, maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkai kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan dan lain sebagainya.9

Dengan belajar seseorang akan mengalami dan mendalami suatu perubahan yang akan menimbulkan respon-respon tertentu belajar akan lebih berhasil apabila merupakan pengalaman yang menyenangkan siswa dalam belajar sehingga mampu mengembangkan cara berfikirnya.

Menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahawa: ”Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.10

Dalam pandangan psikologis secara umum mendefinisikan belajar merupakan proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dan interaksi dengan lingkungannya. Sejalan dengan itu Reber membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah The process of acquiring knowledge, yakni proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar adalah A relative permanent change ini respons potensiality which occurs as a result of reinforced

9Sardiman AM., Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, ( Jakarta : PT Raja Grapindo: 2007)h.20

10Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan,... h.84.

(28)

practise, yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.11

Belajar menurut psikologi gestalt dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Dalam belajar faktor pemahaman atau pengertian (insight) merupakan faktor yang penting. Dengan belajar dapat memahami/mengerti hubungan antara pengetahuan dan pengalaman.

2. Dalam belajar pribadi atau organisme memegang peranan yang paling sentral. Belajar tidak hanya dilakukan secara reaktif-mekanistis belaka, tetapi dilakukan dengan sadar, bermotif dan bertujuan.12

Dari pendapat tersebut, belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan-latihan yang dilakukan berulang dan pengalaman yang sifatnya relatif menetap, bukan bersifat sementara atau tiba-tiba terjadi kemudian cepat hilang kembali.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam yaitu:

1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.

2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.

3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi- materi pelajaran.13

Dari beberapa pengertian belajar di atas dapat disimpulkan bahwa Belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman yang membedakan antara keadaan sebelum individu berada dalam situasi

11Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan..., h. 91.

12Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan,... h.101.

13Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan... , h. 132.

(29)

belajar dan sesudah melakukan belajar, dan perubahan itu dilakukan lewat kegiatan atau peraktek yang disengaja. Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar. Ada 6 ciri dari belajar yang mengandung pemahaman, yaitu:

a. Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar

b. Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu c. Pemahaman tergantung pada pengaturan situasi

d. Pemahaman didahului oleh usaha coba-coba e. Belajar dengan pemahaman dapat diulangi

f. Suatu pemahaman dapat diaplikasikan bagi pamahaman situasi lain.

Manusia sebagai mahluk yang dikaruniai akal dan pikiran sudah seharusnya mampu membaca, memperhatikan, memikirkan, dan mempelajari kejadian-kejadian yang terjadi dilingkungan alam sekitarnya baik lingkungan alam yang berupa fisik maupun lingkungan alam yang bersifat sosial. Dengan mempelajari alam semesta ini manusia akan semakin yakin tentang adanya allah SWT, dan dapat mengambil pelajaran atau hikmah yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Mengenai kewajiban untuk membaca atau belajar seiring dengan firman Allah yang berbunyi:

ا

(30)

Artinya: “ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (QS.

Al-Alaq:1-2)”14

Dalam ayat Al-Qur’an di atas kata “ Iqra” yang berarti “ Bacalah “ merupakan kalimat perintah sehingga membaca atau belajar merupakan kewajiban. Dengan mempelajari proses kejadian alam dan dirinya (manusia), manusia dapat bertambah keimanan dan keyakinannya terhadap Allah SWT, dan menyadari betapa besar kekuasaan Allah yang telah menciptakan alam semesta yang begitu besar, dan kuasa menciptakan manusia dari segumpal darah.

Menurut teori konstruktivisme, fokus utama dalam pembelajaran matematika adalah memberdayakan siswa untuk berpikir mengkonstruksi pengetahuan matematika yang pernah ditemukan oleh ahli-ahli

sebelumnya.

Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama dalam Martinis dengan ide utamanya sebagai berikut:

1. Pengetahuan tidak diberikan dalam bentuk jadi (final), tetapi siswa membentuk pengerahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya, melalui proses asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi adalah penyerapan informasi baru ke dalam pikiran.

Akomodasi adalah penyusunan kembali (modifikasi) struktur kognitif karena adanya informasi baru, sehingga informasi itu mempunyai tempat.

2. Agar pengetahuan diperoleh, siswa harus beradaptasi dengan linkungannya. Adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Andaikan dengan proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkunganya, terjadilah ketidaksetimbangan. Akibatnya

14Wahyudi, CHA Dwi Retna Damayanti, Program Pendidikan Untuk Anak Usia Dini Di Prasekolah Islam, (Jakarta: PT Grasindo, 2005), h. 50

(31)

terjadilah akomodasi dan struktur yang ada mengalami perubahan atau struktur baru timbul.

3. Andaikan dengan proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya, terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium). Akibatnya terjadilah akomodasi, dan struktur yang ada mengalami perubahan atau struktur baru timbul.

4. Pertumbuhan intelektual merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang.

Tetapi bila terjadi kembali kesetimbangan, maka individu itu berada pada tingkat intelektual yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan intelektual anak dipengeruhi oleh faktor sosial. Lingkungan sosial dan pembelajaran secara natural mempengaruhi perkembangan anak dalam meningkatkan kekomplekan dan kesistematikan kognitif.15

Menurut Wheatley dalam jurnal Hamzah, dua prinsip utama dalam pembelajaran konstruktivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa.

Kedua, fungsi kognitif bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.16

Secara umum menurut Horsley (1990: 59) dalam Martinis mengutarakan bahwa pembelajaran dengan teori konstruktivisme meliputi empat tahapan:

1) Tahap apersepsi, ini berguna untuk mengungkapkan konsepsi awal siswa dan membangkitkan motivasi belajar

2) Tahap eksplorasi

3) Tahap diskusi dan penjelasan konsep

15Martinis Yamin dan Bansu I. Ansari, Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa, (Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2008), Cet ke-1, h. 91.

16 Hamzah, “Pembelajaran Matematika Menurut Teori Belajar Konstruktivisme”dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, No. 040, Tahun ke-8, November 2002. h. 67

(32)

4) Tahap pengembangan dan aplikasi konsep.

Konstruktivisme merupakan pembelajaran yang berfokus pada bagaimana siswa dapat memahami konsep tentang materi yang diajarkan.

Dimana siswa dapat membangun sendiri pemahamannya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata, tentunya dengan prosedur di atas.

Menurut Fensham (1994:5) penganut kontuktivisme memiliki pandangan tentang belajar bahwa orang membangun makna tentang hal- hal yang dialami atau diceritakan secara aktif oleh diri mereka sendiri.

Makna yang dibangun bergantung pada pengetahuan yang sudah ada pada diri seseorang. Oleh karena pengalaman dan hasil bacaan perorangan berbeda-beda maka hasil pemaknaan juga boleh jadi menjadi amat berbeda.17

Berpijak pada uraian di atas, maka pada dasarnya aliran kontruksivisme menghendaki bahwa pengetahuan dibentuk sendiri oleh individu dan pengalaman merupakan kunci utama dari belajar bermakna.

Belajar bermakna tidak akan terwujud hanya dengan mendengarkan ceramah atau membaca buku tentang pengalaman orang lain.

Prinsip-prinsip yang sering diambil dari kontruktivisme menurut suparno (1997:73), antara lain:

a. Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif, b. Tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa, c. Mengajar adalah membantu siswa belajar,

d. Tekanan dalam proses belajar lebih pada bukan pada hasil akhir,

e. Kurikulum menekankan menekankan partisipasi siswa, dan f. Guru sebagai fasilitator.18

Akhir-akhir ini para ahli mengembangkan berbagai model pembelajaran yang dilandasi pandangan konstruktivisme dari Piaget.

17Nuryani Y. Rustaman Dkk, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: Universitas Negri Malang, 2005), Cet.I, h. 171.

18Trianto, Model Pembelajaran Terpadu,...h. 29.

(33)

pandangan ini berpendapat bahwa dalam proses belajar anak membangun pengetahuannya sendiri dan memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (Dahar, 1989:160). Oleh karena itu setiap siswa akan membawa konsepsi awal mereka yang diperoleh selam berinteraksi dengan lingkungan dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat beberapa hal yang perlu ditekankan dalam konstruktivisme, yaitu : (1) peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna; (2) pentingnya membuat kaitan antar gagasan oleh siswa mengkonstruksi pengetahuan;

(3) mengaitkan antara gagasan siswa dengan informasi baru di kelas (Tasker, 1992: 30). Konstruktivisme yang menggunakan kegiatan hands- on serta memberikan kesempatan yang luas untuk melakukan dialog dengan guru dan teman-temannya akan dapat meningkatkan pengembangan konsep dan keterampilan berpikir para siswa.

Teori pembelajaran kontruktivisme merupakan teori pembelajaran kognitif yang baru dalam psikologi pendidikan yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide.19

Konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan akan terbentuk atau terbangun di dalam pikiran siswa sendiri ketika ia berupaya untuk mengorganisasikan pengalaman barunya berdasar pada kerangka kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya, sebagaimana dinyatakan Bodner (1986:873): “… knowledge is constructed as the learner strives to organize his or her experience in terms of preexisting mental structures”.

Dengan demikian, belajar matematika merupakan proses memperoleh pengetahuan yang diciptakan atau dilakukan oleh siswa sendiri melalui transformasi pengalaman individu siswa. Di samping itu, pentingnya

19Trianto, Model Pembelajaran Terpadu,...h. 26

(34)

kemampuan memecahkan masalah, terutama di saat para siswa sudah bekerja atau di saat mempelajari materi lain, akan menuntut adanya perubahan proses pembelajaran di kelas-kelas, termasuk di Sekolah Dasar di seluruh Indonesia.

Berdasarkan penjelasan dan contoh di atas, implikasi konstruktivisme pada pembelajaran di antaranya adalah:

1. Usaha keras seorang guru dalam mengajar tidak mesti diikuti dengan hasil yang bagus pada siswanya. Setiap siswa SD harus mengkonstruksi (membangun) pengetahuan matematika di dalam benaknya masing-masing berdasar pada kerangka kognitif yang sudah ada di dalam benaknya.

2. Tugas setiap guru adalah memfasilitasi siswanya, sehingga pengetahuan matematika dibangun atau dikonstruksi para siswa sendiri dan bukan ditanamkan oleh para guru. Para siswa harus dapat secara aktif mengasimilasikan dan mengakomodasi pengalaman baru ke dalam kerangka kognitifnya. Karenanya, pembelajaran matematika akan menjadi lebih efektif bila guru membantu siswa menemukan dan memecahkan masalah dengan menerapkan pembelajaran bermakna

3. Untuk mengajar dengan baik, guru harus memahami model-model mental yang digunakan para siswa untuk mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkan dan yang dibuat para siswa untuk mendukung model-model itu. Karenanya, para guru harus mau bertanya dan mau mengamati pekerjaan siswanya. Setiap kesalahan siswa harus menjadi umpan balik dalam proses penyempurnaan rancangan proses pembelajaran berikutnya.

4. Pada konstruktivisme, siswa perlu mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri untuk masing-masing konsep matematika sehingga peranan guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”, menerangkan atau upaya-upaya sejenis untuk memindahkan pengetahuan matematika pada siswa tetapi menciptakan situasi

(35)

bagi siswa yang membantu perkembangan mereka membuat konstruksi-kontruksi mental yang diperlukan. Pada akhirnya mudah-mudahan tulisan ini akan lebih menjelaskan dan dapat meyakinkan para guru, akan perlunya perubahan ini.

Esensi dari teori kontruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentansformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Landasan berfikir kontruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektifitas, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan kontruktivisme, strategi memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:

1) Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa;

2) Memberi kesempatan siswa menemukan menerapkan idenya sendiri; dan

3) Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.20

Setiap model, strategi atau metode pendidikan memiliki keurangan dan kelebihan masing-masing. Adakalanya cocok menggunakan metode yang satu dan tidak cocok dengan metode lainnya. Berikut ini akan dijelaskan kelebihan dari metode konstruktivisme, diantaranya:

1. Pembelajaran melekat dalam lingkungan belajar yang komplek, realistis, dan relevan.

2. Menyediakan negosiasi sosial, dan tanggungjawab bersama sebagai bagian dari pembelajaran.

3. Mendukung pandangan beragam dan menggunakan representasi yang juga beragam terhadap isi yang dipelajari.

20Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: CV Alfabet, 2006), Cet.

4, h. 88

(36)

4. Meningkatkan kesadaran diri dan pengertian bahwa pengetahuan itu dibangun.

5. Mendorong kesadaran dalam pembelajaran.

Kekurangan dari metode konstruktivisme adalah sebagai berikut:21 1) Sulit mengubah keyakinan guru yang sudah bertahun-tahun

menggunakan pendekatan tradisional.

2) Guru konstruktivis dituntut lebih kreatif dalam merencanakan pembelajaran dan memilih menggunakan media.

3) Pendekatan konstruktifis menuntut perubahan siswa evaluasi, yang mungkin belum bisa diterima oleh otoritas pendidik dalam waktu dekat.

4) Fleksibilitas kurikulum mungkin masih sulit diterima oleh guru yang terbiasa dengan kurikulm terkontrol.

5) Siswa dan orang tua mungkin memerlukan waktu beradaptasi dengan proses belajar dan mengajar yang baru.

Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan

psikomotorik. Hasil belajar merupakan tolak ukur berhasil atau tidaknya seorang subyek didik dalam menyelesaikan program belajar yang dibebankan kepada siswa, sehingga terlihat adanya perubahan tingkah laku secara keseluruhan.

Dalam hal ini penentu baik atau tidaknya hasil belajar siswa adalah siswa itu sendiri, karena siswalah yang bertanggung jawab terhadap komitmen dirinya menjalani proses belajar dari gurunya, hasil belajar dapat diukur melalui tes dalam bentuk nilai atau diamati dengan jalan membandingkan sebelum dan sesudah belajar.

21Guru, Pembelajaran Konstruktivistik,

http://www.whandi.net/?pilih=new&aksi=lihat&id=66, hal 4, 13 April 2007.

(37)

Ada empat unsur utama dalam proses pembelajaran, yaitu tujuan, bahan, metode, dan alat serta penilaian. Tujuan sebagai arah dari proses pembelajaran pada hakikatnya adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya. Bahan adalah seperangkat pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dari kurikulum untuk disampaikan atau dibahas dalam proses pembelajaran agar sampai pada tujuan yang ditetapkan. Metode dan alat adalah cara atau teknik yang digunakan untuk mencapai tujuan. Sedangkan penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak.

Untuk mengatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan yang berbeda sejalan dengan filsafatnya. Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khususnya dapat tercapai.22Hasil belajar adalah tingkah laku yang dimiliki individu sebagai akibat dari belajar yang ditempuh.

Menurut Benyamin Bloom seperti yang dikutip Nana sudjana obyek penilaian hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah, yaitu:

a. Ranah Kognitif b. Ranah Afektif

c. Ranah Psikomotorik.23

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, sintesis, dan evaluasi. Ranah kognitif ini yang banyak dipakai guru di sekolah untuk menilai kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pelajaran. Sedangkan ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian

22Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Cet Ke-2, h. 105.

23Nana Sujana, Penilaian Hasil Proses…,h.22-23

(38)

organisasi, dan intelegensi. Dan ranah psikomotorik berekanaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak, ada enam aspek ranah psikomotorik yaitu gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan atau ketetapan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif. Proses pengajaran di sekolah, diarahkan untuk memperoleh tiga aspek tersebut, namun demikian penilaian lebih tampak pada ranah kognitif, hal ini dikarnakan kegiatan yang berkaitan dengan ranah kognitif lebih mudah diukur. Untuk memulai hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar maka perlu dilakukan suatu kegiatan evaluasi.

Kegiatan ini dapat dilihat dan diukur melalui alat evaluasi berupa tes.

Hasil belajar adalah nilai hasil pengajaran yang telah diberikan oleh guru kepada siswa dalam jangka waktu tertentu.

Menurut Syaiful Djamarah ketercapaian hasil belajar dapat dikategorikan menjadi beberapa kriteria, yaitu:

1) Istimewa/maksimal, apabila seluruh (100%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.

2) Baik sekali/optimal, apabila sebagian besar (76%-99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.

3) Baik/minimal, apabila hanya 60%-75% bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.24

Hasil belajar merupakan tingkah laku yang dimiliki individu sebagai akibat dari proses belajar yang ditempuh. Hasil belajar yang dimaksud perkembangan sikap dan kepribadian siswa yang sekaligus menjadi tuntunan pengajaran yang ingin dicapai pada pokok bahasan bidang studi tertentu yang sering dikaitkan dengan aspek kognitif, afektif, dan aspek psikomotorik.

Hasil belajar matematika di tingkat sekolah dasar dan menengah umumnya dinyatakan dengan nilai (angka), sehingga siswa yang belajar matematika akan mempunyai kemampuan baru tentang

24Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, Strategi Belajar...,h.107.

(39)

matematika sebagai tambahan dari kemampuan yang telah ada. Hasil belajar matematika adalah tolak ukur keberhasilan yang dicapai siswa dalam belajar matematika dengan tujuan kognitif, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Sebelum seorang guru menilai hasil belajar siswa dalam penguasaan terhadap mata pelajaran yang ditekuninya, guru tersebut sebaiknya mengukur hasil belajar siswa dalam penguasaan pelajaran tersebut. Kegiatan pengukuran hasil belajar siswa dapat dilakukan antara lain melalui ulangan, ujian, tugas, dan sebagainya.

2. Pengertian Pembelajaran Matematika

Sebelum membahas pengertian pembelajaran matematika akan dibahas terlebih dahulu pengertian matematika.

a. Pengertian Matematika

Pendapat mengenai istilah matematika diantaranya, Matematika adalah mamiliki bahasa dan aturan yang terdefinisi dengan baik, penalaran yang jelas dan sistematis, dan struktur atau keterkaitan antara konsep yang kuat. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang berharga atas dasar asumsi (kebenaran konsistensi). Selain itu matematika juga bekerja melalui penalaran induktif yang didasarkan fakta dan gejala yang muncul untuk sampai pada perkiraan tertentu tetapi perkiraan ini, tetap harus dibuktikan secara deduktif, dengan argument yang konsisten.

Menurut Ruseffendi ET bahwa matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses penalaran pada tahap awal matematika terbentuk dari pengalaman manusia dari dunia secara empiris, karena matematika sebagai aktifitas manusia kemudian pengalaman itu diproses dunia rasio diolah secara analisis dan sintesis didalam struktur kognitif, sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep matematika, agar konsep-konsep itu dipahami oleh orang-orang dan dapat dengan mudah dimanipulasi

(40)

7

secara tepat, maka digunakan notasi dan istilah yang cermat dan disepakati bersama secara global yang dikenal dengan bahasa matematika.25

Matematika merupakan pelajaran yang sangat berkaitan dengan simbol-simbol abstrak, konsep-konsep, hubungan, pola bilangan dan lain sebagainya, yang semuanya menyertakan logika dan pola pikir untuk biasa menganalisa, juga untuk dapat dibuat kesimpulan. Seperti pendapat james dan james dalam kamus matematikanya, mengatakan bahwa, matematika adalah ilmu tentang logika bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri.

Matematika merupakan ilmu yang dipelajari disemua jenjang pendidikan. Ada banyak alasan tentang perlunya siswa belajar matematika. Cornelius mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika, karena matematika merupakan “ (1). Sarana berfikir yang jelas dan logis (2). Sarana untuk memecahkan masalah sehari-hari (3).

Sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman (4). Sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya”.26

Menurut Johnson dan Rising (1972) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logis, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan symbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.27

25Eman Suherman Ar, Strategi Pembelajaran Matematik kontemporer, (Bandung:

FMIPA UPI, 2003).h 15

26Mulyono Abdurahman, Pendidikan Bagi anak Berkesulitan Belajar, ( Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999), h.253

27 Tim MKPBM, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: JICA, 2003), h. 17.

(41)

Selaian dari definisi matematika di atas ada beberapa definisi lain yang dikemukakan oleh para tokoh matematika diantaranya:

Menurut Johnson dan Myklebust, matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya mengekspresikan hubungan- hubungan kuantitatif dan keruangan. Sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berfikir. Lener mengemukakan bahwa matematika disamping sebagai bahasa simbolis juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas. Kline juga mengemukakan bahwa matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga melupakan cara bernalar induktif.28

Matematika merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya.29

Matematika merupakan pelajaran yang sangat berkaitan dengan simbol-simbol abstrak, konsep-konsep, hubungan, pola bilangan dan lain sebagainya, yang semuanya menyertakan logika dan pola pikir untuk bisa menganalisis, juga untuk dapat dibuat kesimpulan. Seperti pendapat James dan james dalam kamus matematikanya, mengatakan bahwa, matematika adalah ilmu tentang logika bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri30

Kesadaran akan manfaat matematika tersebut diharapkan dapat membantu seseorang dalam memecahkan permasalahan- permasalahan yang dihadapi, baik yang langsung berhubungan dengan menghitung ataupun dengan cara berfikir logis, karena setelah

28Mulyono Abdurahman, Pendidikan Bagi anak,...h.252

29Jujun. S. SuriaSumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990), h. 190.

30Maman Abdurahman, Matematika SMK Bisnis Menejemen Tingkat I, (Bandung:

Armico, 2000) h. 11

(42)

mempelajari matematika seseorang diharapkan dapat berfikir logis, kritis, praktis, dan kreatif.

Matematika adalah memiliki bahasa dan aturan terdefinisi dengan baik, penalaran yang jelas dan sistematis, dan struktur atau keterkaitan antara konsep yang kuat. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang berharga atas dasar asumsi ( kebenaran kosistensi). Selain itu matematika juga bekerja melalui penalaran induktif yang didasarkan fakta dan gejala yang muncul untuk sampai pada perkiraan tertentu tetapi perkiraan ini, tetap harus dibuktikan secara deduktif, dengan argument yang konsisten.31

Dari pendapat-pendapat yang telah diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah merupakan pembelajaran yang berkaitan dengan simbol-simbol dan konsep, pola bilangan dan lain sebagainya. Matematika terbentuk oleh hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Matematika adalah cara atau metode berpikir dan bernalar. Matematika dapat digunakan untuk memutuskan apakah suatu ide itu benar atau salah, atau paling sedikit ada kemungkinan benar. Matematika adalah suatu medan eksplorasi dan penemuan, di situ setiap hari ide-ide baru diketemukan. Matematika adalah cara berpikir yang digunakan untuk memecahkan semua jenis persoalan di dalam sains, pemerintah dan industri ia adalah bahasa lambang yang dipahami oleh semua bangsa berbudaya di dunia bahkan dipercaya bahwa matematika akan menjadi bahasa yang dipahami oleh penduduk di planet mars (jika di sana ada penduduknya!). matematika adalah seni, seperti halnya musik, penuh dengan simetri, pola dan irama yang dapat sangat menyenangkan. Jadi matematika dapat diartikan sebagai berikut:

1) Sesuatu yang abstrak

31Depdiknas, Kurikulum Berbasis Kopetensi: Matematika Sekolah Umum ( Jakarta:

Balitbang, 2001) h. 7

(43)

2) Sesuatu pola untuk berfikir

3) Suatu bahasa yang menggunakan istilah-istilah

4) Suatu alat untuk membantu manusia memahami permasalahan yang ada.

b. Pembelajaran Matematika

Pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan yang berlangsung disekolah. Ada beberapa macam pengertian pembelajaran diantaranya

Menurut Eggen & Kauchak (1998) Menjelaskan bahwa ada enam ciri pembelajaran yang efektif, yaitu:

1) Siswa menjadi pengkaji yang aktif terhadap lingkungannya melalui mengobservasi, membandingkan, menemukan

kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan serta membentuk konsep dan generalisasi berdasarkan kesamaan-kesamaan yang ditemukan

2) Guru menyediakan materi sebagai fokus berpikir dan berinteraksi dalam pelajaran

3) Aktivitas-aktivitas siswa sepenuhnya didasarkan pada pengkajian

4) Guru secara aktif terlibat dalam pemberian arahan dan tuntunan kepada siswa dalam menganalisis informasi

5) Orientasi pembelajaran penguasaan isi pelajaran dan pengembangan keterampilan berpikir, serta

6) Guru menggunakan teknik mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan dan gaya mengajar guru.32

Pembelajaran tidak diartikan sesuatu yang statis melainkan suatu konsep yang biasa berkembang seirama dengan tuntunan kebutuhan hasil pendidikan yang berkaitan dengan kemajuan ilmu

32Pengertian Pembelajran

http://Chemistry-education-net blogsport. Com/2008/11/pengertian-pembelajaran/hml.

(44)

dan teknologi yang melekat pada wujud pengembangan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, pengertian pembelajaran yang berkaitan dengan sekolah ialah kemampuan dalam mengelola secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan pembelajaran, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma atau standar yang berlaku. Adapun komponen yang berkaitan dengan sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran, antara lain adalah guru, siswa, sarana/prasarana dan proses pembelajaran.33

Beberapa implikasi teori piaget dalam pembelajaran, menurut salvin (dalam Nur, 1998:27) sebagai berikut:

a) Memfokuskan pada proses berfikir anak, tidak sekedar pada produknya.

b) Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif-diri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran

c) Penerimaan perbadaan individu dalam kemajuan perkembangan.34

Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku dimanapun dan kapanpun.

Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya siswa dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai suatu objek yang

33Martinis Yamin, Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa, ( Jakarta:

Gaung Persada Press), 2008, h. 21

34Trianto, Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, ( Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007). Cet .1. h. 25-26

(45)

ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek efektif), serta keterampilan (aspek psikomotori) seorang siswa. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan suatu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan siswa.

Untuk menghasilkan sebuah proses pembelajaran yang baik, maka paling tidak harus terdapat empat tahapan, yaitu:

1) Tahap berbagi dan mengolah informasi, kegiatan dikelas, laboratorium, perpustakaan adalah termasuk dalam aktifitas untuk berbagi dan mengola informasi.

2) Tahap internalisasi, aktifitas dalam bentuk PR, tugas, paper, diskusi, tutorial, adalah bagian dari tahap ini.

3) Mekanisme balikan, kuis, ulangan/ujian, serta komentar dan survey adalah proses balikan.

4) Evaliasi, aktifitas assasment yang berdasar pada tes adalah bagaian dari proses ini.

Oleh karena itu pembelajaran matematika adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana yang memungkinkan siswa melaksanakan kegiatan belajar matematika, dan berpusat pada guru. Pembelajaran matematika lebih utama dibandingkan dengan pengajaran matematika bahwa matematika penting dan harus dikuasai siswa secara komperhensif, mengandung koskoensi bahwa pembelajaran matematika seyogyanya mengoptimalkan keberadaan dan peran siswa sebagai pembelajara.

Keberhasilan proses belajar mengajar matematika tidak lepas dari persiapan peserta didik dan persiapan oleh para tenaga pendidik dibidangnya, dan bagi para peserta didik yang sudah mempunyai minat (siap) untuk belajar matematika akan merasa senang dan dengan penuh perhatian mengikuti pelajaran tersebut, oleh karena itu para pendidik harus berupaya untuk memelihara

(46)

maupun mengembangkan minat atau kesiapan belajar anak didiknya atau dengan kata lain bahwa teori belajar matematika harus dipahami betul-betul oleh para pengelolahpendidik.

3. Pembelajaran Terpadu

a. Pengertian Pembelajaran Terpadu

Pembelajara terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengkaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antara mata pelajaran.35 Dengan adanya pemaduan itu siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna di sini memberikan arti bahwa pada pembelajaran terpadu siswa dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, maka pembelajaran terpadu tampak lebih menekankan pada keterlibatan konvensional, maka pembelajaran terpadu tampak lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam belajar, sehingga siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan. Hal ini sesui dengan panduan KBK Depdiknas ( 2003) yang menyatakan bahwa pengalaman belajar siswa menempati posisi penting dalam usaha meningkatkan kualitas lulusan.

Pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dari suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lainnya, dimana konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan, baik dalam

35Sukayati, Pembelajaran Tematik Di SD Merupakan Terapan Dari pembelajaran Terpadu disampaikan pada diklat Instruktur/pengembangan matematika SD jenjang Lanjut,dalam jurnal,Agustus 2004, h.2

Gambar

Gambar 1. Contoh model nested mata pelajaran matematika
Tabel 2 Desain Penelitian
Tabel 5 Klasifikasi Daya Beda
Gambar 3. Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi Hasil Balajar Kelompok Eksperimen
+7

Referensi

Dokumen terkait

t Dengan Media Pembelajaran FilrnNideo ,... 5 Histogram Nilai Hasil Belajar Matematika Siswa Yang ~ ~~. 6 Histogram Nilai Hasil Belajar Matematika

Hal ini dilihat dari dari analisis uji t, walaupun ada perbedaan pengaruh yang tidak signifikan hasil belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif reflektif

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis masalah dan gaya kognitif terhadap hasil belajar matematika siswa, korelasi antara

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah (1) meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan penerapan model

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara gaya belajar matematika dan minat belajar matematika siswa terhadap hasil belajar siswa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pendekatan Realistik Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa kelas V SD Negeri 1 Bojongsari baik dalam aspek kognitif,

Untuk memperoleh data hasil belajar aspek kognitif diperoleh dari tes individual yang diberikan setiap akhir pertemuan.. Untuk memperoleh data hasil belajar aspek afektif

Untuk memperoleh data hasil belajar aspek kognitif diperoleh dari tes individual yang diberikan setiap akhir pertemuan.. Untuk memperoleh data hasil belajar aspek afektif