• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh : SUKMA DEWI YANTI NIM:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh : SUKMA DEWI YANTI NIM:"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Sosial(S.Sos) pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh :

SUKMA DEWI YANTI NIM: 105271107618

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1443 H/2022 M

(2)
(3)
(4)
(5)

v

Nama : Sukma Dewi Yanti

NIM : 105271107618

Fakultas/ Prodi : Agama Islam/ Komunikasi dan Penyiaran Islam Dengan ini menyatakan hal sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Saya tidak melakukan penjiplakan (plagiarisme) dalam menyusun skripsi.

3. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1 dan 2, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, 18 Ramadhan 1443 H 19 April 2022 M

Yang membuat pernyataan,

SUKMA DEWI YANTI NIM: 105271107618

(6)

vi Meisil B Wulur.

Tujuan penelitian ini adalah pertama, untu mengetahui gambaran akhlak santri putri berprestasi, yang kedua untuk mengetahui pola komunikasi interpersonal pembina terhadap pembinaan akhlak santri putri berprestasi, dan yang ketiga untuk mengetahui strategi komunikasi interpersonal pembina dalam pembinaan akhlak santri putri berprestasi di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, yaitu sebuah penelitian yang menguraikan secara mendalam tentang apa yang diperoleh dari orang lain, baik berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini dilakukan juga dengan obserfasi langsung yaitu sebuah usaha peneliti untuk memahami objek penelitian sesuai dengan fakta yang ada dilapangan tanpa bermaksud memanipulasi data yang diperoleh dari penerapan pola komunikasi interpersonal pembina dalam pembinaan akhlak santri putri berprestasi di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari penerapan pola komunikasi interpersonal pembina dalam pembinaan akhlak santri putri berprestasi di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang, penulis medapatkan hal- hal berikut bahwa komunikasi interpersonal merupakan pola komunikasi yang digunakan secara terus menerus oleh pembina dalam pembinaan sehari-hari santri putri. Adapun pola yang digunakan berupa dialog, sharing, wawancara, dan konseling sehingga dari hasil pembinaan ini santri putri Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang secara umum memiliki kondisi akhlak yang baik, yang di klasifikasikan menjadi akhlak kepada Allah, Rasulullah dan akhlak pribadi. Akhlak ini dibentuk oleh penerapan aturan-aturan asrama pondok dan ditunjang oleh berbagai macam kegiatan kajian-kajian tambahan yang diprogramkan khusus oleh Pondok Pesantren untuk membahas berbagai persoalan tentang adab dan akhlak sehari-hari bagi santri di Pondok Pesantren. Akhlak juga merupakan hal yang menjadi tujuan utama dalam proses pembinaan terkhusus bagi santri putri yang berprestasi di Pondok ini karena salah satu indikator penilaian prestasi santri adalah pertimbangan penilaian adab dan akhlak keseharian dari pembina asrama putri.

Kata Kunci: Akhlak, Komunikasi, Pembina, Pola, Prestasi, dan Santri.

(7)

vii

Segala puji dan syukur atas ke hadirat Allah swt. Yang telah mencurahkan segala rahmat dan hidayah-Nya kepada hamba-Nya khususnya peneliti sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Pola komunikasi interpersonal pembina dalam pembinaan akhlak santri putri berprestasi di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang”. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang telah membimbing umatnya ke arah kebenaran yang diridai oleh Allah swt. dan keluarga serta para sahabat yang mendukung perjuangan dalam menyebarkan risalah islam.

Upaya peneliti untuk menjadikan skripsi ini mendekati sempurna telah penulis lakukan, namun keterbatasan yang dimiliki penulis maka akan dijumpai kekurangan baik dalam segi penulisan maupun dari segi ilmiah.Penulis menyadari, tanpa adanya bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak, skripsi ini tidak mungkin dapat terselesaikan seperti yang diharapkan. Oleh karena itu penulis patut menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Teristimewa penulis ucapkan banyak terima kasih untuk kedua orang tua tercinta ayahanda Muchtar dan ibunda Mardina atas segala jasanya yang tak terbalas, doa dan cinta kasihnya yang senantiasa mengiringi setiap langkah penulis.

2. Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Syekh Dr. Mohammad MT. Khoory, Donatur AMCF beserta jajarannya di Jakarta.

(8)

viii Muhammadiyah Makassar.

6. Dr. Sudir Koadhi, S.S., M.Pd.I dan Aliman, Lc, M.Fil.I selaku Ketua dan Sekertaris Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

7. Dr. Ferdinan, M.Pd.I selaku Pembimbing I yang dengan ikhlas meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis hingga terwujudnya skripsi ini.

8. Dr. Meisil B Wulur, S.Kom.I., M.Sos.I selaku Pembimbing II yang dengan ikhlas meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis hingga terwujudnya skripsi ini.

9. Bapak/Ibu Dosen dan Seluruh Staf Universitas Muhammadiyah Makassar atas didikan ilmu yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan program perkuliahan Strata Satu (S1).

10. Pengurus, Pembina Ustadz/Ustadzah, dan Santri Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang yang telah bersedia menjadi Narasumber dalam penelitian ini.

11. Penulis ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dorongan semangat untuk bisa menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat baik terhadap penulis maupun para pembaca pada umumnya.

Penulis

Makassar, 18 Ramadhan 1443 H 19 April 2022 M

(9)

ix

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

BERITA ACARA MUNAQASYAH ... iv

SURAT PERNYATAAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 4

C.Tujuan PenelitiaN ... 5

D.Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN TEORITIS ... 7

A.Pola Komunikasi Interpesonal ... 7

1.Pengertian Pola Komunikasi Interpersonal ... 8

2.Macam-macam Pola Komunikasi Interpersonal ... 9

3.Strategi Komunikasi Interpersonal ... 10

B.Pembinaan Akhlak Santri Berprestasi ... 12

1.Pengertian Pembinaan ... 12

2.Pengertian Santri ... 13

3.Pengertian Akhlak ... 13

(10)

x

BAB III METODE PENELITIAN ... 30

A.Jenis Penelitian ... 30

B.Lokasi dan Obyek Penelitian ... 31

C.Fokus Penelitian ... 32

D.Deskripsi Fokus Penelitian ... 32

E.Sumber Data ... 33

F.Instrumen Penelitian ... 34

G.Teknik Pengumpulan Data ... 34

H.Teknik Analisis Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 38

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 38

B. Gambaran Akhlak Santri Putri Berprestasi ... 48

C. Pola Komunikasi Interpersonal Pembina ... 54

D. Strategi Komunikasi Interpersonal Pembina ... 58

BAB V PENUTUP ... 62

A. Kesimpulan ... 62

B. Saran ... 63

DAFTAR PUSTAKA ... 65

LAMPIRAN ... 67

PANDUAN WAWANCARA ... 70

HASIL UJI PLAGIASI... 71

RIWAYAT HIDUP ... 83

(11)

xi

Tabel 4.2 Struktur Pengurus Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang ... 41 Tabel 4.3 Kegiatan Santri Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang ... 42 Tabel 4.4 Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang ... 43

(12)

Komunikasi merupakan suatu hal yang tidak asing lagi dalam kehidupan manusia sekarang ini. Manusia membutuhkan komunikasi dalam melangsungkan kehidupannya. Ungkapan yang sangat populer di lingkungan kita menyatakan bahwa “Manusia adalah makhluk sosial”, yang artinya tidak ada manusia yang dapat melangsungkan hidupnya seorang diri, karena itu setiap individu membutuhkan interaksi dengan sesama manusia yang ada di sekitarnya. Kebutuhan kita sebagai manusia untuk dapat berinteraksi dengan orang lain hanya dapat dilakukan dengan komunikasi. Melalui komunikasi, manusia berhubungan antara satu dengan yang lain untuk berbagai tujuan. Jalaludin Rahmat mengatakan bahwa:

“Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan kita. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 70% waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi. Komunikasi menentukan kualitas hidup kita”.1

Komunikasi sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari, seperti di rumah, sekolah, kantor, dan semua tempat yang melakukan interaksi sosial. Artinya hampir seluruh kegiatan manusia selalu tersentuh komunikasi. Banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu berkeinginan untuk berbicara, bertukar pikiran, memberi dan menerima informasi, berbagi pengalaman, dan bekerja sama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.

1Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi,(Cat. 28; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), h. 7

(13)

Di dalam perspektif agama, komunikasi sangat penting peranannya dalam kehidupan manusia, manusia itu dituntut keras agar pandai berkomuniksi, dan dapat di deskripsikan di dalam Al-quran Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (QS.

Ar-Rahman : Ayat 1-4):

َناَيَ بملا ُهَمَّلَع .َناَسمنلإا َقَلَخ. َنآمرُقملا َمَّلَع .ُنَمحَّْرلا

Terjemahnya :

“(Tuhan) yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan Al Quran, Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.”2

Bentuk komunikasi yang sering digunakan oleh manusia dalam berinteraksi salah satunya adalah komunikasi interpersonal atau yang biasa disebut komunikasi antarpribadi, yaitu komunikasi yang melibatkan dua orang atau beberapa orang yang masih dapat diidentifikasikan atau bahkan dikenal orang-orang yang terlibat.3 Komunikasi antarpribadi adalah salah satu jenis komunikasi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Karena komunikasi antarpribadi ialah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi atau berkelompok. komunikasi antarpribadi juga sangat penting bagi kehidupan manusia. Komunikasi antarpribadi membentuk perkembangan intelektual, membangun mentalitas, dan sosial manusia. Relasi antar manusia dibangun melalui komunikasi, dengan kata lain komunikasi menjadi

2Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya (Bandung: PT Sygma Examedia Arkaanleema, 2014), h. 531

3Dasrun Hidayat, Komunikasi Antarpribadi dan Medianya (Yogyakarta: PT. Graha Ilmu 2012), h. 21

(14)

sarana yang sangat penting untuk membangun sebuah relasi antara kita dengan orang lain.4

Di Indonesia, kita mengenal lembaga pendidikan yang berbasis Islam yaitu pesantren. Pesantren dilihat dari fungsinya sebagai lembaga pendidikan tradisional, tempat pembelajaran dan pendalaman ajaran agama Islam yang menerapkan pentingnya moral keagamaan. Pesantren memiliki nuansa keagamaan yang kental.

Sebagai lembaga pendidikan pesantren memiliki corak pendidikan yang khas Indonesia. Sampai saat ini pesantren ikut berperan dalam menciptakan masyarakat yang berbudaya dengan berfokus pada sisi keagamaannya, oleh karena itu warisan pesantren tidak bisa dihindari dalam kancah kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat beragam.

Salah satu tujuan dari lembaga pesantren yang ada di indonesia adalah melahirkan santri-santri yang baik akhlaknya, hal itu dapat dinilai melalui etika yang ia tampilkan, etika itu tercermin dari perilaku di lingkungan sehari-hari mereka. Dalam proses pendidikan terhadap santri tersebut tentunya diperlukan pendekatan yang mendalam guna mengkontrol, membimbing serta mengarahkan dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh santri itu sendiri. Disinilah komunikasi interpersonal sangat diperlukan oleh santri, komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang efektif dalam melakukan bimbingan terhadap akhlak santri, karena pada hakikatnya komunikasi interpersonal dapat merubah sikap atau

4Agus M. Hardjana, Komunikasi Interpersonal dan Intrapersonal, (Yogyakarta: Kansius, 2003), h. 111

(15)

tingkah laku komunikan karena bentuknya dialog dan langsung mendapatkan umpan balik.5

Disamping itu, dalam proses pembinaan terhadap santri, tentunya dinamika prilaku santri perlu diperhatikan, santri yang pada dasarnya adalah para remaja yang mengalami perkembangan dan pertumbuhan baik secara fisik dan nonfisiknya. Hal ini memerlukan bimbingan yang mendalam dan efektif tentu saja dengan pola komunikasi yang benar, bagaimana pembina dan pengurus menghadapi dan mengatasi prilaku santri agar setelah santri lulus, para santri bisa mengimbangi dan membentengi diri dari denyut perkembangan zaman dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang diperoleh selama di pesantren.

Berdasarkan dari uraian-uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang dengan judul “Pola komunikasi interpersonal pembina dalam pembinaan akhlak santri putri berprestasi di Pondok Pesantren Parul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang”.

B. Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran akhlak santri putri berprestasi di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang?

5Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal,h. 84

(16)

2. Bagaimana pola komunikasi interpersonal pembina dalam pembinaan akhlak santri putri berprestasi di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang?

3. Apa saja strategi komunikasi interpersonal pembina dalam pembinaan akhlak santri putri berprestasi di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan utama penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui gambaran akhlak santri putri berprestasi di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang

2. Untuk mengetahui pola komunikasi interpersonal pembina dalam pembinaan akhlak santri putri berprestasi di pondok pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang.

3. Untuk mengetahui strategi komunikasi interpersonal pembina dalam pembinaan akhlak santri putri berprestasi di pondok pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitan ini diharapkan dapat berguna Sebagai sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam pengembangan ilmu Komunikasi pada jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.

(17)

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan akan menjadi sebuah panduan tambahan bagi para pembina maupun para santri untuk menerapkan pola komunikasi interpersonal yang efektif dan semaksimal mungkin dalam pembentukan Akhlak santri yang unggul.

(18)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS A. Pola Komunikasi Interpesonal

Sebagai seorang muslim dalam menjalani kehidupan di dunia kita telah diberikan tuntunan oleh Allah SWT selaku sang pencipta. Begitupula dalam berkomunikasi terdapat banyak dalil baik dari Al-quran maupun Al-hadist yang membahas tentang hal ini, salah satunya Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. An-Nisa' : Ayat 8):

َّم الًموَ ق ممَُلَ اوُلوُقَو ُهمنِ م ممُهوُقُزمراَف ُينِكىسَمملاَو ىىمىتَ يملاَو ىبٰمرُقملا اوُلوُأ َةَممسِقملا َرَضَح اَذِإَو اافوُرمع

Terjemahnya:

"Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik."6

Dari ayat di atas dapat kita ambil sebuah hikmah atau rujukan hidup dari Allah untuk hamba-Nya bahwa antar sesama manusia harus saling berkomunikasi dengan perkataan yang baik tanpa memandang status sosial, dalam berkomunikasi juga diperlukan adanya bentuk atau pola dalam mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.

6Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 78

(19)

1. Pengertian Pola Komunikasi Interpersonal

Kata pola dalam kamus besar bahasa Indonesia artinya bentuk atau sistem.7 Pengertian Pola Komunikasi menurut Soejanto, pola komunikasi adalah suatu gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen lainnya. Pola Komunikasi diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.8

Secara etimologi, menurut Onong Uchjana Effendy, istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti “sama, sama disini adalah sama makna”.9 Jadi komunikasi dapat berlangsung apabila diantara orang-orang yang terlibat memiliki kesamaan makna mengenai suatu hal yang di komunikasikan.

Secara terminologis, menurut Onong Uchjana Effendy, komunikasi berarti

“proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain”, sedangkan secara pragmatis, komunikasi merupakan “proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap,

7Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kamus besar bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), h. 778

8A. Soejanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), h. 27

9Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), h. 9

(20)

pendapat, atau perilaku baik langsung secara lisan maupun tak langsung”.10 Jadi komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain agar orang tersebut melakukan apa yang telah disampaikan oleh komunikan.

Kemudian Alexis Tan dalam bukunya Mass Communication, Theoris and Research, seperti telah dikutip Alo Liliweri juga menyatakan bahwa Interpersonal Communication adalah “komunikasi tatap muka antara dua orang atau lebih”.11

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa, definisi komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar komunikator dengan komunikan yang dilakukan dengan bertatap muka. Komunikasi inilah yang dianggap paling efektif dalam upaya mengubah pendapat, perilaku dan sikap seseorang, karena sifatnya dialogis berupa percakapan. Jadi, feed backnya bersifat langsung, sehingga komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan komunikan pada saat proses komunikasi.

2. Macam-macam Pola Komunikasi Interpersonal

Berikut ini beberapa pola komunikasi yang biasa digunakan dalam proses komunikasi interpersonal diantaranya:

a. Dialog

Dialog itu sendiri merupakan percakapan antar manusia yang mempunyai maksud untuk saling mengerti, memahami, dan mampu menciptakan kedamaian dalam bekerjasama untuk memahami kebutuhannya.

10Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), h. 5

11Alo Liliweri, Komunikasi Antar Pribadi, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1990), h. 12

(21)

b. Sharing (Bertukar pikiran)

Dalam bentuk Komunikasi interpersonal yang satu ini lebih pada bertukar pendapat, berbagi pengalaman, merupakan pembicaraan antara dua orang atau lebih, di mana diantara pelaku komunikasi saling menyampaikan apa yang telah mereka alami dalam hal yang menjadi bahan pembicaraan.

c. Wawancara

Dalam melakukan komunikasi wawancara merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan untuk tercapainnya sesuatu, proses komunikasi yang terjadi dalam bentuk wawancara ini saling berperan aktif dalam pertukaran informasi antar komukator dan komunikan.

d. Konseling

Proses komunikasi yang satu ini umumnya digunakan di dunia pendidikan atau praktisi konselor kepada masyarakat. Pola komunikasi konseling biasanya digunakan untuk membantu seseorang dalam menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi. 12

3. Strategi Komunikasi Interpersonal

Muhammad Budyatna dan Leila Mona Ganiem dalam bukunya “Teori Komunikasi Antarpribadi” menyatakan bahwa untuk menghasilkan respon yang baik, efektif, dan mendapatkan umpan balik yang berdampak positif dari komunikan, maka dibutuhkan beberpa strategi-strategi kendali komunikasi agar

12Sendjaja S. Djuarsa, Teori Komunikasi (Cet-1; Jakarta: Universitas Terbuka, 1994), h. 27- 28

(22)

keinginan yang diharapkan oleh komunikator dapat tercapai secara maksimal, yaitu:

a. Strategi Wortel Teruntai (Reward)

Strategi wortel teruntai atau danling carrot strategies berisikan atau berupa pemberian imbalan oleh komunikator diberikan kepada pihak lain. Imbalan tersebut dapat berupa objek nyata seperti uang, perhiasan, piala, makanan, dan sebagainya.

Tetapi banyak sekali bentuk strategi ini dalam bentuk kiasan berupa pesan-pesan simbolik seperti: “wah kamu hebat”, apa pun bentuk strategi ini, bahwa semua strategi wortel teruntai ini berasumsikan bahwa komunikator dapat meningkatkan probabilitas untuk memperoleh respon yang diinginkan apabila komunikator memberikan kepada seseorang imbalan. Orang cenderung untuk berbuat sesuatu yang komunikator inginkan apabila orang itu dapat menikmatinya, memperoleh untung, dan terhibur oleh pemberian itu.

b. Strategi Pedang Tergantung (Punishment)

Stategi pedang tergantung atau hanging sword strategies yaitu strategi yang biasanya digunakan oleh komunikator terhadap komunikan untuk mengurangi probabilitas respon yang tidak diinginkan. Strategi ini merupakan hukuman, seorang komunikator bisa memberikan hukuman pikah lainnya supaya orang itu mengurangi atau membatasi perilaku-perilaku yang tidak disukai oleh orang yang memberi hukuman.

c. Strategi Katalisator (Self Initiative)

Strategi katalisator atau catalyst control strategies yaitu strategi yang bergantung kepada keefektivan menjadikan individu berperilaku dengan cara

(23)

berinisiatif diri tanpa memberikan imbalan atau hukuman baginya. Komunikator atau pengendali harus membekali dengan pesan yang membangkitkan semangat untuk memicu proses ini, tetapi individu sebagian besar bertindak atas kemauan sendiri.

d. Strategi Kembar Siam (Good Relationship)

Strategi kembar siam atau siamese twin strategies yaitu strategi yang digunakan terhadap hubungan yang sudah terbentuk dengan baik antara komunikator dengan cara mereka selalu bersama-sama. Strategi ini merupakan kendali komunikasi karena strategi ini bukan untuk menciptakan hubungan yang diinginkan melainkan merupakan hasil dari semacam hubungan yang sudah ada atau sudah terbentuk.13

B. Pembinaan Akhlak Santri Berprestasi 1. Pengertian Pembinaan

Pembinaan yaitu hal yang akan di lakukan , langkah-langkah, hasil, atau strategi untuk meningkatkan suatu hal menjadi lebih baik lagi. Dalam hal ini menunjukan adanya peningkatan, perkembangan, perubahan yang menghasilkan dalam diri seseorang agar menjadi lebih baik lagi.14

Menurut H.M Arifin pembianaan adalah suatu langkah yang di lakukan secara yakin dan mengarahkan kepribadian, memberikan bimbingan kepada anak, yang di lakukan secara formal dan nonformal.15

13Muhammad Budyatna dan Leila Mona Ganiem, Teori Komunikasi Antarpribadi,( Jakarta:

Rineka Cipta, 2009), h, 75-101

14Miftah Thoha, Pembinaan Organisasi (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2002), h. 7

15Mangunhardjana, Pembinaan Arti dan Metodenya (Jogjakarta: kanisiu,1986), h. 12

(24)

Dari penjelasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam melakukan pembinaan merupakan bagian dari langkah-langkah yang dilakukan untuk merubah cara pandang, kebiasan, dan tingkah laku agar menjadi lebih baik, dengan langkah-langkah membimbing untuk pembentukan kebiasaan hingga pada akhlak yang baik. Hal ini tidak terlepas dari peran secara formal dan non formal yang tertanam (tabiat) dalam diri seseorang yang mempengaruhi adanya faktor dari ekstrenal dan internal yang mempengaruhi watak atau tingkah laku seseorang yang berkaitan dengan kesopanan, budi pekerti, oleh sebab itu proses pembinaan harus dilakukan agar santri dapat terbentuk akhlak yang baik dari hasil pembinaan yang diberikan selama berada di pondok pesantren.

2. Pengertian Santri

Santri adalah individu atau sering di sebut juga seorang pelajar yang belajar mendalami ilmu agama islamyaitu beribadah dengan sungguh yaitu orang yang soleh. Sedangkan dari pengertian lain santri adalah salikun (aspiran) yang akan menjalankan perjalanan menuju ke arah “kesempurnaan pandangan” yang akan diberikan oleh moralitas/akhlak tertentu. 16

3. Pengertian Akhlak

Kata akhlak berasal dari sebuah kata dalam bahasa arab akhlak dan juga dari kata khuluqun yang dapat diartikan sebagai kelakukan baik, tingkah laku yang tertanam atau bawaan yang ada dalam diri seseorang, tata karma, sopan santun,

16Mutohar Ahmad, Anam nurul, Manifesto Modernisasi Pendidikan Islam dan Pesantren(Yogyakarta:STAIN Jember prees,2013), h. 192

(25)

dalam sebuah tindakan.17 Sedangkan secara bahasa akhlak diartikan: pengetahuan yang menentukan akhlak yang baik dan yang buruk pada seseorang, Antara yang baik dan tercela. Tentang perbuatan manusian baik dari dalam maupun dari luar yang membentuk suatu akhlak pada suatu individu.18

Kata Akhlak atau khuluq keduanya dapat kita jumpai penggunaannya dalam Al-Quran. Misalnya pada firman Allah dalam surah Al-Qalam ayat 4 berikut ini :

ٍميِظَع ٍقُلُخ ىىَلَعَل َكَّنِإَو

Terjemahnya :

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”19 Menurut Al-Ghazali dalam kitab ihya ulumuddin mengemukakan bahwa akhlak adalah suatu pengarahan yang tertanam dalam diri individu dan mendorong apa yang menjadi perbuatan seketika tanpa memikirkan hal yang terjadi kedepannya, jadi akhlak merupakan perbuatan sifat yang tertanam dalam diri individu yang terkait dalam tingkah laku dan perbuatan.20

4. Ruang Lingkup Akhlak

Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya, misalnya akhlak terhadap diri sendiri, sesama manusia khususnya orang tua dan akhlak yang paling agung dari akhlak seorang manusia adalah kepada Allah Ta’ala. Berikut ini adalah beberapa pembagian ruang lingkup akhlak yaitu:

17Beni Ahmad Saebani, K.H. Abdul Hamid, Ilmu Akhlak(Bandung:Pustaka setia,2012), h.

13

18Kasmuri Selamat, Ihsan Sanusi, Akhlak Tasauf(Jakarta:kala mulia,2012),h. 1

19Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 564

20Rosihon Anwar, Akidah Akhlak(Bandung:pustaka setia,2008), h. 206

(26)

a. Akhlak Terhadap Allah SWT

Adapun bentuk-bentuk akhlak kepada Allah SWT yaitu:

1) Bertakwa

Secara etimologis kata "taqwa" adalah asal dari bahasa Arab akar kata

"waqa-yaqi-wiqayah" yang berarti "menjaga." Secara terminologis istilah tadi didefinisikan sebaga: "menjaga diri dari siksaan Allah dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Orang yang bertagwa pada bahasa Arab disebut "muttaqi" . Bentuk jamaknya "muttaqun" (orang-orang yang bertaqwa). Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 102):

َنوُمِلمسُّم ممُتم نَأَو َّلًِإ َّنُتوَُتَ َلًَو ۦِهِتاَقُ ت َّقَح ََّللَّا اوُقَّ تا اوُنَماَء َنيِذَّلا اَهُّ يَأىيٰ

Terjemahnya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."21

2) Ikhlas

Secara etimologis, kata ikhlas atau lapang dada dari bahasa Arab akhlasha- ikhlash yang berarti membersihkan, menjernihkan, atau memurnikan. Secara terminologis, ikhlash ialah beramal semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-A'raf 7: Ayat 29):

ِطمسِقملِبِ ِ بَٰر َرَمَأ ملُق ۖ

اوُميِقَأَو ُجُو ممُكَهو َدمنِع َنيِ دلا ُهَل َينِصِلمُمُ ُهوُعمداَو ٍدِجمسَم ِ لُك ۖ

اَمَك ممُكَأَدَب َنوُدوُعَ ت

21Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 63

(27)

Terjemahnya:

"Katakanlah, "Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap sholat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada- Nya sebagaimana kamu diciptakan semula."22

3) Tawakkal

Secara etimologis "tawakkal" asalnya dari kata "tawakkala" dan "wakala"

yang artinya: menyerahkan, mempercayakan. Istilah "tawakkala" berarti:

bersandar. Secara terminologis, taqwa artinya membebaskan hati dari segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala urusan kapada-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-Mulk 67: Ayat 29):

اَنملَّكَوَ ت ِهميَلَعَو ۦِهِب اَّنَماَء ُنىمحَّْرلا َوُه ملُق ۖ

َنوُمَلمعَ تَسَف منَم

َوُه ٍينِبُّم ٍلىلَض ِف

Terjemahnya:

"Katakanlah, "Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal. Maka kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata."23

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 217):

ِميِحَّرلا ِزيِزَعملا ىَلَع ملَّكَوَ تَو

Terjemahnya:

"Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang,"24

22Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 153

23Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 564

24Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 376

(28)

4) Syukur

Berdasarkan bahasa, syukur dalam bahasa arab asal katanya syakara yang berarti: berterimakasih, memuji. Istilah syukur merupakan memuji sang pemberi nikmat atas kebaikan yang sudah dilakukannya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152):

ِنوُرُفمكَت َلًَو ِلِ اوُرُكمشاَو ممُكمرُكمذَأ أِنِوُرُكمذاَف

Terjemahnya:

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."25

5) Muraqabah

Secara etimologis, muraqabah asal dari raqaba yang berarti menjaga, mengamati. Secara terminologis muraqabah merupakan kesadaran seseorang muslim bahwa dia selalu berada dalam pengawasan Allah SWT. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 218-220):

ميِلَعملا ُعيِمَّسلا َوُه ُهَّنإ َنيِدِجى سلا ِف َكَبُّلَقَ تَو ُموُقَ ت َينِح َكىىرَ ي ىِذَّلا

Terjemahnya:

"Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk sholat), dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui."26

25Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 23

26Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 376

(29)

6) Taubat

Kata taubat asalnya dari taba yang berarti kembali. Di dalam bahasa Arab terdapat istilah lain yang searti dengan taba, yaitu anaba. Orang yang bertaubat kepada Allah berarti kembali dari segala hal yang tidak diridhai Allah pada hal-hal yang diridhai-Nya.27 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. An-Nisa' 4: Ayat 110):

ااميِحَّر ااروُفَغ ََّللَّا ِدَِيَ ََّللَّا ِرِفمغَ تمسَي َُّثُ ۥُهَسمفَ ن ممِلمظَي موَأ ااءأوُس ملَممعَ ي منَمَو

Terjemahnya:

"Dan barang siapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."28

b. Akhlak Terhadap Rasulullah SAW

Wujud akhlak terbaik berasal dari kaum muslimin selain kepada Allah adalah kepada Rasulullah yang telah mengantarkan kehidupan manusia dengan cahaya islam sebagai risalahnya hingga saat ini. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. At-Taubah 9: Ayat 128):

مؤُمملِبِ ممُكميَلَع ٌصيِرَح ممُّتِنَع اَم ِهميَلَع ٌزيِزَع ممُكِسُفم نَأ منِ م ٌلوُسَر ممُكَءأاَج مدَقَل ٌميِحَّر ٌفوُءَر َينِنِم

Terjemahnya:

"Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan

27Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak(Cet. XII; Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2012), h, 17- 57

28Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 96

(30)

(keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman."29

Adapun Bentuk-bentuk akhlak kepada Rasulullah yaitu:

1) Mencintai dan memuliakan Rasulullah

Sebagai ummat muslim sudah sepatutnya dan seharusnya kita mencintai dan senantiasa memuliakan Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam surah At-Taubah: ayat 24:

َعَو ممُكُجىومزَأَو ممُكُنىومخِإَو ممُكُؤأاَنم بَأَو ممُكُؤأَبِاَء َناَك منِإ ملُق ٌةَرىِتَِو اَهوُمُتم فََتَمقٱ ٌلىوممَأَو ممُكُتَيرِش

َنموَشمَتَ ۦِهِليِبَس ِف ٍداَهِجَو ۦِهِلوُسَرَو َِّللَّا َنِ م ممُكميَلِإ َّبَحَأ أاََنَموَضمرَ ت ُنِكىسَمَو اَهَداَسَك ۦِهِرممَِبِ َُّللَّا َىِتمَيٰ ى تَّح اوُصَّبََتََف ۖ

َُّللَّاَو َلً

ىِدمهَ ي َمموَقملا ِسىفملا َينِق

Terjemahnya:

“Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri- isteri, sanak-saudara, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah- rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya."

Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." 30 2) Mengikuti dan Menaati Rasulullah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. An-Nisa' 4: Ayat 80):

ََّللَّا َعاَطَأ مدَقَ ف َلوُسَّرلا ِعِطُي منَّم ۖ

منَمَو ى لَِوَ ت أاَمَف َكىنملَسمرَأ ممِهميَلَع

ِفَح ااظي

Terjemahnya:

"Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka

29Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 207

30Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 190

(31)

(ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka."31

Mengikuti dan menaati Rasulullah ialah salah satu bentuk akhlak yang baik.

Cara mengikuti serta menaati Rasulullah dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangannya yang terdapat pada hadits-hadits beliau yang sahih.

Kesungguhan manusia melaksanakan ketentuan hadits ialah perwujudan akhlak kepada Rasulullah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21):

ََّللَّا َرَكَذَو َرِخاَملْا َمموَ يملاَو ََّللَّا اوُجمرَ ي َناَك منَمِ ل ٌةَنَسَح ٌةَومسُأ َِّللَّا ِلوُسَر ِف ممُكَل َناَك مدَقَّل اايرِثَك

Terjemahnya:

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."32

3) MengucapkanSalam dan Shalawat

Kata "shalawat'' adalah bentuk jamak dari "shalah" yang diartikan: "do'a,"

"istighfar," serta "rahmah." Berdasar kan makna-makna tadi, maka shalawat dari Allah SWT, bagi Nabinya berarti memberikan rahmat, dan shalawat para Malaikat berarti istighfar (permohonan maaf); dan shalawat dari orang mukmin atas nabi diartikan sebagai do'a dan penghormatan.33 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56):

ِ ِبَّنلا ىَلَع َنوُّلَصُي ۥُهَتَكِئأىلَمَو ََّللَّا َّنِإ ۖ

اَهُّ يَأىيٰ

َنيِذَّلا اوُنَماَء اوُّلَص ِهميَل َع ااميِلمسَت اوُمِ لَسَو

31Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 91

32Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 420

33Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, h, 65-76

(32)

Terjemahnya:

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."34

c. Akhlak Pribadi

Akhlak pribadi adalah cerminan perilaku dari seseorang. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 83):

اَو ىبٰمرُقملا ىِذَو انَاَسمحِإ ِنميَدِلىوملِبَِو ََّللَّا َّلًِإ َنوُدُبمعَ ت َلً َليِءأىرمسِإ أِنَِب َقىثيِم َنَمذَخَأ مذِإَو ىىمىتَ يمل

َمملاَو

ِينِكىس ممُكمنِ م الًيِلَق َّلًِإ ممُتم يَّلَوَ ت َُّثُ َةوىكَّزلا اوُتاَءَو َةوىلَّصلا اوُميِقَأَو اانمسُح ِساَّنلِل اوُلوُقَو َنوُضِرمعُّم ممُتم نَأَو

Terjemahnya:

"Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari Bani Israil, "Janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat." Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari) kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu (masih menjadi) pembangkang."35

Adapun bentuk-bentuk akhlak pribadi yaitu:

1) Siddiq

Shidiq (ash-shidqu) berarti benar atau jujur, antonim dusta/bohong (al- kidzbu). Kejujuran atau kebenaran dalam akhlak mencakup: kebenaran hati (shidqul-qalbi), Shidiq (ash-shidqu) ialah benar atau jujur, antonim dusta/bohong (al-kidzbu). (shidqul-hadists), dan perbuatan yang benar (shidqul-'amal). Ketiganya

34Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 426

35Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 12

(33)

harus sama, apalagi antara ucapan dan tindakan seseorang. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 70):

ااديِدَس الًموَ ق اوُلوُقَو ََّللَّا اوُقَّ تا اوُنَماَء َنيِذَّلا اَهُّ يَأىيٰ

Terjemahnya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,"36

2) Amanah

Amanah berarti "dapat dipercaya" berasal dari "amuna- ya'munu "yang berarti "jujur , dapat dipercaya" Sifat amanah berasal dari kekuatan iman.

Pengertian amanah secara sempit ialah memelihara titipan serta mengembalikannya kepada pemiliknya dalam keadaan utuh. Pengertiannya secara luas mencakup antara lain: menyimpan rahasia, melaksanakan tugas yang diberikan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-Anfal 8: Ayat 27):

َّرلاَو ََّللَّا اوُنوَُتَ َلً اوُنَماَء َنيِذَّلا اَهُّ يَأىيٰ

َنوُمَلمعَ ت ممُتم نَأَو ممُكِتىنىمَأ اأوُ نوَُتََو َلوُس

Terjemahnya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."37

Tugas serta kewajiban Allah pada manusia dari Al-Qur'an disebut amanah, bagi manusia amanah yang paling berat dari makhluk-makhluk Allah daripada

36Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 427

37Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 180

(34)

langit, bumi, matahari, gunung, lautan dan pohon tidak sanggup memikul amanah dari Allah. Karena kelebihan yang telah dikarunikan Allah kepada manusia berupa akal fikiran, perasaan dan kehendak, maka manusia sanggup memikul amanah tersebut.

3) Istiqamah

Istilah istiqamah asal katanya istaqama- yastaqimu yang artinya tegak lurus.

Berdasarkan istilah akhlak, istiqamah ialah perilaku teguh dalam mempertahankan keimanan serta keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan serta godaan. Perintah untuk beristiqamah terdapat di dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Hud 11: Ayat 112):

اموَغمطَت َلًَو َكَعَم َبَتَ منَمَو َتمرِمُأ أاَمَك ممِقَتمساَف ۖ

ُهَّنِإ ٌيرِصَب َنوُلَممعَ ت اَِبِ ۥ

Terjemahnya:

"Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan."38

4) Syaja’ah

Menurut bahasa, syaja'ah berati "keberanian" . Keberanin adalah sifat hati yang mantap serta percaya diri dalam menghadapi berbagai bahaya, kesulitan dan sebagainya. Keberanian yang dimaksud berlandaskan kebenaran dan pertimbangan yang matang. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 139):

ُمُتم نَأَو اوُنَزمَتَ َلًَو اوُنَِتَ َلًَو َينِنِممؤُّم ممُتم نُك منِإ َنموَلمعَملْا

38Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 234

(35)

Terjemahnya:

"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman."39

5) Iffah

Secara etimologis, iffah dari asal kata bahasa Arab 'iffah yang berarti

"kesucian tubuh." Secara terminologis, iffah merupakan memelihara kehormatan diri dari berbagai hal yang akan merendahkannya. Kehormatan berasal dari ketaatan pada Allah, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan meninggalkan larangan- larangan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. An-Nur 24: Ayat 33):

ۦِهِلمضَف منِم َُّللَّا ُمُهَ يِنمغُ ي ى تَّح ااحاَكِن َنوُدَِيَ َلً َنيِذَّلا ِفِفمعَ تمسَيملَو

Terjemahnya:

"Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”40

6) Mujahadah (Kontrol Diri)

Mujahadah berasal dari bahasa Arab yang artinya mencurahkan segala kemampuan (jahada-yujahidu-mujahadah-jihad). Pada kajian akhlak, mujahadah juga diartikan sebagai mencurahkan segala kemampuan untuk mengatasi hal-hal yang menghambat dan menghalangi pendekatan diri kepada Allah SWT, baik yang

39Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 67

40Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 354

(36)

bersifat internal, maupun eksternal. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al- Anfal 8: Ayat 72):

َصَنَّو اوَواَء َنيِذَّلاَو َِّللَّا ِليِبَس ِف ممِهِسُفم نَأَو ممِِلَىوممَِبِ اوُدَهىجَو اوُرَجاَهَو اوُنَماَء َنيِذَّلا َّنِإ اأوُر

ٍضمعَ ب ُءأاَيِلموَأ ممُهُضمعَ ب َكِئأىلوُأ ۖ

َنيِذَّلاَو اوُنَماَء مَلَو اوُرِجاَهُ ي اَم

ممُكَل منِ م ممِهِتَيىلَو منِ م ٍءمىَش

ى تَّح اوُرِجاَهُ ي ۖ

ِنِإَو ممُكوُرَصمنَ تمسا ِنيِ دلا ِف

ُمُكميَلَعَ ف ُرمصَّنلا

َّلًِإ ىىلَع ٍمموَ ق ممُكَنم يَ ب َ بَو ممُهَ نم ي

ٌقىثيِ م ۖ َُّللَّاَو اَِبِ

َنوُلَممعَ ت َب ٌيرِص

Terjemahnya:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."41

Hambatan internal bersumber dari diri sesorang yang mendorong kepada keburukan (nafsu ammarah bis-su'). Sedangkan hambatan eksternal adalah berasal dari syaitan, orang munafiq, orang kafir, dan para pelaku kemaksiatan dan kemungkaran.

7) Malu

Malu (al-haya' ) merupakan perasaan sangat tidak enak hati (hina, rendah) karena berbuat sesuatu yang tidak baik atau yang buruk lagi rendah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 53) :

41Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 186

(37)

َنيِرِظىن َميرَغ ٍماَعَط ىلِِإ ممُكَل َنَذمؤُ ي منَأ أَّلًِإ ِ ِبَّنلا َتوُيُ ب اوُلُخمدَت َلً اوُنَماَء َنيِذَّلا اَهُّ يَأىيٰ

ىلَ ُهىىنِإ منِك

ٍثيِدَِلِ َينِسِنمئَ تمسُم َلًَو اوُرِشَتم ناَف ممُتممِعَط اَذِإَف اوُلُخمداَف ممُتيِعُد اَذِإ ۖ

َّنِإ ممُكِلىذ َك ىِذمؤُ ي َنا

ممُكمنِم ۦِىمحَتمسَيَ ف َِّبَّنلا ۖ

َُّللَّاَو َلً

ِىمحَتمسَي ِ قَملِا َنِم ۦ

ۖ اَذِإَو َّنُهوُمُتملَأَس ااعى تَم

َّنُهوُلَ ئمسَف

منِم ِءأاَرَو ٍباَجِح ۖ

ممُكِلىذ ُرَهمطَأ ممُكِبوُلُقِل َّنِِبِوُلُ قَو

ۖ اَمَو َناَك ممُكَل منَأ اوُذمؤُ ت َلوُسَر َِّللَّا

اادَبَأ أۦِهِدمعَ ب نِم ۥُهَجىومزَأ اأوُحِكمنَ ت منَأ أَلًَو ۖ

َّنِإ ممُكِلىذ َناَك َدمنِع َِّللَّا ِظَع اامي

Terjemahnya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan.

Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri- istrinya selama-lamanya setelahnya (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah."42

8) Tawadhu‟

Dalam bahasa Indonesia, tawadhu' berarti rendah hati (bukan rendah diri), lawan dari istilah sombong. Orang yang tawadhu' tidak akan menganggap dirinya lebih (kaya, pintar, hebat, baik dan sebagainya) dibanding orang lain, meskipun kenyataannya bisa demikian. Rendah hati bersumber dari kesadaran bahwa apa yang ada dalam dirinya berupa kekayaan, kedudukan, ilmu, status sosial dan lain sebagainya asalnya dari Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al- Furqan 25: Ayat 63):

42Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 425

(38)

اامىلَس اوُلاَق َنوُلِهىملْا ُمُهَ بَطاَخ اَذِإَو انَموَه ِضمرَملْا ىَلَع َنوُشمَيَ َنيِذَّلا ِنىمحَّْرلا ُداَبِعَو

Terjemahnya:

"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan,

"salam,""43 9) Sabar

Kata sabar dalam bahasa Arab dari kata "shabr" yang artinya "menahan serta mengekang". Sedangkan menurut istilah sabar artinya menehan diri dari hal- hal yang tidak disukai semata mengharap ridha Allah. Sabar tidak hanya terhadap hal-hal yang bersifat musibah, misalnya kematian, sakit, kemiskinan, dan sebagainya, tetapi juga pada hal-hal yang acapkali dilihat sebagai nikmat, misalnya harta, kekayaan, kedudukan dan sebagainya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155):

َو ِلىوممَملْا َنِ م ٍصمقَ نَو ِعوُملْاَو ِفموَملْا َنِ م ٍءمىَشِب ممُكَّنَوُلم بَ نَلَو ِتىرَمَّثلاَو ِسُفم نَملْا

ۖ ِرِ شَبَو

ِِبى صلا َني

Terjemahnya:

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"44

43Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 365

44Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 24

(39)

10) Pemaaf

Istilah "maaf " asalnya dari bahasa Arab " 'afwun " yang diartikan sebagai

"kelebihan atau berlebih."45 Misalnya kata 'afwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Al-A'raf 7: Ayat 199):

ِنَع مضِرمعَأَو ِفمرُعملِبِ مرُممأَو َومفَعملا ِذُخ َينِلِهىملْا

Terjemahnya:

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh."46

Sifat pemaaf adalah salah satu perwujudan dari sifat taqwa kepada Allah SWT sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali Imran: ayat 133-134:

َنيِذَّلا َينِقَّتُمملِل متَّدِعُأ ُضمرَملْاَو ُتىوىمَّسلا اَهُضمرَع ٍةَّنَجَو ممُكِ بَّر منِ م ٍةَرِفمغَم ىلِِإ اأوُعِراَسَو ِءأاَّرَّسلا ِف َنوُقِفمنُ ي ِساَّنلا ِنَع َينِفاَعملاَو َظميَغملا َينِمِظىكملاَو ِءأاَّرَّضلاَو

ۖ َُّللَّاَو ُّبُِيُ

َينِنِسمحُمملا

Terjemahnya:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."47

Islam mengajarkan kepada umat Islam untuk senantiasa memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus menunggu permintaan maaf dari yang orang lain.

45Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, h,81-140

46Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 176

47Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h. 67

(40)

5. Prestasi Belajar Santri

Nana Sudjana mengemukakan bahwa “belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang”.48 Sedangkan menurut Slameto menjelaskan bahwa Belajar adalah suatu usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingka laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oemar Hamalik merumuskan pengertiaan belajar “sebagai suatu perubahan tingka laku melalui interaksi antara individu dan lingkungan”.49

Berangkat dari pengertiaan belajar di atas, menggambarkan bahwa dalam setiap definisi itu tercantum kata “perubahan tingka laku”. Sehingga dapat memberikan suatu kesimpulan kepada kita bahwa secara umum belajar adalah suatu proses perubahan tingka laku akibat adanya interaksi dengan lingkungan, dengan kata lain bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam tingka laku, di mana perubahan itu mengarah kepada tingka laku yang lebih baik.

C. Kerangka Konseptual

48Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Cet. III; Bandung: Sinar Algesindo, 1995), h. 5

49Oemar Hamalik, Pendidikan Baru Strategi Belajar Mengajar, (Cet. I; Bandung Sinar Baru, 1991), h. 4

Pondok Pesantren sebagai tempat untuk menuntut ilmu agama dan juga melahirkan santri yang berakhlakul

karimah Pola Komunikasi Pembina

terhadap Santri : 1. Dialog 2. Sharing 3. Wawancara 4. Konseling

Strategi Komunikasi Pembina : 1. Reward

2. Punishment 3. Self Initiative 4. Good Relationship

Sumber akhlak dalam Islam adalah Al-Quran dan Al-Hadist

Ruang Lingkup Akhlak : 1. Akhlak kepada Allah 2. Akhlak kepada Rasulullah 3. Akhlak Pribadi

Proses Pembinaan Santri oleh Pembina di Asrama

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian kualitatif, yaitu sebuah penelitian yang menguraikan secara mendalam tentang apa yang diperoleh dari orang lain, baik berupa kata atau istilah tertulis atau lisan dari orang-orang serta perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini dilakukan juga dengan berusaha memahami objek penelitian sesuai dengan fakta yang ada dilapangan tanpa bermaksud memanipulasi data yang telah diperoleh. Menurut Sukmadinata dalam bukunya dasar penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh setiap individu. Penelitian kualitatif percaya bahwa kebenaran adalah dinamis dan dapat ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya dengan situasi social mereka.50 Metode penelitian kualitatif ini sering disebut “metode penelitian naturlistik” karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting).51

2. Pendekatan Penelitian a. Pendekatan Sosiologis

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam lingkup kehidupan masyarakat atau kelompok orang dan menyelidiki ikatan-ikatan manusia

50Sukmadinata, Pengantar Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Rosdakarya, 2005), h. 78

51Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan Penelitian,(Yogyakarta; Ar-Ruzz,2012), h. 22

(42)

yang menguasai hidupnya. Dalam penelitian ini pendekatan sosiologi dapat dipahami sebagai suatu cara yang ditempuh untu menggambarkan tentang keadaan masyarakat dalam hal ini lokasi penelitian penulis yaitu di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia dengan struktur lapisannya, serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di Pondok tersebut.

b. Pendekatan Psikologis

Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala prilaku yang dapat diamati secara langsung. Penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan hasil dalam pendekatan ini mengkaji kepada keadaan jiwa, perasaan dan ikatan hubungan yang terjalin antara pembina dan santri dalam melakukan komunikasi interpersonal serta bagaimana pola dan strategi komunikasi pembina kepada santri putri di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang.

B. Lokasi dan Obyek Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Adapun penelitian ini akan dilakukan di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah JL. Andi Wahid No.1 Punnia Labumpung desa Bunga kecamatan Mattiro Bulu Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan.

2. Obyek Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini yang menjadi obyek penelitiannya adalah para santri dan pembina asrama berupa ustadz dan ustadzah, dimana peneliti akan

(43)

meneliti tentang Pola Komunikasi Interpersonal Pembina dalam Pembinaan Akhlak Santri Berprestasi.

C. Fokus Penelitian

Penelitian ini mengangkat judul tentang pola komunikasi interpersonal pembina dalam pembinaan akhlak santri putri berprestasi di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang, maka yang menjadi fokus penelitian ini ada 2 yaitu :

1. Pola komunikasi interpersonal pembina 2. Pembinaan akhlak santri berprestasi.

Penjelasan terkait fokus penelitian ini ada pada deskripsi fokus penelitian.

D. Deskripsi Fokus Penelitian

Peneliti akan mendiskripsikan fokus penelitian ini yaitu santri yang belajar di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia diterapkan proses pembinaan yang berfokus kepada pembiasaan yang dimana sangat menekankan agar melakukan aktivitas keagamaan dalam keseharian santri dengan memberikan jadwal ataupun kegiatan yang akan dikontrol oleh pembina asrama maupun kiyai, ustadz, serta segenap jajaran yang tinggal di wilayah pesantren. Pembinaan yang diterapkan di Pondok pesantren Darul Arqam Punnia lebih mengutamakan pencegahan agar anak didik tidak melakukan berbagai palanggaran, daripada perbaikan setelah terjadinya pelanggaran yang mereka lakukan. Pola pembinaan ini menuntut mudir dan para pembina untuk lebih proaktif terhadap peserta didik, agar pembinaan dapat mencapai hasil yang maksimal.

Adapun upaya pembinaan yang dilakukan pembina Pondok dalam membimbing, mengarahkan, dan menasehati santri diklasifikasikan menjadi beberapa kegiatan antara lain : pembinaan dalam shalat 5 waktu secara berjamaah,

(44)

membaca Al-Qur'an, pengajian rutin harian, berpakaian islami, adab keseharian, pengontrolan belajar santri, pelajaran ekstrakurikuler, oleh raga, muhadharah, muhadatsah, disiplin bahasa, dan displin dalam menaati tata tertib kehidupan yang berlaku di dalam lingkungan Pondok Pesantren. Pembinaan di setiap kategorisasi di atas dilakukan oleh para pembina yang terdiri dari para ustadz/ustadzah bagian pengasuhan santri, dan juga dibantu oleh pengurus organisasi santri (OSIS).

E. Sumber Data

Untuk penelitian dengan paradigma kualitatif, peneliti harus menjelaskan informasi atau data yang dikumpulkan sehubungan dengan fokus dan subfokus penelitian. Kemudian dijelaskan pula sumber-sumber data primer maupun sekunder yang digunakan dalam penelitian, baik informan, peristiwa, maupun dekumen.

Adapun sumber data dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi sebagai berikut :

1. Data Primer

Data primer ialah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang dicari, dalam hal ini berupa direktur Pondok Pesantren, kyai, pembina putri dan santri putri berprestasi.

2. Data sekunder

Data sekunder ialah data yang diperoleh untuk mendukung data primer.

Data sekunder itu biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen.52 Data

52Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), h.

39

(45)

sekunder yang digunakan antara lain berupa data-data, arsip, dokumen dan konsep dari sejumlah literatur buku, jurnal, atau karya tulis lainnya yang mendukung hasil penelitian.

F. Instrumen Penelitian

Dalam melakukan penelitian tentunya dibutuhkan instrumen-instrumen untuk mempermudah penelitian, intrumen yang dimaksud oleh penulis adalah alat bantu yang dapat digunakan untuk meneliti. Adapun alat-alat yang akan digunakan untuk meneliti adalah sebagai berikut: hasil observasi, pedoman wawancara, dan catatan dokumentasi.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik penelitian adalah cara atau langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data, menghimpun, mengambil, atau menjaring data penelitian. Adapun Teknik penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif. Observasi merupakan proses melihat, mengamati, dan mencermati, serta merekam perilaku secara sistematis untuk suatu tujuan.

Obeservasi adalah kegiatan mencari data yang dapat digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis.53

53Haris Herdiansyah, Wawancara, Observasi, dan Focus Groups (Jakarta : Rajawali Pers, 2010), h. 129

(46)

Cara ini sangat sesuai untuk mengkaji proses dan perilaku. Menggunakan metode ini berarti menggunakan mata dan telinga sebagai jendela untuk merekam data, pada penelitian ini penulis melihat, memperhatikan, dan mengamati secara langsung proses komunikasi yang terjadi disekitar lokasi penelitian khususnya komunikasi interpersonal yang berkenaan dengan pembinaan akhlak santri. dan menggunakan catatan berdasarkan hasil pengamatan selama proses observasi.

2. Wawancara

Wawancara sebagai proses interaksi komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dimana kedua pihak yang terlibat memilki hak yang sama dalam bertanya dan menjawab, dimana arah pembicaraan mengaju kepada tujuan yang telah ditetapkan.54

Dengan melakukan wawancara peneliti menyiapkan daftar pertanyaan yang diberikan kepada informan untuk dijawab. Selain itu, peneliti dapat menggunakan alat bantu perekam yang dapat membantu proses pelaksanaan wawancara berjalan lancar. Penulis melakukan wawancara secara terbuka dan tidak terikat, agar lebih mudah untuk memperoleh informasi yang lebih luas. Dalam penelitian ini penulis melakukan proses tanya jawab kepada santri, para pembina, dan ustadz/ustadzah dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara yang berisi pertanyaan- pertanyaan yang dapat memberikan keterangan terkait hal-hal yang diteliti.

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan pelengkap dari Teknik Penelitian observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dokumentasi adalah sebuah cara yang

54Haris Herdiansyah, Wawancara, Observasi, dan Focus Groups, h. 31

Referensi

Dokumen terkait

Dalam rangka memperkuat kelembagaan KASN maka perlu dilakukan beberapa upaya sebagai berikut: (1) Memperjelas dan memperkuat kewenangan KASN dalam melaksanakan pengawasan

a) Tes hasil belajar untuk mengetahui pengetahuan awal siswa (tes awal) dan tes untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa, yang diberikan di setiap akhir tindakan.

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari kedua variabel prediktor tersebut dicari seberapa besar kontribusinya sehingga diketahui bahwa kontribusi perhatian

Semakin jauh jarak pelanggan dari sentral, maka akan semakin kecil nilai SNR (Signal to Noise Ratio) yang dihasilkan. Hal ini membuktikan bahwa jarak berbanding

Kebiasaan-kebiasaan pulang bersama itu pada akhirnya mengubah aku, kami, mereka, yang awalnya tak begitu akrab menjadi teman satu geng.. Di awal pulang bersama, aku

INVESTMENTS (MAURITIUS) LIMITED, qualitate qua (q.q.) Saudara ROBERT BUDI HARTONO dan Saudara BAMBANG HARTONO, selaku pemegang saham mayoritas BCA pada saat ini, untuk

Sebagaimana kita tau pasar adalah sebuah tempat bertemunya pembeli dengan penjual guna melakukan transaksi ekonomi yaitu untuk menjual atau membeli suatu barang

Giliran dalam penyajian makanan atau disebut dengan Courses pada masa sekarang dikenal dengan Menu Moderen atau Modern Menu yang terdiri dari 4 giliran makan atau courses