• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. komponen utama yang pertama atau suatu sistem head way (waktu antara dua

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. komponen utama yang pertama atau suatu sistem head way (waktu antara dua"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

17 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Lalu lintas

1. Pengertian Lalu lintas

Lalu lintas adalah suatu sistem yang terdiri dari komponen - komponen.

komponen utama yang pertama atau suatu sistem head way (waktu antara dua kendaraan yang berurutan ketika melalui sebuah titik pada suatu jalan) meliputi semua jenis prasarana infrastruktur dan sarana dari semua jenis angkutan yang ada, yaitu : jaringan jalan, pelengkap jalan, fasilitas jalan, angkutan umum dan pribadi, dan jenis kendaraan lain yang menyelenggarakan proses pengangkutan, yaitu memindahkan orang atau bahan dari suatu tempat ketempat yang lain yang dibatasi jarak tertentu.1

Sementara iti menurut Undang – Undang No. 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas, didefinisikan gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan.

Ruang lalu lintas jalan adalah prasarana yang diperuntukan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan atau barang yang berupa jalan dan fasilitas penumpang.2

2. Unsur-Unsur Sistem Lalulintas

Didalam system lalulintas terdapat unsur yng melekat didalamnya1 sebagamana dikatakan oleh Hendarsin unsur lalu lintas adalah benda atau pejalan kaki sebagai bagian dari lalu lintas, sedangkan unsur lalu lintas di atas

1 Sumarsono dan Paina Partana, 2004, Sosiolinguisti,.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm. 203.

2 Pasal 1 Anga 1 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu lintas.

(2)

roda disebut dengan kendaraan dengan unit (kendaraan).3 Sementara itu menurut Rachmat sumakar terdapat 3 komponen utama yang menjadu unsur system lalulintas antara lain adalah manusia, kendaraan dan jalan yang saling berinteraksi dalm pergerakan kendaraan.4

a. Manusia

Manusia merupakan salah satu unsur dalam lalu lintas yang spesifik, artinya setiap individu mempunyai komponen fisik dasar tertentu dan nonfisik yang barangkali berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Manusia juga berperan sebagai pengemudi antau pejalan kaki dan mempunyai keadaan yang berbeda-beda.

b. Kendaraan

Kendaraan digunakan dan atau digerakan oleh manusia atau pengemudi. Kendaraan berkaitan dengan kecepatan, percepatan, pelambatan, dimensi dan muatan yang membutuhkan ruang lalu lintas.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 1993 tentang kendaraan dan pengemudi tangga yang merupakan turunan dari Undang-undang 1992 tentang lalulintas dan angkutan jalan, jenis kendaraan bermotor di bagi menjadi:

a) Sepeda motor b) Mobil penumpang c) Mobil bus

d) Mobil barang e) Kendaraan khusus c. Jalan

Jalan adalah lintasan yang direncanakan dan di peruntukan kepada pengguna kendaraan bermotor termasuk pejalan kaki. Jalan dalam lalu lintas adalah yang digunakan untuk mengalirkan aliran lalu lintas dengan lancar, aman dan mendukung beban muatan kenndaraan.

3. Hak dan Kewajiban dalam Lalu lintas a. Hak

3 Hendarsin, Shirley L. 2000, Perencanaan Teknik Jalan Raya, Jurusan Teknik Sipil – Politeknik Negeri Bandung, Bandung, hlm. 37.

4 Rachmat sumakar, 2016. Efektivitas Rekayasa Lalu Lintas Melalui Program Penambahan Lajur Khusus Sepeda Motor Kota Surabaya. Jurnal JKMP. Vol. 4, No 1 Hal. 25

(3)

Hak adalah segala sesuatu yang harus didapatkan atau diterima secara penuh tanggungjawab. Setiap manusia memiliki hak dasar atau hak asasi yang melekat pada dirinya sejak lahir.5

Berdasarkan Undang-Undang Lalulintas Jalan (selanjutnya disingkat UU LLAJ), pesepeda berhak mendapatkan kemudahan berlalu lintas yang dijamin oleh pemerintah. Kemudahan itu diwujudkan dalam bentuk fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalu lintas.6 Fasilitas pendukung ini antara lain berupa lajur khusus bagi pesepeda, fasilitas penyeberangan khusus, dan/atau bersamaan dengan pejalan kaki.

b. Kewajiban

Kewajiban adalah segala sesuatu yang harus atau wajib dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Kewajiban warga negara adalah segala sesuatu yang wajib dilakukan dengan penuh tanggungjawab oleh warga masyarakat kepada negara.7

Kewajiban bagi pengendara diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan. Dalam hal berkendara di jalan raya, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pesepeda. Pertama, adalah terpenuhinya persyaratan keselamatan, yang meliputi persyaratan teknis sekurang-

5 Riadi Syah Putra, 2020, Haka tau Kewajiban, Jakarta : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, hlm. 13.

6 Pasal 62 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

7 Op.Cit, Riadi Syah Putra, 2020, hlm. 5.

(4)

kurangnya meliputi konstruksi, sistem kemudi, sistem roda, sistem rem, lampu dan pemantul cahaya, dan alat peringatan dengan bunyi dan tata cara muat barang,.8

Di sini saya menggaris bawahi lampu dan pemantul cahaya serta alat peringatan bunyi. Keberadaan lampu dan pemantul cahaya sangat diperlukan untuk penanda ketika gelap supaya kendaraan lain yang berada di jalan dapat mengetahui keberadaan sepeda. Untuk alat peringatan bunyi di sini yang dimaksud seperti bel, yang berfungsi untuk memberi peringatan kepada pengendara lain di jalan raya.

Persyaratan tata cara memuat barang minimal meliputi dimensi dan berat.9 Dimensi di sini artinya adalah ukuran muatan barang yang meliputi panjang, lebar dan tinggi yang memenuhi persyaratan keselamatan. Sedangkan berat adalah beban yang sesuai dengan kemampuan penarik atau pendorong, kemampuan rem dan daya dukung sumbu roda. Jadi sepeda seyogianya dilarang membawa muatan yang memiliki dimensi yang dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lain dan dengan beban yang terlalu berat.

Kedua, dalam mengendarai di jalan raya, apabila tidak terdapat

jalur khusus bagi kendaraan tidak bermotor, pesepeda wajib mengendarai sepedanya di jalur kiri seperti kendaraan-kendaraan yang lain. Apabila terdapat lebih dari satu lajur dalam satu jalur, pesepeda

8 Pasal 61 ayat (2) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

9 Pasal 61 ayat (3) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

(5)

wajib berada di lajur kiri jalan kecuali apabila akan berbelok ke arah kanan atau mengubah arah.10 Namun apabila tersedia jalur khusus bagi kendaraan tidak bermotor, pesepeda tidak boleh berada di jalur kendaraan bermotor.11

Ketiga, pesepeda dilarang berpegang pada kendaraan bermotor

untuk ditarik atau menarik benda-benda yang dapat membahayakan pengguna jalan yang lain.12 Keadaan ini sering kali tampak di jalanan di mana sepeda ditarik atau berpegangan pada kendaraan bermotor.

Selain dapat membahayakan pengendara lain juga dapat membahayakan pesepeda sendiri. Hal ini mengingat kemampuan ban dan dimensi roda sepeda pada saat melakukan deselerasi saat pengereman tidak sama seperti pada kendaraan bermotor. Sehingga rentan terpeleset atau terpelanting ke depan.

B. Tinjauan Tentang Kepolisian 1. Kepolisian

Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia atau disebut dengan Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia, menyebutkan bahwa, “Kepolisian

10 Pasal 108nAyat (3) dan (4) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

11 Pasal 122 Ayat (1) huruf c Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

12 Pasal 122 Ayat (1) Huruf a dan b serta Pasal 299 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

(6)

adalah segala hal ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”13

Selanjutnya Pasal 5 Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia disebutkan bahwa:14

1) Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.

2) Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah Kepolisian Nasional yang merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan peran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

Fungsi polisi diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yaitu:15

Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Adapun tugas pokok dan wewenang polisi diatur dalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yaitu:16

a. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;

b. Menegakkan hukum; dan

c. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 7 ayat (e) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Jalan Raya, bahwa urusan

13 Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

14 Pasal 5 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

15 Pasal 2 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

16 Pasal 13 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

(7)

pemerintahan di bidang registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dan pengemudi, penegakan hukum, operasional manajemen dan rekayasa lalu lintas, serta pendidikan berlalu lintas, diselenggarakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Tugas Kepolisian di bidang lalu lintas tersebut meliputi:17

a. Pengujian dan penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) Kendaraan Bermotor;

b. Pelaksanaan registrasi dan identifikasi Kendaraan Bermotor (BPKB, STNK, TNBK);

c. Pengumpulan, pemantauan, pengolahan, dan penyajian data Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;

d. Pengelolaan pusat pengendalian Sistem Informasi dan Komunikasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;

e. Pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli Lalu Lintas;

f. Penegakan hukum yang meliputi penindakan pelanggaran dan penanganan Kecelakaan Lalu Lintas;

g. Pendidikan berlalu lintas;

h. Pelaksanaan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas; dan i. Pelaksanaan manajemen operasional Lalu Lintas.

Sesuai dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian kedudukan polres berada di ibukota kabupaten/kota di daerah hukum masing-masing. Berdasarkan Pasal 4 ayat (2) Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian disebutkan bahwa, Polres terdiri dari:

a. Tipe Metropolitan;

b. Tipe Polrestabes;

c. Tipe Polresta; dan d. Tipe Polres.

17 Pasal 7 ayat (e) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Jalan Raya.

(8)

2. Tugas Pokok dan Fungsi/Kewenangan Kepolisian

Tugas polres adalah menyelenggarakan tugas pokok Polri dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dan melaksanakan tugas-tugas Polri lainnya dalam daerah hukum Polres, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sesuai dengan Pasal 6 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian Polres menyelenggarakan fungsi diantaranya adalah pelaksanaan fungsi lalu lintas, meliputi kegiatan Turjawali lalu lintas, termasuk penindakan pelanggaran dan penyidikan kecelakaan lalu lintas serta registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dalam rangka penegakan hukum dan pembinaan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.18

Salah satu unsur pelaksana tugas pokok adalah Satlantas. Menurut Pasal 1 angka (20) Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian Sektor disebutkan bahwa, Satuan Lalu Lintas yang selanjutnya disingkat Satlantas adalah unsur pelaksana tugas pokok fungsi lalu lintas pada tingkat Polres yang berada di bawah Kapolres.19

18 Pasal 6 huruf f Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian.

19 Pasal 1 Angka 20 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian.

(9)

Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 59-62 Peraturan Kapolri Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada Tingkat Polres dan Polsek, yaitu bahwa Satuan Lalu Lintas (Satlantas) adalah unsur pelaksana tugas pokok fungsi lalu lintas pada tingkat Polres yang berada di bawah Kapolres. Satlantas bertugas melaksanakan Turjawali lalu lintas, pendidikan masyarakat lalu lintas (Dikmaslantas), pelayanan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dan pengemudi, penyidikan kecelakaan lalu lintas dan penegakan hukum di bidang lalu lintas. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Satlantas menyelenggarakan fungsi :20

1) Pembinaan lalu lintas kepolisian;

2) Pembinaan partisipasi masyarakat melalui kerja sama lintas sektoral, Dikmaslantas, dan pengkajian masalah di bidang lalu lintas;

3) Pelaksanaan operasi kepolisian bidang lalu lintas dalam rangka penegakan hukum dan keamanan, keselamatan, ketertiban, kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas);

4) Pelayanan administrasi registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor serta pengemudi;

5) Pelaksanaan patroli jalan raya dan penindakan pelanggaran serta penanganan kecelakaan lalu lintas dalam rangka penegakan hukum, serta menjamin Kamseltibcarlantas di jalan raya;

6) Pengamanan dan penyelamatan masyarakat pengguna jalan; dan 7) Perawatan dan pemeliharaan peralatan dan kendaraan.

C. Tinjauan Tentang Ponsel 1. Pengertian Ponsel

Ponsel atau hendphone adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional

20 Pasal 59-Pasal 52 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian.

(10)

saluran tetap, namun dapat dibawa kemana-mana (portabel, mobile) dantidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel.21

Sementara itu undang-undang memaknaik ponsel adalah setiap alat perlengkapan yang digunakan dalam bertelekomunikasi22 atau alat telekomunikasi yang memungkinkan bertelekomunikasi23 diaman setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya.24 Perangkat telekomunikasi adalah sekelompok alat telekomunikasi yang memungkinkan bertelekomunikasi.

2. Kegunaan Ponsel

Disamping itu dalam pengertian yang general ponsel atau hendphone juga dimaknai sebagai alat komunikasi, dimana alat menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu atau bisa juga disebut perkakas, perabotan yang dipakai untuk mencapai maksud.25

Sedangkan komunikasi adalah suatu proses transaksi yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (1) membangun hubungan antarsesama manusia, (2) melalui penukaran informasi, (3)

21 www.Mokletrpl2.Blogspot.com.

22 Pasal 1 Undang-Undang No. 36 Tahun 1999 Tentang Telekomunikasi.

23 Pasal 1 Angka 3 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi.

24 Pasal 1 Undang-Undang No. 36 Tahun 1999 Tentang Telekomunikasi.

25 Departemen Pendidikan Nasional, 2007, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-III, Cet -IV, Jakarta: Balai Pustaka,, , hlm. 27 2.

(11)

menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain, serta (4) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu.26

Sebagai alat komunikasi para ahli memberikan pengertian yang beragam yakni :

- Carl I. Hovland Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang menyampaikan rangsangan untuk mengubah perilaku orang lain.27

- Everett M. Rogers Komunikasi adalah proses dalam suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.28

- Mc Laughlin Komunikasi adalah saling menukar ide-ide dengan cara apa saja yang efektif.29

- Himstreet dan Baty Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi di antara dua orang atau lebih melalui suatu isitem simbol- simbol, isyarat-isyarat, dan perilaku yang sudah lazim.30

3. Larangan pengguna Ponsel di Jalan Pada Saat Berkendara

Penggunaan ponsel adalah pengemudi yang melakukan pengoperasiaan alat telekomunikasi saat berkendara dengan menggunakan panca indera.

Penggunaan ponsel saat berkendara merupakan pelanggaran yakni

26 Hafied Cangara, 2007, Pengantar Ilmu Komunikasi Cet.VI, Jakarta: RajaGrafindo Persada, hlm.

19.

27 Ibid, hlm. 6.

28 Richard L. Wiseman, 1995, Intercultural Communication Theory, California State University, Fullerton, hlm.15.

29 Ibid, hlm. 1.

30 William C. Himstreet dan Wayne Murlin Baty, 1990, Bussiness Communicatios: Principlensed Metheds, Boston: Pusblishing Company, hlm. 6.

(12)

pengemudi yang dengan sengaja melakukan pengoperasian suatu alat komunikasi dengan menggunakan panca indera yang dinilai dapat menganggu aktivitas berkendara sehingga dapat menghilangkan konsentrasi dari pengemudi dalam mengendarai kendaraannya di jalan raya. Sehingga yang menjadi indikator seseorang melakukan pelanggaran di jalan raya.31

Dalam berkendara tak banyak orang yang paham akan bahaya menggunakan telepon selular saat berkendara. Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan ditegaskan dalam pasal 106 ayat 1 bahwa “setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi”. Dalam hal ini mengemudikan kendaraan dengan wajar dan penuh konsentrasi yang dimaksud adalah tidak mengemudikan kendaraan saat sedang sakit, sedang lelah, sedang dalam pengaruhminuman beralkohol, ataupum sedang menggunakan telepon selular.32

Mengenai larangan penggunaan telepon selular saat berkendara secara spesifik tidak diatur dalam Undang-Undang No 22 Tahun 2009, tetapi pengendara yang menggunakan ponsel saat berkendara bisa terkena pasal 106 ayat 1 sebagaimana tersebut diatas. Sanksi terhadap pelanggaran pasal tersebut diatur dalam pasa 283 Undang-Undang No 22 Tahun 2009 yakni

31 Arikha Saputra, 2019, Tindakan Hukum Penggunaan Ponsel Pada Ojek Online Saat Berkendara, Jurnal Komunikasi Hukum, Vol. 5, No. 2, hlm. 46.

32 I Putu Raditya, Ida Ayu Putu Widiati, I Made Minggu Widyantara, Penegakan Hukum Terhadap Pelanggaran Penggunaan Telephone Selular Saat Berkendara, Jurnal Prefensi Hukum, Vol. 1 No.

1, Juli, 2020, hlm. 159.

(13)

dengan denda maksimal Rp. 750.000.- (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) dan subside kurungan 3 bulan.33

4. Tinjauan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elekronik

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elekronik (UU ITE) menyebutkan bahwa transaksi elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan/atau media elektronik lainnya. Media elektonik yang digunakan dalam bertransaksi online dalam perjalanan antara kedua belah pihak adalah ponsel.34

Tindakan hukum yang dilakukan oleh pihak kepolisian ialah dengan menerapkan cara 3 E yaitu :35

a. Enginering

yakni dengan melakukan komunikasi terkait pembuatan alat atau benda yang dapat membantu dalam hal pencegahan atau penanganan lalu lintas, sehingga dalam penerapan dengan menggunakan cara Enginering ini memunculkan kerjasama dengan pihak lain atau produsen yang terkait dengan pembuatan kendaraan bermotor.

b. Education

yakni dengan melakukan pemberian pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya keamanan dan keselamatan dalam

33 Ibid.

34 Arikha Saputra, Tindakan Hukum Penggunaan Ponsel Pada Ojek Online Saat Berkendara, Jurnal Komunikasi Hukum, Vol. 5 No. 2, Agustus 2019, hlm. 44.

35 Op.Cit, Arikha Saputra, 2019, hlm. 46.

(14)

berlalu lintas. Penerapan dengan cara education sering dilakukan oleh pihak kepolisian, hal ini dikarenakan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang keselamatan berkendara di jalan raya.

c. Enforcement.

yakni dengan melakukan penindakan hukum saat terjadinya pelanggaran lalu lintas. Penindakan hukum merupakan tindakan yang diambil oleh pihak kepolisian saat bertugas di jalan raya. Penindakan yang dilakukan bertujuan untuk memberikan efek dari kesalahan yang dilakukan oleh pengemudi sehingga dikemudian hari tidak terulang kembali kesalahan atau pelanggaran yang dilakukannya agar terciptanya masyarakat tertib, taat akan peraturan dan sadar hukum.

Tindakan hukum dengan cara Enginering, Education merupakan langkah pengendalian atau tindakan yang masuk dalam kategori secara preventif. Tindakan preventif merupakan suatu tindakan pengendalian sosial yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang. Tindakan preventif dinilai pula sebagai tindakan upaya penanganan atau tindakan pencegahan yang setidaknya berdampak untuk mengurangi dan mencegah kemungkinan yang terjadi.

Sedangkan tindakan Enforcement masuk dalam tindakan pengendalian bersifat represif. Tindakan represif adalah suatu tindakan pengendalian sosial yang dilakukan setelah terjadinya suatu pelanggaran atau peristiwa buruk.

Tindakan represif dalam pengertian ini adalah memberikan sanksi dalam hal

(15)

ini sebagaimana yang tercantum dalam pasal 106 ayat (1) yang menyebutkan bahwa

“Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Pelanggaran yang dilakukan oleh pengemudi dapat dikenakan sanksi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku yakni Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang termuat dalam pasal 283 dengan sanksi berupa denda maksimal Rp. 750.000 serta kurungan 3 (tiga) bulan“

Namun yang menjadi catatan penting adalah bahwa tindakan hukum berupa langkah preventif meupun langkah represif di atas, kita dapat mengetahui bahwa tujuan utumanya adalah sebagai pengendalian sosial.

Adapun tujuan adalah sebagai berikut36 :

1) Dapat sebagai pencegahan atau pengurangan dari terjadinya pelanggaran;

2) Menjaga keamanan, keselamatan dan ketertiban di masyarakat;

3) Mewujudkan keadilan dan kenyamanan di dalam masyarakat;

4) Menciptakan dan menegakkan hukum di masyarakat;

5) Menciptakan kesadaran untuk pelaku terhadap pelanggaran yang dilakukan.

D. Penegakan Hukum dan Efektivitas Hukum 1. Penegakan Hukum

a. Penegakan Hukum dalam Lalulintas Jalan

36 Ibid, hlm. 47.

(16)

Dalam kehidupan bermasyarakat, hukum dapat berlaku secara normal, tetapi juga hukum dapat terjadi akibat adanya pelanggran, oleh sebab itu hukum yang sudah dilanggar harus ditegakkan oleh aparatur penegak hukum.

Aparatur penegak hukum mencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. Dalam arti sempit, aparatur penegak hukum yang terlibat tegaknya hukum itu, dimulai dari saksi, polisi ( termasuk PPNS sebagai pengemban fungsi kepolisian), penasehat hukum, jaksa, hakim dan petugas-petugas sipir pemasyarakatan.

Setiap aparat dan aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dangan tugas atau perannya yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan, penyidikan, penyelidikan, penuntutan, penuntutan, pembuktian, penjatuhan vonis dan pemberian sanksi, serta upaya pemasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana.

Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum itu, setidaknya terdapat 3 (tiga) elemen penting yang mempengaruhi yaitu:37

a. Istitusi penegak hukum beserta berbagai perangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya:

b. Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya, termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya.

c. Perangkat peraturanyang mendukung baik kinerja

kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja, baik hukum materilnya maupun hukum acaranya.

37 H. Muhammad Badri, 2016. Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Pelanggaran Lalu Lintas yang Mengakibatkan Korban Meninggal Dunia di Wilayah Hukum Polresta Jambi.Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi. Vol. 16. No. 1 hal 25

(17)

Masalah penegakan hukum merupakan masalah yang menarik untuk dikaji karena berkaitan dengan keberadaan hukum dan manusia.

Hukum tidak mungkin dapat merealisasikan sendiri kehendakkehendaknya, karena ia hanya berupa kaidah. Oleh karena itu dibutuhkan kehadiran manusia (aparat penegak hukum) untuk mewujudkan kehendak hukum. Dengan cara memandang hukum seperti itu, maka penegakan hukum (law enforcement) tidak sekedar menegakkan mekanisme formal dari suatu aturan hukum, tapi juga mengupayakan perwujudan nilai-nilai keutamaan yang terkandung dalam kaidah hukum tersebut.

Secara konsepsional inti dari penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindakan sebagai rangkaian penjabaran tahap akhir, untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.38 Penegakan hukum dalam masyarakat modern tidak saja di artikan dalam arti sempit tetapi juga dalam arti luas, seperti di Indonesia penegakan hukum dikaitkan dengan unsur manusia dan lingkungan sosial.39

Penegakan hukum bidang lalu lintas dan angkutan jalan adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-

38 Soejono Soekanto, 1983. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarat, PT RajaGrafindo. Hal. 5

39 Bambang Poernomo, 2001. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Universitas Jayabaya, hal. 3

(18)

norma hukum bidang lalu lintas dan angkutan jalan secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan. Pelanggaran adalah secara sengaja atau lalai melakukan perbuatan atau tindakan yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan lalu lintas. Pelaku pelanggaran biasa disebut human error. Pelaksanaan hukum dapat berlangsung normal tetapi dapat juga karena pelanggaran hukum. Pelanggaran lalu lintas adalah perbuatan atau tindakan manusia yang mengemudi kendaraan umum atau kendaraan bermotor juga pejalan kaki, yang berjalan umum dengan tidak mematuhi peraturan perundang-undangan lalu lintas yang berlaku.

b. Sanksi Pelanggaran Lalulintas Jalan

Dalam konteks sosiologis, sanksi merupakan upaya penegakan hukum. Penegakan hukum merupakan proses untuk mewujudkan kegiatan-kegiatan hukum menjadi kenyataan. Keinginan-keinginan tersebut adalah pikiran-pikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan-peraturan hukum. 40 pengaturan sanksi sendiri pada prinsipnya bertujuan sebagai daya paksa berupa tindakan paksa dimana daya paksa itu telah diatur dalam Undang-Undang akan kelihatan sebagai pernyataan bahwa dalam kondisi tertentu, yang ditetapkan oleh tatanan hukum.41 Artinya tujuan dari sanksi itu adalah

40 Satjipto rahardjo, 1984. Masalah penegakan Hukum Satuan Kajian Sosiologis.Sinar Baru.

Bandung . Hal 24

41 Hans Kelsen, 2008, Dasar-Dasar Hukum Normatif, Bandung : Nusa Media, hlm. 123-124.

(19)

untuk memberikan efek jera atas perbuatan melanggar hukum yang dilakukan dengan cara paksa yang telah ditetapkan oleh peraturan yang tertulis.

Sanksi itu sendiri dapat berupa sanksi pidan, sanksi perdata, dan juga sanksi administrasi.

1) Sanksi pidana

Ciri khas hukum pidana yang membedakan dengan hukum yang lain yaitu adanya sanksi yang berupa sanksi pidana. Menurut Darwan Prints, pidana adalah “Hukuman yang dijatuhi atas diri seseorang yang terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana”.42 Istilah “hukuman” merupakan istilah yang umum dan konvensional, mengandung arti yang luas dan dapat berubah-ubah. Istilah tersebut tidak saja digunakan dalam bidang hukum, tetapi juga dalam istilah sehari-hari di bidang pendidikan, moral, agama dan lain-lain, sedangkan istilah “pidana”

merupakan istilah yang lebih khusus, yaitu menunjukkan sanksi dalam bidang hukum pidana.43 Soejono juga menegaskan bahwa,

“hukuman merupakan sanksi atas pelanggaran suatu ketentuan hukum, sedangkan pidana lebih memperjelas pada sanksi yang dijatuhkan terhadap pelanggaran hukum pidana.44

2) Sanksi perdata

42 Darwan Prints, 2001, Hukum Anak Indonesia, Bandung, Citra Aditya Bakti, hlm. 23.

43 Muladi dan Barda Nawawi Arief, 2010, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, Bandung, Alumni, hlm. 2.

44 Soejono, 1996, Kejahatan dan Penegakan Hukum di Indonesia, Jakarta, Rineka Cipta, hlm. 35.

(20)

Sanksi perdata adalah sanksi yang diberikan berdasarkan peraturan perundang-undangan, bisa dalm bentuk ganti rugi atau gugatan perdata, atau dilaporkan secara pidana

3) Sanksi administrasi

Sanksi yang diberikan oleh PPK kepada peserta tender yang mendahului sanksi berdasarkan peraturan perundang-undang.

Sanksi tersebut bisa dalam bentuk pengguguran peserta tender dan didaftarhitamkan sekurang-kurangnya dua tahun, setelah itu baru diijinkan kembali ikut dalam pelelangan.

Sanksi Hukum Administrasi, menurut J.B.J.M. ten Berge, ”sanksi merupakan inti dari penegakan hukum administrasi. Sanksi diperlukan untuk menjamin penegakan hukum administrasi” . Menurut P de Haan dkk, ”dalam HAN, penggunaan sanksi administrasi merupakan penerapan kewenangan pemerintahan, di mana kewenangan ini berasal dari aturan hukum administrasi tertulis dan tidak tertulis”. JJ. Oosternbrink berpendapat

”sanksi administrasiinistratif adalah sanksi yang muncul dari hubungan antara pemerintah–warga negara dan yang dilaksanakan tanpa perantara pihak ketiga (kekuasaan peradilan), tetapi dapat secara langsung dilaksanakan oleh administrasi sendiri”

Jenis Sanksi Administrasi dapat dilihat dari segi sasarannya yaitu:

(21)

- Sanksi reparatoir artinya sanksi yang diterapkan sebagai reaksi atas pelanggaran norma, yang ditujukan untuk memngembalikan pada kondisi semula sebelum terjadinya pelanggaran, misalnya bestuursdwang, dwangsom).

- Sanksi punitif artinya sanksi yang ditujukan untuk memberikan hukuman pada seseorang, misalnya adalah berupa denda administratif,

- Sanksi regresif adalah sanksi yang diterapkan sebagai reaksi atas ketidak patuhan terhadap ketentuan yang terdapat pada ketetapan yang diterbitkan

Macam-macam Sanksi dalam Hukum Administrasi seperti berikut, Bestuursdwang (paksaan pemerintahan), penarikan kembali keputusan(ketetapan) yang menguntungkan, pengenaan denda administratif, dan pengenaan uang paksa oleh pemerintah (dwangsom).45

2. Efektivitas Hukum

a. Pengertian Efektivitas Hukum

Efektivitas memiliki arti berhasil atau tepat guna. Efektif merupakan kata dasar, sementara kata sifat dari efektif adalah efektivitas. Menurut Effendy efektivitas sebagai berikut: ”Komunikasi

45 Ivan Fauzaini Raharja, 2014. Penegakan Hukum Sanksi Administrasi Terhadap Pelanggaran perizinan. Jurnal Ilmu Hukum. Volume VII No. II hal 126

(22)

yang prosesnya mencapai tujuan yang direncanakan sesuai dengan biaya yang dianggarkan, waktu yang ditetapkan dan jumlah personil yang ditentukan.46 Efektivitas menurut pengertian di atas mengartikan bahwa indikator efektivitas dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya merupakan sebuah pengukuran dimana suatu target telah tercapai sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

Pengertian lain menurut Susanto efektivitas merupakan daya pesan untuk mempengaruhi atau tingkat kemampuan pesan-pesan untuk mempengaruhi. Menurut pengertian Susanto diatas, efektivitas bisa diartikan sebagai suatu pengukuran akan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya secara matang. Sementara menurut Mahmudi efektivitas lainnya yaitu suatu hubungan antara output dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan47

b. Unsur-Unsur Efektivitas Hukum

Dalam teori efektivitas hukum menurut soejono Soekamto terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meninjau efektivitas hukum itu sendiri antara lain sebagai berikut :

1) Undang-Undang;

46 Effendy, Onong Uchjana, 1989, Kamus Komunikasi, Penerbit Mandar Maju, Bandung, hlm. 130.

47 Zukhruf, F., Frazila, R. B., & Wibowo, S. S. (2011). Efektivitas Jalur Sepeda Motor Pada Jalan Perkotaan Menggunakan Model Simulasi Mikro. Jurnal Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan hal 1-12.

(23)

Undang-Undang dalam hal ini merupakan suatu aturan tertulis yang dibuat oleh Pemerintah sebagai acuan atau pedoman dalam pelaksanaan penegakan hukum. Dengan dibuatnya suatu ketentuan tertulis berupa Undang-Undang, akan memberikan dampak terhadap ketertiban masyarakat.

2) Penegakan hukum baik dari segi pembuatan maupun penerapannya;

Berfungsinya hukum, mentalitas atau kepribadian petugas penegak hukum memainkan peranan penting, kalau peraturan sudah baik, tetapi kualitas petugas kurang baik, ada masalah 3) Fasilitas yang mendukung penegakan hukum itu;

Faktor sarana atau fasilitas pendukung mencakup perangkat lunak dan perangkat keras. Menurut Soerjono Soekanto bahwa penegak hukum tidak dapat bekerja dengan baik, apabila tidak dilengkapi dengan kendaraan dan alat-alat yang profesional. Maka sarana atau fasilitas mempunyai peranan yang sangat penting di dalam penegakan hukum. Tanpa adanya sarana atau fasilitas tersebut, atau mungkin penegak hukum menyerasikan peranan yang seharusnya dengan peraturan yang aktual.

4) Masyarakat atau lingkungan dimana hukum itu diterapkan;

Penegak hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian di dalam masyarakat. Setiap warga masyarakat atau kelompok sedikit banyaknya mempunyai

(24)

kesadaran hukum. Persoalan yang timbul adalah taraf kepatuhan hukum, yaitu kepatuhan hukum yang tinggi, sedang, atau kurang.

Adanya derajat kepatuhan hukum masyarakat terhadap hukum, merupakan salah satu indikator berfungsinya hukum yang bersangkutan

5) Kebudayaan.48

Kebudayaan pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-nilai mana yang merupakan konsepsi- konsepsi yang abstrak mengenai apa yang dianggap baik sehingga diikuti dan apa yang diangap buruk maka dihindari.

Kelima faktor di atas saling berkaitan dengan eratnya, karena menjadi hal pokok dalam penegakan hukum, dan sebagai tolak ukur dari efektivitas penegakan hukum. Dari lima faktor penegakan hukum tersebut faktor penegak hukumnya sendiri merupakan titik sentralnya.

Kemudian efektivitas hukum juga berkaitan erat dengan hal-hal sebagai berikut :

a) Usaha menanamkan hukum di dalam masyarakat, yaitu penggunaan tenaga manusia, alat-alat, organisasi, mengakui, dan menaati hukum.

b) Reaksi masyarakat yang didasarkan pada sistem nilai-nilai yang berlaku. Artinya masyarakat mungkin menolak atau menentang hukum karena takut pada petugas atau polisi, menaati suatu hukum hanya karena takut terhadap sesama teman, menaati hukum karena cocok dengan nilai-nilai yang dianutnya.

48 Soerjono Soekanto, 2008, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, hlm. 8.

(25)

c) Jangka waktu penanaman hukum yaitu panjang atau pendek jangka waktu dimana usaha-usaha menanamkan itu dilakukan dan diharapkan memberikan hasil.49

Adapun kriteria untuk mengukur efektivitas hukum itu sendiri adalah :

a) Kejelasan tujuan yang hendak dicapai;

b) Kejelasan strategi pencapaian tujuan;

c) Kejelasan analisa dan perumusan kebijaksanaan yang mantap,;

d) Perencanaan yang mantap;

e) Penyusunan program yang tepat suatu rencana yang baik masih perlu dijabarkan dalam program pelaksanaan yang tepat sebab apabila tidak;

f) Tersedianya saran dan prasarana kerja, salah satu indikator efektivitas program adalah kemampuan bekerja secara produktif;

g) Pelaksanaan yang secara efektif dan efesien;

h) Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik.50

E. Tinjauan Umum Tentang Kausalitas Dalam Hukum Pidana

Ajaran kausalitas adalah ajaran yang mempermasalahkan hingga seberapa jauh suatu tindakan itu dapat dipandang sebagai penyebab dari suatu keadaan, atau hingga berapa jauh suatu keadaan itu dapat dipandang sebagai suatu akibat dari

49 Soerjono Soekanto, 1985, Beberapa Aspek Sosial Yuridis Masyarakat, Bandung : Alumni, hlm.

45

50 Sondang P Siagian, 1986, Organisasi, Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi, Jakarta : Gunung agung, hlm. 76

(26)

suatu tindakan, dan sampai di mana seseorang yang telah melakukan tindakan tersebut dapat diminta pertanggungjawabannya menurut hukum pidana.51 Penentuan sebab suatu akibat dalam hukum pidana merupakan suatu hal yang sulit dipecahkan. Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), pada dasarnya tidak tercantum petunjuk tentang cara untuk menentukan sebab suatu akibat yang dapat menciptakan suatu delik. KUHP hanya menentukan dalam beberapa pasalnya, bahwa untuk delik-delik tertentu diperlukan adanya suatu akibat tertentu untuk menjatuhkan pidana terhadap pembuat.

Ada beberapa macam ajaran kausalitas, yang dapat dikelompokkan ke dalam 3 teori yang besar, yaitu teori conditio sine qua non, teori-teori yang mengindividualisasi (individualiserede theorien), dan teori-teori yang menggeneralisasi (generaliserende theorien).

a. Teori Conditio Sine Qua Non

Teori conditio sine qua non juga dinamakan teori ekuivalensi dan bedingungtheorie. Disebut teori ekuivalensi, karena menurut pendiriannya, tiap-tiap syarat adalah sama nilainya. Semua faktor sama pentingnya terhadap timbulnya suatu akibat. Disebut bedingungtheorie, karena baginya tidak ada perbedaan antara syarat (bedingung) dan musabab atau penyebab.52 Secara teoretis, teori conditio sine qua non yang dikemukakan oleh Von Buri merupakan satu-satunya teori kausalitas yang sangat sistematis dan rasional.

51 Mulyati Pawennei dan Rahmanuddin Tomalili, Hukum Pidana, Mitra Wacana Media, Jakarta, 2015, hlm. 99.

52 Ibid., hlm. 107

(27)

Logika yang dibangun Buri dalam mencari penyebab dari timbulnya suatu akibat sangat rasional, sistematis, dan logis.

Sekalipun demikian, di dalam perspektif hukum pidana, teori ini mengandung kelemahan yang sangat mendasar, karena dengan dalil yang dibangunnya itu, hubungan kausalitas terbentang tanpa akhir, mengingat tiap- tiap sebab hakikatnya merupakan akibat dari sebab yang terjadi sebelumnya.53 Kelemahan mendasar lain teori ini adalah memperluas pertanggungjawaban dalam hukum pidana.

Teori ini jika digunakan akan berimplikasi pada kemungkinan terjadinya pemidanaan terhadap orang-orang yang seharusnya tidak boleh dipidana, baik berdasarkan rasa keadilan maupun berdasarkan konsep hukum pidana. Sebab, orang baru bisa dijatuhi sanksi pidana jika memenuhi dua syarat pokok, yaitu orang tersebut melakukan tindak pidana dan pada saat melakukannya orang tersebut merupakan orang yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana, dalam arti patut dicela atau memiliki kesalahan.54

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teori ini memiliki kelemahan yang terletak pada perluasan pertanggungjawaban sehingga teori ini dikhawatirkan akan menjerat orang yang seharusnya tidak boleh dipidana karena seseorang yang dapat dijatuhi sanksi pidana harus memenuhi dua syarat pokok.

53 Ibid.

54 Sudarto, Hukum Pidana I Edisi Revisi, Yayasan Sudarto, Semarang, 2013, hlm. 115

(28)

b. Teori-Teori yang Mengindividualisasi

Teori yang mengindividualisasi ialah teori yang dalam usahanya mencari faktor penyebab dari timbulnya suatu akibat dengan hanya melihat pada faktor yang ada atau terdapat setelah perbuatan dilakukan, dengan kata lain setelah peristiwa itu beserta akibatnya benar-benar terjadi secara konkret (post factum). Menurut teori ini, setelah peristiwa terjadi, maka di antara sekian rangkaian faktor yang terkait dalam peristiwa itu, tidak semuanya merupakan faktor penyebab. Faktor penyebab itu adalah hanya berupa faktor yang paling berperan atau dominan atau mempunyai andil yang paling kuat terhadap timbulnya suatu akibat, sedangkan faktor lain adalah dinilai sebagai faktor syarat saja dan bukan faktor penyebab. Pendukung teori yang mengindividualisasi ini antara lain Birkmeyer dan Karl Binding.55

Dapat disimpulkan bahwa teori yang mengindividualisasi hanya mencari faktor penyebab yang timbul dari suatu akibat dan hanya faktor yang paling kuatlah yang memiliki andil dalam menimbulkan suatu akibat.

Walaupun teori ini lebih baik daripada yang sebelumnya, pada teori yang mengindividualisasi ini terdapat kelemahan berhubung adanya kesulitan dalam dua hal, yaitu :

1) dalam hal kriteria untuk menentukan faktor mana yang mempunyai pengaruh yang paling kuat, dan

2) dalam hal apabila faktor yang dinilai paling kuat itu lebih dari satu dan sama kuat pengaruhnya terhadap akibat yang timbul. Oleh karena

5555 Mulyati Pawennei dan Rahmanuddin Tomalili, Op.Cit., hlm. 110.

(29)

terdapat kelemahan-kelemahan itu, menimbulkan rasa ketidakpuasan bagi sebagian ahli hukum terhadap teori-teori yang mengindividualisasi, maka timbullah teori-teori yang menggeneralisasi.56

c. Teori-Teori Yang Menggeneralisasi

Teori yang menggeneralisasi adalah teori yang dalam mencari sebab (causa) dari rangkaian faktor yang berpengaruh atau berhubungan dengan timbulnya akibat adalah dengan melihat dan menilai pada faktor mana yang secara wajar dan menurut akal serta pengalaman pada umumnya dapat menimbulkan suatu akibat. Jadi, mencari faktor penyebab dan menilainya tidak berdasarkan pada faktor setelah peristiwa terjadi beserta akibatnya, tetapi pada pengalaman pada umumnya menurut akal dan kewajaran manusia atau disebut secara abstracto, tidak secara inconcreto.57

Dapat disimpulkan bahwa teori yang menggeneralisasi hanya mencari sebab yang berpengaruh dari timbulnya akibat dengan melihat dan menilai secara wajar menurut akal serta pengalaman yang umumnya menimbulkan akibat tersebut.

56 Ibid., hlm. 112

57 Ibid.

Referensi

Dokumen terkait