• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA TEKNIS DAN EKONOMIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KERAMBA APUNG KONSTRUKSI HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISA TEKNIS DAN EKONOMIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KERAMBA APUNG KONSTRUKSI HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE)"

Copied!
147
0
0

Teks penuh

(1)

I

TUGAS AKHIR – MN 141581

ANALISA TEKNIS DAN EKONOMIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KERAMBA APUNG KONSTRUKSI HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE)

TINO SUJATMIKO NRP 4112100037

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Heri Supomo, M.Sc.

Imam Baihaqi, S.T., M.T.

DEPARTEMEN TEKNIK PERKAPALAN FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

2018

(2)

II

FINAL PROJECT – MN 141581

TECHNICAL AND ECONOMIC ANALYSIS DEVELOPMENT OF AQUATECH INDUSTRY CONSTRUCTION OF HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE)

TINO SUJATMIKO NRP 4112100037

Supervisor(s)

Dr. Ir. Heri Supomo, M.Sc.

Imam Baihaqi, S.T., M.T.

DEPARTMENT OF NAVAL ARCHITECTURE & SHIPBUILDING ENGINEERING

FACULTY OF MARINE TECHNOLOGY

SEPULUH NOPEMBER INSTITUTE OF TECHNOLOGY SURABAYA

2018

(3)

III

LEMBAR PENGESAHAN

ANALISA TEKNIS DAN EKONOMIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KERAMBA APUNG KONSTRUKSI HIGH

DENSITY POLYETHYLENE (HDPE)

TUGAS AKHIR

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

pada

Bidang Keahlian Industri Perkapalan Program Sarjana Departemen Teknik Perkapalan

Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Oleh:

TINO SUJATMIKO NRP 4112100037

Disetujui oleh Dosen Pembimbing Tugas Akhir:

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Ir. Heri Supomo, M.Sc. Imam Baihaqi, S.T., M.T.

NIP 19640416 198903 1 003 NIP 19890128 201504 1 003

Mengetahui,

Kepala Departemen Teknik Perkapalan

Ir. Wasis Dwi Aryawan, M.Sc., Ph.D.

NIP 19640210 198903 1 001

SURABAYA, 05 Juli 2018

(4)

IV

LEMBAR REVISI

ANALISA TEKNIS DAN EKONOMIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KERAMBA APUNG KONSTRUKSI HIGH

DENSITY POLYETHYLENE (HDPE)

TUGAS AKHIR

Telah direvisi sesuai dengan hasil Ujian Tugas Akhir 06 JULI 2018

Bidang Industri Perkapalan

Program Sarjana Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Oleh:

Tino Sujatmiko NRP. 04111240000037 Disetujui oleh Tim Penguji Ujian Tugas Akhir:

1. Septia Hardy Sujiatanti, S.T., M.T .……..………..………..

2. Ir. Triwilaswandio Wuruk Pribadi, M.Sc …………..………...

3. Sri Rejeki Wahyu P., S.T., M.T. ...………..………...

4. M. Sholikhan Arif, S.T., M.T. ...………...……..………..

Disetujui oleh Dosen Pembimbing Tugas Akhir:

1. Dr. Ir. Heri Supomo, M.Sc. ...………..………...

2. Imam Baihaqi, S.T., M.T. ...

(5)

V Dipersembahkan kepada kedua orang tua atas segala dukungan dan doanya

(6)

VI

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunianya Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dengan baik.

Pada kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu penyelesaian Tugas Akhir ini, yaitu:

1. Dr. Ir. Heri Supomo, M.Sc. dan Imam Baihaqi, S.T., M.T. selaku Dosen Pembimbing atas bimbingan dan motivasinya selama pengerjaan dan penyusunan Tugas Akhir ini;

2. Ir. Triwilaswandio Wuruk Pribadi, M.Sc. selaku dosen penguji dan Kepala Laboratorium Manajemen Produksi Perkapalan Departemen Teknik Perkapalan FTK ITS atas bantuannya selama pengerjaan Tugas Akhir ini dan atas ijin pemakaian fasilitas laboratorium;

3. Sri Rejeki Wahyu P., S.T., M.T., M. Sholikhan Arif, S.T., M.T., Sufian Imam Wahidi, S.T., M.Sc. dan Septia Hardy Sujiatanti, S.T., M.T selaku dosen penguji atas kritik dan sarannya dalam penyusunan tugas akhir ini;

4. Ir. Wasis Dwi Aryawan, M.Sc., Ph.D. selaku Kepala Departemen Teknik Perkapalan FTK ITS;

5. Perusahaan-perusahaan dan Instansi-instansi terkait yang telah membantu penulis dalam penyelesaian tugas akhir ini;

6. Kedua orang tua yang tiada henti-hentinya mendoakan Penulis dan memberikan dukungan baik moril maupun materiil;

7. Dea Ghiovani Raissa, terima kasih atas waktu, perhatian, dan dukungan yang tiada henti- hentinya diberikan kepada Penulis hingga terselesaikannya Tugas Akhir ini;

8. Haris Zulfikar, Nurhatidewik, Apras Tyo, Febriana Ade Pramana serta teman-teman seperjuangan yang senantiasa menemani dan saling memberikan dukungan dalam pengerjaan Tugas Akhir ini.

9. Teman-teman se-angkatan 2012 (FORECASTLE-P52) yang telah menemani dan memberikan dukungan sejak menjadi mahasiswa baru sampai Penulis lulus.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan. Akhir kata semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Surabaya, 05 Juli 2018

Tino Sujatmiko

(7)

VII

ANALISA TEKNIS DAN EKONOMIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KERAMBA APUNG KONSTRUKSI HIGH DENSITY POLYETHYLENE

(HDPE)

Nama Mahasiswa : Tino Sujatmiko

NRP : 4112100037

Departemen / Fakultas : Teknik Perkapalan / Teknologi Kelautan Dosen Pembimbing : 1. Dr.Ir.Heri Supomo, M.Sc.

2. Imam Baihaqi, S.T., M.T.

ABSTRAK

Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi sumber daya perikanan dan kelautan yang besar. Salah satu sarana untuk meningkatkan hasil sumber daya tersebut adalah dengan keramba apung. Bahan keramba apung di Indonesia umumnya masih mengunakan bahan konvesional sehingga masa pakai keramba apung tidak bertahan lama. Saat ini terdapat keramba apung berbahan high density polyethene (HDPE) yang memiliki kelebihan (lebih kuat dan lebih lama masa pakainya). Namun demikian, keramba apung HDPE belum diproduksi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan analisa teknis dan ekonomis pengembangan industri keramba apung HDPE. Penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi potensi pasar keramba apung. Kemudian dilakukan perencanaan industri keramba apung HDPE dengan fasilitas yang memadai (teknis, pemasaran dan ekonomis).

Hasil dari penelitian ini didapat bahwa forecasting potensi pasar keramba apung HDPE adalah fluktuatif sebesar 77 unit sampai dengan 82 unit. Target produk yang dijual adalah 20% dari pangsa pasar yaitu sebesar 25 unit /tahun. Keramba apung HDPE ini memiliki harga pokok produksi sebesar Rp. 23,844,100 /unit. Jenis produk keramba apung yang dijual adalah keramba apung berbentuk lingkaran. Untuk pengembangan industri memerlukan luas layout untuk workshop adalah 1562 m², layout luas kantor berserta fasilitas umum adalah 1162 m² dan luas tanah 3886 m² yang terletak di desa Kalianget, Kec. Kalianget, Kabupaten Sumenep Madura, Jawa Timur. Pada hasil perhitungan ekonomis didapat biaya investasi pembangunan dan peralatan industri sebesar Rp. 6,2 miliar. Selanjutnya, perhitungan investasi akan kembali (break event point) pada 7 tahun 5 bulan dengan nilai internal rate of return sebesar 16%..

Kata kunci: Industri Perikanan dan Kelautan, investasi, Keramba Apung, High Density Polyethene (HDPE)

(8)

VIII

TECHNICAL AND ECONOMICAL ANALYSIS DEVELOPMENT OF AQUATECH INDUSTRY CONSTRUCTION HIGH DENSITY

POLYETHYLENE (HDPE)

Author : Tino Sujatmiko

Student Number : 4112100037

Department / Faculty : Naval Architecture / Marine Technology Supervisor : 1. Dr.Ir.Heri Supomo,M.Sc.

2. Imam Baihaqi, S.T., M.T.

ABSTRACT

The potential of Indonesia as a marine country that has a large fishery resources the need for development to maximize the potential of the marine and fishery industry one of them by means of aquatech. The objectives of this final project are to conduct a technical analysis among others site selection, production process, inspection of production output, determination of production capacity, equipment and machinery used in the manufacturing.

The results of this study found that market potential forecasting of HDPE floating cages was fluctuating at 77 units up to 82 units. The target product sold is 20% of the market share, which is 25 units /year. This HDPE floating cage has a production cost of Rp. 23,844,100 / unit. layout with a land area of 2728 m² and a building area of 3886 m² that is located on Kalianget, Kec. Kalianget, Kabupaten Sumenep Madura, Jawa Timur. The economic analysis include the analysis of market conditions in Indonesia for ship console demand in five years to come. The investment cost of this industrial development approximately is Rp.

6,230,994,719 which cover cost of purchasing land, construction, equipment and machinery.

Based on the analysis that has been done break event point occurred in the year of 7th and 5th month. The value of Internal Rate of Return is 16% greater than bank interest that has been set in 12%.

Keywords: The Marine and Fishery Industry, Aquatech, The Investment Cost, High Density Polyethene (HDPE)

(9)

IX

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... III LEMBAR REVISI ... IV KATA PENGANTAR ... VI ABSTRAK ...VII ABSTRACT ... VIII DAFTAR ISI ... VIII DAFTAR TABEL ...XII DAFTAR GAMBAR ... XIIIV

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 2

1.3 Batasan Masalah ... 2

1.4 Tujuan Penelitian ... 3

1.5 Manfaat Penelitian ... 3

1.6 Hipotesis ... 3

BAB 2 STUDI LITERATUR ... 5

2.1 Definisi Keramba Apung ... 5

2.2 Jenis-jenis Bentuk Keramba Apung ... 6

2.2.1. Keramba Jaring Apung Bulat ... 6

2.2.2. Keramba Jaring Kotak ... 6

2.2.3. Keramba Jaring Apung Oktagonal ... 7

2.3 Keramba Apung Konvensional... 8

2.3.1. Konstruksi Kerangka Keramba Apung Konvensional ... 9

2.3.2. Kontruksi Pelampung Keramba Apung Konvensional ... 10

2.3.3. Pengikat Keramba Apung Konvensional ... 10

2.3.4. Jangkar Keramba Apung Konvensional ... 11

2.3.5. Jaring Keramba Apung Konvensional ... 11

2.3.6. Sistem Mooring Keramba Apung : ... 12

2.4 Dasar Bahan Polimer HDPE ... 14

2.4.1 Sifat-Sifat Bahan Polimer ... 15

2.5 High Density Polyethene (HDPE) ... 16

2.5.1 Karakteristik High Density Polyethene (HDPE) ... 17

2.6 Investasi ... 18

(10)

X

2.6.1 Kriteria Investasi ... 19

2.6.2 Metode Penilaian Investasi ... 20

2.7 Karakteristik Industri ... 22

2.8 Jenis-Jenis Produksi ... 25

2.9 Referensi Tugas Akhir Terdahulu ... 27

2.9.1 Tugas Akhir Mengenai Industri Komponen Kapal ... 27

2.9.2 Tugas Akhir Mengenai Pengembangan Industri ... 28

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 29

3.1 Umum ... 29

3.2 Tahap Pengumpulan Dan Pengolahan Data ... 29

3.3 Tahap Analisa Lokasi ... 30

3.4 Tahap Analisa Teknis Dan Ekonomis ... 30

3.5 Tahap Analisa Dan Interpretasi Data ... 30

BAB 4 KONDISI EKSISTING ... 33

4.1 Kondisi Eksisting Industri Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) ... 33

4.2 Potensi Pasar ... 35

4.3 Data Penggunaan Produk Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) .... 35

4.4 Calon Konsumen Industri Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) ... 36

4.5 Pengolahan Data ... 36

4.5.1 Proyeksi Permintaan Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) .. 37

BAB 5 PERENCANAAN INDUSTRI ... 41

5.1. Analisa Teknis ... 41

5.1.1 Desain Produk Industri Keramba Apung Konstruksi (HDPE) ... 41

5.1.2 Proses Pembuatan Produk ... 42

5.1.3 Peralatan Dan Mesin ... 48

5.1.4 Standar Keselamatan Kerja ... 56

5.1.5 Analisa pemilihan lokasi ... 57

5.1.6 Perencanaan Lokasi Dan Tata Letak ... 64

5.1.7 Pembobotan Lokasi ... 77

5.1.8 Layout Pabrik ... 78

BAB 6 ANALISA EKONOMI ... 83

6.1. Analisa Ekonomis ... 83

6.1.1 Analisa Penentuan Biaya Pengembangan Industri Keramba Apung ... 83

6.1.2 Analisa Biaya Operasional Pengembangan Industri Keramba Apung ... 86

6.1.3 Analisa Penentuan Harga Pokok Produksi ... 87

6.1.4 Pendapatan Industri Keramba Apung... 88

(11)

XI

6.1.5 Analisa Kelayakan Investasi ... 88

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN ... 91

7.1 Kesimpulan ... 91

7.2 Saran ... 92

DAFTAR PUSTAKA ... 93

Lampiran A Perhitungan Forecasting Pada Industri Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) Lampiran B Perhitungan Analisa Kelayakan Investasi Pada Industri Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) Lampiran C Penilaian pembobotan pemilihan lokasi industri Pada Industri Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) Lampiran D Data pendukung BIODATA PENULIS LAMPIRAN ... 97

BIODATA PENULIS ... 133

(12)

XII

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jenis Pelampung dan Lama Pemakaian ... 10

Tabel 2.2 Ukuran Mata Jaring yang Digunakan Berdasarkan Ukuran Ikan yang Dibudidayakan. ... 12

Tabel 2.3 Bahan Polymers dan Kerja Temperature Panas ... 15

Tabel 2.4 Suhu Operasi Termoplastik ... 16

Tabel 4.1 Data Penggunaan Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa timur ... 36

Tabel 4.2 Data rata-rata jumlah penjualan keramba apung High Density Polyethene (HDPE) ... 37

Tabel 4.3 Hasil Peramalan 2017-2021 ... 38

Tabel 4.4 Perhitungan MSE pada Moving Average (3) ... 38

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan MSE ... 39

Tabel 5.1 Spesifikasi dari Software Solidworks ... 49

Tabel 5. 2 Spesifikasi dari Software AutoCAD ... 49

Tabel 5.3 Spesifikasi dari Personal Computer ... 50

Tabel 5.4 Spesifikasi Mesin ... 52

Tabel 5.5 Spesifikasi Mesin Gerinda Tangan ... 53

Tabel 5.6 Spesifikasi Mesin Bor ... 53

Tabel 5.7 Spesifikasi Mesin Amplas ... 55

Tabel 5.8 Spesifikasi Forklift ... 55

Tabel 5.9 Kriteria Kesesuaian Berdasarkan Kemampuan Lahan pada Lokasi... 57

Tabel 5.10 Kriteria Kesesuaian Berdasarkan Penggunaan Lahan ... 58

Tabel 5.11 Daftar Perguruan Tinggi ... 58

Tabel 5.12 Kriteria Ketersediaan Tenaga Kerja ... 59

Tabel 5.13 Ketersediaan Bahan Baku ... 59

Tabel 5.14 Ketersediaan Bahan Baku Berdasarkan Kuantitas Bahan Baku pada Lokasi ... 60

Tabel 5.15 Ketersediaan Bahan Baku Berdasarkan Kontinuitas Bahan Baku pada Lokasi .... 60

Tabel 5.16 Ketersediaan Bahan Baku Berdasarkan Jarak Bahan Baku pada Lokasi ... 61

Tabel 5.17 Pemilihan Lokasi Berdasarkan Permintaan Pasar pada Lokasi ... 62

Tabel 5.18 Pemilihan Lokasi Berdasarkan Data Tata Ruang Terkait pada Lokasi ... 62

Tabel 5.19 Kecukupan Listrik dan Telepon pada Lokasi Pertama ... 63

Tabel 5.20 Kecukupan Air Bersih pada Lokasi ... 63

Tabel 5.21 Kecukupan Jaringan Jalan pada Lokasi Pertama... 64

Tabel 5.22 Kriteria Lokasi Berdasarkan Harga Tanah pada Lokasi ... 64

Tabel 5.23 Pertimbangan Pemilihan Lokasi ... 77

Tabel 5.24 Daftar Pembagian Luas Ruangan Lantai 1 ... 80

Tabel 5.25 Daftar Pembagian Luas Ruangan Lantai 2 ... 80

Tabel 6. 1 Biaya Pembangunan dan Tanah ... 83

Tabel 6.2 Biaya Instalasi Air, Listrik, dan Telepon... 84

Tabel 6.3 Biaya peralatan dan mesin ... 84

(13)

XIII

Tabel 6.4 Biaya Bahan Baku ... 85

Tabel 6.5 Biaya Peralatan dan Perlengkapan Lain pada Industri Keramba Apung ... 85

Tabel 6.6 Total Investasi Industri Keramba apung... 86

Tabel 6.7 Daftar Gaji Pegawai yang Direncanakan ... 87

Tabel 6.8 Tagihan Air, Listrik, Telepon, dan Internet Perbulan ... 87

Tabel 6.9 Contoh Data Kebutuhan Material dari Engine ... 88

Tabel 6.10 Rencana Pendapatan ... 88

Tabel 6.11 Perhitungan NPV ... 89

Tabel 6.12 IRR dan Payback Period ... 90

(14)

XIV

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Keramba Apung Laut ... 5

Gambar 2.2 Keramba Apung Berbentuk Lingkaran ... 6

Gambar 2.3 Kerampa Apung dengan Berbentuk Kotak ... 7

Gambar 2.4 Kerampa Apung dengan Berbentuk Oktagonal ... 8

Gambar 2.5 Kerampa Apung dengan Tradisional ... 8

Gambar 2.6 Kerangka Keramba Jaring Apung ... 9

Gambar 2.7 Pelampung Drum Besi ... 10

Gambar 2.8 Jenis-jenis Jangkar Keramba Jaring Apung ... 11

Gambar 2.9 Tali Tambat dengan Sistem Caternary Mooring ... 13

Gambar 2.10 Tali Tambat dengan Sistem Taut Leg Mooring ... 13

Gambar 2.11 Logo Kode 2 Plastik HDPE ... 17

Gambar 2.12 Pipa Berbahan Plastik High Density Polyethene (HDPE) ... 18

Gambar 4. 1 Keramba Apung Tradisional ... 34

Gambar 4.2 Pola Peramalan Permintaan keramba apung High Density Polyethene (HDPE) ... 37

Gambar 4.3 Pola Data Permintaan Keramba Apung...39

Gambar 5.1 Contoh Desain Keramba Apung ... 41

Gambar 5.2 Alur Proses Pembuatan Keramba Apung ... 42

Gambar 5.3 Alur Proses Desain Keramba apung ... 42

Gambar 5.4 Dies ... 44

Gambar 5.5 Konstruksi Mesin Extruder ... 45

Gambar 5.6 Peralatan Pengukur ... 51

Gambar 5.7 Mesin Jig Saw ... 52

Gambar 5.8 Mesin Gerinda Tangan ... 52

Gambar 5.9 Mesin Bor ... 53

Gambar 5.10 Mesin Bor Tangan ... 54

Gambar 5.12 Mesin Amplas ... 54

Gambar 5.13 Forklift 1 Ton ... 56

Gambar 5.14 Peralatan Keselamatan untuk Operator ... 56

Gambar 5.15 lokasi Pertama Desa Blimbing, Kec. Paciran, Kab. Lamongan, Jawa Timur ... 65

Gambar 5.16 Lokasi Desa Blimbing, Kec. Paciran, Kab. Lamongan, Jawa Timur ... 66

Gambar 5.17 Jarak kota Surabaya Menuju Desa Blimbing, Kec. Paciran, Kab. Lamongan . 67 Gambar 5.18 Lokasi Desa Blimbing, Kec. Paciran, Kab. Lamongan ... 72

Gambar 5.19 Lokasi Desa Kalianget, Kec. Kalianget, Kabupaten Sumenep Madura, Jawa Timur... 72

Gambar 5.20 Jarak kota Sumenep Menuju Desa Blimbing, Kec. Kalianget, Madura ... 73

Gambar 5.21 Layout Lantai 2 Workshop ... 79

Gambar 5.22 Layout Lantai 1 Workshop ... 79

Gambar 5.23 Flow of Material ... 81

(15)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia dikenal sebagai negara yang jumlah lautannya lebih luas daripada luas daratannya. Luas daratan yang berada di Indonesia adalah 1.919.440 km² sedangkan luas daratan yang ada ini lebih sedikit dibandingkan luas wilayah lautnya. Luas lautnya sekitar 3.273.810 km², ini menandakan Indonesia ini memiliki wilayah laut yang sangat luas mulai dari pulau Sabang sampai Merauke. Indonesia dianugerahi laut yang begitu luas dengan berbagai sumber daya ikan di dalamnya. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas laut dan jumlah pulau yang besar dengan panjang pantai Indonesia mencapai 95.181 km. Potensi tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara yang dikaruniai sumber daya kelautan yang besar termasuk kekayaan keanekaragaman hayati dan non hayati kelautan terbesar. Indonesia memiliki sumberdaya perikanan meliputi, perikanan tangkap di perairan umum seluas 54 juta hektar dengan potensi produksi 0,9 juta ton/tahun. Budidaya laut terdiri dari budidaya ikan (antara lain kakap, kerapu, dan gobia), budidaya moluska (kekerangan, mutiara, dan teripang), dan budidaya rumput laut, budidaya air payau (tambak) yang potensi lahan pengembangannya mencapai sekitar 913.000 ha, dan budidaya air tawar terdiri dari perairan umum (danau, waduk, sungai, dan rawa), kolam air tawar, dan mina padi di sawah, serta bioteknologi kelautan untuk pengembangan industri kelautan dan perikanan seperti industri keramba apung untuk mendukung sektor perikanan dan meningkatkan hasil potensi perikanan di Indonesia.

Penangkapan ikan di laut Indonesia sudah tergolong berlebihan. Dari 6,5 juta ton populasi ikan di indonesia, 5,8 juta tonnya sudah ditangkap (Sutardjo, 2014). Hal itu menjadi sebab menurunnya produktifitas nelayan sehingga pendapatan nelayan berkurang dan menyebabkan kemiskinan. Dengan mengetahui kondisi tersebut dibutuhkan suatu solusi dari permasalahan yang ada untuk meningkatkan produktifitas nelayan tanpa merusak lingkungan.

Salah satunya dengan pengembangan industri keramba apung. Keramba apung dapat mendorong sektor perikanan ke ekonomi hijau dengan mendorong keberlanjutan pengelolaan jangka panjang dari sektor perikanan dan meningkatkan pasokan ikan. Salah satunya adalah Keramba apung kontruksi high density polyethylene (HDPE) yang memiliki karakteristik yang lentur, sehingga dapat mengurangi pengunaan fitting atau sambungan. Pada keramba

(16)

2

apung high density polyethylene (HDPE) tidak mempuyai pontensi untuk mengkontaminasi air sehingga dapat digunakan untuk intallasi air panas dan air dingin. Dengan menerapkan teknologi dan manajemen panen ikan menjadi lebih baik dan pengawasan lingkungan menjadi lebih di perhatikan. Dengan di manfaatkan potensi panjang pantai Indonesia, keramba apung kontruksi high density polyethylene (HDPE) dapat diterapkan pada perairan Indonesia.

Hal ini tentunya menjadi peluang usaha yang sangat baik bagi para investor. Semakin banyaknya permintaan produk keramba apung konstruksi high density polyethylene (HDPE) yang lebih terjangkau dengan kualitas yang baik dalam memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia. Oleh karena itu topik penulis diambil mengenai industri keramba apung konstruksi high density polyethylene (HDPE). Melihat adanya potensi besar dalam perkembangan bisnis sektor perikanan yang berimbas pada industri produk pengolahan material biji plastik high density polyethylene (HDPE), faktor-faktor penghambat kemajuan industri keramba apung kontruksi high density polyethylene (HDPE) dan dirumuskan strategi pengembangan yang tepat sesuai permasalahan yang dihadapi serta menganalisa secara teknis dan ekonomis terhadap produk keramba apung kontruksi high density polyethylene (HDPE).

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, beberapa permasalahan yang akan diselesaikan adalah sebagai berikut :

1. Melakukan analisa potensi pasar keramba apung berkonstruksi high density polyethylene (HDPE) ini ?

2. Bagaimana analisa teknis pengembangan industri keramba apung berkonstruksi high density polyethylene (HDPE) ini ?

3. Bagaimana analisa ekonomis pengembangan industri keramba apung berkonstruksi high density polyethylene (HDPE) ini ?

1.3 Batasan Masalah

Dalam pengerjaan Tugas Akhir ini permasalahan difokuskan pada:

1. Obyek dari penelitian ini terbatas pada industri keramba apung.

2. Penelitian menggunakan analisa teknis dan ekonomis terhadap kondisi pengembangan industri keramba apung berkonstruksi high density polyethylene (HDPE) saat ini.

3. Selama penelitian, faktor eksternal (kondisi perekonomian, politik, dan sosial) diasumsikan dalam keadaan stabil.

4. Penelitian ini terbatas di lakukan di provinsi Jawa Timur.

(17)

3 1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah :

1. Menentukan analisa potensi keramba apung berkonstruksi high density polyethylene (HDPE).

2. Menentukan analisa teknis keramba apung berkonstruksi high density polyethylene (HDPE).

3. Menentukan analisa ekonomis keramba apung berkonstruksi high density polyethylene (HDPE).

1.5 Manfaat Penelitian 1. Bagi Akademisi:

Memberikan informasi mengenai detail dan proses pembuatan produk-produk pengembangan industri keramba apung berkonstruksi high density polyethylene (HDPE).

2. Bagi Praktisi:

Memberikan informasi terhadap investasi pengembangan industri keramba apung berkonstruksi high density polyethylene (HDPE).

1.6 Hipotesis

Hipotesis dari Tugas Akhir ini adalah :

Industri keramba apung ini layak dibangun di Indonesia, dikarenakan mampu menjadi industri penunjang dan pendukung industri perikanan dan kelautan Nasional.

(18)

4

Halaman ini sengaja dikosongkan

(19)

5

BAB 2

STUDI LITERATUR

2.1 Definisi Keramba Apung

Keramba adalah keranjang atau kotak dari bilah bambu atau berbahan lain untuk membudidayakan ikan. Definisi keramba apung menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah wadah budi daya ikan berupa tempat yang terbuat dari bambu atau papan kayu yang ditempatkan di badan sungai atau di laut. Keramba umumnya ditempatkan di sungai dan laut sehingga air dapat mengalir melewati keramba dan air di dalam keramba senantiasa bersirkulasi mengikuti arus air. Keramba bambu dapat ditempatkan tenggelam maupun mengapung sebagian, dan masing-masing dilakukan sesuai kebutuhan. Di perairan yang dalam dan luas, keramba ditempatkan mengapung sebagian dengan bantuan pelampung.

Gambar 2.1 Keramba Apung Laut

(Sumber: www.shareandcare123.blogspot.com, 2018)

Pada Gambar 2.1 adalah salah satu varian keramba yaitu keramba jaring apung yang ditempatkan di laut. Keramba jaring apung terdiri dari rangka dengan pijakan untuk inspeksi.

Jaring apung menggunakan pelampung agar tetap mengapung, serta tertambat pada rangka dan jangkar sehingga tidak berpindah dari posisinya. Ikan tetap berada di dalam keramba karena terkurung oleh jaring. Jenis keramba lain yaitu keramba Hampang, dibangun dengan menggunakan jaring yang ditegakkan dengan tonggak kayu,bambu dan berbahan lain.

(20)

6

Keramba jenis ini umumnya dibangun di pinggir sungai dan perairan yang dangkal. Keramba sungai maupun laut dapat mempengaruhi kuat arus air yang mengalir di belakangnya.

2.2 Jenis-jenis Bentuk Keramba Apung 2.2.1. Keramba Jaring Apung Bulat

Seperti namanya, keramba ini berbentuk bulat dengan diameter 10 hingga 50 meter, tergantung kebutuhan. Keramba jenis ini biasa digunakan pembudidaya di laut. terdapat beberapa pembudidaya yang menggunakannya di waduk atau danau karena memiliki kedalaman yang cukup dan area yang luas. Keramba berukuran 20 meter ke atas dirancang khusus untuk budidaya berskala besar. Jenis ikan yang biasa dipelihara pada keramba ukuran ini seperti ikan Kakap Putih atau Barramundi, Kerapu, dan berbagai jenis ikan Tuna. Pada Gambar 2.2 keramba jaring apung bulat dengan diameter berkisar 8-15 meter, yang dirancang untuk budidaya industri kecil dan menengah. Jenis keramba dengan ukuran ini dan dapat digunakan untuk budidaya ikan laut seperti ikan Kakap Putih dan ikan Bawal Bintang. Selain itu juga digunakan untuk budidaya ikan air tawar seperti ikan Mas (carp) dan ikan Nila (nile tilapia) (Anggraini, 2016).

Gambar 2.2 Keramba Apung Berbentuk Lingkaran (Sumber: www.aquatec.co.id, 2018)

2.2.2. Keramba Jaring Kotak

Keramba jenis ini banyak digunakan di media air tawar, misalnya danau atau waduk.

Bentuknya yang berupa kotak berpetak-petak memungkinkan pembudidaya memelihara berbagai jenis ikan dalam satu blok keramba. Jenis ikan yang dibudidaya dalam keramba ini seperti ikan nila, ikan mas, ikan lele, ikan bandeng, dan jenis lainnya. Tidak menutup

(21)

7 kemungkinan penggunaan keramba jenis ini di laut. Budidaya ikan keramba jaring apung merupakan salah satu cara budidaya pembesaran ikan yang efisien dan efektif. Model sistem budidaya ini telah terbukti lebih efisien, baik secara teknis maupun ekonomis. Dengan luasan media yang sempit, pembudidaya bisa melipat gandakan hasil panen ikan tanpa harus menambah biaya yang besar. Pola yang di pakai sebagai contoh pada Gambar 2.3 adalah mengintensifkan pola budidaya ikan tersebut. Meskipun berbiaya tinggi, keuntungan yang diperoleh pun lebih tinggi (Anggraini, 2016).

Gambar 2.3 Kerampa Apung dengan Berbentuk Kotak (Sumber: lauttual.blogspot.com, 2018)

2.2.3. Keramba Jaring Apung Oktagonal

Keramba jaring apung oktagonal yang terdapat pada Gambar 2.4 merupakan jenis lain dari keramba apung. Keramba apung ini memberikan volume budidaya ikan yang jauh lebih besar dibanding keramba jaring apung bulat dan kotak sehingga cocok digunakan untuk memelihara ikan-ikan perenang cepat seperti ikan bandeng, ikan bawal bintang, dan kakap putih. Pada Gambar 2.4 keramba apung didesain kuat dan lentur sehingga mampu menghadapi ombak laut hingga ketinggian 2 hingga 3 meter. Alat apung dan komponen- komponen keramba apung Oktagonal biasanya terbuat dari bahan Prime Grade Polyethylene (PE) dengan anti-UV yang ramah lingkungan. Tidak menggunakan styrofoam atau bahan yang mencemari lingkungan, baik di dalam maupun di luar alat apung. keramba apung Oktagonal juga menggunakan sistem Completely Knock Down, terdiri dari alat apung dan komponen-komponen yang dapat dirangkai menjadi keramba yang utuh dan dapat dibongkar kembali dengan mudah tanpa merusak keramba. Dengan begitu, pembudidaya dimudahkan saat ingin memindahkan lokasi budidayanya (Anggraini, 2016).

(22)

8

Gambar 2.4 Kerampa Apung dengan Berbentuk Oktagonal (Sumber: kelautanperikanan.com, 2018)

2.3 Keramba Apung Konvensional

Keramba Jaring Apung konvensional dapat dibuat dalam berbagai ukuran. Desain dan bahan tergantung pada kemudahan penanganan, daya tahan bahan baku,harga, dan faktor lainnya. Jaring atau wadah untuk pemeliharaan ikan tawar dibuat dari bahan polietilen.

Bentuk dan ukuran bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran ikan, kedalaman perairan, serta faktor kemudahan dalam pengelolaan. Kerangka (bingkai) jaring terapung dapat dibuat dari bahan kayu atau bambu yang dilapisi bahan anti karat (cat besi). Memilih bahan untuk kerangka, sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan bahan di lokasi budidaya dan nilai ekonomis dari bahan tersebut. Pada keramba apung seperti Gambar 2.5 umumnya petani ikan di jaring terapung menggunakan bambu sebagai bahan utama pembuatan kerangka, karena selain harganya relatif murah juga ketersediaannya di lokasi budidaya sangat banyak.

Gambar 2.5 Kerampa Apung dengan Tradisional (Sumber: www.teropongbisnis.com, 2018)

(23)

9 2.3.1. Konstruksi Kerangka Keramba Apung Konvensional

Kerangka keramba apung konvensional dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi bahan anti karat. Memilih bahan untuk kerangka, sebaiknya disesuai-kan dengan ketersediaan bahan di lokasi budidaya dan nilai ekonomis dari bahan tersebut. Kayu atau bambu secara ekonomis memang lebih murah dibandingkan dengan besi anti karat, tetapi jika dilihat dari masa pakai dengan menggunakan kayu atau bambu jangka waktu (usia teknisnya) hanya 1,5–2 tahun. Sesudah 1,5–2 tahun masa pakai, kerangka yang terbuat dari kayu atau bambu ini sudah tidak layak pakai dan harus direnofasi kembali. Jika akan memakai besi anti karat sebagai kerangka jaring pada umumnya usia ekonomis/ angka waktu pemakaiannya relatif lebih lama, yaitu antara 4–5 tahun. Pada umumnya petani ikan di jaring terapung menggunakan bambu sebagai bahan utama pembuatan kerangka, karena selain harganya relatif murah juga ketersediaannya di lokasi budidaya sangat banyak.

Bambu yang digunakan seperti pada Gamba 2.6 untuk kerangka sebaiknya mempunyai garis tengah 5 – 7 cm di bagian pangkalnya, dan bagian ujungnya berukuran antara 3 – 5 cm. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu tali. Ada juga jenis bambu gombong yang mempunyai diameter 12 -15 cm tetapi jenis bambu ini kurang baik digunakan untuk kerangka karena cepat lapuk.Ukuran kerangka jaring terapung berkisar antara 5 X 5 meter sampai 10 X 10 meter. Petani ikan jaring terapung di perairan cirata pada umumnya menggunakan kerangka dari bambu dengan ukuran 7 X 7 meter. Kerangka dari jaring apung umumnya dibuat tidak hanya satu petak/kantong tetapi satu unit. Satu unit jaring terapung terdiri dari empat buah petak/kantong. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.6 (Anggraini, 2016).

Gambar 2.6 Kerangka Keramba Jaring Apung (Sumber: perikananptk.blogspot.com, 2018)

(24)

10

2.3.2. Kontruksi Pelampung Keramba Apung Konvensional

Pelampung berfungsi untuk mengapungkan kerangka/ jaring terapung. Bahan yang digunakan sebagai pelampung berupa drum (besi atau plastik) yang berkapasitas 200 liter, busa plastik (stryrofoam) atau fiberglass. Jenis pelampung yang akan digunakan biasanya dilihat berdasarkan lama pemakaian. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Jenis Pelampung dan Lama Pemakaian no jenis pelampung lama pemakaian

(bulan)

1 Drum besi 12 - 15

2 Styrofoam 36 - 75

3 Fiberglass 50 - 75

Jika akan menggunakan pelampung dari drum maka drum harus terlebih dahulu dicat dengan menggunakan cat yang mengandung bahan anti karat. Jumlah pelampung yang akan digunakan disesuaikan dengan besarnya kerangka jaring apung yang akan dibuat. Jaring terapung berukuran 7 X 7 meter, dalam satu unit jaring terapung membutuhkan pelampung antara 33 – 35 buah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.7

Gambar 2.7 Pelampung Drum Besi (Sumber: perikananptk.blogspot.com, 2018)

2.3.3. Pengikat Keramba Apung Konvensional

Tali pengikat sebaiknya terbuat dari bahan yang kuat, seperti tambang plastik, kawat ukuran 5 mm, besi beton ukuran 8 mm atau 10 mm. Tali pengikat ini digunakan untuk mengikat kerangka jaring terapung, pelampung atau jaring.

(25)

11 2.3.4. Jangkar Keramba Apung Konvensional

Jangkar berfungsi sebagai penahan jaring terapung agar rakit jaring terapung tidak hanyut terbawa oleh arus air dan angin yang kencang. Jangkar terbuat dari bahan batu, semen atau besi. Pemberat diberi tali pemberat/tali jangkar yang terbuat dari tambang plastik yang berdiameter sekitar 10 mm – 15 mm. Jumlah pemberat untuk satu unit jaring terapung empat petak/kantong adalah sebanyak 4 buah. Pemberat diikatkan pada masing-masing sudut dari kerangka jaring terapung. Berat jangkar berkisar antara 50 – 75 kg. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.8

Gambar 2.8 Jenis-jenis Jangkar Keramba Jaring Apung (Sumber: perikananptk.blogspot.com, 2018)

2.3.5. Jaring Keramba Apung Konvensional

Jaring yang digunakan untuk budidaya ikan di perairan umum, biasanya terbuat dari bahan polyethylene atau disebut jaring trawl. Ukuran mata jaring yang digunakan tergantung dari besarnya ikan yang akan dibudidayakan. Kantong jaring terapung ini mempunyai ukuran bervariasi disesuaikan dengan jenis ikan yang dibudidayakan, untuk ikan air laut ukuran kantong jaring yang biasa digunakan berukuran mulai 2 X 2 X 2 m sampai 5 X 5 x 5 m.

Sedangkan untuk jenis ikan air tawar berkisar antara 3 X 3 X 3 m sampai 7 X 7 X 2,5 m.

Untuk mengurangi resiko kebocoran akibat gigitan binatang lain, biasanya kantong jaring terapung dipasang rangkap (doubel) yaitu kantong jaring luar dan kantong jaring dalam.

Ukuran jaring bagian luar biasanya mempunyai mata jaring (mesh size) yang lebih besar.

Salah satu contohnya adalah sebagai berikut :

a. Jaring polyethylene no. 380 D/9 dengan ukuran mata jaring (mesh size) sebesar 2 inch (5,08 cm) yang dipergunakan sebagai kantong jaring luar.

b. Jaring polyethylene no. 280 D/12 dengan ukuran mata jaring 1 inch (2,5 cm) atau 1,5 inch (3,81 cm) dipergunakan sebagai kantong jaring dalam.

(26)

12

Jaring yang mempunyai ukuran mata jaring lebih kecil dari 1 inch biasanya digunakan untuk memelihara ikan yang berukuran lebih kecil. Di perairan umum, khususnya dalam budidaya ikan di jaring terapung ukuran jaring yang digunakan adalah ukuran ¾ - 1 inch.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.2

Tabel 2.2 Ukuran Mata Jaring yang Digunakan Berdasarkan Ukuran Ikan yang Dibudidayakan.

No Ukuran mata

jaring Ukuran ikan

1 0.5 cm 1 - 2 cm

2 1.0 cm 5 - 10 cm

3 2.5 cm 20 - 30 cm

4 > 2.5 cm > 30 cm

Kantong jaring yang digunakan untuk memelihara ikan dapat diperoleh dengan membeli jaring utuh. Dalam hal ini biasanya jaring trawl dijual dipasaran berupa lembaran atau gulungan. Langkah awal yang harus dilakukan untuk membuat kantong jaring adalah membuat desain/rancangan kantong jaring yang akan dipergunakan. Ukuran kantong jaring yang akan dipergunakan berkisar antara 2 X 2 m sampai dengan 10 X 10 m. Setelah ukuran kantong jaring yang akan dipergunakan, misalnya akan dibuat kantong jaring dengan ukuran 7 X 7 X 2 m, langkah selanjutnya adalah memotong jaring. Untuk memotong jaring harus dilakukan dengan benar berdasarkan pada ukuran mata jaring dan tingkat perenggangannya saat terpasang di perairan.

2.3.6. Sistem Mooring Keramba Apung :

Menurut API RP 2SK tahun 2015 terdapat tiga tipe sistem tambat yang dibedakan yaitu spread mooring, single point mooring dan dynamic positioning (DP). Spread mooring sistem tabat yang sangat baik digunakan untuk bangunan apung berbentuk seperti kapal (ship- shaped vessels). Seiring dengan perkembangan jaman, spread mooring lebih banyak digunakan untuk bangunan tidak berbentuk seperti kapal. Hal itu dikarenakan sensivitas terhadap arah datang lingkurangan yang rendah. Spread mooring dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Catenary Mooring

Caternary mooring merupakan mooring yang digunakan pada kondisi perairan dangkal menuju dalam. Pada sistem tambat ini gaya pengembali dilakukan oleh berat dari mooring lines.

(27)

13

Gambar 2.9 Tali Tambat dengan Sistem Caternary Mooring (Sumber: www.dredgingengineering.com, 2018)

b. Taut Leg Mooring

Taur leg mooring merupakan yang digunakan pada kondisi laut dalam. Sistem mooring ini akan membentuk sudut antara tali tambat dengan dasar laut sehingga dapat menahan gaya horizontal dan vertikal

Gambar 2.10 Tali Tambat dengan Sistem Taut Leg Mooring (Sumber: www.dredgingengineering.com, 2018)

Pemasaangan mooring dilakukan tergantung dengan kebutuhan. Cara pemasangan yang bisa dipilih diantaranya :

a. Dipasang mengunakan tali (mooring) dan pile pancang.

b. Dipasang dengan piling, sehingga nantinya dapat bergerak naik turun tanpa ada gerakan lateral

c. Dipasang mengunakan masa konrit atau jangkar kapal yang ditali

(28)

14

2.4 Dasar Bahan Polimer HDPE

Polimer adalah salah satu bahan rekayasa bukan logam (non-metallic material) yang penting. Saat ini bahan polimer telah banyak digunakan sebagai bahan substitusi untuk logam terutama karena sifat-sifatnya yang ringan, tahan korosi dan kimia, danmurah, khususnya untuk aplikasi-aplikasi pada temperature rendah. Hal lain yang banyak menjadi pertimbangan adalah daya hantar listrik dan panas yang rendah, kemampuan untuk meredam kebisingan, warna dan tingkat transparansi yang bervariasi, kesesuaian desain dan manufaktur.

Istilah plastik, yang sering digunakan oleh masyarakat awam untuk menyebut sebagian besar bahan polimer, mulai digunakan pada tahun 1909.Istilah tersebut berasal dari kata plastikos yang berarti mudah dibentuk dan dicetak. Teknologi modern plastik baru dimulai tahun 1920-an, yaitu dengan mulai digunakannya polimer yang berasal dari produk derivatif minyak bumi.

Plastik, serat, film, dan sebagainya yang biasa dipergunakan dalan kehidupan sehari- hari mempunyai berat molekul di atas 10.000. Bahan dengan berat molekul yang besar itu disebut polimer, mempunyai struktur dan sifat-sifat yang rumit disebabkan oleh jumlah atom pembentuk yang jauh lebih besar dibandingkan dengan senyawa yang berat atomnya rendah.

Umumnya suatu polimer dibangun oleh satuan struktur tersusun secara berulang diikat oleh gaya tarik-menarik yang kuat yang disebut ikatan kovalen, dimana setiap atom dari pasangan terikat menyumbangkan satu elektron untuk membentuk sepasang elektron.

Gaya tarik-menarik diantara atom-atom di dalam benda-benda digolongkan :

o Ikatan kovalen,

o Ikatan ion,

o Ikatan logam,

o Ikatan koordinat,

o Ikatan hidrogen,

o Gaya Van der Waals,

o Ikatan hidro-fobik.

Di antaranya (1), (5) dan (6) biasa digunakan pada bahan polimer, sedangkan (2), (4) dan 7 ditemukan kadangkadang.Gaya antar molekul yang terutama berkerja pada bahan polimer seperti (5) dan (6),juga lebih lemah dari pada ikatan kovalen.Bahan polimer yang mempunyai berat molekul besar dan ikatan kovalen, samasekali menunjukkan sifat-sifat yang berbeda dari bahan organik yang mempunyai berat molekul rendah.

(29)

15 Bahan yang mempunyai berat molekul rendah berubah menjadi cair dengan visikositas rendah atau menguap kalau dipanaskan, sedangkan bahan polimer mencair dengan sangat kental dan tidak menguap. Bahan yang tidak bisa berfungsi itu terurai karna panas menjadi karbon, pada tahap akhir tanpa penguapan.. Molekul polimer disusun dalam satu struktur rantai seperti polyethylene dan polipropilen, dalam struktur tiga dimensi dengan ikatan kovalen seperti phenol dan resinepoksi, dan dalam hal struktur hubungan silang seperti karet dimana sebagian molekul rantai terikat satu sama lain. Sifat-sifat termik dan mekanik dari polimer sangat berbeda tergantung pada keadaan. Dimana distribusi berat molekul mempunyai hubungan erat dengan sifat-sifat bahan polimer.

Tabel 2.3 Bahan Polymers dan Kerja Temperature Panas

Polymers Jangka panjang kerja

temperatur oC Semi-Kristal Bahan yang terbentuk

PEEK, PPS, PTFE, LCP PES, PSU, PEI, EP 150-250 PET, PBT, POM, PA 66,

PA46, PP PC, UP 90-120

HDPE, LDPE, LLDPE PS, PVC, PE, HIPS,

PMMA, ABS <90

(Sumber: Karayannidis, G.P. 2007).

2.4.1 Sifat-Sifat Bahan Polimer

Beberapa diantara polimer rantai mempunyai molekul-molekul yang tersusun secara teratur membentuk kristal. Bahan tersebut dinamakan polimer Kristal walaupun tidak seluruhnya mengkristal, temperature dimana kristal dalam polimer itu mencair dinamakan titik cair polimer. Sifat-sifat khas bahan polimer pada umumnya adalah sebagai berikut : 1. Mampu cetak yang baik. Pada temperatur relatif rendah bahan dapat dicetak dengan penyuntikan, penekanan, ekstrusi dan seterusnya akibatnya biaya pembuatan relative lebih rendah dibanding pada logam atau keramik.

2. Produk yang kuat dan ringan dapat dibuat. Berat jenis polimer adalah rendah di banding logam dan keramik, yaitu 1,0 – 1,7 yang memungkinkan dapat diproduksibarang yang kuat dan ringan.

3. Banyak diantara polimer bersifat isolator yang baik. Polimer mungkin saja dibuat konduktor dengan jalan mencampurnya dengan serbuk logam, butiran karbon,serbuk alam dan lain-lain.

4. Baik sekali dalam ketahanan air dan ketahanan zat kimia. Pemilihan bahan yang baik akan menghasilkan produk yang mempunyai sifat-sifat baik sekali.

(30)

16

5. Produk-produk dengan sifat yang cukup berbeda dapat dibuat tergantung pada cara pembuatannya. Dengan mencampur zat plastis, pengisi dan sebagainya. Sifat-sifat dapat berubah dalam daerah yang luas.

6. Kekerasan permukaan sangat kurang. Bahan polimer yang keras ada tetapi masih jauh dibawah kekerasan logam dan keramik.

7. Kurang tahan terhadap pelarut. Umumnya larut dalam zat pelarut tertentu kecuali pada bahan tertentu seperti politetrafluoretilen. Kalau tidak larut, mudah retak karena kontak terus-menerus dengan zat pelarut dan disertai adanya tegangan. Oleh karena itu perlu perhatian khusus.

Tabel 2.4 Suhu Operasi Termoplastik Bahan Temperatur Pengerjaan

(˚C) Contoh Pengerjaan

CA 160-200 Profil, lembaran, pipa

PS 170-210 Lembaran busa

SB 170-220 Lembaran, profil

ABS 170-220 Pipa, lembaran, profil

LDPE 130-200 Pipa, lembaran, bungkus kawat

HDPE 140-220 Pipa, lembaran, bungkus kawat, pipapengikat

PP 180-260 Pipa, lembaran, pipa pengikat

PVC-

Keras 160-200 Pipa, lembaran, profil

PVC-

Lunak 150-190 Selang, profil, bungkus kabel dan karet

PMMA 160-190 Lembaran, profil, pipa

PC 300-340 Lembaran, profil

PA 260-300 Selang, bungkus kabel, pipa

POM 170-200 Pipa profil

(Sumber: Karayannidis, G.P. 2007)

2.5 High Density Polyethene (HDPE)

Definisi high density polyethene (HDPE) adalah salah satu jenis plastik bertekanan yang banyak digunakan untuk pipa air dan pipa gas. Disebut pipa plastik karena material HDPE berasal dari polymer minyak bumi. Di industri polimer, polietilena ditulis dengan singkatan (PE), perlakuan yang sama yang dilakukan oleh Polistirena (PS) dan Polipropilena (PP). Molekul etena C2H4 adalah CH2=CH2. Dua grup CH2 bersatu dengan ikatan ganda. Polietilena dibentuk melalui proses polimerisasi dari etena. Polietilena bisa diproduksi melalu proses polimerisasi radikal, polimerisasi adisi anionik, polimerisasi ion

(31)

17 koordinasi, atau polimerisasi adisi kationik. Setiap metode menghasilkan tipe polietilena yang berbeda.

Gambar 2.11 Logo Kode 2 Plastik HDPE (Sumber: en.wikipedia.org, 2018)

High Density Polytheylene (HDPE) adalah jenis plastik yang terbuat dari baham polythylene dengan kepadatan tinggi sehingga jenis pipa yang dihasilkan dapat menahan gaya tekan yang lebih tinggi, kuat, lentur dan tahan terhadap bahan kimia. High Density Polytheylene (HDPE) adalah polietilena termoplastik yang terbuat dari minyak bumi. Untuk membuat 1 kg HDPE diperlukan 1,75 kg minyak bumi (sebagai energi dan bahan baku) . High Density Polytheylene memiliki kekuatan tensil dan gaya antar molekul yang tinggi (120°c) dengan karakteristik yang lentur, sehingga dapat mengurangi pengunaan fitting atau sambungan sehingga tidak mempuyai pontensi untuk mengkontaminasi air dan dapat digunakan untuk intallasi air panas dan air dingin.

2.5.1 Karakteristik High Density Polyethene (HDPE)

Karakteristik high density polyethene (HDPE) memiliki kekakuan dan kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan polyethylene PE yang memiliki berat molekul di bawah 300.000 g/mol. HDPE juga memiliki tensile strength dan compression strength yang jauh lebih kuat sekitar empat kalinya dibanding LDPE. Dilihat dari struktur rantai polimer, densitas LDPE lebih rendah dibanding dengan HDPE sehingga mempengaruhi properties kekuatan, hal ini juga karena LDPE memilki lebih banyak rantai cabang yang justru terkadang lebih panjang dibanding rantai utamanya. Hal ini akan mencegah molekul menjadi lebih kompak dan rapat. (tambahan keterangan : ada satu tipe lagi dari PE yang sedikit lebih tinggi properties fisik dan mekaniknya dibanding LDPE yaitu LLDPE (Linear Low Density Polyethylene), meskipun keduanya memiliki densitas dan berat molekul yang tidak jauh berbeda 60.000 – 100.000 g/mol mengapa hal ini bisa terjadi ? LLDPE memiliki rantai

(32)

18

cabang yang lebih banyak dibanding dengan LDPE namun rantai cabang tersebut lebih pendek. LLDPE juga lebih tahan sobek dibanding dengan LDPE). Kembali ke plastik HDPE.

Karakter HDPE memiliki impak strength sangat baik meski ketangguhannya tidak se-ekstrim UHMW-PE, kemudahan dimesining dan mempunyai karakter melumasi sendiri. Properties ini bertahan meski bekerja pada temperature yang sangat rendah (minus 60 deg C). HDPE memiliki ketahanan stress crack yang baik, tahan terhadap korosi (terkecuali untuk kimia asam oksidasi kuat dengan temperature tinggi). Tahan terhadap asam, basa, degreasing agents, dan hampir semua organic solvent, beberapa hydrocarbon hanya menyebabkan swelling permukaan yang ringan saja pada temperature moderate. Dibanding PP plastik HDPE memiliki impak strength yang lebih baik, tetapi kalah dalam hal temperature kerja dan tensile strength. HDPE ringan bersifat mengapung di air, menolak air dan kelembaban sehingga aman dari staining. HDPE dapat di joining dengan hot gas welding, fusion dan butt welding.

Dapat dan mudah di thermoforming.

Gambar 2.12 Pipa Berbahan Plastik High Density Polyethene (HDPE) (Sumber: www.iymax.en.alibaba.com, 2018)

2.6 Investasi

Investasi memiliki beberapa pengertian diantaranya adalah sebagai berikut :

a. “Investasi menurut (Kertonegoro, 1999) “Investasi merupakan wahana dimana dana ditempatkan dengan harapan akan dapat memelihara atau memperoleh nilai dan memberikan penghasilan yang meningkat atau return yang positif”.

Sedangkan menurut (Handaru, 1999).

b. “Investasi dapat diartikan sebagai penanaman modal baik langsung maupun tidak langsung, yang bertujuan untuk mendapatkan manfaat atau keuntungan tertentu sebagai hasil penanaman modal tersebut”. Berdasarkan pengertian

(33)

19 diatas maka dapat dikatakan bahwa keputusan investasi melibatkan tiga unsur pokok, yaitu:

1. Keuntungan yang akan diperoleh

2. Pengorbanan saat ini untuk memperoleh manfaat dimasa yang akan dating 3. Dalam jangka panjang (umur proyek)

Kegiatan investasi telah direncanakan dan dilaksanakan dalam bentuk kesatuan dan jangka waktu tertentu. Proses yang dimaksud diatas merupakan proses perecanaan yang terdiri atas perhitungan akan untung atau rugi, perhitungan akan jangka waktu pengembaliannya, dan perhitungan kelayakan. Dimana proses-proses tersebut dilakukan dengan cara mengadakan studi kelayakan proyek.

Menurut (Suwarsono, 1994) “Yang dimaksud dengan studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil”. Keberhasilan ini dapat ditafsirkan dalam arti terbatas yaitu keberhasilan dalam arti manfaat ekonomis (biasanya dipergunakan oleh pihak swasta) dan keberhasilan dalam artian yang lebih luas yaitu manfaatnya bagi masyarakat. Sedangkan karakteristik dasar dari suatu investasi adalah umumnya memerlukan pengeluaran saat ini untuk memperoleh manfaat di masa yang akan datang. Tujuan dari pada diadakannya suatu studi kelayakan adalah untuk menghindari keterlanjuran penanaman modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan. Biaya yang dibutuhkan untuk mengadakan studi kelayakan ini relatif kecil dibandingkan dengan resiko kegagalan suatu investasi dalam jumlah yang besar. Aspek-aspek studi kelayakan bisnis, yaitu: aspek pasar, aspek teknis, aspek finansial, dan aspek manajemen.

2.6.1 Kriteria Investasi

Kriteria untuk suatu investasi sangat diperlukan untuk menentukan apakah suatu usulan investasi dapat diartikan Go Project atau Not Go Project. Apakah investasi tersebut feasible atau tidak. Dapat dikatakan bahwa semua kriteria menggunakan perbandingan- perbandingan atau hubungan antara penerimaan dan seluruh pengeluaran. Usulan investasi yang feasible adalah usulan yang manfaatnya lebih besar atau paling tidak sama dengan pengeluarannya. Menurut (Soetrisno, 1992) terdapat dua kriteria, yaitu:

(34)

20

1. Kriteria Internal

Kriteria internal adalah kriteria yang terletak dalam proyek bersangkutan, sehingga tidak dapat dibandingkan dengan investasi atau keadaan lain seperti inflasi, keadaan ekonomi, dan lain-lain. Dalam kriteria ini tidak diperlukan suatu reevaluasi apabila terjadi perubahan- perubahan yang bersifat eksternal, reevaluasi diperlukan apabila terjadi perubahan yang bersifat internal. Contoh daripada kriteria internal adalah metode Pay Back Period, Net Present Value, dan Internal Rate of Return

2. Kriteria Eksternal

Kriteria eksternal adalah kriteria yang dibandingkan dengan keadaan lain, terutama dibandingkan dengan usulan investasi lain. Kriteria ini juga dibandingkan dengan keadaan eksternal seperti tingkat inflasi dan perkembangan ekonomi, oleh karenanya jika terjadi perubahan-perubahan seperti perubahan tingkat inflasi, maka pada kriteria ini perlu mengadakan reevaluasi. Contoh dari pada kriteria ini Benefit Cost of Ratio. Untuk usulan investasi berdasarkan kriteria diatas haruslah benar-benar diperhitungkan dengan kecermatan yang tinggi, haruslah diadakan forecasting (peramalan) dengan tingkat keakuratan yang dapat dipercaya. Menurut (Handoko, 1997) forecasting (peramalan) dan lingkungan eksternal makro sangatlah penting bagi operasi atau investasi perusahaan. Hal ini juga tergantung pada antisipasi dan adaptasi terhadap perkembangan lingkungan eksternal makro.

2.6.2 Metode Penilaian Investasi

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa kriteria investasi terbagi menjadi dua yaitu kriteria internal dan eksternal, dimana yang internal menggunakan Pay Back Period, Net Present Value dan Internal of Return sedangkan yang eksternal menggunakan metode Benefit Cost Ratio. Berikut ini adalah metode-metode yang sering digunakan untuk mengajukan usulan investasi:

1. Metode Pay Back Period (PBP)

Menurut (Umar, 2008) metode Pay Back Period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash investment) dengan menggunakan aliran kas, dengan kata lain Pay Back Period merupakan rasio antara initial cash investment dengan cash flow-nya yang hasilnya merupakan satuan waktu.

Menurut (Suwarsono, 1994) metode Pay Back Period adalah “Metode untuk mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali, karena itu satuan hasilnya bukan prosentase, tapi satuan

(35)

21 waktu”. Sedangkan menurut (Riyanto, 1998) metode Pay Back Period adalah satuan periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan proses atau aliran kas netto (Net Cash flow), dengan demikian metode ini menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan agar dana yang ditanam pada saat investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya. Dengan berdasarkan pada metode Pay Back Period usulan yang diterima adalah usulan yang menghasilkan Pay Back Period yang lebih pendek dari Pay Back maximum yang ditetapkan (umur ekonomis proyek). Berikut adalah keuntungan dan kelemahan dari Pay Back Period:

Keuntungan dari metode Pay Back Period adalah:

a. Mudah dimengerti

b. Lebih mengutamakan investasi yang menghasilkan aliran kas yang lebih cepat

c. Beranggapan bahwa semakin lama waktu pengembalian, maka semakin tinggi resikonya

d. Cukup akurat untuk mengukur nilai investasi yang dibandingkan untuk beberapa kasus dan bagi pembuat keputusan

Kelemahan metode Pay Back Period adalah:

a. Mengabaikan nilai waktu daripada uang (time value of money)

b. Mengabaikan penerimaan-penerimaan investasi atau proses setelah Pay Back Period tercapai

2. Metode Net Present Value (NPV)

Menurut (Umar, 2008) metode Net Present Value yaitu selisih antara present value dari investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih (aliran kas operasional maupun aliran kas terminal) dimana yang akan datang untuk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan bunga yang relevan. Menurut (Suwarsono, 1994) metode Net Present Value adalah menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih (operasional maupun terminal cash flow) di masa yang akan datang.

Pada metode ini menghitung selisih antara cash flow yang didiscounted pada tingkat bunga yang minimum (tingkat bunga yang relevan). Apabila jumlah Present Value dari keseluruhan proses yang diharapkan lebih besar dari Present Value investasinya, maka usulan dapat diterima. Dengan melihat Net Present Valuenya prositif yang berarti lebih besar dari nol, maka usulan diterima. Berikut adalah keuntungan dan kelemahan dari Net Present Value:

(36)

22

Keuntungan dari metode Net Present Value adalah:

a. Memperhatikan nilai waktu daripada uang (time value of money) b. Mengutamakan aliran kas yang lebih awal

c. Tidak mengabaikan aliran kas selama periode proyek atau investasi Kelemahan dari metode Net Present Value adalah:

a. Memerlukan perhitungan Cost of Capital sebagai Discount Rate b. Lebih sulit penerapannya daripada Pay Back Period

3. Metode Internal Rate of Return (IRR)

Menurut (Riyanto, 1998) menyebutkan bahwa metode ini adalah metode yang memperhitungkan tingkat bunga yang akan menjadikan jumlah nilai sekarang dari proses yang diharapkan akan diterima sama dengan jumlah nilai sekarang pengeluaran modal, pada dasarnya metode ini harus dicari dengan cara trial dan error atau coba-coba. Menurut (Sudarmo, 1998) tingkat diskonto atau discount Rate yang menjadikan sama antara Present Value dari hasil investasi discount rate atau tingkat diskonto yang menunjukan net present value atau sama besarnya dengan nol.

Penilaian untuk metode Internal Rate of Return ini adalah Jika Internal Rate of Return yang diperoleh lebih kecil dari biaya bunga yang dipergunakan, maka proyek tersebut ditolak.

Sebaliknya jika internal rate of return yang diperoleh lebih besar, maka proyek tersebut diterima. Berikut adalah keuntungan dan kelemahan dari Internal Rate of Return:

Kelebihan metode Internal Rate of Return adalah:

a. Tidak mengakibatkan aliran kas selama periode proyek b. Memperhitungkan nilai waktu daripada uang

c. Mengutamakan aliran kas awal daripada aliran kas belakangan Kekurangan metode Internal Rate of Return adalah:

a. Memerlukan perhitungan COC (Cost of Capital) sebagai batas minimal dari nilai yang akan dicapai .

b. Lebih sulit dalam melakukan perhitungan.

2.7 Karakteristik Industri

Karakterristik Industri merupakan suatu bentuk usaha yang diarahkan pada proses produksi barang/jasa dengan menghasilkan suatu nilai tambah atas produk barang/jasa yang dihasilkan. Industri tersebut pada umumnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan

(37)

23 konsumen/masyarakat dengan mengantisipasi keinginan dan daya beli konsumen. Ditinjau dari segi proses produksinya, secara umum dikenal ada 2 (dua) jenis industri utama (Prasetyo, 2016), yaitu:

1. Mass-Product Oriented Industry 2. Project Oriented Industry

Kedua jenis industri tersebut mempunyai karakter yang berbeda, antara lain:

1. Mass-Product Oriented Industry

Contoh: Industri pemprosesan bahan mentah (penyulingan minyak kelapa sawit, pabrik gula, pabrik tepung terigu, dll), industri makanan (mie, coklat, kue-kue, dll), industri kebutuhan rumah tangga (sabun, sampo, sikat gigi, dll), industri pakaian/garmen, industri sepatu, dll. Ditinjau dari segi produk, maka jenis industri ini menghasilkan suatu produk yang tetap secara massal dengan jumlah produksi tertentu. Produk ini juga merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat, dan mempunyai product life-cycle yang relatif singkat. Atau keluaran (output) dari industri ini sering merupakan suatu bahan baku (input) bagi pembuatan produk dari jenis industri yang lain. Apabila dari segi pemasaran, maka produk yang dihasilkan sangat dibutuhkan oleh masyarakat umum, dan sangat peka terhadap gejolak keinginan dari masyarakat. Sehingga untuk meningkatkan usaha pemasaran dari produk ini, maka pembentukan selera masyarakat secara teratur sangat diperlukan, pemakaian jargon- jargon/ungkapan yang menarik juga akan sangat mempengaruhi masyarakat. Sehingga bentuk pemasaran melalui iklan di media massa akan merupakan pilihan yang sangat tepat, serta secara langsung dapat meningkatkan omset penjualan. Jikalau dari segi produksi, maka proses produksi yang dipilih umumnya sederhana dan bersifat rigid/kaku, sehingga produk yang dihasilkan tidak dapat diubah menjadi suatu bentuk produk yang lain. Proses produksi yang digunakan umumnya menggunakan proses otomatis, sehingga tenaga kerja yang diperlukan untuk menunjang proses produksi tersebut masing-masing mempunyai keahlian yang sangat spesifik. Dalam konteks manajemen dan organisasi, maka industri tersebut mempunyai titik berat organisasi pada departemen pemasaran, mengingat kapasitas produksi/jumlah produk yang dihasilkan serta dengan harga jual yang se-minimum mungkin, sehingga departemen litbang juga akan merupakan departemen yang penting.

Sedangkan dari segi permodelan, maka nilai investasi awal yang diperlukan sangat tinggi dan merupakan suatu paket pembiayaan yang lengkap. Nilai investasi tersebut harus dilaksanakan sekaligus dan merupakan peryaratan minimum yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk dengan kapasitas tertentu. Biaya produksi yang diperlukan

(38)

24

untuk selanjutnya akan bersifat relatif tetap dan yang perlu diperhatikan adalah biaya pemeliharaan dan perbaikan peralatan produksi yang rusak.

2. Project Oriented Industry

Pada Project Oriented Industry Industri perkapalan (bangunan baru dan reparasi), industri pembuatan bangunan lepas pantai, industri kereta api, industri pesawat terbang, industri mobil mewah, industri konstruksi bangunan, dll. Ditinjau dari segi produk, maka jenis industri ini mempunyai suatu keluaran produk yang mempunyai suatu spektrum yang luas/beragam dan akan sangat bergantung pada pesanan (Order Oriented). Produk yang dihasilkan sangat spesifik dan membutuhkan suatu rancang bangun yang khusus. Apabila dari segi pemasaran, maka jenis jenis industri ini memiliki pasar yang sangat spesifik. Jenis produk yang dihasilkan bukan untuk konsumsi masyarakat banyak dan hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan kelompok/golongan tertentu saja. Sehingga strategi pemasaran yang diperlukan adalah bentuk pendekatan khusus seperti melalui forum seminar, pameran industri, ekshibisi, kunjungan kerja, kerja sama, dll. Jikalau dari segi produksi, maka jenis industri ini mempunyai suatu proses produksi yang tidak tetap, tergantung pada jenis produk yang diinginkan oleh konsumen. Proses produksi bisa bersifat sangat fleksibel sehingga tenaga kerja yang mendukung proses produksi harus mempunyai spektrum keahlian yang cukup luas (multi trade). Jenis peralatan yang digunakan-pun harus bersifat umum, sehingga mampu digunakan untuk menghasilkan produk-produk yang berbeda. Disamping itu, jenis industri ini sangat mudah dikembangkan menjadi bentuk industri lain yang menghasilkan produk yang berbeda pula, sebagai contoh: industri perkapalan juga mampu dikembangkan menjadi industri general engineering atau steel construction yang menghasilkan keluaran berupa peralatan-peralatan pabrik. Dalam konteks segi manajemen dan organisasi, maka titik berat organisasi perusahaan adalah pada departemen produksi dan rancang bangun, mengingat bentuk keluaran atau produk yang dihasilkan sangat beragam, pekerjaan perancangan menjadi cukup penting, serta sumber daya yang diperlukan untuk mendukung proses produksi semakin besar pula. Mengingat begitu banyaknya faktor yang dapat berpengaruh pada proses produksi maka konsentrasi kegiatan bertumpu pada departemen produksi.

Sedangkan dari segi permodalan, maka jenis industri ini membutuhkan suatu investasi awal yang sangat bervariasi, tergantung dari tersedianya dana yang mendukung.

Bentukinvestasi dapat dilaksanakan secara bertahap tanpa mengganggu proses produksi yang telah ditetapkan. Biaya terbesar yang dibutuhkan selanjutnya adalah biaya produksi dan pemeliharaan. Dengan memperhatikan penjelasan tentang kedua jenis industri

(39)

25 tersebut diatas, maka dapat diperhatikan bahwa masing-masing industri memiliki karakter tersendiri, terutama sangat dipengaruhi oleh produk yang dihasilkan. Karakter tersebut akan sangat berpengaruh terhadap pola kerja dan permodalan yang diperlukan.

2.8 Jenis-Jenis Produksi

Untuk menghasilkan suatu produk dapat dilakukan melalui beberapa cara, metode dan teknik yang berbeda-beda. Walaupun proses produksi sangat banyak, tetapi secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:

1. Proses produksi terus menerus (Contiunuous process)

Proses produksi terus menerus (Contiunuous process) adalah suatu proses produksi dimana terdapat pola urutan yang pasti dan tidak berubah-ubah dalam pelaksanaan produksi yang dilakukan dari perusahaan yang bersangkutan sejak dari bahan baku sampai menjadi bahan jadi (Purnomo, H. 2003).

a. Sifat-sifat atau ciri-ciri

- Produksi yang dihasilkan dalam jumlah yang besar (produktivitas massa).

- Biasanya menggunakan sistem atau cara penyusunan peralatan berdasarkan urutan pengerjaan dari produk yang dihasilkan.

- Mesin-mesin yang dipakai dalam proses produksi adalah mesin-mesin yang bersifat khusus (special purpose machines).

- Karyawan tidak perlu mempunyai keahlian atau skill yang tinggi karena mesin-mesinnya bersifat khusus dan otomatis.

- Apabila terjadi salah satu mesin rusak atau berhenti maka seluruh proses produksi terhenti.

- Jumlah tenaga kerja tidak perlu banyak karena mesin-mesinnya bersifat khusus.

- Persediaan bahan mentah dan bahan dalam proses lebih sedikit dari proses produksi terputus-putus.

- Biasanya bahan-bahan dipindahkan dengan menggunakan tenaga mesin.

b. Kebaikan atau kelebihan proses produksi terus menerus adalah:

- Dapat diperoleh tingkat biaya produksi per unit yang rendah.

- Dapat dihasilkan produk atau volume yang cukup besar.

- Produk yang dihasilkan distandarisir.

Gambar

Gambar 2.1  Keramba Apung Laut
Gambar 2.2  Keramba Apung Berbentuk Lingkaran   (Sumber: www.aquatec.co.id, 2018)
Gambar 2.3  Kerampa Apung dengan Berbentuk Kotak  (Sumber: lauttual.blogspot.com, 2018)
Gambar 4. 1  Keramba Apung Tradisional
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tugas akhir ini kami tulis dengan judul PENGARUH PEMBERIAN CACAHAN PLASTIK HDPE (HIGH DENSITY POLY-ETHYLENE) SEBAGAI SERAT TERHADAP KUAT LENTUR BETON SERAT untuk

AKTIVASI BENTONIT ALAM SEBAGAI BAHAN PENGISI PADA KOMPOSIT POLIETILEN/HIGH DENSITY POLYETHYLINE (HDPE) UNTUK BAHAN TEKNIK.. Beserta perangkat yang ada ( jika

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh konsentrasi maleat anhidrat terhadap derajat grafting maleat anhidrat pada High Density Polyethylene ( HDPE ) dengan inisiator

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh waktu terhadap derajat grafting antara maleat anhidrat pada high density polyethylene ( HDPE ) dengan inisiator benzoil

PENGARUH PROSENTASE SEKAM PADI TERHADAP KEKUATAN TARIK NANO KOMPOSIT HDPE (HIGH DENSITY POLYETHYLENE) DENGAN PROSES INJECTION MOULDING PADA TEMPERATUR 150˚C.. Oleh: RICHARD

Jenis kantong plastik yang terbuat dari bahan baku HDPE (High Density Poly Ethelene) biasa di masyarakat dikenal dengan sebutan “kantong kresek”, “kantong asoy”,

LIMBAH PLASTIK HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE) DAN ABU DASAR BATUBARA SEBAGAI MATERIAL KOMPOSIT DENGAN MATRIK SEMEN TERHADAP KEKUATAN TEKAN DAN SERAPAN AIR” dapat

Mengingat material pipa yang diberikan adalah jenis pipa baru yaitu pipa High Density Poly Ethylene (HDPE) yang belum dikenal oleh masyarakat terutama dalam proses