P P R R O O F F I I L L K K E E S S E E H H A A T T A A N N
T T A A H H U U N N 2 2 0 0 1 1 5 5
DINAS KESEHATAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Tim Penyusun:
Penanggung Jawab Dr. Kornelius Kodi Mete
Pengarah
Klemens Kesule Hala, SH,M.Hum
Tim Editor & Analisa
Ir. Erlina R. Salmun, M.Kes
Donna Hutahaean, SKM, M.Kes Adriana Kikhau, SKM Maria Thersia Roja, SE
Yos D. Rini, S.Kom
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Kontributor
1. Seksi Kesehatan Ibu dan Anak 2. Seksi Perbaikan Gizi Masyarakat
3. Seksi Promosi Kesehatan dan Peran Serta Masyarakat 4. Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 5. Seksi Penyehatan Lingkungan
6. Seksi Penanggulangan Keadaan Darurat Kesehatan
7. Seksi Asuransi Kesehatan dan Jaminan Pembiayaan & Pemeliharaan Kesehatan 8. Seksi Pelayanan Kesehatan Strata 2 & Strata 3
9. Seksi Kefarmasian, Bahan dan Peralatan Kesehatan 10. Seksi Pendidikan dan Latihan
11. Seksi Pengkajian dan Pendayagunaan SDM Kesehatan 12. Seksi Legalitas Tenaga dan Institusi Diklat
13. Sub Bagian Kepegawaian dan Umum 14. Sub Bagian Keuangan
15. Sub Bagian Program, Data dan Evaluasi 16. UPTD Pengembangan SDM Kesehatan
17. UPTD Pengelolaan Obat, Vaksin dan Perbekkes 18. UPTD Laboratorium Kesehatan
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat, rahmat, dan bimbinganNya, maka Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 dapat diterbitkan.
Profil kesehatan merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan Daerah yang diterbitkan secara berkala setiap tahun guna memberikan data dan informasi tentang berbagai kegiatan dan pencapaian program pembangunan kesehatan yang dievaluasi berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Data dan informasi dalam profil kesehatan ini berdasarkan hasil kajian dan pengelolaan pada saat pertemuan Validasi Profil Kesehatan pada bulan Februari 2016.
Dalam proses penyusunan Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, banyak pihak telah membantu terutama dalam hal pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, seksi dan sub.bagian pada Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan unit-unit kesehatan lain yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu perkenankan kami pada kesempatan ini menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015.
Kami menyadari bahwa isi Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 ini masih jauh dari yang diharapkan karena itu kami mengharapkan masukan yang dapat digunakan untuk perbaikan penyusunan profil ini ke arah yang lebih baik pada periode berikutnya.
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai
ii
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melimpahkan berkat, rahmat dan bimbingan-Nya kepada kita semua yang telah terlibat dalam penyusunan Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dan semoga Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 dapat dipergunakan bagi semua pihak untuk mencapai masyarakat Nusa Tenggara Timur yang sehat dan sejahtera.
Mari sehati sesuara membangun Nusa Tenggara Timur baru pada umumnya dan bidang kesehatan pada khususnya.
Kupang, 01 Juli 2016
KEPALA DINAS KESEHATAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR,
Dr. KORNELIUS KODI METE PEMBINA UTAMA MUDA NIP.19630503 199001 1 003
DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel
I iii iv ix
BAB I. Pendahuluan 1
BAB II. Gambaran Umum Penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur 4
A. Data Kependudukan 7
B. Keadaan Pendidikan 10
C. Keadaan Lingkungan 11
BAB III. Situasi Derajat Kesehatan 19
A. Mortalitas 21
B. Morbiditas 35
C. Prevalensi Masalah Gizi Buruk dan Gizi Kurang 79
BAB IV. Situasi Upaya Kesehatan 87
A. Pelayanan Kesehatan Dasar 87
B. Pelayanan Kesehatan Rujukan 106
C. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 110
D. Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar 124
E. Perbaikan Gizi Masyarakat 126
BAB V. Situasi Sumber Daya Kesehatan 131
A. Sarana Kesehatan 131
B. Tenaga Kesehatan 139
C. Pembiayaan Kesehatan 142
BAB VI. Penutup 146
Lampiran
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Melek Huruf di Provinsi Nusa
Tenggara Timur Tahun 2015 9
Gambar 2.2 Persentase Penduduk dengan Akses Berkelanjutan terhadap Air Minum
Layak Tahun 2015 13
Gambar 2.3 Persentase TPU Sehat Menurut Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT Tahun
2015 15
Gambar 2.4 Persentase TPM Sehat Menurut Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT Tahun
2015 17
Gambar 3.1 Konversi Angka Kematian Bayi per 1.000 Kelahiran Hidup di Provinsi Nusa
Tenggara Timur Tahun 2013 – 2015 23
Gambar 3.2 Konversi Angka Kematian Balita per 1.000 Kelahiran Hidup di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2013 - 2015
26
Gambar 3.3 Konversi Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup di Provinsi Nusa
Tenggara Timur Tahun 2013 - 2015 29
Gambar 3.4 Jumlah kematian Bayi, Ibu dan Balita di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun
2013 – 2015 30
Gambar 3.5 Umur Harapan Hidup (UHH) Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun
2010,2015 34
Gambar 3.6 Jumlah Seluruh Kasus TB (Case Notification Rate (CNR) di Provinsi Nusta
Tenggara Timur Tahun 2015 41
Gambar 3.7 Cakupan Angka Kesembuhan (Cure Rate) TB di Provinsi Nusa Tenggara
Timur Tahun 2015 43
Gambar 3.8 Cakupan Angka Keberhasilan Pengobatan (Succes rate) TB Paru Tahun
2015 45
Gambar 3.9 Persentase Cakupan Penemuan dan Penanganan Pneumonia pada Balita
menurut Kab/Kota di Provinsi NTT Tahun 2011 – 2015 48 Gambar 3.10 Cakupann Penemuan dan Penanganan Pneumonia pada Balita menurut
Kab/Kota di Provinsi NTT Tahun 2015 49
Gambar 3.11 Jumlah Kasus Baru HIV di Provinsi NTT Tahun 2015 53
Gambar 3.12 Jumlah Kasus Baru AIDS di Provinsi NTT Tahun 2015 54 Gambar 3.13 Penderita Baru Kusta PB + MB menurut Kab/Kota di Provinsi NTT Tahun
2015 57
Gambar 3.14 Penemuan Kasus AFP di Provinsi NTT Tahun 2011 – 2015 59
Gambar 3.15 Penemuan Kasus AFP menurut Kabupaten/Kota di Provinsi NTT Tahun 2015 60
Gambar 3.16 Penemuan Kasus Campak di Provinsi NTT Tahun 2011 – 2015 66
Gambar 3.17 Kasus Campak menurut Kabupaten/Kota di Provinsi NTT Tahun 2015 67
Gambar 3.18 Penderita DBD menurut Kab/Kota di Provinsi NTT Tahun 2015 69
Gambar 3.19 Cakupan Penderita Diare yang ditemukan dan ditangani menurut Kab/Kota di
Provinsi NTT Tahun 2015 71
Gambar 3.20 Annual Parasite Incidence (API) Per 1000 Penduduk 75
Gambar 3.21 Jumlah Kasus Gizi Buruk menurut Kabupate/Kota Tahun 2015 82
Gambar 3.22 Persentase Bayi dengan BBLR menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa
Tenggara Timur Tahun 2015 84
Gambar 3.23 Jumlah Kasus Gizi Buruk dan BGM di Provinsi NTT Tahun 2015 86
Gambar 4.1 Persentase Cakupan Pelayanan K4 Ibu Hamil Menurut Kabupaten/Kota di
Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 90
Gambar 4.2 Persentase Cakupan Persalinan dengan Pertolongan oleh dan Melalui Pendampingan Tenaga Kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun
2011 – 2015 92
Gambar 4.3 Persentase Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 93
Gambar 4.4 Persentase Cakupan Kunjungan Neonatus 1 Kali (KN1) Menurut
Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 96 Gambar 4.5 Persentase Cakupan Kunjungan Bayi (Minimal 4 kali) Menurut
Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 97 Gambar 4.6 Persentase Cakupan Pemeriksaan Siswa Sekolah Dasar/Sederajat Provinsi
Nusa Tenggara Timur Tahun 2009 – 2015
99 Gambar 4.7 Persentase KB Aktif menurut Jenis Kontrasepsi Provinsi Nusa Tenggara
Timur Tahun 2013 - 2015. 101
Gambar 4.8 Persentase Cakupan UCI Desa/Kelurahan Menurut Kabupaten/Kota di
Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 103
Gambar 4.9 Persentase cakupan Imunisasi BCG, DPT-3, Polio dan Campak di Provinsi
Nusa Tenggara Timur Tahun 2013 – 2015. 104
Gambar 4.10 Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil di Provinsi Nusa Tenggara
Timur Tahun 2013 – 2015 105
Gambar 4.11 Jumlah kunjungan Rawat Jalan dan Pasien Rawat Inap di Fasilitas
Kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2013-2105. 108 Gambar 4.12 Cakupan Imunisasi Polio – 3 menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa
Tenggara Timur Tahun 2015. 112
Gambar 4.13 Jumlah Penderita TB BTA+, Diobati dan Penderita Sembuh Provinsi Nusa
Tenggara Timur Tahun 2013 – 2015. 114
Gambar 4.14
Persentase Jumlah Penemuan dan Penanganan (Pengobatan) Kasus Pneumonia pada Balita di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2013 – 2015.
115
Gambar 4.15 Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menurut Kabupaten/Kota di
Provinsi NTT Tahun 2015. 120
Gambar 4.16 Jumlah Kasus Malaria (+) menurut Kabupaten/Kota di Provinsi NTT Tahun
2015 122
Gambar 4.17
Jumlah Balita diTimbang, Berat Badan Naik dan Balita BGM di Provinsi NTT
Tahun 2013 – 2015. 127
Gambar 4.18 Persentase Cakupan Pemberian Tablet Besi pada Ibu Hamil di Provinsi Nusa
Tenggara Timur Tahun 2013 – 2015. 129
Gambar 5.1 Jumlah Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Non Perawatan di Provisni
Nusa Tenggara Timur Tahun 2013 – 2105. 133
Gambar 5.2 Perkembangan Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit di Provinsi Nusa
Tenggara Timur Tahun 2013 – 2015. 135
Gambar 5.3 Jumlah Posyandu Menurut Strata di Provinsi Nusa Tenggara Nusa Tenggara
Timur Tahun 2009 – 2013. 137
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Indikator Derajat Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015.
20
Tabel 3.2 Umur Harapan Hidup Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2010 –
2015. 33
Tabel 3.3 Pola 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas pada Pasien Rawat
Jalan Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015. 37
Tabel 5.1 Alokasi Pendapatan dan Belanja Negara (Dekonsentrasi) Dinas
Kesehatan Provinsi NTT Tahun 2015. 144
BAB I PENDAHULUAN
Pembangunan Kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal sehingga dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Demi mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat maka upaya kesehatan diselenggarakan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara terpadu dan dengan mengutamakan pendekatan : Peningkatan kesehatan (Promotif), pencegahan penyakit (Preventif), penyembuhan penyakit (Kuratif), serta pemulihan kesehatan (Rehabilitatif). Dalam konteks ini maka perlu dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan : a) Berpihak pada rakyat; b) Bertindak cepat dan tepat; c) Integritas tinggi; d) Transparansi dan Akuntabilitas; e) Kemitraan atau Sinergisme diantara para pelaku Pembangunan Kesehatan.
Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk melaporkan hasil pemantauan terhadap Pencapaian Pembangunan Kesehatan di Provinsi NTT adalah Profil Kesehatan. Profil Kesehatan merupakan gambaran situasi Pembangunan Kesehatan di Provinsi NTT yang dihasilkan setahun sekali.
Dalam tahap penerbitan Profil Kesehatan selalu dilakukan berbagai upaya perbaikan baik dari segi materi, data/informasi, analisis, maupun bentuk tampilan fisiknya, sesuai masukan dari para pengelola program di lingkup dinas kesehatan.
Dengan demikian jelaslah bahwa tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Provinsi NTT tahun 2015 adalah dalam rangka menyediakan sarana untuk kebutuhan manajemen (perencanaan, pelaksanaan, pemantauan serta evaluasi) pembangunan kesehatan, pengambilan keputusan serta sebagai salah satu rujukan data dan informasi.
Profil Kesehatan Provinsi NTT tahun 2015 ini terdiri dari 6 (enam) bab yaitu : Bab I : Pendahuluan
Bab ini menyajikan tentang maksud dan tujuan diterbitkan Profil Kesehatan Provinsi NTT tahun 2015 dan sistematika penyajiannya.
Bab II : Gambaran Umum dan Penduduk NTT
Bab ini menyajikan gambaran umum NTT. Selain menggambarkan letak geografis, administratif, informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan, misalnya kependudukan, kondisi ekonomi, perkembangan pendidikan dan lainnya.
Bab III : Situasi Derajat Kesehatan
Bab ini berisi uraian tentang indikator keberhasilan pembangunan kesehatan pada tahun 2015 yang mencakup umur harapan hidup, mortalitas, morbiditas dan keadaaan status gizi.
Bab IV : Situasi Upaya Kesehatan
Bab ini menguraikan tentang upaya-upaya kesehatan yang telah dilaksanakan oleh bidang kesehatan selama tahun 2015 yang menggambarkan tingkat pencapaian program pembangunan kesehatan.
Gambaran tentang upaya kesehatan meliputi cakupan pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat.
Bab V : Situasi Sumber Daya Kesehatan
Bab ini menguraikan tentang sumber daya yang diperlukan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan, khususnya untuk tahun 2015. Gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup keadaan sarana kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan.
Bab VI : Penutup
BAB II
GAMBARAN UMUM PENDUDUK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Letak Geografis: 8°-12°&118°-125° BT
Jumlah Pulau : 1.192 (Besar & Kecil)
Pulau Berpenghuni : 43 Pulau
Iklim : Kering (4 Bulan Basah)
Penduduk Th. 2015 = 5.120.061Jiwa
Luas Wilayah Daratan ± 48.718,10 Km2 &
lautan ± 15.141.773,10 Ha
Wilayah Administratif : 21 Kabupaten dan 1 Kota, 306 Kecamatan, dan
3.313 Desa/Kelurahan Sumber data:Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 56 Tahun 2015
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Wilayah Provinsi NTT secara geografis terletak di antara 8-12 Lintang Selatan dan 118 - 125
Bujur Timur. Luas wilayah daratan 48.718,10 Km2 dan luas wilayah lautan 15.141.773, 10 Ha yang tersebar pada 1.192 pulau. 43 pulau yang dihuni, 1.149 pulau belum dihuni, 246 pulau sudah bernama dan 946 lainnya belum bernama. Memiliki sungai besar sebanyak 40 sungai dengan panjang antara 25- 118 Kilometer. Wilayahnya membentang sepanjang 160 Km dari Utara di Pulau Palue sampai Selatan di Pulau Ndana dan sepanjang 400 Km dari bagian barat di Pulau Komodo sampai Alor di bagian Timur.
Batas-batas wilayah yaitu; Sebelah Utara dengan Laut Flores, Sebelah Selatan dengan Samudera Hindia dan Australia, Sebelah Timur dengan Negara Republic Democratic Timor Leste; dan Sebelah Barat dengan Selat Sape Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Ketinggian wilayah 0- 1.000 Mdpl seluas 86,35% dan ketinggian >1.000 Mdpl seluas 3,65%.
Topografi dominan berbukit hingga bergunung-gunung dengan kemiringan >40%. Wilayah dengan kemiringan <8% terbatas dan sebagian besar kemiringan lahan 8-40% sehingga tingkat erosi tinggi.
Topografi Desa/Kelurahan yaitu 5,46 % berada di wilayah puncak, 41,23 % di wilayah lereng, 10,69 % di wilayah lembah dan 42,62 % berada pada wilayah datar. Sebagian besar tanah di wilayah ini memiliki solum yang sangat dangkal (<30 Cm). Musim hujan berlangsung antara bulan November hingga Maret dan musim kemarau antara bulan April hingga Oktober. Rata-rata curah hujan tahunan berkisar 850 mm terjadi di Sabu, Maumere, dan Waingapu, sementara curah hujan tahunan kisaran 2500 mm terjadi di Ruteng, Kuwus, Mano, Pagal dan Lelogama.
Provinsi NTT mempunyai luas daratan 47.350,00 km2 yang terdiri dari gugusan pulau besar dan kecil, jumlah seluruh pulau mencapai 1.192 buah, termasuk 4 (empat) pulau besar yaitu Flores, Sumba,
Timor dan Alor (FLOBAMORA). Posisi geografis Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah sebelah Utara berbatasan dengan laut Flores, sebelah Selatan dengan lautan Hindia, sebelah Timur dengan Negara Repoblik Demokratik Timor Leste (RDTL) dan Laut Timor dan sebelah Barat dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Kedudukan Astronomis terletak pada 80 - 120 Lintang Selatan dan 1180 - 1250 Bujur Timur.
Selanjutnya Nusa Tenggara Timur memiliki kondisi geografis yang bervariasi, seperti Pulau Flores, Alor, Komodo, Solor, Lembata dan pulau-pulau sekitarnya di jalur utara terbentuk secara vulkanik. Sedangkan Pulau Sumba, Sabu, Rote, Semau, Timor dan pulau-pulau sekitarnya di selatan merupakan daerah karang, karena terbentuk dari dasar laut yang terangkat ke permukaan. Dengan kondisi seperti ini maka pulau-pulau yang terletak pada jalur vulkanik dapat dikategorikan sebagai daerah yang subur, sedangkan daerah karang pada umumnya kurang subur.
Wilayah administratif Pemerintah Provinsi NTT telah berkembang dari tahun ke tahun sesuai dengan perkembangan kependudukan. Provinsi NTT terdiri dari 21 Kabupaten, 1 Kota, 306 Kecamatan dan 3.313 Desa/Kelurahan. Luas wilayah masing-masing kabupaten cukup bervariasi, dimana Kabupaten Kupang memiliki luas terbesar yaitu 5.434,76 km2 dan yang terkecil adalah Kota Kupang dengan luas 26,18 km2. Dari segi topografis, keadaan permukaan tanahnya sebagian besar (±70%) merupakan daerah bergunung dan berbukit dengan kemiringan rata-rata 50 % ke atas dengan morfologi yang agak gundul. Berdasarkan zone agroklimat, iklim di Provinsi NTT adalah tipe D/E yaitu memiliki hari hujan <3 bulan atau sekitar 150 hari selama setahun dan selebihnya adalah musim kemarau.
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai A. DATA KEPENDUDUKAN
1. Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk
Penduduk merupakan obyek sekaligus subyek pembangunan. Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi modal pembangunan yang potensial. namun jika kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada tidak memadai maka penduduk dapat menjadi beban bagi pembangunan. Masalah kependudukan selain kualitas SDM yang rendah, juga tingkat pertumbuhan yang tinggi dan persebaran antar willyah yang tidak merata. Penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT) telah bertumbuh cukup pesat selama lebih dari dua dasawarsa. Tahun 2010 hasil sensus penduduk, jumlah penduduk NTT sebesar 4.706.200 jiwa. Setiap tahun telah terjadi pertambahan penduduk, sehingga dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ini, yaitu dari tahun 2010 ke tahun 2015 yang telah diproyeksikan jumlah penduduk NTT telah berjumlah 5.120.061 berarti bahwa dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ini telah terjadi penambahan penduduk sekitar 424.861 juta orang.
Laju pertumbuhan penduduk NTT sejaka tahun 2010 – 2014 adalah sebesar 1,71 % (hasil Proyeksi penduduk) sedangkan untuk Indonesia laju pertumbuhan penduduknya adalah sebesar 1,40 %, berarti laju pertumbuhan penduduk NTT lebih tinggi dibanding rata-rata laju pertumbuhan penduduk Indonesia, hal ini dipengaruhi banyak faktor antara lain jumlah kelahiran, kematian dan perpindahan (migrasi).
Rasio jenis kelamin penduduk NTT cenderung tidak mengalami perubahan signifikan dalam beberapa kali sensus yang dilakukan, yang mana masih didominasi oleh penduduk perempuan. Rasio
jenis kelamin penduduk NTT adalah tahun 2015 sebesar 98,21 berarti dari setiap 100 penduduk wanita terdapat 98 penduduk laki-laki. Rincian per kabupaten/Kota dapat dilihat secara rinci pada Lampiran Tabel 2.
2. Persebaran dan Kepadatan Penduduk
Salah satu ciri kependudukan di NTT adalah persebaran penduduk antar kabupaten/kota yang tidak seimbang. Hal ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu secara alamiah.Namun di berapa wilayah tampak adanya perubahan persentase distribusi penduduk akibat dari pemekaran wilayah kabupaten. Persebaran tersebut tidak merata dimana sekitar 42 % penduduk Provinsi NTT tinggal di enam Kabupaten/Kota, yaitu : Kota Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kupang, Sikka, Manggarai dan Sumba Barat Daya. Begitu juga dengan kepadatannya, dimana pada tahun 2015 yang memiliki kepadatan tertinggi adalah Kota Kupang 14.930 jiwa/km2 dan kepadatan penduduk yang terendah di Kabupaten Sumba Timur sebesar 35 jiwa/km2.
3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Komposisi umur penduduk di masa depan akan lebih banyak dipengaruhi oleh arah perkembangan kelahiran dan kematian karena penduduk yang ke luar dan masuk ke NTT dapat dikatakan relatif seimbang. Jika laju kematian turun sedangkan laju kelahiran tetap tinggi, maka proporsi
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai penduduk yang tergolong usia muda akan meningkat sehingga pada gilirannya akan menambah angka beban tanggungan. Kondisi ini akan mengganggu percepatan pembangunan karena dengan jumlah penduduk yang besar maka sebagian besar sumber daya pembangunan terserap untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif. Efek program keluarga berencana yang berhasil terhadap struktur penduduk baru terasa setelah sepuluh tahun. Struktur penduduk NTT masih tergolong penduduk muda karena persentase penduduk usia Produktif pada kelompok umur 15-64 tahun sudah lebih besar dibanding usia anak-anak (<15 tahun) dan penduduk lanjut usia (>65 tahun).
Komposisi penduduk menurut kelompok umur dapat menggambarkan tinggi rendahnya tingkat kelahiran. Selain itu komposisi penduduk juga mencerminkan Angka Beban Tanggungan yaitu perbandingan antara jumlah penduduk produktif (umur 15 - 64 tahun) dengan umur tidak produktif (umur 0-14 tahun dan umur 65 tahun ke atas).
Proporsi penduduk Provinsi NTT yang berusia 0 – 14 tahun pada tahun pada tahun 2015 ini sebesar 1.799.021 jiwa ( 35 %), sedangkan pada tahun 2014 sebesar 1.784.402 (35%). Artinya tidak ada perbedaan pada tahun 2014 dibandingkan dengan 2015. Jadi baik pada tahun 2014 maupun tahun 2015 telah terjadi penurunan angka kelahiran. Proporsi penduduk yang berusia 15 - 64 tahun pada tahun 2015 ini sebesar 3.070.775 jiwa ( 60 %), sedangkan pada tahun 2014 sebesar 3.007.024 ( 60 %).
Artinya tidak terjadi perbedaan antara tahun 2014 jika dibandingkan dengan 2015, sedang jumlah penduduk yang berusia tua (≥ 65 tahun) tahun 2015 sebesar 250.265 jiwa (15 %), sedangkan 2014 sebesar 45.471 (15 %), artinya jumlah usia tua tahun 2015 dibandingkan tahun 2014 juga tidak ada perbedaan/tetap. Rincian kelompok umur ini dapat kita lihat lampiran tabel 2.
B. KEADAAN PENDIDIKAN
1. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
Ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki penduduk merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formal. Semakin tinggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata penduduk suatu negara mencerminkan semakin tingginya taraf intelektualitas bangsa dan negara tersebut. Di Provinsi NTT pada tahun Pada tahun 2014 penduduk NTT yang berumur 10 tahun ke atas adalah sebesar 3.816.048 orang. Dari angka tersebut atas kepemilikan ijazah yang dimiliki adalah sebagai berikut : persentase penduduk Provinsi NTT berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah bersekolah atau tidak memiliki tidak memiliki ijazah SD atau tidak tamat SD adalah sebesar 36,27 %, yang memiliki ijazah atau tamat SD/MI sebesar 32,61 % , memiliki ijazah atau tamat SMP/MTs sebesar 12,74 %, memiliki ijazah atau tamat SMA sebesar 13,83 % dan yang memilik atau tamat Universitas adalah sebesar 4,56 %. Rinciannya dapat kita lihat pada lampiran profil tabel 3.
Dilihat dari jenis kelamin, ijazah/STTB yang dimiliki oleh penduduk laki-laki ternyata pada masih lebih baik jika dibandingkan yang dimiliki perempuan kecuali pada tamatan SD, sedang pada tamat SMP, SLTA/SMK lebih tinggi pada laki-laki, utnuk pendidikan Diploma lebih perempuan lebih baik dibandingkan laki-laki, namun untuk pendidikan S1/S2/S3 anatar perempuan dan laki-laki hampir sama. Rincian persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas menurut jenis kelamin dan pendidikan tertinggi yang ditamatkan pada tahun 2015 dapat dilihat pada Lampiran Profil Tabel 3 dan gambar berikut ini.
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai
GAMBAR 2.1
PERSENTASE PENDUDUK 10 TAHUN KE ATAS MENURUT JENIS KELAMIN DAN IJAZAH TERTINGGI YANG DIMILIKI
DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR, TAHUN 2015
Sumber : BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015
C. KEADAAN LINGKUNGAN
Dalam menggambarkan keadaan lingkungan, disajikan indikator-indikator yang merupakan hasil dari upaya sektor kesehatan dan hasil upaya sektor-sektor lain yang terkait. Salah satu sasaran dari lingkungan sehat adalah tercapainya pemukiman dan lingkungan perumahan yang memenuhi
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai syarat kesehatan di pedesaan dan perkotaan serta terpenuhinya persyaratan kesehatan di tempat- tempat umum, termasuk sarana dan cara pengelolaannya. Indikator–indikator tersebut adalah persentase rumah sehat, persentase tempat - tempat umum sehat, dan persentase penduduk dengan akses air minum.
1. Akses Terhadap Air Bersih
Air bersih merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari. Ketersediaan dalam jumlah yang cukup terutama untuk keperluan minum dan masak merupakan tujuan dari program penyediaan air bersih yang terus menerus diupayakan pemerintah.
Oleh karena itu, salah satu indikator penting untuk mengukur derajat kesehatan adalah ketersediaan sumber air bersih rumah tangga.
Sumber air bersih yang digunakan rumah tangga dibedakan menurut Air Kemasan, Air Isi Ulang, Ledeng (meteran dan eceran), Sumur Pompa Tangan (SPT), Sumur Terlindungi, Mata Air Terlindungi, Air Hujan,Sumur Tak Terlindungi, Mata Air Tak Terlindungi, Air Sungai dan lainnya.
Di Provinsi NTT pada tahun 2015, akses terhadap air minum yang berkualitas dari berbagai jenis sumber air, baik perpipaan maupun non perpipaan yang memiliki standar kelayakan adalah sebesar 30 %.
Akeses berkelanjutan terhadap air minum layak ini yang paling tinggi persentasenya adalah di Kabupaten Ngada yaitu sebesar 75,88 %, disusul dengan Kabupaten Manggarai 66,01 % dan Kabupaten Flores Timur 62,95 %. Namun ada beberapa Kabupaten yang tidak tersedia datanya
seperti Kabupaten TTU, Alor, Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Timur dan Sabu Raijua.
Rincian per Kabupaten/Kota tentang Akses berkelanjutan terhadap air minum yang layak dapat kita lihat pada Lampiran Profil tabel 59 dan gambar berikut ini :
GAMBAR 2.2
PERSENTASE PENDUDUK DENGAN AKSES BERKELANJUTAN TERHADAP AIR MINUM LAYAK TAHUN 2015
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Dari gambar tersebut di atas tidak ada Kabupaten/Kota yang capaian akses air minum yang layak mencapai 100 % sedangkan yang ditargetkan dalam Restra Dinkes. Provinsi NTT tahun 2015 harus 100%. Perlu upaya program terkait untuk meningkatkan persentase rumah sehat di Provinsi NTT.
2. Tempat - Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat
Tempat-tempat umum dan tempat pengelolaan makanan (TUPM) merupakan suatu sarana yang dikunjungi oleh banyak orang dan berpotensi menjadi tempat penyebaran penyakit. TUPM meliputi hotel, restoran, pasar, dan lain-lain. TUPM sehat adalah tempat umum dan tempat pengelolaan makanan/minuman yang memenuhi syarat kesehatan yaitu yang memiliki sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, luas lantai (luas ruang) yang sesuai dengan banyaknya pengunjung, dan memiliki pencahayaan ruang yang memadai.
Data yang diperoleh dari Profil Kesehatan Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT tahun 2015 memperlihatkan bahwa jumlah TTU yang diperiksa hanya 6.753 buah, dan yang memenuhi syarat sebesar 4.409 buah (65%), jika dibandingkan dengan tahun 2014 berarti ada penurunan dimana jumlah TUPM yang diperiksa sebanyak 4.028 buah, yang masuk dalam kategori sehat sebanyak 2.254 buah (61,4%). Rincian per Kabupaten/Kota dapat kita lihat pada tabel 63 dan Gambar berikut ini.
GAMBAR 2.3
PERSENTASE TPU SEHAT MENURUT KABUPATEN/KOTA SE-PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2015
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Dari gambar tersebut di dapat kita lihat bahwa Kabupaten/Kota yang capaian TTU yang memenuhi syarat kesehatan sebesar ≥100 % adalah Kabupaten Sikka dan Malaka, yang terendah adalah Kabupaten Ende yaitu sebesar 33 %, namun ada beberapa Kabupaten yang tidak mengirimkan datanya seperti Kabupaten Ende dan Kupang , sedangkan Flotim, Sumba Barat Daya, Sumba Timur dan Sumba Barat tidak melapor.
Tempat Pengolahan Makanan (TPM) adalah suatu tempat yang digunakan untuk pengolahan makanan. Jumlah TPM yang diperiksa pada tahun 2015 adalah sebesar 4.101 buah yang terdiri dari Jasa Boga, Rumah makan/Restoran, Depot Air Minum dan Makanan jajanan. Dari hasil pemeriksaan yang memenuhi syarat sebesar 2.489 buah (61%), sedangkan yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebanyak 1.612 buah (39%), Gambar di bawah ini :
GAMBAR 2.4
PERSENTASE TPM SEHAT MENURUT KABUPATEN/KOTA SE-PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2015
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Dari gambar tersebut di dapat kita lihat bahwa Kabupaten/Kota yang capaian TPM yang memenuhi syarat kesehatan yang tertinggi adalah Kabupaten Alor sebesar 79%,sedangkan Sumba Timur paling rendah sebesar 7 %, namun masih ada beberapa Kabupaten yang tidak mengirimkan datanya seperti Kabupaten Fotim, Ende, Kupang, Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sabu Raijua.
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Kesehatan merupakan salah satu syarat yang harus terpenuhi agar seseorang dapat melakukan aktifitasnya dengan lancar. Oleh karena itu kesehatan menjadi salah satu fokus utama pembangunan di bidang sosial dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah secara berkesinambungan menyediakan sarana dan prasarana kesehatan dan menggalakkan banyak program agar status kesehatan masyarakat dapat meningkat. Sasaran utama dalam pembangunan di bidang kesehatan adalah agar semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, merata dan murah.
Upaya perbaikan kesehatan masyarakat secara strategis juga dilakukan melalui peningkatan partisipasi masyarakat terutama golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Tanpa partisipasi aktif masyarakat maka program pemerintah tidak akan mencapai hasil yang memuaskan. Dengan berbagai upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang baik, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan penduduk secara umum. Oleh karena itu seluruh pembangunan yang sedang digiatkan pemerintah diharapkan dapat berakselerasi positif terhadap perbaikan derajat kesehatan masyarakat, antara lain dapat ditunjukkan melalui perubahan angka kematian bayi, angka kematian ibu melahirkan, angka morbiditas yang nantinya dapat meningkatkan angka harapan hidup.
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Beberapa faktor yang dapat memperburuk derajat kesehatan masyarakat adalah rendahnya
konsumsi makanan bergizi, kurangnya sarana kesehatan, keadaan sanitasi dan lingkungan yang tidak layak. Faktor terpenting dalam upaya peningkatan kesehatan ada pada manusianya yang bertindak sebagai subyek sekaligus objek pelayanan kesehatan. Keadaan derajat kesehatan masyarakat Indonesia/NTT dapat disajikan dalam beberapa Indiktor seperti pada tabel 3.1 berikut ini.
TABEL 3.1
INDIKATOR DERAJAT KESEHATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2015 INDIKATOR
DERAJAT KESEHATAN
NTT (SP 2010)
NASIONAL (SP 2010)
NTT (IPM 2010)
NTT (IPM 2011)
NTT (IPM 2012)
NTT (IPM 2013)
NTT (IPM 2014)
NTT (IPM 2015)
NTT (SDKI 2007)
NASI ONAL (SDKI 2012) AKB/IMR 39/1.000
KH - - - - 45/1.00
0 KH 32/1.
000 KH AKI/MMR 536/100.00
0 KH
259/100.00
0 KH - - - - -
AKABA
BALITA - - - 58/1.00
0 BLT 40/1.
000 BLT UHH NTT
(THN) LAKI-LAKI PEREMPUA
N
- - 65,28 65,45 65,64 65,82 65,91 65,96 - -
Sumber Data : SP 2010, IPM NTT 2010-2015 dan SDKI 2012
Dari tabel 3.1 tersebut di atas dapat dilihat bahwa Umur Harapan Hidup penduduk Nusa Tenggara Tenggara Timur, setiap tahun semakin meningkat, namun peningkatan ini tidak terlalu signifikan, hanya berkisar 1 – 5 bln, hal ini banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti masih tingginya angka kematian kasar, masih tingginya angka kesakitan baik oleh penyakit menular maupun tidak menualar, dan angka kesuburan.
A. MORTALITAS
Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan program pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini dengan melihat perkembangan angka kematian dari tahun ke tahun.
Besarnya tingkat kematian yang terjadi pada periode terakhir dapat dilihat dari berbagai uraian berikut :
1. Angka Kematian Bayi (AKB)
Data kematian pada suatu komunitas dapat diperoleh melalui survei karena sebagian besar kematian terjadi di rumah, sedangkan kematian di fasilitas kesehatan hanya memperlihatkan kasus rujukan. Indikator ini terkait langsung dengan tingkat kelangsungan hidup anak dan merefleksikan
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai kesehatannya. Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia berasal dari berbagai sumber, yaitu Riset
Kesehatan Daerah (Riskesda), Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan Sensus Penduduk (SP).
Dalam beberapa tahun terakhir AKB di Indonesia telah banyak mengalami penurunan yang cukup besar. AKB Nasional pada tahun 2007 sebesar 34 per 1.000 KH (SDKI 2007), pada tahun 2012 menurun menjadi 32 per 1.000 KH (SDKI 2012) .
Untuk Provinsi NTT, Angka Kematian Bayi pada tahun 2007 sebesar 57 per 1.000 kelahiran hidup (SDKI 2007), walaupun angka ini sedikit lebih tinggi bila dibandingkan dengan AKB secara nasional yaitu 32 per 1.000 kelahiran hidup. Selanjutnya pada tahun 2010 (SP 2010) terjadi penurunan menjadi 39 per 1.000 KH, namun sangat disayangkan pada tahun 2012 menjadi 45 per 1.000 kelahiran hidup (SDKI, 2012). Berarti terjadi lonjakan jika dibanding tahun 2010. Ini menjadi tantangan yang berat baik bagi pemerintah daerah maupun semua instansi terkait di NTT dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan kesejahteraan penduduk di masa datang
Berdasarkan hasil konversi jumlah kasus kematian pada bayi mengalami fluktuasi dari tahun 2013 – 2015.,pada tahun 2013 kasus kematian bayi menurun menjadi 1.286 kematian atau 13,5 per 1000 KH dan selanjutnya pada tahun 2014 kematian bayi ini meningkat menjadi 1.280 kasus atau 14 per 1000 KH, selanjutnya pada tahun 2015 meningkat lagi menjadi 1.388 (11 per 1000 KH).
Target dalam Renstra Dinas Kesehatan Provinsi NTT pada tahun 2015, jumlah kematian bayi ditarget turun menjadi 1.305, berarti target tidak tercapai (selisih 83 kasus). Berikut ini adalah
gambaran Konversi Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup pada tahun 2011 – 2015 di Prov. NTT, sedangkan rincian Kasus Kematian Bayi per Kabupaten/Kota dapat dilihat pada Lampiran Tabel 5 dan Gambar 3.1 sebagai berikut :
GAMBAR 3.1
KONVERSI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
TAHUN 2013 – 2015
Sumber : Laporan Bidang Kesmas Dinkes Prov.NTT Tahun 2015
Dari gambar 3.1 tersebut di atas dapat kita lihat bahwa Angka Kematian Bayi sejak tahun 2013 – 2015 mengalami fluktuasi (turun – naik). Jika dilihat dari kasus kematian bayi di Provinsi NTT Tahun 2015 menurunt, namun jika dikonversikan menjadi Angka Kemtian Bayi per 1000
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Kelahiran Hidup (jumlah kematian dibagi kelahiran hidup kali 1000) berarti telah terjadi
penurunan di banding pada tahun 2014.
2. Angka Kematian Anak Balita (AKABA)
AKABA menggambarkan tingkat peluang untuk meninggal pada fase antara kelahiran dan sebelum usia lima tahun serta permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular, dan kecelakaan.
Indikator ini juga menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial, dalam arti besaran dan tingkat kemiskinan penduduk, sehingga kerap kali dipakai untuk mengidentifikasi tingkat kesulitan ekonomi penduduk.
Angka Kematian Balita di Indonesia (menurut estimasi SUPAS 1995) dalam beberapa tahun terakhir terlihat mengalami penurunan yang cukup bermakna. Pada tahun 1993 AKABA Nasional diperkirakan 81 per 1.000 kelahiran hidup dan turun menjadi 44,7 pada tahun 2001 (Surkesnas, 2001). Selanjutnya turun lagi menjadi 44 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007), dan terus turun menjadi 40 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2012 (SDKI, 2012).
Untuk Provinsi NTT, AKABA periode 2002–2012 mengalami fluktuasi. Hasil Survei Kesehatan dan Rumah Tangga (SKRT) 1995 menunjukkan AKABA NTT sebesar 81 per 1.000 kelahiran hidup yang menurun menjadi 68 per 1.000 kelahiran hidup. Dari hasil SDKI 2002 - 2003 terjadi peningkatan menjadi 72 per 1.000 kelahiran hidup, dan kembali meningkat menjadi 80 per
1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Selanjutnya pada tahun 2012, AKABA NTT kembali menurun menjadi 58 per 1.000 kelahiran hidup (SDKI, 2012). Walaupun AKABA NTT masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan AKABA nasional yakni 40 per 1,000 kelahiran hidup, namun penurunan AKABA NTT ini cukup bermakna.
Laporan Profil Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT tahun 2015, berdasarkan hasil konversi, selama 3 (tiga) tahun jumlah kasus kematian balita mengalami fluktuasi dari tahun 2013 - 2015. Pada tahun 2013 kematian balita menurun menjadi sebesar 1.367 atau 14,4 per 1.000 KH dan pada tahun 2014 AKABA meningkat lagi menjadi 1.408 atau 15 per 1000 KH, selanjutnya pada tahun 2015 meningkat lagi menjadi 1.568 atau 12 per 1000 KH. Dalam Renstra Dinkes. Prov.
NTT yang ditargetkan adalah kematian anak balita (bulan balita). Pada profil Kesehatan kasus Kematian anak balita sebesar 180 balita, sedangkan di renstra ditargetkan sebanyak 150 kasus kematian berarti belum terjadi penurunan kasus pada tahun 2015. Berikut ini disajikan gambaran Konversi AKABA per 1.000 KH Prov. NTT tahun 2011 – 2015, sedangkan rincian per Kab/Kota data dapat dilihat pada Lampiran Tabel 5 dan Gambar 3.2 sebagai berikut :
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai
GAMBAR 3.2
KONVERSI ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
TAHUN 2013 – 2015
Sumber : Laporan Bidang Kesmas Dinkes Prov.NTT Tahun 2015
Berdasarkan angka Koversi Angka Kematian Balita dari gambaran tersebut di atas dapat kita lihat bahwa sejak tahun 2011– 2015 terjadi fluktuasi. Walaupun secara kasus kematian balita pada tahun 2015 meningkat dibanding tahun 2014, namun berdasarkan konversi telah terjadi penurunan pada tahun 2015 dibanding tahun 2014, dari 15 per 1000 KH menjadi 3 per 1000 Kelahiran Hidup. Artinya pada Tahun 2015 ini dalam setiap 1000 kelahiran hidup ada 3 kematian balita (neonatal, bayi dan anak balita).
Hal ini bisa terjadi oleh karena kelahiran hidup yang semakin meningkat dibanding tahun 2014.
3. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka kematian Ibu senantiasa menjadi indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan, AKI mengacu pada jumlah kematian Ibu yang terkait dengan proses kehamilan, persalinan dan nifas. Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten digunakan data hasil SKRT dan SDKI. Pada tahun 2002 – 2003 AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002 – 2003), angka ini menurun menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). Selanjutnya pada tahun 2010, AKI turun menjadi 259 per 100.000 kelahiran hidup (SP, 2010). Walaupun cenderung terus menurun, namun bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010 yaitu sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup, maka diperlukan upaya-upaya luar biasa untuk mengatasi permasalahan ini.
AKI Provinsi NTT pada periode 2004 – 2010 cenderung mengalami penurunan yang cukup bermakna. Pada tahun 2004 AKI NTT sebesar 554 per 100.000 kelahiran hidup (Surkesnas) dan menurun menjadi 306 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Namun berdasarkan hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2010, AKI meningkat menjadi 536 per 100.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan angka nasional 259 per 100.000 kelahiran hidup (SP,2010) maka AKI NTT sangat tinggi. Untuk mengatasi masalah ini maka Provinsi NTT telah menginisiasi terobosan-terobosan dengan Revolusi KIA dengan motto semua ibu melahirkan di Fasiitas Kesehatan yang memadai. Yang mana capaian indikator antaranya adalah menurunnya peran dukun dalam menolong persalinan atau meningkatkan peran tenaga kesehatan terampil
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Laporan Profil Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT tahun 2015 menunjukkan
bahwa konversi AKI per 100.000 Kelahiran Hidup selama periode 3 (tiga) tahun (Tahun 2013 – 2015) mengalami fluktuasi. Jumlah kasus kematian ibu pada tahun 2011 sebesar 208 atau 220 per 100.000 KH, pada tahun 2012 menurun menjadi 192 atau 200 per 100.000 KH, pada tahun 2013 menurun menjadi 176 atau 185,6 per 100.000 KH, selanjutnya pada tahun 2014 menurun lagi menjadi 158 kasus atau 169 per 100.000 KH, sedangkan pada tahun 2015 meningkat menjadi 178 kematian atau 133 per 100.000 KH. Target dalam Renstra Dinas Kesehatan Provinsi NTT pada tahun 2015, jumlah kematian ibu ditarget turun menjadi 150, berarti target tidak tercapai (selisih 26 kasus). Berikut ini digambarkan Konversi AKI per 100.000 KH Prov. NTT tahun 2011 – 2015, sedangkan rincian data per Kabupaten/Kota dapat dilihat pada Lampiran Tabel 6 dan Gambar 3.3 sebagai berikut :
GAMBAR 3.3
KONVERSI ANGKA KEMATIAN IBU PER 100.000 KELAHIRAN HIDUP DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
TAHUN 2013 – 2015
Sumber : Laporan Bidang Kesmas Dinkes Prov.NTT Tahun 2015
Berdasarkan kasus angka kematian ibu meningkat, namun jika dikonversikan per 100.000 kelahiran hidup seperti gambar tersebut di atas, bahwa pada tahun 2015 telah terjadi penurunan AKI menjadi 133 kasus dari 169 pada tahun 2014.
Selanjutnya di bawah ini kita dapat melihat rincian kasus Kematian Bayi, Ibu dan Balita tahun 2011 – 2015 dapat dilihat pada gambar 3.4 berikut.
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai
GAMBAR 3.4
JUMLAH KEMATIAN IBU BAYI, IBU DAN BALITAMENURUT KABUPATEN/KOTA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2013 - 2015
Sumber : Laporan Bidang Kesmas Dinkes Prov.NTT Tahun 2015
Berdasarkan gambar tersebut di atas dapat kita ketahui bahwa jumlah kematian ibu yang tertinggi terjadi pada tahun 2015 yaitu mencapai 178 kasus, untuk kematian bayi dan balita yang paling tinggi terjadi pada tahun 2015 dan 2014.
4. Angka Kematian Kasar
Angka kematian kasar adalah jumlah kematian yang terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu per 1.000 penduduk pada pertengahan tahun. Estimasi Angka Kematian Kasar (AKK) menurut BPS tahun 2010 menyebutkan bahwa AKK penduduk NTT sebesar 8,4 per 1.000 penduduk.
5. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH)
Angka Umur Harapan Hidup (UHH) dapat digunakan untuk menilai status derajat kesehatan.
Selain itu menjadi salah satu indikator yang diperhitungkan dalam menilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Gambaran UHH di Indonesia selama tahun 2010-2015 menunjukkan peningkatan, begitu juga dengan UHH penduduk NTT cenderung meningkat setiap tahun meskipun tidak secara signifikan. Pada tahun 2014 angka harapan hidup menjadi 65.01 yang berarti bahwa anak-anak yang lahir pada tahun 2015 diperkirakan akan hidup rata-rata sampai 68,01 tahun.
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Penurunan Angka Kematian Bayi sangat berpengaruh terhadap kenaikan Umur Harapan
Hidup (UHH) waktu lahir. Angka Kematian Bayi sangat peka terhadap perubahan dengan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga perbaikan derajat kesehatan tercermin pada penurunan AKB dan kenaikan UHH pada waktu lahir. Meningkatnya umur harapan hidup secara tidak langsung juga memberi gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat.
Data SDKI 2007 menunjukkkan bahwa UHH di Provinsi NTT sebesar 65,1 tahun, untuk jenis kelamin UHH perempuan sebesar 67,2 tahun dan laki-laki sebesar 62,9 tahun. Berdasarkan data dari BPS NTT Tahun 2010 UHH NTT rata-rata 65,28, meningkat menjadi 65,45 tahun 2011, tahun 2012 menjadi 65,64, tahun 2013 menjadi 65,82, tahun 2014 menjadi 65,91 dan tahun 2015 menjadi 65,96. Rinciannya dapat kita lihat pada tabel 3.2 dan gambar di bawah ini :
TABEL 3.2 UMUR HARAPAN HIDUP
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2010-2015
UMUR HARAPAN
HIDUP
Tahun 2010
Tahun
2011 Tahun 2012
Tahun 2013
Tahun 2014
Tahun 2015 NTT (THN)
LAKI-LAKI PEREMPUAN
65,28 65,45 65,64 65,82 65,91 65,96
Sumber : BPS – NTT Dalam Angka 2015
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai
GAMBAR 3.5
UMUR HARAPAN HIDUP (UHH)
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2010-2015 CAT: SESUAIKAN DNEGAN TABEL DI ATAS
Sumber Data : BPS NTT Tahun 2010, 2011, 2013, 2014 dan 2015
Berdasarkan Gambar 3.5 tersebut di atas dapat kita lihat ketahui bahwa umur harapan hidup di Provinsi NTT dari tahun 2010 – 2015 terus meningkat, walaupun kenaikannya hanya berkisar 0,5 – tahun atau tidak terlalu bermakna.
B. KESAKITAN/MORBIDITAS
Derajat kesehatan penduduk dapat juga dilihat dari angka kesakitan (morbiditas) yang menunjukkan ada tidaknya keluhan kesehatan yang menyebabkan terganggunya kegiatan sehari-hari baik dalam melakukan pekerjaan, bersekolah, mengurus rumah tangga maupun aktifitas lainnya. Keluhan yang dimaksud mengindikasikan adanya jenis penyakit tertentu yang dirasakan penduduk. Semakin tinggi angka morbiditas, maka semakin banyak penduduk mengalami gangguan kesehatan. Hasil Susenas penduduk tahun 2012 menunjukkan bahwa pada tahun 2012 angka kesakitan penduduk NTT sebesar 22,69%. Angka ini menurun sebanyak 1,58% bila dibanding tahun 2011 yakni 24,27%. Rata-rata lama hari sakit penduduk yang terganggu kesehatan dan aktifitasnya sehari-hari juga mengalami penurunan dari 5,51 hari tahun 2011 menjadi 5,19 hari pada tahun 2012. Lamanya hari sakit penduduk di perdesaan dan perkotaan tidak berbeda secara signifikan yakni sekitar 5 hari.Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa status atau derajat kesehatan penduduk pada tahun 2012 lebih baik dibanding dengan tahun sebelumnya. Konsekuensi dari membaiknya status kesehatan penduduk antara lain penduduk menjadi lebih produktif dalam bekerja, juga biaya kesehatan yang harus dikeluarkan berkurang. Data morbiditas dapat dilihat berdasarkan kunjungan pasien ke Puskesmas dan Rumah Sakit.
1. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas
Data angka kesakitan penduduk berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta dari
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai pelaporan. Gambaran Pola 10 (sepuluh) penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Puskesmas dan
Rumah Sakit tahun 2015 disajikan pada Tabel 3.3 berikut ini.
TABEL 3.3
POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK DI PUSKESMAS
PADA PASIEN RAWAT JALAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2015
Sumber : Profil Kabupaten/kota Tahun 2015 ISPA
359.315 Myalgia/Penyakit pada sistem otot dan
jaringan pengikat
102.267 Diare
98.918 Gastritis duodenitis
53.676 Hypertenis
39.344 Malaria
36.128 Infeksi Penyakit Usus Lainnya
30.795 Penyakit Kulit Alergi
29.746 Infeksi kulit dan jaringan sub kutan
28.751 Rheumatic arthritis acut
28.387
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai 2. Penyakit Menular
Upaya pemberantasan penyakit menular lebih ditekankan pada pelaksanaan surveilens epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yang ditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat melalui pengobatan penderita. Disamping itu pelayanan lain yang diberikan adalah upaya pencegahan dengan pemberian imunisasi, upaya pengurangan faktor risiko melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit menular yang dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. Uraian singkat berbagai upaya tersebut seperti berikut ini.
Penyakit menular yang disajikan dalam bagian ini antara lain AFP, TB Paru, Pneumoni, HIV/AIDS, Diare, Kusta, Dipteri, Pertusis, Tetanus Neonatorum (TN), Campak, Polio, Hepatitis B, DBD, Malaria dan Filariasis.
.
a. Penyakit TBC/TB Paru
TBC atau dikenal juga dengan Tuberkulosis adalah merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh basil tahan asam disingkat BTA nama lengkapnya Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitment global dalam MDGs.
Hampir 10 tahun lamanya Indonesia menempati urutan ke-3 dunia dalam hal jumlah penderita tuberkulosis (TB). Baru pada tahun 2009 turun ke peringkat ke-5 dan masuk dalam
milestone atau pencapaian kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan. Laporan WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah penderita TBC sebesar 429 ribu orang. Lima negara dengan jumlah terbesar kasus insiden pada tahun 2009 adalah India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia (sumber WHO Global Tuberculosis Control 2010). "Tentu saja kasus TB masih banyak, tapi perbaikan peringkat ini merupakan sebuah pencapaian," ungkap Menkes (Alm.) Endang Rahayu Sedyaningsih dalam evaluasi kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan di gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (22/10/2010). Dan pada Global Report WHO 2010, didapat data TB Indonesia,
Pada tawal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Derectly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi penanggulangan secara ekonomis paling efektif (cost efective), yang terdiri dari 5 (lima) elemen kunci : 1) Komitmen politis; 2)Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya; 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan; 4) Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu; 5) Sistem Pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.
Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah. Kementerian Kesehatan menetapkan target tersebut sebesar 73%.
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Berdasarkan hasil Riskesdas 2013, ada tiga kabupaten/kota dengan jumlah penderita
tertinggi dalam < 1 tahun terakhir adalah Sumba Barat (1,2 ‰), Sumba Timur (0,7 ‰) dan Sumba Tengah (0,7 ‰) dan dalam > 1 tahun terakhir adalah Nagekeo (2,3 ‰), Sumba Tengah (2 ‰) dan Kabupaten Kupang (1,9 ‰), sementara tiga kabupaten/kota dengan pengobatan tertinggi adalah Sumba Barat (62,9 %), Sumba Timur (52,7 %) dan Timor Tengah Utara (50,5 %).
Berdasarkan data yang masuk dari Kab/Kota pada tahun pada tahun 2015 bahwa kasus baru BTA + di tahun 2015 adalah sebesar 347 (6,78 per 100.000) artinya dalam 100.000 penduduk terdapat 7 orang penderita TB Paru .sedangkan pada tahun 2014 sebesar 210 kasus ( per 100.000 penduduk) berarti terjadi peningkatan kasus. Tahun 2015 ditargetkan turun menjadi 170/100.000 penduduk.
Berdasarkan Angka Kasus TB Paru seluruhnya (Case Notification rate) pada tahun 2015 sebanyak 4.789 kasus (93,53 per 100.000 penduduk), berarti terjadi penurunan CNR dibandingkan tahun 2014 sebanyak 5.007 kasus (99,41 per 100.000) penduduk). Berarti pada tahun 2015 ini dalam setiap 100.000 penduduk terdapat penderita TB paru (untuk semua tipe) sebanyak 93 orang, dimana kasus tertinggi adalah jenis kelamin laki-laki. Gambaran tentang program TB ini dapat dilihat pada Lampiran Tabel 7- dan gambar 3.6, 3.7 dan 3.8 berikut ini :
GAMBAR 3.6
JUMLAH SELURUH KASUS TB (CASE NOTIFICATION RATE (CNR) DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2015
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota Tahun 2015
Dari gambar 3.6 di atas dapat dilihat bahwa CNR tertinggi adalah Kota Kupang, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Sabu.
WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Derectly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi penanggulangan secara ekonomis paling efektif (cost efective), yang terdiri dari 5 (lima) elemen kunci : 1) Komitmen politis; 2)Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya;
3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan; 4) Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu; 5)
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Sistem Pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan
pasien dan kinerja program secara keseluruhan.
Hasil pengobatan untuk kasus TB Paru tercatat sebanyak 4.645 kasus pada tahun 2013 dan setelah dievaluasi kesembuhannya pada tahun 2014 mengalami kesembuhan sebesar 3.659 kasus (79,03%), ini artinya angka kesembuhan TB Paru BTA (+) masih berada di bawah target sesuai renstra yang ingin dicapai tahun 2014 yakni sebesar 90%, sedangkan pada tahun 2015 ini angka kesembuhan menjadi 66,30 % , hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan dibanding tahun 2014. Gambaran cakupan kesembuhan (Cure Rate) per Kab/Kota Tahun 2015 dapat kita lihat pada tabel Lampiran 9 dan Gambar 3.7 di bawah ini :
GAMBAR 3.7
CAKUPAN ANGKA KESEMBUHAN (CURE RATE) TB DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2015
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota Tahun 2015
Dari gambar 3.7 di atas dapat dilihat bahwa Cakupan Angka Kesembuhan Penderita TB (Cure Rate) tertinggi ada di Kabupaten Ngada, Nagekeo, TTU, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Alor.
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Dalam program TB Paru Angka keberhasilan pengobatan TB (succes rate) yang diukur dari
pengobatan lengkap (complete rate) yang telah dilakukan penderita TB Paru. Succes Rate tahun 2014 adalah sebesar adalah 91,04 %, sedangkan pada tahun 2015 sebesar 86,83 %, berarti telah terjadi penurunan, sedangkan secara Nasional Succes rate ini di targetkan 100%, berarti tidak tercapai target baik pada tahun 2014 maupun 2015. Gambaran keberhasilan pengobatan ini ( Succes Rate) per Kabupaten/Kota dapat kita lihat pada Lampiran Tabel 9 dan Gambar 3.8 di bawah ini :
GAMBAR 3.8
CAKUPAN ANGKA KEBERHASILAN PENGOBATAN (SUCCES RATE) TB PARU TAHUN 2015
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015
Dari gambar 3.8 di atas dapat dilihat bahwa Cakupan Angka Keberhasilan Pengobatan (Succes Rate) Penderita TB Paru tertinggi ada di Ngada, Manggarai, TTU, Lembata, Flores Timur,
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Belu, TTS dan Manggarai Barat. sedangkan pada tahun 2014 yang tertinggi adalah Kabupaten
Manggarai (99 %), TTU (99 %), Sumba Timur (98 %) dan Kabupaten TTS (98%), sedangkan yang terendah adalah Sumba Barat Daya (0%), sedangkan pada tahun 2014 adalah Kabupaten Malaka yaitu 0 %. Namun masih ada Kabupaten yang tidak mengirimkan laporannya yaitu Kab. Nagekeo.
b. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasa Akut (ISPA)/Pneumonia
Infeksi saluran pernapasan akut disebabkan oleh virus atau bakteri. Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli).Penyakit ini diawali dengan panas disertai salah satu atau lebih gejala: tenggorokan sakit atau nyeri telan, pilek, batuk kering atau berdahak. Pada Riskesdas 2007, Nusa Tenggara Timur juga merupakan provinsi tertinggi period prevalence ISPA.
Period prevalence ISPA di Provinsi Nusa Tenggara Timur menurut Riskesdas 2013 (41,7 %) tidak jauh berbeda dengan 2007, dimana Kabupaten/kota yang tertinggi prevalensi ISPA-nya adalah Sumba Tengah (69 %) dan terendah Manggarai (22 %). Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 5 tahun.
Pola 10 (sepuluh) penyakit terbanyak di rumah sakit umum daerah maupun data survei (SDKI dan Surkesnas) menunjukkan tingginya kasus ISPA. Penyakit ISPA juga masih merupakan penyebab utama pada kematian bayi dan balita di Nusa Tenggara Timur (Surkesnas 2001).
Diketahui bahwa (80% - 90%) dari seluruh kasus kematian ISPA disebabkan Pneumoni dan merupakan penyakit yang akut dan kualitas penatalaksanaannya belum memadai.
Dalam program ISPA ini, bahwa diperkirakan dari jumlah Balita yang ada, akan terdapat 10
% penderita ISPA pada Balita. Dari laporan Profil Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT menunjukkan cakupan penemuan dan penanganan Pneumonia pada Balita mengalami fluktuasi dari tahun 2011 – 2015. Pada tahun 2011 sebesar 7.048 kasus, pada tahun 2012 meningkat menjadi 8.554 kasus, berarti target yang tercapai hanya (19,2%), selanjutnya pada tahun 2013 meningkat menjadi 45.928 kasus (26,42%), tahun 2014 telah terjadi penurunan yang sekitar 50 % yaitu menjadi sebesar 3.714 (13 %), sedangkan pada tahun 2015 menjadi sebesar 3.757 (6,03%), berarti telah terjadi penemuan dan penanganan penderita Pneumonia. Gambaran Cakupan Penemuan dan Penangan Pneumonia pada balita tahun 2011 – 2015 dapat di lihat pada Grafik di bawah ini :
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai
GAMBAR 3.9
PERSENTASE CAKUPAN PENEMUAN DAN PENANGANAN PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT KAB/KOTA DI PROVINSI NTT TAHUN 2011 - 2015
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015
Dari grafik tersebut di atas dapat kita ketahui bahwa penemuan dan penaganan kasus Pneumonia ini sejak tahun 2011 – 2015 mengalami penurunan.
Gambaran Cakupan Penemuan dan Penangan Pneumonia pada balita per Kabupaten/Kota pada tahun 2015 dapat dilihat pada Lampiran Tabel 10 dan Gambar 3.10 berikut ini.
GAMBAR 3.10
CAKUPAN PENEMUAN DAN PENANGANAN PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT KAB/KOTA DI PROVINSI NTT TAHUN 2015
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015
REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai Dari gambar 3.10 tersebut di atas terlihat Kabupaten Kota yang mencapai target 100% atau
yang tertinggi untuk penemuan penderita pneumonia adalah adalah Kabupaten Sabu Raijua sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Kabupaten Malaka dan Alor (0 %).
c. Penyakit Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar- benar bisa disembuhkan.
Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dahulu dinyatakan sebagai HIV positif.
Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan Voluntary, Counseling and Testing (VCT).
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang
terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Provinsi NTT, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat risiko penyebaran HIV/AIDS.
Jumlah penderita HIV/AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena gunung es (iceberg phenomena) yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil daripada jumlah penderita yang sebenarnya. Di Provinsi NTT jumlah penderita HIV/AIDS yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti.
Jumlah kasus HIV-AIDS dari tahun 2011 – 2015 selalu ada kasus baru, pada tahun 2011 kasus baru HIV sebanyak 247 kasus dan AIDS sebanyak 234. Sedangkan pada tahun 2012 kasus baru HIV sebanyak 261 kasus dan kasus baru AIDS sebanyak 257 kasus, dengan jumlah kematian